DESIGN SMART CHARGING
WIRELESS MENGGUNAKAN BATERAI LEAD ACID DENGAN METODE FUZZY
Bella Putri Ramadhina
Politeknik Negeri Sriwijaya, Teknik Elektro Palembang , Indonesia,1,2,3
Diterima: 02-08-2022������������������������������������� Review: 10-09-2022������������������������
�������������� Publish:
15-09-2022
Abstrak:
Saat ini
pemanfaatan transfer daya wireless sudah semakin marak. Hal ini
dikarenakan transfer daya wireless memiliki kelebihan dimana
penggunaannya lebih mudah dikarenakan tidak perlu terjadi kontak secara
langsung. Kelebihan ini dapat dimanfaatkan untuk mengisi daya mobile robot
secara otomatis. Pada penelitian ini, telah dibuat suatu sistem transfer daya
secara wireless yang diperuntukkan pada stasiun pengisian
baterai. Sistem transfer daya yang telah terealisasi berupa prototype
fungsional yang mampu mengisi daya baterai lead-acid 12 Volt dengan
kapasitas 4,5 Ah. Metode transfer daya wireless yang digunakan adalah metode
resonant inductive coupling yang dapat bekerja secara optimal pada frekuensi 91
kHz berdasarkan iterasi percobaan dari frekuensi 30 kHz-150 kHz. Pembangkitan
listrik AC dengan frekuensi tersebut menggunakan H-Bridge yang dikontrol dengan
mikrokontroller nodemcu esp8266.
Transfer daya wireless dapat berfungsi secara optimal pada jarak 20
cm. Pada sistem pengisian daya terdapat kontrol pengisian daya constant
current-constant voltage (CC-CV). Dengan adanya metode kontrol CC-CV, maka
diharapkan sistem dapat mengisi daya lebih cepat dan menjaga keawetan baterai
lebih lama jika dibandingkan dengan metode kontrol CC atau CV saja. Pada
penelitian ini parameter transfer daya nirkabel antara lain jenis rangkaian
kompensasi, jarak, dan duty cycle dari sumber DC, telah diuji hingga didapatkan
efisiensi mencapai 52 persen pada jarak sejauh 20 centimeter.
Kata kunci: Kontrol Pengisian Daya; Resonant Inductive
Coupling; Transfer Daya Nirkabel.
Abstract:
Currently
the use of wireless power transfer is increasingly widespread. This is because
wireless power transfer has the advantage that it is easier to use because
there is no need for direct contact. This advantage can be used to
automatically charge the mobile robot. In this research, a wireless power
transfer system has been created for battery charging stations. The power
transfer system that has been realized is in the form of a functional prototype
capable of charging a 12 Volt lead-acid battery with a capacity of 4.5 Ah. The
wireless power transfer method used is the resonant inductive coupling method
which can work optimally at a frequency of 91 kHz based on experimental iterations
from a frequency of 30 kHz-150 kHz. AC power generation with this frequency
uses the H-Bridge which is controlled by the nodemcu
esp8266 microcontroller. Wireless power transfer can function optimally at a
distance of 20 cm. In the charging system there is a constant current-constant
voltage (CC-CV) charging control. With the CC-CV control method, it is hoped
that the system can charge faster and maintain battery life longer when
compared to the CC or CV control method alone. In this study, the parameters of
wireless power transfer, including the type of compensation circuit, distance,
and duty cycle from a DC source, have been tested until the efficiency reaches
52 percent at a distance of 20 centimeters.
Keywords:
Charging Control; Resonant Inductive Coupling; Wireless Power Transfer.����������
Corresponding: Bella Putri Ramadhina
E-mail: Bellaputriramadhina@gmail.com
PENDAHULUAN
Ide
untuk melakukan transfer daya secara nirkabel telah muncul sejak abad ke
Sembilan belas dimana Heinrich Hertz dan Nikola Tesla mengajukan teori yang
menyatakan bahwa transfer daya secara nirkabel dapat diwujudkan (Haq, 2018). Penelitian mengenai transfer
daya nirkabel terus dilakukan hingga pada tahun 2007 sekelompok mahasiswa MIT
melakukan publikasi secara terbuka mengenai hasil pencapaian mereka dalam
mentransfer daya secara wireless untuk
menghidupkan lampu dari jarak 2 meter (Matarru, Boedoyo, & Yusgiantoro,
n.d.).
