PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MENULIS TEKS DRAMA

 

Siti Prihatin

SMP Negeri 3 Pemalang

[email protected]

 

Abstrak:

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan untuk mengetahui, peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis teks drama di kelas IX A SMPN 3 Pemalang Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes, observasi, dan dokumentasi. Untuk menguji validitas data peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis data kualitatif berdasarkan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis Teks drama pada siswa, mengalami peningkatan aktivitas belajar siswa dari 12 siswa atau 38,70% pada kondisi awal meningkat menjadi 25 siswa atau 80,64% dan pada siklus terakhir menjadi 30 siswa atau 96,77%. Peningkatan hasil belajar pada prasiklus rata-rata sebesar 63,55%, meningkat pada siklus I� menjadi 74,09 dan pada siklus II� menjadi 84,19, sedangkan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 10 siswa atau 40,61% dari 16 siswa� 59,10 pada siklus I menjadi 28 siswa atau 90,32 %� pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IX� A SMPN 3 Pemalang, semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023.

 

Kata kunci: kegiatan, hasil belajar, dua tinggal dua tamu, drama, teks.

 

Abstract:

This Classroom Action Research (CAR) aims to determine the improvement of students' activity and learning outcomes by implementing the Two Stay Two Stray Learning Model in Javanese language instruction, specifically the topic of writing drama texts, in class IX A of SMPN 3 Pemalang, second semester of the academic year 2022/2023. The data collection techniques used in this research were tests, observations, and documentation. To test the validity of the data, the researcher employed triangulation of data sources and triangulation of methods. The collected data were analyzed using qualitative data analysis techniques based on predetermined success indicators. The results of this research concluded that students' learning activities in Javanese language instruction, particularly in writing drama texts, showed an improvement. The number of students exhibiting improved learning activities increased from 12 students or 38.70% in the initial condition to 25 students or 80.64% in the final cycle, and ultimately reached 30 students or 96.77% in the last cycle. The improvement in learning outcomes averaged 63.55% in the pre-cycle, increased to 74.09% in cycle I, and further increased to 84.19% in cycle II. The number of students who successfully completed the task also increased from 10 students or 40.61% out of 16 students in cycle I to 28 students or 90.32% in cycle II. In conclusion, the implementation of the Two Stay Two Stray Learning Model has proven to enhance the activity and learning outcomes of class IX A students at SMPN 3 Pemalang, second semester of the academic year 2022/2023.

 

Keywords: activities, learning outcomes, two stay two stray, drama, text.�������������������

 

Corresponding: Siti Prihatin

E-mail: [email protected]

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah sama halnya seperti pembelajaran bahasa-bahasa yang lain, yaitu meliputi empat kompetensi berbahasa yaitu, membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Membaca dan mendengarkan atau menyimak merupakan keterampilan yang bersifat reseptif dan menulis dan berbicara merupakan keterampilan yang bersifat produktif. Menulis merupakan keterampilan produktif dan ekspresfi. Menulis merupakan keterampilan yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Dalam keterampilan menulis ini, penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur kata, dan kosa kata. Keterampilan ini tidak dengan begitu saja dikuasi melainkan harus melalui latihan dan praktik. Berkaitan dengan hal tersebut, Dalam pembelajaran bahasa Jawa di kelas IX A SMP Negeri 3 Pemalang pada materi menulis teks drama, diperoleh hasil yang sangat rendah atau belum sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) baik pada aktivitas belajar maupun pada perolehan nilainya. Sebagaimana yang terlihat pada hasil observasi yaitu� hasil tes formatif pada tes awal atau pendahuluan� hanya terdapat 10 orang siswa atau 40,61% yang mendapat nilai di atas KKM, dan sisanya sebanyak 21 siswa atau 59,39% belum memenuhi KKM =76 dengan perolehan nilai rata-rata secara klasikal sebesar 63,55.

Sebagaimana dikemukakan oleh penelitian terdahulu hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar (Cipta, 2014). Selanjutnya penelitian menyatakan hasil belajar seseorang ditunjukkan dengan perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti (Suratman, Afyaman, & Rakhmasari, 2019). Seperti yang dinyatakan oleh para peneliti, bahwa hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang terjadi melalui proses pembelajaran yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris (Ma�, 2018).

