PENGARUH
PELATIHAN DAN KOMPENSASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN MELALUI MOTIVASI KERJA
SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
Ida
Universitas Muhammadiyah Jakarta
idande15@gmail.com
Abstrak:
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelatihan
kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja sebesar 0,445.
Kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja sebesar
0,318. Pelatihan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
pegawai sebesar 0,218. Kompensasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan
terhadap kinerja pegawai sebesar -0,049. Motivasi kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja pegawai sebesar 0,622. Pelatihan kerja berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kinerja pegawai melalui motivasi kerja sebesar 0,276.
Kompensasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Kinerja Karyawan
melalui Motivasi Kerja sebesar -0,079. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pengaruh langsung pelatihan kerja terhadap motivasi kerja memiliki pengaruh
yang paling besar, sedangkan pengaruh langsung pelatihan kerja terhadap kinerja
karyawan merupakan pengaruh yang paling kecil. Pelatihan kerja berpengaruh positif dan signifikan
terhadap motivasi kerja, jika karyawan mendapat menerapkan pelatihan kerja yang
tinggi, maka kinerja karyawan akan meningkat. Pelatihan kerja berpengaruh
positif dan signifikan secara langsung terhadap kinerja karyawan, jika karyawan
dapat menerapkan pelatihan kerja yang tinggi akan baik, maka kinerja karyawan
akan meningkat.
Kata kunci: Pelatihan Kerja, Kompensasi, Motivasi Kerja,
Kinerja Karyawan.
Abstract:
The results showed that job training
had a positive and significant effect on work motivation of 0.445. Compensation
has a positive and significant effect on work motivation of 0.318. Job training
has a positive and significant effect on employee performance of 0.218.
Compensation has a negative and insignificant effect on employee performance of
-0.049. Work motivation has a positive and significant effect on employee
performance of 0.622. Job training has a positive and significant effect on
employee performance through work motivation of 0.276. Compensation has a
negative and insignificant effect on employee performance through work
motivation of -0.079. So it can be concluded that the direct effect of job
training on work motivation has the greatest influence, while the direct effect
of job training on employee performance is the smallest effect. Job training
has a positive and significant effect on work motivation, if employees get high
job training, employee performance will increase. Job training has a positive
and significant direct effect on employee performance, if employees can apply
high job training it will be good, then employee performance will increase.
Keywords: Job Training,
Compensation, Work Motivation, Employee Performance.
����������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding: Ida
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Perusahaan adalah
sutau lembaga yang diorganisir dan dijalankan untuk menyediakan barang dan jasa
agar dapat melayani permintaan konsumen akan kebutuhan mereka dalam melaksanakan proses produksinya, suatu perusahaan
membutuhkan faktor�faktor produksi yang dapat menunjang tercapainya tujuan perusahaan. Faktor � faktor tersebut adalah bahan baku,
modal, dan manusia. Demikian pada faktor manusia, faktor ini memang memegang peranan yang sangat penting
dalam pelaksanaan proses produksi. Oleh karena itu, pihak manajemen harus selalu memperhatikan faktor manusia atau tenaga
kerja yang dapat menentukan keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya.
Memperkerjakan karyawan dalam ikatan kerja outsourcing nampaknya sedang
menjadi tren atau model bagi pemilik atau pemimpin perusahaan baik itu
perusahaan milik negara atau perusahaan milik swasta.
Fenomena memilih
kebijakan untuk menggunakan tenaga kerja outsourcing semakin bertambah
saat terjadinya krisi ekonomi global melanda dunia termasuk Indonesia. Karena
cukup banyak perusahaan yang mengalami
penurunan tingkat penjualan, sedangkan dilain pihak kebutuhan biaya hidup karyawan
meningkat karena kenaikan harga bahan kebutuhan pokok, maka terjadilah konflik
antara karyawan yang menuntut kenaikan upah tetapi manajemen kesulitan memenuhi
karena kondisi perusahaan menurun (Muniasa, 2021).
