�NILAI MORAL DALAM NOVEL SYAHADAT DARI NEGERI SUTRA
KARYA FITRI NURHATI
Diannisa
Latifahtul Auliya 1, Eko Suroso 2
Universitas
Muhammadiyah Purwokerto
Novel Syahadat dari
Negeri Sutra karya Fitri Nurhati ada adegan dimana setelah kehilangan suami dan
mengalami depresi berat, Xiao Tian mulai menghargai hidupnya setelah dia gagal
bunuh diri. Target khusus dalam
penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memberikan pemahaman yang mendalam
kepada pembaca tentang nilai � nilai moral dalam novel Syahadat dari Negeri
Sutra karya Fitri Nurhati. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan teknik baca dan catat. Selain itu penelitian ini menggunakan metode
deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang dapat di analisis dan ditelaah oleh peneliti
untuk memperoleh data yang sesuai. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa
terdapat nilai moral positif yang dapat ditiru, beberapa diantaranya mengenai
kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup dan berpikir terlebih dahulu sebelum
bertidak ketika ingin mengambil keputusan. Peneliti berharap dengan adanya
penelitian ini pembaca dapat menerpakan nilai moral positif dalam kehidupan sehari
� hari dan nilai moral negatif� bisa
dijadikan pembelajaran dalam kehidupan sehari � hari.
Kata kunci: Analisis, Nilai moral, Novel �Syahadat dari
Negeri Sutra�
Abstract:
The novel Syahadat dari Negeri Sutra by
Fitri Nurhati has a scene where after losing her husband and experiencing
severe depression, Xiao Tian begins to appreciate his life after he fails to
commit suicide. The specific target of this research is to find out and provide
readers with a deep understanding of the moral values in the
novel Syahadat dari Negeri Sutra by Fitri Nurhati. The technique used in this
study uses reading and note-taking techniques. In addition, this study uses a
qualitative descriptive method. Qualitative descriptive research is a research
procedure that produces written or verbal descriptive data from people and
behavior that can be analyzed and studied by researchers to obtain appropriate
data. The results of this research show that there are positive moral values
that can be imitated, some of which are about patience in facing
life's trials and thinking first before acting when you want to make a
decision. Researchers hope that with this research readers can apply positive
moral values in everyday life and negative moral values
can be used as lessons in everyday life.
Keywords: Analysis, Moral Value, Novel �Syahadat dari
Negeri Sutra�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Ketika peneliti sedang membaca novel
Syahadat dari Negeri Sutra karya Fitri Nurhati ada adegan dimana setelah
kehilangan suami dan mengalami depresi berat, Xiao Tian mulai menghargai
hidupnya setelah dia gagal bunuh diri karena ditolong sepasang suami istri
bernama Tsang Wu Han dan Su Li Huang. Su Li Huang yang sedang mengandung
mengalami keguguran setelah menolong Xiao Tian yang akan bunuh diri. Setelah
insiden tersebut Xiao Tian merasa menyesal karena telah merencanakan bunuh diri
dan merasa bersalah karena menghilangkan janin bayi yang tidak berdosa harus
pergi meniggalkan dunia yang belum sempat dilihatnya. Untuk menebus
kesalahannya Xiao Tian memutuskan untuk memberikan pekerjaan kepada sepasang
suami tersebut untuk menjadi pembatu di rumahnnya. Dari temuan itulah yang
mendorong peneliti untuk melakukan riset dalam novel Syahadat dari Negeri Sutra
terkait masalah nilai moral. Novel Syahadat dari Negeri Sutra sangat inspiratif
dan banyak sekali pesan moral yang bisa di ambil oleh pembaca. Salah satu moral
yang dapat dipetik adalah dalam menjalani kehidupan ini kita harus bersabar dan
jangan pernah putus asa.
Setiap karya sastra dalam bentuk novel
yang diciptakan oleh pengarang pasti mengandung nilai tertentu yang akan
disampaikan kepada pembaca. Suatu karya bisa dikatakan baik jika mengandung
nilai-nilai yang mendidik.� Adanya unsur
moral dalam karya sastra bentuk novel selalu dikaitkan dengan fungsi sastra
bagi pembentukan - pembentukan karakter. Moral yang disampaikan kepada pembaca
melalui karya fiksi tentunya sangat berguna dan bermanfaat. Novel senantiasa
menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan
sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia (Rohmah, Wardiani,
& Astuti, 2021). Sejalan dengan itu sama dengan yang dikemukakan
oleh peneliti bahwa moral merupakan sesuatu yang berkaitan atau ada
hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salah dan baik buruknya tingkah
laku (Hasanah, 2018).
Berikut adalah penelitian yang relevan
dengan penelitian ini yang berjudul �Nilai Moral Dalam Novel 3600 Detik Karya
Charon� yang dilakukan oleh
Ritanto Ilahi pada tahun 2021 isinya membahas
tentang ajaran moral hubungan manusia denga Tuhan, hubungan manusia dengan diri
sendiri, hubungan manusia dengan sesama manusia (Ilahi,2021). Penelitian yang kedua yang berjudul "Nilai
Moral dalam Novel Pulang karya Laila S. Chudori� yang dilakukan oleh Fajar Brilianta Nugraha pada tahun 2014 isinya membahas tentang ajaran moral manusia dengang
Tuhannya, wujud nilai moral dalam hubungan manusia
dengan diri sendiri, wujud nilai moral dalam hubungan manusia lain dalam
lingkup lingkungan sosial (Nugraha,F.B.2014). Perbedaan antara penelitian yang telah
dilakukan terdahulu dengan penelitian ini yaitu akan
mengungkap nilai - nilai moral dalam novel Syahadat dari Negeri Sutra karya
Fitri Nurhati dengan menggunakan pendekatan pragmatik sastra.
Berdasarkan pemaparan tersebut penulis
melakukan penelitian ini berkenaan dengan nilai moral dalam novel Syahadat dari
Negeri Sutra. Peneliti akan mengkaji secara mendalam tentang
nilai yang diterapkan oleh pengarang ke dalam cerita tersebut yang berkaitan
dengan nilai � nilai moral. Diharapkan dari hasil penelitian ini pembaca dapat
menemukan dan mengambil nilai positif yang dapat ditiru, diimplementasikan
dalam kehidupan sehari-hari dan nilai moral yang negatif bisa dijadikan pembelajaran dalam kehidupan bermasyarakat. Sesuai dengan penjelasan permasalahan yang sudah ada, penelitian ini
bertujuan untuk mendekripsikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam Novel
Syahadat dari Negeri Sutra karya Fitri Nurhati.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah deskriptif kualitattif dengan tehnik analisis baca dan catat. Data
dalam penelitian ini berupa buku novel yang berjudul Syahadat dari Negeri
Sutra. Cetakan pertama novel ini diterbitkan pada tahun 2012 oleh penerbit Diva
Press dengan jumlah 291 halaman. Selain itu, data dalam penelitian ini berupa
kata-kata, frase, kalimat dan wacana yang terdapat
pada novel Syahadat dari Negeri Sutra karya Fitri Nurhati. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan membaca novel Syahadat
dari Negeri Sutra, mengidentifikasi sumber data, mengklasifikasi bentuk -
bentuk nilai moral, melakukan analisis data, mengelompokkan data, dan menarik
kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Nilai moral yang terdapat dalam novel
Syahadat dari Negeri Sutra prinsip yang sesuai ada pada teori peneliti. Di antaranya moral sikap baik, prinsip keadilan, dan prinsip sikap
hormat. Dalam setiap bentuk atau prinsipnya dibagi lagi menjadi beberapa
bagian. Berikut bentuk nilai moral yang ditemukan.
