PERILAKU KEPALA
KELUARGA DALAM PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) DENGAN� RESIKO�
DEMAM� BERDARAH� DENGUE�
Suwarja1,
Agus Rokot2, Risman Duka3, Anselmus Kabuhung4,
Joy Sambuaga5, Ni Ketut sari ayu6
Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado,
Indonesia
[email protected]1, [email protected]2
Abstrak:
Peran serta
masyarakat untuk menekan kasus DBD sangat diperlukan,� karenanya Program Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus perlu terus dilakukan secara berkelanjutan
sepanjang tahun khususnya pada musim penghujan. Program PSN yaitu: 1) Menguras, �2) Menutup,� 3) Mengubur. Tujuan
Penelitian Untuk Mengetahui kaitan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Desa Mopuya Selatan Wilayah Kerja
Puskesmas Mopuya Kabupaten Bolaang Mongondow. Jenis penelitian ini merupakan
studi observasional analitik dengan rancangan case control atau kasus kontrol,
yaitu suatu rancangan studi yang membandingkan antara kelompok kasus dengan
kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Dalam penelitian ini digunakan
perbandingan 1 : 2, sehingga jumlah Sampel 75. Metode Penelitian ini
menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain kasus kontrol dan
dilaksanakan di Desa Mopuya Selatan, Bolaang Mongondow, fokus pada perilaku
kepala keluarga dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan risiko Demam
Berdarah Dengue (DBD). Populasi terdiri dari kepala keluarga
di desa tersebut, dengan sampel sebanyak 75 kepala keluarga, termasuk 25 yang
memiliki riwayat DBD dan 50 yang tidak terkena DBD. Penelitian
dilakukan selama Februari hingga Juni 2023, menggunakan instrumen berupa
kuesioner, lembar observasi praktik PSN, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan, tidak ada
hubungan antara Pengetahuan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue dengan nilai� p value 1,000
>0,05, tidak ada hubungan antara Sikap dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
dengan nilai p value 0,317� > dari
0,05, ada hubungan antara Tindakan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue dengan
nilai� p value 0,011� < dari 0,05, nilai Odds Ratio= 4,195� (OR>1) menunjukan� bahwa tindakan yang cukup merupakan faktor
risiko terjadinya DBD.
Kata kunci: Perilaku
PSN,� Demam
Berdarah Dengue
Abstract:.
Community participation in suppressing
dengue fever cases is very necessary, therefore the Mosquito Nest Eradication
Program (PSN) using the 3M Plus method needs to
continue to be carried out continuously throughout the year, especially during
the rainy season. The PSN program is: 1) Drain, 2) Close, 3) Bury. The aim of
the research is to determine the relationship between Mosquito Nest Eradication
Behavior (PSN) and the incidence of Dengue Hemorrhagic Fever in South Mopuya
Village, Mopuya Health Center Working Area, Bolaang
Mongondow Regency. This type of research is an analytical observational study
with a case control or case control design, namely a study design that compares
a case group with a control group based on their exposure status. In this study,
a ratio of 1:2 was used, so the sample size was 75. This research method used
an analytical observational approach with a case control design and was carried
out in South Mopuya Village, Bolaang Mongondow, focusing on the behavior of the
head of the family in Eradicating Mosquito Nests (PSN) and the risk of fever.
Dengue Blood (DHF). The population consisted of heads of families in the
village, with a sample of 75 heads of families, including 25 who had a history
of dengue fever and 50 who did not have dengue fever. The research was
conducted from February to June 2023, using instruments in the form of
questionnaires, PSN practice observation sheets, and interviews. The research
results show that there is no relationship between knowledge and the incidence
of dengue fever with a p value of 1,000 > 0.05, there is no relationship
between attitude and the incidence of dengue hemorrhagic fever with a p value
of 0.317 > 0.05, there is a relationship between action and The incidence of
Dengue Hemorrhagic Fever with a p value of 0.011 < 0.05, an Odds Ratio =
4.195 (OR> 1) shows that adequate action is a risk factor for the occurrence
of DHF.
