ANALISIS PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, TINGKAT PENDIDIKAN, DAN
PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN
Diyana Dwi Utami1, Didit
Welly Udjianto2
UPN �Veteran� Yogyakarta
[email protected]1
[email protected]2
Abstrak:
Perekonomian suatu negara berkambang
berarti akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, begitu pula
sebaliknya jika perekonomian yang tidak berkembang maka akan timbul masalah
ekonomi dan social. Kemiskinan merupakan salah satu masalah dalam
pembangunan ekonomi yang terjadi di suatu wilayah baik Kabupaten maupun
Provinsi. Pendidikan merupakan upaya paling efektif dalam meningkatkan kualitas
sumber daya manusia. Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Pendidikan dan Pengangguran
faktor-faktor yang berpengaruh langsung terhadap kemiskinan. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Pendidikan
dan Pengangguran terhadap Kemiskinan di Sumatera Selatan pada tahun 1993-2022.
Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu Laju Pertumbuhan Produk
Domestik Bruto, Rata-Rata Lama Sekolah, Tingkat Pengangguran Terbuka data
tersebut dalam bentuk time series tahun 1993-2022, data diperoleh dari Badan
Pusat Statistik. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Ordinary Least Square (OLS). Hasil dari penelitian ini dapat disimpulakan bahwa
Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap kemiskinan. Sedangkan Pengangguran berpengaruh positif dan signifikan.
Kata Kunci: kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, tingkat pendidikan, dan
pengangguran
Abstract:
The
economy of a developing country means that there will be better economic
growth, and vice versa if the economy is not developing, economic and social
problems will arise. Poverty is one of the problems in economic development that
occurs in an area, both district and province. Education is the most effective
effort in improving the quality of human resources. Economic Growth, Education
Level and Unemployment are factors that directly influence poverty. This study
aims to analyze the effect of Economic Growth, Education Level and Unemployment
on Poverty in South Sumatra in 1993-2022. This study uses secondary data,
namely the Growth Rate of Gross Domestic Product, Average Length of Schooling,
Open Unemployment Rate. The data is in the form of a time series for 1993-2022.
The data were obtained from the Central Bureau of Statistics. The analytical
tool used in this study is Ordinary Least Square (OLS). The results of this
study can be concluded that economic growth and education level have a negative
and significant effect on poverty. While Unemployment has a positive and
significant effect.
Keywords: poverty,
economic growth, education level, and unemployment
����������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding: Diyana
Dwi Utami
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pembangunan
adalah suatu usaha yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan social melalui
pembangunan ekonomi (Marini, 2016). Pada dasarnya pembangunan ekonomi adalah suatu
proses yang mengimplikasikan berbagai perubahan pada struktur social, sikap
psikologis warga, institusi negara, serta berusaha mempercepat pertumbuhan
ekonomi, mengurangi perbedaan pendapatan, dan mengurangi kemiskinan.
Kemiskinan
adalah suatu kondisi ketidakmampuan seseorang atau sekelompok orang untuk
mencapai kemakmuran ekonomi, yang menjadi persyaratan minimum untuk standar
hidup tertentu. Dengan kata lain, kemiskinan dapat diartikan sebagai suatu
keadaan seseorang yang tidak bisa meningkatkan kebutuhan dan kualitas hidupnya (Putri, Junaidi, & Mustika, 2019). Provinsi sumatera selatan kaya akan sumber daya
alam terutama minyak bumi, batu bara dan gas alam serta perkebunan kelapa sawit
dan karet yang cukup luas namun belum terbebas dari masalah kemiskinan, sangat
ironi menempati peringkat 10 provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi
berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Pertumbuhan
Ekonomi merupakan faktor untuk memajukan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, suatu perekonomian dapat disebut tumbuh atau berkembang apabila
terjadi tingkat ekonomi yang lebih tinggi daripada waktu sebelumnya (Marini, 2016). Jika perekonomian suatu negara berkambang berarti
akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, begitu pula sebaliknya jika
perekonomian yang tidak berkembang maka akan timbul masalah ekonomi dan social (Maxwell, 2018). Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indikator
utama untuk mengatur sejauh mana keberhasilan pemerintah provinsi sumatera
selatan dalam memanfaatkan sumber daya yang ada dan dapat digunakan sebagai
perencanaan dalam mengambil keputusan untuk mengurangi tingkat kemiskinan.
