PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PENGEMBANGAN 18 NILAI KARAKTER BERBASIS PONDOK PESANTREN PADA JENJANG MI, MTs DAN MA

 

Ayu juwita putri1, Anisatul Ashfiyah2, Nur Saffanah3

Program Pascasarjana Universitas Gresik 1,2,3

 

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

 

Diterima: 02-09-2022��������������������� ��������������� Review: 10-09-2022�������� ��������������� ��������������� Publish: 15-09-2022

Abstrak:

Pendidikan adalah salah satu kebutuhan pokok manusia karena pendidikan selalu mengalami perubahan perkembangan dan perbaikan sesuai dengan pengembangan di segala bidang kehidupan. Pendidikan karakter bertujuan serta berkaitan dengan pembentukan mental dan sikap peserta didik dengan memupuk nilai-nilai agama dan sosial yang positif. Oleh karena itu penting sekali bagi kita dalam membentuk nilai-nilai karakter baik di jenjang SD/SMP/SMA. Tiga sekolah yang sudah melaksanakan pembentukan karakter peserta didik melalui pengembangan 18 nilai karakter berbasis pondok pesantren yaitu Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Huda Benjeng, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma'arif Sidomukti dan di Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Menganti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hasil metode pembelajaran melalui pengembangan 18 nilai karakter berbasis pondok pesantren. Penelitian ini merupakan penelitian dengan jenis metode kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari hasil analisis yang dilakukan penulis, bahwa pembentukan karakter peserta didik Pertama religius, Kedua peduli lingkungan, Ketiga tanggung jawab, Keempat jujur, dan Kelima disiplin. Berdasarkan pembahasan di atas mengenai penerapan pendidikan karakter di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Benjeng, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma'arif Sidomukti dan di Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Menganti dapat disimpulkan bahwa karakter yang ditunjukan oleh siswa disana sebagai berikut. Pertama religius, nilai religius diterapkan dalam kegiatan seperti berdoa sebelum dan sesudah belajar, salat berjamaah, dan sebagainya.

 

Kata kunci: Pendidikan Karakter, 18 Nilai Karakter, Pondok Pesantren

 

Abstract:

Education is one of the basic human needs because education is always undergoing changes in development and improvement in accordance with development in all areas of life. Character education aims and is related to the mental formation and attitudes of students by cultivating positive religious and social values. Therefore, it is very important for us to form character values ​​both at the elementary / junior high / high school level. Three schools have implemented character building for students through the development of 18 character values ​​based on Islamic boarding schools, namely Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Huda Benjeng, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma'arif Sidomukti and Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Menganti. The purpose of this study was to determine how the results of the learning method through the development of 18 character values ​​based on Islamic boarding schools. This research is a type of research with qualitative methods. The method used in this study using the method of observation, interviews and documentation. From the results of the analysis carried out by the author, that the formation of the character of students is first religious, second cares about the environment, third is responsibility, fourth is honest, and fifth is discipline. Based on the above discussion regarding the application of character education in Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Benjeng, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma'arif Sidomukti and at Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Menganti, it can be concluded that the characters shown by students there are as follows. First, religious, religious values ​​are applied in activities such as praying before and after studying, praying in congregation, and so on.

 

Keywords: Character Education, 18 Character Values, Islamic Boarding School�������������������

Corresponding: Ayu juwita putri

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah salah satu kebutuhan pokok manusia karena pendidikan selalu mengalami perubahan perkembangan dan perbaikan sesuai dengan pengembangan di segala bidang kehidupan (Mansur, 2016). Untuk mencerdaskan bangsa peningkatan mutu pendidikan diperlukan untuk membangun keberlanjutan berbagai aspek kehidupan.

Pendidikan selalu berkait dengan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran sendiri bisa dijabarkan dengan cara mengamati menirukan membaca memahami mendengar dan menjalankan suatu arahan yang diberikan (Triwiyanto, 2021). Dalam proses belajar mengajar guru harus bisa menciptakan kondisi yang memotivasi siswa untuk aktif dan kreatif agar aktivitas belajar berjalan lebih optimal sehingga dapat tercapai tujuan pembelajaran secara maksimal.

Dalam undang - undang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) nomor 20 tahun 2003 menjelaskan tentang pendidikan nasional yang mempunyai fungsi untuk mengembangkan kemampuan serta membentuk watak atau peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dengan tujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar kelak bisa menjadi manusia yang beriman serta bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa berakhlak mulia sehat berilmu cakap kreatif mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Kurniawan, Sutiningsih, & Martini, 2022).

Penjabaran dari undang-undang di atas, menjelaskan tujuan pendidikan yang paling utama untuk menjadikan siswa insan yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki kepribadian yang baik (Firmansyah, n.d.). Pribadi yang takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran agama, menjadi tujuan utama pendidikan di Indonesia karena bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beragama, terlihat dari sila pertama dalam pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pemerintah melalui menteri pendidikan dan kebudayaan telah membuat trobosan baru dalam pendidikan untuk membentuk karakter siswa dengan cara mewacanakan program pembiasaan pendidikan karakter di berbagai jenjang pendidikan.

(Kemendiknas, 2011) menjelaskan bahwa Pendidikan karakter berusaha menanamkan berbagai kebiasaan-kebiasaan baik kepada siswa agar bersikap dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Mengenai tindakan yang dianggap baik ataupun buruk,terdapat delapan belas nilai karakter yang dikembangkan dalam pendidikan karakter yang terdiri dari religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cintai damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Generasi penerus bangsa perlu diberikan pendidikan karakter agar bisa berhasil membangun bangsa dan menjadi generasi yang yang berakhlak mulia serta bisa mengembangkan kemampuan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Kebijakan pendidikan diarahkan pada pembentukan karakter agar dapat membentuk kepribadian dan identitas bangsa serta mengembangkan kemampuan dan membentuk watak yang bermartabat agar bangsa kedepannya lebih cerdas dan berkembang potensinya serta memiliki akhlak yang mulia.

Karakter yang mencerminkan manusia berakhlak mulia dan disipin tidak selalu terbangun dalam diri setiap orang, hal itu terjadi karena kurangnya kesadaran dalam beragama dan berperilaku disiplin. Seperti di dunia pendidikan, khususnya di sekolah. Praktik-praktik yang menggerogoti karakter sudah lama berlangsung. Sebagai contoh misalnya dalam dunia pendidikan terlihat ada siswa SMA yang merokok, siswa SMP yang berkelahi di tempat umum atau kepala sekolah yang meloloskan siswa baru walaupun tidak memenuhi standar. Contoh lainnya di ranah publik misalnya, seorang bupati yang sukses memenangkan pilkada karena dibiayai pihak ketiga dan lain-lain.

Berdasarkan praktik - praktik karakter di atas menunjukan nilai religius dan disipilin belum benar-benar tumbuh dalam diri seseorang. Nilai religius dan disiplin perlu diajarkan kepada siswa sejak dini karena dengan praktik-praktik pendidikan karakter siswa akan terbangun pikiran, perkataan dan tindakan. Maka dari itu peneliti ingin meneliti lebih lanjut tentang p-pendidikan karakter melalui pengembangan 18 nilai karakter berbasis pondok pesantren pada jenjang MI, MTs dan MA.

Karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah �bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak�. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak�. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).

Menurut (Musfiroh, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti �to mark� atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.

Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah : cinta kepada Allah dan ciptaan-Nya (alam beserta isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas.

Berdasarkan pembahasan diatas dapat dimaknai dengan jelas bahwa karakter merupakan perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Orang yang perilakunya sesuai dengan norma-norma disebut berkarakter mulia.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Menurut (Suyanta, 2013), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.

Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.

Berdasarkan grand design yang dikembangkan (Kemendiknas, 2011), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam : Olah Hati (Spiritual and Emotional Development), Olah Pikir (Intellectual Development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and Kinestetic Development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity Development).

Tujuan pendidikan karakter diantaranya adalah sebagai berikut : 1.Mengembangkan potensi afektif peserta didik sebagai manusia dan Warga Negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa 2.Mengembangkan Kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya dan karakter bangsa 3.Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa 4.Mengembangkan kemampuan pesrta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan dan 5. Mengembangkan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, kreatif dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.

 

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji suatu kebenaran pengetahuan dengan cara-cara ilmiah. Oleh karena itu, metode yang digunakan dalam suatu penelitian harus tepat.

Berdasarkan pendekatan dan jenis data yang digunakan, penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif sehingga akan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata. Data yang dianalisis di dalamnya berbentuk deskriptif dan tidak berupa angka-angka seperti halnya pada penelitian kuantitatif.

Teknik sampling adalah teknik pengambilan data yang diambil secara kesatuan atau keseliruhan untuk mendapatkan gambaran mengenai hal tersebut (Adi, 2021). Peneliti bertanya pada subjek penelitian mengenai calon subjek dan narasumber penelitian lain yang dianggap dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Mengenai jumlah sampel sangat bergantung pada apa yang ingin diketahui peneliti, tujuan penelitian, konteks saat itu, apa yang dianggap bermanfaat dan dapat dilakukan dengan waktu dan sumber daya yang tersedia. Validitas yang dimunculkan dalam penelitian kualitatif lebih berhubungan dengan informasi dari kasus sampek yang dipilih daripada bergantung pada jumlah. Berdasarkan sumber pengambilan data, dalam penelitian ini peneliti menggunakan data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari objek yang diteliti melalui prosedur dan teknik pengambilan data yang berupa observasi, wawancara maupun penggunaan instrumen pengukuran lainnya.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, mendapatkan hasil bahwa Nilai Karakter yang diterapkan berdasarkan 18 nilai karakter, nilai karakter yang sama dan lebih banyak diterapkan di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Benjeng, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma'arif Sidomukti dan di Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Menganti adalah nilai religius diterapkan melalui kegiatan salat berjamaah, berdoa sebelum dan sesudah pelajaran. Nilai peduli lingkungan diterapkan melalui kegiatan membuang sampah harus pada tempatnya, pengumpulan botol bekas, dan melakukan kegiatan bersih-bersih bersama. Nilai tanggung jawab diterapkan melaui kegiatan mengerjakan tugas yang diberikan guru dan berani meminta maaf kalau berbuat salah. Nilai disiplin diterapkan melalui kegiatan datang tepat waktu dan mengumpulkan tugas tepat waktu. Nilai jujur diterapkan melaui kegiatan harus berani mengakui kesalahan yang telah dilakukannya. Nilai toleransi diterapkan melalui kegiatan kerjasama tanpa harus memilih teman dan tidak mengganggu teman yang sedang beribadah. Nilai karakter tersebut diterapkan melalui kegiatan sederhana di dalam kelas maupun di sekolah.

Penerapan Pendidikan Karakter Suatu konsep sangat diperlukan dalam penerapan pendidikan karakter di sekolah. Konsep penerapan pendidikan karakter yang digunakan oleh 3 sekolah tersebut adalah konsep pembiasaan. Menurut kepala sekolah sebagai narasumber, pembiasaan dilakukan agar siswa dapat terbiasa dengan kegiatan yang dilakukan di sekolah dan dapat menerapkannya di lingkungan luar sekolah. Kegiatan pembiasaan yang dilakukan seperti menyanyikan lagu wajib dan berdoa bersama di lapangan, mengumpulkan botol pada hari selasa dan sebagainya.

Strategi dan Tujuan Guru dalam Penerapan Pendidikan Karakter Strategi adalah cara yang digunakan oleh guru dalam menerapkan pendidikan karakter dan mencapai tujuan yang diiginkan dan telah ditetapkan. Strategi yang digunakan oleh guru dan kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Benjeng adalah selalu mengingatkan siswa untuk melakukan hal baik, memberi teguran jika siswa melakukan kesalahan, memberikan contoh kepada siswa dalam melakukan hal baik, melakukan kegiatan rutin atau pembiasaan, dan menumbuhkan kesadaran siswa. Pada jenjang MTs dan MA penerapan pendidikan karakter juga bisa dilakukan lewat kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah.

Dalam membentuk sikap dan perilaku peserta didik yang baik, perlu diajarkan nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran Islam dan norma yang berlaku di masyarakat (Munif, 2017). Nilai-nilai yang diajarkan adalah ketakwaan, keteladanan, kejujuran, kesederhanaan, keikhlasan, dan kesabaran. Nilai-nilai tersebut dianggap penting untuk diajarkan karena merupakan pondasi dalam pembentukan karakter anak sebagai bekal dalam menghadapi permasalahan terutama di era globalisasi ini. Menurut (Muhakamurrohman, 2014), dalam menginternalisasikan nilai-nilai dan membangun karakter baik pada ranah pribadi maupun sosial/kebangsaan, masing-masing pesantren memiliki ciri khas masing-masing diantaranya meneladani ustadz ustadzah atau kyai, pembiasaan pola hidup mulai dari berorganisasi, disiplin diri, Ibrah (pelajaran) atau Mauidzah (nasehat).

Ada beberapa faktor hambatan yang dapat memengaruhi karakter siswa sehingga guru dan sekolah harus mengetahui cara untuk meminimalisasi hambatan tersebut (Pingge & Wangid, 2016). Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan bersama narasumber diketahui bahwa terdapat beberapa hambatan dalam penerapan pendidikan karakter yaitu. Pertama faktor dari guru, berupa kurangnya waktu bersama siswa sehingga guru tidak bisa mengawasi siswa secara Full. Kedua, pada jenjang setingkat SMP dan SMA faktor dari siswa yang berupa sifat cuek dan masa bodoh akan apa yang diajarkan guru juga menjadi hambatan saat pembiasaan pendidikan karakter. Ketiga faktor lingkungan, lingkungan keluarga dan tempat tinggal yang buruk terkadang sering sekali membuat karakter siswa menjadi buruk, selaras dengan ini Megawangi dalam (Suarmini, Rai, & Marsudi, 2016) mengatakan bahwa anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan berkarakter, sehingga hakikat setiap anak yang dilahirkan dapat berkembang secara optimal. Keempat, faktor orang tua siswa yang berupa kurangnya waktu dan perhatian mereka terhadap siswa karena sibuk bekerja, sikap cueknya orang tua terhadap karakter siswa sehingga tidak adanya tindak lanjut terhadap karakter yang telah ditanamkan guru kepada siswa, dan sikap orang tua yang tidak dapat menerima jika anak mereka melakukan kesalahan kemudian ditegur atau di beri hukuman oleh guru, hal tersebut berhubungan dengan pola asuh orang tua yang diantaranya adalah pola asuh tipe acuh tak acuh. Pola asuh tipe acuh tak acuh adalah pola dimana orang tua hanya menyediakan sedikit dukungan emosional terhadap anak (terkadang tidak sama sekali), menerapkan sedikit ekspektasi atau standar berperilaku bagi anak, menunjukkan sedikit minat dalam kehidupan anak, orang tua tampaknya sibuk dengan masalahnya sendiri, Jeanne Ellis O. dalam (Hasanah, 2016).

Berdasarkan pembahasan dan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendidikan karakter harus adanya kesinambungan dan dukungan dari semua pihak, hal ini didukung oleh (Zubaedi, 2013:143) yang menjelaskan bahwa pengembangan karakter anak merupakan upaya yang perlu melibatkan semua pihak, baik keluarga inti, keluarga besar, sekolah, masyarakat, maupun pemerintahan.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas mengenai penerapan pendidikan karakter di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Benjeng, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma'arif Sidomukti dan di Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Menganti dapat disimpulkan bahwa karakter yang ditunjukan oleh siswa disana sebagai berikut. Pertama religius, nilai religius diterapkan dalam kegiatan seperti berdoa sebelum dan sesudah belajar, salat berjamaah, dan sebagainya. Kedua peduli lingkungan, nilai peduli lingkungan diterapkan melalui kegiatan bersih-bersih bersama, mengumpulkan botol bekas, membuang sampah pada tempatnya, dan melaksanakan piket harian. Ketiga tanggung jawab, nilai tanggung jawab diterapkan agar kesalahan yang mereka lakukan dan berani untuk bertanggung jawab serta meminta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan. Keempat jujur, nilai kejujuran diterapkan dalam kegiatan harus jujur dalam mengerjakan ujian dan tidak boleh menyontek. Kelima disiplin, nilai disiplin diterapkan dalam hal datang tepat waktu, mematuhi segala aturan yang ada dan sebagainya. Penerapan nilai-nilai karakter tersebut sangat diperlukan strategi yang digunakan oleh sekolah dan guru. Strategi yang digunakan oleh sekolah dalam menerapkan pendidikan karakter adalah melalui pembiasaan, tetapi strategi yang digunakan setiap guru di 3 jenjang pendidikan itu berbeda dan beragam

Penerapan pendidikan karakter tidak terlepas dari hambatan yang dirasakan. Hambatan dalam penerapan pendidikan karakter di sekolah tersebut yaitu pertama faktor siswa, kedua faktor lingkungan, ketiga faktor orang tua, dan keempat faktor orang tua. Cara meminimalisasi hambatan tersebut yaitu guru tidak pernah bosan mengingatkan siswa untuk selalu berbuat baik, memberikan motivasi kepada siswa, memberikan teguran jika siswa melakukan kesalahan, bersikap tegas kepada siswa, dan melakukan koordinasi dengan orang tua untuk mengetahui bagaimana cara menerapkan pendidikan karakter yang baik untuk siswa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adi, Rianto. (2021). Metodologi penelitian sosial dan hukum. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

 

Firmansyah, Mokh Iman. (n.d.). Pendidikan Agama Islam: Pengertian, Tujuan, Dasar, dan Fungsi. Taklim: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 17(2), 79�90.

 

Hasanah, Uswatun. (2016). Pola asuh orangtua dalam membentuk karakter anak. Jurnal Elementary, 2(2), 72�82.

 

Kemendiknas. (2011). Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter.

 

Kurniawan, Chandra, Sutiningsih, Dwi, & Martini, Martini. (2022). The Effectiveness of M-Kia Applications on Mothers Toddlers on Early Detection and Prevention of Pneumonia in Demak Regency. Journal of World Science, 1(9), 706�724.

 

Mansur, Rosichin. (2016). Pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam multikultural (Suatu prinsip-prinsip pengembangan). Vicratina: Jurnal Pendidikan Islam, 1(2).

 

Muhakamurrohman, Ahmad. (2014). Pesantren: Santri, kiai, dan tradisi. IBDA: Jurnal Kajian Islam Dan Budaya, 12(2), 109�118.

 

Munif, Muhammad. (2017). Strategi internalisasi nilai-nilai pai dalam membentuk karakter siswa. EDURELIGIA: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(1), 1�12.

 

Musfiroh, Tadkiroatun. (2008). Cerdas melalui bermain. Jakarta: Grasindo.

 

Pingge, Heronimus Delu, & Wangid, Muhammad Nur. (2016). Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa sekolah dasar di kecamatan kota Tambolaka. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar Ahmad Dahlan, 2(1), 107�122.

 

Suarmini, Ni Wayan, Rai, Ni Gusti Made, & Marsudi, Marsudi. (2016). Karakter Anak Dalam Keluarga Sebagai Ketahanan Sosial Budaya Bangsa. Jurnal Sosial Humaniora (JSH), 9(1), 78�95.

 

Suyanta, Sri. (2013). Membangun Pendidikan Karakter Dalam Masyarakat. Jurnal Ilmiah Islam Futura, 13(1), 1�11.

 

Triwiyanto, Teguh. (2021). Pengantar pendidikan. Bumi Aksara.

 

Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter. (2013). Konsepsi dan Aplikasinya dalam Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.