PENGARUH HARGA, PROMOSI, SUASANA TOKO, KUALITAS LAYANAN, CITRA MEREK
TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN COFFEE SHOP DENGAN SIKAP INTERVENING
Mochamad Rizal Hermawan1, Baruna Hadibrata2
Universitas Mercu Buana
[email protected]1, [email protected]2
Coffe shop sangat mudah
kita jumpai diberbagai negara, bahkan di berbagai sudut kota, jadi adanya coffe
shop menjadi hal yang sangat lumrah adanya. Menarik
untuk dikaji untuk mendapatkan jawaban atas faktor-faktor apa saja yang
mendorong konsumen untuk membeli Kopi. Namun fenomena di lapangan bahwa ada
beberapa coffee shop yang tutup padahal belum lama berdiri. Hal ini terjadi
karena coffee shop kehilangan pelanggannya. Kehilangan pelanggan membuat
keuntungan dan penjualan menurun sehingga kinerja bisnis menurun. Hal ini
diakibatkan oleh coffee shop yang kalah dalam bersaing dengan para
kompetitornya. Coffee shop tidak mampu menyediakan lokasi yang menarik, harga
yang kurang bersaing, bauran produk yang kurang unik dan berkualitas. Selain
itu, tidak ada pengembangan pada coffee shop yang pada akhirnya tutup. Setelah
melakukan tinjauan terhadap penelitian-penelitian sebelumnya, maka ditentukan
tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis pengaruh harga, suasana tempat,
promosi, kualitas layanan, dan citra merek, melalui sikap sebagai intervening
terhadap keputusan pembelian konsumen. Populasi adalah konsumen yang pernah
membeli Kopi Coffee shop di Depok, jenis sampelnya adalah purposive sampling
dan unit sampel adalah 200 responden. Analisis data menggunakan SEM dengan
program PLS. Dimana faktor harga, promosi, suasana toko, kualitas layanan, dan
citra merek mempengaruhi keputusan pembelian melalui sikap sebagai intervening.
Kata kunci: sikap, keputusan pembelian, kedai kopi
Abstract:
We can
easily find coffee shops in various countries, even in various corners of the
city, so having a coffee shop is very commonplace. It is interesting to study
to get answers on what factors drive consumers to buy coffee. However, it is a
phenomenon in the field that there are several coffee shops that are closed
even though they have not been established for a long time. This happened
because the coffee shop lost its customers. Losing customers makes profits and
sales decrease so that business performance decreases. This is caused by coffee
shops that are unable to compete with their competitors. Coffee shops are
unable to provide attractive locations, less competitive prices, less unique
and quality product mix. In addition, there was no development of the coffee
shop which eventually closed. After conducting a review of previous studies,
the research objective was determined, namely to analyze the effect of price,
atmosphere, promotion, service quality, and brand image, through attitudes as
an intervening consumer buying decision. The population is consumers who have
bought coffee from a coffee shop in Depok, the type of sample is purposive
sampling and the sample unit is 200 respondents. Data analysis using SEM with
the PLS program. Where the factors of price, promotion, store atmosphere,
service quality, and brand image affect purchasing decisions through attitudes
as intervening.
Keywords: attitudes, purchasing
decisions, coffee shop����
�����������������������������������������������������������������������������������������������������
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Berbagai negara
sudah sangat mudah kita menjumpai Kopi dan bahkan di berbagai sudut kota, jadi tidak mengherankan jika kopi adalah
salah satu komoditas utama dunia. Sebagai minuman ketiga yang paling banyak dikonsumsi secara global,
setelah air dan teh, biji kopi sangat diminati hampir di mana-mana. Menyadur
berita dari theiconomics.com yang mengacu pada data Kementerian Pertanian,
diproyeksikan bahwa terjadi peningkatan konsumsi kopi Nasional. Jika pada tahun
2016 jumlah konsumsi kopi nasional sebesar 249,8 ribu ton. Konsumsi kopi
domestik tahun 2021 meningkat menjadi 369,9 ribu ton tumbuh sekitar 13,9% per
tahun, melebihi konsumsi dunia 8%. Seperti terlihat pada grafik di bawah:
Sumber: https://.theiconomics.com/infographic/38699/
Gambar 1. Data Konsumsi Kopi Nasional
Perkembangan coffe shop meningkat dari 1.083 gerai di tahun 2016 menjadi
2.937 gerai di tahun 2019. Seperti data survei dari pelaku bisnis Toffin pada
majalah Mix, 2020 di bawah:
Sumber:
Survey Toffin dan Majalah Mix, 2020
Gambar
2. Pertumbuhan Coffee Shop di Indonesia
Perkembangan coffe shop meningkat dari 1.083 gerai di tahun 2016 menjadi
2.937 gerai di tahun 2019. Seperti data survei dari pelaku bisnis Toffin pada
majalah Mix, 2020 di bawah.
Tren meminum kopi
yang berkembang di kota-kota besar terbawa ke kota-kota sekitarnya, salah
satunya adalah kota Depok. Sebagai kota yang memiliki beberapa kampus unggulan
dan pilihan hiburan wisata, Depok telah mengalami pertumbuhan jumlah usaha
kuliner resto dan kafe yang terus meningkat setiap tahunnya termasuk kedai kopi
dan coffee shop premium. Perkembangan kedai kopi dan coffee shop. Fenomena
minum kopi sekarang ini terlihat dari dinamika pertumbuhan gerai kopi modern di
berbagai lokasi seperti mall, kampus, dan tempat-tempat hiburan dengan
fasilitas internet, musik, dan audio-visual yang menarik minat pengunjungnya.
Hal tersebut merupakan peluang yang sangat bagus bagi para usaha makanan dan
minuman. Banyak strategi pemasaran dan penjualan yang dijalankan oleh para
pebisnis kedai kopi.
Berdasarkan hasil penelitian Badan Pusat Statistik Jawa Barat, kini
industri kopi semakin luas. Jika pada 2017 terdata hanya ada 30 cafe/coffee
shop, pada tahun 2018 jumlahnya meningkat mencapai 275 buah caf� seperti pada
tabel di bawah.
Tabel� 1. Jumlah RM, Restauran dan Cafe di Jawa Barat
|
Kabupaten/Kota |
Banyaknya
RM Makan, Restauran dan Cafe Menurut Kabupaten/Kota |
|||||
|
Rumah Makan |
Restoran |
Caf� |
||||
|
2017 |
2018 |
2017 |
2018 |
2017 |
2018 |
|
|
Provinsi Jawa Barat |
3 418 |
746 |
1 332 |
1 878 |
278 |
4 225 |
|
Bandung |
467 |
25 |
40 |
40 |
25 |
467 |
|
Bandung Barat |
128 |
5 |
7 |
18 |
17 |
128 |
|
Bekasi |
28 |
3 |
62 |
200 |
3 |
28 |
|
Bogor |
210 |
6 |
126 |
126 |
6 |
210 |
|
Ciamis |
47 |
0 |
5 |
5 |
0 |
47 |
|
Cianjur |
193 |
265 |
25 |
42 |
19 |
193 |
|
Cirebon |
21 |
5 |
2 |
30 |
2 |
220 |
|
Garut |
206 |
14 |
8 |
143 |
14 |
203 |
|
Indramayu |
22 |
206 |
12 |
15 |
2 |
187 |
|
Karawang |
112 |
15 |
155 |
120 |
15 |
140 |
|
Kota Bandung |
372 |
41 |
370 |
544 |
14 |
467 |
|
Kota Banjar |
42 |
2 |
3 |
3 |
2 |
42 |
|
Kota Bekasi |
143 |
0 |
92 |
148 |
0 |
104 |
|
Kota Bogor |
109 |
14 |
72 |
78 |
14 |
120 |
|
Kota Cimahi |
80 |
19 |
15 |
15 |
19 |
80 |
|
Kota Cirebon |
147 |
0 |
143 |
143 |
0 |
147 |
|
Kota Depok |
275 |
30 |
76 |
76 |
30 |
275 |
|
Kota Sukabumi |
65 |
13 |
9 |
9 |
13 |
65 |
|
Kota Tasikmalaya |
117 |
0 |
15 |
15 |
0 |
117 |
|
Kuningan |
60 |
14 |
4 |
17 |
14 |
116 |
|
Majalengka |
67 |
15 |
0 |
0 |
15 |
88 |
|
Pangandaran |
78 |
32 |
46 |
46 |
32 |
78 |
|
Purwakarta |
71 |
15 |
31 |
31 |
15 |
325 |
|
Subang |
159 |
3 |
0 |
0 |
3 |
174 |
|
Sukabumi |
63 |
0 |
9 |
9 |
0 |
63 |
|
Sumedang |
111 |
3 |
5 |
5 |
3 |
111 |
|
Tasikmalaya |
25 |
1 |
0 |
0 |
1 |
30 |
Sumber: https://jabar.bps.go.id/
Dari data di atas maka pemilik kedai kopi yang melakukan banyak strategi
untuk menarik minat pelanggan untuk membeli kopi di kedai mereka. Strategi yang
paling fenomenal adalah menjadikan suasana kedai kopi menjadi tempat hang out,
berkumpul dan berbisnis yang nyaman, bersih dengan fasilitas pendukung lainnya.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang mengatakan bahwa
dulu kedai kopi memiliki sarana yang minim dan kurang nyaman, namun kini kedai
kopi identik dengan tempat yang nyaman karena dilengkapi dengan AC, WiFi, sofa
atau tempat duduk yang nyaman serta desain interior yang unik (Adithia &
Jaya, 2021). Inovasi juga dilakukan oleh
para pemilik kedai kopi melalui kreasi menu dengan mengkombinasikan kopi dengan
gula aren, minuman kopi dengan cita rasa buah, memberikan tambahan topping
keju, susu almond dan bahkan ada yang mengkombinasikan dengan berbagai minuman
khas daerah seperti kopi dengan kolak atau kopi dengan pisang hijau. Inovasi
juga dilakukan pada cara penyajian produk minuman kopi seperti French press dan
drip method atau kopi tetes (Adithia &
Jaya, 2021).
Selama observasi di depok dari
rentang November 2022 � Mei 2023, peneliti menemukan gap fenomena di lapangan bahwa
ada beberapa coffee shop yang tutup padahal belum lama berdiri. Hal ini terjadi karena coffee shop kehilangan
pelanggannya. Kehilangan pelanggan membuat keuntungan dan penjualan menurun
sehingga kinerja bisnis menurun. Hal ini diakibatkan oleh coffee shop yang kalah dalam bersaing dengan
para kompetitornya. Coffee shop tidak mampu menyediakan suasana lokasi yang
menarik, harga yang kurang bersaing, bauran produk yang kurang unik dan
berkualitas. Selain itu, tidak ada pengembangan pada coffee shop yang pada
akhirnya tutup. Mereka tidak melakukan inovasi dalam berbagai sektor seperti
produk, pelayanan, proses, dan pemasaran sehingga pelanggan bisa bosan dan
lebih memilih tempat lain. Hal ini juga bisa disebabkan karena pengusaha tidak
mengetahui kondisi industri dan pelanggan yang ada.
Berdasarkan penelitian coffee shop juga menerapkan konsep modern ataupun
berbentuk caf� menjadikan hal ini sebagai pemicu untuk coffee shop yang tidak
mampu berinovasi mengalami kegagalan, hal ini dikarenakan semakin ketatnya
persaingan dan juga tingkat pertumbuhan yang pesat akan memberikan konsumen
banyak pilihan mulai dari kualitas produk (quality product), kualitas pelayanan
(service quality), kualitas pengalaman (experience quality), hingga WOM
(word-of-mouth) yang sangat mempengaruhi persepsi dari konsumen tersebut.
Menurut penelitian menyatakan bahwa store
atmosphere menciptakan lingkungan belanja yang memiliki efek emosional terhadap
individu, seperti kesenangan, kepuasan, dan hal tersebut dapat meningkatkan
kemungkinan untuk membeli (Zaini, Qomariah,
& Santoso, 2020). Atmosfer seperti kapasitas
tempat duduk, dekorasi, dan latar musik adalah indikator utama kepuasan
pelanggan dengan suasana restoran.
Kota Depok sendiri merupakan ranah yang memiliki kesempatan yang besar
untuk perkembangan coffee shop, tingginya usia produktif yang menjadi populasi
utama di Kota Depok menjadikan perkembangannya sangat pesat dan baik akan
tetapi hal ini juga bisa berdampak tidak baik terhadap perkembangan coffee shop
itu sendiri. Menurut penelitian
coffee shop dapat
berkembang pesat apabila memperhatikan aspek pengalaman, pelayanan, dan juga
produk, usia produktif juga berpengaruh besar karena pilihan para muda-mudi
yang lebih terkait dengan aspek pengalaman, pelayanan dan produk, sedangkan hal
ini juga dapat dibuat ataupun ditiru oleh setiap pesaing sehingga konsumen
memiliki pilihan yang beragam pada fase kunjungan kembali pada coffee shop
lokal (Soemitra, Kusmilawaty, Ak, & Tri Inda
Fadhila Rahma, 2022).
Strategi selanjutnya bisa lokasi yang strategis atau yang mudah diakses
membuat pelanggan mudah untuk berkunjung, strategi selanjutnya dengan fasilitas
internet, layanan internet yang bagus seperti jaringan wi-fi yang cepat membuat
pelanggan akan datang lagi, strategi selanjutnya bisa dengan kualitas produk
coffee shop, kualitas produk disini adalah makanan dan minuman yang disajikan
coffe shop. Hal ini sejalan dengan penelitian Suryoko dan Ningrum (Lumentah & Firdausi, 2022).Menu pada coffee shop harus
dirancang dengan sangat baik dengan rasa yang lezat dengan tampilan yang
menarik sehingga timbul rasa ingin membeli, merasakan dan menikmati menu coffee
shop yang disajikan.
Menurut penelitian kualitas rasa memiliki daya tarik bagi konsumen dalam
mengelola hubungan yang baik dengan perusahaan penyedia produk, adanya hubungan
timbal balik tersebut akan memberikan peluang bagi pengusaha coffee shop untuk
mengetahui dan memahami apa yang menjadi kebutuhan dan harapan yang ada pada
persepsi konsumen, dan konsumen selalu ingin mendapatkan produk dengan kualitas
yang sesuai dengan harga yang mereka bayar (Anggraeni & Soliha, 2020). Terbukti dari hasil survei pendahuluan bahwa
responden lebih banyak memilih faktor kualitas rasa (produk) untuk memutuskan
membeli sebuah produk minuman kopi.
Strategi selanjutnya adalah strategi harga yang ditawarkan. Harga yang
ditawarkan dan ditetapkan oleh coffee shop kompetitif sesuai dengan kualitas
coffee shop tersebut. Dalam pembelian Kopi Kenangan, faktor harga, promosi, dan
citra merek menjadi faktor yang mendorong keputusan konsumen khususnya kaum
mileneal. Namun tidak begitu dengan pembelian online yang ternyata tidak
mempengaruhi keputusan pembelian (Nurkomalasari, 2022).
Pemilihan lokasi yang strategis dinilai sangat penting untuk kelangsungan
hidup sebuah usaha saat ini, karena lokasi yang strategis memudahkan seorang
konsumen untuk menjangkau tempat usaha tersebut. Dengan mudahnya seorang
konsumen dalam menjangkau akses menuju lokasi yang diinginkan akan mempengaruhi
juga daya belinya yang kemudian akan mempengaruhi rasa ingin kembali� (Fadli,
Cakranegara, Novirsari, Amalia, & Tambunan, 2022).
Menurut penelitian kualitas produk adalah sebuah kemampuan produk dalam memperagakan
fungsinya, hal tersebut termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas,
ketepatan, kemudahan, dan reparasi produk juga atribut produk lainnya (Abdurrahim, Tannady, Ekowati, Nawarcono,
& Pratomo, 2023). Variabel kualitas merupakan
hal yang penting dalam sebuah produk, kualitas produk menjadi salah satu faktor
pelanggan dalam memutuskan membeli suatu produk. Harga
Menurut penelitian adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu barang atau
jasa atau jumlah dari nilai uang yang ditukar konsumen atas manfaat�manfaat
karena memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut (Prilano, Sudarso, &
Fajrillah, 2020).
Kecintaan masyarakat Indonesia akan kopi dan juga kehadiran coffee shop
yang terus berinovasi dalam memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen dan
juga dipadu dengan nuansa modern, sehingga masyarakat sangat menyukai untuk
mengunjungi kembali ke coffee shop, hal ini diungkapkan oleh penelitian yang
menyatakan bahwa pada era saat ini minuman kopi yang disajikan oleh coffee shop
bernuansa mewah dan juga modern (Putra, 2020). Ketika suatu produk tersebut
memiliki nuansa, kualitas, hal itu juga diimbangi oleh harga yang terjangkau
sehingga konsumen mendapatkan suatu experience yang tidak terlupakan, pada
akhirnya menciptakan suatu tangible behavior dalam bentuk kunjungan kembali
(intention to revisit).
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam
membeli kopi di Coffee Shop tersebut di atas, penulis melakukan pra survei
kepada 36 responden yang sering membeli kopi untuk mengetahui faktor-faktor
yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memutuskan untuk membeli kopi, dengan
mengurutkan peringkat dari paling penting hingga tidak penting. Dengan hasil survei seperti pada Tabel 2 sebagai
berikut:
Tabel 2. Tabel Hasil Survey Pendahuluan
|
Pertanyaan |
Skor |
Bobot |
|
Harga |
31 |
86.1% |
|
Promosi |
26 |
72.2% |
|
Suasana Lokasi Apakah lokasinya strategis, suasana yang nyaman,
bersih, aman |
25 |
69.4% |
|
Kualitas |
24 |
66.7% |
|
Citra Merek Brand Image yang bagu, merek yang terkenal, persepsi
terhadap merek |
21 |
58.3% |
|
Sikap |
18 |
50.0% |
|
Specialty Coffee Kopi yang disajikan berupa kopi-kopi spesial yang
jarang ditemukan |
9 |
25.0% |
|
Varian
rasa |
9 |
25.0% |
|
Pembelian
Online |
8 |
22.2% |
|
Edukasi
barista |
5 |
13.9% |
Sumber: Hasil pengolahan data survei
pendahuluan
Hasil survei pendahuluan (pra-survei) pada tabel 2. di atas dapat
diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi konsumen dalam membeli kopi adalah
harga sebesar 86.1%, promosi sebesar 72.2%, suasana lokasi sebesar 69.4%,
kualitas sebesar 66.7%, citra merek sebesar 58.3%, sikap sebesar 50%, biji kopi
spesial (specialty coffee) dan varian rasa yang dtawarkan masing-masing sebesar
25%, diikuti oleh faktor pembelian online sebesar 22.2% serta terakhir faktor
edukasi barista sebesar 13.9%.
Keputusan dalam pembelian kopi juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan
dan menjadi salah aspek menarik untuk diteliti. Hal ini guna dijadikan dasar
dalam membuat strategi pemasaran dan penjualan para pebisnis kedai kopi.
METODE PENELITIAN
Jenis desain penelitian yang digunakan dalam
peneitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan metode
penelitian kausal. Karena peneliti bertujuan untuk menguji hipotesis tentang
pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabe dependen yang telah
dipaparkan di atas. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian asosiatif kausal dengan menggunakan kuesioner dan metoda penelitian
survei, yang merupakan bagian dari penelitian kuantitatif. Pengumpulan data
primer dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner (angket). Karena
peneliti mengetahui responden yang disurvei, maka Convenience sampling yang
digunakan sebagai teknik penentuan sampelnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
ANALISIS SEM-PLS
Penelitian ini menggunakan teknik analisis SEM-PLS. SEM-PLS adalah
analisis data dengan menggabungkan model uji pengukuran dan model struktural
dalam satu analisis. Model pengukuran merupakan model dilakukan untuk menguji
reliabilitas dan validitas pengukuran instrumen dan model struktural dianalisis
untuk menguji hipotesis penelitian yang diajukan. Perangkat lunak SmartPLS
V.3.2.9 digunakan untuk menguji baik model pengukuran maupun model
strukturalnya secara bersamaan untuk menghasilkan hasil.
Semua variabel dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan pengukuran
reflektif. Dengan demikian tahap model SEM-PLS diawali dengan pengujian
terhadap measurement model (outer model)
dan dilanjutkan dengan pengujian hipotesis (inner
model) (Niel Ananto,
Stat, Walean, & Cherry Frame Lumingkewas, 2022). Pada tahap measurement model
dilakukan dengan menguji validitas dan reliabilitasnya dengan berberapa
langkah: pertama akan diuji reliabilitas dan validitas skala pengukuran dengan
menguji internal konsistensi dengan menghitung skor reliabilitas alfa dan
komposit Cronbach. Kedua, mengevaluasi validitas konvergen dengan membandingkan
skor reliabilitas AVE dan juga komposit. Dan terakhir, menilai validitas
diskriminan dengan memeriksa cross loading dari analisis faktor konfirmatori
dan dengan membandingkan akar kuadrat AVE dengan korelasinya di antara variabel
laten (Prasetya, 2022). Setelah mencapai standar dapat diterima, tahap selanjutnya adalah menguji
hubungan kausal antar konstruksi eksogen (independen) dan endogen (dependen)
dalam model struktural (inner model).
Model Pengukuran (Outer Model)
Model pengukuran atau measurement
model dalam model SEM PLS digunakan untuk menguji bahwa indikator-indikator
digunakan memiliki validitas yang baik.�
Validitas dinilai menggunakan validitas konvergen dan diskriminan. Jika
hasilnya tidak konsisten dengan model pengukuran yang ditentukan sebelumnya
maka pengukurannya model harus dispesifikasi lagi dan dianalisa kembali.
Validitas Item Individu (Validitas Konvergen)
Validitas item individu dinilai dengan melihat loading factor. Hasil loading faktor disajikan pada gambar 3.
berikut ini.
Penggunaan tabel dan gambar harus disebutkan di dalam teks dengan
menyebutkan tabel 1; gambar 1 dan seterusnya.
Gambar 3. Hasil Pengujian
Hipotesis
Variabel laten menggunakan item-item refleksif. Dengan demikian kekuatan
dari masing-masing konstruk perlu untuk diujikan sebagai bentuk measurement model. Hasil measurement model dari model penelitian ini
disajikan dalam tabel loading factor untuk outer loading berikut ini.
Tabel 3. Loading Factor outer loading
|
|
Citra Merek |
Harga |
Keputusan Pembelian |
Kualitas Layanan |
Promosi |
Sikap |
Store Atmosphere |
|
CM1 |
0.824 |
|
|
|
|
|
|
|
CM2 |
0.732 |
|
|
|
|
|
|
|
CM3 |
0.806 |
|
|
|
|
|
|
|
CM4 |
0.862 |
|
|
|
|
|
|
|
H1 |
|
0.852 |
|
|
|
|
|
|
H2 |
|
0.904 |
|
|
|
|
|
|
H3 |
|
0.827 |
|
|
|
|
|
|
KL1 |
|
|
|
0.793 |
|
|
|
|
KL2 |
|
|
|
0.846 |
|
|
|
|
KL3 |
|
|
|
0.851 |
|
|
|
|
KL4 |
|
|
|
0.862 |
|
|
|
|
KP1 |
|
|
0.905 |
|
|
|
|
|
KP2 |
|
|
0.910 |
|
|
|
|
|
KP3 |
|
|
0.905 |
|
|
|
|
|
P2 |
|
|
|
|
0.856 |
|
|
|
P3 |
|
|
|
|
0.852 |
|
|
|
SA1 |
|
|
|
|
|
|
0.851 |
|
SA2 |
|
|
|
|
|
|
0.903 |
|
SA3 |
|
|
|
|
|
|
0.916 |
|
SF1 |
|
|
|
|
|
0.767 |
|
|
SF3 |
|
|
|
|
|
0.795 |
|
|
SK1 |
|
|
|
|
|
0.827 |
|
|
SK2 |
|
|
|
|
|
0.829 |
|
|
SK3 |
|
|
|
|
|
0.912 |
|
|
ST1 |
|
|
|
|
|
0.745 |
|
|
ST2 |
|
|
|
|
|
0.843 |
|
Sumber:
Hasil olah data PLS
Hasil analisis
menunjukkan bahwa semua item memiliki loading
factor yang sudah melampaui nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0,70.
Hal ini menunjukkan
bahwa masing-masing item memiliki validitas konvergen yang baik.
Penilaian Validitas Diskriminan
Validitas diskriminan dinilai dengan menggunakan nilai cross loading. membandingkan korelasi
antara konstruk dan akar kuadrat dari varian rata-rata yang diekstraksi (AVE)
untuk konstruk. Cross loading menunjukkan
bahwa semua item pengukuran memuat secara jelas pada variabel laten yang
ditentukan yang dimaksudkan untuk mengukur variabel. Pada tabel 4. menunjukkan
bahwa nilai cross loading pada indikator untuk variabel yang sesuai dengan
pengukurnya memiliki nilai cross loading
yang paling besar dibanding nilai indikator untuk variabel yang tidak
bersesuaian. Nilai korelasi
variabel cross loading diperoleh
sebagai berikut:
Tabel
4. Cross Loading
|
Item |
Citra Merek |
Harga |
Keputusan Pembelian |
Kualitas Layanan |
Promosi |
Sikap |
Store Atmosphere |
|
CM1 |
0.824 |
0.204 |
0.283 |
0.229 |
0.015 |
0.303 |
0.210 |
|
CM2 |
0.732 |
0.189 |
0.239 |
0.219 |
-0.106 |
0.306 |
0.294 |
|
CM3 |
0.806 |
0.166 |
0.297 |
0.276 |
0.010 |
0.347 |
0.273 |
|
CM4 |
0.862 |
0.191 |
0.330 |
0.390 |
0.116 |
0.341 |
0.242 |
|
H1 |
0.185 |
0.852 |
0.383 |
0.018 |
-0.109 |
0.296 |
0.057 |
|
H2 |
0.219 |
0.904 |
0.459 |
0.054 |
-0.114 |
0.315 |
-0.007 |
|
H3 |
0.192 |
0.827 |
0.492 |
0.206 |
0.022 |
0.366 |
0.160 |
|
KL1 |
0.183 |
0.008 |
0.149 |
0.793 |
0.009 |
0.250 |
0.262 |
|
KL2 |
0.299 |
0.104 |
0.256 |
0.846 |
0.011 |
0.331 |
0.345 |
|
KL3 |
0.316 |
0.146 |
0.243 |
0.851 |
0.014 |
0.388 |
0.348 |
|
KL4 |
0.346 |
0.101 |
0.229 |
0.862 |
0.020 |
0.335 |
0.332 |
|
KP1 |
0.311 |
0.492 |
0.905 |
0.186 |
-0.031 |
0.517 |
0.122 |
|
KP2 |
0.334 |
0.455 |
0.910 |
0.217 |
-0.031 |
0.470 |
0.188 |
|
KP3 |
0.328 |
0.471 |
0.905 |
0.317 |
0.028 |
0.603 |
0.259 |
|
P2 |
0.032 |
-0.115 |
0.013 |
-0.008 |
0.856 |
-0.025 |
0.057 |
|
P3 |
0.006 |
-0.037 |
-0.024 |
0.028 |
0.952 |
-0.025 |
0.085 |
|
SA1 |
0.272 |
0.055 |
0.191 |
0.350 |
0.123 |
0.349 |
0.851 |
|
SA2 |
0.246 |
0.083 |
0.143 |
0.356 |
0.054 |
0.326 |
0.903 |
|
SA3 |
0.315 |
0.091 |
0.223 |
0.333 |
0.041 |
0.359 |
0.916 |
|
SF1 |
0.354 |
0.215 |
0.401 |
0.324 |
-0.087 |
0.767 |
0.273 |
|
SF3 |
0.317 |
0.274 |
0.516 |
0.357 |
0.014 |
0.795 |
0.259 |
|
SK1 |
0.378 |
0.284 |
0.441 |
0.311 |
-0.073 |
0.827 |
0.323 |
|
SK2 |
0.231 |
0.312 |
0.436 |
0.319 |
0.025 |
0.829 |
0.402 |
|
SK3 |
0.421 |
0.396 |
0.538 |
0.402 |
-0.004 |
0.912 |
0.360 |
|
ST1 |
0.203 |
0.238 |
0.453 |
0.199 |
-0.011 |
0.745 |
0.291 |
|
ST2 |
0.369 |
0.420 |
0.561 |
0.334 |
-0.029 |
0.843 |
0.312 |
|
CM1 |
0.824 |
0.204 |
0.283 |
0.229 |
0.015 |
0.303 |
0.210 |
|
CM2 |
0.732 |
0.189 |
0.239 |
0.219 |
-0.106 |
0.306 |
0.294 |
Sumber: Hasil olah data PLS
Matriks korelasi antar indikator dengan variabel penelitian menunjukkan
bahwa nilai-nilai cross loading untuk setiap indikator adalah yang paling besar
pada variabel laten dimana indikator tersebut diteoririskan. Hasil cross
loading tersebut menunjukkan bahwa variabel-variabel laten tersebut memiliki validitas
diskriminan yang baik.
Validitas
diskriminan juga dapat dilihat dari nilai korelasi antar variabel laten sebagai
berikut:
Tabel 5. Korelasi Antar Variabel Laten
|
|
Citra
Merek |
Harga |
Keputusan
Pembelian |
Kualitas
Layanan |
Promosi |
Sikap |
Store
Atmosphere |
|
Citra Merek |
0.808 |
||||||
|
Harga |
0.231 |
0.862 |
|||||
|
Keputusan Pembelian |
0.358 |
0.522 |
0.907 |
||||
|
Kualitas Layanan |
0.350 |
0.116 |
0.268 |
0.839 |
|||
|
Promosi |
0.017 |
-0.072 |
-0.011 |
0.016 |
0.905 |
||
|
Sikap |
0.402 |
0.381 |
0.588 |
0.396 |
-0.027 |
0.819 |
|
|
Store Atmosphere |
0.314 |
0.086 |
0.211 |
0.388 |
0.082 |
0.388 |
0.891 |
Sumber:
Hasil olah data PLS - Fornell-Larcker Criterion
Nilai korelasi antar variabel laten menunjukkan tidak ada yang memiliki
korelasi yang sangat tinggi (di atas 0,90). Hal ini menujukkan masing-masing
variabel laten adalah variabel yang secara nilai berbeda dengan variabel laten
lain. Hasil ini menunjukkan adanya validitas diskriminan yang memadai untuk
semua konstruks variaebl dalam model konseptual yang diusulkan. Berdasarkan
analisis yang dilakukan, model pengukuran dalam penelitian ini menunjukkan
validitas diskriminan yang memadai yang berarti bahwa semua variabel laten yang
diusulkan dalam model berhipotesis berbeda satu sama lain. Secara total, model
pengukuran dalam penelitian ini menunjukkan validitas konvergen yang memadai
dan validitas diskriminan.
Analisis Reliability
Analisis reliability
disajikan dalam beberapa ukuran yaitu Reliabiltas komposit, dan Cronbach Alpha.
|
|
Cronbach's Alpha |
rho_A |
Composite
Reliability |
Average Variance Extracted |
|
Citra Merek |
0.821 |
0.828 |
0.882 |
0.652 |
|
Harga |
0.827 |
0.833 |
0.896 |
0.743 |
|
Keputusan Pembelian |
0.892 |
0.896 |
0.933 |
0.822 |
|
Kualitas Layanan |
0.861 |
0.876 |
0.905 |
0.704 |
|
Promosi |
0.792 |
0.950 |
0.900 |
0.819 |
|
Sikap |
0.917 |
0.926 |
0.934 |
0.670 |
|
Store Atmosphere |
0.869 |
0.874 |
0.920 |
0.793 |
Sumber:
Hasil olah data PLS
Semua variabel laten menunjukkan nilai Reliabiltas komposit di atas 0,70
yakni pada rentang antara 0,908 hingga 0,941. Nilai�nilai untuk perkiraan
konsistensi reliabiliras yang dapat diterima. Nilai Alpha Cronbach juga
menunjukan nilai-nilai yang lebih besar dari 0,60 yaitu pada rentang nilai
sebesar 0,850 hingga 0,928. Oleh karena itu hasil menunjukkan bahwa item
pengukuran sesuai untuk masing-masing variabel laten dan dapat diandalkan.
Average Variance
Ectracted (AVE)
Hasil AVE juga memberikan dukungan pada kekuatan meaurement model dari masing-masing variabel laten. Varian
rata-rata diekstraksi (AVE) yang mengukur varians ditangkap oleh indikator
relatif terhadap kesalahan pengukuran, harus lebih besar dari 0,50 untuk
membenarkan menggunakan konstruk tersebut. Varians rata-rata yang diekstraksi
berada dalam jangkauan 0,668 dan 0,823. Secara keseluruhan, hasil menunjukkan
bahwa semua konstruks merupakan ukuran yang valid berdasarkan estimasi
parameter mereka, yang menunjukkan validitas konvergen yang wajar.
Sebagaimana yang ditunjukkan dalam tabel di atas, setiap konstruk pada
tahap pertama dinilai melalui variabel yang diamati (item pengukuran). Pada
tahap pertama validasi model, variabel laten dinilai dalam hal keandalan dan
validitas mereka menggunakan tigaproperti utama; keandalan item individu,
validitas konvergen dan validitas diskriminan.
Keandalan item individu diukur menggunakan loading factor. Seperti yang
ditunjukkan sebelumnya, pengukuran loading factor item melebihi nilai
yang disarankan yaitu sebesar 0,50 yang menunjukkan tingkat keandalan item
individual yang dapat diterima. Validitas konvergen juga diukur menggunakan
Alpha Cronbach, Composite Reliability (CR) dan Average Variance Extracted (AVE) (Bahren,
Ramadhani, & Suroso, 2018).
Validitas diskriminan yang diukur melalui cross loading membuktikan bahwa setiap
faktor dalam model pengukuran secara empiris dapat dibedakan. Dengan hasil yang
memuaskan untuk keandalan dan validitas, tahap selanjutnya adalah melakukan
analisis model struktural, untuk menentukan kekuatan model penjelas yang diusulkan
dan untuk menguji hipotesis penelitian ini.
Model Struktural (Inner Model)
������������� Berdasarkan hasil yang diperoleh,
model pengukuran telah ditunjukkan memiliki keandalan item individu yang baik,
validitas konvergen, dan validitas diskriminan. Dengan semua nilai dalam batas
standar yang dapat diterima, model pengukuran dalam penelitian ini menunjukkan
ketahanan yang cukup diperlukan untuk menguji hubungan antara variabel eksogen
dan variabel endogen
(Rukmana &
Sembiring, 2014). Tahap selanjutnya adalah
menilai model struktural dengan tujuan untuk menentukan kekuatan penjelas dari
model dan untuk menguji hipotesis penelitian yang diusulkan.
������������� Tujuan dari tahap ini adalah untuk
menguji semua hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dalam rangka
menjawab pertanyaan penelitian yang diuraikan. Model struktur kausal dinilai
untuk menguji efek di antara konstruk yang didefinisikan dalam model yang
diusulkan melalui estimasi koefisien determinasi (R2), dan koefisien
jalur.
Kedua nilai R2 inidan koefisien jalur (loading dan signifikansinya) menunjukkan seberapa baik data
mendukung model yang dihipotesiskan. Dalam model teoritis yang diusulkan
dibahas dalam Bab 3, dalam penelitian ini, konstruk yang mendasari
diklasifikasikan menjadi dua kelas; konstruk eksogen dan konstruk endogen.
Penilaian
Koefisiensi Determinasi R2�
Nilai R2menentukan kekuatan prediksi model. SmartPLS 3.0
menyediakan nilai R2� untuk
variabel dependen dalam model penelitian. Nilai R2 mengukur hubungan
variabel laten (LV) dalam menjelaskan varians ke varians totalnya. Tabel 4.5
menunjukkan R2 untuk masing-masing variabel endogen didefinisikan
dalam model teoritis yang diusulkan.
|
|
R Square |
R Square Adjusted |
|
Keputusan Pembelian |
0.462 |
0.440 |
|
Sikap |
0.359 |
0.337 |
Sumber: Hasil olah data PLS
������������� Nilai R2 pada variabel keputusan pembelian
menunjukkan nilai sebesar 0,644. Hal ini berarti bahwa 64,44% keputusan
pembelian dapat dipengaruhi oleh variabel harga, store atmosphere, promosi,
kualitas, citra merek dan sikap. Sedangkan nilai R2 pada variabel sikap
menunjukkan nilai sebesar 0,623. Hal ini berarti bahwa 62,3% sikap dipengaruhi
oleh variabel harga, store atmosphere, promosi, kualitas, dan citra merek.
Pengujian Hipotesis yang Diusulkan
Setelah
validitas model struktural dikonfirmasi, langkah selanjutnya adalah menilai
jalur model struktural yang diusulkan (Sofiani &
Saefuloh, 2019). Gambar 4. memperlihatkan
model struktural dan hasil analitis. Setiap jalur sesuai dengan masing-masing
hipotesis yang diusulkan dalam penelitian ini. Tes dari setiap hipotesis
dicapai dengan melihat tanda, ukuran dan signifikansi statistik koefisien jalur
(b) antara variabel laten dan variabel dependennya. Semakin tinggi koefisien
path, semakin kuat efek loyalita nasabah pada variabel dependen.
Gambar 4. Hasil model penelitian
Hasil pengujin koefisien jalur dari model yang diuji berdasarkan hasil
dari analisis PLS software SmartPLS. Disajikan pada Tabel 8. berikut ini:
Tabel 8. Uji Pengaruh langsung
|
Korelasi |
Original
Sample (O) |
Sample
Mean (M) |
Standard
Deviation (STDEV) |
T
Statistics (|O/STDEV|) |
P Values |
|
Citra Merek -> Keputusan Pembelian |
0.109 |
0.105 |
0.075 |
1.448 |
0.148 |
|
Harga -> Keputusan Pembelian |
0.339 |
0.338 |
0.079 |
4.296 |
0.000 |
|
Kualitas Layanan -> Keputusan Pembelian |
0.038 |
0.045 |
0.070 |
0.538 |
0.591 |
|
Promosi -> Keputusan Pembelian |
0.025 |
0.039 |
0.067 |
0.374 |
0.709 |
|
Sikap -> Keputusan Pembelian |
0.412 |
0.421 |
0.084 |
4.921 |
0.000 |
|
Store Atmosphere -> Keputusan Pembelian |
-0.029 |
-0.043 |
0.081 |
0.358 |
0.721 |
Sumber: Hasil olah data PLS
Tabel
9. Uji Pengaruh Tidak langsung
|
Korelasi |
Original
Sample (O) |
Sample
Mean (M) |
Standard
Deviation (STDEV) |
T Statistics
(|O/STDEV|) |
P Values |
|
Citra Merek -> Sikap -> Keputusan
Pembelian |
0.079 |
0.085 |
0.038 |
2.082 |
0.038 |
|
Harga -> Sikap -> Keputusan Pembelian |
0.120 |
0.122 |
0.045 |
2.652 |
0.008 |
|
Kualitas Layanan -> Sikap -> Keputusan
Pembelian |
0.086 |
0.090 |
0.034 |
2.525 |
0.012 |
|
Promosi -> Sikap -> Keputusan
Pembelian |
-0.013 |
-0.014 |
0.030 |
0.419 |
0.675 |
|
Store Atmosphere -> Sikap -> Keputusan
Pembelian |
0.092 |
0.094 |
0.042 |
2.216 |
0.027 |
Sumber: Hasil olah data PLS
Hasil
Hipotesis 1 menguji pengaruh harga terhadap keputusan pembelian menunjukkan
koefisien positif. Nilai t statistik pengujian metode bootstrap menunjukkan
sebesar 4,296. Jika dihitung nilai t tersebut lebih besar dari 1,96. Hal ini
menunjukan bahwa harga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap
keputusan pembelian. Dengan demikian
Hipotesis 1 diterima.
Hipotesis 2 menguji pengaruh store atmosphere terhadap keputusan
pembelian menunjukkan koefisien positif. Nilai t statistik pengujian metode
bootstrap menunjukkan sebesar 0,358. Jika dihitung nilai t tersebut lebih kecil
dari 1,96. Hal ini menunjukan bahwa store atmosphere memiliki pengaruh positif
namun tidak signifikan terhadap keputusan pembelian. Dengan demikian Hipotesis 2 ditolak.
Hipotesis 3 menguji pengaruh promosi terhadap keputusan pembelian
menunjukkan koefisien positif. Nilai t statistik pengujian metode bootstrap
menunjukkan sebesar 0,374. Jika dihitung nilai t tersebut lebih kecil dari
1,96. Hal ini menunjukan bahwa promosi memiliki pengaruh positif namun tidak
signifikan terhadap keputusan pembelian. Dengan demikian Hipotesis 3 ditolak.
Hipotesis 4 menguji pengaruh kualitas terhadap keputusan pembelian
menunjukkan koefisien positif. Nilai t statistik pengujian metode bootstrap
menunjukkan sebesar 0,538. Jika dihitung nilai t tersebut lebih kecil dari
1,96. Hal ini menunjukan bahwa kualitas memiliki pengaruh positif namun tidak
signifikan terhadap keputusan pembelian. Dengan demikian Hipotesis 4 ditolak.
Hipotesis 5 menguji pengaruh citra merek terhadap keputusan pembelian
menunjukkan koefisien positif. Nilai t statistik pengujian metode bootstrap
menunjukkan sebesar 1,448. Jika dihitung nilai t tersebut lebih kecil dari
1,96. Hal ini menunjukan bahwa citra merek memiliki pengaruh positif namun
tidak signifikan terhadap keputusan pembelian. Dengan demikian Hipotesis 5 ditolak.
Hipotesis 6 menguji pengaruh sikap terhadap keputusan pembelian
menunjukkan koefisien positif. Nilai t statistik pengujian metode bootstrap
menunjukkan sebesar 4,921. Jika dihitung nilai t tersebut lebih besar dari
1,96. Hal ini menunjukan bahwa sikap memiliki pengaruh positif dan signifikan
terhadap keputusan pembelian. Dengan
demikian Hipotesis 6 diterima.
Hipotesis 7 menguji pengaruh harga terhadap keputusan pembelian melalui
sikap sebagai intervening menunjukkan koefisien positif. Nilai t statistik
pengujian� metode bootstrap menunjukkan
sebesar 2,652. Jika dihitung nilai t tersebut lebih besar dari 1,96. Hal ini
menunjukan bahwa harga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap
keputusan. Dengan demikian
Hipotesis 7 diterima.
Hipotesis 8 menguji pengaruh store atmosphere terhadap keputusan
pembelian melalui sikap sebagai intervening menunjukkan koefisien positif. Nilai t statistik
pengujian� metode bootstrap menunjukkan
sebesar 2,216. Jika dihitung nilai t tersebut lebih besar dari 1,96. Hal ini menunjukan bahwa store atmosphere memiliki
pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Dengan demikian
Hipotesis 8 diterima.
Hipotesis 9 menguji pengaruh promosi terhadap keputusan pembelian melalui
sikap sebagai intervening menunjukkan koefisien positif. Nilai t statistik
pengujian� metode bootstrap menunjukkan
sebesar 0,419. Jika dihitung nilai t tersebut lebih kecil dari 1,96. Hal ini
menunjukan bahwa promosi memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan
terhadap keputusan pembelian. Dengan
demikian Hipotesis 9 ditolak.
Hipotesis 10 menguji pengaruh kualitas terhadap keputusan pembelian
melalui sikap sebagai intervening menunjukkan koefisien positif. Nilai t
statistik pengujian� metode bootstrap
menunjukkan sebesar 2,525. Jika dihitung nilai t tersebut lebih besar dari
1,96. Hal ini menunjukan bahwa kualitas memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian. Dengan demikian Hipotesis 10 diterima.
Hipotesis 11 menguji pengaruh citra merek terhadap keputusan pembelian
melalui sikap sebagai intervening menunjukkan koefisien positif. Nilai t
statistik pengujian� metode bootstrap
menunjukkan sebesar 2,082. Jika dihitung nilai t tersebut lebih besar dari
1,96. Hal ini menunjukan bahwa citra merek memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian. Dengan demikian Hipotesis 11 diterima.
KESIMPULAN�������������������������������������������������������
Harga mampu
meningkatkan sikap konsumen dalam memutuskan membeli kopi di kedai kopi wilayah
Depok. Store atmosphere mampu meningkatkan sikap konsumen dalam memutuskan
membeli kopi di kedai kopi wilayah Depok. Promosi mampu meningkatkan sikap
konsumen dalam memutuskan membeli kopi di kedai kopi wilayah Depok.
Kualitas mampu
meningkatkan sikap konsumen dalam memutuskan membeli kopi di kedai kopi wilayah
Depok. Citra merek mampu meningkatkan sikap konsumen dalam memutuskan membeli
kopi di kedai kopi wilayah Depok. Hasil penelitian yang berbeda dengan
penelitian sebelumnya karena perbedaan lokasi, consumer behavior dan usia. Dari
hasil penelitian menunjukkan sikap merupakan variabel yang sangat mempengaruhi
keputusan pembelian, varibel sikap ini juga dapat menjadi variable independent
alih-alih menjadi intervening. Peran manajerial dalam membuat strategi
marketing untuk peningkatan penjualan perlu melihat faktor-faktor keinginan
konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahim, Abdurrahim,
Tannady, Hendy, Ekowati, Dhiana, Nawarcono, Winanto, & Pratomo, Arief Budi.
(2023). Analisis Peran Harga, Variasi Produk Dan Kualitas Produk Terhadap
Customer Satisfaction Produk Konveksi. Journal of Economic, Bussines and
Accounting (COSTING), 6(2), 1302�1307.
Adithia, Sandy, &
Jaya, Mega Puspita Perwira. (2021). Strategi Pemasaran Digital Produk Minuman
Kopi di Masa Pandemi. Journal of Research on Business and Tourism, 1(1),
37�46.
Anggraeni, Alvina Rahma,
& Soliha, Euis. (2020). Kualitas produk, citra merek dan persepsi harga
terhadap keputusan pembelian (Studi pada konsumen Kopi Lain Hati Lamper Kota
Semarang). Al Tijarah, 6(3), 96�107.
Bahren, Beben,
Ramadhani, Indi, & Suroso, Edy. (2018). Membangun keunggulan bersaing
melalui inovasi produk, inovasi proses, inovasi marketing dan inovasi
organisasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Jurnal Ekonomi Manajemen,
4(1), 8�18.
Fadli, Ahmad,
Cakranegara, Pandu Adi, Novirsari, Emma, Amalia, Fiqrida, & Tambunan,
Debora. (2022). Memahami Keputusan Pembelian Kopi Konsumen. Surabaya: Global
Aksar Pers. Researchgate.
Lumentah, Natalia Reyne,
& Firdausi, Salsabila. (2022). ANALISIS KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI
SEBAGAI DASAR PENYUSUNAN STRATEGI PEMASARAN PADA PENGUNJUNG BALIEM CAFE HOTEL
HORISON ULTIMA TIMIKA. JURNAL KRITIS (Kebijakan, Riset, Dan Inovasi), 6(2),
142�175.
Niel Ananto, M. M.,
Stat, M., Walean, Ronny H., & Cherry Frame Lumingkewas, M. M. (2022). Konsep
dan Terapan Analisis SEM�PLS dengan SmartPLS3. 0 Dilengkapi dengan Contoh
Terapan:(Panduan Penelitian untuk Dosen dan Mahasiswa) (Vol. 1). CV. Mitra
Cendekia Media.
Nurkomalasari, Euis.
(2022). PERILAKU BELANJA ONLINE PRODUK FASHION PADA GENERASI X DAN GENERASI
Y DI ERA PANDEMI COVID-19 DI BANDAR LAMPUNG.
Prasetya, Dio Eko Budi.
(2022). Pengaruh Ethical Leadership dan Organizational Climate Terhadap
Employee Performance Dengan Team Work Effectiveness Sebagai Variabel
Intervening. Universitas Islam Sultan Agung (Indonesia).
Prilano, Kevin, Sudarso,
Andriasan, & Fajrillah, Fajrillah. (2020). Pengaruh harga, keamanan dan
promosi terhadap keputusan pembelian toko online lazada. Journal of Business
and Economics Research (JBE), 1(1), 1�10.
Putra, Edy Yulianto.
(2020). Analisis tingkat kunjungan kembali konsumen pada local coffee shop di
kota Batam. Jurnal Ilmiah Bisnis Dan Ekonomi Asia, 14(2),
133�145.
Rukmana, Asep, &
Sembiring, Jafar. (2014). Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Dan Budaya
Organisasi Terhadap Employee Engagement Di BPJS Ketenagakerjaan. EProceedings
of Management, 1(3).
Soemitra, Andri,
Kusmilawaty, S. E., Ak, M., & Tri Inda Fadhila Rahma, M. E. I. (2022). Bisnis
Souvenir, Pariwisata dan Perekonomian Daerah di Indonesia. Merdeka Kreasi
Group.
Sofiani, Sarah Safira,
& Saefuloh, Deddy. (2019). Penggerak niat perilaku pembelian produk fesyen
ramah lingkungan dengan teori perilaku yang direncanakan. Prosiding
Industrial Research Workshop and National Seminar, 10(1), 767�776.
Zaini, Ahmad, Qomariah,
Nurul, & Santoso, Budi. (2020). Dampak Harga Produk, Promosi, Lokasi Dan
Layanan Terhadap Keputusan Pembelian. Jurnal Penelitian IPTEKS, 5(1),
151�160.
