PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS TERPADU MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL KAJIAN KELOMPOK (GROUP INVESTIGATION)

 

Efi Nurhayati

MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang Brebes

[email protected]

 

Abstrak:

 

Peningkatkan Hasil Belajar IPS Terpadu Melalui Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation) pada Siswa Kelas IX A MTs Miftahul Huda Kalipucang Kecamatan� Jatibarang Kabupaten Brebes Semester Genap Tahun Pelajaran 2022/2023.� Hanya sebagian kecil atau kurang dari setengah dari jumlah siswa seluruhnya yang ada di dalam Kelas IX A Miftahul Huda Kalipucang yang mendapatkan nilai baik . PTK ini dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2023 sampai dengan 31 Maret 2023. Penentuan waktu penelitian ini mengacu pada kalender akademik madrasah.

Sebelum tindakan diketahui bahwa siswa kelas IX A MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang yang mendapatkan nilai di bawah KKM 75 sebanyak 15 siswa. Dengan demikian dari jumlah siswa 31 siswa yang telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 16 siswa atau 51,61%, dan siswa yang belum tuntas sebanyak 16 siswa atau 48,39%.Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation)� pada siklus I belum cukup efektif karena dari 31 siswa, hanya 21� siswa yang mencapai nilai diatas KKM yakni hanya mencapai 67,74%. Hal ini menunjukkan belum mencapainya target yang telah ditentukan yaitu sebesar 85%.Pada siklus II hasil belajar siswa pada ranah kognitif menunjukkan bahwa seluruh siswa mendapatkan nilai sama dengan atau di atas 75 atau 90,32% mengalami ketuntasan belajar pada ranah kognitif, artinya penelitian ini berhasil karena telah memenuhi indikator penelitian. Sedangkan siswa yang mendapatkan nilai di bawah 75 ada 3 siswa atau 9,68%.

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Kajian Kelompok

 

Abstract:

Improving Integrated IPS Learning Outcomes Through Cooperative Learning Approach Group Investigation Model in Class IX A Students of MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang District, Brebes Regency Even Semester of 2022/2023 Academic Year. Only a small part or less than half of the total number of students in Class IX A Miftahul Huda Kalipucang get good grades.This Classroom Action Research was conducted from 1 February 2023 to 31 March 2023. The timing of this research refers to the madrasah academic calendar.

Before the action it was known that 15 students in class IX A MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang who scored below KKM 75. Thus, of the 31 students who have achieved the Minimum Completeness Criteria, 16 students or 51.61%, and students who have not completed as many as 16 students or 48.39%.Cooperative Learning Model Study Group (Group Investigation) in cycle I was not effective enough because of 31 students, only 21 students achieved scores above the KKM, which only reached 67.74%. This shows that the target has not been achieved, which is 85%.In cycle II, student learning outcomes in the cognitive domain showed that all students scored equal to or above 75 or 90.32% experienced learning mastery in the cognitive domain, meaning that this research was successful because it met the research indicators. While students who get scores below 75 there are 3 students or 9.68%.

 

Keywords: Cooperative Learning, Group Study������� 

Corresponding: Efi Nurhayati

E-mail: [email protected]

 

PENDAHULUAN

A.� Latar Belakang

Dalam kehidupan suatu negara, pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup bernegara dan berbangsa, karena dengan adanya pendidikan dapat meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Maka pendidikan bukan sebagai sarana saja tetapi sekaligus untuk menyiapkan generasi masa depan yang lebih kreatif. Melalui upaya ini mutu pendidikan sangat diharapkan dapat berubah melalui proses belajar mengajar. Belajar mengajar adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa (Inah, 2015).

Pendidikan dapat diartikan sebagai proses dengan metode-metode tetentu sehingga siswa memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, dalam UU No.20 Tahun 2003 sebagaimana dikutip oleh Muhibbin Syah, disebutkan bahwa:

�Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara�.

Pendidikan merupakan sarana untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas. Belajar secara tradisional diartikan sebagai upaya menambah dan mengumpulakn sejumlah pengetahuan. Sementara itu tradisi modern, belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap terjadi sebagai hasil latihan dan pengalaman.

Sejak manusia menuntut kemajuan dalam kehidupan, maka sejak itu pula timbul pemikiran dan gagasan serta ide untuk melakukan perubahan, pengalihan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Maka dari itu dalam sejarah pertumbuhan masyarakat, pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan dari generasi ke generasi sejalan dengan tuntutan kemajuan zaman. Pendidikan dapat difungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan dapat menghantarkan perkembangan kehidupan manusia sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial, kepada titik optimal untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat (Ghani & Ali, 2022).

Hal yang sama juga di sebutkan dalam Undang-Undang No.20, tahun 2003 tersebut, pada pasal 3 disebutkan bahwa �Tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.�

Pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan Negara. Oleh karena itu, pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Pembaharuan demi pembaharuan selalu diupayakan agar pendidikan benar-benar dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam usaha untuk mengentaskan kehidupan bangsa sebagaimana telah diamanatkan oleh para pendiri Republik Indonesia yang dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945 (di SMP Negeri & Barat�Indonesia, n.d.).

Mulai tahun pelajaran 2006/2007, Kurikulum SMP/MTS yang diberlakukan adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikembangkan oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI), dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Salah satu tujuan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah agar kurikulum yang diterapkan disetiap satuan pendidikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan minat, bakat, dan potensi peserta didik serta daya dukung sekolah yang ada. Dengan demikian, peserta didik diharapkan memiliki kompetensi yang memadai untuk memenuhi tuntutan atau tantangan kehidupan baru pada lingkungan lokal, nasional, atau global (Suradi, 2018). Salah satu faktor yang menunjang keberhasilan penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah bagaimana materi-materi yang ada disampaikan kepada peserta didik, dalam hal ini para guru menjadi sangat penting karena guru sebagai penyampai materi dalam kurikulum yang berhubungan langsung dengan peserta didik.

Dalam teori memberikan informasi bahwa sesungguhnya belajar dilakukan dari hal yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang pasif sampai yang aktif, dari yang abstrak hingga yang kongkret dan dari yang menerima sampai yang berperan serta (Rokhmah, 2023). Teori piramid ini menunjukkan bahwa semakin belajar berada pada level puncak maka akan semakin kurang efektif, begitu juga sebaliknya. Semakin siswa berperan aktif terhadap PBM, maka akan samakin efektif materi yang disampaikan.

Rendahnya kemampuan atau hasil belajar siswa dalam memahami pelajaran IPS Terpadu dan praktiknya dalam kehidupan sehari-hari berhubungan erat dengan kemampuan dasardi sekolah. Ilmu IPS Terpadu merupakan ilmu yang wajib diketahui oleh siswa tidak sekedar asal-asalan akan tetapi pelaksanaannya dalam kehidupan nyata (Syaharuddin & Mutiani, 2020). Kurangnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran menjadi penyebab masalah rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan antara lain karena pembawaan materi yang kurang menarik dan terjadi ketidaksesuaian metode yang dipakai guru dalam pembelajaran.

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib dikuasai peserta didik tingkat SMP sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), tidak lepas dari pentingnya kreatifitas dalam proses pembelajarannya. Proses pembelajaran yang kreatif membantu peserta didik memahami fenomena-fenomena geosfer yang menyangkut gejala alam, gejala sosial, lokasi, dan sebagainya yang sangat berguna bagi kehidupan. Persoalan yang dihadapi dalam pembelajaran IPS di MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang antara lain: saat ini metode yang digunakan dalam pembelajaran IPS didominasi ceramah sehingga kurang melibatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran (siswa pasif). IPS merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit terbukti hasil belajar IPS yang diperoleh siswa masih rendah yaitu nilai tertinggi 80 dan terendah 20 sehingga rata-rata nilai IPS adalah 63,87. Untuk kabupaten Brebes pencapaian kriteria ketuntasan minimal 75 sehingga belum tercapai KKM.

Cakupan materi IPS sangat luas dan bersifat hafalan, buku pelajaran IPS hanya terbatas pada peminjaman dari sekolah dan jam pelajaran IPS lebih sering dilaksanakan pada siang hari sehingga konsentrasi belajar sudah menurun. Hal ini menunjukkan proses pembelajaran di kelas belum memenuhi kriteria pembelajaran yang baik. Oleh karena itu, pendidik diharapkan mampu menciptakan suasana pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang menarik dan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan memilih model pembelajaran yang memberikan kesempatan seluas-seluasnya kepada peserta didik untuk berkembang sesuai dengan keinginan dan kemampuan peserta didik, dalam hal ini, variasi penggunaan kelompok kecil dibutuhkan.

Model pembelajaran yang dapat diterapkan salah satunya adalah Pendekatan Pembelajaran Kooperatif model Kajian Kelompok Pembelajaran model Kajian Kelompok ini dipilih karena selama ini jarang digunakan oleh guru-guru termasuk peneliti dan guru sebagian besar menggunakan model diskusi dan ceramah. Diharapkan dengan menggunakan model Kajian Kelompok guru menjadi kreatif dalam menyampaikan pembelajaran IPS. Model pembelajaran ini bertujuan agar peserta didik lebih tertarik dengan pembelajaran dan materi yang disampaikan lebih mudah tertanam dalam ingatan peserta didik, sehingga, prestasi belajar peserta didik diharapkan dapat meningkat

Melihat kenyataan yang ada, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul: Peningkatkan Hasil Belajar IPS Terpadu Melalui Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation) pada Siswa Kelas IX A MTs Miftahul Huda Kalipucang Kecamatan� Jatibarang Kabupaten Brebes Semester Genap Tahun Pelajaran 2022/2023 sangatlah menarik untuk dilakukan. Dengan adanya penelitian ini, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa sesuai yang diharapkan.

Penelitian ini mengacu pada penelitian sebelumnya, antara lain:

Penelitian oleh Siti Ngaisah dengan judul Peningkatan Minat Belajar Geografi Pada Siswa melalui Penerapan Pendekatan Cooperatif Tehnik Group Investigation Di SMA N 1 Cangkringan Sleman Yogtakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya untuk meningkatkan minat belajar geografi siswa SMA dapat dilakukan dengan cara penerapan pembelajaran cooperative tehnik Group Investigation menunjukkan bahwa minat siswa dalam pembelajaran geografi mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut dapat diketahui dengan cara membandingkan prosentase aktifitas siswa dari siklus I sampai siklus III yang divisualisasikan dalam bentuk grafik sehingga didapat data peningkatan pada aktifitas mendengarkan, membaca, mencatat, bertanya, member saran, mengeluarkan pendapat, memecahkan masalah, menganalisis, presentasi senang menurutnya aktifitas ramai dan off task.

Penelitian oleh Sri Wisumiyati dengan judul Upaya Peningkatan Partisipasi dan Hasil Pembelajaran IPS Siswa Klas VIII C Melalui pembelajaran Kooperatif Leaning di SMP Negeri 3 Mertoyodan Magelang tahun 2007/2008, bahwa model pembelajaran kooperatif leaning berhasil meningkatkan partisipasi dan hasil pembelajaran IPS. Hal ini ditunjukkan dengan partisipasi siswa di dalam kelas dan hasil belajar yang dinilai pada setiap akhir siklus, siswa lebih aktif, memiliki keberanian untuk bertanya, menjawab pertanyaan, berdikusi dan bekerjasama dengan sesame anggota kelompok. Peningkatan hasil pembelajaran dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa sebelum diadakan tindakan nilai rata-rata 6,92, siswa yang telah mencapai ketuntasan sebelum diadakan tindakan sebanyak 22 siswa (52,6%), siklus I nilai rataa-rata 7,16 dan siswa yang telah mencapai ketuntasan sebanyak 29 anak (69%), pada siklus II nilai tara-rata menjadi 7,47 jumlah siswa yang mencapai ketuntasan 36 siswa (85,7%), pada tes akhir siklus nilai rata-rata menjadi 7,92, siswa yang mencapai ketuntasan 39 siswa (92,8%). Dengan demikian pembelaajaran dengan metode kooperatif leaning dapat meningkatkan partisipasi dan hasil pembelajaran IPS.

