PENGARUH VARIASI WAKTU
JEMUR DAN SANGRAI TERHADAP KARAKTERISTIK MUTU ORGANOLEPTIK KOPI BIJI SALAK (Salacca
zalacca) DI UD. BUDI JAYA DESA KRAMAT BANGKALAN
Irin Apriyanti
Program Studi Pendidikan
Biologi, FKIP, Universitas Muhammadiyah Malang
Diterima: 04-08-2022��������������������� ��������������� Review: 12-08-2022�������� ��������������� ��������������� Publish:
Tanaman salak merupakan tanaman yang
menjadi ikon sebuah kabupaten di Madura yaitu kabupaten Bangkalan. Jenis-jenis
salak Bangkalan pada umumnya hanya memanfaatkan dagingnya saja yang dijadikan
olahan berbagai macam makanan dan minuman untuk oleh-oleh khas Bangkalan sehingga biji salak menjadi limbah yang tidak dimanfaatkan. Dalam pengolahan kopi biji salak peneliti
menemukan bahwa selama proses pengolahan biji salak menjadi kopi biji salak UD.
Budi Jaya tidak memperhatikan lama waktu jemur dan lama waktu sangrai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
mengetahui waktu jemur dan sangrai terhadap kualitas kopi biji salak dan
dimanfaatkan sebagai sebagai sumber belajar. Penelitian ini merupakan
penelitian eksperimental murni. Sampel yang digunakan adalah kopi biji salak (Z.
salacca).� Teknik sampling menggunakan Teknik random sampling. Berdasarkan� uji twoway anova dengan signifikan 5% yaitu F.hitung (13,615) > F.tabel (2,6993). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa uji organoleptik nilai tertinggi dari aspek aroma 3,86 pada waktu jemur 5 hari dan waktu sangrai 120 menit. Aspek rasa 3,71 pada waktu jemur 109 hari dan waktu sangrai 120
menit. Aspek warna 3,71 dengan waktu
jemur 10 hari 120 menit. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai kualitas kopi biji salak maka
daya terima konsumen terhadap kopi biji salak.
Kata kunci: Biji Salak; Jemur;
Kopi; Organoleptik; Sangrai
Abstract:
Snakefruit
was consist of an iconic plant in Madura district named Bangkalan. In most
cases, the type of snakefruit used its pulp only for processing various kinds
of foods and beverages for souvenirs, until its beans became waste that cannot
be utilized. In processing of the coffee of snakefruit beans, the researcher
found that during the processing of the snakefruit beans became the coffee of
snakefruit beans of UD. Budi Jaya did not concern to the long of drying and
roasting time. The study aimed to find out the drying and roasting time toward
the the coffee of snakefruit beans quality and to utilize this research for
learning resources. The design of study was true experimental design. The
sample of the research was snakefruit coffee beans (Z. salacca). The sampling technique was random sampling
technique. Based on the two-way ANOVA test with a significant 5%, namely F.count (13,615) > F.table (2,6993). The
result of study showed that the highest value of the organoleptic test from the
flavour aspect was 3.86 at a drying time of 5 days and a roasting time of 120
minutes. The taste aspect was 3.71 in the drying time of 109 days and the
roasting time of 120 minutes. The color aspect was 3.71 with a drying time of
10 days and 120 minutes. The result of study indicated that the higher the
quality value of the coffee of snakefruit beans, the higher the consumer's
acceptance the coffee of snakefruit beans.
Keywords: Coffee; Drying; Organoleptic;
Roasting; Snakefruit Beans.����������������������������������������������������������
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pulau Madura merupakan pulau kecil di
Jawa Timur yang memiliki potensi yang cukup besar di sektor pertanian.
Perkembangan yang baik dari sektor pertanian dikarenakan Madura masih memiliki
banyak lahan kosong yang dapat digunakan untuk bercocok tanam berbagai jenis
tumbuhan sehingga ekonomi masyarakat maju karena mata pencahariannya umum
adalah petani dan nelayan. Lahan kosong di Madura banyak masyarakat yang
memilih tanaman salak untuk dijadikan tanaman di halaman rumah.
Tanaman salak merupakan tanaman yang
menjadi ikon sebuah kabupaten di Madura yaitu kabupaten Bangkalan. Kabupaten Bangkalan memiliki berbagai jenis salak yang sudah ditemukan
seperti salak Bunter, Cocor, Kerbau, Panjalin, Senase, dan salak Apel (Ariestin & Ashari, 2014). Jenis-jenis salak
Bangkalan pada umumnya hanya memanfaatkan dagingnya saja yang dijadikan olahan
berbagai macam makanan dan minuman untuk oleh-oleh khas Bangkalan.
Pengolahan makanan dan minuman dari
salak menghasilkan limbah yaitu biji. Masyarakat Bangkalan masih minim
informasi sehingga biji salak menjadi limbah. Biji salak supaya tidak menjadi
limbah harus diolah menjadi produk pangan lokal yang bernilai ekonomi dengan
diolah menjadi produk inovatif dari olahan biji salak karena sesuai penelitian Karta, Susila, & mastra (2015) bahwa biji salak
berpotensi dijadikan alternatif sebagai kopi karena kandungan yang mirip dengan
kopi asli. Biji salak memiliki banyak manfaat karena memiliki zat antioksidan
yang mampu menurunkan gula darah, mencegah alergi, dan meningkatkan kekebalan
tubuh (Karta et al., 2015). Biji salak
mengandung lemak 0,48%, karbohidrat 0,38%, protein 4,22%, dan kadar air
mengandung 54,84%, dengan kandungan yang dimiliki biji salak tersebut terdapat
komposisi kimia dengan biji kopi asli sehingga biji salak dapat dibuat menjadi
minuman khususnya kopi (Paliling, 2019)
Biji salak yang mengandung kafein, protein,
karbohidrat, kadar abu, lemak, dan kafein pada biji salak ini ialah senilai 0,207%,
nilai tersebut lebih rendah daripada kandungan kafein yang terdapat dalam kopi
arabica 1,16%, kopi robusta jawa 1,48%, dan juga kopi liberica 2,19% (Prayogo et al., 2016). Nilai kandungan
kafein biji salak lebih rendah sehingga memberikan nilai tambah biji salak
dapat dijadikan alternatif sebagai pengganti kopi dan mengurangi konsumsi
kafein yang berlebihan (Karta et al., 2015).
