PENETAPAN
KADAR FLAVONOID TOTAL INFUSA RAMBUT JAGUNG MANIS (Zea mays Saccharata Sturt)
MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS SECARA KOLORIMETRI
Anita
Mursiany1, Recta Olivia Umboro2, Truly Dian Anggraini3
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional1,3,
Universitas Qomarul Huda Badaruddin2
Rambut jagung manis
selama ini dianggap sebagai limbah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air rambut jagung muda umur 40 hari dan
rambut jagung umur 60 hari mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin,
tanin, dan fenol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan total
flavonoid pada infusa rambut jagung manis. Metode penelitian yang digunakan
adalah penentuan kadar flavonoid total yang dilakukan secara Spektrofotometri
UV-Vis secara kolorimetri. Kandungan total flavonoid dalam (mgQE/g ekstrak)
berturut-turut adalah 0,0061, 0,0047, 0,0085, dan dalam persen (%) 0,61, 0,47,
0,85. Sehingga dapat disimpulkan bahwa infusa rambut jagung manis (Zea mays
Saccharata Sturt) mengandung senyawa flavonoid dan rata-rata kadar flavonoid
total sebesar 0,0064 � 0,0019 mgQE/g ekstrak dengan persentase sebesar 0,6433 �
0,1921%.
Kata kunci: Flavonoid,
rambut jagung manis, Spektrofotometri UV-Vis.
Abstract:
Sweet corn hair has been considered as waste
and has not been utilized optimally. The research shows that extract water of
40 days young corn hair and 60 days old corn hair contains flavonoids,
alkaloids, saponins, tannins, and phenols. This research is aimed to determine
the total flavonoids in infusa of sweet corn hair. The research methode used
the determination of total flavonoid levels conducted by UV-Vis
Spectrophotometry by colorimetry. The total flavonoid content in (mgQE/g
extract) was 0.0061, 0.0047, 0.0085, and in percent (%) in succession 0.61,
0.47, 0,85. So it can be concluded that infusa of sweet corn hair (Zea mays Saccharata
Sturt) contain flavonoid and the average of total flavonoid levels amount
0.0064�0.0019 mgQE/g extract with the percentage amount 0.6433� 0.1921%.
Keywords:
Court Flavonoid, sweet corn hair,� UV-Vis
Spectrophotometry.
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Penggunaan obat tradisional di kalangan
penduduk Indonesia semakin meningkat (Adiyasa & Meiyanti, 2021). Penggunaan obat tradisional dipandang sebagai alternatif potensial
terhadap pengobatan modern karena biayanya yang lebih rendah dan efek samping
yang lebih sedikit (Handayani et al., 2019). Namun standarisasi dan regulasi obat tradisional oleh institusi
kesehatan di Indonesia masih kurang. Pemerintah belum sepenuhnya
mengintegrasikan pengobatan tradisional ke dalam sistem layanan kesehatan
nasional, dan diperlukan lebih banyak penelitian dan pendidikan mengenai hal
ini (Nugroho, 2022). WHO menyatakan sekitar sekitar 80% penduduk di dunia menggunakan obat
tradisional yang berasal dari tanaman (Putri, 2015). Pemanfaatan tanaman obat tersebut meliputi pencegahan dan pengobatan
suatu penyakit maupun pemeliharaan kesehatan. Bagian tanaman yang digunakan
sebagai bahan obat tradisional meliputi akar, batang, daun, bunga, dan buah.
Penggunaan obat tradisional dilakukan dengan cara sederhana seperti diremas,
ditumbuk, direbus, atau dibakar (Loresa et al., 2023).
Salah satu tanaman yang menarik untuk
diteliti adalah jagung. Tanaman jagung terdiri dari beberapa bagian salah
satunya adalah rambut jagung. Beberapa ciri khas yang membedakan antara jagung
manis dengan jagung yang lainnya adalah rasa manis. Sifat manis pada sweet corn
(jagung manis) disebabkan oleh adanya gen su-1 (sugary), bt-2 (brittle) ataupun
sh-2 (shrunken). Gen ini dapat mencegah pengubah gula menjadi zat pati pada
endosperm sehingga jumlah gula yang ada kira-kira dua kali lebih banyak
dibanding jagung biasa (Iswahyudi, 2020).
