TRAUMA HEALING
UNTUK WARGA TERDAMPAK MUSIBAH TANAH BERGERAK DI DESA SRIDADI KECAMATAN SIRAMPOG
Esti Nur Janah1, Titis Wening Setyoharsih2, Ridho Imanullah3, Wafa Hilmi Hamidah4, Jaka Arya Purnomo5, Ikhtimam Farkhan Abdi Saputra6
Akademi Keperawatan Al Hikmah 2 Brebes
Abstrak:
Dampak dari bencana
alam mengakibatkan trauma sedang dan akut. Maka dari itu dibutuhkan pemulihan
mental/emosional agar tidak terpuruk dalam ketakutan yang terus menghantui.
Pemulihan trauma ini disebutkan dengan istilah Trauma Healing. Trauma healing dapat
diartikan sebagai upaya untuk menyembuhkan dan mendamaikan seseorang yang
mengalami kegoncangan jiwa yang diakibatkan oleh sebab-sebab tertentu seperti
bencana alam, kecelakaan, dan masalah kehidupan lainnya yang dilakukan oleh
perorangan atau kelompok tertentu. Tujuan dari Pembinaan Trauma Healing adalah
agar korban mampu memikirkan hal yang positif saat mengingat kejadian traumatis
tersebut. Metode yang digunakan adalah Participatory Rapid Appraisal (PRA) atau
penilaian desa secara partisipatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa seluruh peserta merasakan
manfaat dari kegiatan yakni merasakan lebih kuat dan Ikhlas menerima musibah
yang terjadi, peserta mengatakan bahwa musibah yang dialami tidak hanya
dirasakan sendiri tetapi banyak yang bernasib sama sehingga hal ini menambah
erat persaudaraan dan rasa berbagi. Warga juga
merasakan dampak dari trauma healing berupa perasaan lebih senang, walaupun
saat ini mereka sedang ditimpa musibah namun mereka tetap membutuhkan hiburan
dan kesenangan jasmani maupun Rohani.
Kata kunci: Trauma Healing, Musibah, dan Longsor
Abstract:
The impact of natural disasters
results in moderate and acute trauma. Therefore, mental/emotional recovery is
needed so that you don't sink into the fear that continues to haunt you. This
trauma recovery is known as Trauma Healing. Trauma healing can be interpreted
as an effort to heal and reconcile someone who is experiencing mental turmoil
caused by certain causes such as natural disasters, accidents, and other life
problems committed by certain individuals or groups. The goal of Trauma Healing
Coaching is for the victim to be able to think positive things when remembering
the traumatic incident. The method used is Participatory Rapid Appraisal (PRA)
or participatory village assessment. The results of the study stated that all
participants felt the benefits of the activity, namely feeling stronger and
willing to accept the calamities that occurred, participants said that the
calamities experienced were not only felt by themselves but many had the same
fate, so this added to the closeness of brotherhood and a sense of sharing.
Residents also feel the impact of trauma healing in the form of feeling
happier, even though they are currently being hit by a disaster but they still
need entertainment and pleasure both physically and spiritually.
Keywords: Trauma Healing, Disaster, and
Landslide
Corresponding: Esti Nur
Janah
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Dewasa ini
banyak kejadian atau peristiwa yang kerap kita alami dalam kehidupan ini. Peristiwa
itu terjadi bisa berupa hal baik atau buruk. Merujuk pada hal itu, bagaimana pun
terjadinya suatu peritiwa dalam hidup seseorang, akan menjadi suatu yang
berharga dan akan dijadikan pengalaman. Manusia pasti sudah akan paham apa yang
dimaksud dengan bencana alam. Bencana alam yang menimpa manusia tentu akan
mengakibatkan kerusakan ringan, sedang, ataupun berat, yang akan berdampak
dalam proses berlangsungnya kehidupan. Bencana alam adalah suatu peristiwa yang
terbagi menjadi dua berdasarkan pemicunya. Pertama, bencana alam yang terjadi
secara alamiah seperti banjir, erupsi gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah
bergerak dan lain-lain (Pratiwi, 2020).