Kafein adalah kandungan yang dominan
pada biji kopi pada umumnya, sehingga kopi harus memiliki rasa sendiri yang
unik disetiap jenis kopi yang di nikmati. Menurut data Produksi Kopi Provinsi
Indonesia (Indonesia, 2019) kebutuhan kopi tiap
tahunnya semakin meningkat diketahui pada tahun 2018 sebesar 760.061 ton, pada
tahun 2019 sebesar 760.983 ton, dan data terakhir 2020 kurva meningkat jauh
menjadi 773.409 ton, sehingga pertumbuhan permintaan pasokan kopi di Indonesia
dari tahun 2016 hingga 2020 yaitu 5,32%.
Meningkatnya kurva kebutuhan kopi
diperlukan alternatif kopi olahan yaitu kopi berbahan dasar biji salak. Kopi
biji salak memiliki kemiripan dari segi kandungan lemak,� �protein, dan kafein, hanya berbeda
pada dosis kafein yang terkandung (Paliling, 2019). Kafein pada biji
salak lebih rendah sehingga aman dikonsumsi oleh segala usia karena efek
farmakologis yang mampu menurunkan kadar glukosa darah (Lokaria & Susanti, 2018). Kopi harus
memenuhi kriteria karakteristik mutu biji kopi yang terdiri dari aspek rasa,
kebersihan, aspek keseragaman dan konsistensi sangat diperhatikan oleh
perlakuan disemua tahapan proses pembuatannya terutama pada tahapan
penyangraian (Hamni, A. Ibrahim, Gusri Akhyar Harun,
2014).
Pada penelitian Karta et al., (2015) proses pengeringan
dilakukan setelah biji salak dipotong kecil � kecil lalu dikeringkan
menggunakan sinar matahari. Tujuan dari biji salak dipotong kecil � kecil yaitu
guna mempercepat proses pengeringan. Pengeringan menggunakan sinar matahari
untuk menghilangkan kadar airnya sehingga mudah untuk disangrai. Karta et al., (2015) juga melakukan
proses penyangraian dalam jumlah yang banyak dengan mengandalkan sebuah
teknologi yaitu oven. Biji salak pada proses pengeringan dan penyangraian ini
harus sangat diperhatikan waktu penjemuran dan waktu penyangraian agar tidak
terlalu pahit dalam proses pembuatannya. Lama penyangraian akan mempengaruhi
pembentukan aroma dan warna kopi bubuk yang dihasilkan karena akan menentukan cita
rasa khas kopi yang ditimbulkan dari variasi lama waktu penyangraian yang
berbeda � beda (Prayogo et al., 2016). Biji salak
dilakukan proses penjemuran kurang lebih 6 sampai 7 hari dibawah sinar matahari
dan proses penyangraian selama 10 menit, 20 menit, dan 30 menit (Paliling, 2019). Lokaria & Susanti, (2018) melakukan tahap
persiapan yaitu setelah biji dipotong kecil � kecil lalu dilakukan proses
penjemuran atau pengeringan, dan tahap penyangraiannya yaitu menggunakan kompor
dan wajan selama 40 menit, 50 menit 60 menit, 70 menit dan 80 menit dengan
teknik yang masih tradisional.
Penjemuran dan penyangraian memegang
peranan penting terhadap pembentukan aroma, dan rasa yang muncul pada kopi (Marpaung & lutvia, 2020). Karakteristik
aroma, rasa, dan warna akan muncul saat tahap pembuatan diproses sangria karena
perlakuan suhu panas. Kriteria mutu biji kopi, meliputi rasa dan kemurnian
serta homogenitas dan komposisi, sangat ditentukan oleh proses pengolahan pada
setiap tahapan produksi, khususnya proses penyangraian. (Rosida, DC, FT, & N, 2018). Mutu organoleptik
menurut Marpaung & lutvia (2020) aroma, rasa, dan
warna termasuk dalam sifat karakteristik mutu organoleptik yang dapat diukur
oleh indra manusia yang dipengaruhi beberapa faktor seperti beberapa faktor
sifat kimiawi, maupun sifat bentuk fisiknya serta faktor teknologi dan ilmu
agronominya.
Mutu fisik pada kopi terdiri dari kadar
air, kadar abu dan rendemen. Kadar air pada penelitian (Widodo, 2018) sebesar 2,3%
- 5,7% sesuai dengan SNI-01-3542-2004 bahwa kadar air mutu fisik kopi maksimal
7%. Kadar air suatu bahan meruakan jumlah banyaknya kandungan air per satuan
bobot bahan yang dinyatakan dalam persen basis basah (wet basis), kadar air
basah mempunyai batas maksimum teoritis sebesar 100%. Kadar abu pada penelitian
(Widodo, 2018) sebesar 3,6%
- 4,8% sesuai dengan SNI 01-3542-2004 bahwa kadar abu sebesar 7%. Kadar abu ini
didefinisikan dengan umlah mineral yang ada dalam bahan, yang mana bahwa
mineral ini ada di dalam kopi ini ialah magnesium, kalsium, kelium, potassium,
dan juga mineral non-logam, diantaranya ialah sulphur dan juga fosfor.
Uji organoleptik kopi biji salak dengan
varian suhu dan waktu pada penyangraian diperoleh hasil bahwa dalam waktu 10
menit penyangraian dengan suhu 100�C paling banyak disukai dari segi rasa, dan
aroma (Paliling, 2019). Selanjutnya, Lokaria & Susanti (2018) menunjukkan hasil
uji organoleptik penyangraian 60 menit yang memiliki kriteria warna coklat tua,
aroma yang harum, dan daya kesukaan paling tinggi. Pengaruh dari lama
penyangraian pada mutu organoleptic dan juga karakteristik organoleptik seduhan
bubuk kopi liberika dengan lama penyangraian 15 menit ini memberi pengaruh yang
konkrit pada kadar air, pH, rasa, aroma, dan kepahitan (Marpaung & lutvia, 2020).
Produksi salak yang meningkat di UD.
Budi Jaya ini, maka menghasilkan produksi biji salak yang relatif besar pula. Hal ini merupakan suatu permasalahan terhadap lingkungan apabila tidak
adanya solusi untuk mengatasi limbah biji salak yang berlebih. Daging buah
salak sudah banyak diolah menjadi berbagai macam makanan. UD. Budi Jaya
merupakan tempat produksi olahan salak, melihat banyak biji yang terbuang sia-sia,
pemilik berinisiatif untuk mengolah biji salak dijadikan bahan baku pembuatan
bubuk kopi (Redaksi Pojok Suramadu, 2018). Dalam pengolahan
kopi biji salak peneliti menemukan bahwa selama proses pengolahan biji salak
menjadi kopi biji salak UD. Budi Jaya tidak memperhatikan lama waktu jemur dan
lama waktu sangrai. Menurut Marpaung & lutvia, (2020) proses penjemuran
dan proses penyangraian memegang peranan penting terhadap pembentukan aroma,
dan rasa yang muncul pada kopi.