Pemanfaatan
dari transfer daya wireless
cukup beragam, mulai dari bidang kedokteran hingga industri. Pada bidang
kedokteran atau medis, transfer daya nirkabel digunakan untuk mensuplai daya
perangkatperangkat elektronik implant pada tubuh seorang pasien (Matarru et al., n.d.).
Pada
bidang industri pemanfaatan transfer daya nirkabel dapat digunakan pada
perangkat-perangkat yang diletakkan di tempat yang berbahaya. Dengan tidak
adanya kabel maka dapat mengurangi resiko terjadinya short-circuit. Selain itu,
industri-industri gadget seperti
Samsung dan Apple juga sudah mulai
memproduksi wireless charger untuk
digunakan pada produk smartphone
mereka. Selain itu, industri otomotif juga mulai
mengembangkan sistem transfer daya nirkabel untuk mengisi daya mobil listrik
produksi mereka (Chian et al.,
2019), (Bayya, Rao, Rao,
& Muthukrishnan, 2018).
Salah
satu permasalahan pada sistem transfer daya wireless yang telah diterapkan adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk
melakukan charging pada suatu
perangkat elektronik (Serhan & Ahmed, 2018). Hal ini dikarenakan daya yang
ditransfer oleh sistem cenderung konstan tanpa memdulikan kondisi daya yang
tersedia pada baterai yang diisi.
Namun
transfer daya nirkabel ini sendiri memiliki kelemahan dimana efisiensi daya
yang ditransfer masih sangat rendah, yaitu di kisaran angka 40 persen (Hardjono et al., 2020). Hal ini tentunya merupakan
sebuah kerugian yang berdampak pada daya yang sampai pada receiver WPT jauh lebih kecil dibandingkan daya yang dikirim
sehingga pengisian daya baterai 3 akan memakan waktu yang lebih lama.
Selain
permasalahan pada efisiensi, wireless
power transfer juga memiliki kekurangan dimana daya yang ditransfer
khususnya dengan metode inductive coupling cukup rendah. Padahal untuk
dapat digunakan pada charger station mobile robot sistem ini harus dapat
mentransfer daya setidaknya dalam kisaran angka 10 Watt dan memiliki kontrol
daya untuk mengendalikan daya yang ditransfer untuk mempercepat pengisian daya
dan memperpanjang usia baterai yang digunakan.
Untuk
meningkatkan efisensi dari wireless power transfer kita dapat meninjau kembali
metode transfer daya wireless yang digunakan. Salah satu
metode yang umum digunakan pada sistem transfer daya wireless
adalah metode resonant inductive coupling. Metode ini banyak digunakan karena
memerlukan rangkaian yang relatif sederhana dan tuning frekuensinya lebih mudah
namun tetap memiliki efisiensi yang relatif tinggi (Suryoatmojo, 2020).
Dari
hal-hal yang telah dijelaskan diatas, maka penulis memilih judul �DESAIN
SMART CHARGING WIRELESS MENGGUNAKAN BATERAI LEAD ACID DENGAN METODE FUZZY�.
Penelitian
pada tugas akhir ini bertujuan 1. Menerapkan metode fuzzy pada smart charging wireless pada baterai
lead acid. 2. Mengetahui cara
kerja dan perancangan sistem kontrol fuzzy pada smart
charging wireless pada baterai lead acid.
Wireless power
transfer atau transfer daya nirkabel
menggunakan medan elektromagnetik untuk mentransfer energi antara dua benda
(Wang & Zhu, 2020). Hal ini biasanya dilakukan dengan menggunakan metode induktif. Energi dikirim melalui kumparan ke perangkat
listrik, yang kemudian dapat menggunakan energi itu untuk
mengisi baterai atau menjalankan perangkat (Wang & Zhu, 2020).
Tahap-tahap transfer daya secara
nirkabel dari secara umum dapat
ditinjau pada diagram pada gambar
2.1. Pada sub-sistem transmitter terdapat sumber daya dari sistem
dapat berupa listrik dari jala-jala
listrik maupun dari sumber DC. Listrik dari sumber tersebut
kemudian diolah RF amplifier
agar berosilasi pada frekuensi
radio. Kemudian sinyal akan dikirimkan melalui resonator sumber menuju resonator perangkat. Pada
diagram gambar 1 garis putus-putus
menunjukkan bahwa antara sub-sistem transmitter dan
receiver tidak terhubung
secara fisik menggunakan kabel.
Impedance matching
network (IMN) atau rangkaian kompensasi pada sub-sistem transmitter dan receiver memiliki fungsi mengurangi rugi-rugi daya yang diakibatkan mismatch
impedansi antara
resonator sumber dengan
resonator perangkat (Chian et al., 2019). Mismatch impedansi dapat
terjadi jika beban pada resonator berubah atau terjadi perpindahan
posisi pada kumparan.
Salah satu cara untuk meningkatkan
efisiensi yang tinggi adalah dengan meninkatkan
Q factor dari antenna yaitu
kumparan transmitter dan receiver.
Baterai merupakan satu atau lebih sel elektrokimia yang terhubung secara
elektrik yang mempunyai terminal atau kontak yang berfungsi sebagai sumber
energi listrik [30]. Tegangan yang terdapat pada baterai sebesar 12 volt dan
arus pada baterai merupakan arus DC atau arus searah (Arif, Lie, Seet, Ayyadi, & Jensen,
2021).
Pada
baterai terjadi proses elektrokimia yang reversible� (dapat berkebalikan) dengan efisiensinya
yang tinggi. Proses elektokimia reversible
merupakan berlangsungnya proses pengubahan energi kimia menjadi energi
listrik, perubahan ini terjadi saat proses pengosongan dan sebaliknya,
berlangsungnya proses pengubahan energi listrik menjadi energi kimia pada saat
pengisian (Wang & Zhu,
2020).
METODE PENELITIAN
Merupakan metode
dengan cara mencari dan mengumpulkan literatur pada pembuatan laporan akhiri
ini, antara lain melalui jurnal, buku, dll.
Merupakan metode
dengan cara melakukan perancangan dan pengujian terhadap alat yang dibuat
sebagai acuan untuk mendapatkan data-data hasil pengukuran dan penelitian alat,
sehingga dapat dibandingkan dengan teori dasar�
yang telah dipelajari sebelumnya.
Merupakan metode
dengan cara melakukan wawancara dan diskusi langsung kepada dosen Politeknik
Negeri Sriwijaya khususnya dosen pembimbing di Program Studi Teknik Elektronika
dan teman-teman di Universitas atau Politeknik lainnya.
Perancangan alat bertujuan untuk menghasilkan sebuah alat yang berfungsi dengan baik sesuai dengan yang telah ditujukan. Selain itu, perancangan juga berguna dalam menentukan komponen dan alat yang dibutuhkan dalam pembuatan alat. Perancangan merupakan suatu langkah awal dalam menentukan tugas akhir ini. Pada perancangan diperlukan pemahaman yang jelas tentang alat yang dibuat dan beberapa langkah percobaan yang dilakukan agar memperoleh hasil yang sesuai dengan yang diinginkan. Pada proses rancang bangun tugas akhir, tentu saja dibutuhkan sumber - sumber yang dapat dijadikan acuan dalam menyelesaikan perancangan alat, sehingga alat yang dikerjakan mendapat hasil yang maksimal serta sesuai dengan yang telah ditujukan. Perancangan sistem diawali dengan merancang atau mendesain suatu sistem, lalu menentukan komponen pendukung agar sistem dapat bekerja dengan baik. Dalam perancangan sistem alat ini, langkah-langkah yang dilakukan yaitu menentukan komponen masukan (input), pengendali (controller), dan keluaran (output). Komponen yang digunakan harus sesuai dengan datasheet atau buku panduan, agar tidak terjadi kesalahan dan kerusakan komponen pada saat perancangan. Perancangan sistem terdiri dari perancangan elektronik dan perancangan mekanik.
Setelah data
dikumpulkan melalui pengukuran pada sistem menggunakan instrumen yang telah
ditetapkan, maka tahapan selanjutnya adalah melakukan pengolahan data.
Pengolahan data difungsikan untuk mempermudah dalam pembuatan analisa. Adapun
metode pengolahan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode fuzzy logic dengan bantuan fungsi fuzzy yang terdapat pada aplikasi
Matlab.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tujuan Pengujian Alat
Pengujian merupakan
tahap terpenting dalam pembuatan suatu alat yang bertujuan untuk mengetahui
apakah alat yang dibuat dapat bekerja dengan baik atau tidak, serta sesuai atau
tidak dengan datasheet komponen yang dipakai (Genaldo, Septyawan, Surahman, & Prasetyawan,
2020). Pada bab ini akan membahas hasil pengujian desain smart charging wireless menggunakan
baterai lead acid, dimana parameter yang diukur adalah tegangan, arus, dan suhu charging
serta tegangan baterai.
Ada beberapa alat yang
digunakan untuk melakukan pengukuran komponen/sensor pada charging yaitu
sebagai berikut :
1. Multimeter
Multimeter digunakan untuk menampilkan tegangan yang dihasilkan pada
keluaran tiap titik pengukuran yang telah ditentukan. Multimeter yang digunakan
adalah multimeter digital.
2. Kabel Penghubung
Digunakan sebagai kabel penghubung berupa kabel yang menghubungkan
antara alat pengukuran dengan titik pengukuran yang telah ditentukan.
3. PC/Laptop
Digunakan untuk
melihat tampilan komunikasi serial agar dapat mengetahui nilai sensor.
Metode pengujian alat
dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan pembandingan nilai yang telah
diatur dan nilai yang dibaca oleh sensor yang dilakukan secara langsung oleh
penulis untuk mendapatkan data yang sesuai dan akurat dari pengaplikasian
sensor PZEM-017t untuk mendeteksi tegangan dan arus charging dengan monitoring menggunakan data yang
ditampilkan pada Human Machine Interface (HMI) dari data yang telah dibuat.
Data Hasil Pengujian
Berikut merupakan data
hasil pengujian tegangan dan arus charging serta tegangan baterai menggunakan
sensor pzem-017t yang dihasilkan charging selama 120 detik.
Tabel 1 Pengujian Sensor PZEM-017t
|
Waktu (t) |
Vcharging |
Icharging |
Vbaterai |
|
0 |
12,45 |
5,10 |
12,43 |
|
5 |
13,00 |
5,00 |
13,43 |
|
10 |
13,19 |
5,00 |
13,51 |
|
15 |
13,23 |
5,00 |
13,57 |
|
20 |
13,35 |
5,00 |
13,63 |
|
25 |
13,47 |
5,00 |
13,67 |
|
30 |
13,58 |
5,00 |
13,70 |
|
35 |
13,68 |
5,00 |
13,68 |
|
40 |
13,78 |
5,00 |
13,70 |
|
45 |
13,99 |
4,68 |
13,71 |
|
50 |
14,00 |
4,06 |
13,70 |
|
60 |
13,99 |
3,95 |
13,73 |
|
65 |
13,99 |
3,93 |
13,76 |
|
70 |
13,99 |
3,9 |
13,70 |
|
75 |
13,99 |
3,89 |
13,74 |
|
80 |
13,99 |
3,87 |
13,73 |
|
85 |
14,00 |
3,85 |
13,71 |
|
90 |
14,00 |
3,83 |
13,73 |
|
95 |
14,00 |
3,81 |
13,71 |
|
100 |
14,00 |
3,8 |
13,73 |
|
110 |
14,00 |
3,76 |
13,71 |
|
120 |
14,00 |
3,73 |
13,73 |
Pada tabel 4.2
penjabaran nilai pembacaan tegangan dan arus charging dapat diamati bahwa pada
detik ke-0 hingga ke-40 terjadi pengisian constant current (CC) sebesar 5A dan
pengisian constant voltage (CV) sebesar 14,00 V yang dipengaruhi oleh pengaturan
CC-CV pada CC-CV stepdown converter. Namun masih terjadi selisih antara nilai
sensor dan nilai yang telah diatur pada stepdown converter. Dari hasil
pembacaan tegangan dan arus ini kemudian diolah melalui pemrosesan data oleh
arduino untuk dijadikan sebagai nilai referensi dalam mengendalikan pengaktifan
beban berupa charging yang akan di ON/OFF kan oleh relay.

Gambar 1 Grafik Pengukuran Tegangan dan Arus Charging Terhadap
Waktu

Gambar 2 Grafik Pengukuran
Tegangan Baterai Terhadap Waktu
Tabel 2 Pengujian
Sensor Pzem-017t pada saat Constant Current(CC)
|
Waktu (t) |
Icharging yang dibaca sensor
(A) |
Icharging yang sebenarnya (A) |
Selisih |
Error |
|
0 |
5,10 |
5,00 |
0,10 |
1,96% |
|
5 |
5,00 |
5,00 |
0 |
0% |
|
10 |
5,00 |
5,00 |
0 |
0% |
|
15 |
5,00 |
5,00 |
0 |
0% |
|
20 |
5,00 |
5,00 |
0 |
0% |
|
25 |
5,00 |
5,00 |
0 |
0% |
|
30 |
5,00 |
5,00 |
0 |
0% |
|
35 |
5,00 |
5,00 |
0 |
0% |
|
40 |
5,00 |
5,00 |
0 |
0% |
|
45 |
4,68 |
5,00 |
0,32 |
6,83% |
|
Nilai rata-rata error |
0,879% |
|||
Error ratall
Pada pengujian saat
constant current (CC), terdapat error antara nilai yang sebenarnya yang telah
diatur pada CC-CV stepdown converter dengan nilai yang dibaca oleh sensor.
Nilai error pada pengujian ini dapat dihitung sebagai berikut :
Error = (𝑛i𝑙𝑎i 𝑦𝑎𝑛g 𝑑i𝑡𝑒𝑟i𝑚𝑎−𝑛i𝑙𝑎i 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛) x 100%
𝑛i𝑙𝑎i 𝑑i𝑡𝑒𝑟i𝑚𝑎
Tabel 3 Pengujian Sensor Pzem-017t
pada saat Constant Voltage(CV)
|
Waktu
(s) |
Vcharging
yang dibaca
sensor (Vdc) |
Vcharging yang
sebenarnya
(Vdc) |
��������
Selisih |
Error |
|
50 |
14,00 |
14,00 |
0 |
0% |
|
60 |
13,99 |
14,00 |
0,01 |
0,71% |
|
65 |
13,99 |
14,00 |
0,01 |
0,71% |
|
70 |
13,99 |
14,00 |
0,01 |
0,71% |
|
75 |
13,99 |
14,00 |
0,01 |
0,71% |
|
80 |
13,99 |
14,00 |
0,01 |
0,71% |
|
85 |
14,00 |
14,00 |
0 |
0% |
|
90 |
14,00 |
14,00 |
0 |
0% |
|
95 |
14,00 |
14,00 |
0 |
0% |
|
100 |
14,00 |
14,00 |
0 |
0% |
|
110 |
14,00 |
14,00 |
0 |
0% |
|
120 |
14,00 |
14,00 |
0 |
0% |
|
Nilai rata-rata error |
0.295% |
|||
Pada pengujian saat
constant voltage (CV), terdapat error antara nilai yang sebenarnya yang telah
diatur pada CC-CV stepdown converter dengan nilai yang dibaca oleh sensor.
Nilai error pada pengujian ini dapat dihitung sebagai berikut :
Error = (𝑛i𝑙𝑎i 𝑦𝑎𝑛g 𝑑i𝑡𝑒𝑟i𝑚𝑎−𝑛i𝑙𝑎i 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛) x 100%
𝑛i𝑙𝑎i 𝑑i𝑡𝑒𝑟i𝑚𝑎
Data Hasil
Pengujian Sensor DHT22
Berikut merupakan data
hasil pengujian suhu pada sensor DHT22 yang dihasilkan charging selama 120
detik :
Data Hasil
Pengukuran Fuzzy Logic
Setelah dilakukan
pengujian dari hasil pembacaan arus dan tegangan sensor terhadap charging
baterai. Maka penulis menggunakan software MATLAB untuk mengolah data tersebut
menggunakan metode fuzzy logic dengan
memasukkan keanggotaan sesuai data masing � masing dari hasil pengujian dan
outputnya adalah tegangan baterai yang diisi.
KESIMPULAN
Hasil pengujian atas model yang diajukan menunjukkan hasil yang baik. Berdasarkan�� penelitian�� yang��
telah�� dilakukan�� pada Mahasiwa STMIK, mengenai perilaku pengguna aplikasi PeduliLindungi, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut: 1. Variabel Perceived
Ease of Use tidak berpengaruh
signfikan H01 diterima terhadap variabel Attitude Toward
Using, disimpulkan bahwa variabel Perceived Ease Of use secara
parsial tidak berpengaruh terhadap variabel Attitude Toward Using. 2. Variabel
Perceived Usefulness berpengaruh signfikan
positif terhadap variabel Attitude Toward Using dikarenakan
nilainya yang baik dan mempunyai hubungan yang positif. 3. Variabel Behavioral
Intention to Use berpengaruh signfikan
positif terhadap variabel Attitude Toward Using dikarenakan
nilainya yang baik dan mempunyai hubungan yang positif. 4. Variabel Perceived
Ease of Use, Perceived Usefulness dan Behavioral Intention�� to Use (X1, X2, dan X3) berpengaruh�� signifikan positif terhadap variabel Attitude Toward Using dikarenakan
nilainya sama baik dan mempunyai�� hubungan yang positif.
DAFTAR
PUSTAKA
Arif, Syed Muhammad, Lie, Tek Tjing, Seet, Boon
Chong, Ayyadi, Soumia, & Jensen, Kristian. (2021). Review of electric
vehicle technologies, charging methods, standards and optimization techniques. Electronics,
10(16), 1910.
Bayya, Madhuri, Rao, U. M., Rao, BVVSN
Prabhakara, & Muthukrishnan, N. Moorthy. (2018). Comparison of voltage
charging techniques to increase the life of lead acid batteries. 2018 IEEE
International Symposium on Smart Electronic Systems (ISES)(Formerly INiS),
279�284. IEEE.
Chian, T. Y., Wei, W. L. J., Ze, E. L. M., Ren,
L. Z., Ping, Y. E., Bakar, N. A., Faizal, M., & Sivakumar, S. (2019). A
review on recent progress of batteries for electric vehicles. International
Journal of Applied Engineering Research, 14(24), 4441�4461.
Genaldo, Rahmad, Septyawan, Tri, Surahman, Ade,
& Prasetyawan, Purwono. (2020). Sistem Keamanan Pada Ruangan Pribadi
Menggunakan Mikrokontroler Arduino dan SMS Gateway. Jurnal Teknik Dan Sistem
Komputer, 1(2), 46�52.
Haq, Muhamad Amirul. (2018). Rancang bangun
sistem pengisian baterai nirkabel menggunakan mikrokontroler teensy.
Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Hardjono, Benny, Widjaja, Andree E., Kom, S., M
Gracio AR, M. T., Tjahyadi, Hendra, Haryani, Calandra Alencia, SE, S., &
Renatan, Winston. (2020). Komunikasi Nirkabel: dengan Aplikasinya di Bidang
Telekomunikasi dan Informatika. Penerbit Andi.
Matarru, Andre Amba, Boedoyo, M. Sidik, &
Yusgiantoro, Purnomo. (n.d.). ANALISA PENGEMBANGAN FAST CHARGING SYSTEM
UNTUK IMPLEMENTASI KENDARAAN LISTRIK ANALYSIS OF FAST CHARGING SYSTEM
DEVELOPMENT FOR ELECTRIC VEHICLE IMPLEMENTATION.
Serhan, Hany A., & Ahmed, Emad M. (2018).
Effect of the different charging techniques on battery life-time. 2018
International Conference on Innovative Trends in Computer Engineering (ITCE),
421�426. IEEE.
Suryoatmojo, H. (2020). Design Li-Po battery
charger with buck converter under partially CC-CV method. 2020 International
Seminar on Intelligent Technology and Its Applications (ISITIA), 101�106.
IEEE.
Wang, Pengcheng, & Zhu, Changqing. (2020).
Summary of lead-acid battery management system. IOP Conference Series: Earth
and Environmental Science, 440(2), 22014. IOP Publishing.