Setelah
peristiwa bencana, sebagian besar populasi korban bencana tetap memiliki reaksi
psikologis yang normal, sekitar 15-20% akan mengalami gangguan mental ringan
atau sedang yang merujuk pada kondisi Post Traumatic Stress Disorder (PTSD),
sementara 3-4% akan mengalami gangguan berat seperti psikosis, depresi berat
dan kecemasan yang tinggi (Dwidiyanti et al., 2018). Hasil penelitian yang dilakuka pada korban gempa menunjukkan bahwa
sebanyak 85,2% mengalami gejala neurosis, 29,5% mengalami gejala psikotik, dan
64,7% korban mengalami gejala PTSD (Thoyibah et al.,
2020). Sedangkan pada anak korban gempa ditemukan 85,11% mengalami kecemasan
normal dan 14,89% mengalami kecemasan berat (Thoyibah et al.,
2019).
Di Indonesia
prevalensi terkait gangguan kecemasan menurut hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke
atas atau sekitar 14 juta penduduk di Indonesia mengalami gangguan mental
emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala kecemasan dan depresi. Gangguan
kecemasan merupakan bentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang
menakutkan, mengerikan, dan tidak menyenangkan karena merasa terancam.
Penelitian yang dilakukan oleh Louis Najarian, 2011 setelah gempa bumi anak anak
yang mengalami bencana gempa bumi tersebut lebih banyak mengalami gangguan
kecemasan dibandingkan PTSD atau gangguan depresi. Kecemasan pasca bencana
dapat terjadi secara cepat, atau mungkin ditimbulkan oleh stres ringan dengan
kurun waktu lama. Perasaan kecemasan muncul saat kondisi stress pasca bencana,
terjadi secara berkelanjutan yang mengakibatkan kondisi kecemasan berat dan
akan terpusat pada diri sendiri tanpa memperhatikan kondisi dilingkungan
sekitar, merasa khawatir berlebihan tentang kemungkinan apa yang dilakukan (ASIH, 2018).
Dampak dari
bencana alam mengakibatkan trauma sedang dan akut. Maka dari itu dibutuhkan
pemulihan mental/emosional agar tidak terpuruk dalam ketakutan yang terus
menghantui. Pemulihan trauma ini disebutkan dengan istilah Trauma Healing.
Trauma healing adalah suatu proses memulihkan emosi korban dari ketakutan di
masa lalu. Dengan cara ini, mereka bisa bertahan hidup kembali tanpa
bayang-bayang masa lalu. Trauma healing dapat diartikan sebagai upaya untuk
menyembuhkan dan mendamaikan seseorang yang mengalami kegoncangan jiwa yang
diakibatkan oleh sebab-sebab tertentu seperti bencana alam, kecelakaan, dan
masalah kehidupan lainnya yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok
tertentu. Tujuannya adalah agar korban mampu memikirkan hal yang positif saat
mengingat kejadian traumatis tersebut. Adapun lama prosesnya bisa memakan waktu
hingga sekitar tiga bulan. Trauma healing yang satu ini akan mengajarkan korban
beberapa cara untuk menghilangkan stres dan menjadi lebih rileks (Siregar et al., 2022).
Peran
perawat pasca bencana yaitu dimana perawat sangat berperan penting dalam
kesiapsiagaan bencana, terutama dalam respons/pemulihan dan evaluasi. Serta
dalam mengurangi kerentanan dan meminimalkan resiko dalam suatu bencana (Hapsoro &
Buchori, 2015). Peraturan kepala BNPB No. 11 Tahun 2008 tersebut menegaskan tentang
pentingnya upaya pemulihan sosial psikologis yang bertujuan agar masyarakat
mampu melakukan tugas sosial seperti sebelum terjadi bencana, serta tercegah
dari mengalami dampak psikologis lebih lanjut yang mengarah pada gangguan
kesehatan mental. Pemulihan sosial psikologis didefinisikan sebagai pemberian
bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak bencana agar dapat berfungsi
kembali secara normal. Kegiatan pemulihan ini mencakup beragam aktivitas
seperti kegiatan psikososial, intervensi psikologis, bantuan konseling dan
konsultasi keluarga, serta pendampingan pemulihan trauma secara terstruktur
dengan berbagai metode terapi psikologis (Fadilah, 2018).
