ANALISIS KAJIAN PSIKOLINGUISTIK PENOKOHAN TOKOH UTAMA DRAMA MONOLOG ANAK NANDA KARYA RIRIS TOHA SARUMPAET

 

Indah Nur Amalia

Universitas Muhammadiyah Jakarta

Email: [email protected]

Abstrak

 

Pendahuluan:

Sebuah perasaan selalu hidup dalam sebuah kehidupan. Perasaan yang dirasakan tiap manusia itulah yang menjadikan manusia hidup. Kehidupan manusia dengan segala bentuk lika-liku kehidupannya, dituangkan ke dalam sebuah kisah penceritaan yang dinamakan karya sastra

Tujuan

Karya sastra yang dibuat berlandaskan hasil objek, pemikiran, atau pengalaman baik pengalaman si pengarang sendiri atau pengalaman orang lain, dengan dibubuhkan nilai-nilai, serta keestetikaan di dalam karya sastra tersebut.

Metode

Pada penelitian ini penulis menggunakan karya sastra drama monolog anak yang berjudul Nanda dengan kajian metode Psikolinguistik dan dengan menggunakan metodologi kualitatif. Secara harfiah psikolinguistik adalah disiplin ilmu yang menggabungkan kedua ilmu, yaitu ilmu psikologi dan ilmu linguistik. Fokus kajian psikolinguistik adalah melihat hubungan bahasa seseorang dengan perilaku atau akal budi seseorang. Metodologi Kualitatif akan menghasilkan hasil dan pembahasan yang berupa tulisan deskriptif.

Hasil

Hasil dalam penelitian ini, ditemukan sebagai berikut: (1) Rasa kerinduan yang dirasakan Nanda; (2) Rasa ketidakpercayaan diri Nanda; (3) Kehidupan yang menjadikan Nanda yang dewasa sebelum umurnya.

Kesimpulan

Sebuah penokohan atau suatu karakter dari tokoh utama yang memainkan sebuah penceritaan dalam karya sastra sangatlah berpengaruh bagi penikmat karya sastra tersebut. Tokoh dapat menyampaikan perasaan yang dimilikinya, menceritakan alur jalan cerita seperti apa, dan sebagainya

 

Kata Kunci: Psikolinguistik; Sastra Anak; Drama Monolog.

 

Diterima: 02-04-2022

Review: 05-04-2022

Publish: 15-04-2022

�Corresponding: Indah Nur Amalia

E-mail: [email protected]

 

 

PENDAHULUAN

Dalam penceritaan suatu karya sastra tidaklah lepas dari sebuah penokohan yang diperankan oleh si tokoh yang terdapat dalam perjalanan cerita karya sastra tersebut. Penokohan dari si tokoh yang memerankan pun sangat penting kehadirannya di dalam penceritaan karya sastra tersebut (Renmaur & Rutumalessy, 2020). Rasa emosional yang dihadirkan oleh si tokoh pemeran tidaklah jarang membawa perasaan yang sama untuk dirasakan oleh si penikmat karya sastra tersebut. Belum lagi jika si penikmat karya tersebut sedang berada dalam situasi dan perasaan yang sama dengan si tokoh dalam karya sastra yang sedang dinikmatinya (Gasong, 2019). Tatkala perasaan penikmat karya sastra tersebut pun tidak sedang sama dengan apa yang dirasakan atau berhubungan dengan si tokoh dalam karya sastra tersebut, jika penokohan si tokoh dalam karya sastra yang sedang dinikmati itu bagus, itu pun dapat menghadirkan perasaan yang sebelumnya tidak ada kepada si penikmat karya sastra tersebut (Hidayati, Wardiah, & Ardiansyah, 2021).

Karya sastra, jika dilihat dari pengertiannya secara ringkas karya sastra sangat erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari manusia dan segala lika liku kehidupan (Dewojati, 2021). Tentu saja, betul eratnya hubungan tersebut, karena karya sastra sendiri pun dibuat oleh pengarang atau diciptakan berdasarkan kehidupan yang biasa terjadi pada dunia nyata. Bahkan, karya sastra sendiripun isinya ada yang bukan hanya sebuah khayalan atau imajinasi semata pengarang, melainkan sesuatu pengalaman dan hal-hal yang benar-benar terjadi yang dialami oleh si pengarang itu sendiri atau pengarang tahu cerita tersebut ada di dunia nyata, lalu dituangkan ke dalam tulisan atau ciptaan dengan ditambahkan unsur-unsur lainnya yang menciptakan karya sastra itu sendiri. Jika sudah membicarakan mengenai kehidupan manusia dan segala hiruk pikuknya, tentu tak lepasnya pula dengan sebuah hal yang berbau psikologi, atau dasar kejiwaan manusia. Karena manusia sendiri pun tercipta tidak lepas dari adanya unsur kejiwaan pembentuknya. Emosi yang dirasakan oleh manusia itu dari apa-apa yang terlihat atau didengar, bahkan dialaminya itulah yang menciptakan rasa-rasa tersebut ada.

Dalam penelitian sastra ini, penulis akan mengkaji dengan sebuah kajian psikolinguistik pada sebuah karya sastra yang akan dikaji. Pada penelitian ini penulis menggunakan karya sastra naskah drama monolog anak dengan judul Nanda tahun 1998 karya Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, M.Sc., Ph.D. yang terdapat pada lampiran drama dari buku karya beliau pula yang berjudul Pedoman Penelitian Sastra Anak tahun 2010 sebagai objek dari penelitian kajian psikolinguistik ini. Drama monolog anak ini hasil adaptasi bebas dari cerita Gadis Korek Api karya Hans Christian Andersen tahun 1845. Dalam bahasa aslinya cerita Gadis Korek Api karya Hans Christian Andersen, berjudulkan asal Bahasa Denmark karena pengarang yang membuat dongeng tersebut berasal dari Denmark bertuliskan Den Lille Pige med Svovlstikkerne.

Seringkali terdengar anggapan bahwasannya karya sastra hanya dapat dimiliki dan dinikmati oleh orang dewasa saja, dimana anggapan tersebut berlandaskan opini bahwa orang dewasa sudah dapat memahami makna yang terkandung di dalam karya sastra tersebut lebih baik dibandingkan oleh anak-anak. Tentu saja, anggapan itu salah besar adanya, tergantung dan dilihat karya sastra apa dulu yang disuguhkan, bukan berarti karena anggapan karya sastra tersebut berat untuk dicerna oleh anak-anak, tidak akan ada karya sastra yang diperuntukkan untuk anak. Karya sastra pun bisa dimiliki dan dinikmati oleh anak, dimana karya sastra yang dibuat dan diciptakan memang diperuntukkan untuk anak. Karya sastra yang sudah didesain dan sudah disesuaikan memang untuk anak. Mulai dari tema yang diangkat, sampai pembahasaan yang digunakan dalam karya sastra tersebut. Menurut David dalam (Toha-Sarumpaet, 2010), memahami sastra anak bukanlah sekadar kita hanya membacanya lalu kita ucapkan kembali ke anak, tidaklah sesederhana itu, melainkan memahami sastra anak itu perlu memahami siapa yang dituju dari sastra itu, yaitu anak. Setiap anak sangat mungkin mempunyai perbedaan satu sama dengan yang lainnya dalam memahami dan mau akan sesuatu, kitalah sebagai media yang harus membimbing serta mengarahkan kemana anak itu harus melangkah. Kita sendiri harus percaya bahwa apa yang akan dipelajari oleh anak itu, sebab itu juga menjadi jembatan untuk anak memahami sastra anak tersebut (Krissandi, 2021).

Adapun banyak sekali manfaat yang dapat diambil jika membiasakan anak untuk memiliki dan menikmati karya sastra itu sendiri (Penyusun, n.d.). Salah satunya anak dapat melatih perkembangan kognitifnya dengan terbiasa menelaah hal-hal yang ada di dalam karya sastra yang dibaca atau didengar. Selain untuk melatih perkembangan kognitifnya, karya sastra juga harus menyenangkan bagi si anak. Diperkuat oleh pengertian sastra menurut (Toha-Sarumpaet, 2010), sastra anak adalah sebuah tulisan yang terbaik yang diusahakan, disesuaikan yang memang diperuntukan untuk si anak. Karya sastra pun sangat penting gunanya dalam kehidupan manusia. Karya sastra juga dapat berguna sebagai pembentukan karakter anak, dimana pembentukan karakter itu dipupuk sejak dini. Ditanamkan hal-hal yang baik sedari dini mungkin. Sejalan dengan pendapat Suyadi dalam (Putrayasa & Sudiana, 2021) yang memaparkan bahwasannya selama masa kanak-kanak itulah dimana masa anak sedang berlimpahkan imajinasi atau khayalan di dalam diri si anak itu sendiri. Bahkan imajinasi seorang anak lebih kaya dibandingkan daya khayal orang dewasa. Sastra anak yang baik juga harus dapat menghibur, dan tetap bersifat mendidik . Anak dikenalkan sastra sejak kecil dengan tujuan agar anak lebih bisa memahaminya sejak dini, karena mencintai sebuah sastra tidaklah mudah, bukan hanya membutuhkan waktu sehari saja. Sebab itu, sastra dikenalkan untuk anak, agar anak sejak kecil sudah dapat memilih hal yang dicintainya disukainya, lalu merambah ke hal-hal yang lainnya dalam sastra. Di dalam sastra umumnya, begitupun untuk sastra anak, dibagi ke dalam 3 jenis sastra, yaitu (1) puisi; (2) prosa; dan (3) drama (Teeuw, 2020).

Drama sendiri berarti sebuah karya sastra tulis dengan tujuan untuk dilakonkan oleh pemain atau aktor untuk mementaskannya. Drama berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata draomai yang berarti bertindak, melakukan, dan sebagainya �(Devi, 2019: 49). Drama merupakan sebuah gambaran atau peristiwa kehidupan manusia yang dipentaskan oleh pemain. Drama mempunyai unsur-unsur di dalamnya, secara garis besar dalam naskah drama unsur-unsur yang harus ada, sebagai berikut: (1) alur, urutan perjalanan cerita, kerangka cerita; (2) tokoh atau penokohan, pastinya di dalam sebuah karya sastra tidak mungkin jika tidak terdapat tokohnya, dan penokohan atau watak tokoh dalam terlihat dari sebuah dialognya; (3) dialog, suatu kekhasan dalam drama monolog adalah media dialog atau percakapan antar tokoh di dalamnya; (4) setting, latar suatu drama itu adalah unsur yang sangat penting, sebab dalam dialog sebuah latar itu sangat mendukung interaksi yang terjadi di dalam drama; (5) tema dan nada dasar cerita, suatu topik yang dibicarakan di dalam drama; dan (6) amanat atau pesan pengarang, di dalam karya sastra tentunya pengarang mempunyai tujuannya dalam membuat suatu karya sastra, dan di dalam tujuan karya sastra pasti terdapat pesan yang dapat diambil oleh penikmat sastra tersebut (Devi, 2019: 51-54). Drama dibedakan ke dalam jenis drama berdasarkan penyajian kisah, berdasarkan sarana pementasannya, dan berdasarkan ada atau tidaknya naskah drama. Menurut (Toha-Sarumpaet, 2010), sebuah penceritaan dapat lebih mudah dipahami, serta dimengerti secara konkret melalui dramatisasI. Untuk dramatisasi sebuah karya sastra jelas dibutuhkan kekuatan penokohan dari tokoh di dalam karya sastra tersebut. Peranan tokoh sangatlah penting, tokoh dapat mengungkapkan watak yang dimilikinya seperti apa, perasaannya yang sedang dirasakannya seperti apa di dalam sebuah cerita (Desy, 2021: 197).

(Suharti et al., 2021), psikolinguistik berasal dari sebuah 2 kata yang berbeda pemaknaannya jika dimaknakan satu persatu. Kedua kata tersebut mempunyai orientasinya masing-masing. Psikologi dan Linguistik. Pada dasarnya, psikologi dan linguistik berasal dari dua disiplin ilmu yang berbeda. Psikologi adalah sebuah disiplin ilmu yang mengkaji mengenai manusia dengan segala bentuk manifestasi berpikirnya. Sedangkan linguistik adalah disiplin ilmu yang mengkaji mengenai bahasa, bukan hanya pada lapisan luar bahasa saja, atau pada satu bahasa saja. Tetapi sampai pada seluk-beluk bahasa pada umumnya, dan berlaku pada semua Bahasa (Chaer, 2014). Kedua disiplin ilmu tersebut dapat digabungkan karena pada dasarnya, berpikir dan berbahasa adalah dua hubungan yang saling berkaitan dan berhubungan. Keduanya memanglah berbeda, tetapi pada dasarnya jika dilihat dan diperhatikan keduanya saling berhubungan. Dalam berpikir, orang menggunakan sistem bahasa sebagai instrumen untuk (a) mengidentifikasi apa yang dipikirkan, (b) mengurutkan butir-butir pokok pikiran, dan (c) mengembangkan pikiran. Tanpa adanya sistem bahasa, proses berpikir tidak dapat direalisasikan. Kebalikannya, dalam berbahasa orang perlu berpikir. Tanpa berpikir, bahasa yang dihasilkan akan kacau dan sulit dipahami. Hal yang demikian pada umumnya dihindari karena menimbulkan banyak masalah sosial, misalnya salah paham dan konflik interpersonal yang dapat menjurus pada pertikaian, perpecahan, dan sebagainya. Bahasa tidak hanya berkaitan dengan proses berpikir, tetapi juga perilaku manusia. Searle dalam (Suharti et al., 2021) dalam teorinya tentang tindak tutur (speech act) menjelaskan bahwa bahasa merupakan salah satu bentuk produk perilaku atau produk tindakan. Berbahasa, menurutnya, adalah bertindak atau melakukan sesuatu. Hal itu berarti bahwa berbahasa sejajar dengan menulis, membaca, mengendarai motor, mencangkul, belajar, mengajar, menyeberang, berenang, dan sebagainya.

 

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian penulis menggunakan drama monolog anak yang berjudul Nanda karya Riris K. Toha Sarumpaet sebagai objek dari penelitian ini. Penelitian yang mengkaji dengan sebuah kajian psikolinguistik yang dimana menerangkan seperti apa penokohan atau karakter yang dimiliki oleh utama dalam drama monolog tersebut, dan dengan menggunakan metode penelitian observasi kualitatif. Dengan metode observasi kualitatif, langkah awal yang dilakukan adalah mengumpulkan data sebanyak-banyaknya guna lebih banyak menggunakan objek penelitian tersebut dengan teori-teori yang akan. Lalu dari teori-teori atau data-data yang terkumpul penulis melihat seberapa erat antara karya sastra cerpen yang digunakan dengan dihubungkan oleh kenyataan kehidupan saat ini. Dengan tujuan menemukan, menggambarkan, serta menjelaskan hubungan di antara karya sastra drama monolog anak tersebut dengan kehidupan nyata. Metode penelitian kualitatif ini berlandaskan pada filsafat post positivism, dengan meneliti kejadian yang senaturalnya atau seada-adanya (Gunawan, 2013). Dalam metode penelitian ini, peneliti adalah pemegang segala kendali, mulai dari menemukan data-data yang akan dikaji, mengolahnya, sampai pada titik menyimpulkannya. Hasil dari penelitian kualitatif ini, adalah menemukan makna dan memperdalam sebuah makna tersebut, sebab itu, di dalam penelitian ini, sangat penting untuk peneliti dapat mengolah dengan baik dari data-data yang sudah ditemukan untuk menjadikannya sebuah kesimpulan, dengan mengaitkan melalui metodologi yang digunakan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk penelitian ini, penulis menggunakan drama monolog anak yang berjudul Nanda, sebuah drama monolog yang menceritakan kehidupan seorang anak dan segala lika-liku perjalanan hidupnya. Drama monolog anak ini mengangkat sebuah kehidupan yang menceritakan dengan menggunakan tokoh anak-anak pula sebagai pemerannya. Drama monolog tersebut mengangkat sebuah latar waktu pada hari terakhir di tahun 1998. Di sebuah sudut pasar Senen, Jakarta, yang menghadap ke arah pertokoan dan apartemen mewah ATRIUM. Di dalam penceritaan drama monolog anak ini, menceritakan sebuah kehidupan seorang tokoh utama di dalam penceritaan, Seorang gadis kecil yang bernama Nanda, yang menjalani kehidupannya dengan kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupan-kehidupan yang layaknya diimpikan seorang anak pada umumnya. Nanda diceritakan hanya hidup berdua dengan bapaknya setelah ditinggalkan oleh ibu dan nenek tersayangnya. Nanda harus menjalani hidupnya dengan menjadikan sepasang bola matanya yang sibuk di keramaian oleh orang di pasar setiap hari. Sepasang mata Nanda pun harus jeli menawari tiap orang yang dia lihat di pasar. Nanda diceritakan sebagai gadis kecil berusia 10 tahun dengan penyakit bronkitis yang sudah diidapnya selama bertahun-tahun, sebagai pengumpul beras tadahan dan penjualnya. Di dalam penceritaan ini, Nanda menjadi seorang tulang punggung keluarga yang menafkahi bapaknya. Terbalik memang yang seharusnya anak-anak berdiam di rumah dengan aman dan nyaman dan menerima nafkah dari bapaknya, tidak demikian dirasakan oleh Nanda.

