HEGEMONI PESANTREN BAHRUL ULUM DI DESA TAMBAK REJO, JOMBANG

 

Suryaningsih1, Tedi Gunawan2

PT. Sinergi Visi Utama Consultant, Yogyakarta, Indonesia1

Badan Riset dan Inovasi Nasional2

[email protected]1, [email protected]2

Abstrak:

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam di Indonesia, terutama di Jawa Timur, yang memiliki pengaruh kuat di sekitarnya. Penelitian ini mengkaji struktur hegemoni pesantren Bahrul Ulum di Desa Tambak Rejo, Jombang, dengan data dari wawancara mendalam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan menjelaskan hegemoni Pesantren Bahrul Ulum di Desa Tambak Rejo, Jombang, termasuk pengaruhnya terhadap kehidupan sosial, budaya, agama, dan politik di komunitas sekitarnya, memahami peran Kyai dan pengaruhnya dalam masyarakat, mengeksplorasi implikasi sosial dan politik hegemoni pesantren dalam konteks yang lebih luas, dan memberikan pemahaman tentang dinamika kekuasaan dan pengaruh lembaga agama dalam masyarakat, dengan penekanan pada perubahan struktur hegemoni seiring waktu. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dalam desain penelitian kualitatif untuk menyelidiki struktur hegemoni dalam komunitas sekitar pesantren. Wawancara mendalam digunakan sebagai metode utama pengumpulan data, melibatkan manajemen pesantren, penduduk sekitar pesantren, dan wali murid di desa Tambak Rejo. Data juga diperoleh dari pandangan politisi lokal dan elit lokal di luar pesantren Bahrul Ulum sebagai data primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren Bahrul Ulum memiliki hegemoni yang signifikan dan merata dalam berbagai aspek kehidupan di desa Tambak Rejo. Pesantren ini terlibat dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat, dengan pemimpinnya (Kyai) memiliki pengaruh yang besar dalam struktur masyarakat. Namun, tingkat hegemoni ini juga memiliki konsekuensi negatif, seperti pembatasan kemampuan masyarakat untuk membuat pilihan politik independen. Penelitian juga menunjukkan bahwa hegemoni pesantren dalam tahap transisi menuju penurunan seiring berjalannya waktu. Keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan penting tentang konsep hegemoni dalam konteks lembaga agama dan masyarakat.

 

Kata kunci: Hegemoni; Pondok Pesantren; Desa Tambak Rejo.

 

Abstract:

Islamic boarding schools are Islamic educational institutions in Indonesia, especially in East Java, which have a strong influence in the surrounding area. This research examines the hegemony structure of the Bahrul Ulum Islamic boarding school in Tambak Rejo Village, Jombang, with data from in-depth interviews. The aim of this research is to investigate and explain the hegemony of the Bahrul Ulum Islamic Boarding School in Tambak Rejo Village, Jombang, including its influence on social, cultural, religious and political life in the surrounding community, understand the role of Kyai and their influence in society, explore the social and political implications of Islamic boarding school hegemony in a broader context, and provides an understanding of the power dynamics and influence of religious institutions in society, with an emphasis on changes in hegemonic structures over time. This research uses a case study method in a qualitative research design to investigate the structure of hegemony in the community around the Islamic boarding school. In-depth interviews were used as the main method of data collection, involving Islamic boarding school management, residents around the Islamic boarding school, and parents in Tambak Rejo village. Data was also obtained from the views of local politicians and local elites outside the Bahrul Ulum Islamic boarding school as primary data. The research results show that the Bahrul Ulum Islamic boarding school has significant and even hegemony in various aspects of life in Tambak Rejo village. This Islamic boarding school is involved in the social and political life of society, with its leader (Kyai) having a great influence on the structure of society. However, this level of hegemony also has negative consequences, such as limiting society's ability to make independent political choices. Research also shows that Islamic boarding school hegemony is in a transitional stage towards decline over time. Overall, this research provides important insights into the concept of hegemony in the context of religious institutions and society.

 

Keywords: Hegemony; Islamic boarding school; Tambak Rejo Village

Corresponding: Nama author

E-mail: Email author

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

PENDAHULUAN

Pesantren telah muncul sebagai fenomena yang signifikan dalam perkembangan Islam di Indonesia dengan salah satu perannya adalah membantu melayani kebutuhan pendidikan berbasis agama (Isbah, 2020). Pesantren yang tersebar di Indonesia menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dengan historismasuknya Islam ke Indonesia (Dwi, Mariyono, and Maskuri Maskuri, 2023). Institusi-institusi ini, yang diklaim sebagai lembaga yang asli berasal dari Indonesia, bahkan diusulkan oleh para ulama sebagai contoh institusi pendidikan yang cocok untuk pembangunan bangsa Indonesia (Walid, 2021). Dilihat dari sejarahnya, pengembangan pesantren berasal dari proses da'wah di Indonesia� dan telah diamati juga mulai berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir di era 1980-an, terutama di wilayah Jawa Timur (Nurhayati & Nurhidayah, 2019). Jawa Timur dikenal sebagai rumah bagi banyak pesantren besar yang telah berkembang sejak masa kolonial Belanda dan terus eksis hingga saat ini di kota-kota seperti Jombang, Pasuruan, hingga Gresik yang terkenal dengan pesantren Islamnya yang mapan dan terpercaya (Faizin, 2016).

Kota Jombang, yang terletak di Indonesia, telah mendapatkan reputasi sebagai pusat pendidikan Islam karena banyaknya pesantren besar di area tersebut (Pramitha, 2020).� Institusi-institusi ini, yang menampung ribuan siswa dari berbagai daerah di negara ini, terkenal menghasilkan lulusan-lulusan yang sangat berprestasi. Salah satu contohnya adalah KH. Abdurrahman Wahid, mantan Presiden keempat Republik Indonesia, yang merupakan alumni pesantren Bahrul Ulum di Jombang (Paisun, 2018)� dan beliau juga keturunan pemimpin pesantren Tebuireng. Dengan kemampuannya dalam membentuk tokoh-tokoh nasional, jelas bahwa pesantren bukanlah sekadar institusi pendidikan biasa. Institusi-institusi ini menawarkan pendidikan komprehensif bagi intelektual muda Muslim, yang memungkinkan mereka untuk memperoleh keahlian dalam berbagai bidang seperti studi agama, etika, pengembangan intelektual, dan kepemimpinan, hingga politik, sehingga mempersenjatai mereka dengan keterampilan yang diperlukan untuk kemudian memberi dampak positif pada Masyarakat luas.

