MENINGKATKAN BUDAYA MEMBACA DI SEKOLAH DASAR DENGAN METODE KARTU LITERASI

 

Khuriyatul Ainiah1,Choirur Rosyidin2

Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Gresik,1,2,

 

[email protected]1, [email protected]2

Diterima: 02-09-2022������������������������������������� Review: 10-09-2022������������������������ ��������������� Publish: 15-09-2022

Abstrak:

Pendahuluan: Saat ini anak-anak mempunyai minat yang rendah. Hal ini disebabkan oleh dua faktor. Faktor intern yaitu berasal dari diri sendiri dan ekstern berasal dari luar. Faktor diri sendiri terjadi sebab malas dan tidak ada motivasi dari diri sendiri. Sedang dari luar terjadi dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Tidak ada dukungan Orang tua terhadap belajar menjadi salah satu faktor rendahnya minat membaca. Sedang di lingkungan sekolah tidak adanya falilitas perpustakaan yang memadai. Kuarangnya buku-buku bacaan untuk siswa. Dari kondisi di atas penulis mengadakan penelitihan selama sepuluh hari agar diperoleh data yang valid terhadap hal-hal yang dapat mempengaruhi minat membaca siswa rendah. Metode: Penelitihan dilakukan dengan kualitatif deskriptif. Kemudian dilanjutkan dengan wawancara kepada Guru SDN Tunggulrejo. Nara sumber yang bersangkutan dianggap mengetahui masalah yang akan diteliti, mengenai upaya guru dalam mengatasi rendahnya minat baca siswa. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya minat baca siswa, karena siswa malas, dan menganggap membaca adalah sesuatu yang membosankan. siswa kurang memahami pentingnya membaca buku. Kesimpulan: Upaya yang dilakukan guru adalah memberi pemahaman kepada siswa pentingnya membaca dan memberikan kartu literasi sebagai laporan hasil bacaan siswa.

 

Kata kunci: minat baca, faktor pendukung, meningkatkan prestasi.

 

Abstract:

Introduction: Nowadays children have low interest. This is due to two factors. Internal factors come from oneself and external factors come from outside. The self factor occurs because of laziness and no self-motivation. While from the outside occurs from the family environment and school environment. There is no parental support for learning to be one factor in the low interest in reading. While in the school environment there is no adequate library facility. Lack of reading books for students. From the above conditions, the authors conducted research for ten days in order to obtain valid data on things that could affect students' low reading interest. Methods: The research was conducted with descriptive qualitative. Then continued with an interview with the teacher at SDN Tunggulrejo. The resource person concerned is considered to know the problem to be studied, regarding the teacher's efforts in overcoming the low reading interest of students. Results: The results showed that students' reading interest was low, because students were lazy, and thought reading was something boring. students do not understand the importance of reading books. Conclusion: The teacher's efforts are to give students an understanding of the importance of reading and provide literacy cards as reports on student reading results.

 

Keywords:��� reading interest, supporting factors, achievement improvement

Corresponding: Khuriyatul Ainiah

E-mail: [email protected]

PENDAHULUAN

Adanya globalisasi dan modernisasi di dunia memberikan dampak meluasnya informasi. Media cetak dan elektronik dapat lihat setiap saat. Tayangan video dan game yang menarik pada konten-konten ponsel menjadi salah satu penyebab rendah-nya minat baca pada siswa. Anak lebih tertarik���� untuk menonton tayangan video dari pada membaca buku-buku pelajaran. Jika hal ini tidak segera dilakukan pencegahan dan pem-batasan maka anak akan merasa bahwa membaca bukanlah kegiatan yang menarik, karena menyebabkan ke-bosanan (Wahyudin, n.d.).

Dewasa ini minat membaca cenderung sangat rendah sebab adanya faktor-faktor tertentu salah satunya malas, tidak adanya kegiatan untuk mengembangkan minat baca seperti jadual atau rencana (Putranto, Suprihanto, & Sutrischastini, 2019). Apalagi jika tidak adanya dukungan keluarga di rumah. Orang tua sangat berperan dalam menumbuhkan minat baca pada anak. Diharapkan orang tua bisa membantu pihak sekolah dalam menumbuhkan minat membaca pada anak. Karena Keberadaan anak di rumah lebih lama dari pada di lingkungan sekolahnya. Adanyakolaborasi yang baik antara pihak sekolah dan orang tua sertasaling bersinergi diharapkanprogram yang dicanangkan sekolah dalam men-ciptakan pembiasaan membaca akan tercapai dengan mudah (Sunarmintyastuti, Prabowo, Narsih, Suprapto, & Vernia, 2021).

Saat ini sebagian siswa cenderung meninggalkan kegitan membaca, padahal dengan membaca seseorang akan bertambah penge-tahuannya. Dengan bertambahnya pengetahuan maka akan bertambah pula prestasi siswa.

Kemampuan membaca meru-pakan kemampuan yang sangat diperlukan oleh siswa yang kelak akan dipergunakan untuk memahami ber-bagai informasi yang dibaca (Warsidi, 2018). Bahkan anggota masyarakat secara umum pun juga dituntut untuk mampu membaca dengan baik mengingat bahwa segala informasi dapat meningkatkan wawasan kehidupan dan peng-hidupannya.

Minat baca mempunyai pe-ngaruh yang besar terhadap kegiatan membaca. karena apabila siswa tidak mempunyai minat baca maka siswa tersebut tidak akan mendapat pengetahuan. Hal ini juga akan mempengaruhi prestasi siswa.

Rendahnya minat membaca masyarakat, erat hubungannya dengan tingkat pendidikan di negara tersebut (Galus, 2011). Menurut peraturan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang per-pustakaan bahwa budaya kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat dengan kerjasama antara pemerintah dalam upaya peningkatan minat baca, dimana pemerintah bertindak sebagai pihak yang bertanggung jawab utama dan pustakawan melakukan kinerja yang optimal (www.perpusnas.go.id).

Pada tahun 2011, UNESCO merilis hasil survei budaya membaca terhadap penduduk di negara-negara ASEAN. Budaya membaca di Indonesia berada pada peringkat paling rendah dengan nilai 0,001. Artinya, dari sekitar seribu penduduk Indonesia, hanya satu yang memiliki budaya membaca tinggi. Pengembangan minat�� baca di-tingkatkan secara berkesinambungan agar terbentuk masyarakat yang berbudaya membaca (Kartika, 2004: 115).

Apabila siswa sudah terbiasa dengan membaca, maka akan memberikan dampak yang positif terhadap siswa. Minat belajarnya akan bertambah demikian juga prestasi siswapun meningkat (Syaparuddin, Meldianus, & Elihami, 2020). Sebaliknya jika siswa tidak mempunyai minat baca, terkesan malas maka anak cenderung rendah minat belajarnya.

Oleh sebab itu tepat sekali jika sekolah mencipyakan pembiasaan membaca dengan menciptakan kreasi dengan memberikan kartu literasi. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan minat membaca siswa. Karena di dalam kartu tersebut siswa diminta me-nuliskan halaman buku yang dibaca, judul bacaan serta isi dan tokoh dalam bacaan.

Pada mulanya bagi anak yang tidak suka membaca akan merasa terpaksa. Namun, dengan adanya kartu literasi anak secara tidak langsung harus membaca dan melaporkan hasil bacaannya.

Apabila siswa sudah terbiasa dengan membaca, maka akan tumbuh kebiasaan yang dilakukan secara terus- menerus. Selain itu, kegemaran membaca memberikan dampak yang positif. Karena dengan kebiasaan membaca siswa akan bertambah pengetahuan dan pengalamannya. Hal itu akan menciptakan minat belajar siswa meningkat.

