PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY UNTUK
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MENULIS TEKS DRAMA
Siti
Prihatin
SMP Negeri
3 Pemalang
Abstrak:
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan untuk mengetahui,
peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan Model
Pembelajaran Two Stay Two Stray pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis
teks drama di kelas IX A SMPN 3 Pemalang Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes, observasi, dan
dokumentasi. Untuk menguji validitas data peneliti menggunakan teknik
triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Data yang terkumpul dianalisis dengan
teknik analisis data kualitatif berdasarkan indikator keberhasilan yang telah
ditetapkan. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa pada
pembelajaran bahasa Jawa materi menulis Teks drama pada siswa, mengalami
peningkatan aktivitas belajar siswa dari 12 siswa atau 38,70% pada kondisi awal
meningkat menjadi 25 siswa atau 80,64% dan pada siklus terakhir menjadi 30
siswa atau 96,77%. Peningkatan hasil belajar pada prasiklus rata-rata sebesar
63,55%, meningkat pada siklus I� menjadi 74,09
dan pada siklus II� menjadi 84,19,
sedangkan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 10 siswa atau 40,61% dari 16
siswa� 59,10 pada siklus I menjadi 28
siswa atau 90,32 %� pada siklus II.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Two Stay
Two Stray terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas
IX� A SMPN 3 Pemalang, semester 2 Tahun
Pelajaran 2022/2023.
Kata kunci: kegiatan, hasil belajar, dua tinggal dua tamu,
drama, teks.
Abstract:
This Classroom Action Research (CAR) aims
to determine the improvement of students' activity and learning outcomes by
implementing the Two Stay Two Stray Learning Model in Javanese language
instruction, specifically the topic of writing drama texts, in class IX A of
SMPN 3 Pemalang, second semester of the academic year 2022/2023. The data
collection techniques used in this research were tests, observations, and
documentation. To test the validity of the data, the researcher employed
triangulation of data sources and triangulation of methods. The collected data
were analyzed using qualitative data analysis techniques based on predetermined
success indicators. The results of this research concluded that students'
learning activities in Javanese language instruction, particularly in writing
drama texts, showed an improvement. The number of students exhibiting improved
learning activities increased from 12 students or 38.70% in the initial
condition to 25 students or 80.64% in the final cycle, and ultimately reached
30 students or 96.77% in the last cycle. The improvement in learning outcomes
averaged 63.55% in the pre-cycle, increased to 74.09% in cycle I, and further
increased to 84.19% in cycle II. The number of students who successfully
completed the task also increased from 10 students or 40.61% out of 16 students
in cycle I to 28 students or 90.32% in cycle II. In conclusion, the
implementation of the Two Stay Two Stray Learning Model has proven to enhance
the activity and learning outcomes of class IX A students at SMPN 3 Pemalang,
second semester of the academic year 2022/2023.
Keywords: activities,
learning outcomes, two stay two stray, drama, text.�������������������
Corresponding: Siti Prihatin
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah sama halnya seperti pembelajaran
bahasa-bahasa yang lain, yaitu meliputi empat kompetensi berbahasa yaitu,
membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Membaca dan mendengarkan atau
menyimak merupakan keterampilan yang bersifat reseptif dan menulis dan
berbicara merupakan keterampilan yang bersifat produktif. Menulis merupakan
keterampilan produktif dan ekspresfi. Menulis merupakan keterampilan yang
dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Dalam keterampilan
menulis ini, penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur kata, dan
kosa kata. Keterampilan ini tidak dengan begitu saja dikuasi melainkan harus
melalui latihan dan praktik. Berkaitan dengan hal tersebut, Dalam pembelajaran
bahasa Jawa di kelas IX A SMP Negeri 3 Pemalang pada materi menulis teks drama,
diperoleh hasil yang sangat rendah atau belum sesuai dengan kriteria ketuntasan
minimal (KKM) baik pada aktivitas belajar maupun pada perolehan nilainya.
Sebagaimana yang terlihat pada hasil observasi yaitu� hasil tes formatif pada tes awal atau
pendahuluan� hanya terdapat 10 orang
siswa atau 40,61% yang mendapat nilai di atas KKM, dan sisanya sebanyak 21
siswa atau 59,39% belum memenuhi KKM =76 dengan perolehan nilai rata-rata
secara klasikal sebesar 63,55.
Sebagaimana dikemukakan oleh penelitian terdahulu hasil belajar adalah
kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar (Cipta, 2014). Selanjutnya penelitian menyatakan hasil belajar seseorang ditunjukkan
dengan perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu
menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti (Suratman,
Afyaman, & Rakhmasari, 2019). Seperti yang dinyatakan oleh para peneliti, bahwa hasil belajar siswa
pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang terjadi melalui proses
pembelajaran yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotoris (Ma�, 2018).
Peneliti menjelaskan hasil belajar adalah pola pola perbuatan,
nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan (Effendi
& Siregar, 2018). Secara garis besar
klasifikasi hasil belajar terbagi menjadi tiga ranah menurut para peneliti (RISKON,
2016),
Penggunaan model pembelajaran dan alat peraga yang tepat merupakan faktor
penting untuk mencapai keberhasilan pembelajaran. Cooperative learning
merupakan strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokan siswa
dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda kedalam kelompok-kelompok kecil (Fadllan,
Hartono, Susilo, & Saptono, 2022). Dengan bekerja secara kelompok memecahkan masalah bersama diharapkan
siswa lebih aktif dan pembelajaran menjadi bermakna sehingga hasil belajar
siswa meningkat.
Salah satu cara yang dianggap dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran
dan prestasi siswa pada materi menulis teks drama berbahasa Jawa adalah dengan
menggunakan metode two stay two stray. Metode two stay two stray (dua tinggal
dua tamu) adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang memberikan
kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain.
Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan
kegiatan-kegiatan individu. Dengan tujuan mengarahkan siswa untuk aktif, baik
dalam berdiskusi, tanya jawab, mencari jawaban, menjelaskan dan juga menyimak
materi yang dijelaskan oleh teman. Dalam pembelajaran ini siswa dihadapkan pada
kegiatan mendengarkan apa yang diutarakan oleh temannya ketika sedang bertamu,
yang secara tidak langsung siswa akan dibawa untuk menyimak apa yang diutarakan
oleh anggota kelompok yang menjadi tuan rumah tersebut. Dalam proses ini, akan
terjadi kegiatan menyimak materi pada siswa.
���� �Sehingga�
yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini
adalah; 1) Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran bahasa Jawa materi menulis
teks drama melalui penerapan model pembelajaran two stay two stray siswa kelas
IX A SMPN 3 Pemalang semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 Pemalang? 2)
Bagaimana peningkatan aktivitas belajar�
peserta� didik� kelas IX A SMPN 3 Pemalang� semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 Pemalang
materi menulis teks drama pada pembelajaran bahasa Jawa melalui penerapan model
pembelajaran two stay two stray? 3) Bagaimana peningkatan prestasi� belajar�
peserta� didik� kelas IX A SMPN 3 Pemalang semester 2 Tahun
Pelajaran 2022/2023 Pemalang pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis teks
drama melalui penerapan model pembelajaran two stay two stray?
����� Adapun yang menjadi tujuan
penelitian ini dengan penerapan model pembelajaran tersebut adalah tercapai
tujuan ini yaitu:
1)
Untuk mengetahui proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran
two stay two stray pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis teks drama di
kelas IX A SMPN 3 Pemalang� semester 2
Tahun Pelajaran 2022/2023 Pemalang.
2)
Untuk mengetahui peningkatkan aktivitas belajar bahasa Jawa� materi menulis teks drama di kelas IX A SMPN
3 Pemalang semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 Pemalang melalui model pembelajaran
two stay two stray.
3)
Untuk mengetahui peningkatkan prestasi belajar bahasa Jawa� materi menulis teks drama di kelas IX A SMPN
3 Pemalang� semester 2 Tahun Pelajaran
2022/2023 Pemalang melalui model pembelajaran two stay two stray.
Model pembelajaran kooperatif Tipe two stay two stray adalah suatu model
pembelajaran dengan cara mengelompokkan siswa untuk mengerjakan tugas atau
memecahkan masalah tertentu. Teknik belajar mengajar two stay two stray�� ini memberikan kesempatan kepada kelompok
untuk membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Model pembelajaran
two stay two stray ini memberi kesempatan kepada kelompok untuk mengembangkan
hasil informasi dengan kelompok lainnya (Hanafiah, 2012:56) Selain itu,
struktur two stay two stray ini memberi kesempatan kepada kelompok untuk
membagikan hasil kesempatan kepada kelompok lain. Banyak kegiatan belajar
mengajar yang diwarnai dengan kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan
tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan
hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu
dengan yang lainnya (Djamarah, 2012:405)
METODE PENELITIAN
������
Desain penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK), yang
dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus I merupakan tindakan awal dalam
penelitian yang dilaksanakan selama dua pertemuan, dalam penelitian
keterampilan menulis teks drama, denga model two stay two stray, sedangkan
siklus II yang juga dilaksanakan dalam dua pertemuan, bertujuan untuk
memperbaiki hasil dari siklus I. Setiap siklus merupakan perencanaan, tindakan,
observasi, dan refleksi. Data diperoleh dari tes dan nontes berupa jurnal guru,
jurnal peserta didik wawancara, lembar wawancara serta dokumetasi foto. Subjek
penelitian ini adalah keterampilan menulis teks drama siswa kelas IX A SMP
Negeri 3 Pemalang.�
������
Proses pembelajaran keterampilan menulis teks drama berbahasa Jawa
dengan model two stay two Stray yaitu Teknik belajar mengajar yang memberikan
kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi kepada kelompok
lain. Model pembelajaran two stay two stray ini memberi kesempatan kepada
kelompok untuk mengembangkan hasil informasi dengan kelompok lainnya (Hanafiah & Suhana, 2009).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan survei
awal yang bertujuan untuk mengetahui kondisi awal pembelajaran menulis
khususnya menulis naskah drama (Widiyasih, 2013). Selain itu, survei awal ini juga
dimanfaatkan untuk mengetahui kemampuan awal menulis naskah drama siswa.
Berdasarkan kegiatan survei awal ini, peneliti menyimpulkan bahwa kualitas
proses dan hasil pembelajaran menulis naskah drama siswa IX A SMPN 3 Pemalang
masih perlu diperbaiki. Kemudian, peneliti berkolaborasi dengan guru untuk
mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan teknik Two stay two stray dalam
proses pembelajaran menulis naskah drama. Setelah itu, peneliti dan guru
menyusun rencana untuk siklus I. Pada pelaksanaan tindakan siklus I ini,
pembelajaran menulis naskah drama diterapkan dengan teknik Two stay two
stray (dua tinggal dua tamu). Dalam kenyataannya, masih terdapat kelemahan
atau kekurangan pada siklus I.
1)
Sebagian
siswa masih melakukan aktivitas pribadi, seperti menganggu teman, berbicara dan
bercanda dengan teman.
2)
Siswa
masih ada yang malu mengungkapkan pendapat dalam diskusi.
3)
Ketika
berbicara, beberapa siswa berbicara dengan struktur dan kosakata yang kurang
tepat.
4)
Ada
beberapa siswa yang masih menggunakan bahasa Jawa yang dicampur dengan bahasa
Indonesia ketika berpendapat.
5)
Siswa
juga kurang kritis dalam menanggapi gagasan yang dikemukakan siswa lain.
6)
Siswa
kurang bisa mengoptimalkan waktu dengan baik. Ketika waktu yang diberikan guru
sudah habis, siswa sering belum selesai dalam berdiskusi.
7)
Siswa
belum melaksanakan peran dalam kegiatan pembelajaran melalui penerapan model
pembelajaran two stay two stray.
8)
ketika
refleksi, hanya ada siswa yang memberikan komentar atas pembelajaran diskusi
hari itu.�
Selanjutnya kelemahan dari penerapan teknik TSTS ini yaitu:
1.
Siswa masih merasa
metode TSTS itu asing dan baru sehingga belum begitu memahami pelaksanaan diskusi
dengan teknik ini.
2.
Teknik diskusi yang
bertamu ke kelompok lain ini membuat siswa jenuh karena harus mempresentasikan
hasil diskusi mereka. Demikian juga yang berperan menjadi tamu, harus bertamu
ke kelompok lain. Selanjutnya, peneliti dan guru berdiskusi dan sepakat akan mengadakan
siklus II sebagai perbaikan terhadap kekurangan yang ditemukan pada siklus I.
Pada siklus II ini guru juga menerapkan teknik Two stay two stray.
Selanjutnya, kelemahan tersebut diperbaiki dengan pelaksanaan tindakan
siklus II. Guru menerapkan teknik TSTS dalam pembelajaran menulis naskah drama.
Akan tetapi, pada siklus II ini, guru tidak meminta siswa untuk mendiskusikan
topik tertentu. Siswa diberi tugas untuk berdiskusi tentang LKS yang sudah
ditentukan guru (Erlisnawati & Marhadi, 2015). Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak merasa
bosan. Berdasarkan pelaksanaan tindakan siklus II terbukti bahwa telah terjadi
peningkatan proses dan hasil pembelajaran berdiskusi dari siklus II (Lestari, Hariyani, & Rahayu, 2018).
Berdasarkan tindakan-tindakan tersebut, guru berhasil menerapkan
pembelajaran berdiskusi yang mampu meningkatkan aktivitas siswa dalam diskusi (Simanungkalit, 2020). Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat
untuk meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran yang efektif
dan menarik di kelas. Penggunaan teknik TSTS ini juga dapat meningkatkan
kerjasama siswa dalam diskusi. Hal ini disebabkan dalam teknik Two stay two
stray, masing-masing siswa mempunyai peran, baik sebagai tamu maupun tuan
rumah (Fitriyah, 2012). Ketika melaksanakan peran tersebut, siswa
dituntut untuk aktif berbicara, mengungkapkan pendapat dan mengemukakan
pertanyaan. Keberhasilan penerapan teknik Two stay two stray dalam
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa (Rajab, 2013).
Berdasarkan
uraian dan penjelasan serta data-data hasil pelaksanaan perbaikan pembelajaran
sebagaimana diuraikan di atas berupa data hasil tes formatif siklus I, tes
formatif siklus II dan data hasil observasi siklus I dan II maka dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran Two stay two stray terbukti dapat
meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran bahasa
Jawa materi menulis teks drama di kelas IX SMPN 3 Pemalang Semester II Tahun Pelajaran
2022/2023.
Pelaksanaan
kegiatan penelitian tindakan sekolah pada pembelajaran bahasa Jawa di kelas IX
SMPN 3 Pemalang dimulai dengan melakukan persiapan sebagai suatu keharusan
untuk mencapai hasil yang benar-benar maksimal. Langkah yang pertama ini
disebut pra siklus yang hasilnya nanti akan dibandingkan dengan siklus I dan
siklus berikutnya yaitu siklus II (Zagoto, 2022).
A. Deskripsi
Data
1. Pra Siklus
Hasil observasi pada
prasiklus dalam menulis teks drama diperoleh data sebagaima terlihat di dalam
tebel di bawah ini.
Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Hasil Tes Formatif pada
Kondisi Awal
|
Nilai |
Jumlah Siswa |
Capaian |
Tuntas |
|||
|
Ya |
% |
Tidak |
% |
|||
|
40 |
3 |
120 |
|
|
√ |
6,09 |
|
50 |
7 |
350 |
|
|
√ |
17,77 |
|
60 |
7 |
420 |
|
|
√ |
21,32 |
|
70 |
4 |
280 |
|
|
√ |
14,21 |
|
80 |
10 |
800 |
√ |
40,61 |
|
|
|
90 |
0 |
0 |
|
|
|
|
|
100 |
0 |
0 |
|
|
|
|
|
Jumlah |
31 |
1970 |
- |
40,61 |
- |
59,39 |
|
Ketuntasan |
40,61 |
|||||
|
Rata-Rata |
63,55 |
|||||
|
Tertinggi |
80,00 |
|||||
|
Terrendah |
40,00 |
|||||
Dari
hasil tes formatif pada tes pendahuluan sebagaimana tabel di atas dapat
dijelaskan bahwa pada kondisi awal hanya terdapat 10 orang siswa atau 40,61%
yang mendapat nilai di atas KKM, dan sisanya sebanyak 21 siswa atau 59,39%
belum memenuhi KKM =76 dengan perolehan nilai rata-rata secara klasikal sebesar
63,55.
Adapun
penjelasan mengenai hasil observasi yang dinilai menggunakan 5 indikator yaitu
dari aktivitas siswa adalah antusias siswa dalam mengikuti KBM, aktivitas siswa dalam
mengikuti KBM, keseriusan siswa dalam
mengikuti KBM, kelancaran mengemukakan
ide/pendapat, ketelitian dalam mengerjakan
tugas pada kegiatan pembelajaran kondisi awal sebagaimana dijelaskan pada tabel
berikut ini.
Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada
Kondisi Awal (Pra Siklus)
|
Kriteria Nilai |
Jumlah |
% |
Keterangan |
|
Baik Sekali |
0 |
0,00 |
Tuntas |
|
Baik |
12 |
38,70 |
Tuntas |
|
Cukup |
9 |
29,03 |
Blm Tuntas |
|
Kurang |
10 |
32,27 |
Blm Tuntas |
|
Jumlah |
31 |
100,00 |
Adapun hasil tentang
aktivitas siswa kelas IX A SMPN 3 Pemalang pada tahap pra siklus sebanyak 12
siswa atau 38,70%� yang dinyatakan tuntas
karena berada dalam kriteria minimal baik , dan 9 siswa atau 29,03% dinyatakan
belum tuntas karena berada dalam kriteria nilai cukup,� sebanyak 10 siswa atau 32,27% dan mendapat
predikat kurang.
Setelah� mengamati�
secara� langsung� proses�
pembelajaran bahasa Jawa baik dari tes formatif maupun hasil pengamatan
terhadap aktivitas belajar siswa kelas IX A SMPN 3 Pemalang pada� tahap�
prasiklus,� maka� hasilnya�
didiskusikan� dengan guru mitra atau
kolaborator untuk tahap berikutnya yaitu pada tahap siklus I.
2. Siklus I
������
Hasil tindakan pada siklus I diperoleh data sebagaima terlihat di dalam
tebel di bawah ini.
Tabel 3. Daftar Nilai Hasil
Tes Formatif dengan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray Pada Siklus (I) Atau Pertama
|
Nilai |
Jumlah Siswa |
Capaian |
Tuntas |
|||
|
Ya |
% |
Tidak |
% |
|||
|
40 |
0 |
0 |
|
|
|
|
|
50 |
1 |
50 |
|
|
√ |
�4,55 |
|
60 |
5 |
300 |
|
|
√ |
13,64 |
|
70 |
9 |
630 |
|
|
√ |
22,73 |
|
80 |
15 |
1200 |
√ |
54,55 |
|
|
|
90 |
1 |
90 |
√ |
�4,55 |
|
|
|
100 |
0 |
0 |
|
|
|
|
|
Jumlah |
31 |
2270 |
- |
59,10 |
- |
40,90 |
|
Ketuntasan |
59,10 |
|||||
|
Rata-Rata |
74,09 |
|||||
|
Tertinggi |
90,00 |
|||||
|
Terrendah |
50,00 |
|||||
Dari hasil tes formatif pada
tes akhir siklus pertama sebagaimana tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada
siklus� (I) atau siklus pertama
terdapat� 16 siswa atau 59,09% siswa yang
dinyatakan tuntas, dan sisanya sebanyak 15 siswa atau 40,91% belum memenuhi KKM
dengan perolehan nilai rata-rata secara klasikal sebesar 74,09 sehingga belum
memenuhi KKM sebesar� 76,00.
Sedangkan untuk aktivitas
belajar dapat dilihat dalam tebel rekapitulasi kegiatan pembelajaran siklus I
di bawah ini.�
Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Observasi Kegiatan
Pembelajaran pada Siklus Pertama
|
Kriteria Nilai |
Jumlah |
% |
Keterangan |
|
Baik Sekali |
9 |
29,03 |
Tuntas |
|
Baik |
16 |
51,61 |
Tuntas |
|
Cukup |
6 |
19,36 |
Blm Tuntas |
|
Kurang |
0 |
0,00 |
Blm Tuntas |
|
Jumlah |
31 |
100 |
Berdasarkan hasil pengamatan yang
telah dilakukan diperoleh hasil tentang aktivitas siswa kelas IX SMPN 3
Pemalang pada tahap siklus pertama sebanyak 25 siswa atau 80,64%� dan masih terdapat 6 atau 19,36% dalam
kriteria cukup dan ke 6 siswa tersebut dinyatakan belum tuntas. Dari hasil
tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus pertama
juga belum memenuhi kriteria keberhasilan karena secara klasikal baru terdapat
25 siswa atau 80,64% yang dinyatakan tuntas dari batasan minimal sebesar 85%
dari jumlah seluruh siswa.
3. Siklus II
������
Hasil tindakan pelaksanaan pembelajaran siklus II atau siklus akhir
dapat dilihat di bawah ini.
Tabel 5. Daftar Nilai Hasil
Tes Formatif dengan Model Pembelajaran
Two Stay Two Stray pada
Siklus Kedua
|
Nilai |
Jumlah Siswa |
Capaian |
Tuntas |
|||
|
Ya |
% |
Tidak |
% |
|||
|
40 |
0 |
0 |
|
|
|
|
|
50 |
0 |
0 |
|
|
|
|
|
60 |
1 |
60 |
|
|
√ |
3,23 |
|
70 |
2 |
140 |
|
|
√ |
6,45 |
|
80 |
11 |
880 |
√ |
35,48 |
|
|
|
90 |
17 |
1530 |
√ |
54,84 |
|
|
|
100 |
0 |
0 |
√ |
0,00 |
|
|
|
Jumlah |
31 |
2.610 |
- |
90,32 |
- |
9,68 |
|
Ketuntasan |
90,32 |
|||||
|
Rata-Rata |
84,19 |
|||||
|
Tertinggi |
90,00 |
|||||
|
Terrendah |
60,00 |
|||||
Dari hasil tes formatif pada
tes pada akhir siklus II sebagaimana tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada
siklus kedua terdapat 28 orang siswa atau 90,32% yang mendapat nilai di atas
KKM, dan sisanya sebanyak 3 siswa atau 9,68% belum memenuhi KKM dengan
perolehan nilai rata-rata secara klasikal sebesar 84,19, sehingga sudah
memenuhi KKM sebesar 76, dan secara klasikal telah memenuhi kriteria ketuntasan
yaitu minimal 85% siswa dinyatakan tuntas. Dan hasil pengamatan aktivitas
pembelajaran siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Adapun penjelasan mengenai
hasil observasi pada kegiatan pembelajaran siklus kedua sebagaimana dijelaskan
pada tabel berikut ini. Secara rinci dapat dilihat pada bagian
lampiran-lampiran.
Tabel 6. Rekapitulasi Hasil
Observasi Kegiatan Pembelajaran Siklus II
|
Kriteria Nilai |
Jumlah |
% |
Keterangan |
|
Baik Sekali |
7 |
�22,58 |
Tuntas |
|
Baik |
23 |
74,19 |
Tuntas |
|
Cukup |
1 |
� 3,23 |
Blm Tuntas |
|
Kurang |
0 |
� 0,00 |
Blm Tuntas |
|
Jumlah |
31 |
100 |
- |
Berdasarkan hasil pengamatan
yang telah dilakukan diperoleh hasil tentang aktivitas siswa kelas IX A SMPN 3
Pemalang pada siklus II (kedua) sebanyak 30 siswa atau 96,77%� yang dinyatakan tuntas karena berada dalam
kriteria minimal baik, terdiri dari� 7
siswa dalam kategori baik sekali dan 23 siswa dalam kategori baik, dan hanya 1
siswa atau 3,23 % yang belum tuntas. Dari penjelasan di atas maka dapat
disimpulkan bahwa secara klasikal aspek aktivitas belajar telah memenuhi
kriteria ketuntasan yaitu minimal 85% siswa dinyatakan tuntas
�
HASIL PENELITIAN
Untuk
mengetahui lebih jelas peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dari
siklus yang satu ke siklus yang lain dapat dilihat pada penjelasan. Data Hasil
Belajar Setelah melakukan analisa terhadap data yang peroleh dari kondisi awal
dan dua siklus yang dilaksanakan maka dapat dapat disimpulkan bahwa penggunaan
model pembelajaran two stay two stray
pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis teks drama menunjukkan peningkatan
yang signifikan terhadap hasil belajar siswa (Handayani & Slameto,
2018).
Penjelasan
secara rinci mengenai peningkatan terhadap hasil belajar siswa dari kondisi
awal, siklus pertama dan siklus kedua dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel �� 7.������ Rekapitulasi
Peningkatan Hasil Belajar Siswa dengan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
|
No |
Siklus |
Nilai Rata-2 |
Ketuntasan |
Ket |
|||
|
T |
% |
B |
% |
||||
|
1 |
Awal |
63,55 |
10 |
40,61 |
21 |
59,39 |
|
|
2 |
Siklus I |
74,09 |
16 |
59,10 |
15 |
40,90 |
|
|
3 |
Siklus II |
84,19 |
28 |
90,32 |
3 |
9,68 |
|
Untuk lebih
jelasnya peningkatan ketuntasan belajar siswa dan nilai rata-rata hasil belajar
dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut ini:

Gambar 4.1 Diagram
Batang Peningkatan Hasil dan Ketuntasan Belajar Siswa
Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II (Antar Siklus)
Dari diagram batang di
atas, diketahui terjadi peningkatan rata-rata nilai atau ketuntasas sebagai
berikut; pada prasiklus atau awal siklus nilai rata-rata sebesar 63,55 dengan
ketuntasan 40, 61 persen menjadi rata-rata 74, 09 dengan ketuntasan kelas 59,10
artinya terjadi kenaikan rata-rata nilai sebesara 10,54 dan kenaikan persentase
sebesar 18,49%. Sedangkan dari siklus I ke siklusII terjadi kenaikan nilai
rata-rata sebesar 10,10 dan kenaikan persentase sebesar 31,22 %. Sehingga
secara akumulasi dari prasiklus sampai ke siklus II diperoleh kenaikan
rata-rata nilai sebesar 20,64 dan kenaikan persentase sebesar 49, 71%.
�
1. Data Hasil Observasi
Dari hasil analisis peningkatan aktivitas belajar siswa pada setiap
siklus perbaikan pembelajaran yang dinilai dengan menggunakan 5 indikator,
yaitu (aktivitas siswa adalah antusias siswa dalam
mengikuti KBM, aktivitas siswa dalam mengikuti
KBM, keseriusan siswaan dalam mengikuti KBM,
kelancaran mengemukakan ide/pendapat, ketelitian dalam mengerjakan tugas �menunjukkan peningkatan yang baik. Penjelasan
secara rinci mengenai peningkatan aktivitas belajar siswa dapat dilihat pada
tabel di bawah ini:
Tabel 4.8 Rekapitulasi Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa pada
Pembelajaran bahasa Jawa dengan Penerapan Model
Pembelajaran Two Stay Two Stray pada Kondisi Awal,
Siklus I dan Siklus II (Antar Siklus)
|
Siklus |
Ketuntasan |
Ket |
|||
|
T |
% |
B |
% |
||
|
Awal |
12 |
38,70 |
19 |
61,30 |
|
|
Siklus I |
25 |
80,64 |
6 |
19,36 |
|
|
Siklus II |
30 |
96,77 |
1 |
3,23 |
|
Untuk lebih jelasnya hasil analisis data tentang peningkatan aktivitas
belajar pada kondisi awal, siklus pertama dan kedua dapat dilihat pada gambar
diagram batang berikut ini :

Gambar 4.2 Diagram
Batang Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa pada
Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II (Antar Siklus)
KESIMPULAN
Dari hasil
analisis data yang diperoleh dari kondisi awal, siklus I dan siklus II setelah
diterapkannya model pembelajaran two stay two stray menunjukkan aktivitas dan
hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hasil rata-rata tes pada� kondisi awal sebesar 63,55, meningkat pada
siklus I� menjadi 74,09 dan pada siklus
terakhir menjadi 84,19, sedangkan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 10 siswa
atau 40,61% dari 31 siswa pada kondisi awal, menjadi 16 siswa atau 59,09% dan
28 siswa atau 90,32% pada siklus terakhir. Penjelasan mengenai peningkatan
aktivitas belajar siswa dari 10 siswa atau 40,61% pada kondisi awal meningkat
menjadi 16 siswa atau 59,10% dan pada siklus terakhir menjadi 28 siswa atau
90,32%. Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran two stay two stray terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa pada pembelajaran bahasa Jawa materi menulis teks drama siswa
kelas IX A SMPN 3 Pemalang Tahun Pelajaran 2022/2023.
DAFTAR PUSTAKA
Cipta,
Rineka. (2014). Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan bagi anak berkesulitan
belajar. Jakarta: Rineka Cipta Andartari, Susanti, Santi., & Andriani,
Vidia. 2013. Pengaruh kemampuan intelektual (IQ) dan motivasi belajar terhadap
hasil belajar siswa pada mata pelajaran aku. Journal Mimbar PGSD Universitas
Pendidikan Ganesha, 2(1).
Effendi,
Sulaiman, & Siregar, Syarifah Ainah. (2018). Penerapan Strategi Giving
Question And Getting Answer Sebagai Upaya Peningkatkan Hasil Belajar Akuntansi.
Liabilities (Jurnal Pendidikan Akuntansi), 1(2), 125�137.
Erlisnawati,
Erlisnawati, & Marhadi, Hendri. (2015). Implementasi Model Pembelajaran
Berdasarkan Masalah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV SDN 169
Pekanbaru. Primary: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 4(2),
87�97.
Fadllan,
Andi, Hartono, Hartono, Susilo, Susilo, & Saptono, Sigit. (2022).
Pengembangan Tes Kreativitas Saintifik Fluida Statis Berbasis Scientific
Creativity Structure Model. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana
(PROSNAMPAS), 5(1), 72�78.
Fitriyah,
Nur Ida. (2012). Efektivitas Kooperatif Two Stay-Two Stray Terhadap Aktivitas
dan Hasil Belajar Siswa. Journal of Biology Education, 1(2).
Hanafiah,
Nanang, & Suhana, Cucu. (2009). Konsep strategi pembelajaran. Bandung:
Refika Aditama.
Handayani,
Nunuk, & Slameto, Elvira Hoesein Radia. (2018). Efektivitas Model
Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Ditinjau dari Hasil Belajar Siswa Kelas
V SD pada Mata Pelajaran Matematika. International Journal of Elementary
Education, 2(1), 15�21.
Lestari,
Septia Eka Cahya Arum, Hariyani, Sri, & Rahayu, Nyamik. (2018).
Pembelajaran kooperatif tipe TGT (teams games tournament) untuk meningkatkan
hasil belajar matematika. Pi: Mathematics Education Journal, 1(3),
116�126.
Ma�,
Siti. (2018). Telaah Teoritis: Apa Itu Belajar? HELPER: Jurnal Bimbingan Dan
Konseling, 35(1), 31�46.
Rajab,
Maryam. (2013). Penerapan Teknik Two Stay-Two Stray dalam Meningkatkan
Kemampuan Menulis Paragraf Argumentatif Siswa Kelas X-2 SMA Negeri 11 Makassar.
FBS.
RISKON,
ARIF. (2016). HUBUNGAN KETERAMPILAN PENGELOLAAN KELAS OLEH GURU DENGAN HASIL
BELAJAR SISWA PADA MATERI KLASIFIKASI BERBAGAI TIPE IKLIM KELAS X SEKOLAH
MENENGAH ATAS NEGERI 1 SUNGAI AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA. IKIP PGRI
PONTIANAK.
Simanungkalit,
Marihot. (2020). Penerapan pembelajaran aktif kooperatif melalui metode
numbered head together (nht) sebagai upaya meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar ipa-biologi. Jurnal TIK Dalam Pendidikan, 7(1), 89�102.
Suratman,
Asep, Afyaman, Dadi, & Rakhmasari, Rifa. (2019). Pembelajaran berbasis TIK
terhadap hasil belajar matematika dan motivasi belajar matematika siswa. Jurnal
Analisa, 5(1), 41�50.
Widiyasih,
Siti. (2013). Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Drama Bahasa Jawa Dengan
Penerapan Cooperative Learning Tipe Cooperative Integrated Reading And
Composition (Circ) Pada Siswa Kelas Xii Ips 3 Sma 1 Kudus. UNS (Sebelas
Maret University).
Zagoto,
Maria Magdalena. (2022). Peningkatan Hasil Belajar Mahasiswa Melalui
Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Word Square. Educativo: Jurnal
Pendidikan, 1(1), 1�7.