SOSIALISASI TUGAS DAN WEWENANG BAGI PENJAGA PERLINTASAN SEBIDANG
�KERETA API
Ajeng Tyas
Damayanti1, Nurul Fitria
Apriliani2, Septiana Widi
Astuti3
Teknologi
Mekanika Perkeretaapian Politeknik Perkeretaapian Indonesia Madiun
Abstrak:
Sistem operasi kereta api melibatkan banyak aspek didalamnya.
Diantaranya sarana, prasarana, sumber daya manusia dan sistem pengaturannya.
Kesemua aspek tersebut akan saling berinteraksi untuk menghasilkan sistem
operasi kereta api yang dapat diandalkan oleh penggunanya. Masing-masing aspek
tersebut sama pentingnya dalam operasi kereta api. Salah satu hal yang tidak
dapat dielakkan adalah sumber daya manusia yang terlibat didalam sistem operasi
kereta api. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskritif,
dengan pendekatan sosialisasi. Pendekatan sosialisasi ini dipilih karena paling
mudah dalam memberikan pemahaman kepada penjaga perlintasan sebidang. Sosialisasi diawali dengan
pemberian pretest mengenai materi dasar penjaga perlintasan sebidang kereta api. Pretest ini juga digunakan
untuk melihat permasalahan yang ada dan pengetahuan mengenai tugas wewenang
penjaga perlintasan sebidang kereta api. Keterlibatan emosi terlihat dari adanya
ketertarikan maupun kesadaran akan pentingnya materi-materi sosialisasi yang diberikan. Adanya
keterlibatan emosi ini penting dalam penanaman kesadaran akan pentingnya peran penjaga perlintasan
sebidang. Perilaku disiplin akan mudah muncul apabila kesadaran telah diyakini oleh penjaga
perlintasan sebidang kereta api. Masih ada kekurangpahaman penjaga perlintasan sebidang kereta api
terhadap tugas dan wewenang yang dimiliki memiliki dampak terhadap motivasi pelaksanaan
pekerjaan.
Kata kunci: Sosialisasi, Penjaga
Perlintasan Kereta, Penjaga Perlintasan Sebidang Kereta Api.
Abstract:
The rail operating system involves many
aspects in it. Among them are facilities, infrastructure, human resources and regulatory
systems. All of these aspects will interact with each other to produce a rail
operating system that users can rely on. Each of these aspects is equally
important in rail operations. One of the things that cannot be avoided is the
human resources involved in the railroad operating system. In this study using
descriptive research methods, with a socialization approach. This socialization
approach was chosen because it is the easiest in providing understanding to
level crossing guards. The socialization begins with the provision of a pretest
regarding the basic materials for railroad crossing guards. This pretest is
also used to see existing problems and knowledge about the duties of a railroad
crossing guard authority. Emotional involvement can be seen from the interest
and awareness of the importance of the socialization materials provided. The
existence of this emotional involvement is important in instilling awareness of
the importance of the role of level crossing guards. Discipline behavior will
easily arise if awareness has been believed by the railroad crossing guard.
There is still a lack of understanding of the railroad crossing guards
regarding their duties and authorities which have an impact on the motivation
to carry out the work.
Keywords: Socialization,
Railway Crossing Guards, Railway Level Crossing Guards.
��������������������������
Corresponding: Ajeng Tyas Damayanti
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Operasi perkeretaapian adalah segala macam sistem yang diperlukan dalam
penyelenggaraan perkeretaapian. Perkeretaapian memiliki dua komponen utama:
prasarana (rel, stasiun, fasilitas pengangkutan, viaduk, terowongan, dll.) dan
sarana (lokomotif, kereta penumpang, gerbong)
Sistem operasi kereta api melibatkan banyak aspek didalamnya. Diantaranya
sarana, prasarana, sumber daya manusia dan sistem pengaturannya. Kesemua aspek
tersebut akan saling berinteraksi untuk menghasilkan sistem operasi kereta api
yang dapat diandalkan oleh penggunanya
Sumber daya manusia yang terlibat di operasi kereta api harus dipastikan memiliki
kompetensi dibidangnya. Sumber daya manusia yang tidak kalah penting dalam
pengoperasian keerta api adalah penjaga perlintasan kereta api. Petugas penjaga
perlintasan kereta api penting mengingat sebagian besar perlintasan kereta api
di Indonesia adalah perlintasan sebidang
Perlintasan sebidang adalah perpotongan sebidang antara jalur kereta api
dengan jalan. Isu yang menonjol pada perlintasan sebidang adalah tingginya
angka kecelakaan lalu-lintas antara kendaraan dengan kereta api, terutama pada
perlintasan yang tidak dijaga.
