EFEKTIVITAS MEDIA AUDIA VISUAL UNTUK MENINGKATKAN
KEMAMPUAN BERHITUNG ANAK USIA DINI
Lydia Margaretha
Universitas Dehasen Bengkulu
Diterima: 11-10-2022��������������������� ��������������� Review: 23-10-2022�������� ��������������� ��������������� Publish:
30-10-2022
Abstrak:
Kemampuan berhitung merupakan bagian penting dari pertumbuhan. Pentingnya memperoleh kemampuan kognitif, salah satunya adalah kemampuan mengenali simbol bilangan, dalam bidang matematika.
Penelitian kuantitatif, khususnya penelitian eksperimen dengan desain one-group pretest-posttest design, digunakan dalam penelitian ini.24 anak-anak merupakan sampel dan populasi. Dengan menggunakan kuesioner dan dokumentasi, data dikumpulkan.Memanfaatkan
Uji-T Sampel berpasangan untuk menguji hipotesis.
Temuan menunjukkan bahwa Ha diterima, menunjukkan peningkatan 19,27% dalam berhitung anak. Sebelum dan setelah menerima perlakuan, kemampuan berhitung anak biasanya berbeda. Tes N-gain menunjukkan bahwa media audio
visual memenuhi kriteria
tingkat efektivitas sedang untuk meningkatkan
keterampilan berhitung anak. Hal ini menunjukkan
bahwa keterampilan berhitung anak dapat ditingkatkan dengan menggunakan media audio visual.
Kata kunci: Efektivitas, Media, Berhitung,
Anak Usia Dini
Abstract:
Numeracy is an important part of growth. The
importance of acquiring cognitive abilities, one of which is the ability to
recognize number symbols, in the field of mathematics. Quantitative research,
particularly experimental research with a one-group pretest-posttest design,
was used in this study.24 children were the sample and population. Using
questionnaires and documentation, data were collected. Using paired sample
T-Test to test hypotheses. The findings show that Ha is accepted, indicating a
19.27% increase in child counting. Before and after receiving treatment,
children's numeracy skills are usually different. The N-gain test showed that
the audio-visual media met the criteria for a moderate level of effectiveness
to improve children's numeracy skills. This shows that children's numeracy
skills can be improved by using audio-visual media.
Keywords:
Effectiveness,
Media, Counting, Early Childhood�����������������������������������������������
Corresponding: Lydia
Margaretha
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Perkembangan kognitif pada anak usia dini meliputi:
pengertian bilangan. Pentingnya mengembangkan kemampuan kognitif dalam bidang matematika,
salah satunya adalah kemampuan mengenal lambang bilangan 1 sampai 10, pada anak usia dini. Kemampuan
ini diperlukan dalam kehidupan sehari-hari karena merupakan landasan bagi perkembangan kemampuan matematika anak dan kesiapannya untuk jenjang pendidikan
selanjutnya. Berhitung merupakan landasan dari berbagai bidang
studi yang relevan dengan kehidupan setiap manusia. Berikut standar isi mengenai Tingkat Pencapaian Tumbuh Kembang Anak (STTPA) Kurikulum
2013 PAUD meliputi indikator
berhitung: 1) Berhitung dengan angka yang dilambangkan dengan simbol, dan 2) Mencocokkan angka yang dilambangkan dengan simbol. Pengembangan Program Pembelajaran
di Taman Kanak-Kanak Tahun 2010 tentang
tingkat pencapaian perkembangan kognitif untuk meningkatkan konsep bilangan anak usia 4-6 tahun:1) Memahami perbedaan banyak dan sedikit; 2) Mengenali gagasan bilangan; 3) Mengenal lambang bilangan; 4) Menyebutkan lambang angka 1 sampai dengan sepuluh; dan 5) Mencocokkan angka dengan lambang angka. Pada indikator pertama, 44% anak mampu menggunakan lambang angka dengan
benar untuk menghitung, dan pada indikator kedua, 38% anak mampu mencocokkan angka dengan lambang
angka, menurut hasil pengolahan data hasil observasi yang dilakukan di salah satu taman kanak-kanak. Selain itu, banyak
faktor yang mempengaruhi konsentrasi anak selama proses pembelajaran, seperti kebisingan kelas, kurangnya media pendidikan, kurangnya semangat anak, kurangnya minat belajar, dan kebosanan selama proses pembelajaran.