Kajian berbagai hasil penelitian
termasuk skripsi ini diharapkan dapat menambah sumber belajar mata pelajaran
biologi di SMP terutama faktor-faktor yang terkait dengan materi penelitian ini
tentang zat adiktif dan psikotropika dalam mendukung KD 3.7 guna menjelaskan berbagai
zat adiktif-psikotropika dalam makanan dan minuman. Mengacu pada uraian kajian
yang sebelumnya sudah dipaparkan tersebut di atas, dengan ini nantinya akn
memberikan manfaat yang lebih luas dalam bidang pendidikan, yakni dijadikan
sebagai sumber belajar. Sumber belajar yang dihasilkan ini tepat berguna untuk
menunjang proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk pebelajar. Di dalam
materi biologi, sumber belajar yang dijadikan sebagai tujuan utama untuk
penelitian yang dilaksanakan ini. Kajian tentang �Pengaruh Variasi Waktu Jemur
dan Sangrai Terhadap Karakteristik Mutu terhadap Uji Organoleptik Kopi Biji
Salak (Salacca Zalacca) di UD. Budi Jaya Desa Kramat Bangkalan sebagai
Sumber Belajar Biologi� ini penting untuk dilakukan, untuk mengetahui waktu jemur
dan sangrai terhadap kualitas kopi biji salak dan dimanfaatkan sebagai sebagai
sumber belajar.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen murni. Penelitian dilakukan di UD. Budi Jaya Desa Kramat
Bangkalan. dan proses pengambilan data uji organoleptik
dilakukan di Dobbuns Coffe shop di Jalan Bunga Cengkeh Lowokwaru, Kota
Malang.
Populasi yang digunakan kopi biji salak (Z.
salacca). Sampel penelitian kopi biji salak (Z. salacca) yang
disudah diberi perlakuan dan diperoleh dari perkebunan salak UD. Budi
Jaya Desa Kramat Bangkalan. Penelitian ini menggunakan teknik random
sampling. Variabel bebas dari penelitian ini adalah Waktu jemur 5 hari, 10
hari, 15 hari dan 20 hari. Waktu sangrai 120 menit, 90 menit, 60 menit dan 30
menit. Ulangannya sebanyak 6 kali. Variabel
terikat dalam penelitian ini adalah aroma, rasa, dan warna dari kopi biji
salak. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah suhu
sangrai, suhu air seduhan, ukuran kehalusan.
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis
dengan ANOVA untuk mengetahui ada tidaknya perlakuan, sebelum dilakukan ANOVA
harus di uji menggunakan uji normalitas, apabila data normal dilanjut dengan
uji homogenenitas, jika data sudah homogen maka dilanjut dengan uji anova dan
uji lanjut menggunakan Tukey HSD (Multiple comparisons) untuk mengetahui
apakah berbeda nyata antar empat perlakuannya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil uji organoleptik terhadap karakteristik organoleptik kopi
biji salak dinilai dalam 3 aspek, yaitu: 1) aroma, 2) rasa, 3) warna, secara
berturut turut diuraikan hasil sebagai berikut.
Aspek Aroma
Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa perlakuan waktu jemur dan
waktu sangrai berpengaruh terhadap aspek aroma kopi biji salak yang dihasilkan.
Nilai uji organoleptik aspek aroma pada kopi biji salak (S. zalacca) dapat
dilihat pada Tabel 3.1
Tabel 3.1 Hasil
Uji Organoleptik Aspek Aroma
|
Jemur (Hari) |
Sangrai (Menit) |
|||
|
30 |
60 |
90 |
120 |
|
|
5 |
2,14 |
2,71 |
2,86 |
3,86 |
|
10 |
3,14 |
3,14 |
3,43 |
3,29 |
|
15 |
3,29 |
3,29 |
3 |
3,43 |
|
20 |
3,43 |
3,57 |
3,57 |
3,71 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3 bahwa
hasil nilai uji organoleptik pada aspek aroma diketahui waktu jemur 5 hari dan
waktu sangrai 120 menit memiliki nilai uji organoleptik aspek aroma tertinggi
sebesar 3,86, dan nilai terendah uji organoleptik aspek aroma pada perlakuan
waktu jemur 5 hari dan waktu sangrai 30 menit sebesar 2,14.
Tabel 3.2 Hasil Uji Organoleptik Aspek Rasa
|
Jemur (Hari) |
Sangrai (Menit) |
|||
|
30 |
60 |
90 |
120 |
|
|
5 |
1,86 |
2,14 |
3 |
3,57 |
|
10 |
2,86 |
3,14 |
3,29 |
3,71 |
|
15 |
3,14 |
3,43 |
3 |
3,29 |
|
20 |
3,29 |
2,57 |
2,43 |
2,86 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.2 bahwa Nilai uji organoleptik tertinggi aspek
rasa pada perlakuan waktu jemur 10 hari dan waktu sangrai 120 menit sebesar
3,71, dan nilai terendah oleh perlakuan waktu jemur 5 hari dan waktu sangrai 30
menit sebesar 1,86. Tabel 3.2 bahwa perlakuan 30 menit sangrai cenderung
menunjukkan angka yang naik.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa perlakuan waktu jemur dan
waktu sangrai sangat berpengaruh terhadap rasa kopi biji salak yang dihasilkan.
Nilai uji organoleptik aspek warna pada kopi biji salak (S. zalacca) dapat
dilihat pada Tabel 3.3
Tabel 3.3 Hasil Uji
Organoleptik Aspek Warna
|
Jemur (Menit) |
Sangrai (Menit) |
|||
|
30 |
60 |
90 |
120 |
|
|
5 |
1,86 |
1,86 |
2,14 |
3,29 |
|
10 |
2,14 |
2 |
2,29 |
3,71 |
|
15 |
2,71 |
2,43 |
2,29 |
3,29 |
|
20 |
2,57 |
2,29 |
2,57 |
3 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.3 Nilai uji organoleptik aspek warna tertinggi
berada pada angka 3,71 nilai terendah uji organoleptik aspek warna berada pada
angka 1,86. Hasil bahwa 5 hari waktu jemur terlihat grafik yang nilainya stabil
meningkat dari 1,86 dan nilai tertingginya diangka 3,29. Perlakuan 90 menit
sangrai pada semua perlakuan jemur menunjukkan hasil yang stabil meningkat.
Daya terima kesukaan ini digunakan untuk mengetahui tingkat aroma,
rasa dan warna yang disukai oleh panelis. Berdasarkan hasil penelitian
diketahui 3 kriteria yang akan dinilai yaitu aspek aroma, aspek rasa dan aspek
warna.