Pendidikan
merupakan upaya paling efektif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Adanya Pendidikan dapat mewujudkan generasi yang cerdas, karena Pendidikan
adalah tujuan utama dalam mengembangkan social dan ekonomi.Pendidikan dapat
mewujudkan generasi yang cerdas, karena Pendidikan adalah tujuan utama dalam
mengembangkan social dan ekonomi. Semakin tinggi Pendidikan pada seseorang,
maka pengetahuan dan keterampilan juga akan meningkat sehingga akan mendorong
dalam peningkatan produktivitas seseorang. Pendidikan merupakan suatu sarana
dalam menghapus kebodohan sekaligus dapat menurunkan angka kemiskinan.
Selain
pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendidikan, pengangguran merupakan faktor yang
mempengaruhi kemiskinan (Devanantyo, 2021). Pengangguraan menjadi penunjuk dalam mengukur
derajat kemiskinan, jika pengangguran pada suatu daerah meningkat maka tingkat
kemiskinan juga akan semakin meningkat. Upaya dalam menurunkan pengangguran dan
kemiskinan sama pentingnya. Mengacu pada teori jika seseorang tidak menganggur
maka mempunyai pekerjaan dan penghasilan, seseorang yang mendapat penghasilan
dari suatu pekerjaan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidup.
TINJAUAN LITERATUR
Kemiskinan
Kemiskinan
untuk menggambarkan keterbatasan pendapatan dan konsumsi, keterbelakangan
derajat dan martabat manusia, ketersingkiran social, keadaan yang menderita
karena sakit, kurangnya kemampuan dan ketidakberfungsian fisik untuk bekerja,
kerentanan dalam menghadapi perubahan politik dan ekonomi, tiadanya kelanjutan
sumber kehidupan, tidak terpenuhinya kebutuhan dasar, dan adanya perampasan
relatif (Maxwell, 2018). Hidup dalam kondisi miskin bukan hanya hidup dalam
kekurangan uang dan pendapatan yang rendah, tetapi juga banyak hal lain,
seperti kesehatan dan pendidikan yang rendah, pemberlakuan yang tidak adil
dalam hukum, kerentanan terhadap ancaman criminal, ketidakberdayaan dalam
menentukan jalan hidupnya sendiri (HIdayatillah, 2021).
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan
Ekonomi adalah suatu aktifitas ekonomi yang memuat perubahan dalam peningkatan
hasil produksi yang dikelola oleh masyarakat di suatu daerah sehingga dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Lincolin, 2009). Sedangkan menurut peneliti pertumbuhan ekonomi
merupakan kenaikan jangka Panjang dalam kemampuan disuatu negara untuk
menyediakan jenis barang ekonomi yang banyak kepada penduduknya, kemampuan
tersebut sesuai dengan teknologi dan penyesuaian pada kelembagaan dan ideologis
yang diperlukan (Syahputra, 2017).
Pembangunan
ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi. Hal itu akan
tercapai apabila tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah mengalami peningkatan
(Todaro & Smith, 2006). Pendekatan pembangunan tradisional labih dimaknai
sebagai pembangunan yang memfokuskan pada usaha peningkatan Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) suatu provinsi, kabupaten dan kota. Mekanisme transmisi
pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan telah dikemukakan dengan menggunakan
teori pertumbuhan endogen.
Tingkat Pendidikan
Menurut
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan tingkat Pendidikan
atau bisa dikatakan sebagai jenjang Pendidikan adalah tahapan Pendidikan yang
ditetatapkan menurut tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan
dicapai dan kemampuan yang dikembangkan. Terdapat tiga jalur Pendidikan yaitu
jalur Pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan formal meliputi
Pendidikan dari keluarga dan lingkungan, sedangkan Pendidikan nonformal adalah
Pendidikan yang dilakukan di luar Pendidikan formal.
Menurut peneliti
Pendidikan mempunyai korelasi dengan pendapatan (Julianto & Utari, 2019). Jika semakin tinggi tingkat Pendidikan maka dapat
membuat semakin tinggi kualitas seseorang. Semakin tinggi kualitas seseorang
maka produktivitas akan semakin meningkat juga. Produktivitas yang tinggi maka
seseorang akan menghasilkan lebih banyak pendapatan daripada yang rendah
produktivitasnya. Oleh karena itu, akan semakin banyak pendapatan yang
dihasilkan dan dapat membuat seseorang terbebas dari masalah kemiskinan (Seran, 2012).
