Hansel Evander Christofen1,
Melkior Nikolar Ngalumsine Sitokdana2
Fakultas Teknologi Informasi Sistem Informasi,
Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Indonesia1,2
[email protected]1, [email protected]2
Diterima: 04-06-2022��������������������� ��������������� Review: 10-06-2022������������������������ ��������������� Publish:
15-06-2022
![]()
Abstrak:
Pada
Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jemaat Ekklesia saat ini memiliki
permasalahan utama yaitu proses bisnis yang belum terintegrasi, seperti pada
penyimpanan data yang belum terintegrasi dan pengelolaan jadwal yang masih
dibuat secara manual, serta terdapat kesalahan dalam mengelola data jemaat. Oleh
sebab itu Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki permasalahan yang terdapat
pada Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jemaat Ekklesia agar proses bisnis
dapat terintegrasi dengan baik. Dalam mengatasi permasalahan tersebut peneliti menggunakan
metode penelitian wawancara, obeservasi dan studi kepustakaan. Peneliti juga menerapkan
rancangan arsitektur metode TOGAF (The
Open Group Architecture Framework) yang mencakup arsitektur teknologi,
bisnis, dan arsitektur sistem informasi dalam pengembangan proses bisnis yang
terintegrasi. Hasil penelitian ini adalah blueprint yang dapat digunakan untuk membantu kinerja staff,
serta dapat memberi perubahan pada proses bisnis agar efisien dan efektif.
Dengan adanya dukungan dari teknologi informasi diharapkan dapat mempermudah
dalam mencari dan mengelola data yang dibutuhkan.
Kata kumci: TOGAF, Arsitektur, Gereja, Sistem Informasi, Blueprint.
Abstract:
At the Pentecostal Church in Indonesia (GPdI), the Ekklesia Congregation
currently has major problems, namely business processes that have not been
integrated, such as untidy data storage and unorganized schedule management, as
well as errors in managing congregation data.�
Therefore, this study aims to improve the problems that exist in the
Pentecostal Church in Indonesia (GPdI) of the Ekklesia Congregation so that
business processes can be well integrated.�
In overcoming these prolelms the researchers used interview research
methods, observations and literature studies.�
The researcher also applies the TOGAF (The Open Group Architecture
Framework) architectural design which includes technology, business, and
information systems architecture in developing integrated business
processes.� The results of this study are
blueprints that can be used to assist staff performance, and can make changes
to business processes to be efficient and effective.� With the support of information technology is
expected to make it easier to find and manage the data needed.
Keywords: TOGAF, Architecture, Church, Information
System, Blueprint.
���������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
Corresponding: Hansel
Evander Christofen
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Kebutuhan informasi di era globalisasi
sekarang kini semakin penting (Suhendri, 2016). Penggunaan TI (teknologi informasi)
meningkatkan kinerja pada berbagai bidang seperti instansi pendidikan, dan
pemerintahan. Pada penelitian sebelumnya teknologi informasi telah digunakan
oleh dinas kesehatan untuk membuat sebuah hasil berupa blueprint teknologi
pada sebuah bisnis sebagai acuan mengembangkan teknologi informasi dari bagian
sistem informasi dan aplikasinya untuk meningkatkan layanan kepada setiap orang (B. Rianto et al., 2016).
Sebagai contoh pemanfaatan TI dalam
bidang sosial salah satunya dapat diterapkan kedalam gereja. Gereja Pantekosta
di Indonesia Jemaat Ekklesia merupakan salah satu gereja kristen yang berada di
dusun Krajan kabupaten Semarang. Dengan memanfaatkan teknologi informasi
diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan pada proses bisnisnya, hal
ini penting dilakukan agar proses bisnis dapat terintegrasi dengan baik.
Jika ditinjau dari struktur organisasi
yang ada pada Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Ekklesia, gereja ini
memiliki berbagai bidang yang membawahi beberapa urusan seperti pengelolaan
data jemaat, pengelolaan jadwal ibadah, serta pengelolaan keuangan. Dari
banyaknya data bidang ini telah menghasilkan tingkat data dan informasi yang
kompleks di Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Ekklesia, sehingga memiliki
tingkat resiko kesalahan yang tinggi dalam mengelola data-data gereja. Oleh
sebab itu dengan bantuan dari TI melalui sistem informasi gereja dapat
mengurangi resiko kesalahan dalam management data gereja.
Kondisi saat sekarang ini pada Gereja
Pantekosta di Indonesia Jemaat Ekklesia masih belum mempunyai arsitektur sistem
informasi gereja yang berimbang dengan keperluan gereja saat ini. Menurut
pendapat dari pihak gereja, mereka saat ini masih belum berfokus kepada proses
pengembangan sistem informasi gereja. Infrastruktur TI seperti computer dan
peralatan jejaring dirasa masih belum mampu menjadi solusi atas transformasi
aplikasi dan proses bisnis yang berkembang pesat, oleh sebab itu diperlukan
sistem informasi gereja dengan terintegrasi guna menopang proses administrasi
dan kegiatan di gereja. Dari permasalahan tersebut maka diperlukan sebuah
kerangka berpikir pada perencanaan, perancangan, dan mengelola sistem informasi
yaitu Enterprise Architecture (EA).
Enterprise Architecture adalah
trik penggunaan TI yaitu hubungan mengembangkan bisnis dengan mengembangkan TI.
EA menguraikan strategi untuk mengembangkan sistem (Osvalds, 2001). Enterprise architecture menguraikan
rencana untuk mengembangkan sistem. Dalam pengembangkan EA, perlu mengadopsi
atau mengembangkan arsitektur enterprise sendiri. Ada beberapa jenis kerangka
kerja yang bisa digunakan untuk mengembangan EA, seperti: DoD Architecture
Framework (DoDAF), Zachman Framework, Federal Enterprise
Architecture Framework (FEAF), Treasury Enterprise Architecture Framework
(TEAF), The Open Group Architectural Framework (TOGAF), dan lain-lain (Setiawan, 2009). Perancangan arsitektur enterprise
ini bertujuan memberi hasil yaitu sebuah blueprint serta usulan atau platform
kerja kepada Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Ekklesia kabupaten Semarang
agar dapat memberi perubahan kearah yang baik dan dapat memberi pelayanan yang
optimal pada anggota jemaat dan juga dapat memacu pengadopsian menggunakan teknologi
informasi secara bertingkat, meminimalisir serta menyederhanakan dari semua
proses yang dilakukan sehingga� data
dapat tersusun dengan baik, dalam satu sumber data (Rosmala, 2010). Oleh sebab itu, penelitian ini akan
dikembangkan suatu pemodelan EA dengan menggunakan metodologi pengembangan
TOGAF yang merupakan cara pada implementasi serta fleksibilitas ketika
mendefinisikan berbagai jenis teknik pemodelan dalam desain agar sesuai dengan
kebutuhan dan karakteristik organisasi.
The Open Group Architecture Framework (TOGAF)
merupakan framework untuk arsitektur yang menyediakan penawaran menyeluruh
untuk merancangkan, dan mengimplementasikan arsitektur informasi perusahaan (Rerung, 2017). TOGAF merupakan kerangka kerja yang
kompatibel pada perusahaan yang masih belum memiliki hasil cetak biru tentang
pengembangan EA (Fitriana & Bakri, 2019) (Lusa & Sensuse, 2011). TOGAF memberi sketsa tahapan yang
jelas cara pembentukan dan pengelolaan serta implementasi kerangka kerja dan
sistem informasi yang dipakai guna gambaran contoh perkembangan arsitektur
bisnis sebagai akibatnya bisa digunakan sebagai saran pada perkembangan sistem
yang terkait, dan juga kelebihan TOGAF adalah mengacu pada orientasi objek,
sifatnya yang luwes, dan terbuka untuk umum, sebagai akibatnya banyak dipakai
oleh aneka macam perusahaan misalnya industri manufaktur, bank, dan pula
sekolah (Josey, 2016). Pemilihan arsitektur perusahaan yang
tepat untuk kebutuhan organisasi dapat mempercepat proses pengembangan arsitektur.
Terdapat berbagai jenis arsitektur yang masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangan, bergantung dengan sifat masing-masing arsitektur itu sendiri, salah
satu kelebihannya yaitu referensi yang lebih berorientasi kepada objek, serta
fleksibel, serta open source, oleh karena itu TOGAF banyak dipakai oleh banyak
instansi.
Dari masalah diatas maka diperlukan
perancangan enterprise architecture guna membangun, mengelola, serta
mengimplementasi arsitektur sistem informasi guna kemudahan pemrosesan berbagai
data yang akan mendukung fungsi dari organisasi
gereja. Sistem informasi merupakan suatu sistem yang berisi sekumpulan komponen
sistem perangkat lunak, perangkat keras, dan perangkat lunak berpikir yang
diolah data membentuk keluaran yang bermanfaat untuk mencapai tujuan organisasi
(Kuswara & Kusmana, 2017). Penggunaan sistem informasi
dimaksudkan untuk menangani berbagai informasi yang dikelola oleh masing-masing
perusahaan atau organisasi, sehingga membutuhkan sumber daya yang lebih sedikit
dan dapat mengurangi waktu pemrosesan menjadi lebih efektif dan efisien. Selain
itu, data yang dikelola dapat digunakan kapan saja, di mana saja, serta mampu mengurangi birokrasi yang ada.
Perancangan sistem informasi dapat dipahami sebagai suatu rencana yang mencakup
realisasi satu sistem yang berisi komponen-komponen yang berbeda untuk membuat
sistem baru dengan hasil dari tahap analisis
sistem (D. A. Rianto et al., 2015) Tujuan
dari pengembangan sistem informasi adalah untuk menciptakan suatu produk yang
berisi kumpulan informasi.
Penelitian
dengan topik �TOGAF ADM pada SMA Negeri 1 Muara Bungo� (Purnasari & Assegaff, 2018), peneliti memakai TOGAF ADM untuk
melakukan perencanaan Arsitektur Sistem Informasi pada institusi pendidikan di
Indonesia.
Penelitian lain juga dilakukan oleh (Siregar & Tambotoh, 2022) dengan judul �Perencanaan Sistem
Informasi Perusahaan Menggunakan TOGAF ADM Pada PT Cipta Retail Prakarsa�.
Penelitian ini mengidentifikasi proses bisnis yang sedang berjalan dan
merancang arsitektur perusahaan memakai batasan pada tahap peluang & solusi
berdasarkan metode TOGAF.
Penelitian yang berjudul �Development
of Enterprise Architecture in Senior High School Using TOGAF as Framework� (Supriyadi & Amalia, 2019). Penelitian ini menerapkan metode
TOGAF ADM yang digunakan untuk melakukan pengembangan arsitektur enterprise.
Penelitian lain juga dilakukan (Arya Oka Sentosa & Arya Christi, 2021) dengan judul �Perencanaan Arsitektur
Enterprise Dengan Metode Togaf ADM (Studi Kasus: Umkm Tempe)� Penelitian ini
mengidentifikasi proses bisnis yang sedang berjalan serta menerapkan arsitektur
TOGAF untuk mendukung aktifitas UMKM tersebut.
Sistem informasi merupakan suatu
sistem yang berisi sekumpulan komponen sistem perangkat lunak, perangkat keras,
dan perangkat lunak berpikir yang diolah data membentuk keluaran yang
bermanfaat untuk mencapai tujuan organisasi (Kuswara & Kusmana, 2017). Penggunaan sistem informasi
dimaksudkan untuk menangani berbagai informasi yang dikelola oleh masing-masing
perusahaan atau organisasi, sehingga membutuhkan sumber daya yang lebih sedikit
dan dapat mengurangi waktu pemrosesan menjadi lebih efektif dan efisien. Selain
itu, data yang dikelola dapat digunakan kapan saja, di mana saja, serta mampu
mengurangi birokrasi yang ada. Perancangan sistem informasi dapat dipahami
sebagai suatu rencana yang mencakup realisasi satu sistem yang berisi
komponen-komponen yang berbeda untuk membuat sistem baru dengan hasil dari
tahap analisis sistem (D. A. Rianto et al., 2015). Tujuan dari pengembangan sistem
informasi adalah untuk menciptakan suatu produk yang berisi kumpulan informasi.
The Open Group Architecture Framework
(TOGAF) merupakan sebuah arsitektur kerangka kerja. TOGAF memberikan tahapan
serta alat untuk membangun, mengelola, dan menerapkan dan memelihara arsitektur
bisnis. TOGAF Architecture Development Method (ADM) adalah arsitektur
yang menggambarkan bagaimana mencapai arsitektur enterprise spesifik guna memenuhi kebutuhan organisasi. Architecture Development Method memberi gambaran metode untuk pengembangan
arsitektur enterprise serta membentuk
inti dari TOGAF.
Tujuan yang dihasilkan dari penelitian
ini yaitu membuat rencana enterprise architecture gereja yang berfungsi untuk landasan
dasar guna pengembangan sistem informasi gereja guna mendukung dan menunjang
strategi bisnis pada Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Ekklesia. Hasil
penelitian ini menghasilkan sebuah kerangka dasar dalam pengembangan cetak biru
(blueprint) untuk mendukung sistem
informasi yang terintegrasi dengan setiap kebutuhan gereja.
METODE
PENELITIAN �
Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan prosedur wawancara, observasi, dan studi kepustakaan (Sarwono, 2006) yang bertujuan untuk mengklarifikasi
fakta, variabel serta situasi yang terjadi saat penelitian ini dilaksanakan.
Penelitian ini melibatkan pengumpulan data, analisis, dan berakhir dengan
kesimpulan terkait dengan hasil analisa dari data-data yang ada (Nazir, 2003). Data dalam penelitian ini
dikumpulkan dengan lisan, dan tertulis menggunakan tahapan penelitian sebagai
berikut:

Gambar 1. Tahap Penelitian
1.
Pada tahap awal memulai penelitian perlu
menganalisis, menelaah, memeriksa dan menetapkan metode yang tepat berdasarkan
hasil dari wawancara dengan narasumber yaitu Bapak David Gordon C. yang
merupakan pendeta penanggung jawab Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat
Ekklesia.
2.
Pada tahap berikutnya peneliti memilih
kerangka kerja menggunakan TOGAF karena merupakan kerangka kerja yang
kompatibel pada perusahaan yang masih belum memiliki hasil cetak biru tentang
pengembangan EA dan juga TOGAF memiliki kelebihan yaitu mengacu pada orientasi
objek, sifatnya yang luwes, dan terbuka untuk umum, sebagai akibatnya banyak
dipakai oleh aneka macam perusahaan misalnya industri manufaktur, bank, dan
lain-lain
3.
Preliminary phase merupakan
tahap persiapan komponen yang berhubungan dengan penelitian dengan mengamati
dan mempelajari bahan yang digunakan dalam proses kegiatan di Gereja Pantekosta
di Indonesia Jemaat Ekklesia.
4.
Architecture Vision meliputi
keterangan ruang lingkup, keterangan stakeholders, dan penyiapan visi
arsitektur.
5.
Bussines Architecture berisi
beberapa kegiatan yang berkaitan dengan proses bisnis utama meliputi proses
bisnis dan stakeholder.
6.
Information System Architecture dibuat
guna pengembangan arsitektur target dan menentukan jenis serta sumber
informasi. Berikut ini adalah bagian dari arsitektur sistem informasi.
7.
Tecnology Architecture langkah
ini mendefinisikan tentang teknologi kunci yang diperlukan untuk mendukung
aplikasi dan data yang akan dikelola
HASIL DAN
PEMBAHASAN
1. Persiapan (Preliminary)
Langkah
ini diambil guna menentukan persiapan komponen yang berhubungan dengan
penelitian dengan mengamati dan mempelajari bahan yang digunakan dalam proses
kegiatan di Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Ekklesia.
2. Visi Arsitektur
Fase visi
arsitektur meliputi keterangan ruang lingkup dalam bentuk value chain.

Gambar 2.
Analisis value chain
Berdasarkan Gambar 2. di atas maka uraian dari
fungsi bisnis tersebut adalah sebagai berikut:
Aktifitas
Pokok:
a.
Mengelola program
gereja
b.
Mengelola data
anggota jemaat
c.
Mengelola data staff
Aktifitas Pendukung:
a.
Manajemen sumber
daya manusia
b.
Manajemen keuangan
3.
Keterangan Stakeholder
Berikut stakeholder yang berhubungan pada sistem informasi gereja di
Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Ekklesia yaitu: pendeta, anggota jemaat,
staff. Metode relasi antara sistem yang dibangun dengan stakeholder terdapat
pada Tabel 1.
Tabel 1. Hubungan sistem informasi dengan
stakeholder
|
No |
Peran |
Tanggung Jawab |
|
1 |
Pendeta |
Sebagai pembicara dan penanggung jawab |
|
2 |
Anggota Jemaat |
Pemberi persembahan dan perpuluhan |
|
3 |
Staff |
Pelaksana pekerjaan digereja |
4.
Penyusunan Visi Arsitektur
Visi arsitektur pada Gereja Pantekosta
di Indonesia Jemaat Ekklesia adalah �Menyediakan layanan yang terintegrasi pada
tahun 2027�
5.
Output Visi Arsitektur
�Aktifitas Pokok:
a.
Mengelola program
gereja
b.
Mengelola data
anggota jemaat
c.
Mengelola data staff
Aktifitas Pendukung:
a.
Manajemen sumber
daya manusia
b.
Manajemen keuangan
6.
Stakeholder Sistem Informasi Gereja
Tabel
2. Hubungan Stakeholder
|
No |
Peran |
Tanggung Jawab |
|
1 |
Pendeta |
Sebagai pembicara dan penanggung jawab |
|
2 |
Anggota Jemaat |
Pemberi persembahan dan perpuluhan |
|
3 |
Staff |
Pelaksana pekerjaan digereja |
7.
Perancangan Arsitektur Bisnis
a.
Arsitektur Bisnis.
Arsitektur bisnis berisi beberapa
kegiatan yang berkaitan dengan proses bisnis utama meliputi proses bisnis dan
stakeholder

Gambar
3. Struktur Organisasi
b.
Layanan Bisnis
Tabel
3. Layanan Bisnis
|
Fungsi
layanan bisnis |
Penjadwalan
ibadah |
Penentuan
petugas |
Data
staff |
Data
jemaat |
Perencanaan
Sumber daya manusia |
Pengembangan
Sumber daya manusia |
Administrasi
gereja |
Perancangan
anggaran |
|||||
|
Pengelolaan program gereja |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
Pengelolaan data staff |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
Pengelolaan data jemaat |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
Manajemen sumber daya manusia |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
Manajemen keuangan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
8.
Proses Bisnis
Berikut adalah proses bisnis yang
dilakukan:�
Aktifitas Pokok:
a.
Program gereja.
Tahap ini berpusat pada mengelola sistem gereja menjadi aktifitas pokok di
Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat
Ekklesia.
b.
���Pengelolaan data jemaat. Pengelolaan data
jemaat meliputi nama, usia, dan alamat tempat tinggal, dan nomor telepon.
c.
Pengelolaan data staff gereja meliputi data
nama, usia, alamat tempat tinggal dan nomer telepon.
Aktifitas pendukung:
a.
Manajemen keuangan,
yang meliputi:
1)
Rencana keuangan
2)
Menetapkan anggaran
3)
Membayar iuran social
4)
Laporan anggaran
5)
Pengeluaran
keperluan bersama
b.
Manajemen SDM
(sumber daya manusia), yang meliputi:
1)
Perencanaan SDM
2)
Merekrut SDM
3)
Membina dan
mengembangkan SDM
9.
Hubungan Organisasi serta Fungsi
Hubungan serta fungsi bisnis terdapat
pada tabel dibawah:
Tabel 4. Hubungan Fungsi
Bisnis
|
Peran |
Tanggung Jawab |
||
|
SPDPJ |
PPDP |
PPDG |
|
|
Pendeta |
|
|
|
|
Anggota Jemaat |
|
|
|
|
Staff |
|
|
|
Keterangan:
- Sebagai pembicara
dan penanggung jawab (SPDPJ
- Pemberi
persembahan dan perpuluhan (PPDP)
- Pelaksana
pekerjaan digereja (PPDG)
10. Arsitektur Sistem informasi
Arsitektur
sistem informasi dibuat guna pengembangan arsitektur target dan menentukan
jenis serta sumber informasi. Berikut ini adalah bagian dari arsitektur sistem
informasi.
a.
Arsitektur
Data
Perancangan
arsitektur data adalah kebutuhan data yang akan dipakai pada arsitektur
aplikasi, mengikuti proses bisnis yang dirancang pada value chain. Arsitektur
data yang digunakan seperti tabel dibawah ini :
1)
Proses
Ibadah (PI)
2)
Manajemen
Tata Usaha (MTU)
3)
Manajemen
Keuangan (MK)
Tabel �5. Daftar Rancangan Aplikasi
|
Kode |
Aplikasi |
Ketersediaaan |
|
PI_1.0 PI_2.0 |
Sistem informasi gereja Jadwal pelaksanaan ibadah |
Belum
tersedia Belum
tersedia |
|
MTU_1.0 MTU_2.0 |
Pengelolaan data jemaat Pengelolaan data staff |
Belum
tersedia Belum
tersedia |
|
MK_1.0 MK_2.0 |
Administrasi Anggaran gereja |
Belum
tersedia Belum
tersedia |
b.
Arus Informasi
Arus informasi diartikan sebagai penggambaran arus informasi ke
suatu aplikasi dan dilanjutkan ke aplikasi berikutnya sampai membentuk arus
informasi yang sesuai dengan kebutuhan gereja, berikut adalah gambar aliran
informasi antar aplikasi:

Gambar
5. Aliran Informasi
Keterangan:
1)
Proses Ibadah (PI)
2)
Manajemen Tata Usaha (MTU)
3)
Manajemen Keuangan (MK)
c. Arsitektur Teknologi
Langkah
ini mendefinisikan tentang teknologi kunci yang diperlukan untuk mendukung
aplikasi dan data yang akan dikelola. Untuk membangun
arsitektur teknologi langkah-langkah yaqng harus diambil sebagai berikut:
1)
Koneksi jaringan�
2)
Kebutuhan software serta hardware
11. Alat Bantu
Alat bantu yang diperlukan pada penelitian ini yaitu:
a.
Perangkat Keras
Hardware yang digunakan untuk membuat dan
menjalankan aplikasi ini menggunakan laptop dengan spesifikasi berikut:
1)
Prosesor: CORE i3-1220PE 4.20 GHz
2)
Memory penyimpanan: 500 GB
3)
RAM (Random Access Memory) RAM: 8 GB
4)
VGA (Video graphict adapter): INTEL UHD
GRAPHICS 1 GB
b.
Perangkat Lunak
Software yang
digunakan untuk membuat aplikasi sebagai berikut:
1)
Sistem Operasi Microsoft Windows
2)
Sublime
3)
Xampp
4)
Browser
12. Rencana Migrasi
Pada fase
ini bertujuan rencana perpindahan ke teknologi yang diusulkan. Menetukan prioritas aplikasi. Dalam
menentukan prioritas aplikasi didasari kebutuhan organisasi, karena hal ini akan meningkatkan kinerja dari organisasi.
����
Tabel 6. Daftar
Aplikasi
|
Kode |
Aplikasi |
|
PI_1.0 PI_2.0 |
Sistem informasi gereja Jadwal pelaksanaan ibadah |
|
MTU_1.0 MTU_2.0 |
Pengelolaan data jemaat Pengelolaan data staff |
|
MK_1.0 MK_2.0 |
Administrasi Anggaran gereja |
13. Rencana Pengerjaan
Rencana pengerjaan sistem ini dilakukan selama 5 tahun dimulai
pada tahun 2022-2027.
a.
Mengelola program gereja termasuk penyusunan
jadwal ibadah, menetuan pembicara, membuat jadwal petugas pelayan mimbar.
Target pengerjaan dimulai tahun 2022-2027.
b.
Mengelola data anggota jemaat meliputi data nama, usia, alamat tempat tinggal, dan nomer telepon. Target
pengerjaan dimulai tahun 2022-2027.
c.
Mengelola data staff gereja meliputi data nama, usia, alamat tempat tinggal dan nomer telepon. Target
pengerjaan dimulai tahun 2022-2027.
d.
Manajemen keuangan. Menetukan rencana
keuangan, penetapan anggaran keuangan, administrasi pembayaran iuran, dan
laporan budgeding. Target pengerjaan dimulai tahun 2022-2027.
e.
Manajemen SDM menaungi perancangan,
perekrutan, pembinaan serta pengembangan sumber daya manusia. Target pengerjaan
dimulai tahun 2022-2027.
Perbedaan dengan beberapa penelitian terdahulu penelitian sekarang
ini lebih fokus kepada bidang pelayanan sosial yaitu Gereja Pantekosta di Indonesia
Jemaat Ekklesia yang bertujuan merancang implementasi sistem informasi
menggunakan kerangka kerja TOGAF untuk menghasilkan cetak biru sebagai acuan
pengembangan arsitektur yang lebih baik.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang diambil berdasarkan
tahapan perencanaan serta pengembangan arsitektur menggunakan metode TOGAF pada
Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Ekklesia adalah sebagai berikut: Perencanaan
sebuah arsitektur enterprise adalah pembuatan cetak biru yang dipakai sebagai
pedoman pada pembangunan dan pengembangan TI dari segi sistem informasi dan
juga aplikasi guna meningkatan pelayanan kepada anggota jemaat gereja untuk
bidang pelayanan Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Ekklesia.
Dengan metode TOGAF, proses pembuatan blueprint
melahirkan bisnis model, data, serta teknologi usulan untuk setiap
pemodelannya. Cetak biru yang dihasilkan dari pemodelan metode TOGAF adalah
sebuah rencanaan yang detil berawal mulai arsitektur bisnis, data, aplikasi,
serta teknologi dari sebuah kerangka tersebut.
Saran untuk penelitian lebih lanjut
diharapkan, ada komitmen dan didukung penuh oleh semua pihak, dan juga secara
berkala sangat dianjurkan untuk mengetahui kemampuan sistem yang baru dan
sebagai bahan pengembangan penelitian kedepannya, serta diperlukan analisis
menggunakan metode yang lain untuk memperkuat hasil dari penelitian sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arya Oka Sentosa, I. K., & Arya Christi, V.
(2021). Perencanaan Arsitektur Enterprise Dengan Metode Togaf ADM (Studi
Kasus: Umkm Tempe). Universitas 17 Agustus 1945.
Fitriana, R., & Bakri, M.
(2019). Perancangan Arsitektur Sistem Informasi Akademik Menggunakan the Open
Group Arsitekture Framework (Togaf). Jurnal Tekno Kompak, 13(1),
24�29. https://doi.org/10.33365/jtk.v13i1.263.
Josey, A. (2016). TOGAF�
Version 9.1-A Pocket Guide. Van Haren.
Kuswara, H., & Kusmana, D.
(2017). Sistem Informasi Absensi Siswa Berbasis Web Dengan SMS Gateway Pada
Sekolah Menengah Kejuruan Al�Munir Bekasi. Indones. J. Netw. Secur, 6(2),
17�22. http://dx.doi.org/10.55181/ijns.v6i2.22.
Lusa, S., & Sensuse, D. I.
(2011). Kajian Perkembangan Dan Usulan Perancangan Enterprise Architecture
Framework. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI).
Nazir, M. (2003). Metode
Penelitian, Cetakan Kelima. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Osvalds, G. (2001). Definition
of Enterprise Architecture�Centric Models for The Systems Engineers. TASC
Inc.
Purnasari, M., & Assegaff,
S. (2018). Perancangan Arsitektur Sistem Informasi Menggunakan Togaf Adm Pada
Sma Negeri 1 Muara Bungo. Jurnal Manajemen Sistem Informasi, 3(2),
1030�1041.
Rerung, R. R. (2017).
Perencanaan arsitektur sistem informasi dinas pariwisata menggunakan model eap.
Simetris: Jurnal Teknik Mesin, Elektro Dan Ilmu Komputer, 8(1),
327�338. https://doi.org/10.24176/simet.v8i1.997.
Rianto, B., Lidya, L., &
Nurcahyo, G. W. (2016). Pemodelan Arsitektur Enterprise Menggunakan Metode
Togaf ADM Studi Kasus Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir. Jurnal
Komputer Terapan, 2(1), 55�68.
Rianto, D. A., Assegaf, S.,
& Fernando, E. (2015). Perancangan Aplikasi Sistem Informasi Geografis
(SIG) Lokasi Minimarket Di Kota Jambi Berbasis Android. Jurnal Ilmiah Media
SISFO, 9(2), 295�304.
Rosmala, D. (2010). Penerapan
Framework Zachman Pada Arsitektur Pengelolaan Data Operasional (Studi Kasus Sbu
Aircraft Services, Pt. Dirgantara Indonesia). Seminar Nasional Aplikasi
Teknologi Informasi (SNATI).
Sarwono, J. (2006). Metode
penelitian kuantitatif dan kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Setiawan, E. B. (2009).
Pemilihan EA framework. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi
(SNATI).
Siregar, P., & Tambotoh, J.
J. C. (2022). Perencanaan Sistem Informasi Perusahaan Menggunakan TOGAF ADM
Pada PT Cipta Retail Prakarsa. JURSIMA (Jurnal Sistem Informasi Dan
Manajemen), 10(1), 43�53. https://doi.org/10.47024/js.v10i1.359.
Suhendri, S. (2016). Perancangan
Arsitektur Sistem Informasi Sekolah dengan The Open Group Architecture
Framework (Togaf)(Studi Kasus: Pondok Pesantren Ar-Rahmat). INFOTECH Journal,
1(2), 236609. https://doi.org/10.31949/inf.v1i2.43.
Supriyadi, H., & Amalia, E.
(2019). Development of enterprise architecture in senior high school using
TOGAF as framewrok. Universal Journal of Educational Research, 7(4A),
8�14. https://doi.org/10.13189/ujer.2019.071402.