Aroma
Berdasarkan pilihan para panelis, terkait aspek aroma kopi biji
salak diperoleh data dari panelis sebagaimana disajikan pada Tabel 3.4
Tabel 3.4 Hasil Daya
Terima Aspek Aroma
|
Jemur (Hari) |
Sangrai (Menit) |
|||
|
30 |
60 |
90 |
120 |
|
|
5 |
2,43 |
2,71 |
3,57 |
3,86 |
|
10 |
2,43 |
2,71 |
3,14 |
3,14 |
|
15 |
2,14 |
2,43 |
3,29 |
3,57 |
|
20 |
2,86 |
2,86 |
3,57 |
3,71 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.4
diketahui bahwa daya terima kesukaan tertiggi sebesar 3,86 pada perlakuan 5
hari jemur dan 120 menit sangrai. Daya terima kesukaan terendah berada pada
nilai 2,14 pada perlakuan 15 hari waktu jemur dan 30 menit waktu sangrai.
Rasa
��������������� Berdasarkan pilihan para
panelis, terkait aspek rasa kopi biji salak diperoleh data dari panelis
sebagaimana disajikan pada Tabel 3.5
Tabel 3.5 Daya
Terima Aspek Rasa
|
Jemur (Menit) |
Sangrai (Menit) |
|||
|
30 |
60 |
90 |
120 |
|
|
5 |
1,86 |
2,14 |
3 |
3,57 |
|
10 |
2,71 |
2,14 |
2,57 |
2,71 |
|
15 |
2,43 |
2,57 |
2,86 |
3,14 |
|
20 |
2,57 |
2,86 |
3,14 |
3,29 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.5
diketahui bahwa penilaian daya terima panelis terhadap kesukaan rasa tertinggi
sebesar 3,57 pada perlakuan 5 hari waktu jemur dan 120 menit waktu sangrai.
Daya terima kesukaan terendah berada pada nilai 1,86 pada perlakuan 5 hari
waktu jemur dan 30 menit waktu sangrai.
Warna
Warna menjadikan faktor
pendukung pada suatu produk untuk disukai, sehingga untuk mengetahui daya
terima kesukaan terhadap rasa hasil pengujian rasa kopi biji salak dapat
dilihat pada Tabel 3.6
Tabel 3.6 Hasil Daya
Terima Aspek Warna
|
Jemur (hari) |
Sangrai (menit) |
|||
|
30 |
60 |
90 |
120 |
|
|
5 |
2,14 |
2,86 |
3,29 |
4,14 |
|
10 |
2,43 |
2,86 |
3,43 |
3,57 |
|
15 |
2,29 |
2,29 |
2,86 |
3,43 |
|
20 |
2,29 |
2,57 |
3,14 |
3,43 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.6
diketahui bahwa penilaian daya terima kesukaan terhadap warna kopi biji salak
dengan nilai terendah sebesar 2,14 pada perlakuan 30 menit sangrai dan 5 hari
jemur, dan nilai tertinggi sebesar 4,14 pada perlakuan 5 hari jemur dan 120
menit sangrai.
Hasil analisis data yang
digunakan 1) uji normalitas, 2) uji homogenenitas, 3) uji anova dan uji lanjut
4) Tukey HSD (Multiple comparisons)
Nilai uji normalitas organoleptik
Nilai
uji analisis data parameter aroma dapat dilihat pada Tabel 3.7 di bawah ini
Tabel 3.7 Uji SPSS normalitas
|
Parameter |
Α |
Sig.
Shapiro-Wilk |
|
Aroma |
0,05 |
0,331 |
|
Rasa |
0,05 |
0,693 |
|
warna |
0,05 |
0,416 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.7 yaitu parameter aroma nilai sig. sebesar
0,331 > 0,05, parameter rasa nilai sig. sebesar 0,693 > 0,05, parameter
warna nilai sig. sebesar 0,416 > 0,05. Berdasarkan Tabel 4.7 di atas menurut
dasar pengambilan keputusan uji normalitas dapat disimpulkan bahwa data
berdistribusi normal, karena semua nilai signifikansi lebih besar dari 0,05
(>0,05).
Nilai uji homogenitas organoleptik
Nilai
uji homogenitas analisis data parameter aroma dapat dilihat pada Tabel 3.8
Tabel 3.8 Uji SPSS
homogenitas
|
Parameter |
Α |
Sig. |
|
Aroma |
0,05 |
0,073 |
|
Rasa |
0,05 |
0,231 |
|
Warna |
0,05 |
0,214 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.8 yaitu parameter aroma nilai sig. sebesar
0,073 > 0,05, parameter rasa nilai sig. sebesar 0,231 > 0,05, parameter
warna nilai sig. sebesar 0,214 > 0,05. Berdasarkan Tabel 4.8 menurut dasar
pengambilan keputusan uji homogenitas dapat disimpulkan data aroma menurut
analisis data uji homogenitas, data homogen (varian data sama), karena semua
nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (>0,05).
Nilai uji twoway anova organoleptik
Nilai uji twoway anova analisis data parameter aroma dapat dilihat
pada Tabel 3.9
Tabel 3.9 Uji SPSS Twoway anova
|
Parameter |
Α |
Sig. |
Ftabel |
Fhitung |
|
Aroma 1.
Waktu Jemur 2.
Waktu sangrai 3.
Waktu jemur & waktu sangrai. |
0,05 |
0,023 0,065 0,976 |
2,6993 2,6993 1,9788 |
3,332 2,484 1,243 |
|
Rasa 1.
Waktu Jemur 2.
Waktu sangrai 3.
Waktu jemur & waktu sangrai. |
0,05 |
0,029 0,079 0,075 |
2,6993 2,6993 1,9788 |
3,316 2,333 1,817 |
|
Warna 1.
Waktu Jemur 2.
Waktu sangrai 3.
Waktu jemur & waktu sangrai. |
0,05 |
0,396 0,000 0,759 |
2,6993 2,6993 1,9788 |
1,000 9,844 0,641 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.9 diketahui
bahwa hasil uji twoway parameter aroma
Parameter Aroma
Parameter Rasa
1.
Perlakuan waktu jemur dengan nilai Sig. 0,029
< 0,050 artinya, ada perbedaan pada perlakuan waktu jemur.
2.
Perlakuan waktu sangrai dengan nilai Sig.
0,079 > 0,050 artinya, tidak ada perbedaan pada perlakuan waktu sangrai.
3.
Perlakuan waktu jemur dan waktu jemur dengan
nilai Sig. 0,075 > 0,050 artinya, tidak ada interaksi antara perlakuan waktu
jemur dan waktu sangrai.
Parameter Warna
1. Perlakuan
waktu jemur dengan nilai Sig. 0,396 > 0,050 artinya, tidak ada perbedaan
pada perlakuan waktu jemur.
Nilai uji lanjut tukey organoleptik
Nilai
uji lanjut Tukey HSD analisis data parameter aroma, rasa dan warna dapat
dilihat pada Tabel 3.10, 3.11, 3.12 di bawah
ini
Uji Lanjut Tukey Aroma
Nilai
uji lanjut Tukey HSD analisis data parameter aroma dapat dilihat pada Tabel 3.10 bawah ini
Tabel 3.1
Uji Lanjut Tukey Aroma
|
Perlakuan |
Subset 1 |
Subset 2 |
|
|||
|
Jemur 5 hari |
2,89 |
|
|
|||
|
Jemur 15 hari |
3,25 |
3.25 |
|
|||
|
Jemur 10 hari |
3,25 |
3,25 |
|
|||
|
Jemur 20 hari |
|
3,57 |
|
|||
|
Sig. |
0,349 |
0,444 |
|
|||
|
Sangrai 30 menit |
3,00 |
|
|||
|
Sangrai 60 menit |
3,18 |
3,18 |
|||
|
Sangrai 90 menit |
3,21 |
3,21 |
|||
|
Sangrai 120 menit |
|
3,57 |
|||
|
Sig. |
0,751 |
0,266 |
|||
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.10 bahwa pada semua perlakuan jemur dan
perlakuan sangrai berada pada 2 subset, artinya pada perlakuan 20 hari jemur
dan 120 menit sangrai bahwa perlakuan berbeda nyata.
Uji
Lanjut Tukey Rasa
Nilai uji lanjut Tukey HSD analisis data parameter rasa dapat
dilihat pada Tabel 3.11 dan 3.12
Tabel 3.2
Uji Lanjut Tukey Rasa
|
Perlakuan |
Subset 1 |
|
Jemur 5 hari |
2,64 |
|
Jemur 20 hari |
2,79 |
|
Jemur 15 hari |
3,21 |
|
Jemur 10 hari |
3.25 |
|
Sig. |
0,067 |
|
Sangrai 30 menit |
2,79 |
|
Sangrai 60 menit |
2,82 |
|
Sangrai 90 menit |
2,93 |
|
Sangrai 120 menit |
3,36 |
|
Sig. |
0,095 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.11 bahwa pada
semua perlakuan jemur dan sangrai berada hanya 1 subset yang artinya tidak ada
perlakuan yang berbeda nyata dan perlakuan sangrai berada di 1 subset pada 120
menit sangrai bahwa perlakuan berbeda nyata.
Uji Lanjut Tukey Warna
Nilai uji lanjut Tukey HSD analisis data parameter warna dapat
dilihat pada Tabel 3.12 di bawah
ini
Tabel 3.12 3Uji Lanjut Tukey Warna
|
Perlakuan |
Subset 1 |
Subset 2 |
|
Jemur 5 hari |
2,29 |
|
|
Jemur 10 hari |
2,54 |
|
|
Jemur 20 hari |
2,61 |
|
|
Jemur 15 hari |
2,68 |
|
|
Sig. |
0,370 |
|
|
Sangrai 60 menit |
2,14 |
|
|
Sangrai 90 menit |
2,32 |
|
|
Sangrai 30 menit |
2,32 |
|
|
Sangrai 120 menit |
|
3,32 |
|
Sig. |
0,881 |
1,000 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan tabel 3.12 bahwa
pada semua perlakuan jemur berada hanya 1 subset yang artinya tidak ada
perlakuan yang berbeda nyata dan perlakuan sangrai berada di 2 subset pada 120
menit sangrai bahwa perlakuan berbeda nyata.
Nilai uji normalitas daya terima kesukaan
Nilai uji analisis data parameter daya terima kesukaan aroma dapat
dilihat pada Tabel 3.13 di bawah ini
Tabel 3.4
Uji SPSS normalitas
|
Parameter |
α |
Sig. Shapiro-Wilk |
|
Aroma |
0,05 |
0,057 |
|
Rasa |
0,05 |
0,052 |
|
Warna |
0,05 |
0,061 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.13 yaitu
arameter aroma nilai sig. sebesar 0,057 > 0,05, parameter rasa nilai sig.
sebesar 0,052 > 0,05, parameter warna nilai sig. sebesar 0,061 > 0,05.
Berdasarkan tabel 4.13 di atas menurut syarat keputusan pengambilan uji
normalitas dapat disimpulkan bahwa semua data berdistribusi normal, karena
semua nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (>0,05).
Nilai uji homogentitas daya terima kesukaan
Nilai
uji homogenitas analisis data parameter aroma dapat dilihat pada Tabel 3.14 di bawah ini
Tabel 3.5
Uji SPSS homogenitas
|
Parameter |
α |
Sig. |
|
Aroma |
0,05 |
0,875 |
|
Rasa |
0,05 |
0,109 |
|
Warna |
0,05 |
0,621 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.14 yaitu
parameter aroma nilai sig. sebesar 0,875 > 0,05, parameter rasa nilai sig.
sebesar 0,109 > 0,05, parameter warna nilai sig. sebesar 0,621 > 0,05.
Berdasarkan Tabel 4.43 di atas menurut dasar pengambilan keputusan uji
homogenitas dapat disimpulkan data aroma menurut analisis data uji homogenitas,
data homogen (varian data sama), karena semua nilai signifikansi lebih besar
dari 0,05 (>0,05).
Nilai uji twoway daya terima kesukaan
Nilai
uji twoway anova analisis data parameter aroma dapat
dilihat pada Tabel 3.15 di bawah
ini
Tabel 3.6
Uji SPSS Twoway anova
|
Parameter |
Α |
Sig. |
Ftabel |
Fhitung |
|
Aroma 1.
Waktu Jemur 2.
Waktu sangrai 3.
Waktu jemur & waktu sangrai. |
0,05 |
0,136 0,000 0,938 |
2,6993 1,9788 |
1,895 0,388 |
|
Rasa 1.
Waktu Jemur 2.
Waktu sangrai 3.
Waktu jemur & waktu sangrai. |
0,05 |
0,521 0,025 0,797 |
2,6993 2,6993 1,9788 |
0,757 3,257 0,597 |
|
Warna 1.
Waktu Jemur 2.
Waktu sangrai 3.
Waktu jemur & waktu sangrai. |
0,05 |
0,420 0,000 0,976 |
2,6993 2,6993 1,9788 |
0,950 9,844 0,291 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.15 diketahui bahwa hasil uji twoway:
Parameter
Aroma
1. Waktu
jemur dengan nilai Sig. 0,136 > 0,050 artinya, tidak ada perbedaan pada
perlakuan waktu jemur.
2. Waktu
sangrai dengan nilai Sig. 0,000 < 0,050 artinya, ada perbedaan pada
perlakuan waktu sangrai.
3. Waktu
jemur dan waktu sangrai dengan nilai Sig. 0,938 > 0,050 artinya, tidak ada
interaksi antara perlakuan waktu jemur dan waktu sangrai.
Parameter
Rasa
1. Waktu
jemur dengan nilai Sig. 0,521 > 0,050 artinya, tidak ada interaksi antara
perlakuan waktu jemur dan waktu sangrai.
2. Waktu
jemur dengan nilai Sig. 0,025 < 0,050 artinya, tidak ada interaksi antara
perlakuan waktu jemur dan waktu sangrai.
3. Waktu
jemur dengan nilai Sig. 0,797 > 0,050 artinya, tidak ada interaksi antara
perlakuan waktu jemur dan waktu sangrai.
Parameter
Warna
1. Waktu
jemur dengan nilai Sig. 0,420 > 0,050 artinya, tidak ada perbedaan pada
perlakuan waktu jemur.
2. Waktu
sangrai dengan nilai Sig. 0,000 < 0,050 artinya, ada perbedaan pada
perlakuan waktu sangrai.
3. Waktu
jemur dan waktu jemur dengan nilai Sig. 0,976 > 0,050 artinya, tidak ada
interaksi antara perlakuan waktu jemur dan waktu sangrai
Nilai uji lanjut tukey daya terima kesukaan
Nilai uji lanjut Tukey HSD analisis data parameter aroma, rasa dan
warna dapat dilihat pada Tabel 17, 18, 19
Uji
Lanjut Tukey Daya Terima Kesukaan Aroma
Nilai uji lanjut Tukey HSD pada daya terima kesukaan analisis data
parameter aroma dapat dilihat pada Tabel 3.16
Tabel 3.16 Uji
Lanjut Tukey Aroma
|
Perlakuan |
Subset 1 |
Subset 2 |
|
Jemur 10 hari |
2,86 |
|
|
Jemur 15 hari |
2,86 |
|
|
Jemur 5 hari |
3,14 |
|
|
Jemur 20 hari |
3,25 |
|
|
Sig. |
0,233 |
|
|
Sangrai 30 menit |
2,46 |
|
|
Sangrai 60 menit |
2,68 |
|
|
Sangrai 90 menit |
|
3,39 |
|
Sangrai 120 menit |
|
3,57 |
|
Sig. |
0,727 |
0,822 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.16 bahwa pada
semua perlakuan jemur berada dalam subset yang sama artinya tidak ada perlakuan
yang berbeda nyata dan perlakuan sangrai berada di 2 subset pada 90 menit dan
120 menit sangrai artinya perlakuan berbeda nyata.
Uji
Lanjut Tukey Daya Terima Kesukaan Rasa
Nilai uji lanjut Tukey HSD
pada daya terima kesukaan analisis data parameter rasa dapat dilihat pada Tabel
3.17
Tabel 3.17 Uji
Lanjut Tukey Rasa
|
Perlakuan |
Subset 1 |
Subset 2 |
|
Jemur 10 hari |
2,54 |
|
|
Jemur 5 hari |
2,64 |
|
|
Jemur 15 hari |
2,75 |
|
|
Jemur 20 hari |
2,96 |
|
|
Sig. |
0,477 |
|
|
Sangrai 30 menit |
2,39 |
|
|
Sangrai 60 menit |
2,43 |
2,43 |
|
Sangrai 90 menit |
|
2,89 |
|
Sangrai 120 menit |
|
3,18 |
|
Sig. |
0,339 |
0,063 |
(Sumber: Data Penelitian, 2021)
Berdasarkan Tabel 3.17 bahwa
pada semua perlakuan jemur berada dalam 1 subset yang sama artinya tidak adanya
perlakuan yang berbeda nyata dan perlakuan sangrai berada di 2 subset pada 90
menit dengan nilai 2,89 dan 120 menit dengan nilai 3,18 sangrai artinya
perlakuan berbeda nyata.
Uji
Lanjut Tukey Daya Terima Kesukaan Warna
Nilai uji lanjut Tukey HSD pada daya terima kesukaan analisis data
parameter aroma dapat dilihat pada Tabel 3.18
Tabel 3.18 Uji Lanjut
Tukey Warna
|
Perlakuan |
Subset 1 |
Subset 2 |
Subset 3 |
|
Jemur 15 hari |
2,71 |
|
|
|
Jemur 20 hari |
2,86 |
|
|
|
Jemur 10 hari |
3,07 |
|
|
|
Jemur 5 hari |
3,11 |
|
|
|
Sig. |
0,465 |
|
|
|
Sangrai 30 menit |
2,29 |
|
|
|
Sangrai 60 menit |
2,64 |
2,64 |
|
|
Sangrai 90 menit |
|
3,18 |
3,18 |
|
Sangrai 120 menit |
|
|
3,64 |
|
Sig. |
0,547 |
0,198 |
0,316 |
�(Sumber: Data Penelitian,
2021)
Berdasarkan Tabel 3.18 bahwa pada semua perlakuan jemur berada hanya
subset yang sama artinya tidak ada perlakuan yang berbeda nyata dan perlakuan
sangrai berada di 3 subset pada sangrai 30 menit dan 60 menit berada di subset
1 yang artinya perlakuan tidak berbeda nyata. Sangrai 60 dan 90 menit berada di
subset 1 dan subset 2 artinya perlakuan berbeda nyata, data terakhir 90 menit
sangrai berada pada subset 2 dan 120 menit sangrai berada pada subset 3 bahwa
perlakuan berbeda nyata.
Proses pengeringan pada kopi yaitu melalui
proses penjemuran yang merupakan proses pengeluaran air dari biji dengan
menggunakan energi cahaya panas matahari (Anhar & Abubakar, 2018). Proses penjemuran ini dilakukan
dengan menghamparkan di atas tanah menggunakan alas atau lantai dari semen.
Penjemuran biasanya dibalik setiap 1 jam sekali untuk memperoleh hasil kopi
yang merata. Keunggulan pengeringan kopi menggunakan energi matahari adalah
menjadi kering sempurna apabila tidak ada hujan turun atau dengan syarat cuaca
panas yang mendukung.
