ANALISIS SWAMEDIKASI OBAT ANALGETIK PADA PENDERITA SAKIT GIGI DIMASYARAKAT CEMANI KECAMATAN GROGOL KABUPATEN SUKOHARJO

 

Anita Mursiany1, Isna Nur Khasanah2, Truly dian anggraini3

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional1, Universitas Duta Bangsa2, Stikes Nasional3

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

 

Abstrak:

Obat analgetik diketahui dapat mengurangi rasa nyeri yang disebabkan sakit gigi. Obat analgetik non narkotik bisa diperoleh di apotek dengan resep maupun tanpa menggunakan resep. Kemudahan dalam mengakses informasi di internet membuat masyarakat memilih untuk melakukan swamedikasi (pengobatan sendiri). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui swamedikasi penggunaan obat analgetik pada pasien sakit gigi di masyarakat cemani, kecamatan grogol, kabupaten sukoharjo. Penelitian menggunakan rancangan deskriptif observasional. Sampel penelitian dipilih secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, jumlah responden sebanyak 100 orang. Instrument penelitian ini menggunakan teknik wawancara terstruktur. Kriteria inklusi adalah responden berusia > 17 tahun, responden pernah menderita sakit gigi, dan responden membeli obat di apotek tanpa resep. Hasil dari penelitian jenis obat analgetik yang banyak digunakan adalah asam mefenamat sebanyak 36%, paracetamol sebanyak 19%, kalium diklofenak sebanyak 23%, natrium diklofenak sebanyak 12%, ibuprofen 7%, asetosal 1%, dan obat kombinasi paracetamol dan kafein sebanyak 1%.

 

Kata kunci: Swamedikasi, Obat Analgetik, Sakit Gigi

 

Abstract:

An analgesic medication is known to reduce the pain caused by toothaches. Non-narcotic analgesic drugs can be obtained at pharmacies with or without a prescription. The ease of accessing information on the internet has led the community to choose self-medication. The purpose of this research is to determine the self-medication practices of using analgesic drugs for toothache among patients in the Cemani community, Grogol sub-district, Sukoharjo district. The research design employed is a descriptive observational study. The research sample was selected through purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria, with a total of 100 respondents. The research instrument utilizes structured interviews. The inclusion criteria are respondents aged > 17 years, respondents who have experienced toothache, and respondents who purchased medication from pharmacies without a prescription. The results of the study showed that the most commonly used type of analgesic drug was mefenamic acid (36%), followed by paracetamol (19%), diclofenac potassium (23%), diclofenac sodium (12%), ibuprofen (7%), aspirin (1%), and a combination of paracetamol and caffeine (1%).

 

Keywords: Self-medication, analgesic drugs, toothache

 

Corresponding: Anita Mursiany

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Swamedikasi adalahpengobatan yang dilakukan oleh individu untuk merawat diri sendiri dari gejala atau penyakit yang sedang dialami oleh seseorang tersebut tanpa harus datang atau konsultasi terlebih dahulu kepada dokter (Khairunnisa, 2020). Masyarakat melakukan swamedikasi atau upaya pengobatan pada sendiri untuk penyakit ringan sampai sedang contohnya seperti nyeri, demam, influenza, batuk, maag, sakit kepala, sakit gigi dan penyakit ringan lainnya (AYU LESTARI, 2023). Untuk meningkatkan keamanan dan ketepatan penggunaan obat, yang diperbolehkan dalam swamedikasi adalah golongan obat bebas dan golongan obat bebas tebatas (BPOM, 2014). Dasar hukum swamedikasi adalah Peraturan Menteri Kesehatan No. 919 Menkes/Per/X/1993 (Dewi, 2018).

Obat yang sering digunakan mayarakat untuk swamedikasi adalah golongan analgetik (Wardoyo & Oktarlina, 2019). Analgetik adalah obat yang berkhasiat untuk mengurangi rasa nyeri, terutama lewat daya kerjanya atas system syaraf sentral dan mengubah respon seseorang terhadap rasa sakit (Susanto & Fitriana, 2017).

Ada banyak obat yang dapat berinteraksi dengan obat lain atau berinteraksi dengan makanan dan minuman. Untuk menghindari hal tersebut, maka pasien perlu mengenali nama obat atau nama zat berkhasiat yang terkandung dalam obat ketika hendak dikonsumsi (Anggraeni, 2019).

