VARIATIONS IN
THE PHYSICAL CONDITION OF HOUSES WITH THE RISK OF TUBERCULOSIS IN THE WORKING
AREA OF THE BILALANG HEALTH CENTER
BOLAANG
MONGONDOW NORTH SULAWESI
Agus Rokot1,Hatima Mokoginta2, Anselmus Kabuhung3,
Dismo Katiandagho4, Yozua Kawatu5
Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado,
Indonesia
[email protected]1, [email protected]2,
[email protected]3
Abstrak:
Mycobacterium Tuberculosis, umumnya
menyerang paru-paru dan di luar paru. Rumah berfungsi sebagai tempat tinggal
yang layak huni. Rumah berfungsi sebagai tempat tinggal, yang sehat dan nyaman,
sumber inspirasi bagi penghuninya sehingga dapat meningkatkan produktifitasnya.
Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan
faktor resiko sumber penularan penyakit. Penyakit Tuberkulosis erat kaitannya
dengan kondisi kualitas fisik rumah. Tujuan penelitian :
mengetahui variasi kondisi kualitas fisik rumah dengan resiko Tuberkulosis.
Jenis Penelitian Kuantitatif dengan pendekatan Case Control yang di lakukan
selama bulan juni-juli 2023, Populasi adalah Masyarakat yang ada di delapan
Desa wilayah kerja puskesmas Bilalang tahun 2022 yang menderta TB yaitu 20
Responden dengan sampel kontro 20 orang , total sampel 40 responden.
Pelaksanaan dengan: observasi , wawancara, pengukuran
terhadap variabel fisik rumah responden: kepadatan hunian, kelembapan,
pencahayaan dan ventilasi. Analisis data secara univariat, bivariat, statistik
uji Chi-Square. Hasil uji , chi square ada hubungan
Variasi fisik rumah dengan resiko Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas
Bilalang Bolaang Mongondow Sulawesi utara dengan kepadatan hunian p value =
0,005 nilai OR 7,000 95 % CI (1,739-28,179), Kelembapan p value = 0,026 OR
5,571 95 % CI (1,420 � 21,860), Pencahayaan p value =0,026 nilai OR 5,571 95 %
CI (1,420 � 21,860), dan ventilasi p value = 0,009 nilai OR 8,500 95 % CI
(1,861 � 38,817). Kesimpulannya ada hubungan signifikan antara kepadatan
penghuni, kelembapan, pencahayaan, ventilasi rumah dengan resiko Tuberkulosis.
Saran; Bagi penderita TB paru sebaiknya membuka jendela kamar agar sinar
matahari masuk ke dalamnya, agar bebas bakteri. Petugas
Puskesmas lakukan penyuluhan tentang resiko, pencegahan penyakit tuberculosis.
.
Kata kunci: Tuberculosis,
variasi fisik rumah
Abstract:
Mycobacterium Tuberculosis, generally
attacks the lungs and outside the lungs. The house functions as a livable place
to live. The house functions as a place to live, which is healthy and comfortable,
a source of inspiration for its residents so that they can increase their
productivity. House construction and an environment that does not meet health
requirements are risk factors for disease transmission. Tuberculosis is closely
related to the physical condition of the house. Research objective: to
determine variations in the condition of the physical quality of the house with
the risk of Tuberculosis. Type of Quantitative Research with a Case Control
approach carried out during June-July 2023. The population is the community in
eight villages in the work area of the Bilalang Health Center in
2022 who suffer from TB, namely 20 respondents with a control sample of 20
people, a total sample of 40 respondents. Implementation: observation, interviews,
measurements of the physical variables of the respondent's house: residential
density, humidity, lighting and ventilation. Data analysis using univariate,
bivariate, Chi-Square test statistics. Test results, chi square there is a
relationship between physical variations of houses and the risk of Tuberculosis
in the work area of the Bilalang Bolaang Mongondow Community
Health Center, North Sulawesi with residential density p value = 0.005 OR value
7.000 95 % CI (1.739-28.179), Humidity p value = 0.026 OR 5.571 95 % CI (1.420
� 21.860), lighting p value = 0.026 OR value 5.571 95 % CI (1.420 � 21.860),
and ventilation p value = 0.009 OR value 8.500 95 % CI (1.861 � 38.817). In
conclusion, there is a significant relationship between occupant density, humidity,
lighting, house ventilation and the risk of Tuberculosis. Suggestion; For
pulmonary TB sufferers, it is best to open the bedroom window to let sunlight
enter, so that it is free of bacteria. Community Health Center officers provide
education about the risks and prevention of tuberculosis.
Keywords:
Tuberculosis, home physical variations
Corresponding: Agus
Rokot
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Tuberkulosis merupakan penyakit
menular disebabkan oleh bakteri Mycrobacterium
Tuberculosis yang menyebar melalui
udara dan tertular melalui percikan ludah (droplet) ketika penderita batuk,
bersin, berbicara dan meludah di sembarangan tempat. Tuberkulosis masih menjadi penyakit yang dengan tingkat mordibitas
tinggi, disertai dengan penularannnya yang sangat mudah yaitu melalui udara (Zakiudin & Rakhmatillah, 2021). Oleh karena itu penyakit Tuberkulosis ini harus ditangani dengan segera
dan hati-hati apabila ditemukan kasus di suatu wilayah (Zakiudin & Rakhmatillah, 2021).
Penyakit
Tuberkulosis Paru merupakan tuntutan dalam Sustainable Development Goals (
SDGs) (Kurniawan, Najmah, & Syakurah, 2021). Indonesia juga berkomitmen dalam menekan dan menghilangkan penyakit
Tuberkulosis yang nantinya diharapkan tahun 2030 Indonesia bebas Tuberkulosis (Yuliyanti, 2020). Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam penanganan penyakit ini di level
nasional melalui sebuah program yang disebut Directly Observed Treatment
Shortcouse atau disingkat DOTS (DPR & RI, 2018).
Penyebaran
penyakit Tuberkulosis ini erat kaitannya dengan kondisi lingkungan tempat
masyarakat tinggal (Budi, Ardillah, Sari, & Septiawati,
2018). Selain ini
perilaku penduduk yang tidak memperhatikan kesehatan lingkungan dan hygiene
individu, turut berkontribusi positif terhadap peningkatan kejadian penyakit di
masyarakat. Komponen lingkungan sendiri meliputi kepadatan hunian, ventilasi,
Kelembapan, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, suhu dan pencahayaan (Rahmawati, Ekasari, & Yuliani, 2021).
Peningkatan
kasus Tuberkulosis dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah
kondisi kualitas fisik lingkungan rumah (Kandau & Posangi, 2015). Kualitas fisik yang tidak sehat memegang peranan penting dalam
penularan dan perkembangbiakkan Mycobacterium Tuberculosis .
Kurangnya sinar yang masuk ke dalam rumah, ventilasi yang buruk cenderung
menciptakan suasana yang lembap dan gelap, kondisi ini menyebabkan kuman dapat
bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan di dalam rumah (ALHAQ, 2021). Faktor risiko lingkungan rumah yang berperan terhadap timbulnya
kejadian penyakit Tuberkulosis paru adalah kepadatan hunian, ventilasi,
Kelembapan, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, suhu dan pencahayaan (Budi et al., 2018).
Kondisi
kualitas fisik rumah memiliki peranan yang sangat penting dalam penyebaran
bakteri Tuberkulosis paru ke orang yang sehat. Sumber penularan penyakit ini
melalui perantara ludah atau dahak penderita yang mengandung Mycobaterium Tuberculosis (Aisyah, Savitri, Tuahuns, & Sari, 2023). Pada saat penderita batuk atau bersin butir-butir ludah beterbangan di
udara dan akan hidup beberapa jam lamanya di dalam ruangan lembap dan kurang
cahaya. Penyebaran bakteri Tuberkulosis paru akan lebih cepat menyerang orang
yang sehat jika berada di dalam rumah yang lembap, gelap dan kurang cahaya (Faradillah, Thohari, & Darjati, 2022).
Hasil
penelitian terdahulu yang menggunakan pendekatan case control. Dengan analisis
multivariat menggunakan uji regresi logistic (Alamsyah, Mexitalia, Margawati,
Hadisaputro, & Setyawan, 2017). Dalam menentukan sampel dengan menggunalan teknik purposive sampling.
Jumlah sampel diambil sebanyak 68 responden dengan pembagian 34 reponden
kelompok kasus dan 34 responden kelompok kontrol. Variabel yang diteliti adalah
jenis lantai, jenis dinding, luas ventilasi, kepadatan penduduk, suhu,
pencahayaan, Kelembapan dan praktik hygiene. Berdasarkan analisis multivariat
menggunakan uji regresi logistik yang paling berhubungan terhadap kejadian
Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Gantung Kabupaten Madiun adalah luas
ventilasi p 0,000 (aOR= 40,60 : 95 % CI= 6,24-264,93).
Pencahayaan nilai p 0,003 (aOR= 14,97; 95 % CI 2,57-87,10). Kelembapan nilai p
0,031 (aOR=5,25CI 1,17-26,02). Kesimpulan penelitian ini adalah variabel yang
bukan merupakan faktor resiko kejadian Tuberculosis adalah jenis lantai, jenis
dinding, kepadatan hunian, suhu.
Menurut
hasil penelitian dari Nur Anisah, 2019. Dengan hasil Statistik yaitu uji
Chi-Square. Adanya hubungan antara pencahayaan (p-value = 0,009), Kelembapan
(p-value=0,001),suhu (p-value 0,007), Ventilasi
(p-value=0,004) kepadatan hunian (p- value = 0,019), Lantai (p- value 0,039).
Lubang Asap Dapur (p-value=0,001), Kondisi kualitas fisik rumah (p-value = 0,0390) dengan kejadian Tuberkulosis .
Indonesia
mendapatkan peringkat ke 3 dengan menyumbang 8 % dari penderita Tuberkulosis di
seluruh dunia (Ramadhan, Fitria, & Rosdiana, 2017). Indonesia menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah penderita Tuberkulosis
terbanyak setelah India dan China. Jumlah pasien Tuberkulosis di Indonesia
adalah sekitar 5,8 % dari total jumlah pasien Tuberkulosis dunia. Di indonesia
diperkirakan setiap tahun terdapat 528.000 kasus Tuberkulosis baru dengan
kematian sekitar 91.000 orang. Prevalensi Tuberkulosis pada pria 3 kali lebih
tinggi dibandingkan pada wanita.
Provinsi
Sulawesi Utara dengan jumlah penduduk 2.382.941 jiwa menempati urutan ke-8 dari
34 provinsi dengan jumlah kasus baru Tuberkulosis menurut jenis kelamin
sebanyak 5.783 kasus Tuberkulosis dengan jumlah laki-laki 3.555 kasus (61,47%)
dan perempuan 1.993 kasus (38,53%) (Tumiwa, Pondaa, & Langingi, 2023).
Selama Kurun
waktu 3 Tahun terakhir jumlah seluruh pasien Tuberkulosis yang ditemukan di
Kabupaten Bolaang Mongondow secara umum telah mengalami peningkatan walaupun
tidak signifikan. Pada Tahun 2019 dengan jumlah penduduk 247,811 jiwa, dengan
jumlah 522 pasien BTA positif (Haidar, 2022). Tahun 2020 dengan jumlah 504 BTA positif, Tahun 2021 dengan jumlah
kasus Tuberkulosis 529, tahun 2022 dengan jumlah kasus 554. Untuk wilayah kerja
Puskesmas Bilalang dari tahun 2019 dengan jumlah penduduk 6745 ditemukan 18 BTA
positif, Tahun 2020 dengan jumlah pendududk 6894 jiwa ditemukan 13 BTA Positif,
Tahun 2021 dengan jumlah penduduk 6986 ditemukan 7 BTA Positif, Dan Tahun 2022
dengan jumlah pendudduk 7106 ditemukan 20 BTA Positif.
Sehingga
peneliti ingin melihat lingkungan tersebut dapat menyebabkan dalam peningkatan
kejadian Tuberkulosis di wilayah yang berbeda. Dengan Judul �
Hubungan Kondisi Kualiatas Fisik Rumah dengan Kejadian Tuberkulosis di
wilayah Kerja Puskesmas Bilalang Kecamatan Bilalang Kabuapaten Bolaang
Mongondow.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan case
control adalah penelitian yang dilakukan dengan cara membandingkan antara
dua kelompok yaitu kelompok kasus dan kelompok control. Variabel Penelitian ini
terdiri dari variabel Independen : Kondisi kualitas
Fisik Rumah yaitu kepadatan hunian. Kelembapan, pencahayaan dan ventilasi.
Sedangkan dependen : Kejadian Penyakit Tuberkulosis.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 12-24 Juni 2023, di Wilayah
Kerja Puskesmas Bilalang Kecamatan Bilalang Kabupaten Bolaang Mongongow
Populasi yang di gunakan dalam penelitian ini adalah kelompok
kasus dan kelompok kontrol yang ada di wilayah kerja puskesmas Bilalang.
Kelompok Kasus yang dimaksud adalah unit rumah penderita Tuberkulosis paru
dengan BTA Positif. Sementara kelompok kontrol yang dimaksud adalah unit rumah
dari yang bukan penderita Tuberkulosis.
Pada penelitian ini tidak dilakukan perhitungan besaran sampel,
dimana semua populasi di jadikan sebagai sampel adalah penderita Tuberkulosis
di tahun 2022 sebanyak 20 sampel dan yang bukan penderita Tuberkulosis sebagai
kontrol sebanyak 20 sampel, jadi jumah semua sampel yang di teliti adalah 40
sampel.
Instrumen Penelitian : Kuesioner, Rollmeter,
Thermohygrometer dan Luxmeter.
Pengolahan dan Analisis
Data
Pengolahan
Data
a.
Pengolahan data dilakukan dengan tahap
pemeriksaan data, pengkodean dan tabulasi.
b. Pemeriksaan
data yang telah dikumpulkan untuk mengetahui dan menilai kesesuaian data yang
dikumpulkan lalu diproses lebih lanjut.
c.
Pengkodean Pemberian kode untuk jawaban yang
diberikan responden yang sesuai dengan tujuan peneliti untuk mempermudah dalam
pengolahan data
d.
Tabulasi Data disusun dalam bentuk tabel di Microsoft
Excel agar mempermudah dalam menganalisis data sesuai dengan tujuan
penelitian
e.
Data yang telah diperoleh diolah dengan
program SPSS (Software Statistical Package for Sosial Science)
Analisis
Data
Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum
masalah penelitian dengan cara mendeskripsikan setiap variabel yang digunakan
dalam penelitian ini. Menggunakan tabel distribusi frekuensi dari kuesioner dan
lembar observasi untuk memperoleh informasi secara umum mengenai data penelitian
dan hasil penelitian
Analisis Bivariat di gunakan untuk melihat hubungan antara variabel
independen dan variabel dependen. Dengan nilai hubungan yaitu jika nilai p <
0,05 serta menghitung besar resiko paparan terhadap kasus dengan menggunakan
uji chi square dengan mencari nilai odds ratio dan diolah dengan menggunakan
komputer melalui program SPSS (Statitical Package for Science) Interprestasi
nilai OR yaitu :
1)���� Jika nilai OR
>1, maka variabel yang diteliti merupakan faktor resiko
2)���� Jika nilai OR
< 1, maka variabel yang diteliti menjadi faktor protektif
3)���� Jika nilai OR
= 1, maka variabel yang diteliti adalah tidak menjadi faktor resiko
�(Sastroasmoro, S
dan Ismael S, 2014)
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Puskesmas
Bilalang merupakan Puskesmas yang berada di Kecamatan Bilalang Kabupaten
Bolaang Mongondow. Luas wilayah kerja Puskesmas Bilalang adalah 325.548 km2,
yang terdiri dari 8 desa yaitu : Desa Bilalang III, Desa Bilalang III Utara,
Desa Bilalang IV, Desa Bilalang Baru, Desa Tudu Aog Baru, Desa Tudu Aog, Desa
Apado, dan Desa Kolingangaan. Puskesmas Bilalang memiliki batas-batas wilayah
sebagai berikut :
a. Sebelah
Utara�������������������������� : Wilayah
kerja Puskesmas Poigar
b. Sebelah
Timur�������������������������� : Wilayah
kerja Puskesmas Pangian
c. Sebelah
Barat��������������������������� : Wiayah
kerja Puskesmas Passi Barat
d. Sebelah
Selatan ������ ��������������� : Wilayah kerja Puskesmas Bilalang Kota
�Secara topografis Kecamatan Bilalang terbagi
atas wilayah dataran rendah dan wilayah dataran tinggi dan daerah pengunungan
yang masing-masing daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik
topografi, kultur maupun iklim.
�Puskesmas
Bilalang memiliki wilayah kerja 8 desa yang terdiri : Bilalang III, Bilalang
III Utara, Bilalang IV, Bilalang Baru, Tudu Aog Baru, Tudu Aog, Apado dan
Kolingangaan. Dengan Jumlah Penduduk 7106 Jiwa pada tahun 2022 dengan jumlah
penderita Tuberkulosis dengan BTA Positif (+) yang datang berobat di Puskesmas
Bilalang berjumlah 20 kasus. Pengumpulan data pada penelitian ini di lakukan
dengan observasi secara langsung terhadap kondisi kualitas fisik rumah dengan
menggunakan alat ukur Meteran, Luxmeter dan Hygrometer, serta dilakukan
wawancara langsung kepada responden dengan menggunakan kuesioner terstruktur
baik responden dengan penderita Tuberkulosis BTA Positif maupun responden yang
bukan penderita Tuberkulosis selanjutnya dilakukan screening data untuk
memeriksa kevalidan variabel yang di periksa. Pada Penelitian ini di
peroleh 40 responden dengan penderita Tuberkulosis BTA positif sebanyak
20 responden dan yang bukan penderita Tuberkulosis sebanyak 20
responden.
Analisis Univariat
Data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden dilokasi
penelitian secara deskritif dengan tabel distribusi frekuensi serta analisis Univariat
dengan narasi sebagai berikut :
a. Karakteristik
Umur Responden
�Hasil pengolahan data untuk distribusi
responden menurut kelompok umur, seperti yang terlihat pada tabel 1 berikut :
Tabel 1. Distribusi Responden Kelompok
Menurut Umur
|
Umur
(Tahun) |
Kejadian
Tuberkulosis Paru |
Total |
||||
|
Kasus |
Kontrol |
|||||
|
n |
% |
n |
% |
n |
% |
|
|
0 � 10 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
11 � 20 |
3 |
15 |
2 |
10 |
5 |
�12,5 |
|
21 � 30 |
4 |
20 |
3 |
15 |
7 |
�17,5 |
|
31 � 40 |
1 |
5 |
4 |
20 |
5 |
�12,5 |
|
41 � 50 |
4 |
20 |
7 |
35 |
11 |
�27,5 |
|
51 � 60 |
5 |
25 |
3 |
15 |
8 |
�20 |
|
>60 |
3 |
15 |
1 |
5 |
4 |
�10 |
|
Total |
20 |
100 |
20 |
100 |
40 |
100 |
Sumber : Data Primer 2023
Jumlah responden yang diwawancara
menunjukan rentang umur 11-20 tahun sebanyak 5 orang dimana Kasus 5 orang responden(15
%) dan kontrol 2 orang responden (10 %), rentang umur 21-30 tahun sebanyak 5
orang dimana Kasus 5 orang responden(15 %) dan kontrol 2 orang responden (10
%),rentang umur 31-40 tahun sebanyak 5 orang dimana Kasus 5 orang responden(15
%) dan kontrol 2 orang responden (10 %),rentang umur 41-50 tahun sebanyak 5
orang dimana Kasus 5 orang responden(15 %) dan kontrol 2 orang responden (10
%),rentang umur 51-60 tahun sebanyak 5 orang dimana Kasus 5 orang responden(15
%) dan kontrol 2 orang responden (10 %), pada umur >60 tahun sebanyak 5
orang dimana Kasus 5 orang responden(15 %) dan kontrol 2 orang responden (10
%),
a. Jenis
Kelamin
Jenis Kelamin kelompok kasus maupun yang kelompok kontrol lebih banyak
laki-laki di bandingkan perempuan, seperti yang terlihat pada tabel 2 berikut
Tabel 2. Distribusi Menurut Jenis Kelamin
|
Umur |
Kejadian Tuberculosis Paru |
Total |
|
Kasus Kontrol |
||
|
n % n % N % |
||
|
Laki-laki 17 85 8 40 25 62,5 |
||
|
Perempuan 3 15 12 60 15 37,5 |
||
|
Jumlah 20 100 20 100 40 100 |
||
Sumber : Data Primer 2023
Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah responden yang diwawancara lebih banyak
laki-laki 25 orang di mana kelompok kasus sebanyak 17 responden ( 85%) dan
kelompok kontrol sebanyak 8 responden (40%) dibandingkan perempuan yaitu
sebanyak 15 responden ( 37,5%) dimana kelompok kasus sebanyak 3 responden (15
%) dan kelompok kontrol sebanyak 12 responden (60%).
b. Menurut
Lama Tinggal
Menurut
lama tinggal kelompok kasus maupun yang kelompok kontrol lebih banyak yang
tinggal di rumah ≥3 tahun di bandingkan yang tinggal lama ≤3 tahun
seperti yang terlihat pada tabel 3 berikut :
Tabel 3. Distribusi
Kasus Penderita Tuberkulosis Dan Kontrol Menurut Lama Tinggal
|
Tinggal di rumah |
Kejadian Tuberkulosis Paru |
Total |
||||
|
Kasus |
Kontrol |
|||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|
|
≥3
tahun |
14 |
70 |
18 |
90 |
32 |
80 |
|
≤3
tahun |
6 |
30 |
�2 |
10 |
�8 |
20 |
|
Jumlah |
20 |
100 |
20 |
100 |
40 |
100 |
Sumber : data Primer 2023
Tabel 3
menunjukkan bahwa jumlah responden yang diwawancara lebih banyak yang sudah
≥3 tahun tinggal di rumah sebanyak 32 orang di mana penderita
Tuberkulosis Positif sebanyak 14 responden ( 70%) dan bukan penderita
Tuberkulosis sebanyak 18 orang (32%) dibandingkan dengan yang baru ≤ 3
tahun 8 responden (20 %) dimana penderita Tuberkulosis sebanyak 6 responden (30
%) dan bukan penderita Tuberkulosis sebanyak 2 (10 %).
c. Distribusi
berdasarkan kepadatan hunian
Tabel 4
Distribusi Responden Menurut Kepadatan Hunian
|
Kepadatan Hunian |
Kejadian
Tuberkulosis Paru |
Total |
||||
|
Kasus |
Kontrol |
|||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|
|
TMS |
15 |
75 |
6 |
30 |
21 |
52,5 |
|
MS |
5 |
75 |
14 |
70 |
19 |
47,5 |
|
Jumlah |
20 |
100 |
20 |
100 |
40 |
100 |
Sumber : data Primer 2023
Berdasarkan
tabel 4 di atas bahwa kepadatan hunian terbanyak pada kelompok Kasus yang tidak
memenuhi syarat yaitu 15 responden (75%) dan memiliki hunian yang memenuhi
syarat yaitu 5 responden (25%). Dan pada Kelompok Kontrol
yang tidak memenuhi syarat yaitu 6 responden (30%) dan memiliki hunian yang
memenuhi syarat yaitu 14 responden (70%).
d.
Distribusi berdasarkan Kelembapan
Tabel
5 Distribusi Responden tingkat Kelembapan
|
Kelembapan |
Kejadian Tuberkulosis Paru |
Total |
||||||
|
Kasus |
Kontrol |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|||
|
TMS |
15 |
75 |
7 |
35 |
22 |
55 |
||
|
�MS |
5 |
25 |
13 |
65 |
18 |
45 |
||
|
Jumlah |
20 |
100 |
20 |
100 |
40 |
100 |
||
Sumber : Data Primer 2023
Berdasarkan
tabel 5 di atas bahwa Kelembapan terbanyak pada kelompok Kasus yang tidak
memenuhi syarat yaitu 15 responden (75%) dan memiliki hunian yang memenuhi syarat
yaitu 5 responden (25%). Dan pada Kelompok Kontrol yang tidak memenuhi syarat
yaitu 7 responden (35%) dan memiliki hunian yang memenuhi syarat yaitu 13
responden (65%).
e.
Distribusi frekuensi berdasarkan pencahayaan
Tabel 6. Distribusi Responden Dengan
Pencahayaan
|
Pencahayaan |
Kejadian Tuberkulosis Paru |
Total |
||||||
|
Kasus |
Kontrol |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|||
|
TMS |
13 |
65 |
5 |
25 |
18 |
45 |
||
|
MS |
7 |
35 |
15 |
75 |
22 |
55 |
||
|
Jumlah |
20 |
100 |
20 |
100 |
40 |
100 |
||
Sumber : Data Primer 2023
Berdasarkan
tabel 6 di atas bahwa pencahayaan terbanyak pada kelompok Kasus yang tidak
memenuhi syarat yaitu 13 responden (65%) dan memiliki pencahayaan yang memenuhi
syarat yaitu 5 responden (35%). Dan pada Kelompok Kontrol yang tidak memenuhi
syarat yaitu 5 responden (25%) dan pada kelompok kontrol yang memenuhi syarat
yaitu 15 responden (75%).
f.
Distribusi frekuensi berdasarkan ventilasi
Tabel 7
Distribusi Responden Dengan kondisi Ventilasi
|
Ventilasi |
Kejadian Tuberkulosis Paru |
Total |
||||
|
Kasus |
Kontrol |
|||||
|
n |
% |
n |
% |
N |
% |
|
|
TMS |
17 |
85 |
8 |
40 |
25 |
62,5 |
|
MS |
3 |
15 |
12 |
60 |
15 |
37,5 |
|
Jumlah |
20 |
100 |
20 |
100 |
40 |
100 |
Sumber : Data Primer 2023
Berdasarkan
tabel 7 di atas bahwa Ventilasi terbanyak pada kelompok Kasus yang tidak
memenuhi syarat yaitu 17 responden (85%) dan memiliki ventilasi yang memenuhi
syarat yaitu 3 responden (15%). Dan pada Kelompok Kontrol
yang tidak memenuhi syarat yaitu 8 responden (40%) dan yang memiliki ventilasi
memenuhi syarat yaitu 12 responden (60%).
1.
Analisis Bivariat Variabel Penelitian
a. Hasil Bivariat
Kepadatan Hunian dengan Kejadian Penyakit Tuberkulosis
Tabel
8 Analisis Bivariat Kepadatan Hunian Dengan Kejadian Tuberkulosis
|
Kepadatan Hunian |
Kejadian Tuberkulosis |
Total |
OR
(95 % CI) |
P
value |
||||
|
Kasus |
Kontrol |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
n |
% |
|||
|
TMS �MS |
15 5 |
75 25 |
6 14 |
30 �70 |
21 19 |
52,5 47,5 |
7,000 (1,739-28,174) |
0,011 |
|
Jumlah |
20 |
100 |
40 |
100 |
20 |
100 |
|
|
Sumber : Data Primer
Dari Tabel
8 di atas terlihat bahwa rumah yang kepadatan hunian terbanyak yaitu sebanyak
21 (52,5 %) sampel terbagi yang pada kelompok kasus rumah yang tidak memenuhi
syarat 15 (75 %) dan pada kelompok kontrol 6 (30 %). Sedangkan rumah yang
memenuhi syarat pada kelompok kasus 5 (25 %) dan pada kelompok kontrol 14 (70
%). Hasil analisis bivariat memperlihatkan kepadatan hunian memiliki hubungan
bermakna dengan kejadian Tuberkulosis (nilai p = 0.011) dengan odds ratio 7,000
nilai 95 % CI (1,739-28,174)
b.
Hasil Bivariat Kelembapan dengan Kejadian
Penyakit Tuberkulosis
Tabel
9 Analisis Bivariat Kelembapan Dengan Kejadian Tuberkulosis
|
Kelembapan |
Kejadian
Tuberkulosis |
Total |
OR (95 %
CI) |
P value |
||||
|
Kasus |
Kontrol |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
n |
% |
|||
|
TMS �MS |
15 5 |
75 25 |
7 13 |
35 65 |
22 18 |
55 45 |
5,571 (1,420-21,860) |
0,026 |
|
Jumlah |
20 |
100 |
40 |
100 |
20 |
100 |
|
|
Sumber : Data Primer
Dari Tabel
9 di atas terlihat bahwa rumah yang Kelembapan terbanyak yaitu sebanyak 22 (55
%) sampel terbagi atas yang pada kelompok kasus rumah yang tidak memenuhi
syarat 15 (75 %) dan pada kelompok kontrol 7 (35 %). Sedangkan rumah yang
memenuhi syarat pada kelompok kasus 5 (25 %) dan pada kelompok kontrol 13 (65
%). Hasil analisis bivariat memperlihatkan kelembapan memiliki hubungan
bermakna dengan kejadian Tuberkulosis (nilai p = 0.026) dengan odds ratio 5,571
nilai 95 % CI (1,420-21,860)
c.
Analisis Bivariat Pencahayaan dengan Kejadian
Penyakit Tuberkulosis
Tabel 10 Analisis
Bivariat Pencahayaan Dengan Kejadian Tuberkulosis
|
Pencahayaan |
Kejadian Tuberkulosis |
Total |
OR
(95 % CI) |
P
value |
||||
|
Kasus |
Kontrol |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
n |
% |
|
|
|
|
TMS �MS |
13 7 |
65 35 |
5 15 |
25 75 |
18 22 |
52,5 47,5 |
5,571 (1,739-28,174) |
0,026 |
|
Jumlah |
20 |
100 |
40 |
100 |
20 |
100 |
|
|
Sumber
: Data
Primer
Dari Tabel
10 di atas terlihat bahwa rumah yang pencahayaan terbanyak yaitu sebanyak 22
(47,5 %) sampel terbagi atas yang pada kelompok kasus rumah
yang memenuhi syarat 7 (35 %) dan pada kelompok kontrol 13 (65 %). Sedangkan
rumah yang tidak memenuhi syarat pada kelompok kasus13(65 %) dan pada kelompok
kontrol 5 (25 %). Hasil analisis bivariat memperlihatkan pencahayaan memiliki
hubungan bermakna dengan kejadian Tuberkulosis (nilai p = 0.026) dengan odds
ratio 5,571 nilai 95 % CI (1,739-28,174)
d.
Analisis Bivariat Ventilasi dengan Kejadian
Penyakit Tuberkulosis
Tabel 11 Analisis
Bivariat Ventilasi Dengan Kejadian Tuberkulosis
|
Ventilasi |
Kejadian
Tuberkulosis |
Total |
OR (95 %
CI) |
P value |
||||
|
Kasus |
Kontrol |
|||||||
|
n |
% |
n |
% |
n |
% |
|||
|
TMS �MS |
17 3 |
85 15 |
8 12 |
40 60 |
25 15 |
62,5 37,5 |
8,500 (1,861-38,174) |
0,009 |
|
Jumlah |
20 |
100 |
40 |
100 |
20 |
100 |
|
|
Sumber :
Data Primer
Dari Tabel
11 di atas terlihat bahwa rumah yang Ventilasi terbanyak yaitu sebanyak 25
(62,5 %) sampel terbagi atas yang pada kelompok kasus rumah yang tidak memenuhi
syarat 17 (85 %) dan pada kelompok kontrol 8 (40 %). Sedangkan rumah yang
memenuhi syarat pada kelompok kasus 3 (15 %) dan pada kelompok kontrol 12 (60
%). Hasil analisis bivariat memperlihatkan ventilasi memiliki hubungan bermakna
kdengan kejadian Tuberkulosis (nilai p = 0.009) dengan odds ratio 8,500
nilai 95 % CI (1,861-38,174)
PEMBAHASAN
1. Analisis
Hubungan Kepadatan Hunian dengan Kejadian Penyakit Tuberkulosis
Hasil
analisis bivariat memperlihatkan kepadatan hunian memiliki hubungan
bermakna dengan kejadian penyakit Tuberkulosis.
Berdasarkan hasil uji statistik chi-square maka diperoleh hasil
menunjukkan p value 0,011 > 0,05 maka ada hubungan antara Kepadatan
Hunian dengan kejadian penyakit Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas
Bilalang Kecamatan Bilalang Kabupeten Bolaang Mongondow dengan (nilai p =
0.011) odds ratio 7,000 nilai 95 % CI (1,739-28,174). Faktor resiko
penularan penyakit Tuberculosis pada rumah yang tidak memenuhi syarat 7 kali
lebih besar dibandingkan dengan rumah yang memenuhi syarat. Penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Astri tahun 2020 hasil penelitian
yaitu presentasi hubungan antara Kepadatan Hunian dengan kejadian Tuberkulosis
Paru (85,7 %) (Rokot et al., 2023), namun ada penelitian yang tidak
sejalan Endah 2018 yang menuliskan bahwa nilai p = 1,000 < 0,05 sehingga tidak
ada hubungan antara Kepadatan hunian dengan kejadian penyakit Tuberculosis
diwilayah puskesmas Garut Madiun (MARISA, 2021). Berdasarkan apa yang dikemukan
diteori, kepadatan merupakan prerequisite untuk proses penularan
penyakit, khususnya melalui udara (akan semakin mudah dan cepat
). Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuni akan
menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, dan bila salah satu anggota keluarga
terkena penyakit seperti infeksi penyakit Tuberkulosis maka akan mudah
menularkan kepada anggota keluarga yang lain. Karena padatnya hunian sehingga
perpindahan penyakit khususnya penyakit Tuberkulosis yang melalui udara semakin
mudah dan cepat. Dari penelitian ini banyak ditemukan dalam satu keluarga 2
sampai 3 orang menderita penyakit Tuberkulosis. Berdasarkan hasil penelitian
ini mayoritas rumah responden memiliki ukuran rumah yang cukup kecil dan
ditempati oleh 1 kepala keluarga dengan anggota keluarga 3-5 orang. Semakin
banyak penghuni rumah maka akan berpengaruh terhadap kadar oksigen dalam
ruangan tersebut. Peningkatan kadar CO2 di
udara, maka kuman Mycobaterium Tuberculosis memiliki kesempatan
berkembang biak. Oleh karena itu untuk menjaga kelembapan dan
suhu perlu ada siklus pertukaran udara alami yang dapat menjaga kesegaran
ruangan itu sendiri.
2. Analisis
Kelembapan dengan Kejadian Penyakit Tuberkulosis
Udara
berkualitas bukan sekedar bersih dan bersuhu nyaman. Namun
tingkat Kelembapan udara yang tepat juga penting bagi kenyamanan dan kesehatan
kita. Biasanya tingkat Kelembapan tinggi merupakan keadaan optimal untuk
berkembangbiaknya organisme. Berdasarkan uji statistik chi-square maka
diperoleh hasil menunjukkan p value 0,026 > 0,05 maka ada hubungan antara
Kelembapan dengan kejadian penyakit Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas
Bilalang Kecamatan Bilalang Kabupaten Bolaang Mongondow. Dengan odds ratio
5,571 nilai 95 % CI (1,420-21,860) faktor resiko penularan penyakit
Tuberkulosis 6 kali untuk rumah yang tidak memenuhi syarat. Penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siregar 2021, Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan Kelembapan dengan kejadian
Tuberkulosis Paru (p value = 0,041). Begitu juga penelitian Ni
komang 2019 berdasarkan uji chi square diketahui nilai propabilitas (p) = 0,013 < α 0,05 yang berarti
ada hubungan antara Kelembapan rumah dengan kejadian penyakit Tuberkulosis (Siregar, 2021). Dapat disimpulkan bahwa kondisi kualitas
fisik rumah Kelembapan memiliki hubungan dengan kejadian Tuberkulosis dan
menjadi media penularan serta berkembang biaknya Mycobacterium Tuberculosis .
Kelembapan
yang tinggi di dalam rumah akan mempermudah berkembangbiaknya mikroorganisme
antara lain bakteri spriroket, ricketsia dan virus. Mikroorganisme tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui udara,
selain itu Kelembapan yang tinggi menyebabkan membran mukosa hidung menjadi
kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme. Faktor yang dapat mempengaruhi Kelembapan adalah luas ventilasi dan
kepadatan hunian. pada penelitian ini luas ventilasi dan kepadatan
hunian lebih besar yang tidak memenuhi syarat. Karena rumah sekarang hampir
semua luas ventilasinya sudah tidak sesuai dengan luas ruangan atau luas rumah.
Apalagi karena huniannya tidak sesuai dengan luas rumah sehingga Kelembapan
udara yang meningkat meningkat merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri
berkembangbiak di dalam rumah. Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan
secara langsung ke responden menyatakan bahawa ada hubungan yang signifikan
kelembapan terhadap kejadian penyakit Tuberkulosis. Hal ini dikarenakan kondisi
cuaca yang tidak menetap sehingga proses penelitian yang menyebabkan kondisi
kelembapan responden tidak menentu. Kelembapan pada penelitian ini semua tidak
memenuhi syarat karena cuaca pada saat penelitian menggunakan alat ukur hygrometer
hujan sehingga sangat berpengaruh optimalnya kelembapan. Kelembapan yang
terlalu tinggi maupun rendah dapat menyebabkan suburnya pertumbuhan
mikroorganisme (ATTIRMIDZI, 2022).
3. Analisis
Hubungan Pencahayaan dengan Kejadian Penyakit Tuberculosis
Pencahayaan
berdasarkan uji statistik chi-square maka diperoleh hasil menunjukkan p value 0,026 > α = 0,05 maka
artinya ada hubungan antara pencahayaan dengan kejadian penyakit Tuberkulosis di
wilayah kerja Puskesmas Bilalang Kecamatan Bilalang Kabupeten
Bolaang Mongondow Dengan odds ratio 5,571 nilai 95 % CI (1,420-21,860) faktor resiko
penularan penyakit Tuberkulosis 6 kali untuk rumah yang tidak memenuhi
Penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu berdasarkan hasil metode chi
square menunjukan hubungan antara pencahayaan (p=0,001) dan penelitian Ni
komang 2019 melalui uji chi squera dengan p = 0,001 sedangkan
perhitungan Odds Ratio (OR) didapatkan hasil 0,0190 (Budi et al., 2018). Dapat disimpulkan
bahwa kondisi kualitas fisik rumah memiliki hubungan dengan kejadian
Tuberkulosis paru dan menjadi media penularan serta berkembang biaknya Mycobacterium
Tuberculosi.
Pencahayaan
atau penerangan sangat dibutuhkan pada suatu ruangan. Pencahayaan ini dibutuhkan agar rumah tidak lembap, dan dinding
rumah tidak berjamur akibat bakteri atau kuman yang masuk kedalam rumah.
Karena bakteri penyebab penyakit menyukai tempat yang gelap untuk berkembang
biak. Semakin banyak sinar matahari yang masuk akan semakin bagus. Agar
memperoleh pencahayaan khususnya cahaya alami, setiap ruangan harus memiliki
lubang cahaya atau ventilasi yang memungkinkan cahaya itu masuk secara langsung
maupun secara tidak langsung.
Berdasarkan
hasil penelitian pencahayaan yang tidak memenuhi syarat di wilayah kerja
Puskesmas Bilalang di sebabkan oleh sinar matahari yang tidak masuk secara
optimal karena sinar matahari terhalang oleh tirai jendela yang sangat tebal atau
ventilasi yang dari kaca. Rumah sekarang selain ventilasinya tidak sesuai
dengan luas ruangan, juga hampir semua rumah yang semi permanen maupun yang
permanen jendela menggunakan tirai atau kain gorden yang sangat tebal dan ada
beberapa lapisan sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke dalam
ruangan. Hampir semua rumah yang di observasi tidak membuka jendela maupun
tirai pada siang hari. Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup khususnya
cahaya yang alami berupa cahaya matahari. Pencahayaan alami ruangan rumah
adalah penerangan yang bersumber langsung dari sinar matahari yaitu semua jalan
yang memungkinkan cahaya matahari alamiah, yang tidak terhalang oleh pepohonan
maupun tirai jendela. Cahaya alami sangat penting karena dapat membunuh kuman
patogen di dalam rumah. Pada siang hari pintu atau jendela dapat dibuka bila
ada penghuni dalam rumah. Namun pada penelitian ini hampir
semua rumah tidak membuka pintu atau jendela walaupun dalam rumah ada penghuni.
4.��� Analisis Hubungan Ventilasi dengan Kejadian
Penyakit Tuberkulosis
Ventilasi
berdasarkan uji statistik chi-square maka diperoleh hasil menunjukkan p value
0,009 > 0,05 maka Ha di terima artinya ada hubungan antara Ventilasi dengan
kejadian penyakit Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Bilalang Kecamatan
Bilalang Kabupeten Bolaang Mongondow Dengan odds ratio 8,500 nilai 95 %
CI (1,861-38,817) 9 kali beresiko menderita Penyakit Tuberkulosis, untuk rumah
yang tidak memenuhi syarat. Dewi 2018 berdasarkan hasil metode chi square
menunjukan hubungan antara ventiasi denagn kejadian penyakit Tuberkulosis
(p=0,014 CC=0,286). Dapat disimpulkan bahwa kondisi kualitas fisik rumah
memiliki hubungan dengan kejadian Tuberkulosis dan menjadi media penularan
serta berkembang biaknya Mycobacterium Tuberculosis .
kurangnya ventilasi
akan menyebabkan Kelembapan udara dalam ruangan karena terjadinya proses
penguapan cairan. dari kulit dan penyerapan. Kelembapan ini dapat menjadi media
yang baik untuk bakteri pathogen (Patogen, 2018). Kurangnya ventilasi akan menyebabkan
Kelembapan udara di dalam ruangan meningkat akibat terperangkapnya uap air yang
berasal dari penguapan cairan kulit atau melalui penyerapan uap air yang
berasal dari luar rumah. Ventilasi juga mempermudah masuknya sinar matahari ke
dalam rumah. Paparan sinar matahari yang merupakan sinar ultraviolet dapat
membunuh bakter-bakteri patogen termasuk mycobacterium tuberculosis.
Karena sifat bakteri tersebut yang tidak mampu bertahan hidup jika terpapar
sinar ultraviolet secara langsung (Sinaga dkk, 2016).
Ventilasi
alami diukur dengan cara membandingkan luas ventilasi tersebut dengan luas
lantai. Memenuhi syarat atau tidaknya suatu ventilasi alami rumah responden
dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti luas ruangan rumah yang tidak
sebanding denagan laus ventilasi dan jendela atau lubang angin yang tebuat dari
kaca yang tidak dapat dibuka. Beberapa rumah responden memiliki luas ventilasi
yang dapat dibuka dan ditutup. Namun karena alasan keamanan rumah, sehingga
responden memilih tidak membuka ventilasi rumah walaupun di siang hari. Lyzigoz
(2013) menyatakan bahwa jendela yang tertutup menyebabkan vbetilasi rumah buruk
sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit Tuberkulosis.
Ventilasi
merupakan suatu kondisi rumah yang memiliki sirkulasi udara keluar masuk yang
cukup dengan laur ventilasi minimal 10 % dari luas lantai. Ventilasi yang buruk
dapat mempengaruhi syarat kejadian penyaakit Tuberkulosis. Suatu ruangna dengan
luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat < 10 % luas lanatai memyebabkan
tingginya kelembapan dan suhu dalam ruangan karena kurang adanya pertukaran
udara dari luar rumah sehingga memberi kesempatan kepada bakteri Tuberkulosis,
untuk dapat bertahan hidup dalam ruang tersebut karena sifat bakteri
Tuberkulosis yang mampu bertahan hidup di dalam ruangan yang gelap dan lembap.
Ventilasi yang alami yang memenuhi syarat mempermudah masuknya sinar ultraviolet
(UV) ke dalam rumah. Sinar UV dapat membunuh bakteri patogen termasuk bakteri
Tuberkulosis, karena sifat bakteri Tuberkulosis yang tidak mampu
bertahan hidup jika terpapar secara langsung.
Dari hasil
penelitian menunjukan dari 40 responden rumah yang ventilasinya tidak memenuhi
syarat baik itu kelompok kasus maupun kelompok kontrol, sebanyak 25 rumah
responden. Ini disebabkan oleh banyaknya ventilasi yang tidak sesuai atau <
10 % luas lantai. Hampir semua ventilasi rumah terbuat dari kaca sehingga
sirkulasi udara tidak lancar, di tambah dengan pintu maupun jendela tidak di
buka pada siang hari walaupun ada penghuni rumah. Penggunaan
ventilasi sekarang ini mengikuti interior rumah tanpa memperhatikan
aspek kesehatan yang di akibatkan oleh ventilasi yang tidak memenuhi syarat
kesehatan.
KESIMPULAN
berpotensi
menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan penularan Mycobacterium
tuberculosis. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kondisi
kualitas fisik rumah, terutama faktor-faktor seperti kepadatan hunian,
kelembapan, pencahayaan, dan ventilasi, memiliki hubungan signifikan dengan
kejadian Tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Bilalang, Kecamatan
Bilalang, Kabupaten Bolaang Mongondow. Temuan ini sejalan
dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa faktor-faktor lingkungan
rumah dapat memengaruhi risiko penyakit Tuberkulosis. Rekomendasi dari
penelitian ini mencakup perluasan program intervensi kesehatan masyarakat di
wilayah tersebut, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya menjaga kualitas lingkungan rumah. Selain itu,
perlu adanya edukasi tentang praktik-praktik yang dapat meningkatkan ventilasi,
pencahayaan alami, dan mengurangi kelembapan di dalam rumah. Langkah-langkah preventif ini diharapkan dapat mengurangi risiko
penularan dan kejadian penyakit Tuberkulosis di masyarakat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Siti, Savitri,
Fitri, Tuahuns, Farida, & Sari, Putri Eka. (2023). EDUKASI TUBERKULOSIS
(TB) KEPADA KADER PEMBERDAYAAN KESEJAHTERAAN KELUARGA (PKK) KELURAHAN DUREN
SAWIT. Jurnal Bakti Untuk Negeri, 3(2), 123�133.
Alamsyah, Dedi,
Mexitalia, Maria, Margawati, Ani, Hadisaputro, Suharyo, & Setyawan, Henry.
(2017). Beberapa faktor risiko gizi kurang dan gizi buruk pada balita 12-59
bulan (studi kasus di kota Pontianak). Jurnal Epidemiologi Kesehatan
Komunitas, 2(1), 46�53.
ALHAQ, AQWIYA MIQDAM
INSANI. (2021). HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KONDISI FISIK RUMAH
TERHADAP KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATUJAJAR
KABUPATEN BANDUNG BARAT 2021. Universitas Siliwangi.
ATTIRMIDZI, M. RIYADH.
(2022). ANALISIS PERBEDAAN PENGARUH SUHU DAN KELEMBABAN TERHADAP ANGKA KUMAN
PADA RUANGAN BER AC DAN TIDAK BER AC DI PUSKESMAS BANJAR AGUNG KECAMATAN JATI
AGUNG LAMPUNG SELATAN TAHUN 2022. Poltekkes Tanjungkarang.
Budi, Iwan Stia,
Ardillah, Yustini, Sari, Indah Purnama, & Septiawati, Dwi. (2018). Analisis
Faktor Risiko Kejadian penyakit Tuberculosis Bagi Masyarakat Daerah Kumuh Kota
Palembang. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 17(2), 87�94.
DPR, Badan Kerja Sama
Antar Parlemen, & RI, Badan Kerja Sama Antar Parlemen D. P. R. (2018). Panitia
Kerja (Panja): Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Tahun 2018. Badan Kerja
Sama Antar-Parlemen DPR RI.
Faradillah, Sahra,
Thohari, Imam, & Darjati, Darjati. (2022). Kondisi Fisik Rumah, Perilaku
Keluarga dan Kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Bangkalan. Jurnal
Penelitian Kesehatan" SUARA FORIKES"(Journal of Health Research"
Forikes Voice"), 13(3), 856�860.
Haidar, Anera Fitri.
(2022). Analisis Faktor Risiko Kejadian Diare pada Balita di Kabupaten
Banyumas. Universitas Jenderal Soedirman.
Kandau, Grace D., &
Posangi, Jimmy. (2015). Hubungan kualitas lingkungan fisik rumah dengan
kejadian tuberkulosis paru di wilayah kerja puskesmas perawatan Siko Kecamatan
Ternate Utara Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. EBiomedik, 3(3).
Kurniawan, Depit,
Najmah, Najmah, & Syakurah, Rizma Adlia. (2021). Peran Kader TB Dalam
Pengembangan Aplikasi Suli Simulator. Jurnal Endurance, 6(3),
536�550.
MARISA, SAFRIZAL.
(2021). FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK BALITA DI PUSKESMAS
NANGA PINOH KABUPATEN MELAWI TAHUN 2021. Universitas Muhammadiyah
Pontianak.
Patogen, kurangnya
ventilasi akan menyebabkan Kelembapan udara dalam ruangan karena terjadinya
proses penguapan cairan. dari kulit dan penyerapan. Kelembapan ini dapat menjadi
media yang baik untuk bakteri. (2018). Kepadatan hunian, ventilasi dan
pencahayaan terhadap kejadian Tb paru di wilayah kerja Puskesmas Binanga
Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat. Jurnal Kesehatan Manarang, 3(2).
Rahmawati, Siti,
Ekasari, Fitri, & Yuliani, Vera. (2021). Hubungan lingkungan fisik rumah
dengan kejadian tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Pekalongan Kabupaten
Lampung Timur tahun 2020. Indonesian Journal of Health and Medical, 1(2),
254�265.
Ramadhan, Raisuli,
Fitria, Eka, & Rosdiana, Rosdiana. (2017). Deteksi mycobacterium
tuberculosis dengan pemeriksaan mikroskopis dan teknik pcr pada penderita
tuberkulosis paru di puskesmas darul imarah. Sel Jurnal Penelitian Kesehatan,
4(2), 73�80.
Rokot, Agus, Laikun,
Yenny, Kabuhung, Anselmus, Katiandagho, Dismo, Yusran, Mokoginta, &
Pandean, Marlyn Magdalen. (2023). Hubungan Kondisi Fisik Rumah Dengan Kejadian
Tuberkulosis Paru Di Kelurahan Sindulang Satu Kecamatan Tuminting Kota Manado. PROSIDING
Seminar Nasional 2023 ISBN............, 55�68.
Siregar, Muhammad
Daimuddin. (2021). Hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian tuberkulosis
paru (TB PARU) diwilayah kerja puskesmas sibuhuan tahun 2021. Universitas
Islam Negeri Sumatera Utara.
Tumiwa, Finni, Pondaa,
Angelia, & Langingi, Ake Royke Calvin. (2023). Faktor-Faktor Determinan
yang Berhubungan dengan Kejadian Ulang (Relaps) Pada Penderita TB Paru di RSUD
X. Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 9(1), 791�802.
Yuliyanti, W. D. (2020).
Upaya World Health Organization (WHO) melalui Global Malaria Programme (GMP)
dalam Mengatasi Penyakit Endemik Malaria di Indonesia Tahun 2016-2019. Universitas
Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Zakiudin, Ahmad, &
Rakhmatillah, Nurhastati. (2021). Hubungan Pencahayaan Rumah Dengan Kejadian
Tuberkulosis Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Tonjong Kabupaten Brebes Tahun
2021. Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan Indonesia, 1(3),
124�132.