 

B.� Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan indentifikasi masalah yang diungkapkan diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana pelaksanaan pendekatan Pembelajaran Kooperatif model Kajian Kelompok sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)?

C.� Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1.       Mengetahui penerapan model Kajian kelompok (Group Investigation) dalam pembelajaran IPS, sebagai upaya untuk meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa.

2.       Mencari bukti bahwa model Kajian Kelompok (Group Investigation) dapat meningkatkan hasil belajar IPS.

D.��������� Manfaat Penelitian

1.       Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat untuk memberikan alternatif dalam penyampaian materi dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan menggunakan metode Kajian Kelompok (Group Investigation) untuk menarik minat siswa dalam belajar IPS.

2.       Secara praktis

1)      Memberdayakan potensi peserta didik terkait dengan kerjasama dan menjalin interaksi antar peserta didik dalam proses pembelajaran.

1)      Meningkatkan mutu kinerja guru dalam proses pembelajaran yang bermuara pada keberhasilan siswa dalam penguasaan materi pembelajaran siswa.

 

METODE PENELITIAN

A.� Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas bertujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan peserta didik yang sedang belajar. Jadi PTK merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya, dan memperbaiki kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan.

Menurut para peneliti, mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah penelitian untuk membantu seseorang dalam mengatasi secara praktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu sosial dengan kerja sama dalam kerangka etika yang disepakati bersama (Ekawarna, Salam, & Anra, 2021). Penelitian tindakan kelas dapat juga diartikan suatu kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, mengamati, dan merefleksikan tindakan melalui beberapa siklus secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelas. Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah pencermatan dalam bentuk tindakan terhadap kegiatan belajar yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas yang bersamaan (Afandi, 2014).

 

B.� Setting dan Subyek Penelitian

1.       Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di kelas IX A MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang. Sedangkan Waktu penelitian dimulai pada tanggal 2 Februari 2023 sampai dengan 31 Maret 2023� Semester Genap Tahun Pelajaran 2022/2023 (Aqib, 2006).

2.       Subyek Penelitian

Yang dimaksud subyek dalam penelitian ini adalah sekelompok orang atau individu yang diteliti. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas IX A MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang yang berjumlah 31 peserta didik.

 

C.� Desain Penelitian

Pelaksanaan PTK ini, mekanisme kerjanya diwujudkan dalam bentuk siklus (direncanakan 2 siklus), yang setiap siklusnya tercakup 4 kegiatan, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi.

Gambar 3.1 Alur PTK

Sebelum melakukan kegiatan pokok, peneliti terlebih dahulu mengadakan observasi awal sebagai bahan refleksi awal. Peneliti dalam hal ini mengadakan observasi kelas untuk mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, dan menentukan permasalahan yang akan dipecahkan dengan skenario pembelajaran yang akan diterapkan di kelas. Kegiatan tersebut meliputi:

1.       Peneliti dan guru berdiskusi untuk mengidentifikasi masalah kelas.

2.       Peneliti menetapkan kelas yang memiliki permasalahan paling serius dan perlu penanganan dengan tindakan sebagai alternatifnya.

3.       Peneliti mencari dari mana permasalahan pembelajaran yang terjadi, apakah berasal dari peserta didik, guru, atau metode yang diterapkan.

4.       Peneliti merencanakan penanganan sebagai solusi awal terhadap permasalahan tersebut.

 

Secara umum implementasi tindakan setiap siklus dalam PTK dijelaskan sebagai berikut:

1.       Pra Siklus

Sebelum melakukan penelitian pada siklus I, peneliti melakukan penelitian awal pra siklus. Pada tahap pra siklus, peneliti dan kolaboran melakukan pembelajaran tanpa menggunakan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation) atau metode konvensional. Pada akhir pembelajaran, peneliti melakukan evaluasi. Dari evaluasi ini, akan diketahui hasil belajar awal peserta didik sebelum dilakukan tindakan menggunakan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation). Hasil awal yang diperoleh pada tahap pra siklus ini digunakan sebagai bahan komparasi hasil belajar peserta didik pada siklus I dan II. Sehingga akan diketahui apakah ada peningkatan hasil belajar pada tiap siklusnya.

2.       Siklus 1

a.       Perencanaan

a.       Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang berorientasi pada Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation).

b.      Menyiapkan materi pembelajaran IPS Terpadu dengan materi Perdagangan Internasional.

c.       Peneliti dan kolaboran menyusun peta konsep yang berkaitan dengan materi Perdagangan Internasional.

d.      Menyiapkan materi diskusi dan kertas bagi peserta didik.

e.       Mempersiapkan soal tes untuk siswa yaitu tes yang akan diberikan pada akhir pembelajaran dan tes pada akhir siklus.

f.        Peneliti dan kolaboran menyiapkan lembar observasi, pendokumentasian, lembar refleksi dan evaluasi.

b.      Tindakan

1)      Guru memberikan informasi awal tentang jalannya pembelajaran dan tugas yang harus dilaksanakan peserta didik secara singkat, jelas, dan penuh suasana kehangatan.

2)      Guru menyajikan materi pelajaran IPS Terpadu

3)      Guru menyajikan contoh peta konsep yang telah dibuat.

4)      Guru meminta peserta didik untuk membuat peta konsep berkaitan dengan materi IPS Terpadu yang telah disampaikan.

