DAMPAK PERSEPSI WISATAWAN NON-MUSLIM PADA DESTINASI
WISATA HALAL
M. Riyanda Fitra1, Anas Hidayat2
Universitas
Islam Indonesia
[email protected]1, [email protected]2
Pertumbuhan ekonomi berfungsi sebagai indikator ekonomi makro suatu
negara yang dapat menunjukkan kemampuan untuk memenuhi semua jenis kebutuhan
ekonomi bagi warga negaranya dan pendatang. Salah satu sektor
terbaik yang mendukung pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah pariwisata
karena dampak yang diperoleh sangat signifikan dalam memberikan kontribusi
terhadap pendapatan Negara. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui persepsi wisatawan non-muslim terhadap pelayanan yang diberikan dan
juga larangan saat mengunjungi destinasi wisata halal, serta menilai loyalitas
wisatawan terhadap wisata halal. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
kuesioner google form pada 200 orang non-muslim yang pernah mengunjungi wisata
halal lalu data dianalisis menggunakan SmartPLS. Pendekatan yang peneliti ambil
dalam penelitian ini menggunakan metode asosiatif dengan pendekatan
kuantitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa layanan halal dan produk makanan
halal berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengalaman perjalanan,
sedangkan larangan layanan non halal tidak berpengaruh signifikan terhadap
pengalaman perjalanan. Pengalaman perjalanan berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kepuasan dan kepuasan berpengaruh positif dan signifikan terhadap
loyalitas wisatawan saat mengunjungi wisata halal. Penelitian ini memberikan
perspektif yang berguna dalam mengembangkan destinasi wisata halal di Indonesia
agar wisatawan non-muslim merasa nyaman dengan pelayanan dan larangan yang
diberlakukan, khususnya bagi penyedia dan pemasar jasa wisata.
Kata kunci: Wisata halal, Layanan halal, Persepsi, Kepuasan, Loyalitas.
Abstract:
Economic growth functions as a macroeconomic
indicator of a country that can show its ability to meet all types of economic
needs for its citizens and immigrants. One of the best sectors that supports a
country's economic growth is tourism because the impact it has is very
significant in contributing to state income. This research aims to determine
the perceptions of non-Muslim tourists regarding the services provided and also
the prohibitions when visiting halal tourist destinations, as well as assessing
tourist loyalty towards halal tourism. Data collection was carried out using a
Google Form questionnaire on 200 non-Muslim people who had visited halal
tourism and then the data was analyzed using SmartPLS. The approach that
researchers took in this research used an associative method with a
quantitative approach. The research results found that halal services and halal
food products had a positive and significant effect on the travel experience,
while the ban on non-halal services had no significant effect on the travel
experience. Travel experience has a positive and significant effect on
satisfaction and satisfaction has a positive and significant effect on tourist
loyalty when visiting halal tourism. This research provides a useful
perspective in developing halal tourist destinations in Indonesia so that
non-Muslim tourists feel comfortable with the services and restrictions
imposed, especially for tourism service providers and marketers.
Keywords: Halal tourism, Halal services, Perception, Satisfaction, Loyalty.������������������
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi berfungsi sebagai indikator ekonomi makro suatu
negara yang dapat menunjukkan kemampuan untuk memenuhi semua jenis kebutuhan
ekonomi bagi warga negaranya dan pendatang (Sirega, Nasution, Madinah, & Zakia, 2023). Salah satu sektor terbaik yang mendukung pertumbuhan ekonomi suatu
negara adalah pariwisata karena dampak yang diperoleh sangat signifikan dalam
memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara. Banyak sektor yang tumbuh
seiring dengan peningkatan pariwisata seperti terbukanya lapangan pekerjaan,
kemudian sektor manufaktur yang meningkat karena adanya permintaan konsumsi dan
investasi yang berujung pada produksi barang dan jasa. Permintaan barang dan
jasa yang terjadi saat bepergian akan mendorong permintaan bahan baku, maka
operasi untuk memenuhi permintaan ini membutuhkan investasi di sektor lain
seperti transportasi, komunikasi, akomodasi, industri produk konsumen seperti
bahan mentah atau barang setengah jadi, restoran, dan lain-lain (Pambudi, Masteriarsa, Wibowo, Amaliyah, & Ardana, 2020).
