DETERMINAN
KEPARAHAN KEMISKINAN PROVINSI DI PULAU JAWA TAHUN
2010-2020
Risa
Anindita1, Astuti Rahayu2, Sri Suharsih3
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN
�Veteran� Yogyakarta1,2,3
[email protected]1, [email protected]2,
[email protected]3
![]()
Diterima: 02-06-2022��������������������� ��������������� Review: 07-06-2022������������������������ ��������������� Publish: 14-06-2022
![]()
Abstrak:
Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis determinan Keparahan Kemiskinan Provinsi
di Pulau Jawa tahun 2010-2020. Penelitian menggunakan data sekunder yaitu Upah
Minimum Provinsi, Tingkat Pengangguran Terbuka, Angka Partisipasi Sekolah usia
16-18 tahun, dan Kepadatan Penduduk. Data dalam penelitian diperoleh dari
publikasi website Badan Pusat Statistik (BPS) dengan sampel 6 provinsi yaitu
Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi
Jawa Timur, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Banten selama tahun 2010-2020.
Metode analisis penelitian ini menggunakan regresi data panel. Analisis model
terbaik dari tiga pendekatan model ialah Fixed Effect Model (FEM). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa variabel Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan
Kepadatan Penduduk berpengaruh positif terhadap Keparahan Kemiskinan dan
variabel Upah Minimum Provinsi (UMP) berpengaruh negatif, sementara variabel
Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 16-18 tahun tidak berpengaruh terhadap
Keparahan Kemiskinan provinsi di Pulau Jawa tahun 2010-2020.
Kata kunci:
Angka Partisipasi Sekolah, Kepadatan Penduduk, Keparahan Kemiskinan, Tingkat
Pengangguran Terbuka, Upah Minimum Provinsi
Abstract:
This
research aims to analyze the determinants of poverty severity in the Province
in Java Island 2010-2020. The study uses secondary data, namely the Provincial
Minimum Wage, Open Unemployment Rate, School Participation Rate age 16-18 years
old, and Population Density. The data in this study were obtained from the
publication of Central Statistics Agency (BPS) website with a sample of 6
provinces, namely DKI Jakarta Province, West Java Province, Yogyakarta Special
Region, East Java Province, Central Java Province, and Banten Province during
2010-2020. The method of analysis of this study uses panel data regression. The
best model analysis of three model approaches is Fixed Effect Model (FEM). The
result showed that the Open Unemployment Rate (TPT) and Population Density
variables had a positive effect on the Poverty of Severity and the Provincial
Minimum Wage (UMP) variable had a negative effect, while the School
Participation Rate age 16-18 years had no effect on the Poverty Severity the
Province in Java Island 2010-2020.
Keyword: �School Participation Rate, Population Density,
Poverty Severity, Open Unemployment Rate, Provincial Minimum Wage
���������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding: Risa
Anindita
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Negara-negara yang sedang berkembang
atau developing country seperti negara Indonesia, kemiskinan merupakan
suatu permasalahan yang masih dialami setiap wilayah dan menjadi fenomena
ekonomi. Istilah kemiskinan muncul ketika ketidakmampuan seseorang dalam
memenuhi standar hidup minimum atau memenuhi kebutuhan secara dasar mencakup
pakaian, makanan, dan tempat tinggal sesuai dengan tingkat kelayakan hidup.
Setiap wilayah atau pun provinsi memiliki penyebab dan faktor-faktor kemiskinan
yang berbeda dilihat dari pengukuran, persentase, dan jumlahnya. Kemiskinan
menjadi salah satu ukuran penting untuk mengetahui tingkat kesejahteraan suatu
rumah tangga dan sebagai suatu ukuran agregat di suatu wilayah untuk menentukan
tingkat kemiskinan (Michael & Smith, 2011). Keberhasilan suatu wilayah dalam
pembangunan dapat dilihat dari salah satu indikatornya yaitu terkait
kemiskinan, jika kemiskinan semakin rendah maka program pembangunan di suatu
wilayah tersebut telah berhasil meningkatkan kesejahteraan hidup penduduk
miskin atau dapat mengurangi penduduk miskin. Faktanya dengan program
pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka pengambilan keputusan
ekonomi untuk menangani kemiskinan absolut maupun kemiskinan relatif di Pulau
Jawa belum dapat mengurangi jumlah penduduk miskin.

Pulau
Jawa berada pada urutan pertama dengan jumlah penduduk miskin tertinggi sebesar
14.052.800 jiwa. Jumlah penduduk miskin tertinggi dari lima
pulau yang ada di Indonesia, hal ini akan berakibat pada meningkatnya keparahan
kemiskinan pada enam provinsi di Pulau Jawa. Enam provinsi di Pulau Jawa
tersebut ialah Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Daerah Istimewa
Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Banten.
Terjadinya peningkatan jumlah penduduk miskin karena salah satunya disebabkan
oleh dampak eksternal pandemi Covid-19. Pandemi yang terjadi membatasi
mobilitas penduduk secara besar sehingga berpengaruh langsung terhadap
perekonomian dan sektor yang mendukung pembangunan.
Gambar 1.
Keparahan Kemiskinan Provinsi di Pulau Jawa tahun 2018-2020 (persen)
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2021
Menurut Badan Pusat Statistik (2021),
kemiskinan terparah dapat didefinisikan sebagai suatu
gambaran penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin dalam kurun waktu
tertentu, apabila nilai indeks semakin tinggi maka perbedaan pengeluaran
diantara penduduk miskin semakin meningkat. Pada gambar 1. menunjukkan
keparahan kemiskinan di Pulau Jawa mengalami kenaikan pada tahun 2020,
sedangkan tahun 2019 keparahan kemiskinan mengalami penurunan dari tahun 2018.
Pada setiap provinsi di Pulau Jawa
terdapat beberapa faktor determinan yang berpengaruh terhadap keparahan
kemiskinan. Selain faktor kebijakan daerah atau wilayah masing-masing dalam
menangani kemiskinan, terdapat faktor lain yang diduga memiliki pengaruh
terhadap keparahan kemiskinan di suatu provinsi. Faktor-faktor tersebut ialah
Upah Minimum Provinsi (UMP), setiap tahunnya upah mengalami peningkatan atau
perubahan. UMP yang diberikan kepada para pekerja berpengaruh terhadap konsumsi
atau pengeluaran dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, apabila hal ini tidak
dapat dilakukan oleh pekerja atau pun buruh akan
berdampak meningkatnya keparahan kemiskinan. Terkait dengan peningkatan
keparahan kemiskinan, faktor lain yang berpengaruh terhadap kemiskinan yaitu
Tingkat Pengangguran Terbuka. TPT adalah persentase jumlah pengangguran
terhadap jumlah angkatan kerja. Tingkat pengangguran terbuka adalah
pengangguran yang terjadi karena pertambahan lowongan pekerjaan lebih rendah
dari pertambahan tenaga kerja. Selanjutnya faktor yang diduga berpengaruh
terhadap keparahan kemiskinan yaitu Angka Partisipasi Sekolah. Upaya dalam
mengatasi kemiskinan di Pulau Jawa tidak terlepas dari pendidikan. Angka
partisipasi sekolah usia 16-18 tahun diharapkan dapat
meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui partisipasi siswanya dalam
menuntut ilmu lebih lanjut sebagai modal menghadapi tingkat persaingan dan
mencari lapangan pekerjaan. Faktor terakhir yaitu terkait Kepadatan Penduduk
yang juga menjadi permasalahan demografi dalam kemiskinan. Kepadatan penduduk
yang terpusat di Pulau Jawa membuat setiap individu menjadi bersaing dalam
mendapat pekerjaan, karena disatu sisi lowongan pekerjaan yang diberikan
terbatas dan di sisi lain angkatan kerja yang semakin bertambah jumlahnya.
Tingginya antusias dalam mencari pekerjaan sehingga membuat semakin banyak
pengangguran yang akhirnya mengakibatkan peningkatan keparahan kemiskinan di
wilayah padat penduduk.
(Arsyad, 2010) mendefinisikan kemiskinan sebagai fenomena
ekonomi yang dialami di berbagai negara, terutama negara-negara berkembang di
Asia, salah satunya Indonesia. Kemiskinan yang sifatnya multidimensional atau
karena bermacam-macamnya kebutuhan manusia sehingga dari aspek primer berupa
miskin asset, kurangnya pengetahuan serta ketrampilan dan dilihat dari aspek
sekunder berupa minim akan jaringan sosial,
sumber-sumber keuangan serta informasi. Keseluruhan dari aspek primer dan
sekunder ini menandakan kemiskinan dapat ditandai dengan kurangnya gizi,
perawatan kesehatan, sanitasi atau air, perumahan yang layak dan tingkat
pendidikan.