Peneliti menjelaskan hasil belajar adalah pola pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan (Effendi & Siregar, 2018). Secara garis besar klasifikasi hasil belajar terbagi menjadi tiga ranah menurut para peneliti (RISKON, 2016),

Penggunaan model pembelajaran dan alat peraga yang tepat merupakan faktor penting untuk mencapai keberhasilan pembelajaran. Cooperative learning merupakan strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda kedalam kelompok-kelompok kecil (Fadllan, Hartono, Susilo, & Saptono, 2022). Dengan bekerja secara kelompok memecahkan masalah bersama diharapkan siswa lebih aktif dan pembelajaran menjadi bermakna sehingga hasil belajar siswa meningkat.

Salah satu cara yang dianggap dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran dan prestasi siswa pada materi menulis teks drama berbahasa Jawa adalah dengan menggunakan metode two stay two stray. Metode two stay two stray (dua tinggal dua tamu) adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Dengan tujuan mengarahkan siswa untuk aktif, baik dalam berdiskusi, tanya jawab, mencari jawaban, menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman. Dalam pembelajaran ini siswa dihadapkan pada kegiatan mendengarkan apa yang diutarakan oleh temannya ketika sedang bertamu, yang secara tidak langsung siswa akan dibawa untuk menyimak apa yang diutarakan oleh anggota kelompok yang menjadi tuan rumah tersebut. Dalam proses ini, akan terjadi kegiatan menyimak materi pada siswa.

���� �Sehingga� yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah; 1) Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran bahasa Jawa materi menulis teks drama melalui penerapan model pembelajaran two stay two stray siswa kelas IX A SMPN 3 Pemalang semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 Pemalang? 2) Bagaimana peningkatan aktivitas belajar� peserta� didik� kelas IX A SMPN 3 Pemalang� semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 Pemalang materi menulis teks drama pada pembelajaran bahasa Jawa melalui penerapan model pembelajaran two stay two stray? 3) Bagaimana peningkatan prestasi� belajar� peserta� didik� kelas IX A SMPN 3 Pemalang semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 Pemalang pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis teks drama melalui penerapan model pembelajaran two stay two stray?

����� Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini dengan penerapan model pembelajaran tersebut adalah tercapai tujuan ini yaitu:

1)      Untuk mengetahui proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran two stay two stray pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis teks drama di kelas IX A SMPN 3 Pemalang� semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 Pemalang.

2)      Untuk mengetahui peningkatkan aktivitas belajar bahasa Jawa� materi menulis teks drama di kelas IX A SMPN 3 Pemalang semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 Pemalang melalui model pembelajaran two stay two stray.

3)      Untuk mengetahui peningkatkan prestasi belajar bahasa Jawa� materi menulis teks drama di kelas IX A SMPN 3 Pemalang� semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 Pemalang melalui model pembelajaran two stay two stray.

Model pembelajaran kooperatif Tipe two stay two stray adalah suatu model pembelajaran dengan cara mengelompokkan siswa untuk mengerjakan tugas atau memecahkan masalah tertentu. Teknik belajar mengajar two stay two stray�� ini memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Model pembelajaran two stay two stray ini memberi kesempatan kepada kelompok untuk mengembangkan hasil informasi dengan kelompok lainnya (Hanafiah, 2012:56) Selain itu, struktur two stay two stray ini memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil kesempatan kepada kelompok lain. Banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu dengan yang lainnya (Djamarah, 2012:405)

 

 

METODE PENELITIAN

������ Desain penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK), yang dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus I merupakan tindakan awal dalam penelitian yang dilaksanakan selama dua pertemuan, dalam penelitian keterampilan menulis teks drama, denga model two stay two stray, sedangkan siklus II yang juga dilaksanakan dalam dua pertemuan, bertujuan untuk memperbaiki hasil dari siklus I. Setiap siklus merupakan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Data diperoleh dari tes dan nontes berupa jurnal guru, jurnal peserta didik wawancara, lembar wawancara serta dokumetasi foto. Subjek penelitian ini adalah keterampilan menulis teks drama siswa kelas IX A SMP Negeri 3 Pemalang.�

������ Proses pembelajaran keterampilan menulis teks drama berbahasa Jawa dengan model two stay two Stray yaitu Teknik belajar mengajar yang memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Model pembelajaran two stay two stray ini memberi kesempatan kepada kelompok untuk mengembangkan hasil informasi dengan kelompok lainnya (Hanafiah & Suhana, 2009).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan survei awal yang bertujuan untuk mengetahui kondisi awal pembelajaran menulis khususnya menulis naskah drama (Widiyasih, 2013). Selain itu, survei awal ini juga dimanfaatkan untuk mengetahui kemampuan awal menulis naskah drama siswa. Berdasarkan kegiatan survei awal ini, peneliti menyimpulkan bahwa kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis naskah drama siswa IX A SMPN 3 Pemalang masih perlu diperbaiki. Kemudian, peneliti berkolaborasi dengan guru untuk mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan teknik Two stay two stray dalam proses pembelajaran menulis naskah drama. Setelah itu, peneliti dan guru menyusun rencana untuk siklus I. Pada pelaksanaan tindakan siklus I ini, pembelajaran menulis naskah drama diterapkan dengan teknik Two stay two stray (dua tinggal dua tamu). Dalam kenyataannya, masih terdapat kelemahan atau kekurangan pada siklus I.

1)      Sebagian siswa masih melakukan aktivitas pribadi, seperti menganggu teman, berbicara dan bercanda dengan teman.

2)      Siswa masih ada yang malu mengungkapkan pendapat dalam diskusi.

3)      Ketika berbicara, beberapa siswa berbicara dengan struktur dan kosakata yang kurang tepat.

4)      Ada beberapa siswa yang masih menggunakan bahasa Jawa yang dicampur dengan bahasa Indonesia ketika berpendapat.

5)      Siswa juga kurang kritis dalam menanggapi gagasan yang dikemukakan siswa lain.

6)      Siswa kurang bisa mengoptimalkan waktu dengan baik. Ketika waktu yang diberikan guru sudah habis, siswa sering belum selesai dalam berdiskusi.

7)      Siswa belum melaksanakan peran dalam kegiatan pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran two stay two stray.

8)      ketika refleksi, hanya ada siswa yang memberikan komentar atas pembelajaran diskusi hari itu.�

Selanjutnya kelemahan dari penerapan teknik TSTS ini yaitu:

1.       Siswa masih merasa metode TSTS itu asing dan baru sehingga belum begitu memahami pelaksanaan diskusi dengan teknik ini.

2.       Teknik diskusi yang bertamu ke kelompok lain ini membuat siswa jenuh karena harus mempresentasikan hasil diskusi mereka. Demikian juga yang berperan menjadi tamu, harus bertamu ke kelompok lain. Selanjutnya, peneliti dan guru berdiskusi dan sepakat akan mengadakan siklus II sebagai perbaikan terhadap kekurangan yang ditemukan pada siklus I. Pada siklus II ini guru juga menerapkan teknik Two stay two stray.

Selanjutnya, kelemahan tersebut diperbaiki dengan pelaksanaan tindakan siklus II. Guru menerapkan teknik TSTS dalam pembelajaran menulis naskah drama. Akan tetapi, pada siklus II ini, guru tidak meminta siswa untuk mendiskusikan topik tertentu. Siswa diberi tugas untuk berdiskusi tentang LKS yang sudah ditentukan guru (Erlisnawati & Marhadi, 2015). Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak merasa bosan. Berdasarkan pelaksanaan tindakan siklus II terbukti bahwa telah terjadi peningkatan proses dan hasil pembelajaran berdiskusi dari siklus II (Lestari, Hariyani, & Rahayu, 2018).

