Far�ul Anam1,
Muji Astuti2, A. Taufiq Akbar3,
M. Nasrulloh4
Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana
Universitas Gresik,1,2,3,4
Diterima: 02-09-2022��������������������� ��������������� Review: 10-09-2022�������� ��������������� ��������������� Publish:
15-09-2022
Abstrak:
Penelitian ini adalah suatu aktivitas ilmiah yg penulis
lakukan buat mengetahui suatu masalah, tujuan, & manfaat yg terkait
menggunakan judul yg diteliti. Jenis
penelitian ini adalah penelitian korelatif menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada Sekolah Menengah Kejuruan NH Multimedia Poncokusumo dalam semester genap tahun pelajaran
2020/2021. Hasil penelitian ini
menerangkan bahwa kecerdasan emosional pengajar, motivasi kerja pengajar, & kinerja pengajar produktif mempunyai interaksi yg signifikan
menggunakan prestasi belajar anak didik
Sekolah Menengah Kejuruan yaitu sebanyak 67,5% sedangkan sisanya 32,5% ditentukan sang faktor lain yg nir dijelaskan pada penelitian ini.
Kata kunci: Emosional Guru; Motivasi Kerja
Guru; Kinerja Guru; Prestasi Belajar
Siswa.
Abstract:
This
research is a scientific activity that the author does to find out a problem,
purpose, and benefits related to using the title under study. This type of
research is correlative research using a quantitative approach. This research
was conducted at the NH Multimedia Poncokusumo
Vocational High School in the even semester of the 2020/2021 academic year. The
results of this study indicate that the emotional intelligence of teachers,
teacher work motivation, and productive teacher performance have significant
interaction with the learning achievement of Vocational High School students as
much as 67.5% while the remaining 32.5% is determined by other factors not
explained in the stud, this.
Keywords: Teacher Emotional; Teacher Work Motivation;
Teacher Performance; Student Achievement.��
Corresponding: Far�ul Anam
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pembelajaran ialah fasilitas pengembangan kemampuan diri dengan mendapatkan
uraian maupun pengetahuan selaku input buat memanusiakan manusia( menjadikan manusia seutuhnya) dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya sehingga sanggup mewujudkan individu yang pintar, kreatif, mandiri, berpengendalian diri, serta pastinya mempunyai akhlaq serta budi. Ada pula bagi Undang- undang
Sisdiknas UU RI Nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 disebutkan kalau� Pembelajaran merupakan usaha sadar serta terencana
buat mewujudkan atmosfer belajar serta proses pendidikan supaya partisipan didik secara aktif
meningkatkan kemampuan dirinya buat mempunyai
kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, karakter, kecerdasan, akhlak mulia, dan keahlian yang dibutuhkan dirinya, warga, bangsa serta negeri�.
Pengertian UU Sisdiknas di atas
patut digarisbawahi juga bahwa, pendidikan meliputi kegiatan mewujudkan susasana belajar dan mewujudkan proses pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam mewujudkan suasana belajar, ketrampilan guru dalam pengelolaan kelas (classroom
management) merupakan hal
sangat penting untuk mewujudkan susana belajar yang ideal, dan disini
pula akan terlihat peran guru sebagai fasilitator siswa dalam memperoleh ilmu. Dalam mewujudkan
proses pembelajaran guru lebih
ditekankan sebagai learning manager atau
pengendali pembelajaran dimana guru berperan sebagai planner,
organizer, dan evaluator.
Sejalan dengan dinamika pendidikan yang ada, terutama dalam kegiatan pembelajaran, dan khususnya dalam kegiatan pembelajaran di kelas dimana guru sebagai pengelola kelas tersebut, akan sangat diharapakan adanya keefektifan dan idealisasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan.
Idealisasi dan efektifitas pembelajaran
itu tidak akan sama pada masing-masing kegiatan, karena tentunya dipengaruhi oleh perbedaan level pendidikan, tingkat kesulitan pelajaran, kualitas siswa itu sendiri,
sarana, waktu, metode, dan lain sebagainya. Guru
sebagai pengelola pembelajaran diharapkan supaya mampu membaca
faktor-faktor itu semua sehingga tujuan pembelajaran yang diharap dan direncanakan dapat tercapai dengan maksimal.
Sebagai seorang guru diwajibkan
untuk mampu mengembangkan profesionalismenya dalam menjalankan amanah sebagai pendidik yang benar-benar mengerti kondisi yang dihadapinya, oleh karena itu guru harus memiliki motivasi kerja yang tinggi, dikarenakan tantangan-tantangan
yang dihadapi sebagai seorang pendidik tidaklah sedikit. Tanggung jawab yang diemban dalam jabatan
guru sebagai seorang pendidik, menuntut guru untuk terus mampu
memberikan segala yang positif dari mulai
pikiran, tenaga, metode, dan inovasiinovasinya untuk kebaikan peserta didik yang dibinanya.
Tantangan-tantangan dalam profesi guru terutama pada guru di SMK dapat dikatakan lebih komplek dibandingkan dengan guru pada jenjang SMA biasa.
Kompleksitas tersebut meliputi berbagai tuntutan agar penanaman skill dan keilmuan sehingga dapat diterima siswa secara matang dan untuk mengolah siswa agar mampu berproses dengan baik sehingga memiliki
skill of life untuk
kedepannya. Guru SMK menghadapi
berbagai tantangan untuk mampu menyesuaikan
perkembangan industri sesuai dengan mata
pelajaran yang diajarkan. Perkembangan kurikulum dan teknologi yang semakin pesat menuntut guru agar juga dapat bergerak cepat menyesuaikan.
Tantangan guru di SMK terutama pada mata
pelajaran produktif tidaklah lepas dari kewajiban guru dalam menanamkan skill untuk bekal kehidupan
anak didikanya, sehingga beban untuk mampu mengantarkan
anak didiknya pada tujuan ilmu yang digelutinya haruslah terarah sesuai dengan konsepan ataupun tujuan awal pelajaran itu diajarkan. Guru SMK dituntut lebih mampu berkembang dengan cepat sesuai
dengan kebutuhan industri itu sendiri,
dikarenakan siswasiswa SMK memang kebanyakan disiapkan untuk siap masuk dalam
dunia kerja, lalu dapat diabayangkan apa jadinya jika
guru sendiri tidak up to date dengan
keilmuannya, pastinya hanya akan mencetak
generasi-generasi yang macet
dan tidak berfikir maju. Penanaman pola fikir kepada
siswa untuk selalu siap dalam
menghadapi tantangan-tantangan
yang ada tentunya dengan lingkup tujuan pendidikan itu sendiri, sangatlah
urgent untuk
ditanamkan pada jiwa-jiwa siswa SMK agar mampu bergelut dalam dunianya kelak, dan penguatan karakter inilah guru yang memiliki perannya didalam proses pembelajaran.
Etos, semangat, motivasi,
tindakan, perilaku yang positif tentunya berimplikasi positif juga dengan sesuatu yang akan dihasilkan. Sikap yang positif dalam menjalankan tugas mutlak diperlukan
oleh guru-guru terutama di SMK dalam
menghadapi tanggung jawab profesinya, karena itu diperlukan
motivasimotivasi untuk mendorong dirinya bekerja dengan baik dan tetap bertahan dalam sikap yang positif. (Kadji, 2012) mendefinisikan motivasi
sebagai proses yang menjelaskan
intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan. Disimpulkan
bahwa motivasi kerja pada guru merupakan proses
yang memberikan dorongan
guru untuk melakukan kinerjanya dari mulai merencanakan kegiatan pembelajaran hingga mengevaluasi pendidikan dengan semangat ketekunan untuk menghasilkan output yang diharapkan.
Faktor yang memberikan motivasi
guru untuk all
out (memberikan yang terbaik)
pada jabatan profesinya sangatlah dipengaruhi oleh beberapa hal, mulai
dari status guru itu sendiri, siswa, lingkungan, usia, dan faktor-faktor lain yang mungkin dapat memicu dan menghambat kinerja guru itu sendiri (Mustofa, 2017). Permasalahan sosial
individual guru di sekolah juga berpengaruh
pada motivasi guru, sempat peneliti mendengar isu ketidak harmonisan
dari beberapa guru, entah benar atau
tidak hal tersebut mau tidak
mau akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam bekerja sehingga
mengurangi kinerja guru (Rinaldi, 2020).
Program sertifikasi
guru yang merupakan salah satu
kebijakan pemerintah untuk mengembangkan kompetensi dan profesionalisme
guru dirasa belum sejalan dengan motivasi kerja guru, dikarenakan kebanyakan guru hanya terfokus bagaimana bisa memenuhi syarat-syarat yang diharuskan, tetapi kurang menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapinya, meskipun pada kenyataannya tidak dipungkiri bahwa program sertifikasi ini merupakan salah satu factor motivasi dari luar
yaiatu faktor kesejahteraan guru, sehingga diharapkan guru mau dan mampu lebih mengembangkan
diri lagi (Bintoro & Fitrianto, 2019).
Idealnya motivasi kerja pada diri guru SMK haruslah tinggi dan tak kenal menyerah untuk selalu menganalisis
kegiatan pembelajaran yang dilakukannya sehingga mampu tercipta proses pembelajran yang ideal (FAHRIZI, 2018). Disisi lain motivasi
untuk selalu mengembangkan diri dengan tujuan meningkatkan
kompetensi yang dimiliki
oleh guru mutlak diperlukan
agar mampu bersaing dan mengikuti perkembangan. Bersedia mencari, menganalisis, berfikir lebih, dan bekerja keras merupakan kunci untuk menjadi
guru yang ideal, meskipun tantangan
untuk menjadi demikian tidaklah mudah (Anwar, 2018). Itu semua demi terwujudnya proses pendidikan
yang baik sehingga mampu menghasilkan siswa-siswa yang berkualitas pula
(SUHARNI, 2016).
Siswa
yang dikatakan selaku output maupun produk dari suatu lembaga pembelajaran,
baik buruknya hendak ditunjukkan pada prestasi belajarnya, sehingga proses
penginputan dari lembaga pembelajaran itu sendiri( guru, area sekolah serta
lain- lain) hendak sangat mempengaruhi pada proses keberhasilan siswa itu
sendiri selaku outputnya.
Kasus
prestasi belajar yang didapat siswa memanglah bermacam- macam dari siswa yang
cuma sanggup menemukan nilai dibawah standar ketuntasan serta wajib melaksanakan
remidi buat bisa penuhi ketentuan kelulusan, namun tidak dipungkiri pula ada
beberpa siswa yang memanglah berprestasi dengan baik.
Dari paparan
yang telah dipaparkan itu penulis ingin
melakukan kajian tentang bagaimanakah hubungan antara kecerdasan emosional, motivasi kerja, dan kinerja guru terhadap prestasi hasil belajar siswa SMK di Kabupaten Malang.
METODE
PENELITIAN
Riset ini ialah
sesuatu aktivitas ilmiah yang penulis jalani buat mengenali
sesuatu permasalahan, tujuan, serta khasiat
yang terpaut dengan judul yang diteliti. Tipe riset ini
ialah riset korelatif dengan pendekatan kuantitatif.
Pendekatan kuantitatif bisa dimaksud selaku
tata cara riset yang berlandaskan pada filsafat positivisme yang mengggunakan populasi guru produktif Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) di Kabupaten
Malang, ilustrasi ialah
guru Produktif kemampuan Metode Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO), metode pengambilan ilustrasi pada biasanya dicoba secara sepadan� random sampling, pengumpulan
data menggunakan instrument penelitian,
analisis data bersifat kuantitatif/satatistik dengan tujuan untuk
menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono., 2017).
(Sirait, 2016) mengemukakan: �Penelitian korelasi adalah suatu penelitian
yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel
atau lebih.�
Penelitian ini untuk
menentukan besarnya hubungan emosional (X1),
motivasi kerja (X2),
dan kinerja guru (X3) tersebut
dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa (Y).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siswa sebagai objek kinerja guru tidak akan lepas
dari bagaimana peran guru dalam mengolahnya. Prestasi belajar yang didefinisikan sebagai hasil dari
proses siswa dalam menjalani kegiatan belajar sehingga terjadi perubahan dalam diri siswa,
baik ataupun buruknya itu akan
dipengaruhi oleh beberapa hal, yang salah satunya merupakan faktor dari pengelola siswa itu sendiri
(guru). Guru dalam dapat diukur bagaimana kesungguhannya dalam melaksanakan tugasnya berdasarkan motivasi kerja yang dimiliki.
Motivasi kerja guru didefinisikan sebagai dorongan yang menyebabkan guru untuk melakukan kinerja dengan semaksimal mungkin, dorongan itu timbul
seiring sejalan dengan bagaimana guru merasa puas dengan
apa yang diperolehnya. Jika
di dalam teori kebutuhan Maslow dikemukakan terdapat lima macam tingkatan kebutuhan, maka guru disini akan bekerja sedemikian
hingga bagaimana mencapai tingkatan-tingkatan kebutuhan pada teori tersebut. Hasil dari upaya guru dalam menjalankan proses pemenuhan kebutuhannya itu, dapat dikatakan sebagai kinerja guru, yang pada hasil akhirnya nanti akan menghasilkan
output-output dalam koridor
tujuan pekerjaan itu sendiri (guru). Hasil dari mengajar guru adalah prestasi yang diperoleh siswa selama dalam kurun
waktu tertentu. Oleh karena itu dalam
pembahasan ini bagaimana kecerdasan emosional, motivasi kerja, dan kinerja guru tersebut dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Kecerdasan Emosional Guru
Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan
emosi adalah keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (gembira, sedih, haru, cinta) yang bersifat subjektif. (Supriyanto,
2021),
akar kata emosi adalah movere kata kerja bahasa latin yang berarti �menggerakkan, bergerak� ditambah dengan awalan �e�� untuk memberi
arti �bergerak menjauh� bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam
emosi.
(Lubis, 2018) emosi adalah suatu perasaan
dan pikiran-pikiran khas, suatu keadaan biologis
dan psikologis, serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Teori para ahli diatas dapat dirangkum
bahwa kecerdasan emosional adalah keadaan psikologis dalam setiap individu yang mendorong untuk mengambil sebuah tindakan.
Kecerdasan Emosional guru di SMK NH Multimedia Poncokusumo
dari hasil angket diperoleh data skor tertinggi 102, skor terendah 55, mean 87,55, dan
standar deviasi 7,08. Guru
yang mempunyai kecerdasan emosional rendah dengan rentang nilai 55-64 terdapat 1 responden atau 11%, guru dengan kecerdasan emosional sedang dengan rentang nilai 75-84 terdapat 2 responden atau 22%, guru dengan kecerdasan emosional cukup dengan rentang nilai 85-94 terdapat 2 responden atau 22%, dan guru yang
mempunyai kecerdasan emosional tinggi dengan rentang nilai 95-104 sebanyak 4 responden atau 44%. Kecerdasan emosional memberikan sumbangan efektif sebesar 13,8% dan sumbangan relatif sebesar 52,9%.
Motivasi Kerja Guru
(Wahjosumidjo 2007: 175) berkomentar
kalau motivasi ialah sesuatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara perilaku, keputusan, anggapan serta keputusan yang terjalin pada diri seorang itu
sendiri (instrinsik) ataupun aspek di luar diri seorang( extrinsik).
Jadi disini dalam melaksanakan perbuatan tertentu diakibatkan oleh kemauan yang kokoh dari seorang dengan
pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh faktor- faktor dari dalam
ataupun dari luar diri seorang
itu sendiri, sehingga terjadilah keputusan buat melaksanakan sesuatu aksi tertentu.
(Sardiman 1996: 75) pula mengatakan:� Motivasi bisa pula dikatakan selaku serangkaian usaha buat sediakan kondisi-
kondisi tertentu, sehingga seorang itu ingin serta
mau melaksanakan suatu, serta apabila
dia tidak suka, hingga berupaya
buat meniadakan ataupun mengelakan perasaan tidak suka tersebut. Jadi motivasi itu bisa
dirangkai oleh aspek dari luar namun
motivasi merupakan berkembang di dalam diri seorang.�
Motivasi kerja guru di SMK NH Multimedia Poncokusumo
dari hasil angket diperoleh data dengan skor tertinggi
96, skor terendah 40, mean
82,34, dan standar deviasi
8,87 guru yang mempunyai motivasi
kerja rendah dengan rentang nilai 39-50 terdapat 2 responden atau 22%, guru dengan motivasi kerja kurang dengan
rentang nilai 51-62 terdapat 1 responden atau 11%, guru dengan motivasi kerja sedang dengan rentang
nilai 63-74 terdapat 5 responden atau 56%, guru dengan motivasi kerja cukup dengan
rentang nilai 75-86 terdapat 1 responden atau 11%, dan guru yang mempunyai
motivasi kerja tinggi dengan rentang
nilai 87-98 sebanyak 2 responden atau 22%. Motivasi kerja memberikan sumbangan efektif sebesar 12,6% dan sumbangan relatifnya 49,2%.
Kinerja
Guru
(Mangkunegara,
2005), menyampaikan
bahwa kata kinerja asal menurut kata job performance
atau actual performance (prestasi
kerja atau prestasi sesungguhnya yg dicapai sang seseorang). Sehingga bisa didefinisikan bahwa kinerja merupakan
output kerja secara kualitas & kuantitas yg dicapai sang seseorang pegawai pada melaksanakan tugasnya sinkron menggunakan tanggung jawab yg diberikan kepadanya.
Menurut (Susilawati,
n.d.), kinerja
bukan adalah ciri seseorang, misalnya talenta atau kemampuan, namun adalah perwujudan
menurut talenta atau kemampuan itu sendiri. Pendapat
tadi menerangkan bahwa kinerja adalah
perwujudan menurut kemampuan pada bentuk karya nyata. Kinerja pada kaitannya menggunakan jabatan diartikan menjadi output yg dicapai yg berkaitan
menggunakan fungsi jabatan pada periode saat tertentu.
Motivasi kerja guru di SMK NH Multimedia Poncokusumo
dari hasil angket diperoleh data Skor tertinggi 114, skor terendah 71, mean 97,88, dan standar
deviasi 7,65. guru di SMK NH Multimedia Poncokusumo yang mempunyai kinerja rendah dengan rentang nilai 71-80 terdapat 1 responden atau 11%, guru dengan kinerja kurang dengan rentang
nilai 81-90 terdapat 2 responden atau 22%, guru dengan kinerja sedang dengan rentang
nilai 91-100 terdapat 4 responden atau 44%, guru dengan kinerja cukup dengan rentang nilai 101-110 terdapat 1 responden datau 22%, dan guru dengan kinerja yang tinggi dengan rentang nilai 11-120 terdapat 3 responden atau 33%.
Hubungan Emosional Guru, Motivasi Kerja Guru, dan Kinerja Guru dengan
Prestasi Belajar Siswa.
Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa SMK NH Multimedia Poncokusumo. Hal ini mengandung pengertian bahwa emosional sangat penting untuk mendapatkan
perhatian yang sungguh-sungguh
karena dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di SMK NH
Multimedia Poncokusumo Malang.
Terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi kerja dengan prestasi belajar siswa SMK NH Multimedia Poncokusumo. Hal ini mengandung pengertian bahwa motivasi kerja sangat penting untuk mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh karena dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa di SMK NH Multimedia Poncokusumo.
Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional guru, motivasi kerja, dan kinerja dengan prestasi belajar siswa SMK NH Multimedia Poncokusumo. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) = 0,675 mempunyai
arti bahwa prestasi belajar siswa SMK NH Multimedia Poncokusumo dipengaruhi sebesar 67,5% oleh faktor kecerdasan emosional guru, motivasi kerja, dan kinerja guru. Sedangkan sisanya sebesar 33,5% dipengaruhi oleh faktor lain yang
tidak dimasukkan dalam penelitian yang dapat berupa variabel:
latar belakang pendidikan, kepemimpinan kepala sekolah, pengawasan, kompensasi, komitmen organisasi, lingkungan kerja, pelatihan kerja, supervisi, dan lain-lain.
KESIMPULAN
Kecerdasan emosional guru, motivasi kerja, dan kinerja guru berpengaruh secara signifikan dengan prestasi belajar siswa SMK NH Multimedia Poncokusumo.
Berdasarkan teori dan hasil penelitian yang telah teruji kebenarannya, menyatakan bahwa kecerdasan emosi motivasi kerja, dan kinerja guru memberikan kontribusi dan pengaruh terhadap prestasi belajar siswa SMK NH Multimedia Poncokusumo. Dalam penelitian ini, teori tersebut dapat dibuktikan dengan hasil penelitian
yang telah disajikan. Oleh karena itu dengan
adanya kecerdasan emosional pada guru, motivasi kerja, dan kinerja guru SMK NH
Multimedia Poncokusumo secara
simultan dan parsial, diharapkan prestasi belajar siswa akan
semakin meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Muhamad. (2018). Menjadi guru profesional.
Prenada Media.
Bintoro, Ratih Fenty Anggriani, & Fitrianto,
Yuli. (2019). Pelaksanaan Kebijakan Sertifikasi Guru dalam Meningkatkan
Profesionalisme Guru di Kalimantan Timur (Studi Kasus di Kota Samarinda, Kota
Balikpapan, Kabupaten Kutai Kartanegara Dan Kabupaten Kutai Timur). Jurnal
Riset Pembangunan, 2(1), 36�46.
FAHRIZI, M. H. D. (2018). HUBUNGAN MOTIVASI KERJA
DAN MINAT KERJA DENGAN KESIAPAN KERJA SISWA KELAS XI PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK
PEMESINAN DI SMK NEGERI 1 LUBUK PAKAM. UNIMED.
Kadji, Yulianto. (2012). Tentang Teori Motivasi. Jurnal
Inovasi, 9(01).
Lubis, Sarmadhan. (2018). Hubungan Kecerdasan
Emosional Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama
Islam. HIKMAH: Jurnal Pendidikan Islam, 6(2), 237�258.
Mangkunegara, A. A. Anwar Prabu. (2005). Evaluasi
kinerja SDM. Tiga Serangkai.
Mustofa, Zaenul. (2017). Pengaruh kedisiplinan dan
motivasi guru terhadap peningatan hasil belajar peserta didik pada pelajaran
Pai di Smp it Nurul Fattah Tulang Bawang. UIN Raden Intan Lampung.
Rinaldi, Ananta Rifqi Leo. (2020). PENGGUNAAN
LAYANAN KONSELING INDIVIDU TEKNIK REINFORCEMENT POSITIF UNTUK MENINGKATKAN
MOTIVASI BELAJAR REMAJA BROKEN HOME (Studi pada Remaja Tingkat SMP di Dusun
Karangduwet Desa Karangtalok Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang).
Universitas Pancasakti Tegal.
Sirait, Erlando Doni. (2016). Pengaruh minat belajar
terhadap prestasi Belajar Matematika. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan
MIPA, 6(1).
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif & RND. Bandung: Alfabeta.
SUHARNI, SUHARNI. (2016). Pola Interaksi Guru dan
Siswa dalam Proses Belajar Mengajar Pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X Di SMA
Negeri 2 Pinrang. UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR.
Supriyanto, Djoko Hari. (2021). Analisis Pengaruh Kecerdasan
Emosional Terhadap Proses Berfikir Siswa Kelas IV dalam Memecahkan Masalah
Matematika. Jurnal Pendidikan Modern, 6(2), 85�90.
Susilawati, Saptarini Agustina. (n.d.). KEMAMPUAN
ANAK INDIGO DALAM TINJAUAN KONSEP KARUNIA MENURUT PAULUS.