PERANCANGAN KAWASAN AGROWISATA DI KECAMATAN MODOINDING

 

Chelyn Frisca Truly Kalawawo1, Freike E. Kawatu2, Ferdinan S. R. P. Terok3, Antoinette L. G. Katuuk4

Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Manado, Indonesia

[email protected]

 

Abstrak:

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam dan hayati yang sangat beragam, dan apabila di kelola dengan baik, kekayaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung perekonomian nasioal. Agrowisata merupakan kegiatan parawisata yang memanfaatkan usaha dengan mengkombinasikan antara pertanian dan aktivitas wisata yang sekaligus mendapat pembelajaran mengenai pertanian. Agrowisata ini juga dapat menjadi alternatif untuk memperoleh pendapatan bagi masyarakat lokal. Modoinding merupakan daerah yang memiliki potensi untuk dikembangkannya agrowisata karena didukung dengan pemandangan yang sangat indah akan hamparan perkebunan holtikultura, letak geografis serta kondisi iklimnya yang ada dan lokasinya berada didataran tinggi membuat lahan subur dan cocok untuk pengembangan berbagai hasil pertanian. Modoinding dikenal sebagai Dapur Indonesia Timur karena hasil taninya yang berlimpah. Pada saat merancang Kawasan Agrowisata ini tidak hanya bentuk, struktur dan aspek ekonomi saja yang dikedepankan. Arsitektur organik adalah konsep yang menggabungkan ruang dan bentuk yang selaras dengan alam dan menyatu dengan tapak melalui visualisasi. Frank Llylod Wright terkenal dengan konsep arsitektur organik, yaitu konsep hunian dimana manusia bisa tetap menyatu dengan alam tanpa kehilangan unsur modernnya.

 

Kata kunci: Agrowisata, Arsitektur Organik, Modoinding

 

Abstract:

Indonesia is a country that has a very diverse natural and biological wealth and if managed properly, this wealth can be relied upon to become the mainstay of the national economy. Agrotourism is a tourism activity that utilizes business by combining agriculture and tourism activities while learning about agriculture. This agritourism can also be an alternative to obtaining income for local communities. Modoinding is an area that has the potential to develop agritourism because it is supported by a very beautiful view of the expanse of horticultural plantations, geographical location and climatic conditions that exist and its location is in the highlands making the land fertile and suitable for the development of various types of agricultural commodities. Modoinding is known as the kitchen of Eastern Indonesia because of its abundant agricultural products. In designing this agro-tourism area, it does not only emphasize the form, structure and economic aspects. Organic architecture is a concept that combines space and form that is in harmony with nature and integrated with the site through visualization. Frank Llylod Wright is famous for the concept of organic architecture, which humans can remain one with nature without losing their modern elements.

 

Keywords: Agrotourism, Organic Architecture, Modoinding���������������������������������������������������������������

Corresponding: Chelyn Frisca Truly Kalawawo

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki kekayaan alam dan hayati yang sangat beragam dan jika dikelola dengan tepat, kekayaan tersebut mampu di andalkan menjadi andalan perekonomian nasional (Hakim & Saragih, 2019). Di Indonesia sendiri memiliki sumber daya alam yang paling dominan yaitu pertanian, dan hal ini dikarenakan Indoesia berada di iklim tropis yang diaman curah hujannya tinggi sehingga banyak jenis tumbuhan yang dapat hidup dan tumbuh subur (Atang et al., 2020). Selain bisa dimanfaatkan sebagai untuk bahan pokok makanan, pertanian juga berpotensi sebagai daya Tarik destinasi wisata yang dapat menumbuhkan perekonoman maupun parawisata yang ada (Harsana & Triwidayati, 2020).

