�NILAI MORAL DALAM NOVEL SYAHADAT DARI NEGERI SUTRA KARYA FITRI NURHATI

 

Diannisa Latifahtul Auliya 1, Eko Suroso 2

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

[email protected]

 

Abstrak:

Novel Syahadat dari Negeri Sutra karya Fitri Nurhati ada adegan dimana setelah kehilangan suami dan mengalami depresi berat, Xiao Tian mulai menghargai hidupnya setelah dia gagal bunuh diri. Target khusus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memberikan pemahaman yang mendalam kepada pembaca tentang nilai � nilai moral dalam novel Syahadat dari Negeri Sutra karya Fitri Nurhati. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik baca dan catat. Selain itu penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat di analisis dan ditelaah oleh peneliti untuk memperoleh data yang sesuai. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat nilai moral positif yang dapat ditiru, beberapa diantaranya mengenai kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup dan berpikir terlebih dahulu sebelum bertidak ketika ingin mengambil keputusan. Peneliti berharap dengan adanya penelitian ini pembaca dapat menerpakan nilai moral positif dalam kehidupan sehari � hari dan nilai moral negatif� bisa dijadikan pembelajaran dalam kehidupan sehari � hari.

 

Kata kunci: Analisis, Nilai moral, Novel �Syahadat dari Negeri Sutra�

 

Abstract:

The novel Syahadat dari Negeri Sutra by Fitri Nurhati has a scene where after losing her husband and experiencing severe depression, Xiao Tian begins to appreciate his life after he fails to commit suicide. The specific target of this research is to find out and provide readers with a deep understanding of the moral values ​​in the novel Syahadat dari Negeri Sutra by Fitri Nurhati. The technique used in this study uses reading and note-taking techniques. In addition, this study uses a qualitative descriptive method. Qualitative descriptive research is a research procedure that produces written or verbal descriptive data from people and behavior that can be analyzed and studied by researchers to obtain appropriate data. The results of this research show that there are positive moral values ​​that can be imitated, some of which are about patience in facing life's trials and thinking first before acting when you want to make a decision. Researchers hope that with this research readers can apply positive moral values ​​in everyday life and negative moral values ​​can be used as lessons in everyday life.

 

Keywords: Analysis, Moral Value, Novel �Syahadat dari Negeri Sutra�

 

Corresponding: Diannisa Latifahtul Auliya

E-mail: [email protected]

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Ketika peneliti sedang membaca novel Syahadat dari Negeri Sutra karya Fitri Nurhati ada adegan dimana setelah kehilangan suami dan mengalami depresi berat, Xiao Tian mulai menghargai hidupnya setelah dia gagal bunuh diri karena ditolong sepasang suami istri bernama Tsang Wu Han dan Su Li Huang. Su Li Huang yang sedang mengandung mengalami keguguran setelah menolong Xiao Tian yang akan bunuh diri. Setelah insiden tersebut Xiao Tian merasa menyesal karena telah merencanakan bunuh diri dan merasa bersalah karena menghilangkan janin bayi yang tidak berdosa harus pergi meniggalkan dunia yang belum sempat dilihatnya. Untuk menebus kesalahannya Xiao Tian memutuskan untuk memberikan pekerjaan kepada sepasang suami tersebut untuk menjadi pembatu di rumahnnya. Dari temuan itulah yang mendorong peneliti untuk melakukan riset dalam novel Syahadat dari Negeri Sutra terkait masalah nilai moral. Novel Syahadat dari Negeri Sutra sangat inspiratif dan banyak sekali pesan moral yang bisa di ambil oleh pembaca. Salah satu moral yang dapat dipetik adalah dalam menjalani kehidupan ini kita harus bersabar dan jangan pernah putus asa.

Setiap karya sastra dalam bentuk novel yang diciptakan oleh pengarang pasti mengandung nilai tertentu yang akan disampaikan kepada pembaca. Suatu karya bisa dikatakan baik jika mengandung nilai-nilai yang mendidik.� Adanya unsur moral dalam karya sastra bentuk novel selalu dikaitkan dengan fungsi sastra bagi pembentukan - pembentukan karakter. Moral yang disampaikan kepada pembaca melalui karya fiksi tentunya sangat berguna dan bermanfaat. Novel senantiasa menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia (Rohmah, Wardiani, & Astuti, 2021). Sejalan dengan itu sama dengan yang dikemukakan oleh peneliti bahwa moral merupakan sesuatu yang berkaitan atau ada hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salah dan baik buruknya tingkah laku (Hasanah, 2018).

Berikut adalah penelitian yang relevan dengan penelitian ini yang berjudul �Nilai Moral Dalam Novel 3600 Detik Karya Charon� yang dilakukan oleh Ritanto Ilahi pada tahun 2021 isinya membahas tentang ajaran moral hubungan manusia denga Tuhan, hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan sesama manusia (Ilahi,2021). Penelitian yang kedua yang berjudul "Nilai Moral dalam Novel Pulang karya Laila S. Chudori� yang dilakukan oleh Fajar Brilianta Nugraha pada tahun 2014 isinya membahas tentang ajaran moral manusia dengang Tuhannya, wujud nilai moral dalam hubungan manusia dengan diri sendiri, wujud nilai moral dalam hubungan manusia lain dalam lingkup lingkungan sosial (Nugraha,F.B.2014). Perbedaan antara penelitian yang telah dilakukan terdahulu dengan penelitian ini yaitu akan mengungkap nilai - nilai moral dalam novel Syahadat dari Negeri Sutra karya Fitri Nurhati dengan menggunakan pendekatan pragmatik sastra.

Berdasarkan pemaparan tersebut penulis melakukan penelitian ini berkenaan dengan nilai moral dalam novel Syahadat dari Negeri Sutra. Peneliti akan mengkaji secara mendalam tentang nilai yang diterapkan oleh pengarang ke dalam cerita tersebut yang berkaitan dengan nilai � nilai moral. Diharapkan dari hasil penelitian ini pembaca dapat menemukan dan mengambil nilai positif yang dapat ditiru, diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dan nilai moral yang negatif bisa dijadikan pembelajaran dalam kehidupan bermasyarakat. Sesuai dengan penjelasan permasalahan yang sudah ada, penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam Novel Syahadat dari Negeri Sutra karya Fitri Nurhati.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitattif dengan tehnik analisis baca dan catat. Data dalam penelitian ini berupa buku novel yang berjudul Syahadat dari Negeri Sutra. Cetakan pertama novel ini diterbitkan pada tahun 2012 oleh penerbit Diva Press dengan jumlah 291 halaman. Selain itu, data dalam penelitian ini berupa kata-kata, frase, kalimat dan wacana yang terdapat pada novel Syahadat dari Negeri Sutra karya Fitri Nurhati. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan membaca novel Syahadat dari Negeri Sutra, mengidentifikasi sumber data, mengklasifikasi bentuk - bentuk nilai moral, melakukan analisis data, mengelompokkan data, dan menarik kesimpulan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Nilai moral yang terdapat dalam novel Syahadat dari Negeri Sutra prinsip yang sesuai ada pada teori peneliti. Di antaranya moral sikap baik, prinsip keadilan, dan prinsip sikap hormat. Dalam setiap bentuk atau prinsipnya dibagi lagi menjadi beberapa bagian. Berikut bentuk nilai moral yang ditemukan.

