MOTIF ORNAMEN KARANG BOMA PADA PERHIASAN BUNGKUNG BALI

I Putu Sinar Wijaya1, Ramanda Dimas Surya Dinata2, I Wayan Gde Budayana3

Institut Desain dan Bisnis Bali, Indonesia

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

 

Abstrak:

Perhiasan dengan bahan logam mulia seperti emas, perak, saat ini perhiasan dengan bahan supping maupun titanium. Berbagai corak dihasilkan oleh perajin di Bali. Corak tradisional masih menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya. Corak tradisional dengan motif karang Boma memiliki filosofi dan energi positif, sehingga para perajin masih membuat perhiasan tersebut, di tambah dengan beberapa ornamen lainnya. Metode menggunakan jenis penelitian survei dan analisis. Sedangkan analisis bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik isi dan inferensi dari isi. Ornamen karang Boma biasanya terdapat pada pintu masuk pura (gelung kori) yang memiliki makna dan simbol tertentu, namun saat ini dijadikan motif pada perhiasan. Perhiasan dengan motif karang Boma masih menjadi daya tarik tersendiri, dilihat dari ornamen yang dibuat dengan teknik tetatahan tradisional. Dibandingkan dengan teknik sekarang menggunakan kasting (cetak). Motif ini selalu mendapatkan sentuhan pembaharuan tergantung perajin itu sendiri, sehingga motif karang Boma masih eksis sampai saat ini.

 

Kata kunci: kerajinan Perhiasan,Karang Boma, Perhiasan Bungkung Bali

 

Abstract:

Jewelry made from precious metals such as gold, silver, currently jewelry made from supping materials or titanium. Various patterns are produced by craftsmen in Bali. Traditional patterns are still a special attraction for connoisseurs. The traditional pattern with the Boma coral motif has a positive philosophy and energy, so craftsmen still make this jewelry, adding several other ornaments. The method uses survey research and analysis. Meanwhile, the analysis aims to determine the characteristics of the content and inferences from the content. Boma coral ornaments are usually found at the temple entrance (gelung kori) which have certain meanings and symbols, but are now used as motifs in jewelry. Jewelry with Boma coral motifs is still a special attraction, seen from the ornaments made using traditional inlay techniques. Compared with the current technique of using casting (printing). This motif always gets a touch of renewal depending on the craftsman himself, so the Boma coral motif still exists today.

 

Keywords: crafts, Karang Boma, Balinese Bungkung Jewelry

Corresponding: I Putu Sinar Wijaya1

E-mail: [email protected]

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

PENDAHULUAN

Ornamen atau yang biasa disebut dengan ragam hias adalah salah satu komponen produk seni yang ditambahkan atau sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan yang bersifat estetis(Ranelis, Washinton, & Alipuddin, 2022). Ornamen juga berfungsi untuk membuat penampilan barang atau benda menjadi lebih menarik dan memiliki nilai estetika (Artha & Nuriarta, 2019).

Ornamen pada hakikatnya sekadar gambaran dari "irama" dalam garis atau bidang. Ornamen juga dapat dikatakan sebagai ilmu menghias. Ornamen berasal dari bahasa Yunani yaitu "ornare" yang berarti hiasan atau perhiasan. Ornamen dibuat dengan maksud untuk menghias sesuatu benda atau bidang sehingga benda tersebut menjadi indah seperti yang biasanya kita lihat pada hiasan dinding rumah. Pendapat lain menyebutkan bahwa ornamen adalah komponen produk seni yang ditambahkan atau sengaja dibuat untuk tujuan sebagai hiasan (Suryadana, Mudra, & Suardina, 2021).

Menurut Gustami, ornamen tugasnya menghiasi yang inplisit menyangkut segisegi keindahan. Di samping itu dalam ornamen sering pula ditemukan nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan hidup (filsafat hidup) dari manusia atau masyarakat penciptanya, sehingga benda-benda yang dikenai suatu ornamen akan mempunyai arti yang lebih jauh, dengan disertai harapan-harapan tertentu pula (Patriansah & Hariansyah, 2019).

Jenis Ornamen

Ornamen Keketusan adalah sebuah hasil karya seni yang ide/konsep dasarnya diambil dari benda-benda alam, tumbuh-tumbuhan, dan juga binatang (Mahadi, Wiyasa, & CK, 2022). Bentuk alam ini kemudian distilir/dideformasi/dirubah dalam bentuk ornamen. Tujuan ornamen keketusan diciptakan untuk mengisi bagian-bagian pepalihan (bagian-bagian yang berbentuk segi-empat panjang, seperti pundan berundak-undak), dari bangunan arsitektur tradisional Bali. Ornamen keketusan banyak ragamnya yang telah diterapkan pada bangunan tradisional Bali. Jenis-jenis ornamen keketusan (Wijaya & Budayana, 2019).

