HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU NIFAS DENGAN KEIKUTSERTAAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI

 

���� Indri Milatul Agustina1, Nunik Puspitasari2

Universitas Airlangga

[email protected]

 

Abstrak:

Keikutsertaan ibu nifas menggunakan Alat Kontrasepsi merupakan hal yang penting untuk menjaga jarak kehamilan, data yang dimiliki BKKBN menyebutkan penggunaaan Alat Kontrasepsi pasca persalinan masih rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan penggunaan Alat Kontrasepsi yang kurang adanya dengan pengetahuan ibu yang kurang juga. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu nifas dengan keikutsertaan penggunaan Alat Kontrasepsi. Penelitian ini menggunakan studi literature review. Database yang diakses antara lain Pencarian artikel ini menggunakan kriteria yang ditentukan dengan model PICO, di Indonesia. Ditemukan sebanyak 4 artikel yang sesuai dengan kriteria dan dianalisis dalam penelitian ini. Hasil dalam penelitian yang ada menunjukan Ibu dengan pengetahuan yang baik akan mempengaruhi persepsi seseorang ketika menangkap informasi. Ibu dengan pengetahuan yang tinggi akan berpeluang sebesar 10,75 kali lebih besar menggunakan Alat Konrasepsi IUD dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan kurang. Ditemukan adanya hubungan antara pengetahuan dengan keikutsertaan penggunaan Alat Kontrasepsi pada ibu nifas, ibu nifas dnegan pengetahuan yang kurang mempunyai sikap negative dalam keikutsertaan mengguna Alat Kontrasepsidisbanding dengan ibu yang mempunyai pengetahuan baik. Upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan keikutsertaan pengguna Alat Kontrasepsi pada ibu nifas, dengan mengikuti konseling dan kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh para tenaga kesehatan.

 

Kata kunci: Alat Kontrasepsi, Pengetahuan, Keikutsertaan Ibu Nifas.

 

Abstract:

The participation of postpartum mothers in using contraceptives is important to maintain pregnancy spacing. Data held by the BKKBN states that the use of postpartum contraceptives is still low. One of the factors that causes the lack of use of contraceptives is also the mother's lack of knowledge. This research was conducted to determine the relationship between postpartum mothers' knowledge and participation in the use of contraceptives. This research uses a literature review study. The databases accessed include: Search for this article using criteria determined by the PICO model, in Indonesia. A total of 4 articles were found that met the criteria and were analyzed in this study. The results in existing research show that mothers with good knowledge will influence a person's perception when capturing information. Mothers with high knowledge are 10.75 times more likely to use an IUD contraceptive compared to mothers who have less knowledge (Etnis et al., 2018). It was found that there was a relationship between knowledge and participation in using contraceptives in postpartum mothers, postpartum mothers with less knowledge had a negative attitude in participating in using contraceptives compared to mothers who had good knowledge. Efforts that can be made are to increase the participation of contraceptive device users among postpartum mothers, by participating in counseling and training activities organized by health workers.

 

Keywords: Contraceptive Devices, participation, Contraceptive Devices.

Corresponding: Indri Milatul Agustina

E-mail: [email protected]

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

PENDAHULUAN

Menurut World Health Organization (WHO) mengenai Keluarga Berencana merupakan upaya yang membantu pasangan suami istri dalam menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, pengaturan kehamilan termasuk interval atau jarak serta mengontrol waktu kelahiran dan penentuan jumlah anak dalam keluarga (Susiloningtyas et al., 2021). Program keluarga berencana (KB) juga menjadi salah satu strategi yang tercantum dalam pembangunan jangka menengah nasional 2020-2014 sebagai upaya dalam pembangunan nasional (Khalish et al., 2020).