Golongan obat analgetik yang digunakan untuk swamedikasi pada sakit gigi adalah asam mefenamat sebesar 47%, paracetamol sebesar 23%, kalium diklofenak sebesar 15%, ibuprofen sebesar 9%, natrium diklofenak sebesar 2% dan asetosal sebesar 1% (Sahafia, 2021). Asam mefenamat merupakan obat analgetik apada tingkat nyeri ringan sampai sedang sehingga sering digunakan untuk swamedikasi sakit gigi (Lutfi, 2020).

Berdasarkan RISKESDAS tahun 2018, kesehatan gigi masyarakat Indonesia cenderung tidak baik (Kementrian Kesehatan RI, 2018). Dari hasil survei kesehatan yang melibatkan 13.781 dokter gigi didapatkan hasil, 57,6% penduduk Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut dan hanya 10,2% yang mendapatkan pelayanan dari tenaga medis gigi (Iskandar, Sukowati, Meryta, & Setyaningrum, 2022). Dari hasil penelitian tersebut sebagian besar masyarakat memilih swamedikasi atau membiarkan rasa sakit tersebut karena nyeri ringan jadi belum membutuhkan obat.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan swamedikasi penggunaan obat analgetik pada penderita sakit gigi di masyarakat cemani, kecamatan grogol, kabupaten sukoharjo.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif observasional. Penelitian ini dilakukan pada bulan april tahun 2022 di daerah cemani RT 05 RW 13, kecamatan Grogol, kabupaten Sukoharjo.

Sampel dalam penelitian dipilih secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah responden berusia > 17 tahun, responden pernah menderita sakit gigi, responden membeli obat analgetik di apotek tanpa resep (swamedikasi), danresponden bisa berkomunikasi, membaca serta menulis.

Jumlah sampel responden sebanyak 100 orang. Instrument penelitian ini menggunakan teknik wawancara terstruktur. Pertanyaan sudah di buat oleh peneliti. Pertanyaan tentang data diri responden.

Analisa data yang digunakan dalam penelitian adalah analisa univariat. Yaitu penggunaan obat analgetik di masyarakat cemani, kecamatan grogol, kabupaten sukoharjo.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Distribusi karakter responden berdasarkan jenis kelamin

No

Jenis kelamin

Jml

%

1.

Laki-laki

43

43 %

2.

perempuan

57

57 %

Total

100

100%

�������������

������������� Data penelitian menunjukan responden penelitian perempuan lebih banyak. Hal ini sesuai dengan data demografi desa cemani tahun 2020 bahwa jumlah pendudukan laki-laki sebesar 10.663 orang (49,7%) dan penduduk perempuan sebesar 10.808 orang (50.3%). Perempuan lebih peduli dengan kesehatan dirinya dan keluarga. Perempuan cenderung melakukan swamedikasi dibandingkan dengan laki-laki (Suherman & Febrina, 2018).

 

Tabel 2. Distribusi karakter responden berdasarkan usia

No

Usia

Jml

%

1.

18 � 30 tahun

18

18 %

2.

31 � 40 tahun

37

37 %

3

41 � 50 tahun

24

14 %

4

51 � 60 tahun

17

17 %

5

> 61 tahun

4

4 %

Total

100

100%

 

Berdasarkan hasil penelitian di atas, yang paling banyak melakukan swamedikasi adalah kelompok usia produktif. Orang dewasa akan cenderung mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan sendiri ketika kondisi tubuh terganggu atau sakit. Semakin bertambah usia akan mempengaruhi kemantangan dalam berpikir dan kemudahan dalam menerima informasi sehingga pengetahuan tentang swamedikasi yang diperolehnya semakin baik. Berdasarkan hasil penelitian, swamedikasi analgetik dimana mayoritas pasien yang melakukan swamedikasi analgetik berada pada rentang usia dewasa sekitar 26-45 tahun (Efayanti, Susilowati, & Imamah, 2019).

 

Tabel 3. Distribusi karakter responden berdasarkan Pendidikan

No

Pendidikan

Jml

%

1.

SD

4

4 %

2.

SLTP

15

15 %

3

SLTA atau sederajat

52

52 %

4

Perguruan Tinggi

29

29 %

Total

100

100%

 

Mayoritas pendudukan desa cemani memiliki Pendidikan terahkir SMA. Hal ini sesuai dengan data demografi daerah sukoharjo tahun 2018 tiga besar data Pendidikan yaitu sebesar 23,6% adalah lulusan SLTA, berikutnya lulusan SD sebesar 22,8%, dan lulusan SLTP sebesar 16.9%.

Desa cemani merupakan daerah yang memiliki beberapa pabrik besar disekitarnya. Pabrik mensyaratkan minimal lulusan SLTA atau sederajat untuk bisa bekerja. Sebagian besar masyarakat berpendapat bekerja di pabrik sudah bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji sesuai UMR.

Pendidikan akan mempengaruhi cara berpikir dan pengetahuan responden. Semakin tinggi pendidikan responden akan mudah dalam mencari dan menerima informasi. Sehingga semakin banyak juga pengetahuan yang dimilikinya. Dengan semakin banyak ilmu pengetahuan yang di miliki maka akan lebih sering melakukan swamedikasi untuk penyakit ringan.

 

Tabel 4. Distribusi karakter responden berdasarkan pekerjaan

No

Pekerjaan

Jml

%

1.

Pelajar/ mahasiswa

12

12%

2.

PNS

6

6%

3

Karyawan swasta

38

38 %

4

Ibu rumah tangga

9

9 %

5

Usaha

16

16%

6

Buruh

17

17%

7

Pensiunan

2

2%

Total

100

100%

 

Hasil penelitian menunjukan pekerjaan responden yang paling banyak melakukan swamedikasi adalah karyawan swasta. Pekerjaan berkaitan dengan status ekonomi. Penghasilan tinggi cenderung lebih peduli pada kesehatan. Lingkungan seseorang dalam bekerja juga berpengaruh dalam pemberian informasi terkait dengan kesehatan.

Faktor dilakukannya swamedikasi pada penderita sakit gigi adalah faktor biaya. Masyarakat berpendapat dengan swamedikasi akan lebih menghemat pengeluaran.

 

Tabel. 5. Distribusi karakter responden berdasarkan sumber informasi

No

Sumber informasi

Jml

%

1.

Pengalaman pribadi

25

25%

2

Teman/keluarga

38

38%

3

Apoteker/TTK di apotek

24

24 %

4

internet

11

11 %

5

Brosur/leaflet/ media cetak

2

2%

Total

100

100%

Sumber informasi merupakan segala sesuatu yang menjadi perantara dalam penyampaian informasi, yang dapat merangsang pikiran dan kemampuan seseorang. Hasil penelitian menunjukan responden paling banyak mendapatkan informasi penggunaan obat analgetik berasal dari teman/keluarga sebesar 38% dan pengalaman pribadi sebesar 25%. Faktor kebudayaan dan kepercayaan serta pengalaman dari teman atau keluarga memiliki peranan tertentu dalam membangun kepercayaan terhadap seseorang terutama dalam berpikir atau berperilaku (Hantoro, Pristianty, Athiyah, & Yuda, 2014).

 

Tabel 6. Golongan obat analgetik yang digunakan untuk swamedikasi sakit gigi

No

Obat analgetik

jml

%

1

Paracetamol

19

19%

2

Asam mefenamat

36

36%

3

Natrium diklofenak

12

12%

4

Kalium diklofenak

23

23%

5

ibuprofen

7

7%

6

Paracetamol dan kafein

1

1%

7

Piroxicam

1

1%

8

Asetosal

1

1%

 

Berdasarkan hasil penelitian Asam Mefenamat merupakan golongan obat analgetik yang paling banyak digunakan untuk swamedikasi pengobatan sakit gigi sebanyak 36% responden.

Asam Mefenamat merupakan golongan AINS (Anti Inflamasi Non Steroid) dimana memiliki mekanisme sebagai penghambat sintesis prostaglandin yang merupakan mediator inflamasi yang dapat menimbulkan rasa nyeri. Asam mefenamat secara umum diindikasikan untuk meredakan rasa nyeri ringan sampai sedang seperti nyeri kepala, nyeri gigi, nyeri karena trauma, nyeri otot dan nyeri pasca operasi (Tjay & Rahardja, 2007).

Asam mefenamat merupakan golongan analgetik yang termasuk dalam golongan obat keras. Obat keras tidak boleh dibeli tanpa resep dokter kecuali beberapa obat keras yang dapat digunakan dalam swamedikasi yaitu obat yang termasuk dalam kategori Obat Wajib Apotek yang hanya dapat diserahkan oleh Apoteker di Apotek.

asam mefenamat memiliki keunggulan lain yaitu dapat meringankan peradangan yang tidak bisa dilakukan oleh parasetamol. Parasetamol termasuk analgetik yangaman digunakan untuk wanita hamil, pediatri, dan geriatri.

Parasetamol merupakan golongan obat analgetik perifer yang bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP) dan digunakan untuk menghilangkan nyeri, seperti sakit kepala, sakit gigi dan nyeri tulang. Parasetamol merupakan golongan obat bebas yang mudah di dapatkan di apotek dan toko obat. Paracetamol terbanyak ketiga pada penelitian ini sebesar 19%.

Natrium Diklofenak dan Kalium diklofenak termasuk dalam golongan obat NSAID. Termasuk obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker di apotek tanpa resep dokter.Natrium diklofenak lebih efektif untuk mengurangi peradangan. Sedangkan kalium diklofenak efektif untuk mengurangi rasa nyeri sehingga angka penggunaan pada penelitian ini lebih sering sebesar 23%.

 

KESIMPULAN

Obat yang sering digunakan untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit gigi adalah asam mefenamat sebesar 36%. Asam mefenamat merupakan golongan obat keras dan termasuk dalam obat wajib apotek sehingga penyerahan tanpa resep harus dengan apoteker. Swamedikasi merujuk pada praktik penggunaan obat-obatan tanpa resep atau bimbingan medis. Oleh karena itu, penyerahan obat ini kepada pasien harus dilakukan melalui apoteker dan memerlukan resep dokter. Hal ini menunjukkan pentingnya konsultasi dengan apoteker atau dokter sebelum menggunakan obat ini, serta mematuhi aturan yang berlaku untuk mendapatkan obat ini secara legal dan aman.

Penelitian ini melihat kebiasaan dan pola penggunaan obat analgetik oleh masyarakat dalam mengatasi sakit gigi. Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih lanjut tentang tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait penggunaan obat analgetik serta implikasinya terhadap kesehatan dan pengobatan yang efektif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anggraeni, N. E. P. (2019). Pengaruh Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Swamedikasi Gastritis Pada Masyarakat RW 01 Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang (Doctoral dissertation, Akademi Farmasi Putra Indonesia). Malang.

AYU LESTARI, REGITA. (2023). Evaluasi Tingkat Pengetahuan Dan Rasionalitas Penggunaan Obat Swamedikasi Berdasarkan Karakteristik Masyarakat Di Rw 04 Kelurahan Citeureup.

BPOM, R. I. (2014). Menuju Swamedikasi yang Aman. Info POM, Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, 5(6).

Dewi, Sumartini. (2018). Medikolegal Pengobatan Untuk Diri Sendiri (Swamedikasi) Sebagai Upaya Menyembuhkan Penyakit. Jurnal Ilmiah Hukum Dan Dinamika Masyarakat, 15(1).

Efayanti, Erina, Susilowati, Tri, & Imamah, Ida Nur. (2019). Hubungan motivasi dengan perilaku swamedikasi. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 1(1), 21�32.

Hantoro, Dhoan Tri, Pristianty, Liza, Athiyah, Umi, & Yuda, Ana. (2014). Pengaruh Pengetahuan Terhadap Perilaku Swamedikasi Obat Anti-Inflamasi Nonsteroid (AINS) Oral Pada Etnis Arab di Surabaya. Jurnal Farmasi Komunitas, 1(2), 45�48.

Iskandar, Honey, Sukowati, Yudha, Meryta, Aries, & Setyaningrum, Noor Affni. (2022). Gambaran Pengetahuan Masyarakat Tentang Swamedikasi Sakit Gigi di RW 044 Kelurahan Bahagia, Bekasi Utara. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, 4(2), 256�269.

Kementrian Kesehatan RI, RISKESDAS. (2018). Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Khairunnisa, Nida. (2020). Gambaran Pengetahuan Masyarakat Terhadap Penggunaan Obat Analgesik Pada Swamedikasi.

Lutfi, Muhamad. (2020). Kajian Pustakagambaran Tingkat Pengetahuan Masyarakat Mengenai Swamedikasi Analgetik.

Sahafia, Dariin Herryanti. (2021). Hubungan Antara Faktor Sosiodemografi dan Tingkat Pengetahuan Pasien Diabetes Mellitus Rawat Jalan Dalam Penggunaan Obat Metformin (Penelitian dilakukan di Puskesmas Ciptomulyo dan Puskesmas Kendalsari Kota Malang). Pharmaceutical Journal of Indonesia, 6(2), 103�111.

Suherman, Hilda, & Febrina, Dina. (2018). Pengaruh faktor usia, jenis kelamin, dan pengetahuan terhadap swamedikasi obat. Viva Medika, 2, 94�108.

Susanto, Andina Vita, & Fitriana, Yuni. (2017). Kebutuhan Dasar Manusia. Yogyakarta: Pustaka Baru, 5�8.

Tjay, Tan Hoan, & Rahardja, Kirana. (2007). Obat-obat penting: khasiat, penggunaan dan efek-efek sampingnya. Elex Media Komputindo.

Wardoyo, Asyraf Vivaldi, & Oktarlina, Rasmi Zakiah. (2019). Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Obat Analgesik Pada Swamedikasi Untuk Mengatasi Nyeri Akut. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 8(2), 156�160.