PENCEGAHAN BURN
INJURY RELATED ACUTE KIDNEY INJURY (AKI) PADA PASIEN DENGAN LUKA
BAKAR LISTRIK DI ICU
Anggelina
Thendry1, Eka Yudha Lantang2
Sentra Medika Hospital Minahasa Utara1,
Universitas Sam Ratulangi Manado Indonesia2
[email protected]1, [email protected]2
Abstrak:
Luka bakar listrik merupakan kondisi medis
serius yang seringkali berhubungan dengan risiko tinggi terjadinya Acute Kidney
Injury (AKI). AKI dapat memperburuk prognosis pasien dan meningkatkan angka
kematian. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi
strategi pencegahan yang efektif untuk mengurangi insiden AKI pada pasien
dengan luka bakar listrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi
efektivitas metode pencegahan luka bakar terkait AKI pada pasien dengan luka
bakar listrik. Fokus utama melibatkan identifikasi faktor risiko yang dapat
diminimalkan dan pengembangan intervensi yang dapat mengurangi dampak negatif
pada fungsi ginjal. Metode penelitian ini mencakup survei retrospektif terhadap
pasien dengan luka bakar listrik dalam periode waktu tertentu. Faktor-faktor
risiko AKI akan dianalisis, dan intervensi pencegahan akan diimplementasikan.
Data pasien akan dikumpulkan dan dianalisis secara statistik untuk mengevaluasi
efektivitas intervensi. Hasil penelitian ini akan memberikan wawasan mendalam
tentang efektivitas intervensi pencegahan yang diuji dalam mengurangi risiko
AKI pada pasien dengan luka bakar listrik. Diskusi akan mencakup implikasi
klinis, potensi peningkatan prognosis, dan arah penelitian masa depan.
Kesimpulan dari Penelitian ini memberikan dasar untuk pemahaman lebih lanjut
tentang strategi pencegahan luka bakar terkait AKI pada pasien dengan luka
bakar listrik. Implikasi praktis dari penemuan ini dapat membantu meningkatkan
perawatan pasien, mengurangi beban penyakit, dan meningkatkan hasil klinis.
Kata kunci: Luka bakar, Luka
bakar listrik, Gagal ginjal akut
Abstract:
Electrical burns are a serious medical condition often associated with a
high risk of Acute Kidney Injury (AKI). AKI can worsen patient prognosis and
increase mortality rates. Therefore, this study aims to explore effective
prevention strategies to reduce AKI incidents in patients with electrical
burns. The research seeks to evaluate the effectiveness of burn prevention
methods related to AKI in patients with electrical burns, focusing primarily on
identifying modifiable risk factors and developing interventions to mitigate
negative impacts on kidney function. The research methodology includes a
retrospective survey of patients with electrical burns over a specific time
period. AKI risk factors will be analyzed, and preventive interventions will be
implemented. Patient data will be collected and statistically analyzed to
assess the effectiveness of the interventions. The study's results will provide
in-depth insights into the effectiveness of tested preventive interventions in
reducing AKI risk in patients with electrical burns. The discussion will
encompass clinical implications, potential improvements in prognosis, and
directions for future research. In conclusion, this research provides a foundation
for a better understanding of burn prevention strategies related to AKI in
patients with electrical burns. The practical implications of these findings
can contribute to enhancing patient care, reducing the burden of disease, and
improving clinical outcomes.
Keywords: Burn injury, Electrical
burns, Acute kidney injury�����������������������������������������������
Corresponding: Anggelina
Thendry
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Luka bakar
listrik merupakan luka bakar akibat panas dengan intensitas yang tinggi yang
dihasilkan saat tubuh pasien menjadi penghambat yang tidak disengaja, sehingga
luka yang ditimbulkan lebih serius dari apa yang terlihat dipermukaan tubuh (Hamdana, Amin, Alfira, & Amirullah,
2023). Kebanyakan
luka bakar karena listrik disebakan oleh pekerjaan antara lain pekerja
konstruksi, pekerja lapangan, pekerja listrik dan utilitas, tukang kawat.
