FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI FINANCIAL MANAGEMENT BEHAVIOR MELALUI FINANCIAL ATTITUDE SEBAGAI
VARIABEL INTERVENING
Supriyatna
Universitas Pancasila Jakarta, Indonesia
Abstrak:
Perilaku pengelolaan
keuangan Masyarakat Indonesia yang masih tergolong rendah yang di sebabkan oleh
keterbatasan financial knowledge serta keterbatasan financial literacy di era
meningkatnya perkembangan financial technology. Tujuan penelitian ini untuk
menganalisis pengaruh spiritual intelligence, financial technology, financial
knowledge, dan financial literacy terhadap financial management behavior
melalui financial attitude sebagai variable intervening. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif dan bersifat deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak
331 responden. Teknik analisis yang digunakan adalah Structural Equation Model
dengan menggunakan software AMOS. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh
temuan: 1) Spiritual intelligence, financial technology, financial literacy
berpengaruh signifikan terhadap financial management behavior. Sementara financial
knowledge berpengaruh tidak signifikan terhadap financial management behavior.
2) Financial technology, dan financial knowledge berpengaruh signifikan
terhadap financial attitude. Sementara spiritual intelligence, dan financial
literacy berpengaruh tidak signifikan terhadap financial attitude. 3) Financial
technology, dan financial knowledge berpengaruh signifikan terhadap financial
management behavior melalui financial attitude. Sementara spiritual
intelligence, dan financial literacy tidak berpengaruh signifikan terhadap financial
management behavior melalui financial attitude. 4) Financial attitude
berpengaruh siginifikan terhadap financial management behavior. Kesimpulannya
adalah dengan adanya financial technology serta tingkat spiritual intelligence
yang dimiliki akan menciptakan sikap yang lebih baik dalam menunjang perilaku
pengelolaan keuangan.
Kata kunci: Spiritual
Intelligence; Financial Technology; Financial Knowledge; Financial
Literacy;� Financial Management Behavior;
Financial Attitude.
Abstract:
The financial management behavior of
Indonesian society is still relatively low, which is caused by limited
financial knowledge and limited financial literacy in the era of increasing
development of financial technology. The aim of this research is to analyze the
influence of spiritual intelligence, financial technology, financial knowledge,
and financial literacy on financial management behavior through financial
attitude as an intervening variable. This research uses a quantitative approach
and is descriptive in nature with a sample size of 331 respondents. The
analysis technique used is the Structural Equation Model using AMOS software.
Based on the research results, the following findings were obtained: 1)
Spiritual intelligence, financial technology, financial literacy have a
significant effect on financial management behavior. Meanwhile, financial
knowledge has no significant effect on financial management behavior. 2)
Financial technology and financial knowledge have a significant effect on
financial attitude. Meanwhile, spiritual intelligence and financial literacy
have no significant effect on financial attitude. 3) Financial technology and
financial knowledge have a significant effect on financial management behavior
through financial attitude. Meanwhile, spiritual intelligence and financial
literacy do not have a significant effect on financial management behavior
through financial attitude. 4) Financial attitude has a significant influence
on financial management behavior. The conclusion is that the existence of
financial technology and the level of spiritual intelligence that is possessed
will create a better attitude in supporting financial management behavior.
Keywords:
Spiritual
Intelligence; Financial Technology; Financial Knowledge; Financial
Literacy;� Financial Management Behavior;
Financial Attitude.
Corresponding: Supriyatna
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Awal tahun
2020, dunia telah dilanda dengan adanya fenomena baru yang berawal mula dari
Wuhan, Provinsi Hubei kemudian menyebar secara cepat ke berbagai negara lebih
dari 190 negara serta teritori. Wabah tersebut dikenal sebagai wabah dengan
nama coronavirus disease 2019 (COVID-19) penyebab munculnya wabah dikarenakan
Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) (Susilo et al., 2020). Adanya penyebaran dari wabah ini memberikan pengaruh besar baik secara
ekonomi maupun social (Susilo et al., 2020). Hampir sebagian besar negara di dunia merasakan dampak dari adanya wabah
covid-19 termasuk salah satunya adalah Indonesia, akibatnya banyak sektor
bisnis, pendidikan, pelayanan, kegiatan sosial, pelayanan dan lain sebagainya
harus merasakan dampaknya (Aulia, Asiah, & Irfan, 2020). Salah satu sektor bisnis Perusahaan di Indonesia yang turut merasakan
dampak atau pengaruh dari fenomena tersebut adalah PT. XYZ.