Pesantren dan pemimpinnya, yang dikenal sebagai Kyai, memiliki peran yang signifikan dalam masyarakat sebagai pemimpin agama, mentor, dan penegak hukum agama. Legitimasi pemimpin-pemimpin ini adalah kekuatan besar, karena mereka sangat dihormati oleh anggota masyarakat (Jannah, 2019). Menurut para ahli, kekuatan legitimasi mereka adalah faktor kontributor terhadap munculnya hegemoni dalam komunitas-komunitas ini. Kyai memiliki kekuatan besar dalam masyarakat dan dapat mempengaruhi keputusan-keputusan karena basis massa yang kokoh dan tingkat pengetahuan agama yang tinggi (Madarik & Puadi, 2019). Selain itu, dalam masyarakat-masyarakat pedesaan dengan struktur hierarki yang masih kuat, para intelektual Muslim ini dianggap sebagai bagian dari elit dan aktor-aktor penting dalam struktur sosial, yang biasanya menduduki posisi kelas menengah atas.

Hegemoni sendiri sebagaimana didefinisikan oleh Rehmann (Rehmann, 2013), adalah dominasi kontrol satu pihak atas pihak lainnya. Dalam konteks penelitian ini, komunitas pesantren bisa dilihat sebagai pelaku kuat yang mampu mencapai konsensus dan mengendalikan masyarakat. Menurut Gramsci, agama dianggap sebagai pandangan dunia yang populer yang menghasilkan pandangan-pandangan fungsional bagi jutaan orang dan, oleh karena itu, dapat mempengaruhi individu-individu melalui kekuatan khusus (Ali, 2017). Kemampuan untuk meyakinkan individu-individu dengan penuh keyakinan, bukan melalui kekuatan fisik, adalah karakteristik penting dari hegemoni.

Selain itu, menurut teori-teori Gramsci, ada tiga tingkat hegemoni yang ada dalam suatu masyarakat: hegemoni integral, hegemoni dekadent, dan hegemoni minimum (Utama, 2017). Hegemoni integral ditandai oleh kesatuan moral dan intelektual yang kuat dalam masyarakat, di mana hubungan-hubungan antara pelaku-pelaku bebas dari kontradiksi dan antagonisme, baik secara sosial maupun etika. Hegemoni dekadent, di sisi lain, ditandai oleh konflik-konflik tersembunyi dan perbedaan pemikiran dan ideologi dalam masyarakat, yang mengakibatkan pertentangan internal. Terakhir, hegemoni minimum ditandai oleh kesatuan ideologis di antara elit ekonomi, politik, dan intelektual, ditambah dengan ketidaksetujuan yang kuat terhadap segala bentuk intervensi massa dalam kehidupan negara. Pembedaan-pembedaan ini, sebagaimana yang diusulkan oleh Gramsci, memberikan kerangka kerja untuk memahami kompleksitas dinamika kekuasaan dalam masyarakat dan cara hegemoni dapat muncul dalam bentuk-bentuk yang berbeda.

Dampak pendidikan pesantren terhadap munculnya hegemoni telah banyak diteliti dan didokumentasikan dalam berbagai literatur akademik. Penelitian telah menunjukkan bahwa agama memainkan peran penting dalam membentuk individu dan kelompok melalui proses pendidikan agamanya (LEVISTE, 2016). Pendidikan, sebagai bentuk intervensi persuasif, digunakan oleh agama untuk menyebarkan ajaran-ajaran dan keyakinannya. Penyebaran ajaran-ajaran agama melalui pemimpin agama, seperti ulama pesantren atau pastor/pendeta gereja, telah diidentifikasi sebagai mekanisme kunci untuk perkembangan hegemoni. Para ulama ini, melalui ajaran dan pengaruh mereka, telah dapat membentuk bentuk penguasaan persuasif dalam siswa-siswanya (Rehmann, 2013).

Selain itu, agama telah diakui secara luas sebagai faktor penting dalam membentuk stratifikasi sosial di berbagai masyarakat. Studi yang dilakukan oleh para ahli seperti (Amran, 2015) yang telah menyoroti dampak keyakinan dan praktik agama terhadap struktur sosial dan hierarki. Secara khusus, keyakinan dan praktik agama telah terbukti mendorong individu untuk mengikuti panduan pemimpin agama, seperti uskup, imam, dan ulama, yang mengakibatkan ketergantungan yang meningkat pada pemimpin-pemimpin ini dan perubahan dalam tatanan sosial masyarakat (Hendriani, Maulidin, Royani, Suherman, & Nurasikin, 2023). Pemimpin-pemimpin agama ini seringkali dianggap sebagai ahli dalam bidang agama dan oleh karena itu dihormati oleh masyarakat, yang lebih memperkuat posisi sosial dan politik mereka. Teori hegemoni budaya Gramsci juga menyoroti fenomena ini, berargumen bahwa akar masalah ini bukan terletak dalam struktur sosial itu sendiri, tetapi dalam individu, yang merupakan tokoh sentral dalam ajaran dan praktik agama (Mouffe, 2014). Dengan demikian, melalui pemeriksaan sistematis data empiris dan analisis teoritis, dapat disimpulkan bahwa agama memainkan peran penting dalam membentuk stratifikasi sosial masyarakat.

Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji struktur hegemoni dalam masyarakat Desa Tambak Rejo, Jombang, sebagaimana termanifestasi melalui hegemoni pesantren Bahrul Ulum. Penelitian ini berbeda dari penelitian-penelitian tradisional tentang pesantren, dengan memandang topik dari sudut pandang politis. Melihat bagaimana keberadaan pesantren di Desa Tambak Rejo dapat menciptakan hegemoni dalam masyarakat dengan mengeksplorasi mekanisme-mekanisme melalui yang keyakinan dan praktik agama mempengaruhi hubungan kekuasaan sosial dalam konteks ini. Penelitian ini juga akan memberikan kontribusi pada literatur yang sudah ada tentang hegemoni dengan memberikan wawasan tentang bagaimana komunitas agama dapat memiliki kekuasaan signifikan dalam membentuk norma-norma dan nilai-nilai masyarakat. Desa Tambak Rejo adalah studi kasus yang ideal, karena ditandai dengan tradisi agama yang kuat, di mana sebagian besar penduduknya memeluk Islam dan masih mempertahankan adat dan ritual tradisional. Selain itu, banyak penduduknya yang ikut dalam perkumpulan dan kelompok agama yang mengadakan pengajian dan ceramah rutin yang dipimpin oleh Kyai atau Gus dari pesantren Bahrul Ulum. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemahaman hubungan kompleks antara institusi keagamaan dan masyarakat.

Penelitian ini juga menyelidiki peran pesantren, khususnya pesantren Bahrul Ulum di Jombang, sebagai simbol kontrol Kyai terhadap masyarakat dan kekuasaan politik mereka dalam komunitas. Komunitas pesantren seringkali hanya dilihat sebagai entitas agama, tetapi penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh dan dampak mereka dalam masyarakat luas, terutama dalam politik. Pesantren sering kali memiliki pemimpin yang disebut Kyai atau Nyai yang memiliki preferensi politik. Preferensi ini dapat memiliki dampak signifikan tidak hanya di pesantren, tetapi juga di masyarakat sekitarnya. Studi juga menemukan bahwa pengaruh para pemimpin ini meluas di luar lingkungan pesantren, berpotensi memengaruhi keterlibatan politik dan partisipasi dalam masyarakat lebih luas. Pemilihan pesantren Bahrul Ulum sebagai lokasi penelitian disebabkan oleh statusnya sebagai pesantren Islam terbesar dan paling berpengaruh di Jombang, dengan dampak signifikan hegemoninya pada kehidupan masyarakat sekitarnya, khususnya di desa Tambak Rejo. Penelitian ini memiliki manfaat berupa pemahaman lebih mendalam tentang peran pesantren dalam masyarakat, kontribusi pada penelitian seputar lembaga agama dan masyarakat, memberikan informasi penting kepada pengambil keputusan, meningkatkan kesadaran masyarakat setempat tentang pengaruh pesantren dan peran Kyai, serta berpotensi menciptakan perubahan positif seperti peningkatan kesejahteraan dan keadilan sosial dalam komunitas setempat. Penelitian ini memberikan wawasan berharga kepada berbagai pemangku kepentingan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan menjelaskan hegemoni Pesantren Bahrul Ulum di Desa Tambak Rejo, Jombang, termasuk pengaruhnya terhadap kehidupan sosial, budaya, agama, dan politik di komunitas sekitarnya, memahami peran Kyai dan pengaruhnya dalam masyarakat, mengeksplorasi implikasi sosial dan politik hegemoni pesantren dalam konteks yang lebih luas, dan memberikan pemahaman tentang dinamika kekuasaan dan pengaruh lembaga agama dalam masyarakat, dengan penekanan pada perubahan struktur hegemoni seiring waktu.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Pemilihan metode studi kasus didasari oleh tujuan penelitian ini, yaitu untuk menyelidiki dan menjelaskan kerumitan struktur hegemoni dalam komunitas sekitar pesantren. Pendekatan studi kasus dianggap sesuai untuk penelitian ini karena memungkinkan pemeriksaan perilaku sebagai titik awal, sebagaimana diungkapkan oleh Thomas, dengan memberikan wawasan mengapa individu atau kelompok terlibat dalam tindakan-tindakan tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan menjelaskan suatu fenomena sosial. Oleh karena itu, penggunaan studi kasus dianggap sesuai.

Para peneliti juga menggunakan wawancara mendalam sebagai metode pengumpulan data utama untuk mengumpulkan data. Penggunaan wawancara mendalam dimaksudkan untuk memfasilitasi perolehan data awal yang diperoleh langsung dari pesantren dan masyarakat sekitarnya. Ini termasuk mewawancarai manajemen pesantren dan madrasa, penduduk di sekitar pesantren, dan wali murid yang menggunakan layanan pendidikan yang disediakan oleh pesantren. Komunitas yang dimaksud di sini adalah desa Tambak Rejo. Selain itu, pandangan politisi lokal dan elit lokal akan disertakan dalam penelitian ini sebagai bentuk data primer yang bersumber dari luar lingkungan pesantren Bahrul Ulum.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.       Pondok Pesantren Bahrul Ulum dan Desa Tambak Rejo

Pondok Pesantren Bahrul Ulum didirikan untuk menyebarkan Islam di wilayah Jawa Timur, khususnya di Jombang, lebih dari 185 tahun yang lalu. Pendiri pondok, Abdus Salam, yang juga dikenal sebagai Mbah Shoichah, tiba di hutan terbengkalai dan membangun sebuah rumah kecil sebagai sarana media dakwahnya. Awalnya, dia berdakwah di sebuah masjid kecil (langgar) di Gedang, tetapi seiring berkembangnya pesantren, tempat ini menjadi tempat ibadah dan tempat tinggal bagi para santri yang mengikuti diirnya, yang kemudian dikenal sebagai Pondok Selawe atau Pondok Telu (Minarto & Purwaningsih, 2022). Pesantren ini pada awal berdirinya berfokus pada pengajaran syariah, ilmu alam, dan kanuragan (beladiri).

Setelah wafatnya pendiri, pondok ini diwariskan kepada dua menantunya, Kyai Ustman dan Kyai Sa'id, yang juga merupakan murid Mbah Shoichah. Pesantren kemudian dibagi menjadi dua dengan program pendidikan yang berbeda di bawah kepemimpinan mereka. Kyai Ustman fokus pada pengajaran thoriqot, sementara Kyai Sa'id fokus pada syariah (Raden & Indrarini, 2022). Kyai Chasbulloh, putra Kyai Sa'id, kemudian melanjutkan pesantren ini. Kyai Chasbulloh terkenal dengan kekayaan dan kekuasaannya, dan dilaporkan bahwa wilayah di sekitar pesantren menjadi sangat makmur sehingga dinamakan Desa Tambak Beras karena banyaknya gudang beras di sana waktu itu (Raden & Indrarini, 2022) Para penjajah Belanda juga menghormatinya karena modal keuangannya yang tinggi. Kyai Chasbulloh juga memainkan peran penting dalam gerakan kemerdekaan Republik Indonesia, menggunakan pesantren sebagai markas organisasi yang dipimpinnya. Berbagai strategi melawan penjajah disiapkan di pesantren, dan Kyai Chasbulloh juga membela para petani di area tersebut yang diperlakukan buruk oleh Belanda. Ini menunjukkan perannya sebagai pelindung dan pemimpin di berbagai bidang.

Di awal abad ke-20, Kyai Chasbulloh mengirim anak-anaknya untuk belajar Islam di berbagai tempat, termasuk Mekah. Setelah kembali, salah satu anaknya, Kyai Abdul Wahab, memulai proses reformasi di pesantren di bawah kepemimpinan ayahnya pada tahun 1914. Reformasi ini melibatkan penggantian kerangka holaqoh tradisional dengan kurikulum madrasah standar, yang mengarah pada perkembangan pesantren yang pesat. Madrasah pertama yang dibangun dalam kerangka baru ini adalah Madrasah Mubdil Fan, didirikan pada tahun 1915. Selain itu, Kyai Abdul Wahab juga mendirikan pertemuan dialog yang disebut Tashwirul Afkar di Surabaya dan mendirikan Nahdlatul Wathon, yang kemudian menjadi pelopor Nahdlatul Ulama (Ramdhan Wahyudi, 2019). Selain itu, pada tahun 1942, dia mendirikan Pondok Al-Lathifiyyah, pesantren untuk remaja putri, atas permintaan ibunya, Nyai Lathifah. Pada tahun 1956, kompleks pondok pesantren ini berganti nama menjadi Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Setelah kematian Kyai Wahab pada tahun 1971, kepemimpinan pesantren diserahkan kepada Kyai Abdul Fattah, dengan bantuan Bani Chasbulloh. Selama pemerintahan Kyai Abdul Fattah, didirikan Al-Ma'had Al-Aly, cikal bakal dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) (Ma�sum, 2013). Saat ini, Pondok Pesantren Bahrul Ulum, yang terletak di desa Tambak Rejo, terus berkembang pesat, dengan jumlah siswa dan sekolah yang semakin meningkat serta reputasi pendidikan yang berkualitas tinggi. Selain itu, beberapa madrasahnya juga telah ditetapkan sebagai madrasah percontohan di Jawa Timur, yang lebih mengukuhkan reputasinya sebagai pemimpin dalam pendidikan Islam.

Sedangkan Desa Tambak Rejo, yang terletak di wilayah utara Jombang, memiliki penduduk dengan lebih dari 90% merupakan Masyarakat penganut agama Islam. Berdekatan dengan beberapa desa lainnya, termasuk Dapur Kejambon, Ploso Geneng, Sambong Dukuh, dan Tembelang, Tambak Rejo memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan pendirian pondok pesantren Bahrul Ulum. Pendirian pesantren ini menyebabkan peningkatan jumlah penduduk yang terkait dengan aktivitas pesantren dan kemudian mengakibatkan perkembangan yang signifikan di wilayah tersebut. Salah satu ciri khas desa Tambak Rejo adalah sifat keagamaannya, dengan keberadaan pondok pesantren dan praktik serta keyakinan keagamaan masyarakat yang sangat terkait dengan faktor sejarah yang membentuk desa tersebut. Ini terbukti dari tingkat religiusitas yang tinggi dan ketaatan pada ritual Islam tradisional Kejawen, seperti selamatan dan tahlilan. Ritual-ritual ini mengintegrasikan desa dengan komunitas pondok pesantren, menghasilkan hubungan yang erat antara kedua entitas tersebut.

2.    Hegemoni Desa Tambak Rejo

Hegemoni, yang didefinisikan sebagai dominasi satu kelompok atas kelompok lainnya, adalah fenomena yang umum terjadi dalam masyarakat. Dominasi ini sering terlihat di komunitas di mana kekuasaan tidak merata di antara para pelaku, dengan hanya beberapa orang yang memiliki pengaruh signifikan (Ulfa, Sulistiani, & Yuliati, 2020). Kekuasaan yang dimiliki oleh kelompok-kelompok ini, baik itu kekuasaan fisik, ekonomi, atau intelektual, dapat berdampak signifikan pada masyarakat secara keseluruhan. Dalam kasus desa Tambak Rejo, jelas bahwa kelompok dominan adalah mereka yang memiliki kekuasaan intelektual, khususnya dalam bentuk pengetahuan keagamaan. Kelompok ini, dikenal sebagai pesantren beserta Kyai di dalamnya, menduduki posisi penting dalam struktur sosial Tambak Rejo karena keahlian mereka dalam ajaran Islam dan juga pengakuan oleh masyarakat. Gelar Kyai tidak hanya diberikan kepada mereka yang telah belajar di pesantren, tetapi juga kepada mereka yang dilegitimasi tingkat pengetahuan dan pengaruhnya oleh masyarakat. Di Tambak Rejo, jelas bahwa kekuasaan intelektual dan pengakuan oleh masyarakat memiliki bobot signifikan dalam menentukan kepemimpinan sosial dan spiritual.

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang berfokus pada studi dan praktik Islam. Kyai, atau pemimpin spiritual, berperan sebagai figur utama dalam institusi-institusi ini. Sebagai pemimpin dan guru, Kyai memainkan peran vital dalam pengembangan dan pemeliharaan komunitas di pesantren. Kyai biasanya adalah pendiri sekolah dan dianggap sebagai panutan bagi penduduk, yang sering mencarinya untuk panduan hidup atau sekedar instruksi. Dalam peran ini, Kyai diberi otoritas dan tanggung jawab secara organic oleh Masyarakat secara signifikan. Menurut seorang informan, tugas utama Kyai adalah mengelola moral dan kesejahteraan spiritual ummah. Untuk menjalankan tugas ini, Kyai diharapkan memiliki tingkat pengetahuan keagamaan yang tinggi, yang dianggap sebagai modal utama mereka. Seperti yang dinyatakan oleh Antonio Gramsci (Cox, 1983), "pengetahuan adalah salah satu cara untuk melahirkan hegemoni." Dalam konteks pesantren, pengetahuan Kyai berfungsi sebagai dasar legitimasi dan pengaruh mereka dalam masyarakat. Selain itu, keberadaan pesantren sebagai institusi tempat belajar yang besar juga memperkuat legitimasi dan otoritas Kyai. Sebagai lembaga, pesantren berfungsi sebagai tempat perolehan pengetahuan agama dan pengembangan nilai-nilai spiritual dan moral. Peran Kyai sebagai guru dan pemimpin utama dalam lembaga ini memberikan kredibilitas lebih lanjut pada otoritas dan pengaruh mereka dalam masyarakat. Kyai memainkan peran kunci dalam fungsi dan perkembangan pesantren, bertindak sebagai pemimpin dan guru, serta membimbing orang-orang menuju pemahaman dan praktik Islam yang lebih mendalam.

Penduduk desa Tambak Rejo yang relatif masih tradisional telah menunjukkan ketaatan mereka terhadap nilai-nilai dan adat istiadat tradisional. Ini terbukti dengan partisipasi terus-menerus penduduknya dalam berbagai kegiatan desa, seperti rutinan pengajian yang diadakan setiap bulan. Pemimpin desa melaporkan bahwa kegiatan pengajian ini juga merupakan agenda pesantren setempat, karena mereka memiliki keterampilan manajemen yang diperlukan untuk mengorganisir dan mengkoordinasikan acara-acara ini, yang melibatkan baik individu pesantren maupun warga desa. Selain itu, Kyai dari Bahrul Ulum biasanya menjadi pembicara dan fasilitator untuk acara-acara ini. Masyarakat secara konsisten menunjukkan antusiasme terhadap acara-acara pengajian malam Jumat, dengan tingkat partisipasi yang tinggi. Tradisi pengajian yang dipimpin oleh Kyai ini memiliki sejarah yang panjang di desa ini dan terus dipegang teguh oleh pesantren dan masyarakat Tambak Rejo. Keberlanjutan tradisi ini dapat diatributkan pada pengaruh signifikan pesantren di desa ini, serta keberadaan organisasi berbasis masyarakat yang solid, Nahdlatul Ulama (NU), yang memiliki kearifan lokal dan pengaruh yang signifikan di wilayah Jombang. Penting untuk dicatat bahwa pelestarian dan kelanjutan praktik-praktik tradisional, seperti pengajian rutin, sangat penting untuk pelestarian budaya dan sejarah desa serta pemeliharaan kohesi sosial dan identitas masyarakat. Selain itu, partisipasi aktif individu pesantren dan warga desa dalam acara-acara ini dapat dilihat sebagai peran penting agama dan spiritualitas dalam memperkuat kohesi masyarakat dan integrasi sosial. Fakta bahwa tradisi ini masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat Tambak Rejo adalah indikasi kekuatan hegemoni budaya komunitas pesantren dalam membentuk identitas desa.

Tradisi wiridan dan pengajian di Tambak Rejo sangat erat kaitannya dengan keberadaan seorang ulama. Sang ulama, yang memimpin pengajian, harus memiliki kemampuan menghafal yang tinggi dan karisma agar bisa memimpin komunitas secara efektif dalam praktik spiritual mereka. Di masyarakatatau desa lainnya, tokoh lokal seperti kepala desa yang tidak selalu lulus dari madrasah atau pesantren bisa menjadi pemimpin dalam pengajian ini. Namun, di Tambak Rejo, ada preferensi khusus untuk mengundang imam-imam yang berasal dari lingkungan pesantren untuk memimpin pengajian ini. Hal ini disebabkan oleh pengakuan kualitas tinggi terhadap ustadz atau Kyai ini, sebagai pemimpin dan tokoh berkarisma dalam komunitas tersebut. Keberadaan individu-individu dari pesantren dipercaya dapat membawa berkah dalam aktivitas ini, setidaknya berdasarkan beberapa pendapat sebagian anggota masyarakat Tambak Rejo. Selain itu, konsep kepemimpinan di Tambak Rejo juga telah mengakar pada nilai-nilai pesantren dan idealisme di dalam komunitas tersebut. Kultur pengajian di Tambak Rejo tidak hanya berasal dari masyarakat itu sendiri, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh keberadaan pesantren dan Kyai.

Seperti diungkapkan oleh beberapa informan, penting bagi para pemimpin dalam masyarakat Tambak Rejo untuk memiliki kombinasi moral yang baik, pengetahuan yang luas, dan keterampilan kepemimpinan yang berkarisma untuk memastikan kepemimpinan yang bertanggung jawab dan efektif dalam komunitas tersebut. Hal ini karena seorang pemimpin yang memiliki kualitas-kualitas ini tidak hanya mampu membimbing dan mengarahkan masyarakat menuju pencapaian tujuannya, tetapi juga berfungsi sebagai contoh teladan bagi anggota masyarakat untuk diikuti, sehingga mempromosikan budaya keunggulan dan tanggung jawab dalam komunitas tersebut. Selain itu, keberadaan pemimpin yang memiliki kualitas-kualitas ini juga membantu membangun rasa kepercayaan dan keyakinan di antara anggota masyarakat, yang sangat penting untuk kelancaran fungsi masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, sangat penting bagi para pemimpin di desa Tambak Rejo memiliki moral yang baik, pengetahuan yang luas, dan karisma sebagai jaminan kepemimpinan yang bertanggung jawab dan efektif.

Lanskap politik desa Tambak Rejo saat ini diperintah oleh pemimpin terpilih, Moh. Nasir Fadlallah. Sebagai kepala desa, dia dipilih langsung oleh warga, yang tentu saja memastikan proses demokratis dalam pemilihan kepemimpinan. Kesuksesan kampanye politiknya sebagian besar dikaitkan dengan dukungan tokoh terkemuka dari lingkup pesantren, khususnya seorang Nyai bernama Bu Mundjiah, yang tinggal di lingkungan pesantren Bahrul Ulum. Dukungan dan restu individu dari pimpinan pesantren ini memainkan peran krusial dalam kenaikan Moh. Nasir Fadlallah ke posisi kepala desa. Perlu dicatat bahwa konsep seorang Nyai adalah peran kepemimpinan tradisional dalam desa yang sering kali dipegang oleh perempuan terhormat dan berpengaruh, dan tentu saja dukungan mereka memiliki pengaruh besar dalam pemilihan local kepala desas. Persimpangan struktur politik tradisional dan modern di desa Tambak Rejo adalah subjek yang sangat menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.