Keywords: PSN Behavior, Dengue Hemorrhagic Fever
Corresponding: Suwarja
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Demam berdarah dengue yang mewabah di
Asia tenggara� mula-mula
muncul di Filipina pada tahun 1953.� Di
negara itu, demam berdarah yang disertai perdarahan dan renjatan menyerang
anak-anak (Payage, 2023).� Pada tahun
1958 penyakit demam berdarah dengue muncul di Bangkok (Thailand) danHanoi
(Vietnam).� Selanjutnya Malaysia
pun terjangkit penyait ini pada tahun 1962
Penyakit DBD pertama kali di Indonesia
ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi
konfirmasi virologi baru didapat tahun 1972.�
Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke seluruh daerah, sehingga pada
tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia kecuali Timor Timur telah terjangkit
penyakit (Harahap, Pratama, Siregar, & Purba,
2023).� Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus
menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun baik dalam dalam jumlah
maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadic selalu terjaadi KLB
tiap tahun (Rahmayani, 2021).
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan
penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui
vektor nyamuk dari spesies Aedes sp atau Aedes albopictus (Anggraini, Huda, & Agushybana, 2021). Peran vektor dalam penyebaran penyakit menyebabkan kasus banyak
ditemukan pada musim hujan ketika munculnya banyak genangan air yang menjadi
tempat perindukan nyamuk (Destiani & Huda, 2023). Selain iklim dan kondisi lingkungan, beberapa studi menunjukkan bahwa
DBD berhubungan dengan mobilitas dan kepadatan penduduk, dan perilaku
masyarakat (Chandra & Hamid, 2019). Faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut menjadi landasan dalam upaya
pencegahan dan pengendalian DBD (Purba, Adiansyah, & Kaban, 2023).
Pada akhir Desember
tahun 2018, Kemenkes menerima laporan kasus DBD. Ada 22 provinsi yang terjadi peningkatan kasus suspek dengue, dari 22
propinsi itu ada beberapa wilayah yang menyatakan sudah masuk kategori kejadian
luar biasa (KLB) yakni Kabupaten Kapuas, Propinsi Sulawesi Utara, Kota Manado, dan
Kabupaten Manggarai Barat (RANGGA, 2023). �
Karakteristik dan
perilaku vektor tersebut dapat menjelaskan adanya kecenderungan peningkatan
kasus DBD pada musim penghujan seiring dengan bermunculannya tempat perindukan. Selain mempengaruhi banyaknya kasus, karakteristik dan
perilaku nyamuk Aedes sp juga menjadi landasan upaya pengendalian penyakit DBD melalui
intervensi lingkungan dan perilaku individu dan masyarakat. Upaya
pengendalian tersebut di antaranya melalui kampanye 3M dan 3M plus (Syahrani, 2023).
Dalam Penanganan DBD, peran serta
masyarakat untuk menekan kasus ini sangat menentukan. Oleh karenanya Program
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus perlu terus dilakukan
secara berkelanjutan sepanjang tahun khususnya pada musim penghujan (Rasyid, Susanti, & Hasrianto, 2018). Program PSN yaitu: 1) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering
dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan
air minum, penampung air lemari es dan lain-lain; 2) Menutup, yaitu menutup
rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan
lain sebagainya; 3) Memanfaatkan Kembali atau mendaur ulang barang bekas yang
memiliki potensi untuk menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam
Berdarah (Kinansi & Pujiyanti, 2020).
Kasus DBD yang
dilaporkan pada tahun 2020 tercatat sebanyak 108.303 kasus. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun 2019 yang
sebesar 138.127 kasus. Sejalan dengan jumlah kasus, kematian karena DBD
pada tahun 2020 juga mengalami penurunan dibandingkan tahun 2019, dari 919
menjadi 747 kematian. Kesakitan dan kematian dapat digambarkan dengan
menggunakan indikator incidence rate (IR) per 100.000 penduduk dan case
fatality rate (CFR) dalam bentuk persentase. Incidence Rate
DBD pada tahun 2020 sebesar 40 per 100.000 penduduk. relatif
menurun jika dibandingkan dengan tahun 2019.
Hasil penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Suseno dan Retna (2019) menunjukkan bahwa perilaku menguras
tempat penampungan air 88.5%, perilaku mengubur barang-barang bekas 14.8%,
perilaku membuang sampah pada tempatnya dan membakarnya 83.6%, perilaku menabur
bubuk abate 11,5%. Perilaku menguras tempat penampungan air (p=1.000), perilaku
membuang sampah pada tempatnya dan membakarnya (p=0.431), perilaku menabur
bubuk abate (p=0.174) tidak memiliki hubungan dengan kejadian demam berdarah
dengue sedangkan perilaku mengubur barang-barang bekas (p=0.045) memiliki
hubungan dengan kejadian demam berdarah dengue.