 

Moral Sikap Baik

Secara keseluruhan prinsip sikap baik ini selalu berkaitan dengan etika atau tindakan yang dilakukan oleh manusia terhadap orang lain ataupun lingkungan sekitarnya. Prinsip sikap baik merupakan suatu kecenderungan yang memang sudah ada pada watak atau sifat setiap diri manusia (Mustaghfiroh, Nazar, & Safe�i, 2021). Lebih lanjut peneliti menjelaskan sikap baik berarti memandang segala sesuatu tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tetapi menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela dan segala bentuk sikap positif bagi orang lain juga (Aini, 2017).

�Berdasarkan temuan sikap baik dalam novel Syahadat dari Negeri Sutra karya Fitri Nurhati terdiri dari bagian, diantaranya: bertanggung jawab terdapat empat temuan, Jujur terdapat satu temuan, rendah hati terdapat duat temuan, autentik terdapat tiga temuan, realistis dan kritis terdapat empat temuan, pantang menyerah terdapat tiga temuan.

 

Bertanggung Jawab

Bertanggung jawab berarti siap menghadapi tugas yang sudah menjadi kewajiban. Hal ini terdapat dalam kutipan sebagai berikut:

(1)    �Istriku, rencananya aku akan menyusul kesana. Aku berutang sebuah janji padanya. Dulu aku pernah berjanji aku akan menemaninya mencari Han Xiang walau sampai ke ujung dunia. Aku ingin memenuhi janjiku kepadanya. Aku tak akan membiarkan adiku sendirian di pulau itu.�

Wanita itu tersenyum kecil. Kegelisahan hati yang terpancar di wajahnya sedikit berkurang. �Aku mengerti. Pergilah. Tolonglah dia, selama ini hidupnya begitu menderita. Aku mengerti suasana hatinya saat ini. Baginya, ini sangat tidak mudah masalah yang sedang dihadapinya. Setelah sepuluh tahun berpisah, entah bagaimana keadaan Han Xiang sekarang. Bagaimana saat mereka bertemu kembali, apa yang akan terjadi pada mereka?. Apakah mereka akan bersatu kembali seperti dulu? Kau harus membantunya suamiku. Aku akan selalu mendukungmu.� (hlm.111)

Pada kutipan pertama menunjukan sebagai kakak yang baik Xiao Fu bertanggung jawab terhadap adiknya Xiao Tian untuk selalu menjagannya dalam keadaan apapun. Selain itu, Xiao Fu dahulu sudah berjanji kepada Xiao Tian untuk menemaninya mecari Han Xiang yang hilang walau sampai keujung dunia.� Dan sebagai suami yang baik Xiao Fu meminta izin terlebih dahulu kepada istrinya Chen Li untuk ikut menyusul ke Batam menemani Xiao Tian dalam pencarian suaminya Han Xiang.

(2)    �Jika hari ini aku disuruh memilih, kau atau Xiao Tian, tentu aku akan memilihmu.�

�Bang....� Kalimat Zainab menggantung.

�Ya, Zulaikha. Karena saat ini kau sungguh tak bisa dibandingkan dengan Xiao Tian, atau perempuan manapun yang ada di pulau ini, karena kau adalah istriku, sedangkan Xiao Tian, dia adalah wanita yang berbeda keyakinan denganku. Kau tahu Zainab, harga sebuah keyakinan itu tak akan dapat ditukar dengan dunia dan seisinya.�

Muka Zainab bersemu merah. (hlm.183)

Pada kutipan kedua, Sebagai suami Zainab saat ini Yusuf jika diharuskan memilih diantara Zainab atau Xiao Tian maka Yusuf akan memilih Zainab karena dia adalah istrinya. Sedangkan Xiao Tian adalah wanita yang berbeda keyakinan dengan Yusuf.

(3)    Zainab dan Xiao Tian, kedua wanita itu kini berada di bawah tanggung jawabnya. Meski ia mengakui bahwa manusia hanya memiliki satu hati, namun sebagai seorang suami yang meyakini bahwa tujuan hidup yang telah ia tentukan adalah tugas yang harus ia tunaikan, maka ia harus berbagi perhtian dan tanggung jawabnya kepada kedua bidadarinya. (hlm.238)

Pada ktipan ketiaga, Yusuf megakui manusia diciptakan hanya memiliki satu hati namun sebagai seorang lelaki sekaligus sebagai suami ia menyakini tujuan hidup yang telah ia tentukan adalah tugas yang harus ia tunaikan, maka ia harus bisa berbagi perhatian dan bertanggung jawab kepada kedua istrinya yaitu Zainab dan Xiao Tian.

(4)    Sejak Yusuf bertemu kembali dengan Xiao Tian, di bahunya memang teremban beban yang lebih berat, apalagi setelah Xiao Tian kembali ke Suzhou dan mengembangkan kariernya di negeri sutra tersebut, praktis Yusuflah yang harus hilir mudik menyeberangi laut dan daratan yang terbentang amat luas itu. Namun sesungguhnya kedua cinta itu adalah sebuah amanah yang indah. Ia menikmati semua peroses itu dengan kelapangan hati, karena dalam peroses itu ia memperoleh banyak berkah. Bisnis sutra keluarga Xiao Tian yang dikembangkan tahun demi tahun menunjukkan peningkatan, bahkan kini Xiao Tian bukan hanya menjadi seorang desainer yang cukup ternama di kota itu, namun ia juga mengembangkan ilmunya di sebuah lebaga pendidikan yang cukup ternama di Shanghai. (hlm.283)

Pada kutipan keempat diatas menunjukkan Yusuf sosok suami yang bertanggung jawab. Walau di pundak Yusuf teremban beban dua amanah istri yaitu Zainab dan Xiao Tian tetapi dia menjalani beban itu dengan iklas dan lapang dada. Yusuf yakin segala peroses yang ia lalu pasti akan memperoleh berkah.

(5)    �Aku tak menyangka, Ai kini telah menjelma menjadi seorang gadis yang teramat manis.�

�Ya, tentu saja karena semua pasti akan berubah.�

�Tapi ada yang tidak berubah.�

�Apa itu?�

�Menepati janji. Aku sangat menyesal, dulu aku pernah berjanji akan mengajak Zainab jalan � jalan kalau ia ke sini, tapi sampai dengan akhir hidupnya ternyata aku belum bisa memenuhi janjiku.� Xiao Tian menghela napasnya sebelum melanjutkan kata � katanya. �Tapi begitu aku tahu Ai akan datang ke sini, aku seolah melihat jalan untuk memnyempurnakan janjiku. Aku ingin mengajak Ai jalan � jalan. Ia pasti tidak akan menolaknya �kan?� (hlm.284)

Pada kutipan kelima dia atas menunjukkan bahwa Xiao Tian sosok yang pantang melanggar janji kepada seseorang. Dahulu Xiao Tian pernah berjanji akan mengajak Zainab jalan � jalan di Shanghai. Namun sebelum janji itu belum terlaksana, Zainab sudah meninggal. Sehingga, untuk menepati janji itu Xiao Tian menggantinya dengan mengajak Ai anak kandung Zainab untuk jalan � jalan kota Shanghai.

 

Jujur

Sikap jujur berarti terbuka terhadap sesuatu, tidak ada yang ditutupi, bersikap sebagai diri sendiri apa adanya. Jika seseorang ingin menjdi sosok pribadi yang baik dan terpuji maka sosok pribadi tersebut harus berlandaskan pada kejujuran. Hal tersebut terdapat dalam kutipan sebagai berikut.

(1)    Yusuf menatapnya dengan lembut, menunggu tangis wanita itu mereda. Kemudian pria itu pun melanjutkan kalimatnya.

�Zulaikha, aku memang pernah menikah dengannya, namun saat ini kaulah istriku dan aku tidak ingin berpisah denganmu. Sungguh sejak aku memutuskan menikahimu, saat itu aku sudah menganggap Xiao Tian masa laluku dan kau masa depanku. Kau adalah Zulaikhaku.� (hlm.166)

Pada kutipan di atas, Yusuf berkata jujur kepada Zainab sesuai dengan keadaan yang ada. Bahwa, memang Yusuf pernah menikahi Xiao Tian sebelum Yusuf masuk agama Islam. Namun kini keadaanya berbeda, saat ini Yusuf memeluk agama Islam dan kini telah menikahi Zainab. Yusuf betekad melupakan Xiao Tian dan menganggap wanita itu adalah bagian dari masa lalunya dan kini masa depan Yusuf adalah Zainab.

Setiap perkataan jujur yang datang dari hati yang tulus akan memberikan dampak yang positif kepada siapapun yang menerimanya. Hal itu menunjukkan pada kutipan di atas masuk ke dalam sikap kejujuran.��

 

Rendah Hati

Rendah hati artinya tindak memandang rendah orang lain. Rendah hati sering disebut juga dengan tawaduk, yang artinya tidak angkuh atau sombong. Sikap ini merupakan kekuatan batin untuk melihat diri sesuai dengan kenyataan. Dengan sikap rendah hati kita benar benar bersedia untuk memperhatikan dan menanggapi setiap pendapat lawan, bahkan untuk seperlunya kita dapat mengubah pendapat kita sendiri. Hal ini terdapat dalam kutipan sebagai berikut.

(1)    �Nona! Benarkah ini untuk saya? Nona memberi saya hadiah kain sutra? Apakah saya sedang bermimpi? Seumur hidup saya belum pernah membayangkan akan menerima hadiah sebagus dan semahal ini, bahkan tidak pernah sekalipun terpikir oleh saya untuk memiliki pakaian dari bahan semahal ini. Nona Besar, terimakasih! Terima kasih banyak! Alhamdulillah!�

Li Huang melompat lompat kegirangan, persis seperti anak kecil, membuat Xiao Tian tak dapat menahan senyum. (hlm.59)

Pada kutipan pertama di atas menunjukkan Xiao Tian sosok yang rendah hati. Walau, Xiao Tian sebagai majikan tetapi ia tidak memandang rendah pembantunya. Dia justru perhatian kepada pembatunya. Sisi perhatianya itu dapat ditunjukan dengan pemberian hadiah kain sutra yang mahal kepada pembantunya tersebut.

(2)    Itu adalah hari pertama mereka mengenakan cheongsam untuk acara ulang tahun, bukan acara peringatan kematian seperti yang telah mereka lakukan saat ini. Xiao Tian juga telah memesan kue ulang tahun yang cantik hari itu. Akhirnya pesta ulang tahun yang sederhana pun berlangsung dengan meriah walau hanya dihadiri tiga orang saja.

�A Ling, kau tidak boleh menyia � nyiakan kesempatan langka ini. Mungkin ini dalah pesta ulang tahun pertama dan terakhirmu. Kau harus berterima kasih pada ayah dan ibumu yang masih menetap di Shanghai sampai hari ini.� Xiao Tian tersenyum menatap wajah ceria A Ling.

�Terima kasih, Bibi. Aku sangat suka dengan hadiah yang bibi berikan.�

�Ehh, ingat anak manis. Kau tidak boleh memberitahukan peristiwa hari ini kepada ayah dan ibumu. Ini rahasia kita bertiga. Kalau mereka sampai tahu kita bisa celaka!� (hlm.62-63)

Pada kutipan kedua di atas menunjukkan Xiao Tian sisi perhatiannya kepada keponakanya A Ling dengan mengadakan perayaan pesta ulang tahun untuk A Ling. Perayaan ulang tahun A Ling ini dilakukan oleh Xiao Tian karena ia tidak tega melihat wajah A Ling yang bersedih di setiap perayaan ulang tahunya selalu bertepatan dengan tragedi kelam yang menimpa keluarga Fang. Hari di mana di setiap tahunnya akan selalu diperingati hari duka cita keluarganya.

 

Autentik

Sikap autentik adalah sikap yang ada pada diri manusia yang menunjukkan diri sesuai dengan kenyataan, dapat dipercaya, mengakui atau menyakini suatu hal yang memang benar atau nyata. Hal ini terdapat di dalam kutipan sebagai berikut.

(1)    �Persaingan semakin ketat. Kita harus bisa bersaing dengan mereka. Xiao Tian, aku yakin karyamu akan bisamenolong kami nanti.� Ujar kakak Xiao Tian yang terpaut usia sepuluh tahun itu terlihat antusias.

�Hao, aku akan selalu berkerja keras untuk keberhasilan kita. Dalam hal ini, kalian tidak perlu meragukanku. Untuk musim panas tahun ini aku memilih desain yang cerah namun terkesan lembut dan nyaman. Kain sutra memiliki kelebihan dibandingkan dengan kain yang lain, ia akan terasa hangat bila dikenakan pada cuaca dingin dan akan terasa dingin apabila dikenakan pada cuaca yang panas� (hlm.31-32)

Pada kutipan pertama Tokoh Xiao Tian sangat berperan penting dalam kerjasama perkerjaan terkait desain kain sutra. Dan sebagai kakak tertua Xiao Tian, Xiao Fu sangat yakin dengan kemampuan desain kain sutra adiknya akan mampu menyaingi pesaing desain kain sutra lainnya.

(2)    Xiao Tian menghembuskan napasnya kuat-kuat, seolah � olah mengeluarkan semua beban yang ada pada hatinya. Sampai detik itu, ia masih bisa merasakan dengan jelas perasaanya kala itu. Sedih, kehilangan, putus asa dan sangat menderita. Hari itu, ia bisa menangkap sikap lembut Han Xiang kepadanya. Biacaranya yang santun dan tertata masih dimilikinya, dan tatapanya yang jujur masih ada pada dirinya. Ia semakin yakin, Han Xiang yang dilihatnya saat ini masih sama dengan Han Xiang yang dikenalnya dulu pada saat mereka belia. (hlm.186)

�Pada kutipan ketiga Xiao Tian sangat yakin sosok laki � laki yang ada di hadapannya saat itu adalah Han Xiang yang ia kenal semasa mereka masih muda dulu. Dan Xiao Tian masih teringat bagaimana rasa sedih, kehilangan, putus asa dan menderitanya kala itu saat ia kehilangan sosok suaminya Han Xiang pada saat tragedi meledaknya kapal pada malam perayaan pesta pernikahan mereka.

(3)    Xiao Tian kembali terduduk, kali ini ia bisa mengenali bahwa sosok yang ada di hadapannya memang benar � benar Han Xiang. Kata-katanya yang lembut dan penuh perasaan itu tidak lain adalah pemilik pemuda Hangzou yang telah belasan tahun menjerat hatinya. Namun kini di balik kata-kata yang lembut itu tersimpan pisau yang teramat tajam dan telah menyayat-nyayat hatinya.

�Kau telah berubah.... kau bukan Han Xiang yang pernah ku kenal dulu...!�

�Ya. Aku memang telah berubah, Xiao Tian. Aku bukan Han Xiang yang dulu lagi. Han Xiang adalah masa laluku, sekarang aku adalah Yusuf.� (hlm.189)

Pada kutipan ketiga tersebut menunjukkan sosok yang berada di hadapan depan Xiao Tian memanglah Han Xiang yang ia kenal dulu. Namun sosok Han Xiang yang ada di hadapan depannya kini telah berubah karena di balik perkataan Han Xiang yang lembut terdapat kata � kata yang menyayat hati yang membuat Xiao Tian kecewa.

 

Realistis dan kritis

Sikap realistis adalah cara berpikir yang penuh dengan perhitungan yang logis sesuai dengan keadaan dan lebih fleksibel. Pada kenyataanya sikap realistis harus bersamaan dengan kritis. Karena kritis berarti bersifat tidak lekas percaya atau dapat juga selalu berusaha menemukan jika adanya kekeliruan. Hal ini terdapat pada kutipan sebagai berikut.

(1)    Xia Fu dan Chen Li menyadari adanya perubahan yang ada pada diri Xiao Tian hanya bisa saling berpandangan. Ada rasa sesal yang mendadak yang menyelinap di relung hati mereka, namun kenyataan pahit yang terlanjur melekat itu juga tak mungkin bisa mereka singkirkan. Seperti bergantinya musim, waktu akan terus berputar dan pasti suatu saat mereka akan bertemu kembali dengan musim itu. (hlm.34)

Pada ktipan pertama menunjukkan Chen Li dan Xiao Fu menyadari perubahan mimik sedih Xiao Tian. Namun perasaan sedih yang sudah melekat karena kejadian kelam yang menimpa keluarga mereka tidak mungkin bisa mereka singkirkan. Mereka harus realistis karena pada realitanya waktu terus berjalan dan pastinya suatu saat akan bertemu kembali kepada hari yang mengingatkan mereka pada kejadian kelam itu.

(2)    �Xiao Tian, hari ini kau adalah anugrah yang di berikan Allah untukku. Aku harus mensyukurinya. Di usiaku yang setua ini ternyata aku masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi denganmu, yang sudah kuanggap tiada. Sungguh Allah Maha Adil. Jika nanti kau akan ke Suzhou, itu adalah yang terbaik untukmu. Aku sudah terlalu tua untuk berpergian jauh. Lagi pula aku tidak sendirian di sini.�

�Maafkan aku ibu, aku tidak akan meninggalkan ibu.�

�Xiao Tian, meski kau tidak akan meninggalkanku, suatu saat aku yang akan meninggalkanmu. Manusia yang hidup itu tidak akan kekal.�

�Ibu, jangan katakan itu lagi....�

�Xiao Tian, manusia pasti akan pergi, jika waktunya telah tiba. Namun Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-nya.

�Ibu....�

�Itulah Xiao Tian yang membuat hatiku damai. Karena Dia akan selalu menemaniku, di mana pun dan kapanpun. Jadi, tidak ada yang perlu diresahkan lagi.� (hlm.210-211)

Pada kutipan kedua di atas menunjukkan ibu kandung Xiao Tian yaitu Yi San San merasa bersyukur karena bisa bertemu kembali dengan anak perempuannya di usianya yang sudah renta. Yi San San bersikap realistis tidak akan mengekang Xiao Tian untuk kembali ke Suzhou. Walau Xiao Tian berjanji tidak akan meninggalkan ibunya Yi San San. Namun Yi San San berpikir kritis walau Xiao Tian berjanji tidak akan meninggalkan dirinya, Yi San San menyangkal bahwa manusia yang hidup tidak akan kekal pasti akan mengalami kematian.

(3)    Lelaki itu sadar bahwa apa yang telah di lakukannya saat ini belum bisa diterima banyak orang. Namun lelaki itu memiliki sebuah keyakinan yang belum tentu dimiliki orang-orang di sekitarnya. Keyakinan itu bukanlah fakta. Meski masih banyak orang yang tidak suka, namun apa yang di lakukannya sama sekali tidak melanggar hukum agama yang diyakini-nya. Apa yang dilakukannya juga bukan suatu yang mengantarkannya ke lembah dosa. Apa yang dilakukannya memang bukan berarti tanpa masalah sama sekali, namun ia yakin apa yang dilakukannya adalah salah satu usaha untuk memecahkan masalah yang ada pada dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

(hal.263)

Pada kutipan ketiga di atas, Yusuf menyadari apa dilakukannya saat ini memang belum bisa diterima banyak orang dan banyak orang yang tidak suka. Realitanya memang mengharuskan Yusuf melakukan itu. Itu satu-satu jalan unutuk menyelesaikan masalah yang ada pada dirinya dan orang � orang sekitarnya. Karena Yusuf yakin berpoligami tidak dilarang oleh agamanya dan tidak membuat yusuf melanggar dosa.

(4)    �A Ling mengikuti kelasku di Suzhou.�

�Subhanallah, Karena itukah kau mengkhawatirkan kakakku?�

�Bukan begitu. Aku cuma menduga saja. Aku belum tahu bagaimana reaksi Kak Xiao Fu kalau tahu A ling mengikuti kelasku di Muslim Center.�

�Tidak perlu khawatir. Aku yakin kakak tidak seperti itu. Dulu saja Kakak tidak bisa menghalangi keinginanku, kali ini aku yakin kalau kemauan A Ling akan jauh lebih besar dari kemauanku belasan tahun silam.� (hlm.285)

Pada kutipan di atas pada awalnya Yusuf khawatir bagaimana nanti reaksi kakak Xiao Fu terhadap anaknya A Ling yang mengikuti kelas Yusuf di Muslim Center di Suzhou. Namun Xiao Tian sebagai istri menimpali dengan berpikir keritis kakaknya Xiao Fu pasti tidak akan marah dan menentang kemauan A Ling ikut kelas Yusuf. Karena Xiao Tian yakin kemauan A ling pastinya akan lebih besar daripada Xiao Tian pada saat dahulu ketika dia izin akan masuk agama Islam kepada kakaknya.

 

Pantang Menyerah

Salah satu nilai yang paling menonjol dalam novel ini adalah sikap yang pantang menyerah terhadap mimpi dan ambisi. Pantang menyerah yang dimaksudkan dalam hal ini adalah tidak mudah menyerah dengan segala cobaan dan hambatan untuk mencapai suatu keinginan. Berikut ini kutipan yang menunjukan sikap pantang menyerah.

(1)    �Menurutku, iklim di Batam cukup mendukung dalam budidaya ulat sutra. Tanaman morus dapat tumbuh dan hijau sepanjang tahun. Perkembangan ulat sutra dapat berlangsung setiap saat, berbeda dengan di utara.�

�Apa yang di katakan Nona sepertinya mudah. Padahal yang saya alami hampir membuat saya putus asa untuk melanjutkan usaha ini.�

�Saya mengerti. Pada awalnya mungkin memang terasa sulit. Tapi, saat kita melakukan sesuatu, disitulah kita bisa mengevaluasi. Mana mungkin kita kita bisa melakukan sesuatu bila kita tak pernah mencobanya?. Kita pasti tak pernah menyangka akan bisa melakukan sesuatu yang pada awalnya kita ragu apakah kita nanti kita bisa melakukannya. Bagiku, semua itu seeperti sebuah keajaiban. Seperti saya ketika melihat ulat-ulat itu menjadi kepompong. Sebuah peristiwa kecil yang luar biasa.�

Wang Jian Li tertenggun mencerna kata � kata yang keluar dari mulut wanita cantik itu. (hlm.83)

Pada kutipan pertama tersebut menunjukkan Xiao Tian sosok yang ramah dan tidak pelit berbagi ilmu. Ia juga tidak segan menasehati Wang Jian Li agar tetap semangat dan jangan pantang menyerah dalam menjalankan usaha kain Sutra miliknya di Batam.

(2)    Wang Jian Li memandang lekat wajah Xiao Tian. Wajah itu terlihat agak pucat. Ia tahu wajah itu kurang tidur. Beberapa hari ini ia subuk belajar yang berkaitan dengan Islam. Mulai dari tata cara ibadah sholat, Al-Qur�an, hadits, fiqh, tarikh dan masih banyak lagi. Sejauh ini, istri Wang Jian Li yang mengajarinya. Keinginan Xiao Tian begitu kuat sehingga ia sendiri sampai lupa memikirkan kondisi tubuhnya. Wang Jian Li ingin adiknya itu libur dulu belajarnya. Ia ingin Xiao Tian tidur lebih awal dan cukup beristirahat. (hlm.225)

Pada kutipan ke dua diatas menunjukkan kemauan tekad belajar Xiao Tian mengenai Islam cukup besar. Sebagai kakak Wang Jian Li tak tega dan prihatin melihat adiknya belajar terlalu keras sehingga melupakan kondisi tubuhnya. Memang belajar dengan sungguh-sungguh memang perlu tetapi, jangan sampai melupakan kondisi tubuh. Karena manusia juga butuh jeda untuk istirahat.

(3)    Penyesalan selalu datang terlambat. Saat ia menemukan kembali ingatan yang ingin di lupakannya, justru saat itu ia harus menghadapi sebuah kenyataan bahwa ia akan segera menikah dengan seorang gadis yang telah dipilihkan untuknya.� Hati pria itu bergejolak, dan dilema itu kian pelik. Yusuf memutuskan mencari kembali Xiao Tian ke Shanghai. Berbulan-bulan ia mencari Xiao Tian ke seluruh penjuru kota Shanghai. Setiap jalan dan sudut-sudut kota tak luput dari pencariannya. Namun, keberadaan wanita cantik yang kerap dipanggilnya �bunga teratai� itu bagai raib di telan waktu yang baru dua tahun hilang dari memorinya. Jejak Xiao Tian dan keluarganya seolah hilang tak berbekas. (hlm.240)

�Pada kutipan ketiga tersebut menunjukkan Yusuf sempat merasa menyesal dan dilema ingatan lamanya kembali di saat ia harus menghadapi kenyataan ia akan segera menikahi wanita yang telah dipilihkan untuknya. Yusuf tak pantang menyerah berusaha mencari Xiao Tian di sepanjang jalan dan sudut sudut kota Shanghai selama berbulan-bulan. Namun sosok yang sempat hilang dalam ingatan Yusuf selama dua tahun itu seolah hilang tanpa jejak.

 

 

Keberanian

Sikap keberanian moral merupakan bentuk kesetiaan terhadap suara hati yang menyatakan diri dalam kesediaan untuk mengambil segala resiko yang akan diterima. Orang yang memiliki sikap itu tidak akan mundur dari permasalahan yang sedang dihadapi, sehingga orang tersebut menjadi bernilai dan disegani. Berikut kutipan yang termasuk ke dalam sikap keberanian.

(1)    �Xiao Tian! Dia sudah menghianatimu, mengapa kau masih ingin bertemu dengannya?�

�Ada urusan yang harus ku selesaikan dengannya. Kakak, tolong jangan halangi aku. Setelah urusanku selesai kita akan kembali ke Suzhou. Aku tak ingin meninggalkan pulau ini dengan membawa beban.�

�Apa yang bisa kau harapkan dari orang seperti dia?�

�Sebuah janji.�

�Sebuah janji? Janji apa? Kau pikir dia akan mempedulikanmu?�

�Kak, aku yakin Han Xiang bukan orang yang seperti kakak kira. Kakak sangat mengenalnya �kan? Bukankah kakak sudah menganggapnya seperti adik sendiri? Apakah Kakak akan menganggapnya sebagai orang yang buruk hanya karena peristiwa ini?� (hlm.171-172)

Pada kutipan pertama di atas menunjukan Xiao Tian memiliki sikap pemberani. Dia tidak akan mundur sebelum pemasalahan yang tengah dia hadapinya di pulai Batam selesai. Maka dari itu Xiao Tian ingin kembali menemui Han Xiang, untuk menagih sebuah janji.