Penceritaan drama monolog yang mengambil latar waktu pada hari terakhir di tahun 1998 ini, sekaligus menjadi hari terakhir juga bagi Nanda. Di dalam penceritaan ini, pada hari terakhir di tahun 1998. Nanda menghabiskan waktu malam terakhir di tahun itu di pasar seorang diri dikarenakan Nanda tidak berani untuk pulang ke rumah karena tidak ada hasil uang jualan berasnya pada hari itu, berasnya tak laku sama sekali. Rasa takut dimarahi bapaknya membuat Nanda urung niat untuk pulang ke rumahnya, padahal Ia juga tahu tidak akan ada lagi yang dapat ditawari dagangannya malam itu. Pada malam itu, Nanda hanya sibuk memegangi perutnya yang perih karena kosong belum terisi makanan, dan memegang dadanya yang sakit akibat batuk bronkitis yang menahun, serta hanya memandangi ke arah lampu terang Atrium dimana orang-orang sibuk bercanda tawa, dan mematut-matut pakaiannya. Nanda yang berdiam seorang diri dengan keadaan malam yang dingin. Menghembuskan napas terakhirnya seiringan dengan pergantian malam di tahun baru itu. Di pagi harinya barulah tubuh Nanda yang sudah kaku ditemukan oleh teman-teman perempuan yang telah tega meninggalkan Nanda seorang diri untuk tetap bermalam di pasar dan juga teman laki-laki yang sudah merundungnya di hari kemarin. Ditemukan juga oleh ibu yang menolak jualan Nanda kemarin hari. Dengan penuh sesal teman-teman Nanda yang telah meninggalkan dan merundungnya, serta penuh sesal pula ibu dan pasangan suami istri yang telah menolak jualan Nanda.

Setelah mengetahui lebih dalam mengenai psikolinguistik dan kajiannya. Didapatkan hasil dan pembahasan dari penelitian untuk Drama Monolog Nanda, sebagai berikut.

1.       Rasa rindu yang dirasakan Nanda

Kepergian Ibu dan Nenek Nanda yang sangat Nanda sayangi, meninggalkan rasa yang teramat dalam untuk Nanda. Kenangan-kenangan yang pernah dilakukan bersama dengan Ibu dan Neneknya menjadikan hal-hal itu hanya tertinggal kenangan saja. Rasa kehilangan yang amat sangat mendalam menimbulkan rasa rindu yang pada akhirnya dirasakan Nanda. Rasa rindu yang tidak tergantikan setelah kepergian ibu dan neneknya. Tidak ada lagi rasa kasih dan sayang yang Anda rasakan setelahnya. Kehidupannya kini dingin bagaikan tak ada lagi peluk dekap hangat yang Anda rindukan. Kerinduan yang Anda rasakan ini pun pada akhirnya berlabuh kepada tempat yang sama dengan ibu dan neneknya. Rasa rindu yang dirasakan Nanda bahkan sampai pada titik waktu terakhir Nanda, tertulis jelas pada monolog di bawah ini. Sebuah perasaan yang dimiliki Nanda, sebagai berikut.

�(Badan Nanda tampak gelisah, bergerak ke kiri dan ke kanan. Gerakannya berat, dan lemah. Ia masih saja memegangi dadanya yang sakit. Mulutnya komat-kamit, walau tak terdengar suaranya. Lalu matanya memandang, seolah berharap, seolah berbicara dan bertemu dengan sesuatu yang demikian berarti dalam hidupnya. Tangan kirinya tetap mengelus-elus dadanya, lalu berkata.) Saya kangen Ibu, rindu amat sama Eyang. (Tapi kemudian secara reflex, tangan kirinya menekan perutnya, da tangan kanannya menggapai buntelan beras, terus meraba seolah menunjukkan kesialan tetapi sekaligus kesetiaan pada tugas.) Ogh, beras, berasku, yang tak laku. Perutku juga kaku. (Mulutnya tampak kaku dan membuka). Tunggu, tunggu. (Seolah ada yang diajak bicara, ia menengadah.) Tuhan, peluklah aku. (Ia lemah dan melemah, lalu tertelungkup. Ia menjadi kaku).

 

2.      Rasa ketidakpercayaan diri Nanda

Sebuah ledekan atau guyonan yang terkadang itu hal yang mudah dan kecil bagi orang yang melakukannya, tetapi bisa jadi itu lebih besar dari yang dibayangkan dampak dari ledakan dan guyonan tersebut bagi si penerima. Pada penceritaan kali ini, Nanda seorang anak yang pemalu dan terlebih menarik diri merupakan seorang anak yang sering mendapat ejekan dan jalan dari temannya sendiri. Padahal anak yang menjahili Nanda pun berasal dari latar belakang ekonomi yang sama dengan Nanda. Pada dasarnya Nanda pun memanglah seorang anak yang pemalu, tetapi ini menjadi sebuah bahan hangat untuk teman-teman menjahilinya, karena Anda tidak suka merespon candaan atau bahkan membalasnya. Tertulis pada monolog cerita, yang menerangkan bahwasannya sebagai berikut.

�.... Lihatlah. Antara banyaknya anak yang bersuara keras, bergurau kasar, mencerminkan pendidikan mereka yang pas-pasan, dan hidup yang tak berkecukupan, kerja keras dan kasar muncul dari tubuh-tubuh yang kasar dan kotor. Perhatikan Nanda, gadis penjual beras itu, yang juga datang dari kelas sosial yang sama, menderita sama tetapi lebih diam, malu, dan menarik diri.�

Bahkan kejahilan yang dilakukan teman Nanda (Kadir) tidak sebatas hanya ujaran kalimat, tetapi sampai pada kejahilan fisik yang merugikan Nanda. Terlihat pada dialog di bawah ini, sebagai berikut.

�Nanda : (Menggotong buntelan dan bersandal jepit milik ibunya, muncul di jalan, membawa buntelan beras, mencari-cari sasaran, mengejar pembeli. Menghindari kadir.

Kadir�������������� : (Mengganggu Nanda. Menyentuh buntelannya. Dan karena Nanda tetap bertahan dan tak memperhatikannya, malahan terus mengejar pembeli, Kadir jadi kesal. Dia cari cara, hingga mencegat langkah Nanda dengan menginjak sandalnya yang kebesaran. Sampai akhirnya Nanda tersungkur, dan sendal jepitnya terlepas)�.

(Langsung Kadir melemparkan sandal itu ke Karno, yang diterima dengan setengah hati. Kadir pemaksaan kegembiraan keluar dari sandal yang besar itu, sambil meledek Nanda. Nanda melawan, tak mau kalah, dan pergi mencari pembeli.)�

3.      Kehidupan yang menjadikan Nanda dewasa sebelum umurnya

Di dalam alur sebuah penceritaan drama monolog Nanda tersebut dijelaskan bahwasannya Nanda adalah anak perempuan berumur 10 tahun tetapi sudah harus bekerja di pasar. Sebuah tempat dimana yang setiap hari Nanda harus menghadapinya dengan ratusan kaki yang melangkah di hadapannya. Diperjelaskan lagi, bahwasannya Nanda melakukan pekerjaan ini menjadi sebuah keharusan yang dimana itu adalah nasib yang mau tidak mau Nanda harus hadapi tiap harinya. Padahal sebetulnya, diumur Nanda yang sudah mengharuskan dirinya untuk melakukan pekerjaan tersebut itu, tidaklah seharusnya dilakukan oleh Nanda. Terlebih menjadi sebuah keharusan untuk dirinya guna menafkahi bapaknya sendiri, yang dimana seharusnya Nanda yang mendapatkan nafkah utuh dari seorang bapak. Nanda yang seharusnya merasakan mengenyam bangku pendidikan, merasakan rasa senang bahagia bermain dengan teman-teman sebayanya, mempersiapkan masa depannya. Tetapi itu tidak dirasakan oleh Nanda, bahkan sebaliknya dari sebuah stereotipe anak di umur Nanda.

�Nanda:��� Penjual beras tadahan dan sisa. Gadis 10 tahun, kurus, rambutnya tak terurus, pakaiannya lusuh, buruk, dan kebesaran. Ia juga pemalu, selalu menunduk. Tambah lagi, dia punya penyakit bronkitis yang menahun, sering kumat, dan batuk-batuk kerap sekali.

Kemandirian seorang perempuan yang terbilang masih seorang anak-anak gadis kecil sudah bisa terlihat. Kemandirian Nanda sejak kecil yang harus menjalankan kehidupannya di pasar dengan kerumunan orang.

 

KESIMPULAN

Sebuah penokohan atau suatu karakter dari tokoh utama yang memainkan sebuah penceritaan dalam karya sastra sangatlah berpengaruh bagi penikmat karya sastra tersebut. Tokoh dapat menyampaikan perasaan yang dimilikinya, menceritakan alur jalan cerita seperti apa, dan sebagainya. Pada penelitian kali ini, penulis ingin melihat penokohan atau karakter yang dimiliki oleh Nanda. Tokoh utama dari drama monolog Nanda karya Riris Toha Sarumpaet. Drama monolog yang menampilkan sebuah kehidupan tokoh anak gadis kecil yang bernama Nanda dengan segala lika liku kehidupannya. Nanda yang masih berusia 10 tahun. Di usianya itu, ia harus rela mengorbankan masa kecilnya yang seharusnya menyenangkan menjadi sebuah pendewasaan diri yang teramat cepat. Nanda yang didewasakan lebih cepat oleh keadaan, membuatnya tumbuh menjadi gadis kecil yang kuat, walaupun di akhir hidupnya Nanda pun harus berakhir dengan sakit yang dideritanya selama menahun.� Pada penelitian ini penulis menggunakan karya sastra drama monolog anak yang berjudul Nanda dengan kajian metode Psikolinguistik dan dengan menggunakan metodologi kualitatif. Hasil dalam penelitian ini, ditemukan sebagai berikut: (1) Rasa kerinduan yang dirasakan Nanda; (2) Rasa ketidakpercayaan diri Nanda; (3) Kehidupan yang menjadikan Nanda yang dewasa sebelum umurnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Chaer, Abdul. (2014). Linguistik Umum Edisi Revis Cetakan Keempat. Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Desy, Hidayati. (2021). KARAKTER TOKOH UTAMA PADA NOVEL �LAFAZ CINTA� KARYA SINTA YUDISIA�(PERSPEKTIF PSIKOLINGUISTIK). STILISTIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 6(2), 197�206.

Devi, Wika Soviana. (2019). Teori Sastra. Jakarta: CV Al Chalief.

Dewojati, Cahyaningrum. (2021). Sastra Populer Indonesia. UGM PRESS.

Gasong, Dina. (2019). Apresiasi Sastra Indonesia. Deepublish.

Gunawan, Imam. (2013). Metode penelitian kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara, 143, 32�49.

Hidayati, Eka Suci, Wardiah, Dessy, & Ardiansyah, Arif. (2021). Klasifikasi Emosi Tokoh Dalam Novel Titian Takdir Karya W Sujani (Kajian Psikologi Sastra). Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(1), 2005�2017.

Krissandi, Apri Damai Sagita. (2021). Sastra Anak Indonesia. Sanata Dharma University Press.

Penyusun, Tim. (n.d.). PENGANTAR SASTRA ANAK.

Putrayasa, Ida Bagus, & Sudiana, I. Nyoman. (2021). Membentuk Karakter Anak Melalui Habituasi Dongeng pada Pembelajaran di Sekolah Dasar. JURNAL ILMIAH BAHASA DAN SASTRA, 8(2), 68�77.

Renmaur, Peni Berta, & Rutumalessy, Merlyn. (2020). Penokohan dalam Novel Surat Kecil untuk Tuhan Karya Agnes Davonar (Kajian Struktural). Mirlam: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1(1), 37�50.

Suharti, Sri, Hum, S., Khusnah, Wakhibah Dwi, Sri Ningsih, S. S., Jamaluddin Shiddiq, M. Pd, Nanda Saputra, M. Pd, Heri Kuswoyo, S. S., Jalal, Novita Maulidya, Dhari, Putri Wulan, & Ratna Susanti, S. S. (2021). Kajian Psikolinguistik. Yayasan Penerbit Muhammad Zaini.

Teeuw, Andries. (2020). Sastra dan ilmu sastra; pengantar teori sastra.

Toha-Sarumpaet, Riris K. (2010). Pedoman penelitian sastra anak. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.