SUKSESKAN PROGRAM ZERO WASTE DENGAN PROJEK PENGUATAN PROFILE PELAJAR PANCASILA

 

Sugrawati

SMA Negeri 2 Taliwang

[email protected]

 

Abstrak:

Program bebas sampah (zero waste) adalah program unggulan dari Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat periode 2018-2023, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah. Program Zero waste ini adalah program perbaikan kualitas lingkungan yang dilakukan pemerintah provinsi berbasis masyarakat. Proyek ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian bumi melalui gaya hidup yang berkelanjutan. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Fenomena yang diamati dan diteliti di sini adalah pelaksanaan program zero waste oleh warga SMAN 2 Taliwang. Proses pelaksanaan proyek ini melibatkan seluruh komunitas sekolah, termasuk siswa, kepala sekolah, guru, koordinator, dan orang tua siswa. Tahapan proyek meliputi pengenalan masalah sampah, kontekstualisasi permasalahan, aksi nyata dalam mengurangi sampah plastik, dan pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick. Kolaborasi dengan berbagai pihak terkait untuk mendukung keberhasilan program ini. Pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick memberikan solusi alternatif yang ramah lingkungan dan memiliki nilai estetika serta ekonomi. Proyek ini diakhiri dengan tahap refleksi dan tindak lanjut untuk memastikan hasil pembelajaran dapat memperkuat profil pelajar Pancasila di kalangan peserta didik.

 

Kata kunci: P5, ecobrick, sampah

Abstract:

The zero waste program is the flagship program of the Governor and Deputy Governor of West Nusa Tenggara for the 2018-2023 period, Dr. H. Zulkieflimansyah and Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah. The Zero Waste program is a community-based environmental quality improvement program carried out by the provincial government. This project aims to build public awareness and concern for the preservation of the earth through a sustainable lifestyle. This research method is descriptive qualitative. The phenomenon observed and researched here is the implementation of the zero waste program by the residents of SMAN 2 Taliwang. The process of implementing this project involves the entire school community, including students, principals, teachers, coordinators and parents. The project stages include recognizing the waste problem, contextualizing the problem, real action in reducing plastic waste, and processing plastic waste into ecobricks. Collaboration with various related parties to support the success of this program. Processing plastic waste into ecobricks provides an alternative solution that is environmentally friendly and has aesthetic and economic value. This project ends with a reflection and follow-up stage to ensure the learning outcomes can strengthen the profile of Pancasila students among students.

 

Keywords: P5, ecobrick, trash

 

Corresponding: Sugrawati

E-mail: [email protected]

PENDAHULUAN

Persoalan sampah telah menjadi isu global yang terus dicarikan solusi terbaik dalam menyelesaikannya. Begitupun juga di Nusa Tenggara Barat. Program bebas sampah (zero waste) adalah program unggulan dari Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat periode 2018-2023, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah. Program Zero waste ini adalah program perbaikan kualitas lingkungan yang dilakukan pemerintah provinsi berbasis masyarakat. Target dari program ini adalah 70% berupa pengelolaan sampah dan 30% berupa pengurangan sampah pada tahun 2023. Penetapan program ini didasarkan pada realitas semakin meningkatnya produksi sampah Nusa Tenggara Barat dari hari ke hari.

Berdasarkan data Dinas LHK Nusa Tenggara Barat tahun 2020, proyeksi timbunan sampah setiap hari di Nusa Tenggara Barat mencapai 2.567.74 ton. Sebagian besar berasal dari sisa makanan sebanyak 1.129,81 ton. Kemudian disusul oleh sampah plastic sebanyak 385,16 ton. Apabila masalah sampah ini tidak segera tertangani dengan baik, maka kita akan menunggu bom waktu yang akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar (Purnomo, 2021).

Syamsudin, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nusa Tenggara Barat, menyatakan bahwa volume sampah yang dibuang setiap harinya mencapai 76 ton (Nusa Tenggara Barat Zero Waste, Dr. Ir. Hj. Siti Rohmi Djalilah, M.Pd.) (Tanthowi, Sumardi, Sawaludin, & Zubair, 2022)

Di SMAN 2 Taliwang, sekolah dengan luas area yang sangat� terbatas, memiliki 496 siswa yang tercatat pada Sistem Dapodik, menghasilkan sampah minimal 15 bak sampah ukuran besar setiap harinya, membuat kondisi sampah yang melimpah dan tidak ditangani dengan baik, sehingga penampilan sekolah menjadi tidak sedap dipandang dan terlihat kumuh.

Realitas yang tersaji di atas, membuat program zero waste menjadi program prioritas. Pelibatan semua unsur diperlukan untuk menjamin keberhasilan program. Namun program zero waste adalah program yang membutuhkan perubahan cara berpikir dan pembangunan budaya baru dalam pengelolaan sampah. Dan penanaman nilai-nilai baru dari tingkat pengetahuan, pemahaman, pembangunan kesadaran, sampai ke perubahan perilaku kehidupan masyarakat, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.

Untuk mensukseskan program Zero Waste yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan mewujudkan SMAN 2 Taliwang menjadi sekolah yang bersih, maka sampah harus bisa terkelolah dengan baik sehingga mendatangkan kebermanfaatan yang banyak. Nusa Tenggara Barat Zero Waste merupakan sebuah model pengelolaan sampah yang memperlakukan sampah sebagai sumber daya. Penerapannya berbasis pengurangan jumlah sampah (reducing) penggunaan barang yang tidak sekali pakai (reuse) daur ulang sampah (recycle).

SMAN 2 Taliwang dengan jumlah siswa mencapai 496 pada tahun pelajaran 2022/2023 telah mencoba berbagai strategi seperti mengeluarkan kebijakan untuk membawa kotak makan dan tumbler untuk tempat minum, agar bisa mengurangi konsumsi minuman kemasan. Makan minum harus di kantin agar sampahnya terkonsentrasi dan mudah di tangani oleh pengelola kantin. Namun dalam evaluasinya kebijakan-kebijakan tersebut masih kurang efektif, karena sempitnya area kantin dan kurangnya kepedulian warga sekolah akan kebersihan, mengakibatkan banyaknya sampah yang berserakan meskipun telah disediahkan banyak tempat sampah, sehingga penampilan sekolah menjadi tidak sedap dipandang dan terlihat kumuh.

Menjelang tahun pelajaran 2022/2023 SMAN 2 Taliwang di SK kan untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara mandiri. Dimana hal yang prinsip dalam Kurikulum merdeka adalah munculnya konsep Project Penguatan Profile pelajar pancasila yang tidak ada di kurikulum kurikulum sebelumnya. Element ini menduduki alokasi waktu 20-30% komposisi pembelajaran, yang tidak berbasis capaian pembelajaran tetapi berdasarkan Tema yang telah disediakan oleh pemerintah.

Berawal dari pemakaian plastik dan barang-barang berbahan dasar plastik yang semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi, industri dan juga jumlah populasi penduduk. Penggunaan bahan plastik semakin lama semakin meluas tidak terkecuali di lingkungan sekolah karena dianggap praktis, murah dan mudah didapatkan. Permasalahan yang paling sering muncul di sekolah adalah mau di kemanakan limbah plastik yang tidak mudah terurai secara alami tersebut. Di sisi lain, pemusnahan plastik dengan cara dibakar akan menimbulkan permasalahan lain. Seperti pencemaran udara yang sangat merugikan kesehatan warga sekolah dan tentunya pula sangat mengganggu kenyamanan belajar di sekolah.

Berdasarkan masalah yang mendasar di SMAN 2 Taliwang, salah satu Tema yang kami ambil dari sekian banyak tema yang disediahkan adalah Gaya Hidup Berkelanjutan, Tema ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap dampak dari aktivitas manusia, baik jangka pendek maupun jangka panjang, terhadap keberlangsungan kehidupan di dunia maupun lingkungan sekitarnya. Membangun kesadaran siswa untuk bersikap dan berperilaku ramah lingkungan, serta mencari solusi dari masalah lingkungan adalah fokus utama tema ini.

496 siswa yang ada terbagi menjadi 5 kelas X, 5 Kelas XI dan 5 Kelas XII. Masing masing kelas disediakan 2 bak sampah yang diperuntukkan untuk satu Bak untuk sampah Plastik dan satu Bak untuk sampah non plastic. Namun pada umumnya warga sekolah kurang memiliki kesadaran, akibat dari kurangnya kepedulian dan pengetahuan serta tidak terlihatnya manfaat dari pilih dan di pilah sampah menjadi faktor utama mereka tidak terampil memilih dan memilah sampah plastik dan non plastic.

Oleh karena itu maka kami membutuhkan tindakan yang benar-benar bisa menangani sampah dengan menunjukan kebermanfaatan yang nyata, tidak hanya agar terlihat bersih tapi bisa memaksa mereka bahwa mereka butuh sampah. Sekolah melalui Rapat Dewan Guru yang dimotori oleh Tiem Projec P5 SMAN 2 Taliwang menggagas program Pengolahan sampah dengan memanfaatkan sampah yang ada di sekolah menjadi berbagai bentuk barang yang benar benar membawa manfaat bukan sekedar hanya menjadi barang bentuk lain yang pada akhirnya akan menjadi sampah pula.

SMAN 2 Taliwang melalui Tiem Project P5 nya melalui Rapat Kerja Tiem P5, memulai dengan menyusun Langkah kerja untuk melaksanakan Strategi untuk mencapai tujuan utama yaitu terwujudnya sekolah yang bersih dan bebas dari sampah melalui beberapa kelompok kerja yang menjadi sasarannya. Pada awalnya program pengolahan sampah ini dikhususkan pada kelas X sebagai sasaran program selaku kelas pengampuh kurikulum Merdeka pada tahun pelajaran 2022/2023 yang sedang berjalan. Pengelolaan sampah sebagaimana diatur dalam Perda Nusa Tenggara Barat Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah dan Pergub Nusa Tenggara Barat Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah mencakup dua hal pokok. Pertama adalah penanganan sampah. Kedua adalah pengurangan sampah penanganan Sampah adalah rangkaian upaya yang meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah. Sementara pengurangan sampah merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah, dan pemanfaatan kembali sampah.

Pengolahan sampah sebagaimana dijelaskan dalam Perda Nusa Tenggara Barat Nomor 5 Tahun 2019 merupakan kegiatan untuk mengubah karakteristik, komposisi dan jumlah agar dapat di proses lebih lanjut, dimanfaatkan atau dikembalikan ke media lingkungan secara aman, melalui kegiatan teknis berupa pemadatan, pengomposan daur ulang materi dandaur ulang energy. Serta dapat mendukung berjalannya proses penanganan sampah di SMAN 2 Taliwang, Tiem Projec P5 telah melakukan sejumlah langkah seperti pembentukan kelompok kerja dengan program pengolahan sampah yang berbeda-beda sehingga sampah bisa terkelola dengan lebih pasiv, sehingga sampah di SMAN 2 Taliwang bisa berkurang dengan signifikan.

Penelitian bermanfaat untuk mendidik warga SMAN 2 Taliwang dalam memilah dan memilih sampah di lingkungan sekolah sehingga dapat meningkatkan prilaku hidup bersih dan sehat warga sekolah serta mengurangi beban petugas kebersihan pengangkut sampah. Semoga Kerjasama ini bisa mewujudkan Nusa Tenggara barat bersih. Proyek ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian bumi melalui gaya hidup yang berkelanjutan.

 

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Fenomena yang diamati dan diteliti di sini adalah pelaksanaan program zero waste oleh warga SMAN 2 Taliwang. Peneliti berusaha mendeskripsikan fenomena (peristiwa) sosial yang terjadi dalam pelaksanaan program dan kegiatan, kendala yang dihadapi, serta membuat solusi yang dapat digunakan untuk mensukseskan pelaksanaan program zero waste di Nusa Tenggara Barat.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan pada keputusan kepala badan standar, kurikulum, dan asesmen pendidikan kementerian pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi nomor 025/H/KR/2022 tentang satuan pendidikan pelaksana implementasi kurikulum merdeka melalui jalur mandiri pada tahun ajaran 2022/2023 tahap I Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, pada tanggal 27 April 2022 menjadi awal pelaksanaan IKM di SMAN 2 Taliwang termasuk melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan didalamnya (Deswan, Gultom, & Harsono, 2020).

Profil Pelajar Pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024 (STANDAR & KURIKULUM, 2022). Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif (Kahfi, 2022).

Berdasarkan pada permasalahan utama yang terjadi di SMAN 2 Taliwang dan atas persetujuan hasil rapat tim P5 memutuskan untuk mengangkat tema �Gaya Hidup yang Berkelanjutan� yang telah kami laksanakan mulai oktober 2022 s/d januari 2023. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila diharapkan dapat membangun kesadaran untuk peduli terhadap kelestarian bumi dengan berkontribusi mulai dari diri sendiri sesuai dengan visi Pendidikan Indonesia (Azizah & Amalia, 2023).�

�Projek ini dimulai dengan tahap Pengenalan. Tahap ini bertujuan untuk mengenalkan permasalahan sampah khususnya yang tidak bisa terurai yang berpengaruh kepada kelangsungan bumi. Pemberian Pemahaman terhadap sampah organik dan non organik kepada� peserta� didik juga� dilakukan (RAMLAH, Andi Agustang, & Syukur, 2022).� Kegiatan ini melibatkan semua warga sekolah terutama siswa kelas X sebagai pengampuh Kurikulum� Merdeka, kepala sekolah, guru mata pelajaran, koordinator, wali kelas dan tentunya juga orang tua siswa. Metode yang dilakukan adalah memberikan pemaparan materi dan diskusi.

Tahap ini dilakukan untuk mempersiapkan kegiatan pengolahan sampah yang tepat sesuai dengan kondisi sekolah kami. Pada pelaksanaannya kami berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup yang memberikan pemahaman tentang sampah, LSM peduli sampah (Komunitas Hijau Biru)Taliwang yang memberikan sosialisasi mengenai pengolahan sampah plastic menjadi ecobrick, PLTU untuk penyediaan bahan baku krikil dan debu sisa pembakaaran PLTU sebagai bahan membuat paving ecobrick dan juga didukung penuh oleh PT. AMMAN MINERAL Nusa Tenggara barat yang memberikan bantuan dana guna menyukseskan program ini (Rambe, 2021).

�Setelah proses pengenalan� diharapkan peserta didik menyadari apa yang dapat mereka lakukan dan tindakan apa yang harus dilakukan pada tahap aksi, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan apa yang telah mereka� ketahui� dan� mencoba� mencari� solusi� yang� mungkin� diaplikasikan� yaitu� dengan melakukan berbagai aksi nyata untuk mengurangi sampah plastik mulai dari diri sendiri yang didampingi oleh para guru.�

�Berikutnya adalah tahap kontektualisasi, pada tahapan ini peserta didik mencoba melihat apa yang terjadi di lingkungan� sekitar� dan� mengidentifikasi permasalahan� yang� ada� kemudian� mencari� solusi (Roihanah et al., 2022). Beberapa kegiatan yang mereka lakukan pada tahap ini adalah melihat perubahan iklim di lingkungan sekitar dari video dan artikel disertai diskusi. Mendiskusikan variasi jenis sumber penyumbang jumlah sampah plastik beserta alternatifnya. Mereka menghitung jumlah jejak sampah pribadi. Presentasi kelompok mengenai penyelesaian masalah bumi yang telah dilakukan masyarakat umum. Mengelompokan sampah anorganik dan non organik. Mengumpulkan hasil hitungan sampah anorganik dan non organik dari masing masing kelas.

Selanjutnya di tahap aksi, pada tahap ini siswa mulai melakukan pemilahan yaitu memisahkan menjadi kelompok sampah organik dan non organik dan ditempatkan dalam wadah yang berbeda. Pengolahan sampah plastik dengan membuat ecobrick yang ecobrick ini nantinya akan dibuat paving ecobrick, meja dan stool ecobrick (Apriyani, Putri, & Wibowo, 2020). Pengolahan sampah kertas dengan membuat bubur kertas yang akan dijadikan lukisan. Sisa botol yang sudah tidak dipakai oleh siswa (setiap kelas) dikumpulkan dan ditimbang untuk di jual. Untuk sampah yang tidak dapat ditangani dalam lingkup sekolah, dikumpulkan ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang telah disediakan untuk selanjutnya diangkut oleh petugas kebersihan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Pengolahan sampah di Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) kami fokuskan pada pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick (Fauzi, Sumiarsih, Adriman, Rusliadi, & Hasibuan, 2020). Istilah ecobrick berasal dari penggabungan dua kata, yaitu eco dan brick yang bila digabungkan menjadi ecobrick yang bermakna batu bata ramah lingkungan. Karena hasil pembuatannya bisa dijadikan sebagai pengganti batu bata yang biasanya digunakan sebagai material bangunan. Ecobrick adalah sebuah teknologi yang memberikan solusi alternatif untuk limbah padat (terutama limbah plastik) yang bisa dilakukan tanpa perlu mengeluarkan biaya. Membuat ecobrick tidaklah sulit, cukup dengan sampah plastik, gunting, batang kayu sebagai pemadat dan media botol plastik sebagi wadah. Contoh sampah plastik yang dapat digunakan adalah kantong plastik, sedotan plastik, styrofoam, bungkus plastik, dan lain-lain. Sedangkan benda yang tidak boleh digunakan adalah barang pecah belah, benda tajam, kertas, dan semua limbah biodegradable. Botol plastik itu sendiri boleh dengan ukuran beragam dan warna yang bervariasi, yang perlu diperhatikan adalah menyamakan ukuran dan bentuk botol plastik tersebut agar hasil ecobrick dapat lebih bernilai estetika. Selanjutnya sampah plastik digunting menjadi lebih kecil agar mudah dimasukkan ke dalam mulut botol. Kemudian ditekan menggunakan pemadat kayu hingga botol padat dan terisi penuh dengan plastik. Perlu dipastikan tidak ada lagi ruang atau rongga kosong yang tersisa. Hal ini bertujuan agar produk ecobrick tidak mudah penyok, dan memiliki sifat keras seperti balok beton. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah botol harus dalam keadaan bersih dan kering begitu pun sampah plastik yang akan dimasukkan harus dalam keadaan bersih dan kering pula untuk menghindari bakteri tumbuh di dalam botol ecobrick. Selain sebagai solusi untuk mengurangi limbah plastik di lingkungan SMA Negeri 2 Taliwang pembuatan ecobrick juga terbukti mampu memberikan nilai estetika dan ekonomi terhadap produk yang dihasilkan. Oleh karena itu rasanya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa metode ecobrick bisa diandalkan untuk mengatasi sampah plastik di lingkungan sekolah karena sangat sederhana, tanpa biaya dan memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan.

Projek� ini� tidak� terlepas� dari� tahap� akhir� yaitu� refleksi� dan� tindak� lanjut� agar� apa� yang dilakukan dapat bermakna bagi penguatan profil pelajar pancasila di dalam diri peserta didik. Hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai projek, semua warga sekolah harus bisa berkomitmen untuk menjalankan aksi atau solusi yang telah disepakati.� Dengan� begitu,� peserta� didik� dapat� melihat� secara� nyata� inti� dari pembelajaran yang mampu membangun kesadaran pada tiap warga sekolah. ���������

Manfaat utama dari pembuatan ini tentu datang dari aspek pengelolaan limbah plastik. Dimana dibanding membuang membakar atau menimbun sisa-sisa plastik yang berpotensi menjadi faktor pencemaran alam, kita dapat memanfaatkan sisa-sisa plastik tersebut menjadi material pembentuk Ecobrick. Selain mengakomodasi pengelolaan limbah plastik, inovasi limbah yang satu ini juga memiliki berbagai manfaat lainnya. Adapun manfaat tersebut bisa ditinjau dari sisi fungsional dan sisi ekonomis.

Dari sisi fungsional, manfaat ecobrick bisa dijadikan material dasar dalam memproduksi sebuah barang. Mulai dari pembuatan furnitur, perabotan indoor, hingga material pembentuk sebuah bangunan semisal dinding sebuah ruang. Meskipun sederhana bentuknya, Ecobrick benar-benar dapat menjadi material substitusi bangunan seperti batu bata merah atau batako (Sari, Harfia, & Heriyanti, 2023). Kami di SMA Negeri 2 Taliwang telah menghasilkan beberapa produk sederhana di antaranya rak buku/sepatu, meja dan stool, yang bahkan memiliki nilai jual. Selain itu kami juga menyulap ecobrick menjadi paving ecobrick yang kami manfaatkan untuk fondasi photobooth dan jalan menuju tempat wudhu.

Selaras dengan sisi manfaat fungsional sebelumnya manfaat Ecobrick sebenarnya juga memiliki nilai ekonomi (Sari et al., 2023). Selain dapat mengirit biaya pembuatan produk-produk yang disebutkan sebelumnya, kita pun bisa menjualnya ke pasaran. Saat ini, Ecobrick banyak dijual ke platform-platform jual beli online (Puspitasari et al., 2022). Bahkan, sejumlah bank sampah di beberapa wilayah di Indonesia pun bersedia membeli ecobrick dengan sejumlah uang tunai (Sirfiandi, 2022).

Pembuatan 1 botol ecobrick ukuran 1,5 liter dapat menampung sampah plastic seberat 0,5kg. jika ecobrick akan dibentuk menjadi sebuah stool (kursi) maka akan membutuhkan19-21 botol. Dari 19 botol ecobrick akan terkumpul sampah plastik seberat 9,5 kg. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak kita bisa mengurangi sampah plasticnya. Kalo biasanya sampah menumpuk sekarang mulai berkurang dengan adanya program tersebut.

Sebagai suatu solusi dalam pengelolaan sampah plastik, metode ini juga efektif dalam menanggulangi pencemaran lingkungan akibat dampak yang ditimbulkan sampah plastik seperti banjir akibat sampah yang menyumbat saluran pembuangan air, bau yang disebabkan akibat penumpukan sampah, lingkungan menjadi terlihat kumuh karena banyaknya sampah dapat merusak estetika/ keindahan lingkungan (Sinaga, Harefa, Siburian, & Aisyah, 2023).

Program pemanfaatan sampah plastik menjadi produk ecobrick yang ramah lingkungan dengan menggunakan sampah yang dihasilkan sehari-hari di lingkungan sekolah agar dapat bernilai ekonomis, menciptakan siswa yang inovatif dalam pengelolaan sampah sangat bermanfaat yang tercermin dengan meningkatnya pengetahuan mereka tentang pengelolaan sampah yang berkelanjutan (Kanan, 2021). Sehingga membantu mengurangi sampah plastik dilingkungan SMA Negeri 2 Taliwang.

Pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang mengangkat tema � Gaya Hidup yang Berkelanjutan� dengan sub tema pengolahan sampah, telah nyata memberikan hasil yang luar biasa. Sampah di SMA Negeri 2 Taliwang pada waktu belum melaksanakan program ini bisa mencapai 15 bak sampah ukuran besar setiap harinya, sekarang hanya tinggal 5 sd 7 bak saja setiap hari yang harus diangkut oleh petugas kebersihan ke TPA. Berdasarkan data inilah kami menyatakan program pengolahan sampah ini kami nyatakan berhasil membawa manfaat khusunya untuk sekolah kami SMA Negeri 2 Taliwang. Oleh karena itu program ini masih terus kami laksanakan sampai saat ini.

Tujuan, Alur dan Target Pencapaian Projek Menjaga bumi adalah kewajiban kita semua.� Kesadaran� untuk� peduli� terhadap kelestarian bumi� dengan berkontribusi� mulai dari diri sendiri sudah seharusnya di lakukan setiap� orang (Nurulloh, 2019).� Projek ini� mampu membangun� kesadaran untuk� peduli� terhadap� kelestarian� bumi, peserta� didik dapat� memiliki� gaya� hidup� mereka� yang� berkelanjutan. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dapat membangun dimensi profil pelajar Pancasila yang sesuai dengan visi Pendidikan Indonesia.�

 

KESIMPULAN

Sebagai suatu solusi dalam pengelolaan sampah plastik, metode ini juga efektif dalam menanggulangi pencemaran lingkungan akibat dampak yang ditimbulkan sampah plastik seperti banjir akibat sampah yang menyumbat saluran pembuangan air, bau yang disebabkan akibat penumpukan sampah, lingkungan menjadi terlihat kumuh karena banyaknya sampah dapat merusak estetika/ keindahan lingkungan Program pemanfaatan sampah plastik menjadi produk ecobrick yang ramah lingkungan dengan menggunakan sampah yang dihasilkan sehari-hari di lingkungan sekolah agar dapat bernilai ekonomis, menciptakan siswa yang inovatif dalam pengelolaan sampah sangat bermanfaat yang tercermin dengan meningkatnya pengetahuan mereka tentang pengelolaan sampah yang berkelanjutan sehingga membantu mengurangi sampah plastik dilingkungan SMA Negeri 2 Taliwang (Apriyani et al., 2020).

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Apriyani, Apriyani, Putri, Mahadewi Mustika, & Wibowo, Samuel Yudha. (2020). Pemanfaatan sampah plastik menjadi ecobrick. Masyarakat Berdaya Dan Inovasi, 1(1), 48�50.

 

Azizah, Nilam Pritami Nur, & Amalia, Nur. (2023). Kegiatan Adiwiyata Sebagai Sarana Penanaman Profil Pelajar Pancasila di Sekolah Dasar. Jurnal Moral Kemasyarakatan, 8(1), 46�63.

 

Deswan, Ferry, Gultom, Rudy A. G., & Harsono, Gentio. (2020). Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis Dalam Penetuan Keseuaian Lokasi Rencana Pangkalan Tni Angkatan Laut Di Wilayah Kabupaten Sukabumi Propinsi Jawa Barat. Teknologi Penginderaan, 2(1).

 

Fauzi, Muhammad, Sumiarsih, Eni, Adriman, Adriman, Rusliadi, Rusliadi, & Hasibuan, Ika Fitria. (2020). Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan pembuatan ecobrick sebagai upaya mengurangi sampah plastik di Kecamatan Bunga Raya. Riau Journal of Empowerment, 3(2), 87�96.

 

Kahfi, Ashabul. (2022). Implementasi profil pelajar Pancasila dan Implikasinya terhadap karakter siswa di sekolah. DIRASAH: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Dasar Islam, 5(2), 138�151.

 

Kanan, Desa Luwuk. (2021). Pemanfaatan Limbah Sampah Plastik Menggunakan Metode Ecobrick di Desa Luwuk Kanan. Jurnal Solma, 10(03), 469�477.

 

Nurulloh, Endang Syarif. (2019). Pendidikan Islam Dan Pengembangan Kesadaran Lingkungan. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 7(2), 237.

 

Purnomo, Chandra Wahyu. (2021). Solusi pengelolaan sampah Kota. UGM PRESS.

 

Puspitasari, Dyah Rosiana, Pawestri, Landia Natalie Ayu, Laka, Fernandoz Jevon, Pati, Dominikus Degede Kola, Saputra, Wahid Bintang, Sunandar, Noval Asep, Winarta, Gede, Goda, Paulus Krisna Adivian Wea, Rato, Alfreda Papa, & Khasanah, Ainun. (2022). Peningkatan Kesadaran Kepada Masyarakat Padukuhan Kretek, Kelurahan Jambidan, Kecamatan Baguntapan, Kabupaten Bantul Akan Pentingnya Pengelolaan Sampah Menjadi Hal Yang Berinovatif. Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Sejahtera, 1(4), 57�67.

 

Rambe, Titin Rahmayanti. (2021). Sosialisasi dan aktualisasi eco-enzyme sebagai alternatif pengolahan sampah organik berbasis masyarakat di lingkungan Perumahan Cluster Pondok II. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(1), 36�40.

 

Ramlah, Ramlah, Andi Agustang, Andi Agustang, & Syukur, Muhammad. (2022). Gerakan Sosial Dalam Membangun Kesadaran Lingkungan Terhadap Pengelolaan Sampah Plastik. Phinisi Integration Review, 5(1), 236�247.

 

Roihanah, Salsabiilaa, Salsabilla, Syifa, Saiful, Muthia Maharani, Firmandani, Tegar Ganes, Ratna, Yusvita, Listiawati, Sinta Indah, & Husamah, H. (2022). Proyek �Merawat daur biogeokimia bumi� sebagai penguatan profil pelajar pancasila. Jurnal Pendidikan Profesi Guru, 3(3), 86�99.

 

Sari, Dwi Atika, Harfia, Amira Zerlin, & Heriyanti, Andhina Putri. (2023). Penyuluhan dan Pelatihan Pembuatan Ecobrick di Desa Pulosaren Sebagai Upaya Pemanfaatan Sampah Plastik. Jurnal Bina Desa, 5(1), 45�53.

 

Sinaga, Putri, Harefa, Meilinda Suriani, Siburian, Prima Alexander, & Aisyah, Siti. (2023). Konsep Penanggulangan Sampah di Wilayah Ekosistem Hutan Mangrove Belawan Sicanang dalam Upaya Pencegahan Pencemaran Lingkungan. J-CoSE: Journal of Community Service & Empowerment, 1(1), 1�9.

 

Sirfiandi, Robi. (2022). Eksistensi Bank Sampah dalam pengelolaan sampah untuk kelestarian lingkungan hidup di Desa Mujur Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Teng. UIN Mataram.

 

Standar, Badan, & Kurikulum, D. A. N. Asesmen Pendidikan. (2022). Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi.

 

Tanthowi, Imam, Sumardi, Lalu, Sawaludin, Sawaludin, & Zubair, Muh. (2022). Implementasi Program Kerja Zero Waste Terhadap Sikap Cinta Lingkungan Mahasiswa. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 2(1), 283�290.