Manfaat trauma healing adalah mampu mengalihkan pikiran buruk terhadap
bencana agar warga tidak berlarut-larut dalam kesedihan serta bisa mengambil
hikmahnya. Dalam prosedurnya, mereka akan diajak melakukan kegiatan yang
menyenangkan sehingga bisa melupakan trauma terhadap bencana (LESTA, 2021).
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan
adalah Participatory Rapid Appraisal (PRA) atau penilaian desa secara partisipatif
yang dilakukan melalui berbagai kegiatan sebagai berikut:
a.
Pemetaan wilayah dan
kegiatan yang terkait dengan topik penilaian keadaan.
b.
�Analisis keadaan yang berupa :
1.
Keadaan masa lalu,
sekarang dan kecenderungan di masa depan.
2.
Identifikasi tentang
perubahan-perubahan yang terjadi dan alasan-alasan atau penyebabnya.
3.
Identifikasi (akar)
masalah dan alternatif-alternatif pemecahan masalah.
4.
Kekuatan, kelemahan,
peluang dan ancaman atau analisis strenght, weakness, opportunity and threat
(SWOT) terhadap semua alternatif pemecahan masalah.
c.
Pemilihan alternatif
pemecahan masalah yang paling layak atau dapat dihandalkan (dapat dilaksanakan,
efisien dan diterima oleh sistem sosialnya).
d.
Rincian tentang
stakeholders dan peran yang diharapkan dari para pihak, serta jumlah dan sumber-sumber
pembiayaan yang dapat diharapkan untuk melaksanakan program kegiatan yang akan diusulkan/direkomendasikan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Definisi Trauma
Healing
Trauma
healing adalah proses pemulihan emosi korban terhadap ketakutan masa lalu yang
masih menyisakan luka batin (membekas), perasaan cemas dan sangat mengganggu,
terbayang-bayang dengan peristiwa bencana, mimpi buruk yang menyebabkan
kesulitan tidur, dan kondisi fisik seseorang menjadi siaga ketika mengingat
ataupun memikirkan trauma yang dialami. Melihat dampak trauma tersebut maka
perlu tindakan yang harus dilakukan untuk menghilangkan trauma. Dampak dari
gangguan trauma itu sendiri tentu bervariasi, dari yang ringan sampai yang
berat. Gejala psikis yang muncul dari trauma tidak bisa dibiarkan
berlarut-larut. Para korban harus dibantu agar pulih kondisi psikologisnya dari
pengalaman traumatis melalui pemulihan trauma (Trauma Healing).
2.
Tujuan
Tujuan dari
Pembinaan Trauma Healing adalah agar korban mampu memikirkan hal yang positif
saat mengingat kejadian traumatis tersebut. Adapun lama prosesnya bisa memakan
waktu hingga sekitar tiga bulan. Trauma healing yang satu ini akan mengajarkan
korban beberapa cara untuk menghilangkan stres dan menjadi lebih rileks. Orang
dewasa yang dimana anggapan wajar dalam masyarkat bahwa orang dewasa adalah
orang yang mempunyai kematangan diri termasuk dalam pengelolaan pola pikir.
Ditinjau dalam aspek mental/emosional seseorang, orang dewasa sekalipun akan
tetap merasakan rasa takut dan cemas pada suatu kondisi yang mengancam
keselamatan (Selan, 2006).
3.
Prosedur kegiatan
Beberapa
pembinaan yang dapat dilakukan dalam kegiatan Trauma Healing atau cara
mengatasi trauma pasca bencana sebagai berikut (Siregar et al., 2022):
a.
Beri waktu untuk
menyesuaikan diri. Tidaklah mudah untuk menyesuaikan diri pasca bencana
terjadi, efek dari bencana dianggap sebagian orang biasa saja dan ada yang
menganggapnya sulit untuk dilupakan (Masrukin, 2020). Maka dari itu berilah waktu untuk korban menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekitarnya, jangan memaksakan kehendak bahwa korban harus melupakan
tragedi itu dan menganggapnya tidak pernah terjadi.
b. Beri dukungan (motivasi). Dukungan penting bagi korban, karena mereka
akan merasa bahwa
mereka tidak sendirian dalam hal traumatisnya. Dukungan positif yang dapat diberikan
berupa kata-kata semangat, mendengarkan cerita mereka, dan memberi solusi
mengenai traumatisnya
(Irwanto &
Kumala, 2020). Contoh korban mengalami insomnia akibat terlalu waspada akan kedatangan
gempa susulan �yang dapat dilakukan
adalah memberikan obat. Farmakoterapi merupakan metode syok healing yang
melibatkan penggunaan obat-obatan dalam mengelola reaksi syok atau trauma yang
mengganggu seseorang
(Isa &
Armansyah, 2021). Obat-obatan sudah terbukti membantu menggunakan reaksi atau tanda-tanda
seperti gejala intruksi, hyperarousal, reaksi emosional, sifat lekas marah, dan
depresi.
c.
Lakukan kembali
rutinitas harian. Rutinitass harian adalah pola kegiatan keseharian yang biasa
dilakukan (Irsandi, 2022). Tidak menutup kemungkinan bahwa korban akan malas melakukan rutinitas
karena masih merasakan takut. Jadi pembinaan yang perlu dilakukan dapat berupa
menyadarkan korban dengan memberikan arahan bahwa rasa takut itu harus dihadapi
bukan dihindari. Rutinitas harian ini dapat berguna mengurangi kecenderungan
korban melamun dengan traumatis yang dialami (WAHYUNI, 2022).
4.
Pelaksanaan kegiatan
Trauma Healing Untuk Warga Terdampak Musibah Tanah Bergerak Di Desa Sridadi
Kecamatan Sirampog.
a)
Tujuan Kegiatan Trauma Healing Di Sridadi
Sirampog
1)
Tujuan umum
Tujuan
kegiatan adalah memberikan trauma healing kepada masyarakat terdampak tanah bergerak
di Desa Sridadi Kecamatan Sirampog�
Kabupaten Brebes.
2)
Tujuan Khusus
a)
Sebagai pihak
penyalur bantuan dana sosial masyarakat Brebes dan sekitarnya untuk masyarakat
terdampak tanah bergerak di Desa Sridadi Kabupaten Brebes.
b)
Memberikan dukungan
moral dan material kepada masyarakat terdampak tanah bergerak di Desa Sridadi
Kabupaten Brebes.
c)
Membantu masyarakat
dalam penyembuhan akibat trauma terdampak tanah bergerak di Desa Sridadi
Kabupaten Brebes.
d)
Memberikan bantuan
Kesehatan berupa skrining Kesehatan dasar (tekanan darah, kadar gula, kadar
kolesterol dan asam urat).
e)
Memberikan hiburan
kepada masyarakat berupa perlombaan untuk mengalihkan dari trauma.
f)
Mendokumentasikan
kegiatan pengabdian masyarakat dengan benar dan tepat.
b. Bentuk
Kegiatan
1)
Penggalangan dana.
2)
Trauma healing.
3)
Pemeriksaan
Kesehatan.
4)
Hiburan Lomba
c.
Tempat Kegiatan
Desa Sridadi
Kabupaten Brebes
d.
Waktu Kegiatan
Tanggal 11 November
2022 kegiatan penggalangan dana di Pasar Induk Bumiayu.
Tanggal 20 November
2022 Trauma healing, pemeriksaan Kesehatan dan Hiburan Lomba.
e.
Kegiatan
1)
Survey awal yaitu
analisis situasi dan kondisi pada mitra sebagai landasan pemilihan implementasi
yang diberikan kepada masyarakat.
2)
Penggalangan dana
yang dilakukan di Pasar Induk Bumiayu dan melalui jejaring alumni.
3)
Trauma healing
berupa relaksasi, shalawat dan doa bersama untuk menurunkan stress.
4)
Hiburan Lomba
sebagai salah satu rangkaian trauma healing warga. Kegiatan perlombaan
diantaranya adalah lomba karaoke, lomba joged balon dan lomba menjawab
pertanyaan pendek.
5)
Pemeriksaan
Kesehatan berupa pemeriksaan tekanan darah, kadar gula, kadar kolesterol dan
asam urat.
Kegiatan Pemeriksaan Kesehatan



KESIMPULAN
Setelah dilakukan seluruh rangkaian
kegiatan Pengabdian Masyarakat Trauma Healing untuk warga terdampak musibah
tanah bergerak di Desa Sridadi Kecamatan Sirampog didapatkan hasil bahwa
seluruh peserta merasakan manfaat dari kegiatan yakni merasakan lebih kuat dan
Ikhlas menerima musibah yang terjadi, peserta mengatakan bahwa musibah yang
dialami tidak hanya dirasakan sendiri tetapi banyak yang bernasib sama sehingga
hal ini menambah erat persaudaraan dan rasa berbagi. Warga juga merasakan
dampak dari trauma healing berupa perasaan lebih senang, walaupun saat ini
mereka sedang ditimpa musibah namun mereka tetap membutuhkan hiburan dan
kesenangan jasmani maupun Rohani. Warga juga mengucapakan terimakasih atas
bantuan berupa jasa pemeriksaan Kesehatan dan pembagian bantuan tunai yang
dilakukan oleh civitas akademika Akper Al Hikmah 2 Brebes.
DAFTAR PUSTAKA
ASIH, A. T. D. (2018). PENGARUH
TEKNIK MASSAGE EFFLEURAGE DENGAN AROMATERAPI JASMINE TERHADAP PENURUNAN
KECEMASAN PASCA BENCANA DI KECAMATAN GRABAG TAHUN 2018. Skripsi,
Universitas Muhammadiyah Magelang.
Dwidiyanti, M., Hadi,
I., Wiguna, R. I., & Ningsih, H. E. W. (2018). Gambaran risiko gangguan
jiwa pada korban bencana alam gempa di Lombok Nusa Tenggara Barat. Holistic
Nursing and Health Science, 1(2), 82�91.
Fadilah, K. (2018). Pemulihan
trauma psikososial pada perempuan korban kekerasan seksual di yayasan pulih.
Jakarta: Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah.
Hapsoro, A. W., &
Buchori, I. (2015). Kajian kerentanan sosial dan ekonomi terhadap bencana
banjir (Studi kasus: Wilayah pesisir kota Pekalongan). Teknik PWK
(Perencanaan Wilayah Kota), 4(4), 542�553.
Irsandi, J. (2022). SURVEI
AKTIVITAS FISIK DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA DI KELURAHAN PAYO SELINCAH.
UNIVERSITAS JAMBI.
Irwanto, P. D., &
Kumala, H. (2020). Memahami Trauma Dengan Perhatian Khusus Pada Masa
Kanak-Kanak. Gramedia Pustaka Utama.
Isa, M., &
Armansyah, T. (2021). Pengantar Farmakologi: Analgesik-Antipiretik-Anti
Inflamasi. Syiah Kuala University Press.
LESTA, L. (2021). PERAN
PENYULUH AGAMA ISLAM DALAM MELAKUKAN TRAUMA HEALING SETELAH BANJIR BANDANG DI
DESA RADDA KECAMATAN BAEBUNTA KABUPATEN LUWU UTARA. Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Palopo.
Masrukin, M. (2020). Dampak
Psikologis Akibat Bencana Alam Pada Peserta Didik Di SDN Inpres Jono Oge
Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi. IAIN Palu.
Pratiwi, S. I. (2020).
The effect of scout extracurricular on the discipline character of elementary
school students. Educative: Journal of Educational Sciences, 2(1),
62�70.
Selan, R. F. (2006).
Pedoman Pembinaan Warga Jemaat. Bandung: Kalam Hidup.
Siregar, L. M., Manao,
M. L., Sianipar, N. M., & Nababan, D. (2022). TRAUMA HEALING PADA ORANG
DEWASA: OPTIMALISASI DAN STRATEGI. Jurnal Pendidikan Sosial Dan Humaniora,
1(4), 52�60.
Thoyibah, Z.,
Dwidiyanti, M., Mulianingsih, M., Nurmayani, W., & Wiguna, R. I. (2019).
Gambaran dampak kecemasan dan gejala psikologis pada anak korban bencana gempa
bumi di Lombok. Holistic Nursing and Health Science, 2(1), 31�38.
Thoyibah, Z., Purqoti,
D. N. S., & Oktaviana, E. (2020). Gambaran Tingkat Kecemasan Korban Gempa
Lombok. Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI), 4(3),
174�181.
WAHYUNI, S. R. I.
(2022). Upaya Pemulihan Psikososial Menggunakan Layanan Bimbingan Dan
Konseling Islam Pada Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Di Dinas
Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (P2TP2A)
Kota Palopo. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo.