PENERAPAN
MODEL PROBLEM BASED LEARNING DENGAN
MEDIA SIMULASI MACH 3 UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MEMPROGRAM NC/CNC
Manggih Ridho1, Yahya Fadkur
Afan2, Rowy Santoso3,
Manajemen
Pendidikan, Universitas Gresik 1,2,3
Diterima: 02-10-2022������������������������������������� Review: 10-10-2022������������������������ ��������������� Publish:
Pendahuluan: Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) merupakan
salah satu lembaga pendidikan kejuruan yang memiliki tugas mempersiapkan peserta didiknya untuk dapat bekerja pada bidang-bidang tertentu. (UU No.
20 Pasal 15 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional). Tujuan penelitian
ini antara lain: (1) mengetahui respon peserta didik dengan penerapan model
pembelajaran problem based learning dengan media simulasi mach 3 untuk
meningkatkan hasil belajar memprogram NC/CNC, (2) mengetahui peningkatan hsil
belajar peserta didik dengan penerapan model problem based learning dengan
media simulasi mach 3 untuk meningkatkan hasil belajar siswa NC/CNC. Jenis
penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action
research) sebanyak 3 siklus. Subyek penelitian ini adalah kelas XI TPM 2
SMK Negeri 6 Bandung dengan jumlah 35 peserta didik. Hasil penelitian antara
lain: (1) respon peserta didik terhadap model pembelajaran problem based
learning dengan media simulasi mach 3 memperoleh rata-rata skor 83%. Berdasarkan data tersebut termasuk
kategori sangat baik, hal ini berarti model pembelajaran problem based
learning dengan media simulasi mach 3 dapat meningkatkan respon
peserta didik terhadap pembelajaran teknik pemesinan NC/CNC dan CAM, (2)
peningkatan hasil belajar peserta didik setelah penerapan model pembelajaran problem
based learning dengan media simulasi mach 3 ketuntasan secara
klasikal yaitu siklus I adalah 29%, siklus II meningkat 82% dan siklus III
meningkat 85%. Data hasil uji N-Gain juga menunjukkan siklus I adalah
0,39 (sedang), siklus II meningkat 0,70 (tinggi) dan siklus III meningkat 0,74
(tinggi). Berdasarkan data tersebut bahwa model pembelajaran problem based
learning dengan media simulasi mach 3 dapat meningkatkan hasil
belajar peserta didik terhadap pembelajaran teknik pemesinan NC/CNC dan CAM.
Kata kunci: Penelitian Tindakan Kelas,
Respon Peserta Didik, Hasil Belajar Siswa
Abstract:
Introduction: Vocational High School (SMK) is one of the
vocational education institutions that has the task of preparing students to be
able to work in certain fields. (Law No. 20 Article 15 of 2003 concerning the
National Education System). The objectives of this study include: (1) knowing
the responses of students by applying the problem based
learning model with mach 3 simulation media to
improve learning outcomes in NC/CNC programming, (2) knowing the improvement of
student learning outcomes by applying the problem based learning model with mach 3 simulation media to improve student learning
outcomes of NC/CNC. The type of research used is classroom action research with
3 cycles. The subject of this research is class XI TPM 2 SMK Negeri 6 Bandung
with a total of 35 students. The results of the study include: (1) student
responses to the problem-based learning model using the Mach 3 simulation media
obtained an average score of 83%. Based on the data included in the very good
category, this means that the problem based learning learning model with mach 3
simulation media can improve students' responses to learning NC/CNC and CAM
machining techniques, (2) increase student learning outcomes after the
application of problem based learning models. learning with mach
3 simulation media classical completeness, namely the first cycle was 29%, the
second cycle increased 82% and the third cycle increased 85%. The data from the
N-Gain test also showed that the first cycle was 0.39 (medium), the second
cycle increased 0.70 (high) and the third cycle increased 0.74 (high). Based on
these data, the problem-based learning model with mach
3 simulation media can improve student learning outcomes for learning NC/CNC
and CAM machining techniques.
Keywords: Classroom Action Research, Student
Responses, Student Learning Outcomes�������
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu lembaga
pendidikan kejuruan yang memiliki tugas mempersiapkan peserta didiknya untuk
dapat bekerja pada bidang-bidang tertentu. (UU No. 20 Pasal 15 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional). Pendidikan SMK merupakan lanjutan pendidikan
dasar yang mempunyai tujuan utama untuk menyiapkan tenaga kerja sesuai tuntutan
dunia kerja, meliputi pengembangan diri baik dalam dimensi fisik, intelektual,
emosional, dan spiritual. Perkembangannya SMK dituntut harus mampu menghasilkan
sumber daya manusia yang berkualitas yang berakselerasi dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi (Kusumastuti, 2013). SMK sebagai pencetak tenaga
kerja yang siap pakai harus membekali peserta didiknya dengan pengetahuan dan
keterampilan yang sesuai dengan kompetensi program keahlian masing-masing (Purnami, Sumardjoko, & Djumadi, 2022). Kualitas kegiatan belajar mengajar
semestinya juga harus ditingkatkan secara terus menerus.
Keberhasilan pembelajaran di sekolah akan terwujud dari
keberhasilan belajar siswanya. Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau
perubahan-perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara
bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Hamalik,
2007). Perubahan-perubahan tersebut
bisa terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan individu dan
individu dengan lingkungannya (Goa, 2017). Oleh karena itu dalam proses
belajar mengajar dirancang strategi untuk menciptakan suasana interaksi.Berdasarkan observasi awal yang didapat dari SMK Negeri 6 Bandung
pada kelas XI TPM 2 pada bulan Februari semester genap tahun 2019 menunjukkan
kesulitan yang dihadapi siswa dalam penguasaan materi pelajaran mungkin
disebabkan oleh model pembelajaran yang kurang sesuai. Materi yang disampaikan
oleh guru belum sepenuhnya dapat dipahami bagi beberapa siswa. Hal ini
mengakibatkan peran guru menjadi lebih dominan dari pada siswa. Respon siswa
terhadap pembelajaran menyeluruh, cenderung siswa kurang aktif bahkan saling
berbicara dengan temannya tanpa menghiraukan guru yang sedang menyampaikan
materi (Dianah, n.d.).
Hasil observasi menunjukkan bahwa masih terdapat adanya kelemahan dalam penggunaan model pembelajaraan yang diberikan oleh
guru, serta tidak adanya media simulator untuk menunjang kegiatan penyusunan/pembuatan pemrograman CNC (Computer
Numerically Control) sehingga banyak
peserta didik mempunyai prestasi yang cenderung menurun dalam pembelajaran Teknik Pemesinan CNC khususnya dalam menyusun program (Sanjaya, 2011). Permasalahan tersebut juga berpengaruh terhadap hasil UTS peserta didik masih ada
yang dibawah KBM (Ketuntasan
Belajar Minimal) nilai 78. Sebagai bahan pertimbangan
didapatkan data hasil UTS pada mata pelajaran teknik pemesinan CNC adalah sebagai berikut:
Tabel
1. Data Hasil UTS Semester Genap Kelas
XI TPM 2
|
Nilai |
Jumlah Siswa |
Persentase |
Keterangan |
|
≥90 |
- |
- |
- |
|
78 � 90 |
11 |
30% |
Tuntas |
|
56 � 77 |
26 |
70% |
Tidak Tuntas |
|
≤55 |
- |
- |
- |
Berdasarkan tabel 1. tersebut, dapat diketahui
bahawa hasil UTS pada mata pelajaran teknik pemesinan CNC semester genap kelas
XI TPM 2 yang berjumlah 37 siswa, terdiri dari nilai 78 � 90 persentasenya 30%,
nilai 56 � 77 persentasenya 70%. Dapat disimpulkan jadi peserta didik yang
masih mendapatkan nilai di bawah KBM (Ketuntasan Belajar Minimal) yaitu 70%.
Terkait dengan kenyataan tersebut, masalah bisa ditindak lanjuti dengan
memperkaya penggunaan model pembelajaran lain (Al-Tabany, 2017).
khususnya pada kompetensi dasar pemrograman CNC perlunya dilakukan upaya-upaya
pengembangan model pembelajaran oleh guru secara maksimal dalam meningkatkan
kompetensi siswa (Sadiman, 2006).
Menutupi kelemahan pada permasalahan di atas dengan model pembelajaran Problem Based Learning (Ginanjar,
2015).
Kompetensi Dasar (KD-di KI-3; KD-di KI-4) pada kelompok mata pelajaran
kompetensi keahlian (C3) yang cenderung membentuk kemampuan solusi-solusi
teknologi dan rekayasa atau hasil karya dapat menggunakan model belajar Problem based learning,Production based
Trainning, Project Based Learning dan
Teaching Factory� (Direktorat Pembinaan SMK, 2017). Berdasarkan pendapat di
atas, mata pelajaran kompetensi keahlian cenderung memecahkan suatu masalah dan
menuntut kemampuan untuk melakukan solusi. Penerapan model Project Based Learning �ideal
digunakan dalam mata pelajaran gambar teknik manufaktur, terbukti meningkatkan
pendidikan untuk semua siswa, mengubah pola mengajar dari memberitahu hingga ke
melakukan, menyediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan minat
lalu membuat keputusan sendiri, serta memberi kesempatan bagi siswa untuk
berdiskusi tentang bagaimana mereka akan menemukan jawaban pertanyaan atau
memecahkan masalah (Saputra, 2013).
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, upaya
peningkatan hasil belajar dalam menyusun program CNC yang perlu mengubah
paradigma lama bahwa guru adalah pengelola. Kegiatan mengajar� menggunakan hal yang tidak berorientasi pada
bagaimana peserta didik belajar (Tearcher
Conterend), tetapi lebih kepada bagaimana guru membelajarkan peserta didik.
Serta dengan ditambahkan media simulasi berupa Mach 3 untuk menunjang kegiatan pembelajaran dalam menyusun atau
mebuat program CNC sesuai dengan gambar asli yang diinginkan. Sehingga dianggap
penting bagi peneliti untuk dilakukan penelitian tindakan kelas tentang �Penerapan
Model Problem Based Learning dengan
Media Simulasi Mach 3 untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Memprogram NC/CNC�
METODE
PENELITIAN
Jenis penelitian
yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research)
yang merupakan bagian dari action research. Menurut Sukardi (Sukardi, 2003: 210), penelitian
tindakan merupakan salah satu model penelitian yang muncul di tempat kerja,
yaitu tempat dimana peneliti melakukan pekerjaan sehari-hari, misalnya kelas
merupakan tempat peneliti bagi para guru. Beberapa keunggulan penelitian menggunakan
metode tindakan menurut (Sukardi,
2003: 210), yaitu: 1) peneliti tidak harus
meninggalkan tempat kerjanya; 2) peneliti dapat merasakan hasil dari tindakan
yang telah direncanakan; 3) bila treatment (perlakuan) dilakukan pada
responden, maka responden dapat merasakan hasil treatment (perlakuan)
dari penelitian tindakan tersebut. Subyek penelitian ini adalah kelas XI TPM 2
SMK Negeri 6 Bandung dengan jumlah 35 peserta didik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Respon Peserta Didik
Pembelajaran
setelah menerapkan model problem based learning dengan menggunakan media simulasi mach 3 di akhir siklus yang ke tiga, peserta
didik diberikan angket respon peserta
didik untuk mengetahui respon atau tanggapan peserta didik terhadap
pembelajaran menggunakan
model problem based learning dengan menggunakan media simulasi mach 3 (Dewi, 2017). Data angket hasil respon
peserta didik dilakukan rekapitulasi dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut:
Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Angket Respon
Peserta didik
|
No. |
Pernyataan |
Persentase
Respon |
Kriteria |
|
1. |
Guru
menggunakan model problem based
learning dengan media simulasi mach
3 menarik buat saya. |
75% |
Baik |
|
2. |
Apakah
saya akan berhasil atau tidak berhasil dalam pembelajaran ini, tergantung
pada diri saya sendiri. |
93% |
Baik |
|
3. |
Saya
tidak pernah melamun di dalam kelas saat proses pembelajaran. |
73% |
Baik |
|
4. |
Guru
membuat suasana tidak tegang apabila mengajar menggunakan model problem based learning dengan media
simulasi mach 3. |
80% |
Baik |
|
5. |
Saya
merasa memperoleh cukup apresiasi hasil kerja saya dalam pembelajaran ini
baik dalam bentuk nilai, komentar atau masukan. |
81% |
Baik |
|
6. |
Materi
pembelajaran ini mudah dipahami oleh saya. |
73% |
Baik |
|
7. |
Saya
tidak merasa kecewa dengan pembelajaran ini. |
80% |
Baik |
|
8. |
Saya yakin
bahwa akan berhasil dalam pembelajaran ini. |
88% |
Baik |
|
9. |
Saya
senang bekerja dalam kelompok dalam pembelajaran ini. |
92% |
Baik |
|
10. |
Model problem based learning dengan media
simulasi mach 3 yang dipakai dalam
pembelajaran ini akan bermanfaat bagi saya. |
86% |
Baik |
|
11. |
Menggunakan
model problem based learning dengan
media simulasi mach 3 ini membuat
saya mengerti terhadap materi pembelajaran. |
92% |
Baik |
|
12. |
Menggunkan
model problem based learning dengan
media simulasi mach 3 tidak membuat
saya menjadi bosan. |
86% |
Baik |
Sumber : Data Olah Pribadi
Berdasarkan dari data tabel 2 agar
terlihat lebih jelas� dapat digambarkan dalam grafik sebagai
berikut:
Gambar 1. Grafik
Hasil Angket Respon Peserta Didik
Berdasarkan
teknik analisis data tentang angket respon peserta didik kriteria kelayakan
berdasarkan kriteria persentase respon sebagai berikut: 0%-20%, kurang layak
apabila persentase 20%-40%, cukup layak apabila persentase 41%-60%, baik /layak
apabila persentase
61%-80% dan sangat layak apabila persentase 81%-100%. Hasil data
menunjukkan bahwa setelah dirata-rata hasil setiap nomer butir pernyataan
responden adalah 83%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kriteria kelayakan (Sangat Baik).
Hasil
Belajar Peserta Didik
Peningkatan hasil
belajar peserta didik dilihat pada persentase ketuntasan secara individual dan
ketuntasan secara klasikal dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Secara
Individual dan Klasikal
|
No. |
Data |
n |
Tuntas |
Tidak Tuntas |
Persentase |
|
1. |
Pretest |
35 |
0 |
35 |
0% |
|
2. |
Posttest Siklus 1 |
35 |
11 |
24 |
31% |
|
3. |
Posttest Siklus 2 |
35 |
29 |
6 |
82% |
|
4. |
Posttest Siklus 3 |
35 |
30 |
5 |
85% |
Sumber : Data
Olah Pribadi
Berdasarkan tabel
3. ketuntasan hasil belajar secara klasikal untuk pretest 0% menunjukkan bahwa tidak ada peserta didik yang tuntas
mencapai KKM. Posttest 1 ketuntasan
31% yang mencapai KKM, posttest 2
ketuntasan 82% yang mencapai KKM dan posttest
3 ketuntasan 85% yang mencapai KKM. Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan
penerapan model prolem based learning dengan
media simulasi mach 3 dapat
meningkatkan hasil belajar peserta didik. Peningkatan tersebut dapat dilihat
disetiap siklusnya, maka peneliti memutuskan bahwa penelitian tindakan kelas
ini cukup dilakukan 3 siklus saja karena sudah terlihat perbedaan peningkatan
yang signifikan pada setiap siklusnya. Agar terlihat lebih jelas dapat
digambarkan grafik sebagai berikut :
Gambar 2.�
Ketuntasan Hasil Belajar Secara Individual
Gambar 3. Ketuntasan Hasil Belajar Secara
Klasikal
Peningkatan hasil
belajar peserta didik pada setiap siklusnya yang diberikannya perlakuan model problem based learnig �dengan media simulasi mach 3 dihitung dengan rumus N-Gain.
Berdasarkan perhitungan N-Gain untuk
siklus 1, siklus 2 dan siklus 3 diperoleh
data N-Gain. Berikut pada tabel di
bawah ini rekapitulasi hasil belajar peserta didik di setiap siklusnya :
Tabel 4.
Rekapitulasi Hasil Belajar Peserta Didik
|
No. |
Data |
N |
Nilai |
|||
|
Skor Ideal |
Skor Minimum |
Skor Maksimal |
Rerata |
|||
|
1. |
Pretest |
35 |
100 |
10 |
65 |
29 |
|
2. |
Posttest Siklus 1 |
35 |
100 |
25 |
100 |
58 |
|
3. |
Posttest Siklus 2 |
35 |
100 |
50 |
100 |
81 |
|
4. |
Posttest Siklus 3 |
35 |
100 |
55 |
100 |
83 |
Sumber : Data Olah Pribadi
Berdasarkan tabel
4 kemudian dapat menentukan peningkatan hasil belajar di setiap siklusnya
melalui rumus uji N-Gain.
Tabel 5.Hasil Uji N-Gain
|
No. |
Data |
Rerata |
N-Gain |
Kategori |
|
1. |
Posttest Siklus 1 |
58 |
0,40 |
Sedang |
|
2. |
Posttest Siklus 2 |
81 |
0,73 |
Tinggi |
|
3. |
Posttest Siklus 3 |
83 |
0,76 |
Tinggi |
Sumber : Data
Olah Pribadi
Berdasarkan tabel
5 hasil uji N-Gain posttest 1 rerata N-Gain 0,40 dengan kategori sedang, posttest 2 rerata N-Gain 0,73 dengan kategori tinggi dan posttest 3 rerata N-Gain
0,73 dengan kategori tinggi. Agar dapat lebih terlihat jelas dapat digambarkan
grafik sebagai berikut
Gambar 4. Hasil Uji N-Gain
Perolehan data N-Gain rata-rata peningkatan
yang lebih tinggi di setiap siklusnya hal ini menunjukkan
peningkatan bahwa melalui model problem
based learning dengan media simulasi
mach 3 dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik XI TPM 2 mata pelajaran NC/CNC dan CAM.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian
dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1.
Respon peserta
didik terhadap model pembelajaran problem
based learning dengan media simulasi mach
3 memperoleh rata-rata skor 83%. Berdasarkan
data tersebut termasuk kategori sangat baik, hal ini berarti model pembelajaran
problem based learning dengan media
simulasi mach 3 dapat meningkatkan
respon peserta didik terhadap pembelajaran teknik pemesinan NC/CNC dan CAM.
2.
Peningkatan hasil
belajar peserta didik setelah penerapan model pembelajaran problem based learning dengan media simulasi mach 3 ketuntasan secara klasikal yaitu siklus I adalah 29%, siklus
II meningkat 82% dan siklus III meningkat 85%. Data hasil uji N-Gain juga menunjukkan siklus I adalah
0,39 (sedang), siklus II meningkat 0,70 (tinggi) dan siklus III meningkat 0,74
(tinggi). Berdasarkan data tersebut bahwa model pembelajaran problem based learning dengan media
simulasi mach 3 dapat meningkatkan
hasil belajar peserta didik terhadap pembelajaran teknik pemesinan NC/CNC dan
CAM.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Tabany, Trianto Ibnu
Badar. (2017). Mendesain model pembelajaran inovatif, progresif, dan
konteksual. Prenada Media.
Dewi, Risna Sari.
(2017). PENINGKATAN PENGUASAAN FITUR CAD INVENTOR MELALUI PENERAPAN METODE
PROBLEM SOLVING DI SMK N 2 DEPOK. Jurnal Pendidikan Vokasional Teknik Mesin,
5(3), 151�160.
Dianah, Annisa Fathin.
(n.d.). PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN
BELAJAR SISWA. Jurnal Penelitian Pendidikan, 17(3), 249�262.
Ginanjar, Lantik Anjar.
(2015). Penerapan model problem based learning untuk meningkatkan minat dan
prestasi belajar siswa di kelas xi smk negeri 3 surabaya. Jurnal Pendidikan
Teknik Mesin, 4(01).
Goa, Lorentius. (2017).
Perubahan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. SAPA-Jurnal Kateketik Dan
Pastoral, 2(2), 53�67.
Hamalik, Oemar. (2007).
Proses Belajar Mengajar (halaman 27). Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Kusumastuti, Reni.
(2013). Upaya SMK bidang studi bisnis manajemen dalam memenuhi kebutuhan
softskill dunia industri. Jupe-Jurnal Pendidikan Ekonomi, 1(3).
Purnami, Dwi,
Sumardjoko, Bambang, & Djumadi, M. (2022). Manajemen Praktik Kerja
Industri Program Keahlian Akuntansi Dan Keuangan Lembaga Di SMKN 1 Jogonalan
Klaten Tahun Pelajaran 2021/2022. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Sadiman, Arief S.
(2006). Media Pendidikan pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya.
Sanjaya, Wina. (2011). Strategi
pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan.
Saputra, Ryan Dwi.
(2013). PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PBL) UNTUK
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR KOMPETENSI COMPUTERISED AIDED DESIGN (CAD) DENGAN
SOFTWARE INVENTOR SISWA KELAS XI TEKNIK PEMESINAN DI SMK NEGERI 2 KLATEN. Universitas
Negeri Yogyakarta.
Sukardi. (2003). Metodologi
Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Bandung: Raja Grafindo.