Menggunakan materi pembelajaran audio visual untuk
mengenalkan lambang bilangan merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan kemampuan kognitif. Hamid et
al. mengklaim bahwa
(2020) Dalam proses pembelajaran,
media berfungsi sebagai perantara atau pengantar sumber pesan bagi penerima,
merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan untuk belajar.
Anak dapat berdamai dengan siapa dirinya
dan berperan aktif dalam setiap kegiatan
pembelajaran berkat media.
Karena proses pembelajaran pada dasarnya
juga merupakan salah satu komunikasi, maka media yang digunakan dalam pembelajaran disebut sebagai media pembelajaran. Menanggapi penegasan yang dikemukakan oleh Cahyadi dan Hernita (Malapata & Wijayanigsih, 2019), Malapata & Wijayanigsih
menyatakan bahwa media merupakan salah satu saluran yang melaluinya informasi disebarluaskan atau pesan disampaikan.
(Guslinda & Kurnia, 2018) mengklaim bahwa
media akan memberikan dampak yang semakin positif terhadap proses belajar mengajar.
Pemanfaatan media diharapkan dapat
memberikan dampak yang menguntungkan, antara lain pengembangan lingkungan belajar yang kondusif untuk pembelajaran, terjadinya� umpan balik selama proses belajar mengajar, dan pencapaian hasil yang optimal. Sedangkan media yang dapat didengar dan dilihat sekaligus disebut media audio visual. Media ini
sekaligus merangsang penglihatan dan pendengaran (Wiwit & Jash, 2003) Kehadiran media audio visual dapat digunakan
untuk mencapai pembelajaran yang merupakan bagian dari sistem
pembelajaran, menurut Kristanto, 2011 (Suryani, Aje, & Bantas, 2020). Menurut (Fitria, 2014), penggunaan media audio visual bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dengan memberikan rangsangan berupa gambar bergerak
dan suara serta dengan menyampaikan pesan yang dimaksudkan untuk mengubah sikap dan emosi. Selain itu, penggunaan
media audio visual dalam kegiatan pembelajaran memiliki keunggulan sebagai berikut: 1) dapat menjaga perhatian anak sambil belajar;2) dapat meningkatkan semangat belajar anak;3) dan memberikan pengalaman belajar yang tak terlupakan bagi anak.
Konsentrasi dan daya ingat anak dapat diasah
melalui media audio
visual ini, dan pembelajaran
yang disajikan dalam media ini sangat menarik dan disesuaikan dengan kebutuhan anak. Demikian pula dalam kegiatan yang dirancang untuk mengajarkan anak menggunakan simbol angka, Melalui
audio visual media pembelajaran visual yang akan diperlihatkan langsung kepada anak dan dilengkapi dengan gambar, warna, dan suara untuk memudahkan
anak memahami, menggunakan lambang bilangan untuk menghitung dan mencocokkan lambang bilangan. dalam hal ini.Menurut
(Putri, 2014), berhitung adalah suatu kegiatan yang melibatkan melakukan perhitungan seperti menjumlahkan, mengurangi, dan memanipulasi angka dan simbol matematika. Dengan menjadi dasar bagi anak-anak
untuk melakukan aktivitas sehari-hari, berhitungSelain itu, keterampilan berhitung dasar untuk anak
kecil harus dikembangkan terlebih dahulu.
Sebuah artikel yang dimuat dalam Early Horizons
Journal of Early Childhood Education tahun 2017 berjudul �Meningkatkan Kemampuan Berhitung Anak Usia Dini Melalui Media Permainan Tongkat Angka� memaparkan bagaimana permainan stik angka dapat digunakan
untuk mengenalkan keterampilan berhitung sejak dini. Poerwati
et al, dalam
observasinya (2020) menemukan
bahwa sebagian anak memahami permainan
matematika tetapi bingung mengerjakan LKS. Mereka juga menemukan adanya kesenjangan dalam kemampuan anak, dengan beberapa
anak sangat fasih dalam mengenali simbol angka, menulis,
dan memahami gambar sementara yang lain memiliki kemampuan yang rendah. Laily dkk. (menguasai konsep bilangan) 2019) menemukan bahwa kemampuan anak dalam menjawab
bilangan masih didasarkan pada keterampilan yang
dipelajari dari ingatan dan kurangnya pemahaman akan arti dari lambang bilangan.