Di Jawa, posisi kepala desa sangat diidamkan dan sering kali diperebutkan. Hal ini juga terjadi di desa Tambak Rejo, di mana persaingan untuk menduduki posisi tersebut tidak hanya terjadi di antara warga desa, tetapi juga di kalangan penduduk pesantren. Saat ini, posisi kepala desa memang dipegang oleh seorang warga dari luar pesantren, namun hal ini terjadi karena dukungan penuh dari tokoh-tokoh pesantren. Wawancara dengan kepala desa mengungkapkan bahwa pesantren memainkan peran penting dalam pemilihan kepala desa. Dari sudut pandang warga desa, calon yang mendapat dukungan dari pesantren, terutama kyai, dianggap sebagai kandidat yang berkualitas. Oleh karena itu, dianggap penting bagi seorang calon kepala desa untuk mendapatkan dukungan dari pesantren agar memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pemilihan. Kepala desa juga menyatakan bahwa pada akhirnya, masyarakat di desa ini cenderung memilih calon yang kompeten dan memiliki hubungan yang baik dengan komunitas pesantren, dan yang tidak terlalu fanatik dalam agama, tetapi tetap mendapat dukungan dari pesantren.

Posisi kepala administratif Tambak Rejo, yang biasa disebut kepala desa, sangat bergantung pada dukungan baik dari warga lokal maupun pesantren. Hal ini karena pengaruh signifikan yang dimiliki oleh institusi-institusi ini, terutama oleh anggota elit pesantren. Pengaruh ini telah menggantikan kepemimpinan tradisional kepala desa, karena otoritas dan legitimasi agama yang melekat dalam institusi-institusi ini memberikan posisi yang lebih tinggi dalam masyarakat. Implementasi kebijakan oleh kepala desa sering kali tergantung pada persetujuan, atau "restu" dari elit pesantren, khususnya Kyai. Melibatkan Kyai dalam proses pengambilan keputusan adalah komponen krusial dalam memastikan keberhasilan dan implementasi kebijakan desa dalam komunitas. Munculnya pola kepemimpinan desa yang kuat teramati ketika aktor-aktor kunci mendapatkan legitimasi melalui dukungan dan validasi dari pesantren, sebuah pesantren tradisional yang memiliki pengaruh budaya dan sosial yang signifikan dalam komunitas. Fenomena ini menyoroti peran yang rumit antara institusi keagamaan dan dinamika kepemimpinan dalam masyarakat pedesaan, dan memberikan wawasan tentang pentingnya memahami peran institusi budaya dan keagamaan dalam membentuk struktur tata kelola komunitas Masyarakat desa.

3.    Tingkatan Hegemoni

Secara umum, hegemoni dalam masyarakat dapat dijelaskan dalam berbagai tingkatan. Kita akan melihat beberapa tingkatan hegemoni dalam masyarakat desa Tambak Rejo. Hegemoni dalam masyarakat Tambak Rejo adalah bentuk dominasi dari pesantren Bahrul Ulum. Hegemoni ini dalam masyarakat Tambak Rejo beroperasi melalui berbagai aspek, termasuk agama, sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa ada tiga tingkatan hegemoni: integral, dekadent, dan minimum. Pada tingkat pertama, hegemoni integral, dijelaskan bahwa hegemoni dalam masyarakat dan afiliasi dalam masyarakat mendekati totalitas karena adanya kesatuan moral dan intelektual yang kuat (Alfanani, 2019). Tingkat hegemoni ini ditandai dengan kemampuan kelas penguasa untuk mengintegrasikan berbagai kelompok dan kelas dalam masyarakat dan menciptakan rasa tujuan bersama dan identitas bersama. Sementara itu, hegemoni dekadent terjadi dalam masyarakat kapitalis yang lebih modern, yang mengalami potensi disintegrasi. Konflik tersembunyi muncul dalam kehidupan sosial yang dianggap sudah mapan. Ideologi dan budaya kelas penguasa tidak sekuat pada hegemoni integral dan dalam tingkatan ini terjadi perasaan perpecahan dan konflik kecil dalam masyarakat. Akhirnya, terakhir adalah hegemoni minimum yang didasarkan pada kesatuan ideologis antara elit ekonomi, politik, dan intelektual yang berjalan seiring dengan penolakan terhadap campur tangan massa dalam kehidupan negara. Selanjutnya, ideologi dan budaya kelas penguasa tidak dominan, dan ada perasaan ketidaksetujuan dan perlawanan umum dalam masyarakat. Tingkat hegemoni ini ditandai dengan ketidakmampuan kelas penguasa untuk mendapatkan persetujuan dan legitimasi dari sebagian besar penduduk.

Dalam konteks pesantren, hegemoni integral dapat diamati dalam campur tangan pesantren yang kuat dan komprehensif dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tambak Rejo. Pada tingkat hegemoni integral ini, ada kesatuan moral dan intelektual yang kuat dalam masyarakat dalam melihat agama sebagai panduan bagi kehidupan sosial, dari perspektif politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Kesatuan ini dapat diamati dalam gabungan dan kesatuan antara pesantren Bahrul Ulum dan lingkungannya, yaitu masyarakat desa Tambak Rejo. Masyarakat desa melihat bimbingan dari lingkungan pesantren sebagai benar dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka, menjadikan Pesantren Bahrul Ulum sebagai acuan dan pemimpin sosial. Hal ini memperkuat peran pesantren dalam kehidupan Desa Tambak Rejo.

Dalam hegemoni integral, hubungan antara pesantren dan politik dapat dijelajahi melalui lensa pemilihan kepala desa, seperti yang disebutkan sebelumnya. Ini adalah contoh bagaimana pesantren bukan hanya aktor dalam praktik keagamaan, tetapi juga memiliki pengaruh politik sebagai pemimpin lokal dan pembuat keputusan. Selain itu, legitimasi terbesar untuk kepala desa tidak berasal dari masyarakat umum, tetapi lebih dari pesantren. Bisa dikatakan bahwa restu seorang Kyai, pemimpin pesantren, memiliki bobot lebih besar daripada suara warga desa. Pengaruh pesantren ini sering dilakukan secara tidak langsung, karena pesantren cenderung bertindak melalui perwakilan yang mereka tunjuk untuk masuk ke dalam struktur desa. Kepala desa yang sedang menjabat tidak sepenuhnya mandiri dari pengaruh pesantren, dan seringkali kepala desa tersebut adalah orang yang telah mendapatkan kepercayaan dari salah satu pesantren dan berada di bawah kendali mereka. Fenomena ini dapat dimengerti sebagai ekspresi hegemoni pesantren dalam masyarakat.

Penting untuk dicatat juga bahwa teori hegemoni Gramsci menyoroti bahwa tingkatan-ti ngkatan hegemoni ini tidak tetap atau statis, melainkan dapat berubah seiring waktu sebagai hasil dari perjuangan antara kelompok dan kelas yang berbeda dalam masyarakat. Gramsci percaya bahwa hegemoni terus-menerus dipertentangkan dan dinegosiasikan, dan kelompok dan kelas yang berbeda dapat memperoleh atau kehilangan kekuasaan tergantung pada hasil perjuangan ini. Di Tambak Rejo, tampaknya masyarakat saat ini mengalami perubahan dalam tingkatan hegemoni. Perubahan ini mungkin merupakan hasil dari proses demokratisasi yang terjadi di wilayah tersebut, yang telah membawa perubahan sosial dan politik. Akses yang meningkat terhadap informasi dan perkembangan pola pikiran masyarakat juga berperan dalam perubahan ini. Faktor-faktor ini telah berkontribusi pada perubahan hegemoni masyarakat Tambak Rejo, yang mungkin mengakibatkan pergeseran pengaruh yang dipegang oleh pesantren. Selain itu, perubahan ekonomi di Tambak Rejo, dengan penduduk yang tidak lagi bergantung pada masyarakat pertanian, juga berkontribusi terhadap perubahan hegemoni. Perubahan tingkatan hegemini ini juga disokong dari proses reformasi dari dalam pesantren Bahrul Ulum, karena sekarang dipimpin oleh orang-orang muda.

Hegemoni dekadent, seperti yang dijelaskan oleh Gramsci, merujuk pada tingkat hegemoni yang lebih rendah di mana kelas penguasa masih mampu mempertahankan kekuasaan, tetapi otoritas mereka lebih rapuh. Dalam kasus Tambak Rejo, tingkat hegemoni ini terbukti dengan adanya konflik dalam masyarakat. Dalam hal ini, kepala dusun (Kadus) Tambak Beras (salah satu daerah di desa Tambak Rejo) saat ini menjabat dengan dukungan seorang Nyai dari Pondok Al Lattifiyyah 2 tetapi memiliki konflik dan bertentangan dengan salah satu pemimpin pesantren. Konflik ini timbul dari ketidakpuasan Kadus terhadap sikap Kyai yang melarang keberadaan kios di sekitar pesantren yang ia pimpin. Pernyataan Kadus bahwa "seorang Kyai seharusnya membantu memfasilitasi urusan Masyarakat sekitar, bukan sebaliknya" memicu perselisihan yang kontroversial, karena Kyai memiliki pengaruh dan penghormatan yang besar di antara anggota administrasi desa. Akibatnya, ketika Kadus mengutarakan pendapat negatifnya tentang Kyai, para pejabat desa dengan cepat menyatakan keberatannya dan secara terbuka memprotesnya. Kadus, sebagai balasannya, merasa tidak puas dengan pembelaan Kyai oleh beberapa bawahannya. Konflik ini akhirnya memiliki dampak buruk pada kinerja aparatur desa dalam pekerjaan mereka.

Masyarakat desa Tambak Rejo dikenal memiliki tingkat penghargaan yang tinggi terhadap aktor-aktor elit dari pesantren. Namun, konflik yang halus tampaknya mulai hadir dalam tatanan sosial masyarakat. Pendapat yang diungkapkan oleh Kadus mencerminkan pemikiran sebagian penduduk yang setuju dengannya. Meskipun penduduk ini tidak mengungkapkan pendapat mereka secara langsung, hal itu tersirat melalui ucapan salah satu informan yang menyatakan bahwa penduduk pesantren Bahrul Ulum tampak eksklusif dalam memenuhi semua kebutuhan sehari-hari mereka dari dalam. Hal ini mengimplikasikan bahwa pesantren mungkin khawatir terhadap munculnya kekuatan ekonomi baru dari penduduk Masyarakat sekitar dan banyak santri yang beralih untuk belanja di luar. Ini juga menunjukkan bahwa tatanan sosial masyarakat tidak sepenuhnya sejalan dengan pemikiran dominan dari pesantren. Namun, konflik ini tampaknya terbatas pada area tertentu dalam masyarakat dan tidak secara signifikan mengurangi dominasi pesantren terhadap lingkungan sekitarnya. Sebagian besar anggota masyarakat terus mengandalkan pesantren dan pemimpin mereka, yang disebut sebagai Kyai, sebagai patron dan pemimpin sosial. Peran Kyai terlihat dalam hampir setiap kegiatan masyarakat dan mereka sering menduduki posisi yang lebih tinggi daripada pemimpin desa dalam masalah sosial. Misalnya, ketika pemerintah nasional melaksanakan program pemberdayaan, Kyai biasanya diangkat sebagai penasihat untuk pelaksanaan program tersebut oleh pejabat desa.

Dengan kata lain, kondisi di Tambak Rejo lebih mudah dipahami pada tingkat hegemoni integral dan dekadent. Pada tingkat ini, hegemoni masih terasa kuat di sebagian besar aspek kehidupan, namun beberapa aspek, hegemoni telah menurun karena kepercayaan dan kesatuan nilai hampir memudar (Syukur, 2019). Ketidakpercayaan atau konflik antara aktor dalam struktur dianggap sebagai bentuk penurunan hegemoni. Meskipun seluruh sistem telah terbentuk, "kepentingan" antara aktor, entah mengapa, tidak dapat diselaraskan lagi (Luturmas, 2022). Jika ketidakpercayaan dan konflik ini terjadi secara menyeluruh dan luas, hegemoni pesantren Bahrul Ulum mungkin akan terancam hancur.

