Hubungan Antara Kepemimpinan Kepala Sekolah, Lingkungan Sekolah dan Partisipasi Komite Sekolah Terhadap Prestasi Kerja Guru di SMK Kabupaten Malang

 

Abdur Rochim, Iis Trisnawati, Francisca Ellylia, Ratni Prasetiyowati

Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Gresik,1,2,3,4

 

[email protected]

 

Diterima: 02-09-2022��������������������� ��������������� Review: 10-09-2022�������� ��������������� ��������������� Publish: 15-09-2022

Abstrak:

Setiap lembaga pendidikan formal membutuhkan guru yang professional dalam mengajar, yang akan menghantarkan proses belajar mengajar secara baik dan berkesinambungan. Desain penelitian ini mengguanakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis hubungan antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). populasi dalam obyek penelitian ini adalah guru yang ada di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang. Teknik pengumpulan data dengan angket kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif yang meliputi distribusi frekuensi serta bentuk grafik dan menggunakan analisis regresi dengan menggunakan software IBM SPSS Statistics 25.0 for windows. Hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah (X1), lingkungan sekolah (X2), dan partisipasi komite sekolah (X3) sangat erat sekali dengan pretasi kerja guru (Y) di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang dengan pengaruh sebesar 72%, sehingga 28% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.

 

Kata kunci: Kepemimpinan Kepala Sekolah; Lingkungan Sekolah; Partisipasi Komite; Prestasi Kerja Guru.

 

Abstract:

Every formal educational institution needs a professional teacher in teaching, who will deliver the teaching and learning process well and continuously. This research design uses a quantitative approach to analyze the relationship between the independent variable (X) and the dependent variable (Y). The population in this research object is the teacher at SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang. Data collection techniques using questionnaires were then processed and analyzed descriptively which included frequency distribution and graphical form and used regression analysis using IBM SPSS Statistics 25.0 software for windows. The relationship between the principal's leadership (X1), school environment (X2), and school committee participation (X3) is very closely related to teacher work performance (Y) at SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang with an influence of 72%, so 28% is influenced by by other factors not examined in this study.

 

Keywords: Principal Leadership; School Environment; Committee Participation; Teacher Work Achievement.�������

Corresponding: Abdur Rochim

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Kemajuan kontemporer sudah tentu menuntut tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kualitas dan mencakup pribadi kreatif, produktif, dan kompetitif (Purnaya & SE, 2016). Ketiga kualitas tersebut merupakan satu kesatuan. Hanya manusia yang kreatif akan dapat meningkatkan kemampuan produktivitasnya (Djuwita, 2011). Peningkatan kreativitas tentunya membutuhkan pendidikan dan pembelajaran yang dapat rneningkatkan dan mengembangkan kemampuan kreativitas seseorang (Fitria, 2011). Di dalam kebudayaan global dengan teknologi informasi yang berkembang sangat pesat telah muncul generasi baru dengan berbagai sikap yang berbeda dengan generasi tua (Rais, Dien, & DIEN, 2018).

Penelitian Tapscott dikemukakan Tilaar, menggambarkan kecenderungan generasi baru, dengan kemampuan yang mencakup: berpikir bebas, keterbukaan emosional dan intelektual, budaya inklusivisme, kebebasan menyatakan sesuatu, budaya inovasi, budaya kematangan, budaya menyelidiki, kekinian, kepekaan, dan kebudayaan otentik. Kecenderungan baru ini mulai merembes kepada para siswa sebagai generasi baru khususnya daerah perkantoran.

Hal tersebut mengandaikan hahwa proses pembelajaran yang terjadi di lembaga pendidikan harus ditinjau ulang (Abi Hamid et al., 2020). Orientasi belajar diarahkan untuk melatih merumuskan, memecahkan bahkan mengantisipasi munculnya masalah sebagai model pembelajaran dan bukan hanya menekankan hafalan (Muchlis Solichin, 2017). Dengan kata lain, sistern pelajaran yang bersifat partisipatoris dan antisipatons perlu dikembangkan sebagai wujud inovasi. Sistem menghafal jawaban soal ujian sebagaimana yang menjadi kebiasaan model belajar dan sering diandalkan untuk meningkatkan nilai hasil belajar dalam ujian sumatif (ujian naik kelas, ujian akhir nasional) tidak lagi memadai untuk menjawab perubahan zaman (Hasibuan, 2015).