Rambut jagung umumnya tidak digunakan
oleh masyarakat atau dapat dikatakan dianggap sebagai limbah. Namun pada rambut
jagung ini mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid yang memiliki
khasiat sebagai tanaman obat, salah satunya adalah antidiabetes (Rachmawaty, 2016).
Flavonoid merupakan salah satu kelompok
senyawa metabolit sekunder yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan
tanaman. Flavonoid menurunkan kadar glukosa darah dengan cara menghambat
pemecahan karbohidrat menjadi glukosa dan menghambat absorbsi glukosa di usus
halus, menstimulasi sekresi insulin oleh sel β pankreas, mengaktifkan
reseptor insulin, dan memperbaiki sel β pankreas yang rusak melalui
aktivitas antioksidan (Kurniatanty & Wadhihah, 2022)
Penetapan kadar flavonoid dapat
dilakukan secara analisis instrumen menggunakan metode Spektrofotrometri UV-Vis
secara kolorimetri. Analisis flavonoid dilakukan dengan menggunakan
Spektrofotometri UV-Vis karena flavonoid mengandung sistem aromatik yang
terkonjugasi sehingga menunjukkan pita serapan kuat pada daerah spektrum sinar
ultraviolet dan spektrum sinar tampak (Aminah et al., 2017). Metode kolorimetri dilakukan dengan pereaksi alumunium klorida (AlCl3)
karena reaksi warna dapat meningkatkan kepekaan dan selektifitas. Flavonoid
dapat membentuk kompleks warna dengan AlCl3 sehingga dapat ditetapkan dengan
metode kolorimetri, dengan adanya pereaksi AlCl3 terjadi kompleks antara
alumunium klorida dengan gugus keton pada atom C-4 dan gugus hidroksi pada atom
C-3 atau C-5 yang dimiliki oleh flavonoid (Ola Beda, 2018).
Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu
dilakukan penelitian yang lebih intensif mengenai pengujian kadar flavonoid
total dari infusa rambut jagung manis, sehingga potensi pemanfaatan bagian
tanaman ini sebagai bahan obat untuk terapi diabetes dapat dikembangkan menjadi
lebih maksimal.
Penelitian tentang penentuan kadar
flavonoid total dalam infusa rambut jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt)
menggunakan spektrofotometri UV-Vis secara kolorimetri memiliki manfaat dalam
mengidentifikasi senyawa flavonoid, mengoptimalkan proses ekstraksi, mengevaluasi
potensi antioksidan, mengembangkan produk fungsional, memberikan wawasan
tentang komposisi kimia rambut jagung manis, berkontribusi pada literatur
ilmiah, dan mendukung pemanfaatan sumber daya alam lokal untuk pembangunan
berkelanjutan.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini
menguraikan langkah-langkah metodologi secara sistematis, dimulai dengan
pengadaan rambut jagung manis dari Desa Wonorojo, Kecamatan Reban, Kabupaten
Batang, diikuti oleh proses persiapan sampel yang melibatkan sortasi basah,
pencucian, pengeringan, dan sortasi kering. Pembuatan infusa dilakukan dengan
menggunakan 10 gram rambut jagung manis, dan analisis kuantitatif kandungan
flavonoid dilakukan dengan menguapkan 20 mL infusa, diikuti oleh penyaringan
dan uji warna kuning menggunakan uji amonia.
Proses analisis
kualitatif kandungan flavonoid melibatkan pembuatan larutan baku induk
kuersetin 1.000 ppm, penentuan panjang gelombang maksimum kuersetin dengan
spektrofotometri UV-Vis, dan penentuan operating time. Pembuatan larutan
standar kuersetin dengan konsentrasi bertingkat dilakukan untuk menyiapkan
larutan pembanding. Selanjutnya, penentuan kadar flavonoid total infusa rambut
jagung manis dilakukan dengan menggunakan larutan sampel, larutan blanko, dan
mengukur absorbansinya pada panjang gelombang 442 nm. Seluruh proses analisis
kualitatif dan kuantitatif dilakukan sebanyak tiga kali.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Rambut jagung manis
yang digunakan dalam penelitian ini diambil secara manual dengan cara
memisahkan rambut jagung manis dari kulit jagung dan buahnya (Sihaloho, 2020). Proses pengambilan dilakukan di pagi hari sebelum
matahari terbit dan pengambilan bahan dari satu tanaman dengan lokasi yang sama
yaitu Desa Wonorojo, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang dan dalam sekali waktu
pemanenan saja untuk menghindari adanya perbedaan kualitas kandungan kimia
rambut jagung manis.
Proses pengeringan
rambut jagung manis dilakukan dengan cara dikeringkan tanpa paparan sinar
matahari secara langsung dan ditutup dengan kain hitam. Pengeringan dengan kain
hitam memiliki kadar flavonoid yang paling tinggi karena simplisia tidak
terkena sinar matahari secara langsung sehingga kandungan aktif dalam simplisia
tidak rusak dan juga memiliki sirkulasi udara yang bagus sehingga mengoptimalkan
proses pengeringan (Huda, 2019). Proses pengeringan dilakukan selama � 7 hari sampai
benar-benar kering. Simplisia rambut jagung manis yang telah kering kemudian
dipotong menggunakan gunting untuk memudahkan proses pengecilan ukuran
simplisia setelah itu simplisia rambut jagung manis diserbuk menggunakan
blender (Rahma, 2019). Menurut Depkes RI, tujuan dari penyerbukan adalah
untuk mendapatkan serbuk rambut jagung manis yang halus sehinggga dapat
mempermudah proses penyarian. Karena rambut jagung manis dalam bentuk serbuk
memiliki luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dalam bentuk rambut
jagung manis utuh. Semakin kecil bentuk sampel maka semakin besar luas
permukaannya maka terjadinya kontak antara pelarut dalam proses ekstraksi akan
semakin besar, sehingga penyarian akan bertambah baik karena simplisia yang
bersentuhan dengan cairan penyari makin luas. Serbuk dengan tingkat penghalusan
yang tinggi memungkinkan terjadinya kerusakan sel-sel semakin besar� sehingga memudahkan pengambilan bahan
kandungan langsung oleh bahan pelarut (Mufadal, 2015). Berat sampel basah rambut jagung manis yang diambil
adalah 2 kg, berat rambut jagung kering yang diperoleh adalah 500 gram dan
berat serbuk halus yang diperoleh 450 gram.
Penelitian yang dilakukan ini menggunakan metode penyarian yang dilakukan adalah dengan cara
infundasi. Metode yang digunakan adalah infundasi karena pelarut yang digunakan
sangat murah dan mudah didapatkan serta peralatan yang digunakan sangat mudah digunakan
dan sederhana, selain itu senyawa yang diidentifikasi adalah senyawa flavonoid
yang dapat larut dalam air. Penyarian ini dibuat dengan menimbang simplisia
rambut jagung manis sebanyak 10 gram. Proses infusa dilakukan selama 15 menit
terhitung saat suhu telah mencapai 90�C dengan sesekali diaduk
(sekurang-kurangnya sebanyak 4 kali). Proses pemanasan dilakukan pada suhu 90�C
dimaksudkan agar senyawa kimia yang terdapat dalam rambut jagung manis dapat
tersari seluruhnya.
Infusa diserkai dengan
menggunakan kain flanel. Penyerkaian dilakukan secara langsung dalam keadaan
panas. Hal ini dimaksudkan supaya senyawa yang terkandung dalam rambut jagung
manis juga dapat tersari. Selanjutnya untuk mencukupi kekurangan air ditambah
air mendidih melalui ampasnya sampai volume yang didapat sebesar 100 mL (Van
Duin, 1960). Menurut Depkes RI, (1995), infusa yang mengandung bukan berkhasiat
keras dibuat dengan menggunakan 10 % simplisia. Berikut hasil ekstraksi rambut
jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt) dapat dilihat pada tabel I dan gambar
1
Tabel 1 Hasil ekstraksi� rambut jagung manis
|
Hasil |
Organoleptis |
Pengamatan |
|
Infusa rambut jagung manis (Zea mays
Saccharata Sturt) |
Bentuk |
Cairan |
|
Warna |
Coklat kekuningan |
|
|
Bau |
Khas rambut jagung manis |
|
|
Rasa |
Manis |
Gambar 1 Hasil infusa rambut jagung manis (Zea mays
Saccharata Sturt)
Infusa rambut jagung
manis yang diperoleh kemudian dianalisis kandungan flavonoid menggunakan kertas
saring dengan uap amonia. Hasil uji keberadaan flavonoid menggunakan kertas saring
dengan uap amonia hasilnya berwarna kuning, hasil ini menandakan bahwa infusa
rambut jagung manis mengandung senyawa flavonoid hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa jika kertas saring berwarna kuning setelah
diuapi amonia maka mengandung flavonoid (RATU, 2021). Warna kertas saring sebelum diuapi amonia berwarna
kecoklatan tetapi setelah diuapi amonia berwarna kuning.
Struktur flavonoid
memiliki gugus auksokrom OH dengan atom O yang sifatnya senang untuk menarik
elektron, dengan adanya basa amonia akan mudah melepaskan H yang kemudian
diikat oleh amonia sehingga O memiliki 3 pasang elektron bebas. Warna kuning
terjadi karena terbentuknya kuinoid. Kuinoid merupakan kromofor yang dapat
menyebabkan suatu senyawa menjadi berwarna. Warna dapat cepat kembali seperti
semula karena di udara terdapat banyak uap air (H-OH) yang akan memberikan H
pada O yang kelebihan elektron sehingga reaksi kembali seperti semula (Iskandar, 2017). Berikut reaksi yang terjadi ketika senyawa flavonoid
diuapi dengan amonia dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2 Reaksi yang terjadi setelah
flavonoid diuapi amonia
(Markham, 1988 dalam Christinawati, 2007)
Penetapan kadar
flavonoid total infusa rambut jagung manis dilakukan dengan menggunakan
Spektrofotometri UV-Vis dengan metode kolorimetri. Analisis flavonoid dilakukan
dengan spektrofotometri UV-Vis karena flavonoid mengandung sistem aromatik yang
terkonjugasi sehingga menunjukkan pita serapan kuat pada daerah spektrum sinar
ultraviolet� dan spektrum sinar tampak (Aminah et al., 2017). Penentuan jumlah kadar flavonoid total dari infusa
rambut jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt) dilakukan dengan kolorimetri
komplementer yang mempunyai prinsip pengukuran berdasarkan pembentukan warna.
Prinsip penetapan flavonoid dengan metode kolorimetri AlCl3 adalah pembentukan
kompleks antara AlCl3 dengan gugus keto pada atom C-4 dan juga dengan gugus
hidroksi pada atom C-3 atau C-5 yang bertetangga dari flavon dan flavonol.
Baku yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kuersetin. Pemilihan baku kuersetin didasarkan
karena kuersetin merupakan flavonoid golongan flavonol yang mempunyai gugus
keto pada C-4 dan memiliki gugus hidroksi pada atom C-3 atau C-5 yang
bertetangga dari flavon dan flavonol. berdasarkan alasan tersebut maka
kuersetin dapat digunakan sebagai baku penelitian ini.
Penetapan panjang
gelombang maksimum bertujuan untuk menentukkan panjang gelombang pengukuran
dimana kompleks antara kuersetin dengan AlCl3 memberikan absorbansi optimum.
Penetapan panjang gelombang maksimum merupakan faktor penting dalam analisis
kimia dengan metode spektrofotometri. Pengukuran pada panjang gelombang
maksimum akan memberikan perubahan absorbansi paling besar untuk setiap satuan
kadar. Selain itu, kurva absorbansi pada sekitar panjang gelombang maksimum
relatif datar sehingga jika akan dilakukan pengukuran ulang dan replikasi akan
meminimalkan terjadinya kesalahan pengukuran. panjang gelombang maksimum
kompleks yang terbentuk antara kuersetin�
dengan AlCl3 adalah 434,2 nm. Pada penelitian ini dilakukan verifikasi
penetapan panjang gelombang maksimum teoritis karena penelitian dilakukan pada
kondisi, alat, bahan, waktu dan individu yang berbeda sehingga dapat dihasilkan
panjang gelombang maksimum yang berbeda (Sasongko et al., 2017).
Penetapan panjang gelombang
maksimum dilakukan terhadap larutan baku induk kuersetin dengan konsentrasi
1.000 ppm untuk memastikan bahwa pada panjang gelombang tersebut benar-benar
terjadi absorbansi yang maksimum dan untuk mengetahui reprodusibilitas metode
yang digunakan. Pembacaan absorbansi dilakukan pada rentang panjang gelombang
antara 400-800 nm karena kompleks antara kuersetin dengan AlCl3 akan
menghasilkan warna yang memiliki panjang gelombang maksimum pada rentang
tersebut (Pujiastuti & El�Zeba, 2021).
Penentuan panjang
gelombang maksimum diperoleh panjang gelombang maksimum untuk kuersetin adalah
442 nm.
Penetapan operating
time perlu dilakukan untuk meminimalkan terjadinya kesalahan pengukuran. Hal
ini disebabkan karena senyawa yang akan diukur absorbansinya dalam penelitian
ini merupakan suatu senyawa kompleks antara kuersetin dengan AlCl3. Senyawa
kompleks ini membutuhkan waktu agar reaksi yang terbentuk stabil. Bila pengukuran
dilakukan sebelum operating time, maka terdapat kemungkinan reaksi yang
terbentuk belum sempurna. Pada gambar 3 ditunjukkan bahwa ikatan yang terbentuk
antara AlCl3 dengan gugus �OH posisi orto pada kuersetin bersifat tidak stabil
dengan adanya asam. Oleh sebab itu, diperlukan penentuan operating time
sehingga diperoleh rentang waktu pada saat absorbansi kompleks kuersetin dengan
AlCl3 yang telah stabil. Bila pengukuran dilakukan setelah operating time,
terdapat kemungkinan bahwa senyawa kompleks antara kuersetin dan AlCl3 menjadi
rusak.
Gambar 3 Reaksi pembentukan kompleks antara kuersetin
dengan AlCl3
(Indrayani,
2008)
Penentuan operating
time kompleks kuersetin dengan AlCl3 dilakukan menggunakan larutan baku
kuersetin dengan kadar 1.000 ppm pada panjang gelombang maksimum yaitu 442 nm
dan dicari waktu kestabilan pada rentang waktu 4-20 menit dengan interval 4
menit. Berikut data hasil operating time dapat dilihat pada gambar 4
Gambar 4 Spektrum pengukuran operating time
kompleks antara kuersetin dengan AlCl3
Dari spektrum
pengukuran operating time (gambar 4), terlihat bahwa absorbansi yang dihasilkan
kompleks kuersetin dengan AlCl3 telah stabil sejak menit ke-12 hingga menit
ke-16 dengan hasil absorbansi 1,572 dan 1,607. Hal ini ditunjukkan dengan
spektrum yang membentuk garis hampir lurus pada menit ke-12 hingga menit ke-16,
tetapi pada menit ke-20 absorbansinya naik menjadi 2,190 sehingga waktu
operating time yang digunakan adalah menit ke-20, artinya pada rentang waktu
tersebut absorbansi senyawa yang terukur relatif stabil. Kestabilan absorbansi
ini menandakan reaksi pembentukan kompleks sudah optimum. Dari percobaan
ditetapkan operating time yang digunakan adalah 20 menit.
Pada penelitian ini
untuk menentukkan kadar flavonoid total pada sampel infusa rambut jagung manis
(Zea mays Saccharata Sturt) digunakan kuersetin sebagai larutan standar.
Larutan standar yang digunakan adalah 1.000 ppm kemudian dibuat deret
konsentrasi 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 ppm. Digunakan deret
konsentrasi karena metode yang digunakan dalam menentukkan kadar adalah metode
yang menggunakan persamaan kurva baku, untuk membuat kurva baku terlebih dahulu
dibuat beberapa deret konsentrasi untuk mendapatkan persamaan linear yang dapat
digunakan untuk menghitung kadar (Aminah et al., 2017). selain itu rangkaian konsentrasi ini dimaksudkan
untuk mengurangi ketidakpastian analisa sehingga ketelitian akan meningkat (Azizah & Wati, 2018). Berikut data tabel hasil pengukuran absorbansi
larutan standar kuersetin pada panjang gelombang maksimum 442 nm dapat dilihat
pada tabel 2�
Tabel 2 Hasil pengukuran absorbansi larutan standar
kuersetin pada panjang gelombang maksimum 442 nm
|
Konsentrasi (ppm) |
Absorbansi |
|
10 |
0,358 |
|
20 |
0,493 |
|
30 |
0,535 |
|
40 |
0,608 |
|
50 |
0,789 |
Dari hasil pengukuran
absorbansi kurva baku kuersetin (tabel II), dapat disimpulkan bahwa bahwa
semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka semakin tinggi pula absorbansi
yang diperoleh. Hasil pengukuran absorbansi larutan standar kuersetin pada
panjang gelombang maksimum 442 nm sudah sesuai dengan literatur yang menyatakan
bahwa nilai suatu absorbansi akan bergantung pada kadar zat yang terkandung
didalamnya, semakin banyak kadar zat yang terkandung dalam suatu sampel maka
semakin banyak molekul yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang
tertentu sehingga nilai absorbansi semakin besar atau dengan kata lain nilai
absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang terkandung didalam
suatu sampel. Setelah diperoleh pengukuran absorbansi pada larutan standar
kuersetin pada panjang gelombang maksimum 442 nm, kemudian dibuat kurva baku
dengan cara menghubungkan konsentrasi larutan standar dengan hasil serapannya
yang diperoleh dari pengukuran. Berikut hasil kurva baku kuersetin pada panjang
gelombang maksimum 442 nm dapat dilihat pada gambar 5.
Gambar 5 Kurva baku kuersetin
Hasil dari kurva baku
kuersetin yang diperoleh (gambar 5) diplotkan antara kadar dan absorbansinya,
sehingga diperoleh nilai intersep sebesar 0,0098 dan nilai slope sebesar 0,2635
dan hasil persamaan regresi linier yaitu y = 0,0098x + 0,2635 dengan nilai R2
yang diperoleh sebesar 0,9488 dan nilai r adalah 0,9740. Persamaan kurva baku
kuersetin dapat digunakan sebagai pembanding untuk menentukan konsentrasi
senyawa flavonoid total pada infusa rambut jagung manis.
Penetapan kadar
flavonoid total infusa rambut jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt)
dilakukan secara kolorimetri, yaitu pembentukkan kompleks antara AlCl3 dengan
flavonoid sehingga terjadi pergeseran pita absorbansi menuju ke panjang
gelombang yang lebih panjang (batokromik). Senyawa flavonoid dapat mengabsorpsi
radiasi elektromagnetik karena flavonoid juga memiliki gugus kromofor dan
auksokrom, sehingga penetapan kadar flavonoid lebih mudah dilakukan secara
kolorimetri yang memiliki selektivitas yang lebih baik.
Penetapan kadar
flavonoid total infusa rambut jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt) diukur
absorbansinya pada panjang gelombang 442 nm. Larutan sampel ditambahkan AlCl3
1,2 %, penambahan larutan AlCl3 bertujuan untuk memberikan efek batokromik
dengan melakukan pergeseran ke arah panjang gelombang yang lebih panjang,
sehingga mengubah panjang gelombang flavonoid masuk ke dalam range panjang
gelombang UV-Vis. Terjadi juga efek hiperkromik atau peningkatan intensitas
larutan flavonoid menghasilkan warna yang lebih kuning. Dan penambahan Kalium
Asetat 120 mM yang bertujuan untuk mempertahankan atau menstabilkan panjang
gelombang pada daerah visible (tampak). Selain itu larutan sampel ditambahkan
aquadest sebagai pengenceran larutan. Fungsi pengenceran adalah untuk
meminimalisir kesalahan, karena hukum Lambert-Beer berlaku pada larutan encer
agar larutan dapat ditembus cahaya, pada konsentrasi tinggi jarak rata-rata di
antara zat pengabsorbsi menjadi kecil sehingga masing-masing zat mempengaruhi
distribusi muatan tetangganya. Interaksi dapat mengubah kemampuan untuk
mengabsorbsi cahaya pada panjang gelombang yang diberikan). Perlakuan didiamkan
selama 20 menit dimaksudkan agar reaksi antara larutan sampel infusa rambut
jagung manis dengan pereaksi-pereaksi yang ditambahkan dapat berlangsung dengan
sempurna.
Selain itu penetapan
kadar flavonoid total digunakan larutan blanko sebagai kontrol yang berfungsi
sebagai pemblank (mengkali nol-kan) senyawa yang tidak perlu dianalisis yang
bertujuan agar pada saat dilakukan pengukuran absorbansi pada sampel, zat-zat
lain yang mungkin saja terdapat dalam sampel tersebut tidak terukur
absorbansinya, sebab jika ikut terukur nilai absorbansi dari sampel tersebut
tidak benar-benar murni. Larutan blanko yang digunakan adalah larutan aquadest.
Berikut data tabel hasil penetapan kadar flavonoid total infusa rambut jagung
manis (Zea mays Saccharata Sturt) pada panjang gelombang maksimum 442 nm dapat
dilihat pada tabel 3
Tabel 3 Hasil penetapan kadar flavonoid
total infusa rambut jagung
manis
|
Replikasi |
Absorbansi |
Kons.awal (mL/100 mL) |
Kand. flavonoid �total (mgQE/g ekstrak) |
Kand. flavonoid total (%) |
|
1 |
0,385 |
12,3979 |
0,0061 |
0,61 |
|
2 |
0,356 |
9,4387 |
0,0047 |
0,47 |
|
3 |
0,432 |
17,1938 |
0,0085 |
0,85 |
|
Rata-rata |
0,0064�0,0019 |
0,6433�0,1921 |
||
Dari hasil penetapan
kadar flavonoid total infusa rambut jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt)
pada (tabel III) diperoleh kadar flavonoid total infusa rambut jagung manis
dalam (mgQE/g ekstrak) berturut-turut 0,0061, 0,0047, 0,0085, dan kandungan
flavonoid total dalam (%) berturut-turut 0,61, 0,47, 0,85. Sehingga diperoleh
kadar rata-rata flavonoid total sebesar 0,0064�0,0019 mgQE/g ekstrak dengan
persentase kadar flavonoid total sebesar 0,6433�0,1921 %.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa rambut jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt) yang digunakan dalam penelitian dengan metode pengambilan yang dilakukan di pagi hari sebelum matahari terbit untuk meminimalkan perbedaan kualitas kandungan kimia. Proses pengeringan rambut jagung manis menggunakan kain hitam selama � 7 hari, yang terbukti memiliki kadar flavonoid yang paling tinggi, kemudian dipotong, diblender, dan diuji melalui metode infundasi. Analisis kandungan flavonoid menggunakan metode kolorimetri dengan uji amonia menunjukkan adanya senyawa flavonoid dalam infusa rambut jagung manis, sesuai dengan literatur.
Penetapan kadar flavonoid total dilakukan dengan metode kolorimetri menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 442 nm. Kurva baku kuersetin digunakan sebagai pembanding untuk menentukan konsentrasi senyawa flavonoid total pada infusa rambut jagung manis. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar flavonoid total infusa rambut jagung manis sebesar 0,0064�0,0019 mgQE/g ekstrak, atau setara dengan 0,6433�0,1921%. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa metode infundasi dan kolorimetri menggunakan spektrofotometri UV-Vis dapat digunakan secara efektif untuk penentuan kadar flavonoid total pada infusa rambut jagung manis.
DAFTAR PUSTAKA
Adiyasa, M. R., &
Meiyanti, M. (2021). Pemanfaatan obat tradisional di Indonesia: distribusi dan
faktor demografis yang berpengaruh. Jurnal Biomedika Dan Kesehatan, 4(3),
130�138.
Aminah, A., Tomayahu,
N., & Abidin, Z. (2017). Penetapan kadar flavonoid total ekstrak etanol
kulit buah alpukat (Persea americana Mill.) dengan metode spektrofotometri
UV-Vis. Jurnal Fitofarmaka Indonesia, 4(2), 226�230.
Azizah, Z., & Wati,
S. W. (2018). Skrining fitokimia dan penetapan kadar flavonoid total ekstrak
etanol daun Pare (Momordica charantia L.). Jurnal Farmasi Higea, 10(2),
163�172.
Handayani, R. P.,
Puspariki, J., & Nurmala, T. (2019). Persepsi masyarakat kabupaten
purwakarta terhadap pengobatan tradisional berdasarkan kelompok usia. Pharma
Xplore: Jurnal Sains Dan Ilmu Farmasi, 4(2).
Huda, M. S. (2019). Ekstraksi
dan uji aktivitas antioksidan senyawa aktif dengan variasi pengeringan alga
merah (Eucheuma cottonii) Pantai Wongsorejo Banyuwangi. Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Iskandar, S. (2017). Ilmu
Kimia Teknik. Deepublish.
Iswahyudi, L. (2020). Pengaruh
Jenis Kemasan Plastik Terhadap Perubahan Kimia, Fisik Dan Organoleptik Jagung
Manis (Zea Mays Saccharata) Selama Penyimpanan Pada Suhu Rendah. Sultra
Journal of Agricultural Research, 1(1), 37�53.
Kurniatanty, I., &
Wadhihah, Y. (2022). Kadar Gula Darah Dan Gambaran Histopatologi Pankreas Tikus
Putih (Rattus norvegicus L.) Hiperglikemia Setelah Pemberian Ekstrak Etanol
Jenggot Musa (Tillandsia usneoides L.). Bioveritas Journal of Biology, 1(01),
23�30.
Loresa, D., Yusro, F.,
& Mariani, Y. (2023). Pemanfaatan tanaman pekarangan sebagai bahan obat
tradisional oleh Battra Suku Melayu di Desa Samustida Kabupaten Sambas. Jurnal
Serambi Engineering, 8(2).
Mufadal, M. (2015). Isolasi
senyawa alkaloid dari alga merah (eucheuma cottonii) menggunakan kromatografi
lapis tipis serta analisa dengan spektrofotometer UV-Vis dan FTIR.
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Nugroho, A. P. (2022).
Kebijakan Afirmatif Untuk Obat Tradisional di Indonesia. Kajian, 27(1),
57�70.
Ola Beda, T. (2018). Penetapan
Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanol Daun Sisik Naga (Drymoglossum
Piloselloides [L.] Presl) Dengan Metode Kolorimetri ALCL3. Poltekkes
Kemenkes Kupang.
Pujiastuti, E., &
El�Zeba, D. (2021). Perbandingan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanol 70% Dan
96% Kulit Buah Naga Merah Hylocereus polyrhizus) DENGAN SPEKTROFOTOMETRI. Cendekia
Journal of Pharmacy, 5(1), 28�43.
Putri, A. M. (2015).
Pemanfaatan obat herbal topikal pada recurrent aphthous stomatitis dengan
pertimbangan manfaat dan keamanannya. Makassar Dental Journal, 4(5).
Rachmawaty, D. U.
(2016). Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, etil asetat dan petroleum
eter rambut jagung manis (Zea mays ssaccharata sturt) terhadap bakteri
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim.
Rahma, K. D. (2019). Pengaruh
ekstrak buah Kurma (Phoenix dactylifera l.) sebagai antioksidan terhadap
gambaran histopatologi glomerulus mencit yang dipapar rhodamin B.
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Ratu, C. J. (2021). Pengaruh
Variasi Konsentrasi Tween 80-Span 60 Sediaan Emulgel VCO Dan Ekstrak Daun Kelor
(Moringa oleifera Lam.). Stikes Karya Putra Bangsa Tulungagung.
Sasongko, A., Yulianto,
K., & Sarastri, D. (2017). Verifikasi metode penentuan logam kadmium (Cd)
dalam air limbah domestik dengan metode spektrofotometri serapan atom. JST
(Jurnal Sains Dan Teknologi), 6(2), 228�237.
Sihaloho, A. S. (2020). Respon
Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays Saccharata Sturt) dengan
Aplikasi Kompos Limbah Jagung dan Mikoriza. Universitas Medan Area.