PERANCANGAN
KAWASAN AGROWISATA DI KECAMATAN MODOINDING
Chelyn Frisca Truly Kalawawo1, Freike E. Kawatu2,
Ferdinan S. R. P. Terok3, Antoinette L. G.
Katuuk4
Program Studi Arsitektur,
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Manado, Indonesia
Abstrak:
Indonesia merupakan negara
dengan kekayaan alam dan hayati yang sangat beragam, dan apabila di kelola dengan baik, kekayaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung perekonomian nasioal. Agrowisata merupakan kegiatan parawisata yang memanfaatkan usaha dengan mengkombinasikan
antara pertanian dan aktivitas wisata yang sekaligus mendapat pembelajaran mengenai pertanian. Agrowisata ini juga dapat menjadi alternatif
untuk memperoleh pendapatan
bagi masyarakat lokal. Modoinding merupakan daerah yang memiliki potensi untuk dikembangkannya agrowisata karena didukung dengan pemandangan yang sangat indah akan hamparan perkebunan
holtikultura, letak geografis serta kondisi iklimnya yang ada dan lokasinya berada didataran tinggi membuat lahan subur dan cocok untuk pengembangan berbagai hasil pertanian. Modoinding dikenal sebagai Dapur Indonesia
Timur karena hasil taninya yang berlimpah. Pada saat merancang Kawasan Agrowisata ini tidak hanya bentuk, struktur
dan aspek ekonomi saja yang
dikedepankan. Arsitektur organik adalah konsep yang menggabungkan ruang dan bentuk yang selaras dengan alam dan menyatu dengan tapak melalui
visualisasi. Frank Llylod
Wright terkenal dengan konsep arsitektur organik, yaitu konsep hunian dimana
manusia bisa tetap menyatu dengan
alam tanpa kehilangan unsur modernnya.
Kata kunci: Agrowisata, Arsitektur Organik, Modoinding
Abstract:
Indonesia is a country that has a very diverse
natural and biological wealth and if managed properly, this wealth can be
relied upon to become the mainstay of the national economy. Agrotourism is a
tourism activity that utilizes business by combining agriculture and tourism
activities while learning about agriculture. This agritourism can also be an
alternative to obtaining income for local communities. Modoinding
is an area that has the potential to develop agritourism because it is
supported by a very beautiful view of the expanse of horticultural plantations,
geographical location and climatic conditions that exist and its location is in
the highlands making the land fertile and suitable for the development of
various types of agricultural commodities. Modoinding
is known as the kitchen of Eastern Indonesia because of its abundant
agricultural products. In designing this agro-tourism
area, it does not only emphasize the form, structure and economic aspects.
Organic architecture is a concept that combines space and form that is in
harmony with nature and integrated with the site through visualization. Frank Llylod Wright is famous for the concept of organic
architecture, which humans can remain one with nature without losing their
modern elements.
Keywords: Agrotourism,
Organic Architecture, Modoinding���������������������������������������������������������������
Corresponding: Chelyn Frisca Truly Kalawawo
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Sebagai negara agraris,
Indonesia memiliki kekayaan
alam dan hayati yang sangat
beragam dan jika dikelola dengan tepat, kekayaan tersebut mampu di andalkan menjadi andalan perekonomian nasional (Hakim & Saragih, 2019). Di Indonesia sendiri memiliki sumber daya alam
yang paling dominan yaitu pertanian, dan hal ini dikarenakan Indoesia berada di iklim tropis yang diaman curah hujannya tinggi sehingga banyak jenis tumbuhan
yang dapat hidup dan tumbuh subur (Atang et al., 2020). Selain bisa dimanfaatkan sebagai untuk bahan pokok makanan, pertanian juga berpotensi sebagai
daya Tarik destinasi wisata yang dapat menumbuhkan perekonoman maupun parawisata yang ada (Harsana & Triwidayati, 2020).
Agrowisata merupakan bentuk kegiatan parawisata yang memanfaatkan potesi usaha. Usaha yang dimaksud adalah kombinasi dari pertanian dan aktivitas wisata, yang dimana para pengunjug dapat menikmati wisata yang ada sekaligus juga mendapat pembelajaran mengenai pertanian (AHMADI, 2017). Agrowisata juga dapat
menjadi alternatif untuk memperoleh pendapatan bagi masyarakat lokal yang dapat dikembangkan dan diarahkan dalam bentuk ruang tertutup
(seperti museum), dan terbuka
(taman atau lansekap) (Marpaung & Sinaga, 2021).
Indonesia memiliki
potensi yang besar dalam mengembangkan agrowisata, dikarenakan citra Indonesia yang kaya akan sumber daya alam
khususnya pada bidang pertanian (Tasik, Sambiran, & Sampe, 2019). Namun seperti yang diketahui, masih banyak potensi agrowisata yag tersebar di Indonesia belum diolah dan dikembangkan seutuhnya (Pandjaitan, 2018). Minimnya pengetahuan
dan pengelolaan agrowisata,
kurangnya fasilitas yang mendukung, serta sunber daya manusia
yang belum potensial dalam pengembangan agrowisata merupakan faktor penghambat pengembangan agrowisata yang ada (Wahyudi & Yahya, 2021). Untuk itu perlu adanya
upaya pengelolaan yang dilakukan agar agrowisata mempunyai daya tarik sendiri dalam berwisata.
Modoinding dikenal sebagai Dapur
Indonesia Timur karena hasil
taninya yang berlimpah. Petani merupakan profesi utama masyarakat
setempat dan menjadi komoditas utamanta adalah pertanian jenis holtikultura (Sadono, 2008). Pertanian yang ada
di Kecamatan Modoinding dengan pemandangan sangat indah yang didukung dengan letak geografis
yang sesuai dan kondisi iklim, membuat daerah ini menjadi salah satu daerah yang sangat berpotensi untuk dikembangkannya parawisata yang ada yaitu agrowistata.
Potensi yang dimiliki Kecamatan
Modoinding ini belum sepenuhnya dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal (Mpila, Gosal, & Mononimbar, 2020). Masih kurangnya fasilitas
penunjang tempat wisata, kondisi objek wisata yang tidak terawat dengan
baik, terbatasnya informasi
tentang Kawasan agrowisata
dan belum maksimalnya pengelolaan yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat.
METODE
PENELITIAN
Sebagai arahan dari desain pendekatan
perancangan pada objek ini menggunakan studi pendekatan metode deskriptif dan deduktif. Dalam hal ini diperlukan
tahap-tahap sebagai berikut :
1.
Pengumpulan
data
Selama pengumpulan data penulis mengumpulkan data yang terdiri dari data primer dan data
sekunder. Data primer adalah
informasi yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung, dikorelasikan dengan informasi dan fakta yang diperlukan, dan diperoleh melalui studi lapangan melalui pengamatan langsung kondisi eksisting terhadap tapak yang ada dan dikumpulkan termasuk data fisik dan dokumentasi. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari berbagai sumber
literatur berupa buku, jurnal, artikel ilmiah atau internet dan diperoleh dari kajian literatur dan studi komparasi.
2.
Analisis
Dari yang diperoleh kemudian dianalisis sesuai dengan maksud
dan tujuan dari pada perancangan terrsebut. Analisis dibagi menjadi dua yaitu analisis programatik dan analisis tapak pada site. Analisis programatik
meliputi fungsional dan analisis zonasi kawasan agrowisata holtikultura. Analisis tapak adalah analisis yang dilakukan terhadap unsur-unsur di
luar bangunan, termasuk sirkulasi, iklim, vegetasi, kebisingan, view, material, dan teori,
yang diperoleh dalam pendekatan pada objek perancangan.
3.
Konsep desain
Konsep menjadi acuan dalam proses perancangan. Konsep desain merupakan proses yang memadukan hasil analisis tapak dan lingkungan dengan pendekatan tematik.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
�� Aspek Fungsional
Fungsi-fungsi yang termasuk dalam perancangan agrowisata dikelompokkan menurut jenis kegiatan dan kebutuhan pengguna. Adapun fungsinya adalah sebagai berikut:
a.
Fungsi Primer
Fungsi primer atau fungsi utama
dari perancangan ini adalah wisata kebun.
Fungsi utama ini berupa fasilitas-fasilitas utama yang ada pada rancangan, yaitu sebagai berikut:
�
Wisata Sayur
�
Wisata Buah
�
Green House
b.
Fungsi sekunder
Fungsi sekunder adalah untuk mendukung perancangan agrowisata, yakni restaurant, penginapan, pengelola, edukasi, area rekreasi dan area servis.
Kebutuhan ruang pada Kawasan agrowisata terdiri beberapa kegiatan yang� dikelompokan
menjadi beberapa bagian, yaitu :
�
Kegiatan Penerima
Kegiatan penerima
berupa tempat parkir, loket tiket,
frontdesk/resepsionis,
pos keamanan.
�
Kegiatan Wisata
Edukasi
Kegiatan wisata
edukasi adalah kegiatan yang dimana seseorang atau beberapa orang melakukan kegiatan wisata dengan tujuan untuk
mendapatkan pengalaman belajar secara langsung terkait dengan lokasi yang dikunjungi (Rodger,1998). Adapun fasilitas-fasilitas
yang menunjang kegiatan wisata edukasi berupa kebun sayur,
kebun buah, amphitiater, dan aula serbaguna.
�
Kegiatan Wisata
Rekreasi
Kegiatan wisata
rekreasi adalah kegiatan wisata dengan megunjungi tempat tertentu yang didalamnya terdapat daya tarik untuk
para wisatawan nikmati. Kegiatan wisata rekreasi berupa area camp, taman main anak, taman istirahat, dan danau buatan.
�
Kegiatan Penunjang
Kegiatan penunjang
adalah kegiatan yang mendukung dan melengkapi suatu kawasan wisata.
Kegiatan penunjang berupa restaurant, cottage, dan area perbelanjaan.
�
Kegiatan Pengelola
Kegiatan pengelola
berfungsi mengkoordinir serta mengatur seluruh kegiatan yang berlangsung didalam Kawasan Agrowisata agar berjalan dengan lancar. Didalamnya termasuk kegiatan pengelola staff dan anggaran, fasilitas, pengaturan paket kegiatan dan pemeliharaan. Kegiatan pengelolaan berupa bidang budidaya
tanaman, bidang rekreasi, dan bidang administrasi, keuangan, dan pemasaran.
�
Kegiatan Servis
����� Kegiatan sevis dibagi mejadi
dua bagian yaitu kegiatan servis sebagai penunjang kegiatan wisata berupa toilet, dan kegiatan servis sebagai kegiatan perawatan, perbaikan dan kebersihan.

�����������
Gambar 1. Lokasi Perancangan
���������� Sumber: Penulis 2022
Tapak tersebut memiliki luas 71.945 m2.
Sisi terpanjang yaitu
411,93 m 391.89 m, dan sisi terpendek
yaitu 69.31 m.
�
Luas Site ����������������������������������� : 71.945 m2
�
Luas Sempadan ��������������������� :
391.89 m x 8 m = 3.135 m2
�
Luas Site Efektif ��������������������� :
71.945 � 3.135 = 68.810 m2
�
KDB ������������������������������������������������������������ :
60%
�
Luas Bahan Terbangun�������� : 60% x 67.551 m2
�
=40.530 m2
�
KDH ������������������������������������������������������������ :
40% x 67.551 m2
= 27.020 m2�
Klimatologi
Gambar 2. Analisa Matahari Sumber: Penulis
2022
Respon terhadap pergerakan
matahari :
-�� Bukaan pada massa bangunan pada area barat
dan timur sehingga dapat memaksimalkan pencahayaan alami untuk meminimalisir penggunaan pencahayaan buatan.
- Memanfaatkan elemen vegetasi/pepohonan sebagai penghalang terhadap radiasi termal dan sinar matahari.

�
Gambar 3. Analisa Angin Sumber: Penulis
2022
Respon terhadap pergerakan angin :
Sumber angin pada tapak
datang dari arah timur dan arah barat. Angin yang masuk pada tapak akan dioptimalkan dengan penggunaan ventilasi silang untuk penghawaan alami pada bangunan agar membawa hawa atau suasana
luar ruangan dengan memenuhi kebutuhan udara yang dipenuhi dalam ruangan. Untuk mencegah hembusan angin yang berlebihan, maka akan diberikan vegetasi sebagai pemecah angin disekitar tapak.
Berdasarkan informasi data Badan Pusat Statistik
Kabupaten Minahasa Selatan, curah
hujan tertinggi pada tahun 2020
adalah 644 mm pada bulan desember.
Curah hujan paling sedikit terjadi
pada bulan April yaitu 39 mm.
Resepon terhadap curah hujan :
Akan mengaplikasikan
bentuk atap dengan cukup
miring agar air hujan bisa mengalir
dengan baik ke talang yang kemudian dapat digunakan Kembali.

Keadaan view disekitar tapak merupakan view positif. Hal ini dikarenakan area disekitar tapak merupakan daerah perkebunan dan lingkungan sekitar masih asri.

Gambar 5. Analisa Sirkulasi
Sumber: Penulis 2022
Sirkulasi pada tapak menunjukkan sirkulasi kendaraan terdapat 2 jalan yang berhubungan langsung pada tapak yaitu jalan
utama yang berada disisi barat site dan jalan kecil yang berada disisi utara site yang merupakan akses bagi para petani untuk masuk/keluar area perkebunan. Di sekitar area site belum memiliki sirkulasi bagi pejalan kaki.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh (Wallace 1995) suatu
sistem zonasi yang terencana dengan baik akan memberikan kualitas yang tinggi terhadap pengalaman pengunjung dan memberikan lebih banyak pilihan pengunjung yang akan mempermudah pengelola untuk beradaptasi dan
lebih jelasnya bisa dilihat ada gambar
dibawah ini:

Gambar 6. Zonasi Kawasan Agrowisata
��� Sumber: Wallace, 1995 dalam Sastrayuda, 2010
Dalam penzoningan ini juga berdasarkan hasil evaluasi dari analisa pencapaian,
view, kebisingan, dan klimatologis.
Dan berikut ini adalah hasil penzoningan tersebut:
Keterangan : ������������������
Zona Pelayanan ������������������
Zona Antara ������������������
Zona Inti![]()
![]()

Gambar 7. Zoning Kawasan
Sumber: Penulis 2022
�
Zona antara atau penyangga dikembangkan
sebagai kegiatan rekreasi dan akomodasi. Pada zona ini terdapat beberapa
fasilitas yang bisa menunjang fungsi utama dari agrowisata. Zona antara ini
diletakkan dibagian tengah tapak, dikarenakan untuk membatasi antara� zona inti dan zona pelayanan.
�
Zona inti dikembangkan sebagai kegiatan
edukasi dan rekreasi alam yang saling berkaitan dengan potensi sumber daya
pertanian sebagai daya tarik agrowisata. Dalam hal ini zona inti di letakkan
dibagian utara tapak. Perletakkan ini dikarenakan memerlukan view yang sangat
menarik dan pencahayaan alami yang tinggi. Zona inti juga bisa menjadi zona
pengembangan karena zona inti ini diberi fasilitas yaitu kebun sayur dan kebun
buah.
Untuk menetapkan
bentuk dari masa bangunan ada beberapa
hal yang menjadi bahan evaluasi, antara lain yaitu:
1. Kolerasi alam,
topografi dengan arsitektur
2. Mengharmoniskan antara
ruang luar dan ruang dalam
3. Bentuk arsitektur
yang cocok dan selarasn dengan lingkungan site.
Aspek atau kesan organic sering dimunculkan mengarah pada bentuk bebas dan ekspresif. Bukan dimaksudkan untuk meniru alam, tetapi lebih dimaksudkan untuk mendukung manusia sebagai makhluk yang hidup dan kreatif (What is Organic Architecture, n.d.).
1. Bangunan
Utama
Bentuk bangunan utama yang dihasilkan menyesuaikan dengan beberapa pertimbangan dan ditunjang oleh konsep respon terhadap alam pada bentuk bangunan dan dimunculkan dengan pola dan penataan massa bangunan mengikuti pola kontur atau
bentuk site yang ada.

Gambar 8. Bentuk Dasar Bangunan
Sumber: Penulis 2022
Bentuk dasar bangunan ini di ambil berdasarkan bentuk kontur yang berbentuk busur. Selanjutnya bentuk gubahan diadopsi dari lingkungan
sekitar yaitu perbukitan yang ada di sekitar tapak yang merupakan perkebunan.
Gambar 9. Bentuk Fasade Bangunan Utama
Sumber: Penulis 2022
2. Bentuk
Kawasan
Penataan dalam kawasan bersifat
natural dimana lingkungan sekitar menjadi pokok dan inspirasi dalam menentukan betuk dan pola penataan lansekap.

�� �� Gambar 10. Bentuk Kawasan
Sumber: Penulis 2022
3.
Sirkulasi dan Aksesibilitas
Hasil Analisa terhadap eksisting tersebut adalah sebagai berikut:�
�
Sirkulasi Pejalan Kaki
Perencanaan untuk sirkulasi dibagi menjadi dua bidang, yaitu sirkulasi kendaraan dan sirkulasi pejalan kaki. Pada perancangan
ini diatur keterpaduan tata
letak zona pelayanan menuju zona inti yang bersifat jaringan. Ini ditetapkan dalam pejalan kaki karena objek dedsain
di dalamnya megutamakan bebas kendaraan untuk mengurangi dampak pencemaran di sekitar Kawasan lokasi perancangan. Sifat jaringan ini dapat menghubungkan jalan-jalan yang menghubungkan titik-titik tertentu didalam ruangan sehingga menimbulkan suasana yang terus bergerak dan tidak bosan.

Gambar 11. Zoning Kawasan
�Sumber: Penulis 2022
�
Sirkulasi Kendaraan
Pola sirkulasi kendaraan
dibuat dari pintu masuk sampai
pada dimana terdapat area parkir.

Gambar 12. Zoning Kawasan
Sumber: Penulis 2022
�
Entrance
Akses utama pada tapak yaitu berada pada sisi yang menghubungkan antara tapak dengan
jalan utama dan tidak mengganggu akses bagi para petani untuk masuk/keluar area perkebunan. Secara makro akses
keluar masuk pada tapak menerapkan pola sirkulasi dua arah agar sirkulasi lebih merata dan teratur.

������� Gambar 13.
Zoning Kawasan
����� Sumber: Penulis 2022
�
Struktur Atas
Struktur
atas merupakan bagian yang menopang beban atap. Adapun beberapa struktur
atas yang akan diterapkan pada
perancangan sesuai kebutuhan yaitu :
a.
Struktur Bambu
Untuk struktur
atap bamboo akan digunakan
pada bangunan yang bentuk atapnya melengkung. Bangunan yang akan di terapkan yaitu cottage dan aula serbaguna.
�
����������������������������������������� Gambar
14. Struktur Atap Bambu
Sumber: Penulis 2022
b.
Struktur Baja Ringan
Untuk struktur
baja ringan akan digunakan pada bangunan gedung pengelola dan gedung utama.

Gambar 15. Struktur Baja Ringan
Sumber: Penulis 2022
�
Struktur Tengah
Untuk struktur tengah
pada perancangan ini akan menggunakan struktur beton bertulang.

������ Gambar 16. Struktur Beton Bertulang
�� Sumber: Google
�
Struktur Bawah
Struktur bawah yang akan digunakan yaitu pondasi batu kali. Pondasi batu
kali cocok digunakan untuk bangunan yang tidak bertingkat dan memiliki jenis tanah yang tidak lunak.

Gambar 17. Pondasi Batu Kali
Sumber: Google
�
Material Bangunan
Penggunaan
material merupakan salah satu prinsip yang mencirikan arsitektur� organik pada bangunan itu sendiri. Berikut
ini adalah material-material yang digunakan pada bangunan :�
1. Kaca
Penggunaan
kaca membuat ruang dalam dan ruang luar tidak terbatasi dan di dalam bangunan
akan mendapatkan banyak pencahayaan alami.
2.
Kayu dan bambu
Penggunaan
kayu dan bambu dalam bangunan diterapkan pada lantai, dinding, dan tiang. Kayu
juga dijadikan sebagai secondary skin untuk fasad bangunan yang di
kombinasikan dengan kaca sebagai estetika dan memberikan kesan alami.
3.
Batu Alam
Penggunaan
batu alam diaplikasikan pada dinding. Selain berfungsi sebagai estetika, batu
alam juga memiliki sifat tahan api, tahan akan tekanan yang tinggi, daya
penyerapan air yang rendah, dan menyerap panas matahari secara signifikan.
4.
Atap aspal atau Bitumen
Atap aspal
atau bitumen akan digunakan sebagai material penutup atap. Material atap ini
mampu merdeam kebisingan dan mudah diaplikasikan dalam bentuk bangunan manapun.
D.
Hasil Rancangan
1.
Site Plan


Gambar
18. Zoning Kawasan
Sumber: Penulis 2022
2.
Perspektif Kawasan

Gambar
19. Perspektif Kawasan
Sumber: Penulis 2022

Gambar� 20. Area Camp
Sumber: Penulis 2022

Gambar
21. Area Perkebunan
Sumber: Penulis 2022

Gambar
22. Gedung Aula Serbaguna
Sumber: Penulis 2022

Gambar
23. Gedung Pengelola
Sumber: Penulis 2022

Gambar
24. Parkir
Sumber: Penulis 2022
KESIMPULAN
Perancangan kawasan agrowisata harus dirancang sesuai dengan standar-standar,
aturan, dan literatur perancangan kawasan agrowisata agar dapat dikelola secara maksimal bersama dengan potensi yang ada pada lokasi perancangan agar bisa dikembangkan secara maksimal.
Penerapan tema dan konsep pada kawasan yang terletak di daerah pegunungan, harus selaras dengan
objek yang akan dirancang agar dapat menarik perhatian wisatawan. Aspek lingkungan merupakan unsur yang ditekankan dalam perancangan ini, maka konsep organik
adalah tema yang cocok dalam perancangan
ini sehingga dapat meminimalisir dampak negatif dari pembangunan
kawasan agrowisata ini. Dengan demikian, masyarakat dan pemerintah setempat dapat merasakan manfaat yang besar dengan lingkungan
yang berkelanjutan.
DAFTAR
PUSTAKA
AHMADI, AHMADI. (2017). Pengantar
Agrowisata I: Pembelajaran dari Berbagai Sudut Pandang. Cv. Irdh (Research
& Publishing) Anggota Ikapi.
Atang, H. Ahmad, Laan,
Rahmad, Husen, H. Akhmad Yani, Hamdan Saleh Batjo, S. P., Mampa, Abdurrahim,
Umar Sulaiman, D. M., Masria, S. P., Mas�ud Atanggae, S. Pd, Hamzah, Baharudin,
& Wulakada, Hamza H. (2020). CAKRAWALA PEMIKIRAN KAHMI untuk NTT.
Penerbit Lakeisha.
Hakim, Lukmanul, &
Saragih, Rinjani. (2019). Pengaruh citra merek, persepsi harga dan kualitas
produk terhadap keputusan pembelian konsumen npk mutiara di ud. barelang tani
jaya batam. Ecobisma (Jurnal Ekonomi, Bisnis Dan Manajemen), 6(2),
37�53.
Harsana, Minta, &
Triwidayati, Maria. (2020). Potensi Makanan Tradisional sebagai Daya Tarik
Wisata Kuliner Di DI Yogyakarta. Prosiding Pendidikan Teknik Boga Busana,
15(1).
Marpaung, Posman, &
Sinaga, Robert. (2021). DAMPAK AGROWISATA PADI SAWAH PALOH NAGA TERHADAP ASPEK
SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT DESA DENAI LAMA KABUPATEN DELI SERDANG. JURNAL
REGIONOMIC, 3(2), 1�10.
Mpila, Gerald P., Gosal,
Pierre H., & Mononimbar, Windy. (2020). PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA DI
KECAMATAN MODOINDING. SPASIAL, 7(2), 176�185.
Pandjaitan, Dorothy
Rouly H. (2018). Perilaku Konsumen Indonesia Memilih Destinasi Wisata Halal.
Pusaka Media.
Sadono, Dwi. (2008).
Pemberdayaan petani: paradigma baru penyuluhan pertanian di Indonesia. Jurnal
Penyuluhan, 4(1).
Tasik, Vidi Ravael,
Sambiran, Sarah, & Sampe, Stefanus. (2019). Peran Dinas Pariwisata Dalam
Mengembangkan Potensi Wisata di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Jurnal
Eksekutif, 3(3).
Wahyudi, Andri, &
Yahya, Khoirul. (2021). PENGEMBANGAN AGROWISATA DESA MULYOSARI DI TENGAH
KEHIDUPAN MASYARAKAT MENUJU DESA MANDIRI. Publiciana, 14(02),
281�292.
Sastrayuda,
Gumelar S. 2010 �Konsep Pengembangan Kawasan Agrowisata. Hand Out Mata Kuliah
Concept Resort and Leisure, Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Resort dan
Leisure�.
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/GUMELAR_S/HAND_OUT_MATKUL_KONSEP_RESORT_AND_LEISURE/PENGEMBANGAN_KAWASAN_AGRO_WISATA.pdf� Diakses pada 27 Desember 2021.
Utama. G.
B. R dan Junaedi, W. R, 2018. Agrowisata sebagai Pariwisata Alternatif
Indonesia. Yogyakarta Deepublish.