Pasien
dengan luka bakar listrik mempunyai beberapa manifestasi akut yang unik yang
berbeda dari cedera termal lainnya sehingga memerlukan keahlian dalam
penatalaksanaannya, mulai dari penerapan prinsip dasar Advance Trauma Life
Support (ATLS) dan Secondary Survey serta resusitasi secara simultan harus
segera diterapkan (Rajin et al., 2023). Keputusan yang tepat harus dibuat sejak dini mengenai pemantauan
jantung, eksplorasi dan dekompresi segera untuk sindrom kompartemen, serta
strategi pengelolaan cairan yang lebih kompleks untuk menghindari komplikasi
cedera ginjal akut yang berhubungan dengan mioglobinuria (Handaya, 2023).
Pasien luka
bakar umumnya meninggal karena salah satu dari dua penyebab berikut ini, antara
lain kematian dini akibat �syok luka bakar� atau Multiple Organ Failure
(MOF) (Moenadjat, n.d.). Dengan munculnya protokol resusitasi
cairan yang adekuat pada pasien dengan luka bakar yang parah, syok luka bakar
yang ireversible telah digantikan oleh sepsis dan MOF yang menjadi penyebab
utama kematian akibat luka bakar pada pasien. Perawatan kritis pada pasien
dengan luka bakar membutuhkan pemantauan intensif untuk mempertahankan fungsi
organ untuk mendorong pemulihan (Muhsina et al., 2023). Perawatan kritis akibat luka bakar didasarakan pada tujuh faktor utama
yang mencangkup: resusitasi cairan; eksisi luka bakar dini; pemberian
antimikroba secara agresif serta pengendalian sumber infeksi; dukungan nutrisi
yang agresif; terapi fisik, okupasi serta latihan pernapasan yang agresif; dan
dukungan agresif dan terus menerus terhadap kegagalan organ sampai pasien dapat
sembuh. Perawatan ini telah mengurangi angka kematian pada pasien luka bakar
selama tiga dekade terakhir (Rahmawati, Marlina, & Nurhidayah,
2020).
Sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan, penelitian terkini menunjukkan adanya
hubungan yang signifikan antara eksposur luka bakar listrik dan risiko
terjadinya Acute Kidney Injury (AKI). Temuan awal menunjukkan bahwa pasien
dengan luka bakar listrik memiliki potensi tinggi untuk mengalami komplikasi
ginjal, yang dapat memperburuk prognosis klinis mereka.
��������������� Teori dasar yang mendasari
penelitian ini melibatkan konsep bahwa eksposur luka bakar listrik dapat
menginduksi perubahan patologis pada fungsi ginjal, meningkatkan risiko AKI.
Teori ini diperkuat oleh penelitian sebelumnya yang menyoroti dampak negatif
luka bakar listrik pada organ-organ internal, khususnya ginjal.
Penelitian
terdahulu menjelaskan Luka bakar, yang dapat disebabkan oleh panas, arus
listrik, bahan kimia, dan petir, merusak kulit, mukosa, dan jaringan lebih
dalam, mempengaruhi metabolisme dan fungsi seluruh tubuh, terutama sistem
kardiovaskuler (Albadali, 2020). Derajat luka bakar meliputi pertama, kedua superfisial, kedua dalam,
dan ketiga. Penanganan melibatkan pencegahan infeksi dan memberikan kesempatan
bagi sel epitel untuk berkembang dan menutup luka (Sulastri, Safitri, & Luzien, 2022).
Penelitian terdahulu menjelaskan Pasien luka bakar listrik, meskipun memiliki luka bakar di permukaan tubuh yang tidak sebanding dengan keparahan trauma organ dalam, dianggap sebagai luka bakar berat. Terapi nutrisi merupakan bagian penting dalam penanganan luka bakar sejak resusitasi hingga rehabilitasi. Meskipun sudah ada rekomendasi tata laksana nutrisi untuk luka bakar berat, belum ada panduan khusus untuk luka bakar listrik. Studi kasus ini melibatkan empat pasien dengan luka bakar listrik dan komplikasi seperti trauma servikal, AKI, syok sepsis, dan amputasi. Pemberian nutrisi disesuaikan dengan kebutuhan energi dan protein, dengan perhatian khusus pada pasien dengan AKI. Hasilnya menunjukkan perbaikan klinis dan laboratorium pada tiga pasien, yang semuanya dapat pulang setelah perawatan. Satu pasien meninggal karena komplikasi setelah perawatan 14 hari. Kesimpulannya, penanganan nutrisi yang optimal dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan luka bakar listrik (Suzan & Andayani, 2017).
��������������� Penelitian ini memiliki keunikan
dalam pendekatannya dengan fokus pada pengembangan strategi pencegahan yang
dapat mengurangi insiden AKI pada pasien dengan luka bakar listrik. Perbedaan
utamanya terletak pada identifikasi faktor risiko yang dapat diminimalkan dan
implementasi intervensi pencegahan yang dapat membantu melindungi fungsi
ginjal.
��������������� Meskipun penelitian sebelumnya
telah memberikan wawasan tentang hubungan antara luka bakar listrik dan risiko
AKI, masih terdapat kekosongan pengetahuan terkait strategi pencegahan yang
spesifik untuk mengatasi dampak negatif tersebut. Research gap ini menjadi
dasar penting bagi penelitian ini untuk mengisi kesenjangan pengetahuan yang
ada.
��������������� Tujuan Penelitian ini adalah
untuk mengevaluasi efektivitas metode pencegahan luka bakar terkait AKI pada
pasien dengan luka bakar listrik, dengan fokus pada identifikasi faktor risiko
dan pengembangan intervensi yang dapat mengurangi dampak negatif pada fungsi
ginjal.
��������������� Manfaat Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan pada pemahaman ilmiah tentang
pengaruh luka bakar listrik terhadap risiko AKI dan menghasilkan informasi yang
dapat digunakan untuk meningkatkan perawatan pasien, mengurangi morbiditas,
serta memberikan dasar bagi pengembangan pedoman klinis yang lebih efektif.
METODE
PENELITIAN
����������� Laporan
kasus ini berbentuk deskriptif studi kasus, yaitu suatu metode yang digunakan
untuk membuat gambaran masalah yang terjadi, yang bertujuan untuk
mendeskripsikan apa yang terjadi saat laporan kasus dibuat. Bedasarkan hal
tersebut, laporan kasus ini cenderung memperhatikan permasalahan dan gambaran
penatalaksanaanya.
Laporan ini
disusun di Intensive Care Unit (ICU) Sentra Medika Hospital Minahasa Utara,
secara langsung selama periode perawatan pasien pada tanggal 5 hingga 10
Oktober 2023. Subjek laporan ini adalah seorang laki-laki yang datang ke IGD
dengan luka bakar listrik dan dirawat di ruang ICU hingga sebelum dipindahkan
ke ruang perawatan biasa. Instrumen laporan kasus mencakup daftar tilik
pemeriksaan fisik, lembar SOAP, flowsheet, alat ukur saturasi oksigen, monitor
vital sign, serta hasil pemeriksaan laboratorium dan penunjang lainnya seperti
EKG, CXR, X-Foto cervical, dan USG untuk pengukuran IVC. Teknik pengumpulan
data melibatkan data primer, yang diperoleh melalui observasi dan wawancara,
serta data sekunder yang diambil dari rekam medis dan dokumentasi untuk
melengkapi informasi terkait masalah yang ditemukan pada pasien.
LAPORAN
KASUS
Pasien Laki-laki, 38 tahun datang dengan luka bakar akibat tersengat
listrik tegangan tinggi saat pasien sedang memperbaiki atap rumah. Saat sedang
bekerja, pasien menggunakan sarung tangan kain dan memegang besi. Saat besi
yang dipegang pasien diangkat dan mengenai kabel listrik, pasien langsung
terhempas jatuh ke tanah dengan ketinggian sekitar 4 meter. Saat jatuh kepala
pasien terbentur dengan luka robek dipelipis. Pasien sempat tidak sadarkan diri
sekitar 5 menit dan kembali sadar saat sedang diperjalanan menuju RS. Muntah
disangkal, penglihatan kabur disangkal.
Pada status lokalis pasien didapatkan
di Regio Ekstremiatas superior pada regio Brachialis dextra tampak luka bakar
dengan 2% TBSA tampak kemerahan dan pada penekanan terdapat nyeri tekan, pada
regio Antebrachii dextra dan manus dextra tampak luka bakar 4.5% TBSA dan pada
penekanan didapatkan nyeri tekan. Pada regio Cubitalis sinistra terdapat luka
bakar 1.5% TBSA tampak kemerahan dan terasa nyeri. Pada Regio Ekstremitas
superior di Regio Genu Sinistra terdapat luka bakar 4.5% TBSA dan pada
penekanan terdapat nyeri tekan. Tangan pasien menjadi sulit digerakan,
bengkak, serta disertai nyeri yang hebat saat menggerakan tangan.
Pada pasien ini mendapatkan terapi O2 NRM 15 lpm, pemberian anti
tetanus, pemantauan irama jantung, resusitasi cairan dan tindakan fasciotomy
serta debridement segera dilakukan. Setelah selesai dengan tindakan operasi,
pemantauan pasien dilanjutkan diruangan ICU, diantarannya adalah pemantauan
kadar oksigen pada semua ekstremitas, pemantauan EKG berkala dan produksi urin.� Pada pemantauan produksi urin, didapati
produksi urine yang kurang dengan warna urine yang gelap dalam 6 jam post
operasi. Dilakukan beberapa pemeriksaan tambahan antara lain AGD, Cretinin
kinase (CK), serta pemeriksaan fungsi ginjal kontrol. Resusitasi cairan pasien
dilanjutkan dengan memberikan cairan resusitasi dalam 16 jam, diberikan
diuretik, dan persiapan Hemodialisa jika tidak terjadi perbaikan. Produksi
urine pasien mengalami perbaikan dan bebas dari pigmentasi setelah beberapa jam
dilakukan tindakan agresif, kecepatan pemberian cairan diturunkan sesuai dengan
kebutuhan cairan harian pasien. Debridement lanjutkan dilakukan kembali
beberapa hari setelahnya perawatan.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Sebagian besar cedera listrik tegangan
tinggi tidak disengaja; melibatkan laki-laki muda, khususnya mereka yang
merupakan pekerja listrik (Jalla, 2019). Pada cedera listrik, energi listrik
diubah menjadi energi panas yang menyebabkan kerusakan pada kulit dan jaringan
di bawahnya. Cedera listrik tegangan tinggi dapat menyebabkan nekrosis luas,
hilangnya jaringan, dan kerusakan parah pada jaringan di bawahnya. struktur
(otot, saraf, pembuluh darah, dan tulang) yang mengakibatkan amputasi, gagal
ginjal, dan banyak komplikasi sistemik lainnya (Ardhiansyah, 2021).
Pasien luka bakar listrik menghadirkan
beberapa tantangan unik dalam kondisi akut. Pada dasarnya ada tiga masalah
penatalaksanaan akut yang membedakan pasien ini dengan pasien yang mengalami
cedera termal tanpa aliran arus listrik. Selain penerapan prinsip dasar Advanced
Trauma Life Support (ATLS), tiga permasalahan yang perlu ditangani dalam �golden
hour� adalah (1) pasien mana yang memerlukan pemantauan elektrokardiografi
dan untuk berapa lama; (2) pasien mana yang berisiko mengalami sindrom
kompartemen dan mungkin memerlukan intervensi bedah darurat (terkadang langsung
dari unit gawat darurat); dan (3) bagaimana resusitasi cairan harus dilakukan
mengingat banyaknya cedera jaringan dalam yang mungkin tidak terlihat pada
pemeriksaan fisik, terutama jika terdapat urin berpigmen.
