MENINGKATKAN
BUDAYA MEMBACA DI SEKOLAH DASAR DENGAN METODE KARTU LITERASI
Khuriyatul Ainiah1,Choirur Rosyidin2
Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana
Universitas Gresik,1,2,
[email protected]1, [email protected]2
Diterima: 02-09-2022������������������������������������� Review: 10-09-2022������������������������ ��������������� Publish:
Pendahuluan: Saat ini anak-anak mempunyai minat yang rendah. Hal ini disebabkan oleh
dua faktor. Faktor intern yaitu berasal dari diri sendiri dan ekstern berasal
dari luar. Faktor diri sendiri terjadi sebab malas dan tidak ada motivasi dari
diri sendiri. Sedang dari luar terjadi dari lingkungan keluarga dan lingkungan
sekolah. Tidak ada dukungan Orang tua terhadap belajar menjadi salah satu
faktor rendahnya minat membaca. Sedang di lingkungan sekolah tidak adanya
falilitas perpustakaan yang memadai. Kuarangnya buku-buku bacaan untuk siswa.
Dari kondisi di atas penulis mengadakan penelitihan selama sepuluh hari agar
diperoleh data yang valid terhadap hal-hal yang dapat mempengaruhi minat
membaca siswa rendah. Metode: Penelitihan dilakukan dengan kualitatif deskriptif. Kemudian
dilanjutkan dengan wawancara kepada Guru SDN Tunggulrejo. Nara sumber yang
bersangkutan dianggap mengetahui masalah yang akan diteliti, mengenai upaya
guru dalam mengatasi rendahnya minat baca siswa. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya minat baca siswa, karena
siswa malas, dan menganggap membaca adalah sesuatu yang membosankan. siswa
kurang memahami pentingnya membaca buku. Kesimpulan: Upaya yang dilakukan guru adalah memberi pemahaman kepada siswa
pentingnya membaca dan memberikan kartu literasi sebagai laporan hasil bacaan
siswa.
Kata kunci: minat baca, faktor pendukung, meningkatkan
prestasi.
Abstract:
Introduction: Nowadays children have low
interest. This is due to two factors. Internal factors come from oneself and
external factors come from outside. The self factor
occurs because of laziness and no self-motivation. While from the outside
occurs from the family environment and school environment. There is no parental
support for learning to be one factor in the low interest in reading. While in
the school environment there is no adequate library facility. Lack of reading
books for students. From the above conditions, the authors conducted research
for ten days in order to obtain valid data on things that could affect
students' low reading interest. Methods: The research was conducted with
descriptive qualitative. Then continued with an interview with the teacher at
SDN Tunggulrejo. The resource person concerned is
considered to know the problem to be studied, regarding the teacher's efforts
in overcoming the low reading interest of students. Results: The results showed
that students' reading interest was low, because students were lazy, and
thought reading was something boring. students do not understand the importance
of reading books. Conclusion: The teacher's efforts are to give students an
understanding of the importance of reading and provide literacy cards as
reports on student reading results.
Keywords:��� reading interest, supporting factors, achievement improvement
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Adanya globalisasi dan modernisasi di dunia memberikan dampak meluasnya informasi. Media
cetak dan elektronik dapat lihat setiap saat. Tayangan video
dan game yang menarik pada konten-konten
ponsel menjadi salah satu penyebab rendah-nya minat baca pada siswa.
Anak lebih tertarik���� untuk menonton tayangan video dari pada membaca buku-buku pelajaran. Jika hal
ini tidak segera dilakukan pencegahan dan pem-batasan maka
anak akan merasa bahwa membaca bukanlah kegiatan yang menarik, karena
menyebabkan ke-bosanan (Wahyudin, n.d.).
Dewasa ini minat membaca cenderung sangat rendah sebab adanya
faktor-faktor tertentu salah satunya malas, tidak adanya kegiatan untuk
mengembangkan minat baca seperti jadual atau rencana (Putranto, Suprihanto, &
Sutrischastini, 2019). Apalagi jika tidak adanya
dukungan keluarga di rumah. Orang tua sangat berperan dalam menumbuhkan minat
baca pada anak. Diharapkan orang tua bisa membantu pihak sekolah dalam
menumbuhkan minat membaca pada anak. Karena Keberadaan anak di rumah lebih lama
dari pada di lingkungan sekolahnya. Adanya� kolaborasi yang baik antara pihak sekolah dan
orang tua serta� saling bersinergi
diharapkan� program yang dicanangkan sekolah dalam men-ciptakan
pembiasaan membaca akan tercapai dengan mudah (Sunarmintyastuti, Prabowo, Narsih,
Suprapto, & Vernia, 2021).
Saat ini sebagian siswa cenderung meninggalkan kegitan membaca, padahal
dengan membaca seseorang akan bertambah penge-tahuannya. Dengan bertambahnya
pengetahuan maka akan bertambah pula prestasi siswa.
Kemampuan membaca meru-pakan kemampuan
yang sangat diperlukan oleh siswa yang kelak akan dipergunakan untuk memahami
ber-bagai informasi yang dibaca (Warsidi, 2018). Bahkan anggota masyarakat
secara umum pun juga dituntut untuk mampu membaca dengan baik mengingat bahwa
segala informasi dapat meningkatkan wawasan kehidupan dan peng-hidupannya.
Minat baca mempunyai pe-ngaruh yang besar terhadap
kegiatan membaca. karena apabila siswa tidak mempunyai minat baca maka siswa
tersebut tidak akan mendapat pengetahuan. Hal ini juga akan mempengaruhi
prestasi siswa.
Rendahnya minat membaca masyarakat, erat hubungannya dengan tingkat
pendidikan di negara tersebut (Galus, 2011). Menurut peraturan UndangUndang
Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang per-pustakaan bahwa
budaya kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan, dan
masyarakat dengan kerjasama antara pemerintah dalam upaya peningkatan minat
baca, dimana pemerintah bertindak sebagai pihak yang bertanggung jawab utama
dan pustakawan melakukan kinerja yang optimal (www.perpusnas.go.id).
Pada tahun 2011, UNESCO merilis hasil survei budaya membaca terhadap
penduduk di negara-negara ASEAN. Budaya membaca di Indonesia berada pada
peringkat paling rendah dengan nilai 0,001. Artinya, dari sekitar seribu
penduduk Indonesia, hanya satu yang memiliki budaya membaca tinggi. Pengembangan minat�� baca di-tingkatkan secara berkesinambungan agar
terbentuk masyarakat yang berbudaya membaca (Kartika, 2004: 115).
Apabila siswa sudah terbiasa dengan membaca, maka akan memberikan dampak
yang positif terhadap siswa. Minat belajarnya akan bertambah demikian juga
prestasi siswapun meningkat (Syaparuddin, Meldianus, & Elihami,
2020). Sebaliknya jika siswa tidak mempunyai minat
baca, terkesan malas maka anak cenderung rendah minat belajarnya.
Oleh sebab itu tepat sekali jika sekolah mencipyakan pembiasaan
membaca dengan menciptakan kreasi dengan memberikan kartu literasi. Hal ini
dimaksudkan untuk meningkatkan minat membaca siswa. Karena di dalam kartu
tersebut siswa diminta me-nuliskan halaman buku yang
dibaca, judul bacaan serta isi dan tokoh dalam bacaan.
Pada mulanya bagi anak yang tidak suka membaca akan merasa terpaksa.
Namun, dengan adanya kartu literasi anak secara tidak langsung harus membaca
dan melaporkan hasil bacaannya.
Apabila siswa sudah terbiasa dengan membaca, maka akan tumbuh kebiasaan
yang dilakukan secara terus- menerus. Selain itu, kegemaran membaca memberikan
dampak yang positif. Karena dengan kebiasaan membaca siswa akan bertambah pengetahuan
dan pengalamannya. Hal itu akan menciptakan minat belajar siswa meningkat.
Menurut penjelasan ibu Sumrahayu, S.Pd. kepala SDN Tunggulrejo yang kami
interviu 6 September 2021, mengatakan bahwa rata-rata anak-anak di SDN
Tunggulrejo masih banyak yang malas membaca, ini terbukti dari setiap kelas
masih ada anak yang belum bisa membaca.
Selain itu setiap kali upacara bendera hari Senin, petugas pem-bacaan Teks UUD
1945 dan pembacan janji siswa membacanya kurang lancar. Hal ini menunjukkan
bahwa minat membaca di SDN Tunggulrejo masih rendah.
Berdasarkan keterangan Ibu Sumrahayu dan kenyataan yang ada di lapangan
bahwa rata-rata siswa siswa SDN Tunggulrejo masih banyak yang kurang berminat
dalam membaca. Peneliti tertarik untuk meneliti dan menganalisa realita tentang
minat baca siswa di SDN Tunggulrejo. Faktor apa yang menyebabkan rendahnya
minat baca siswa SDN Tunggulrejo?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang me-nyebabkan rendahnya minat baca pada siswa. Juga ingin menanamkan wawasan
tentang pentingnya mem-baca untuk proses
pengetahuan bagi siswa. Manfaat membaca sangat banyak salah satunya dapat
menambah pengetahuan dan wawasan dan me-ningkatkan bagaimana cara
berpikir kritis dan sistematis.
Manfaat penelitian ini di-harapkan siswa�������������� dapat �mem-bangkitkan minatnya dalam kegiatan membaca. Membaca bukan lagi men-jadi sebuah
tugas yang harus dikerjakan karena perintah guru, namun diharapkan membaca
sebuah kebutuhan dan kebiasaan yang harus dilakukan oleh siswa.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara rinci dan mendalam tentang minat membaca siswa
Sekolah Dasar negeri Tunggulrejo
kecamatan Singgahan Kabupaten Tuban, dengan menganalisa hasil wawancara dan pengamatan.
Waktu dan tempat penelitian ini dilaksanakan di SDN Tunggulrejo
yang beralamat di Jalan Raya Bojonegoro�Jatirogo
Desa Tunggulrejo Kecamatan Singgahan Kabupaten Tuban Jawa Timur. Waktu penelitian dilaksanakan pada pagi hari jam istirahat
dan siang hari setelah jam pelajaran selesai.
Objek pada penelitian ini adalah Kepala Sekolah
dan guru sebagai informan
juga siswa sebagai objek penelitihan dengan masalah yang diteliti yakni minat membaca siswa
SDN Tunggulrejo.
Menurut (Sugiyono, 2013: 308), menyatakan
bahwa penelitian deskriptif kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi alamiah (natural
setting). Berdasarkan pernyataan
di atas maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian minat baca siswa Sekolah
Dasar Negeri Tunggulrejo Kecamatan
Singgahan Kabupatemn Tuban menggunakan teknik observasi dan wawancara.
Menurut Nasution dalam (Sugiyono, 2013: 310), menyatakan
bahwa observasi merupakan dasar semua ilmu pengetahuan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi
partisipatif pasif, yaitu melakukan pengamatan langsung terhadap subjek dimana sehari-hari mereka berada dan biasa melakukan aktivitasnya, tetapi peneliti tidak ikut terlibat dalam
kegiatan tersebut.
Observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan
cara mengamati secara langsung kondisi yang terjadi selama 10 hari di Sekolah Dasar Negeri
Tunggulrejo, baik kondisi fisik maupun
yang menjadi minat baca siswa. Dalam
mengumpulkan data selama penelitian, peneliti meng-gunakan alat berupa
pedoman observasi dengan tujuan untuk
memperoleh data dan informasi
yang lengkap. Hal ini dilakukan sejak dimulai penelitian dengan mengamati kondisi fisik, sarana dan prasarana baca di SDN Tunggulrejo. Objek yang diobservasi adalah ruang kelas
dan pojok baca disetiap ruang.
Menurut Lexy J. Moleong dalam (Herdiansyah, 2015: 19), wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu
yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara
(interviewer) yang mengajukan pertanyaan
dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
(Herdiansyah, 2015) me-nyatakan
bahwa wawancara dalam konteks penelitian
kualitatif adalah sebuah proses interaksi komunikasi yang dilakukan oleh setidaknya dua orang, atas dasar ketersediaan
dan dalam kondisi yang alamiah, dimana arah pembicaraan mengacu kepada tujuan yang telah ditetapkan dengan mengedepankan kepercayaan sebagai landasan utama dalam proses memahami.
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara semi terstruktur.
Teknik wawancara semi terstruktur
ini digunakan oleh peneliti untuk mempermudah peneliti mendapatkan data yang mendalam
dan terperinci dengan mengembangkan pertanyaan tentang minat baca
siswa Sekolah Dasar Negeri Tunggulrejo kecamatan Singgahan Kabupaten Tuban.
Wawancara akan dilakukan terhadap objek yang telah ditentukan yaitu sebagian siswa yang mewakili setiap kelas Sekolah Dasar Negeri Tunggulrejo Kecamtan Singgahan Kabupaten Tuban. Wawancara ini dilakukan untuk
memperoleh informasi secara mendalam tentang apa saja
yang menjadi minat baca rendah.
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan peneliti. Data penelitian ini bersifat deskriptif
berupa dokumen pribadi, catatan harian, catatan lapangan, ataupun ucapan responden dari hasil wawancara.
Tekhnik yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Miles dan Huberman (Sugiyono, 2011: 246), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus
sampai tuntas, sehingga diperoleh data akhir.
Kesimpulan dalam penelitian
kualitatif yang diharapkan adalah menjawab rumusan masalah.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini melalui teknik dan prosedur.
Langkah-langkah tersebut adalah mengumpulkan data dengan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta mereduksi data yang diperoleh dari lapangan, membuat sajian data berdasarkan pola-pola hubungan satu data dengan data yang lain, dan menarik kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian melalui
observasi dan wawancara diperoleh bahwa minat baca adalah keinginan yang
disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca. Di mana orang yang mempunyai
minat membaca yang kuat akan diwujudkan untuk mendapat bahan bacaan sesuai
keinginannya. Pembahasan tersebut diperkuat oleh (Rahim, 2008) yang menjelaskan bahwa minat baca ialah keinginan yang kuat disertai
usaha- usaha seseorang untuk membaca.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu
Sumrahayu, S.Pd. sebagai Kepala Sekolah dan beberapa siswa, didapat bahwa minat baca siswa Sekolah Dasar Negeri
Tunggulrejo Kecamatan Singgahan Kabupten Tuban masih rendah. Hal ini diketahui
oleh peneliti bahwa adanya sudut baca sangat jarang digunakan. Para siswa memilih
untuk bercerita dengan teman dibanding membaca buku di pojok baca. Rendahnya
minat baca siswa disebabkan kurangnya kesadaran tentang manfaat membaca.
Disamping itu belum adanya perpustakaan juga menjadi faktor rendahnya minat
baca siswa. buku- buku yang tersedia di pojok baca terbatas dan tidak variatif.
Kondisi ini menyebabkan kurangnya motivasi
dari dalam diri siswa. Kurangnya minat membaca juga dipengaruhi oleh faktor
ekstern yaitu lingkungan sekolah dan keluarga.
Kurangnya motivasi yang di-berikan dari pihak sekolah maupun orang tua itulah, menjadikan siswa SDN Tunggulrejo
kurang memahami manfaat dari literasi membaca. Membaca bagi siswa masih
dipahami dari rangkaian belajar yang harus dilakukan supaya dapat menjawab
pertanyaan dari guru. Membaca masih menjadi kegiatan pokok dalam sebuah
pembelajaran. Sehingga adanya buku-buku di pojok baca menjadi hal yang tidak
menarik� karena akan memaksanya untuk
membaca. Sedang manfaat membaca sendiri belum sepenuhnya dipahami oleh peserta
didik.
Adanya pojok baca yang disediakan oleh
masing-masing guru belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik. hal ini masih
sebatas sarana untuk memenuhi runag kelas. Sedang fungsinya belum dilaksanakan
secara maksimal.
Untuk itu pihak sekolah dan guru harus bisa
memberikan motivasi dan rangsangan agar keberadaan pojok baca di ruang kelas
dapat di-manfaatkan. Ketersediaan buku yang cukup
memadai dan menarik dapat mendukung tumbuhnya minat siswa untuk membaca. Selain
itu, guru harus dapat menciptakan kondisi belajar yang kondusif, sehingga minat
membaca siswa akan meningkat.
Kondisi yang kondusif dapat tercapai jika
didukung adanya pengembangan, saat ini pihak sekolah telah mengupayakan
penambahan gedung untuk perpustakaan. Semoga tahun ini terealisasi sehingga
dapat meningkatkan minat baca siswa. Siswa akan tertarik untuk membaca buku
jika melihat judul-judul yang bervariatif dan beragam. jika jenis buku yang
dilihat lebih menarik dan menyenangkan, maka siswa akan tertarik untuk membaca. Disamping itu pihak sekolah juga menyiapkan kartu literasi yang wajib
diisi. Caranya 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai siswa diharapkan sudah
berada di pojok baca, kemudian mereka mengisi kartu literasi yang didalamnya
terdapat kolom laporan, antara lain halaman buku, judul bacaan, isi dari buku
yang di baca, dan pada kolom terahir terdapat paraf guru.
Dengan demikian anak dipaksa untuk membaca
buku agar dapat melaporkan bacaannya dan memperoleh tanda tangan guru pada
lembar Kartu Literasi. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca
siswa SDN Tunggulrejo selama ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: faktor
internal (perasaan, perhatian dan motivasi), sedangkan faktor yang mempengaruhi
dari luar terdiri dari peranan guru, lingkungan, keluarga dan fasilitas.
Faktor-faktor yang mem-pengaruhi tersebut dapat
dijelaskan sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa minat baca siswa
dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri siswa (internal) yang meliputi
perhatian, perasaan, dan motivasi, dan faktor dari luar siswa (eksternal) yang
meliputi peranan guru, lingkungan, keluarga, dan fasilitas. dan faktor
lingkungan (di sekolah).
Hasil penelitian ini me-nunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa SDN
Tunggulrejo berasal dari faktor internal adalah perasaan yang dimiliki tiap
siswa berbeda-beda, sehingga untuk menyatukan perasaan yang berbeda-beda itulah
maka, peneliti yang bekerjasama dengan pihak sekolah.
Langkah yang dilakukan adalah dengan cara
memberi motivasi dan perhatian secara terus menerus kepada siswa���� juga������ perhatian
untuk meningkatkan minat baca. Perhatian yang dilakukan peneliti adalah dengan
cara memahami keinginan siswa. Setelah mengetahui keinginan dan motivasi siswa
maka siswa akan menyadari pentingnya membaca. Manfaatnya selain menambah ilmu,
membaca juga dapat membuka wawasan yang lebih luas serta dapat menumbuhkan
berpikir kritis dan sistematis.
Penjelasan tersebut dapat dipertegas sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh (Rahim, 2008). Faktor dari dalam diri meliputi perhatian, perasaan, dan motivasi.
Perasaan senang terhadap bacaan merupakan ekspresi seseorang terhadap bacaan.
Hal tersebut dapat berupa jenis buku bacaan yang disenangi. Hal tersebut
dikarenakan terdapat unsur perhatian dan motivasi seseorang terhadap bacaan
tersebut.
Motivasi inilah�� yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan membaca. Siswa yang gemar
membaca, tidak perlu menunggu perintah guru, karena membaca tidak hanya����� menjadi aktifitas kesenangannya, tapi sudah menjadi kebutuhan.
Untuk mendapat hasil membaca yang baik, maka
siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan bacaannya. Agar siswa dapat
membaca dengan baik, usahakanlah bahan bacaan selalu menarik perhatian. Hal
tersebut sesuai dengan yang dikatakan oleh Herman (Wahadaniah, 1997:
16) yang menyatakan minat baca adalah suatu perhatian yang kuat dan
mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan
membaca sehingga dapat mengarahkan se-seorang untuk membaca
dengan kemauannya sendiri atau dorongan dari luar.
Disampung faktor dari diri siswa, faktor lain
yang mempengaruhi minat baca adalah tingkat pendidikan dan pendapatan orang
tua. Anak yang terlahir dari orang tua yang memiliki tingkat pendidikan tinggi
dan faktor ekonomi yang sudah mapan, memiliki minat bacanya lebih bagus di-bandingkan dengan pendapatan orang tua kurang mampu dan pendidikan yang
rendah.
Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan
adanya faktor yang mempengaruhi minat baca siswa adalah peran guru dalam
pembelajaran di kelas, metode pembelajaran yang tidak relevan digunakan di
kelas akan membosankan, sehingga kompetensi yang diharapkan tidak maksimal.
Siswa kesulitan menerima materi sehingga mempengaruhi rendahnya minat belajar
siswa.
Guru hendaknya menggunakan teori atau
komponen strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa sebagai
prinsip pembelajaran. Strategi pembelajaran berinteraksi dengan situasi
belajar. Situasi-situasi belajar ini sering dinyatakan dalam model-model
pembelajaran. Sehingga dalam proses pembelajaran dapat diterima oleh siswa
dengan baik dan lebih mudah, terutama dalam meningkatkan minat baca siswa yang
selama ini masih rendah.
Selain menerapkan strategi pembelajaran,
pemanfaatan sumber belajar harus menjadi prioritas. Guru yang terlibat dalam
pemanfaatan sumber belajar mempunyai tanggung-
jawab untuk memilih bahan ajar yang efektif
dan kreatif dalam memodifikasi bahan. Mengkondisikan siswa agar dapat
berinteraksi dengan memberikan umpan balik selama proses pembelajaran
berlangsung serta memberikan penilaian atas hasil yang dicapai siswa.
Keberhasilan (prestasi sekolah) akan mudah
diperoleh jika peserta didik mempunyai minat belajar yang tinggi. Minat belajar
dimulai dari minat membaca,�������� dengan demikian kompetensi yang diharapkan dalam
sebuah pembelajaran akan dapat dicapai.
Peran��� guru sangat penting dalam mempengaruhi minat baca siswa. Guru dapat membantu siswa mengembangkan����������� ilmu pengetahuan dengan cara
membaca. Selain berperan sebagai pendidik guru juga berperan sebagai motivator
dalam pembelajaran. Peran guru sebagai motivator literasi sangat penting dalam meningkatkan pengembangan kegiatan membaca�������� siswa. Pihak sekolah memberikan solusi yang tercantum dalam pembiasaan siswa
sebagai berikut :
a.
Sebelum pembelajaran
dimulai setiap siswa diharuskan membaca buku-buku yang terdapat pada pojok baca
di setiap kelasnya.
b.
Guru meberikan kartu
literasi kepada setiap siswa sebagai laporan kegiatan membaca yang telah dilakukannya.
c.
Siswa menuliskan pada kartu
literasi pada kolom yang telah tersedia, tanggal, judul bacaan, da nisi atau
pesan yang dibaca.
d.
Guru menandatangai kartu
literasi sekaligus sebagi laporan kegiatan membaca.
Pembiasaan ini dilakukan dalam rangka membudayakan
ke-giatan literasi membaca di SDN Tunggulrejo. Disamping itu di-harapkan guru mengetahui karakteristik dan minat anak sehingga�� bisa menyajikan bahan bacaan yang
menarik.� Teori Dawson dan Bamman dalam (Triatma, 2016). Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan untuk memunculkan
potensi siswa dalam hal membaca. Salah satu cara untuk memotivasi siswa dalam
belajar adalah membangkitkan minat siswa dalam membaca.
Selama belum adanya perpustakaan maka pihak
sekolah harus menyediakan buku-buku bacaan. Dengan membeli ataupun berusaha
mendapatkan bantuan buku- buku yang saat ini telah banyak dilakukan oleh pihak
lain. Pojok baca adalah satu-satunya sumber minat baca anak, maka harus
dikelola dengan baik. Mengganti buku-buku setiap satu minggu sekali dan
menatanya dengan rapi agar keberadannya menjadi pusat perhatian siswa setiap
memasuki ruang kelas.
Saat ini kegiatan pembiasaan tersebut telah
berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan minat baca siswa di SDN Tunggulrejo
Kecamatan Singgahan Kabupaten Tuban.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil
penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa, minat baca siswa Sekolah
Dasar Negeri Tunggulrejo masih rendah. Hal ini dapat dilihat pada dari setiap
kelas masih terdapat anak yang belum bisa membaca. Juga dari petugasa upacara masih belum
lancar dalam membaca teks pembukaan UUD 1945.
Pada waktu istirahat
atau ada jam kosong mereka memilih bermain atau bercerita dengan teman dari
pada membaca buku di pojok kelas. Kurangnya minat baca siswa disebabkan
kurangnya pemahaman terhadap pentingnya manfaat dari membaca. Serta kurangnya
motivasi diri dan dukungan lingkungan sekitar. Faktor-faktor yang mempengaruhi
minat baca siswa adalah: factor internal (perhatian dan motivasi). Langkah yang
dilakukan adalah dengan cara memberi motivasi dan perhatian secara terus
menerus kepada siswa SDN Tunggulrejo terhadap�
minat baca. Sedangkan faktor eksternal atau dari luar terdiri dari
peranan guru, lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah atau fasilitas.
�Guru hendaknya menggunakan teori atau komponen strategi pem-belajaran sebagai prinsip pembelajaran sehingga dalam
proses pembelajaran dapat diterima oleh siswa dengan baik dan mudah. Adanya
pojok baca di setiap kelas hendaknya menjadi sumber belajar yang diharapkan
dapat menumbuhkan minat baca bagi siswa, secara kontinou mengganti buku-buku
setiap minggu sehingga anak lebih termotivasi dalam membaca dan menggunakan
pojok baca sebagai bagian dari aktivitas mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Herdiansyah, Haris.
(2015). Wawancara, Observasi, dan Focus Groups Sebagai. Instrumen Penggalian
Data Kualitatif, PT. Rajadrafindo Persada, Depok.
Kartika, Esther. (2004).
Memacu minat membaca siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Penabur, 3(8),
113�128.
Putranto, Muhamad Dwi,
Suprihanto, John, & Sutrischastini, Ary. (2019). PENINGKATAN MINAT
MEMBACA SISWA DI MTs NEGERI 2 KULON PROGO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. STIE
Widya Wiwaha.
Rahim, Farida. (2008).
Pengajaran membaca di sekolah dasar. Jakarta: Bumi Aksara, 110,
1.
Sugiyono. (2011). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta.
Sugiyono, Prof Dr.
(2013). Metode penelitian manajemen. Bandung: Alfabeta, CV.
Sunarmintyastuti, Lies,
Prabowo, Hanggono Arie, Narsih, Dwi, Suprapto, Hugo Aries, & Vernia, Dellia
Milla. (2021). Peran Pelatihan Kewirausahaan dan Minat Siswa Yayasan Tahfidzul
Ar-Rahmani Tangerang Selatan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 7(2),
90�95.
Syaparuddin,
Syaparuddin, Meldianus, Meldianus, & Elihami, Elihami. (2020). Strategi
pembelajaran aktif dalam meningkatkan motivasi belajar pkn peserta didik. Mahaguru:
Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(1), 30�41.
Triatma, Ilham Nur.
(2016). Minat baca pada siswa kelas VI sekolah dasar negeri delegan 2 prambanan
sleman Yogyakarta. E-Jurnal Skripsi Program Studi Teknologi Pendidikan, 5(6),
166�178.
Wahadaniah, Herman. (1997).
Perpustakaan Sekolah sebagai Sarana Pengembangan Minat dan Kegemaran Membaca. Dalam
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Laporan Lokakarya Pengembangan Minat Dan
Kegemaran Membaca (Hlm. 15-22) Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
Wahyudin, M. (n.d.). Menuju
Kreativitas. Gema Insani.
Warsidi, Edi. (2018). Membaca
Pikiran Orang Lain segampang Membaca Buku. MediaPressindo.