Roast atau sangrai adalah proses penyangraian yang
penting dalam industri pengolahan kopi. Proses ini merupakan mengubah biji
mentah menjadi minuman dengan aroma dan rasa yang lezat. Penyangraian pada umumnya menggunakan atmosfer
panas, sebagai media pemanas biasanya dengan gas hasil pembakaran atau udara
pemanas, serta juga adanya kontak fisik antara biji dengan permukaan metal yang
panas (Afriliana,
2018). Perubahan
fisik yang terjadi selama proses sangrai adalah swelling, penguapan air,
penguapan volatile, karbohidrat, dan serat kasar. Perubahan kimia yang terjadi
selama proses sangrai adalah karamelisasi, denaturasi protein, pembentukan gas
CO2 sebagai hasil oksidasi, dan pembentukan aroma yang spesifik pada
kopi (Darmawanto,
2019)
Berdasarkan hasil analisa ragam (F hitung > F tabel) terhadap
perlakuan waktu jemur diketahui bahwa sebagaimana waktu jemur berpengaruh signifikan terhadap aroma pada
tabel 4.9 karena nilai dari Fhitung yaitu 3,332 > 2,699 nilai Ftabelnya atau
nilai Sig, < α yaitu 0,023 < 0,05. Artinya, nilai waktu jemur
konsisten meningkat disetiap perlakuannya, sama halnya dengan nilai waktu
sangrai juga menunjukkan hasil yang semakin meningkat disetiap waktu sangrai.
Nilai
organoleptik menurut skala penilaian pada perlakuan jemur 20 hari dan sangrai
120 menit dengan nilai 3,57 termasuk karakteristik kopi dengan aroma sangat
harum hal ini sesuai pendapat Anhar &
Abubakar (2018) penjemuran terbaik dilakukan selama 12-20 hari
tergantung keadaan cuaca, apabila cuaca konstan suhu matahari diatas 30 derajat
bisa dikatakan cuaca yang cerah untuk proses penjemuran serta pengeringan
memerlukan ruang yang luas, cuaca yang stabil selama penjemuran untuk
menghasilkan biji kopi yang khas dan spesifik serta menimbulkan aroma yang kuat
Rasa
Penjemuran
10 hari dan penyangraian 120 menit menimbulkan rasa yang sangat pahit hal ini
karena proses penjemuran yang tidak terlalu lama tetapi proses penyangraian
selama 120 menit ini sehingga rasa kopi biji salak ini sangat pahit. Rasa pahit
yang ditimbulkan oleh kopi biji salak ini sudah menjadi ciri khas dari kopi,
karena kopi identik dengan rasa yang pahit sebagaimana rasa pahitnya tersebut
akan memberi keseimbangan pada acidity atau keasaman yang pada rasa
kopi, serta keasaman pada kopi membuat rasa kopi menjadi lebih kompleks.
Pengaruh waktu jemur dan waktu sangrai sangat berhubungan saling memberikan
pengaruh satu sama lain antar perlakuannya, sehingga menunjukkan hasil yang
berhubungan. Nilai organoleptik menurut skala penilaian pada perlakuan jemur 10
hari dan sangrai 120 menit dengan nilai secara berturut turut sebesar 3,25 dan
3,36 termasuk karakteristik kopi dengan rasa sangat pahit artinya semakin lama
proses panas yang terjadi pada penjemuran dan penyangraian maka kopi akan semakin
pahit.
Berdasarkan hasil analisa ragam (F
hitung > F tabel) terhadap perlakuan waktu jemur diketahui bahwa sebagaimana
waktu sangrai berpengaruh signifikan terhadap organoleptik warna pada tabel 4.9
karena nilai dari Fhitung yaitu 9,844 > 2,699 nilai Ftabelnya atau nilai
Sig, < α yaitu 0,000 < 0,05. Artinya, perlakuan waktu sangrai
memberikan pengaruh signifikan terhadap warna biji kopi. Berbeda halnya dengan
nilai waktu jemur menunjukkan hasil yang tidak signifikan karena Fhitung <
Ftabelnya, Adanya perbedaan warna terhadap warna kopi terjadi akibat proses
pengeluaran air dari bijinya menggunakan energi panas matahari yang membuat
warna pada biji semakin gelap (Anhar & Abubakar, 2018). �Semakin gelap maka tidak menghilangkan ciri dari
warna kopi itu sendiri.
Penjemuran
15 hari dan penyangraian 120 menit memiliki kriteria kopi biji salak berwarna
hitam karena pada saat penjemuran, disitulah warna dari biji salak semakin lama
semakin gelap karena adanya proses penguapan yang terjadi pada biji oleh panas
matahari yang berlangsung selama 15 hari. Setelah dilakukan penjemuran
dilanjutkan dengan sangrai selama 120 menit di mana proses inilah yang menjadi
penyempurnaan dalam pembentukan warna yang akan timbul dari kopi biji salak.
Daya Terima Kesukaan
Berdasarkan
hasil analisa ragam (F hitung > F tabel) terhadap perlakuan waktu sangrai
diketahui bahwa sebagaimana waktu sangrai berpengaruh signifikan terhadap daya
terima kesukaan aroma pada tabel 4.15 karena nilai dari Fhitung yaitu 13,615
> 2,699 nilai Ftabelnya atau nilai Sig, < α yaitu 0,000 < 0,05.
Artinya, perlakuan waktu sangrai memiliki daya terima kesukaan yang signifikan
baik terhadap aroma biji kopi.
Rasa
Berdasarkan
hasil analisa ragam (F hitung > F tabel) terhadap perlakuan waktu jemur
diketahui bahwa sebagaimana waktu sangrai berpengaruh signifikan terhadap daya
terima kesukaan rasapada tabel 4.15 karena nilai dari Fhitung yaitu 3,257 >
2,699 nilai Ftabelnya atau nilai Sig, < α yaitu 0,025 < 0,05.
Artinya, perlakuan waktu sangrai memiliki daya terima kesukaan yang signifikan
baik terhadap rasa biji kopi salak. Perlakuan waktu jemur menunjukkan hasil
yang tidak signifikan karena Fhitung < Ftabelnya sebesar 0,757 < 2,699. Adib et al., (2018) mengatakan rasa kopi dapat terbentuk karena adanya suatu
proses pemanasan seperti penyangraian yang dilakukan sehingga semakin lama
waktu sangrai yang dilakukan maka akan didapatkan rasa kopi yang semakin baik
juga. Berdasarkan uji lanjut yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa nilai
tertinggi pada waktu jemur 20 hari dan 120 menit sangrai secara berturut-turut
sebesar 2,96 dan 3,18 nilai tersebut jika dilihat dan dihubungkan dengan
karakteristik rasa yaitu rasa yang sangat pahit tetapi menjadi daya terima
kesukaan paling disukai.
Warna
Berdasarkan
hasil analisa ragam (F hitung > F tabel) terhadap perlakuan waktu jemur
diketahui bahwa sebagaimana waktu sangrai berpengaruh signifikan terhadap daya
terima kesukaan warna pada tabel 4.15 karena nilai dari Fhitung yaitu 9,844
> 2,699 nilai Ftabelnya atau nilai Sig, < α yaitu 0,025 < 0,05.
Artinya, perlakuan waktu sangrai memiliki daya terima kesukaan yang signifikan
baik terhadap rasa biji kopi salak
Perlakuan
waktu jemur yang tidak terlalu lama serta waktu sangrai yang lama menjadikan
warna kopi yang diinginkan yaitu berwarna hitam dan paling banyak disukai
karena ciri khas kopi yang berwarna hitam tersebut.
KESIMPULAN
Pengaruh waktu jemur selama 20 hari dan waktu
sangrai selama 120 menit berpengaruh signifikan terhadap organoleptik aspek
aroma. Pengaruh waktu jemur selama 10 hari dan waktu sangrai 120 menit
berpengaruh signifikan terhadap organoleptik aspek rasa. Pengaruh waktu jemur
selama 10 hari dan waktu sangrai selama 120 menit berpangaruh signifikan
terhadap organoleptik warna. Daya terima kesukaan terhadap aroma dan rasa yaitu
waktu jemur 20 hari dan waktu sangrai 120 menit yang paling banyak disukai
panelis. Daya terima kesukaan waktu jemur terhadap warna yaitu pada waktu jemur
5 hari dan waktu sangrai 120 menit.
Aspek aroma memiliki nilai sebesar 3,57
termasuk karakteristik aroma yang harum. Aspek rasa memiliki nilai sebesar 3,25
dan 3,36 termasuk karakteristik rasa yang sangat pahit. Aspek warna memiliki
nilai sebesar 2,68 dan 3,32 termasuk karakteristik warna hitam. Daya terima
kesukaan terhadap aroma dengan nilai 3,25 dan 3,57 termasuk dalam kriteria
sangat suka dengan karakteristik aroma sangat harum. Daya terima kesukaan
terhadap rasa dengan nilai 2,96 dan 3,18 termasuk dalam kriteria paling disukai
dengan karakteristik rasa sangat pahit. Daya terima kesukaan terhadap warna
dengan nilai 3,11 dan 3,64 termasuk dalam kriteria sangat suka dengan
karakteristik warna hitam.
DAFTAR PUSTAKA
Adib, P., Yuwana, &
Pranata, A. (2018). Pengaruh Variasi Suhu Dan Masa Sangrai Biji Salak Terhadap
Mutu Fisik Dan Organoleptik Kopi Biji Salak. Prosiding Seminar Nasional
Fakultas Pertanian Universitas Jambi, 504�518.
Afriliana, Asmak.
(2018). Teknologi Pengolahan Kopi Terkini. Yogyakarta: Deepublish.
Anhar, Ashabul, &
Abubakar, Yusya. (2018). Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan Berbasis
Konservasi dan Budidaya Kopi Ramah Lingkungan : Buku untuk mahasiswa.
Aceh: Syiah Kuala University Press.
Ariestin, Yuliamita,
& Ashari, Sumeru. (2014). Menggunakan Penanda Morfologi Dan Analisis Isozim
Salak Bangkalan Diversity {Salacca Zalacca (Gaertner) Voss} Using Morphological
Markers And Isozyme Analysis. Jurnal Produksi Tanaman, 3(1),
35�42.
Darmawanto, A. (2019). Analisis
Organoleptik Pada Kopi Bubuk Lokal Yang Beredar Di Bandar Lampung (Vol. 1).
Universitas Lampung.
Hamni, A. Ibrahim, Gusri
Akhyar Harun, dan Suryadiwansa. (2014). Implementasi Sistem Gasifikasi untuk
Pengeringan Biji Kopi. Jurnal Mechanical, 5(1), 21�25.
Indonesia, Kementerian
Pertanian Republik. (2019). Coffee Production by Province in Indonesia.
Karta, Susila, Eva,
& mastra. (2015). Kandungan Gizi Pada Kopi Biji Salak (Salacca Zalacca)
Produksi Kelompok Tani Abian Salak Desa Sibetan Yang Berpotensi Sebagai Produk
Pangan Lokal Berantioksidan Dan Berdaya Saing. Jurnal Virgin, 1(2),
123�133.
Lokaria, Eka, &
Susanti, Ivoni. (2018). Uji Organoleptik Kopi Biji Salak dengan Varian Waktu
Penyangraian. BIOEDUSAINS: Jurnal Pendidikan Biologi Dan Sains, 1(1),
34�42. https://doi.org/10.31539/bioedusains.v1i1.262
Marpaung, Ridawati,
& lutvia. (2020). Pengaruh Lama Penyangraian Terhadap Karakteristik Dan
Mutu Organoleptik Seduhan Bubuk Kopi Liberika Tungkal Komposit. Jurnal Media
Pertanian, 5(1), 15�21. https://doi.org/10.33087/jagro.v5i1.89
Paliling. (2019). Uji
Organoleptik Kopi Biji Salak (Salacca Zalacca) Dengan Varian Suhu Dan Waktu
Pada Penyangraian (Vol. 11). Universitas Sanata Dharma.
Prayogo, K., Wulandari,
W., & Suhartatik, N. (2016). PEMBUATAN KOPI BIJI SALAK (Salacca zalacca)
DENGAN VARIASI LAMA PENYANGRAIAN DAN PENAMBAHAN BUBUK JAHE. Jurnal Teknologi
Dan Industri Pangan, 1(2), 69�78.
Redaksi Pojok Suramadu.
(2018). Manfaatkan Limbah Biji Salak Menjadi Bubuk Kopi.
Rosida, Dedin
Finatsiyatul, DC, Happyanto, FT, Anggraeni, & N, Hapsari. (2018). Produksi
Kopi Biji Salak Bangkalan Dengan Mesin Pemecah Biji Efisiensi Tinggi. Jurnal
Teknologi Pangan, 12(1). https://doi.org/10.33005/jtp.v12i1.1111
Widodo, S. (2018). Pengaruh
Suhu Dan Lama Waktu Sangrai Terhadap Sifat Fisikokimia Dan Organoleptik Kopi
Robusta (Coffea Canephora P) Dari Desa Colo, Kudus. Universitas Semarang.