Menurut Sharp et al., (2000:173-191)
dalam (Kuncoro & Riyardi, 2014). Menyatakan penyebab kemiskinan dapat ditimbulkan dari sisi
ekonomi. Penyebab kemiskinan diklasifikasikan menjadi tiga yaitu secara mikro
kemiskinan muncul karena ketidaksamaan kepemilikan sumber daya sehingga
menimbulkan ketimpangan pendapatan. Kedua, kemiskinan dapat disebabkan karena
kualitas sumber daya manusia yang rendah dan mendapat upah yang rendah. Ketiga,
kemiskinan dapat timbul dari perbedaan dalam akses modal yang dimiliki oleh
seseorang.
Teori lingkaran setan kemiskinan atau vicious
circle of poverty pertama dikemukakan oleh ekonom pembangunan yaitu Ragnar
Nurkse. Menurut (Kuncoro & Riyardi, 2014) teori lingkaran kemiskinan merupakan
kesatuan teori yang memiliki pengaruh antara satu kondisi dengan kondisi
lainnya pada suatu negara terkait sulitnya meningkatkan pembangunan ekonomi.
Teori ini juga menjelaskan bahwa terdapat dua jenis lingkaran kemiskinan dari
segi penawaran dan permintaan yang dapat menghalangi negara berkembang seperti
Indonesia. Teori lain terkait kemiskinan dari Gunnar Myrdall menjelaskan
permasalahan utama dari adanya kemiskinan yaitu disebabkan dari faktor
pendidikan, rendahnya kesehatan seperti masih adanya gizi buruk dan pengaruh
dari kebutuhan dasar individu yang belum tercukupi.

Gambar 2.
Lingkaran Kemiskinan Menurut Gunnar Myrdall
Sumber: Gunnar Mydrall dalam Damanhuri (2010)
Upah Minimum Provinsi dan Keparahan
Kemiskinan Badan Pusat Statistik (2021),
mendefinisikan upah minimum sebagai batas upah terkecil yang harus dikeluarkan
perusahaan untuk para pekerja dan telah ditetapkan oleh setiap wilayah melalui
undang-undang dengan tujuan agar masyarakat berpenghasilan rendah dapat lebih
sejahtera melalui pemberian upah. Menurut (Isman, 2020), Upah Minimum Provinsi yang terus
meningkat akan meningkatkan konsumsi masyarakat dan menurunkan kemiskinan
sesuai dengan teori upah alami merupakan teori yang dikemukakan oleh David
Ricardo yang mendefinisikan upah pekerja bergantung terhadap kebutuhan minimum
pekerja dan kebutuhan pekerja tergantung pada lingkungan, sehingga besarnya
tingkat upah yang diberikan didasarkan pada biaya yang dikeluarkan untuk
kelangsungan hidup pekerja beserta keluarganya dan disesuaikan dengan kemampuan
perusahaan.
Tingkat
Pengangguran Terbuka dan Keparahan Kemiskinan
Menurut (Sundari, 2019), pengangguran diartikan sebagai
seseorang yang aktif mencari kerja pada suatu tingkat upah tertentu namun tidak
memperoleh pekerjaan akibat kurangnya permintaan kerja dibandingkan penawaran
kerja ketidakseimbangan ini berpengaruh terhadap peningkatan pengangguran
terbuka. Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh(C. L. Kien et al., 2014) bahwa negara berkembang memiliki
ciri-ciri yaitu memiliki kelebihan buruh, sumber daya alam belum diolah secara
maksimal, banyak pengangguran dan tingkat pertumbuhan penduduk tinggi. Teori (N. T. Kien, 2014) Juga menyatakan permasalahan yang
muncul dalam bidang ketenagakerjaan merupakan ketidakseimbangan antara
permintaan tenaga kerja (demand for labor) dan penawaran tenaga kerja (supply
for labor) karena ketidakseimbangan tersebut lebih besar penawaran daripada
permintaan terhadap tenaga kerja.
