FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN MANCANEGARA (WISMAN) DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

 

Sugianto1*, Sri Ramadhani2, Ahmad Habibullah Jumain3

12Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

3Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

 

Email: [email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

 

Diterima: 01-05-2022

Review: 09-05-2022

Publish: 15-05-2022

Abstrak

Pendahuluan

Provinsi Nusa Tenggara Barat ditetapkan oleh Kemenpar pada tahun 2015 sebagai destinasi wisata syariah unggulan Indonesia berkat prestasi pada ajang The World Halal Travel Award tahun 2015 sebagai World�s Best Halal Honeymoon destination dan World�s Best Halal Tourism Destination..

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan wisman di Nusa Tenggara barat dengan jenis penelitian kuantitatif data sekunder.

Metode

Penelitian ini menggunakan data time series berbentuk data bulanan dengan rentang waktu pada tahun 2013 � 2019. Data dianalisis dengan menggunakan regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Proses pengolahan data menggunakan software SPSS 23. Variabel bebas yang diduga berpengaruh terhadap penelitian ini adalah akomodasi, kurs, dan keamanan.

Hasil

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa seluruh variabel bebas secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat. pada tingkat kepercayaan 5% dengan nilai Sig. 0,000. Hasil uji t dengan taraf signifikansi sebesar 5% menunjukkan bahwa variabel akomodasi berpengaruh negatif dan signifikan dengan nilai Sig. 0,011, variabel kurs berpengaruh positif dan signifikan dengan nilai Sig. 0.000, variabel keamanan berpengaruh positif dan tidak signifikan dengan nilai Sig. 0.990.

Kesimpulan

Variabel Akomodasi, kurs dan keamanan berpengaruh signifikan terhadap jumlah pengunjung Wisman di Nusa Tenggara Barat.

Kata Kunci: Nusa Tenggara Barat, Wisman, Akomodasi, Kurs, dan Keamanan.

 

��� Corresponding: Ahmad Habibullah Jumain

��������� E-mail: [email protected]

 

PENDAHULUAN

Industri pariwisata adalah salah satu investasi bisnis yang dapat mendatangkan keuntungan dan kesejahteraan bagi masyarakat (Julianti & Subekti, 2018). Hal ini karena dengan adanya pariwisata, akan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Selain itu juga bisa memberikan motivasi bagi setiap individu untuk berkreasi dan berinovasi.

Salah satu varian pariwisata yang saat ini sedang dikembangkan oleh banyak negara adalah wisata yang ramah terhadap wisatawan muslim. Pengembangan varian wisata ini bukan tanpa alasan. Setidaknya ada tiga alasan yang menjadi dasar pertimbangan pengembangan varian wisata tersebut. Pertama, besarnya jumlah penduduk muslim dunia, hal tersebut potensial dan menjadi target kunjungan wisata. Kedua, besarnya jumlah pengeluaran penduduk muslim dunia di sektor perjalanan dan makanan. Pengeluaran penduduk muslim dunia di dua sektor ini menjadi perhatian negara-negara di dunia untuk menarik wisatawan muslim untuk berkunjung ke negara mereka. Ketiga, besarnya jumlah wisatawan muslim dunia. Studi (Mastercard-CrescentRating, 2019) tentang wisatawan muslim, menjelaskan bahwa tahun 2015 terdapat sekitar 117.7 juta wisatawan muslim yang melakukan perjalanan wisata ke berbagai destinasi dunia.

Pada tahun 2015 Kemenpar menetapkan Aceh, Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat sebagai destinasi wisata syariah di Indonesia. Dari tiga wilayah tersebut, Kemenpar memilih Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai destinasi wisata syariah unggulan Indonesia. Pilihan itu didasarkan pada jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Lombok. Setiap tahun menurut Menteri Pariwisata jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Lombok sekitar 850.000 wisatawan, sementara wisatawan nusantara mencapai angka 2 juta wisatawan. Ditetapkannya Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai destinasi wisata syariah merupakan upaya promosi destinasi wisata dari provinsi tersebut ke ajang internasional. Banyak keunggulan yang dipromosikan, diantaranya keunikan budaya masyarakatnya, yang memiliki keinginan kuat untuk membangun masjid, sehingga pulau tersebut dijuluki sebagai pulau seribu masjid. Selain itu, jatuhnya pilihan Kemenpar terhadap Pulau Lombok sebagai unggulan wisata syariah di Indonesia adalah prestasi provinsi tersebut di ajang The World Halal Travel Award tahun 2015. Pada ajang dunia itu, Provinsi Nusa Tenggara Barat memperoleh dua nominasi, yakni World�s Best Halal Honeymoon Destination dan World�s Best Halal Tourism Destination.