5)      Guru berkeliling untuk mengawasi dan memberikan bimbingan jika ada peserta didik yang mengalami kesulitan dalam proses pembuatan peta konsep.

6)      Setelah selesai mengerjakan peta konsep, peneliti memberikan kuis kepada seluruh peserta didik. Para peserta didik tidak boleh bekerja sama dalam mengerjakan kuis. Setelah peserta didik selesai mengerjakan kuis langsung dikoreksi untuk melihat hasil kuis.

7)      Memberikan evaluasi pada akhir pembelajaran.

c.       Observasi

Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas belajar peserta didik dan pengelolaan pembelajaran selama proses pembelajaran berlangsung dengan dibantu oleh guru mitra sebagai observer. Peneliti dan guru kolaboran/mitra melakukan observasi terhadap aktivitas pembelajaran berdasarkan pedoman observasi yang telah disiapkan peneliti.

d.      Refleksi

Analisis dan refleksi dilakukan oleh peneliti dan kolaboran dengan cara menganalisis hasil pekerjaan peserta didik berupa hasil tes belajar dan hasil observasi berupa hasil observasi aktivitas belajar peserta didik dan pengelolaan pembelajaran. Dengan demikian, analisis dilakukan terhadap proses dan hasil pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis tersebut akan diperoleh kesimpulan bagian atau fase mana yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan fase mana yang telah memenuhi target.

3.       Siklus 2

a.       Perencanaan

Tahap perencanaan tindakan pada siklus II dilakukan berdasarkan hasil refleksi tindakan pada siklus I. Perencanaan tindakan pada siklus II merupakan hasil perbaikan dari pelaksanaan tindakan dari siklus I. Aspek-aspek yang diperbaiki di antaranya adalah proses pembelajaran yang dilakukan guru dan aktifitas belajar peserta didik perlu dioptimalkan sehingga prestasi belajar peserta didik dapat meningkat. Adapun kegiatan perencanaan yang dilakukan pada siklus II sama dengan siklus I. Namun perencanaan ini disesuaikan juga dengan hasil refleksi pada siklus I, mungkin saja ada hal-hal baru yang perlu dipersiapkan.

a.       Rencana tindakan yang dilakukan pada siklus II ini memperhatikan refleksi pada siklus I. Persiapan pada siklus II meliputi:Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

b.      Mempersiapkan lembar observasi

c.       Mempersiapkan lembar kuesioner

d.      Mempersiapkan sarana media pembelajaran

e.       Mempersiapkan materi diskusi, kertas

f.        Mempersiapkan soal tes

b.      Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus II hampir sama dengan tindakan pada siklus I, hanya saja pelaksanaannya ditambah dengan melihat hasil refleksi siklus I misalnya memperbaiki cara mengajar guru, cara mengorganisir kelas, kemampuan komunikasi, interaksi antara guru dan peserta didik dan lain sebagainya. Pada akhir pembelajaran guru memberikan latihan dan pekerjaan rumah kepada peserta didik untuk dibahas pada pertemuan selanjutnya. Pada akhir siklus dilakukan tes akhir siklus II.

Pelaksanaan tindakan pada siklus II pada intinya sama seperti siklus I, yaitu guru mengajar siswa dengan menggunakan RPP yang telah dibuat. Pada siklus II anggota pada setiap kelompok masih sama seperti pada siklus I.

c.       Observasi

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini sama persis dengan kegiatan pada siklus I. Data yang diperoleh dalam tahap observasi siklus II dikumpulkan untuk kemudian dilakukan analisis. Pengamatan dilakukan oleh peneliti dibantu pengamat lain dengan pedoman observasi. Lembar observasi yang digunakan sama seperti lembar observasi pada siklus I. Setelah itu guru mengevaluasi kegiatannya dengan memberikan angket kepada siswa.

d.      Refleksi

Data yang diperoleh pada siklus II dikumpulkan untuk selanjutnya dianalisis kemudian diadakan refleksi sehingga dapat diketahui apakah permasalahan yang dihadapi sudah mampu terpecahkan, yaitu terjadinya peningkatan prestasi belajar peserta didik setelah adanya tindakan.

Refleksi yang dilakukan dilakukan pada siklus II digunakan untuk membedakan hasil siklus I dengan siklus II, apakah ada peningkatan partisipasi dan hasil belajar siswa atau tidak. Jika belum terdapat peningkatan, maka siklus dapat diulang kembali.

 

D.� Teknik Pengumpulan Data

1.       Metode Tes

Metode tes yaitu �alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan�. Tes yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah tes objektif berupa pilihan ganda. Tes yang peneliti buat dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui atau mengukur prestasi atau hasil belajar peserta didik. Dengan menggunakan metode tes ini maka peneliti akan dapat mengetahui apakah prestasi belajar IPS Terpadu peserta didik mengalami peningkatan sesuai dengan yang diharapkan peneliti.

2.       Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah �metode yang digunakan untuk menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.� Peneliti secara langsung dapat mengambil bahan dokumen yang sudah ada dan untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Metode ini digunakan untuk memperoleh data daftar nama peserta didik, nilai ulangan harian peserta didik, foto kegiatan belajar mengajar dan prestasi belajar peserta didik, serta aktivitas belajar.

3.       Observasi

Observasi biasa diartikan sebagai �metode pengumpulan data melalui kegiatan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena atau kejadian yang diselidiki. Metode observasi ini diharapkan dapat mengetahui kondisi riil yang terjadi di lapangan dan mampu menangkap kenyataan sebanyak mungkin mengenai apa yang terjadi. Metode observasi ini peneliti gunakan untuk mendapatkan gambaran tentang aktivitas belajar peserta didik dan pengelolaan pengajaran dalam proses belajar mengajar (Sudjana, 2021).

 

E.       Analisis Data

1.       Analisis Kuantitatif

Data kuantitatif berupa nilai hasil belajar peserta didik dapat dianalisis secara deskriptif. Oleh karena itu, peneliti menggunakan analisis statistik deskriptif, misalnya dengan mencari nilai rata-rata atau presentasi keberhasilan belajar dan lain-lain. Analisis kuantitatifini digunakan untuk menganalisis jumlah peserta didik yang mengalami peningkatan hasil belajar IPS Terpadu dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation) pada peserta didik kelas IX A MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang Tahun Pelajaran 2022/2023 yang diperoleh dari tindakan siklus I dan II.

2.       Analisis Kualitatif

Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui hasil belajar IPS Terpadu peserta didik dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation) pada peserta didik kelas IX A MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang Tahun Pelajaran 2022/2023 dengan melihat tanda-tanda perubahan pada peserta didik dalam proses pembelajaran. Data tersebut berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang tingkat pemahaman peserta didik terhadap suatu materi pelajaran (kognitif), pandangan atau sikap peserta didik terhadap metode belajar yang baru (afektif), aktifitas peserta didik mengikuti pelajaran, perhatian, dan hasil belajar IPS Terpadu peserta didik dapat dianalisis secara kualitatif.

 

F.       Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini ditunjukan dengan:

1.       Meningkatnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran yang dapat dilihat dari peningkatan rata-rata yang diperoleh dari persentase (%) partisipasi siswa selama proses pembelajaran.

2.       Meningkatnya hasil belajar yang dicapai setelah pelaksanaan pembelajaran sebagai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) adalah 75. Apabila siswa yang mendapat nilai sesuai Kriteria KetuntasanMinimal (KKM) 75 ke atas mencapai 85%, maka penggunaan model Kajian Kelompok dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa (Susilawati, 2022).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

�������������� Penelitian ini berfokus pada pendekatan pembelajaran model Kajian Kelompok untuk meningkatkan penguasaan materi IPS, khususnya di kelas IX A yang berjumlah 31 siswa, terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Data hasil evaluasi awal tidak sesuai harapan apabila dibandingkan dengan nilai ketuntasan minimal (KKM=75) untuk mata pelajaran IPS di MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang sehingga perlu diadakan tindakan kelas.

1.       Pra Siklus

Sebelum penelitian dilaksanakan peneliti mengadakan pertemuan pada hari senin tanggal 26 Januari 2023� dengan guru atau teman sejawat yang mengajar di kelas IX A MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang Brebes. Dalam pertemuan ini peneliti menyampaikan tujuan untuk melaksanakan penelitian di madrasah ini.

Peneliti dan teman sejawat berdiskusi mengenai rencana penelitian yang akan dilaksanakan dengan disepakati bahwa kelas IX A yang dijadikan sumber data penelitian. Dengan pertimbangan bahwa kelas IX A yang mempunyai kemampuan yang heterogen. Inilah merupakan kelas yang unik dan kelas IX A merupakan kelas yang mempunyai disiplin dan rasa tanggung jawab cukup besar terhadap apa yang diamanatkan oleh setiap guru. Dengan pertimbangan ini akhirnya peneliti memilih kelas IX A sebagai objek penelitian. Dalam pertemuan ini, peneliti tindakan dan guru teman sejawat sebagai pengamat bersama peneliti sendiri selama pelaksanaan tindakan.

Dari hasil observasi tersebut, peneliti yang bertindak sebagai guru sadar betul dan masih menggunakan pembelajaran tradisional. Adapun metode yang dipakai adalah ceramah, dikte dan tanya jawab, sehingga pembelajaran masih kurang efektif. Siswa tampak kurang antusias dan kurang berniat dalam pembelajaran IPS Terpadu. Dapat diamati bahwa siswa kurang aktif pada pelajaran IPS Terpadu sehingga metode ceramah dan tanya jawab kurang cocok untuk diterapkan. Indikator lain yang menyatakan rendahnya keaktifan siswa terhadap pembelajaran IPS Terpadu adalah siswa cenderung diam, suka mendengarkan dari pada mengungkapkan pendapat, kurang merespon apa yang ditanyakan oleh guru, dan cenderung bermain sendiri.

Pada saat peneliti menggunakan metode ceramah dan tanya jawab yang dilaksanakan tanpa menggunakan media pembelajaran sebagai alat bantu belajar. Guru menjelaskan Perdagangan Internasional yang berkaitan dengan materi tersebut. Pada saat pembelajaran berlangsung siswa mendengarkan sedangkan guru menerangkan dan berceramah di depan kelas sesekali mendikte materi pelajaran sehingga siswa menulisnya dalam buku tulis. Dalam kondisi demikian, siswa terlihat jenuh, bosan dan kurang bergairah sehingga ada beberapa siswa yang mengalihkan perhatiannya dengan bermain sendiri, menulis, berbicara dengan temannya pada saat guru sedang menerangkan.

Setelah guru selesai menerangkan, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya apa yang belum dimengerti dengan cara mengacungkan tangan. Pada sesi tersebut hanya satu atau dua orang siswa yang bertanya, itupun dengan bobot pertanyaan yang sangat mudah untuk dijawab.

Untuk memberikan umpan balik, guru mencoba melempar pertanyaan kepada siwa yang lain sebelum dijawab oleh guru, namun siswa diam tidak memperhatikan, hanya ada satu atau dua orang yang berusaha menjawab. Bahkan ditempat duduk yang lain, ada siswa yang sedang sibuk dengan pekerjaan lainnya dan bermain sendiri dengan temannya, sehingga kelas terkesan tidak hidup karena tidak ada interaksi edukatif antara guru dan siswa.

Pada akhir pembelajaran tidak dilaksanakan evaluasi dan refleksi. Selanjutnya guru membagikan soal kepada siswa dan dikerjakan selama kurang lebih 30 menit untuk mengetahui efektifitas dari pembelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab. Dalam mengerjakan soal siswa kurang bersemangat, dan kurang bergairah. Kemudian pembelajaran ditutup dengan salam.

Hasil menunjukkan, bahwa siswa cenderung pasif kurang berani untuk bertanya dan mengungkapkan ide, siswa lebih suka mendengarkan guru memberikan informasi. Dari hasil siswa, dapat diketahui bahwa hasil siswa masih dibawah standar ketuntasan minimum. Sehingga konklusinya adalah metode ceramah, dikte dan tanya jawab masih kurang cocok diterapkan pada pembelajaran IPS Terpadu. Karena metode ini masih bersifat statis, pasif, tidak menarik bagi siswa, kurang dikaitkan dengan kebutuhan siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran yang demikian kurang mendorong siswa untuk aktif, menghambat kreatifitas dan kurang menyenangkan, sehingga menjadikan siswa kurang berminat mengikuti pelajaran agama. Sehingga hasil belajar siswa belum sesuai yang diharapkan. Masih ada 15 siswa dari 31 siswa yang nilainya di bawah KKM (Khoiriah, 2015). Adapun KKM mata pelajaran IPS Terpadu MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang adalah 75. Berikut data hasil belajar siswa pra tindakan:

 

Table 4.1 Nilai Hasil Belajar Pra Tindakan

No�������� ������������� Nama��� ���������������������������� Nilai����� ���������������������������� ������������� Keterangan

1����������� Ahmad Anam��� ���������������������������� 55��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

2����������� Ahmad Firansyah���������� ������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

3����������� Aibah Shabilah� ���������������������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

4����������� Aji Eko Satrio���� ���������������������������� 60��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

5����������� Alena Aulia������� ���������������������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

6����������� Alif Nur Habibah������������ ������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

7����������� Ananda Nuhammad Rasya�������� 45��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

8����������� Desta Nabil Islami���������� ������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

9����������� Devi Permata Sari���������� ������������� 80��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

10��������� Dewi Sartika����� ���������������������������� 45��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

11��������� Dian Zulfa Safitri������������ ������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

12��������� Diva Febriyanti� ���������������������������� 60��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

13��������� Diva Saputri������ ���������������������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

14��������� Dwi Fajriatun Khasanah�������������� ������������� 55�������������������������������������� ������������� Belum Tuntas

15��������� Fadli Maulana Ikhsan��� ������������� 75�������������������������������������� ������������� Tuntas

16��������� Fajrul Falah������� ���������������������������� 45��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

17��������� Fitran Hamdan Ramadhan��������� 60�������������������������������������� ������������� Belum Tuntas

18��������� M. Bakhrul Alam������������ ������������� 65�������������������������������������� ������������� Belum Tuntas

19��������� M. Fahri Izzan Al Falah� ������������� 20��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

20��������� Mohamad Adlan Syarif ������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

21��������� Muhamad Reza Ibrahim������������� ������������� 55��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

22��������� Muhammad Fajar Maulana������� 30��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

23��������� Naela Widatun Mualimah���������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

24��������� Salsabila Fauziyah��������� ������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

25��������� Sendi Ahmad Saputra��� ������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

26��������� Slamet Satria������������������ ������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

27��������� Syifa Aulia��������� ���������������������������� 55��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

28��������� Tafrikhatun Nisa������������ ������������� 75��������� ���������������������������� ������������� Tuntas

29��������� Ukhti Diah Rahmawati�� ������������� 80��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

30��������� Wahidun����������� ���������������������������� 45��������� ���������������������������� ������������� Belum Tuntas

31��������� Zafika Najwa Alifah������� ������������� 75�������������������������������������� ������������� Tuntas

Jumlah� 1980�����

Nilai Rata-rata�� 63,87����

Nilai Tertinggi��� 80���������

Nilai Terendah� 20���������

Prosentase Ketuntasan Belajar� 51,61%

 

 

Dari hasil nilai ulangan harian siswa seperti tersebut, sebagian� siswa telah mencapai kriteria ketuntasan minimal dan sebagian� lagi siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar. Data prosentase ketuntasan belajar pada kondisi awal dapat diketahui pada tabel di bawah ini:

 

Table 4.2 Ketuntasan Belajar Siswa Pra Siklus

 

No�������� Ketuntasan Belajar�������� ������������� Jumlah Siswa���� ������������� Prosentase

1����������� Tuntas� ������������� ���������������������������� 16��������� ���������������������������� 51,61%

2����������� Belum Tuntas��� ���������������������������� 15��������� ���������������������������� 48,39%

Jumlah� ��������������������������������������������������������� 31��������� ���������������������������� 100%

�

Berdasarkan data pada tabel. 4.2, diketahui bahwa siswa kelas IX A MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang yang mendapatkan nilai di bawah KKM 75 sebanyak 15 siswa. Dengan demikian dari jumlah siswa 31 siswa yang telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 16 siswa atau 51,61%, dan siswa yang belum tuntas sebanyak 16 siswa atau 48,39%.

Dari data empiris dan menyikapi hasil yang telah dilaksanakan, maka perlu adanya inovasi dalam menerapkan sebuah metode terhadap materi yang diajarkan oleh guru, yakni sebagai berikut:

a.       Mengaktifkan siswa dengan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation), dimana Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation) adalah cara penyajian bahan ajar dengan memanfaatkan siswa yang telah mampu menguasai materi tersebut sementara siswa yang lainnya belum. Dengan memanfaatkan kemampuan siswa yang ada, maka proses pembelajaran berlangsung dari siswa, oleh siswa dan untuk siswa (Pratiwi, Suendarti, & Hasbullah, 2019). Sementara gurunya memantau, jika ada yang tidak paham maka siswa dapat bertanya pada guru.

b.      Mengadakan refleksi pada setiap pertemuan. Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pembelajaran yang telah dilaksanakan dan memberikan refleksi dengan tujuan merefleksikan nilai-nilai yang terkait dengan materi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

 

2.� Deskripsi Siklus 1

a.� Perencanaan

Adapun proses perencanaannya adalah merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation), membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat instrument-instrument penelitian yaitu membuat soal tes untuk akhir siklus, lembar observasi pada KBM (Zingaro, 2008).

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat dan didiskusikan bersama guru IPS Terpadu yang bertindak sebagai kolaborator sehingga apa yang disusun dalam RPP sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan di madrasah.

Pada perencanaan tindakan siklus I, peneliti menerapkan metode pembelajaran dengan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation) (Arifuddin, 2018). Metode tersebut diupayakan agar siswa mampu berperan aktif mengekspresikan gagasannya, membantu siswa agar mudah mengaplikasikan materi pelajaran yang telah diberikan, mengalihkan perhatiannya pada kelompok sehingga siswa tidak bermain sendiri dan bertanggung jawab. Beberapa hal yang dilakukan peneliti adalah:

1)      Merencanakan pelaksanaan model Kajian Kelompok yang meliputi enam langkah yaitu :

a.       Mengidentifikasikan topik dan mengatur siswa kedalam kelompok.

b.      Merencanakan tugas yang akan dipelajari.

c.       Melaksanakan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation)

d.      Menyiapkan laporan akhir

e.       Mempresentasikan laporan akhir.

f.        Evaluasi

2)      Mempersiapkan instrument penelitian berupa lembar observasi yang digunakan dalam mengukur hasil belajar siswa.

3)      Membuat rencana pembelajaran.

Adapun rencana pembelajaran dibagi menjadi tiga tahap yaitu Apersepsi, kegiatan inti dan penutup.

1)      Pembelajaran dimulai dengan membaca Perdagangan Internasional. Apersepsi dilakukan selama kurang lebih 10 menit dengan memberi motivasi kepada siswa. Mengabsen siswa, menanyakan pelajaran sebelumnya, mengaitkan pelajaran dengan kehidupan siswa, mengungkapkan tujuan pembelajaran, metode pembelajaran, dan indikator yang akan dicapai pada pembelajaran hari ini.

2)      Pada kegiatan inti, siswa melakukan pembelajaran dengan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation)� disertai dengan diskusi. Dimana siswa harus aktif terkait dengan materi pembelajaran serta berkelompok mendiskusikan materi pokok hari ini.

3)      Membuat evaluasi sebagai upaya mengetahui sejauh mana keberhasilan penggunaan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation)� dalam pembelajaran IPS Terpadu dan memberikan refleksi dengan tujuan merefleksikan ajaran dan nilai yang terkandung pada materi pelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

b.� Tindakan Siklus 1

Pada pelaksanaan siklus I dilaksanakan dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif Model Kajian Kelompok (Group Investigation). Pertemuan 1 dilaksanakan pada tanggal 9 Februari 2023 dan pertemuan 2 dilaksanakan pada tanggal 16 Februari 2023. Pada siklus 1 dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya, yaitu:

1)      Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan panduan perencanaan yang telah dibuat dan dalam pelaksanaannya bersifat fleksibel dan terbuka terhadap perubahan-perubahan. Selama proses pembelajaran berlangsung, guru mengajar siswa dengan menggunakan RPP yang telah dibuat.

2)      Melaksanakan rencana pembelajaran sebagai berikut:

Pertemuan Pertama

a)      Mengucapkan salam kemudian mengajak siswa untuk berdoa.

b)      Menyampaikan tujuan dari pembelajaran.

c)       Membagi siswa menjadi enam kelompok. Dengan cara menghitung siswa dengan sendiri 1 sampai 5.

d)      Guru meminta siswa mendiskusikan materi pokok Perdagangan Internasional.

e)      Guru meminta perwakilan tiap kelompok untuk mempresentasikan diskusinya.

f)        Guru meminta kelompok lain memperhatikan kelompok yang sedang maju.

g)       Menjelaskan materi pokok Perdagangan Internasional sebagai bentuk penguatan terhadap kekuarangan dari apa yang disimpulkan oleh siswa.

h)      Menyimpulkan materi yang telah dipelajar.

i)        Memberikan tes akhir berupa pilihan ganda.

j)        Menutup pelajaran dengan mengucap hamdalah

Pertemuan kedua

a)      Mengucapkan salam kemudian mengajak siswa untuk berdoa.

b)      Menyampaikan tujuan dari pembelajaran.

c)       Membagi siswa menjadi enam kelompok. Dengan cara menghitung siswa dengan sendiri 1 sampai 5.

d)      Guru meminta siswa mendiskusikan materi pokok Perdagangan Internasional.

e)      Guru memberikan kesempatan siswa untuk mempresentasikan di depan kelas bagi kelompok yang belum maju.

f)        Guru meminta kelompok lain memperhatikan kelompok yang sedang maju.

g)       Menjelaskan kandungan dari materi pokok Perdagangan Internasional sebagai bentuk penguatan terhadap kekuarangan dari apa yang disimpulkan oleh siswa.

h)      Menyimpulkan materi yang telah dipelajari.

i)        Memberikan tes akhir berupa pilihan ganda.

j)        Menutup pelajaran dengan mengucap hamdalah

Pada tahap penutup, guru bertanya kepada siswa untuk menilai metode pembelajaran yang dilakukan. Mereka mengungkapkan senang karena mereka merasa lebih bebas dalam mengekspresikan kemampuan serta pengalaman mereka. Pada tindakan refleksi, guru mengajak siswa untuk mengingat kembali materi pokok Perdagangan Internasional. Kemudian ditutup dengan pemberian tugas di luar jam pelajaran tentang materi tersebut.

Hasil tes evaluasi siklus I adalah 67,74% siswa tuntas (21 siswa) dan yang tidak tuntas 32,26% (10 siswa). Dengan demikian siklus I mengalami peningkatan dibanding pra siklus sebesar 16,13%. Sedangkan pada siklus II ini presentase ketuntasan klasikal siswa meningkat sebesar 22,58%, dari siklus sebelumnya yang sebesar 67,74% menjadi 90,32% siswa tuntas. Dari data ini, diperoleh data siswa yang tidak tuntas sebesar 9,68%. Dengan demikian Presentase Kriteria Ketuntasan Klasikal pada siklus II ini mencapai 92,32% dengan nilai rata-rata 80,32. Dengan kata lain sudah memenuhi indikator keberhasilan yang ditentukan yaitu presentase Kriteria Ketuntasan Klasikal sebesar 85% dengan standar KKM 75. Dari pembahasan tersebut dapat digambarkan dengan menggunakan diagram berikut:

Gambar 4.1 Diagram Ketuntasan Pra Siklus sampai Siklus II

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

Metode pembelajaran model Kajian Kelompok (Group Investigation) dapat menumbuhkan semangat belajar siswa sehingga suasana belajar menjadi lebih menyenangkan, siswa lebih aktif, serta tidak cepat bosan dalam mengikuti proses pembelajaran di setiap siklusnya.Penerapan pembelajaran dengan model Kajian Kelompok dapat meningkatkan motivasi dan hasil dalam pembelajaran IPS di MTs Miftahul Huda Kalipucang Jatibarang. Data membuktikan adanya peningkatan persentase partisipasi belajar dan hasil belajar siswa di setiap akhir siklus. Pada tahap ini hasil tes evaluasi siklus I adalah 67,74% siswa tuntas (21 siswa) dan yang tidak tuntas 32,26% (10 siswa). Dengan demikian siklus I mengalami peningkatan dibanding pra siklus sebesar 16,13%. Sedangkan pada siklus II ini presentase ketuntasan klasikal siswa meningkat sebesar 22,58%, dari siklus sebelumnya yang sebesar 67,74% menjadi 90,32% siswa tuntas. Dari data ini, diperoleh data siswa yang tidak tuntas sebesar 9,68%.Dengan demikian Presentase Kriteria Ketuntasan Klasikal pada siklus II ini mencapai 92,32% dengan nilai rata-rata 80,32.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Afandi, Muhamad. (2014). Pentingnya penelitian tindakan kelas bagi guru dalam pembelajaran di sekolah dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 1(1), 1�19. http://dx.doi.org/10.30659/pendas.1.1.1-19

 

Aqib, Zainal. (2006). Penelitian tindakan kelas untuk guru.

 

Arifuddin, Muhammad. (2018). Meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran ipa dengan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation. Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika, 6(1), 130�141.

 

di SMP Negeri, Guru, & Barat�Indonesia, Taliwang Kabupaten Sumbawa. (n.d.). Efforts to Increase Participation and Social Studies Learning Outcomes through Cooperative Learning Approach Model Group Investigation Upaya Meningkatkan Partisipasi dan Hasil Belajar IPS melalui Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigatio.

 

Ekawarna, Ekawarna, Salam, M., & Anra, Yusdi. (2021). Memilih Masalah Untuk Penelitian Tindakan Kelas: Bahan kajian untuk pelatihan Guru menyusun Laporan hasil PTK. Jurnal Karya Abdi Masyarakat, 5(1), 52�62. https://doi.org/10.22437/jkam.v5i1.13805

 

Ghani, Abd, & Ali, Moh. (2022). Konsep Pendidikan Islam Perspektif Imam Al-Ghazali. El-Fata: Jurnal Ilmu Tarbiyah, 2(01), 18�31. https://doi.org/10.36420/eft.v2i01.104

 

Inah, Ety Nur. (2015). Peran komunikasi dalam interaksi guru dan siswa. Al-TA�DIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan, 8(2), 150�167.

 

Khoiriah, Tuti. (2015). Strategi pembelajaran metakognitif terhadap hasil belajar siswa pada konsep sistem pencernaan pada manusia. Jurnal Pengajaran MIPA, 20(2), 177�180. https://doi.org/10.18269/jpmipa.v20i2.36241

 

Pratiwi, Dwi, Suendarti, Mamik, & Hasbullah, Hasbullah. (2019). Pengaruh Efikasi Diri dan Kemandirian Belajar terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika. JKPM (Jurnal Kajian Pendidikan Matematika), 5(1), 1�14. http://dx.doi.org/10.30998/jkpm.v5i1.5083

 

Rokhmah, Shofwatun. (2023). Penerapan Metode Simulasi Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih Materi Jual Beli Dikelas Ix-F Mts Negeri 2 Demak Tahun Pelajaran 2022/2023. Journal of Comprehensive Science (JCS), 2(1), 16�27. https://doi.org/10.36418/jcs.v2i1.179

 

Sudjana, Nana. (2021). Dasar dasar proses belajar mengajar. Sinar Baru Algensindo.

 

Suradi, Ahmad. (2018). Pendidikan Berbasis Multikultural dalam Pelestarian Kebudayaan Lokal Nusantara di Era Globalisasi. Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam Dan Sosial, 5(1), 111�130. 10.21580/wa.v5i1.2566

 

Susilawati, Elia. (2022). Upaya Meningkatkan Partisipasi dan Hasil Belajar dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) melalui Model Pendekatan Kooperatif Kelompok (Group Investigation) di SMP Negeri 1 Paseh Kabupaten Sumedang. BIHARI: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN ILMU SEJARAH, 5(1).

 

Syaharuddin, Syaharuddin, & Mutiani, Mutiani. (2020). Strategi Pembelajaran IPS: Konsep dan Aplikasi. Program Studi Pendidikan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 

 

Zingaro, Daniel. (2008). Group investigation: Theory and practice. Ontario Institute for Studies in Education, Toronto, Ontario, 7.