PT. XYZ
adalah salah satu perusahaan Amerika atau multinasional company yang berpusat
di Inggris yang bergerak dibidang jasa keamanan dan fasilitas terkemuka yang
menyediakan layanan jasa keamanan proaktif (security) serta teknologi pintar
mutakhir untuk menghadirkan solusi pengamanan yang terintegrasi (Haripin, 2022). PT. XYZ sendiri terlah beroperasi lebih dari 20 tahun dan mempekerjakan
lebih dari 9000 staff yang tersebar lebih dari 120 kota di berbagai daerah di
hingga pelosok Indonesia. Sebagian besar karyawan (security officer) pada PT.
XYZ terdiri dari security officer yang mempunyai latar belakang pendidikan setingkat
Sekolah Menengah Atas.
Selain di
lingkungan perusahaan, karyawan PT. XYZ juga dituntut untuk bisa beradaptasi
dengan era baru yang terjadi di luar lingkungan perusahaan, misalnya;
berkegiatan sosial secara online, kegiatan belajar secara online, berbelanja
secara online, bertransaksi secara online dan masih banyak lagi (Sayudin, Hadinata, Suarna, &
Basysyar, 2020). Dalam hal
ini tentunya teknologi sangat berperan penting guna menunjang berbagai
aktivitas. Technology Acceptance Model menyatakan bahwa dengan menggunakan
teknologi dapat memberikan akses serta kemudahan dalam melakukan berbagai macam
kegiatan misalnya bertransaksi keuangan melalui financial technology (fintech) (Hanifah & Mukhlis, 2022).
Semakin
berkembangnya fintech dengan minimnya tingkat Pendidikan security officer pada
PT. XYZ tentunya hal tersebut menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi
sebagian besar security officer pada PT. XYZ dalam beradaptasi dengan berbagai
aktivitas yang berbasiskan teknologi, agar security officer pada PT. XYZ tidak
berperilaku konsumtif dengan adanya bebagai kemudahan akses yang diberikan
financial technology tentunya dengan mempertimbangkan sikap dan perilaku
keuangan yang baik dan benar bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan
semata serta tidak merugikan diri sendiri serta mengganggu aktivitas kerja pada
PT. XYZ.
Mudahnya
akses untuk memperoleh barang dan jasa sebagai pemuas kebutuhan, membuat
sebagian besar masyarakat dengan berbagai macam kebutuhan dan keinginannya
menjadi semakin konsumtif dan tidak rasional dalam mengalokasikan serta
membelanjakan uang, hal tersebut tentu sangatlah berkaitan erat dengan perilaku
pengelolaan keuangan (financial management behavior). Dengan adanya sikap yang
konsumtif tinggi membuat pengelolaan keuangan semakin sulit. Sebagian besar
setiap individu melakukan hal tersebut hanya untuk memenuhi kepuasan semata
tanpa mempertimbangkan adanya dampak serta manfaat di kemudian hari, tidak
adanya pencatatan akan pemasukan dan pengeluaran keuangan, keterbatasan aspek
pemahaman serta pengetahuan mengenai keuangan, serta aspek-aspek lain yang
dapat mempengaruhi perilaku pengelolaan keuangannya (Hendrayanti, Fauziyanti, & Estuti,
2022).
Perilaku
keuangan memiliki kaitan dengan cara seseorang melakukan pengelolaan serta
memakai sumber daya dari keuangan yang dimiliki. Perilaku akan keuangan ialah
sikap yang muncul akibat kemampuan dalam mempertimbangkan serta merencanakan
cara untuk memperoleh anggaran agar bisa menabung, dengan menerima semua risiko
keuangan serta membuat suatu kesesuaian dengan kebutuhan serta anggaran yang
diperlukan guna berkelanjutan suatu usaha (Haqiqi & Pertiwi, 2022).
Masyarakat
Indonesia dengan tingkat kemampuan pengelolaan keuangan yang masih rendah
menjadi semakin konsumtif dalam memenuhi keinginannya. penelitian terdahulu menyatakan
hasil riset LIPI menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menduduki peringkat
ketiga dari 106 negara yang dijadikan sampel dengan masyarakat yang memiliki
tingkat kepercayaan diri tinggi dalam perilaku konsumtifnya (Bastari, 2020). Sebagian besar masyarakat sebenarnya membeli banyak produk yang tidak
direncanakan sebelumnya, dimana sekitar 74% dari semua keputusan pembelian
dibuat di toko. Keputusan pembelian tersebut biasanya bukan didasarkan pada
kebutuhan, namun karena keinginan terhadap produk atau merek teretentu (Miranda, 2020).
financial
management behavior (FMB) merupakan salah satu ilmu keuangan yang penerapannya
juga menggunakan ilmu psikologi dan dikenal dengan perilaku keuangan (Sampoerno & Asandimitra, 2021). Arti umum dari perilaku pengelolaan keuangan menurut penelitian
terdahulu menyatakan kemampuan individu untuk mengatur keuangannya, termasuk
dalam hal tersebut adalah pencarian dana keuangan, penyimpanan dana keuangan,
perencanaan dana keuangan ke depan, serta bagaimana mengolah dana keuangan
untuk kesehariannya (Rustiaria, 2017). financial management behavior seseorang dapat diketahui melalui empat
hal dalam kegiatan keuangannya, yaitu dari consumption atau konsumsi dari
individu, cash-flow management atau bagaimana individu memanajemen arus kasnya,
saving and investment atau kegiatan menabung dan berinvestasinya, dan credit management
atau bagaimana individu mengelolah hutangnya (Sampoerno & Asandimitra, 2021).
Menurut� Karyanto�
dalam� Finance.detik.com (2018),
menyatakan kunci untuk mengelola�
keuangan� pribadi� adalah�
kemampuan� kita� membagi�
porsi� sesuai� anggaran�
dan� prioritas,� rumus�
pembagian� tiga� jurus�
anggaran� ini adalah 50-30-20.
Secara detail maksud dari pembagian tersebut yaitu, 50% untuk pengeluaran wajib
dan fleksibel, 30% untuk untuk tabungan, dan 20% untuk biaya rekreasi seperti
jalan-jalan, belanja baju dan entertainment lainnya.� Pada�
kenyataannya,� masyarakat� belum�
dapat membuat anggaran seperti itu, dan mereka� mengeluarkan�
uang� sesuai� dengan�
apa� yang mereka inginkan tanpa
adanya perencanaan terlebih dahulu. Keputusan pengeluaran atau� pembelian�
tersebut �merupakan� keputusan yang tidak rasional karena tidak
ada pemahaman� tentang� masalah�
kebutuhan� sehingga� pembelian suatu barang hanya didasarkan
karena keinginan (Khotimah, Khafid, & Pujiati, 2016). Situasi ini
membuktikan bahwa masyarakat� belum� mempunyai�
kemampuan� untuk� merencanakan keuangan.
Penerapan
perilaku�� pengelolaan�� keuangan�
yang� baik� bukanlah�
hal� yang� mudah� untuk�� dilakukan,��
karena�� adanya�� kesulitan��
yang� sering� dihadapi�
oleh� masyarakat,� yaitu��
kebiasaan�� masyarakat�� dalam��
mengkonsumsi� barang-barang� yang�
tidak� dibutuhkan� masih�
menjadi� hal� yang�
paling� sering� terjadi�
(Haning, 2012). Pada kenyataannya, menerapkan personal financial
management behavior bukanlah� hal yang
mudah untuk dilakukan. Kondisi ini menunjukan bahwa perilaku pengelolaan
keuangan masih belum tergolong baik.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi financial management behavior dalam penelitian ini hanya
berfokus pada: spiritual intelligence, financial technology, financial
knowledge, financial literacy, serta financial attitude (Nobriyani & Haryono, 2019). Menurut para ahli, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi financial
management behavior. Faktor pertama yaitu spiritual intelligence, kecerdasan
spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang tertinggi karena sangat erat
kaitannya dengan kesadaran seseorang untuk bisa memaknai segala sesuatu dengan
religius dan tidak keliru. Pendapat lain mengenai kecerdasan spiritual
merupakan kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal
diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik
sebuah kenyataan atau kejadian (Farida, 2019).
Faktor kedua
yaitu financial technology atau Fintech. Berdasarkan peraturan Bank Indonesia
Nomor 19/12/PBI/2017, fintech adalah �penggunaan teknologi sistem keuangan yang
menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru dan dapat
berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, efisiensi,
kelancaran, keamanan, dan kehandalan sistem pembayaran.� fintech merupakan
inovasi yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat di bidang
keuangan karena masyarakat dapat bertransaksi hanya dengan smartphone dan
internet. Kehadiran fintech berdampak positif bagi peningkatan perekonomian
karena terus tumbuhnya volume dan nilai transaksi belanja. Namun, di balik sisi
positifnya, budaya belanja online dan cashless memunculkan masalah konsumerisme
yang dapat mempengaruhi perilaku keuangan seseorang.
Faktor
ketiga yang dapat mempengaruhi financial management behavior yaitu financial
knowledge. Pengetahuan mengacu pada apa yang diketahui individu tentang masalah
keuangan pribadi, yang diukur dengan tingkat pengetahuan mereka tentang berbagai
konsep keuangan pribadi (Pradiningtyas & Lukiastuti, 2019). Financial knowledge adalah penguasaan seseorang atas berbagai hal
tentang dunia keuangan. Pemuda belajar tentang uang sebagian besar dari sekolah
dan orang tua, dengan penekanan pada penghematan dalam Pradiningtyas (Pradiningtyas & Lukiastuti, 2019). Pada perkembangannya, pengetahuan mengenai keuangan mulai diperkenalkan
di berbagai jenjang pendidikan. Terdapat berbagai sumber pengetahuan yang dapat
diperoleh, termasuk pendidikan formal, seperti program sekolah tinggi atau
kuliah, seminar dan kelas pelatihan di luar sekolah, serta sumber-sumber
informal, seperti dari orang tua, teman, dan lingkungan pekerjaan (Widyaningrum, 2018).
Faktor
keempat yaitu financial literacy, Literasi keuangan mencakup kemampuan untuk
membedakan pilihan keuangan, mambahas uang dan masalah keuangan tanpa ketidak
nyamanan, merencanakan masa depan, dan menanggapi kompeten untuk peristiwa
kehidupan yang mempengaruhi keputusan keuangan sehari-hari. literasi keuangan
adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan memanfaatkan konsep keuangan.
Literasi keuangan sebagai ukuran sejauh mana seseorang memahami konsep-konsep
keuangan utama dan memiliki kemampuan dan kepercayaan diri untuk mengelola
keuangan pribadinya (Wahyuni, Radiman, Jufrizen, Hafiz, &
Gunawan, 2022).
Faktor
kelima yang dapat mempengaruhi financial management behavior yaitu financial
attitude. Financial attitude menggambarkan kondisi pikiran, penilaian serta
pendapat individu terhadap keuangan (Cahyaningrum & Fikri, 2021). mendefinisikannya sebagai keadaan pikiran dari sikap ekonomi, pendapat,
dan penilaian tentang keuangan. Memahami perspektif keuangan akan membantu seseorang
memahami apa yang diyakini terkait hubungannya dengan uang. Financial attitude
(sikap keuangan) adalah kegiatan manajemen keuangan pada tingkat individu yang
terdiri dari perencanaan, manajemen, dan mengendalikan dana (Budiono, 2020). Hal tersebut mengindikasikan bahwa individu atau seseorang yang dapat
bertindak rasional bijak terhadap keuangannya adalah mereka yang bisa berpikir
secara logis, ditunjukkan oleh kegiatan yang baik dalam perencanaan keuangan,
pengorganisasian, manajemen, dan pengendalian. Indikator sikap keuangan setiap
individu yang baik dan bertanggung jawab dapat diamati dari jalan atau sikap
seseorang dalam mengatur arus kas masuk dan keluar, investasi atau untuk jangka
panjang, serta bisa mengendalikan keuangan sesuai kebutuhannya. Dengan kata
lain, individu akan mengalokasikan penghasilannya untuk kebutuhan jangka pendek
(konsumsi) dan kebutuhan jangka panjang (investasi), hal tersebut menjadi dasar
pada niat seseorang dalam melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang dipengaruhi
oleh sikap, kepercayaan.
Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
manajemen keuangan dan menilai peran sikap keuangan sebagai variabel
intervening dalam konteks tersebut. Melalui pendekatan ini, penelitian ini
diharapkan memberikan kontribusi signifikan pada literatur akademis dengan
menyumbangkan pemahaman baru terhadap teori dan model yang berkaitan dengan
perilaku manajemen keuangan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk
memberikan landasan strategis bagi perusahaan, organisasi, atau individu dalam
meningkatkan perilaku manajemen keuangan mereka, dengan menyediakan rekomendasi
praktis yang dapat diimplementasikan dalam pengambilan keputusan sehari-hari.
Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi
pengambilan keputusan strategis yang lebih efektif dan efisien di bidang
manajemen keuangan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kuantitatif dan
bersifat deskriptif, karena penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu
gejala, peristiwa dan kejadian yang terjadi pada saat sekarang dimana peneliti berusaha
memotret peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian untuk kemudian
digambarkan sebagaimana adanya. Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian
yang berlandaskan pada filsafat positivisme, yang digunakan untuk meneliti pada
populasi atau sampel tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh
antara variabel bebas spiritual intelligence, financial technology, financial
knowledge dan financial literacy terhadap variabel terikat yaitu financial
management behavior melalui financial attitude sebagai variabel intervening.
Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh karyawan (Security Officer) pada PT. XYZ yang ada di
Jabodetabek. Dipilihnya security officer pada PT. XYZ sebagai populasi
penelitian di karenakan hamper sebagian besar security officer pada PT. XYZ
berpendidikan SLTA, dimana secara intelligence, pengetahuan, knowledge, serta
attitude terkait financial management behavior masih sangat terbatas. Adapun
jumlah populasi karyawan (security officer) pada PT. XYZ yang ada di
Jabodetabek adalah sebanyak 1919 dengan penyebaran sebagai berikut: Jakarta
985, Bogor 221, Depok 26, Tangerang 195, dan Bekasi 492.
Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan dengan
menggunakan kriteria-kriteria tertentu dengan metode convenience sampling.
convenience sampling adalah mengambil responden sebagai sampel berdasarkan
kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat
digunakan sebagai sampel, bila orang yang kebetulan cocok sebagai sumber data
dengan dicocokan pada kriteria utamanya. Adapun kriteria yang digunakan dalam
pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Berstatus sebagai
karyawan PT. XYZ; b) Memiliki jabatan sebagai security officer pada PT. XYZ,
hal ini dikarenakan security officer pada PT. XYZ sebagian besar Pendidikan setingkat
Sekolah Menengah Atas, serta cenderung konsumtif dalam penggunaan financial
technology; c) Security officer pada PT. XYZ yang bertugas di area Jabodetabek,
hal ini dilakukan untuk memudahkan area jangkauan penulis dalam melakukan
penelitian. Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan mengacu kepada formula
Slovin �dengan rumus sebagai berikut:
n=N/1+Ne2 Dimana N menunjukkan jumlah populasi dengan e menunjukkan tingkat
kesalahan (margin error). Sampel yang diambil menggunakan tingkat kesalahan
sebesar 5% sehingga dengan formula tersebut jumlah sampel yang akan diambil
sebagai berikut: n = 331,03 atau digenapkan menjadi 331 sampel/responden.
Metode
Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan jenis
data primer dengan sumber data menyebarkan kuesioner google form kepada sampel
yang telah ditentukan sesuai kriteria. Selanjutnya teknik pengolahan data,
dilakukan dalam 4 tahapan yang harus dilalui. Sesuai dengan analisis
kuantitatif yang peneliti lakukan teknik pengolahan data ini terdiri atas: 1)
Editing; 2) Coding; 3) Processing; 4) Cleaning.
Operational
Variabel
Terdapat tiga jenis variabel yang akan di gunakan dalam penelitian
ini, yaitu: Pertama, variabel independent (X) yang meliputi spiritual
intelligence (X1), financial technology (X2), financial knowledge (X3) dan
financial literacy (X4). Kedua, variabel dependen (Y) yaitu financial
management behavior. Ketiga, variabel intervening (Z) yaitu financial attitude,
dimana secara teoritis variabel intervening mempengaruhi hubungan antara variable
independen dengan variabel dependen secara tidak langsung dan tidak dapat
diamati dan di ukur. Variabel ini merupakan variabel antara yang terletak di antara
variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung
mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.
Penelitian ini menggunakan skala likert dalam penyebaran kuesioner
penelitian, dimana akan diberikan beberapa butir pernyataan/pertanyaan. Pertanyaan/pernyataan
tersebut akan direspon oleh para responden dengan jawaban tertutup (bukan
jawaban esai) yaitu dari jawaban �sangat tidak setuju� sampai �sangat setuju�,
dengan menggunakan skala likert sebagai berikut: 1) Sangat tidak Setuju; 2)
Tidak setuju; 3) Netral; 4) Setuju; 5) Sangat Setuju. Skala yang digunakan
berjumlah 5 (ganjil) berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya yang sering
menggunakan skala 5 ini, dan selama penggunana skala 5 tidak ada kendala
berarti yang ditemukan. Dengan skala ganjil maka terdapat pilihan nomor 3
(Neutral) atau kategori tengah. Adanya kategori tengah (middle category) adalah
untuk memfasilitasi responden yang memiliki trait yang sedang (moderate trait
standing). Klopfer & Madden (1980) menjelaskan bahwa adanya alternatif
jawaban tengah (kategori tengah) bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi responden
yang memiliki sikap moderat terhadap pernyataan yang diberikan. Tidak adanya
alternatif tengah akan menyebabkan responden merasa dipaksa untuk memilih
alternatif secara bipolar. Keterpaksaan ini akan memberikan kontribusi
kesalahan sistematis dalam pengukuran.
Rancangan
Analisis Penelitian
��������������� Metode
analisis data penelitian ini menggunakan Model Persamaan Struktural (SEM),
dengan program AMOS dipakai sebagai pendekatan umum dari analisis data. Program
AMOS adalah program yang khusus dipergunakan dalam Structural Equation Model
(analisis persamaan struktural) atau dikenal dengan sebutan SEM. Semula program
AMOS merupakan perangkat lunak komputer statistik yang mandiri, dengan
perkembangan waktu program SPSS mengambil alih AMOS sehingga pada aplikasi AMOS
mengikuti perkembangan dari aplikasi SPSS.
��������������� Structural Equation Model dapat
dijelaskan sebagai suatu proses analisis yang mengkombinasikan pendekatan
factor structural model (model struktural), path analysis (analisis jalur) dan
analysis (analisis faktor). menjelaskan SEM merupakan kombinasi metode
statistik yang terpisah dari simultaneous equation modeling (model persamaan
simultan) dan factor analysis (analisis faktor). Secara komprehensif tahapan
metode analisis AMOS� dalam penelitian
ini terdiri dari statistik deskriptif dan pengujian hipotesis penelitian sebagai
berikut:
Statistik
Deskriptif
Statistik deskriptif dipergunakan dalam mendeskripsikan dan
menggambarkan variable dalam penelitian. Pada dasarnya statistic deskriptif
merupakan suatu proses transformasi dari data penelitian kedalam bentuk
tabulasi agar lebih mudah diinterpretasikan dan dipahami. Tabulasi dapat
menyajikan penyusunan, pengaturan atau ringkasan data didalam bentuk grafik dan
tabel. Data-data yang telah diperoleh, diringkas dengan rapih dan baik sehigga
dapat dijadikan sebagai dasar didalam pengambilan keputusan. Tujuan dari
analisis deskriptif untuk dapat memberikan gambaran atas variabel eksogen. Pada
umumnya statistic deskriptif digunakan para peneliti agar dapat memberikan
informasi terkait karakteristik dari variabel penelitian yang pokok.
Statistik deskriptif dapat memberikan deskriptif atau gambaran
suatu data dilihat dari standar deviasi, maksimum-minimum, varians dan nilai
rata-rata. Nilai rata-rata digunakan dalam memperkirakan besaran rata-rata dari
populasi yang diperkirakan dengan sampel. Sedangkan untuk melihat nilai
maksimum-minimum dari populasi menggunakan deskriftif maksimum-minimum. Hal ini
sangat diperlukan dalam melihat gambaran secara keseluruhan sampel yang akan
diteliti dan memenuhi syarat serta berhasil dikumpulkan supaya dapat dijadikan
sampel penelitian.
Pengujian
Hipotesis Penelitian
Uji hipotesis diolah menggunakan Structural Equation Modeling (SEM)
dengan program AMOS. Teknik analisis SEM terdapat langkahlangkah sebagai
berikut:
a) Mengembangkan Model Berdasarkan Teori;
b) Menyusun Diagram Jalur;
c) Menyusun Persamaan Struktural;
d) Memilih Estimasi Model dan Matrik Input;
e) Menilai Identifikasi Model Struktural;
f) Menilai Kriteria Goodness-Of-Fit.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Statistik Deskriptif
Tabel 1.
Hasil Statistik Deskriptif
|
No |
Variabel |
Minimum |
Maximum |
Mean |
Std. Deviation |
|
1 |
Spiritual Intelligence |
51 |
135 |
115,71 |
14,35 |
|
2 |
Financial Technology |
18 |
90 |
70.22 |
12.51 |
|
3 |
Financial Knowledge |
19 |
75 |
61,38 |
9.55 |
|
4 |
Financial Literacy |
24 |
60 |
48,60 |
8.25 |
|
5 |
Financial Management Behavior |
13 |
65 |
53,36 |
8.74 |
|
6 |
Financial Attitude |
18 |
90 |
59.78 |
13.70 |
Sumber :
Data yang diolah (2023)
Berdasarkan
tabel diatas, dapat disimpulkan bahwasanya dari variable spiritual intelligence
skor minimum yang diperoleh dari responden adalah 51, sedangkan skor
maksimumnya adalah 135 dengan skor rata-rata 115,71 dan standar deviasi 14,35.
Kemudian untuk variabel financial technology skor minimum yang diperoleh dari
responden adalah 18, sedangkan skor maksimumnya adalah 90 dengan skor rata-rata
70,22 dan standar deviasi 12,51. Untuk variabel financial knowledge skor
minimum yang diperoleh dari responden adalah 19, sedangkan skor maksimumnya
adalah 75 dengan skor rata-rata 61,38 dan standar deviasi 9,55. Untuk variabel
financial literacy skor minimum yang diperoleh dari responden adalah 24,
sedangkan skor maksimumnya adalah 60 dengan skor rata-rata 48,60 dan standar
deviasi 8,25. Statistik deskriptif dari variabel berikutnya yaitu financial
management behavior dengan skor minimum yang diperoleh dari responden adalah
13, sedangkan skor maksimumnya adalah 65 dengan skor rata-rata 53,36 dan standar
deviasi 8,74. Statistik deskriptif dari variabel financial attitude dengan skor
minimum yang diperoleh dari responden adalah 18, sedangkan skor maksimumnya
adalah 90 dengan skor rata-rata 59,78 dan standar deviasi 13,70.
Uji
Hipotesis

Gambar 1. Model
Pengukuran Penelitian������
������
Keterangan:
X1 = SI (Spiritual
Intelligence),
X2 = FT (Financial
Technology),
X3 = FK (Financial
Knowledge),
X4 = FL (Financial
Literacy),
Z = FA (Financial
Attitude),
Y = FMB (Financial
Management Behavior).
Berdasarkan model pengukuran
penelitian diatas di peroleh persamaan sebagai berikut :
Z = 0,024 X1 + 0,249
X2 + 0,444 X3 + 0,076 X4 + e1
Dapat diartikan
bahwa setiap pertambahan X sebesar satu satuan maka akan menyebabkan meningkatnya
variabel dependen (Z) sebesar X satuan.
Y = 0,215 X1 + 0,092
X2 + 0,040 X3 + 0,377 X4 + 0,086 Z + e2
Dapat diartikan
bahwa setiap pertambahan X sebesar satu satuan maka akan menyebabkan
meningkatnya variabel dependen (Y) sebesar X satuan.
Pengaruh
Langsung
Berikut
adalah tabel hasil perhitungan regression weight pengaruh langsung dari
variabel independen terhadap variabel dependen :
Tabel 2. Regression
Weight Pengaruh Langsung����������
|
Hipotesis |
Jalur |
Estimate |
S.E. |
C.R. |
P |
Keterangan |
|
H1 |
SI
--> FMB |
0,215 |
0,029 |
7,532 |
*** |
Positif
Signifikan |
|
H2 |
FT
--> FMB |
0,092 |
0,039 |
2,360 |
0,018 |
Positif
Signifikan |
|
H3 |
FK ->
FMB |
0,040 |
0,054 |
0.733 |
0,464 |
Positif
Tidak Signifikan |
|
H4 |
FL ->
FMB |
0,377 |
0,056 |
6,718 |
*** |
Positif
Signifikan |
|
H5 |
SI ->
FA |
0,024 |
0,067 |
0,363 |
0,716 |
Positif
Tidak Signifikan |
|
H6 |
FT
--> FA |
0,249 |
0,090 |
2,770 |
0,006 |
Positif
Signifikan |
|
H7 |
FK ->
FA |
0,444 |
0,124 |
3,576 |
*** |
Positif
Signifikan |
|
H8 |
FL ->
FA |
0,076 |
0,131 |
0,580 |
0,562 |
Positif
Tidak Signifikan |
|
H9 |
FA
--> FMB |
0,086 |
0,024 |
3,634 |
*** |
Positif
Signifikan |
Sumber :
Data yang diolah (2023)
Pengaruh
Tidak Langsung
Tabel 3. Hasil Z-Sobel Pengaruh Tidak
Langsung
���
|
Hipotesis |
Jalur |
t-Stat |
Keterangan |
Keterangan |
|
P Value |
||||
|
SI -->
FA --> FMB |
0,356 |
0,721 |
Tidak
Signifikan |
|
|
FT ->
FA -> FMB |
2,189 |
0,028 |
Signifikan |
|
|
H10 |
FK -->
FA --> FMB |
2,532 |
0,011 |
Signifikan |
|
FL -->
FA --> FMB |
0,572 |
0,566 |
Tidak
Signifikan |
|
Sumber : Data yang diolah (2023)
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat
disimpulkan bahwa spiritual intelligence, financial technology, dan financial
literacy memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku pengelolaan
keuangan, sementara financial knowledge memiliki pengaruh negatif dan tidak
signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan. Selain itu, financial
technology dan financial knowledge juga berpengaruh positif dan signifikan
terhadap sikap terhadap keuangan, sedangkan spiritual intelligence dan
financial literacy memiliki pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap
sikap terhadap keuangan. Lebih lanjut, financial technology dan financial
knowledge berpengaruh signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan melalui
sikap terhadap keuangan, sementara spiritual intelligence dan financial
literacy tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku pengelolaan
keuangan melalui sikap terhadap keuangan.
DAFTAR PUSTAKA
Aulia, Fara Dhania Aulia
Dhania, Asiah, Dessy Hasanah Siti, & Irfan, Maulana. (2020). Peran
pemerintah dalam penanganan dampak pandemi COVID-19 bagi penyandang
disabilitas. Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM), 1(1),
31�41.
Bastari, Fatimah
Febriyanti. (2020). Pengaruh Literasi Keuangan, Perilaku Keuangan dan Locus
of Control Internal dalam Keputusan Investasi. STIE Perbanas Surabaya.
Budiono, Eko. (2020).
Analisis financial knowledge, financial attitude, income, locus of control,
financial management behavior masyarakat Kota Kediri. Jurnal Ilmu Manajemen
(JIM), 8(1), 284�295.
Cahyaningrum, Bella,
& Fikri, Muhammad Ali. (2021). Peran pemediasi locus of control pada
pengaruh financial knowledge dan financial attitude terhadap financial
management behavior. Jurnal Ilmu Manajemen, 9(4), 1500�1515.
Farida, Ullin Nuril.
(2019). hubungan tingkat kecerdasan spiritual dan kecerdasan sosial terhadap
self efficacy pada siswa kelas xi di man 4 madiun. Intelektual: Jurnal
Pendidikan Dan Studi Keislaman, 9(01), 25�34.
Hanifah, Taruni Risla,
& Mukhlis, Imam. (2022). PENGARUH EFEKTIVITAS, HEDONIS, KEMANFAATAN, DAN
KEPERCAYAAN TERHADAP MINAT MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI MALANG DALAM
MENGGUNAKAN LAYANAN SHOPEEPAY: PENDEKATAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL. ECOBISMA
(JURNAL EKONOMI, BISNIS DAN MANAJEMEN), 9(2), 69�83.
Haqiqi, Azza Fiika
Zahra, & Pertiwi, Tri Kartika. (2022). Pengaruh Financial Technology, Literasi
Keuangan dan Sikap Keuangan terhadap Perilaku Keuangan Generasi Z di Era
Pandemi Covid-19 pada Mahasiswa UPN �Veteran� Jawa Timur. SEIKO: Journal of
Management & Business, 5(2), 355�367.
Haripin, Muhamad.
(2022). Intelijen dan keamanan nasional di Indonesia pasca-Orde Baru.
Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Hendrayanti, Silvia,
Fauziyanti, Wachidah, & Estuti, Eni Puji. (2022). Konsep Dasar Manajemen
Keuangan. Penerbit NEM.
Miranda, Suci. (2020). Analisis
Perilaku Konsumen terhadap Keputusan Pembelian Produk Sayuran pada Toko Sayur
di Yogyakarta pada Masa Wabah Covid-19 (Studi Kasus di Toko Sayur di Sleman dan
Bantul, Yogyakarta).
Nobriyani, Apnes Putri,
& Haryono, Nadia Asandimitra. (2019). Faktor-faktor yang memengaruhi
financial management behavior pada keluarga tki di kabupaten ponorogo. Jurnal
Ilmu Manajemen, 7(3).
Pradiningtyas, Tifani
Enno, & Lukiastuti, Fitri. (2019). Pengaruh pengetahuan keuangan dan sikap
keuangan terhadap locus of control dan perilaku pengelolaan keuangan mahasiswa
ekonomi. Jurnal Minds: Manajemen Ide Dan Inspirasi, 6(1), 96�112.
Rustiaria, Annora
Paramitha. (2017). Pengaruh pengetahuan keuangan, sikap keuangan, dan
tingkat pendidikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan keluarga. Stie
Perbanas Surabaya.
Sampoerno, Alfrin Erman,
& Asandimitra, Nadia. (2021). Pengaruh financial literacy, income, hedonism
lifestyle, self-control, dan risk tolerance terhadap financial management
behavior pada generasi milenial. Jurnal Ilmu Manajemen, 9(3),
1002�1014.
Sayudin, Sayudin,
Hadinata, Abdul Rasyid Faiq, Suarna, Nana, & Basysyar, Fadhil M. (2020).
Sistem Informasi Penjualan Berbasis Web Dengan Metode Waterfall Untuk
Meningkatkan Area Pemasaran. KOPERTIP: Scientific Journal of Informatics
Management and Computer, 4(3), 108�113.
Susilo, Adityo, Rumende,
Cleopas Martin, Pitoyo, Ceva Wicaksono, Santoso, Widayat Djoko, Yulianti, Mira,
Herikurniawan, Herikurniawan, Sinto, Robert, Singh, Gurmeet, Nainggolan,
Leonard, & Nelwan, Erni Juwita. (2020). Coronavirus disease 2019: Tinjauan
literatur terkini. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 7(1).
Wahyuni, Sri Fitri,
Radiman, Radiman, Jufrizen, Jufrizen, Hafiz, Muhammad Shareza, & Gunawan,
Ade. (2022). Model Praktik Manajemen Keuangan Pribadi Berbasis Literasi
Keuangan, Orientasi Masa Depan dan Kecerdasan Spiritual pada Generasi �Y� Di
Kota Medan. Owner: Riset Dan Jurnal Akuntansi, 6(2), 1529�1539.
Widyaningrum, Siska.
(2018). Pengaruh sikap keuangan, pengetahuan keuangan dan pengalaman
keuangan terhadap perilaku pengelolaan keuangan keluarga di sidoarjo. STIE
Perbanas Surabaya.