Anak masih mengandalkan indra penglihatannya untuk berpikir, dan mereka masih mengalami
kesulitan membedakan dan membandingkan konsep banyak dan sedikit.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metodologi penelitian eksperimen dan pendekatan kuantitatif. Pre-experimental design type one group pretest
posttest design adalah metode
penelitian design. Desain ini
menggunakan pretest dan posttest untuk
membandingkan keadaan sebelum dan sesudah perlakuan (Sugiyono, 2015). Untuk membandingkan
O1 dan O2 untuk mengetahui efektifitas perlakuan tertentu (X), desain penelitian meliputi tes yang dilakukan sebelum (O1) dan setelah perlakuan (O2).
Populasi penelitian terdiri dari 34 siswa usia
3 sampai 4 dari KB Gemilang Kota Bengkulu tahun ajaran 2022/23, dibagi menjadi tiga kelas.34 anak adalah jumlah
minimal sampel yang diperlukan
untuk penelitian, sebagaimana ditentukan oleh rumus Slovin.Karena ada pembatasan kesediaan orang tua untuk menjadikan anaknya sebagai subjek eksperimen selama masa pandemi, sampel minimal harus dipilih. Kelas Anggrek (17 siswa) dan Melur (17 siswa) kemudian dipilih sebagai kelas eksperimen
dengan menggunakan cluster
random metode sampling, berjumlah
34 siswa. Media audio
visual digunakan untuk perlakuan kelas eksperimen.
Kuesioner atau angket dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data. Kuesioner tentang perkembangan berhitung pada anak usia 3 sampai
4 tahun dimasukkan dalam instrumen penelitian, beserta indikator pencapaian perkembangan anak, sebagaimana dikemukakan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Tahun
2014. Persyaratan validitas
dan reliabilitas alat ukur yang baik harus dipenuhi oleh kuesioner yang digunakan dalam penelitian.
Penelitian ini menggunakan
media audio visual sebagai instrumen selain kuesioner. Dalam analisis data penelitian digunakan statistik inferensial untuk merangsang perkembangan berhitung anak dalam media dengan berbagai gambar yang menarik. Uji-t dua sampel, pada Sedangkan untuk mengetahui signifikansi perbandingan dua sampel data interval atau rasio (Sugiyono., 2017). Uji Paired Sample T-Test digunakan dalam pengujian hipotesis untuk mengetahui apakah dua sampel berpasangan
memiliki rata-rata yang berbeda.
Uji prasyarat menggunakan
uji normalitas data dilakukan
sebelum analisis hipotesis. Uji N-Gain kemudian digunakan oleh peneliti untuk menentukan apakah pengobatan tertentu efektif dalam penelitian.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan metodologi penelitian eksperimen dan pendekatan kuantitatif. Pre-experimental design type one group pretest
posttest design adalah metode
penelitian design. Desain ini
menggunakan pretest dan posttest untuk
membandingkan keadaan sebelum dan sesudah perlakuan (Sugiyono, 2011). Untuk membandingkan
O1 dan O2 untuk mengetahui efektifitas perlakuan tertentu (X), desain penelitian meliputi tes yang dilakukan sebelum (O1) dan setelah perlakuan (O2).
Populasi penelitian terdiri dari 34 siswa usia 3 sampai
4 dari KB Gemilang Kota
Bengkulu tahun ajaran
2022/23, dibagi menjadi tiga kelas.34 anak adalah jumlah minimal sampel yang diperlukan untuk penelitian, sebagaimana ditentukan oleh rumus Slovin.Karena ada pembatasan kesediaan orang tua untuk menjadikan anaknya sebagai subjek eksperimen selama masa pandemi, sampel minimal harus dipilih. Kelas Anggrek (17 siswa) dan Melur (17 siswa) kemudian dipilih sebagai kelas eksperimen
dengan menggunakan cluster
random metode sampling, berjumlah
34 siswa. Media audio
visual digunakan untuk perlakuan kelas eksperimen.
Kuesioner atau angket
dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data. Kuesioner tentang perkembangan berhitung pada anak usia 3 sampai
4 tahun dimasukkan dalam instrumen penelitian, beserta indikator pencapaian perkembangan anak, sebagaimana dikemukakan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Tahun
2014. Persyaratan validitas
dan reliabilitas alat ukur yang baik harus dipenuhi oleh kuesioner yang digunakan dalam penelitian.
Penelitian ini menggunakan
media audio visual sebagai instrumen selain kuesioner. Dalam analisis data penelitian digunakan statistik inferensial untuk merangsang perkembangan berhitung anak dalam media dengan berbagai gambar yang menarik. Uji-t dua sampel, pada Sedangkan untuk mengetahui signifikansi perbandingan dua sampel data interval atau rasio. Uji Paired Sample T-Test digunakan
dalam pengujian hipotesis untuk mengetahui apakah dua sampel berpasangan
memiliki rata-rata yang berbeda.
Uji prasyarat menggunakan
uji normalitas data dilakukan
sebelum analisis hipotesis. Uji N-Gain kemudian digunakan oleh peneliti untuk menentukan apakah perlakuan tertentu efektif dalam penelitian.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk
mengetahui efektivitas
media audio visual dalam meningkatkan perkembangan berhitung pada anak usia dini,
khususnya antara usia 3 dan 4, akan dijelaskan oleh temuan.
Tabel 1 menampilkan hasil perhitungan statistik yang dibuat setelah pengobatan diberikan.
Tabel 1. Hasil Analisis Data Deskriptif
Descriptive
Statistics��� N������� Minimum��������� Maximum��������� Mean�������������� Std. Deviation
|
Pretest |
34 |
64 |
83 |
75.44 |
4.194 |
|
Posttest |
34 |
80 |
110 |
94.71 |
6.008 |
|
Valid N |
34 |
|
|
|
|
|
(listwise) |
|
|
|
|
|
Data pada tabel 1 menunjukkan hasil pretest nilai terkecilnya adalah 64 dan hasil posttest nilai terkecil adalah 80. Nilai terbesar (maximum) hasil
pretest adalah
83 dan nilai terbesar hasil posttest adalah 110. Berdasarkan hasil uji statistik pada penelitian tersebut, rata� rata skor kemampuan berhitung anak pada posttest lebih
besar dari pada pretest. Tabel
2 menunjukkan diperoleh t hitung = 52,580. Diketahui nilai t tabel dengan
df = 33 adalah 2,03452. Berdasarkan hasil tersebut, diketahui nilai t hitung > t tabel, yaitu 52,580 > 2,03452,
dengan nilai signifikansi 0,000, sehingga HO ditolak dan Ha yang diterima. Artinya setelah diberi media audio-visual,
ada peningkatan signifikan pada kemampuan berhitung anak.Adanya
perbedaan yang signifikan dilihat dari besarnya
nilai signifikan 2 tailed
0,000 < 0,05.
Selain itu dilihat dari
perbedaan nilai rata�rata
yang diperoleh sebelum dan sesudah diterapkannya perlakuan melalui media audio visual. Berdasarkan
tabel 3, peningkatan kemampuan berhitung anak berdasarkan penerapan media audio-visual
dengan responden (N) 34
anak diketahui nilai rata � rata (mean)
pretest adalah
75,44 dan posttest adalah 94,71. Artinya terjadi peningkatan sebesar 19,27 pada kemampuan berhitung anak sebelum dan sesudah diberikan media. Selanjutnya dari hasil pengujian
N � gain yang dilakukan untuk
mengetahui efektivitas penggunaan suatu perlakuan tertentu dalam penelitian. Dari hasil perhitungan, diketahui nilai N � gain dari penelitian ini adalah 0,34. Dengan melihat tabel kriteria tingkatN � gain, dapat disimpulkan bahwa media audio visual efektif
dalam meningkatkan kemampuan berhitung anak dengan kriteria
tingkat keefektifan sedang keterampilan berhitung anak belum dimanfaatkan secara maksimal dalam kegiatan yang melibatkan mereka. Guru masih menggunakan media yang terbatas yang kurang bervariasi, kurang menarik bagi anak,
dan tidak melibatkan mereka dalam interaksi
apa pun.