Pengangguran
Pengangguran
pada umumnya terdapat pada jumlah pekerja atau seseorang yang mencari pekerjaan
tetapi tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang ada dan apa yang
dapat mereka dapatkan. Oleh karena itu, masalah dalam perekonomian pada
pengangguran dapat mengurangi produktivitas dan pendapatan seseorang yang dapat
mengakibatkan kemiskinan dan permasalahan social lainnya (Syarun, 2016). Menurut peneliti Pengangguran merupakan keadaan
dimana seseorang yang berada di pasar tenaga kerja ingin memperoleh suatu
pekerjaan tetapi tidak dapat memperolehnya dan pada seseorang yang tidak
bekerja tetapi tidak aktif dalam mencari suatu pekerjaan maka tidak dikatakan
atau digolongkan sebagai pengangguran (Purba, Nainggolan, & Panjaitan, 2022).
METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian asosiatif kuantitatif
yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh hubungan dua variabel
atau lebih serta menggunakan bentuk satuan ukuran atau angka dalam sajian hasil
analisis. Penelitian ini juga merupakan penelitian yang berusaha untuk
memecahkan masalah yang ada berdasarkan data sekunder, jurnal, artikel,
hasil-hasil penelitian sebelumnya. Masalah yang dimaksud ini berhubungan dengan
variabel dependen Kemiskinan dan variabel independen Pertumbuhan Ekonomi,
Tingkat Pendidikan, dan Pengangguran. Data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah data time series dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2022 di Provinsi
Sumatera Selatan. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh
dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan sumber-sumber lainnya. Penelitian ini
menggunakan model regresi linier berganda atau metode Ordinary Least Square
(OLS) serta uji asumsi-asumsi klasik.
Definisi Operasional Variabel
Variabel Dependen: Kemiskinan
Kemiskinan merupakan suatu kondisi kebidupan seseorang yang
mengalami kekurangan dan mempunyai pengeluaran per kapita selama satu bulan
tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup tersebut. Persentase penduduk
miskin adalah persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan
terhadap total penduduk di Provinsi Sumatera Selatan menurut Badan Pusat
Statistik (BPS). Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data persentase
penduduk miskin Provinsi Sumatera Selatan dalam satuan persen.
Variabel Independen: Pertumbuhan
Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah tolak ukur bagi keberhasilan
pembangunan ekonomi pada suatu wilayah atau daerah (Todaro & Smith, 2006).
Pertumbuhan ekonomi dapat diukur dari tingkat pertumbuhan Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. Data yang digunakan yaitu data
pertumbuhan ekonomi menurut Provinsi Sumatera Selatan.
Variabel Independen: Tingkat
Pendidikan
Tingkat Pendidikan merupakan tahapan Pendidikan yang ditetapkan
menurut tingkat perkembangan peserta didik akan tujuan yang dicapai dan
kemampuan yang dikembangkan. Data yang digunakan yaitu Rata-rata Lama Sekolah
(RLS). RLS merupakan jumlah tahun belajar yang digunakan suatu penduduk yang
telah menyelesaikan Pendidikan formal (Effendi & Siregar, 2018). Cakupan
penduduk yang dihitung RLS adalah penduduk berusia 25 tahun ke atas. RLS
dihitung untuk usia 25 tahun ke atas dengan asumsi pada umur 25 tahun proses
Pendidikan sudah berakhir. Perhitungan RLS pada usia 25 tahun ke atasjuga
mengikuti standar internasional yang digunakan oleh UNDP.
Variabel Independen: Pengangguran
Pengangguran merupakan jumlah penduduk yang tidak bekerja sama
sekali atau sedang mencari pekerjaan dan bekerja kurang dari dua hari dalam
seminggu serta berusaha mencari pekerjaan yang memadai (Astuti et al., 2015). Data
yang digunakan yaitu Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk mengukur rasio
pengangguran.
Model
Penelitian
Model
dari estimasi OLS dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Kt���������� = f (PEt, TPt, PGt)
Persamaan
estimasi OLS yang digunakan sebagai berikut:
Kt���������� = α0 + α1PEt + α2TPt +
α3PGt + et
Variabel
PE, TP, dan PG merupakan variabel independen sedangkan variabel dependen yang
digunakan adalah K.
Dimana:
Kt���������� : Kemiskinan pada waktu t
α0��������� : Konstanta
PEt�������� : Pertumbuhan Ekonomi pada waktu t
TPt�������� : Tingkat Pendidikan pada waktu t
PGt������� : Pengangguran pada waktu t
et���������� : Variabel Pengganggu yang berada di
luar model pada waktu t
α1��������� : Koefisien dari PE
α2��������� : Koefisien dari TP
α3��������� : Koefisien dari PG
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Estimasi OLS
|
Dependent Variable |
K |
|||
|
Variable |
Coefficient |
Std.Error |
t-Statistic |
Prob |
|
C |
37,52985 |
3,770338 |
9,953975 |
0,0000 |
|
PE |
-0,686114 |
0,132154 |
-5,191759 |
0,0000 |
|
TP |
-3,333240 |
0,528180 |
-6,310807 |
0,0000 |
|
PG |
1,140142 |
0,176145 |
6,472754 |
0,0000 |
Sumber: Hasil Olah
Data
Berdasarkan
tabel diatas maka dihasilkan persamaan regresi dalam penelitian ini sebagai
berikut:
K = 37,52985 -
0,686114 - 3,333240 + 1,140142
Berdasarkan
Uji Variance Inflation Factor dapat diketahui bahwa model yang digunakan dalam
penelitian ini tidak terjadi multikolinearitas, karena nilai VIF < 10.
Pertumbuhan Ekonomi memiliki nilai VIF sebesar 1,027668, Tingkat Pendidikan
memiliki nilai VIF sebesar 1,130461, dan Pengangguran memiliki nilai VIF
sebesar 1,127555. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak mengalami
gejala multikolinearitas.
Berdasarkan
Uji Langrange Multiplier (LM) diketahui bahwa Prob. Chi-Square Obs*R-squared
sebesar 0,1734 > 0,05 maka tidak ditemukan masalah pada autokorelasi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak mengalami gejala
autokorelasi.
Berdasarkan
Uji Breusch-Pagan diketahui bahwa Obs*R-squared Prob. Chi-Square(3) sebesar
0,3192 > 0,05 maka tidak ditemukan masalah heteroskedastisitas. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa model regresi ini tidak terjadi heteroskedasrisitas.
Berdasarkan
Uji Jarque-Bera diketahui bahwa Prob. Jarque-Bera sebesar 0,865721 > 0,05
maka� tidak ditemukan masalah pada
normalitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi ini terdistribusi
normal.
Berdasarkan
Rasmey RESET Test diketahui bahwa Prob. F-statistic sebesar 0,6295 > 0,05
maka tidak ditemukan masalah pada linieritas. Dapat disimpulkan bahwa model
regresi ini memiliki hubungan linier antara variabel dependen dan variabel
independent.
Berdasarkan
Uji t diketahui bahwa nilai t-statistik 9,953975 sehingga hasil t-statistik
(9,953975) > t-tabel (1,70562), maka dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan
Ekonomi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap Kemiskinan Provinsi
Sumatera Selatan tahun 1993-2022. Pada Uji t diketahui bahwa nilai t-statistik
sebesar -5,191759 sehingga hasil t-statistik (-5,191759) < t-tabel
(1,70562), maka dapat disimpulkan bahwa Tingkat Pendidikan memiliki pengaruh
negatif dan signifikan terhadap Kemiskinan Provinsi Sumatera Selatan tahun
1993-2022. Pada Uji t diketahui bahwa nilai t-statistik sebesar -6,310807
sehingga hasil t-statistik (-6,310807) < t-tabel (1,70562), maka dapat
disimpulkan bahwa Pengangguran memiliki pengaruh positif dan signifikan
terhadap Kemiskinan Provinsi Sumatera Selatan 1993-2022. Pada Uji t diketahui
bahwa nilai t-statistik sebesar 6,472754 sehingga hasil t-statistik (6,472754)
> t-tabel (1,70562).
Berdasarkan
Uji F diketahui bahwa nilai F-statistik sebesar 25,78082 sehingga F-statistik
(25,78082) > F-tabel (2,98), sedangkan nilai Prob(F-statistik) sebesar
0,000000 sehingga Prob(F-statistik) (0,000000) < 0,05. Berdasarkan hasil
tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Pendidikan,
dan Pengangguran secara Bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Kemiskinan
Provinsi Sumatera Selatan tahun 1993-2022.
