HEGEMONI
PESANTREN BAHRUL ULUM DI DESA TAMBAK REJO, JOMBANG
Suryaningsih1,
Tedi Gunawan2
PT. Sinergi Visi Utama Consultant, Yogyakarta,
Indonesia1
Badan Riset dan Inovasi Nasional2
[email protected]1, [email protected]2
Abstrak:
Pesantren adalah
lembaga pendidikan Islam di Indonesia, terutama di Jawa Timur, yang memiliki
pengaruh kuat di sekitarnya. Penelitian ini mengkaji struktur hegemoni
pesantren Bahrul Ulum di Desa Tambak Rejo, Jombang, dengan data dari wawancara
mendalam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan menjelaskan
hegemoni Pesantren Bahrul Ulum di Desa Tambak Rejo, Jombang, termasuk
pengaruhnya terhadap kehidupan sosial, budaya, agama, dan politik di komunitas
sekitarnya, memahami peran Kyai dan pengaruhnya dalam masyarakat,
mengeksplorasi implikasi sosial dan politik hegemoni pesantren dalam konteks
yang lebih luas, dan memberikan pemahaman tentang dinamika kekuasaan dan
pengaruh lembaga agama dalam masyarakat, dengan penekanan pada perubahan
struktur hegemoni seiring waktu. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus
dalam desain penelitian kualitatif untuk menyelidiki struktur hegemoni dalam
komunitas sekitar pesantren. Wawancara mendalam digunakan sebagai metode utama
pengumpulan data, melibatkan manajemen pesantren, penduduk sekitar pesantren,
dan wali murid di desa Tambak Rejo. Data juga diperoleh dari pandangan politisi
lokal dan elit lokal di luar pesantren Bahrul Ulum sebagai data primer. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pesantren Bahrul Ulum memiliki hegemoni yang
signifikan dan merata dalam berbagai aspek kehidupan di desa Tambak Rejo.
Pesantren ini terlibat dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat, dengan
pemimpinnya (Kyai) memiliki pengaruh yang besar dalam struktur masyarakat.
Namun, tingkat hegemoni ini juga memiliki konsekuensi negatif, seperti
pembatasan kemampuan masyarakat untuk membuat pilihan politik independen.
Penelitian juga menunjukkan bahwa hegemoni pesantren dalam tahap transisi
menuju penurunan seiring berjalannya waktu. Keseluruhan, penelitian ini
memberikan wawasan penting tentang konsep hegemoni dalam konteks lembaga agama
dan masyarakat.
Kata kunci: Hegemoni;
Pondok Pesantren; Desa Tambak Rejo.
Abstract:
Islamic boarding schools are Islamic
educational institutions in Indonesia, especially in East Java, which have a
strong influence in the surrounding area. This research examines the hegemony
structure of the Bahrul Ulum Islamic boarding school in Tambak Rejo Village,
Jombang, with data from in-depth interviews. The aim of this research is to
investigate and explain the hegemony of the Bahrul Ulum Islamic Boarding School
in Tambak Rejo Village, Jombang, including its influence on social, cultural,
religious and political life in the surrounding community, understand the role
of Kyai and their influence in society, explore the social and political
implications of Islamic boarding school hegemony in a broader context, and
provides an understanding of the power dynamics and influence of religious
institutions in society, with an emphasis on changes in hegemonic structures
over time. This research uses a case study method in a qualitative research
design to investigate the structure of hegemony in the community around the
Islamic boarding school. In-depth interviews were used as the main method of
data collection, involving Islamic boarding school management, residents around
the Islamic boarding school, and parents in Tambak Rejo village. Data was also
obtained from the views of local politicians and local elites outside the Bahrul
Ulum Islamic boarding school as primary data. The research results show that
the Bahrul Ulum Islamic boarding school has significant and even hegemony in
various aspects of life in Tambak Rejo village. This Islamic boarding school is
involved in the social and political life of society, with its leader (Kyai)
having a great influence on the structure of society. However, this level of
hegemony also has negative consequences, such as limiting society's ability to
make independent political choices. Research also shows that Islamic boarding
school hegemony is in a transitional stage towards decline over time. Overall,
this research provides important insights into the concept of hegemony in the
context of religious institutions and society.
Keywords: Hegemony; Islamic boarding school;
Tambak Rejo Village
Corresponding: Nama
author
E-mail: Email author
PENDAHULUAN
Pesantren
telah muncul sebagai fenomena yang signifikan dalam perkembangan Islam di
Indonesia dengan salah satu perannya adalah membantu melayani kebutuhan
pendidikan berbasis agama (Isbah, 2020). Pesantren yang tersebar di Indonesia menjadi satu kesatuan yang tidak
bisa dipisahkan dengan historismasuknya Islam ke Indonesia (Dwi, Mariyono, and
Maskuri Maskuri, 2023). Institusi-institusi ini, yang diklaim sebagai lembaga
yang asli berasal dari Indonesia, bahkan diusulkan oleh para ulama sebagai
contoh institusi pendidikan yang cocok untuk pembangunan bangsa Indonesia (Walid, 2021). Dilihat dari sejarahnya, pengembangan pesantren berasal dari proses
da'wah di Indonesia� dan telah diamati
juga mulai berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir di era 1980-an,
terutama di wilayah Jawa Timur (Nurhayati & Nurhidayah, 2019). Jawa Timur dikenal sebagai rumah bagi banyak pesantren besar yang telah
berkembang sejak masa kolonial Belanda dan terus eksis hingga saat ini di
kota-kota seperti Jombang, Pasuruan, hingga Gresik yang terkenal dengan
pesantren Islamnya yang mapan dan terpercaya (Faizin, 2016).
Kota
Jombang, yang terletak di Indonesia, telah mendapatkan reputasi sebagai pusat
pendidikan Islam karena banyaknya pesantren besar di area tersebut (Pramitha, 2020).� Institusi-institusi ini, yang
menampung ribuan siswa dari berbagai daerah di negara ini, terkenal
menghasilkan lulusan-lulusan yang sangat berprestasi. Salah satu contohnya
adalah KH. Abdurrahman Wahid, mantan Presiden keempat Republik Indonesia, yang
merupakan alumni pesantren Bahrul Ulum di Jombang (Paisun, 2018)� dan beliau juga keturunan
pemimpin pesantren Tebuireng. Dengan kemampuannya dalam membentuk tokoh-tokoh
nasional, jelas bahwa pesantren bukanlah sekadar institusi pendidikan biasa.
Institusi-institusi ini menawarkan pendidikan komprehensif bagi intelektual
muda Muslim, yang memungkinkan mereka untuk memperoleh keahlian dalam berbagai
bidang seperti studi agama, etika, pengembangan intelektual, dan kepemimpinan,
hingga politik, sehingga mempersenjatai mereka dengan keterampilan yang
diperlukan untuk kemudian memberi dampak positif pada Masyarakat luas.
Pesantren
dan pemimpinnya, yang dikenal sebagai Kyai, memiliki peran yang signifikan
dalam masyarakat sebagai pemimpin agama, mentor, dan penegak hukum agama.
Legitimasi pemimpin-pemimpin ini adalah kekuatan besar, karena mereka sangat
dihormati oleh anggota masyarakat (Jannah, 2019). Menurut para ahli, kekuatan legitimasi mereka adalah faktor kontributor
terhadap munculnya hegemoni dalam komunitas-komunitas ini. Kyai memiliki
kekuatan besar dalam masyarakat dan dapat mempengaruhi keputusan-keputusan
karena basis massa yang kokoh dan tingkat pengetahuan agama yang tinggi (Madarik & Puadi, 2019). Selain itu, dalam masyarakat-masyarakat pedesaan dengan struktur
hierarki yang masih kuat, para intelektual Muslim ini dianggap sebagai bagian
dari elit dan aktor-aktor penting dalam struktur sosial, yang biasanya
menduduki posisi kelas menengah atas.
Hegemoni
sendiri sebagaimana didefinisikan oleh Rehmann (Rehmann, 2013), adalah dominasi kontrol satu pihak atas pihak lainnya. Dalam konteks
penelitian ini, komunitas pesantren bisa dilihat sebagai pelaku kuat yang mampu
mencapai konsensus dan mengendalikan masyarakat. Menurut Gramsci, agama
dianggap sebagai pandangan dunia yang populer yang menghasilkan
pandangan-pandangan fungsional bagi jutaan orang dan, oleh karena itu, dapat mempengaruhi
individu-individu melalui kekuatan khusus (Ali, 2017). Kemampuan untuk meyakinkan individu-individu dengan penuh keyakinan,
bukan melalui kekuatan fisik, adalah karakteristik penting dari hegemoni.
Selain itu,
menurut teori-teori Gramsci, ada tiga tingkat hegemoni yang ada dalam suatu
masyarakat: hegemoni integral, hegemoni dekadent, dan hegemoni minimum
Dampak
pendidikan pesantren terhadap munculnya hegemoni telah banyak diteliti dan
didokumentasikan dalam berbagai literatur akademik. Penelitian telah
menunjukkan bahwa agama memainkan peran penting dalam membentuk individu dan
kelompok melalui proses pendidikan agamanya (LEVISTE, 2016). Pendidikan, sebagai bentuk intervensi persuasif, digunakan oleh agama
untuk menyebarkan ajaran-ajaran dan keyakinannya. Penyebaran ajaran-ajaran
agama melalui pemimpin agama, seperti ulama pesantren atau pastor/pendeta
gereja, telah diidentifikasi sebagai mekanisme kunci untuk perkembangan
hegemoni. Para ulama ini, melalui ajaran dan pengaruh mereka, telah dapat
membentuk bentuk penguasaan persuasif dalam siswa-siswanya (Rehmann, 2013).
Selain itu,
agama telah diakui secara luas sebagai faktor penting dalam membentuk
stratifikasi sosial di berbagai masyarakat. Studi yang dilakukan oleh para ahli
seperti (Amran, 2015) yang telah menyoroti dampak keyakinan dan praktik agama terhadap
struktur sosial dan hierarki. Secara khusus, keyakinan dan praktik agama telah
terbukti mendorong individu untuk mengikuti panduan pemimpin agama, seperti
uskup, imam, dan ulama, yang mengakibatkan ketergantungan yang meningkat pada
pemimpin-pemimpin ini dan perubahan dalam tatanan sosial masyarakat (Hendriani, Maulidin, Royani, Suherman,
& Nurasikin, 2023). Pemimpin-pemimpin agama ini seringkali dianggap sebagai ahli dalam
bidang agama dan oleh karena itu dihormati oleh masyarakat, yang lebih
memperkuat posisi sosial dan politik mereka. Teori hegemoni budaya Gramsci juga
menyoroti fenomena ini, berargumen bahwa akar masalah ini bukan terletak dalam
struktur sosial itu sendiri, tetapi dalam individu, yang merupakan tokoh
sentral dalam ajaran dan praktik agama (Mouffe, 2014). Dengan demikian, melalui pemeriksaan sistematis data empiris dan
analisis teoritis, dapat disimpulkan bahwa agama memainkan peran penting dalam
membentuk stratifikasi sosial masyarakat.
Penelitian
ini bermaksud untuk mengkaji struktur hegemoni dalam masyarakat Desa Tambak
Rejo, Jombang, sebagaimana termanifestasi melalui hegemoni pesantren Bahrul
Ulum. Penelitian ini berbeda dari penelitian-penelitian tradisional tentang
pesantren, dengan memandang topik dari sudut pandang politis. Melihat bagaimana
keberadaan pesantren di Desa Tambak Rejo dapat menciptakan hegemoni dalam
masyarakat dengan mengeksplorasi mekanisme-mekanisme melalui yang keyakinan dan
praktik agama mempengaruhi hubungan kekuasaan sosial dalam konteks ini.
Penelitian ini juga akan memberikan kontribusi pada literatur yang sudah ada
tentang hegemoni dengan memberikan wawasan tentang bagaimana komunitas agama
dapat memiliki kekuasaan signifikan dalam membentuk norma-norma dan nilai-nilai
masyarakat. Desa Tambak Rejo adalah studi kasus yang ideal, karena ditandai
dengan tradisi agama yang kuat, di mana sebagian besar penduduknya memeluk
Islam dan masih mempertahankan adat dan ritual tradisional. Selain itu, banyak
penduduknya yang ikut dalam perkumpulan dan kelompok agama yang mengadakan
pengajian dan ceramah rutin yang dipimpin oleh Kyai atau Gus dari pesantren
Bahrul Ulum. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi pada pemahaman hubungan kompleks antara institusi keagamaan dan
masyarakat.
Penelitian
ini juga menyelidiki peran pesantren, khususnya pesantren Bahrul Ulum di
Jombang, sebagai simbol kontrol Kyai terhadap masyarakat dan kekuasaan politik
mereka dalam komunitas. Komunitas pesantren seringkali hanya dilihat sebagai
entitas agama, tetapi penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh
dan dampak mereka dalam masyarakat luas, terutama dalam politik. Pesantren
sering kali memiliki pemimpin yang disebut Kyai atau Nyai yang memiliki
preferensi politik. Preferensi ini dapat memiliki dampak signifikan tidak hanya
di pesantren, tetapi juga di masyarakat sekitarnya. Studi juga menemukan bahwa
pengaruh para pemimpin ini meluas di luar lingkungan pesantren, berpotensi
memengaruhi keterlibatan politik dan partisipasi dalam masyarakat lebih luas.
Pemilihan pesantren Bahrul Ulum sebagai lokasi penelitian disebabkan oleh
statusnya sebagai pesantren Islam terbesar dan paling berpengaruh di Jombang,
dengan dampak signifikan hegemoninya pada kehidupan masyarakat sekitarnya,
khususnya di desa Tambak Rejo. Penelitian ini memiliki manfaat berupa pemahaman
lebih mendalam tentang peran pesantren dalam masyarakat, kontribusi pada
penelitian seputar lembaga agama dan masyarakat, memberikan informasi penting
kepada pengambil keputusan, meningkatkan kesadaran masyarakat setempat tentang
pengaruh pesantren dan peran Kyai, serta berpotensi menciptakan perubahan
positif seperti peningkatan kesejahteraan dan keadilan sosial dalam komunitas
setempat. Penelitian ini memberikan wawasan berharga kepada berbagai pemangku
kepentingan. Tujuan penelitian
ini adalah untuk menyelidiki dan menjelaskan hegemoni Pesantren Bahrul Ulum di
Desa Tambak Rejo, Jombang, termasuk pengaruhnya terhadap kehidupan sosial,
budaya, agama, dan politik di komunitas sekitarnya, memahami peran Kyai dan
pengaruhnya dalam masyarakat, mengeksplorasi implikasi sosial dan politik
hegemoni pesantren dalam konteks yang lebih luas, dan memberikan pemahaman
tentang dinamika kekuasaan dan pengaruh lembaga agama dalam masyarakat, dengan
penekanan pada perubahan struktur hegemoni seiring waktu.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan
menggunakan metode studi kasus. Pemilihan metode studi kasus didasari oleh
tujuan penelitian ini, yaitu untuk menyelidiki dan menjelaskan kerumitan
struktur hegemoni dalam komunitas sekitar pesantren. Pendekatan studi kasus
dianggap sesuai untuk penelitian ini karena memungkinkan pemeriksaan perilaku
sebagai titik awal, sebagaimana diungkapkan oleh Thomas, dengan memberikan
wawasan mengapa individu atau kelompok terlibat dalam tindakan-tindakan tertentu.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan menjelaskan suatu
fenomena sosial. Oleh karena itu, penggunaan studi kasus dianggap sesuai.
Para peneliti juga menggunakan wawancara mendalam sebagai metode
pengumpulan data utama untuk mengumpulkan data. Penggunaan wawancara mendalam
dimaksudkan untuk memfasilitasi perolehan data awal yang diperoleh langsung
dari pesantren dan masyarakat sekitarnya. Ini termasuk mewawancarai manajemen
pesantren dan madrasa, penduduk di sekitar pesantren, dan wali murid yang
menggunakan layanan pendidikan yang disediakan oleh pesantren. Komunitas yang
dimaksud di sini adalah desa Tambak Rejo. Selain itu, pandangan politisi lokal
dan elit lokal akan disertakan dalam penelitian ini sebagai bentuk data primer
yang bersumber dari luar lingkungan pesantren Bahrul Ulum.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
1. Pondok
Pesantren Bahrul Ulum dan Desa Tambak Rejo
Pondok Pesantren Bahrul Ulum didirikan
untuk menyebarkan Islam di wilayah Jawa Timur, khususnya di Jombang, lebih dari
185 tahun yang lalu. Pendiri pondok, Abdus Salam, yang juga dikenal sebagai
Mbah Shoichah, tiba di hutan terbengkalai dan membangun sebuah rumah kecil
sebagai sarana media dakwahnya. Awalnya, dia berdakwah di sebuah masjid kecil
(langgar) di Gedang, tetapi seiring berkembangnya pesantren, tempat ini menjadi
tempat ibadah dan tempat tinggal bagi para santri yang mengikuti diirnya, yang
kemudian dikenal sebagai Pondok Selawe atau Pondok Telu (Minarto & Purwaningsih, 2022). Pesantren ini pada awal berdirinya berfokus pada pengajaran syariah,
ilmu alam, dan kanuragan (beladiri).