Menurut penjelasan ibu Sumrahayu, S.Pd. kepala SDN Tunggulrejo yang kami interviu 6 September 2021, mengatakan bahwa rata-rata anak-anak di SDN Tunggulrejo masih banyak yang malas membaca, ini terbukti dari setiap kelas masih ada anak yang belum bisa membaca.

Selain itu setiap kali upacara bendera hari Senin, petugas pem-bacaan Teks UUD 1945 dan pembacan janji siswa membacanya kurang lancar. Hal ini menunjukkan bahwa minat membaca di SDN Tunggulrejo masih rendah.

Berdasarkan keterangan Ibu Sumrahayu dan kenyataan yang ada di lapangan bahwa rata-rata siswa siswa SDN Tunggulrejo masih banyak yang kurang berminat dalam membaca. Peneliti tertarik untuk meneliti dan menganalisa realita tentang minat baca siswa di SDN Tunggulrejo. Faktor apa yang menyebabkan rendahnya minat baca siswa SDN Tunggulrejo?

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang me-nyebabkan rendahnya minat baca pada siswa. Juga ingin menanamkan wawasan tentang pentingnya mem-baca untuk proses pengetahuan bagi siswa. Manfaat membaca sangat banyak salah satunya dapat menambah pengetahuan dan wawasan dan me-ningkatkan bagaimana cara berpikir kritis dan sistematis.

Manfaat penelitian ini di-harapkan siswa�������������� dapat mem-bangkitkan minatnya dalam kegiatan membaca. Membaca bukan lagi men-jadi sebuah tugas yang harus dikerjakan karena perintah guru, namun diharapkan membaca sebuah kebutuhan dan kebiasaan yang harus dilakukan oleh siswa.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara rinci dan mendalam tentang minat membaca siswa Sekolah Dasar negeri Tunggulrejo kecamatan Singgahan Kabupaten Tuban, dengan menganalisa hasil wawancara dan pengamatan.

Waktu dan tempat penelitian ini dilaksanakan di SDN Tunggulrejo yang beralamat di Jalan Raya BojonegoroJatirogo Desa Tunggulrejo Kecamatan Singgahan Kabupaten Tuban Jawa Timur. Waktu penelitian dilaksanakan pada pagi hari jam istirahat dan siang hari setelah jam pelajaran selesai.

Objek pada penelitian ini adalah Kepala Sekolah dan guru sebagai informan juga siswa sebagai objek penelitihan dengan masalah yang diteliti yakni minat membaca siswa SDN Tunggulrejo.

Menurut (Sugiyono, 2013: 308), menyatakan bahwa penelitian deskriptif kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi alamiah (natural setting). Berdasarkan pernyataan di atas maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian minat baca siswa Sekolah Dasar Negeri Tunggulrejo Kecamatan Singgahan Kabupatemn Tuban menggunakan teknik observasi dan wawancara.

Menurut Nasution dalam (Sugiyono, 2013: 310), menyatakan bahwa observasi merupakan dasar semua ilmu pengetahuan.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi partisipatif pasif, yaitu melakukan pengamatan langsung terhadap subjek dimana sehari-hari mereka berada dan biasa melakukan aktivitasnya, tetapi peneliti tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.

Observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati secara langsung kondisi yang terjadi selama 10 hari di Sekolah Dasar Negeri Tunggulrejo, baik kondisi fisik maupun yang menjadi minat baca siswa. Dalam mengumpulkan data selama penelitian, peneliti meng-gunakan alat berupa pedoman observasi dengan tujuan untuk memperoleh data dan informasi yang lengkap. Hal ini dilakukan sejak dimulai penelitian dengan mengamati kondisi fisik, sarana dan prasarana baca di SDN Tunggulrejo. Objek yang diobservasi adalah ruang kelas dan pojok baca disetiap ruang.