Agrowisata merupakan bentuk kegiatan parawisata yang memanfaatkan potesi usaha. Usaha yang dimaksud adalah kombinasi dari pertanian dan aktivitas wisata, yang dimana para pengunjug dapat menikmati wisata yang ada sekaligus juga mendapat pembelajaran mengenai pertanian (AHMADI, 2017). Agrowisata juga dapat menjadi alternatif untuk memperoleh pendapatan bagi masyarakat lokal yang dapat dikembangkan dan diarahkan dalam bentuk ruang tertutup (seperti museum), dan terbuka (taman atau lansekap) (Marpaung & Sinaga, 2021).

Indonesia memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan agrowisata, dikarenakan citra Indonesia yang kaya akan sumber daya alam khususnya pada bidang pertanian (Tasik, Sambiran, & Sampe, 2019). Namun seperti yang diketahui, masih banyak potensi agrowisata yag tersebar di Indonesia belum diolah dan dikembangkan seutuhnya (Pandjaitan, 2018). Minimnya pengetahuan dan pengelolaan agrowisata, kurangnya fasilitas yang mendukung, serta sunber daya manusia yang belum potensial dalam pengembangan agrowisata merupakan faktor penghambat pengembangan agrowisata yang ada (Wahyudi & Yahya, 2021). Untuk itu perlu adanya upaya pengelolaan yang dilakukan agar agrowisata mempunyai daya tarik sendiri dalam berwisata.

Modoinding dikenal sebagai Dapur Indonesia Timur karena hasil taninya yang berlimpah. Petani merupakan profesi utama masyarakat setempat dan menjadi komoditas utamanta adalah pertanian jenis holtikultura (Sadono, 2008). Pertanian yang ada di Kecamatan Modoinding dengan pemandangan sangat indah yang didukung dengan letak geografis yang sesuai dan kondisi iklim, membuat daerah ini menjadi salah satu daerah yang sangat berpotensi untuk dikembangkannya parawisata yang ada yaitu agrowistata.

Potensi yang dimiliki Kecamatan Modoinding ini belum sepenuhnya dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal (Mpila, Gosal, & Mononimbar, 2020). Masih kurangnya fasilitas penunjang tempat wisata, kondisi objek wisata yang tidak terawat dengan baik, terbatasnya informasi tentang Kawasan agrowisata dan belum maksimalnya pengelolaan yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat.

 

METODE PENELITIAN

Sebagai arahan dari desain pendekatan perancangan pada objek ini menggunakan studi pendekatan metode deskriptif dan deduktif. Dalam hal ini diperlukan tahap-tahap sebagai berikut :

1.       Pengumpulan data

Selama pengumpulan data penulis mengumpulkan data yang terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah informasi yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung, dikorelasikan dengan informasi dan fakta yang diperlukan, dan diperoleh melalui studi lapangan melalui pengamatan langsung kondisi eksisting terhadap tapak yang ada dan dikumpulkan termasuk data fisik dan dokumentasi. Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari berbagai sumber literatur berupa buku, jurnal, artikel ilmiah atau internet dan diperoleh dari kajian literatur dan studi komparasi.

2.       Analisis

Dari yang diperoleh kemudian dianalisis sesuai dengan maksud dan tujuan dari pada perancangan terrsebut. Analisis dibagi menjadi dua yaitu analisis programatik dan analisis tapak pada site. Analisis programatik meliputi fungsional dan analisis zonasi kawasan agrowisata holtikultura. Analisis tapak adalah analisis yang dilakukan terhadap unsur-unsur di luar bangunan, termasuk sirkulasi, iklim, vegetasi, kebisingan, view, material, dan teori, yang diperoleh dalam pendekatan pada objek perancangan.