Berdasarkan Undang-Undang No. 13/2003
pada Pasal 64, pengertian hubungan kerja sistem outsourcing hanya dapat
dilakukan melalui dua bentuk perjanjian kerja yang dibuat secara tertulis,
yaitu (1) pemborongan pekerjaan, atau (2) penyedia jasa pekerja/buruh.
Kepmenakertrans Republik Indonesia No. 220/MEN/X/2004
tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada
Perusahaan Lain dan Kepmenakertrans Republik Indonesia No. 101/MENNI/2004
tentang Tata Cara Perizinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja atau Buruh. Pemborongan pekerjaan yang merupakan
salah satu dari jenis kegiatan hubungan kerja sistem outsourcing sebenamya
telah diatur secara khusus dalam KUH Perdata Buku III Bab 7 A bagian VI. Industri Jasa
Kebersihan (Cleaning Service) di Indonesia saat ini berkembang sangat
cepat, dengan ditandai banyaknya wilayah pusat bisnis yang dibuka oleh
Pemerintah maupun swasta nasional dan perusahaan asing, baik sektor industry atau pabrik, gedung perkantoran, pusat
perbelanjaan, hotel dan apartemen serta tempat-tempat hiburan.
PT SIP didirikan sejak tahun 2019 yang beralamatkan di jalan
Pangkalan Jati II No 65B Cinere, Depok, Jawa Barat dan mulai mengkhususkan
usahanya sebagai perusahaan pengelola tenaga kerja outsourcing seperti Jasa
Kebersihan (Cleaning Service), Jasa Pelayanan Seksi kamar (Room
Attendant) dan Jasa Perawatan Taman (Landscape Maintenance) didaerah
Pangkalan Jati, Cinere-Depok dan akan terus memperluas cakupan wilayah hingga
ke kota-kota besar di Indonesia. Selain mengkhususkan usahanya pada penyedia
jasa, Room Attendant dan Landscape Maintenance. Berikut adalah hasil
penilaian kinerja karyawan PT SIP pada kurun waktu tahun 2020 � 2021, yaitu
sebagai berikut:
Tabel 1.1 Penilaian Kinerja Karyawan PT. SIP Pada Periode Tahun 2020 �
2021
|
Jenis
Pekerjaan |
Tahun 2020 |
Tahun 2021 |
Rerata |
|
Cleaner |
77,31 |
77,45 |
77,38 |
|
Gardener |
79,75 |
74,17 |
76,96 |
|
Rerata |
78,53 |
75,81 |
154,34 |
Sumber: Data Diolah Peneliti, 2022
Berikut adalah
standar skor nilai penilaian kinerja karyawan pada PT. Saida Indica Pratama:
Tabel 1.2 Skor Nilai Penilaian Kinerja Karyawan PT SIP 2022
|
Kategori |
Skor (dalam angka) |
Skor (dalam huruf) |
|
Sangat baik |
81 � 100 |
A |
|
Baik |
66 � 80 |
B |
|
Cukup |
51 � 65 |
C |
|
Kurang |
0 � 50 |
D |
Sumber: Data Primer bagian HRD PT SIP, 2022
Berdasarkan
hasil pada tabel 1.1 di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengan jenis pekerjaan yang
dilakukan oleh cleaner diantaranya adalah pembersihan sudut lantai (spotting),
aksesoris gedung (wipe clean), dinding ruang kerja (spotting wall),
kaca/ cermin (glass cleaning), plafon (celling cleaning),
pembersihan pintu kantor (spotting door), tempat sampah (washing),
penyapuan (sweeping), yang dilakukan pada tahun 2020 untuk periode tahun 2020 dengan nilai �77,31� yaitu dimana hasil tersebut cenderung
berfluktuasi lebih rendah dan menurun pada
kinerja karyawan. Kemudian pada kurun waktu 2021 dengan
nilai �77,45� yaitu dimana hasil tersebut cenderung berfluktuasi lebih tinggi dan meningkat kinerja karyawan
dari tahun sebelumnya. Sedangkan untuk
jenis pekerjaan yang dilakukan gardener diantaranya melakukan perawatan tanaman
yang ada di sekitar kantor/ gedung (pemupukan, pemangkasan, penyiraman),
perbanyakan tanaman (pembelian tanaman baru, penanaman bibit), pemeliharaan
tanaman, membuat tanaman selalu terjaga dan dirawat dengan baik, yang dilakukan