Salah satu kasus
kecelakaan transportasi pekeretaapian adalah kecelakaan di perlintasan
sebidang. Data yang dirilis PT KAI, sejak 2016 hingga Juli 2017 terdapat 35
kecelakaan yang melibatkan kereta api di Sumatra Barat. Dari angka tersebut, 27
kejadian merupakan kecelakaan dengan kendaraan roda empat dan dua, sementara
sisanya adalah kecelakaan antara kereta dan pejalan kaki. Seluruh angka
kecelakaan tersebut mewakili delapan nyawa yang melayang seketika di lokasi
kejadian
Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 tahun 2009 pasal 277
ayat (2) disebutkan bahwa petugas pengoperasian prasarana perkeretapian salah
satunya adalah penjaga perlintasan kereta api
Permasalahan kekurangpahaman penjaga perlintasan kereta api terhadap
tugas dan wewenang yang dimiliki akan memiliki dampak yang kurang baik dalam
pelaksanaan tugas sehari-hari
Berdasarkan hal tersebut kegiatan sosialisasi dirasa perlu dilakukan pada
petugas penjaga perlintasan kereta api. Materi mengenai tugas dan wewenang
diberikan mengingat masih banyaknya petugas penjaga perlintasan yang belum
benar-benar memahami. Hal ini terlihat dari jawaban yang diperoleh pada saat
pretest sebelum sosialisasi dilakukan. Akan sangat membahayakan keselamatan
perjalanan kereta api apabila petugas penjaga perlintasannya tidak memahami
benar apa yang menjadi tugas dan kewenangannya. Sosialisasi ini diberikan agar
petugas penjaga perlintasan sebidang kereta api lebih memahami tugas yang
dimiliki dan wewenangnya sehingga mampu dan berani mengambil tindakan apabila
terjadi kondisi darurat.
METODE PENELITIAN
Dalam
penelitian ini menggunakan metode penelitian deskritif, dengan pendekatan sosialisasi. Pendekatan sosialisasi ini dipilih karena paling mudah dalam
memberikan pemahaman kepada penjaga perlintasan sebidang. Sosialisasi ini
diberikan dengan tahapan sebagai berikut:
a.
Pemberian pretest. Pretest diberikan untuk mengetahui pengetahuan dasar
yang dimiliki penjaga perlintasan sebidang.
b.
Permasalahan diketahui melalui pretest.
c.
Materi mengenai permasalahan yang dialami penjaga perlintasan sebidang.
d.
Proses diskusi dilakukan terkait materi yang telah diberikan dan
permasalahan yang dialami. Materi yang telah diberikan diharapkan menjawab
permasalahan.
e.
Post test diberikan untuk mengetahui pemahaman akhir yang dimiliki
peserta sosialisasi.�
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Sosialisasi
Sosialisasi diawali dengan pemberian pretest mengenai materi dasar penjaga
perlintasan sebidang kereta api. Pretest ini juga digunakan untuk melihat
permasalahan yang ada dan pengetahuan mengenai tugas wewenang penjaga
perlintasan sebidang kereta api. Selanjutnya dilakukan pemberian materi dasar
mengenai:
a.
Definisi penjaga perlintasan sebidang kereta api
Penjaga
perlintasan sebidang kereta api dengan jalan raya atau yang sering disingkat
dengan PJL sesuai dalam PM No 19 Tahun 2011 tentang Sertifikat Kecakapan
Penjaga Perlintasan Kereta Api adalah orang yang menjaga perlintasan kereta
api. Sebagaimana negara lainnya di dunia, Indonesia juga memiliki perlintasan
kereta api dengan jalan raya. Berdasarkan data kecelakaan antara perlintasan sebidang
dengan jalan raya didapatkan data bahwa kecelakaan lalu lintas di perlintasan
sebidang kereta api terjadi sebanyak 271 kecelakaan dengan korban meninggal 67
orang dan luka 92 orang sepanjang 2021
b.
Pentingnya disiplin dalam pelaksanaan tugas sebagai penjaga perlintasan
sebidang kereta api.
Tahapan pemberian pengantar ini dilakukan dengan
tujuan mengenalkan dan memberikan pemahaman mengenai materi dasar penjaga
perlintasan sebidang kereta api. Penilaian pemahaman ini dapat diketahui dari
pretest dan post test yang dilakukan diawal dan akhir sosialisasi ini dilakukan. Selain itu, pemahaman peserta sosialisasi juga terlihat dari
peran aktif masing-masing peserta pada saat materi diberikan. Peran aktif
peserta ini juga menggambarkan capaian kognitif yang diinginkan
Tahapan kognitif dijelaskan mengenai beberapa hal,
diantaranya:
a.
Standar kompetensi sebagai penjaga perlintasan sebidang kereta api,
b.
Sertifikat kecakapan bagi penjaga perlintasan sebidang kereta api,
c.
Prosedur mendapatkan sertifikat kecakapan penjaga perlintasan sebidang
kereta api,
d.
Tugas dan tanggungjawab sebagai penjaga perlintasan sebidang kereta api,
e.
Kewenangan yang dimiliki penjaga perlintasan sebidang kereta api,
f.
Sanksi administrasi atas pelanggaran.

Gambar 1. Pemberian materi
Tahapan selanjutnya adalah tahap afektif. Pada
tahap ini akan dilihat bagaimana emosi yang ikut dilibatkan dalam tugas dan wewenang di bidang perlintasan
sebidang
a. Adanya ketertarikan
kepada profesi penjaga
perlintasan sebidang,
b. Adanya ketertarikan
mengenai pentingnya kedisiplinan sebagai penjaga perlintasan sebidang,
c. Adanya keingintahuan
pentingnya sertifikat kecakapan bagi penjaga perlintasan sebidang,
d. Adanya keingintahuan
mengenai kompetensi sebagai penjaga perlintasan sebidang,
e. Adanya keingintahuan
mengenai prosedur mendapatkan sertifikat kecakapan penjaga perlintasan
sebidang,
f.
Adanya keingintahuan mengenai tugas dan tanggungjawab sebagai penjaga
perlintasan sebidang,
g. Adanya keingintahuan
mengenai kewenangan yang dimiliki penjaga perlintasan sebidang
h. Adanya keingintahuan
mengenai sanksi administrasi yang dapat dikenakan atas pelanggaran yang dilakukan.
Keterlibatan emosi
terlihat dari adanya ketertarikan maupun kesadaran akan pentingnya
materi-materi sosialisasi yang diberikan. Adanya keterlibatan emosi ini
penting dalam penanaman kesadaran akan pentingnya peran penjaga perlintasan
sebidang
Tahapan lanjutan dari munculnya ketertarikan pada
materi yang diberikan adalah memunculkannya dalam bentuk perilaku
a. Mengenal kompetensi
sebagai penjaga perlintasan sebidang,
b. Mengenal sertifikat
kecakapan penjaga perlintasan sebidang,
c. Mengenal prosedur dalam
memperoleh sertifikat kecapaka penjaga perlintasan sebidang,
d. Mengenal tugas dan
kewajiban sebagai penjaga perlintasan sebidang,
e. Mengenal kewenangan
penjaga perlintasan sebidang,
f.
Mengenal sanksi administrasi atas pelanggaran.

Gambar 2. Penerapan Materi Dalam Perilaku
Sosialisasi diberikan dengan harapan munculnya ketiga
tahapan yaitu kognitif, afektif dan psikomotor
KESIMPULAN
Masih ada kekurangpahaman penjaga perlintasan sebidang kereta api
terhadap tugas dan wewenang yang dimiliki memiliki dampak terhadap motivasi
pelaksanaan pekerjaan. Hal ini terlihat dari hasil pretest yang
diselenggarakan. Diberikan materi mengenai pentingnya penjaga perlintasan
sebidang, tugas dan kewajiban, kewenangan yang dimiliki serta pentingnya
penjaga perlintasan sebidang memiliki sertifikast kompetensi dibidangnya. �Sosialisasi ini diharapkan dapat memberikan
pengetahuan dan pemahaman petugas penjaga perlintasan sebidang dalam bidang
kereta api. Hal ini dilanjutnya dengan pemberian ketrampilan yang mendukung
pelaksanaan tugas. Agar penjaga perlintasan sebidang ini bukan hanya
mendapatkan pengetahuan namun juga kemampuan untuk menangani kondisi darurat apabila
terjadi permasalahan di perlintasan sebidang.
DAFTAR PUSTAKA
Aghastya,
A., Astuti, S. W., Rachman, N. F., & Adi, W. T. (2021). Sosialisasi di
Perlintasan Sebidang sebagai Upaya Meningkatkan Disiplin Pengguna Jalan. Madiun
Spoor (JPM), 1(1). https://doi.org/10.37367/jpm.v1i1.142
Aulia
Dewi Nuur Halimah, Ida Wahyuni, E. (2019). Faktor Yang Menyebabkan Stres Kerja
Dan Pengendalian Stres Kerja Pada Petugas Penjaga Pintu Perlintasan Kereta Api
Di Emplacement Stasiun Kodya Semarang. Journal of Chemical Information and
Modeling, 53(9).
Diah
Puspitasari, M., Winjaya, F., & Tyas Damayanti, A. (2022a). SOSIALISASI
PEMANFAATAN EARLY WARNING SYSTEM PADA JALUR LENGKUNG UNTUK MENEKAN RESIKO
KECELAKAAN. Madiun Spoor (JPM), 2(1). https://doi.org/10.37367/jpm.v2i1.201
Diah
Puspitasari, M., Winjaya, F., & Tyas Damayanti, A. (2022b). SOSIALISASI
PEMANFAATAN EARLY WARNING SYSTEM PADA JALUR LENGKUNG UNTUK MENEKAN RESIKO
KECELAKAAN. Madiun Spoor (JPM), 1(1).
https://doi.org/10.37367/jpm.v1i1.201
Farouq,
U. (2018). �Studi Pengaruh Perlintasan Sebidang Jalan Dengan Rel Kereta Api
Terhadap Karakteristik Lalu Lintas.� Jurnal Sipil.
Oktaria,
D. S. (2022). Aspek Hukum Perlintasan Sebidang bagi Penjaga Perlintasan
Sebidang Dinas Perhubungan Kabupaten Bojonegoro. Jurnal Dedikasi Hukum,
2(1). https://doi.org/10.22219/jdh.v2i1.19498
Pramantha,
D., Indriyanta, G., & Saputra, L. K. P. (2021). Pemanfaatan Seamless
Wireless (EoIP) dan GPS pada Sistem Peringatan Perlintasan Kereta Tanpa Palang
Pintu. Jurnal Terapan Teknologi Informasi, 4(1).
https://doi.org/10.21460/jutei.2020.41.194
Ramban,
K., & Edalmen, E. (2022). Efek Mediasi Kepuasan Kerja pada Pengaruh
LIngkungan Kerja terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Manajerial Dan
Kewirausahaan, 4(1). https://doi.org/10.24912/jmk.v4i1.17177
Rozaq,
F., Adi, W. T., Wirawan, W. A., & Prativi, A. (2019). Peningkatan
Kompetensi Penjaga Pintu Perlintasan Sebidang Transportasi Perkeretaapian Di
Kota Padang Sumatera Barat Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat. Prosiding
SENIATI.
Rozaq,
F., Wirawan, W. A., Rachman, N. F., Handoko, H., & Zulkarnaen, A. (2021).
Sosialisasi Keselamatan Perkeretaapian untuk Meningkatan Peran Masyarakat
Tertib Berlalu Lintas di Perlintasan Sebidang. Madiun Spoor (JPM), 1(1).
https://doi.org/10.37367/jpm.v1i1.139
Suwardi,
Silfiah, R. I., & Kuswanto, H. (2018). Kebijakan Publik Tentang Sistem
Keselamatan dan Keamanan Perkeretaapian di Indonesia. Prosiding Seminar
Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat III Universitas
PGRI Ronggolawe Tuban, 3(1).
Syahputra,
E. (2018). Pertanggungjawaban Pidana Dalam Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Antara
Kereta Api Dan Pengendara Di Perlintasan Kereta Api. Dalam Fakultas Hukum
Universitas Islam indonesia.
Widodo,
A., & Aji, W. S. (2019). Palang Pintu Kereta Api Pneumatik Otomatis
Berbasis PLC Omron CP1E-NA20DR-A. Buletin Ilmiah Sarjana Teknik Elektro,
1(2). https://doi.org/10.12928/biste.v1i2.1011
Wirawan,
W. A., Rachman, N. F., Atmaja, D. S., Rozaq, F., & Arifianto, T. (2021a).
Pelatihan Simulasi Kondisi Darurat pada Pintu Perlintasan Sebidang Kereta Api
di JPL 01 Madiun. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Semangat Nyata Untuk
Mengabdi (JKPM Senyum), 1(2). https://doi.org/10.52920/jkpmsenyum.v1i2.45
Wirawan,
W. A., Rachman, N. F., Atmaja, D. S., Rozaq, F., & Arifianto, T. (2021b).
Pelatihan Simulasi Kondisi Darurat pada Pintu Perlintasan Sebidang Kereta Api
di JPL 01 Madiun. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Semangat Nyata Untuk
Mengabdi (JKPM Senyum), 1(2).
https://doi.org/10.52920/jkpmsenyum.v1i2.45