Setelah wafatnya pendiri, pondok ini
diwariskan kepada dua menantunya, Kyai Ustman dan Kyai Sa'id, yang juga
merupakan murid Mbah Shoichah. Pesantren kemudian dibagi menjadi dua dengan
program pendidikan yang berbeda di bawah kepemimpinan mereka. Kyai Ustman fokus
pada pengajaran thoriqot, sementara Kyai Sa'id fokus pada syariah (Raden & Indrarini, 2022). Kyai Chasbulloh, putra Kyai Sa'id, kemudian melanjutkan pesantren ini.
Kyai Chasbulloh terkenal dengan kekayaan dan kekuasaannya, dan dilaporkan bahwa
wilayah di sekitar pesantren menjadi sangat makmur sehingga dinamakan Desa
Tambak Beras karena banyaknya gudang beras di sana waktu itu (Raden & Indrarini, 2022) Para penjajah Belanda juga menghormatinya karena modal keuangannya yang
tinggi. Kyai Chasbulloh juga memainkan peran penting dalam gerakan kemerdekaan
Republik Indonesia, menggunakan pesantren sebagai markas organisasi yang
dipimpinnya. Berbagai strategi melawan penjajah disiapkan di pesantren, dan
Kyai Chasbulloh juga membela para petani di area tersebut yang diperlakukan
buruk oleh Belanda. Ini menunjukkan perannya sebagai pelindung dan pemimpin di
berbagai bidang.
Di awal abad ke-20, Kyai Chasbulloh
mengirim anak-anaknya untuk belajar Islam di berbagai tempat, termasuk Mekah.
Setelah kembali, salah satu anaknya, Kyai Abdul Wahab, memulai proses reformasi
di pesantren di bawah kepemimpinan ayahnya pada tahun 1914. Reformasi ini
melibatkan penggantian kerangka holaqoh tradisional dengan kurikulum madrasah
standar, yang mengarah pada perkembangan pesantren yang pesat. Madrasah pertama
yang dibangun dalam kerangka baru ini adalah Madrasah Mubdil Fan, didirikan
pada tahun 1915. Selain itu, Kyai Abdul Wahab juga mendirikan pertemuan dialog
yang disebut Tashwirul Afkar di Surabaya dan mendirikan Nahdlatul Wathon, yang
kemudian menjadi pelopor Nahdlatul Ulama
Sedangkan Desa Tambak Rejo, yang
terletak di wilayah utara Jombang, memiliki penduduk dengan lebih dari 90%
merupakan Masyarakat penganut agama Islam. Berdekatan dengan beberapa desa
lainnya, termasuk Dapur Kejambon, Ploso Geneng, Sambong Dukuh, dan Tembelang,
Tambak Rejo memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan pendirian pondok
pesantren Bahrul Ulum. Pendirian pesantren ini menyebabkan peningkatan jumlah
penduduk yang terkait dengan aktivitas pesantren dan kemudian mengakibatkan
perkembangan yang signifikan di wilayah tersebut. Salah satu ciri khas desa
Tambak Rejo adalah sifat keagamaannya, dengan keberadaan pondok pesantren dan
praktik serta keyakinan keagamaan masyarakat yang sangat terkait dengan faktor
sejarah yang membentuk desa tersebut. Ini terbukti dari tingkat religiusitas
yang tinggi dan ketaatan pada ritual Islam tradisional Kejawen, seperti
selamatan dan tahlilan. Ritual-ritual ini mengintegrasikan desa dengan
komunitas pondok pesantren, menghasilkan hubungan yang erat antara kedua
entitas tersebut.
2. Hegemoni
Desa Tambak Rejo
Hegemoni, yang didefinisikan sebagai
dominasi satu kelompok atas kelompok lainnya, adalah fenomena yang umum terjadi
dalam masyarakat. Dominasi ini sering terlihat di komunitas di mana kekuasaan
tidak merata di antara para pelaku, dengan hanya beberapa orang yang memiliki
pengaruh signifikan (Ulfa, Sulistiani, & Yuliati, 2020). Kekuasaan yang dimiliki oleh kelompok-kelompok ini, baik itu kekuasaan
fisik, ekonomi, atau intelektual, dapat berdampak signifikan pada masyarakat
secara keseluruhan. Dalam kasus desa Tambak Rejo, jelas bahwa kelompok dominan
adalah mereka yang memiliki kekuasaan intelektual, khususnya dalam bentuk
pengetahuan keagamaan. Kelompok ini, dikenal sebagai pesantren beserta Kyai di
dalamnya, menduduki posisi penting dalam struktur sosial Tambak Rejo karena
keahlian mereka dalam ajaran Islam dan juga pengakuan oleh masyarakat. Gelar
Kyai tidak hanya diberikan kepada mereka yang telah belajar di pesantren,
tetapi juga kepada mereka yang dilegitimasi tingkat pengetahuan dan pengaruhnya
oleh masyarakat. Di Tambak Rejo, jelas bahwa kekuasaan intelektual dan
pengakuan oleh masyarakat memiliki bobot signifikan dalam menentukan
kepemimpinan sosial dan spiritual.
Pesantren adalah lembaga pendidikan yang
berfokus pada studi dan praktik Islam. Kyai, atau pemimpin spiritual, berperan
sebagai figur utama dalam institusi-institusi ini. Sebagai pemimpin dan guru,
Kyai memainkan peran vital dalam pengembangan dan pemeliharaan komunitas di
pesantren. Kyai biasanya adalah pendiri sekolah dan dianggap sebagai panutan
bagi penduduk, yang sering mencarinya untuk panduan hidup atau sekedar
instruksi. Dalam peran ini, Kyai diberi otoritas dan tanggung jawab secara
organic oleh Masyarakat secara signifikan. Menurut seorang informan, tugas
utama Kyai adalah mengelola moral dan kesejahteraan spiritual ummah. Untuk
menjalankan tugas ini, Kyai diharapkan memiliki tingkat pengetahuan keagamaan
yang tinggi, yang dianggap sebagai modal utama mereka. Seperti yang dinyatakan
oleh Antonio Gramsci
Penduduk desa Tambak Rejo yang relatif
masih tradisional telah menunjukkan ketaatan mereka terhadap nilai-nilai dan
adat istiadat tradisional. Ini terbukti dengan partisipasi terus-menerus
penduduknya dalam berbagai kegiatan desa, seperti rutinan pengajian yang
diadakan setiap bulan. Pemimpin desa melaporkan bahwa kegiatan pengajian ini
juga merupakan agenda pesantren setempat, karena mereka memiliki keterampilan
manajemen yang diperlukan untuk mengorganisir dan mengkoordinasikan acara-acara
ini, yang melibatkan baik individu pesantren maupun warga desa. Selain itu,
Kyai dari Bahrul Ulum biasanya menjadi pembicara dan fasilitator untuk
acara-acara ini. Masyarakat secara konsisten menunjukkan antusiasme terhadap
acara-acara pengajian malam Jumat, dengan tingkat partisipasi yang tinggi.