Hasil penelitian lainnya menurut
Priesley (2021) menunjukkan bahwa 17 responden dengan perilaku baik (5
responden kelompok kasus dan 12 responden kelompok kontrol) dan sebanyak 17 responden
dengan perilaku kurang baik (12 responden kelompok kasus dan 5 responden
kelompok kontrol).
Dari hasil uji Chi-Square didapatkan
bahwa perilaku PSN berhubungan dengan kejadian DBD dengan nilai p=0,016
(<0,05) dan nilai OR=5,760 yang berarti responden dengan perilaku PSN baik
memiliki resiko 5 kali lebih besar untuk tidak mendapat DBD (Berhimpong & Langkai, 2021).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan
Kabupaten Bolaang Mongondow pada� tahun
2021 sampai tahun 2022 terjadi peningkatan�
kasus dimana� tahun 2021 terdapat
56 kasus dan� tahun 2022 terjadi
peningkatan kasus menjadi 91 kasus tersebar di 18 wilayah puskesmas dan wilayah
Puskesmas Mopuya merupakan wilayah kedua tertinggi kasus DBD setelah Puskesmas
Imandi (Ahmad, Mongilong, Kadir, & Moo, 2023).
Sesuai profil di
Puskesmas Mopuya Kecamatan Dumoga Utara Kabupaten Bolaang Mongondow bahwa
wilayah kerja puskesmas Mopuya terdiri dari 16 Desa, pada tahun 2020 terdapat 6
kasus DBD.�
Sedangkan pada tahun 2021 terjadi kenaikan kasus menjadi 36 kasus dan
meningkat lagi menjadi� 45 kasus di tahun
2022 (Dwinata, 2022). Desa yang tertinggi kasusnya adalah Desa Mopuya
Selatan dengan jumlah 25 kasus. Hal ini disebabkan karena kesadaran dari
masyarakat untuk melakukan pemberantasan terhadap sarang nyamuk masih kurang (Espiana, Lestari, & Ningsih, 2022).
Hasil survey awal yang peneliti lakukan
bahwa masyarakat yang tinggal di wilyah kerja Puskesmas Dumoga Utara masih
belum melakukan PSN di sekitar rumah masing-masing karena masih banyak sampah
berserakan di belakang rumah seperti bekas gelas plastik air mineral,
kaleng-kaleng bekas, daun-daunan, tempurung dan lain-lain yang jika dibiarkan
pada saat hujan akan berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes
sp.
Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti
tertarik untuk mengadakan penelitian tentang Hubungan Perilaku Kepala Keluarga Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Desa Mopuya selatan Wilayah Kerja
Puskesmas Mopuya Kabupaten Bolaang Mongondow.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi dan menganalisis perilaku kepala keluarga dalam Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) dengan fokus pada risiko Demam Berdarah Dengue (DBD) di
Desa Mopuya Selatan, Bolaang Mongondow. Penelitian ini secara khusus akan mengeksplorasi tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan
kepala keluarga terkait PSN, serta memahami bagaimana perilaku tersebut dapat
berkontribusi pada risiko terjadinya DBD. Manfaat penelitian ini mencakup
kontribusi terhadap pengembangan program edukasi yang lebih efektif, pemahaman
lebih lanjut tentang faktor perilaku yang mempengaruhi risiko DBD, dan
memberikan informasi penting untuk perbaikan kebijakan dan program kesehatan
masyarakat di tingkat desa. Dengan demikian, penelitian ini
diharapkan dapat berperan dalam upaya pencegahan dan pengendalian DBD di Desa
Mopuya Selatan serta berpotensi menjadi model untuk daerah serupa.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan
observasional analitik dengan desain kasus kontrol dan dilaksanakan di Desa
Mopuya Selatan, Bolaang Mongondow, fokus pada perilaku kepala keluarga dalam Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) dan risiko Demam Berdarah Dengue (DBD). Populasi
terdiri dari kepala keluarga di desa tersebut, dengan sampel sebanyak 75 kepala
keluarga, termasuk 25 yang memiliki riwayat DBD dan 50 yang tidak terkena DBD. Penelitian dilakukan selama Februari hingga Juni 2023, menggunakan
instrumen berupa kuesioner, lembar observasi praktik PSN, dan wawancara.