APS dan
Keparahan Kemiskinan
Angka partisipasi sekolah merupakan
perbandingan antara jumlah siswa kelompok usia sekolah
tertentu yang bersekolah pada berbagai jenjang pendidikan dengan penduduk
kelompok usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase. Semakin
tinggi APS berarti semakin banyak siswa usia sekolah
yang bersekolah di suatu daerah. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh (Simanjuntak, 2001) dalam
teori Human Capital menyebutkan setiap tambahan satu tahun sekolah
berarti di satu pihak, meningkatkan kemampuan kerja dan tingkat penghasilan
seseorang.
Kepadatan
Penduduk dan Keparahan Kemiskinan
Menurut Mantra (2007) dalam (Putri et al., 2019), mendefinisikan kepadatan penduduk
adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah yang dihuni.
Menurut Arsyad (2016:341), teori Malthus merupakan teori yang dikemukakan oleh
Thomas Robert Malthus. Teori ini didalamnya menggambarkan secara sistematis
mengenai hubungan dan akibat dari adanya pertumbuhan penduduk. kondisi penduduk di suatu daerah tergantung pada kondisi
sosial dan ekonomi.
Tujuan dari penelitian ini untuk
menganalisis pengaruh UMP, TPT, APS umur 16-18 tahun dan kepadatan penduduk
terhadap keparahan kemiskinan provinsi di Pulau Jawa tahun 2010-2020. Terdapat
manfaat secara akademis dan kebijakan untuk memberikan masukan atau sebagai
bahan kajian ulang oleh pemerintah dalam upaya mengurangi tingkat keparahan
kemiskinan dan pengambilan kebijakan yang sesuai. Kebaruan dalam penelitian ini
dengan penelitian sebelumnya terletak pada variabel independen yang digunakan
yaitu upah minimum provinsi, tingkat pengangguran terbuka, angka partisipasi
sekolah usia 16-18 tahun dan kepadatan penduduk. Perbedaan
lainnya terletak pada penggunaan periode waktu dan lokasi penelitian.
METODE
PENELITIAN
Berdasarkan data yang digunakan, jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. data yang digunakan dalam penelitian berbentuk angka yang diperoleh dari sampel populasi penelitian, kemudian data dianalisis sesuai dengan metode statistik yang sesuai untuk kemudian diinterpretasikan. �Menurut tingkat eksplanasinya, penelitian ini tergolong dalam penelitian asosiatif. Dalam menganalisis data kuantitatif penelitian menggunakan analisis regresi data panel dengan metode Fixed Effect Model. Variabel independen yang digunakan oleh penelitian adalah upah minimum provinsi, tingkat pengangguran terbuka, angka partisipasi sekolah usia 16-18 tahun, dan kepadatan penduduk dan keparahan kemiskinan sebagai variabel dependen. Model yang digunakan dalam analisis penelitian dengan persamaan sebagai berikut:
Yit = β0 + β1X1it
+ β2X2it + β3X3it + β4X4it
+ e��������� (1)
Dimana β= koefisien regresi variabel dependen, Y= Keparahan
Kemiskinan, X1= Upah Minimum Provinsi, X2= Tingkat
Pengangguran Terbuka, X3= Angka Partisipasi Sekolah usia 16-18 tahun, X4= Kepadatan Penduduk, e= Error
Term, i=Cross section, t=Time series
Uji
Statistik
Uji ini digunakan untuk mengetahui
pengaruh variabel independen (bebas) terhadap variabel dependen (terikat)
secara parsial, dimana uji t ini dapat menggambarkan seberapa signifikan
pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Kemudian dilakukan uji
F disini digunakan untuk melihat pengaruh seluruh variabel bebas yang ada dalam
model secara simultan atau bersama-sama dan terakhir uji Goodness of Fit
atau R2 untuk mengetahui seberapa besar variasi yang terjadi dalam variabel
tidak bebas yang dapat dijelaskan oleh variasi yang terdapat pada variabel
bebas.
Uji Asumsi
Klasik
Uji asumsi klasik merupakan uji untuk
mengetahui pengaruh variabel bebas yaitu X dengan variabel terikat (Y) apakah
terdapat masalah di dalam data regresi. Model regresi yang terbaik ialah model
estimasi yang tidak bias (Best Linear Unbiased Estimator) atau BLUE.
Definisi
Operasional Variabel
Dalam penelitian terdapat definisi
operasional variabel yaitu (1) Badan Pusat Statistik (2021) menyatakan
keparahan kemiskinan merupakan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran
diantara penduduk miskin, semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi
ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin dengan rasio 0 hingga 1 dan
menggunakan satuan persen. (2) Upah Minimum Provinsi merupakan bentuk rupiah
yang dibayarkan setiap satu bulan sekali kepada pekerja yang berlaku untuk
setiap provinsi. (3) Tingkat Pengangguran Terbuka adalah suatu keadaan
seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja dan ingin mendapatkan pekerjaan
tetapi belum mendapat pekerjaan dengan menggunakan satuan hitung persen. (4)
Angka Partisipasi Sekolah merupakan perbandingan antara anak yang masih
bersekolah dengan jumlah penduduk usia 16-18 tahun
dengan perhitungan menggunakan persen. (5) Kepadatan Penduduk merupakan
banyaknya penduduk per satuan luas dengan satuan km2/jiwa. Data yang digunakan
dalam penelitian menurut 6 provinsi di Pulau Jawa dari tahun 2010-2020 dan satuan
data yang digunakan adalah tahunan.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Hasil uji pemilihan data panel
menggunakan uji chow dengan nilai cross section F sebesar
8.591069 dengan nilai probabilitas sebesar 0.0000 < α (0,05) maka
menerima Ha atau menolak H0 sehingga hasil tersebut menunjukkan bahwa model
terbaik yang digunakan ialah Fixed Effect Model. Berdasarkan hasil uji
hausman diketahui nilai Cross-section random sebesar 22.928828 dengan
nilai probabilitas Cross-section random sebesar 0.0001 < α (0,05), maka pengambilan keputusan model terbaik yang
digunakan yaitu Fixed Effect Model. Hasil uji asumsi klasik yaitu uji
normalitas menunjukkan nilai Jarque-Berra sebesar 0,883060 dapat
disimpulkan bahwa data terdistribusi normal. Selanjutnya uji multikolinearitas
menunjukkan nilai korelasi koefisien antar variabel independen kurang dari 0,8 maka tidak terjadi multikolinearitas dan sebaliknya jika
nilai korelasi koefisiensi > 0.8 maka menolak H0 dan disimpulkan data
terdapat multikolinearitas. Untuk uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa
nilai probabilitas absolut residual diatas nilai α (0,05).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa data tidak terdapat masalah
heteroskedastisitas, dan untuk uji autokorelasi menunjukkan bahwa nilai DW
terletak diantara dU dan 4-dU maka dU (1.732) < DW (1.907023) < 4-dU
(2.268) sehingga ini dapat disimpulkan menerima H0 dan tidak terdapat masalah
autokorelasi.
Penelitian menguji tentang pengaruh
UMP, TPT, APS, dan Kepadatan Penduduk terhadap keparahan kemiskinan di Pulau
Jawa. Dari hasil pengujian persamaan dengan menggunakan Eviews 9 dapat terlihat
variabel independen mempengaruhi variabel dependen. Sehingga diperoleh
persamaan regresi sebagai berikut:
Y=-0.001051
- 0.000000000719UMP+0.011276 TPT-0.000744APS+0.00000163Kapadatan Penduduk
Berdasarkan hasil penelitian,
persamaan menunjukkan UMP berpengaruh negatif terhadap keparahan kemiskinan di
Pulau Jawa dengan koefisiensi regresi sebesar -0.000000000719 Ketika UMP naik
satu persen maka keparahan kemiskinan akan turun
sebesar 0.000000000719 dengan asumsi ceteris paribus. Hasil penelitian
persamaan menunjukkan TPT berpengaruh positif terhadap keparahan kemiskinan di
Pulau Jawa dengan koefisien regresi sebesar 0.011276. Hasil penelitian dari
persamaan pada rumus diatas menunjukkan APS berpengaruh negatif terhadap
keparahan kemiskinan di Pulau Jawa dengan koefisien regresi sebesar -0.000744.
Hasil persamaan pada rumus diatas menunjukan Kepadatan penduduk berpengaruh
positif terhadap keparahan kemiskinan di Pulau Jawa dengan koefisien regresi sebesar
0.00000163.
Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi pada tabel 1 dibawah ini menunjukkan bahwa
nilai R-squared sebesar 0.974817. Nilai koefisien ini menunjukkan bahwa variasi
naik turunnya keparahan kemiskinan dapat dijelaskan oleh variasi naik turunnya
upah minimum provinsi, tingkat pengangguran terbuka, angka partisipasi sekolah
usia 16-18 tahun, dan kepadatan penduduk yaitu sebesar 97,48% dan sisanya
sebesar 2,52% dijelaskan oleh variabel lain diluar model.
Tabel 1. Hasil Estimasi Fixed
Effect Model (FEM)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Variable |
Coefficient |
Std. Error |
t-Statistic |
Prob. |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
APS |
-0.000744 |
0.001255 |
-0.592547 |
0.5559 |
|
KEPADATAN_PENDUDUK |
1.63E-06 |
3.26E-07 |
5.009660 |
0.0000 |
|
TPT |
0.011276 |
0.002471 |
4.563840 |
0.0000 |
|
UMP |
-7.19E-10 |
1.58E-10 |
-4.540561 |
0.0000 |
|
C |
-0.001051 |
0.001819 |
-0.577616 |
0.5658 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Effects
Specification |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Cross-section fixed (dummy
variables) |
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Weighted
Statistics |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
R-squared |
0.974817 |
Mean dependent var |
5.672061 |
|
|
Adjusted R-squared |
0.970769 |
S.D. dependent var |
4.227949 |
|
|
S.E. of regression |
0.987745 |
Sum squared resid |
54.63587 |
|
|
F-statistic |
240.8546 |
Durbin-Watson stat |
1.907023 |
|
|
Prob(F-statistic) |
0.000000 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Unweighted
Statistics |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
R-squared |
0.853886 |
Mean dependent var |
0.003832 |
|
|
Sum squared resid |
3.33E-05 |
Durbin-Watson stat |
1.431098 |
|
|
|
|
|
|
|
Berdasarkan hasil regresi pada tabel
1, diketahui probabilitas untuk upah minimum provinsi sebesar 0.000 dengan
nilai koefisien 0.000000000719. Maknanya variabel Upah Minimum Provinsi
berpengaruh negatif terhadap Keparahan Kemiskinan. Persentase perubahan kenaikan
Upah Minimum Provinsi sebesar 1% akan mempengaruhi penurunan persentase
perubahan keparahan kemiskinan provinsi di Pulau Jawa sebesar 0.000000000719
ceteris paribus, atau dapat dijelaskan bahwa setiap peningkatan upah minimum
provinsi sebesar 1 juta rupiah oleh pemerintah maka keparahan kemiskinan pada 6
provinsi di Pulau Jawa akan berkurang 0.000000000719 persen. Hal ini berarti
bahwa dengan meningkatnya upah minimum provinsi berpengaruh dalam menurunkan
keparahan kemiskinan provinsi di Pulau Jawa. Sesuai dengan penelitian Isman
(2020) variabel upah minimum provinsi berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap 15 provinsi di Indonesia termasuk Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawati
et al (2017), juga menunjukkan bahwa upah minimum provinsi berpengaruh negatif
terhadap kemiskinan di Indonesia. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori
yang dikatakan (Sharp, 2000) dalam (Kuncoro & Riyardi, 2014) Kemiskinan muncul karena ketidakseimbangan
kepemilikan sumber daya yang menyebabkan distribusi pendapatan tidak merata dan
pada teori nurkse tingginya tingkat kemiskinan akan mengakibatkan produktivitas
yang dihasilkan oleh masyarakat menjadi rendah.
Tingkat
Pengangguran Terbuka
Hipotesis dalam penelitian ini
menyatakan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka berpengaruh positif terhadap
keparahan kemiskinan. Hasil estimasi regresi besarnya nilai probabilitas
tingkat pengangguran terbuka yaitu 0.000 dengan nilai koefisien 0.011276.
Maknanya hasil estimasi regresi sesuai dengan hipotesis bahwa Tingkat
Pengangguran Terbuka berpengaruh positif terhadap keparahan kemiskinan.
Persentase perubahan kenaikan tingkat pengangguran terbuka sebesar 1% akan mempengaruhi kenaikan persentase perubahan keparahan
kemiskinan pada provinsi di Pulau Jawa sebesar 0.011276% ceteris paribus.
Penelitian ini sejalan dengan yang
dilakukan oleh(Weni, 2020) menyatakan bahwa tingkat pengangguran
terbuka berpengaruh positif terhadap kemiskinan di Sumatera Utara. Penelitian
ini didukung juga dengan penelitian yang dilakukan oleh (Agustina et al., 2018), menyatakan tingkat pengangguran
terbuka di Provinsi Aceh berpengaruh positif terhadap kemiskinan karena
beberapa hal yaitu banyak penduduk Aceh usia kerja masuk ke pasar tenaga kerja
namun tidak mampu terserap dengan baik karena lapangan pekerjaan di Provinsi
Aceh masih sangat sedikit baik sektor informal maupun sektor industri apabila
sektor formalnya harus menunggu kebijakan rekrutmen dari pemerintah.Angka
Partisipasi Sekolah usia 16-18 tahun
Berdasarkan hasil regresi pada tabel
1, diketahui nilai probabilitas untuk angka partisipasi sekolah usia 16-18 tahun sebesar 0.5559 dengan nilai koefisien
-0.000744. Maknanya variabel APS Usia 16-18 tahun berpengaruh negatif terhadap
Keparahan Kemiskinan provinsi di Pulau Jawa. Sejalan dengan penelitian dari(Kurniawan, 2018) menyatakan bahwa nilai probabilitas
pendidikan di Kota Surabaya Tahun 2007-2016 sebesar 0,4967>0,05 dan nilai
koefisien sebesar -0.030581, artinya bahwa Angka Partisipasi Sekolah Usia 16-18
tahun tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kemiskinan. Hasil penelitian
ini berbeda dengan hipotesis karena dilihat dari karakteristik wilayah Pulau
Jawa merupakan Pulau dengan prosedur akses pendidikan yang mudah. Enam provinsi
yang berada di Pulau Jawa memiliki berbagai banyak pilihan Sekolah Menengah
Atas (SMA) dengan kategori favorit dan salah satu provinsi dari enam provinsi
yang ada di Pulau Jawa memiliki julukan kota pelajar yaitu Daerah Istimewa
Yogyakarta sehingga menjadi peluang kemudahan dalam akses pendidikan.
Kepadatan
Penduduk
Berdasarkan hasil regresi pada tabel
1, nilai probabilitas untuk kepadatan penduduk sebesar 0.0000 dengan nilai
koefisien 0.00000163. Maknanya variabel kepadatan penduduk berpengaruh positif
terhadap Keparahan Kemiskinan provinsi di Pulau Jawa. Persentase perubahan
kenaikan kepadatan penduduk sebesar 1% akan mempengaruhi kenaikan persentase
perubahan keparahan kemiskinan provinsi di Pulau Jawa sebesar 0.000000163%
ceteris paribus, atau dapat dijelaskan bahwa setiap peningkatan kepadatan
penduduk sebesar 1 km2/jiwa maka keparahan kemiskinan pada 6 provinsi di Pulau
Jawa akan bertambah 0.00000163 persen. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Nauli (2018) dimana variabel kepadatan penduduk
berpengaruh positif terhadap kemiskinan di Kabupaten Serdang Bedadai. Namun,
berbeda dengan penelitian Putri et al., (2019) yang menyatakan bahwa kepadatan
penduduk di Provinsi Jambi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap
kemiskinan.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian yang telah
dijelaskan pada bab sebelumnya dengan hasil analisis
model regresi data panel menggunakan Fixed Effect Model dapat
disimpulkan sebagai berikut: (1) Variabel Upah Minimum Provinsi berpengaruh
negatif terhadap Keparahan Kemiskinan provinsi di Pulau Jawa tahun 2010-2020.
Hal ini disimpulkan bahwa pekerja yang menerima upah atau balas jasa belum sesuai
dalam pemberian upah, karena meski nilai upah minimum telah ditetapkan dan
kenaikan upah telah dilakukan masih terdapat perbedaan pemberian upah
berdasarkan tingkat produktivitas dan jenis pekerjaan. (2) Variabel Tingkat
Pengangguran Terbuka berpengaruh positif terhadap Keparahan Kemiskinan provinsi
di Pulau Jawa tahun 2010-2020. Bertambahnya pengangguran pada 6 provinsi di
Pulau Jawa tahun 2020 menunjukkan kurangnya lapangan pekerjaan untuk
meningkatkan peluang para pekerja dalam melakukan kegiatan ekonomi dan produksi
barang maupun jasa untuk meningkatkan kesejahteraan. (3) Variabel Angka
Partisipasi Sekolah (APS) usia 16-18 tahun tidak
berpengaruh terhadap Keparahan Kemiskinan provinsi di Pulau Jawa tahun
2010-2020. Hal ini dikarenakan akses pendidikan di 6 provinsi yaitu provinsi
DKI Jakarta, Jawa Barat, Provinsi DIY, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa
Timur dan Provinsi Banten tergolongan mudah. (4) Variabel Kepadatan Penduduk
berpengaruh positif terhadap Keparahan Kemiskinan provinsi di Pulau Jawa tahun
2010-2020. Hal ini dapat disimpulkan bahwa daya dukung suatu wilayah sangat
berpengaruh terhadap perekonomian. Wilayah dengan penduduk yang padat membuat
peluang dalam mencari pekerjaan dan memenuhi kebutuhan (makanan dan minuman)
menjadi meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, E., Syechalad, M. N., & Hamzah, A. (2018).
Pengaruh jumlah penduduk, tingkat pengangguran dan tingkat pendidikan terhadap
kemiskinan di Provinsi Aceh. JPED (Jurnal Perspektif Ekonomi Darussalam)(Darussalam
Journal of Economic Perspectives), 4(2), 265�283. https://doi.org/10.21157/j.ked.hewan.v%25vi%25i.13022.
Arsyad, L. (2010).
Ekonomi Pembangunan, Edisi Kelima.
Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Badan Pusat Statistik. (2021).
Angka Partisipasi Sekolah Tahun 2010-2020.
Badan Pusat Statistik.
(2021). Indeks Keparahan Kemiskinan Tahun 2010-2020.
Badan�� Pusat Statistik. (2021). Jumlah Penduduk Miskin dalam Perhitungan dan Analisis Kemiskinan Makro
Indonesia 2020.
Badan Pusat Statistik.
(2021). Kepadatan Penduduk Tahun 2010-2020.
Badan�� Pusat Statistik. (2021). Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2020.
Badan Pusat Statistik.
(2021). Tingkat Pengangguran Terbuka Tahun 2010-2020.
Badan Pusat Statistik.
(2021). Upah Minimum Provinsi Tahun 2010-2020.
Isman, M. F. (2020). Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Sektor Pendidikan, Sektor Kesehatan, Dan
Upah Minimum Provinsi Terhadap Tingginya Kemiskinan Di Indonesia Tahun
2015-2019 (Studi Kasus Provinsi Dengan Tingkat Kemiskinan Tinggi.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis uin jakarta.
Kien, N. T. (2014).
Employment Transformation in the Vietnamese Economy
in Light of the Lewis�Fei-Ranis Growth Model of A Labor-Abundant Economy. Journal
of Economics and Development, 16(3), 49�67. https://doi.org/10.33301/2014.16.03.03.
Kuncoro, S., & Riyardi, A. (2014). Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Pengangguran dan Pendidikan
Terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi Jawa Timur Tahun 2009-2011.
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Kurniawan, R. A. (2018). Pengaruh Pendidikan dan Pengangguran
Terhadap Kemiskinan di Kota Surabaya tahun 2007-2016. Jurnal Pendidikan
Ekonomi (JUPE), 6(2). https://doi.org/10.26740/jupe.v6n2.p%25p.
Michael, T., & Smith, S. C. (2011). Pembangunan
Ekonomi edisi kesembilan. Erlangga: Jakarta.
Padang, P. P. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Putri, R. W., Junaidi, J.,
& Mustika, C. (2019). Pengaruh pertumbuhan ekonomi, indeks pembangunan
manusia dan kepadatan penduduk terhadap tingkat
kemiskinan kabupaten/kota di Provinsi Jambi. E-Jurnal Ekonomi Sumberdaya Dan
Lingkungan, 8(2), 96�107. https://doi.org/10.22437/jels.v8i2.11986.
Sharp, R. Y. (2000).
Steps in commutative algebra (Issue 51).
Cambridge university press.
Simanjuntak, P. J. (2001). Pengantar ekonomi sumber daya manusia.
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indo.
Sundari, I. (2019). Pengaruh Tingkat Pengangguran Terbuka (Tpt), Indeks Pembangunan Manusia
(Ipm) dan Upah Minimum (Um) Terhadap Jumlah Penduduk Miskin (Jpm)
Kabupaten/Kotadi Provinsi Lampung dalam Perspektif Ekonomi Islam (Tahun
2011-2017). UIN Raden Intan Lampung.
Weni, O. (2020). Aplikasi Analisis Regresi Linier Berganda Dalam Menganalisis
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan Di Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara.