IMPLEMENTASI POJOK LITERASI BERBASIS GAMIFICATION MENUJU HYPERLOCAL TOURISM HUB DI DESA WISATA JOHO

 

Ahmad Nur Auliya1, Slamet Muhammad Ilham2, Yorda Aditya Pangestu3, Muhammad Haniif Khoirulloh Rosyid4, Sephia Rahayu Purnama5, Assa�adatul Kamilah6, Aan Nurfahrudianto7

Universitas Nusantara PGRI Kediri

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3, [email protected]4, [email protected]5, [email protected]6, [email protected]7

 

Abstrak:

Desa Wisata Joho adalah salah satu desa wisata potensial di Kabupaten Kediri yang terletak pada lereng kaki Gunung Wilis. Akan tetapi, pandemi COVID-19 membuat Desa Wisata Joho harus diperjuangkan kembali untuk membangkitkan kembali pesonanya yang telah redup. Berbagai permasalahan di Desa Wisata Joho secara garis besar dibagi menjadi 5 (lima) sehingga perlu adanya Pojok Literasi yang mempunyai tujuan utama yaitu menguraikan permasalahan dan menemukan solusi untuk tiap permasalahan di Desa Wisata Joho. Metode yang digunakan dalam rangka membangkitkan kembali pesona Desa Wisata Joho adalah kolektif kolegial dengan memegang teguh azaz kekeluargaan. Selain itu, dengan value lifelong learning dan metode gamification sehingga diskusi Pojok Literasi menyenangkan. Pada tahap persiapan, penulis melakukan identifikasi masalah dan kebutuhan serta perumusan bentuk intervensi. Selanjutnya pada tahap pelaksanaan, penulis melakukan Focus Group Discussion (FGD) dan Sosialisasi, Kegiatan Tahap I, Kegiatan Tahap II, Soft Launching Smart Education Village, Kegiatan Tahap III, Outbond, dan Grand Launching Smart Education Village serta Wisuda Akbar 5 (lima) Pojok Literasi. Desa Wisata Joho juga telah siap untuk melanjutkan pengembangan ke tahap Hyperlocal Tourism Hub.

 

Kata kunci: Desa Wisata; Pojok Literasi; Hyperlocal

 

Abstract:

Joho Tourism Village is one of the potential tourist villages in Kediri Regency which is located on the slopes of the foot of Mount Wilis. However, the COVID-19 pandemic means that the Joho Tourism Village must fight again to revive its faded charm. The various problems in the Joho Tourism Village are broadly divided into 5 (five) so that there is a need for a Literacy Corner which has the main objective of explaining the problems and finding solutions for each problem in the Joho Tourism Village. The method used to revive the charm of the Joho Tourism Village is a collegial collective that upholds the principles of kinship. Apart from that, with lifelong learning values and gamification methods, Literacy Corner discussions are fun. In the preparation stage, the author identifies problems and needs and formulates forms of intervention. Next, at the implementation stage, the author conducted a Focus Group Discussion (FGD) and Socialization, Phase I Activities, Phase II Activities, Soft Launching of Smart Education Village, Phase III Activities, Outbound, and Grand Launching of Smart Education Village and Grand Graduation 5 (five) Corners Literacy. Joho Tourism Village is also ready to continue development to the Hyperlocal Tourism Hub stage.

 

Keywords: Tourism Village; Literacy Corner; Hyperlocal�����������������������������������������������������

 

Corresponding: Ahmad Nur Auliya

E-mail: [email protected]

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

PENDAHULUAN

Desa Wisata Joho merupakan desa wisata yang berada di ujung barat Kabupaten Kediri tepatnya di Kecamatan Semen (Kediri, n.d.). Desa Wisata Joho terletak di kaki Gunung Wilis, sekitar 567,20 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 5,42 (km) ^2 serta jumlah penduduk sebanyak 3.440 jiwa. Meski berada di kaki Gunung Wilis, Desa Wisata Joho relatif mudah untuk dijangkau oleh wisatawan yang ingin berkunjung ke Desa Wisata Joho. Desa Wisata Joho dapat diakses melalui Terminal Kota Kediri menuju barat sejauh kurang lebih 20 km dengan menggunakan moda transportasi motor maupun mobil. Dengan potret kondisi tersebut, menurut (Azis, 2023) Desa Wisata Joho meraih penghargaan sebagai Desa Terbaik dengan kategori Inovasi Terbaik bidang pengelolaan wisata pada akhir tahun 2016 dan 2019 (Triaryanti, 2019). Dengan profil tersebut, Desa Wisata Joho juga pernah mencapai angka 114.871 pengunjung dalam periode 2016-2019. Angka tersebut menurun drastis ketika pandemi covid-19 menurut Pak Suroso sebagai Kepala Dusun Joho. Sumber Podang, Taman Kelir dan Goa Laler menjadi destinasi prioritas para pengunjung saat mengunjungi Desa Wisata Joho (RAHMAN, n.d.). Pesona Desa Wisata Joho membuatnya menjadi salah satu desa berkembang menurut Keputusan Direktur Jendral Pembangunan Desa dan Perdesaan Nomor 398.4.1 Tahun 2021.

Berdasarkan potret, profil dan kondisi Desa Wisata Joho, terdapat beberapa sektor yang dapat ditingkatkan untuk membangkitkan pesona Desa Wisata Joho (Triaryanti, 2019). Setidaknya terdapat 5 (lima) sektor yang dapat menjadi fokus pengembangan di Desa Wisata Joho guna membangkitkan pesonanya dan bertransformasi dari desa berkembang menuju desa mandiri (Arief & Pardianto, 2022). Yang pertama pada sektor pendidikan, Pendidikan di Desa Wisata Joho selama ini sangat kurang dan juga belum adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, dibuktikan dengan adanya sebuah data yang menunjukkan tingginya angka buta huruf dan banyak tenaga kerja yang hanya tamatan SD sederajat (1.133). Yang kedua pada sektor wisata, Desa Wisata Joho merupakan desa wisata yang saat ini predikat tersebut sudah mulai memudar dikarenakan dari 7 wisata hanya 3 wisata yang masih aktif (Mahayana, 2021). Yang ketiga pada sektor kesenian, Desa Wisata Joho memiliki beberapa kesenian seperti lesung, jaranan dan ketoprak, akan tetapi semua kesenian itu vakum karena pandemi covid-19 dan para pegiat seni semakin sedikit karena kurangnya regenerasi. Yang keempat pada sektor lingkungan, Desa Wisata Joho kesulitan dalam pengolahan limbah dikarenakan hanya terdapat 1 (satu) Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan tidak adanya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau media untuk mengolah limbah, dan juga banyak lahan kosong yang kurang bisa dimanfaatkan. Yang kelima pada sektor ekonomi, Desa Wisata Joho memiliki banyak tenaga siap kerja sejumlah 2.198 jiwa tapi tidak adanya UMKM pada Desa Wisata Joho (As�ari, 2019).

Berdasarkan analisis permasalahan dan potensi diatas, Desa Wisata Joho akan penulis perjuangkan untuk kembali memperoleh pesona wisata yang hilang karena pandemi ini. Melalui implementasi pojok literasi berbasis gamification berdasarkan 5 (lima) potensi di Desa Wisata Joho sebagai upaya menuju hyperlocal tourism hub. Konsep hyperlocal tourism hub adalah konsep pariwisata pertama di Indonesia. Konsep hyperlocal tourism hub terinspirasi dari konsep hyperlocal media dan hyperlocal communication (Fathurrahman, 2021). hyperlocal media adalah media dimana fokus pada informasi dan berita yang relevan dengan lokasi geografis (Khusna, Santoso, et al., 2022). konsep hyperlocal communication dimana teknologi yang membantu warga pedesaan membagikan berita di tingkat local (Khusna, Santoso, et al., 2022). Jadi konsep hyperlocal tourism hub adalah konsep dimana terdapat kawasan yang merupakan pusat informasi, pusat pengembangan, dan pusat kegiatan wisata di suatu daerah (Khusna, Sari, et al., 2022).

Berikut adalah uraian solusi yang akan penulis laksanakan setelah melakukan diskusi dan juga pengambilan keputusan bersama dengan mitra desa yaitu Desa Wisata Joho (Fairuza, 2017) : 1) Membuat 5 (lima) pojok literasi berdasarkan potensi yang berbeda di kawasan Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, 2) Membuat kurikulum pembelajaran untuk 5 (lima) pojok literasi sesuai dengan konsentrasi pada tiap pojok literasi, 3) Membuat media pembelajaran untuk mengisi 5 (lima) pojok literasi sesuai dengan konsentrasi pada tiap pojok literasi, 4) Melaksanakan strategi pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan untuk mengelola 5 (lima) pojok literasi di Desa Wisata Joho, 5) Melaksanakan rebranding Desa Wisata Joho menjadi Smart Education Village : Wisata 1000 Media (Permana et al., 2023)

Tujuan dan target kegiatan pemberdayaan yang akan penulis laksanakan adalah sebagai berikut: 1) Melaksanakan strategi pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan media pembelajaran yang tepat bagi anak-anak Taman Baca Lentera Wilis Desa Wisata Joho dalam mewujudkan Smart People sebagai indikator Smart Education Village, 2) Melaksanakan strategi pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan media pembelajaran serta pengelolaan wisata yang tepat bagi kelompok DEWI Desa Wisata Joho dalam mewujudkan Smart Mobility sebagai indikator Smart Education Village (ESFERANSA, 2021), 3) Melaksanakan strategi pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan media pembelajaran kesenian musik lesung, ketoprak dan jaranan yang tepat bagi pegiat seni Setiyo Budoyo Desa Wisata Joho dalam mewujudkan Smart Tourism sebagai indikator Smart Education Village, 4) Melaksanakan strategi pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan media pembelajaran lingkungan sehat yang tepat bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Sido Makmur Mulyo Desa Wisata Joho dalam mewujudkan Smart Environment sebagai indikator Smart Education Village, 5) Melaksanakan strategi pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan media pembelajaran ekonomi kreatif yang tepat bagi ibu-ibu PKK dan BUMDes Joho Lestari dalam mewujudkan Smart Economy sebagai indikator Smart Education Village (Kuswahono, 2019).

Target indikator keberhasilan yang akan penulis capai yaitu: 1) Dihasilkannya 5 (lima) pojok literasi di kawasan Desa Wisata Joho dengan konsentrasi yang berbeda (Pendidikan, Wisata, Kesenian, Lingkungan, dan Ekonomi Kreatif). Pengukuran indikator keberhasilan dilakukan dengan terbentuknya 5 (lima) pojok literasi sebagai berikut (1) Pojok Literasi Pendidikan, (2) Pojok Literasi Wisata, (3) Pojok Literasi Kesenian, (4) Pojok Literasi Lingkungan, dan (5) Pojok Literasi Ekonomi Kreatif), 2) Dihasilkannya kurikulum pembelajaran di 5 (lima) pojok literasi sesuai dengan konsentrasi pada tiap pojok literasi. Pengukuran indikator keberhasilan dilakukan dengan terwujud dan terlaksananya kurikulum eunoia, 3) Beroperasinya pojok literasi dengan program dan kepengurusan yang sesuai dengan konsentrasi pada tiap pojok literasi. Pengukuran indikator keberhasilan dilakukan dengan terbentuknya struktur organisasi (organogram) pada tiap pojok literasi, 4) Meningkatnya ketrampilan dan wawasan warga Desa Wisata Joho. Pengukuran indikator keberhasilan dilakukan dengan tes pemahaman dan observasi ketrampilan dan wawasan oleh tim pelaksana PPK Ormawa secara observasi partisipasi kepada khalayak sasaran, 5) Melakukan Grand Launching Smart Education Village sebagai kegiatan ekonomi baru hasil implementasi ketrampilan dan wawasan warga Desa Wisata Joho (Susiawati, 2018). Pengukuran indikator keberhasilan dilakukan dengan terlaksananya Grand Launching Desa Wisata 1000 Media sebagai kegiatan ekonomi baru berbasis Smart Education Village menuju Hyperlocal Tourism Hub.


 

METODE PENELITIAN

Metode pendekatan kolektif kolegial berdasar azaz kekeluargaan telah diterapkan. Selain itu, dengan value lifelong learning dan metode gamification sehingga diskusi Pojok Literasi menyenangkan. Berikut roadmap tahapan kegiatan:


Gambar 1 �Roadmap Kegiatan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dengan kondisi awal potensi Desa Wisata Joho yang dijelaskan diatas membuatnya meraih Desa Inovasi Terbaik pengelolaan wisata pada 2016. Desa Wisata Joho juga merupakan desa berkembang (Perdesaan, 2021). Proses Kegiatan dan Hasil Pelaksanaan dibagi menjadi 2 (dua) tahap, yaitu:

Tahap Persiapan:

a.       Identifikasi Masalah dan Kebutuhan

Kami mengidentifikasi masalah dan kebutuhan bersama HIMAPTIKA, Dosen Pendamping (Dr. Aan Nurfahrudianto, M.Pd.), dan Kepala Desa Wisata Joho (Deddy Saputra, S.K.M.).

 


Gambar 2 Identifikasi Masalah dan Kebutuhan

b.      Perumusan Bentuk Intervensi

Kami merumuskan bentuk intervensi bersama dengan seluruh elemen (Desa Wisata Joho � Kepala Desa, Dosen Pendamping dan HIMAPTIKA) telah menyepakati 7 (tujuh) program pelaksanaan. Berikut hasil perumusan bentuk intervensi:

-          Berdasarkan identifikasi masalah dan kebutuhan, kapasitas Sumber Daya Masyarakat di Desa Wisata Joho akan ditingkatkan dengan mendirikan 5 (lima) Pojok Literasi.

-          Setiap Pojok Literasi akan menerapkan kurikulum eunoia dengan metode pembelajaran berbasis gamification di setiap pojok literasinya.

-          Menggali potensi khas Desa Wisata Joho serta membuat batik khas Desa Wisata Joho untuk menjadi produk branding di Desa Wisata Joho.

-           


Gambar 4 Perumusan Bentuk Intervensi

Tahap Pelaksanaan:

a.       Forum Group Discussion (FGD) dan Sosialisasi

Forum Group Discussion dan Sosialisasi terlaksana di Balai Desa Joho dihadiri Kepala Desa dan jajaran, Tim Support System, dan Perwakilan tiap Pojok Literasi dengan hasil Forum Group Discussion (FGD):

-          Mendirikan 5 (lima) Pojok Literasi yaitu Pojok Literasi Pendidikan (Lentera Wilis), Pojok Literasi Lingkungan (KWT Sido Makmur Mulya), Pojok Literasi Kesenian (Setiyo Budoyo), Pojok Literasi Wisata (Kelompok DE-WI), dan Pojok Literasi EKRAF (BUMDes Joho Lestari);

-          Menerapkan Kurikulum Eunoia dengan metode Gamification pada tiap Pojok Literasi;

-          Merencanakan motif untuk Batik Khas Desa Wisata Joho berdasarkan segala potensi serta keunikan yang ada di Desa Wisata Joho.


Gambar 5 Forum Group Discussion (FGD)

b.      Kegiatan Tahap I

Kami melaksanakan diskusi bertema media pembelajaran berbasis gamification di tiap Pojok Literasi dengan topik yang sesuai konsentrasi tiap Pojok Literasi.

Gambar 6 Diskusi Tiap Pojok Literasi pada Kegiatan Tahap I

c.       Kegiatan Tahap II

Agenda pelatihan, pembinaan, dan pemberdayaan untuk tiap Pojok Literasi menjadi fokus kami dalam Kegiatan Tahap II sehingga anggota Pojok Literasi memahami manajemen potensi di tiap Pojok Literasi. Berikut hasil Kegiatan Tahap II:

Gambar 7 Diskusi Tiap Pojok Literasi pada Kegiatan Tahap II

d.      Soft Launching Smart Education Village (Festival Jenggirat)

Nama Festival Jenggirat merupakan hasil diskusi Pojok Literasi untuk Soft Launching Smart Education Village. Mas Bayu dari Pojok Literasi Wisata, mengusulkan nama Festival Jenggirat yang berarti Desa Wisata Joho siap mejenggiratkan (jenggirat berarti �Kaget� dalam Bahasa jawa) masyarakat sebagai penanda bahwa Desa Wisata Joho siap memancarkan pesona melengkapi sinar Indonesia Emas 2045. Pada Festival Jenggirat selama 3 hari 3 malam, terdapat Project Bersama (UTS) sebagai aktualisasi 4 pertemuan Pojok Literasi. Festival Jenggirat diawali dengan Minum 1000 Madu. Selain itu, juga ada lomba karnaval, tumpeng, waroeng jadoel, jaranan, dan ditutup dengan wayang.


Gambar 8 Minum 1000 Madu

e.      Kegiatan Tahap III

Pelatihan Public Service dan Digital Marketing pada Kegiatan Tahap III juga persiapan 2 Project bersama yaitu Outbond (rebranding Paket Desa Wisata Joho) dan Grand Launching Smart Education Village & Wisuda Akbar Pojok Literasi.


Gambar 9 �Kegiatan Tahap III

f.        Outbond

Outbond sebagai multiplier effect ekonomi dari Soft Launching dan Grand Launching Smart Education Village.


Gambar 10 Kegiatan Outbond Komunitas Honda

g.       Grand Launching Smart Education Village & Wisuda Akbar Pojok Literasi


Gambar 11 Launching Batik Khas Desa Wisata Joho

 

Grand Launching Smart Education Village & Wisuda Akbar Pojok Literasi dilaksanakan bertepatan Hari Sumpah Pemuda dan diisi oleh pemuda Desa Wisata Joho. Kegiatan ini beragenda penampilan Pojok Literasi: Kesenian � Setiyo Budoyo (Karawitan dan Lesung), Pendidikan � Lentera Wilis (Kolosal Pemuda Pancasila), Literasi Wisata � DEWI dan Ekonomi Kreatif � EKRAF (Grand Launching Batik Khas Joho dan UMKM Center), Lingkungan � Sido Makmur Mulyo (Panen Greenhouse di Stand Waroeng Djadoel), dan Wisuda Akbar. Kegiatan ini mendapat respon positif dari Bupati Kediri (Hanindhito Himawan Pramana, S.H.). Motif Batik Khas Desa Wisata Joho adalah motif gringsing yang mewakili motif khas Kabupaten Kediri, motif batu dan burung podang yang menggambarkan sumber podang, dan motif matematika sebagai penanda kolaborasi kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh PPK Ormawa HIMAPTIKA.


Gambar 12 Wisuda Akbar Pojok Literasi Desa Wisata Joho

 

Dengan telah launchingnya Smart Education Village yang ditandai dengan Launching Batik Khas Desa Wisata Joho serta Wisuda Akbar 5 (lima) pojok literasi, hal ini membuat Desa Wisata Joho telah siap untuk menerapkan konsep hyperlocal tourism hub demi mewujudkan desa wisata berkelanjutan.

 

KESIMPULAN

Kegiatan PPK Ormawa HIMAPTIKA memiliki tingkat persentase keberhasilan berdasarkan capaian tujuan (Smart People, Smart Mobility, Smart Tourism, Smart Environment, dan Smart Economy) dan indikator keberhasilan serta luaran wajib, tambahan, dan pengembang) oleh Tim PPK Ormawa HIMAPTIKA Universitas Nusantara PGRI Kediri sebesar 100% berhasil tercapai. Saran-Saran Konkret untuk tindak lanjut Program dari Tim PPK HIMAPTIKA beberapa pengembangan dalam bentuk hyperlocal tourism hub menuju reformasi digital di Desa Wisata Joho sehingga mampu lebih melengkapi sinar Indonesia Emas 2045. Ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Direktur Pembelajaran Dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, Dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi yang telah mendanai Program Penguatan Kapasitas Organiasi Mahasiswa HIMAPTIKA (PPK Ormawa Himaptika).


 

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Moch Choirul, & Pardianto, Pardianto. (2022). Literasi Komunikasi Wisata Desa Berbasis Teknologi Informasi: Studi di Desa Gondoruso Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Jurnal Ilmu Komunikasi, 12(2), 127�147.

 

As�ari, Hasim. (2019). Implementasi Kebijakan Tata Kelola Sampah di Kota Pekanbaru. PROSIDING, 83.

 

Esferansa, Bela. (2021). Implementasi Program Lomba Kampung Surabaya Smart City Dalam Menunjang Penataan Lingkungan Yang Baik Di Kota Surabaya (Studi di Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya). Universitas Bhayangkara Surabaya.

 

Fairuza, Mia. (2017). Kolaborasi antar stakeholder dalam pembangunan inklusif pada sektor pariwisata (studi kasus wisata Pulau Merah di Kabupaten Banyuwangi). Kebijakan Dan Manajemen Publik, 5(3), 1�13.

 

Fathurrahman, Izzan. (2021). Melestarikan Pekerja Rentan di Balik Ekonomi Inovasi: Praktik Kerja Perusahaan Teknologi kepada Mitra Pengemudi Ojek Online di Indonesia. Menyoal Kerja Layak Dan Adil Dalam Ekonomi Gig Di Indonesia, 79.

 

Kediri, Radar. (n.d.). Desa Joho Kecamatan Semen. Retrieved January 16, 2024, from https://radarkediri.jawapos.com/features/781273795/desa-joho-kecamatan-semen

 

Khusna, Itsna Hidayatul, Santoso, Edi, Pangestuti, Sri, Setiansah, Mite, Novianti, Wiwik, & Adi, Tri Nugroho. (2022). Mengangkat Potensi Lokal Melalui Hyperlocal Communication. Jurnal Pustaka Komunikasi, 5(2), 372�381.

 

Khusna, Itsna Hidayatul, Sari, Dian Bestari, Romauli, Nethania, Zaki, Fairuz Naufal, Tanjung, Novriani, Armayanti, Arifah Nova, Sari, Alma Rizkita, Romadhona, Sagita Sana�a, Harahap, Alfin Dimawan, & Syah, Suherman. (2022). Rumah Reka Cipta Desa Wisata Jetis Mengangkat Potensi Wisata Berbasis Partisipasi Komunitas Melalui Hyperlocal Communication. Prosiding Semnaskom-Unram, 4(1), 201�214.

 

Kuswahono, Deny. (2019). Pembuatan Zona Edukasi Untuk Pengembangan Lingkungan Edukatif Di RW 08 Kelurahan Balas Klumprik Kecamatan Wiyung Kota Surabaya. PKM-CSR, 2, 1330�1336.

 

Mahayana, I. (2021). Dinamika Bahasa Tabu Di Desa Tenganan Pegringsingan: Sebuah Desa Wisata Di Bali Timur.

 

Perdesaan, Dirjen Pembangunan Desa dan. (2021). No Title.

 

Permana, Chrisna T., Mukaromah, Hakimatul, Rahayu, Paramita, Astuti, Winny, Andini, Isti, Rahayu, Murtanti Jani, Rini, Erma Fitria, Putri, Rufia A., & Pujantiyo, Bambang S. (2023). Heritage dan Resiliensi Kota. Deepublish.

 

RAHMAN, ABDUL. (n.d.). Peran Pemerintah Daerah Dalam Penyelenggaraan Promosi Pariwisata Sumber Podang.

 

Susiawati, Wati. (2018). UIN Syarif Hidayatullah Jakarta e-mail: sujiyo@ uinjkt. ac. id, usadaummah@ gmail. com. Literasi Digital Dalam Agama Dan Sains Untuk Mewujudkan Kecakapan Hidup Abad 21, 521.

 

Triaryanti, Intan Margaretha. (2019). Collaborative Governance Dalam Pengelolaan Bumdes Di Desa Wisata Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. UNIVERSITAS AIRLANGGA.