Analisis data melibatkan teknik uji kasus kontrol untuk
membandingkan perilaku PSN antara kelompok kepala keluarga yang mengalami DBD
dan yang tidak. Kesimpulan dari penelitian ini
diharapkan memberikan pemahaman lebih mendalam tentang hubungan perilaku PSN
dengan risiko DBD di Desa Mopuya Selatan serta implikasinya terhadap upaya
pemberantasan penyakit ini di masyarakat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dan penggolongan data untuk kelompok karakteristik
responden dapat di uraikan sebagai berikut:
1). Kelompok �Umur Responden.
Tabel 1� Distribusi Kelompok
Umur
|
No |
Golongan Umur |
Jumlah |
Persentasi (%) |
|
1 |
17
- 25 Tahun |
8 |
10.7 |
|
2 |
26
- 35 Tahun |
24 |
32.0 |
|
3 |
36
- 45 Tahun |
24 |
32.0 |
|
4 |
46
- 55 Tahun |
6 |
8.0 |
|
5 |
56
� 65 Tahun |
9 |
12.0 |
|
6 |
>65 Tahun |
4 |
5.3 |
|
|
Jumlah |
75 |
100 |
2). Jenis
Kelamin
Tabel� 2� Distribusi�
Jenis� Kelamin
|
No |
Jenis Kelamin |
Jumlah |
Persentasi (%) |
|
1 |
Laki-Laki |
30 |
40 |
|
2 |
Perempuan |
45 |
60 |
|
|
Jumlah |
75 |
100 |
3).
Pendidikan
Tabel 3 Distribusi� Pendidikan� Responden
|
No |
Pendidikan |
Jumlah |
Persentasi (%) |
|
1 |
Tidak
Sekolah |
1 |
1.3 |
|
2 |
SD |
29 |
38.7 |
|
3 |
SMP |
24 |
32.0 |
|
4 |
SMA |
19 |
25.3 |
|
5 |
Perguruan
Tinggi |
2 |
2.7 |
|
|
Jumlah |
75 |
100 |
4).
Pekerjaan
Tabel 4 Distribusi� Pekerjaan� Responden
|
No |
Pekerjaan |
Jumlah |
Persentasi (%) |
|
1 |
IRT |
27 |
36.0 |
|
2 |
Buruh |
10 |
13.3 |
|
3 |
Petani |
19 |
25.3 |
|
4 |
Wiraswasta |
10 |
13.3 |
|
5 |
Karyawan |
6 |
8.0 |
|
6 |
POLRI |
3 |
4.0 |
|
|
Jumlah |
75 |
100.0 |
a.
Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD)
Tabel� 5� Distribusi�
Kejadian DBD
|
No |
Kejadian DBD |
Jumlah |
������ Persentase(%) |
|
1 |
Menderita |
25 |
33.3 |
|
2 |
Tidak Menderita |
5������
50 |
66.7 |
|
|
Jumlah |
75 |
100 |
c. Perilaku
PSN
1).
Pengetahuan
Tabel 6 Distribusi� Pengetahuan� Responden
|
No |
Pengetahuan |
Jumlah |
Persentase(%) |
|
1 |
Tinggi |
64 |
85.3 |
|
2 |
Rendah |
1������ 11 |
14.7 |
|
|
Jumlah |
75 |
� 100 |
2).
Sikap
Tabel� 7
Distribusi� Sikap Responden
|
No |
Sikap |
Jumlah |
Persentase(%) |
|
1 |
Positif |
45 |
�� 60 |
|
2 |
Negatif�
|
��������
30 |
��� 40 |
|
|
Jumlah |
75 |
�� 100 |
3).
Tindakan
Tabel 8 Distribusi� Tindakan
Responden
|
No |
Tindakan |
Jumlah |
Persentase(%) |
|
1 |
Baik |
37 |
49.3 |
|
2 |
Cukup |
�������� 38 |
50.7 |
|
|
Jumlah |
75 |
�100 |
2.