Moral Sikap Baik
Secara keseluruhan prinsip sikap baik ini
selalu berkaitan dengan etika atau tindakan yang dilakukan oleh manusia
terhadap orang lain ataupun lingkungan sekitarnya. Prinsip sikap baik merupakan
suatu kecenderungan yang memang sudah ada pada watak atau sifat setiap diri manusia
(Mustaghfiroh, Nazar, & Safe�i, 2021). Lebih lanjut peneliti menjelaskan sikap baik
berarti memandang segala sesuatu tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tetapi
menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela dan segala bentuk
sikap positif bagi orang lain juga (Aini, 2017).
�Berdasarkan temuan sikap baik dalam novel
Syahadat dari Negeri Sutra karya Fitri Nurhati terdiri dari bagian, diantaranya:
bertanggung jawab terdapat empat temuan, Jujur terdapat satu temuan, rendah
hati terdapat duat temuan, autentik terdapat tiga temuan, realistis dan kritis
terdapat empat temuan, pantang menyerah terdapat tiga temuan.
Bertanggung
Jawab
Bertanggung jawab berarti siap menghadapi
tugas yang sudah menjadi kewajiban. Hal ini terdapat dalam kutipan sebagai
berikut:
(1)
�Istriku,
rencananya aku akan menyusul kesana. Aku berutang sebuah janji padanya. Dulu
aku pernah berjanji aku akan menemaninya mencari Han Xiang walau sampai ke
ujung dunia. Aku ingin memenuhi janjiku kepadanya. Aku tak akan membiarkan
adiku sendirian di pulau itu.�
Wanita itu tersenyum kecil. Kegelisahan hati yang
terpancar di wajahnya sedikit berkurang. �Aku mengerti. Pergilah. Tolonglah dia, selama ini hidupnya begitu
menderita. Aku mengerti suasana hatinya saat ini. Baginya, ini sangat tidak
mudah masalah yang sedang dihadapinya. Setelah sepuluh tahun berpisah, entah
bagaimana keadaan Han Xiang sekarang. Bagaimana saat mereka bertemu kembali,
apa yang akan terjadi pada mereka?. Apakah
mereka akan bersatu kembali seperti dulu? Kau harus membantunya suamiku. Aku
akan selalu mendukungmu.� (hlm.111)
Pada
kutipan pertama menunjukan sebagai kakak yang baik Xiao Fu bertanggung jawab
terhadap adiknya Xiao Tian untuk selalu menjagannya dalam keadaan apapun. Selain itu, Xiao Fu dahulu sudah berjanji kepada
Xiao Tian untuk menemaninya mecari Han Xiang yang hilang walau sampai keujung
dunia.� Dan sebagai suami yang baik Xiao
Fu meminta izin terlebih dahulu kepada istrinya Chen Li untuk ikut menyusul ke
Batam menemani Xiao Tian dalam pencarian suaminya Han Xiang.
(2)
�Jika hari
ini aku disuruh memilih, kau atau Xiao Tian, tentu aku akan memilihmu.�
�Bang....�
Kalimat Zainab menggantung.
�Ya, Zulaikha. Karena saat ini kau sungguh tak
bisa dibandingkan dengan Xiao Tian, atau perempuan manapun yang ada di pulau
ini, karena kau adalah istriku, sedangkan Xiao Tian, dia adalah wanita yang
berbeda keyakinan denganku. Kau tahu Zainab, harga sebuah keyakinan itu tak akan
dapat ditukar dengan dunia dan seisinya.�
Muka Zainab
bersemu merah. (hlm.183)
Pada kutipan kedua, Sebagai suami Zainab
saat ini Yusuf jika diharuskan memilih diantara Zainab atau Xiao Tian maka
Yusuf akan memilih Zainab karena dia adalah istrinya. Sedangkan
Xiao Tian adalah wanita yang berbeda keyakinan dengan Yusuf.
(3)
Zainab dan
Xiao Tian, kedua wanita itu kini berada di bawah tanggung jawabnya. Meski ia
mengakui bahwa manusia hanya memiliki satu hati, namun sebagai seorang suami
yang meyakini bahwa tujuan hidup yang telah ia tentukan adalah tugas yang harus
ia tunaikan, maka ia harus berbagi perhtian dan tanggung jawabnya kepada kedua
bidadarinya. (hlm.238)
Pada ktipan ketiaga, Yusuf megakui manusia
diciptakan hanya memiliki satu hati namun sebagai seorang lelaki sekaligus
sebagai suami ia menyakini tujuan hidup yang telah ia
tentukan adalah tugas yang harus ia tunaikan, maka ia harus bisa berbagi
perhatian dan bertanggung jawab kepada kedua istrinya yaitu Zainab dan Xiao
Tian.
(4)
Sejak Yusuf
bertemu kembali dengan Xiao Tian, di bahunya memang teremban beban yang lebih
berat, apalagi setelah Xiao Tian kembali ke Suzhou dan mengembangkan kariernya
di negeri sutra tersebut, praktis Yusuflah yang harus hilir mudik menyeberangi
laut dan daratan yang terbentang amat luas itu. Namun sesungguhnya kedua cinta
itu adalah sebuah amanah yang indah. Ia menikmati semua peroses itu dengan
kelapangan hati, karena dalam peroses itu ia memperoleh banyak berkah. Bisnis
sutra keluarga Xiao Tian yang dikembangkan tahun demi tahun menunjukkan
peningkatan, bahkan kini Xiao Tian bukan hanya menjadi seorang desainer yang
cukup ternama di kota itu, namun ia juga mengembangkan ilmunya di sebuah lebaga
pendidikan yang cukup ternama di Shanghai. (hlm.283)
Pada
kutipan keempat diatas menunjukkan Yusuf sosok suami yang bertanggung jawab. Walau di pundak Yusuf teremban beban dua amanah
istri yaitu Zainab dan Xiao Tian tetapi dia menjalani beban
itu dengan iklas dan lapang dada. Yusuf yakin segala peroses yang ia lalu
pasti akan memperoleh berkah.
(5)
�Aku tak
menyangka, Ai kini telah menjelma menjadi seorang gadis yang teramat manis.�
�Ya, tentu
saja karena semua pasti akan berubah.�
�Tapi ada
yang tidak berubah.�
�Apa itu?�
�Menepati janji. Aku sangat menyesal, dulu aku
pernah berjanji akan mengajak Zainab jalan � jalan kalau ia ke sini, tapi
sampai dengan akhir hidupnya ternyata aku belum bisa memenuhi janjiku.� Xiao
Tian menghela napasnya sebelum melanjutkan kata � katanya. �Tapi begitu aku tahu Ai akan datang ke sini, aku seolah melihat jalan
untuk memnyempurnakan janjiku. Aku ingin mengajak Ai jalan � jalan. Ia pasti
tidak akan menolaknya �kan?� (hlm.284)
Pada
kutipan kelima dia atas menunjukkan bahwa Xiao Tian sosok yang pantang
melanggar janji kepada seseorang. Dahulu Xiao Tian pernah berjanji akan mengajak Zainab jalan � jalan
di Shanghai. Namun sebelum janji itu belum terlaksana, Zainab sudah meninggal.
Sehingga, untuk menepati janji itu Xiao Tian menggantinya dengan mengajak Ai
anak kandung Zainab untuk jalan � jalan kota Shanghai.
Jujur
Sikap jujur berarti terbuka terhadap
sesuatu, tidak ada yang ditutupi, bersikap sebagai diri sendiri apa adanya.
Jika seseorang ingin menjdi sosok pribadi yang baik dan terpuji maka sosok
pribadi tersebut harus berlandaskan pada kejujuran. Hal tersebut terdapat dalam
kutipan sebagai berikut.
(1)
Yusuf
menatapnya dengan lembut, menunggu tangis wanita itu mereda. Kemudian pria itu
pun melanjutkan kalimatnya.
�Zulaikha, aku memang pernah menikah dengannya,
namun saat ini kaulah istriku dan aku tidak ingin berpisah denganmu. Sungguh
sejak aku memutuskan menikahimu, saat itu aku sudah menganggap Xiao Tian masa
laluku dan kau masa depanku. Kau adalah Zulaikhaku.� (hlm.166)
Pada
kutipan di atas, Yusuf berkata jujur kepada Zainab sesuai dengan keadaan yang ada. Bahwa, memang Yusuf pernah menikahi Xiao Tian
sebelum Yusuf masuk agama Islam. Namun kini keadaanya berbeda, saat ini Yusuf
memeluk agama Islam dan kini telah menikahi Zainab. Yusuf
betekad melupakan Xiao Tian dan menganggap wanita itu adalah bagian dari masa
lalunya dan kini masa depan Yusuf adalah Zainab.
Setiap perkataan jujur yang datang dari
hati yang tulus akan memberikan dampak yang positif kepada siapapun yang
menerimanya. Hal itu menunjukkan pada kutipan di atas masuk
ke dalam sikap kejujuran.��
Rendah Hati
Rendah hati artinya tindak memandang
rendah orang lain. Rendah hati sering disebut juga dengan tawaduk, yang artinya
tidak angkuh atau sombong. Sikap ini merupakan kekuatan batin untuk melihat
diri sesuai dengan kenyataan. Dengan sikap rendah hati kita benar benar
bersedia untuk memperhatikan dan menanggapi setiap pendapat lawan, bahkan untuk
seperlunya kita dapat mengubah pendapat kita sendiri. Hal ini terdapat dalam
kutipan sebagai berikut.
(1)
�Nona!
Benarkah ini untuk saya? Nona memberi saya hadiah kain sutra? Apakah saya
sedang bermimpi? Seumur hidup saya belum pernah membayangkan akan menerima
hadiah sebagus dan semahal ini, bahkan tidak pernah sekalipun terpikir oleh
saya untuk memiliki pakaian dari bahan semahal ini. Nona Besar, terimakasih!
Terima kasih banyak! Alhamdulillah!�
Li Huang melompat lompat kegirangan,
persis seperti anak kecil, membuat Xiao Tian tak dapat menahan senyum. (hlm.59)
Pada kutipan pertama di atas menunjukkan
Xiao Tian sosok yang rendah hati. Walau, Xiao Tian sebagai majikan tetapi ia
tidak memandang rendah pembantunya. Dia justru perhatian kepada pembatunya.
Sisi perhatianya itu dapat ditunjukan dengan pemberian hadiah kain sutra yang
mahal kepada pembantunya tersebut.
(2)
Itu adalah
hari pertama mereka mengenakan cheongsam untuk acara ulang tahun, bukan acara
peringatan kematian seperti yang telah mereka lakukan saat ini. Xiao Tian juga
telah memesan kue ulang tahun yang cantik hari itu. Akhirnya pesta ulang tahun
yang sederhana pun berlangsung dengan meriah walau hanya dihadiri tiga orang
saja.
�A Ling,
kau tidak boleh menyia � nyiakan kesempatan langka ini. Mungkin ini dalah pesta
ulang tahun pertama dan terakhirmu. Kau harus berterima kasih pada ayah dan
ibumu yang masih menetap di Shanghai sampai hari ini.� Xiao Tian tersenyum
menatap wajah ceria A Ling.
�Terima
kasih, Bibi. Aku sangat suka dengan hadiah yang bibi berikan.�
�Ehh, ingat anak manis. Kau tidak boleh memberitahukan
peristiwa hari ini kepada ayah dan ibumu. Ini rahasia kita bertiga. Kalau
mereka sampai tahu kita bisa celaka!� (hlm.62-63)
Pada kutipan kedua di atas menunjukkan
Xiao Tian sisi perhatiannya kepada keponakanya A Ling dengan mengadakan
perayaan pesta ulang tahun untuk A Ling. Perayaan ulang tahun A Ling ini
dilakukan oleh Xiao Tian karena ia tidak tega melihat wajah A Ling yang
bersedih di setiap perayaan ulang tahunya selalu bertepatan dengan tragedi
kelam yang menimpa keluarga Fang. Hari di mana di setiap tahunnya akan selalu diperingati hari duka cita keluarganya.
Autentik
Sikap autentik adalah sikap yang ada pada
diri manusia yang menunjukkan diri sesuai dengan kenyataan, dapat dipercaya,
mengakui atau menyakini suatu hal yang memang benar atau nyata. Hal ini
terdapat di dalam kutipan sebagai berikut.
(1)
�Persaingan
semakin ketat. Kita harus bisa bersaing dengan mereka. Xiao Tian, aku yakin
karyamu akan bisamenolong kami nanti.� Ujar kakak Xiao Tian yang terpaut usia
sepuluh tahun itu terlihat antusias.
�Hao, aku akan selalu berkerja keras untuk
keberhasilan kita. Dalam hal ini, kalian tidak perlu meragukanku. Untuk musim
panas tahun ini aku memilih desain yang cerah namun terkesan lembut dan nyaman.
Kain sutra memiliki kelebihan dibandingkan dengan kain yang lain,
ia akan terasa hangat bila dikenakan pada cuaca dingin dan akan terasa dingin
apabila dikenakan pada cuaca yang panas� (hlm.31-32)
Pada
kutipan pertama Tokoh Xiao Tian sangat berperan penting dalam kerjasama
perkerjaan terkait desain kain sutra. Dan sebagai kakak tertua Xiao Tian, Xiao Fu sangat yakin dengan
kemampuan desain kain sutra adiknya akan mampu menyaingi pesaing desain kain
sutra lainnya.
(2)
Xiao Tian
menghembuskan napasnya kuat-kuat, seolah � olah mengeluarkan semua beban yang ada
pada hatinya. Sampai detik itu, ia masih bisa merasakan dengan jelas perasaanya
kala itu. Sedih, kehilangan, putus asa dan sangat menderita. Hari itu, ia bisa
menangkap sikap lembut Han Xiang kepadanya. Biacaranya yang santun dan tertata
masih dimilikinya, dan tatapanya yang jujur masih ada pada dirinya. Ia semakin
yakin, Han Xiang yang dilihatnya saat ini masih sama dengan Han Xiang yang
dikenalnya dulu pada saat mereka belia. (hlm.186)
�Pada kutipan ketiga Xiao Tian sangat yakin
sosok laki � laki yang ada di hadapannya saat itu adalah Han Xiang yang ia
kenal semasa mereka masih muda dulu. Dan Xiao Tian masih teringat bagaimana
rasa sedih, kehilangan, putus asa dan menderitanya kala itu saat ia kehilangan
sosok suaminya Han Xiang pada saat tragedi meledaknya kapal pada malam perayaan
pesta pernikahan mereka.
(3)
Xiao Tian
kembali terduduk, kali ini ia bisa mengenali bahwa sosok yang ada di hadapannya
memang benar � benar Han Xiang. Kata-katanya yang lembut dan penuh perasaan itu
tidak lain adalah pemilik pemuda Hangzou yang telah belasan tahun menjerat
hatinya. Namun kini di balik kata-kata yang lembut itu tersimpan pisau yang
teramat tajam dan telah menyayat-nyayat hatinya.
�Kau telah
berubah.... kau bukan Han Xiang yang pernah ku kenal dulu...!�
�Ya. Aku memang telah berubah, Xiao Tian. Aku
bukan Han Xiang yang dulu lagi. Han Xiang adalah masa laluku, sekarang aku
adalah Yusuf.� (hlm.189)
Pada kutipan ketiga tersebut menunjukkan
sosok yang berada di hadapan depan Xiao Tian memanglah Han Xiang yang ia kenal dulu. Namun sosok Han Xiang yang
ada di hadapan depannya kini telah berubah karena di balik perkataan Han Xiang
yang lembut terdapat kata � kata yang menyayat hati yang membuat Xiao Tian
kecewa.
Realistis
dan kritis
Sikap realistis adalah cara berpikir yang
penuh dengan perhitungan yang logis sesuai dengan keadaan dan lebih fleksibel.
Pada kenyataanya sikap realistis harus bersamaan dengan kritis. Karena kritis
berarti bersifat tidak lekas percaya atau dapat juga selalu berusaha menemukan
jika adanya kekeliruan. Hal ini terdapat pada kutipan sebagai berikut.
(1)
Xia Fu dan
Chen Li menyadari adanya perubahan yang ada pada diri Xiao Tian hanya bisa
saling berpandangan. Ada rasa sesal yang mendadak yang menyelinap di relung
hati mereka, namun kenyataan pahit yang terlanjur melekat itu juga tak mungkin
bisa mereka singkirkan. Seperti bergantinya musim, waktu akan terus berputar
dan pasti suatu saat mereka akan bertemu kembali dengan musim itu. (hlm.34)
Pada ktipan
pertama menunjukkan Chen Li dan Xiao Fu menyadari perubahan mimik sedih Xiao
Tian. Namun perasaan
sedih yang sudah melekat karena kejadian kelam yang menimpa keluarga mereka
tidak mungkin bisa mereka singkirkan. Mereka harus realistis karena pada
realitanya waktu terus berjalan dan pastinya suatu saat akan bertemu kembali
kepada hari yang mengingatkan mereka pada kejadian kelam itu.
(2)
�Xiao Tian,
hari ini kau adalah anugrah yang di berikan Allah untukku. Aku harus
mensyukurinya. Di usiaku yang setua ini ternyata aku masih diberi kesempatan
untuk bertemu lagi denganmu, yang sudah kuanggap tiada. Sungguh Allah Maha
Adil. Jika nanti kau akan ke Suzhou, itu adalah yang terbaik untukmu. Aku sudah
terlalu tua untuk berpergian jauh. Lagi pula aku tidak sendirian di sini.�
�Maafkan
aku ibu, aku tidak akan meninggalkan ibu.�
�Xiao Tian, meski kau tidak akan meninggalkanku,
suatu saat aku yang akan meninggalkanmu. Manusia yang hidup itu tidak akan
kekal.�
�Ibu,
jangan katakan itu lagi....�
�Xiao Tian, manusia pasti akan pergi, jika
waktunya telah tiba. Namun Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-nya.
�Ibu....�
�Itulah Xiao Tian yang
membuat hatiku damai. Karena Dia akan selalu menemaniku, di mana pun dan
kapanpun. Jadi, tidak ada yang perlu diresahkan lagi.� (hlm.210-211)
Pada
kutipan kedua di atas menunjukkan ibu kandung Xiao Tian yaitu Yi San San merasa
bersyukur karena bisa bertemu kembali dengan anak perempuannya di usianya yang
sudah renta. Yi San San
bersikap realistis tidak akan mengekang Xiao Tian untuk kembali ke Suzhou.
Walau Xiao Tian berjanji tidak akan meninggalkan ibunya Yi San San. Namun Yi
San San berpikir kritis walau Xiao Tian berjanji tidak akan meninggalkan
dirinya, Yi San San menyangkal bahwa manusia yang hidup tidak akan kekal pasti
akan mengalami kematian.
(3)
Lelaki itu
sadar bahwa apa yang telah di lakukannya saat ini belum bisa diterima banyak
orang. Namun lelaki itu memiliki sebuah keyakinan yang belum tentu dimiliki
orang-orang di sekitarnya. Keyakinan itu bukanlah fakta. Meski masih banyak
orang yang tidak suka, namun apa yang di lakukannya sama sekali tidak melanggar
hukum agama yang diyakini-nya. Apa yang dilakukannya juga bukan suatu yang
mengantarkannya ke lembah dosa. Apa yang dilakukannya memang bukan
berarti tanpa masalah sama sekali, namun ia yakin apa yang dilakukannya adalah
salah satu usaha untuk memecahkan masalah yang ada pada dirinya dan orang-orang
di sekitarnya.
(hal.263)
Pada kutipan ketiga di atas, Yusuf
menyadari apa dilakukannya saat ini memang belum bisa
diterima banyak orang dan banyak orang yang tidak suka. Realitanya memang
mengharuskan Yusuf melakukan itu. Itu satu-satu jalan unutuk menyelesaikan
masalah yang ada pada dirinya dan orang � orang sekitarnya. Karena Yusuf yakin
berpoligami tidak dilarang oleh agamanya dan tidak membuat yusuf melanggar
dosa.
(4)
�A Ling
mengikuti kelasku di Suzhou.�
�Subhanallah,
Karena itukah kau mengkhawatirkan kakakku?�
�Bukan begitu. Aku cuma menduga saja. Aku belum
tahu bagaimana reaksi Kak Xiao Fu kalau tahu A ling mengikuti kelasku di Muslim
Center.�
�Tidak perlu khawatir. Aku yakin kakak tidak
seperti itu. Dulu saja Kakak tidak bisa menghalangi keinginanku, kali ini aku
yakin kalau kemauan A Ling akan jauh lebih besar dari kemauanku belasan tahun
silam.� (hlm.285)
Pada kutipan di atas pada awalnya Yusuf
khawatir bagaimana nanti reaksi kakak Xiao Fu terhadap anaknya A Ling yang
mengikuti kelas Yusuf di Muslim Center di Suzhou. Namun Xiao Tian sebagai istri
menimpali dengan berpikir keritis kakaknya Xiao Fu pasti tidak akan marah dan
menentang kemauan A Ling ikut kelas Yusuf. Karena Xiao Tian yakin kemauan A ling pastinya akan lebih besar daripada Xiao Tian pada
saat dahulu ketika dia izin akan masuk agama Islam kepada kakaknya.
Pantang
Menyerah
Salah satu nilai yang paling menonjol
dalam novel ini adalah sikap yang pantang menyerah terhadap mimpi dan ambisi.
Pantang menyerah yang dimaksudkan dalam hal ini adalah tidak mudah menyerah
dengan segala cobaan dan hambatan untuk mencapai suatu keinginan. Berikut ini
kutipan yang menunjukan sikap pantang menyerah.
(1)
�Menurutku,
iklim di Batam cukup mendukung dalam budidaya ulat sutra. Tanaman morus dapat
tumbuh dan hijau sepanjang tahun. Perkembangan ulat sutra dapat berlangsung
setiap saat, berbeda dengan di utara.�
�Apa yang di katakan Nona sepertinya mudah. Padahal
yang saya alami hampir membuat saya putus asa untuk melanjutkan usaha ini.�
�Saya mengerti. Pada awalnya mungkin memang
terasa sulit. Tapi, saat kita melakukan sesuatu, disitulah kita bisa
mengevaluasi. Mana mungkin kita kita bisa melakukan sesuatu bila kita tak
pernah mencobanya?. Kita pasti tak pernah menyangka
akan bisa melakukan sesuatu yang pada awalnya kita ragu apakah kita nanti kita
bisa melakukannya. Bagiku, semua itu seeperti sebuah keajaiban. Seperti saya
ketika melihat ulat-ulat itu menjadi kepompong. Sebuah peristiwa kecil yang
luar biasa.�
Wang Jian Li tertenggun mencerna kata � kata yang
keluar dari mulut wanita cantik itu. (hlm.83)
Pada kutipan pertama tersebut menunjukkan
Xiao Tian sosok yang ramah dan tidak pelit berbagi ilmu. Ia juga tidak segan
menasehati Wang Jian Li agar tetap semangat dan jangan pantang menyerah dalam
menjalankan usaha kain Sutra miliknya di Batam.
(2)
Wang Jian
Li memandang lekat wajah Xiao Tian. Wajah itu terlihat agak pucat. Ia tahu
wajah itu kurang tidur. Beberapa hari ini ia subuk belajar yang berkaitan
dengan Islam. Mulai dari tata cara ibadah sholat, Al-Qur�an, hadits, fiqh,
tarikh dan masih banyak lagi. Sejauh ini, istri Wang Jian Li yang mengajarinya.
Keinginan Xiao Tian begitu kuat sehingga ia sendiri sampai lupa memikirkan
kondisi tubuhnya. Wang Jian Li ingin adiknya itu libur dulu
belajarnya. Ia ingin Xiao Tian tidur lebih awal dan cukup beristirahat.
(hlm.225)
Pada kutipan ke dua diatas menunjukkan
kemauan tekad belajar Xiao Tian mengenai Islam cukup besar. Sebagai kakak Wang
Jian Li tak tega dan prihatin melihat adiknya belajar terlalu keras sehingga
melupakan kondisi tubuhnya. Memang belajar dengan sungguh-sungguh memang perlu
tetapi, jangan sampai melupakan kondisi tubuh. Karena manusia juga butuh jeda untuk
istirahat.
(3)
Penyesalan
selalu datang terlambat. Saat ia menemukan kembali ingatan yang ingin di
lupakannya, justru saat itu ia harus menghadapi sebuah kenyataan bahwa ia akan
segera menikah dengan seorang gadis yang telah dipilihkan untuknya.� Hati pria itu bergejolak, dan dilema itu kian
pelik. Yusuf memutuskan mencari kembali Xiao Tian ke Shanghai. Berbulan-bulan
ia mencari Xiao Tian ke seluruh penjuru kota Shanghai. Setiap jalan dan
sudut-sudut kota tak luput dari pencariannya. Namun, keberadaan wanita cantik
yang kerap dipanggilnya �bunga teratai� itu bagai raib di telan waktu yang baru
dua tahun hilang dari memorinya. Jejak Xiao Tian dan keluarganya seolah hilang
tak berbekas. (hlm.240)
�Pada kutipan ketiga tersebut menunjukkan Yusuf
sempat merasa menyesal dan dilema ingatan lamanya kembali di saat ia harus
menghadapi kenyataan ia akan segera menikahi wanita yang telah dipilihkan
untuknya. Yusuf tak pantang menyerah berusaha mencari Xiao Tian di sepanjang
jalan dan sudut sudut kota Shanghai selama berbulan-bulan. Namun
sosok yang sempat hilang dalam ingatan Yusuf selama dua tahun itu seolah hilang
tanpa jejak.
Keberanian
Sikap keberanian moral merupakan bentuk
kesetiaan terhadap suara hati yang menyatakan diri dalam kesediaan untuk
mengambil segala resiko yang akan diterima. Orang yang memiliki sikap itu tidak
akan mundur dari permasalahan yang sedang dihadapi, sehingga orang tersebut
menjadi bernilai dan disegani. Berikut kutipan yang termasuk ke dalam sikap
keberanian.
(1)
�Xiao Tian!
Dia sudah menghianatimu, mengapa kau masih ingin bertemu dengannya?�
�Ada urusan yang harus ku selesaikan dengannya.
Kakak, tolong jangan halangi aku. Setelah urusanku selesai kita akan kembali ke
Suzhou. Aku tak ingin meninggalkan pulau ini dengan membawa beban.�
�Apa yang
bisa kau harapkan dari orang seperti dia?�
�Sebuah
janji.�
�Sebuah
janji? Janji apa? Kau pikir dia akan mempedulikanmu?�
�Kak, aku yakin Han Xiang bukan orang yang
seperti kakak kira. Kakak sangat mengenalnya �kan? Bukankah kakak sudah
menganggapnya seperti adik sendiri? Apakah Kakak akan menganggapnya sebagai
orang yang buruk hanya karena peristiwa ini?� (hlm.171-172)
Pada
kutipan pertama di atas menunjukan Xiao Tian memiliki sikap pemberani. Dia tidak akan mundur sebelum pemasalahan yang
tengah dia hadapinya di pulai Batam selesai. Maka dari itu Xiao Tian ingin
kembali menemui Han Xiang, untuk menagih sebuah janji.
(2)
Ia akan
mengucapkan janji setia, sebuah janji setia yang akan mengikat dirinya pada
sebuah� �tanggung jawab yang baru. Dengan janjinya itu, ia
akan memulai babak kehidupan yang baru, kehidupan yang akan membrikan
ketenangan pada jiwanya yang gersang. Mungkin ia, nanti akan kehilangan
keluarga yang dimilikinya. Namun meski nanti menjadi orang yang berbeda, ia
masih berharap bisa bekerja sama dalam hal lain. Lama sekali wanita itu
diam-diam menatap kakak lelakinya itu, kakak yang paling menyayangi dirinya. (hlm.222)
Pada
kutipan ke dua di atas menunjukkan Xiao Tian berani mengambil keputusan besar
untuk memeluk agama Islam. Agama yang
akan membawa babak kehidupan baru Xiao Tian yang lebih damai dan tenang. Ia tak
mempermasalahkan jika ia akan kehilangan kakak yang paling menyayanginya yaitu
Xiao Fu dan keluarganya yang lain. Meski kenyakinan agamanya yang dia anut
akan berbeda dengan kakak dan kelurganya yang lain, Xiao Tian berharap masih
bisa berkerja sama dalam hal lain.
Moral
Keadilan
Sikap keadilan bukan hanya mampu untuk
bersikap baik terhadap orang lain, tetapi juga pada diri sendiri. Manusia yang
memiliki moral baik juga perlu memiliki sikap adil. Menurut Suseno (2019) moral
sikap keadilan di sini mengarah kepada seseorang agar mampu bertindak sesuai
dengan perilaku yang baik. Moral sikap keadilan pada kenyataannya adalah
mengungkapkan kewajiban untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap orang
lain yang berada dalam situasi yang sama dan menghormati pihak yang ada dalam
situasi tersebut. Keadilan di sini terdiri atas tiga bagian. Keadilan di sini
terdiri atas tiga bagian yaitu adil dalam bersikap diperoleh dua temuan, adil
dalam mengambil keputusan diperoleh dua temuan, dan adil dalam membantu orang
lain diperloleh dua temuan.
1)
Adil dalam
bersikap
�����
Sikap sesorang bisa ditentukan dengan tingkah laku bagaimana seseorang
itu dapat adil atau tidak dengan orang lain. Disini adil dalam bersikap berarti
mampu meberikan atau menunjukan sesuai dengan situasi apapun. Berikut adalah
kutipan yang termasuk adil dalam bersikap.
(1)
�Zulaikha.
Aku tidak ingin bertindak bodoh. Semua sudah kukatakan kepada Xiao Tian. Lebih
baik kukatakan jujur walaupun akan menyakitinya. Bukankah dulu kau pernah
bercerita padaku, apa kau masih ingat?. Ketika kedua
putri Rasulullah memutuskan memeluk agama Islam maka putuslah tali pernikahan
mereka dengan suami mereka yang musyrik. Bahkan ketika mereka memutuskan
berhijrah ke Madinah, Rasulullah pun tak bersedia mnyerahkan kembali kedua
putrinya kepada suami mereka, kecuali bila mereka bersedia masuk ke Islam�
(hlm.185)
��
Pada kutipan satu di atas menggambarkan Yusuf merupakan seorang yang
adil dalam bersikap. Ia mampu dan berani bersikap di situasi apapun. Sikap adil
Yusuf ini sesuai dengan ajaran Rasulullah.
(2)
Yusuf
menghela nafas panjang, seolah berusaha melepas letih yang menggerogoti
tubuhnya. Letih yang menderanya selama belasan tahun. Bagaimana tidak,
sepanjang kurun waktu tersebut ia harus membagi dirinya menjadi dua, membagi
dua hatinya di negeri yang berbeda, untuk dua cinta yang senantiasa menunggu
kedatangannya. Kadang kala ia membagi tahun menjadi dua, membagi musim menjadu
dua, kadang pula ia bagi bulan menjadi dua. (hlm.282-283)
Pada kutipan kedua tersebut menunjukkan
Yusuf berusaha semaksimal mungkin membagi perhtian dan cita kepada kedua
istrinya Zainab dan Xiao Tian. Hal ini ia lakukan
semata-mata karena bentuk tanggung jawabnya sebagai suami yang harus bisa
bersikap adil kepada kedua istrinya.
2)
Adil Dalam
Mengambil Keputusan
���
Mengambil sebuah keputusan juga merupakan bagian dalam bentuk keadilan (Pakendek, 2019). Manusia pasti pernah mengalami keadaan saat ia
harus menentukan suatu hal. Menentukan sebuah keputusan yang akan diambil
tersebut pasti dibuat dengan melalui berbagai pertimbangan. Hal tersebut
dilakukan agar keputusan tersebut tidak merugakan diri sendiri maupun orang
lain. Berikut kutipan sikap adil dalam mengambil keputusan.
(1)
�Jadi...., kau lebih memilih Zainab daripada aku?� ujar Xiao Tian dengan sepasang mata
sembab, ia memberanikan diri untuk menatap wajah yang ada di hadapannya.
�Xiao Tian, maaf ini bukan masalah pilihan,
Tetapi Zainab adalah istriku. Aku sama sekali tak punya alasan untuk
melepaskannya. Dia wanita yang baik.�
�Lalu kau
anggap aku ini apa?�
�Kau adalah
kau, Xiao Tian.�
�Han Xiang
mana boleh kau lakukan ini padaku...!�
�Maafkan aku Xiao Tian. Hanya itu yang bisa ku
lakukan untuk kebaikan kita bersama. Aku sudah berusaha dan mempertimbangkan
keputusan ini masak-masak. Xiao Tian, kau boleh mempertimbangkanya lagi. Walau bagaimanapun, sebuah keyakinan tidak layak untuk dipaksakan. Aku yakin, jika kau menghendaki sesuatu yang benar, Allah pasti
akan memberikan pentunjuk kepadamu.�(hlm.188-189)
�
Pada kutipan ketiga tersebut menunjukkan Yusuf mengambil keputusan terbaik
tetap mempertahan istrinya Zainab.� Walau
dulu Xiao Tian juga istrinya Yusuf, namun keadaanya sekarang berbeda kini Yusuf
dan Xiao Tian berbeda keyakinan. Keputusan Yusuf ini memang terkesan
menyakitkan bagi Xiao Tian. Keputusan ini semata � mata diambil demi
kebaikan mereka bertiga.
(2)
�Xiao Tian,
menurut pertimbangan kami, belum ada orang yang lebih baik bagimu selain Yusuf.
Dia telah mengenalmu sejak lama, demikian juga kau. Saat ini kalian sudah
seiman, tak ada lagi yang menghalagi kalian. Zainab juga tidak keberatan dengan
rencana ini, dan kami semua mendukungmu. Kelak kau akan menjadi istri kedua
bagi Yusuf. Kami yakin Yusuf akan bisa belaku adil kepada kalian. Kami mengenal
kepribadiannya. Jika Yusuf sampai menyakitimu, aku tidak akan tinggal diam�
Xiao Tian terdiam masih terpaku. Masih belum bisa mempercayai apa yang baru
saja di dengarnya.
�Xiao Tian, menjadi istri kedua bukan berarti
sesuatu yang hina, justru engkau dimuliakan karena menjadi istri seorang yang
baik. Ini jauh lebih baik daripada engkau sendirian meski engkau kaya raya.
Bukan hanya engkau yang mengalami pernikahan seperti ini, orang-orang terdahulu
yang lebih teguh keimanannya juga mengalami hal serupa denganmu. Jika engkau
bisa menjadi istri yang shalihah bagi suamimu, itu adalah pahala yang besar
untukmu. Lalu apakah kau masih meragukan semua ini?.
Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu. Kau boleh menolak atau menerima. Tapi,
tolong dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya.� (hlm.233-234)
Pada kutipan kedua tersebut Wang Jian Li
menasehati Xiao Tian dengan bijak mengenai lamaran Yusuf kepada Xiao Tian untuk
menjadi istri kedua. Karena sekarang Xiao Tian dan Yusuf sudah seiman, maka
kini mereka bisa menikah Kembali, dan Zainab sebagai istri pertama tidak
merasa keberatan dengan keputusan Yusuf untuk melamar Xiao Tian untuk dijadikan
istri kedua. Wang Jian Li merasa yakin Yusuf bisa bersikap adil kepada adiknya
Xiao Tian dan Zainab. Karena Wanng Jian Li kenal betul kepribadian
Yusuf yang baik.
3)
Adil Dalam
Membantu Orang Lain
��� Sikap membantu orang lain mengacu pada
kepekaan terhadap kondisi seseorang. Dalam hal ini terdapat
pada kutipan sebagai berikut.
(1)
Ada rasa
sesal yang tiba-tiba singgah di hatinya. Kerja keras sepasang suami istri itu
untuk menyelamatkan nyawanya yang hanyut di sungai rupanya harus di bayar
sangat mahal. Kini mereka harus rela kehilangan anak pertama mereka. Pendarahan
hebat yang dialami wanita itu, guratan rasa sakit dan kesedihan yang tergambar
di wajah wanita itu membuat jantung Xiao Tian tersayat-sayat. Seperti bangun
dari tidur panjangnya, Xiao Tian baru menyadari betapa
berharganya sebuah nyawa. Kedua tanganya bergemetar saat ia sadar bahwa dirinya
telah membuat nyawa tak berdosa harus pergi meniggalkan dunia yang belum sempat
dilihatnya dan menyisahkan kesedihan di hati kedua orang tuanya. (hlm.22)
Pada kutipan pertama tersebut Xiao Tian
yang sedang depresi tadinya akan melakukan bunuh diri dengan cara menghanyutkan
diri ke sungai. Namun rencana itu gagal karena ternyata ada sepasang suami
istri menolong dirinya. Kerja keras sepasang suami istri itu untuk menolong
Xiao Tian yang akan melakukan bunuh diri harus dibayar dengan kehilangan calon
anak petama mereka yang ada dalam kandungan. Xiao Tian seketika merasa menyesal
dan baru menyadari betapa berharganya sebuah nyawa.
(2)
Untuk
menebus kesalahannya, kemudian Xiao Tian menawarkan pekerjaan kepada sepasang
suami istri tersebut di rumahnya. �Setelah kesehatan istrimu pulih, kalian
boleh berkerja di rumahku. Aku akam menggaji kalian dengan layak.� Xiao Tian
berhenti sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. �Sekarang kita harus ke
dokter.� Senyum di wajah lelaki itu seketika mengembang. �Terima kasih banyak,
Nona. Alhamdulillah� (hlm.23-24)
Pada kutipan kedua tersebut menunjukkan
bahwa Xiao Tian menyesal karena sudah melakukan rencana bunuh diri. Untuk
menebus kesalahannya sebagai gantinya Xiao Tian menawarkan pekerjaan di
rumahnya untuk sepasang suami istri tersebut. Sikap Xiao Tian yang memberikan pekerjaan kepada sepasang suami istri
tersebut termasuk dalam kategori moral sikap adil dalam membantu orang lain.
Moral Sikap
Hormat
Moral sikap hormat dapat diartikan dengan
menghargai seorang, baik yang lebih muda, tua maupun seumuran (Manderes, 2022). Manusia harus bisa memperlakukan dirinya
sendiri sebagai sebagai seseorang yang mempunyai nilai yang baik (Jannah & Umam, 2021). Karena manusia wajib memperlakukan dirinya
dengan baik dan mepunyai sikap hormat terhadap dirinya sendiri. Moral hormat di
sini terdiri atas dua bagian. Yaitu hormat pada orang lain dan hormat terhadap
diri sendiri. Dalam penelitian ini moral sikap hormat terhadap orang lain
terdapat tiga temuan dan moral sikap hormat terhadap diri sendiri terdapat tiga
temuan. Demikian dapat dapat ditarik kesimpulan moral sikap hormat adalah sikap
menghargai segala sesuatu yang baik pada diri sendiri maupun orang lain.
Hormat
Terhadap Orang Lain
Manusia sebagai mahluk sosial sudah
selayaknya kita bisa menghargai dan menghormati antar sesama. Baik antar
kelompok ataupun intra kelompok. Berkaitan dengan ini, manusia perlu menjaga
hubungan baik dengan orang lain agar terjalinnya kehidupan bermasyarakat yang
harmonis dan damai. Hal ini terdapat di dalam kutipan novel sebagai berikut.
(1)
Xiao Tian
membungkukkan badanya terhadap ketiga orang itu �Terimakasih atas perhatian
kalian, tapi saya sekarang benar-benar sudah sembuh. Maaf, saya sudah
merepotkan kalian, Li Huang, Wu Han, Tuan Tsang.�(hlm.108)
Pada kutipan pertama diatas Xiao Tian
mengucapkan terimakasih dengan membungkukan badan pada keluarga Li Huang.
Karena mereka semua mau merawatnya Xiao Tian disaat sakit hingga sembuh. Sikap Xiao Tian yang membungkukan badan terebut
termasuk dalam kategori moral hormat terhadap orang lain
(2)
�Senang
sekali bisa mengobrol dengan nenek Yi, lain kali aku pasti akan kesini lagi
untuk mendengarkan cerita-cerita nenek. Sudah malam, apakah nenek mau tidur?�
Wanita itu mengangguk hendak beranjak dari duduknya, namun tiba-tiba ia
terpeleset. Dengan sigap Xiao Tian menangkap tubuh renta itu. (hlm.126-127)
(3)
Lelaki itu
tersadar dari lamunanya ketika sebuah salam menyapanya. Ia segera memalingkan
wajahnya mencari arah suara lembut itu. Seraut wajah bidadari dengan segurat
senyum mengembang tiba-tiba telah hadir di hadapannya. �Wa�alaikumsalam,� jawab
lelaki itu. (hlm.281-282)
Hormat
Terhadap Diri Sendiri
�
Hormat terhadap diri sendiri jarang sekali dibicarakan. Padahal prinsip
ini tak kalah pentingnya dan sama dengan prinsip hormat terhadap orang lain. Manusia
juga mempunyai kewajiban bagi dirinya sendiri (Khurotul�aen, Hidayat, & Mujtaba, 2022). Hormat terhadap diri sendiri itu berarti bahwa
setiap manusia wajib untuk selalu bisa memperlakukan diri sebagai sesuatu yang
bernilai bagi dirinya sendiri (Djei, Malabar, & Masie, 2021). Manusia merupakan makhluk yang memiliki akal
budi (Stevanus, 2021). Maka dari itu manusia harus mempunya tujuan
yang bernilai untuk dirinya sendiri. Berikut ini kutipan prinsip hormat
terhadap diri sendiri.
1)
�Apa yang
mebuat ibu bahagia di sini?�
�Semua�
�Semuanya?�
�Ya, semuanya�
�Ya, semuanya. Bahkan dengan melihat ulat-ulat
yang memakan lahap daun murbei saja aku sudah bahagia�
�Mengapa
ibu?�
�Karena ada kedamaian di hati ini, sehingga apa
pun yang ada di hadapanku itu sudah membahagiakanku� (hlm.210)
2)
Ia sadar,
malam itu tak ada Yusuf di sisinya. Ia sendirian. Tak terasa air bening mengalir
dari sepasang matanya. Zainab segera bangkit dan berdiri. Dengan langkah pasti,
ia melangkahkan kakinya untuk mengambil air wudhu. Sebentar kemudian, Zainab
kembali larut dalam khusyuknya. (hlm.243)
3)
Ya
Allah....
Seandainya bisa, ingin rasanya membagi hatinya
sama rata. Ingin rasanya ia berbuat seadil-adilnya pada dua hatinya yang kini
tertambat di dadanya, Namun apakah sebenarnya adil itu? Membagi sama rata, sama besar? Kalau hanya membagi dunia maka ia yakin pasti
bisa melakukannya, namun kalau harus membagi dua hati..., sungguh ia tak
berdaya, karena sesungguhnya hati manusia itu ada dalam genggaman-Nya. (262)
Hormat terhadap diri sendiri bisa dibuktikan
dengan melakukan tindakan-tindakan baik, seperti berdoa, melakukan ibadah,
mengucapkan salam, bersyukur (Latief, Nurlina,
Medagri, & Suharyanto, 2019). Hal ini dilakukan agar kebaikan pada dirinya
senantiasa selalu ada. Hormat terhadap diri sendiri juga dengan tidak
terus-terusan dalam keadaan bingung atau gelisah, tetapi harus sadar juga akan
kewajibannya agar bisa menjadi seseorang yang bernilai.
KESIMPULAN
Hasil analisis pada penelitian ini, yakni
terdapat tiga poin penting yang menjadi landasan dari nilai moral pada novel
Syahadat dari Negeri Sutra. Bentuk dari nilai moral yang ditemukan berhubungan
dengan diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Ketiga poin tersebut ialah moral
sikap baik, moral keadilan, dan moral sikap hormat. Bentuk nilai moral yang
berupa prinsip sikap baik meliputi, pengetahuan mengenai bentuk tanggung jawab,
belajar jujur dalam hal apapun, pengetahuan tentang rendah hati, mampu bersikap
realistis dan kritis, pengetahuan mengenai bagaimana seseorang menunjukkan diri
sesuai dengan kenyataan atau bersikap autentik, tidak mudah menyerah dalam
menjalani segala rintangan kehidupan, serta berani dalam menghadapi tantangan
dan resiko. Bentuk nilai moral yang berupa prinsip keadilan meliputi,
pengetahuan tentang bagaimana seseorang mampu bersikap adil bahkan tidak lupa
juga untuk adil terhadap diri sendiri, mampu mengambil keputusan dengan bijak
dan adil tanpa menyulitkan orang lain, serta pengetahuan tentang adil dalam
membantu orang lain tanpa memandang kasta. Bentuk nilai moral yang berupa
prinsip hormat meliputi, pengetahuan mengenai bagaimana seseorang harus
bersikap santun atau hormat terhadap orang lain, baik yang lebih tua, lebih
muda, maupun sebaya. Melalui bentuk-bentuk nilai moral dalam novel Syahadat
dari Negeri Sutra, diharapkan dapat memahami bentuk perjuangan, sikap
peduli, kasih sayang, hormat, dan rasa cinta, baik terhadap Tuhan, orang lain,
maupun diri sendiri. Di samping itu, novel Syahadat dari Negeri Sutra
juga terdapat nilai kehidupan yang pantas untuk dijadikan contoh atau inspirasi
bagi kita semua yang mengerti akan pentingnya berjuang serta tidak
pantang menyerah dalam menghadapi cobaan.����
DAFTAR PUSTAKA
Aini,
Nurul. (2017). Novel Maysuri Karya Nadjib Kartapati Z.(Kajian Moralitas Franz
Magnis Suseno). State University of Surabaya.
Djei, Lady Yunita, Malabar, Sayama, & Masie, Sitti Rachmi. (2021).
Moralitas Tokoh Utama dalam Novel Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki Karya
Pepi Al-Bayqunie. Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Budaya, 11(1), 88�100.
Hasanah, Uswatun. (2018). Metode pengembangan moral dan disiplin bagi anak
usia dini. Martabat, 2(1), 91�116.
Ilahi, Ritanto. (2021). Nilai Moral dalam Novel 3600 Detik Karya Charon:
Kajian Pragmatik Sastra. UIN FAS Bengkulu.
Jannah, Nur, & Umam, Khairul. (2021). Peran Orang Tua dalam Pendidikan
Karakter Berbasis Keluarga di Masa Pandemi Covid-19. FALASIFA: Jurnal Studi
Keislaman, 12(1), 95�115.
Khurotul�aen, Iin, Hidayat, Dayat, & Mujtaba, Sahlan. (2022). Analisis
Nilai Moral Dalam Novel Espresso Karya Bernard Batubara. Jurnal Pendidikan Dan
Konseling (JPDK), 4(5), 3887�3894.
Latief, Abdul, Nurlina, Nurlina, Medagri, Eko, & Suharyanto, Agung.
(2019). Pengaruh Manajemen Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap terhadap Kinerja
Karyawan. JUPIIS: Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, 11(2), 173�182.
Manderes, Atika. (2022). Nilai Moral Keluarga dalam Film �Miracle in Cell
No. 07� Karya Lee Hwan Kyung dan Implikasinya Pada Pembelajaran Sastra. KOMPETENSI,
2(9), 1666�1684.
Mustaghfiroh, Siti, Nazar, Taufid Hidayat, & Safe�i, Badarudin.
(2021). Etika Keutamaan Dalam Akhlak Tasawuf Abdul Qodir Al-Jailani:
Relevansinya dengan Pengembangan Karakter Manusia. Jurnal Islam Nusantara, 5(1),
23�37.
Nugraha, F. B. H. (2014). Nilai Moral
Dalam Novel Pulang Karya Leila S Chudori. Universitas Negeri Yogyakarta.
Retrieved from https://eprints.uny.ac.id/ 17378
Nurhati, F. (2012). Syahadat dari Negeri Sutra. Yogyakarta: Diva Press.
Pakendek, Adriana. (2019). Cerminan Keadilan Bermartabat dalam Putusan
Pengadilan Berdasarkan pancasila. Jurnal Yustitia, 18(1).
Rohmah, Yayuk Nur, Wardiani, Ririen, & Astuti, Cutiana Windri. (2021).
Nilai Moral Kemanusiaan dalam Novel Burung Terbang Di Kelam Malam Karya Arafat
Nur. LEKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1(2).
Stevanus, Kalis. (2021). Relasi Akal Budi Dan Iman Dalam Apologetika Dan
Pewartaan Injil. DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 6(1),
87�105.
Suseno, F. M. (2019). Etika Dasar Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral.
Yogyakarta: PT Kanisius.