UJI AKTIVITAS DAN
FORMULASI SEDIAAN BODY LOTION DARI EKSTRAK BIJI KAKAO (Theobroma cacao L.)
SEBAGAI ANTIOKSIDAN
Mira putri utami
universitas jakarta global university
Abstrak:
Kosmetika
merupakan campuran dari beberapa bahan yang telah diformulasikan sedemikian
rupa sehingga dapat berfungsi untuk merawat serta memperindah bagian tubuh
sesuai dengan tujuan penggunaan kosmetik tersebut. Penelitian ini menggunakan
metode penelitian eksperimental yaitu suatu penelitian dengan melakukan
kegiatan percobaan untuk mengetahui pengaruh yang ada, sebagai akibat dari
adanya perlakuan tertentu atau eksperimen dilakukan dengan meneliti percobaan
yang dilakukan terhadap uji variabel terikat. Berdasarkan
penelitian uji aktivitas antioksidan dan formulasi sediaan body lotion dari ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L. ) sebagai antioksidan yang didapatkan
menunjukkan bahwa sediaan body lotion
antioksidan kurang signifikan. Kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor,
diantaranya karena metode ekstraksi yang digunakan kemungkinan tidak cukup
menarik kompunen kimia yang bersifat antiaksodan dalam sediaan biji kakao. Kesimpulan
pada penelitian ini adalah : 1. ekstrak biji
kakao (Theobroma cacao L.) dapat dibuat sedian �body lotion dengan berbagai macam konsentrasi. �2. Konsentrasi biji kakao (Theobroma cacao L.) dapat mempengaruhi sifat fisik body lotion formula I berwarna coklat
tua, formula II berwarna coklat tua, formula III berwarna coklat tua. Uji pH untuk setiap sediaan F1,F2,F3 memenuhi
persyaratan dengan reng pH yaitu 4,5-7. uji homogenitas,
serta uji daya sebar sediaan lotion dengan variasi kadar ekstrak biji kakao (Theobroma
cacao L.) tidak
mempengaruhi kestabilan fisik body lotion dan tidak mengalami perubahan selama dilakukan
pengujian. Sediaan body lotion ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.) mempunyai aktivitas antioksidan dengan nilai IC50
pada formula I sebesar 7,144 �g/ml, formula II sebesar 8,333 �g/ml, dan formula
III sebesar 7,143 �g/ml.
Kata kunci: brand love; customer
satisfaction dimedias; self-esteem
Abstract:
Cosmetics is a mixture
of several ingredients that have been formulated in such a way that they
function to treat and beautify parts of the body according to the intended use
of these cosmetics. This study used an experimental research method, namely a study
by carrying out experimental activities to determine the effect that exists, as
a result of the existence of certain treatments or experiments carried out by
examining experiments carried out on the test of the dependent variable. Based
on research on antioxidant activity tests and formulations of body lotion
preparations from cocoa bean extract (Theobroma cacao L.) as antioxidants, it
was found that antioxidant body lotion preparations were less significant.
Possibly caused by various factors, including because the extraction method
used may not be sufficient to attract chemical components that are
anti-axodants in cocoa bean preparations. The conclusions in this study are: 1.
Cocoa bean extract (Theobroma cacao L.) can be made into body lotion preparations
with various concentrations. 2. Concentration of cocoa beans (Theobroma cacao
L.) can affect the physical properties of body lotion formula I is dark brown,
formula II is dark brown, formula III is dark brown. The pH test for each
preparation F1, F2, F3 met the requirements with a pH range of 4.5-7.
homogeneity test, as well as spreadability test of lotion preparations with
varying levels of cocoa bean extract (Theobroma cacao L.) did not affect the
physical stability of the body lotion and did not change during the test. Cocoa
bean extract body lotion (Theobroma cacao L.) has antioxidant activity with an
IC50 value in formula I of 7.144 �g/ml, formula II of 8.333 �g/ml, and formula
III of 7.143 �g/ml.
Keywords: brand love; customer satisfaction dimedias;
self-esteem
�������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding: Mira putri utami
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Kosmetika
merupakan campuran dari beberapa bahan yang telah diformulasikan sedemikian
rupa sehingga dapat berfungsi untuk merawat serta memperindah bagian tubuh
sesuai dengan tujuan penggunaan kosmetik tersebut (Asmidar, 2018). Menurut menteri kesehatan RI No.
445/MenKes/PerMenKes/1998 �Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap
untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan
organ kelamin bagian luar), gigi, dan rongga mulut, untuk membersihkan,
menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan
baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau
menyembuhkan suatu penyakit�. Salah satu sediaan kosmetik yang sering digunakan
yaitu, body lotion yang berfungsi
untuk mencegah agar kulit tidak kering dan tetap segar (Al
Alamin, 2020). �Indonesia sebagai negara yang beriklim tropis
dengan tingkat penyinaran matahari yang panas, menyebabkan kulit menjadi kering
dan kurang lentur (Dewi & Wirahmi, 2019). Untuk itu diperlukan lotion yang
dapat memperbaiki kulit kering. Menggunakan bahan alam dalam perawatan tubuh (back to nature) menjadi cukup popular
saat ini sehingga masyarakat kembali memanfaatkan berbagai bahan alam salah
satunya biji buah kakao (Dewi & Wirahmi, 2019).
Indonesia merupakan penghasil kakao terbesar ketiga didunia.
Selain itu, indonesia menyumbang 14% produksi biji kakao dunia pada tahun 2017
yaitu sebesar 657 000 ton dari 4744 000 ton (Arifin, 2019). Kakao (Theobroma cacao L.)
adalah salah satu tanaman yang hasil olahan yang sangat digemari penduduk
didunia. Biji kakao terkandung theobromine sebanyak 2-3% yang berfungsi
untuk menenangkan, menimbulkan rasa nyaman dan relaksasi (Hendradi, Chasanah, Indriani, & Fionayuristy,
2013). Pada
bidang kecantikan dan perawatan tumbuhan kakao dimanfaatkan untuk hairmask,
facial, lulur hingga lotion (Rahmadinna, 2019). Tubuh
manusia memiliki system antioksidan untuk mengenal reaktivitas radikal bebas,
yang secara berkelanjutan dibentuk sendiri oleh tubuh (Surya, 2019). Antioksidan merupakan senyawa yang
mampu menangkal atau meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh, yang bekerja
dengan cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan
sehingga aktivitas senyawa oksidan tersebut dapat dihambat (Saleh, Suryanto, & Yudistira, 2012). Biji kakao kaya akan flavonoid salah
satunya adalah senyawa polifenol yaitu katekin, epikatekin, prosianidin,
antosianidin. Polifenol dalam cokelat dapat memperlambat penuaan dini dan
melancarkan peredaran darah (CUT RIANTI, 2018). Selain itu biji cokelat mengandung
vitamin A dan E yang sangat berguna untuk mengangkat sel kulit. Semakin kecil nilai IC50
semakin tinggi aktivitas antioksidannya (Jusmiati, Rusli, & Rijai, 2015). Suatu senyawa dikatakan antioksidan
sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 50 μg/mL, kuat jika IC50
bernilai 50 μg/mL sampai 100 μg/mL, sedang jika IC50
bernilai 100 μg/mL sampai 150 μg/mL dan lemah jika IC50
bernilai 151 μg/mL sampai 200 μg/mL. nilai IC50 dari
ekstrak biji kakao (theobroma cacao L.) sebagai antioksidan 0,926
�g/ml (Zuhra, Tarigan, & Sihotang, 2008). �Penelitian sebelumnya
yang dilakukan oleh Jacup (2020) formulasi sediaan lotion dari ekstrak etanol
biji buah salak. Dan oleh Rohmani (2019) formulasi sediaan body lotion ekstrak kulit pisang dengan variasi konsentrasi emulsifier (Sanjaya, 2009). Dan dari
Anasthasia (2019) formulasi dan uji stabilitas mekanik hand and body lotion sari buah tomat sebagai
antioksidan. Penelitian lain dari jurnal formulasi lotion ekstrak etanol daun
jambu biji dengan konsentrasi� 2%, 4%,
dan 6%.
Tujuan penelitian ini adalah 1. Membuat sediaan body lotion dari
ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.) 2. Mengetahui aktivitas sediaan body
lotion ekstrak biji kakao (Theobroma
cacao L.) terhadap penangkapan
radikal bebas pada metode DPPH 3.
Mengetahui sifat
fisik sediaan body lotion ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.)
dengan uji stabilitas sediaan
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian
eksperimental yaitu suatu penelitian dengan melakukan kegiatan percobaan untuk
mengetahui pengaruh yang ada, sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu
atau eksperimen dilakukan dengan meneliti percobaan yang dilakukan terhadap uji
variabel terikat.
Sampel penelitian ini adalah biji dari buah cokelat
(Theobroma cacao L.) yang diperoleh dari Desa Bandaraji Kecamatan Jarai
Kabupaten Lahat Sumatera Selatan.
Alat yang digunakan dalam penelitian in antara lain
adalah : pisau, wadah/botol, saringan, rotary evaporator, timbangan analitik,
cawan penguap, waterbath, lumpang, mortir, wadah lotion.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
identifikasi tumbuhan
����������� Berdasarkan
hasil identifikasi tanaman (sampel) dilakukan di lembaga ilmu pengetahuan
Indonesia (Indonesian institute of
sciences) pusat penelitian biologi (research
center for biology) menunjukkan bahwa tumbuhan yang diteliti termasuk
spesies Theobroma cacao L. dari suku malvaceae.
Skrining
fitokimia
Hasil
skrining fitokimia biji kakao Theobroma
cacao L. dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 1 hasil pemeriksaan skrining fitokimia
biji kakao Theobroma cacao L.
|
No |
Golongan |
Hasil |
|
1 |
Alkaloid |
+ |
|
2 |
Tannin |
+ |
|
3 |
Fenolik |
+ |
|
4 |
Flavonoid |
+ |
|
5 |
Triterpenoid/steroid |
+ |
|
6 |
Glikosida |
+ |
Keterangan
: (+) positif�������� : mengandung
golongan senyawa
��������������������� (-) negatif������� : tidak�
mengandung golongan senyawa
Pengumpulan dan Pengeringan sampel
��������� Biji kakao (Theobroma cacao L). yang digunakan dilakukan sortasi basah dengan
mencuci biji kakao menggunakan air untuk dipisahkan dari kotoran yang menempel,
dan dirajang dengan menggunakan pisau kemudian ditiriskan agar dapat
menggurangi kadar air pada bahan, dikeringkan dengan cara di angin-anginkan
tanpa menggunakan sinar matahari langsung selama 7 hari, setelah kering� biji kakao dihancurkan dengan blender hingga
menjadi partikel kecil, simplisia yang diperoleh disimpan dalam wadah yang
tertutup rapat.
a e d c b





Gambar 1 a. Buah kakao, b. Proses pencucian, c. Proses
perajangan, d. Sebelum dikeringkan, e. Setelah pengeringan.
Ekstrak
biji kakao yang dihasilkan dari simplisia biji kakao dengan berat 150 g
dimasukan kedalam botol dan direndam dengan etanol 70% sampai terendam selama 5
hari dan sesekali diaduk. Hasil maserat yang didapat kemudian disaring dengan
saringan, kemudian dipekatkan untuk mendapatkan ekstrak kental dengan
menggunakan vacuum rotary evaporator pada suhu 70�C.
% rendemen = ![]()
Keterangan:
Berat ekstrak yang diperoleh 62,205 g; Berat simplisia yang di ekstrak 150 g;
hasil rendemen yang didapatkan: 41,47%.
Hasil pemeriksaan karaterisasi ekstrak
biji kakao
��������� Hasil pemeriksaan karaterisasi ekstrak
biji kakao (Theobroma cacao L.) dapat
dilihat sebagai berikut
Tabel 2 hasil pemeriksaan karaterisasi ekstrak
biji kakao (Theobroma cacao L.)
|
No |
Pemeriksaan |
Hasil |
|
1. |
Kadar air |
98,79% |
��������� Berdasarkan hasil pemeriksaan
karaterisasi penetapan kadar air ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.) sebesar 98,79%. Penetapan kadar air dalam
ekstrak dilakukan untuk memberi batasan minimal atau rentang tentang besarnya
kandungan air dalam ekstrak, semakin tinggi kadar air, maka semakin mudah untuk
ditumbuhi jamur sehingga dapat menurunkan aktivitas biologi ekstrak dalam masa
penyimpanan. Kadar air pada ekstrak tergantung pada waktu pengeringan
simplisia, semakin kering maka akan semakin kecil kadar airnya.
Hasil formulasi sediaan body lotion
��������� Berdasarkan hasil orientasi yang
dilakukan diperoleh formula ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.) yang digunakan adalah 3%, 5%, dan 7%, basis body lotion yang digunakan adalah
aquades, dan bahan lain yang digunakan yaitu gliserin, asam stearat, paraffin,
nipagin, nipasol, cetyl alcohol, parfum. Berdasarkan hasil sediaan body lotion dengan penambahan ekstrak
etanol biji kakao menujukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi biji kakao
semakin kecoklatan warna body lotion
yang dihasilkan.

Gambar 2. body lotion ekstrak biji kakao
Hasil penentuan mutu fisik sediaan body lotion
Pemeriksaan
organoleptis
Karakteristik sifat fisik ekstrak biji kakao
setelah dilakukan penyarian berupa organoleptis (konsistensi, bau,warna) dapat
dilihat pada tabel.
Tabel 3 Sifat fisik ekstrak biji kakao (Theobroma
cacao L.)
|
Sediaan |
Organoleptis |
||
|
Konsistensi |
Bau |
Warna |
|
|
Ekrstak biji kakao |
Kental |
Khas kakao |
Coklat tua |
Berdasarkan data yang terdapat pada tabel
diketahui bahwasannya ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.) yang dihasilkan memiliki konsistensi
yang kental dikarenakan mengalami proses pemisahan antara pelarut dengan
ekstrak saat proses perotarian, bau ekstrak yang dihasilkan khas buah kakao
serta bewarna coklat tua, perubahan warna pada ekstrak terjadi karena dimulai
dari proses perajangan sampai proses ekstraksi mengalami� oksidasi.
Hasil Uji Sifat Fisik Lotion Pengujian bentuk
fisik lotion dilakukan setelah pembuatan lotion, yang bertujuan untuk
mengetahui kemungkinan terjadinya perubahan sifat fisik selama penyimpanan (4
minggu) dengan menggunakan variasi kadar ekstrak biji kakao (Theobroma cacao
L.) F1 3%, F2 5% dan
F3 7%. Hasil uji bentuk fisik lotion meliputi Organoleptis, homogenitas, uji
Ph, dan daya tuang.
Tabel 4 Hasil uji organoleptis lotion ekstrak
biji kakao (Theobroma cacao L.)
|
No |
Formulasi |
Organoleptis |
Minggu ke |
|||
|
I |
II |
III |
IV |
|||
|
1 |
F1 |
Bentuk Warna Bau |
Kental C Kc |
Kental C Kc |
Kental Ct Kc |
Kental Ct Kc |
|
2 |
F2 |
Bentuk Warna Bau |
Kental C Kc |
Kental C Kc |
Kental Ct Kc |
Kental Ct Kc |
|
3 |
F3 |
Bentuk warna Bau |
Kental Ct Kc |
Kental Ct Kc |
Kental Ct Kc |
Kental Ct Kc |
Keterangan :
F1
���������������� = lotion degan
konsentrasi ekstrak biji kakao 3%
F2����������������� = lotion degan konsentrasi
ekstrak biji kakao 5%
F3����������������� = lotion degan konsentrasi
ekstrak biji kakao 7%
K������������������� = kental
C
������������������ = coklat
Ct����������������� = coklat tua
Kc����������������� = khas coklat
Pada uji organoleptis dilakukan dengan cara
mengamati secara langsung sediaan lotion selama 4 minggu, pengamatan dilkukan
selam 4 minggu karena pada waktu tersebut sudah dapat terlihat perubahan yang
terjadi pada lotion. Bagian yang diamati meliputi warna, bentuk, bau dari
sediaan lotion tersebut. Pada minggu pertama sampai minggu ke empat pengamatan
bentuk dari masing-masing formula tidak mengalami perubahan bentuk dan bau,
tetapi pada pengamatan warna dari minggu pertama sampai keempat masing-masing
formula (F1, F2, F3) ada perbedaan dimana F1 bewarna coklat, F2 bewarna coklat,
F3 bewarna coklat tua, hal ini disebabkan karena perbedaan kadar ekstrak biji
kakao.
Uji
homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk melihat apakah
sediaan telah dibuat homogen atau tidak. Pemeriksaan dilakukan dengan cara
meletakan sedikit lotion diantara 2 kaca objek dan kemudian kaca tersebut
diarahkan ke cahaya, tidak boleh terlihat adanya butiran-butiran kasar. Hasil
pemeriksaan yang diperoleh dari uji homogenitas dapat dilihat pada tabel :
Tabel 5 Hasil uji homogenitas ekstrak biji
kakao (Theobroma cacao L.)
|
No |
Formulasi |
Minggu ke |
|||
|
I |
II |
III |
IV |
||
|
1 |
F1 |
Homogen |
Homogen |
Homogen |
Homogen |
|
2 |
F2 |
Homogen |
Homogen |
Homogen |
Homogen |
|
3 |
F3 |
Homogen |
Homogen |
Homogen |
Homogen |
Keterangan:
F1
���������������� = lotion degan
konsentrasi ekstrak biji kakao 3%
F2����������������� = lotion degan konsentrasi ekstrak
biji kakao 5%
F3����������������� = lotion degan konsentrasi
ekstrak biji kakao 7%
Tujuan
dilakukannya uji homogenitas untuk mengetahui apakah zat aktif dan bahan
tambahan sudah tercampur dengan baik. Berdasarkan data yang terdapat pada tabel
menunjukan bahwa masing-masing formula homogen dan tidak terlihat adanya
butiran-butiran kasar, hal ini menunjukkan bahwasannya tidak terdapat pengaruh
variasi kadar ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.) terhadap
homogenitas body lotion dari ekstrak
biji kakao.
Pemeriksaan
pH
Uji pH Tujuan dilakukan uji pH lotion untuk
megetahui apakah sediaan yang dibuat oleh penulis telah memenuhi syarat pH pada
body lotion standar yaitu pada range
4-7. Uji pH dilakukan dengan menggunakan alat pH meter. Hasil pengukuran pH
pada masing-masing formulasi body lotion
adalah sebagai berikut :
Tabel 6Hasil pengujian pH body lotion ekstrak biji kakao(Theobroma cacao L.)
|
No |
Formulasi |
Minggu ke |
Rata-rata |
|||
|
I |
II |
III |
IV |
|||
|
1 |
F1 |
6 |
6 |
6 |
5 |
6 |
|
2 |
F2 |
5 |
5 |
5 |
4 |
5 |
|
3 |
F3 |
5 |
5 |
4 |
4 |
5,5 |
�
Keterangan :
F1
���������������� = lotion degan
konsentrasi ekstrak biji kakao 3%
F2����������������� = lotion degan konsentrasi
ekstrak biji kakao 5%
F3����������������� = lotion degan konsentrasi
ekstrak biji kakao 7%

Grafik 1 Hasil pengujian pH� body
lotion ekstrak biji kakao
Berdasarkan
tabel dan grafik yang didapatkan pada uji pH untuk setiap sediaan Formulasi I,
Formulasi II, dan Formulasi III memenuhi persyaratan dengan range pH untuk
topikal yaitu 4-7.
Uji
daya sebar
��������� Tujuan evaluasi daya sebar yaitu untuk
mengetahui kemampuan penyebaran body
lotion pada kulit telah memenuhi persyaratan untuk daya sebar body lotion bila daya sebar sebesar 5 -
7 cm. Daya sebar baik akan mempermudah saat diaplikasikan pada kulit. Faktor
yang mempengaruhi diameter daya sebar suatu sediaan adalah jumlah ekstrak yang
digunakan setiap masing-masing formula. Hal ini berdasarkan pada kenyataan
bahwa semakin rendah konsistensi sediaan body
lotion dengan waktu lekat yang lebih rendah maka dapat membuat body lotion semakin mudah menyebar
(Handayani, 2019). Hasil pengukuran daya sebar pada masing-masing sediaan body lotion dapat dilihat pada tabel
sebagai berikut
Tabel 7 Hasil daya sebar body lotion ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.)
|
No |
|
Minggu ke |
Rata-rata |
|||
|
50 gr |
100 gr |
150 gr |
200 gr |
|||
|
1 |
F1 |
5,3 |
6,2 |
6,2 |
6,5 |
6 |
|
2 |
F2 |
5,3 |
5,7 |
5,7 |
5,9 |
5,6 |
|
3 |
F3 |
6,2 |
6,2 |
6,2 |
6,7 |
6,3 |
Keterangan
:
F1
���������������� = lotion degan
konsentrasi ekstrak biji kakao 3%
F2����������������� = lotion degan konsentrasi
ekstrak biji kakao 5%
F3����������������� = lotion degan konsentrasi
ekstrak biji kakao 7%

Grafik 2 Rata-rata uji daya sebar ekstrak body
lotion biji kakao
Sediaan
body lotion ekstrak biji kakao dengan
konsentrasi 3%; 5%; 7% menunjukkan daya sebar yang berbeda. sediaan lotion
dengan konsentrasi ekstrak biji kakao 3% menunjukkan daya sebar 6 cm;
konsentrasi 5% menunjukkan daya sebar 5,6 cm; dan untuk lotion dengan
konsentrasi ektrak biji kakao 7% menunjukkan daya sebar 6,3 cm, semua sediaan
menunjukkan daya sebar yang baik rata-rata diatas 5 cm atau 6 cm. Daya sebar
yang baik dapat menjamin pelepasan bahan obat dengan baik (Voight, 1995). Dari
hasil tersebut menunjukkan semua lotion yang dihasilkan tetap stabil selama
penyimpanan
Hasil
stabilitas sediaan body lotion
Berdasarkan hasil uji stabilitas sediaan body lotion ekstrak biji kakao (Theobroma
cacao L.) menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat tetap stabil dalam
penyimpanan pada suhu kamar selama 8 minggu (2 bulan) pengamatan. Parameter
yang diamati dalam uji kestabilan fisik ini meliputi perubahan bentuk, warna,
bau, dan pH sediaan. Berdasarkan hasil pengamatan bentuk menunjukkan bahwa
seluruh sediaan body lotion yang
dibuat memiliki bentuk dan konsistensi yang baik yaitu tidak meleleh pada suhu
kamar. Warna dan bau sediaan tetap stabil dalam penyimpanan selama 1, 4, 6, dan
8 minggu pengamatan pada suhu kamar. Hasil uji stabilitas sediaan body lotion dapat dilihat pada Tabel
berikut ini.
Tabel 9 Hasil pengamatan peubahan bentuk,
warna, dan bau sediaan
|
Pengamatan |
Sediaan |
Lama pengamatan (minggu) |
|||
|
1 |
4 |
6 |
8 |
||
|
Bentuk |
F1 |
- |
- |
- |
- |
|
F2 |
- |
- |
- |
- |
|
|
F3 |
- |
- |
- |
- |
|
|
Warna |
F1 |
- |
- |
- |
- |
|
F2 |
- |
- |
- |
- |
|
|
F3 |
- |
- |
- |
- |
|
|
Bau |
F1 |
- |
- |
- |
- |
|
F2 |
- |
- |
- |
- |
|
|
F3 |
- |
- |
- |
- |
|
Keterangan
:
F1
: sediaan body lotion dengan
konsentrasi ekstrak biji kakao 3%
F2
: sediaan body lotion dengan
konsentrasi ekstrak biji kakao 5%
F3
: sediaan body lotion dengan
konsentrasi ekstrak biji kakao 7%
-:
tidak mengalami perubahan; + : mengalami perubahan.
Hasil uji aktivitas antioksidan
sediaan body lotion
Antioksidan merupakan zat yang teroksidasi
sehingga dapat mencegah terjadinya oksidasi. Metode uji antioksidan pada penelitian
ini digunakan senyawa DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) karena metode ini
relatif sederhana dan sudah banyak digunakan untuk uji aktivitas antioksidan.
DPPH merupakan suatu senyawa yang dapat mengalami gugus radikal yang relatif
stabil karena mengandung nitrogen organik. Adapun sifat fisiknya berwarna ungu
gelap dengan absorbansi yang kuat pada panjang gelombang maks 517nm. DPPH yang
telah teroksidasi mengalami perubahan warna menjadi kuning. Adapun instrumen
yang dilakukan untuk uji perubahan warna (collorymetri)
tersebut adalah spektrofotometri UV-VIS.
Nilai absorbansi hasil pengujian digunakan
untuk penentuan nilai persen inhibisi. Hasil persen inhibisi ekstrak biji kakao
dapat dilihat pada Tabel
Tabel. 10 Hasil persen inhibisi
ekstrak biji kakao
|
no |
konsentrasi
sampel |
absorbansi |
λ |
%inhibisi |
|
1 |
50 ppm |
0,725 |
517 |
18,356 |
|
2 |
70 ppm |
0,757 |
517 |
14,752 |
|
3 |
90 ppm |
0,773 |
517 |
12,950 |
|
4 |
100 ppm |
0,785 |
517 |
11,599 |
|
5 |
150 ppm |
0,835 |
517 |
5,968 |
|
6 |
kontrol
(dpph+metanol) |
0,888 |
517 |

Grafik 3 kurva pengukuran antioksidan
standar hasil pengukuran ekstrak biji kakao
Aktivitas
antioksidan dari body lotion ekstrak
biji kakao dinyatakan dalam persen inhibisinya terhadap radikal DPPH. Persen
inhibisi ini didapatkan dari perbedaan serapan antara absorban DPPH dengan
absorban sampel yang diukur dengan spektrofotometer UV-Vis. Pengukuran persen
inhibisi body lotion ekstrak biji
kakao dilakukan pada konsentrasi 50 ppm, 70 ppm, 90 ppm, 100 ppm, 150 ppm.
Hasil IC50 body lotion ekstrak biji kakao adalah 49.324 �g/ml. pada
penelitian sebelumnya diketahui nilai aktivitas antioksidan pada ekstrak biji
kakao adalah 0,926 �g/ml (sampebarra, 2018).
Besarnya
aktivitas antioksidan ditandai dengan nilai IC50, yaitu konsentrasi
larutan sampel yang dibutuhkan untuk menghambat 50 % radikal bebas DPPH
(Kristian, 2019). Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH terhadap body lotion ekstrak biji kakao pada
formula I diperoleh IC50 sebesar 7,144 �g/ml, pada formula II
diperoleh IC50 sebesar� 8,333
�g/ml, dan pada formula III diperoleh IC50 sebesar 7,143 �g/ml.
Berdasarkan hasil uji aktivitas antioksidan body
lotion ekstrak biji kakao diketahui bahwa formula III memiliki daya
antioksidan yang lebih kuat dibandingkan formula I dan II. Hal ini dikarenakan
pada formula III mengandung konsentrasi ekstrak biji kakao paling tinggi yaitu
sebesar 7%.
Berdasarkan
penelitian uji aktivitas antioksidan dan formulasi sediaan body lotion dari ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L. ) sebagai antioksidan yang didapatkan
menunjukkan bahwa sediaan body lotion
antioksidan kurang signifikan. Kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor,
diantaranya karena metode ekstraksi yang digunakan kemungkinan tidak cukup
menarik kompunen kimia yang bersifat antiaksodan dalam sediaan biji kakao
KESIMPULAN
Kesimpulan pada penelitian ini adalah : 1. ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.) dapat dibuat sedian �body lotion dengan berbagai macam konsentrasi. �2. Konsentrasi biji kakao (Theobroma cacao L.) dapat mempengaruhi sifat fisik body lotion formula I berwarna coklat
tua, formula II berwarna coklat tua, formula III berwarna coklat tua. Uji pH untuk setiap sediaan F1,F2,F3 memenuhi
persyaratan dengan reng pH yaitu 4,5-7. uji homogenitas,
serta uji daya sebar sediaan lotion dengan variasi kadar ekstrak biji kakao (Theobroma
cacao L.) tidak
mempengaruhi kestabilan fisik body lotion dan tidak mengalami perubahan selama dilakukan
pengujian. Sediaan body lotion ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.) mempunyai aktivitas antioksidan dengan nilai IC50
pada formula I sebesar 7,144 �g/ml, formula II sebesar 8,333 �g/ml, dan formula
III sebesar 7,143 �g/ml.
DAFTAR
PUSTAKA
Al Alamin, Roby. (2020).
GAMBARAN PEMILIHAN PENGGUNAAN KOSMETIK HERBAL MAHASISWI AKADEMI FARMASI
PUTRA INDONESIA MALANG. Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang.
Asmidar, Asmidar.
(2018). Hukum Wudhu Bagi Pengguna Kosmetik Water Proof Menurut MUI (Majelis
Ulama Indonesia) Kota Medan (Studi Kasus Mahasiswi Fakultas Syari�ah Dan Hukum
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara). Universitas Islam Negeri Sumatera
Utara Meddan.
CUT RIANTI, PARDOSI.
(2018). Formulasi Sediaan Sabun Mandi Cair Dari Ekstrak Etanol Biji Cokelat
(Theobroma cacao L.). INSTITUT KESEHATAN HELVETIA.
Dewi, Betna, &
Wirahmi, Nori. (2019). Formulasi Lotion Ekstrak Wortel (Daucus Carota L) Metode
Maserasi. Jurnal Ilmiah Pharmacy, 6(1), 128�139.
Hendradi, Esti,
Chasanah, Uswatun, Indriani, Tiara, & Fionayuristy, Fidela. (2013).
Pengaruh gliserin dan propilenglikol terhadap karakteristik fisik, kimia dan
spf sediaan krim tipe o/w ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.)(kadar ekstrak
kakao 10%, 15% dan 20%). PharmaScientia, 2(1), 31�42.
Jusmiati, Jusmiati,
Rusli, Rolan, & Rijai, Laode. (2015). Aktivitas antioksidan kulit buah
kakao masak dan kulit buah kako muda. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 1(1),
34�39.
Rahmadinna, Fariza.
(2019). Beauty Vlog dan Makna Kecantikan Bagi Perempuan Muda di Kota Jakarta.
Fakultas Ilmu Budaya.
Saleh, Lisa Purnawati,
Suryanto, Edi, & Yudistira, Adithya. (2012). Aktivitas antioksidan dari
ekstrak tongkol jagung (Zea mays L.). Pharmacon, 1(2).
Sanjaya, Ridwan. (2009).
Josua Tarigan. Creative Digital Marketing Teknologi Berbiaya Murah, Inovatif
Dan Berdaya Hasil Gemilang. Jakarta: PT Alex Media Komputindo.
Surya, Alfin. (2019).
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol The Hijau Kemasan Merek X Terhadap Dpph
(2, 2 diphenyl-1-picrylhydrazyl). Klinikal Sains: Jurnal Analis Kesehatan,
7(1), 43�49.
Zuhra, Cut Fatimah,
Tarigan, Julianti Br, & Sihotang, Herlince. (2008). Aktivitas antioksidan
senyawa flavonoid dari daun katuk (Sauropus androgunus (L) Merr.). Jurnal
Biologi Sumatera, 3(1), 7�10.