Berdasarkan
hasil regresi diketahui bahwa nilai R-squared sebesar 0,748409. Hal ini berarti
variabel dependen Kemiskinan mampu dijelaskan oleh variabel independent yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Pendidikan,
dan Pengangguran sebesar 74,8409% dan sisanya sebesar 25,1591% dijelaskan oleh
variabel lain diluar model penelitian yang digunakan.
Pengaruh
Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan
Berdasarkan
hasil nilai koefisien Pertumbuhan Ekonomi pada estimasi regresi sebesar
-0,686114. Nilai t hitung sebesar -5,191759 yang mana lebih kecil dari t tabel
1,70562 (-5,191759 < 1,70562) dan probabilitas 0,0000 lebih kecil dari
signifikasi 0,05 (0,0000 < 0,05). Hal ini memiliki arti bahwa Pertumbuhan
Ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Kemiskinan di Provinsi
Sumatera Selatan.� Secara statisik dapat
diartikan kenaikan 1 persen pertumbuhan ekonomi dapat menyebabkan penurunan
pada kemiskinan sebesar 0,68 persen.
Pertumbuhan
ekonomi yang naik maka kemiskinan akan turun. Sehingga pertumbuhan ekonomi
tinggi mendorong tingkat kemiskinan jadi turun. Pertumbuhan ekonomi dibutuhkan
karena sumber utama peningkatan standar hidup manusia. Kemampuan di suatu
negara untuk meningkatkan standar hidup rakyatnya sangat tergantung dan di
tentukan oleh laju pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan
peningkatan kemampuan pada suatu perekonomian.
Semakin
tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi, maka semakin membaik pengelolaan sumber
daya. Sumber daya manusia berperan penting dalam kegiatan ekonomi terutama pada
peningkatan produktivitas. Semakin tinggi kualitas tenaga kerja maka semakin
tinggi pula tingkat produktivitas brgitupun sebaliknya. Produktivitas yang
rendah akan berdampak pada pendapatan yang rendah. Rendahnya pendapatan akan
berpengaruh pada kemampuan pengeluaran, sehhingga pemenuhan kebutuhan pokok,
sekunder, dan tersier belum tentu dapat terpenuhi karena kemiskinan dipandang
sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan
dari sisi pengeluaran dan pendapatan.
Hal tersebut
sesuai dengan hipotesis pada penelitian ini dimana terdapat pengaruh negatif
dan signifikan antara Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan. Penelitian ini
sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan yang menyatakan bahwa Pertumbuhan
Ekonomi memiliki hubungan yang negatif dan signifikan terhadap Kemiskinan di
Daerah Istimewa Yogyakarta (Suripto & Subayil, 2020).
Pengaruh
Tingkat Pendidikan terhadap Kemiskinan
Berdasarkan
hasil nilai koefisien Tingkat Pendidikan pada estimasi regresi sebesar
-3,333240. Nilai t hitung sebesar -6,310807 yang mana lebih kecil dari t tabel
1,70562 (-6,310807 < 1,70562) dan probabilitas 0,0000 lebih kecil dari
signifikasi 0,05 (0,0000 < 0,05). Hal ini memiliki arti bahwa Tingkat
Pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Kemiskinan di Provinsi
Sumatera Selatan. Secara statistik dapat diartikan kenaikan 1 persen tingkat
pendidikan dapat menyebabkan penurunan pada kemiskinan sebesar 3,33 persen.
Tingkat
Pendidikan jika mengalami kenaikan maka kemiskinan akan mengalami penurunan,
begitupun sebaliknya. Tingkat Pendidikan dapat mengindikasikan bahwa semakin
tinggi pendidikan yang ditamatkan maka semakin tinggi kompetensi dan keahlian
yang dimilikinya, dengan begitu semakin besar juga peluang untuk dapat masuk ke
dunia kerja dan mudah menciptakan lapangan pekerjaan.
Pendidikan
mempunyai korelasi dengan pendapatan, jika semakin tinggi tingkat pendidikan
semakin tinggi pula kualitas pada seseorang. Tingginya kualitas seseorang dapat
menaikkan tingkat produktivitas. Semakin tinggi produktivitas maka seseorang
dapat menghasilkan lebih banyak pendapatan daripada yang rendah
produktivitasnya. Oleh karena itu, jika semakin banyak pendapatan yang
dihasilkan oleh seseorang maka dapat membuat orang tersebut terbebas dari
kemiskinan.
Hal tersebut
sesuai dengan hipotesis pada penelitian ini dimana terdapat pengaruh negatif
dan signifikan antara Tingkat Pendidikan terhadap Kemiskinan. Penelitian ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yang menyatakan
bahwa seiring kemajuan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi maka semakin
meningkat pula kehidupan yang layak, Tingkat Pendidikan memiliki hubungan yang
negatif dan signifikan terhadap kemiskinan di Kota Makassar (Zakaria, 2020). Penelitian ini juga mendukung penelitian yang
menyatakan bahwa Tingkat Pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
Kemiskinan di Provinsi Jawa Timur (Devanantyo, 2021).
Pengaruh
Pengangguran terhadap Kemiskinan
Berdasarkan
hasil nilai koefisien Pengangguran pada estimasi regresi sebesar 1,140142. Nilai
t hitung sebesar 6,472754 yang mana lebih besar dari t tabel 1,70562 (6,472754
> 1,70562) dan probabilitas 0,0000 lebih kecil dari signifikansi 0,05
(0,0000 < 0,05). Hal ini memiliki arti bahwa Pengangguran berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Kemiskinan di Provinsi Sumatera Selatan. Secara
statistik dapat diartikan kenaikan 1 persen akan menyebabkan penurunan
kemiskinan sebesar 1,14 persen.
Semakin
tinggi tingkat pengangguran akan memicu peningkatan tingkat kemiskinan.
Pengangguran dapat menyebabkan berbagai masalah ekonomi dan sosial. Tidak
adanya pendapatan maka akan mengurangi pengeluaran konsumsi dan dapat
mengganggu taraf kesehatan. Jika pengangguran di suatu negara semakin memburuk,
kekacauan politik dan sosial akan menimbulkan efek yang buruk pada
kesejahteraan masyarakat dan prospek pembangunan ekonomi dalam jangka waktu
yang panjang. Pengangguran berpengaruh buruk pada perekonomian, seperti
meningkatnya kemiskinan.
Peningkatan
pengangguran disebabkan oleh ketidakseimbangan di pasar tenaga kerja, dimana
jumlah penawaran tenaga kerja lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah
permintaannya sehingga jumlah angkatan kerja yang ada tidak dapat terserap
seluruhnya pada lapangan kerja yang tersedia. Akibatnya jumlah pengangguran
semakin bertambah. Masyarakat yang menganggur dan tidak memiliki penghasilan
atau pendapatan maka tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pengangguran
yang tinggi cenderung memiliki angka kemiskinan yang tinggi, dengan cara
memperbaiki kualitas pendidikan maka pengangguran berangsur-angsur akan menurun
dan berdampak langsung pada penurunann kemiskinan.
Hal tersebut
sesuai dengan hipotesis pada penelitian ini dimana terdapat pengaruh positif
dan signifikan antara Pengangguran terhadap Kemiskinan. Penelitian ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yang menyatakan bahwa
Pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kemiskinan di Kota
Makassar (Zakaria, 2020).
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data yang telah
dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Pertumbuhan
Ekonomi secara parsial berpengaruh negatif sebesar -0,686114 dan signifikan
terhadap kemiskinan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 1993-2022. Semakin
tinggi pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat menggambarkan pertumbuhan ekonomi
sektor riil dan pertumbuhan ekonomi dapat digunakan sebagai indikator
kesejahteraan suatu daerah sehingga akan menurunkan kemiskinan. Sedangkan Tingkat Pendidikan secara parsial berpengaruh
negatif sebesar -3,333240 dan signifikan terhadap kemiskinan di Provinsi
Sumatera Selatan tahun 1993-2022. Tingkat Pendidikan memiliki peran yang
penting dalam meningkatkan kemampuan dan kualitas seseorang, karena Tingkat
Pendidikan dalam hal ini rata-rata lama sekolah yang tinggi dapat meningkatkan
kualitas dan kemampuan pada seseorang agar lebih mudah untuk bersaing di dunia
kerja maupun dunia usaha. Serta Pengangguran
secara parsial berpengaruh positif sebesar 1,140142 dan signifikan terhadap
kemiskinan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 1993-2022. pengangguran yang
tinggi akan menyebabkan peningkatan pada kemiskinan, karena pengangguran yang
tinggi akan akan menyebabkan pendapatan yang rendah sehingga tidak dapat
memenuhi kebutuhan sehari-hari yang pada akhirnya akan mengalami kemiskinan.
DAFTAR PUSTAKA
Astuti,
W. Y., di Perkotaan, Pengangguran Terdidik, Bachrawi, S., Cipta, Pengantar
Ekonomi Pembangunan Rineka, Basuki, A. T., Teori, Ekonometrika, Gilarso, T.,
Gujarati, D., Terjemahan, Ekonometri Dasar, & Gujarati, D. N. (2015).
Arikunto.(2010). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.
Astuti.(2014).�Keterkaitan Pengangguran Terdidik dengan masalah Pendidikan�
Jurnal Pendidikan dan Ekonomi. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Negeri
Yogyakarta. Journal of Social Science
Studies, 3(6), 49�56.
Devanantyo, Nafhan Umara. (2021). Analisis Pengaruh Pertumbuhan Penduduk,
Pertumbuhan Ekonomi, Pendidikan, Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan Di
Provinsi Jawa Timur (Tahun 2015-2019). Jurnal
Ilmiah Mahasiswa FEB, 9(2).
Effendi, Sulaiman, & Siregar, Syarifah Ainah. (2018). Penerapan
Strategi Giving Question And Getting Answer Sebagai Upaya Peningkatkan Hasil
Belajar Akuntansi. Liabilities (Jurnal
Pendidikan Akuntansi), 1(2),
125�137.
HIdayatillah, Laela. (2021). Analisis
Pengaruh Jumlah Penduduk, Indeks Pembangunan Manusia Dan Produk Domestik
Regional Bruto Terhadap Jumlah Penduduk Miskin Di Provinsi Nusa Tenggara Barat
Tahun 2015-2019. Universitas Muhammadiyah Malang.
Julianto, Dedi, & Utari, Puti Annisa. (2019). Analisa pengaruh tingkat
pendidikan terhadap pendapatan individu di Sumatera Barat. Ikraith-Ekonomika, 2(2), 122�131.
Lincolin, Arsyad. (2009). STIE�YKPN. Jurnal Ichsan Gorontalo, 4(2).
Marini, Tety. (2016). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
ekonomi dan tingkat kemiskinan di kabupaten berau. INOVASI, 12(1),
108�137.
Maxwell, John. 2007. 25 Ways to win with people. Jakarta: Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama. (2018). Pembangunan
Ekonomi & Pemberdayaan Masyarakat: Strategi Pembangunan Manusia dalam
Perspektif Ekonomi Lokal. CV. Nur Lina Bekerjasama dengan Pustaka Taman
Ilmu.
Purba, Winra, Nainggolan, Pinondang, & Panjaitan, Pawer D. (2022).
Analisis Pengaruh Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pengangguran di
Provinsi Sumatera Utara. Jurnal
Ekuilnomi, 4(1), 62�74.
Putri, Rahma Wardana, Junaidi, Junaidi, & Mustika, Candra. (2019).
Pengaruh pertumbuhan ekonomi, indeks pembangunan manusia dan kepadatan penduduk
terhadap tingkat kemiskinan kabupaten/kota di Provinsi Jambi. E-Jurnal Ekonomi Sumberdaya Dan Lingkungan,
8(2), 96�107.
Seran, Sirilius. (2012). Determinan
Faktor Sosial Dan Ekonomi Terhadap Kemiskinan Penduduk.
Suripto, Suripto, & Subayil, Lalu. (2020). Pengaruh tingkat pendidkan,
pengangguran pertumbuhan ekonomi dan indeks pembangunan manusia terhadap kemiskinan
di di Yogyakarta priode 2010-2017. GROWTH
Jurnal Ilmiah Ekonomi Pembangunan, 1(2), 127�143.
Syahputra, Rinaldi. (2017). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Jurnal
Samudra Ekonomika, 1(2),
183�191.
Syarun, Muchdie M. (2016). Inflasi, pengangguran dan pertumbuhan ekonomi
di negara-negara Islam. Jurnal Ekonomi
Islam, 7(2), 27�44.
Todaro, Michael P., & Smith, Stephen C. (2006). PEMBANGUNAN EKONOMI, edisi 9, jilid 1.
Erlangga.
Zakaria, Junaidin. (2020). Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Pendidikan dan
pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di kota makassar. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi, 3(2), 41�53.