UPAYA
MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA GURU MELALUI SUPERVISI AKADEMIK
Setyo Basuki1, Mokhammad Zainuri2, Hadis Suja�I3, Budi Wasana4, Nani Umaya5
Program Pascasarjana Manajemen Pendidikan Universitas Gresik,1,2,3,4,5
[email protected]1, [email protected]2,
[email protected]3,
[email protected]4,
[email protected]5
Diterima: 08-10-2022��������������������� ��������������� Review: 20-10-2022�������� ��������������� ��������������� Publish:
29-10-2022
Abstrak:
Salah satu hal penting dalam rangka meningkatkan kualitas atau kinerja guru sehingga dapat meningkatkan kualitas output pendidikan adalah motivasi kerja guru. Penelitian ini bertujuan
untuk meningkatkan motivasi guru dalam bekerja setelah diterapkannya sistem
supervisi akademik oleh kepala sekolah. Penelitian ini merupakan Penelitian
Tindakan Sekolah yang menggunakan metode analisis kualitatif yang dilaksanakan
secara tim oleh 5 orang. Penelitian berlangsung di UPT SD Negeri 211 Gresik
selama 5 bulan pada semester gasal tahun pelajaran 2020�2021. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa supervisi akademik oleh kepala sekolah dapat meningkatkan
motivasi kerja guru. Supervisi oleh kepala sekolah yang dilaksanakan secara
simultan dapat membangun motivasi kerja dan berpengaruh secara signifikan
terhadap kinerja seseorang, yang berarti juga bahwa pelaksanaan supervisi yang
memadai mampu menjadi faktor atas motivasi seseorang dalam bekerja.
Kata kunci: Motivasi Kerja Guru,
Supervisi Akademik
Abstract:
One of the important things in order to improve the quality or
performance of teachers so as to improve the quality of educational output is
the work motivation of teachers. This study aims to increase the motivation of
teachers to work after the implementation of the academic supervision system by
the principal. This research is a School Action Research that uses a
qualitative analysis method which is carried out in a team by 5 people. The
research took place at UPT SD Negeri 211 Gresik for 5 months in the odd
semester of the 2020-2021 school year. The results showed that academic
supervision by the principal can increase the work motivation of teachers.
Supervision by the principal which is carried out simultaneously can build work
motivation and significantly affect one's performance, which also means that
the implementation of adequate supervision can be a factor in one's motivation
at work.
Keywords: Teacher Work Motivation, Academic
Supervision����������������������������������������������
Corresponding: Setyo Basuki
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Salah satu hal penting dalam rangka meningkatkan kualitas atau kinerja guru sehingga dapat meningkatkan kualitas output pendidikan adalah motivasi kerja guru. ���Menurut A.W. Widjaya, segala aktivitas organisasi, lembaga, dan perusahaan menjadi sia-sia jika para anggotanya tidak mau menyumbangkan tenaganya sendiri untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Keinginan untuk melakukan pekerjaan terbaik yang muncul dari dalam diri adalah motivasi kerja. Bagaimanapun masing- masing individu harus menjalankan tugas- tugasnya dengan aktif (Anoraga & Suyati, 1995: 43).
(Zainun, 1993) dalam (Anoraga & Suyati, 1995: 43) �menguraikan bahwa motivasi dapat dilihat sebagai komponen fundamental dari strategi manajerial, sebagai hasilnya, situasi tersebut dapat di tujukan untuk mengarahkan potensi dan sumber daya manusia dengan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan ambang batas kemampuan seseorang dan untuk mendorong kolaborasi ketika melakukan tugas individu atau kelompok dalam suatu organisasi. Berdasarkan atas pandangan-pandangan tersebut, maka motivasi kerja guru dianggap sebagai pintu dari optimalnya kinerja guru, sebab motivasi merupakan pendorong awal dalam diri guru untuk melakukan kerja yang terbaik. Tanpa adanya motivasi kerja, segala program yang dikembangkan sekolah tidak akan mampu berhasil dalam mendorong berkembangnya guru yang mampu melaksanakan tugas pendidikannya dengan baik untuk mencegah menjaga mutu lulusan. Penggunaan supervisi dapat menjadi salah satu komponen strategi untuk meningkatkan motivasi kerja guru.