(2)    Ia akan mengucapkan janji setia, sebuah janji setia yang akan mengikat dirinya pada sebuah� �tanggung jawab yang baru. Dengan janjinya itu, ia akan memulai babak kehidupan yang baru, kehidupan yang akan membrikan ketenangan pada jiwanya yang gersang. Mungkin ia, nanti akan kehilangan keluarga yang dimilikinya. Namun meski nanti menjadi orang yang berbeda, ia masih berharap bisa bekerja sama dalam hal lain. Lama sekali wanita itu diam-diam menatap kakak lelakinya itu, kakak yang paling menyayangi dirinya. (hlm.222)

Pada kutipan ke dua di atas menunjukkan Xiao Tian berani mengambil keputusan besar untuk memeluk agama Islam. Agama yang akan membawa babak kehidupan baru Xiao Tian yang lebih damai dan tenang. Ia tak mempermasalahkan jika ia akan kehilangan kakak yang paling menyayanginya yaitu Xiao Fu dan keluarganya yang lain. Meski kenyakinan agamanya yang dia anut akan berbeda dengan kakak dan kelurganya yang lain, Xiao Tian berharap masih bisa berkerja sama dalam hal lain.

 

Moral Keadilan

Sikap keadilan bukan hanya mampu untuk bersikap baik terhadap orang lain, tetapi juga pada diri sendiri. Manusia yang memiliki moral baik juga perlu memiliki sikap adil. Menurut Suseno (2019) moral sikap keadilan di sini mengarah kepada seseorang agar mampu bertindak sesuai dengan perilaku yang baik. Moral sikap keadilan pada kenyataannya adalah mengungkapkan kewajiban untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap orang lain yang berada dalam situasi yang sama dan menghormati pihak yang ada dalam situasi tersebut. Keadilan di sini terdiri atas tiga bagian. Keadilan di sini terdiri atas tiga bagian yaitu adil dalam bersikap diperoleh dua temuan, adil dalam mengambil keputusan diperoleh dua temuan, dan adil dalam membantu orang lain diperloleh dua temuan.

 

1)      Adil dalam bersikap

����� Sikap sesorang bisa ditentukan dengan tingkah laku bagaimana seseorang itu dapat adil atau tidak dengan orang lain. Disini adil dalam bersikap berarti mampu meberikan atau menunjukan sesuai dengan situasi apapun. Berikut adalah kutipan yang termasuk adil dalam bersikap.

(1)    �Zulaikha. Aku tidak ingin bertindak bodoh. Semua sudah kukatakan kepada Xiao Tian. Lebih baik kukatakan jujur walaupun akan menyakitinya. Bukankah dulu kau pernah bercerita padaku, apa kau masih ingat?. Ketika kedua putri Rasulullah memutuskan memeluk agama Islam maka putuslah tali pernikahan mereka dengan suami mereka yang musyrik. Bahkan ketika mereka memutuskan berhijrah ke Madinah, Rasulullah pun tak bersedia mnyerahkan kembali kedua putrinya kepada suami mereka, kecuali bila mereka bersedia masuk ke Islam� (hlm.185)

�� Pada kutipan satu di atas menggambarkan Yusuf merupakan seorang yang adil dalam bersikap. Ia mampu dan berani bersikap di situasi apapun. Sikap adil Yusuf ini sesuai dengan ajaran Rasulullah.

(2)    Yusuf menghela nafas panjang, seolah berusaha melepas letih yang menggerogoti tubuhnya. Letih yang menderanya selama belasan tahun. Bagaimana tidak, sepanjang kurun waktu tersebut ia harus membagi dirinya menjadi dua, membagi dua hatinya di negeri yang berbeda, untuk dua cinta yang senantiasa menunggu kedatangannya. Kadang kala ia membagi tahun menjadi dua, membagi musim menjadu dua, kadang pula ia bagi bulan menjadi dua. (hlm.282-283)

Pada kutipan kedua tersebut menunjukkan Yusuf berusaha semaksimal mungkin membagi perhtian dan cita kepada kedua istrinya Zainab dan Xiao Tian. Hal ini ia lakukan semata-mata karena bentuk tanggung jawabnya sebagai suami yang harus bisa bersikap adil kepada kedua istrinya.

 

2)      Adil Dalam Mengambil Keputusan

��� Mengambil sebuah keputusan juga merupakan bagian dalam bentuk keadilan (Pakendek, 2019). Manusia pasti pernah mengalami keadaan saat ia harus menentukan suatu hal. Menentukan sebuah keputusan yang akan diambil tersebut pasti dibuat dengan melalui berbagai pertimbangan. Hal tersebut dilakukan agar keputusan tersebut tidak merugakan diri sendiri maupun orang lain. Berikut kutipan sikap adil dalam mengambil keputusan.

(1)    �Jadi...., kau lebih memilih Zainab daripada aku?� ujar Xiao Tian dengan sepasang mata sembab, ia memberanikan diri untuk menatap wajah yang ada di hadapannya.

�Xiao Tian, maaf ini bukan masalah pilihan, Tetapi Zainab adalah istriku. Aku sama sekali tak punya alasan untuk melepaskannya. Dia wanita yang baik.�

�Lalu kau anggap aku ini apa?�

�Kau adalah kau, Xiao Tian.�

�Han Xiang mana boleh kau lakukan ini padaku...!�

�Maafkan aku Xiao Tian. Hanya itu yang bisa ku lakukan untuk kebaikan kita bersama. Aku sudah berusaha dan mempertimbangkan keputusan ini masak-masak. Xiao Tian, kau boleh mempertimbangkanya lagi. Walau bagaimanapun, sebuah keyakinan tidak layak untuk dipaksakan. Aku yakin, jika kau menghendaki sesuatu yang benar, Allah pasti akan memberikan pentunjuk kepadamu.�(hlm.188-189)

� Pada kutipan ketiga tersebut menunjukkan Yusuf mengambil keputusan terbaik tetap mempertahan istrinya Zainab.� Walau dulu Xiao Tian juga istrinya Yusuf, namun keadaanya sekarang berbeda kini Yusuf dan Xiao Tian berbeda keyakinan. Keputusan Yusuf ini memang terkesan menyakitkan bagi Xiao Tian. Keputusan ini semata � mata diambil demi kebaikan mereka bertiga.

(2)    �Xiao Tian, menurut pertimbangan kami, belum ada orang yang lebih baik bagimu selain Yusuf. Dia telah mengenalmu sejak lama, demikian juga kau. Saat ini kalian sudah seiman, tak ada lagi yang menghalagi kalian. Zainab juga tidak keberatan dengan rencana ini, dan kami semua mendukungmu. Kelak kau akan menjadi istri kedua bagi Yusuf. Kami yakin Yusuf akan bisa belaku adil kepada kalian. Kami mengenal kepribadiannya. Jika Yusuf sampai menyakitimu, aku tidak akan tinggal diam� Xiao Tian terdiam masih terpaku. Masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja di dengarnya.

�Xiao Tian, menjadi istri kedua bukan berarti sesuatu yang hina, justru engkau dimuliakan karena menjadi istri seorang yang baik. Ini jauh lebih baik daripada engkau sendirian meski engkau kaya raya. Bukan hanya engkau yang mengalami pernikahan seperti ini, orang-orang terdahulu yang lebih teguh keimanannya juga mengalami hal serupa denganmu. Jika engkau bisa menjadi istri yang shalihah bagi suamimu, itu adalah pahala yang besar untukmu. Lalu apakah kau masih meragukan semua ini?. Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu. Kau boleh menolak atau menerima. Tapi, tolong dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya.� (hlm.233-234)

Pada kutipan kedua tersebut Wang Jian Li menasehati Xiao Tian dengan bijak mengenai lamaran Yusuf kepada Xiao Tian untuk menjadi istri kedua. Karena sekarang Xiao Tian dan Yusuf sudah seiman, maka kini mereka bisa menikah Kembali, dan Zainab sebagai istri pertama tidak merasa keberatan dengan keputusan Yusuf untuk melamar Xiao Tian untuk dijadikan istri kedua. Wang Jian Li merasa yakin Yusuf bisa bersikap adil kepada adiknya Xiao Tian dan Zainab. Karena Wanng Jian Li kenal betul kepribadian Yusuf yang baik.

 

3)      Adil Dalam Membantu Orang Lain

��� Sikap membantu orang lain mengacu pada kepekaan terhadap kondisi seseorang. Dalam hal ini terdapat pada kutipan sebagai berikut.

(1)    Ada rasa sesal yang tiba-tiba singgah di hatinya. Kerja keras sepasang suami istri itu untuk menyelamatkan nyawanya yang hanyut di sungai rupanya harus di bayar sangat mahal. Kini mereka harus rela kehilangan anak pertama mereka. Pendarahan hebat yang dialami wanita itu, guratan rasa sakit dan kesedihan yang tergambar di wajah wanita itu membuat jantung Xiao Tian tersayat-sayat. Seperti bangun dari tidur panjangnya, Xiao Tian baru menyadari betapa berharganya sebuah nyawa. Kedua tanganya bergemetar saat ia sadar bahwa dirinya telah membuat nyawa tak berdosa harus pergi meniggalkan dunia yang belum sempat dilihatnya dan menyisahkan kesedihan di hati kedua orang tuanya. (hlm.22)

Pada kutipan pertama tersebut Xiao Tian yang sedang depresi tadinya akan melakukan bunuh diri dengan cara menghanyutkan diri ke sungai. Namun rencana itu gagal karena ternyata ada sepasang suami istri menolong dirinya. Kerja keras sepasang suami istri itu untuk menolong Xiao Tian yang akan melakukan bunuh diri harus dibayar dengan kehilangan calon anak petama mereka yang ada dalam kandungan. Xiao Tian seketika merasa menyesal dan baru menyadari betapa berharganya sebuah nyawa.

(2)    Untuk menebus kesalahannya, kemudian Xiao Tian menawarkan pekerjaan kepada sepasang suami istri tersebut di rumahnya. �Setelah kesehatan istrimu pulih, kalian boleh berkerja di rumahku. Aku akam menggaji kalian dengan layak.� Xiao Tian berhenti sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. �Sekarang kita harus ke dokter.� Senyum di wajah lelaki itu seketika mengembang. �Terima kasih banyak, Nona. Alhamdulillah� (hlm.23-24)

Pada kutipan kedua tersebut menunjukkan bahwa Xiao Tian menyesal karena sudah melakukan rencana bunuh diri. Untuk menebus kesalahannya sebagai gantinya Xiao Tian menawarkan pekerjaan di rumahnya untuk sepasang suami istri tersebut. Sikap Xiao Tian yang memberikan pekerjaan kepada sepasang suami istri tersebut termasuk dalam kategori moral sikap adil dalam membantu orang lain.

 

Moral Sikap Hormat

Moral sikap hormat dapat diartikan dengan menghargai seorang, baik yang lebih muda, tua maupun seumuran (Manderes, 2022). Manusia harus bisa memperlakukan dirinya sendiri sebagai sebagai seseorang yang mempunyai nilai yang baik (Jannah & Umam, 2021). Karena manusia wajib memperlakukan dirinya dengan baik dan mepunyai sikap hormat terhadap dirinya sendiri. Moral hormat di sini terdiri atas dua bagian. Yaitu hormat pada orang lain dan hormat terhadap diri sendiri. Dalam penelitian ini moral sikap hormat terhadap orang lain terdapat tiga temuan dan moral sikap hormat terhadap diri sendiri terdapat tiga temuan. Demikian dapat dapat ditarik kesimpulan moral sikap hormat adalah sikap menghargai segala sesuatu yang baik pada diri sendiri maupun orang lain.

 

Hormat Terhadap Orang Lain

Manusia sebagai mahluk sosial sudah selayaknya kita bisa menghargai dan menghormati antar sesama. Baik antar kelompok ataupun intra kelompok. Berkaitan dengan ini, manusia perlu menjaga hubungan baik dengan orang lain agar terjalinnya kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan damai. Hal ini terdapat di dalam kutipan novel sebagai berikut.

(1)    Xiao Tian membungkukkan badanya terhadap ketiga orang itu �Terimakasih atas perhatian kalian, tapi saya sekarang benar-benar sudah sembuh. Maaf, saya sudah merepotkan kalian, Li Huang, Wu Han, Tuan Tsang.�(hlm.108)

Pada kutipan pertama diatas Xiao Tian mengucapkan terimakasih dengan membungkukan badan pada keluarga Li Huang. Karena mereka semua mau merawatnya Xiao Tian disaat sakit hingga sembuh. Sikap Xiao Tian yang membungkukan badan terebut termasuk dalam kategori moral hormat terhadap orang lain

(2)    �Senang sekali bisa mengobrol dengan nenek Yi, lain kali aku pasti akan kesini lagi untuk mendengarkan cerita-cerita nenek. Sudah malam, apakah nenek mau tidur?� Wanita itu mengangguk hendak beranjak dari duduknya, namun tiba-tiba ia terpeleset. Dengan sigap Xiao Tian menangkap tubuh renta itu. (hlm.126-127)

(3)    Lelaki itu tersadar dari lamunanya ketika sebuah salam menyapanya. Ia segera memalingkan wajahnya mencari arah suara lembut itu. Seraut wajah bidadari dengan segurat senyum mengembang tiba-tiba telah hadir di hadapannya. �Wa�alaikumsalam,� jawab lelaki itu. (hlm.281-282)

 

Hormat Terhadap Diri Sendiri

� Hormat terhadap diri sendiri jarang sekali dibicarakan. Padahal prinsip ini tak kalah pentingnya dan sama dengan prinsip hormat terhadap orang lain. Manusia juga mempunyai kewajiban bagi dirinya sendiri (Khurotul�aen, Hidayat, & Mujtaba, 2022). Hormat terhadap diri sendiri itu berarti bahwa setiap manusia wajib untuk selalu bisa memperlakukan diri sebagai sesuatu yang bernilai bagi dirinya sendiri (Djei, Malabar, & Masie, 2021). Manusia merupakan makhluk yang memiliki akal budi (Stevanus, 2021). Maka dari itu manusia harus mempunya tujuan yang bernilai untuk dirinya sendiri. Berikut ini kutipan prinsip hormat terhadap diri sendiri.

1)      �Apa yang mebuat ibu bahagia di sini?�

�Semua�

�Semuanya?�

�Ya, semuanya�

�Ya, semuanya. Bahkan dengan melihat ulat-ulat yang memakan lahap daun murbei saja aku sudah bahagia�

�Mengapa ibu?�

�Karena ada kedamaian di hati ini, sehingga apa pun yang ada di hadapanku itu sudah membahagiakanku� (hlm.210)

2)      Ia sadar, malam itu tak ada Yusuf di sisinya. Ia sendirian. Tak terasa air bening mengalir dari sepasang matanya. Zainab segera bangkit dan berdiri. Dengan langkah pasti, ia melangkahkan kakinya untuk mengambil air wudhu. Sebentar kemudian, Zainab kembali larut dalam khusyuknya. (hlm.243)

3)      Ya Allah....

Seandainya bisa, ingin rasanya membagi hatinya sama rata. Ingin rasanya ia berbuat seadil-adilnya pada dua hatinya yang kini tertambat di dadanya, Namun apakah sebenarnya adil itu? Membagi sama rata, sama besar? Kalau hanya membagi dunia maka ia yakin pasti bisa melakukannya, namun kalau harus membagi dua hati..., sungguh ia tak berdaya, karena sesungguhnya hati manusia itu ada dalam genggaman-Nya. (262)

Hormat terhadap diri sendiri bisa dibuktikan dengan melakukan tindakan-tindakan baik, seperti berdoa, melakukan ibadah, mengucapkan salam, bersyukur (Latief, Nurlina, Medagri, & Suharyanto, 2019). Hal ini dilakukan agar kebaikan pada dirinya senantiasa selalu ada. Hormat terhadap diri sendiri juga dengan tidak terus-terusan dalam keadaan bingung atau gelisah, tetapi harus sadar juga akan kewajibannya agar bisa menjadi seseorang yang bernilai.

 

KESIMPULAN

Hasil analisis pada penelitian ini, yakni terdapat tiga poin penting yang menjadi landasan dari nilai moral pada novel Syahadat dari Negeri Sutra. Bentuk dari nilai moral yang ditemukan berhubungan dengan diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Ketiga poin tersebut ialah moral sikap baik, moral keadilan, dan moral sikap hormat. Bentuk nilai moral yang berupa prinsip sikap baik meliputi, pengetahuan mengenai bentuk tanggung jawab, belajar jujur dalam hal apapun, pengetahuan tentang rendah hati, mampu bersikap realistis dan kritis, pengetahuan mengenai bagaimana seseorang menunjukkan diri sesuai dengan kenyataan atau bersikap autentik, tidak mudah menyerah dalam menjalani segala rintangan kehidupan, serta berani dalam menghadapi tantangan dan resiko. Bentuk nilai moral yang berupa prinsip keadilan meliputi, pengetahuan tentang bagaimana seseorang mampu bersikap adil bahkan tidak lupa juga untuk adil terhadap diri sendiri, mampu mengambil keputusan dengan bijak dan adil tanpa menyulitkan orang lain, serta pengetahuan tentang adil dalam membantu orang lain tanpa memandang kasta. Bentuk nilai moral yang berupa prinsip hormat meliputi, pengetahuan mengenai bagaimana seseorang harus bersikap santun atau hormat terhadap orang lain, baik yang lebih tua, lebih muda, maupun sebaya. Melalui bentuk-bentuk nilai moral dalam novel Syahadat dari Negeri Sutra, diharapkan dapat memahami bentuk perjuangan, sikap peduli, kasih sayang, hormat, dan rasa cinta, baik terhadap Tuhan, orang lain, maupun diri sendiri. Di samping itu, novel Syahadat dari Negeri Sutra juga terdapat nilai kehidupan yang pantas untuk dijadikan contoh atau inspirasi bagi kita semua yang mengerti akan pentingnya berjuang serta tidak pantang menyerah dalam menghadapi cobaan.����

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aini, Nurul. (2017). Novel Maysuri Karya Nadjib Kartapati Z.(Kajian Moralitas Franz Magnis Suseno). State University of Surabaya.

 

Djei, Lady Yunita, Malabar, Sayama, & Masie, Sitti Rachmi. (2021). Moralitas Tokoh Utama dalam Novel Calabai: Perempuan dalam Tubuh Lelaki Karya Pepi Al-Bayqunie. Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Budaya, 11(1), 88�100.

 

Hasanah, Uswatun. (2018). Metode pengembangan moral dan disiplin bagi anak usia dini. Martabat, 2(1), 91�116.

 

Ilahi, Ritanto. (2021). Nilai Moral dalam Novel 3600 Detik Karya Charon: Kajian Pragmatik Sastra. UIN FAS Bengkulu.

 

Jannah, Nur, & Umam, Khairul. (2021). Peran Orang Tua dalam Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga di Masa Pandemi Covid-19. FALASIFA: Jurnal Studi Keislaman, 12(1), 95�115.

 

Khurotul�aen, Iin, Hidayat, Dayat, & Mujtaba, Sahlan. (2022). Analisis Nilai Moral Dalam Novel Espresso Karya Bernard Batubara. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 4(5), 3887�3894.

 

Latief, Abdul, Nurlina, Nurlina, Medagri, Eko, & Suharyanto, Agung. (2019). Pengaruh Manajemen Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap terhadap Kinerja Karyawan. JUPIIS: Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, 11(2), 173�182.

 

Manderes, Atika. (2022). Nilai Moral Keluarga dalam Film �Miracle in Cell No. 07� Karya Lee Hwan Kyung dan Implikasinya Pada Pembelajaran Sastra. KOMPETENSI, 2(9), 1666�1684.

 

Mustaghfiroh, Siti, Nazar, Taufid Hidayat, & Safe�i, Badarudin. (2021). Etika Keutamaan Dalam Akhlak Tasawuf Abdul Qodir Al-Jailani: Relevansinya dengan Pengembangan Karakter Manusia. Jurnal Islam Nusantara, 5(1), 23�37.

 

Nugraha, F. B. H. (2014). Nilai Moral Dalam Novel Pulang Karya Leila S Chudori. Universitas Negeri Yogyakarta. Retrieved from https://eprints.uny.ac.id/ 17378

 

Nurhati, F. (2012). Syahadat dari Negeri Sutra. Yogyakarta: Diva Press.

 

Pakendek, Adriana. (2019). Cerminan Keadilan Bermartabat dalam Putusan Pengadilan Berdasarkan pancasila. Jurnal Yustitia, 18(1).

 

Rohmah, Yayuk Nur, Wardiani, Ririen, & Astuti, Cutiana Windri. (2021). Nilai Moral Kemanusiaan dalam Novel Burung Terbang Di Kelam Malam Karya Arafat Nur. LEKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1(2).

 

Stevanus, Kalis. (2021). Relasi Akal Budi Dan Iman Dalam Apologetika Dan Pewartaan Injil. DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 6(1), 87�105.

 

Suseno, F. M. (2019). Etika Dasar Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta: PT Kanisius.