Menurut Lexy J. Moleong dalam (Herdiansyah, 2015: 19), wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

(Herdiansyah, 2015) me-nyatakan bahwa wawancara dalam konteks penelitian kualitatif adalah sebuah proses interaksi komunikasi yang dilakukan oleh setidaknya dua orang, atas dasar ketersediaan dan dalam kondisi yang alamiah, dimana arah pembicaraan mengacu kepada tujuan yang telah ditetapkan dengan mengedepankan kepercayaan sebagai landasan utama dalam proses memahami.

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara semi terstruktur. Teknik wawancara semi terstruktur ini digunakan oleh peneliti untuk mempermudah peneliti mendapatkan data yang mendalam dan terperinci dengan mengembangkan pertanyaan tentang minat baca siswa Sekolah Dasar Negeri Tunggulrejo kecamatan Singgahan Kabupaten Tuban.

Wawancara akan dilakukan terhadap objek yang telah ditentukan yaitu sebagian siswa yang mewakili setiap kelas Sekolah Dasar Negeri Tunggulrejo Kecamtan Singgahan Kabupaten Tuban. Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang apa saja yang menjadi minat baca rendah.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan peneliti. Data penelitian ini bersifat deskriptif berupa dokumen pribadi, catatan harian, catatan lapangan, ataupun ucapan responden dari hasil wawancara. Tekhnik yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Miles dan Huberman (Sugiyono, 2011: 246), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga diperoleh data akhir. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah menjawab rumusan masalah.

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini melalui teknik dan prosedur. Langkah-langkah tersebut adalah mengumpulkan data dengan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta mereduksi data yang diperoleh dari lapangan, membuat sajian data berdasarkan pola-pola hubungan satu data dengan data yang lain, dan menarik kesimpulan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian melalui observasi dan wawancara diperoleh bahwa minat baca adalah keinginan yang disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca. Di mana orang yang mempunyai minat membaca yang kuat akan diwujudkan untuk mendapat bahan bacaan sesuai keinginannya. Pembahasan tersebut diperkuat oleh (Rahim, 2008) yang menjelaskan bahwa minat baca ialah keinginan yang kuat disertai usaha- usaha seseorang untuk membaca.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Sumrahayu, S.Pd. sebagai Kepala Sekolah dan beberapa siswa, didapat bahwa minat baca siswa Sekolah Dasar Negeri Tunggulrejo Kecamatan Singgahan Kabupten Tuban masih rendah. Hal ini diketahui oleh peneliti bahwa adanya sudut baca sangat jarang digunakan. Para siswa memilih untuk bercerita dengan teman dibanding membaca buku di pojok baca. Rendahnya minat baca siswa disebabkan kurangnya kesadaran tentang manfaat membaca. Disamping itu belum adanya perpustakaan juga menjadi faktor rendahnya minat baca siswa. buku- buku yang tersedia di pojok baca terbatas dan tidak variatif.

Kondisi ini menyebabkan kurangnya motivasi dari dalam diri siswa. Kurangnya minat membaca juga dipengaruhi oleh faktor ekstern yaitu lingkungan sekolah dan keluarga.

Kurangnya motivasi yang di-berikan dari pihak sekolah maupun orang tua itulah, menjadikan siswa SDN Tunggulrejo kurang memahami manfaat dari literasi membaca. Membaca bagi siswa masih dipahami dari rangkaian belajar yang harus dilakukan supaya dapat menjawab pertanyaan dari guru. Membaca masih menjadi kegiatan pokok dalam sebuah pembelajaran. Sehingga adanya buku-buku di pojok baca menjadi hal yang tidak menarikkarena akan memaksanya untuk membaca. Sedang manfaat membaca sendiri belum sepenuhnya dipahami oleh peserta didik.

Adanya pojok baca yang disediakan oleh masing-masing guru belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik. hal ini masih sebatas sarana untuk memenuhi runag kelas. Sedang fungsinya belum dilaksanakan secara maksimal.

Untuk itu pihak sekolah dan guru harus bisa memberikan motivasi dan rangsangan agar keberadaan pojok baca di ruang kelas dapat di-manfaatkan. Ketersediaan buku yang cukup memadai dan menarik dapat mendukung tumbuhnya minat siswa untuk membaca. Selain itu, guru harus dapat menciptakan kondisi belajar yang kondusif, sehingga minat membaca siswa akan meningkat.

Kondisi yang kondusif dapat tercapai jika didukung adanya pengembangan, saat ini pihak sekolah telah mengupayakan penambahan gedung untuk perpustakaan. Semoga tahun ini terealisasi sehingga dapat meningkatkan minat baca siswa. Siswa akan tertarik untuk membaca buku jika melihat judul-judul yang bervariatif dan beragam. jika jenis buku yang dilihat lebih menarik dan menyenangkan, maka siswa akan tertarik untuk membaca. Disamping itu pihak sekolah juga menyiapkan kartu literasi yang wajib diisi. Caranya 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai siswa diharapkan sudah berada di pojok baca, kemudian mereka mengisi kartu literasi yang didalamnya terdapat kolom laporan, antara lain halaman buku, judul bacaan, isi dari buku yang di baca, dan pada kolom terahir terdapat paraf guru.

Dengan demikian anak dipaksa untuk membaca buku agar dapat melaporkan bacaannya dan memperoleh tanda tangan guru pada lembar Kartu Literasi. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa SDN Tunggulrejo selama ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: faktor internal (perasaan, perhatian dan motivasi), sedangkan faktor yang mempengaruhi dari luar terdiri dari peranan guru, lingkungan, keluarga dan fasilitas.

Faktor-faktor yang mem-pengaruhi tersebut dapat dijelaskan sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa minat baca siswa dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri siswa (internal) yang meliputi perhatian, perasaan, dan motivasi, dan faktor dari luar siswa (eksternal) yang meliputi peranan guru, lingkungan, keluarga, dan fasilitas. dan faktor lingkungan (di sekolah).

Hasil penelitian ini me-nunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa SDN Tunggulrejo berasal dari faktor internal adalah perasaan yang dimiliki tiap siswa berbeda-beda, sehingga untuk menyatukan perasaan yang berbeda-beda itulah maka, peneliti yang bekerjasama dengan pihak sekolah.

Langkah yang dilakukan adalah dengan cara memberi motivasi dan perhatian secara terus menerus kepada siswa���� juga������ perhatian untuk meningkatkan minat baca. Perhatian yang dilakukan peneliti adalah dengan cara memahami keinginan siswa. Setelah mengetahui keinginan dan motivasi siswa maka siswa akan menyadari pentingnya membaca. Manfaatnya selain menambah ilmu, membaca juga dapat membuka wawasan yang lebih luas serta dapat menumbuhkan berpikir kritis dan sistematis.

Penjelasan tersebut dapat dipertegas sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (Rahim, 2008). Faktor dari dalam diri meliputi perhatian, perasaan, dan motivasi. Perasaan senang terhadap bacaan merupakan ekspresi seseorang terhadap bacaan. Hal tersebut dapat berupa jenis buku bacaan yang disenangi. Hal tersebut dikarenakan terdapat unsur perhatian dan motivasi seseorang terhadap bacaan tersebut.

Motivasi inilah�� yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan membaca. Siswa yang gemar membaca, tidak perlu menunggu perintah guru, karena membaca tidak hanya����� menjadi aktifitas kesenangannya, tapi sudah menjadi kebutuhan.

Untuk mendapat hasil membaca yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan bacaannya. Agar siswa dapat membaca dengan baik, usahakanlah bahan bacaan selalu menarik perhatian. Hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan oleh Herman (Wahadaniah, 1997: 16) yang menyatakan minat baca adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga dapat mengarahkan se-seorang untuk membaca dengan kemauannya sendiri atau dorongan dari luar.

Disampung faktor dari diri siswa, faktor lain yang mempengaruhi minat baca adalah tingkat pendidikan dan pendapatan orang tua. Anak yang terlahir dari orang tua yang memiliki tingkat pendidikan tinggi dan faktor ekonomi yang sudah mapan, memiliki minat bacanya lebih bagus di-bandingkan dengan pendapatan orang tua kurang mampu dan pendidikan yang rendah.

Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan adanya faktor yang mempengaruhi minat baca siswa adalah peran guru dalam pembelajaran di kelas, metode pembelajaran yang tidak relevan digunakan di kelas akan membosankan, sehingga kompetensi yang diharapkan tidak maksimal. Siswa kesulitan menerima materi sehingga mempengaruhi rendahnya minat belajar siswa.

Guru hendaknya menggunakan teori atau komponen strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa sebagai prinsip pembelajaran. Strategi pembelajaran berinteraksi dengan situasi belajar. Situasi-situasi belajar ini sering dinyatakan dalam model-model pembelajaran. Sehingga dalam proses pembelajaran dapat diterima oleh siswa dengan baik dan lebih mudah, terutama dalam meningkatkan minat baca siswa yang selama ini masih rendah.

Selain menerapkan strategi pembelajaran, pemanfaatan sumber belajar harus menjadi prioritas. Guru yang terlibat dalam pemanfaatan sumber belajar mempunyai tanggung-

jawab untuk memilih bahan ajar yang efektif dan kreatif dalam memodifikasi bahan. Mengkondisikan siswa agar dapat berinteraksi dengan memberikan umpan balik selama proses pembelajaran berlangsung serta memberikan penilaian atas hasil yang dicapai siswa.

Keberhasilan (prestasi sekolah) akan mudah diperoleh jika peserta didik mempunyai minat belajar yang tinggi. Minat belajar dimulai dari minat membaca,�������� dengan demikian kompetensi yang diharapkan dalam sebuah pembelajaran akan dapat dicapai.

Peran��� guru sangat penting dalam mempengaruhi minat baca siswa. Guru dapat membantu siswa mengembangkan����������� ilmu pengetahuan dengan cara membaca. Selain berperan sebagai pendidik guru juga berperan sebagai motivator dalam pembelajaran. Peran guru sebagai motivator literasi sangat penting dalam meningkatkan pengembangan kegiatan membaca�������� siswa. Pihak sekolah memberikan solusi yang tercantum dalam pembiasaan siswa

sebagai berikut :

a.  Sebelum pembelajaran dimulai setiap siswa diharuskan membaca buku-buku yang terdapat pada pojok baca di setiap kelasnya.

b.  Guru meberikan kartu literasi kepada setiap siswa sebagai laporan kegiatan membaca yang telah dilakukannya.

c.  Siswa menuliskan pada kartu literasi pada kolom yang telah tersedia, tanggal, judul bacaan, da nisi atau pesan yang dibaca.

d.  Guru menandatangai kartu literasi sekaligus sebagi laporan kegiatan membaca.

Pembiasaan ini dilakukan dalam rangka membudayakan ke-giatan literasi membaca di SDN Tunggulrejo. Disamping itu di-harapkan guru mengetahui karakteristik dan minat anak sehingga�� bisa menyajikan bahan bacaan yang menarik.Teori Dawson dan Bamman dalam (Triatma, 2016). Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan untuk memunculkan potensi siswa dalam hal membaca. Salah satu cara untuk memotivasi siswa dalam belajar adalah membangkitkan minat siswa dalam membaca.

Selama belum adanya perpustakaan maka pihak sekolah harus menyediakan buku-buku bacaan. Dengan membeli ataupun berusaha mendapatkan bantuan buku- buku yang saat ini telah banyak dilakukan oleh pihak lain. Pojok baca adalah satu-satunya sumber minat baca anak, maka harus dikelola dengan baik. Mengganti buku-buku setiap satu minggu sekali dan menatanya dengan rapi agar keberadannya menjadi pusat perhatian siswa setiap memasuki ruang kelas.