Hasil Analisis Bivariat
Tabel 9� Hubungan Pengetahuan� Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Dengan
Kejadian Demam Berdarah Dengue
|
|
Perilaku PSN |
��� Kejadian DBD |
OR |
|
|||
|
NO |
Pengetahuan |
Menderita |
Tidak Menderita |
��������� 95%CI |
P value |
||
|
|
|
N |
�% |
N |
�% |
|
|
|
1 |
Tinggi |
21 |
84 |
43 |
86 |
0,855 |
� 1,000 |
|
2 |
Rendah |
4 |
16 |
7 |
14 |
���� 0,225 � 3,247 |
|
|
|
Jumlah |
25 |
100 |
50 |
100 |
|
|
����
Dari hasil uji statistik dengan menggunakan Chi square seperti
yang terlihat pada tabel 9 di atas, menunjukan p value 1,000� > dari 0,05 maka Ha ditolak
artinya tidak ada hubungan antara Pengetahuan PSN dengan Kejadian Demam
Berdarah Dengue Di Desa Mopuya Selatan Wilayah Kerja Puskesmas Mopuya� Kabupaten Bolaang Mongodow, dengan nilai Odds
Ratio= 0,855� (OR<1)
menunjukan� bahwa pengetahuan PSN
bukan� merupakan faktor risiko terhadap
kejadian DBD.
Hubungan
Sikap PSN dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
Tabel 10
Hubungan Sikap Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
Dengan
Kejadian Demam Berdarah Dengue
|
|
Perilaku PSN |
��� Kejadian DBD |
OR |
|
|||
|
NO |
Sikap |
Menderita |
Tidak Menderita |
95%CI |
P value |
||
|
|
|
N |
�% |
N |
�% |
|
|
|
1 |
Positif |
17 |
68 |
28 |
56 |
1,670 |
0,453 |
|
2 |
Negatif |
8 |
32 |
22 |
44 |
0,609 � 4,579 |
|
|
|
Jumlah |
25 |
100 |
50 |
100 |
|
|
�
��
Hasil uji statistik dengan menggunakan Chi square seperti yang
terlihat pada tabel 10 di atas, menunjukan p value 0,317� > dari 0,05 maka Ha� ditolak artinya tidak ada hubungan antara
Sikap dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Desa Mopuya Selatan Wilayah
Kerja Puskesmas Mopuya� Kabupaten Bolaang
Mongodow, dengan nilai Odds Ratio= 1,670�
(OR>1) menunjukan� bahwa sikap
merupakan factor risiko terjadinya DBD, sikap negatif berisiko 1,67 kali lebih
besar terjangkit penyakit DBD.
c.
Hubungan Tindakan PSN dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
Tabel 11
Hubungan Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
Dengan
Kejadian Demam Berdarah Dengue
|
|
Perilaku PSN |
��� Kejadian DBD |
OR |
|
|||
|
NO |
Tindakan |
Menderita |
Tidak Menderita |
95%CI |
P value |
||
|
|
|
N |
�% |
N |
�% |
|
|
|
1 |
Baik |
18 |
72 |
19 |
38 |
4,195 |
0,011 |
|
2 |
Cukup |
7 |
28 |
31 |
62 |
1,478 � 11,908 |
|
|
|
Jumlah |
25 |
100 |
50 |
100 |
|
|
����
Dari hasil uji statistik dengan menggunakan Chi square seperti
yang terlihat pada tabel 10 di atas, menunjukan p value 0,011� < dari 0,05 maka Ha� diterima artinya� ada hubungan antara Sikap dengan Kejadian
Demam Berdarah Dengue Di Desa Mopuya Selatan Wilayah Kerja Puskesmas
Mopuya� Kabupaten Bolaang Mongodow,
dengan nilai Odds Ratio= 4,195�
(OR>1) menunjukan� bahwa
tindakan merupakan factor risiko terjadinya DBD, Tindakan Cukup berisiko 4,2
kali lebih besar terjangkit penyakit DBD.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai Hubungan Perilaku Kepala Keluarga Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Desa Mopuya Selatan Wilayah Kerja Puskesmas Mopuya Kabupaten Bolaang Mongodow, disimpulkan bahwa tidak ada kaitan antara Pengetahuan dan sikap dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD), sementara terdapat kaitan antara Tindakan dengan Kejadian DBD. Dalam konteks ini, disarankan agar masyarakat Desa Mopuya Selatan tetap mengikuti dan aktif dalam Gerakan 3M Plus untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk, guna memastikan kelangsungan program pengendalian DBD oleh masyarakat dan petugas puskesmas. Petugas Puskesmas Mopuya juga disarankan untuk melanjutkan program pengendalian DBD, termasuk memberikan penyuluhan, melaksanakan Gerakan 3M Plus, dan Abatesasi secara intensif, dengan kerjasama aktif bersama masyarakat. Kader Desa Mopuya Selatan diharapkan dapat melaksanakan kegiatan pelayanan dan berperan aktif dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk, sehingga kontribusi positif mereka dapat membantu dalam upaya pencegahan penyebaran penyakit DBD di wilayah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Zul Fikar,
Mongilong, Nadila Salsabila, Kadir, Laksmyn, & Moo, Dewi Rahmawaty. (2023).
Perbandingan Manifestasi Klinis Penderita Demam Berdarah. Indonesian Journal
of Pharmaceutical Education, 3(1).
Anggraini, Dwi Ratna,
Huda, Syamsul, & Agushybana, Farid. (2021). Faktor Perilaku Dengan Kejadian
Demam Berdarah Dengue (Dbd) Di Daerah Endemis Kota Semarang. Jurnal Ilmu
Keperawatan Dan Kebidanan, 12(2), 344�349.
Berhimpong, Marnex,
& Langkai, Silvana. (2021). Hubungan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk
dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Kumelembuai. Epidemia:
Jurnal Kesehatan Masyarakat Unima, 14�20.
Chandra, Emilia, &
Hamid, Ernawati. (2019). Pengaruh faktor iklim, kepadatan penduduk dan angka
bebas jentik (ABJ) terhadap kejadian demam berdarah dengue (DBD) di Kota Jambi.
Jurnal Pembangunan Berkelanjutan, 2(1), 1�15.
Destiani, Suprihatin,
& Huda, Syaefunnuril Anwar. (2023). Asuhan Keperawatan Pada Ny. E Dengan
Masalah Hipovolemia Akibat Penyakit Dengeu Hemorrhagic Fever (DHF) di RS Sentra
Medika Cikarang Tahun 2022.
Dwinata, Probo As.
(2022). Pemetaan Kejahatan Jambret Pada Tahun 2017-2021 Di Wilayah Kota
Pekanbaru (Studi Kasus Di Polresta Pekanbaru). Universitas Islam Riau.
Espiana, Ika, Lestari,
Rizky Muji, & Ningsih, Fitriani. (2022). Hubungan Pengetahuan dan Sikap
dengan Perilaku Masyarakat tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah
Dengue (DBD): Correlation of Knowledge and Attitude with Community Behavior
about the Eradication of Nests Mosquito Dengue Blood Fever (DHF). Jurnal
Surya Medika (JSM), 8(1), 129�135.
Harahap, Rosida
Sapriani, Pratama, Muhammad Raihan, Siregar, Putra Apriadi, & Purba, Faiqah
Adnin. (2023). ANALISIS PENGETAHUAN MASYARAKAT SEKITAR TENTANG PENYAKIT DEMAM
BERDARAH DENGUE (DBD). Jurnal Kesehatan, 1(1), 25�35.
Kinansi, Revi Rosavika,
& Pujiyanti, Aryani. (2020). Pengaruh karakteristik tempat penampungan air
terhadap densitas larva Aedes dan risiko penyebaran Demam Berdarah Dengue di
daerah endemis di Indonesia. Balaba: Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit
Bersumber Binatang Banjarnegara, 1�20.
Payage, Ema. (2023). Asuhan
Keperawatan Pada An. M Dengan Demam Berdara Dengue Di Ruangan 6. Anak Rsud
Labuang Baji Kota Makassar. Universitas Hasanuddin.
Purba, Ivan Elisabeth,
Adiansyah, S. Si, & Kaban, Eddy Surya. (2023). Faktor-Faktor Risiko
Penyebab Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD). umsu press.
Rahmayani, Devita.
(2021). KARAKTERISTIK KADAR TROMBOSIT PENDERITA DBD PADA ANAK DI RUMAH SAKIT
GUNUNG JATI. Jurnal Sehat Indonesia: Vol, 3(1).
RANGGA, SAKTI BUDI
PUTRA. (2023). POLA PENYEBARAN PENDERITA MALARIA BERDASARKAN SPESIES
PLASMODIUM PENYEBAB DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS HANURA KABUPATEN PESAWARAN
PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2021.
Rasyid, Zulmeliza,
Susanti, Nurvi, & Hasrianto, Nofri. (2018). Determinan Penerapan 3M Plus
Oleh Penderita Dbd Di Wilayah Kerja Puskesmas Payung Sekaki Kecamatan Payung
Sekaki Kota Pekanbaru. Photon: Jurnal Sain Dan Kesehatan, 8(2),
101�109.
Syahrani, Nawwaf Egis.
(2023). Gambaran Penggunaan Obat Pada Penderita Demam Berdarah Dengue di RSD
Gunung Jati Cirebon. POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA.