Theresia Millenia Widyasi
Day 1, Henderikus Darwin Beja2 Julianus
Jeksen3
Universitas
Nusa Nipa, Maumere
Email:
[email protected]1,[email protected]2,

|
Diterima: 02-05-2022 |
Review: 09-05-2022 |
Publish: 15-05-2022 |
�Corresponding:
Theresia
Millenia Widyasi Day
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Salah satu jamur yang terdapat pada semua jenis tanah dan habitatnya beragam yaitu Trichoderma sp.Trichoderma
sp. ini dapat berguna sebagai pemicu pertumbuhan, dan juga berpotensi sebagai agen hayati dalam
pengendalian penyakit tanaman (Suanda
& Ratnadi, 2015). Dalam memasuki pasar global, persyaratan
untuk produk � produk pertanian yang ramah lingkungan harus diutamakan. Persyaratan tersebut akan berkaitan dengan penggunaan bahan kimia seperti
pestisida sintetik yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produk hasil pertanian
(Kardinan,
2011).�������
�Peningkatan produksi hasil pertanian terdapat banyak kendala yang dihadapi diantaranya adalah organisme pengganggu tanaman (OPT) (Soesanto,
2014). Serangan OPT mengakibatkan
kerusakan tanaman sehingga terjadinya penurunan hasil baik secara kualitas
maupun kuantitas. Penyakit tanaman merupakan faktor pembatas terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Rosliani
& Sumarni, 2005). Metode pengendalian yang sering dilakukan oleh para petani untuk mengatasi masalah tersebut yaitu penggunaan bahan pestisida sintetik yang melebihi dosis anjuran dan digunakan secara terus- menerus sehingga mengakibatkan akumulasi pestisida di tanah. Akumulasi pestisida yang tinggi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan bahkan ke tingkat konsumen,
berkurangnya mikroorganisme
tanah, dan kerentanan tanaman (Novianti,
2018).�����
����������� �Hal ini, menunjukan bahwa sangat rendahnya pengetahuan yang dimiliki petani dalam mengelola dan mengendalikan (OPT) tanaman perkebunan dengan menggunakan agens pengendali hayati atau biopestisida. Penggunaan agen hayati untuk pengendalian
penyakit tanaman dirasakan sangat lambat perkembangannya karena terbatasnya agens hayati yang diproduksi secara massal dan dapat digunakan secara komersial sehingga diperlukan teknologi dalam memproduksi salah satu jamur Trichoderma sp. (Wijaya
& Oktarina, 2011) Untuk memproduksi jamur Trichoderma sp ini terdapat,
masalah yang timbul bagaimana petani mendapatkan jamur Trichoderma sp.
dalam jumlah banyak serta murah
dan bahan � bahanya mudah didapat. Oleh karena itu, pengetahuan
tentang pengendalian OPT hayati, sangat dibutuhkan bagi petani dalam
pengelolaan perkebunan dan tanaman yang dimiliki.� Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produk pertanian dengan memanfaatkan agens hayati (Biopestisida).
Salah satu jamur yang dapat digunakan sebagai biopestisida yang bersifat antagonis bagi patogen tanaman
yaitu Trichoderma sp (Purwantisari
& Hastuti, 2009). Trichoderma sp diketahui mempunyai kemampuan antagonistic sebagai pengendali hayati yang potensial pada beberapa tanaman. Trichoderma sp memiliki beberapa keunggulan komparatif yang tinggi, bersifat mikoparasit, mampu berkompetisi dalam memperoleh ruang, menghasilkan antibiotik dan enzim yang merugikan organisme patogen (Jumadi et
al., n.d.).
Trichoderma
sp. merupakan jamur penghuni tanah yang dapat diisolasi dari perakaran tanaman lapangan.Perkembangan aseksual yaitu dengan menghasilkan konidiospora yang bercabangcabang
(Suanda et
al., 2020). Hifa Trichoderma sp. berbentuk pipih, bersekat dan bercabang-cabang membentuk anyaman yang disebut dengan miselium(Rizal &
Susanti, 2018). Miseliumnya dapat tumbuh dengan
cepat dan dapat memproduksi berjuta-juta spora. Jamur Trichoderma ini siklus hidupnya
yang singkat dan memiliki spora yang bertahan lama di alam. Penggunaan Trichoderma sp merupakan alternatif
dalam meningkatkan mikroba tanah yang akan mempercepat proses pengomposan dan menjaga kesuburan tanah.
Trichoderma
sp memberikan pengaruh positif terhadap perakaran tanaman, pertumbuhan tanaman dan hasil produksi tanaman (Rizal &
Susanti, 2018).Trichoderma sp memiliki fungsi yang bersifat preventif terhadap penyakit, selain itu juga Trichoderma sp mempengaruhi mikroorganisme dalam tanah sehingga pemberian Trichoderma sp mempengaruhi struktur tanah, daya ikat tanah, daya ikat air dan meningkatkan ketersediaan unsur hara dan mengurangi ancaman kekeringan (Sriwati,
2017).
Berdasarkan hasil penelitian Dewi Novianti, menunjukan bahwa perbanyakan Trichoderma sp.
pada beberapa media berpengaruh
terhadap pertumbuhan
diameter dan kerapatan koloni
Trichoderma sp. dapat tumbuh
pada semua media perlakuan (Purba et
al., 2022). Media dedak merupakan
media yang paling tinggi kerapatan
konidia dibandingkan media lainya (Mutmainnah,
2017). Sehingga jamur
Trichoderma sp.ini dapat dibiakan
pada beberapa media tumbuh.
bahan-bahan tersebut mengandung karbohidrat, serat, nitrogen, fosfat, kalium,
yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan
Trichoderma sp. media pembawa (carrier) tersebut merupakan media perbanyak yang relative�
memberi hasil yang lebih baik dalam
percepatan pertumbuhan dapat juga dianggap lebih praktis, efektif, efisien �terutama untuk tujuan aplikasi
dalam petani.� Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis
ingin melakukan penelitian tentang� TEKNIK PERBANYAKAN MASSAL JAMUR Trichoderma sp. PADA
BEBERAPA MEDIA TUMBUH SEBAGAI AGENS PENGENDALI HAYATI �.
METODE
PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif,
dimana Menurut (Sugiyono, 2016) pengertian
metode Penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah, dimana peneliti merupakan instrumen kunci.
1.
Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, UPT Perbenihan Kebun Dinas dan Laboratorium Hayati Perkebunan, Laboratorium Lapangan
Sikka, Kelurahan Kota Uneng,
Kecamatan Alok, Kabupaten
Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Waktu penelitian ini kurang lebih, 3 bulan dari Oktober
� Desember 2021.
2.
Alat dan Bahan
a. Beras 12 kg, dedak
padi 3 kg, dedak jagung 3 kg, sekam 3 kg, serbuk gergaji 3 kg, jagung 3 kg, air steril, kentang � kg, agar � agar warna
putih 3 bungkus, kapas, minyak tanah,
spirtus, plastic gula, alkohol
70% / 90%, alufo, kertas
Koran, isolate.
b. Kompor, panci
kukus, autoclave, Petridish,
cawan petri, erlenmeyer, gelas ukur 1000 ml, dan 250 ml, timbangan, pasau kecil, baskom kecil,
centong, saringan, kain lab, lampu Bunsen, Tampi, bokor, kompor minyak, plastic packing,laminar
flow, jarum ose, karet gelang.
3.
Metode Penelitian
���������� Penelitian ini terdiri dari beberapa
perlakuan yaitu :
T1 : Beras + dedak padi 2 kg (1:1) T2 : Beras + dedak jagung
2 kg (1:1) T3 : Beras + serbuk
gergaji 2 kg (1:1) T4 : Beras
+ sekam padi 2 kg (1:1)
4.
Pelaksanaan Penelitian
4.1
Sterilisasi
Alat � alat
yang digunakan sterilisasi dari mikroba kontaminan
yang tidak diinginkan dengan cara dicuci
bersih terlebih dahulu menggunakan deterjen setelah itu dimasukan ke
dalam autoclave dan disterilkan
pada suhu 20ᵒC selama 30 menit.
Pembuatan PDA (Potato
Dextrose Agar)
Medium PDA merupakan
media untuk perbanyakan jamur secara in vitro.Dengan bahan utama, kentang, agar � agar bubuk, gula pasir dan aquades. Kentang yang telah disiapkan kemudian dikupas, dibersihkan, dipotong kecil � kecil seperti
mata dadu kira-kira 1cm, lalu di timbang semua bahan
sebanyak 200 g kentang, 20
kg gula pasir, 20 gram agar � agar bubuk. Kemudian kentang direbus sampai lembek dengan
air aquades sebanyak 1000
ml. air rebusan kentang
yang telah mendidih kemudian disaring dan di masukan ke dalam
cerek ukur dan dimasukan kedalam gelas ukur 100 ml tambahkan air aquades hingga 1000 ml kemudian tuangkan kedalam panci dan campurkan gula pasir 20 g, dan agar � agar 20g lalu
diaduk dan dipanaskan di kompor sampai gula dan agar �
agar tercampur rata (homogen).
Selanjutnya medium dimasukan
pada Erlenmeyer 250 ml lalu di tutup
dengan kapas dan siap disterilkan dengan menggunakan
autoclave pada suhu 20ᵒ C selama 30 menit. Medium PDA yang telah steril dituangkan pada cawan petri steril masing-masing sebanyak 5 ml didinginkan hingga memadat, lalu siap digunakan
inokulasi jamur trichoderma sp.
4.2
Pembuatan Isolate
1. Cara kerja :
a. Membersihkan jagung , cuci, kukus
hingga setengah matang, angkat dan dinginkan kurang lebih hangat kukuh.
b. Mengemas dalam
kantong plastic tahan panas sebanyak 1/2 bagian (250 g).
c. Sterilkan ke
dalam autoclave selama 30 menit ( 121 �C, tekan 1 atmosfer) kemudian �diangkat dan dinginkan selama 5 menit.
d. Siapkan laminar flow, lampu Bunsen, jarum ose dan isolate.
e. Simpan hasil inokulasi
isolate trichoderma sp. ke dalam kantong plastic yang sudah disteril.
f. Segel mulut
kantong plastic dengan menyisakan ruang udara � 1/2 bagian.
g. Inkubasikan dalam
ruangan dengan suhu 16�C. h. Pada hari ke-7
sampai, dengan hari ke-12 inokulum siap dipanen untuk pembuatan
fungisida biologi.
5. Perbanyakan Massal
1. Rendam beras dengan
air dingin selama 18-24
jam.
2. Bentangkan karpet
lantai dan sterilkan dengan alkohol. Kemudian tuangkan dedak padi, serbuk
gergaji, dedak jagung, sekam di karpet yang sudah di sediakan, semuanya dipisah-pisahkan sesuai perlakuan
dan melembabkan semua
media dengan air dingin.
3. mencampur media beras
yang sudah disaring ke semua perlakuan
yaitu beras + dedak padi,beras + dedak jagung , beras + serbuk gergaji, beras + sekam dengan perbandingan
1 : 1, kemudian diaduk hingga merata/homogen,
dengan kelembaban air 30 %
(ditandai dengan ketika digenggam tidak mengeluarkan air dan juga tidak menggumpal) masukan semua media ke dalam karung
sesuai perlakuan .kemudian masukan kedalam dandang untuk kukus.
4. Kukus dan steril
media tersebut selama 3 jam atau sampai biji
beras menjadi setengah matang.
5. Sambil menunggu
3 jam media dikukus, siapkan
alat � alat yaitu : gelas ukur 1000 ml dan 250 ml,
media starter, centong kayu,
baskom, alcohol, pengaduk,
hands prayer, air steril 3 botol
dan ruangan yang akan dipakai dan disterilkan dengan alkohol. Sebelum memasuki ruangan tangan dan kaki semua disemprotkan dengan alkohol agar tidak terjadi kontaminasi
dengan trichoderma yang akan diperbanyak.
6. Angkat media yang sudah
dikukus tersebut didinginkan kurang lebih hangat kuku dengan cara menghamparkan
di atas karpet yang sudah disediakan sesuai perlakuan masing - masing.
7. Timbang starter sebanyak
200 g sesuai 3 ulangan, semuanya terdapat 600 g starter. kemudian dituangkan 200 g starter
ke baskom ditambahkan air steril 1 liter dan diaduk / diremas sampai spora terlarut air secara homogen/merata.
8. Tuangkan larutan
media starter ke dalam 3 gelas ukur 1000 ml sesuai dengan 3 ulangan. Kemudian larutan starter 1000 ml tersebut dibagi lagi ke
4 gelas ukur 250 ml sesuai dengan 4 perlakuan. Sehingga setiap perlakuan mendapatkan larutan starter 250
ml.
9. Semprotkan suspense ke media yang telah dingin/hangat kuku sambil diaduk agar spora jamur menyebar
merata pada media.
10. Ratakan biakan setebal � 2 cm dan ditutupi dengan plastic mika agar kelembapan tetap terjaga.Setelah 24 jam biakan dibalik/diaduk lalu diratakan
dan ditutup kembali.
11. Biakan dipanen
setelah 80-100% media ditumbuhi
jamur dengan warna koloni putih/putih kehijauan, hijau daun ( 14
hari). 12. Kemas biakan dalam kantong
plastic sebanyak 300 gr perkantong
kemudian clem mulut kantong atau
diikat menggunakan karet gelang.
6.
Variabel Pengamatan Variabel yang diamati:
1. Pertumbuhan dan perubahan
warna pada setiap
media Setelah media ditumbuhi jamur selanjutnya dilakukan identifikasi pada media
dengan mengamati makroskopisnya dengan cara mengamati warna koloni pada setiap media sampai media tersebut tumbuh merata.
7.
Analisis Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan cara
mendeskripsikan hasil pengamatan pertumbuhan dan perubahan warna pada beberapa media tumbuh jamur trichoderma sp. yang dilakukan di laboratorium lapangan Sikka Provinsi Nusa
Tenggara Timur
HASIL
DAN PEMBAHASAN
PENGAMATAN PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN WARNA
PADA BERBAGAI MEDIA PERBANYAKAN TRICHODERMA SP.�������
Pengamatan secara makroskopis pada beberapa media tumbuh (carrier) Trichoderma sp. perkembangan
jamur pada umur 5 hari sudah menunjukan
perkembangan. Umur 15 hari Trichoderma sp. pada media sudah
tumbuh merata sesuai dengan pernyataan
(Cook and Baker, 1989 dalam Insan
Wijaya. Dkk 2009). Menurut pendapat (Gusnawati, 2014) bahwa dalam media biakan akan tumbuh
dengan cepat perkembangan warna koloni diawali dengan warna putih
sampai dengan warna hijau tua.�
����������� Parameter
pengamatan pertumbuhan dan perubahan warna dapat diketahui sejauh mana pengaruh dari setiap perlakuan
terhadap pertumbuhan dan perkembangan jamur trichoderma sp (Sajangbati
et al., 2020). Pengamatan selama 14 hari media perbanyakan trichoderma sp. mulai mengalami perubahan warna pada hari ke- 4. Pada proses pertumbuhan sangat dipengaruhi
oleh pertumbuhan miselium
yang ditandai dengan warna pada media yaitu putih sampai warna
media berubah kehijauan atau hijau tua
karena ditumbuhi jamur antagonis Trichoderma sp.
Jika semakin banyak nutrisi yang diserap oleh jamur maka semakin
banyak penyebaran pertumbuhan jamur trichoderma sp.
Perubahan warna koloni pada berbagai media tumbuh dapat dilihat
pada tabel�
Tabel 4.1 perubahan
warna koloni pada berbagai media tumbuh
|
No |
Media perlakuan |
Perubahan warna pada berbagai media |
||||
|
4 Hari |
7 Hari |
14 hari |
||||
|
1 |
T3 beras + serbuk gergaji |
Putih kehijauan 20% |
Hijau tua keputihan 40% |
Hijau tua keputihan 85% |
||
|
T1 beras + dedak padi |
Putih kecokl atan 20% |
Putih kehijauan 45% |
Hijau muda keputihan 65 % |
|||
|
T4 beras + sekam |
Putih kecokl atan 20% |
Hijau muda keputihan 30% |
Hijau muda keputihan 60% |
|||
|
T2 beras +dedak jagung |
Putih kekuningan 5% |
Keputihan 10% |
Keputihan 30% |
|||
|
2 |
T3 beras + serbuk gergaji |
Hijau muda keputihan 25% |
Hijau tua keputihan 50% |
Hijau tua keputihan 95% |
||
|
T4 beras + sekam |
Coklat muda keputihan 15% |
Hijau muda keputiha n 35% |
Hijau tua keputihan 80% |
|||
|
T2 beras +dedak jagung |
Kuning keputihan 15% |
Hijau muda keputiha n 30% |
Hijau muda keputihan 50% |
|||
|
T4 beras + sekam |
Putih kecolatan 25% |
Hijau keputihan 35% |
Hijau tua keputihan 85% |
|||
|
3 |
T2 beras +dedak jagung |
Kuning keputihan 5% |
Hijau muda keputihan 20% |
Hijau muda keputihan 40% |
||
|
T1 beras + dedak padi |
Coklat muda keputihan 15% |
Keputihan 20% |
Keputihan 50% |
|||
|
T3 beras + serbuk gergaji |
Hijau muda keputihan 45% |
Hijau keputihan
70% |
Hijau tua keputihan 95% |
|||
|
T1 beras + dedak padi |
Coklat keputihan 25% |
Putih kehijauan 40% |
Hijau tua keputihan 85% |
|||
�(Sumber: Data Primer 2021)
1.
Perlakuan
T1 media beras + dedak padi
Berdasarkan hasil pengamatan pada perlakuan T1 (tabel. 4.1) menunjukan bahwa pertumbuhan dan perubahan warna pada media ini terdapat pada hari ke -4 media tersebut ada yang sudah mulai tumbuh
jamur trichoderma sp dan ada yang belum, yang ditandai dengan tumbuhnya miselium berwarna putih pada pinggiran media tersebut. Menurut Seswati dkk (2013), derajat keasaman sangat penting dalam mengatur
metabolisme dan sistem-sistem
enzim, bila terjadi penyimpangan pH maka proses metabolisme jamur dapat terhenti,
sehingga untuk pertumbuhan maksimal jamur diperlukan pH yang optimum.
Pada hari ke -7 jamur trichoderma ini sudah mulai
menyebar kedalam media beras dan terdapat perubahan warna yaitu warna hijau
muda keputihan.Menurut penelitian syamsul dkk (2018) bahwa pertumbuhan trichoderma sp.
sangat bergantung pada ketersediaan
karbohidrat dan digunakan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan.
Hari ke-14 jamur sudah mulai tumbuh banyak
pada media tersebut dan warna
pada media menjadi hijau tua. Pertumbuhan pada media beras dedak ini
paling banyak yaitu 85% dan
terendah 15 % yang ditandai
dengan jamur trichoderma sp. tidak tumbuh penuh pada media beras + dedak padi.
Bekatul/dedak padi terdapat nutrisi
yang dapat membuat
acetobacter xylinum yang dapat
mengubah karbohidrat limbah padi menjadi
selulosa. Sampingan kandungan/zat gizi
selulosa, bekatul juga mengandung karbon yang dipakai sebagai sumber utama yang berfungsi untuk membangun michelin dan enzim yang dibutuhkan dalam pertumbuhan jamur.
2.
�Perlakuan T2 media beras + dedak jagung
Berdasarkan hasil pengamatan perlakuan T2 (Tabel 4.1) menunjukan bahwa� Pertumbuhan jamur trichoderma sp. dan perubahan warna pada media jagung� ini yaitu terdapat pada hari ke � 4 media tersebut sudah mulai tumbuh jamur
trichoderma sp dan ada yang belum tumbuh jamur, yang ditandai dengan tumbuhnya miselium berwarna putih pada pinggiran media tersebut. Pada hari ke- 7 warna
pada media jagung masih kelihatan berwarna putih dan belum menyebar kedalam media. Menurut Seswati dkk(2013), derajat keasaman sangat penting dalam mengatur metabolisme dan sistem-sistem enzim, bila terjadi
penyimpangan pH maka proses
metabolisme jamur dapat terhenti, sehingga untuk pertumbuhan maksimal jamur diperlukan pH yang optimum
dan pada hari ke -14 jamur trichoderma sudah mulai berubah
warna hijau mudah keputihan. Pertumbuhan jamur trichoderma pada media jagung
yang terlihat paling banyak
tubuh yaitu sekitar 50 % dan terendah
10%.yang ditandai dengan jamur trichoderma tumbuh tidak terlalu
banyak pada media jagung.
Yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan pada media tersebut yaitu kepadatan pada media.Kepadatan media sangat berpengaruh
pada pertumbuhan miselium.
Tingkat kepadatan media yang tinggi
justru menghambat perambatan miselium, tanpa tersedianya ruang�ruang pertukaran
oksigen maka akan tetap menghambat
perambatan miselium. Putra utama dkk, menjelaskan
bahwa porositas berpengaruh terhadap ketersediaan oksigen untuk pertumbuhan jamur.Porositas media dipengaruhi
oleh sifat bahan yang digunakan. Selain itu suplementasi yang terlalu tinggi dapat memperbesar peluang kontaminasi karena terlalu kaya akan nutrisi.�
3.
�Perlakuan T3 media beras + serbuk gergaji
Berdasarkan hasil pengamatan pada perlakuan T3 (tabel. 4.1) menunjukan bahwa Pertumbuhan jamur trichoderma sp. dan perubahan warna pada media serbuk gergaji yaitu pada hari ke � 4 jamur trichoderma
sp ini sudah
mulai tumbuh pada media serbuk gergaji dan mengalami perubahan warna menjadi putih
kehijauan.Pada hari ke - 7 jamur ini
sudah mulai menyebar kedalam media dan warna pada media tersebut menjadi hijau tua
keputihan. Menurut (Gusnawati, 2014) menyatakan bahwa pada hari ke-1 sampai hari ketujuh
sudah terjadi perkembangan warna putih kehijauan sampai hijau. Faktor
lain yang menyebabkan perubahan
warna adalah terjadi proses pengomposan pada
media biakan, sehingga partikel media menjadi hancur dan warna media berubah menjadi hijau.� Pada hari ke -14 jamur
trichoderma tersebut hampir tumbuh semua
ke media serbuk gergaji dan warna pada media menjadi hijau tua
gelap. Pertumbuhan pada
media serbuk gergaji selama 14 hari yaitu tertinggi 95% terendah 20% yang ditandai dengan pertumbuhan pada media serbuk gergaji hampir tumbuh merata
pada permukaan media serbuk
gergaji tersebut. Pada lampiran dapat dilihat bahwa media yang sangat berpengaruh untuk percepatan pertumbuhan jamur trichoderma sp. yaitu media serbuk gergaji karena sudah hampir tumbuh
penuh pada hari ke 14. Ampas serbuk
gergaji termasuk limbah biomassa yang mempunyai kandungan lignoselulosa tinggi, mudah didapat dan melimpah (Purnomo, 2013). Dengan adanya kandungan lignoselulosa yang tinggi dan nutrisi yang cukup sangat mendukung untuk pertumbuhan miselium yang baik.Menurut singhania (2006) Jamur trichoderma sp. merupakan jamur selulostik yang potensial mendegradasi bahan organic yang mengandung selulosa untuk pertumbuhan.Media yang sebaiknya digunakan untuk pertumbuhan Trichoderma sp.
adalah media yang banyak tersedia di alam, relatif lebih murah
dan mendukung baik pertumbuhan miselium dan produksi spora diantaranya adalah beras + serbuk gergaji. Bahan organic seperti beras dan serbuk gergaji digunakan sebagai bahan makanan dasar
dan pembawa jamur antagonis yang akan mempengaruhi daya adaptasi dan peningkatan kepadatan populasinya setelah diintroduksikan ke dalam tanah
(Nurbailis dan Martinus
2011).
4.
Perlakuan
T4 media beras + media sekam
����������� Berdasarkan hasil pengamatan pada perlakuan T4 (tabel. 4.1) menunjukan bahwa Pertumbuhan jamur trichoderma sp. dan perubahan warna pada media sekam.Pada hari ke -4 jamur trichoderma
sp. sudah mulai tumbuh pada media sekam dengan warna pada media berubah menjadi putih kehijauan.Pada hari ke -7 jamur
trichoderma sp. sudah mulai menyebar kedalam media sekam dan warna pada media berubah menjadi hijau muda
keputihan. Kecepatan tumbuh miselium memenuhi media tanam dipengaruhi oleh nutrisi yang terkandung dalam media seperti sekam padi
dan penambahan karbohidrat
yang lebih banyak pada
media tanam jamur dapat mempercepat munculnya miselium (Rahmawati,2005).
Hari ke -14 jamur trichoderma sp. sudah bertambah banyak dan warna pada media berubah menjadi hijau tua
gelap. pada pertumbuhan jamur trichoderma sp. Pertumbuhan pada media sekam selama 14 hari yaitu tertinggi 85% terendah 25%� yang ditandai dengan pertumbuhan pada media sekam hampir tumbuh merata
pada permukaan media sekam tersebut.
5.
�Faktor Lain yang Menyebabkan Pertumbuhan dan Perubahan Warna
Faktor lain yang menyebabkan perubahan warna adalah terjadinya proses pengomposan pada media biakan, sehingga partikel media menjadi hancur dan warna media berubah menjadi hijau gelap.
Menurut Tombe dkk (2005) dikutip Dewi (2005), Trichoderma sp. disamping
sebagai agen hayati juga telah dilaporkan sebagai mikroba dekomposer yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan bahan organic yang bermutu.
Pertumbuhan jamur
Trichoderma sp juga dipengaruhi
oleh beberapa faktor yaitu suhu penyimpanan,
kelembaban dan pengolahan
media starter.Secara makroskopis
marga trichoderma sp. dapat dibedakan pada kecepatan tumbuh. Marga ini dapat
tumbuh dengan cepat dalam 5 hari
pada suhu 25ᵒ C .sebagian besar anggota dari
marga Trichoderma sp. membentuk
koloni yang mempunyai warna yang berbeda dan membentuk koloni dengan zona lingkaran yang terlihat dalam cahaya (Rifai 1969) dalam Dewi (2005). Suhu ruangan dan kelembaban selama 14 hari pertumbuhan jamur trichoderma sp. yaitu: suhu paling tertinggi adalah:� 33,8ᵒ C dan terendah
27ᵒ C sedangkan kelembaban tertinggi 83% terendah 61% dengan rata-rata suhu selama 14 hari yaitu 29,99ᵒ C dan kelembaban
70,96%.
�Jika Semakin tinggi suhu udara
semakin rendah kelembaban ataupun sebaliknya semakin rendah suhu udara
semakin tinggi kelembaban. Suhu media yang terlalu panas dapat
menyebabkan atau menghambat pertumbuhan miselium bahkan miselium akan mati.
Kadar air yang kurang menyebabkan
miselium kesulitan menyerap nutrisi dari media dan sebaliknya apabila kelebihan kadar air akan menyebabkan miselium membusuk bahkan menimbulkan jamur liar sehingga pertumbuhan jamur liar lebih cepat daripada pertumbuhan jamur trichoderma sp. Jamur trichoderma sp. banyak hidup didaerah dingin dengan kelembaban
yang tinggi dan suka hidup di tempat-tempat yang terdapat bahan organic.Hasil penelitian Dewi, (2005) menunjukan bahwa perlakuan macam media tidak berpengaruh terhadap daya antagonisnya, sehingga Trichoderma sp. dapat diproduksi secara massal pada berbagai media tumbuh. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa perlakuan berbagai macam media berpotensi.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan pada perlakuan variabel perubahan warna pada media tumbuh jamur trichoderma
sp. disimpulkan sebagai berikut:� 1. Pada perlakuan T1 media dedak padi + beras terjadi
pertumbuhan dan perubahan warna pada media tersebut terdapat hari ke-4, ke -7 dan hari ke -14. Media tersebut ada yang mulai tumbuh dan ada yang belum. Faktor yang menyebabkan tidak terjadinya pertumbuhan dan perubahan warna yaitu suhu dan kelembaban yang dapat menimbulkan pertumbuhan pada
media terhambat. 2. Pada perlakuan
T2 media dedak jagung + beras yaitu pertumbuhan
dan perubahan warna pada hari ke-4, ke -7 dan ke-14.� Pada media ini terjadi pertumbuhan yang lambat karena terjadinya
kepadatan pada permukaan
media sehingga dapat menyebabkan jamur tidak tumbuh. Tingkat kepadatan media yang tinggi justru menghambat perambatan miselium sehingga tidak ada tersedianya ruang-ruang untuk pertukaran oksigen. 3. Pada perlakuan T3 media beras + serbuk gergaji yaitu terjadi pertumbuhan
dan perubahan warna pada hari ke-4, hari ke -7 dan hari ke-14.� Pada media ini pertumbuhan jamur trichoderma lebih cepat. Faktor yang menyebabkan pertumbuhan dan perubahan warna yang lebih cepat yaitu
proses pengomposan pada media biakan,
serta nutrisi, suhu dan kelembaban yang dapat membuat jamur
dapat tumbuh pada media tersebut. 4. Pada perlakuan T4
media beras + sekam padi terjadi pertumbuhan
dan perubahan warna pada hari ke-4, hari ke -7 dan hari ke-14.� Pada media ini ada yang sudah mulai tumbuh dan ada yang belum. Faktor yang menyebabkan tidak terjadinya pertumbuhan dan perubahan warna yaitu suhu
dan kelembaban yang dapat menimbulkan pertumbuhan pada
media terhambat digunakan sebagai media perbanyakan
Trichoderma sp. tetapi dalam
penerapanya harus disesuaikan dengan keberadaan dan harga dari media tersebut (Dewi, 2005).
������ Dari ke empat perlakuan yang diamati secara makroskopis tersebut pertumbuhan jamur trichoderma sp. yang terbaik didapatkan pada media serbuk gergaji yaitu pada hari ke -4 dan ke-7 media sudah mulai berubah
warna menjadi putih kehijauan dan pertumbuhanya lebih cepat. Pada hari ke -14 media serbuk gergaji sudah hampir
penuh ke dalam media tersebut dan warna pada media menjadi hijau tua gelap.Pertumbuhan
dan perubahan warna yang palingan lambat terdapat pada media jagung yaitu pada hari hari ke -4 dan ke-7 media tersebut masih berwarna putih dan penyebaranya ke dalam media sedikit. Pada hari ke 14 media berubah warna menjadi
hijau muda yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan pada media tersebut yaitu suhu dan kelembaban
DAFTAR
PUSTAKA
Jumadi, O., Phil, M., Junda, I. M.,
Caronge, I. M. W., & Syafruddin, S. P. (n.d.). TRICHODERMA DAN
PEMANFAATAN.
Kardinan, A. (2011). Penggunaan pestisida
nabati sebagai kearifan lokal dalam pengendalian hama tanaman menuju sistem
pertanian organik. Pengembangan Inovasi Pertanian, 4(4), 262�278.
Mutmainnah, M. (2017). Perbanyakan cendawan
entomopatogen penicillium sp. Isolat bone pada beberapa media tumbuh organik. Perbal:
Jurnal Pertanian Berkelanjutan, 3(3), 71�78.
Novianti, D. (2018). Perbanyakan Jamur
Trichoderma sp pada Beberapa Media. Sainmatika: Jurnal Ilmiah Matematika Dan
Ilmu Pengetahuan Alam, 15(1), 35�41.
Purba, D. W., Dalimunthe, B. A.,
Septariani, D. N., Mahyati, M., Setiawan, R. B., Sudarmi, N., Megasari, R.,
Inayah, A. N., Anwarudin, O., & Amruddin, A. (2022). Sistem Pertanian
Terpadu: Pertanian Masa Depan. Yayasan Kita Menulis.
Purwantisari, S., & Hastuti, R. B.
(2009). Uji antagonisme jamur patogen Phytophthora infestans penyebab penyakit
busuk daun dan umbi tanaman kentang dengan menggunakan Trichoderma spp. isolat
lokal. Isolat Lokal. BIOMA, 11(1), 24�32.
Rizal, S., & Susanti, T. D. (2018).
Peranan Jamur Trichoderma sp yang Diberikan terhadap Pertumbuhan Tanaman
Kedelai (Glycine max L.). Sainmatika: Jurnal Ilmiah Matematika Dan Ilmu
Pengetahuan Alam, 15(1), 23�29.
Rosliani, R., & Sumarni, N. (2005). Budidaya
tanaman sayuran dengan sistem hidroponik. Balai Penelitian Tanaman Sayuran.
Sajangbati, F. C., Assa, B. H., &
Tairas, R. W. (2020). EFEKTIFITAS Trichoderma sp DAN FUNGISIDA PROPINEB DALAM
PENGENDALIAN PENYAKIT KARAT (Puccinia allii) PADA BAWANG DAUN DI DESA SINSINGON
KECAMATAN PASSI TIMUR KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW. COCOS, 4(4).
Soesanto, L. (2014). Metabolit sekunder
agensia pengendali hayati: terobosan baru pengendalian organisme pengganggu
tanaman perkebunan. Fakultas Pertanian. Universitas Jenderal Soedirman. Fakultas
Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Sriwati, R. (2017). Trichoderma: Si Agen
Antagonis. Syiah Kuala University Press.
Suanda, I. W., & Ratnadi, N. W. (2015).
DAYA ANTAGONISME Trichoderma sp. LOKAL TERHADAP JAMUR PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT
REBAH KECAMBAH (Sclerotium rolfsii Sacc.) PADA TANAMAN TOMAT (Lycopersicum
esculentum Mill.). Emasains, 4(2), 155�162.
Suanda, I. W., Widnyana, I. K., Defiani, R.
I., Kawuri, R., Proborini, M. W., & Adriani, A. N. P. (2020). PERTANIAN
BERKELANJUTAN SEBUAH PENDEKATAN KONSEP DAN PRAKTIS.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. PT Alfabet.
Wijaya, I., & Oktarina, V. M. (2011).
Pembiakan massal jamur Trichoderma spp. pada beberapa media tumbuh sebagai agen
hayati pengendalian penyakit tanaman [Internet]. Agritrop Jurnal Ilmuilmu
Pertanian, 87�92.