MENINGKATKAN
DISIPLIN KERJA GURU MELALUI METODE REWARD BERINGKAT DAN KONSEKUEANSI LOGIS DI
LINGKUNGAN YAYASAN SEKOLAH BPK PENABUR SERANG TAHUN PELAJARAN 2022-2023
Chandra Sagul
Haratua1, Elfrida Tampubolon2, Jhohannes Oktafianus Nainggolan3,
Nur Awaliah4, Suryani Tohir5
Universitas Indraprasta
PGRI
[email protected] 1, [email protected]2,
[email protected]3,
[email protected]4,
[email protected]5.
![]()
Abstrak:
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode Penelitian
Tindakan Sekolah (PTS). PTS merupakan
suatu prosedur penelitian yang diadaptasi dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tindakan ini ialah pendekatan
kualitatif. Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan di Yayasan Sekolah BPK PENABUR Serang. Jangka dari 31 Juli 2022 � 17 Desember 2022. Subjek penelitian ini adalah penelitian
sendiri sebagai pencari data. Objek dalam penelitian ini adalah 45 orang guru, dimana pada setiap kelas diambil satu
orang guru kelas sebagai objek penelitian. Data dikumpulkan dengan teknik observasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembinaan melalui penerapan reward and punishment dapat
meningkatkan kedisiplinan
guru dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan pembinaan
dan penerapan reward and punishment dapat meningkatkan kedisiplinan kinerja guru dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan disiplin kerja melalui reward bertingkat dan metode konsekuensi logis. Kesimpulan penelitian ini adalah reward bertingkat dan konsekuensi logis dengan layanan bimbingan induvidual efektif untuk meningkatkan
disiplin kerja. Penelitian ini juga memberikan saran operasional
reward bertingkat dan metode
konsekuensi logis yang efektif untuk meningkatkan
disiplin kerja.
Kata Kunci: Kedisiplinan Guru,
Reward and Punishment
Abstract:
The method used in this research is the School
Action Research (PTS) method. PTS is a research procedure adapted from
Classroom Action Research (PTK). The approach used in this action research is a
qualitative approach. This school action research was carried out at the BPK
PENABUR Serang School Foundation. Term from July 31,
2022 � December 17, 2022. The subject of this research is research itself as a
data seeker. The object in this study were 45 teachers, where in each class one
class teacher was taken as the object of research. Data was collected using
observation techniques. The results of the study showed that the implementation
of coaching through the application of rewards and punishments can improve
teacher discipline in learning. Based on the results of this study, it can be
concluded that coaching and applying reward and punishment can improve the
discipline of teacher performance in learning. This study aims to improve work
discipline through multilevel rewards and logical consequence methods. The
conclusion of this study is multilevel rewards and logical consequences with
effective individual guidance services to improve work discipline. This study
also provides operational suggestions for multilevel rewards and logical
consequence methods that are effective for increasing work discipline.
Keywords:
Teacher Disciplne,
Reward and Punishment������������������������������������������������������
Corresponding: Chandra Sagul Haratua
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Dalam undang � undang No.
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan
bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dengan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik mendidik
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Untuk mencapai tujuan itu dibutuhkan pendidikan berkualitas dengan proses belajar dan mengajar yang baik (Junaedi, 2019). Dalam konteks yang demikian, guru memainkan peranan yang penting dan strategis khususnya dalam menemukan dan mengembangkan pendekatan,
strategi, dan teknik pembelajaran
yang efektif untuk mengubah perilaku peserta didik sesuai
arah yang diinginkan (Khoerunnisa
& Aqwal, 2020).
Dalam suatu proses pembelajaran,
terjadi proses interaksi antara guru dan siswa. Di sinilah sangat diperlukan kedisiplinan baik oleh guru maupun siswa (Blair &
Serafini, 2014). Terciptanya
situasi yang disiplin, dapat menimbulkan jalannya pelajaran, sehingga berpengaruh terhadap pencapaian tujuan (Marianah,
2018). Demikian
pula bagi guru disiplin mengajar harus ditingkatkan agar secara efektif dapat dicapai
suatu etos kerja yang semaksimal mungkin dalam rangka
meningkatkan mutu pengajaran di kelas (Poniman, 2021). Kenyataan menunjukkan
bahwa dalam suatu kehidupan, orang-orang yang
berhasil dalam hidupnya kebanyakan dilandasi oleh disiplin diri yang sangat tinggi (YUNIARTO,
2021).
Dalam rangka peningkatan kualitas manusia Indonesia, maka titik berat
pembangunan bidang pendidikan dewasa ini adalah peningkatan
mutu Pendidikan (Mahfudi, 2023). Dalam hal ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya atau kebijaksanaan seperti pembaharuan kurikulum, penataran-penataran bagi para guru, pengadaan sarana dan prasarana yang lebih baik bagi
keberhasilan suatu cita-cita Pendidikan (Fatma, 2021). Dalam belajar
sangat diperlukan kedisiplinan,
karena akan selalu mentaati rencana kerja dalam
mengajar, sehingga akan menjadi suatu
kebiasaan yang melekat pada
dirinya. Dengan demikian kebiasaan yang baik akan dapat
dicapai suatu hasil atau prestasi
yang memuaskan di dalam
proses belajarnya. Dalam usaha apapun juga, keterangan dan disiplin akan tetap merupakan
kunci untuk memperoleh hasil yang baik (Gie, 2008:60). Disiplin belajar harus diterapkan, mengingat padatnya materi pelajaran yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu
sesuai dengan kurikulum yang ada. Tanpa adanya disiplin
belajar materi tersebut tidak akan dapat dilakukan,
maka tidak mungkin dapat tercapai
prestasi yang semaksimal mungkin. Keterangan dan kedisiplinan dalam menggunakan waktu kehadiran, ketertiban, keaktifan dan kerapian melaksanakan tugas mengajar merupakan kunci utama untuk
memperoleh prestasi bagi kompetensi guru akan menjadi baik
(Marianah,
2018). Oleh karena
itu kedisiplinan mengajar yang timbul dari dalam diri
guru harus lebih ditingkatkan dan digali sehingga dapat menunjang pencapaian tujuan yang diinginkan. Seorang Supervisor kependidikan harus dan perlu juga untuk memberi dorongan
atau motivasi kepada kinerja guru yang berasal dari luar
diri guru untuk merangsang semangat bekerja di dunia Pendidikan (Pasiakan,
2023).
Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan, bahwa kedisiplinan mengajar di kelas akan sangat besar pengaruhnya bagi kompetensi dan kapabilitas serta aseptabilitas bagi kinerja guru dalam kegiatan belajar mengjar di sekolah (NURLAILI,
2021). Inilah
yang mendasari pelaksanaan pengawasan terhadap guru, dimana pengawasan yang dilakukan dalam bentuk penelitian tindakan sekolah (PTS) ini berfokus pada �Meningkatkan Disiplin Kerja Guru Melalui Metode Reward Bertingkat dan Konsekuensi Logis Di Lingkungan Yayasan Sekolah BPK
PENABUR Serang� Tahun
Ajaran 2022 � 2023�.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah
penelitian ini adalah: �bagaimanakah
upaya meningkatkan kedisiplinan kinerja guru dalam pembelajaran melalui penerapan reward and
punishment di Yayasan BPK PENABUR Serang?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penelitian
bertujuan untuk mengetahui upaya meningkatkan kedisiplinan kinerja guru dalam pembelajaran melalui penerapan reward and punishment di Yayasan BPK PENABUR Serang
Pembinaan Pengajaran Beragamnya
permasalahan terhadap guru dalam meningkatkan sumber dayanya tentu akan memberikan
pengaruh dalam melaksanakan pekerjaan dan tanggung jawab. (Sahertian 2010:130) mengemukakan bahwa: Masalah-masalah yang dihadapi guru sebagai pendidik dan pengajar terdiri atas: 1. Masalah umum yaitu : (a) Membantu guru dalam menerjemahkan kurikulum dari pusat kedalam
bahasa belajar mengajar, (b) Membantu guru dalam meningkatkan program belajar mengajar, yaitu: membantu dalam merencanakan program belajar mengajar, membantu dalam melaksanakan evaluasi serta tindak lanjut
program belajar mengajar.������� 2. Masalah-masalah
khusus, meliputi : (a) membantu guru dalam menghadapi kesulitan dalam mengajarkan tiap mata pelajaran, (b) membantu guru dalam memecahkan masalah-masalah pribadi, dan (c) membantu guru dalam menghadapi masalah khusus. Mengingat hal tersebut
sangat dirasakan perlunya pembinaan yang berkesinambungan dengan program yang terarah dan sistematis terhadap guru dan personil sekolah. Program pembinaan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar disebut pembinaan pengajaran. (Purwanto 2008:76) mengemukakan bahwa; �Pembinaan pengajaran adalah kegiatan-kegiatan pembinaan yang ditunjukkan untuk memperbaiki kondisi-kondisi baik personal maupun material
yang memungkinkan terciptanya
situasi belajar-mengajar
yang lebih baik demi tercapainya tujuan pendidikan�. Selanjutnya mengenai pengertian pembinaan pengajaran, (Mulyasa 2009:25) menyatakan: Pembinaan pengajaran merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu
para guru dan supervisor dalam mempelajari
tugas sehari-hari di
madrasah, agar dapat menggunakan
pengetahuan dan kemampuannya
untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai masyarakat belajar yang lebih efektif.
Kedisiplinan
Menurut (Suwandi dan Sanjari
2009:11-12) menjelaskan secara
rinci mengenai pengertian disiplin sebagai berikut :
1. Latihan yang memperkuat. Disiplin dikaitkan dengan latihan yang memperkuat, terutama ditekankan pada pikiran dan watak untuk menghasilkan kendali diri, kebiasaan
untuk patuh dan sebagainya. Latihan-latihan dalam rangka menghasilkan
kebiasaan patuh dapat dilihat pada penanaman disiplin di kalangan Angkatan Bersenjata.
Ibadah puasa dapat digolongkan sebagai suatu latihan dalam
arti penanaman disiplin
yang tujuannya untuk mempertinggi daya kendali diri.
2. Koreksi dan sanksi.
Arti disiplin dalam kaitannya dengan koreksi dan sanksi terutama diperlukan dalam suatu lembaga
yang telah mempunyai tata tertib yang baik. Bagi yang melanggar tata tertib dapat dilakukan
dua macam tindakan, yaitu berupa koreksi
untuk memperbaiki kesalahan dan sanksi. Keduanya harus dilaksanakan secara konsisten untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan pelanggaran terhadap norma dan kaidah yang telah disepakati bersama.
3. Kendali atau
terciptanya ketertiban dan keteraturan. Orang-orang yang berdisiplin
adalah orang-orang yang mampu
mengendalikan dirinya. Demikian ketertiban masyarakat, pembinaan disiplin harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan teknologi dan tingkat perkembangan masyarakat. perpaduan antara ketertiban dan keteraturan menghasilkan suatu aturan tata laku.
4. Sistem aturan
dan tata laku. Setiap kelompok manusia masyarakat atau bangsa selalu terikat
pada berbagai peraturan
yang mengatur hubungan sesama anggotanya maupun masyarakat, bangsa atau negara. Manusia dari masyarakat
wajib berperilaku baik yang formal, non formal maupun yang disepakati, jika ingin masyarakat
atau bangsa itu disebut berdisiplin.
Indikator Kedisiplinan Guru
Menurut (Suwandi dan Sanjari
2009:34) guru dikatakan mengajar
dengan disiplin apabila telah mentaati
semua peraturan atau tata tertib di sekolah, suatu sikap yang meliputi :
1. Keaktifan masuk
sekolah. Aktif masuk sekolah berarti
aktif atau rajin masuk sekolah,
sepanjang, dalam keadaan sehat atau
tidak sakit. Guru yang aktif akan mementingkan
sekolahnya walaupun ada kepentingan keluarga sekalipun, sikap ini didasari
oleh disiplin diri dan tidak menyiakan waktu sehingga tidak merugi.
2. Ketertiban di dalam
kelas Di dalam tata tertib sekolah telah disebutkan bahwa kewajiban guru adalah �ikut membantu
agar tata tertib sekolah dapat berjalan dari ditaati� juga disebutkan dalam larangan guru yaitu �mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar dalam kelasnya maupun terhadap kelas lain�. Dengan sikap ini
maka pengajaran tidak akan terhambat,
karena guru tidak mengganggu jalannya proses kegiatan belajar mengajar dan dengan kesadaran akan selalu menciptakan ketertiban di dalam kelas maupun sekolahnya.
Hal ini berpengaruh terhadap kelancaran proses belajar mengajar.
3. Keaktifan memberikan
materi ajar sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas yang ditentukan dalam juknis yang bernama RPP. Guru akan selalu memberikan materi ajar sesuai dengan jam dan jadwal pelajaran di kelas sejak awal sampai
berakhir jam pelajaran. Dengan demikian tidak satupun materi
ajar yang diabaikan, sehingga
prestasi mengajar juga akan dapat dicapai
secara menyeluruh dengan mutu yang baik
Reward and Punishment Metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman)
merupakan suatu bentuk teori penguatan
positif yang bersumber dari teori Behavioristik.
Menurut teori Behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai
akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus
dan respon (Budiningsih,
2010). Menurut (Purwanto 2012)
�reward (ganjaran) ialah alat untuk mendidik
anakanak supaya anak dapat merasa
senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan�. Sedangkan Menurut (Indrakusuma 2008)
�reward (ganjaran) adalah penilaian yang bersifat positif terhadap belajarnya siswa�.
Penerapan disiplin dapat ditegakan melalui pemberian reward and punishment. Reward dan punishment merupakan dua bentuk metode dalam memotivasi
seseorang untuk melakukan kebaikan dan meningkatkan prestasinya. Kedua metode ini
sudah cukup lama dikenal dalam dunia kerja. Tidak hanya
dalam dunia kerja, dalam dunia penidikan pun kedua ini kerap
kali digunakan. Namun selalu terjadi perbedaan pandangan, mana yang lebih diprioritaskan antara reward dengan punishment?
Reward artinya ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan. Dalam
konsep manajemen, reward merupakan salah satu alat untuk peningkatan
motivasi para pegawai. Metode ini bisa
mengasosiasikan perbuatan
dan kelakuan seseorang dengan perasaan bahagia, senang, dan biasanya akan membuat
mereka melakukan suatu perbuatan yang baik secara berulang-ulang.
Selain motivasi, reward
juga bertujuan agar seseorang
menjadi giat lagi usahanya untuk
memperbaiki atau meningkatkan prestasi yang telah dapat dicapainya.
Sementara punishment diartikan
sebagai hukuman atau sanksi. Jika reward merupakan bentuk reinforcement
yang positif, maka
punishment sebagai bentuk
reinforcement yang negatif, tetapi
kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi
alat motivasi.
Macam-macam Reward and Punishment Reward (ganjaran) adalah penilaian yang bersifat positif terhadap kinerja guru. Menurut (Indrakusuma 2009) reward
(ganjaran) yang diberikan kepada guru bentuknya bermacam-macam, secara garis besar reward (ganjaran) dapat dibedakan menjadi empat macam,
yaitu: 1. Pujian Pujian adalah satu
bentuk reward (ganjaran)
yang paling mudah dilakukan.
Pujian dapat berupa kata-kata seperti: baik, bagus, bagus
sekali dan sebagainya, tetapi dapat juga berupa kata-kata yang bersifat sugesti. 2. Penghormatan Reward (ganjaran) yang berupa penghormatan ini dapat berbentuk dua macam pula. Pertama berbentuk semacam penobatan. Kedua, penghormatan yang berbentuk pemberian kekuasaan untuk melakukan sesuatu. 3. Hadiah Yang dimaksud dengan hadiah di sini ialah reward (ganjaran) yang berbentuk pemberian yang berupa barang. Reward (ganjaran) yang berupa pemberian barang ini disebut juga reward (ganjaran) materiil. 4. Tanda Penghargaan Jika hadiah adalah reward (ganjaran) yang berupa barang, maka tanda penghargaan
adalah kebalikannya. Tanda penghargaan tidak dinilai dari segi
harga dan kegunaan barang-barang tersebut, seperti halnya pada hadiah. Melainkan, tanda pengahargaan dinilai dari segi
�kesan� atau �nilai kenang�nya.
Oleh karena itu reward (ganjaran) Jamaluddin 30 atau tanda penghargaan ini disebut juga reward (ganjaran) simbolis. Reward (ganjaran) simbolis ini dapat berupa
surat-surat tanda jasa, sertifikat-sertifikat. Dari
keempat macam reward (ganjaran) tersebut di atas, dalam penerapannya
seorang guru dapat memilih bentuk macam-macam reward (ganjaran)
yang cocok dengan guru dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi, baik situasi dan kondisi siswa atau
situasi dan kondisi keuangan, bila hal itu menyangkut
masalah keuangan
METODE
PENELITIAN
Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian
Tindakan Sekolah (PTS). Pendekatan
yang digunakan dalam penelitian tindakan ini ialah pendekatan
kualitatif. Artinya, penelitian ini dilakukan karena ditemukan permasalahan rendahnya tingkat kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas pada proses kegiatan belajar mengajar. Permasalahan ini ditindaklanjuti dengan cara menerapkan
sebuah model pembinaan kepada guru berupa penerapan Reward dan Punishment yang dilakukan
oleh kepala sekolah, kegiatan tersebut diamati kemudian dianalisis dan direfleksi. Hasil revisi kemudian diterapkan kembali pada siklus-siklus berikutnya (Sugiyono,
2018).
Peneliti menggunakan model ini
karena dianggap paling praktis dan aktual. Kegiatan penelitian tindakan sekolah ini, terdiri atas
beberapa tahap, yaitu :
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Pengamatan
4. Refleksi
Langkah-langkah penelitian
tindakan sekolah dapat digambarkan seperti gambar dibawah ini :

Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan di Yayasan BPK
PENABUR Serang Jangka jadwal penelitian dari proses pengamatan awal sampai selesainya
pembuatan laporan, penelitian dilakukan dari Bulan Agustus
� Desember 2022.
Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah penelitian sendiri sebagai pencari data. Objek dalam penelitian ini adalah 45 orang guru.
Prosedur Penelitian
Prosedur kerja dalam penelitian tindakan sekolah ini meliputi
tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Tahapan tersebut direncanakan dalam 2 (tiga) siklus. Diharapkan
dengan pembinaan dalam 2 siklus, kedisiplinan kinerja guru dalam pembelajaran. Metode Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dari penelitian tindakan sekolah ini adalah
melalui data kualitatif
yang diperoleh dari observasi, pengamatan, maupun wawancara.
HASIL DAN
PEMBAHASAN PENELITIAN
Hasil Penelitian Penelitian
Tindakan Sekolah (PTS) ini dilaksanakan dalam dua siklus. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu yang tersedia, serta dengan dua siklus sudah penulis
anggap cukup untuk peningkatan disiplin guru dalam kehadiran dikelas pada kegiatan belajar mengajar.
Pelaksanaan Siklus I�
a. Perencanaan
Perencanaan adalah
langkah awal yang dilakukan oleh penulis saat akan memulai
tindakan. Agar perencanaan mudah dipahami dan dilaksanakan oleh penulis yang akan melakukan tindakan, maka penulis membuat rencana tindakan
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan dilakukan dengan pencatatan data.
c. Observasi Dilakukan
dengan tahapan-tahapan pelakasanaan seperti :
1. ketepatan waktu
guru dalam mengumpulkan tugas
2. kelengkapan data adminitrasi
guru
Berdasarkan hasil
penelitian dan pengamatan (observasi) yang dilakukan pada siklus I maka diperoleh
hasil penelitian disampaikan dalam bentuk tabel dengan
grafiknya


Dari data di atas menunjukkan bahwa hasil observasi
oleh peneliti di Yayasan PENABUR Serang
cukup memuaskan dan hal ini akan
berdampak tidak baik dalam kegiatan
proses belajar mengajar di kelas. Oleh karena itu penulis melakukan
kembali observasi di siklus I belum sesuai dikarenakan kedisiplinan sebagian besar guru berkategori C.
d. Refleksi Sebagai
refleksi setelah terjadi pelaksanaan kegiatan penelitian dalam proses belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan bahwa para guru di Yayasan PENABUR Serang
masih kurang dalam memotivasi diri dan kedisiplinan selama pembelajaran berlangsung dan ini akan berdampak negatif bagi siswa
baik untuk peningkatan prestasi belajar siswa maupun
untuk meningkatkan motivasi belajar siswa
Pelaksanaan Siklus II
a. Perencanaan Dari hasil
refleksi pada siklus pertama, peneliti merencanakan untuk melakukan tindakan Reward dan
Punishment yang lebih tegas
dibandingkan dengan siklus pertama. Peneliti merencanakan untuk mengumumkan hasil observasi mengenai tingkat keterlambatan guru di briefing pagi . Hal ini terlebih dahulu
disosialisasikan kepada semua guru pada saat refleksi siklus pertama
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan dilakukan dengan pencatatan data.
c. Observasi Dilakukan
dengan tahapan-tahapan pelakasanaan seperti :
1. ketepatan waktu
guru dalam mengumpulkan tugas
2. kelengkapan data adminitrasi
guru
Berdasarkan hasil
penelitian dan pengamatan (observasi) yang dilakukan pada siklus I maka diperoleh
hasil penelitian disampaikan dalam bentuk dan dengan grafiknya
|
Kesimpulan |
||
|
Sangat Baik |
7 |
16% |
|
Baik |
37 |
82% |
|
Cukup |
1 |
2% |

d. Refleksi Sebagai
refleksi setelah terjadi pelaksanaan kegiatan penelitian dalam proses belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan bahwa para guru di Yayasan PENABUR Serang
telah baik dalam memotivasi diri dan kompetensi kedisiplinan dalam perencanaan pembelajaran dalam adminitrasi� selama
pembelajaran berlangsung
dan ini akan berdampak positif bagi siswa baik
untuk peningkatan prestasi belajar siswa maupun untuk
meingkatkan motivasi belajar siswa.
PEMBAHASAN
Penelitian tentang meningkatkan
efektifitas pembinaan kedisiplinan kinerja guru dalam pembelajaran di Yayasan
PENABUR Serang melalui penerapan reward and punishment Adapun hasil
dari penelitian ini adalah :
1) Kinerja guru dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah sebagai berikut:
a) menyiapkan buku
guru dan buku siswa sebelum proses pembelajaran,
b) memahami buku
siswa dan buku guru,
c) membuat RPP sesuai
kebutuhan dengan beberapa penyesuaian,
d) guru selalu
menyisipkan pesan moral ketika proses pembelajaran,
e) untuk meningkatkan
minat belajar siswa, guru menerapkan sistem reward dan punishment,
f)
guru mengembangkan potensi
kognitif siswa dalam pembelajaran,
g) menyediakan alat
dan media pembelajaran baik
media nyata maupun dengan menggunakan proyektor, dan
h) menyiapkan instrumen
penilaian
2) Upaya guru dalam meningkatkan mutu pendidikan sebagi berikut:
a) mengadakan pelatihan
berupa diklat kurikulum 2013 dan
b) progam sertifikasi
guru.
c) program guru penggerak.
3)
Kendala guru dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu:
a) pembelajarannya sulit
diterima peserta didik terutama kelas bawah,
b) penilaian di kurikulum
2013 menyita banyak waktu bagi guru,
c) materi yang� tidak sesuai dengan usia
dan tingkatannya dalam penggunaan buku guru dan siswa,
d) kesiapan guru dalam
mengajar yang kurang,
e) guru merasa
terbebani dengan penilaian autentik.
KESIMPULAN
Metode reward bertingkat dan konsekuensi
logis dapat meningkatkan disiplin kerja para guru di Yayasan PENABUR Serang.
Keberhasilan kepala sekolah dalam mempersiapkan
dan melaksanakan proses pembelajaran
sehingga membuat pembelajaran menyenangkan, serta memotivasi guru untuk segera menyelesaikan
setiap tugas adminitrasi.
DAFTAR PUSTAKA
Blair, Risa, &
Serafini, Tina M. (2014). Integration of education: Using social media networks
to engage students. Systemics. Cybernetics, and Informatics, 6(12),
28�31.
Fatma, Fatma. (2021).
Meningkatkan Etos Kerja Mandiri Guru Di SDN Bulungkobit Kecamatan Tinangkung
Kabupaten Banggai Kepulauan Tahun Pelajaran 2019/2020 Dengan Efektifitas
Program Pembinaan Kedisiplinan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jurnal Edukasi
New Normal (JENN), 1(3), 43�47.
Junaedi, Ifan. (2019).
Proses pembelajaran yang efektif. JISAMAR (Journal of Information System,
Applied, Management, Accounting and Research), 3(2), 19�25.
Khoerunnisa, Putri,
& Aqwal, Syifa Masyhuril. (2020). ANALISIS Model-model pembelajaran. Fondatia,
4(1), 1�27.
Mahfudi, Mahfudi.
(2023). PENINGKATAN KEDISIPLINAN GURU DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN DI KELAS
MELALUI SUPERVISI KUNJUNGAN KELAS PENGAWAS. Jurnal Penelitian Pendidikan
Indonesia, 8(2).
Marianah, Marianah.
(2018). Efektifitas Program Pembinaan Kedisiplinan Guru Dalam Proses Belajar
Mengajar Dengan Mutu Kompetensi Guru Di Sekolah Dasar Negeri 3 Selat Hilir
Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas. Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
(JPIPS), 10(02), 33�50.
NURLAILI, NURLAILI.
(2021). EFEKTIFITAS PROGRAM PEMBINAAN KEDISIPLINAN DALAM PROSES BELAJAR
MENGAJAR TERHADAP ETOS KERJA MANDIRI GURU DI SD NEGERI 006 UJUNGBATU TAHUN
PELAJARAN 2019/2020. Jurnal Edu Research, 10(1), 18�24.
Pasiakan, Luther.
(2023). Efektitifas Program Pembinaan Kedisiplinan dalam Proses Belajar
Mengajar terhadap Etos Kerja Mandiri Guru di SMAN 1 Sungai Melayu Rayak
Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal Penelitian Inovatif,
3(1), 215�228.
Poniman, Poniman.
(2021). Efektivitas Program Pembinaan Kedisiplinan Dalam Proses Kegiatan
Belajar Mengajar Terhadap Etos Kerja Mandiri Guru SDN 2 Awar-Awar Kecamatan
Asembagus Kabupaten Situbondo. Jurnal Revolusi Pendidikan (JUREVDIK), 4(1),
18�24.
Sugiyono. (2018). Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
YUNIARTO, MUHAMMAD
RIFKI. (2021). EFEKTIFITAS PROGRAM SUPERVISI KUNJUNGAN KELAS OLEH KEPALA
SEKOLAH SEBAGAI PEMBINAAN KEDISIPLINAN GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI
SDN 1 PALANGKAI KECAMATAN PULAU PETAK KABUPATEN KAPUAS. Pahlawan: Jurnal
Pendidikan-Sosial-Budaya, 17(1a), 52�56.