3.       Konsep desain

Konsep menjadi acuan dalam proses perancangan. Konsep desain merupakan proses yang memadukan hasil analisis tapak dan lingkungan dengan pendekatan tematik.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.           �� Aspek Fungsional

1.             Analisis Fungsi

Fungsi-fungsi yang termasuk dalam perancangan agrowisata dikelompokkan menurut jenis kegiatan dan kebutuhan pengguna. Adapun fungsinya adalah sebagai berikut:

a.       Fungsi Primer

Fungsi primer atau fungsi utama dari perancangan ini adalah wisata kebun. Fungsi utama ini berupa fasilitas-fasilitas utama yang ada pada rancangan, yaitu sebagai berikut:

�         Wisata Sayur

�         Wisata Buah

�         Green House

b.       Fungsi sekunder

Fungsi sekunder adalah untuk mendukung perancangan agrowisata, yakni restaurant, penginapan, pengelola, edukasi, area rekreasi dan area servis.

2.             Pelaku Aktivitas dan Kebutuhan Ruang

Kebutuhan ruang pada Kawasan agrowisata terdiri beberapa kegiatan yang� dikelompokan menjadi beberapa bagian, yaitu :

�         Kegiatan Penerima

Kegiatan penerima berupa tempat parkir, loket tiket, frontdesk/resepsionis, pos keamanan.

�         Kegiatan Wisata Edukasi

Kegiatan wisata edukasi adalah kegiatan yang dimana seseorang atau beberapa orang melakukan kegiatan wisata dengan tujuan untuk mendapatkan pengalaman belajar secara langsung terkait dengan lokasi yang dikunjungi (Rodger,1998). Adapun fasilitas-fasilitas yang menunjang kegiatan wisata edukasi berupa kebun sayur, kebun buah, amphitiater, dan aula serbaguna.

�         Kegiatan Wisata Rekreasi

Kegiatan wisata rekreasi adalah kegiatan wisata dengan megunjungi tempat tertentu yang didalamnya terdapat daya tarik untuk para wisatawan nikmati. Kegiatan wisata rekreasi berupa area camp, taman main anak, taman istirahat, dan danau buatan.

�         Kegiatan Penunjang

Kegiatan penunjang adalah kegiatan yang mendukung dan melengkapi suatu kawasan wisata. Kegiatan penunjang berupa restaurant, cottage, dan area perbelanjaan.

�         Kegiatan Pengelola

Kegiatan pengelola berfungsi mengkoordinir serta mengatur seluruh kegiatan yang berlangsung didalam Kawasan Agrowisata agar berjalan dengan lancar. Didalamnya termasuk kegiatan pengelola staff dan anggaran, fasilitas, pengaturan paket kegiatan dan pemeliharaan. Kegiatan pengelolaan berupa bidang budidaya tanaman, bidang rekreasi, dan bidang administrasi, keuangan, dan pemasaran.

�         Kegiatan Servis

����� Kegiatan sevis dibagi mejadi dua bagian yaitu kegiatan servis sebagai penunjang kegiatan wisata berupa toilet, dan kegiatan servis sebagai kegiatan perawatan, perbaikan dan kebersihan.

B.            Analisis Perancangan

1.             Lokasi Perancangan

Lokasi tapak yang terpilih untuk Perancangan Kawasan Agrowisata di Kecamatan Modoinding berada pada Desa Sinisir, Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara.

����������� Gambar 1. Lokasi Perancangan

���������� Sumber: Penulis 2022

Tapak tersebut memiliki luas 71.945 m2. Sisi terpanjang yaitu 411,93 m 391.89 m, dan sisi terpendek yaitu 69.31 m.

�      Luas Site ����������������������������������� : 71.945 m2

�      Luas Sempadan ��������������������� : 391.89 m x 8 m = 3.135 m2

�      Luas Site Efektif ��������������������� : 71.945 � 3.135 = 68.810 m2

�      KDB ������������������������������������������������������������ : 60%

�      Luas Bahan Terbangun�������� : 60% x 67.551 m2

� =40.530 m2

�      KDH ������������������������������������������������������������ : 40% x 67.551 m2

= 27.020 m2�

2.             Klimatologi

 

 

 

 

Gambar 2. Analisa Matahari

Sumber: Penulis 2022

 
 

 

 


Respon terhadap pergerakan matahari :

-�� Bukaan pada massa bangunan pada area barat dan timur sehingga dapat memaksimalkan pencahayaan alami untuk meminimalisir penggunaan pencahayaan buatan.

- Memanfaatkan elemen vegetasi/pepohonan sebagai penghalang terhadap radiasi termal dan sinar matahari.

�

 

 

 

Gambar 3. Analisa Angin

Sumber: Penulis 2022

 
 

 


Respon terhadap pergerakan angin :

Sumber angin pada tapak datang dari arah timur dan arah barat. Angin yang masuk pada tapak akan dioptimalkan dengan penggunaan ventilasi silang untuk penghawaan alami pada bangunan agar membawa hawa atau suasana luar ruangan dengan memenuhi kebutuhan udara yang dipenuhi dalam ruangan. Untuk mencegah hembusan angin yang berlebihan, maka akan diberikan vegetasi sebagai pemecah angin disekitar tapak.

Berdasarkan informasi data Badan Pusat Statistik Kabupaten Minahasa Selatan, curah hujan tertinggi pada tahun 2020 adalah 644 mm pada bulan desember. Curah hujan paling sedikit terjadi pada bulan April yaitu 39 mm.

Resepon terhadap curah hujan :

Akan mengaplikasikan bentuk atap dengan cukup miring agar air hujan bisa mengalir dengan baik ke talang yang kemudian dapat digunakan Kembali.

3.             View

Gambar 4. View

Sumber: Penulis 2022

Keadaan view disekitar tapak merupakan view positif. Hal ini dikarenakan area disekitar tapak merupakan daerah perkebunan dan lingkungan sekitar masih asri.

4.             Aksesibilitas dan Sirkulasi Kawasan

Gambar 5. Analisa Sirkulasi

Sumber: Penulis 2022

Sirkulasi pada tapak menunjukkan sirkulasi kendaraan terdapat 2 jalan yang berhubungan langsung pada tapak yaitu jalan utama yang berada disisi barat site dan jalan kecil yang berada disisi utara site yang merupakan akses bagi para petani untuk masuk/keluar area perkebunan. Di sekitar area site belum memiliki sirkulasi bagi pejalan kaki.

C.             Konsep Perancangan

1.             Zoning

Sebagaimana yang dikemukakan oleh (Wallace 1995) suatu sistem zonasi yang terencana dengan baik akan memberikan kualitas yang tinggi terhadap pengalaman pengunjung dan memberikan lebih banyak pilihan pengunjung yang akan mempermudah pengelola untuk beradaptasi dan lebih jelasnya bisa dilihat ada gambar dibawah ini:

Gambar 6. Zonasi Kawasan Agrowisata

��� Sumber: Wallace, 1995 dalam Sastrayuda, 2010

Dalam penzoningan ini juga berdasarkan hasil evaluasi dari analisa pencapaian, view, kebisingan, dan klimatologis. Dan berikut ini adalah hasil penzoningan tersebut:

Keterangan :

������������������ Zona Pelayanan

������������������ Zona Antara

������������������ Zona Inti

 

 
Gambar Arah Mata Angin Png, Vektor, PSD, dan Clipart Dengan Background  Transparan untuk Download Gratis | Pngtree

Gambar 7. Zoning Kawasan

Sumber: Penulis 2022

�         Zona pelayanan adalah area yang diperlukan oleh pengunjung atau wisatawan seperti tempat informasi. Zona pelayanan diletakkan di bagian selatan tapak. Pertletakkan ini berdasarkan hasil dari analisa pencapaian yang dimana main enterance bagi pengguna kendaraan dan pejalan kaki dibagian selatan site.

�         Zona antara atau penyangga dikembangkan sebagai kegiatan rekreasi dan akomodasi. Pada zona ini terdapat beberapa fasilitas yang bisa menunjang fungsi utama dari agrowisata. Zona antara ini diletakkan dibagian tengah tapak, dikarenakan untuk membatasi antara� zona inti dan zona pelayanan.

�         Zona inti dikembangkan sebagai kegiatan edukasi dan rekreasi alam yang saling berkaitan dengan potensi sumber daya pertanian sebagai daya tarik agrowisata. Dalam hal ini zona inti di letakkan dibagian utara tapak. Perletakkan ini dikarenakan memerlukan view yang sangat menarik dan pencahayaan alami yang tinggi. Zona inti juga bisa menjadi zona pengembangan karena zona inti ini diberi fasilitas yaitu kebun sayur dan kebun buah.

2.             Bentuk

Untuk menetapkan bentuk dari masa bangunan ada beberapa hal yang menjadi bahan evaluasi, antara lain yaitu:

1. Kolerasi alam, topografi dengan arsitektur

2. Mengharmoniskan antara ruang luar dan ruang dalam

3. Bentuk arsitektur yang cocok dan selarasn dengan lingkungan site.

Aspek atau kesan organic sering dimunculkan mengarah pada bentuk bebas dan ekspresif. Bukan dimaksudkan untuk meniru alam, tetapi lebih dimaksudkan untuk mendukung manusia sebagai makhluk yang hidup dan kreatif (What is Organic Architecture, n.d.).

1.       Bangunan Utama

Bentuk bangunan utama yang dihasilkan menyesuaikan dengan beberapa pertimbangan dan ditunjang oleh konsep respon terhadap alam pada bentuk bangunan dan dimunculkan dengan pola dan penataan massa bangunan mengikuti pola kontur atau bentuk site yang ada.

Gambar WhatsApp 2023-02-14 pukul 13.29.08.jpg

Gambar 8. Bentuk Dasar Bangunan

Sumber: Penulis 2022

Bentuk dasar bangunan ini di ambil berdasarkan bentuk kontur yang berbentuk busur. Selanjutnya bentuk gubahan diadopsi dari lingkungan sekitar yaitu perbukitan yang ada di sekitar tapak yang merupakan perkebunan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9. Bentuk Fasade Bangunan Utama

Sumber: Penulis 2022

2.       Bentuk Kawasan

Penataan dalam kawasan bersifat natural dimana lingkungan sekitar menjadi pokok dan inspirasi dalam menentukan betuk dan pola penataan lansekap.

�� �� Gambar 10. Bentuk Kawasan

Sumber: Penulis 2022

3.             Sirkulasi dan Aksesibilitas

Hasil Analisa terhadap eksisting tersebut adalah sebagai berikut:�

�         Sirkulasi Pejalan Kaki

Perencanaan untuk sirkulasi dibagi menjadi dua bidang, yaitu sirkulasi kendaraan dan sirkulasi pejalan kaki. Pada perancangan ini diatur keterpaduan tata letak zona pelayanan menuju zona inti yang bersifat jaringan. Ini ditetapkan dalam pejalan kaki karena objek dedsain di dalamnya megutamakan bebas kendaraan untuk mengurangi dampak pencemaran di sekitar Kawasan lokasi perancangan. Sifat jaringan ini dapat menghubungkan jalan-jalan yang menghubungkan titik-titik tertentu didalam ruangan sehingga menimbulkan suasana yang terus bergerak dan tidak bosan.

Gambar 11. Zoning Kawasan

�Sumber: Penulis 2022

�         Sirkulasi Kendaraan

Pola sirkulasi kendaraan dibuat dari pintu masuk sampai pada dimana terdapat area parkir.

Gambar 12. Zoning Kawasan

Sumber: Penulis 2022

 

�         Entrance

Akses utama pada tapak yaitu berada pada sisi yang menghubungkan antara tapak dengan jalan utama dan tidak mengganggu akses bagi para petani untuk masuk/keluar area perkebunan. Secara makro akses keluar masuk pada tapak menerapkan pola sirkulasi dua arah agar sirkulasi lebih merata dan teratur.

 

 

 

 

 

 

������� Gambar 13. Zoning Kawasan

����� Sumber: Penulis 2022

4.             Struktur

�         Struktur Atas

Struktur atas merupakan bagian yang menopang beban atap. Adapun beberapa struktur

atas yang akan diterapkan pada perancangan sesuai kebutuhan yaitu :

a.       Struktur Bambu

Untuk struktur atap bamboo akan digunakan pada bangunan yang bentuk atapnya melengkung. Bangunan yang akan di terapkan yaitu cottage dan aula serbaguna.

�

����������������������������������������� Gambar 14. Struktur Atap Bambu

Sumber: Penulis 2022

b.       Struktur Baja Ringan

Untuk struktur baja ringan akan digunakan pada bangunan gedung pengelola dan gedung utama.

 

Pasang Rangka Atap Baja Ringan - Jayawan

Gambar 15. Struktur Baja Ringan

Sumber: Penulis 2022

�         Struktur Tengah

Untuk struktur tengah pada perancangan ini akan menggunakan struktur beton bertulang.

Cara Menghitung Kebutuhan Material Kolom (Disertai Studi Kasus) | Pengadaan  (Eprocurement)

������ Gambar 16. Struktur Beton Bertulang

�� Sumber: Google

�         Struktur Bawah

Struktur bawah yang akan digunakan yaitu pondasi batu kali. Pondasi batu kali cocok digunakan untuk bangunan yang tidak bertingkat dan memiliki jenis tanah yang tidak lunak.

Pondasi Batu Kali (Detail Gambar, Ukuran Dan Metode Pelaksanaan)

Gambar 17. Pondasi Batu Kali

Sumber: Google

5.             Material

�         Material Bangunan

Penggunaan material merupakan salah satu prinsip yang mencirikan arsitektur� organik pada bangunan itu sendiri. Berikut ini adalah material-material yang digunakan pada bangunan :�

1.       Kaca

Penggunaan kaca membuat ruang dalam dan ruang luar tidak terbatasi dan di dalam bangunan akan mendapatkan banyak pencahayaan alami.

2.       Kayu dan bambu

Penggunaan kayu dan bambu dalam bangunan diterapkan pada lantai, dinding, dan tiang. Kayu juga dijadikan sebagai secondary skin untuk fasad bangunan yang di kombinasikan dengan kaca sebagai estetika dan memberikan kesan alami.

3.       Batu Alam

Penggunaan batu alam diaplikasikan pada dinding. Selain berfungsi sebagai estetika, batu alam juga memiliki sifat tahan api, tahan akan tekanan yang tinggi, daya penyerapan air yang rendah, dan menyerap panas matahari secara signifikan.

4.       Atap aspal atau Bitumen

Atap aspal atau bitumen akan digunakan sebagai material penutup atap. Material atap ini mampu merdeam kebisingan dan mudah diaplikasikan dalam bentuk bangunan manapun.

 

D.           Hasil Rancangan

1.             Site Plan

 

 

Gambar 18. Zoning Kawasan

Sumber: Penulis 2022

 

2.             Perspektif Kawasan

Gambar 19. Perspektif Kawasan

Sumber: Penulis 2022

Gambar� 20. Area Camp

Sumber: Penulis 2022

Gambar 21. Area Perkebunan

Sumber: Penulis 2022

Gambar 22. Gedung Aula Serbaguna

Sumber: Penulis 2022

Gambar 23. Gedung Pengelola

Sumber: Penulis 2022

Gambar 24. Parkir

Sumber: Penulis 2022

 

KESIMPULAN

Perancangan kawasan agrowisata harus dirancang sesuai dengan standar-standar, aturan, dan literatur perancangan kawasan agrowisata agar dapat dikelola secara maksimal bersama dengan potensi yang ada pada lokasi perancangan agar bisa dikembangkan secara maksimal.

Penerapan tema dan konsep pada kawasan yang terletak di daerah pegunungan, harus selaras dengan objek yang akan dirancang agar dapat menarik perhatian wisatawan. Aspek lingkungan merupakan unsur yang ditekankan dalam perancangan ini, maka konsep organik adalah tema yang cocok dalam perancangan ini sehingga dapat meminimalisir dampak negatif dari pembangunan kawasan agrowisata ini. Dengan demikian, masyarakat dan pemerintah setempat dapat merasakan manfaat yang besar dengan lingkungan yang berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

AHMADI, AHMADI. (2017). Pengantar Agrowisata I: Pembelajaran dari Berbagai Sudut Pandang. Cv. Irdh (Research & Publishing) Anggota Ikapi.

 

Atang, H. Ahmad, Laan, Rahmad, Husen, H. Akhmad Yani, Hamdan Saleh Batjo, S. P., Mampa, Abdurrahim, Umar Sulaiman, D. M., Masria, S. P., Mas�ud Atanggae, S. Pd, Hamzah, Baharudin, & Wulakada, Hamza H. (2020). CAKRAWALA PEMIKIRAN KAHMI untuk NTT. Penerbit Lakeisha.

 

Hakim, Lukmanul, & Saragih, Rinjani. (2019). Pengaruh citra merek, persepsi harga dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian konsumen npk mutiara di ud. barelang tani jaya batam. Ecobisma (Jurnal Ekonomi, Bisnis Dan Manajemen), 6(2), 37�53.

 

Harsana, Minta, & Triwidayati, Maria. (2020). Potensi Makanan Tradisional sebagai Daya Tarik Wisata Kuliner Di DI Yogyakarta. Prosiding Pendidikan Teknik Boga Busana, 15(1).

 

Marpaung, Posman, & Sinaga, Robert. (2021). DAMPAK AGROWISATA PADI SAWAH PALOH NAGA TERHADAP ASPEK SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT DESA DENAI LAMA KABUPATEN DELI SERDANG. JURNAL REGIONOMIC, 3(2), 1�10.

 

Mpila, Gerald P., Gosal, Pierre H., & Mononimbar, Windy. (2020). PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA DI KECAMATAN MODOINDING. SPASIAL, 7(2), 176�185.

 

Pandjaitan, Dorothy Rouly H. (2018). Perilaku Konsumen Indonesia Memilih Destinasi Wisata Halal. Pusaka Media.

 

Sadono, Dwi. (2008). Pemberdayaan petani: paradigma baru penyuluhan pertanian di Indonesia. Jurnal Penyuluhan, 4(1).

 

Tasik, Vidi Ravael, Sambiran, Sarah, & Sampe, Stefanus. (2019). Peran Dinas Pariwisata Dalam Mengembangkan Potensi Wisata di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Jurnal Eksekutif, 3(3).

 

Wahyudi, Andri, & Yahya, Khoirul. (2021). PENGEMBANGAN AGROWISATA DESA MULYOSARI DI TENGAH KEHIDUPAN MASYARAKAT MENUJU DESA MANDIRI. Publiciana, 14(02), 281�292.

 

Sastrayuda, Gumelar S. 2010 �Konsep Pengembangan Kawasan Agrowisata. Hand Out Mata Kuliah Concept Resort and Leisure, Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Resort dan Leisure�. http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/GUMELAR_S/HAND_OUT_MATKUL_KONSEP_RESORT_AND_LEISURE/PENGEMBANGAN_KAWASAN_AGRO_WISATA.pdf� Diakses pada 27 Desember 2021.

 

Utama. G. B. R dan Junaedi, W. R, 2018. Agrowisata sebagai Pariwisata Alternatif Indonesia. Yogyakarta Deepublish.