Pariwisata akan selalu menjadi bisnis yang menjanjikan karena orang rela
melakukan perjalanan dengan mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan kesenangan
dan waktu luang untuk memenuhi kepuasan fisiologis dan psikologis. Leisure
adalah keadaan dimana manusia mempunyai waktu luang untuk melakukan kegiatan
apapun yang dipilihnya (LESTARI & YULIASTRID, 2021). Orang akan selalu memanfaatkan waktu luang untuk melepaskan diri
sejenak dari padatnya rutinitas sehari-hari yang membuat mereka bosan dan
mempengaruhi performa hidup. Pada 2019, total angka yang diperoleh dari
pariwisata internasional mencapai 1,48 triliun dolar AS (Saleh, Kamaruzzaman, & Desky, 2022). Angka ini terus meningkat setiap tahunnya karena tujuan perjalanan
manusia yang bervariasi. Dulu orang pergi dari satu negara ke negara lain hanya
untuk liburan atau mengunjungi keluarga, tapi sekarang ada beberapa macam
perjalanan dengan tujuan berbisnis, pertukaran pelajar, dan juga imigrasi.
Indonesia merupakan salah satu negara potensial yang menjadi tujuan
wisata terbaik di dunia. World Economic Forum merilis data Indonesia
menempati urutan ke-32 dari 117 negara dalam Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI). Indonesia memiliki
keunikan dalam sumber daya alamnya, terutama letak geografisnya yang strategis
karena memiliki iklim tropis yang tidak dimiliki oleh banyak negara maju (Nurhayati, 2021). Kekayaan alam di Indonesia yang tak dimiliki oleh Negara lain seperti
emas, minyak bumi, gas alam, batubara hingga hasil lautan yang tersebar luas
diwilayah Indonesia. Pada tahun 2019 sektor pariwisata Indonesia memberikan
kontribusi signifikan terhadap PDB sebesar 4,9% (Anggarini, 2021). Kontribusi yang didapat tidak hanya dari wisatawan lokal, tetapi juga
dari wisatawan mancanegara. Sepanjang tahun 2019, wisatawan mancanegara yang
datang ke Indonesia mencapai 16,11 juta kunjungan, tumbuh 1,88% dari tahun
sebelumnya, 15,81 juta kunjungan (Saraswati
& Afifi, 2022).
Pergeseran tren terjadi dengan pariwisata, dimana tren pariwisata syariah
yang muncul tidak hanya dilakukan di negara-negara Islam. Meningkatnya
religiusitas dan keinginan yang tinggi untuk mempelajari budaya dan agama lain
menjadi salah satu alasan meningkatnya wisata halal. Mastercard Crescenrating
Global Travel Market Index (GMTI) memperkirakan bahwa pada tahun 2026 sekitar
230 juta pelancong Muslim akan melakukan perjalanan ke seluruh dunia (Yuliaty, 2020). Tentunya dengan tingginya jumlah wisata syariah ini, penyedia jasa
wisata harus bersaing untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Indonesia sebagai
negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia (2/3 dunia) memiliki peluang
besar untuk menjadikan wisata halal sebagai pendongkrak ekonomi. Jumlah
penduduk muslim di Indonesia adalah 237,53 juta jiwa atau 86,9% dari total
penduduk Indonesia (Yuliaty, 2020). Sayangnya, Indonesia belum mampu mengoptimalkan jenis wisata ini,
padahal ini merupakan peluang yang sangat besar karena jenis wisata halal ini
merupakan jawaban atas pasar yang belum tergarap yang belum dapat diakomodasi
oleh beberapa negara.
Indonesia memiliki kemudahan tersendiri dalam melakukan wisata halal
karena mayoritas penduduknya beragama muslim, sehingga penerapan wisata halal tidak
terasa memberatkan. Namun tetap saja, Indonesia memiliki tantangan lain yang
harus diperhatikan seperti perbedaan persepsi antara masyarakat Muslim dan
non-Muslim, perbedaan budaya dan gaya hidup antara orang Indonesia dan
wisatawan mancanegara juga menjadi perhatian. Hal inilah yang harus
diperhatikan baik oleh pemerintah maupun penyedia jasa pariwisata bagaimana
mengatur pariwisata secara halal tanpa memberikan aturan yang tegas kepada
wisatawan mancanegara, terutama yang non muslim. Wisatawan berlibur untuk
memenuhi kebutuhan akan kesenangan, namun dikhawatirkan dalam wisata halal akan
merasa terbatas dan tidak menikmati perjalanan.