Ibu pasca salin sebanyak lebih dari 95% tercatat ingin menunda kehamilan berikutnya dengan interval 2 tahun serta terdapat yang tidak ingin hamil lagi (Huang et al., 2012). Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2021 mencatat dalam 10 tahun terakhir terdapat 11% pasangan usia subur yang tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan jarak kelahiran dimana angka ini masih jauh dari target yakni 7,4%. Kehamilan yang tidak diinginkan atau bahkan tidak direncanakan dengan baik akan memberikan dampak buruk bagi ibu dan janin dimana salah satuya dapat menyebabkan kematian ibu dan janin. Angka kematian ibu pada tahun 2020 mengalami peningkatan hingga mencapai 4.627 jiwa yang disebabkan oleh gangguan selama kehamilan. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa penurunan angka kematian ibu (AKI) dapat dilakukan salah satunya dengan pelayanan keluarga berencana pasca persalinan (Kementerian Kesehatan RI, 2021).

Program Keluarga Berencana pasca persalinan menjadi salah satu metode Aalat Kontrasepsi dalam rentang waktu minggu pertama hingga minggu keenam setelah persalinan. Akan tetapi fakta dan data dilapngan menunjukkan keikutsertaan Keluaega Berencana �pasca persalinan masih rendah di angka 1.340.044 dibandingkan jumlah rata-rata persalinan yang mencapai 5 juta pertahunnya (BKKBN, 2021). Sehingga angka ini masih jauh dari target dan cakupan program KB yang seharusnya. Hal ini sejalan dengan data yang menunukkan bahwa keikutsertaan program KB jangka panjang masih rendah (BKKBN, 2021).

Banyak faktor terkait rendahnya cakupan atau keikutsertaan program Keluarga Berencan khususnya pada ibu pasca salin. Hal ini termasuk pengetahuan ibu mengenai Alat Kontrasepsi pasca salin ataupun minimnya informasi dan sumber daya tenaga kesehatan yang dikerahkan (Niam & dkk., 2022). Informasi dan pengetahuan yang baik akan berdampak pada sikap dan pengambilan keputusan mengikuti program Keluarga Berencana pasca salin. Julina dalam Niam, dkk. (2022) menjelaskan bahwa salah satu faktor yang berpengaruh pada keikutsertaan menjadi akseptor Alat Kontrasepsi pasca salin yakni tingkat pengetahuan yang baik. Pemberian informasi maupun konseling mengenai Keluarga Berencana termasuk dalam salah satu program pelayanan kesehatan ibu hamil yang seharusnya didapatkan. Hal ini dilakukan sebagai peningkatkan pengetahuan ibu yang akan berdampak pada sikap untuk mengikuti Keluarga Berencana. Sehingga, berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti tertarik untuk mengulik lebih dalam bagaimana hubungan pengetahuan ibu dengan keikutsertaan penggunaan Aalat Kontrasepsi.

Penelitian ini dapat memberikan kontribusi penting dalam mengatasi tantangan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan kehamilan yang tidak diinginkan atau tidak direncanakan dengan baik. Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi keputusan ibu pasca persalinan terkait kehamilan berikutnya, penelitian ini dapat memberikan landasan yang kuat untuk pengembangan strategi intervensi yang lebih efektif dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan meningkatkan kesehatan reproduksi secara keseluruhan.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini di lakukan dengan literature review. Kata kunci yang digunakan untuk mencari artikel pada penelitian ini, antara lain �pengetahuan� DAN/ATAU �ibu nifas� DAN/ATAU �keikutsertaan penggunaan Alat Kontrasepsi�. Kriteria inklusi artikel yang dapat direview adalah artikel full paper berbahasa indonesia, dengan subjek ibu nifas yang pengetahuan ibu, keikutsertaan penggunaan KB pada tahun 2017 sampai dengan 2023 dan artikel terpublikasi yang sudah di olah. Kriteria esklusi dalam penelitian ini adalah artikel yang diterbitkan selain menggunakan bahasa Indonesia.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil systematic literature review pada 10 artikel yang terpilih diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan keikutsertaan KB pada ibu nifas. Berdasarkan 4 artikel yang telah direview secara keseluruhan menyatakan bahwa pengetahuan berhubungan erat dengan keikutsertaan KB pada ibu nifas. Artikel pertama yang ditulis oleh (Suryanti, 2019) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku ibu nifas dalam keikutsertaan penggunaan KB dimana nilai signifikansinya sebesar 0,002 < 0,005. Artikel kedua yang ditulis oleh (Mahardika & Wahyunit, 2018) juga menyatakan hal yang sama dimana kelompok kontrol yang mempunyai pengetahuan baik tentang KB terbukti lebih banyak mengikuti KB IUD, nilai signifikansi yang didapatkan pada penelitian ini adalah sebesar 0,014 < 0,005. Artikel ketiga yang ditulis oleh (Ariestanti et al., 2020) menunjukkan bahwa dalam keikutsertaan KB pada ibu nifas dapat dipengaruhi oleh beberapa hal salah satunya adalah pendidikan, semakin tinggi pendidikan ibu maka semakin baik pula pengetahuannya sehingga akan mempengaruhi perilaku ibu nifas dalam mengikuti program KB pascabersalin. Pada artikel keempat yang ditulis oleh (Sandi, 2019) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan ibu nifas tentang kontrasepsi sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan konseling. Kegiatan konseling pada penelitian tersebut terbukti berpengaruh terhadap perilaku keikutsertaan KB pada ibu nifas dengan nilai p=0,000.

Artikel Ke lima limasemakin pengetahuan mengenai kontrasepsi pasca salin baik akan semakin besar potensi keikutsertaan menjadi akseptor KB pasca salin. Sebaliknya jika pengetahuan kurang akan menjadi penghambat dalam proses keikutsertaan menjadi akseptor KB pasca salin. Artikel enam Sejalan dengan pernyatan diatas penelitian yang dilakuakan oleh (Niam & dkk., 2022) ada hubungan antara pengetahuan yang baik dengan keikutsertaan menjadi aksepstor KB pasca salin, dalam artikel dijelaskan bahwa pengetahuan dan informasi umum yang diketahui responden tentang KB pasca salin sebagai metode kontrasepsi dan manfaatnya tergolong memuaskan, hampir semua yaitu 90,3% mempunyai pengetahuan baik tentang kontrasepsi AKDR dan sebagian besar turut serta menjadi akseptor AKDR. Artikel Ke tujuh Sejalan dengan penelitian (Faiza & Akbarani, 2019) pengetahuan tentang KB pasca salin yang dimiliki ibu bisa didapat salah satunya dari konseling. Pengetahuan sendiri memberikan pengaruh yang cukup tinggi terhadap keikutsertaan ibu menjadi akseptor KB postpartum. Meskipun kampanye dan sosialisasi tentang kontrasepsi sudah dan sedang banyak dilakukan, peran aktif ibu postpartum dalam menggunakan metode kontrasepsi sebaiknya didukung oleh penambahan pengetahuan yang bisa bersumber dari media elektronik. Dua penelitian lainnya (Ira Mingchilina, 2017) menyebutkan pendidikan ibu berpengaruh terhadap pengetahuan dan keikutsertaan KB, status pendidikan ibu menunjukkan hasil hubungan yang signifikan dengan penggunaan KB pasca salin, variabel lain juga disebutkan yakni 74 aktivitas seksual dan kembalinya menstruasi. Hal ini mungkin karena fakta bahwa wanita yang melanjutkan aktivitas seksualnya memiliki rasa takut untuk hamil, sehingga kontrasepsi dipilih untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

Menurut (Niam & dkk., 2022) waktu datangnya kesuburan wanita pascamelahirkan tidak terduga dan dan bisa terjadi sebelum menstruasi dimulai. Rata-rata, wanita yang tidak menyusui berovulasi dalam 34 hari setelah melahirkan. Kontrasepsi harus digunakan sebelum memulai aktivitas seksual. Oleh karena itu, sangat strategis untuk memulai kontrasepsi sesegera mungkin setelah melahirkan. Pengalaman dan pengetahuan seseorang merupakan faktor yang sangat penting dalam menginterpretasikan stimulus yang diterima. Pengetahuan, pemahaman, dan interpretasi alat kontrasepsi sangat penting untuk memungkinkan pemilihan alat kontrasepsi yang akan digunakan untuk menunda, menunda, atau mengakhiri kehamilan, serta indikasi dan kontraindikasi penggunaan yang dapat dibedakan dengan alat kontrasepsi (Samsi et al., 2023). Dari penjelasan di atas dapat kita lihat bahwa perilaku dan sikap seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap positif (Yanuarini et al., 2017). Oleh karena itu, perilaku tersebut bersifat permanen, dan sebaliknya jika perilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku tersebut tidak akan bertahan lama. Pengalaman dan pengetahuan berperan dalam menginterpretasikan rangsangan yang kita terima (Kurniawan, 2020). Pengetahuan, pemahaman, dan interpretasi alat kontrasepsi sangat penting untuk memilih alat kontrasepsi yang digunakan untuk 75 menunda, menjarakkan, atau mengakhiri kehamilan dan untuk dapat membedakan indikasi penggunaan alat kontrasepsi. Oleh karena itu, partisipasi dalam KB dipengaruhi oleh pengetahuan ibu (Meiriska, 2018).

 

Tabel 1 Matriks Artikel

No

PICO

 

Kata Kunci

1

P (Population)

Keikutsertaan penggunaan Alat Konrasepsi

�Keikutsertaan penggunaan alat Kontrasepsi�; �pengguna Alat Kontrasepsi�; �Keluarga Berencana�

2

I (Intervention)

Pengetahuan ibu nifas

�pengetahuan ibu nifas�; �pengetahuan�; �ibu nifas�;

3

C (Control)

Status pengetahuan ibu nifas

�status pengetahuan ibu nifas�; �pengetahuan�; �ibu nifas dengan pengetahuan�

4

O (Outcomes)

Hubungan pengetahuan Ibu Nifas dengan Keikutsertaan penggunaan Alat �Kontrasepsi

�Hubungan pengetahuan Ibu Nifas dengan Keikutsertaan penggunaan Alat Konntrasepsi�; �pengetahuan Ibu Nifas dengan Keikutsertaan penggunaan Alat Kontrasepsi�; �pengetahuan dan keikutsertaan penggunaan Alat Kontrasepsi�

�

Pencarian artikel dalam penelitian ini menggunakan kata kunci yang diformulasikan menggunakan metode PICO. Perumusan PICO diambil dari dari judul dan variabel penelitian. Pemutusan penggunaan artikel setelah proses pencarian juga disesuaikan dengan kriteria dalam penelitian ini kemudian dianalisis menggunakan diagram PRISMA.

 

�Description: Image

 

Gambar 1 Diagram Alur PRISMA

 

KESIMPULAN

Hasil systematic literature review dari 4 artikel yang terpilih secara keseluruhan menunjukkan hasil yang sama dimana terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dengan penggunaan KB pada ibu nifas. Salah satu artikel lainnya mengungkapkan bahwa ibu nifas dengan pengetahuan yang kurang mempunyai sikap negatif dalam keikutsertaan KB. Ibu nifas dengan pengetahuan yang baik 25,03 kali lebih besar menggunakan KB IUD dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan sedang dan kurang. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keikutsertaan KB pada ibu nifas adalah melakukan kegiatan konseling dengan media bergambar yang menarik agar mempermudah ibu untuk mengingat informasi yang disampaikan. Kegiatan pelatihan bagi para tenaga kesehatan mengenai KB post partum juga perlu dilakukan secara komprehensif agar para tenaga kesehatan mampu memberikan konseling secara lebih mendalam kepada ibu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ariestanti, Y., Widayati, T., & Sulistyowati, Y. (2020). Determinan perilaku ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) pada masa pandemi covid-19. Jurnal Bidang Ilmu Kesehatan, 10(2), 203�216.

 

BKKBN. (2021). Pedoman Pelayanan Kontrasepsi dan Keluarga Berencana. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, 3(April), 49�58.

 

Faiza, E. I., & Akbarani, R. (2019). Studi Komparasi Pengetahuan Terhadap Keikutsertaan KB IUD Pasca Plasenta di Sidoarjo. Kendedes Midwifery Journal, 2(4), 18�29.

 

Huang, Y. M., Merkatz, R., Kang, J. Z., Roberts, K., Hu, X. Y., Di Donato, F., Sitruk-Ware, R., & Cheng, L. N. (2012). Postpartum unintended pregnancy and contraception practice among rural-to-urban migrant women in Shanghai. Contraception, 86(6), 731�738. https://doi.org/10.1016/j.contraception.2012.05.007

 

Ira Mingchilina, I. M. (2017). Evaluasi Pelaksanaan Program Keluarga Berencana (KB) Pasca Persalinan Di Wilayah Puskesmas Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas.

 

Kementerian Kesehatan RI. (2021). Profil Kesehatan Indonesia 2020. In IT - Information Technology (Vol. 48, Issue 1). https://doi.org/10.1524/itit.2006.48.1.6

 

Khalish, M., Supriatna, T., & Mansur, H. (2020). Efektivitas Pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB) Dalam Pelaksanaan Program Kependudukan Keluarga Berencana Dan Pembangunan Keluarga Di Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh. Visioner: Jurnal Pemerintahan Daerah Di Indonesia, 12(3), 489�514.

 

Kurniawan, G. (2020). Perilaku konsumen dalam membeli produk beras organik melalui ecommerce. Mitra Abisatya.

 

Mahardika, M., & Wahyunit, T. (2018). Hubungan antara Pengetahuan dan Dukungan Suami terhadap Penggunaan Alat Kontrasepsi IUD di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Pasundan Kecamatan Samarinda Ulu.

 

Meiriska, R. (2018). Faktor Dominan Yang Mempengaruhi Penggunaan Metode Kontrasepsi Pada Pasangan Usia Subur (Pus) Di Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Universitas Andalas.

 

Niam, & dkk. (2022). Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang KB Pasca Salin Dengan Keikutsertaan Menjadi Akseptor Kb Literature Review Natasya. 1�6.

 

Samsi, S. N., Rufaridah, A., Marlia, S., Dahlan, A., Komalasari, W., & Husni, L. (2023). Edukasi Pendidikan Kesehatan Pada Pasangan Usia Subur Dalam Pemilihan Kontrasepsi. Jurnal Abdi Kesehatan Dan Kedokteran, 2(1), 74�83.

 

Sandi, R. W. (2019). Pengaruh konseling terhadap akseptor KB dalam pengambilan keputusan alat kontrasepsi pada masa nifas Di Klinik Pratama Niar tahun 2018.

 

Suryanti, Y. (2019). Fakto-faktor yang berhubungan dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang wanita usia subur. Jambura Journal of Health Sciences and Research, 1(1), 20�29.

 

Susiloningtyas, L., Wulandari, R. F., & Dinastiti, V. B. (2021). Asuhan Kebidanan Keluarga Berencana Tentang Metode Kontrasepsi Di Wilayah Ngadiluwih dan Ngancar Kabupaten Kediri. Journal of Community Engagement in Health, 4(2), 432�440.

 

Yanuarini, T. A., Rahayu, D. E., & Prahitasari, E. (2017). Hubungan pengetahuan dengan sikap ibu dalam pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja puskesmas pranggang kabupaten kediri. Jurnal Ilmu Kesehatan, 3(1), 1�9.