Ornamen keketusan kakul-kakulan, Ornamen keketusan genggong, Ornamen keketusan api-apian, Ornamen keketusan tali ilut, Ornamen keketusan mas-masan, Ornamen keketusan gigi barong/ceracap, Ornamen keketusan bias, Ornamen keketusan batu-batuan, Ornamen keketusan paku pipit, Ornamen keketusan batun timun, Ornamen keketusan huruf T adalah stiliran dari huruf T yang dibulak-balik, Ornamen keketusan huruf L adalah stiliran dari huruf L yang dususun bulak-balik. Ornamen keketusan kuta mesir adalah stiliran dari bentuk swatika lambang agama Hindu, yang membentuk irama yang dinamis.

Ornamen pepatran yaitu ornamen yang ide atau konsep nya di ambil dari tamanan yang merambat, seperti: tanaman labu, pare, timun, dan tanaman merambat liar, yang biasanya numpang pada pohon-pohon besar sebagai pagar rumah. Tanaman ini oleh senimannya dirubah menjadi sebuah karya seni berupa pengulangan, baik secara melingkar maupun lurus dikenal dengan nama pepatran (Widianti & Studyanto, 2017). Tujuan pepatran ini adalah untuk menghias rumah pribadi/adat/tempat suci yang khusus berkembang di Bali.

Jenis-jenis Ornamen Bali Pepatran:

Ornamen Bali Patra Samblung. Ornamen Bali Patra Cina. Ornamen Bali Patra Sari. Ornamen Bali Patra Banci. Ornamen Bali Patra Punggel. Ornamen Bali Patra Ulanda (Putra, Kesiman, Pradnyana, & Maysanjaya, 2021).

Jenis-jenis ornamen Kekarangan

Ornamen Kekarangan adalah sebuah hasil karya seni yang ide/konsep dasarnya diambil dari muka binatang yang hidupnya diari, didarat dan diudara dan muka manusia dan muka dewa-dewi. Bentuk muka ini kemudian distilir/dideformasi/dirubah dalam bentuk kekarangan (Mahadi et al., 2022). Bentuk kekarangan ini bertujuan menghias bagian-bagian pojok/sudut dan bagian tengah dari bangunan rumah pribadi, rumah adat dan bangunan suci (Rosalia, 2019).

Ornamen Karang Gajah, Ornamen Karang Tapel, Ornamen Karang Goak, Ornamen Karang Daun, Ornamen Karang Bentulu, Ornamen karang dedari, Ornamen Karang Rangda, Ornamen Karang Sai, Ornamen Karang Singa, Ornamen karang Garuda, Ornamen Karang Barong, Ornamen Karang Boma, Ornamen Karang Batu, Ornamen Karang Naga, Ornamen Karang Empas/Kura-Kura Raksasa, Ornamen Karang Angsa, Ornamen Karang Celeng/Babi, Ornamen Karang Wilmana.

Ornamen identik dengan seni di Bali, ornamen dapat di jumpai hampir di setiap rumah, puri, pura (tempat sembahyang agama Hindu di Bali). Khususnya ornamen dengan motif karang Boma masih dipercaya masyarakat Bali, karena motif� karang Boma banyak dijumpai pada bangunan Gelung Kori (pintu keluar, masuk) yang ada di puri (istana raja), dan terdapat pula pada pemedal pura.

Ornamen dulunya terdapat pada bangunan-bangunan istana raja, dan pura, namun saat ini mulai di kembangkan dan digunakan pada kesenian lainnya. Seperti kerajinan perhiasan, dilihat dari perkembangan jaman kesenian ini juga mengalami perkembangan, sehingga para seniman maupun perajin mulai menerapkan ornamen pada kerajinan perhiasan. Ornamen yang memiliki pakem tersendiri, sudah diwariskan dari dulu oleh para sesepuh undagi ukir.

Kerajinan berupa perhiasan di Bali sudah di akui di seluruh dunia, mulai dari perhiasan dengan bahan logam seperti emas, perak, dan saat ini mulai diminati perhiasan dengan bahan supping serta titanium. Berbagai corak dan gaya di hasilkan oleh perajin di Bali. Corak tradisional Bali masih menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat.

Corak tradisional dengan motif karang Boma memiliki filosofi dan energi positif. Sehingga para perajin masih membuat perhiasan dengan motif kekarangan boma, di tambah dengan beberapa ornamen pendukung lainnya sesuai dengan kreasi pengrajin membuat kerajinan ornamen karang boma menjadi lebih indah.

Kerajinan perhiasan dengan motif karang Bomo dari bahan emas di Bali sejak jaman kerajaan sampai sekarang masih diminati dan menjadi tolok ukur tingkat sosial sesorang. Telah lama pula terpengaruh dan berperan dalam peradaban manusia, peran tersebut ada kalanya bersifat konkrit dan praktis. Tetapi tidak jarang pula bersifat sakral dan magis. Perhiasan motif boma sekarang ini sudah dengan mudah di kerjakan adanya Teknik gesting atau cetak mempermudah dan cepat dalam pembuatan kerajinan dengan motif boma, dulu pengrajin membuat dengan Teknik manual hand made. Pengerjaannya membutuhkan waktu yang lebih lama.

�.. terdapat sentuhan kebaharuan Dari segi pengerjaan, baik itu melalui Teknik tradisional hade made, sekarang ini sudah menggunakan teknik casting (cetak)yang hasilnya sangat jauh berbeda.serta penamahan unsur ornament sebagai pemanisnya.

�. Tujuan dan manfaat penelitian ini di buat untuk mempertahankan warisan budaya leluhur Bali, dapat diwariskan keanak cucu, kerajinan seperti ini sekarang sudah mulai bergeser seiring mahalnya bahan baku logam mulia maupun berbahan perak. Tujuan lainnya kerajianan perhiasan dengn motif Boma secvara tidak langsung menjaga dan memberikan informasi ke pada anak muda bahwa ornament kekerangan dan pepatran tidak saja terdapat pada bangunan melainkan sudah di jadikan hiasan kerajinan� perhiasan bungkung

 

METODE PENELITIAN

Metode menggunakan jenis penelitian survei dan analisis. Penelitian survei digunakan untuk mengetahui produk dan ragam hias produk perhiasan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan kurang lebih 2 bulan langsung terjun ke pengrajin dan juga ke sentral pengrajin yang berada di desa celuk sukawati gianyar Bali. Serta melakukan wawancara langsung ke pengerajin perhiasan yang ada di celuk ada beberapa pengerajian yang menjadi narasumber, salahsatunya adalah bapak I Wayan Dira. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristk isi. Variabel penelitian yang digunakan memfokuskan pada bentuk produk perhiasan yaitu karya kerajinan perhiasan yang dikerjakan dari bahan dasar logam mulia dan jenis ragam hias. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang didapatkan dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi kemudian dirangkum dan diseleksi dengan menggunakan teknik pengolahan data primer dan data sekunder. Tahapan-tahapan analisis data interaktif menurut Miles dan Huberman adalah data reduction, data display dan conclusion drawing/verification. Maksudnya penyajian data, reduksi data dan penarikan simpulan atau verifikasi merupakan rangkaian kegiatan yang tidak terpisahkan satu sama lainnya. Dalam penelitian ini kegiatan pengumpulan data merupakan proses siklus yang bersifat interaktif, yakni bergerak bolak-Balik di antara kegiatan reduksi, penyajian dan penarikan simpulan selama sisa waktu penelitian.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perhiasan adalah sebuah benda yang dirangkai dan digunakan untuk merias atau mempercantik diri, pada umumnya digunakan oleh kaum wanita (Sabrina, 2022). Perhiasan biasanya terbuat dari emas ataupun perak dan tidak kemungkinan dibuat dari bahan lain seperti tembaga, kuningan, alloy yang dilapisi dengan emas murni atau yang sering disebut dengan perhiasan lapis emas atau perhiasan imitasi (Aritonang, Bowo, & Juhana, n.d.). Perhiasan sendiri terdiri dari berbagai macam bentuk mulai dari cincin, kalung, gelang, liontin, bros dan lain-lain. Perhiasan digunakan untuk berbagai fungsi dan tujuan, mulai dari lambang kekayaan, perlindungan agama, sebagai alat kesenian, dan untuk mempercantik diri (Sahandri, 2019). Ornamen tradisional Bali merupakan salah satu ragam hias Indonesia yang mengandung nilai filosofis tinggi (Chandra & Hantono, 2021). Nilai-nilai tersebut adalah representasi dari pemahaman masyarakat Bali mengenai kehidupan, yang menyatu dengan ajaran agama serta kepercayaannya.

Ornamen Bali biasanya dijumpai pada bangunan rumah adat dan bangunan pura. Di Bali serta menjadi ciri khas bangun Bali. Ornamen kekarangan seperti karang Boma bisanya terdapat pada pintu masuk pura (gelung kori) yang memiliki makna dan simbol tertentu, bisa juga di jadikan motif pada kerajinan. kerajinan perhiasan dengan motif karang Boma.

Gambar 1: Motif Boma pada Bangunan (Sumber pribadi)

 

Gambar 2: Motif Boma pada Bangunan Gelung Kori (Sumber pribadi)

Motif Boma

Biasanya di pintu gerbang masuk menuju jeroan pura (Candi Kurung) selalu terlihat Karang Boma yang berbentuk relief dengan wajah seram menyerupai raksasa (Pertiwi, 2020). Sang Kala Boma yang bertaring panjang dengan mata melotot, seolah-olah siap memangsa apa pun yang ada di depannya (Suryawan, Rahmadani, & Rahmadiansyah, 2020).

Menurut Jro Mangku Gede Suyasa, penggunaan Karang Boma di setiap candi kurung menuju pura sarat akan makna filosofi, yang tersurat dalam kakawin Bhomantaka (Linggih, 2019). Makna filosofi Karang Boma yang pertama sebagai sarana panglukatan (penetralisir) bagi pamedek yang nangkil ke pura, dan simbol untuk menghilangkan sifat-sifat keraksasaan (Sad Ripu atau enam musuh dalam diri), ketika memasuki pura, sehingga yang ada hanyalah sifat-sifat daiwi sampad atau sifat-sifat Dewa Suryawan, Wawan Ardiyan, Rahmadani, Suci Wahyu, Rahmadiansyah, Faiz.

 

Perhiasan Motif Boma

Kerajinan berupa perhiasan di Bali mendapat sentuhan ornamen atau hiasan yang menjadi ciri khas dari kerajinan perhiasan Bali. Hiasan pada kerajinan sangan terbatas karena media dan ukurannya yang terbatas. Biasanya perajin membuat ornamen hanya mengambil bagian terpenting, seperti pengerajin bapak I Wayan Dira menyebutkan perhiasan yang banyak di minati dan di pesan adalah perhiasan dengan motif Boma,

Perhiasan dengan motif karang Boma masih menjadi daya tarik tersendiri, karena memeliki keunikan dan bentuk yang khas kental dengan gaya tradisional Bali. dilihat dari teknik tetatahan masih dibuat secara tradisional hand made. Adanya perkembangan teknik sekarang ini dengan cara kasting (cetak) motif ini selalu mendapatkan sentuhan pembaharuan tergantung si peerajin itu sendiri, sehingga motif Boma masih eksis sampai sekarang ini.

Motif karang Boma lebih banyak di buat dengan bahan logam perak karena bahan tersebut lebih mudah di bentuk dan menjadi karya kerajinan perhiasan.

 

Gambar 3: Motif Boma Pada Perhiasan

Sumber pribadi

 

Perhiasan motif Boma dengan teknik cetak, berbahan dasar logam perak, detail dari ornamen sangat terlihat tegas dan jelas. Unsur magis masih terasa dan dapat memberi wibawa bagi penggunanya, kepercayaan orang hindu Bali meyakini bentuk boma memneri pengaruh positif bagi pemakainya.

 

Gambar 4: Motif Boma Pada Perhiasan

Sumber pribadi

 

Perhiasan bungkung dengan motif Boma masih memperhatikan estetika keindahan, komposisi ornamen Boma dibuat menyesuikan besar kecilnya bungkung, ornamen Boma di buat dengan beberpa teknik hand made maupun casting. Dilihat dari pemesan motif Boma dengan hand made labih banyak diminati ketimbang casting dimana pengerjaan manual memerlukan ketelitian dan kesabaran yang tinggi, walaupun motif yang sama hasil dari kerjinan ini satu dengan yang lain tidak akan sama.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan kajian motif Boma dan penggabungan ornamen Bali pada kerajinan perhiasan, sangat besar kaitannya dengan budaya dan adat Hindu Bali, dimana motif Boma menjadi daya tarik tersendiri dan masih eksis sampai sekarang motif Boma yang di percayai memiliki energi positif pada bagunan candi Koriagung dan beberapa bangunan rumah adat masyarakat Bali. seniman atau pengerajin perhiasan mendesain dan mewujudan motif Boma pada perhiasan dengan bahan logam mulia emas dan perak. Dari dulu zaman kerajaan sampai sekarang kerajinan dengan motif Boma masih di gemari karena bentuk yang klasik dan memiliki filosofi yang sangat kental dengan budaya Hindu Bali. Tidak terlepas dari pengaruh ornamen Bali desain yang dibuat juga dapat sentuhan ornamen sebagai hiasan pedukungnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aritonang, Sovian, Bowo, Andjar Hari, & Juhana, Riyadi. (n.d.). Campuran Unsur Adhetive Pada Baja Alloy Sebagai Bahan Dasar Sistem Kekerasan Pelindung Kendaraan Lapis Baja The Mixture Of Adhesive Elements On Alloy Steel As Basic Material Of Protective Violence System.

 

Artha, I. Gede Agus Indram Bayu, & Nuriarta, I. Wayan. (2019). Bentuk, Fungsi Dan Makna Ornamen Pada Gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu Di Pusat Dokumentasi Seni Institut Seni Indonesia Denpasar. Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni, 7(2), 93�103.

 

Chandra, Aulia Widya, & Hantono, Dedi. (2021). Kajian Arsitektur Etnik Pada Bangunan Pasar Tradisional (Studi Kasus: Pasar Badung di Bali). MODUL, 21(1), 1�9.

 

Linggih, Ni Nyoman. (2019). Mengenal Luhuring Ambal-Ambal Pada Komplek Pura Besakih. Jayapangus Press Books.

 

Mahadi, Mercu, Wiyasa, I. Nyoman Ngidep, & CK, I. Gusti Ngurah Agung Jaya. (2022). Pelatihan Menggambar Ornamen Tradisional Bali di Panti Asuhan Yayasan Dharma Jati II Penatih Denpasar. Segara Widya: Jurnal Penelitian Seni, 10(2), 95�105.

 

Patriansah, Mukhsin, & Hariansyah, Yayan. (2019). Analisis Bentuk Ornamen Rumah Tradisional Kampung Arab Al-Munawwar. Ekspresi Seni, 21.

 

Pertiwi, Intan. (2020). Makna simbol-simbol dalam agama Hindu (Studi terhadap simbol-simbol di Pura Merta Sari Rengas Tangerang Selatan).

 

Putra, I. Gede Rusdy Mahayana, Kesiman, Made Windu Antara, Pradnyana, Gede Aditra, & Maysanjaya, I. Made Dendi. (2021). Identifikasi Citra Ukiran Ornamen Tradisional Bali Dengan Metode Multilayer Perceptron. SINTECH (Science and Information Technology) Journal, 4(1), 29�39.

 

Ranelis, Ranelis, Washinton, Rahmad, & Alipuddin, Alipuddin. (2022). Pelatihan Pembuatan Ornamen Tradisional Bagi Siswa-Siswi Di SD 066/XI Tanjung Bunga Kecamatan Tanah Kampung Kota Sungai Penuh. Selaparang: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 6(2), 891�895.

 

Rosalia, Ayu. (2019). Proses Internalisasi Penggunaan Cadar (Studi Kasus: Perempuan Bercadar Di Masjid Nurul Iman Blok M Square). FISIP UIN Jakarta.

 

Sabrina, Hashilah Nur. (2022). Cocoa Jewelry Seoul Dalam Fotografi Komersial. Politeknik Negeri Media Kreatif.

 

Sahandri, Sahandri. (2019). Perspektif Etika Bisnis Islam Terhadap Transaksi Jual Beli Batu Akik Dalam Bentuk Bongkahan Di Desa Embacang Baru Kabupaten Musi Rawas Utara. Iain Bengkulu.

 

Suryadana, I. Putu Putra, Mudra, I. Wayan, & Suardina, I. Nyoman. (2021). Kajian Bentuk, Filosofi Ornamen dan Konstruksi Sanggah Rong Tiga Hindu di Bali. HASTAGINA: JURNAL KRIYA DAN INDUSTRI KREATIF, 1(01), 8�17.

 

Suryawan, Wawan Ardiyan, Rahmadani, Suci Wahyu, & Rahmadiansyah, Faiz. (2020). KAJIAN ARSITEKTUR BUDAYA LAMONGAN. PRAJA LAMONGAN, 3(1), 42�54.

 

Widianti, An nisaa Kurnia, & Studyanto, Anung Bambang. (2017). Membaca Makna Ornamen Pepatraan Meja dan Kursi di Ruang Pengadilan Kerthagosa Klungkung Bali. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, Dan Seni, 1(1), 152�159.

 

Wijaya, I. Putu Sinar, & Budayana, I. Wayan Gede. (2019). Kajian makna dan bentuk ornamen kekarangan �kera� pada Pelinggih Ibu atau Paibon di Pura Baban Desa Singapadu. SENADA (Seminar Nasional Manajemen, Desain Dan Aplikasi Bisnis Teknologi), 2, 137�143.