Berdasarkan penjelasan di atas, wisata halal di Indonesia belum berhasil
mencapai titik optimalnya. Perbedaan persepsi, kurangnya pengetahuan tentang
peraturan, dan kurangnya pemasaran tentang wisata halal membuat jenis wisata
ini kurang eksis dibandingkan jenis wisata lainnya. Penulis
memutuskan untuk mengkaji lebih dalam tentang wisata halal dalam penelitian ini
yang berjudul �Dampak Persepsi Wisatawan Non Muslim Terhadap Destinasi Wisata
Halal�.
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang peneliti lakukan dalam
penelitian ini menggunakan metode asosiatif dengan pendekatan kuantitatif yang
digunakan untuk mencari hubungan sebab akibat atau pengaruh variabel yang satu
terhadap variabel yang lain dengan cara pengujian hipotesis (Muhajirin
& Panorama, 2017). Dalam penelitian ini subjek
penelitian adalah 200 orang non-Muslim yang tersebar di seluruh Indonesia.
Obyek penelitian ini adalah destinasi wisata halal dan lokasi penelitian
dilakukan di destinasi wisata halal di seluruh pulau jawa karena merupakan
pulau dengan banyak destinasi wisata halal yang ditetapkan oleh pemerintah.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari
responden non-Muslim di seluruh Indonesia dengan ketentuan pernah mengunjungi
minimal satu destinasi wisata halal di pulau Jawa. Pengumpulan data dilakukan
dengan menggunakan kuesioner google form.
Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini harus dijelaskan untuk menghindari makna ganda. Variabel
independen dalam penelitian ini yaitu layanan halal, larangan layanan non
halal, dan produk makanan halal. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah
pengalaman perjalanan kepuasan, dan loyalitas wisatawan. Selanjutnya data akan
diuji dengan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas harus mencapai r
hitung > r tabel agar instrumen valid, jika r hitung < r tabel maka
instrumen dinyatakan valid dan tidak dapat dilanjutkan ke analisis selanjutnya (Ghozali, 2015).
Reliabilitas diuji dengan koefisien alpha Cronbach dan dikatakan reliabel bila
alpha Cronbach > 0,6.
Analisis data dalam penelitian ini
menggunakan metode Path Analysis dan menggunakan software Smart PLS (Partial
Least Square). PLS adalah teknik yang digunakan untuk menangani respon dan
variabel penjelas dalam jumlah besar sekaligus. PLS dapat menangani banyak
variabel independen meskipun terdapat multikolinearitas pada variabel tersebut (Supriyadi,
2017). Setelah dilakukan pengujian
validitas konvergen, dilanjutkan dengan pengujian model struktural dan diakhiri
dengan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t. Hasil tersebut diperoleh
dengan melihat nilai signifikansi pada tabel koefisien dengan tingkat
kepercayaan 95% atau tingkat signifikansi 5% (α = 0,05) (Sarstedt, 2019).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari kuesioner yang telah didistribusikan melalui google
form, terdapat 200 responden yang mengisi keseluruhan data. Kriteria responden
yang bisa mengisi kuesioner adalah beragama non-Muslim dan paling tidak pernah
mengunjungi destinasi wisata halal di pulau Jawa satu kali.
Pada profil responden terdapat lebih banyak responden
laki-laki (58,5%) dibandingkan responden perempuan (41,5%). Sebagian besar
responden berusia 20 - 29 tahun (92,5%), diikuti oleh usia < 20 tahun (4%)
dan 30 - 39 tahun (3,5%). Responden Protestan (40%) dan Katolik (40%) lebih
banyak dari Hindu (16,5%), Budha (1%), dan Khonghucu (2,5%). Responden memiliki
beberapa pekerjaan yang terbagi menjadi PNS (6,5%),
pegawai BUMN (9%), pegawai perusahaan swasta (29,5%), pelajar (22%), wiraswasta
(30%), dan ibu rumah tangga ( 6%). Hampir seluruh responden yang mengisi
kuesioner adalah lulusan S1 (79,5%), kemudian lulusan SMA (14,5%), dan lulusan
S2 (6%). Berdasarkan semua pekerjaan yang dimiliki responden, rata-rata
pengeluaran bulanan tertinggi berada pada kisaran Rp 2.000.000 � Rp 5.000.000
(50%), diikuti < Rp 2.000.000 (25,5%), kemudian kisaran dari Rp 5.000.000 �
Rp 10.000.000 (15%), dan paling sedikit pengeluaran > 10.000.000 per bulan
(9,5%).
Setelah mendapatkan data dari kuesioner, data diolah
dengan menguji model dan hipotesis menggunakan analisis PLS (Partial Least
Squares). PLS adalah teknik yang digunakan untuk
menangani respon dan variabel penjelas dalam jumlah besar sekaligus. PLS dapat
menangani banyak variabel independen meskipun terdapat multikolinearitas pada
variabel tersebut. Analisis PLS sendiri terbagi atas dua bagian yaitu analisis outer model dan
inner model. Analisis outer model dilakukan untuk mengetahui
validitas dan reliabilitas alat ukur dalam penelitian. Cara mengevaluasi outer
model dapat dilakukan dengan melihat nilai validitas konvergensi, validitas
konstruk, validitas diskriminan, dan reliabilitas komposit. Inner model nantinya
digunakan untuk melihat R square, Q2 predictive relevance, dan Goodness
of Fit. Setelah data terbukti valid dan reliabel kemudian baru dilakukan
uji hipotesis.
1.
Outer model
Analisis outer model dilakukan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas
suatu alat ukur dalam penelitian. Validitas dan reliabilitas dilakukan untuk
mengetahui seberapa besar item kuesioner dapat mengukur sifat dan konsep
variabel yang diukur, lalu mengetahui konsistensi item kuesioner yang mengukur
variabel yang sama pada waktu dan tempat yang berbeda. Analisis outer model dapat
dilihat dari nilai validitas konvergensi, validitas konstruk, dan reliabilitas
komposit.
a.
Validitas Konvergensi (Convergent Validity)
Nilai validitas konvergen diukur dengan menggunakan parameter outer loading.
Ketika nilai loading factor pada setiap jalur antara komponen (variabel laten)
dan persediaan (variabel manifes) adalah > 0,7, maka item itu dianggap valid
secara statistik (Supriatna, Setiawan, & Sonny, 2022).
Terdapat tiga item yang dieleminasi yaitu LH1, K5, dan K6 karena memiliki nilai
loading factor < 0,7. Hasil akhirnya adalah seluruh item pada tabel diatas
memiliki nilai loading factor > 0,7 sehingga dapat dikatakan bahwa semua
item pada penelitian ini valid secara statistik dan dapat digunakan dalam
penelitian.
b.
Validitas Konstruk (Construct Validity)
Validitas konstruk dapat menunjukkan sejauh mana tes dapat mengukur
validitas teori konstruk dari tes tersebut. Ketika nilai average variance
extracted (AVE) > 0,5 maka dapat dikatakan konstruk memiliki efektivitas
yang baik (Supriatna et al., 2022).
Tabel 1 Validitas
Konstruk
|
Variabel |
Average Variance Extracted (AVE) |
|
Layanan
Halal |
0,597 |
|
Larangan
Layanan Non Halal |
0,658 |
|
Produk
Makanan Halal |
0,654 |
|
Pengalaman
Wisata |
0,686 |
|
Kepuasan |
0,787 |
|
Loyalitas |
0,718 |
Sumber: Data primer diolah, 2023
Berdasarkan tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa seluruh nilai AVE dari
masing-masing variabel dalam penelitian ini adalah > 0,5. Dapat dikatakan
berarti variabel dalam penelitian ini memiliki validitas konstruk yang baik.
c.
Reliabilitas Komposit (Composite Reliability)
Reliabilitas suatu konstruk dapat dilihat dengan melihat nilai dari cronbach�s
alpha dan composite reliability. Cronbach�s alpha berfungsi untuk mengukur
nilai terendah (lower bound) dari konstruk sedangkan composite reliability berfungsi
untuk mengukur nilai reliabilitas yang sesungguhnya, maka dari itu nilai dari composite
reliability akan selalu lebih tinggi dari cronbach�s alpha. Suatu konstruk
dapat dikatakan reliabel ketika nilai cronbach�s alpha > 0,6 dan nilai composite
reliability > 0,7 (Supriatna et al., 2022).
Tabel 2 Reliabilitas
Komposit
|
Variabel |
Cronbach�s Alpha |
Composite Reliability |
|
Layanan Halal |
0,865 |
0,899 |
|
Larangan Layanan Non Halal |
0,870 |
0,905 |
|
Produk Makanan Halal |
0,893 |
0,919 |
|
Pengalaman Perjalanan |
0,884 |
0,916 |
|
Kepuasan |
0,909 |
0,936 |
|
Loyalitas |
0,921 |
0,939 |
Sumber: Data primer
diolah, 2023
Berdasarkan table 2 diatas, dapat dilihat bahwa seluruh variabel memiliki
nilai cronbach�s alpha > 0,6 dan composite reliability >
0,7. Sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh indikator dan variabel yang
digunakan pada penelitian ini reliabel.
2.
Inner model
Analisis inner model atau yang biasa disebut tes model struktural,
bertujuan untuk memprediksi hubungan sebab akibat atau menguji hipotesis antar variable (Widyastuti, 2020). Analisis ini dilakukan untuk melihat R Square, Q2
Predictive Relevance, dan Goodness of Fit dan kemudian akan dilakukan uji hipotesis
antar variabel.
Gambar 1. Diagram Jalur Inner Model PLS
Sumber: Data primer diolah, 2023
a.
R Square
R Square digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel laten eksogen
tertentu terhadap variabel laten endogen apakah memiliki pengaruh tertentu.
Nilai dari R Square memiliki skor masing-masing, 0,67 menunjukkan bahwa model
kuat, 0,33 menunjukkan bahwa model moderat, dan 0,19 menunjukkan bahwa model
lemah (Ghozali, 2015).
Tabel 3 R Square
|
Variabel |
R Square |
|
Pengalaman
Perjalanan |
0,595 |
|
Kepuasan |
0,609 |
|
Loyalitas |
0,650 |
Sumber: Data primer
diolah, 2023
Berdasarkan tabel 3 diatas dapat dilihat jika
nilai R Square variabel laten pengalaman perjalanan adalah 0,595
(59,5%), nilai R Square variabel laten kepuasan adalah 0,609 (60,9%),
dan nilai R Square variabel laten loyalitas adalah 0,650 (65%). Hasil
ini menunjukkan bahwa nilai R Square dari tiap variabel berada > 0,33
dan < 0,7 sehingga model tersebut masuk pada kriteria moderat.
b.
Q2 Predictive Relevance
Nilai dari Q2 predictive
relevance digunakan untuk menilai apakah suatu model memiliki predictive
relevance. Jika nilai Q2 > 0 maka model tersebut memiliki predictive
relevance, sedangkan jika Q2 < 0 maka model tersebut
tidak memiliki predictive relevance. Menurut penelitian (2015) Q2 predictive
relevance memiliki skor untuk menunjukkan nilai tiap model yaitu 0,02 untuk
model lemah, 0,15 untuk model moderat, dan 0,35 untuk model kuat (Ghozali, 2015). Nilai Q2 bisa dilihat dalah hasil
perhitungan blindfolding pada bagian construct cross validated
redudancy.
Tabel 4 Q2 Predictive Relevance
|
Variabel |
SSO |
SSE |
Q� (=1-SSE/SSO) |
|
Layanan Halal |
1200,000 |
1200,000 |
|
|
Larangan Layanan Non Halal |
1000,000 |
1000,000 |
|
|
Produk Makanan Halal |
1200,000 |
1200,000 |
|
|
Pengalaman Perjalanan |
1000,000 |
602,422 |
0,398 |
|
Kepuasan |
800,000 |
422,318 |
0,472 |
|
Loyalitas |
1200,000 |
650,688 |
0,458 |
Sumber: Data primer diolah, 2023
Berdasarkan tabel 4 diatas dapat dilihat bahwa setiap variabel memiliki
nilai Q2 > 0 yang berarti model penelitian ini memiliki predictive
relevance. Lalu nilai dari tiap Q2 adalah lebih dari 0,35 yang berarti
model penelitian ini memiliki prediksi yang kuat.
c.
Goodness of Fit
Goodness of fit digunakan untuk mengevaluasi model pengukuran
dan model struktural penelitian serta menyediakan pengukuran sederhana untuk
keseluruhan dari prediksi model. Nilai goodness of fit memiliki kriteria
0,10 yang menunjukkan GoF small, 0,25 yang menunjukkan GoF
medium, dan 0,36 yang menunjukkan GoF large (Ghozali, 2015).
Tabel 5 Goodness of
Fit
|
Variabel |
R Square |
Communality |
|
Layanan
Halal |
- |
0,431 |
|
Larangan
Layanan Non Halal |
- |
0,479 |
|
Produk
Makanan Halal |
- |
0,513 |
|
Pengalaman
Perjalanan |
0,595 |
0,523 |
|
Kepuasan |
0,609 |
0,628 |
|
Loyalitas |
0,650 |
0,600 |
|
Mean |
0,618 |
0,529 |
|
Nilai GoF |
0,449 |
|
Sumber: Data primer
diolah, 2023
Nilai GoF dihitung dengan akar kuadrat
nilai average communality index dan average R-squares (Ghozali, 2015). Nilai R dapat dilihat dari nilai R2 pada variabel
pengalaman perjalanan, kepuasan, dan loyalitas. Sedangkan untuk nilai communality
setiap variabel dapat diketahui dari pengukuran model dengan teknik blindfolding
pada bagian construct cross validated communality. Berdasarkan tabel
diatas hasil yang didapatkan adalah nilai GoF sebesar 0,449 yang berarti
model termasuk kedalam kriteria GoF large.
d.
Uji Hipotesis
Untuk melihat apakah suatu hipotesis dapat
diterima atau ditolak dapat dilakukan dengan memperhatikan nilai signifikan
antar konstruk t-statistik dan p-value. Dalam penelitian ini, nilai
signifikansi yang digunakan t-statistik adalah 1.96 (significance level
= 5%) dengan ketentuan nilai t-statistik harus lebih besar dari 1.96 (Ghozali, 2015) .
Tabel 6 Path Coefficients
|
Variabel |
T- Statistics (|O/STDEV|) |
P Values |
|
Layanan Halal � Pengalaman Perjalanan |
2,011 |
0,045 |
|
Larangan Layanan Non Halal � Pengalaman Perjalanan |
1,233 |
0,151 |
|
Produk Makanan Halal �
Pengalaman Perjalanan |
7,275 |
0,000 |
|
Pengalaman Perjalanan � Kepuasan |
20,751 |
0,000 |
|
Kepuasan � Loyalitas |
23,108 |
0,000 |
Sumber: Data primer diolah, 2023
1.
Pengaruh Layanan Halal Terhadap Pengalaman Perjalanan
Pengaruh signifikan dapat dilihat dari hasil path
coefficient dengan T-Statistics sebesar 2,011 > 1.96 dan nilai P-value
sebesar 0,045 < 0,05. Berdasarkan perhitungan statistik tersebut, dapat
disimpulkan bahwa hipotesis H1 menunjukkan bahwa layanan halal berpengaruh
positif dan signifikan terhadap pengalaman wisata terdukung. Hasil ini
menunjukkan hal serupa dengan penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa dimana ketika sebuah
penyedia layanan wisata halal dapat memberikan layanan terbaik mulai dari
makanan yang halal, kelengkapan ibadah di kamar hotel, dan interaksi yang baik
dengan wisatawan maka akan memberikan kenyamanan saat melakukan perjalanan (Abror, Wardi, Trinanda, & Patrisia, 2019).
2.
Pengaruh Larangan Layanan Non Halal Terhadap Pengalaman
Perjalanan
Pengaruh tidak signifikan dapat dilihat dari hasil path
coefficient dengan T-Statistics sebesar 1,233 < 1,96 dan nilai P-value
sebesar 0.151 > 0.05. Berdasarkan perhitungan statistik tersebut, dapat
disimpulkan bahwa hipotesis H2 menunjukkan bahwa larangan layanan non halal
tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pengalaman wisata.
Hasil ini menunjukkan hal tidak serupa dengan penelitian sebelumnya yaitu karya
ilmiah yang menyebutkan bahwa satu poin dari manusia yang harus dilakukan yaitu
adalah memiliki moral yang tinggi (Abdullah, Awang, & Abdullah, 2020). Pengetahuan yang tinggi akan menjadi sia-sia ketika
manusia masih dekat dengan maksiat seperti mengunjungi prostitusi, klub malam,
pub, dan lainnya. Hal ini bisa didasari atas adanya perbedaan persepsi antar
agama yang memiliki aturannya masing-masing. Lalu ketika orang melakukan
kegiatan wisata, mereka cenderung ingin menikmati waktu dan suasana serta ingin
bebas dari rutinitas sehingga mereka akan menikmati banyak fasilitas sebisa
mungkin. Ketika mereka mendapatkan larangan ataupun peraturan yang berlebihan
maka mereka akan merasa bahwa ini membuat pengalaman perjalanan menjadi tidak
menyenangkan.
3.
Pengaruh Produk Makanan Halal Terhadap Pengalaman
Perjalanan
Pengaruh signifikan dapat dilihat dari hasil path
coefficient dengan T-Statistics sebesar 7,275 > 1,96 dan nilai P-value
sebesar 0,000 < 0,05. Berdasarkan perhitungan statistik tersebut, dapat
disimpulkan bahwa hipotesis H3 menunjukkan bahwa produk makanan halal
berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengalaman wisata terdukung. Hasil
ini menunjukkan hal serupa dengan penelitian yang menjelaskan bahwa ketika orang mendengar kata
makanan halal maka orang tersebut akan memunculkan pikiran positif karena
mengetahui kandungan serta kebersihan dari makanan halal sehingga menjamin
kualitasnya (Marmaya, Zakaria, & Mohd Desa, 2019). Penelitian ini juga mendukung penelitian yang telah
dilakukan oleh peneliti yang dimana pada penelitiannya didapatkan hasil bahwa
wisatawan non-Muslim senang dengan makanan halal karena ada pengalaman baru
saat memakannya sehingga meninggalkan memori yang berkesan (Sthapit, Bj�rk, & Piramanayagam, 2023).
4.
Pengaruh Pengalaman Perjalanan Terhadap Kepuasan
Pengaruh signifikan dapat dilihat dari hasil path
coefficient dengan T-Statistics sebesar 20,751 > 1,96 dan nilai P-value
sebesar 0,000 < 0,05. Berdasarkan perhitungan statistik tersebut, dapat
disimpulkan bahwa hipotesis H4 menunjukkan bahwa pengalaman perjalanan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan wisata terdukung. Hasil
ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan pada pariwisata Malaysia
dimana hasilnya adalah destinasi wisata yang menarik membuat wisatawannya puas
baik dalam segi pelayanan, budaya baru, pengetahuan, gaya hidup baru, dan
bertemu orang baru.
5.
Pengaruh Kepuasan Terhadap Loyalitas
Pengaruh signifikan dapat dilihat dari hasil path coefficient dengan
T-Statistics sebesar 23,108 > 1,96 dan nilai P-value sebesar
0,000 < 0,05. Berdasarkan perhitungan statistik tersebut, dapat disimpulkan
bahwa hipotesis H5 menunjukkan bahwa kepuasan wisata berpengaruh positif dan
signifikan terhadap loyalitas terdukung. Hasil penelitian ini mendukung
penelitian sebelumnya yang dimana perusahaan harus melebihi ekspektasi
dari wisatawan dengan memberikan pelayanan terbaik sehingga wisatawan
terpuaskan. Pada akhirnya didapatkan kepercayaan dari wisatawan yang merasa
puas dan memicu adanya WOM sehingga pihak penyedia layanan mendapatkan dua
konsumen dalam satu waktu bersamaan yaitu wisatawan yang berkunjung kembali
serta wisatawan baru yang didapatkan lewat pemasaran yang dilakukan wisatawan
sebelumnya.
KESIMPULAN
Penelitian yang dilakukan kali ini menganalisis 6 variabel terkait
persepsi wisatawan non muslim pada destinasi wisata halal yaitu layanan halal,
larangan layanan non halal, produk makanan halal, pengalaman perjalanan,
kepuasan, dan loyalitas. Kemudian keenam variabel tersebut dikembangkan dengan
acuan teori dan penelitian terdahulu menjadi hipotesis yang dianalisis pada
penelitian kali ini. Dari hasil analisis dan pembahasan yang telah dijelaskan
sebelumnya, secara khusus penelitian ini memberikan kesimpulan sebagai berikut:
Hipotesis 1 yang diajukan pada penelitian ini diterima, sehingga layanan
halal terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengalaman wisata
pada destinasi wisata halal. Hipotesis 2 yang diajukan pada penelitian ini ditolak,
sehingga larangan layanan non halal tidak berpengaruh terhadap pengalaman wisata
pada destinasi wisata halal. Hipotesis 3 yang diajukan pada penelitian ini diterima,
sehingga produk makanan halal terbukti berpengaruh positif dan signifikan
terhadap pengalaman wisata pada destinasi wisata halal. Hipotesis 4 yang
diajukan pada penelitian ini diterima, sehingga pengalaman wisata
terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan wisata pada
destinasi wisata halal. Hipotesis 5 yang diajukan pada penelitian ini diterima,
sehingga kepuasan wisata terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap
loyalitas pada destinasi wisata halal.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,
Amini Amir, Awang, Mohd Daud, & Abdullah, Norsazali. (2020). Islamic
tourism: the characteristics, concept and principles. KnE Social Sciences,
196�215.
Abror, Abror, Wardi, Yunia, Trinanda, Okki, & Patrisia, Dina. (2019).
The impact of Halal tourism, customer engagement on satisfaction: moderating
effect of religiosity. Asia Pacific Journal of Tourism Research, 24(7),
633�643.
Anggarini, Defia Riski. (2021). Kontribusi Umkm Sektor Pariwisata Pada
Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung 2020. EKOMBIS REVIEW: Jurnal Ilmiah
Ekonomi Dan Bisnis, 9(2), 345�355.
Ghozali, Imam. (2015). Aplikasi Analisis Multivariance dan Program SPSS. Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponorogo.
Lestari, Muji, & Yuliastrid, Dita. (2021). Pemanfaatan Waktu Luang
Untuk Aktivitas Rekreasi Bagi Karang Taruna Desa Tahunan Kecamatan Sale
Kabupaten Rembang. Jurnal Kesehatan Olahraga, 9(03).
Marmaya, Najihah Hanisah, Zakaria, Za, & Mohd Desa, Mohd Nasir.
(2019). Gen Y consumers� intention to purchase halal food in Malaysia: a
PLS-SEM approach. Journal of Islamic Marketing, 10(3), 1003�1014.
Muhajirin, Muhajirin, & Panorama, Maya. (2017). PENDEKATAN PRAKTIS;
Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Idea Press.
Nurhayati, M. Pd. (2021). Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs
Kelas 8. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Pambudi, Andi Setyo, Masteriarsa, Muhammad Fikri, Wibowo, Aditya Dwifebri
Christian, Amaliyah, Imroatul, & Ardana, Adhitya Kusuma. (2020). Strategi
pemulihan ekonomi sektor pariwisata pasca Covid-19. Majalah Media Perencana,
1(1), 1�21.
Saleh, Muhammad, Kamaruzzaman, Kamaruzzaman, & Desky, Harjoni. (2022).
Pengembangan Wisata Islami: Strategi Pemasaran Wisata Halal di Bumi Syariah. Owner:
Riset Dan Jurnal Akuntansi, 6(2), 1221�1238.
Saraswati, Hesti Dwi, & Afifi, Subhan. (2022). Strategi komunikasi
pemasaran pariwisata di masa pandemi COVID-19. CoverAge: Journal of
Strategic Communication, 12(2), 138�155.
Sirega, Mutia Fajri, Nasution, Anisah, Madinah, Futri, & Zakia,
Maulida Ummi. (2023). Analisis Dampak Pembangunan Infrastruktur Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Inklusif. Journal Of Management And Creative Business,
1(1), 53�62.
Sthapit, Erose, Bj�rk, Peter, & Piramanayagam, Senthilkumaran. (2023).
Motivational, emotional and memorable dimensions of non-Muslim tourists� halal
food experiences. Journal of Islamic Marketing, 14(1), 23�42.
Supriatna, Arief, Setiawan, Edhi Budi, & Sonny, Imam. (2022).
Influence of Income and Leadership Style during the Covid-19 Pandemic on
Employee Performance and Their Implications on Operational Performance of Sea
Ship Agent Company (Case Study at PT. Harapan Cipta Perkasa). Budapest
International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal), 5(2),
11722�11734.
Supriyadi, Eko. (2017). Perbandingan Metode Partial Least Square (Pls) Dan
Principal Component Regression (Pcr) Untuk Mengatasi Multikolinearitas Pada
Model Regresi Linear Berganda. Unnes Journal of Mathematics, 6(2),
117�128.
Widyastuti, Pristiana. (2020). Analisis Keputusan Pembelian: Fenomena
Panic Buying Dan Service Convenience (Studi Pada Grocery Store Di Dki Jakarta).
Yuliaty, Tetty. (2020). Model Wisata Halal Sustainable Di Indonesia.
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.