pada tahun 2020 dengan nilai �79,75� yaitu dimana hasil tersebut cenderung
berfluktuasi lebih tinggi dan meningkat kinerja karyawan. Kemudian pada tahun 2021 dengan nilai �74,17� yaitu
dimana hasil tersebut cenderung berfluktuasi lebih rendah dan menurun terhadap
kinerja karyawan
dari tahun sebelumnya.� Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa rerata karyawan yang bekerja
sebagai cleaner pada kurun waktu antara tahun 2020 � 2021 yaitu dengan hasil
77,38 atau dalam kategori baik. Sedangkan untum karyawan yang bekerja sebagai
gardener pada kurun waktu 2020 � 2021 yaitu dengan hasil 76, 96 atau kategori
baik. Sedangkan apabila dilihat berdasarkan data penilaian kinerja karyawan
untuk tahun 2020 dengan pekerja keduanya menghasilkan nilai 78, 53 atau
kategori baik. Kemudian� untuk penilaian
kinerja karyawan pada tahun 2021 menghasilkan nilai 75, 81 atau kategori baik
akan tetapi lebih cenderung rendah dan menurunnya kinerja karyawan.
Berdasarkan
hasil pra survei pada
variabel pelatihan kerja dapat disimpulkan
bahwa pada presentase yang tidak terlalu tinggi yaitu sebesar 65% namun untuk
poin 4 persentase karyawan yang berkata TIDAK sebesar 35%. Sehingga dapat
diartikan bahwa fasilitas yang disediakan kurang memadai bagi karyawan dan
perlu ada fasilitas tambahan untuk program pelatihan karyawan agar dapat
mencapai tujuan maksimal perusahaan dan menghasilkan tujuan secara efektif dan
efesien.
Dapat
disimpulkan dari hasil
pra survei pada variabel kompensasi PT SIP mengenai
hasil pra survai kompensasi terdapat hasil 95% untuk jawaban YA darn untuk poin
3 dan 4 tentang Bonus dan BPJS sebesar 50% sehingga dapat diartikan bahwasannya
perusahaan belum optimal dalam penanganan bonus karyawan dan BPJS untuk karyawan,
maka harus ada koordinasi yang baik dari institusi yang berwenang menangani
bonus dan BPJS dengan PT SIP.
Berdasarkan
hasil pra survai pada variabel
kinerja karyawan di atas rata � rata menjawab YA
sebesar 80% dan untuk poin 3 dengan jawaban TIDAK sebesar 65%. Sehingga dapat
diartikan bahwa masih banyak kasus karyawan yang tidak mematuhi aturan yang
ditetapkan oleh SOP perusahaan dan berdampak buruk bagi perusahaan maupun karyawan.
Berdasarkan
hasil pra survai pada variabel
motivasi di atas dapat disimpulkan bahwa rata � rata
motivasi karyawan sebesar 80% dengan menjawab YA dan untuk poin 1 menjawab
TIDAK sebesar 40%. Sehingga dapat diartikan bahwa kesempatan karyawan dalam pengembangan
diri karyawan belum optimal yang dilakukan oleh perusahaan.
Berdasarkan
penelitian sebelumnya yang berjudul �Pengaruh Kompensasi Dan Pelatihan Terhadap
kinerja karyawan Melalui Motivasi Kerja Sebagai Variabel intervening (Studi
Pada PT. Sucofindo Cabang Semarang)� menyimpulkan bahwa variabel kompensasi
dan pelatihan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan PT
Sucofindo cabang Semarang melalui variable motivasi kerja sebagai intervening (Zahrani & Nugraha, 2020).
METODE
PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah riset survey disebut juga cross-sectional, dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh informasi
dari responden melalui sampel yang diteliti. Dalam penelitian ini penulis
menggunakan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Metode ini sebagai metode
ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu
konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional dan sistematis. Metode ini disebut
metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisa
menggunakan statistik.
Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif bersifat
asosiatif. Operasionalisasi variabel penelitian ini terdiri dari 3 jenis
variabel yaitu variabel eksogen (bebas), variabel endogen (terikat) dan
variabel interverning (mediator). Populasi yaitu sebanyak 110 orang responden, kemudian dengan menggunakan rumus slovin
sehingga terdapat sampel yaitu sebanyak 87 orang
responden. Sumber data adalah primer (kuesioner). Metode pengumpulan data
dengan kuesioner (angket), wawancara, observasi dan dokumentasi. Jenis
penelitian ini adalah deskriptif dan kausalitas.
Tabel
Karakteristik Responden




Hasil analisis responden menunjukkan bahwa responden didominasi
oleh laki � laki dengan jumlah 70 orang (80%). Mayoritas responden berada pada usia
produktif yaitu 20 � 30 tahun sejumlah 36 orang (41%).
Mayoritas responden mempunyai pendidikan terakhir responden yang mendominasi
adalah SMA dengan jumlah 65 orang (75%). Kemudian mayoritas responden dengan lama
masa kerja terlama yaitu 1 � 5 tahun sejumlah 50 orang (57%).
Metode
Analisis Data
Metode analisis data dilakukan dengan
menggunakan analisis jalur (path analysis). Analisis jalur atau path analysis
dapat digunakan untuk menganalisis pola hubungan diantara variabel Pada penelitian ini menggunakan 2 metode analisis data,
yaitu:
1. Uji Instrumen
a. Uji Validitas (Kekuatan)
b. Uji Reliabilitas (Kehandalan)
2. Uji Hipotesis
a. Uji t Parsial (Signifikansi)
b. Uji F (Simultan)
c. Uji Persamaan Struktural 1
d. Uji Persamaan Struktural 2
HASIL DAN
PEMBAHASAN
�� Menurut penelitian kriteria yang ditetapkan untuk
mengukur valid atau tidaknya suatu penelitian adalah r hitung lebih besar dari
r tabel pada tarif signifikan 5% atau 0,05 (Ghozali, 2015). Bila r
hitung lebih kecil dari r tabel maka alat ukur tersebut tidak memenuhi kriteria
valid. Dapat disimpulkan bahwa hasil tersebut adalah valid.
Hasil
Uji Reliabilitas
|
Variabel |
Jumlah
pertanyaan |
Cronbach�s alpha |
Nilai
tujuan |
Hasil |
|
X1 |
10
item |
0,909 |
0.60 |
Reliabel |
|
X2 |
8
item |
0,901 |
0.60 |
Reliabel |
|
Y |
8
item |
0,894 |
0.60 |
Reliabel |
|
Z |
10
item |
0,901 |
0.60 |
Reliabel |
Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa seluruh variabel yaitu XI,
X2, Y dan Z yang masing-masing terdiri dari 10 item yaitu pada variabel X1 dan
Z dan 8 item yaitu pada variabel X2 dan Y pernyataan dengan membandingkan nilai
Cronbach�s alpha dan nilai tunjukan dinyatakan Reliabilitas sehingga peneliti
dapat melanjutkan pada proses selanjutnya untuk melakukan uji hipotesis (Faisol & Eko Sujianto, 2020).
Uji
Hipotesis
Setelah uji instrument selesai dilakukan dan data dinyatakan
seluruhnya valid dan reliabel, maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji
hipotesis yang akan dilakukan melalui dua tahap yaitu uji t (Julia, 2021).
Uji t Parsial
Menurut Penelitian uji t
adalah pengujian koefisien regresi parsial individual yang digunakan untuk
mengetahui apakah variabel independen secara individual mempengaruhi variabel
dependen (Sujarweni, 2015). Uji
parsial dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel dengan
tingkat kesalahan 5%, maka rumus t tabel adalah:
�t tabel ������������������� =
t (a / 2; n � k � 1)
��������������������������������� =
t (0.05 / 2; 87 � 2 � 1)
��������������������������������� =
t (0.025; 84) = 1.98861�
Keterangan:
k = banyaknya variabel independen
n = jumlah anggota sampel
a = tingkat kesalahan 5%
(signifikansi 0.05)
�� Nilai
1.98861 diperoleh dengan melihat tabel distribusi t untuk jumlah responden 87
dan koefisien 0.025.
Hasil
SPSS Uji t Hipotesis 1 (H1) & Hipotesis 2 (H2)

Hasil pengujian Hipotesis 1 (H1) dan Hipotesis 2 (H2), dimana pada
hipotesis 1 menunjukkan utuh dalam hal ini menggambarkan bahwa pelatihan kerja
mempunyai pengaruh terhadap motivasi kerja dan pada
hipotesis 2 menggambarkan bahwa kompensasi mempunyai pengaruh terhadap motivasi (Lantu & Irfana, 2019).
������������ Hasil SPSS Uji t Hipotesis
3 (H3), Hipotesis 4 (H4), dan Hipotesis 5 (H5)

Hasil pengujian Hipotesis 3 (H3), Hipotesis 4 (H4) dan Hipotesis 5
(H5), dimana hipotesis 4 menggambarkan bahwa kompensasi tidak mempunyai
pengaruh terhadap kinerja karyawan,
sedangkan hipotesis 3 dan hipotesis 5 pelatihan kerja mempunyai pengaruh
terhadap kinerja karyawan
dan menggambarkan bahwa Motivasi mempunyai pengaruh terhadap Kinerja karyawan (Sapitri & Pancasasti, 2022).
Persamaan Struktur
Menurut penelitian
�Persamaan struktural adalah persamaan yang menyatakan hubungan antar variabel
pada diagram jalur yang ada� (Nurhaliza, Kusnandar, & Perdana, 2022). Pada
tahap pertama akan dihitung
koefisein jalur model I dan koefisien jalur model II.
Sub Sturktural Pertama
Koefisien
Jalur Sub Struktural Pertama


�
�
Gambar Sub Struktur Pertama
Diagram persamaan Jalur X1 dan X2
terhadap Y
Persamaan Jalur sub struktural pertama:
Y
= 𝜌𝑌𝑋1 𝑋1 + 𝜌𝑌𝑋2 𝑋2
+ Ԑ1
Y
= 0.445 X1 + 0.318 X2 + 0.750 e1
Sub Struktural Kedua
Koefisien Jalur Model kedua


Sumber:
data diolah, 2022
Gambar Sub Struktural kedua
Diagram persamaan Jalur X1, X2, Y
terhadap Z
Persamaan Jalur sub struktur Kedua:
Z
= 𝜌𝑍𝑋1 𝑋1 + 𝜌𝑍𝑋2 𝑋2
+ 𝜌𝑍𝑌 𝑌 + Ԑ2
Z
= 0.218X1 � 0,049
X2 + 0,622Y + 0.666 e2
Persamaan
Analisis Jalur Hasil
Persamaan Analisis Jalur
|
Model |
Variabel
eksogen |
Variabel
endogen |
Koefisien |
t
hitung |
Sig. |
R� |
|
Struktur
I |
Pelatihan Kerja |
Motivasi Kerja |
0,445 |
4,755 |
0,000 |
0,437 |
|
Kompensasi |
0,318 |
3,396 |
0,001 |
|||
|
Struktur
2 |
Pelatihan Kerja |
Kinerja Karyawan |
0,218 |
2,318 |
0,023 |
0,556 |
|
Kompensasi |
-0,049 |
-0,551 |
0,583 |
|||
|
Motivasi Kerja |
0,622 |
6,383 |
0,000 |
Sumber: Hasil data diolah, 2022
������������� Berdasarkan
hasil analisis jalur pada tabel 4.27, maka jalur pelatihan kerja terhadap
kinerja karyawan melalui motivasi kerja diperoleh nilai 0,276 yaitu dapat
disimpulkan bahwa analisis jalur efektif dan efesien , sedangkan untuk jalur
kompensasi terhadap kinerja karyawan melalui motivasi kerja diperoleh nilai
-0,079 yaitu dimana dapat disimpulkan bahwa analisis jalur tidak efektif dan
tidak efesien. Artinya pelatihan kerja yang baik disertai dengan motivasi kerja
yang tinggi akan menghasilkan kinerja karyawan yang baik pula pada perusahaan (Sembiring, 2020).
PEMBAHASAN
Hasil pengolahan data diatas dapat dijelaskan dengan menggunakan
lima (5) hipotesis yang diuji sebagai berikut: Hipotesis pertama yang menguji
pengaruh pelatihan kerja (X1) terhadap motivasi
kerja (Y) adalah Pelatihan kerja secara langsung berpengaruh positif (searah)
dan berpengaruh signifikan terhadap Motivasi kerja (Y), maka hipotesis pertama
(H1) diterima. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh penelitian yang menunjukkan bahwa pelatihan kerja
berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja (Gah & Syam, 2021).
Hipotesis kedua yang menguji pengaruh kompensasi
(X2) terhadap motivasi kerja (Y) adalah kompensasi
secara langsung berpengaruh positif (searah) dan berpengaruh signifikan
terhadap motivasi kerja (Y), maka hipotesis
kedua (H2) diterima. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang menunjukkan bahwa kompensasi berpengaruh
positif dan signifikan terhadap motivasi kerja (Rachmasari, 2021).
Hipotesis ketiga yang menguji pengaruh pelatihan
kerja (X1) terhadap kinerja karyawan (Z) adalah Pelatihan kerja secara
langsung berpengaruh positif (searah) dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan
(Z), maka hipotesis ketiga (H3) ditolak. Hasil ini mendukung penelitian yang
dilakukan oleh peneliti yang
menunjukkan bahwa pelatihan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja karyawan (Dwi Maysaroh, 2022).
Hipotesis keempat yang menguji pengaruh kompensasi
(X2) terhadap kinerja karyawan (Z) adalah Kompensasi secara langsung
berpengaruh negatif (tidak searah) namun tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan
(Z), maka hipotesis keempat (H4) ditolak. Hasil ini mendukung penelitian yang
dilakukan oleh peneliti yang
menunjukkan bahwa kompensasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap
kinerja karyawan (Yazin, 2022).
Hipotesis kelima yang menguji pengaruh motivasi
kerja (Y) terhadap kinerja karyawan (Z) adalah Kompensasi secara langsung
berpengaruh positif (searah) dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan
(Z), maka hipotesis kelima (H5) diterima. Hasil ini mendukung penelitian yang
dilakukan oleh peneliti yang
menunjukkan bahwa motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja karyawan (Saputro, Bairizki, & Hidayat, 2021).
Hasil ini menunjukkan bahwa secara langsung pelatihan kerja (X1)
melalui motivasi kerja
(Y) mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
karyawan (Z). Hasil ini
menunjukkan bahwa secara tidak langsung Kompensasi (X2) melalui Motivasi Kerja
(Y) mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja karyawan
(Z).
KESIMPULAN
Pelatihan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
motivasi kerja, jika karyawan mendapat menerapkan pelatihan kerja yang tinggi,
maka kinerja karyawan akan meningkat. Pelatihan kerja berpengaruh positif dan
signifikan secara langsung terhadap kinerja karyawan, jika karyawan dapat
menerapkan pelatihan kerja yang tinggi akan baik, maka kinerja karyawan akan
meningkat. Kompensasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja
karyawan, jika karyawan tidak mendapat kompensasi yang baik, maka kinerja karyawan
akan menurun atau rendah namun pada penerapannya tidak maksimal. Motivasi kerja
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja kinerja karyawan, jika karyawan
memiliki motivasi kerja yang tinggi, maka kualitas kinerja karyawan akan
meningkat. Motivasi kerja mampu memediasi pengaruh pelatihan kerja terhadap
kinerja karyawan. Artinya apabila karyawan memiliki pelatihan kerja yang baik,
disertai memiliki motivasi kerja yang tinggi maka kinerja karyawan akan semakin
sangat meningkat dan kinerjanya akan sangat optimal. Motivasi kerja tidak mampu
memediasi pengaruh kompensasi terhadap kinerja karyawan. Artinya apabila karyawan
memiliki kompensasi yang tidak baik, maka tidak memiliki motivasi kerja yang
tinggi, maka apabila diterapkan kinerja karyawan akan
semakin rendah serta tidak efektif dan efesien.
DAFTAR
PUSTAKA
Dwi Maysaroh, Alisya.
(2022). Pengaruh Pelatihan Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Terhadap
Peningkatan Kualitas Kinerja Karyawan Yang Dimediasi Oleh Variabel Motivasi
Pada Bank Rakyat Indonesia Kantor Cabang Jember. UIN KIAI HAJI ACHMAD
SIDDIQ JEMBER.
Faisol,
Faisol, & Eko Sujianto, Agus. (2020). Aplikasi Penelitian Keuangan Dan
Ekonomi Syariah Dengan Stata. Cahaya Abadi.
Gah,
Dicky Zulkarnain Rona, & Syam, Andi Hendra. (2021). Pengaruh pengalaman
kerja dan kemampuan kerja terhadap kinerja karyawan di Balai Latihan Masyarakat
Makassar. Jurnal Mirai Management, 6(2), 123�136.
Ghozali,
Imam. (2015). Aplikasi Analisis Multivariance dan Program SPSS. Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponorogo.
Julia,
Linda. (2021). PENGARUH MINAT BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS V
DI SDN MEGAMENDUNG 03PADA MASA PEMBELAJARAN DARING. Universitas Djuanda
Bogor.
Lantu,
Rita Zusana, & Irfana, Tungga Buana. (2019). Kepemimpinan dan Kepuasan
Kerja Dampaknya Terhadap Kinerja Guru. Jurnal Ilmiah Manajemen Ubhara, 1(1).
MUNIASA,
I. GUSTI. (2021). Eksistensi Tenaga Kontrak Pada Dinas Pemadam Kebakaran
Kabupaten Badung Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan. Universitas Mahasaraswati Denpasar.
Nurhaliza,
Wafiq, Kusnandar, Dadan, & Perdana, Hendra. (2022). Penerapan Structural
Equation Modeling Pada Analisis Kepuasan Mahasiswa Terhadap Sistem Informasi
Akademik Universitas Tanjungpura. Bimaster: Buletin Ilmiah Matematika,
Statistika Dan Terapannya, 11(3).
Rachmasari,
Putri. (2021). Pengaruh Kompensasi Dan Motivasi Terhadap Kepuasan Kerja
Karyawan. Kinerja, 3(02), 213�229.
Sapitri,
Dian, & Pancasasti, Ranthy. (2022). Efek Moderasi Budaya Organisasi Untuk
Peningkatan Kinerja Karyawan. Technomedia Journal, 6(2 Februari),
252�262.
Saputro,
Indra Eko, Bairizki, Ahmad, & Hidayat, Surahman. (2021). Pengaruh
Kompensasi dan Fleksibilitas Kerja Driver Grab terhadap Kinerja dan Motivasi
sebagai Variabel Intervening di Mataram. Jurnal Bina Bangsa Ekonomika, 14(1),
24�45.
Sembiring,
Hendri. (2020). Pengaruh motivasi dan lingkungan kerja terhadap kinerja
karyawan pada Bank Sinarmas Medan. Jurakunman (Jurnal Akuntansi Dan
Manajemen), 13(1).
Sujarweni,
V. Wiratna. (2015). Metodologi penelitian bisnis & ekonomi.
Yogyakarta: Pustaka baru press.
Yazin,
Moh. (2022). Pengaruh Kompensasi Finansial Dan Motivasi Terhadap Kinerja
Pengemudi PT. Grab Wilayah Bangkalan Melalui Kepuasan Kerja Sebagai Variabel
Mediasi. EKONOMIKA45: Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi Bisnis, Kewirausahaan,
9(2), 280�291.
Zahrani,
Nisrina, & Nugraha, Hari Susanta. (2020). Pengaruh Pelatihan Kerja Dan
Kompensasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Kasus Pada Customer Service
Representative PT. Telkom (Persero) Tbk Wilayah Telekomunikasi Semarang). Jurnal
Ilmu Administrasi Bisnis, 9(4), 412�419.