Berdasarkan tindakan-tindakan tersebut, guru berhasil menerapkan pembelajaran berdiskusi yang mampu meningkatkan aktivitas siswa dalam diskusi (Simanungkalit, 2020). Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat untuk meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran yang efektif dan menarik di kelas. Penggunaan teknik TSTS ini juga dapat meningkatkan kerjasama siswa dalam diskusi. Hal ini disebabkan dalam teknik Two stay two stray, masing-masing siswa mempunyai peran, baik sebagai tamu maupun tuan rumah (Fitriyah, 2012). Ketika melaksanakan peran tersebut, siswa dituntut untuk aktif berbicara, mengungkapkan pendapat dan mengemukakan pertanyaan. Keberhasilan penerapan teknik Two stay two stray dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa (Rajab, 2013).

Berdasarkan uraian dan penjelasan serta data-data hasil pelaksanaan perbaikan pembelajaran sebagaimana diuraikan di atas berupa data hasil tes formatif siklus I, tes formatif siklus II dan data hasil observasi siklus I dan II maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Two stay two stray terbukti dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis teks drama di kelas IX SMPN 3 Pemalang Semester II Tahun Pelajaran 2022/2023.

Pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan sekolah pada pembelajaran bahasa Jawa di kelas IX SMPN 3 Pemalang dimulai dengan melakukan persiapan sebagai suatu keharusan untuk mencapai hasil yang benar-benar maksimal. Langkah yang pertama ini disebut pra siklus yang hasilnya nanti akan dibandingkan dengan siklus I dan siklus berikutnya yaitu siklus II (Zagoto, 2022).

A.  Deskripsi Data

1.   Pra Siklus

Hasil observasi pada prasiklus dalam menulis teks drama diperoleh data sebagaima terlihat di dalam tebel di bawah ini.

Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Hasil Tes Formatif pada Kondisi Awal

Nilai

Jumlah Siswa

Capaian

Tuntas

Ya

%

Tidak

%

40

3

120

 

 

6,09

50

7

350

 

 

17,77

60

7

420

 

 

21,32

70

4

280

 

 

14,21

80

10

800

40,61

 

 

90

0

0

 

 

 

 

100

0

0

 

 

 

 

Jumlah

31

1970

-

40,61

-

59,39

Ketuntasan

40,61

Rata-Rata

63,55

Tertinggi

80,00

Terrendah

40,00

 

Dari hasil tes formatif pada tes pendahuluan sebagaimana tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada kondisi awal hanya terdapat 10 orang siswa atau 40,61% yang mendapat nilai di atas KKM, dan sisanya sebanyak 21 siswa atau 59,39% belum memenuhi KKM =76 dengan perolehan nilai rata-rata secara klasikal sebesar 63,55.

Adapun penjelasan mengenai hasil observasi yang dinilai menggunakan 5 indikator yaitu dari aktivitas siswa adalah antusias siswa dalam mengikuti KBM, aktivitas siswa dalam mengikuti KBM, keseriusan siswa dalam mengikuti KBM, kelancaran mengemukakan ide/pendapat, ketelitian dalam mengerjakan tugas pada kegiatan pembelajaran kondisi awal sebagaimana dijelaskan pada tabel berikut ini.

 

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Kondisi Awal (Pra Siklus)

Kriteria Nilai

Jumlah

%

Keterangan

Baik Sekali

0

0,00

Tuntas

Baik

12

38,70

Tuntas

Cukup

9

29,03

Blm Tuntas

Kurang

10

32,27

Blm Tuntas

Jumlah

31

100,00

 

Adapun hasil tentang aktivitas siswa kelas IX A SMPN 3 Pemalang pada tahap pra siklus sebanyak 12 siswa atau 38,70%� yang dinyatakan tuntas karena berada dalam kriteria minimal baik , dan 9 siswa atau 29,03% dinyatakan belum tuntas karena berada dalam kriteria nilai cukup,� sebanyak 10 siswa atau 32,27% dan mendapat predikat kurang.

Setelah� mengamati� secara� langsung� proses� pembelajaran bahasa Jawa baik dari tes formatif maupun hasil pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa kelas IX A SMPN 3 Pemalang pada� tahap� prasiklus,� maka� hasilnya� didiskusikan� dengan guru mitra atau kolaborator untuk tahap berikutnya yaitu pada tahap siklus I.

 

2.   Siklus I

������ Hasil tindakan pada siklus I diperoleh data sebagaima terlihat di dalam tebel di bawah ini.

 

Tabel 3. Daftar Nilai Hasil Tes Formatif dengan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray Pada Siklus (I) Atau Pertama

 

Nilai

Jumlah Siswa

Capaian

Tuntas

Ya

%

Tidak

%

40

0

0

 

 

 

 

50

1

50

 

 

�4,55

60

5

300

 

 

13,64

70

9

630

 

 

22,73

80

15

1200

54,55

 

 

90

1

90

�4,55

 

 

100

0

0

 

 

 

 

Jumlah

31

2270

-

59,10

-

40,90

Ketuntasan

59,10

Rata-Rata

74,09

Tertinggi

90,00

Terrendah

50,00

 

Dari hasil tes formatif pada tes akhir siklus pertama sebagaimana tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada siklus� (I) atau siklus pertama terdapat� 16 siswa atau 59,09% siswa yang dinyatakan tuntas, dan sisanya sebanyak 15 siswa atau 40,91% belum memenuhi KKM dengan perolehan nilai rata-rata secara klasikal sebesar 74,09 sehingga belum memenuhi KKM sebesar� 76,00.

Sedangkan untuk aktivitas belajar dapat dilihat dalam tebel rekapitulasi kegiatan pembelajaran siklus I di bawah ini.�

 

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran pada Siklus Pertama

Kriteria Nilai

Jumlah

%

Keterangan

Baik Sekali

9

29,03

Tuntas

Baik

16

51,61

Tuntas

Cukup

6

19,36

Blm Tuntas

Kurang

0

0,00

Blm Tuntas

Jumlah

31

100

 

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan diperoleh hasil tentang aktivitas siswa kelas IX SMPN 3 Pemalang pada tahap siklus pertama sebanyak 25 siswa atau 80,64%� dan masih terdapat 6 atau 19,36% dalam kriteria cukup dan ke 6 siswa tersebut dinyatakan belum tuntas. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus pertama juga belum memenuhi kriteria keberhasilan karena secara klasikal baru terdapat 25 siswa atau 80,64% yang dinyatakan tuntas dari batasan minimal sebesar 85% dari jumlah seluruh siswa.

 

3.   Siklus II

������ Hasil tindakan pelaksanaan pembelajaran siklus II atau siklus akhir dapat dilihat di bawah ini.

 

Tabel 5. Daftar Nilai Hasil Tes Formatif dengan Model Pembelajaran

Two Stay Two Stray pada Siklus Kedua

Nilai

Jumlah Siswa

Capaian

Tuntas

Ya

%

Tidak

%

40

0

0

 

 

 

 

50

0

0

 

 

 

 

60

1

60

 

 

3,23

70

2

140

 

 

6,45

80

11

880

35,48

 

 

90

17

1530

54,84

 

 

100

0

0

0,00

 

 

Jumlah

31

2.610

-

90,32

-

9,68

Ketuntasan

90,32

Rata-Rata

84,19

Tertinggi

90,00

Terrendah

60,00

 

Dari hasil tes formatif pada tes pada akhir siklus II sebagaimana tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada siklus kedua terdapat 28 orang siswa atau 90,32% yang mendapat nilai di atas KKM, dan sisanya sebanyak 3 siswa atau 9,68% belum memenuhi KKM dengan perolehan nilai rata-rata secara klasikal sebesar 84,19, sehingga sudah memenuhi KKM sebesar 76, dan secara klasikal telah memenuhi kriteria ketuntasan yaitu minimal 85% siswa dinyatakan tuntas. Dan hasil pengamatan aktivitas pembelajaran siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Adapun penjelasan mengenai hasil observasi pada kegiatan pembelajaran siklus kedua sebagaimana dijelaskan pada tabel berikut ini. Secara rinci dapat dilihat pada bagian lampiran-lampiran.

Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran Siklus II

Kriteria Nilai

Jumlah

%

Keterangan

Baik Sekali

7

�22,58

Tuntas

Baik

23

74,19

Tuntas

Cukup

1

� 3,23

Blm Tuntas

Kurang

0

� 0,00

Blm Tuntas

Jumlah

31

100

-

 

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan diperoleh hasil tentang aktivitas siswa kelas IX A SMPN 3 Pemalang pada siklus II (kedua) sebanyak 30 siswa atau 96,77%� yang dinyatakan tuntas karena berada dalam kriteria minimal baik, terdiri dari� 7 siswa dalam kategori baik sekali dan 23 siswa dalam kategori baik, dan hanya 1 siswa atau 3,23 % yang belum tuntas. Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa secara klasikal aspek aktivitas belajar telah memenuhi kriteria ketuntasan yaitu minimal 85% siswa dinyatakan tuntas

�

HASIL PENELITIAN

Untuk mengetahui lebih jelas peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dari siklus yang satu ke siklus yang lain dapat dilihat pada penjelasan. Data Hasil Belajar Setelah melakukan analisa terhadap data yang peroleh dari kondisi awal dan dua siklus yang dilaksanakan maka dapat dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran two stay two stray pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis teks drama menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa (Handayani & Slameto, 2018).

Penjelasan secara rinci mengenai peningkatan terhadap hasil belajar siswa dari kondisi awal, siklus pertama dan siklus kedua dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

 

Tabel �� 7.������ Rekapitulasi Peningkatan Hasil Belajar Siswa dengan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

No

Siklus

Nilai Rata-2

Ketuntasan

Ket

T

%

B

%

1

Awal

63,55

10

40,61

21

59,39

2

Siklus I

74,09

16

59,10

15

40,90

3

Siklus II

84,19

28

90,32

3

9,68

 

Untuk lebih jelasnya peningkatan ketuntasan belajar siswa dan nilai rata-rata hasil belajar dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut ini:

Gambar 4.1 Diagram Batang Peningkatan Hasil dan Ketuntasan Belajar Siswa Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II (Antar Siklus)

 

Dari diagram batang di atas, diketahui terjadi peningkatan rata-rata nilai atau ketuntasas sebagai berikut; pada prasiklus atau awal siklus nilai rata-rata sebesar 63,55 dengan ketuntasan 40, 61 persen menjadi rata-rata 74, 09 dengan ketuntasan kelas 59,10 artinya terjadi kenaikan rata-rata nilai sebesara 10,54 dan kenaikan persentase sebesar 18,49%. Sedangkan dari siklus I ke siklusII terjadi kenaikan nilai rata-rata sebesar 10,10 dan kenaikan persentase sebesar 31,22 %. Sehingga secara akumulasi dari prasiklus sampai ke siklus II diperoleh kenaikan rata-rata nilai sebesar 20,64 dan kenaikan persentase sebesar 49, 71%.

�

1.     Data Hasil Observasi

Dari hasil analisis peningkatan aktivitas belajar siswa pada setiap siklus perbaikan pembelajaran yang dinilai dengan menggunakan 5 indikator, yaitu (aktivitas siswa adalah antusias siswa dalam mengikuti KBM, aktivitas siswa dalam mengikuti KBM, keseriusan siswaan dalam mengikuti KBM, kelancaran mengemukakan ide/pendapat, ketelitian dalam mengerjakan tugas �menunjukkan peningkatan yang baik. Penjelasan secara rinci mengenai peningkatan aktivitas belajar siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

 

Tabel 4.8 Rekapitulasi Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa pada Pembelajaran bahasa Jawa dengan Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II (Antar Siklus)

Siklus

Ketuntasan

Ket

T

%

B

%

Awal

12

38,70

19

61,30

 

Siklus I

25

80,64

6

19,36

 

Siklus II

30

96,77

1

3,23

 

 

Untuk lebih jelasnya hasil analisis data tentang peningkatan aktivitas belajar pada kondisi awal, siklus pertama dan kedua dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut ini :

Gambar 4.2 Diagram Batang Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II (Antar Siklus)

 

KESIMPULAN

Dari hasil analisis data yang diperoleh dari kondisi awal, siklus I dan siklus II setelah diterapkannya model pembelajaran two stay two stray menunjukkan aktivitas dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hasil rata-rata tes pada� kondisi awal sebesar 63,55, meningkat pada siklus I� menjadi 74,09 dan pada siklus terakhir menjadi 84,19, sedangkan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 10 siswa atau 40,61% dari 31 siswa pada kondisi awal, menjadi 16 siswa atau 59,09% dan 28 siswa atau 90,32% pada siklus terakhir. Penjelasan mengenai peningkatan aktivitas belajar siswa dari 10 siswa atau 40,61% pada kondisi awal meningkat menjadi 16 siswa atau 59,10% dan pada siklus terakhir menjadi 28 siswa atau 90,32%. Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran two stay two stray terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis teks drama siswa kelas IX A SMPN 3 Pemalang Tahun Pelajaran 2022/2023.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Cipta, Rineka. (2014). Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta Andartari, Susanti, Santi., & Andriani, Vidia. 2013. Pengaruh kemampuan intelektual (IQ) dan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran aku. Journal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha, 2(1).

 

Effendi, Sulaiman, & Siregar, Syarifah Ainah. (2018). Penerapan Strategi Giving Question And Getting Answer Sebagai Upaya Peningkatkan Hasil Belajar Akuntansi. Liabilities (Jurnal Pendidikan Akuntansi), 1(2), 125�137.

 

Erlisnawati, Erlisnawati, & Marhadi, Hendri. (2015). Implementasi Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV SDN 169 Pekanbaru. Primary: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 4(2), 87�97.

 

Fadllan, Andi, Hartono, Hartono, Susilo, Susilo, & Saptono, Sigit. (2022). Pengembangan Tes Kreativitas Saintifik Fluida Statis Berbasis Scientific Creativity Structure Model. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana (PROSNAMPAS), 5(1), 72�78.

 

Fitriyah, Nur Ida. (2012). Efektivitas Kooperatif Two Stay-Two Stray Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa. Journal of Biology Education, 1(2).

 

Hanafiah, Nanang, & Suhana, Cucu. (2009). Konsep strategi pembelajaran. Bandung: Refika Aditama.

 

Handayani, Nunuk, & Slameto, Elvira Hoesein Radia. (2018). Efektivitas Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Ditinjau dari Hasil Belajar Siswa Kelas V SD pada Mata Pelajaran Matematika. International Journal of Elementary Education, 2(1), 15�21.

 

Lestari, Septia Eka Cahya Arum, Hariyani, Sri, & Rahayu, Nyamik. (2018). Pembelajaran kooperatif tipe TGT (teams games tournament) untuk meningkatkan hasil belajar matematika. Pi: Mathematics Education Journal, 1(3), 116�126.

 

Ma�, Siti. (2018). Telaah Teoritis: Apa Itu Belajar? HELPER: Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 35(1), 31�46.

 

Rajab, Maryam. (2013). Penerapan Teknik Two Stay-Two Stray dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Paragraf Argumentatif Siswa Kelas X-2 SMA Negeri 11 Makassar. FBS.

 

RISKON, ARIF. (2016). HUBUNGAN KETERAMPILAN PENGELOLAAN KELAS OLEH GURU DENGAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI KLASIFIKASI BERBAGAI TIPE IKLIM KELAS X SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 SUNGAI AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA. IKIP PGRI PONTIANAK.

 

Simanungkalit, Marihot. (2020). Penerapan pembelajaran aktif kooperatif melalui metode numbered head together (nht) sebagai upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar ipa-biologi. Jurnal TIK Dalam Pendidikan, 7(1), 89�102.

 

Suratman, Asep, Afyaman, Dadi, & Rakhmasari, Rifa. (2019). Pembelajaran berbasis TIK terhadap hasil belajar matematika dan motivasi belajar matematika siswa. Jurnal Analisa, 5(1), 41�50.

 

Widiyasih, Siti. (2013). Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Drama Bahasa Jawa Dengan Penerapan Cooperative Learning Tipe Cooperative Integrated Reading And Composition (Circ) Pada Siswa Kelas Xii Ips 3 Sma 1 Kudus. UNS (Sebelas Maret University).

 

Zagoto, Maria Magdalena. (2022). Peningkatan Hasil Belajar Mahasiswa Melalui Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Word Square. Educativo: Jurnal Pendidikan, 1(1), 1�7.