PENDEKATAN PARTISIPATIF DALAM PROGRAM BAHARI SEMBILANG MANDIRI SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN INISIATIF LOKAL

 

Junaidi Yulian1, Suhendra Ahmad Adi2, Indahsari Siti Rachmi3

PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) Refinery Unit (RU) III Plaju1,2 Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya3

 

[email protected] 1,� [email protected]2 [email protected]3

 

Diterima: 02-10-2022������������������������������������� Review: 10-10-2022������������������������ ��������������� Publish: 13-10-2022

Abstrak:

Program Bahari Sembilang Mandiri (BERLARI) merupakan program Corporatate Social Responsibility (CSR) PT. Kilang Pertamina International (KPI) Refinery Unit (RU) III Plaju yang dilakukan dengan pendekatan partisipatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendekatan partisipatif dalam pengelolaan program pemberdayaan masyarakat dan hubungan pendekatan partisipatif dengan peningkatkan inisiatif lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi berpartisipatif, catatan lapangan dan wawancara mendalam dengan informan. Analisis data yang digunakan adalah teknik kualitatif interaktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pengelolaan program BERLARI dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif mulai dari tahap perencanaan, pengorganisasian, implementasi, serta monitoring dan evaluasi dengan berbagai teknik dan metode yaitu Participatory Rural Appraisal (PRA), Musyawarah Mufakat, Focus Group Discussion (FGD), Pendidikan Dialogis, Pendampingan masyarakat, serta Participatory impact monitoring dan Evaluasi. Pendekatan partisipatif yang dilakukan telah menumbuhkan inisiatif local untuk menentukan model pemberdayaan, ukuran keberhasilan, serta menghidupkan kembali kebersamaan, rasa saling percaya dan praktik pengorganisasian yang memperkuat kohesi social.

 

Kata kunci: pemberdayaan, partisipatif, inisiatif local, pengelolaan program

 

Abstract:

The Bahari Sembilang Mandiri (BERLARI) Program is a Corporate Social Responsibility (CSR) program of PT. Kilang Pertamina International (KPI) Refinery Unit (RU) III Plaju� �which is carried out with a participatory approach. This study aims to analyze the participatory approach in managing community empowerment programs and the relationship between the participatory approach and the enhancement of local initiatives. The research method used is descriptive qualitative with participatory observation data collection techniques, field notes and in-depth interviews with informants. The data analysis used is an interactive qualitative technique. The results of this study indicate that the management of the BERLARI program is carried out through a participatory approach starting from the planning, organizing, implementation, and monitoring and evaluation stages with various techniques and methods, namely Participatory Rural Appraisal (PRA), Consensus Deliberation, Focus Group Discussion (FGD), Dialogical Education, Community Assistance, and also Participatory impact monitoring and evaluation. The participatory approach taken has increased local initiatives to determine empowerment models, measures of success, revitalize togetherness, mutual trust and organizational practices that strengthen social cohesion.

 

Keywords:��� empowerment, participatory, local initiative, program management

Corresponding: Junaidi Yulian

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

PENDAHULUAN

Masyarakat local memberikan gambaran tentang sebuah komunitas yang berada dalam wilayah geografis tertentu dan terkoneksi dengan hubungan social dan sumberdaya alam yang mendukung kehidupan manusia. Konteks lokalitas ini sangat mendukung pencapaian program pemberdayaan masyarakat spesifik lokasi yang dapat diklaim sebagai pembangunan berkelanjutan dengan pendekatan partisipatif sebagai upaya mendorong inisiatif local untuk mengatasi masalah secara mandiri (Kitphati, Seangkeao, Muangyim, & Nak-ai, 2022). Pendekatan yang berkelanjutan ini harus didukung dengan pemberdayaan masyarakat secara terpadu dan partisipatif, seperti yang telah dilakukan pada Program Bahari Sembilang Mandiri (BERLARI). Pendekatan ini untuk menjawab persoalan social, ekonomi dan lingkungan masyarakat local terutama secara geografis berada pada kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang membutuhkan peran berbagai pihak untuk mengatasi persoalannya (Indahsari, S.R., Suhendra A.A., Irawan P., 2022).

Inisiatif lokal dapat menjadi bagian dari transisi masyarakat menuju pembangunan berkelanjutan. Setidaknya ada tiga hal yang menjadi pelajaran dari upaya mendorong inisitif local yaitu: pertama, pentingnya hubungan antara inisiatif lokal dan dunia luar; kedua, pentingnya pengetahuan dan berbagai inovasi; dan, ketiga, kebutuhan untuk memandang pembangunan berkelanjutan sebagai hal yang holistik. Ketiga pelajaran tersebut menawarkan wawasan tentang bagaimana pembangunan berkelanjutan melalui inisiatif lokal dapat melihat tantangan global secara lebih kritis (Leonardsson, 2022). Kontribusi insiatif local akan lebih efektif bila bersinergi dengan inisiatif regional yang lebih luas (Rodon, 2017). Walaupun temuan (Fauzie & Sariffuddin, 2017) inisiatif local sebagian besar dibentuk oleh inisiatif individu dan hanya sedikit yang dibentuk oleh inisiatif kolektif. Pelajaran ini penting bagi semua aktor yang tertarik untuk memahami dan secara aktif terlibat dalam transformasi masyarakat yang lebih luas untuk meningkatkan keberlanjutan.

Salah satu wilayah yang mencerminkan Kawasan 3T yang didiami masyarakat local adalah Dusun Sembilang Desa Sungsang IV Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Menurut (Sjarkowi, 2019), wilayah ini berada pada Kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang yang memiliki posisi strategis sebagai biasfer dunia dan perlu mendapat perhatian melalui kerjasama sektor publik dan privat. Hal strategis yang perlu diatasi pada kawasan ini adalah menjaga kelestarian ekologi dan keselarasan social dengan mengedepankan pengelolaan tapak taman nasional secara bijaksana, mengaktifkan jaringan bisnis kreatif yang mengarah pada Komitmen Hijau, serta memodelkan basis kelembagaan yang mampu mengangkat potensi ekonomi dengan tetap memperhatikan kondisi social dan lingkungan. Dalam kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat, riset yang dilakukan (Boy, Djinar, Urmila, & Marhaeni, 2019) pemerintah berperan dalam peningkatan kreativitas masyarakat, sedangkan menurut (Saleh & Triyanto, 2022), kontribusi pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat memberikan manfaat pada perluasan usaha sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka. Sedangkan peran sector privat melalui program Corporatate Social Responsibility dapat meningkatkan modal social, kesejahteraan masyarakat dan pengembangan ekonomi hijau (Suhariyanto, Zainal, & Budiarta, 2018) (Aresteria & Mege, 2020) (Sardana, Gupta, Kumar, & Terziovski, 2020) (Suhariyanto et al., 2018; Indriya et al., 2020; Sardana et al., 2020)

Menurut (Ilic, Petrovic, & Djukic, 2022) Insentif yang dapat diperoleh dari berinovasi model bisnis yang berkomitmen hijau adalah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), memastikan tingkat kualitas lingkungan yang lebih tinggi, kualitas hidup yang memadai untuk semua orang, dan masa depan yang lebih hijau. Untuk mencapai tujuan dan arah pembangunan di masa depan ini harus difokuskan pada pengembangan teknologi dan pengetahuan, dengan kebijakan yang memadai untuk menciptakan strategi hijau untuk� pembangunan berkelanjutan dan rendah emisi. Dalam kontek ini, Indonesia berkesempatan mendorong pembangunan dekarbonisasi ini dengan memanfaatkan momentum sebagai presidensi G20 tahun 2022, pembangunan nol emisi ini sudah ditargetkan dunia pada secepatnya tahun 2050 (Frendy, 2022).

PT. Kilang Pertamina International (KPI) Refinery Unit (RU) III Plaju telah melakukan inisiatif kerjasama berbagai pihak antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat dengan menggandeng pihak Taman Nasional Berbak Sembilang dan didukung dengan masyarakat local melalui program BERLARI. Program ini merupakan intergrasi antara aspek keanekaragaman hayati dan pemberdayaan masyarakat yang telah dimulai sejak tahun 2021 dan akan berlangusng sampai tahun 2024, dimana tujuan dan sasaran dalam jangka Panjang, serta isu strategisnya telah disusun dalam Rencana Strategis (Renstra) Program Corporatate Social Responsibility (CSR) Pertamina RU III Tahun 2021-2024. Penyusunan Renstra tersebut dilakukan dengan metode partisipatif yang diawali dengan Social Mapping. Menerut Albart (2022) Social Mapping merupakan dasar dari penyusunan program strategis pemberdayaan masyarakat berdasarkan kondisi social, ekonomi dan lingkungan, potensi yang dimiliki masyarakat, serta aspirasi dan kebutuhan mereka. Dari semua uraian di atas pendekatan partisipatif dalam pengelolaan program pemberdayaan masyarakat penting untuk dikaji, terutama hubungannya dengan upaya meningkatkan inisiatif local sebagai dasar membangun kemandirian dan keberlanjutan program

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Dusun Sembilang Desa Sungsang IV Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin Perovinsi Sumatera Selatan. Waktu pelaksanaan penelitian April-Juli 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif (Moleong, 2017) yang bertujuan untuk menganalisis proses pendekatan partisipatif Program Bahari Sembilang Mandiri (BERLARI) yang dilaksanakan oleh PT. Kilang Pertamina International (KPI) Refinery Unit (RU) III Plaju. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi berpartisipatif, catatan lapangan pelaksana program serta wawancara mendalam dengan informan yang sengaja dipilih yang terdiri dari, pelaksana program, petugas lapangan, tokoh masyarakat dan penerima manfaat. Teknik analisis data yang digunakan adalah kualitatif interaktif. Langkah-langkah yang dilakukan adalah reduksi data, display data, penarikan kesimpulan dan verifikasi.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Umum Program Bahari Sembilang Mandiri

Program Bahari Sembilang Mandiri (BERLARI) merupakan program CSR PT. Kilang Pertamina International (KPI) Refinery Unit (RU) III Plaju yang memadukan aspek keanekaragaman hayati dan pemberdayaan masyarakat di pesisir Taman Nasional Berbak Sembilang. Dalam wilayah in terdapat masyarakat di Dusun Sungai Sembilang yang termasuk kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Selain untuk membantu pemerintah menyelesaikan problem minimnya akses dan fasilitas publik di Kawasan 3T, Pertamina memilih lokasi ini dikarenakan kawasan ini merupakan jalur kapal angkutan minyak Pertamina RU III yang melewati selat Bangka menuju Sungai Musi untuk selanjutnya diproses di Plaju Kota Palembang.�

Taman Nasional Berbak Sembilang merupakan situs biosfer dunia, kajian (Sjarkowi, 2019), melihat kawasan ini merupakan bentang alam yang unik dari ekosistem hutan tropis dan lahan basah. Berada di lanskap Sembilang seluas 202.896 Ha di Provinsi Sumatera Selatan) dan di lanskap Berbak seluas 142.750 Ha di Provinsi Jambi. Secara konseptual lahan basah berfungsi sebagai ginjal bentang alam untuk kelestarian lingkungan dan sumber penghidupan alami bagi masyarakat local yang ada di sekitarnya. Kawasan ini membutuhkan pengelolaan secara komprehensif agar tetap kondusif secara ekologis dan menguntungkan secara sosial ekonomi secara berkelanjutan. Taman nasional ini merupakan satu-satunya situs yang tersisa yang dikunjungi secara musiman sebagai terminal dan tempat bermain bagi beberapa spesies burung migran antar benua.� Ekosistem ini juga sangat subur karena banyak sedimen yang berasal dari hulu, terus turun melalui beberapa anak sungai kecil dan juga sungai besar yang mengalir dari perbukitan sisi di sisi barat turun ke sisi timur di mana aliran sungai bertemu dengan Selat Bangka.

Program ini mengembangkan potensi wisata minat khusus karena lokasi Taman Nasional Sembilang menjadi lokasi singgahnya burung migran dari Siberia menuju Australia dan sebaliknya. Selain memiliki potensi keanekaragaman hayati hutan mangrove, masyarakat Sungai Sembilang Sebagian besar sebagai nelayan tradisional yang mengolah produk hasil laut masyarakat berupa ikan asin dan terasi yang menjadi ikon nelayan Sembilang yang dapat dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan. Pengembangan potensi ini menghadapi tantangan yang cukup besar antara lain kondisi kehidupan masyarakat di sana sulit air bersih, listrik, dan permasalahan sampah yang perlu diselesaikan sehingga membutuhkan teknologi untuk bisa menciptakan energi terbarukan yang ramah lingkungan, misalnya pemanfaatan sampah sebagai sumber energi terbarukan. Dari aspek social masyarakat Sembilang belum mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai serta tingkat pendidikan baik formal dan non formal yang belum sesuai standar (mayoritas penduduk baru mencapai pendidikan sekolah dasar).

Melihat kondisi tersebut, Pertamina menjalin kerjasama dengan Taman Nasional Berbak Sembilang untuk melakukan intervensi melalui Program CSR di Dusun Sungai Sembilang secara terintegrasi untuk menjawab persoalan social, ekonomi dan lingkungan. Program tersebut berupa pemberdayaan masyarakat, Program kesehatan bagi masyarakat, pengembangan inovasi 3R sampah organik, perpustakaan pendukung implementasi pendidikan non formal, Pendidikan tanggap bencana, pengembangan gaya hidup sehat bebas sampah, peningkatan sarana dan prasarana pondok ekowisata, konservasi mangrove, pembangunan demplot anggrek putih, serta penyediaan air bersih berupa pembuatan water treatment plant.

Program BERLARI yang dilaksanakan telah di Dusun Sembilang ini memiliki bertujuan yaitu: (1) Menjaga kelesatarian dan pemulihan ekosistem keanekaragaman hayati, (2) Mengembangkan potensi wisata alam atau ekowisata di wilayah Sembilang dan Taman Nasional, (3) Meningkatkan kualitas SDM dan kesehatan masyarakat melalui pendidikan non formal serta penyuluhan Kesehatan, (4) Mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta (5) Menumbuhkan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

 

Pendekatan Partisipatif untuk Meningkatkan Inisiatif Lokal

Pengelolaan program BERLARI di kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) dilakukan dengan dengan pendekatan partisipatif mulai dari tahap perencanaan, pengorganisasian, Implementasi, sampai dengan monitoring dan Evaluasi. Pendekatan partisipasi ini sangat penting dilakukan karena menurut (Sismudjito dan Siregar, 2016) partisipasi masyarakat dapat berpengaruh positif terhadap daerah tertinggal. Bekerjanya partisipasi masyarakat dapat tercapainya pembangunan di daerahnya dengan menunjukkan rasa empati dari anggota masyarakat, sehingga memudahkan terwujudnya pembangunan daerah tertinggal. Selain itu, menurut (Sriati, 2022) pendekatan partisipatif sebagai wujud dari kesadaran dan tanggungjawab bersama untuk memberikan ruang bagi kelompok rentan untuk memperbaiki mutu hidupnya, walupun konsekuensinya mengurangi hak-hak istimewa yang biasa dinikmati oleh kelompok elit.

Tahapan pertama dalam pengelolaan program BERLARI yang dimulai tahun 2021 adalah penyusunan Rencana Kerja yang diturunkan dari rencana strategis. Pada bagian ini dilakukan needs assessment dan penyusunan rencana kerja partisipatif yang dilakukan oleh masyarakat dengan pelaksana program. Dalam mengidentifikasi kebutuhan ini dilakukan melalui tahapan pengumpulan dan analisis data untuk dijadikan dasar penyusunan rencana kerja. Pengumpulan dan analisis data ini dilakukan dengan Metode Participatory Rural Appraisal (PRA). Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahapan ini adalah Transek, pemetaan ruang, pemetaan dimensi waktu, dan analisis kelembagaan.

Transek atau menyusuri jalan pedusunan dilakukan oleh pelaksanan program yang terdiri dari koordinator program, tenaga ahli dan Community Development Officer (CDO) bersama dengan tokoh masyarakat yaitu kepala dusun, Ketua Rukun Tetangga (RT), dan pemuda. Tur jalan kaki ini dimulai dari pemukiman Dususn III dan Dusun IV, dilanjutkan menyusuri pesisir pantai, hutan dan tepian sungai sepanjang pemukiman. Kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari topografi, tata guna lahan, asset masyarakat, serta mengidentifikasi kondisi zona yang berbeda dan masalah yang dihadapi. Sepanjang perjalanan pengelola program mengamati, mengajukan pertanyaan pada tokoh kunci, dan mendengarkan percakapan-percakapan yang terjadi.

Dari hasil transek dilakukan pemetaan ruang bersama masyarakat yang terdiri dari peta pemukiman dan asset masyarakat, peta penggunaan lahan, serta peta potensi sumberdaya alam. Dari pemetaan ini didapat informasi bahwa pemukiman masyarakat di Dusun Sembilang memiliki sanitasi yang buruk seperti tumpukan sampah dan tidak ada drainasi, penataan yang tidak teratur, serta rentan terjadi kebakaran. Selain itu asset untuk kepentingan public masih sangat terbatas. Potensi sumberdaya alam yang ada di dusun tersebut terdiri dari potensi sungai, potensi pesisir dan laut, serta kawasan hutan mangrove. Kawasan hutan ini adalah bagian dari taman nasional yang tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Tata guna lahan yang dimiliki masyarakat pada umumnya untuk pemukiman dan fasilitas public seperti Sekolah Dasar dan Posyandu. Lahan pertanian tidak tersedia di Dusun Sembilang ini karena wilayah ini merupakan enclave dari taman nasional. Pertanian yang dapat dikembangkan di dusun ini hanyalah pertanian pekarangan seperti hidriponik atau vertikultur dengan menggunakan pot atau polybag.

Pemetaan dimensi waktu yang dilakukan Bersama masyarakat adalah penyusunan kalender musim, profil aktivitas harian, dan historical timeline atau jejak sejarah. Kalender musim memberikan informasi tentang waktu musim hujan dan kemarau, angin barat yang menghambat nelayan ke laut, musim panen ikan, udang, dan kerang. Profil aktivitas harian� memberikan informasi bahwa jam kerja perempuan lebih banyak dari jam kerja laki-laki, jam kerja pemuda, serta masih waktu luang yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan usaha produkstif tambahan. Historical Timeline memberikan gambaran awal berdirinya pemukiman di Sungai Sembilang sekitar tahun 1970-an tempat beberapa nelayan bermukim sementara selama mencari ikan, pertengahan 1980-an berdiri gudang penampungan ikan, awal 1990-an berdiri pabrik. Kehadiran Gudang dan pabrik es menarik semakin banyak nelayan mendirikan rumah di Dusun Sembilang. Tahun 1994 penetapan Hutan Suaka Alam sembilang, selanjutnya ditetapkan menjadi Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS) tahun 2003. Jejak sejarah ini dapat membantu masyarakat untuk melakukan refleksi dan merancang masa depan yang lebih baik.

Analisis kelembagaan ditujukan untuk mengidentifikasi aktor-aktor penting yang ada di Dusun Sembilang dan pola hubungan antar actor tersebut. Aktor penting yang teridentifikasi antara lain Kepala Dusun, Ketua Rukun Tetangga, Ketua Karang Taruna, Bidan Desa, Guru Sekolah Dasar, Tengkulak ikan, Koperasi Sembilang Maju Bersama, Taman Nasional Berbak Sembilang. Pola hubungan yang terbangun antar actor di Dusun Sembilang adalah hubungan yang posistif. Ketegangan hubungan terjadi antara masyarakat dan taman nasional terkait dengan aktivitas warga mengambil kayu di dalam Kawasan, tetapi hal ini jarang terjadi karena, karena sosialisasi mengenai keberadaan taman nasional terus dilakukan.

Data-data yang diperoleh dari kegiatan PRA ini dijadikan dasar untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan menyusun rencana kerja. Data, informasi dan kebutuhan masyarakat dikonfirmasi Kembali kepada masyarakat melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang dilanjutkan dengan penyusunan rencana kerja kegiatan lapangan Program BERLARI. Kegiatan yang tersusun dalam perencanaan kerja adalah Pendidikan baca tulis orang dewasa, Pendidikan siaga bencana (kebakaran dan bencana di laut), Pelatihan Manajemen Koperasi, Kegiatan penyuluhan kesehatan, Bantuan alat Kesehatan,� Pemberian Makanan Tambahan untuk balita dan ibu hamil, Pelatihan manajemen Bank sampah, penggunaan patrakomposter untuk pengolahan sampah organik,� Ecobrik untuk Pengolahan sampah an-organik, serta pelatihan pengolahan dan pemasaran ikan asin untuk pemberdayaan ekonomi perempuan. Melalui pendekatan partisipatif ini tumbuh inisiatif local untuk menentukan sendiri bentuk kegiatan, fasilitas yang dibutuhkan, dan model pemberdayaan yang sesuai dengan masyarakat Dusun Sembilang.

Tahap pengorganisasian program merupakan tahap pembentukan kelompok. Pada proses ini diserahkan sepenuhnya pada masyarakat, pengelola program dan CDO hanya sebagai fasilitator. Pendekatan yang dilakukan dalam pembentukan kelompok ini adalah pendekatan partisipatif, dengan mengambil bentuk demokrasi local yaitu musyawarah untuk mencapai mufakat. Hal yang dimusyawarahkan adalah bentuk kelompok, anggota kelompok, kegiatan kelompok, kepengurusan kelompok, dan mekanisme pengambilan keputusan. Kelompok yang dibentuk terdiri dari kelompok pendidikan non formal, kelompok pemuda wisata alam, kelompok patrakomposter, dan kelompok perempuan untuk produksi ikan asin. Menurut (Junaidi, Yulius, Rosana, & Manullang, 2021) dinamika kelembagaan sangat berpengaruh pada upaya pengembangan usaha ekonomi masyarakat, karena pendekatan kelompok sangat tepat dalam proses pemberdayaan.

Pendekatan partisipatif pada tahap pengorganisasian ini telah memberikan jalan bagi upaya keterlibatan masyarakat dalam seluruh kegiatan program dan memberikan kesempatan untuk menghidupkan kembali nilai lokal seperti kebersamaan, rasa saling percaya dan praktik pengorganisasian yang telah hidup dimasyarakat secara turun temurun. Kohesi sosial sebagai kekuatan inti dalam organisasi masyarakat local tidak hanya terbangun dalam kedekatan territorial tetapi sering juga berdasarkan kekerabatan dan pengalaman bersama dalam mencari penghidupan. Dari cerita rakyat, sastra tutur dan tarian masyarakat Sembilang tergambar sejarah dan praktik kehidupan dalam menaklukkan gelombang laut untuk menafkahi keluarga menjadi modal social yang dapat diinternalisasikan dalam program pemberdayaan masyarakat yang modern. Pendekatan partisipatif memungkinkan kekayaan local ini bisa dieksplorasi dan memberikan wawasan bagi pengelola program untuk lebih memahami kondisi masyarakat local.

Pendekatan pada tahap implementasi Program BERLARI terutama dalam peningkatan kapasitas masyarakat dilakukan dilakukan secara partisipatif dalam bentuk pendidikan dialogis. Model pendidikan ini diterapkan pada kegiatan Pendidikan non formal (baca tulis orang dewasa), Pendidikan potensi bencana, Pendidikan Manajemen koperasi, pendidikan pengolahan sampah, dan Pendidikan ekonomi hasil laut untuk perempuan. Pendidikan dialogis menempatkan narasumber sebagai guru dan masyarakat sebagai murid dalam posisi yang setara. Guru ditempatkan sebagai subyek dan murid juga ditempatkan sebagai subyek Pendidikan, sedangkan obyeknya adalah realitas kehidupan yang ada di sekitar masyarakat.

Pendidikan dialogis ini memperkuat rasa percaya diri dan kemandirian bagi masyarakat, selain memberikan kesadaran kritis bahwa persoalan lokalitas terkoneksi dengan kebijakan dan relasi social, ekonomi dan politik yang lebih luas. Karena itu masyarakat perlu membangun jaringan di luar komunitas mereka. Hal ini selaras dengan pendapat (Leonardsson, 2022), jaringan horizontal antar masyarakat diperlukan untuk memperluas cakupan kegiatan mereka, setelah inisiatif lokal tentang keberlanjutan memperoleh keuntungan dari pengembangan rasa otonomi dan identitas diri, upaya dialog dan kolaborasi yang lebih luas perlu dilakukan untuk menyatukan para aktor untuk mempromosikan pembangunan yang berkelanjutan.

Selain itu dalam implementasi program dilakukan pendampinga. Peran pendamping pada kegiatan di Dusun Sembilang ini memiliki posisi penting, karena pendamping dapat memainkan setidaknya empat peran.� Menurut (Ife & Tesoriero, 2008) yaitu peran sebagai fasilitator, peran sebagai pendidik, peran perwakilan masyarakat dan peran teknis. Pendamping pada Program BERLARI tetap berpijak pada pendekatan partisipatif dalam melaksanakan keempat peran tersebut. Peran sebagai fasilitator dikaitkan dengan pengawalan kegiatan-kegiatan pasca pelatihan dan pemberian bantuan fisik agar penerapan hasil pelatihan dan penggunaan bantuan dapat lebih efektif seperti bantuan computer, alat kesehatan, patrakomposter, buku pelajaran, demplot, Rumah belajar, listrik tenaga Surya, dan penampungan air bersih. Peran sebagai pendidikan dilaksanakan oleh pendamping untuk meningkatkan kesadaran dan membangun sikap kritis. Peran perwakilan dilaksanakan oleh pendamping untuk berhubungan pihak luar seperti mengurus sertifikat halal produk ikan asin dan membangun jaringan pemasaran. Sedangkan peran teknis dilakukan untuk membantu manajemen kelompok dan koperasi, penggunaan teknologi yang dibantu untuk masyarakat.

Pendekatan monitoring dan evaluasi (Monev) Program BERLARI dilakukan dengan Participatory impact monitoring dan Evaluasi. Pendekatan ini berpijak pada kerangka kerja logis program yang telah disusun dalam perencanaan. Ada dua aspek penilaian yang dilakukan yaitu, pertama; penilaian berdasarkan aktivitas, yang terdiri dari penilaian dari sisi input, aktivitas dan output. Kedua; penilaian berdasarkan dampak, yang terdiri dari penilaian outcome program serta dampak langsung dan tidak langsung.

Komponen dalam program yang dijadikan sumber informasi dari kegiatan monev partisipatif ini terdiri dari Stakeholders, Target group, Beneficiaries, dan Partners. Stakeholders adalah pihak yang memiliki kepentingan langsung atau tidak langsung dalam program BERLARI, yang terdiri dari pemerintahan desa atau dusun, tokoh masyarakat, kelompok-kelompok yang ada dimasyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat. Target Group adalah individua tau organisasi yang memperoleh manfaat langsung dari program yang terdiri dari anggota kelompok sasaran, koperasi dan masyarakat yang terlibat dalam program. Beneficiaries adalah individu, kelompok, atau organisasi yang memperaleh manfaat laangsung atau tidak langsung dalam program di luar target group yang terdiri dari pemerintahan dusun, Sekolah, Usaha Kecil di tingkat dusun, perguruan tinggi. Sedangkan Partners adalah individu atau organisasi yang ikut bekerjasama dalam mencapai tujuan program yang terdiri dari Taman Nasional Berbak Sembilang dan Yayasan Spora.

Metode partisipatif pada monev ini dilakukan menggunakan teknik yang berbasis lapangan seperti Observasi berpartisipasi, teknik yang berbasis pertemuan seperti Focus Group Discussion (FGD). Pertemuan masyarakat dan wawancara dengan tokoh kunci. Melalui pendekatan ini masyarakat Dusun Sembilang mulai membangun inisiatif untuk merumuskan kembali mengenai ukuran subjective wellbeing berdasarkan nilai-nilai local dan harapan kebahagian dimasa yang akan datang. Kebahagian bagi masyarakat sembilang tidak hanya diukur dari indicator ekonomi, tetapi diukur juga dari nilai-nilai social dan aspek sepiritual. Berdasarkan temuan ini Pendekatan kholistik dan terpadu dalam Program BERLARI tetap perlu dipertahankan.

Selain itu pendekatan partisipatif dalam monitoring dan evaluasi perlu terus menerus dilakukan karena menurut (Diluxshana, Nanthagopan, & Thirugnanasampanthar, 2020), dalam program pengembangan masyarakat partisipasi hanya tinggi dalam tahap inisiasi dan pelaksanaan, sebaliknya rendah dalam tahap evaluasi, termasuk dalam perencanaan. Rendahnya partisipasi pada penyusunan prencanaan dan monev dapat disebabkan relasi kuasa. Menerut (Ako, 2018), pendekatan partisipatif masih menghadapi tantangan operasional seperti potensi jebakan pengambilan keputusan bersama dalam kelompok pemangku kepentingan yang mewakili beragam posisi sosial dan latar belakang terdapat ketidakseimbangan kekuatan di antara para aktor yang mengancam integritas strategi partisipatif�

 

KESIMPULAN

  1. Pengelolaan program BERLARI dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif mulai dari tahap perencanaan, pengorganisasian, implementasi, serta monitoring dan evaluasi dengan berbagai teknik dan metode yaitu Participatory Rural Appraisal (PRA), Musyawarah Mufakat, Focus Group Discussion (FGD), Pendidikan Dialogis, Pendampingan, serta Participatory impact monitoring dan Evaluasi.
  2. Pendekatan partisipatif yang dilakukan telah menumbuhkan inisiatif local untuk menentukan sendiri bentuk kegiatan, fasilitas yang dibutuhkan, model pemberdayaan, ukuran keberhasilan, serta menghidupkan kembali nilai-nilai local seperti kebersamaan, rasa saling percaya dan praktik pengorganisasian yang memperkuat kohesi social.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ako, Joshua Ndip. (2018). Participatory Development: A study of community and citizen participation in development and policymaking in Stockholm, V�rmdo and Bortkyrka municipalities in Sweden. Malm� universitet/Kultur och samh�lle.

 

Aresteria, Maya, & Mege, Stacia Reviany. (2020). PERAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DALAM MENINGKATKAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA GEMAWANG KECAMATAN JAMBU. Edupreneur: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bidang Kewirausahaan, 3(2).

 

Boy, Jayawibawa Ketut Ngurah, Djinar, Setiawina Nyoman, Urmila, Dewi Made Henny, & Marhaeni, AAIN. (2019). The effect of stakeholders on village community creativity and community welfare of coastal village in The Bali Province, Indonesia. Russian Journal of Agricultural and Socio-Economic Sciences, 93(9), 206�215.

 

Diluxshana, T., Nanthagopan, Y., & Thirugnanasampanthar, S. (2020). Participatory approaches in community development projects: An exploratory study of NGOs in northern province.

 

Fauzie, Willy Zoel, & Sariffuddin, Sarifffuddin. (2017). The role local initiatives in community based disaster risk management in Kemijen, Semarang City. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 70(1), 12047. IOP Publishing.

 

Frendy, A. A. dan Feryanto. (2022). Pemanfaatan Presidensi Indonesia Dalam G20 Untuk Pembangunan Agribisnis Hijau Dalam Mencapai Dekarbonisasi Indonesia 2060. Policy Brief Pertanian, Kelautan, Dan Biosains Tropika, 4(3). Retrieved from Direktorat Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis (DPIS), IPB University

 

Ife, Jim, & Tesoriero, Frank. (2008). Community development: Alternatif pengembangan masyarakat di era globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 265.

 

Ilic, Silvana, Petrovic, Tanja, & Djukic, Gordana. (2022). Eco-innovation and Sustainable Development. Problemy Ekorozwoju, 17(2).

 

Indahsari, S.R., Suhendra A.A., Irawan P., Junaidi Y. (2022). Analysis Of Integrated Community Empowerment On Bahari Sembilang Mandiri (BERLARI) Program. Journal of Agricultural and Socio-Economic Sciences (RJOAS), 3(8), 128.

 

Junaidi, Yulian, Yulius, Yulius, Rosana, Elly, & Manullang, Ogi Falma. (2021). Farmer institutional dynamics in vegetable agribusiness development efforts in kelurahan talang keramat, Banyuasin District. Jurnal Lahan Suboptimal: Journal of Suboptimal Lands, 10(2), 178�186.

 

Kitphati, Rungrueng, Seangkeao, Khampon, Muangyim, Kamolnat, & Nak-ai, Worayuth. (2022). Participatory development in community health for the Pgazkoenyau Ethnic: A case study in an ethnic community in Thailand. The Open Public Health Journal, 15(1).

 

Leonardsson, H. and Habyarimana J. B. (2022). Local Initiatives: Factors in and Lessons for Sustainable Development. The Swedish Institute of International Affairs.

 

Rodon, Thierry. (2017). Development in Nunavik: How regional and local initiatives redefine sustainable development in Nunavik. American Review of Canadian Studies, 47(2), 176�188.

 

Saleh, Rahmat, & Triyanto, Triyanto. (2022). Pemberdayaan Masyarakat dalam Meningkatkan Ekonomi melalui Tambak Ikan Desa Babul Makmur Kabupaten Simeulue. Journal Locus Penelitian Dan Pengabdian, 1(3), 100�104.

 

Sardana, Deepak, Gupta, Narain, Kumar, Vikas, & Terziovski, Mile. (2020). CSR �sustainability�practices and firm performance in an emerging economy. Journal of Cleaner Production, 258, 120766.

 

Sismudjito dan Siregar, A. Z. (2016). Social Motivation and People�s Participation In Development of Rural Development In District of West Nias Province of North Sumatra. International Journal of Scientific & Technology Research, 5(10), 47�58.

 

Sjarkowi, Fachrurrozie. (2019). Public and Private Partnership for Sustainable Resource Use Initiative (Strategically Comprehensive Management To Back Up Formal Status of The �Cagar Biosfir Berbak-Sembilang�as Another Targeting Site for The World Biosphere). IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 298(1), 12037. IOP Publishing.

 

Sriati. (2022). Pemberdayaan Masyarakat. Unsri Press.

 

Suhariyanto, Joko, Zainal, Andri, & Budiarta, Kustoro. (2018). Pemberdayaan sumber daya lokal dalam pengelolaan sektor industri kreatif di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe: Studi kualitatif atas peran corporate social responsibility (CSR) PT. Pertamina (persero) marketing operation region (MOR) i�terminal bahan bakar minyak (TBBM) Lhokseumawe. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 24(3), 792�797.