Tradisi pengajian yang dipimpin oleh Kyai ini memiliki sejarah yang panjang di
desa ini dan terus dipegang teguh oleh pesantren dan masyarakat Tambak Rejo.
Keberlanjutan tradisi ini dapat diatributkan pada pengaruh signifikan pesantren
di desa ini, serta keberadaan organisasi berbasis masyarakat yang solid,
Nahdlatul Ulama (NU), yang memiliki kearifan lokal dan pengaruh yang signifikan
di wilayah Jombang. Penting untuk dicatat bahwa pelestarian dan kelanjutan
praktik-praktik tradisional, seperti pengajian rutin, sangat penting untuk
pelestarian budaya dan sejarah desa serta pemeliharaan kohesi sosial dan
identitas masyarakat. Selain itu, partisipasi aktif individu pesantren dan
warga desa dalam acara-acara ini dapat dilihat sebagai peran penting agama dan
spiritualitas dalam memperkuat kohesi masyarakat dan integrasi sosial. Fakta
bahwa tradisi ini masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat Tambak Rejo adalah
indikasi kekuatan hegemoni budaya komunitas pesantren dalam membentuk identitas
desa.
Tradisi wiridan dan pengajian di Tambak
Rejo sangat erat kaitannya dengan keberadaan seorang ulama. Sang ulama, yang
memimpin pengajian, harus memiliki kemampuan menghafal yang tinggi dan karisma
agar bisa memimpin komunitas secara efektif dalam praktik spiritual mereka. Di
masyarakatatau desa lainnya, tokoh lokal seperti kepala desa yang tidak selalu
lulus dari madrasah atau pesantren bisa menjadi pemimpin dalam pengajian ini.
Namun, di Tambak Rejo, ada preferensi khusus untuk mengundang imam-imam yang
berasal dari lingkungan pesantren untuk memimpin pengajian ini. Hal ini
disebabkan oleh pengakuan kualitas tinggi terhadap ustadz atau Kyai ini,
sebagai pemimpin dan tokoh berkarisma dalam komunitas tersebut. Keberadaan
individu-individu dari pesantren dipercaya dapat membawa berkah dalam aktivitas
ini, setidaknya berdasarkan beberapa pendapat sebagian anggota masyarakat
Tambak Rejo. Selain itu, konsep kepemimpinan di Tambak Rejo juga telah mengakar
pada nilai-nilai pesantren dan idealisme di dalam komunitas tersebut. Kultur
pengajian di Tambak Rejo tidak hanya berasal dari masyarakat itu sendiri,
tetapi juga sangat dipengaruhi oleh keberadaan pesantren dan Kyai.
Seperti diungkapkan oleh beberapa
informan, penting bagi para pemimpin dalam masyarakat Tambak Rejo untuk
memiliki kombinasi moral yang baik, pengetahuan yang luas, dan keterampilan
kepemimpinan yang berkarisma untuk memastikan kepemimpinan yang bertanggung jawab
dan efektif dalam komunitas tersebut. Hal ini karena seorang pemimpin yang
memiliki kualitas-kualitas ini tidak hanya mampu membimbing dan mengarahkan
masyarakat menuju pencapaian tujuannya, tetapi juga berfungsi sebagai contoh
teladan bagi anggota masyarakat untuk diikuti, sehingga mempromosikan budaya
keunggulan dan tanggung jawab dalam komunitas tersebut. Selain itu, keberadaan
pemimpin yang memiliki kualitas-kualitas ini juga membantu membangun rasa
kepercayaan dan keyakinan di antara anggota masyarakat, yang sangat penting
untuk kelancaran fungsi masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, sangat
penting bagi para pemimpin di desa Tambak Rejo memiliki moral yang baik,
pengetahuan yang luas, dan karisma sebagai jaminan kepemimpinan yang bertanggung
jawab dan efektif.
Lanskap politik desa Tambak Rejo saat
ini diperintah oleh pemimpin terpilih, Moh. Nasir Fadlallah. Sebagai kepala
desa, dia dipilih langsung oleh warga, yang tentu saja memastikan proses
demokratis dalam pemilihan kepemimpinan. Kesuksesan kampanye politiknya
sebagian besar dikaitkan dengan dukungan tokoh terkemuka dari lingkup
pesantren, khususnya seorang Nyai bernama Bu Mundjiah, yang tinggal di
lingkungan pesantren Bahrul Ulum. Dukungan dan restu individu dari pimpinan
pesantren ini memainkan peran krusial dalam kenaikan Moh. Nasir Fadlallah ke
posisi kepala desa. Perlu dicatat bahwa konsep seorang Nyai adalah peran
kepemimpinan tradisional dalam desa yang sering kali dipegang oleh perempuan
terhormat dan berpengaruh, dan tentu saja dukungan mereka memiliki pengaruh
besar dalam pemilihan local kepala desas. Persimpangan struktur politik
tradisional dan modern di desa Tambak Rejo adalah subjek yang sangat menarik
untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.
Di Jawa, posisi kepala desa sangat
diidamkan dan sering kali diperebutkan. Hal ini juga terjadi di desa Tambak
Rejo, di mana persaingan untuk menduduki posisi tersebut tidak hanya terjadi di
antara warga desa, tetapi juga di kalangan penduduk pesantren. Saat ini, posisi
kepala desa memang dipegang oleh seorang warga dari luar pesantren, namun hal
ini terjadi karena dukungan penuh dari tokoh-tokoh pesantren. Wawancara dengan
kepala desa mengungkapkan bahwa pesantren memainkan peran penting dalam
pemilihan kepala desa. Dari sudut pandang warga desa, calon yang mendapat
dukungan dari pesantren, terutama kyai, dianggap sebagai kandidat yang
berkualitas. Oleh karena itu, dianggap penting bagi seorang calon kepala desa
untuk mendapatkan dukungan dari pesantren agar memiliki peluang lebih besar untuk
memenangkan pemilihan. Kepala desa juga menyatakan bahwa pada akhirnya,
masyarakat di desa ini cenderung memilih calon yang kompeten dan memiliki
hubungan yang baik dengan komunitas pesantren, dan yang tidak terlalu fanatik
dalam agama, tetapi tetap mendapat dukungan dari pesantren.
Posisi kepala administratif Tambak Rejo,
yang biasa disebut kepala desa, sangat bergantung pada dukungan baik dari warga
lokal maupun pesantren. Hal ini karena pengaruh signifikan yang dimiliki oleh
institusi-institusi ini, terutama oleh anggota elit pesantren. Pengaruh ini
telah menggantikan kepemimpinan tradisional kepala desa, karena otoritas dan
legitimasi agama yang melekat dalam institusi-institusi ini memberikan posisi
yang lebih tinggi dalam masyarakat. Implementasi kebijakan oleh kepala desa
sering kali tergantung pada persetujuan, atau "restu" dari elit
pesantren, khususnya Kyai. Melibatkan Kyai dalam proses pengambilan keputusan
adalah komponen krusial dalam memastikan keberhasilan dan implementasi kebijakan
desa dalam komunitas. Munculnya pola kepemimpinan desa yang kuat teramati
ketika aktor-aktor kunci mendapatkan legitimasi melalui dukungan dan validasi
dari pesantren, sebuah pesantren tradisional yang memiliki pengaruh budaya dan
sosial yang signifikan dalam komunitas. Fenomena ini menyoroti peran yang rumit
antara institusi keagamaan dan dinamika kepemimpinan dalam masyarakat pedesaan,
dan memberikan wawasan tentang pentingnya memahami peran institusi budaya dan
keagamaan dalam membentuk struktur tata kelola komunitas Masyarakat desa.
3. Tingkatan
Hegemoni
Secara umum, hegemoni dalam masyarakat
dapat dijelaskan dalam berbagai tingkatan. Kita akan melihat beberapa tingkatan
hegemoni dalam masyarakat desa Tambak Rejo. Hegemoni dalam masyarakat Tambak
Rejo adalah bentuk dominasi dari pesantren Bahrul Ulum. Hegemoni ini dalam
masyarakat Tambak Rejo beroperasi melalui berbagai aspek, termasuk agama,
sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa ada
tiga tingkatan hegemoni: integral, dekadent, dan minimum. Pada tingkat pertama,
hegemoni integral, dijelaskan bahwa hegemoni dalam masyarakat dan afiliasi
dalam masyarakat mendekati totalitas karena adanya kesatuan moral dan
intelektual yang kuat (Alfanani, 2019). Tingkat hegemoni ini ditandai dengan kemampuan kelas penguasa untuk
mengintegrasikan berbagai kelompok dan kelas dalam masyarakat dan menciptakan
rasa tujuan bersama dan identitas bersama. Sementara itu, hegemoni dekadent
terjadi dalam masyarakat kapitalis yang lebih modern, yang mengalami potensi
disintegrasi. Konflik tersembunyi muncul dalam kehidupan sosial yang dianggap
sudah mapan. Ideologi dan budaya kelas penguasa tidak sekuat pada hegemoni
integral dan dalam tingkatan ini terjadi perasaan perpecahan dan konflik kecil
dalam masyarakat. Akhirnya, terakhir adalah hegemoni minimum yang didasarkan
pada kesatuan ideologis antara elit ekonomi, politik, dan intelektual yang
berjalan seiring dengan penolakan terhadap campur tangan massa dalam kehidupan
negara. Selanjutnya, ideologi dan budaya kelas penguasa tidak dominan, dan ada
perasaan ketidaksetujuan dan perlawanan umum dalam masyarakat. Tingkat hegemoni
ini ditandai dengan ketidakmampuan kelas penguasa untuk mendapatkan persetujuan
dan legitimasi dari sebagian besar penduduk.
Dalam konteks pesantren, hegemoni
integral dapat diamati dalam campur tangan pesantren yang kuat dan komprehensif
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tambak Rejo. Pada tingkat hegemoni
integral ini, ada kesatuan moral dan intelektual yang kuat dalam masyarakat
dalam melihat agama sebagai panduan bagi kehidupan sosial, dari perspektif
politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Kesatuan ini dapat diamati dalam gabungan
dan kesatuan antara pesantren Bahrul Ulum dan lingkungannya, yaitu masyarakat
desa Tambak Rejo. Masyarakat desa melihat bimbingan dari lingkungan pesantren
sebagai benar dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka, menjadikan
Pesantren Bahrul Ulum sebagai acuan dan pemimpin sosial. Hal ini memperkuat
peran pesantren dalam kehidupan Desa Tambak Rejo.
Dalam hegemoni integral, hubungan antara
pesantren dan politik dapat dijelajahi melalui lensa pemilihan kepala desa,
seperti yang disebutkan sebelumnya. Ini adalah contoh bagaimana pesantren bukan
hanya aktor dalam praktik keagamaan, tetapi juga memiliki pengaruh politik
sebagai pemimpin lokal dan pembuat keputusan. Selain itu, legitimasi terbesar
untuk kepala desa tidak berasal dari masyarakat umum, tetapi lebih dari
pesantren. Bisa dikatakan bahwa restu seorang Kyai, pemimpin pesantren,
memiliki bobot lebih besar daripada suara warga desa. Pengaruh pesantren ini
sering dilakukan secara tidak langsung, karena pesantren cenderung bertindak
melalui perwakilan yang mereka tunjuk untuk masuk ke dalam struktur desa.
Kepala desa yang sedang menjabat tidak sepenuhnya mandiri dari pengaruh
pesantren, dan seringkali kepala desa tersebut adalah orang yang telah
mendapatkan kepercayaan dari salah satu pesantren dan berada di bawah kendali
mereka. Fenomena ini dapat dimengerti sebagai ekspresi hegemoni pesantren dalam
masyarakat.
Penting untuk dicatat juga bahwa teori
hegemoni Gramsci menyoroti bahwa tingkatan-ti ngkatan hegemoni ini tidak tetap
atau statis, melainkan dapat berubah seiring waktu sebagai hasil dari
perjuangan antara kelompok dan kelas yang berbeda dalam masyarakat. Gramsci
percaya bahwa hegemoni terus-menerus dipertentangkan dan dinegosiasikan, dan
kelompok dan kelas yang berbeda dapat memperoleh atau kehilangan kekuasaan
tergantung pada hasil perjuangan ini. Di Tambak Rejo, tampaknya masyarakat saat
ini mengalami perubahan dalam tingkatan hegemoni. Perubahan ini mungkin
merupakan hasil dari proses demokratisasi yang terjadi di wilayah tersebut,
yang telah membawa perubahan sosial dan politik. Akses yang meningkat terhadap
informasi dan perkembangan pola pikiran masyarakat juga berperan dalam
perubahan ini. Faktor-faktor ini telah berkontribusi pada perubahan hegemoni
masyarakat Tambak Rejo, yang mungkin mengakibatkan pergeseran pengaruh yang
dipegang oleh pesantren. Selain itu, perubahan ekonomi di Tambak Rejo, dengan
penduduk yang tidak lagi bergantung pada masyarakat pertanian, juga
berkontribusi terhadap perubahan hegemoni. Perubahan tingkatan hegemini ini
juga disokong dari proses reformasi dari dalam pesantren Bahrul Ulum, karena
sekarang dipimpin oleh orang-orang muda.
Hegemoni dekadent, seperti yang
dijelaskan oleh Gramsci, merujuk pada tingkat hegemoni yang lebih rendah di
mana kelas penguasa masih mampu mempertahankan kekuasaan, tetapi otoritas
mereka lebih rapuh. Dalam kasus Tambak Rejo, tingkat hegemoni ini terbukti
dengan adanya konflik dalam masyarakat. Dalam hal ini, kepala dusun (Kadus)
Tambak Beras (salah satu daerah di desa Tambak Rejo) saat ini menjabat dengan
dukungan seorang Nyai dari Pondok Al Lattifiyyah 2 tetapi memiliki konflik dan
bertentangan dengan salah satu pemimpin pesantren. Konflik ini timbul dari
ketidakpuasan Kadus terhadap sikap Kyai yang melarang keberadaan kios di sekitar
pesantren yang ia pimpin. Pernyataan Kadus bahwa "seorang Kyai seharusnya
membantu memfasilitasi urusan Masyarakat sekitar, bukan sebaliknya" memicu
perselisihan yang kontroversial, karena Kyai memiliki pengaruh dan penghormatan
yang besar di antara anggota administrasi desa. Akibatnya, ketika Kadus
mengutarakan pendapat negatifnya tentang Kyai, para pejabat desa dengan cepat
menyatakan keberatannya dan secara terbuka memprotesnya. Kadus, sebagai
balasannya, merasa tidak puas dengan pembelaan Kyai oleh beberapa bawahannya.
Konflik ini akhirnya memiliki dampak buruk pada kinerja aparatur desa dalam
pekerjaan mereka.
Masyarakat desa Tambak Rejo dikenal
memiliki tingkat penghargaan yang tinggi terhadap aktor-aktor elit dari
pesantren. Namun, konflik yang halus tampaknya mulai hadir dalam tatanan sosial
masyarakat. Pendapat yang diungkapkan oleh Kadus mencerminkan pemikiran
sebagian penduduk yang setuju dengannya. Meskipun penduduk ini tidak
mengungkapkan pendapat mereka secara langsung, hal itu tersirat melalui ucapan
salah satu informan yang menyatakan bahwa penduduk pesantren Bahrul Ulum tampak
eksklusif dalam memenuhi semua kebutuhan sehari-hari mereka dari dalam. Hal ini
mengimplikasikan bahwa pesantren mungkin khawatir terhadap munculnya kekuatan
ekonomi baru dari penduduk Masyarakat sekitar dan banyak santri yang beralih
untuk belanja di luar. Ini juga menunjukkan bahwa tatanan sosial masyarakat
tidak sepenuhnya sejalan dengan pemikiran dominan dari pesantren. Namun,
konflik ini tampaknya terbatas pada area tertentu dalam masyarakat dan tidak
secara signifikan mengurangi dominasi pesantren terhadap lingkungan sekitarnya.
Sebagian besar anggota masyarakat terus mengandalkan pesantren dan pemimpin
mereka, yang disebut sebagai Kyai, sebagai patron dan pemimpin sosial. Peran
Kyai terlihat dalam hampir setiap kegiatan masyarakat dan mereka sering
menduduki posisi yang lebih tinggi daripada pemimpin desa dalam masalah sosial.
Misalnya, ketika pemerintah nasional melaksanakan program pemberdayaan, Kyai
biasanya diangkat sebagai penasihat untuk pelaksanaan program tersebut oleh
pejabat desa.
Dengan kata lain, kondisi di Tambak Rejo
lebih mudah dipahami pada tingkat hegemoni integral dan dekadent. Pada tingkat
ini, hegemoni masih terasa kuat di sebagian besar aspek kehidupan, namun
beberapa aspek, hegemoni telah menurun karena kepercayaan dan kesatuan nilai
hampir memudar
Tingkat berikutnya adalah hegemoni
minimum, yang menggambarkan kesatuan ideologis antara aktor. Namun, pada saat
yang sama, ada keengganan untuk campur tangan dalam kehidupan negara
KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pesantren Bahrul Ulum memiliki hegemoni yang signifikan dan merata dalam
berbagai aspek kehidupan di desa Tambak Rejo. Pesantren ini terlibat dalam
kehidupan sosial dan politik masyarakat, dengan pemimpinnya (Kyai) memiliki
pengaruh yang besar dalam struktur masyarakat. Namun, tingkat hegemoni ini juga
memiliki konsekuensi negatif, seperti pembatasan kemampuan masyarakat untuk
membuat pilihan politik independen. Terdapat konflik nilai-nilai baru dan nilai
tradisional di masyarakat, meskipun disintegrasi minimal. Penelitian juga
menunjukkan bahwa hegemoni pesantren dalam tahap transisi menuju penurunan
seiring berjalannya waktu. Keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan penting
tentang konsep hegemoni dalam konteks lembaga agama dan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Alfanani, Rozali Jauhari. (2019). Hegemoni Budaya Dalam Novel Merpati
Kembar Di Lombok Karya Nuriadi: Kajian Hegemoni Antonio Gramsci. Genta Bahtera:
Jurnal Ilmiah Kebahasaan Dan Kesastraan, 5(1), 56�66.
Ali, Zezen Zaenudin. (2017). Pemikiran
Hegemoni Antonio Gramsci (1891-1937) di Italia. Jurnal Yaqzhan: Analisis
Filsafat, Agama Dan Kemanusiaan, 3(2), 63�81.
Amran, Ali. (2015). Peranan agama dalam
perubahan sosial masyarakat. HIKMAH: Jurnal Ilmu Dakwah Dan Komunikasi Islam,
2(1), 23�39.
Dwi, Mariyono, and Maskuri Maskuri. "Pengembangan
Kelembagaan Pendidikan Islam Multikultural Melalui Spirit Entrepreneur Santri
(Studi Etnografi di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang)." Edunity:
Social and Educational Studies 2.2 (2023): 246-266.
Faizin, Muhamad. (2016). Dinamika
Industri Pabrik Gula Meritjan Di Kediri Tahun 1930�1945. Airlangga University.
Hendriani, Aan, Maulidin, Achmad, Royani,
Ahmad, Suherman, Ahmad, & Nurasikin, Agus. (2023). Moderasi Beragama dalam
Masyarakat Multikultural (Studi Kasus Kecamatan Kramatwatu).
Isbah, M. Falikul. (2020). Pesantren in
the changing Indonesian context: History and current developments. Qudus
International Journal of Islamic Studies (QIJIS), 8(1), 65�106.
Jannah, Nur. (2019). Realitas Pesantren
dan Kebijakan Pendidikan Islam dalam Perspektif Hegemoni Antonio Gramsci.
Journal of Islamic Education Research, 1(01), 1�21.
Leksono, BUDI BOWO. (2017). Manajemen
Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Atas Negeri Karangreja Kabupaten
Purbalingga. Jurnal Kependidikan, 4�10.
LEVISTE, ENRIQUE NI�O P. (2016). In the
Name of Fathers, In Defense of Mothers: Hegemony, Resistance, and the Catholic
Church on the Philippine Population Policy. Philippine Sociological Review,
5�44.
Luturmas, Yulius. (2022). Birokrasi
Marxisme. SIAM International Journal, 1(01).
Madarik, Muhammad, & Puadi, Hairul.
(2019). Hegemoni Kiai Terhadap Demokratisasi Di Pesantren:: Analisis Bahasa
Tutur Pengasuh PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang. Jurnal
Penelitian Ilmiah INTAJ, 3(2), 50�73.
Minarto, Eko, & Purwaningsih, Sri
Yani. (2022). Evaluasi Kehalalan dan Personal Hygiene Penjual Makanan/Jajanan
di Sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Sewagati, 6(5),
607�613.
Mouffe, Chantal. (2014). Gramsci and
Marxist Theory (RLE: Gramsci). Routledge.
Nurhayati, Eti, & Nurhidayah, Yayah.
(2019). Peranan Pendidikan Multikultural dalam Menangkal Sikap dan Perilaku
Radikalisme Santeri di Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka. LP2M, Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.
Paisun, Paisun. (2018). Analisis Terhadap
Pemikiran Wahid Hasyim tentang Pembaruan Pendidikan Pesantren. Jurnal Pemikiran
Dan Ilmu Keislaman, 1(1), 110�134.
Pramitha, Devi. (2020). Revitalisasi
Kepemimpinan Kolektif-Kolegial Dalam Membangun Efektifitas Komunikasi
Organisasi Pesantren (Studi Interaksionisme Simbolik Di Pondok Pesantren
Jombang). EVALUASI: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 4(1), 45�69.
Raden, Rizaldi Firmansyah, &
Indrarini, Rachma. (2022). Dampak Program Rumah Gemilang Indonesia oleh LAZ
Al-Azhar Jawa Timur dalam Mengurangi Jumlah Pengangguran di Kota Surabaya.
SIBATIK JOURNAL: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan
Pendidikan, 1(8), 1279�1290.
Rehmann, Jan. (2013). 5. The Concept of
Ideology in Gramsci�s Theory of Hegemony. In Theories of Ideology (pp.
117�146). Brill.
Ulfa, Mariam, Sulistiani, Sri, &
Yuliati, Ana. (2020). Hegemoni Ekonomi Kelas Borjuis Dengan Buruh Dalam Novel
Germinal Karya Emile Zola. Jurnal Sastra Aksara, 8(1), 67�85.
Walid, Moch Khoirul. (2021).
Integralistik-Interkonektif Pendidikan Salaf Dan Khalaf Pondok Pesantren
Tebuireng Jombang. Rabbani: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(2), 81�95.