Menurut teori (Jamaris, 2006), ciri-ciri berikut disebutkan: kapasitas mental, khususnya: 1)
Mampu memahami ukuran dan angka, dan 2) Tertarik pada huruf dan angka. Beberapa diantaranya dapat menuliskan, menyalin, dan menghitungnya; mereka juga mengetahui sebagian besar warna; mereka mulai
memahami waktu, kapan harus pergi
ke sekolah dan kapan harus pulang
dari sekolah, dan nama-nama hari dalam seminggu; mereka tahu lapangan
dan bergerak sesuai dengan itu; dan pada saat seorang anak
berusia enam tahun, mereka sudah
mulai membaca, menulis, dan berhitung. Menurut teori Depdiknas
(2000:8), permainan berhitung
anak dapat dikategorikan menurut tahap penguasaan berhitung. yaitu tahap penguasaan konsep bilangan dan lambang bilangan, masa transisi yaitu mencocokkan bilangan dengan lambang bilangan, menampilkan lambang bilangan, dan menjumlahkan lambang bilangan dengan konsep bilangan. Hal ini sesuai dengan
aspek yang diamati dalam keterampilan berhitung anak. Akibatnya, dalam pendidikan anak usia dini, anak-anak
belajar melalui bermain untuk mengenali
dan memahami konsep-konsep
yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dari pembahasan di atas jelas bahwa penggunaan
media audiovisual berdampak positif
terhadap kemampuan berhitung anak.
KESIMPULAN
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tingkat keefektifan media audio
visual adalah sedang dan terdapat perbedaan rata-rata kemampuan berhitung
anak sebelum dan sesudah perlakuan sebesar 19,27 persen. Hal ini menunjukkan
bahwa kemampuan berhitung anak dapat ditingkatkan melalui penggunaan media audio visual. .Media ini dapat
menjadi inovasi baru yang mudah digunakan bagi pendidik, orang tua, dan
peneliti masa depan untuk meningkatkan aspek lain dari perkembangan berhitung
anak dalam berbagai cara, termasuk melalui tema dan adaptasi dengan
karakteristik anak.
DAFTAR PUSTAKA
Fitria,
Ayu. (2014). Penggunaan media audio visual dalam pembelajaran anak usia dini. Cakrawala
Dini: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2).
Guslinda, S. Pd, &
Kurnia, Rita. (2018). Media pembelajaran anak usia dini. Jakad Media
Publishing.
Jamaris, Martini.
(2006). Perkembangan dan pengembangan anak usia taman kanak-kanak. Jakarta:
Grasindo.
Malapata, Elisa, &
Wijayanigsih, Lanny. (2019). Meningkatkan Kemampuan Berhitung Anak Usia 4-5
Tahun melalui Media Lumbung Hitung. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak
Usia Dini, 3(1), 283�293.
Putri, L. (2014). Upaya
meningkatkan kemampuan berhitung permulaan menggunakan strategi bermain stick
angka di Paud. Belia Jurnal: Jurnal Ilmiah PG-PA UD IKIP Veteran Semarang,
2(2).
Sugiyono. (2017). Metode
Penelitian Kuantitatif Kualitatif & RND. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2011). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono. (2015). Metode
Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
Suryani, Lely, Aje,
Ariswan Usman, & Bantas, Maria Goretti D. (2020). Peningkatan Perilaku
Cinta Lingkungan Pada Golden Age di Taman Kanak Kanak Kartika Kodim Ende NTT. PAUDIA:
Jurnal Penelitian Dalam Bidang Pendidikan Anak Usia Dini, 9(2),
1�10.
Wiwit, Wahyuning, &
Jash, Metta Rachmadiana. (2003). Mengkomunikasikan moral kepada anak.
Jakarta: PT Elex Media Komputido Kelompok Gramedia.