Pelaksanaan supervisi dapat menjadi bagian dalam upaya meningkatkan Motivasi kerja guru. Menurut PP No 19 tahun 2005 pasal 1 ayat (25) dijelaskan bahwa supervisi merupakan elemen dalam menjamin mutu satuan pendidikan dalam rangka mencapai Standar Nasional Pendidikan. Pasal 19 ayat (3) PP No 19 Tahun 2005 mengisyaratkan bahwa ���pengawasan merupakan bagian dalam upaya terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien, sedangkan pasal 23 mengisyaratkan bahwa supervisi menjadi salah satu bagian dari pengawasan. Menurut (Sagala, 2010: 89), supervisi pembelajaran sangat penting dilakukan untuk meningkatkan motivasi guru dalam proses pembelajaran.
Supervisi akademik merupakan salah satu komponen kunci dalam upaya peningkatan mutu pendidikan melalui kegiatan pengawasan pendidikan, dalam hal ini dilakukan oleh Kepala Sekolah pada satuan pendidikan formal, hal tersebut merupakan salah satu kajian teoritis yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan Permendiknas nomor 12 tahun 2007 telah dijelaskan bahwa muara dari peran Kepala Sekolah sebagai supervisor adalah peningkatan mutu proses dan hasil pemebelajaran.
Menurut Mc. Clelland�s, Hasibuan dalam Ety Sukaetini (2010:32), bahwa beberapa hal terkait motivasi kerja adalah sebagai berikut: (a) Motif: berupa upah yang adil, kesempatan untuk mengembangkan diri atau promosi jabatan, pengakuan sebagai individu, keamanan bekerja, tempat kerja yang nyaman, penerimaan oleh kelompok, perlakuan yang manusiawi dan penghargaan atas prestasi. (b) Harapan: lingkungan kerja yang nyaman, perasaan ikut terlibat, pendisiplinan yang bijaksana, penghargaan atas tugas yang telah terselesaikan dengan baik, penghargaan pimpinan terhadap guru, dan pemahaman yang simpatik atas persoalan-persoalan pribadi. (c) Insentif: intrisik berupa penyelesaian dan prestasi/pencapaian, ekstristik berupa finalsial (gaji dan upah, tujangan), antar pribadi dan promosi. Dalam Undang-Undang Guru Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dijelaskan bahwa �Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya�.
Kompetensi guru dalam penelitian ini adalah Pearturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan berikut, meliputi empat Standar Kompetensi Guru, yaitu: (a) pedagogik, (b) Kepribadian, (c) Profesional dan (d) sosial.
Dalam upaya mempermudah memahami beberapa makna dalam penelitian ini, akan didefinisikan beberapa kata penting sebagai berikut: (a) Supervisi akademik adalah upaya yang dilakukan oleh kepala satuan pendidikan untuk mendukung guru agar dapat meningkatkan mutu pembelajaran melalui proses perencanaan, mengamati kinerja guru dalam mengajar yang sebenarnya, dan bersama guru melakukan refleksi dari hasil supervisi. (b) Motivasi kerja merupakan syarat bagi seseorang untuk bertindak dalam menjalankan pekerjaannya. Ada kecenderungan motivasi yang tinggi untuk menghasilkan keberhasilan yang tinggi dan motivasi yang rendah untuk menghasilkan prestasi yang rendah. (c) Kompetensi Guru merupakan kemampuan guru yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan yang didukung oleh sikap kerja dan dalam ���������penerapannya mengacu pada unjuk kerja yang disyaratkan.
Tujuan supervisi akademik untuk membantu guru mengembangkan potensinya� dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang dilarencanakan dan dilaksanakan nagi siswa-siswanya (Herawati, 2022). Melalui pelaksanaan supervisi akademik diharapkan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh guru semakin meningkat (Neagley & Evans, 1980: 212). �Membahas pengembangan kapasitas dalam konteks ini, penting untuk diingat bahwa ini bukan hanya tentang meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam hal mengajar; tetapi juga tentang meningkatkan komitmen, kemauan, dan motivasi mereka untuk melakukan pekerjaan mereka dengan baik, karena peningkatan kompetensi dan motivasi berdampak pada peningkatan mutu pembelajaran. (Sergiovanni, 1987: 117) juga memasukkan motivasi sebagai salah satu tujuan supervisi akademik atau supervisi pembelajaran, dimana Dijelaskan bahwa supervisi akademik digunakan untuk mendorong guru menerapkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas mengajar, mengembangkan kemampuannya sendiri, dan memberikan perhatian yang sungguh-sungguh (komitmen) terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Salah satu tujuan supervisi akademik atau supervisi pembelajaran adalah memotivasi guru untuk melakukan hal-hal tersebut.
Sebagai seorang supervisor maka seorang kepala satuan pendidikan melakukan supervisi terhadap semua guru di sekolah secara periodik dan berkesinambungan. Kegiatan ini dilaksanakan minimal satu kali tiap satu semester. Pelaksanaan supervisi secara periodik diharapkan guru mampu melaksanakan tugas keguruannya dengan baik dan mendapatkan hasil yang maksimal. Selain itu dengan supervisi yang dilaksanakan sesuai agenda yang sudah direncanakan sangat diharapkan berdampak pada motivasi kerja guru semakin. Dan melalui supervisi pulalah salah satu cara tepat, efektif dan efesien yang mampu berperan sebagai sebagai faktor extern meningkatnya motivasi bekerja pada guru di sekolah. Seperti diketahui bersama bahwa ada dua faktor penting yang mempengaruhi tinggi rendahnya motivasi seseorang, yaitu faktor intern dan extern. Faktor intern adalah faktor yang bersumber dari dalam diri sedangkan faktor extern adalah faktor yang berasal dari luar diri dan menjadi pemantik timbulnya motivasi, contohnya rewards dan punishment.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini
merupakan Penelitian Tindakan yang dilakukan oleh Kepala Satuan pendidikan yang lebih
dikenal dengan Penelitian Tindakan Sekolah. (PTS) yang dianalisis dengan
pendekatan kualitatif. PTS adalah penelitian yang diawali dengan masalah
pendidikan dan diselesaikan melalui kegiatan-kegiatan tertentu berdasarkan
landasan teori. Pmecahan masalah ini sangat penting dan mendesak (Irawan, 2018). Peneliti adalah Kepala UPT SD Negeri 211 Gresik yang
melakukan tindakan melalui Supervisi Akademik.
Penelitian
dilaksanakan selama 5 bulan, yaitu dimulai bulan Agustus sampai dengan Desember 2021.
Lokasi PTS ini adalah di UPT SD Negeri 211 Gresik Kecamatan Kedamean yang
beralamat di Jl. Raya Tanjung Kecamatan Kedamean Kabupaten Gresik. Subjek penelitian terdiri
dari Guru
Mapel dan Guru Kelas di UPT SD Negeri 211 Gresik, Kecamatan Kedamean, Kabupaten
Gresik.
Teknik yang
diterapkan adalah teknik non tes yang berupa observasi. Lembar observasi
digunakan untuk mencatat seluruh peristiwa yang terjadi dari kegiatan guru yang
meliputi: (1) Kesenangan guru dalam melakukan pekerjaan, (2) Antusias ���kerja guru dalam
mengembangkan dan melaksanakan program pendidikan maupun dalam melaksanakan
tugas-tugas pembelajaran dan tugas lainnya; (3) Kesesuaiaian pekerjaan guru
terhadap standar kerja, (4) Semangat juang guru dalam mencapai tujuan
pendidikan di sekolah, (5) Konsistensi kerja guru ketika tanpa pengawasan, dan
(6) Ekspresi kebahagiaan guru ketika menyelesaikan tugas dan komitmen
pendidikan di sekolah.
�Berikut ini data motivasi bekerja guru-guru
UPT SD Negeri 211 Gresik
Tabel 1. Data awal hasil Pengataman Motivasi Kerja Guru
|
No |
Indikator |
A |
B |
C |
D |
E |
|
1 |
Kesenangan guru
dalam melaksanakan pekerjaan |
2 |
3 |
1 |
3 |
2 |
|
2 |
Semangat kerja
guru dalam membuat dan melaksanakan program pendidikan, serta dalam
melaksanakan tugas pembelajaran dan tugas lainnya. |
2 |
3 |
3 |
1 |
2 |
|
3 |
Kesesuaiaian
pekerjaan guru terhadap standar kerja |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
|
4 |
Motivasi guru
dalam mencapai tujuan
pendidikan di sekolah |
2 |
3 |
2 |
3 |
1 |
|
5 |
Konsistensi
pekerjaan guru saat tanpa pengawasan. |
2 |
3 |
2 |
2 |
1 |
|
6 |
Ungkapan
bahagia guru setelah menyelesaikan tugas dan komitmen pendidikan di
sekolah |
3 |
3 |
2 |
2 |
1 |
|
|
Jumlah |
12 |
17 |
12 |
13 |
9 |
|
|
Nilai |
50 |
71 |
50 |
54 |
38 |
|
|
Kategori |
C |
B |
C |
C |
D |
Sesuai dengan analisis data di atas, 20% guru mempunyai motivasi kerja
yang rendah,�� 60% guru bermoyivasi cukup
dan hanya 20% guru yang bermotivasi kerja baik.
Pada Siklus I, Supervisi Akademik dilaksanakan dalam kelompok besar atau
bersama-sama kepada seluruh guru sebagai subyek penelitian. Supervisi Akademik
dalam kelompok besar atau bersama-sama sangat bergantung pada motivasi
masing-masing guru, sehingga aktivitasnya berbeda- beda. Berikut data siklus 1
hasil pengamatan motivasi bekerja guru-guru UPT SD Negeri 211 Gresik
Tabel 2. Data
Siklus I.� Hasil Pengataman Motivasi
Kerja Guru
|
No |
Indikator |
A |
B |
C |
D |
E |
|
1 |
Kesenangan
guru dalam melaksanakan pekerjaan |
2 |
3 |
2 |
4 |
3 |
|
2 |
Semangat kerja
guru dalam membuat dan melaksanakan program pendidikan, serta dalam melaksanakan
tugas pembelajaran dan tugas lainnya |
2 |
4 |
3 |
2 |
2 |
|
3 |
Kesesuaiaian
pekerjaan guru terhadap standar kerja |
4 |
3 |
3 |
3 |
2 |
|
4 |
Motivasi guru
dalam mencapai tujuan
pendidikan di sekolah |
2 |
3 |
2 |
3 |
2 |
|
5 |
Konsistensi
pekerjaan guru saat tanpa pengawasan |
3 |
4 |
3 |
2 |
2 |
|
6 |
Ungkapan
bahagia guru setelah menyelesaikan tugas dan komitmen pendidikan di
sekolah |
4 |
3 |
2 |
2 |
2 |
|
|
Jumlah |
15 |
20 |
15 |
16 |
13 |
|
|
Nilai |
63 |
83 |
63 |
67 |
54 |
|
|
Kategori |
B |
A |
B |
B |
C |
Sesuai Dari hasil analisis data di atas, 0% guru memiliki motivasi kerja
yang rendah, 20% guru motivasinya cukup, 60% guru yang motivasi kerjanya
tergolong baik dan hanya 20% guru yang memiliki motivasi kerja yang amat baik.
Pada Siklus II, Supervisi Akademik dilakukan kepada guru secara
individual terhadap seluruh guru sebagai subyek penelitian. Supervisi Akademik
sesuai dengan permasalahan yang terjadi pada masing-masing indikator, sehingga
permasalahan dan pemecahan masalahnya berbeda-beda. Berikut ini data motivasi
bekerja guru-guru UPT SD Negeri 211 Gresik pada Siklus II:
Tabel 3. Data
Hasil Pengamatan Motivasi Kerja Guru pada Siklus II.
|
No |
Indikator |
A |
B |
C |
D |
E |
|
1 |
Kesenangan
guru dalam melaksanakan pekerjaan |
3 |
4 |
3 |
4 |
3 |
|
2 |
Semangat kerja
guru dalam membuat dan melaksanakan program pendidikan, serta dalam
melaksanakan tugas pembelajaran dan tugas lainnya |
3 |
4 |
4 |
3 |
2 |
|
3 |
Kesesuaiaian
pekerjaan guru terhadap standar kerja |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
|
4 |
Motivasi guru
dalam mencapai tujuan
pendidikan di sekolah |
3 |
4 |
3 |
3 |
3 |
|
5 |
Konsistensi pekerjaan
guru saat tanpa pengawasan |
4 |
4 |
3 |
3 |
2 |
|
6 |
Ungkapan
bahagia guru setelah menyelesaikan tugas dan komitmen pendidikan di
sekolah |
4 |
3 |
3 |
2 |
3 |
|
|
Jumlah |
21 |
23 |
20 |
19 |
16 |
|
|
Nilai |
88 |
96 |
83 |
79 |
67 |
|
|
Kategori |
A |
A |
A |
B |
B |
Sesuai dengan analisis data pada tabel di atas, 0% guru memiliki motivasi
kerja yang rendah, 0% guru motivasinya cukup, 40% guru yang motivasi kerjanya
tergolong baik dan 60% guru yang memiliki motivasi kerja yang amat baik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
(Purwanto, 2007) menjelaskan bahwa supervisi haruslah mengkaji ada tidaknya kondisi-kondisi
yang mewujudkan ketercapaian tujuan pendidikan., maka supervisi dalam konteks
administrasi pendidikan dimaknai sebagai kegiatan untuk menentukan
syarat-syarat penting yang menjamin ketercapaian tujuan pendidikan yang
diharapkan.
Supervisi adalah
kegiatan yang dilakukan kepala sekolah dalam rangka memimpin guru-guru dan staf
lainnya guna memperbaiki pembelajaran, memotivasi, memberikan penilaian
jabatan, merevisi tujuan� pendidikan
dalam lembaga yang dipimpinnya, bahan pengajaran,� metode dan evaluasi Pengajaran, (Sahertian, 2000: 17). Supervisi dapat dianggap sebagai aktivitas
pembinaan, sebagaimana dikemukakan oleh (Purwanto, 2003: 32) yang mengemukakan bahwa dalam rangka membantu guru dan
staf sekolah melaksanakan tugasnya secara efektif, maka perlu dilaksanakan
supervisi secara terjadwal.
Menurut konsep lama
(kuno), supervisi dilaksanakan dalam bentuk inspeksi atau mrnrmukan kesalahan
guru dalam proses pembelajaran sedangkan dalam pandangan modern, supervisi
merupakan suatu usaha untuk memperbaiki situasi proses pembelajaran, yaitu
kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memberikan bantuan kepada guru untuk
memperbaiki peoses pembelajarannya,� (Sagala, 2010: 89).
Menurut (Sagala, 2010: 94), supervisi menjadi bagian� manajemen pendidikan khususnya yang berkaitan
dengan fungsi kepemimpinan dan controlling,
yang mana supervisi identik dengan makna �pengawasan�. Supervisi memiliki
kekhususan yaitu membantu dalam proses perbaikan dan peningkatan kualitas
pembelajaran baik yang dilaksanakan guru secara perseorangan maupun bagian dari
lembaga. Supervisi dalam konteks akademik adalah bantuan dan pelayanan yang
diberikan kepada guru agar mau terus belajar, meningkatkan kualitas
pembelajarannya, menumbuhkan kreativitas guru memperbaiki bersama-sama dengan
cara melakukan seleksi dan revisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran,
model dan metode pembelajaran, evaluasi pembelajaran untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran, seleksi dan analisis kurikulum untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan..
(Purwanto, 2007) menjelaskan bahawa supervisi pembelajaran diartikan sebagai supervisi
yang dilakukan untuk meningkatkan kondisi staf dan sumber daya yang
memungkinkan terciptanya lingkungan belajar mengajar yang lebih baik untuk
memenuhi tujuan pendidikan.
Prinsip Supervisi Akademik
Kegiatan supervisi
berfokus membantu guru mengembangkan keterampilan profesional mereka.� Kemampuan profesional tergambarkan pada
kemampuan guru memberikan bantuan belajar kepada peserta didik, sehingga
terjadi perubahan karakter dan perilaku peserta didik. sebagai hasil belajar
pada peserta didik.
Penerapan supervisi
modern menurut Sutina dalam (Sagala, 2010: 95) merekomendasikan prinsip supervisi yaitu:
1)
Supervisi merupakan
bagian penting yang tidak terpisahkan dari program pendidikan. Supervisi
merupakan pelayanan yang bersifat kerjasama.
2)
Supervisi merupakan
kebutuhan dan menjadi hak guru.
3)
Penyesuaian dengan
kebutuhan guru dan staf sekolah sangat diperlukan dalam proses supervisi.
4)
Peran supervisi adalah untuk memperjelas implikasi dari
maksud dan tujuan pendidikan serta untuk membantu.
5)
Sikap dan
interaksi interpersonal staf sekolah
ditingkatkan melalui supervisi, yang juga mendorong ikatan yang lebih kuat
antara sekolah dan masyarakat setempat.
6)
Kepala satuan pendidikan dan pengawas memiliki tugas
dan tanggung jawab dalam menyusun program supervisi..
7)
Program supervisi memerlukan anggaran yang dimasukan
dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS)
8)
Guru dan kepala sekolah memegang peran penting dalam
efektifitas dalam pelaksanaan program.
9)
Supervisi memberikan
kejelasan pada implementasi penemuan
penelitian pendidikan yang terbaru.
Motivasi Kerja
(Manullang, 1999: 67) berpendapat
bahwa motivasi seseorang merupakan dorongan atau kekuatan
yang berasal dari dalam diri yang menyebabkan dia bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri. Dalam setiap usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk bekerja sama
menuju tujuan bersama, motivasi merupakan faktor yang sangat penting.
(Zainun, 1981: 73) menegaskan pentingnya motivasi sebagai komponen penting dari kegiatan
manajemen dengan tujuan mengarahkan potensi dan sumber daya manusia dengan
menumbuhkan rasa keinginan
dan persahabatan yang kuat untuk menyelesaikan tugas individu dan kolektif di dalam organisasi.
Motivasi sebagai sebagai kondisi batin yang berenergi positif kepada aktivitas-aktivitas atau yang menggerakan, mengarahkan serta menyalurkan perilaku untuk mencapai tujuan tertentu, (Kartono, 1998: 34). Motivasi seseorang dapat bermacam-macam, ada motivasi yang bersifat egoistis seperti meraih prestasi, status sosial dengan memperlihatkan
kelebihannya untuk diperhatikan orang lain, sebaliknya
ada juga kegiatan yang didorong oleh motivasi yang luhur sifat patriotis,
pengorbanan untuk organisasi, pengabdian kepada kepentingan dan kesejahteraan umum.
(Makmun, 2005: 37) mengatakan bahwa disadari atau tidak, motivasi adalah suatu kekuatan,
daya, atau kondisi rumit dan persiapan (preparatory set) dalam diri individu
untuk bergerak menuju tujuan tertentu. Motivasi intrinsik berasal dari diri
individu itu sendiri, dan motivasi lingkungan berasal dari lingkungan
(ekstrinsik).
Motivasi kerja guru
berarti dorongan dari dalam guru tersebut untuk melakukan tugasnya sehari-hari
berdasarkan keinginan sendiri atau dengan kata lain tanpa harus ada pengawasan.
Guru dapat melaksanakan tugasnya sendiri. Pada Kondisi Awal, hanya ada 1 orang
guru (20%) di UPT SD Negeri 211 Gresik yang motivasinya baik (B). Sedangkan
yang lainnya, motivasinya masih termasuk cukup (C) dan kurang (D). Hal ini
tentu saja memprihatinkan. Disebabkan kurangnya keuletan guru dalam mencapai
tujuan pendidikan di sekolah, ketidakkonsistenan mereka dalam bekerja saat
bekerja sendiri, dan kurangnya ekspresi kegembiraan saat menyelesaikan tugas
dan dedikasi terhadap pendidikan di sekolah. Kesimpulan yang sama diambil dari
penelitian. Hal yang sama juga dinyatakan dalam penelitian Kartono (2019),
dimana kemauan dan kemampuan dalam�
menyusun�� RPP rendah. RPP yang
disusun tidak sesuai dengan kondisi dan situasi di sekolah.
Motivasi guru dalam
bekerja berbeda satu dengan yang lain. Rinciannya adalah 20% guru bermotivasi
kerja rendah, 60% guru motivasinya cukup dan hanya 20% guru bermotivasi kerja
tergolong baik. Perbedaan motivasi kerja sangat diperngaruhi oleh status
kepegawaian mereka, yaitu Guru Tetap (GT) _dengan status Pegawai Negeri Sipil
(PNS) dan guru Tidak Tetap.
Setelah Kepala Sekolah
mengadakan supervisi akademik dengan bimbingan secara kelompok pada Siklus I,
guru dengan motivasi amat baik (A) meningkat sebanyak 1 orang atau 20%. Guru
dengan motivasi kerja baik (B) 3 orang (60%); guru dengan motivasi kerja cukup
(C) 1 orang (20%) dan tidak ada guru dengan motivasi kerja kurang (D). Pada
siklus ini, kepala sekolah mengadakan pemantauan di dalam maupun di luar kelas
untuk memastikan motivasi kerja yang disepakati meningkat. Pada Siklus II,
Kepala Sekolah mengadakan supervisi akademik dengan bimbingan secara individu.
Kepala Sekolah menasehati, membimbing,
memberi contoh agar motivasi kerja guru meningkat. Hasilnya, guru yang
motivasinya amat baik (A) sebanyak 3 orang atau 60%. Guru dengan motivasi kerja
baik (B) 2 orang (40%); tidak ada guru dengan motivasi kerja cukup (C) 0% dan
kurang (D). Meningkatnya motivasi kerja guru tersebut sesuai dengan hasil
penelitian Rolialis (2019) bahwa supervisi dalam bidang akademik dapat
meningkatkan motivasi guru dalam bekerja. Hasil penelitian tersebut adalah
motivasi kerja pada Kondisi Awal dengan nilai rata-rata 52,6 (cukup), motivasi
kerja pada Siklus I dengan nilai rata-rata 66 (baik) dan motivasi guru dalam
bekerja pada Siklus II dengan nilai rata-rata 82,6 (amat baik).
KESIMPULAN
Supervisi oleh kepala
sekolah yang dilaksanakan secara simultan dapat membangun motivasi kerja dan
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja seseorang, yang berarti juga
bahwa pelaksanaan supervisi yang memadai mampu menjadi faktor atas motivasi
seseorang dalam bekerja
Penelitian Tindakan
Sekolah (PTS) ini telah dilaksanakan mrlalui dua siklus dengan tujuan untuk
meningkatkan motivasi kerja Guru UPT SD Negeri 211 Gresik semester gasal tahun
pelajaran 2020/2021 melalui program supervisi guru. Berdasarkan hasil
penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa; (1) motivasi kerja guru UPT SD
Negeri 211 Gresik dapat
ditingkatkan melalui kegiatan supervisi guru. Perubahan ini didasarkan pada
pengolahan skala yang dilakukan pada awal siklus, siklus I dan siklus II. Skor rata rata motivasi kerja guru UPT SD Negeri
211 Gresik mengalami peningkatan dibandingkan dengan pada kondisi awal (pra
siklus), dan mengalami peningkatan lagi pada siklus II. (2) Peningkatan atau
pada hasil supervisi guru ditandai dengan meningkatnya nilai rata rata hasil
supervisi guru pada siklus 2 dibandingkan dengan skor rata rata pra siklus dan
siklus 1. (3) sikap Guru sebagai perwujudan dari motivasi kerja mengalami
peningkatan pada rata rata skor di siklus II dibandingkan pada siklus 1.
DAFTAR PUSTAKA
Anoraga, Pandji, &
Suyati, Sri. (1995). Psikologi industri & sosial.
Herawati, Evi. (2022).
SUPERVISI KLINIS PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM DISCOVERY LEARNING DI SDN
MUNENG LERES II KECAMATAN SUMBERASIH KABUPATEN PROBOLINGGO. Jurnal
Pendidikan Taman Widya Humaniora, 1(2), 239�255.
Irawan, Andi. (2018).
Meningkatkan Kompetensi Guru SMP Negeri 2 Wera Dalam Penyusunan Proposal
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Melalui Bimbingan Kelompok Berbasis MGMP Tahun
Pelajaran 2017/2018 di SMP Negeri 2 Wera. JISIP (Jurnal Ilmu Sosial Dan
Pendidikan), 2(2).
Kartono, Kartini.
(1998). Pemimpin Dan Kepemimpinan, Apakah Pemimpin Abnormal Itu? Edisi baru.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Makmun, A. (2005). Psikologi
dan Pendidikan. Bandung: UPI.
Manullang. (1999). Manajemen
Personalia.
Neagley, Ross Linn,
& Evans, Norman Dean. (1980). Handbook for effective supervision of
instruction. Prentice Hall.
Purwanto, Ngalim.
(2003). Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis Edisi Revisi. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Purwanto, Ngalim.
(2007). Psikologi pendidikan remaja. Bandung: Rosdakarya.
Sagala, Syaiful. (2010).
Supervisi Pendidikan dalam Profesi Pendidikan. Bandung. Penerbit Alfabeta.
Sahertian, Piet A.
(2000). Konsep dasar & teknik supervisi pendidikan: dalam rangka
pengembangan sumber daya manusia. Penerbit Rineka Cipta.
Sergiovanni, Thomas J.
(1987). The principalship: A reflective practice perspective. ERIC.
Zainun. (1981). Manajemen
dan Motivasi.
Zainun, Buchari. (1993).
Manajemen sumber daya manusia Indonesia. Haji Masagung.