Saat ini kegiatan pembiasaan tersebut telah berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan minat baca siswa di SDN Tunggulrejo Kecamatan Singgahan Kabupaten Tuban.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa, minat baca siswa Sekolah Dasar Negeri Tunggulrejo masih rendah. Hal ini dapat dilihat pada dari setiap kelas masih terdapat anak yang belum bisa membaca. Juga dari petugasa upacara masih belum lancar dalam membaca teks pembukaan UUD 1945.

Pada waktu istirahat atau ada jam kosong mereka memilih bermain atau bercerita dengan teman dari pada membaca buku di pojok kelas. Kurangnya minat baca siswa disebabkan kurangnya pemahaman terhadap pentingnya manfaat dari membaca. Serta kurangnya motivasi diri dan dukungan lingkungan sekitar. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa adalah: factor internal (perhatian dan motivasi). Langkah yang dilakukan adalah dengan cara memberi motivasi dan perhatian secara terus menerus kepada siswa SDN Tunggulrejo terhadapminat baca. Sedangkan faktor eksternal atau dari luar terdiri dari peranan guru, lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah atau fasilitas.

Guru hendaknya menggunakan teori atau komponen strategi pem-belajaran sebagai prinsip pembelajaran sehingga dalam proses pembelajaran dapat diterima oleh siswa dengan baik dan mudah. Adanya pojok baca di setiap kelas hendaknya menjadi sumber belajar yang diharapkan dapat menumbuhkan minat baca bagi siswa, secara kontinou mengganti buku-buku setiap minggu sehingga anak lebih termotivasi dalam membaca dan menggunakan pojok baca sebagai bagian dari aktivitas mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Herdiansyah, Haris. (2015). Wawancara, Observasi, dan Focus Groups Sebagai. Instrumen Penggalian Data Kualitatif, PT. Rajadrafindo Persada, Depok.

 

Kartika, Esther. (2004). Memacu minat membaca siswa sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Penabur, 3(8), 113�128.

 

Putranto, Muhamad Dwi, Suprihanto, John, & Sutrischastini, Ary. (2019). PENINGKATAN MINAT MEMBACA SISWA DI MTs NEGERI 2 KULON PROGO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. STIE Widya Wiwaha.

 

Rahim, Farida. (2008). Pengajaran membaca di sekolah dasar. Jakarta: Bumi Aksara, 110, 1.

 

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

 

Sugiyono, Prof Dr. (2013). Metode penelitian manajemen. Bandung: Alfabeta, CV.

 

Sunarmintyastuti, Lies, Prabowo, Hanggono Arie, Narsih, Dwi, Suprapto, Hugo Aries, & Vernia, Dellia Milla. (2021). Peran Pelatihan Kewirausahaan dan Minat Siswa Yayasan Tahfidzul Ar-Rahmani Tangerang Selatan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 7(2), 90�95.

 

Syaparuddin, Syaparuddin, Meldianus, Meldianus, & Elihami, Elihami. (2020). Strategi pembelajaran aktif dalam meningkatkan motivasi belajar pkn peserta didik. Mahaguru: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(1), 30�41.

 

Triatma, Ilham Nur. (2016). Minat baca pada siswa kelas VI sekolah dasar negeri delegan 2 prambanan sleman Yogyakarta. E-Jurnal Skripsi Program Studi Teknologi Pendidikan, 5(6), 166�178.

 

Wahadaniah, Herman. (1997). Perpustakaan Sekolah sebagai Sarana Pengembangan Minat dan Kegemaran Membaca. Dalam Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Laporan Lokakarya Pengembangan Minat Dan Kegemaran Membaca (Hlm. 15-22) Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

 

Wahyudin, M. (n.d.). Menuju Kreativitas. Gema Insani.

 

Warsidi, Edi. (2018). Membaca Pikiran Orang Lain segampang Membaca Buku. MediaPressindo.