Mayoritas wisatawan mancanegara berkunjung ke Lombok melalui Bali. Ini menunjukkan wisata Pulau Lombok belum begitu populer di kalangan wisatawan mancanegara. Mestinya dengan potensi wisatanya, Pulau Lombok mampu menjadi magnet yang menarik wisatawan untuk langsung ke Lombok tanpa harus melalui Bali (Fahham, 2017). Karena itu, peneliti ingin melihat seberapa jauh perkembangan wisatawan mancanegara yang berkunjung langsung ke Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan melihat dari jumlah kunjungan berdasarkan pintu masuk yaitu Bandara Internasional Lombok (Hadianingsih, 2018).

Berdasarkan penelitian Visa yang berjudul Global Travel Intentions Study 2017, ada lima alasan utama wisatawan berwisata ke negara lain yaitu keragaman budaya, pemandangan alam yang memukau, cuaca yang mendukung, biaya yang sesuai dengan anggaran dan dapat dijangkau dengan mudah (Tanlain, Jeddawi, & Djunaedi, 2019). Dari beberapa alasan utama tersebut dapat dianggap Indonesia merupakan negara yang sesuai untuk tujuan liburan. Menurut survei Visa tahun 2013 yang melibatkan 12.631 responden dari 25 negara, pengeluaran turis selama berwisata di Indonesia jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan negara lain. Berdasarkan alasan tersebut banyak wisman melakukan perjalanan wisata ke Indonesia dikarenakan banyaknya faktor-faktor yang mendorong seorang wisman untuk berwisata ke Indonesia.

Akomodasi merupakan salah satu komponen produk wisata yang penting serta merupakan kebutuhan dasar bagi wisatawan selama mereka berada di daerah tujuan wisata. Fasilitas dalam akomodasi yaitu tempat menginap/makan/minum orang yang melakukan perjalanan. Dalam arti luas akomodasi dalam pariwisata sering diartikan sebagai Hotel, Restoran, tetapi ada juga yang mengartikan lebih sempit yaitu sebagai Hotel dan berarti penginapan (Sukarsa, 1999). Menurut Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), hotel syariah memiliki ruang besar untuk tumbuh di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan tumbuhnya hotel syariah di Indonesia yang mencapai 10%. Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan hotel tersebut masih berfokus pada titik destinasi wisata halal seperti Lombok. Hal ini sejalan dengan ditetapkannya Lombok sebagai salah satu destinasi halal terbaik di dunia (Baharuddin & Al Hasan, 2018).

Faktor lain yang menarik wisman untuk berkunjung ke Indonesia adalah nilai kurs rupiah yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan nilai mata uang negara-negara lain. Kurs adalah harga/nilai mata uang suatu negara dibandingkan dengan mata uang negara lain (Ilmi, 2017). Nilai tukar mata uang atau kurs valuta asing dapat didefinisikan sebagai jumlah uang domestik yang dibutuhkan untuk memperoleh satu unit mata uang asing (Sukirno, 2010). Wisman yang berkunjung pada suatu negara akan selalu menghitung nilai tukar mata uang negaranya terhadap mata uang negara yang dikunjunginya (Yoeti, 2003), hal tersebut dilakukan agar wisman dapat memperhitungkan biaya perjalanan yang akan dilakukannya.

Kebutuhan fundamental setiap manusia terdiri dari kebutuhan biologis seperti makan, minum serta tidur, dan kebutuhan sosial, seperti status sosial, peranan sosial, aktualisasi diri dan rasa aman. Saat ini dapat dikatakan bahwa rasa aman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya. Menurut Abraham Maslow dalam teori hierarki kebutuhan manusia (Maslow, 1943), rasa aman berada pada tingkatan yang kedua di bawah kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan, dan papan. Hal ini menunjukkan bahwa rasa aman merupakan kebutuhan manusia yang penting(Vulandari, 2016).

Rasa aman merupakan variabel yang sangat luas karena mencakup berbagai aspek dan dimensi, mulai dari dimensi politik, hukum, pertahanan, keamanan, sosial, dan ekonomi. Statistik dan indikator yang biasa digunakan untuk mengukur rasa aman masyarakat merupakan indikator negatif, misalnya terjadi aksi teror ataupun kerusuhan pada periode tertentu menunjukkan indikasi bahwa kondisi masyarakat menjadi semakin tidak aman(Statistik, 2019a). Dapat disimpulkan bahwa rasa tidak aman memiliki pengaruh yang negatif terhadap jumlah kunjungan wisman, hal tersebut berarti semakin suatu wilayah memiliki kondisi yang tidak aman maka akan mengurangi minat wisman untuk berkunjung di wilayah tersebut.

 

Tabel 1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Kunjungan Wisman di Provinsi Nusa Tenggara Barat Periode 2013 - 2019

Tahun

Akomodasi

Kurs

(1 USD = RP)

Keamanan (Banyaknya Kerusuhan dan Teror)

Jumlah Wisman

NTB (Kunjungan)

2013

664

10,399.07

1

���������� 40,380

2014

722

11,818.87

����������� 1

���������� 69,881

2015

742

13,325.00

0

���������� 70,248

2016

889

13,240.86

0

���������� 91,102

2017

889

13,317.04

2

�������� 123,388

2018

1,211

14,175.17

0

���������� 79,807

2019

1,372

14,075.61

1

���������� 57,763

Sumber: BPS Pusat, Bank Indonesia, Geospasial Pariwisata dan lainnya 2013-2019

 

Berdasarkan tabel diatas perkembangan wisman yang berkunjung ke Provinsi NTB menurut pintu masuk terus meningkat dengan pesat pada tahun 2013 hingga 2017 kemudian mengalami penurunan dari tahun 2018 hingga tahun 2019. Hal ini disebabkan oleh gempa yang beberapa kali terjadi di Lombok pada 22 Juni 2013, 29 Juli 2018 yang kemudian disusul pada tanggal 5 dan 19 Agustus 2018, kemudian gempa kembali mengguncang Lombok pada 17 Maret 2019.

Perkembangan akomodasi di Provinsi NTB sepanjang tahun 2013 - 2018 mengalami kenaikan secara terus-menerus, hal ini menunjukkan bahwa pemerintah wilayah serius dalam mengembangkan pariwisata di daerah tersebut, akan tetapi pada tahun 2018 jumlah akomodasi meningkat namun jumlah kunjungan wisman menurun dibanding tahun sebelumnya. Perkembangan kurs USD terhadap Rupiah sepanjang tahun terakhir mengalami fluktuasi yang cukup signifikan, pada tahun 2018 kurs USD menguat terhadap Rupiah dimana nilai 1 USD sama denganRp. 14,175.17 akan tetapi pada tahun yang sama jumlah kunjungan wisman menurun. Terdapat 5 kejadian kerusuhan dan teror di sepanjang 7 tahun terakhir, dimana terdapat 2 kejadian yang mengganggu keamanan akan tetapi jumlah kunjungan wisman meningkat pada tahun2018.

Berdasarkan pengamatan terhadap masalah di atas, penelitian dengan judulfaktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Provinsi Nusa Tenggara Barat� menarik untuk diteliti.

 

TINJAUAN TEORITIS

Pariwisata

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Pariwisata adalah yang berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi; pelancongan; turisme (KBBI Online). Pariwisata dalam bahasa Arab disebut rihlah. Istilah pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari suku kata �pari� yang berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar, berkeliling, atau bersama dan �wisataartinya bepergian atau perjalanan. Jadi, pariwisata berarti suatu kegiatan perjalanan atau bepergian yang dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, dengan tujuan bermacam-macam, seperti rekreasi atau untuk melihat-lihat, mencari dan menyaksikan (sesuatu) atau semisal itu, bukan untuk mengais (rezki), bekerja dan menetap (Muhammadiyah, 1988). Perjalanan wisata merupakan perjalanan yang memakan cukup banyak waktu, yang dilakukan sendiri, bersama maupun diatur oleh Biro Perjalanan Umum dengan acara mempelajari dan meninjau beberapa kota atau tempat baik di dalam maupun di luar negeri.

Pariwisata halal merupakan konsep wisata yang mempertimbangkan nilai-nilai dasar umat Muslim di dalam penyajiannya mulai dari akomodasi, restoran, hingga aktivitas wisata yang selalu mengacu kepada norma-norma keislaman. Wisatawan muslim adalah wisatawan yang unik. Elena Nikolova menyebut wisatawan muslim sebagai wisatawan yang �sedikit berbeda�. Menurutnya ada empat alasan mengapa wisatawan muslim sedikit berbeda dengan wisatawan pada umumnya, pertama, kebutuhan untuk shalat, kedua, makanan halal, ketiga, kegiatan yang dihindari, dan keempat, waktu travelling. Meski melakukan perjalanan wisata, mereka tetap berupaya untuk menjalankan kewajiban agamanya. Shalat misalnya, merupakan kewajiban yang selalu menjadi perhatian setiap wisatawan muslim yang sedang melakukan perjalanan wisata. Selain salat, yang juga menjadi perhatian utama setiap wisatawan muslim adalah makanan halal. Ke destinasi wisata manapun, makanan halal merupakan menu yang harus mereka pilih. Bahkan ada wisatawan muslim yang menginginkan kamar hotel dimana ia menginap bebas dari alkohol. Kolam renang yang dikehendaki adalah kolam renang yang privasinya terjaga dan memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Hal lain yang juga menjadi perhatian wisatawan muslim adalah air untuk berwudhu, tempat shalat atau arah kiblat.

 

Akomodasi

Akomodasi merupakan salah satu komponen produk wisata yang penting serta merupakan kebutuhan dasar bagi wisatawan selama mereka berada di daerah tujuan wisata. Akomodasi merupakan suatu usaha yang menggunakan bangunan atau sebagian dari suatu bangunan yang khusus disediakan dimana orang dapat menginap dan memperoleh pelayanan atau fasilitas lain dengan pembayaran. Usaha akomodasi adalah usaha yang menyediakan akomodasi jangka pendek untuk pengunjung dan pelancong lainnya. Usaha penyediaan akomodasi ini dapat berupa penyediaan fasilitas akomodasi saja atau fasilitas akomodasi yang disertai dengan fasilitas makanan dan minuman (Statistik, 2019b).

Usaha hotel syariah adalah penyediaan akomodasi berupa kamar-kamar di dalam satu bangunan yang dapat dilengkapi dengan jasa pelayanan makan dan minum, kegiatan hiburan dan fasilitas lainnya secara harian dengan tujuan memperoleh keuntungan yang dijalankan sesuai prinsip syariah. Hotel syariah tidak boleh menyediakan fasilitas hiburan yang mengarah pada kemusyrikan, maksiat, pornografi dan/atau tindak asusila. Makanan dan minuman yang disediakan hotel syariah wajib mendapat sertifikat halal dari MUI. Menyediakan fasilitas, peralatan dan sarana yang memadai untuk pelaksanaan ibadah, termasuk fasilitas bersuci. Pengelola dan karyawan/karyawati hotel wajib mengenakan pakaian yang sesuai dengan prinsip syariah. Hotel syariah wajib memiliki pedoman dan/atau panduan mengenai prosedur pelayanan hotel guna menjamin terselenggaranya pelayanan hotel yang sesuai dengan prinsip syariah, hotel syariah wajib menggunakan jasa lembaga keuangan syariah dalam melakukan pelayanan(Fahham, 2017).

 

Nilai Tukar

Nilai tukar mata uang atau yang sering disebut dengan kurs adalah harga satu unit mata uang asing dalam mata uang domestik atau dapat juga dikatakan harga mata uang domestik terhadap mata uang asing. Sebagai contoh nilai tukar (NT) Rupiah terhadap Dolar Amerika (USD) adalah harga satu Dolar Amerika (USD) dalam Rupiah (Rp), atau dapat juga sebaliknya diartikan harga satu Rupiah terhadap satu USD. Apabila nilai tukar didefinisikan sebagai nilai Rupiah dalam valuta asing dapat diformulasikan sebagai berikut:

NTIDR/USD = Rupiah yang diperlukan untuk membeli 1 Dolar Amerika

NTIDR/YEN = Rupiah yang diperlukan untuk membeli satu Yen Jepang

Dalam hal ini, apabila NT meningkat maka berarti Rupiah mengalami depresiasi, sedangkan apabila NT menurun maka Rupiah mengalami apresiasi. Sementara untuk suatu negara menerapkan sistem nilai tukar tetap, perubahan nilai tukar dilakukan secara resmi oleh pemerintah. Kebijakan suatu negara secara resmi menaikkan nilai mata uangnya terhadap mata uang asing disebut dengan revaluasi, sementara kebijakan menurunkan nilai mata uang terhadap mata uang asing tersebut devaluasi.

 

METODE PENELITIAN

Pengertian metode penelitian menurut (Sugiyono, 2016) adalah sebagai berikut: �Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaan�. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah suatu cara ilmiah atau teknik yang digunakan demi memperoleh data mengenai suatu objek dari penelitian yang memiliki tujuan untuk memecahkan suatu permasalahan.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pengaruh dengan metode kuantitatif. Penelitian ini berlokasi di Nusa Tenggara Barat dengan waktu dari tahun 2013 � 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah data jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat, akomodasi, nilai tukar rupiah dan keamanan yang tersedia sejak berdirinya Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 1958, Metode pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Sampel penelitian ini adalah, jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat yang diperoleh dari BPS Pusat dari tahun 2013-2019 dalam bentuk data bulanan, nilai tukar rupiah diperoleh dari Bank Indonesia dari tahun 2013-2019 dalam bentuk data bulanan, akomodasi yang diperoleh dari BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat dari tahun 2013-2019 dalam bentuk data tahunan yang kemudian di interpolasikan menjadi data bulanan, dan isu keamanan yang diperoleh dari berbagai sumber.

Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder time series dengan kurun waktu 2013 sampai dengan 2019. Sumber tersebut diperoleh dari data BPS Pusat, BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat, Bank Indonesia dan beberapa sumber lainnya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi dokumen. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu teknik analisis data deskriptif dengan metode kuantitatif. Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda Ordinary Least Square (OLS) dengan bantuan SPSS 23. Analisis regresi linier berganda biasanya dipakai untuk membuktikan kebenaran dari hipotesis penelitian. Analisis ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

 

Uji Asumsi Klasik

1.         Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah sampel yang digunakan mempunyai distribusi normal atau tidak. Dasar pengambilan keputusan bisa dilakukan berdasarkan probabilitas (Asymptotic Significance), yaitu:

1)        Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah normal

2)       Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah tidak normal

2.        Uji Heteroskedastisitas

Tujuan dari dilakukannya uji heteroskedastisitas adalah untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi perbedaan varian dari residual variabel independen yang diketahui. Untuk mengetahui adanya gejala heteroskedastisitas dapat menggunakan uji Glejser dengan dasar pengambilan keputusan bila signifikansi hasil korelasi lebih kecil dari 0,05 (5%) maka persamaan regresi tersebut mengandung heteroskedastisitas, begitu pula sebaliknya.

3.        Uji Autokorelasi

Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (untuk data times series) atau ruang (data cross-section). Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi dengan pengujian Durbin-Watson adalah sebagai berikut:

1)        Angka D-W dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif

2)       Angka D-W diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi

3)       Angka D-W diatas +2 berarti ada autokorelasi negatif.

 

Uji Hipotesis

1.         Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi adalah besarnya keragaman (informasi) dalam variabel Y yang dapat diberikan oleh model regresi yang didapatkan. Nilai R2 berkisar antara 0 sampai dengan 1. Apabila nilai R2 dikalikan 100%, maka hal ini menunjukkan persentase keragaman (informasi) dalam variabel Y yang dapat diberikan model regresi yang didapatkan. Semakin besar nilai R2 semakin baik model regresi yang diperoleh.

 

2.        Uji t (Uji Parsial)

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel dependen. Derajat signifikansi yang digunakan adalah 0,05.

1)        H0 diterima jika t hitung < t tabel atau signifikan > 5%

2)       Ha diterima jika t hitung > t tabel atau signifikan < 5%�����

3.        Uji f(Uji Simultan)

Uji f dilakukan untuk menguji apakah semua variabel bebas (X1, X2 dan X3) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat (Y) secara serentak. Untuk menentukan taraf nyata (signifikan) yang digunakan ɑ = 0,05:

1)        H0 diterima jika f hitung < f tabel pada atau signifikan > 5%

2)       Ha diterima jika f hitung > f tabel pada atau signifikan < 5%

Uji Model

Model yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi berganda dengan bentuk persamaan regresi dengan OLS. Persamaan regresi linier berganda yang ditetapkan adalah sebagai berikut:

JKW = α + β1Akm + β2Kurs + β3Kmn +e

Keterangan:

JKW �� = Jumlah Kunjungan Wisman di Nusa Tenggara Barat

�������� = Koefisien Konstanta

β 1-3 ����������� = Koefisien Regresi

Akm ������ = Akomodasi

Kurs ������ = Nilai Tukar

Kmn �� = Dummy Kondisi Keamanan

e �������� = Error, variabel gangguan

 

HASIL UJI

Uji Asumsi Klasik

1.         Uji Normalitas

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

 

Unstandardized Residual

N

84

Normal Parametersa,b

Mean

,0000000

Std. Deviation

,18684335

Most Extreme Differences

Absolute

,061

Positive

,042

Negative

-,061

Test Statistic

,061

Asymp. Sig. (2-tailed)

,200c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

������ Sumber: diolah program SPSS

 

Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0.200. Artinya, nilai Sig. lebih besar dari tingkat signifikansi 0.200 > 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa data pada variabel penelitian terdistribusi secara normal.

2.        Uji Heteroskedastisitas

Tabel 3. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

-1,175

1,499

 

-,784

,435

Log_AKM

,065

,199

,067

,328

,744

Log_KURS

,275

,476

,119

,577

,565

KMN

,062

,051

,133

1,209

,230

a. Dependent Variable: RESUC

������ Sumber: diolah program SPSS

 

Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai Sig. variabel akomodasi sebesar 0,744 > 0,05, variabel kurs sebesar 0,577 > 0,05 dan variabel keamanan sebesar 0,230 > 0,05, yang mana nilai Sig. masing-masing variabel lebih besar dari 0,05. Dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen dalam penelitian ini tidak mengalami heteroskedastisitas.

3.        Uji Autokorelasi

Tabel 4. Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

 

Model

R

R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1

,526a

,277

,19031

,613

 

a. Predictors: (Constant), Log_AKM, Log_KURS, KMN

 

b. Dependent Variable: Log_JKW

 

������ Sumber: diolah program SPSS

 

Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson terletak antara-2 < 0,613 < 2, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala autokorelasi dalam penelitian ini.

 

Uji Hipotesis

1.         Uji Koefisien determinasi

Tabel 5. Hasil Uji Koefisien Determinan

Model Summaryb

 

Model

R

R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1

,526a

,277

,19031

,613

 

a. Predictors: (Constant), Log_AKM, Log_KURS, KMN

 

b. Dependent Variable: Log_JKW

 

Sumber: diolah program SPSS

 

Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai R Square sebesar 0,277 hal ini menunjukkan bahwa variabel-variabel independen secara bersama-sama hanya mampu memberikan penjelasan mengenai variabel dependen sebesar 27,7%. Adapun 72,3% lagi dijelaskan oleh variabel atau faktor lainnya diluar penelitian.

 

2.        Uji t (Uji Parsial)

Tabel 6. Hasil Uji t

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

-9,743

2,580

 

-3,776

,000

Log_AKM

-,886

,342

-,462

-2,592

,011

Log_KURS

3,916

,820

,855

4,774

,000

KMN

,001

,089

,001

,013

,990

a. Dependent Variable: Log_JKW

�� ��Sumber: diolah program SPSS

 

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 6 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1)    Akomodasi. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai t hitung Akomodasi sebesar 2,592. Sehingga diketahui bahwa t hitung lebih kecil dari t tabel2,592 > 1,66412 dengan tanda negatif dan dilihat dari nilai probabilitas 0,011 < 0,05, dapat disimpulkan bahwa variabel Akomodasi menolak H0 dan menerima Ha, yang artinya terdapat pengaruh Akomodasi terhadap Jumlah Kunjungan Wisman di Nusa Tenggara Barat.

2)   Kurs. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai t hitung Kurs sebesar 4,774. Sehingga diketahui bahwa t hitung lebih besar dari t tabel 4,774 > 1,66412 dan dilihat dari nilai probabilitas 0,000 < 0,05, dapat disimpulkan bahwa variabel Kurs menolak H0 dan menerima Ha, yang artinya terdapat pengaruh Kurs terhadap Jumlah Kunjungan Wisman di Nusa Tenggara Barat.

3)   Keamanan. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai t hitung Keamanan sebesar 0,013. Sehingga diketahui bahwa t hitung lebih kecil dari t tabel 0,013 < 1,66412 dan dilihat dari nilai probabilitas 0,990 > 0,05, dapat disimpulkan bahwa variabel Keamanan menolak Ha dan menerima H0, yang artinya tidak terdapat pengaruh Keamanan terhadap Jumlah Kunjungan Wisman di Nusa Tenggara Barat.

 

3.        Uji f (Uji Simultan)

Tabel 7. Hasil Uji f

ANOVAa

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

1,110

3

,370

10,214

,000b

Residual

2,898

80

,036

 

 

Total

4,007

83

 

 

 

a. Dependent Variable: Log_JKW

b. Predictors: (Constant), KMN, Log_AKM, Log_KURS

Sumber: diolah program SPSS

 

Berdasarkan tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai Fhitung sebesar 10,214. Nilai Ftabel yang diperoleh sebesar 2,72. Sehingga diketahui bahwa Fhitung lebih besar dari Ftabel 10,214 > 2,72 dengan nilai Sig. sebesar 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima atau dengan kata lain variabel Akomodasi (X1), Kurs (X2), dan Keamanan (X3) secara simultan berpengaruh terhadap Jumlah Kunjungan Wisman di Nusa Tenggara Barat (Y).

 

4.        Uji Model

Berdasarkan pada tabel 6 maka diperoleh hasil persamaan model regresi untuk penelitian ini sebagai berikut:

Y = � 9,743 � 0,886X1 + 3,916X2 + 0,001 X3 +e

Dari persamaan di atas dapat jelaskan sebagai berikut:

1)    Nilai konstanta sebesar -9,743 menyatakan bahwa jika variabel akomodasi, kurs dan keamanan dianggap konstan/tetap atau sama dengan nol, maka jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat berkurang sebanyak9,743 orang.

2)   Koefisien regresi variabel akomodasi sebesar � 0,886 menyatakan bahwa apabila jumlah akomodasi naik 1 maka jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat akan berkurang sebesar 0,886 orang dengan asumsi ceteris paribus.

3)   Koefisien regresi variabel kurs sebesar 3,916 menyatakan bahwa apabila kurs naik atau terdepresiasi sebesar 1 rupiah maka jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat akan naik sebesar 3,916 orang dengan asumsi ceteris paribus.

4)   Koefisien regresi variabel keamanan sebesar 0.001 menyatakan bahwa apabila saat nilai dummy 1 atau terjadi suatu kondisi yang mengganggu keamananmaka jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat akan naik sebesar 0,001 orang dengan asumsi ceteris paribus.

 

 

 

 

PEMBAHASAN

Pengaruh akomodasi terhadap jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat

Hasil analisis regresi linear berganda diperoleh koefisien regresi akomodasi sebesar 0,886 dengan tanda negatif menyatakan bahwa setiap penambahan 1 jumlah akomodasi maka akan menurunkan jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat sebesar 0,886 orang dengan asumsi ceteris paribus. Berdasarkan hasil uji t diperoleh nilai thitung < ttabel yaitu 2,592 < 1,66412 serta nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,011 yang lebih kecil dari taraf signifikan α = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel akomodasi berpengaruh terhadap jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat.

Dalam melakukan perjalanan, seorang wisatawan memerlukan informasi mengenai daerah yang akan dikunjungi beserta fasilitas-fasilitasnya, hotel dan restoran merupakan sarana akomodasi utama yang perlu diketahui oleh wisatawan sebelum melakukan perjalanan. Sehingga dengan keberadaan akomodasi yang bertambah banyak, seorang wisatawan tidak perlu khawatir akan kebutuhan utamanya dalam menikmati liburannya. Hasil penelitian ini memiliki pengaruh negatif terhadap jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat pengaruh negatif ini terjadi disebabkan karena tidak tersedianya data dalam bentuk bulanan yang menyebabkan hasil interpolasi menunjukkan kenaikan terus-menerus sepanjang tahun, dimana jumlah kunjungan wisman pada saat tertentu mengalami penurunan yang signifikan khususnya diakibatkan oleh gempa Lombok yang beberapa kali terjadi pada 22 Juni 2013, 29 Juli 2018, 5 dan 19 Agustus 2018 yang menyebabkan akomodasi menjadi penyebab penurunan jumlah kunjungan wisman.

 

Pengaruh kurs terhadap jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat

Hasil analisis regresi linear berganda diperoleh koefisien regresi variabel kurs sebesar 3,916 menyatakan bahwa apabila kurs naik atau terdepresiasi sebesar 1 rupiah maka jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat akan naik sebesar 3,916 orang dengan asumsi ceteris paribus. Berdasarkan hasil uji t diperoleh nilai thitung > ttabel yaitu 4,774 > 1,66412 serta nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari taraf signifikan α = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel kurs berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat.

Wisatawan mancanegara yang berkunjung pada suatu negara akan selalu menghitung-hitung nilai tukar mata uang negaranya terhadap mata uang negara yang dikunjunginya. Hal ini dikarenakan apabila seorang wisman melakukan transaksi dalam perjalanan kunjungannya di negara lain, maka wisatawan tersebut dikenakan kurs beli mata uang negaranya terhadap mata uang negara yang dikunjunginya.

 

Pengaruh keamanan terhadap jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat

Hasil analisis regresi linier berganda diperoleh koefisien regresi variabel keamanan sebesar 0,001 menyatakan bahwa apabila saat nilai dummy 1 atau terjadi suatu kondisi tidak aman maka jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat akan naik sebesar 0,001 orang. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai thitung > ttabel yaitu 0,013 < 1,66412 serta dilihat dari nilai probabilitas 0,990 > 0,05, dapat disimpulkan bahwa variabel keamanan tidak berpengaruh terhadap Jumlah Kunjungan Wisman di Nusa Tenggara Barat.

Kondisi keamanan suatu wilayah ataupun negara sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi, sosial, politik dan kondisi geografis yang menjadi isu nasional dan mengundang reaksi masyarakat internasional. Berita-berita mengenai kondisi keamanan yang tidak kondusif dapat menimbulkan persepsi negatif dan memunculkan kesan bahwa wilayah tersebut tidak aman untuk dikunjungi.

Peneliti menggunakan variabel dummy dalam penelitian ini dikarenakan tidak tersedianya data kuantitatif secara langsung dalam mengukur keamanan khususnya kerusuhan dan aksi teror, kelemahan dari variabel ini adalah, jika terjadi teror pada bulan tertentu dan isu tersebut terjadi pada akhir periode maka justru baru akan terlihat pengaruhnya pada bulan berikutnya, sehingga kondisi tersebut sulit diramalkan, serta sangat sedikitnya kerusuhan maupun aksi teror yang terjadi di Nusa Tenggara Barat yang menunjukkan bahwasanya Nusa Tenggara Barat cukup aman untuk dikunjungi.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1.          Variabel akomodasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat.

2.         Variabel kurs berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat.

3.         Variabel keamanan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat.

4.         Variabel akomodasi, kurs, dan keamanan secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah kunjungan wisman di Nusa Tenggara Barat.

 

Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas, penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut:

1.          Dengan adanya penelitian ini dapat menjadi informasi tambahan terhadap pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk meningkatkan kunjungan wisman ke daerahnya, pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat harus memperhatikan faktor-faktor eksternal seperti akomodasi dan keamanan dan faktor-faktor lainnya dalam meningkatkan minat wisman berkunjung ke Nusa Tenggara Barat

2.         Pemerintah Indonesia diharapkan untuk mampu menjaga dan mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah, mengingat dampak dari perubahan nilai tukar tersebut berpengaruh terhadap jumlah kunjungan wisman.

3.         Untuk pengembangan penelitian, kepada peneliti selanjutnya, penelitian ini menggunakan jumlah kunjungan wisman berdasarkan pintu masuk di bandara Internasional Lombok, disarankan agar menggunakan jumlah kunjungan wisman secara keseluruhan dan menggunakan data riil agar hasil penelitian menjadi lebih tepat, serta memperluas objek penelitian dengan variabel lainnya seperti transportasi syariah, promosi syariah, jumlah kamar, jumlah tempat tidur, jumlah restoran, biro perjalanan wisata, serta menggunakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi keamanan, seperti banyaknya jumlah kejahatan, banjir, gempa dan lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin, A. Zamakhsyari, & Al Hasan, Fahadil Amin. (2018). PERKEMBANGAN BISNIS HOTEL SYARIAH DI INDONESIA (Studi Kasus Pengembangan Hotel Syariah di Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat). Al-�Adl, 11(1), 33�52.
DOI: http://dx.doi.org/10.31332/aladl.v11i1.1106

Fahham, Achmad Muchaddam. (2017). Tantangan Pengembangan Wisata Halal di Nusa Tenggara Barat. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 8(1), 65�79.

Hadianingsih, Malinda. (2018). Strategi Komunikasi Pariwisata Dalam Pengembangan Industri Wisata Halal (Studi Kualitatf Deskriptif pada Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat). Universitas Brawijaya.

Ilmi, Maisaroh Fathul. (2017). Pengaruh Kurs/Nilai Tukar Rupiah, Inflasi dan Tingkat Suku Bunga SBI Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan LQ-45 Periode Tahun 2009-2013. Nominal: Barometer Riset Akuntansi Dan Manajemen, 6(1), 93�108. DOI: https://doi.org/10.21831/nominal.v6i1.14335

Julianti, Lis, & Subekti, Rika Putri. (2018). Standar perlindungan hukum kegiatan investasi pada bisnis jasa pariwisata di indonesia. Kertha Wicaksana, 12(2), 156�166. DOI: https://doi.org/10.22225/kw.12.2.2018.156-166

Maslow, Abraham Harold. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370. https://doi.org/10.1037/h0054346

Mastercard-CrescentRating. (2019). Global Muslim travel index 2019. CrescentRating Pte. Ltd. & Mastercard Asia Pacific Pte. Ltd Singapore.

Muhammadiyah, Suara. (1988). Industri Pariwisata. Yogyakarta. PP Muhammadiyah, (18/68).

Statistik, Badan Pusat. (2019a). Cover statistik kriminal 2019. Cover Stat. Krim.

Statistik, Badan Pusat. (2019b). Statistik Hotel dan Tingkat Penghunian Kamar Hotel DKI Jakarta 2018. Jakarta: BPS.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabet.

Sukarsa, Ida Made. (1999). Pengantar Pariwisata. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Indonesia Timur (BKS-PTN-INTIM).

Sukirno, Sadono. (2010). Teori pengantar makro ekonomi Edisi Ketiga. Raja Grafindo. Jakarta.

Tanlain, Ari Akbar, Jeddawi, Murtir, & Djunaedi, Slamet. (2019). PENGEMBANGAN PARIWISATA BAWAH LAUT DI KOTA TERNATE PROVINSI MALUKU UTARA. VISIONER: Jurnal Pemerintahan Daerah Di Indonesia, 11(5), 799�820. DOI: https://doi.org/10.54783/jv.v11i`5.247

Vulandari, Retno Tri. (2016). Pengelompokan Tingkat Keamanan Wilayah Jawa Tengah Berdasarkan Indeks Kejahatan Dan Jumlah Pos Keamanan Dengan Metode Klastering K-Means. Jurnal Ilmiah SINUS, 14(2).
DOI: http://dx.doi.org/10.30646/sinus.v14i2.252

Yoeti, Oka A. (2003). Tours and travel Marketing. Jakarta: Pradnya Paramita.