Mayoritas kelainan jantung setelah
cedera listrik listrik adalah takikardia sinus, disritmia, dan perubahan
nonspesifik pada segmen ST dan gelombang T terjadi setelah cedera tegangan
rendah dan tinggi, sehingga memperkuat kebutuhan elektrokardiografi (EKG)
sebagai bagian dari evaluasi awal pada semua pasien (PERKEMBANGAN II, n.d.). Perubahan ST nonspesifik adalah
kelainan EKG yang paling umum, dan fibrilasi atrium merupakan disritmia yang
paling umum, tetapi fibrilasi ventrikel adalah kasus paling umum dari kematian
akibat cedera listrik (Sardjan, 2023). Namun, jika EKG awal tidak
menunjukkan kelainan, kemungkinan terjadinya masalah jantung yang tertunda
sangat kecil kemungkinannya, terlepas dari apakah pasien mengalami cedera
tegangan tinggi atau rendah (Mahawati et al., 2021). Belum ada penelitian yang
dipublikasikan yang mempelajari secara langsung durasi pemantauan telemetri
yang sesuai, namun sebagian besar penelitian mengindikasikan pemantauan dalam
24-48 jam. Cedera tegangan rendah yang tidak memenuhi kriteria pemantauan
jantung dan tidak ada indikasi lain untuk masuk rumah sakit dapat dikeluarkan
dengan aman dari UGD. Hal ini tidak berlaku pada cedera tegangan tinggi,
meskipun bukti retrospektif menunjukkan bahwa disritmia akan terjadi lebih
awal, atau bahkan terjadi sama sekali pada pasien ini.
AKI merupakan salah satu komplikasi
yang serius, yang sering dijumpai pada pasien sakit kritis di ICU. Pada pasien
dengan luka bakar, meskipun AKI jarang terjadi, merupakan komplikasi utama dari
luka bakar yang umumnya menyebabkan kematian (BAKAR, n.d.). Berbagai kondisi dapat berkontribusi
terhadap kejadian AKI dini (24 jam pertama) pada pasien dengan luka bakar,
antara lain: hipovolemik, disfungsi jantung, pelepasan mediator inflamasi dan protein� yang
terdenaturasi (akibat kerusakan jaringan yang luas), serta obat-obatan
nefrotoksik. AKI lanjut biasanya termasuk dalam kategori Multiple Organ
Failure (MOF) yang sering dikaitkan dengan sepsis (Fatoni & Kestriani, 2018).
Hipovolemik dan kurangnya resusitasi
secara klasik dianggap sebagai penyebab utama AKI dini, namun AKI juga dapat
berkembang meskipun telah dilakukan resusitasi yang memadai (Mappaware, Muchlis, KM, & Samsualam, 2020). Ketika terjadi cedera termal dan
kehilangan plasma melebihi 4 ml/kg/bb/jam pada luka bakar melebihi 30% TBSA,
hal ini menyebabkan penurunan perfusi ginjal. Terjadi penekanan aliran darah ke
ginjal yang diperburuk oleh badai sitokin, yang mengakibatkan terjadi iskemik
dan kematian sel serta terjadi pelepasan radikal bebas. Mediator ini
menyebabkan kerusakan tubulus ginjal secara langsung dan mengganggu tight
junction yang menyebabkan nefropati obstruktif yang selanjutnya menyebabkan
penurunan Glomerular Filtration Rate (GFR) (Samsu, 2018). AKI juga dapat terjadi pada pasien
luka bakar meskipun keluaran urine normal hingga rata-rata (0.5-1.0
ml/kgbb/jam). Selama resusitasi pada pasien dengan luka bakar, parameter
seperti keluaran urin dan tekanan arteri rata-rata mungkin tidak secara akurat
mencerminkan perfusi organ pada tingkat sel.
Karena cedera listrik menyebabkan
kontraksi otot yang dipaksakan, rhabdomyolysis dari aliran listrik melalui otot
menyebabkan pelepasan mioglobin, yang dapat menyebabkan gagal ginjal akut. Jika
urin pasien berwarna merah tua, dapat diasumsikan terdapat hemokromogen dalam
urin.
Diperkirakan 10% orang yang selamat
dari cedera listrik tegangan tinggi mengalami rhabdomyolysis, akibat
konversi elektrotermal dan elektroporasi otot rangka secara besar-besaran.
Mioglobin, Kreatinin Kinase (CK), dan laktat dehidrogenase merupakan substansi
penting untuk mengindikasikan kerusakan otot. Ketika kerusakan parah terjadi,
mioglobin yang merupakan pembawa oksigen utama dalam sel otot, dilepaskan dalam
jumlah besar bersama dengan kandungan intraseluler lainnya seperti kreatinin
kinase (CK), laktat dehidrogenase dan kalium. AKI merupakan komplikasi paling
signifikan dari pelepasan mioglobin secara cepat, dan terjadi karena
vasokonstriksi ginjal yang diinduksi oleh mioglobin yang mengakibatkan iskemia,
pembentukan mioglobin pada tubulus kontortus distal yang menyebabkan obstruksi,
dan efek nefrotoksik mioglobin pada sel epitel tubulus kontortus proksimal.
Karena definisi rhabdomyolysis
sangat bervariasi, kejadian pasti AKI pada rhabdomyolysis sulit
dipastikan tetapi diperkirakan berkisar antara 13 hingga 48%. Identifikasi awal
rhabdomyolysis merupakan suatu tantangan karena adanya trias klasik
tanda dan gejala (nyeri otot, kelemahan otot, serta urin berwarna gelap)
mungkin tersamarkan ketika pasien dibius, atau disalahartikan sebagai
kekurangan cairan. Kadar mioglobin serum dan urin juga meningkat, Mioglobinuria
terjadi ketika kadar mioglobin serum lebih dari 1.5-3 mg/dl dan biasanya
terkait dengan peningkatan Kadar CK serum yang mungkin lebih besar dari 5 kali
batas atas normal dan mencapai 10.000 Unit/Liter, mencapai puncaknya pada hari
ke-3 dan menurun setengahnya setiap 24-48 jam. Namun, kadar mioglobin serum dan
urin yang meningkat pengujiannya belum terbukti berguna dalam memprediksi AKI
atau kerusakan otot yang sedang berlangsung.
Tabel
1 Diagnosis Rhabdomyolysis dan AKI
|
Presentasi
Klinis |
|
Kelemahan
otot, mialgia, bengkak, kaku Demam,
mual, muntah, takikardia Oligouria
atau anuria sehubungan dengan kerusakan ginjal atau adanya penurunan volume Tanda-tanda
penyakit yang mendasarinya |
|
Temuan
Laboratorium |
|
Serum:
Kreatinin, nitrogen urea, kreatinin fosfokinase, myoglobin, ion (kalium,
fosfor, kalsium), laktat dehydrogenase, transaminase, asam-basa Urine:
tes myoglobin atau dipstick positif tanpa ada eritrosit |
Sepsis dan syok sepsis merupakan
penyebab kematian tersering pasien yang dirawat di ICU dan terjadi pada 87%
pasien luka bakar yang menderita AKI. Penyebab AKI pada sepsis bersifat
multifaktorial. Hal ini bisa terjadi sebagai akibat dari tiga proses patologis
yang diakibatkan oleh perubahan keseimbangan homeostatis, antara produksi dan
inaktivasi dari mediator inflamasi: kerusakan endotel secara langsung,
vasoparalisis dan keadaan prokoagulan. Vasoparalisis menyebabkan keadaan
hipotensi berat dan disertai dengan penurunan perfusi jaringan. Hal ini diikuti
oleh aktivasi sumbu neurohormonal dan peningkatan kadar katekolamin plasma,
vasopressin dan angiotensin-II dalam upaya untuk meningkatkan curah jantung dan
mengembalikan perfusi jaringan normal. Namun, hal ini juga mengakibatkan
kerusakan langsung pada arteriolar ginjal, yang menyebabkan terganggunya
perfusi ginjal pada keadaan pre-renal. Hal ini, semakin diperburuk dengan
pelepasan agen vasokonstriksi (TNF, endothelin). Sehubungan dengan keadaan
pro-koagulan, sepsis diketahui meningkatkan regulasi ekspresi komplemen dan
meningkatkan kaskade fibrinolitik. Hal ini menyebabkan Disseminated
Intravacular Coagulation (DIC) dan selanjutnya menyebabkan cedera langsung
pada glomeruli oleh mikrotrombi. Nekrosis tubular akut terjadi akibat cedera
iskemik yang diinduksi.
Setelah didiagnosis, pengobatan segera
harus dimulai untuk menghindari AKI. Penatalaksanaannya tetap suportif dengan
fokus pada optimalisasi keseimbangan cairan, pengobatan gangguan sama-basa dan
elektrolit lainnya, penyesuaian dosis obat, dan menghindari cedera hemodinamik
dan nefrotoksik sekunder. Ketika tindakan konservatif yang dilakukan gagal,
inisiasi RRT diperlukan.

AKI
dini mungkin disebabkan oleh hipovolemia yang menyebabkan terjadinya penurunan
perfusi ginjal dan mengakibatkan cedera ginjal. Beberapa penelitian menganjurkan
pemberian cairan sejak dini untuk mencegah atau meminimalkan efek AKI.
Resusitasi luka bakar yang modern sendiri memiliki perubahan dalam resusitasi
cairan, dengan tujuan mengembalilkan volume plasma secara efektif, tanpa adanya
efek samping. Pedoman formula konsensus ABA pada pada dewasa dengan luka bakar
listrik, adalah dengan memulai resusitasi pada 4 mL/kg/%TBSA untuk memastikan
keluaran urin 100 mL/jam atau 1�1,5 mL/kg/jam pada orang dewasa yang cairannya
separuh diberikan selama delapan jam dan separuh sisanya diberikan dalam kurun
waktu 16 jam. Setelah urin bersih dari pigmentasi, kecepatan pemberian cairan
harus dititrasi agar efektif menggunakan target keluaran urin 0,5 ml/kg/jam
pada orang dewasa dengan hemodinamik normal.
Gambar 1 Rule
of Nines
Panduan Praktis yang digunakan untuk
mengevaluasi tingkat keparahan luka bakar dan menentukan manajemen cairan.
Tubuh orang deawa umumnya terbagi menjadi luas permukaan masing-masing 9% dan
atau pecahan atau kelipatannya 9%.
Pemberin terapi diuretik, seperti
mannitol dan diuretik loop telah digunakan secara luas pada pasien AKI untuk
meningkatkan aliran urin dan melindungi ginjal dari kerusakan iskemi yang lebih
lanjut. Mannitol sebagai agen osmotik yang menarik cairan dari ruang interstisial
sehingga dapat mengurangi pembengkan sel ditubulus proksimal dan meningkatkan
aliran intratubular sehingga berpotensi mengurangi obstruksi intratubular dan
disfungsi ginjal lebih lanjut. Mannitol sendiri telah dianjurkan sebagai obat
tambahan, namun belum didukung oleh bukti penelitian lanjut. Diuretik
loop juga meningkatkan laju aliran intratubular dan dapat mengubah keadaan
oliguri menjadi non-oliguri, sehingga memfasilitasi manajemen klinis gagal
ginjal.
Pemberian agen antioksidan memberikan
efek perlindungan dan dapat menghambat peroksidasi lipid sel tublus proksimal
dan siklus redoks antara besi dan feril mioglobin. Asetaminofen, yang
menghambat peroksidasi lipid yang dikatalis oleh hemoprotein adalah salah satu
dari beberapa obat yang diteliti yang menurunkan resiko terjadi AKI yang
diinduksi oleh rhabdomyolisis. Asetaminofen menghambat prostaglandin hidrogen
sintase dengan mengurangi kation radikal protoporfirin dan menghalangi pembentukan
radikal katalitik tyrosyl.
KESIMPULAN
Kesimpulan
dari penelitian ini adalah bahwa evaluasi efektivitas metode pencegahan luka
bakar terkait AKI pada pasien dengan luka bakar listrik sangat penting untuk
meningkatkan pemahaman dan perawatan klinis. Dengan fokus pada identifikasi
faktor risiko dan pengembangan intervensi, penelitian ini bertujuan memberikan
kontribusi dalam mengurangi dampak negatif pada fungsi ginjal pasien. Hasil
dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar bagi pengembangan pedoman
klinis yang lebih efektif untuk merinci strategi pencegahan yang dapat
diimplementasikan pada populasi pasien yang rentan. Dengan demikian, penelitian
ini tidak hanya memberikan wawasan mendalam tentang pengelolaan luka bakar
listrik terkait AKI, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap
perbaikan prognosis pasien dan peningkatan kualitas perawatan kesehatan secara
keseluruhan.
�����������������������������������������������������������������
DAFTAR PUSTAKA
Albadali, Ahmad
Ramadhan. (2020). Efektifitas Pemberian Daun Binahong (Anredera cordifolia
(Ten.) Steenis) terhadap Peneymbuhan Luka Bakar pada Tikus: Literature Review.
Ardhiansyah, Azril Okta.
(2021). Kompetensi bedah untuk dokter umum. Airlangga University Press.
BAKAR, TATA LAKSANA
LUKA. (n.d.). KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK. 01.07/MENKES/555/2019
TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN.
Fatoni, Arie Zainul,
& Kestriani, Nurita Dian. (2018). Acute kidney injury (AKI) pada pasien
kritis. Majalah Anestesia Dan Critical Care, 36(2), 64�76.
Hamdana, S. Kep, Amin,
A. Nurlaela, Alfira, Nadia, & Amirullah, S. Kep. (2023). Buku Ajar
Asuhan Keperawatan Kegawat Daruratan Sistem Integumen Luka Bakar. Nas Media
Pustaka.
Handaya, Adeodatus Yuda.
(2023). Kegawatan Bedah Perut dan Saluran Cerna yang disebabkan Trauma.
UGM PRESS.
Jalla, Misrawati.
(2019). PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN
PADA MITRA PT PLN (PERSERO) UP3 MMAKASSAR UTARA. UNIVERSITAS BOSOWA.
Mahawati, Eni, Yuniwati,
Ika, Ferinia, Rolyana, Rahayu, Puspita Puji, Fani, Tiara, Sari, Anggri Puspita,
Setijaningsih, Retno Astuti, Fitriyatinur, Qurnia, Sesilia, Ayudia Popy, &
Mayasari, Isti. (2021). Analisis Beban Kerja dan Produktivitas Kerja.
Yayasan Kita Menulis.
Mappaware, H. Nasrudin
Andi, Muchlis, Nurmiati, KM, S., & Samsualam, S. (2020). Kesehatan Ibu
dan Anak (Dilengkapi dengan Studi Kasus dan Alat Ukur Kualitas Pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak). Deepublish.
Moenadjat, Yefta.
(n.d.). Respons Inflamasi pada Kasus Bedah.
Muhsina, Sitti, Putri,
Suci Tuty, Tahir, Rusna, Latipah, Siti, Satriani, Satriani, Nurhusna, Nurhusna,
Mataputun, Donny Richard, Rajin, Mukhamad, Manurung, Melva Epy Mardiana, &
Muhlis, Rasdiyanah. (2023). Pengantar Keperawatan Kritis. Yayasan Kita
Menulis.
PERKEMBANGAN II, BIOLOGI
DASAR D. A. N. BIOLOGI. (n.d.). MODUL TEORI.
Rahmawati, Rahmawati,
Marlina, Marlina, & Nurhidayah, Irfanita. (2020). Efektivitas Penggunaan
Madu dalam Proses Penyembuhan Pada Luka Bakar Derajat II: Literatur Review. Idea
Nursing Journal, 11(3), 6�11.
Rajin, Mukhamad, Tahir,
Rusna, Despitasari, Lola, Rina, Yosi Okta, Wirawati, Maulidta Karunianingtyas,
Sukarna, R. Ade, Surani, Vincencius, Cusmarih, Cusmarih, Nurhusna, Nurhusna,
& Mahendra, Donny. (2023). Keperawatan Gawat Darurat: Bantuan Hidup
Lanjutan Pada Pasien Trauma. Yayasan Kita Menulis.
Samsu, Nur. (2018). Patogenesis
Penyakit Ginjal Diabetik: Peran Disfungsi Podosit pada Perkembangan dan
Progresivitas Glomerulosklerosis. Universitas Brawijaya Press.
Sardjan, Umi Rachmawati
Wasil. (2023). BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN YANG MENGALAMI KEHILANGAN,
BERDUKA DAN KEMATIAN. Keperawatan Medikal Bedah, 19.
Sulastri, Tuti, Safitri,
Rika, & Luzien, Natasya. (2022). Edukasi Kesehatan Penanganan Pertama Pada
Luka Bakar (Combustio) Kepada Anggota Dharma Wanita Persatuan Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa. Jurnal Pengabdian Dan Pengembangan Masyarakat
Indonesia, 1(1), 30�33.
Suzan, Raihannah, &
Andayani, Diyah Eka. (2017). Tata laksana nutrisi pada pasien luka bakar
listrik. JAMBI MEDICAL JOURNAL" Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan",
5(1), 1�13.