Pembelajaran di lembaga pendidikan harus berusaha mewujudkan empat visi baru pendidikan di sekolah sebaimana ditawarkan oleh UNESCO, Jaques Delors dkk. Menjelaskan pendidikan abad ke-21 harus diorentasikan kepada pencapaian empat pilar pembelajaran, yaitu: (1) Learning to know (belajar untuk mengetahui), (2) Learning to do (belajar untuk bisa berbuat dan melakukan sesuatu), (3) Learning to be (belajar menghayati hidup untuk menjadi seorang pribadi), dan (4) Learning to live together (belajar untuk bisa hidup bersama). Keempat orientasi pendidikan abad ke-21 ini harus menjadi visi haru setiap sekolah untuk menjadi eektif, yang didalamnya terformulasikan pembelajaran efektif.

Dengan kata lain, pembelajaran efektif merupakan parameter sekolah yang efektif. Ketersediaan SDM yang berkualitas unggul semakin mendesak terutama dalam penyelenggaraan sistem pendidikan di satu sisi, dan penyelenggaraan pembangunan nasional di sisi lain, Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang memiliki peranan penting dalam pencapaian kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Melalui pendidikan yang wajar manusia akan memiliki bekal pengetahuan, keterampilan dan daya cipta untuk mernpertahankan dan mengembangkan kehidupannya.

Dengan kata lain pendidikan merupakan bidang penting dan sangat mendasar yang harus dikelola secara baik dan benar oleh pemerintah dan masyarakat, karena proses pendidikan pada hakikatnva merupakan proses pengembangan sumber daya manusia (SDM) bagi masa depan. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan dalam Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Bertolak dan undang-undang tersebut dapat dipaharni bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan proses penciptaan SDM yang handal. Sebab pada dunia pendidikan akan berlangsung pembinaan pengetahuan, kecerdasan, keterampilan, emosi, sikap dan budi pekerti dengan kekuatan keimanan dan ketakwaan. Tegasnya dapat dinyatakan hahwa melalui pendidikanlah kualitas sumber daya manusia terbentuk dan kemajuan yang diharapkan dapat tercapai.

Kenyataannya hahwa seseorang yang telah mendapatkan pendidikan yang baik ia memiliki pengetahuan. keterampilan dan kematangan sikap sehingga meningkatkan derajat kehidupannva dan dapat berpartisipasi dalam pembangunan bangsa dan Negara. Karena itu dari sudut ekonomi, pendidikan merupakan penanaman modal untuk persiapan masa depan yang bahagia.

Setiap lembaga pendidikan formal membutuhkan guru yang professional dalam mengajar, yang akan menghantarkan proses belajar mengajar secara baik dan berkesinambungan. Seorang guru yang baik adalah guru yang dapat menempatkan kedudukannya sebagai tenaga professional, sesuai dengan tuntunan masyarakat yang semakin mendesak dan berkembang, seiring dengan perkembangan zaman dewasa ini. Dalam arti khusus dapat dikatakan hahwa pada diri guru terletak tanggung jawab untuk membawa keberhasilan belajar siswa dimana ia mengajar. Adapun ciri-ciri guru yang professional dalarn melaksanakan tugas keguruan adalah:

1.         Komitmen dalam kepentingan siswa dan pelaksanaan pembelajaran;

2.         Menguasai secara mendalam materi dan penggunaan strategi pembelajaran;

3.         Mampu berfikir sistematik dan selalu be1aar dan pengalaman, mau refleksi diri, dan koreksi;

4.         Proses belajar mengajar menjadi semakin baik;

5.         Bertanggung jawab memantau dan mengamati tingkah siswa melalui kegiatan evaluasi. Aplikasi di kelas rnampu membuat program evaluasi analisis, remedial dan melaksanakan bimbingan.

Dari paparan yang telah dipaparkan itu penulis ingin melakukan kajian tentang bagaimanakah hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah, lingkungan sekolah, dan partsisipasi komite dengan prestasi kerja guru SMK di Kabupaten Malang (Studi kasus di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang).

 

METODE PENELITIAN

Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi korelasi (Sugiyono, 2012). Studi ini mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni sejauh nilai variasi dalam satu variabel berhuhungan dengan variasi dalam variabel lain. Derajat hubungan variabel dinyatakan dalam satu indeks yang dinamakan koefisien korelasi. Koefisien korelasi dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan antar variabel atau untuk menyatakan besar kecilnya hubungan antara kedua variabel

Penelitian ini untuk menentukan hubungan kepemimpinan kepala sekolah (X1), lingkungan sekolah (X2), dan partisipasi komite (X3) dengan prestasi kerja guru (Y).

Teknik analisis dengan deskriptif dan analisis inferensial, dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan angkah: a) Koefisien Determinasi (R2), menunjukan besarnya korelasi dan pengaruh varibel bebas x, b) Analisis Of Varian (ANOVA), untuk menguji apakah variabel dependen (X) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel independen (Y). ANOVA menggunakan Uji-F dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel (α = 5%, df1 = 3, df2 = 31, Ftabel = 2,89) dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 5%). Jika� Fhitung > Ftabel maka dikatakatan variabel dependen (X) berpengaruh segnifikan terhadap variabel independen (Y), c) Uji Parsial (t-test), merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui hubungan masing-masing variabel dependen (X) secara sendiri-sendiri terhadap variabel independen (Y). Uji yang digunakan adalah Uji t (t-test). Yaitu dengan membandingkan nilai thitung dengan ttabel. Dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 5%) dan df = 1,68957.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Terkait dengan kinerja mengajar guru, tentu saja tidak begitu muncul saja, ada banyak faktor yang melatarbelakanginya (Mirawati & Mariana, n.d.). Secara manajerial, manajemen kepala sekolah dalam mengatur lembaga pendidikan dan komitmen terhadap tugas sangat memberikan dampak yang luar biasa terhadap kinerja mengajar guru. Kedua faktor ini menurut hemat penulis sangat penting, tentu tanpa menafikan faktor-faktor lainnya. bagi guru, manajemen kepala pada dasarnya akan menjadi modal dasar dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengkoordinasikan, dan mengawasi segenap proses pembelajaran di satuan pendidikan. Sebab dalam kondisi riil, ternyata masih dijumpai hahwa kepala lembaga pendidikan, cenderung mengabaikan guru. Selanjutnya komitmen guru terhadap tugasnya sebagai pengajar, pembimbing dan pelalih peseta didik juga turut mempengaruhi kinerja mengajar guru. Hal ini didasarkan pada kenyataan, manakala guru memiliki kesadaran yang tinggi terhadap bidang tugas yang sedang la geluti, la akan berupaya semaksimal mungkin untuk menunjukkan kinerja yang baik di satuan pendidikan tempat ia bertugas.

 

Kepemimpinan Kepala Sekolah

Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mernpunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan (Alang, 2016). Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas tugas yang harus dilaksanakan. Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya.

Sesuai dengan Pasal 12 Ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 menyatakan bahwa kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana.

Kepemimpinan kepala sekolah di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang dari hasil angket diperoleh bahwa deskriptif dengan menggunakan distribusi frekuensi dan gambar grafik, maka dapat diketahui bahwa tanggapan responden tentang kepemimpinan kepala sekolah diperoleh 60% atau sebanyak 21 orang yang menyatakan sesuai, dan 40% atau sebanyak 14 orang yang menyatakan sangat sesuai.

 

Lingkungan Sekolah

Lingkungan fisik menunjuk pada sarana fisik dan alal-alat yang digunakan oleh personel sekolah yang meliputi: (1) Iingkungan belajar siswa, (2) keadaan ruang guru. (3) keadaan ruang perpustakaan, (4) kebersihan iingkungan sekolah, (5) keadaan Iingkungan sekolah, ketersediaan tempat istirahat siswa, dan (6) ketersediaan ruang belajar. Lingkungan sosial sekolah adalah suasana kerja antara guru dengan kepala sekolah, guru dengan guru dan interaksi antara sekolah dengan masyarakat sekitarnya berupa: (1) hubungan kerja antara kepala sekolah dengan guru. (2) perlakuan kepala sekolah terhadap guru, (3) penghargaan kepala sekolah terhadap guru. (4) kerja sarna antara guru dengan guru. (5) kerja sama antara guru dengan orang tua/wali siswa. (6) kerja sarna antara komite sekolah dengan personel sekolah. dan (7) kerja sama aniara masyarakat lingkungan dengan personil sekolah.

Kondisi lingkungan sekolah berdasarkan analisis deskriptif dapat diketahui bahwa tanggapan respon tentang lingkungan sekolah diperoleh 11% atau sebanyak 4 orang yang menyatakan tidak sesuai, 60% atau sebanyak 21 orang yang menyatakan sesuai, dan 29% atau sebanyak 10 orang yang menyatakan sangat sesuai.

 

Partisipasi Komite Sekolah

Menurut keputusan Mendiknas, komite sekolah merupakan badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka peningkatan mutu, pemerataan dan efisiensi pengelolaan pendidikan di sekolah. Komite sekolah berkedudukan di sekolah, dan setiap sekolah bisa mempunyai satu komite sekolah atau bergabung dengan sekolah lain untuk mendirikan satu komite sekolah. Komite sekolah bersifat mandiri, tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan lembaga pemerintahan. Meskipun demikian, dalam praktiknya banyak sekali komite sekolah yang tidak mampu mandiri terutama dalam pencairan dana sehingga hanya mengandalkan dana dari pemerintah.

Partsisipasi komite di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang dari hasil angket diperoleh data bahwa tanggapan respon tentang partisipasi komite sekolah diperoleh 6% atau sebanyak 2 orang yang menyatakan tidak sesuai, 60% atau sebanyak 21 orang yang menyatakan sesuai, dan 34% atau sebanyak 12 orang yang menyatakan sangat sesuai.

 

Hubungan Kepemimpinan Kepala Sekolah, Lingkungan Sekolah, dan partisipasi Komite dengan Prestasi Kerja Guru.

Secara parsial diperoleh koefisien regresi variabel kepemimpinan kepala sekolah (X1) sebesar 0,420 dan thitung sebesar 2,183, oleh karena thitung > ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa variabel kepemimpinan kepala sekolah (X1) mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi kerja guru (Y) di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang.

Koefisien regresi variabel lingkungan sekolah (X2) sebesar 0,303 dan thitung sebesar 4,384, oleh karena thitung > ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa variabel lingkungan sekolah (X2) mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi kerja guru (Y) di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang.

Koefisien regresi variabel partisipasi komite sekolah (X3) sebesar 0,735 dan thitung sebesar 2,572, oleh karena thitung > ttabel maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa variabel partisipasi komite sekolah (X3) mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi kerja guru (Y) di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang.

Hasil analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian diperoleh nilia koefisien korelasi R sebesar 0,846 serta koefisien determinasi R2 sebesar 0,720, hal tersebut menunjukan bahwa hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah (X1), lingkungan sekolah (X2), dan partisipasi komite sekolah (X3) sangat erat sekali dengan prestasi kerja guru (Y) di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang dengan pengaruh sebesar 72%, sehingga 28% prestasi kerja guru (Y) di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang di pengaruhi oleh faktor lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.�

Berdasarkan pengujian secara berganda pada uji F menunjukan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah (X1), lingkungan sekolah (X2), dan partisipasi komite sekolah (X3) dengan prestasi kerja guru (Y) di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang dengan tingkat kepercayaan 95% dan pengaruh yang terbesar adalah peran serta komite sekolah.

 

KESIMPULAN

Adanya pengaruh kepemimpinan kepala sekolah (X1), lingkungan sekolah (X2), dan partisipasi komite sekolah (X3) dengan prestasi kerja guru (Y) di SMK IT Asy-Syadzili Pakis Malang, hal ini membuktikan bahwa indikator-indikator untuk mengukur kepuasan kerja menurut Minnosota Satisfaction Quertionare (MSQ) adalah: (1) kebebasan memanfaatkan waktu luang, (2) kebebasan bekerja secara mandiri, (3) kebebasan berganti-ganti pekerjaan dari waktu ke waktu, (4) kebebasan bergaul, (5) gaya kepemimpinan atasan langsung, (5) kompetensi pengawas, (7) tugas yang diterima, (8) kesempatan bertindak terhadap orang lain, (9) kesiapan kerja, (10) kebebasan memerintah, (11) kebebasan memanfaatkan kemampuan, (12) kebebasan menerapkan peraturan yang berlaku, (13) gaji yang diterima, (14) kesempatan mengembangkan karier, (15) kebebasan mengambil keputusan, (16) kesempatan menggunakan metode kerja, (17) kondisi kerja yang mendukung, (18) kerja sama, (19) penghargaan terhadap prestasi, dan (20) perasaan pekerja terhadap prestasinya. Dalam implementasinya, indikator-indikator kepuasan kerja dapat juga dibatasi, seperti yang dilakukan oleh Usman (2008) dibatasi pada gaji, tunjangan pensiun, jabatan, pekerjaan menantang, rumah dinas, kendaraan dinas, pelayanan kesehatan, jaminan pendidikan, hiburan, prestasi, penghargaan, pekerjaan itu sendiri, rekan kerja, pimpinan dan keamanan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abi Hamid, Mustofa, Ramadhani, Rahmi, Masrul, Masrul, Juliana, Juliana, Safitri, Meilani, Munsarif, Muhammad, Jamaludin, Jamaludin, & Simarmata, Janner. (2020). Media pembelajaran. Yayasan Kita Menulis.

Alang, Lukas. (2016). PENGARUH MOTIVASI KERJA DAN KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. KHARISMA INTI MITRA BANJARMASIN. STIE Indonesia Banjarmasin.

Djuwita, Tita Meirina. (2011). Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja Pegawai. Manajerial: Jurnal Manajemen Dan Sistem Informasi, 10(2), 15�21.

Fitria, Yanti. (2011). Pengintegrasian Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sains: Suatu Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar.

Hasibuan, Sulham Efendi. (2015). Kepemimpinan guru dalam meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa Madrasah Aliyah Swasta Ma�had Al-Amin Mompang Kecamatan Barumun Kabupaten Padang Lawas. IAIN Padangsidimpuan.

Mirawati, Mirawati, & Mariana, Wiwik. (n.d.). PENGARUH DEDIKASI DAN JAMINAN KESEJAHTERAAN TERHADAP KINERJA GURU MADRASAH TSANAWIYAH PEKANBARU. POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam, 7(2), 228�243.

Muchlis Solichin, Mohammad. (2017). Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Discovery dalam Pendidikan Agama Islam. TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam, 12(2), 215�231.

Purnaya, I. Gusti Ketut, & SE, S. H. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit Andi.

Rais, Nurlaila Suci Rahayu, Dien, M. Maik Jovial, & DIEN, ALBERT Y. (2018). Kemajuan teknologi informasi berdampak pada generalisasi unsur sosial budaya bagi generasi milenial. Jurnal Mozaik, 10(2), 61�71.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.Bandung:Alfabeta. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D.Bandung:Alfabeta. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004