Tingkat berikutnya adalah hegemoni minimum, yang menggambarkan kesatuan ideologis antara aktor. Namun, pada saat yang sama, ada keengganan untuk campur tangan dalam kehidupan negara (Nursyamsi et al., 2021). Menurut penelitian ini, konsep hegemoni minimum tidak berlaku untuk desa Tambak Rejo. Hal ini karena, seperti yang sebelumnya dijelaskan oleh peneliti, nilai-nilai pesantren telah sepenuhnya terintegrasi ke dalam semua aspek kehidupan masyarakat di desa tersebut. Hegemoni yang ada di Tambak Rejo tidak dapat diklasifikasikan sebagai hegemoni minimum karena para aktor dalam masyarakat mampu menyesuaikan kepentingan dan aspirasi mereka untuk mengakomodasi satu sama lain. Hal ini bertentangan dengan teori Gramsci, yang menyatakan bahwa kelompok hegemonik tidak ingin mengadaptasi kepentingan dan aspirasi mereka ke kelas sosial lain.

 

KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren Bahrul Ulum memiliki hegemoni yang signifikan dan merata dalam berbagai aspek kehidupan di desa Tambak Rejo. Pesantren ini terlibat dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat, dengan pemimpinnya (Kyai) memiliki pengaruh yang besar dalam struktur masyarakat. Namun, tingkat hegemoni ini juga memiliki konsekuensi negatif, seperti pembatasan kemampuan masyarakat untuk membuat pilihan politik independen. Terdapat konflik nilai-nilai baru dan nilai tradisional di masyarakat, meskipun disintegrasi minimal. Penelitian juga menunjukkan bahwa hegemoni pesantren dalam tahap transisi menuju penurunan seiring berjalannya waktu. Keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan penting tentang konsep hegemoni dalam konteks lembaga agama dan masyarakat.

 


DAFTAR PUSTAKA

Alfanani, Rozali Jauhari. (2019). Hegemoni Budaya Dalam Novel Merpati Kembar Di Lombok Karya Nuriadi: Kajian Hegemoni Antonio Gramsci. Genta Bahtera: Jurnal Ilmiah Kebahasaan Dan Kesastraan, 5(1), 56�66.

 

Ali, Zezen Zaenudin. (2017). Pemikiran Hegemoni Antonio Gramsci (1891-1937) di Italia. Jurnal Yaqzhan: Analisis Filsafat, Agama Dan Kemanusiaan, 3(2), 63�81.

 

Amran, Ali. (2015). Peranan agama dalam perubahan sosial masyarakat. HIKMAH: Jurnal Ilmu Dakwah Dan Komunikasi Islam, 2(1), 23�39.

 

Dwi, Mariyono, and Maskuri Maskuri. "Pengembangan Kelembagaan Pendidikan Islam Multikultural Melalui Spirit Entrepreneur Santri (Studi Etnografi di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang)." Edunity: Social and Educational Studies 2.2 (2023): 246-266.

 

Faizin, Muhamad. (2016). Dinamika Industri Pabrik Gula Meritjan Di Kediri Tahun 1930�1945. Airlangga University.

 

Hendriani, Aan, Maulidin, Achmad, Royani, Ahmad, Suherman, Ahmad, & Nurasikin, Agus. (2023). Moderasi Beragama dalam Masyarakat Multikultural (Studi Kasus Kecamatan Kramatwatu).

 

Isbah, M. Falikul. (2020). Pesantren in the changing Indonesian context: History and current developments. Qudus International Journal of Islamic Studies (QIJIS), 8(1), 65�106.

 

Jannah, Nur. (2019). Realitas Pesantren dan Kebijakan Pendidikan Islam dalam Perspektif Hegemoni Antonio Gramsci. Journal of Islamic Education Research, 1(01), 1�21.

 

Leksono, BUDI BOWO. (2017). Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Atas Negeri Karangreja Kabupaten Purbalingga. Jurnal Kependidikan, 4�10.

 

LEVISTE, ENRIQUE NI�O P. (2016). In the Name of Fathers, In Defense of Mothers: Hegemony, Resistance, and the Catholic Church on the Philippine Population Policy. Philippine Sociological Review, 5�44.

 

Luturmas, Yulius. (2022). Birokrasi Marxisme. SIAM International Journal, 1(01).

 

Madarik, Muhammad, & Puadi, Hairul. (2019). Hegemoni Kiai Terhadap Demokratisasi Di Pesantren:: Analisis Bahasa Tutur Pengasuh PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang. Jurnal Penelitian Ilmiah INTAJ, 3(2), 50�73.

 

Minarto, Eko, & Purwaningsih, Sri Yani. (2022). Evaluasi Kehalalan dan Personal Hygiene Penjual Makanan/Jajanan di Sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Sewagati, 6(5), 607�613.

 

Mouffe, Chantal. (2014). Gramsci and Marxist Theory (RLE: Gramsci). Routledge.

 

Nurhayati, Eti, & Nurhidayah, Yayah. (2019). Peranan Pendidikan Multikultural dalam Menangkal Sikap dan Perilaku Radikalisme Santeri di Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka. LP2M, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.

 

Paisun, Paisun. (2018). Analisis Terhadap Pemikiran Wahid Hasyim tentang Pembaruan Pendidikan Pesantren. Jurnal Pemikiran Dan Ilmu Keislaman, 1(1), 110�134.

 

Pramitha, Devi. (2020). Revitalisasi Kepemimpinan Kolektif-Kolegial Dalam Membangun Efektifitas Komunikasi Organisasi Pesantren (Studi Interaksionisme Simbolik Di Pondok Pesantren Jombang). EVALUASI: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 4(1), 45�69.

 

Raden, Rizaldi Firmansyah, & Indrarini, Rachma. (2022). Dampak Program Rumah Gemilang Indonesia oleh LAZ Al-Azhar Jawa Timur dalam Mengurangi Jumlah Pengangguran di Kota Surabaya. SIBATIK JOURNAL: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan, 1(8), 1279�1290.

 

Rehmann, Jan. (2013). 5. The Concept of Ideology in Gramsci�s Theory of Hegemony. In Theories of Ideology (pp. 117�146). Brill.

 

Ulfa, Mariam, Sulistiani, Sri, & Yuliati, Ana. (2020). Hegemoni Ekonomi Kelas Borjuis Dengan Buruh Dalam Novel Germinal Karya Emile Zola. Jurnal Sastra Aksara, 8(1), 67�85.

 

Walid, Moch Khoirul. (2021). Integralistik-Interkonektif Pendidikan Salaf Dan Khalaf Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Rabbani: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(2), 81�95.