KONJUNGTIVITIS:
KAJIAN ANATOMI, HISTOLOGI, DAN ETIOLOGI PADA KESEHATAN MATA
Pipit
Wandini1, Aurelia Widya Astuti2, Sayudin3
Universitas Padjadjaran1, Politeknik
Siber Cerdika Internasional2, Universitas Swadaya Gunung Jati3
[email protected]1,
[email protected]2,
[email protected]3
Abstrak:
Konjungtivitis, yang
sering kali dikenal sebagai "pink eye," merupakan suatu kondisi
inflamasi pada konjungtiva, membran mukosa transparan yang melapisi bagian
anterior bola mata dan bagian dalam palpebra. Kondisi ini dapat menimbulkan
sejumlah gejala yang mencakup inflamasi, pembengkakan, pelebaran pembuluh
darah, keluarnya cairan, dan rasa nyeri pada mata. Penelitian ini bertujuan
untuk mendalami aspek-aspek tersebut, dengan fokus pada analisis anatomi,
histologi, dan etiologi konjungtivitis. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif analisis observasi. Pengumpulan data melibatkan observasi langsung
terhadap perubahan fisik pada konjungtiva, analisis histologis melalui
pengambilan sampel jaringan konjungtiva. Data yang diperoleh akan dianalisis
untuk mengidentifikasi pola perubahan dan hubungan antara faktor etiologis
dengan dampak kesehatan mata. Hasil analisis histologi menyoroti perubahan
seluler dan jaringan yang terjadi selama konjungtivitis, memperlihatkan
peradangan dan perubahan patologis lainnya.�
Penelitian ini memberikan wawasan holistik tentang konjungtivitis dari
segi anatomi, histologi, dan etiologi. Temuan ini dapat menjadi dasar untuk
pengembangan strategi preventif dan terapeutik yang lebih baik dalam merawat
dan melindungi kesehatan mata.
Kata kunci: Konjungtivitis,
Anatomi mata, Histologi konjungtiva, Etiologi konjungtivitis, Kesehatan mata
Abstract:
Conjunctivitis, often known as
"pink eye," is an inflammatory condition of the conjunctiva, the
transparent mucous membrane that lines the anterior part of the eyeball and the
inside of the eyelid. This condition can cause a number of symptoms including
inflammation, swelling, dilation of blood vessels, discharge, and pain in the
eyes. This study aims to explore these aspects, with a focus on analyzing the
anatomy, histology and etiology of conjunctivitis. This research uses a
qualitative method of observation analysis. Data collection involves direct
observation of physical changes in the conjunctiva, histological analysis
through sampling of conjunctival tissue. The data obtained will be analyzed to
identify patterns of change and relationships between etiological factors and
eye health impacts. The results of the histology analysis highlight the
cellular and tissue changes that occur during conjunctivitis, revealing
inflammation and other pathological changes. This study provides a holistic
insight into conjunctivitis in terms of anatomy, histology, and etiology. These
findings may provide a basis for the development of better preventive and
therapeutic strategies to treat and protect eye health.
Keywords: Conjunctivitis, Eye anatomy, Histology
of the conjunctiva, Etiology of conjunctivitis, Eye health��������
Corresponding: Pipit
Wandini
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Konjungtivitis,
yang sering kali dikenal sebagai "pink eye," merupakan suatu kondisi
inflamasi pada konjungtiva, membran mukosa transparan yang melapisi bagian
anterior bola mata dan bagian dalam palpebral (Prajna et al., 2022). Kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah gejala yang mencakup inflamasi,
pembengkakan, pelebaran pembuluh darah, keluarnya cairan, dan rasa nyeri pada
mata (DOPA, 2018). Keadaan ini, meskipun umumnya dianggap sebagai penyakit ringan, dapat
memiliki dampak yang signifikan terutama jika tidak ditangani dengan tepat (Almas, 2023).
Pentingnya
pemahaman mendalam tentang anatomi, histologi, dan etiologi konjungtivitis
menjadi krusial untuk memberikan dasar yang kokoh dalam mengatasi permasalahan
kesehatan mata ini (Tan et al., 2023). Anatomi konjungtiva yang melibatkan tiga bagian utama, yaitu
konjungtiva palpebralis, konjungtiva bulbar, dan forniks, memainkan peran
penting dalam perlindungan dan pergerakan bola mata. Begitu pula, pemahaman
histologi konjungtiva, termasuk lapisan sel epitel silindris, stroma adenoid,
dan stroma fibrosa, memberikan wawasan mendalam tentang struktur dan fungsi
jaringan tersebut.
Selain itu,
pengetahuan mengenai etiologi konjungtivitis, yang dapat disebabkan oleh
infeksi virus, bakteri, alergi, atau faktor iritasi lainnya, menjadi esensial
untuk merinci strategi pengelolaan dan pencegahan yang tepat (Prajna et al., 2022). Epidemiologi konjungtivitis menunjukkan bahwa prevalensinya dapat
bervariasi tergantung pada faktor usia dan penyebab spesifik, menyoroti
kompleksitas kondisi ini dalam konteks kesehatan mata (Tatyana & Berezovskaya, n.d.).
Penelitian
"Konjungtivitis: Kajian Anatomi, Histologi, dan Etiologi pada Kesehatan
Mata" menghadirkan kontribusi penting dengan menyelidiki aspek fundamental
kondisi ini melalui pendekatan yang komprehensif (Goodman et al., 2023). Namun, kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi grand teori yang
meliputi aspek imunologi, ekologi, sosiologi kesehatan, biologi molekuler, dan
kesehatan masyarakat. Melalui pendekatan multidisiplin ini, penelitian ini
tidak hanya menggali pemahaman mendalam tentang struktur dan penyebab
konjungtivitis, tetapi juga menyoroti kompleksitas interaksi antara
faktor-faktor biologis, lingkungan, sosial, dan epidemiologis yang memengaruhi
kondisi ini (Mangal, Bonyah, Sharma, & Yuan, 2024). Dengan demikian, penelitian ini menjadi pembeda dengan menawarkan
pandangan yang lebih luas dan holistik tentang konjungtivitis, yang dapat
membantu merumuskan strategi pengelolaan dan pencegahan yang lebih efektif
serta relevan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat secara global (Yang, Zhu, Zhang, Yang, & Amraii, 2023).
Penelitian
ini bertujuan untuk mendalami aspek-aspek tersebut, dengan fokus pada analisis
anatomi, histologi, dan etiologi konjungtivitis. Melalui pemahaman yang lebih
mendalam tentang struktur dan faktor penyebab kondisi ini, diharapkan dapat memberikan
landasan yang lebih kokoh untuk pendekatan pengobatan yang efektif dan upaya
pencegahan yang lebih terarah terhadap konjungtivitis.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif analisis dengan
partisipan penelitian yang melibatkan kasus-kasus konjungtivitis dari berbagai
kelompok usia dan latar belakang, termasuk individu yang telah didiagnosis oleh
profesional medis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung
terhadap perubahan fisik pada konjungtiva dan analisis histologis melalui
pengambilan sampel jaringan konjungtiva. Data yang diperoleh akan dianalisis
secara kualitatif untuk mengidentifikasi pola perubahan dan hubungan antara
faktor etiologis dengan dampak kesehatan mata.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Konjungtiva
a.
Anatomi
Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis
yang membungkus bagian anterior bola mata dan bagian dalam palpebral (Setiabudi & Eliyani, 2021). Konjungtiva dibagi menjadi 3 bagian,
yaitu konjungtiva palpebralis, konjungtiva bulbar dan forniks. Konjungtiva
palpebralis dibagi menjadi 3 bagian, yaitu marginal, tarsal, dan orbital (Larasati, 2022).

Gambar 1
Anatomi konjungtiva (APO 2010)
Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke
posterior (pada forniks superior dan inferior) dan membungkus jaringan
episklera menjadi konjungtiva bulbaris (Iqbal, Magdalena, & Fuadah, 2018). Konjungtiva bulbaris melekat longgar
ke septum orbital di formiks dan melipat berkali-kali (THESA ANGGELA, Ali, Marwanto, Mulyati, & Saputra,
2021). Adanya
lipatan-lipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan
konjungtiva sekretorik (Iqbal et al., 2018).
b.
Histologi
Secara histologi lapisan sel konjungtiva terdiri atas dua hingga
lima lapisan sel epitel silindris bertingkat, superfisial dan basal (Soesilawati, 2020). Sel-sel epitel superfisial
mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus yang diperlukan
untuk dispersi air mata (Azizaturrahmah, 2018). Sel-sel epitel basal berwarna lebih
pekat dibandingkan sel-sel superfisial dan dapat mengandung pigmen (Pribakti, n.d.).
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid
(superfisialis) dan satu lapisan fibrosa (profunda) (Boesoirie, Yunard, Mahdiani, & Aziza, 2019). Lapisan adenoid mengandung jaringan
limfoid dan tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan (Boesoirie et al., 2019). Lapisan fibrosa tersusun dari
jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus dan tersusun longgar pada
mata.

Gambar 2
Histologi Konjungtiva (Kanski�s 2020)
c.
Perdarahan dan persarafan
Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior
dan arteri palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama
dengan banyak vena konjungtiva membentuk jaringan vaskuler konjungtiva yang
sangat banyak (Azizaturrahmah, 2018). Konjungtiva juga menerima persarafan
dari percabangan pertama nervus V dengan serabut nyeri yang relatif sedikit (Nugraha Wahyu Cahyana, 2021).

Gambar
3 Suplai Perdarahan Konjungtiva

Gambar
4 Perbedaan konjungtiva normal dan konjungtivitis
Konjungtivitis
a.
Definisi
Konjungtivitis dikenal sebagai �pink eye�, merupakan inflamasi
pada konjungtiva (A. ANGGELA, 2023). Konjungtivitis dikarakteristikan
dengan adanya inflamasi dan pembengkakan pada jaringan konjungtiva, disertai
dengan pelebaran pembuluh darah, keluarnya cairan dan nyeri. Peradangan
tersebut menyebabkan berbagai macam gejala, salah satunya yaitu mata merah.
Setiap peradangan pada konjungtiva dapat menyebabkan melebarnya pembuluh darah
sehingga menyebabkan mata terlihat merah (Lim et al., 2023).
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi,
clamidia, atau kontak dengan benda asing, misalnya kontak lensa. Pada dasarnya
konjungtivitis adalah penyakit ringan dan self limited desease, namun pada
beberapa kasus dapat berlanjut menjadi penyakit mata yang serius (Jannah, 2016).
b.
Epidemiologi
Konjungtivitis dapat terjadi pada berbagai usia tetapi cenderung
paling sering terjadi pada umur 1 - 25 tahun. Anak-anak prasekolah dan anak
usia sekolah insidennya paling sering karena kurangnya hygiene. Usia 5 - 25
lebih sering terjadi pada konjugtivitis vernal. Konjungtivitis alergi terjadi
sangat sering. Diperkirakan untuk mempengaruhi 20% dari penduduk setiap tahun
dan sekitar satu setengah dari orang-orang ini memiliki riwayat pribadi atau
keluarga atopi (Khaidir & Hengky, 2019).
Konjungtivitis bakteri adalah kondisi umum di semua wilayah di
Amerika Serikat. Berbagai studi menunjukkan bahwa konjungtivitis bakteri
merupakan 25 � 50% dari semua penyebab konjungtivitis. Prevalensi
konjungtivitis adenoviral ditemukan 20% � 91% dari konjungtivitis di seluruh
dunia. Hasil studi di Filipina tahun 2002 menujukkan etiologi virus dalam 60%
kasus. Sebuah pusat-multi FDA uji klinis dari AS dan Eropa menunjukkan tingkat
serangan adenoviral sebesar 28%.
c.
Etiologi�
Konjungtivitis
dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti:
1)
Infeksi oleh virus, bakteri, atau clamidia.
2)
Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu
binatang.
3)
Iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi
udara lainnya; sinar ultraviolet.
4)
Pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka
panjang, juga bisa menyebabkan konjungtivitis.
Konjungtivitis yang disebabkan oleh mikroorganisme (terutama virus
dan kuman atau campuruan keduanya) ditularkan melalui kontak dan udara. Dalam
waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri.
d.
Patofisiologi�
Lokasi anatomis konjungtiva sebagai struktur terluar mata memiliki
resiko besar untuk terpapar infeksi oleh mikroorganisme (virus, bakteri,
jamur), bahan alergen, iritasi menyebabkan kelopak mata terinfeksi sehingga
kelopak mata tidak dapat menutup dan membuka sempurna (A. ANGGELA, 2023). Karena mata menjadi kering sehingga
terjadi iritasi menyebabkan konjungtivitis. Pelebaran pembuluh darah disebabkan
karena adanya peradangan ditandai dengan konjungtiva dan sklera yang merah,
edema, rasa nyeri dan adanya sekret mukopurulen (Kanda, Ioannidis, Sim, Weston, & Koaik, 2023)
Posisi konjungtiva yang terpapar pada banyak organisme dan faktor
lingkungan lain yang mengganggu (KHAERUNNISA, 2019). Ada beberapa mekanisme perlindungan
terhadap permukaan mata dari substansi luar, seperti Tear Film (Azizaturrahmah, 2018). Tear film berfungsi untuk melarutkan
kotoran-kotoran dan bahan-bahan toksik yang kemudian dialirkan melalui suklus
lakrimalis ke meatus nasi inferior. Tear film mengencerkan infeksi bakteri,
mucus menangkap debris dan mekanisme memompa dari palpebra secara tetap,
kemudian akan mengalirkan air mata ke ductus lakrimal.
Tear Film juga mengandung substansi anti mikroba yaitu beta
lysine, lisozim, Ig A, Ig G yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan kuman.
Apabila terdapat mikroorganisme pathogen yang dapat menembus pertahanan
tersebut, maka akan menyebabkan adanya konjungtivitis (Mareintika, 2021).
Adanya agen perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva
yang diikuti edema epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertropi epitel atau
granuloma. Mungkin pula terdapat edema pada stroma konjungtiva (kemosis) dan
hipertropi lapis limfoid stroma atau pembentukan folikel. Sel-sel radang
bermigrasi melalui epitel ke permukaan. Sel-sel ini kemudian bergabung dengan
fibrin dan pus dari sel goblet, membentuk eksudat konjungtiva yang menyebabkan
perlengketan tepian palpebra pada saat bangun tidur (A. ANGGELA, 2023).
Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi
pembuluh-pembuluh mata konjungtiva posterior, menyebabkan hiperemi yang tampak
paling nyata pada forniks dan mengurang kearah limbus (Sumastri, Neni Riyanti, Rohaya, & Suprida, 2022). Pada hiperemi konjungtiva ini
biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertropi papilla yang sering disertai
sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas atau gatal. Sensasi ini
merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh darah
yang hiperemi dan menambah jumlah air mata.
e.
Klasifikasi konjungtivitis
Berdasarkan agen penyebabnya, konjungtivitis dibagi menjadi empat
yaitu konjungtivitis karena bakteri, virus, alergen dan jamur (Li et al., 2022).
1. Konjungtivitis Bakteri �
Konjungtivitis bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang
disebabkan oleh bakteri (Septiana & Nugrahani, 2022). Pada konjungtivitis ini biasanya
pasien datang dengan keluhan mata merah, sekret pada mata dan iritasi pada mata
(Burhanudin, 2015). Konjungtivitis bakteri dapat dibagi
menjadi empat bentuk, yaitu hiperakut, akut, subakut dan kronik (Mareintika, 2021). Konjungtivitis bakteri hiperakut
biasanya di sebabkan oleh N gonnorhoeae, Neisseria kochii, dan N meningitidis.
Bentuk yang akut biasanya disebabkan oleh Streptococcus pneumonia dan
Haemophilus aegyptus. Penyebab yang paling sering pada bentuk konjungtivitis
bakteri subakut adalah H influenza dan Escheria colli, sedangkan bentuk kronik
paling sering terjadi pada konjungtivitis sekunder atau pada pasien dengan
obstruksi duktus nasolakrimalis (Alraddadi et al., 2023)
Secara umum, konjungtivitis bakteri bermanifestasi dalam bentuk
iritasi dan pelebaran pembuluh darah (injeksi) bilateral, eksudat purulen,
eksudat purulen dengan palpebra saling melengket saat bangun tidur, dan
kadang-kadang edema palpebra. Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan melalui
tangan menular ke sisi lainnya (Agustina, Suwandewi, Tunggal, & Daiyah, 2022).
Faktor predisposisi terjadinya konjungtivitis bakteri akut adalah
kontak dengan individu yang terinfeksi (Mareintika, 2021). Kelainan atau gangguan pada mata,
seperti obstruksi saluran nasolakrimal, kelainan posisi kelopak mata dan
defisiensi air mata dapat pula meningkatkan resiko terjadinya konjungtivitis
bakteri dengan menurunkan mekanisme pertahanan mata normal. Penyakit dengan
supresi imun dan trauma 9 juga dapat melemahkan sistem imun sehingga infeksi
dapat mudah terjadi. Transmisi konjungtivitis bakteri akut dapat diturunkan
dengan higienitas yang baik, seperti sering mencuci tangan dan membatasi kontak
langsung dengan individu yang telah terinfeksi (Ahmad, Alhamdan, & Sadiq, 2023)
Konjungtivitis bakterial biasanya mulai pada satu mata kemudian
mengenai mata yang sebelah melalui tangan dan dapat menyebar ke orang lain.
Penyakit ini biasanya terjadi pada orang yang terlalu sering kontak dengan
penderita, sinusitis dan imunodefisiensi.
Diagnosis konjungtivitis bakteri dapat ditegakkan melalui riwayat
pasien dan pemeriksaan mata secara menyeluruh, seperti pemeriksaan mata
eksternal, biomikroskopi menggunakan slit-lamp dan pemeriksaan ketajaman mata.
Kerokan konjungtiva untuk pemeriksaan mikroskopik dan biakan disarankan untuk semua
kasus dan diharuskan jika penyakitnya purulen, bermembran atau pseudomembran.
Pemeriksaan gram melalui kerokan konjungtiva dan pewarnaan Giemsa menampilkan
banyak neutrofil polimorfonuklear
Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal
seperti Streptococci, Staphylococci, dan jenis Corynebacterium. Perubahan
mekanisme pada pertahanan tubuh ataupun pada jumlah koloni flora normal
tersebut dapat menyebabkan infeksi klinis. Perubahan pada flora normal dapat
terjadi karena kontaminasi eksternal, penyebaran dari organ sekitar ataupun
melalui alliran darah (Mardiyantoro, 2017)
Penggunaan antibiotik topikal jangka panjang merupakan salah satu
penyebab perubahan flora normal pada jaringan mata, serta resistensi terhadap
antibiotik
Terapi spesifik konjungtivitis bakteri tergantung pada temuan agen
mikrobiologinya. Sambil menunggu hasil laboratorium, dokter dapat memulai
terapi dengan antibiotik topikal spektrum luas seperti polymyxin-trimethoprim.
Pada setiap konjungtivitis purulen dengan diploccus gram negatif (sugestif
neisseria), harus segera diberikan terapi topikal dan sistemik. Jika kornea
tidak terkena, maka ceftriaxone 1 gram yang diberikan dosis tunggal secara
intramuskular biasanya merupakan terapi sistemik yang adekuat. Jika kornea
terkena, maka dibutuhkan ceftriaxone parenteral, 1-2 gram per hari selama 5
hari. Pada konjungtivitis akut dan hiperakut, saccus conjungtivalis harus
dibilas dengan larutan saline agar menghilangkan secret. Beberapa antibiotik
topikal lain yang biasa digunakan adalah bacitracin, chloramphenicol,
ciprofloxacin, gatifloxacin, gentaicin, levofloxacin, moxifloxacin, neomycin
dan lainnya. Selain itu, lensa kontak juga tidak disarankan untuk dipakai
sampai infeksi disembuhkan.
Ulserasi kornea marginal terjadi pada infeksi N gonorrhoeae, N
kochii, N meningitidis, H aegyptius, S aureus, dan M catarrhalis. Jika produk
toksik N gonorrhoeae berdifusi melalui kornea masuk ke bilik mata depan, dapat
timbul iritis toksik.
2. Konjungtivitis Virus
Konjungtivitis virus merupakan penyebab terbanyak konjungtivitis
infeksi, disebabkan oleh berbagai jenis virus, dan berkisar antara penyakit
berat yang dapat menimbulkan cacat hingga infeksi ringan yang dapat sembuh
sendiri dan dapat berlangsung lebih lama daripada konjungtivitis bakteri.
Konjungtivitis viral dapat disebabkan berbagai jenis virus, tetapi
adenovirus adalah virus yang paling banyak menyebabkan penyakit ini, dan herpes
simplex virus yang paling membahayakan. Selain itu penyakit ini dapat juga
disebabkan oleh virus Varicela zoster, picornavirus (enterovirus 70, coxsackie
A24), poxvirus, dan human immunodeficiency virus.
Penyakit ini sering terjadi pada orang yang sering kontak dengan
penderita dan dapat menular melalui droplet pernafasan, kontak dengan
benda-benda yang menyebarkan virus (fomites) dan berada di kolam renang yang
terkontaminasi.
Manifestasi klinis utama konjungtivitis virus adalah hiperemia
akut, fotofobia, mata berair (watery discharge) serta edema pada kelopak mata.
Pada konjungtivitis virus jenis demam faringokonjungtival umumnya ditemukan
demam 38,3�C-40�C, sakit tenggorokan dan konjungtivitis folikular pada satu
atau dua mata. Folikel sering mencolok pada kedua konjungtiva dan mukosa
faring. Limfadenopati preaurikular (tidak nyeri tekan) merupakan tanda yang
khas. Konjungtivitis virus jenis ini lebih sering ditemukan pada anak-anak dan
mudah menular melalui kolam renang ber-khlor rendah, bisa unilateral maupun
bilateral.
Keratokonjungtivitis virus herpes simpleks biasanya mengenai anak
kecil dan ditandai dengan injeksi unilateral, iritasi, sekret mukoid, nyeri dan
fotofobia ringan. Penyakit ini terjadi pada infeksi primer HSV atau saat
episode kambuh herpes mata, sering disertai keratitis herpes simpleks dan lesi-lesi
kornea bersatu membentuk ulkus dendritic.
Dalam penegakan diagnosis, anamnesis dan pemeriksaan (baik
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan mata) harus dilakukan secara komprehensif.
Perlu ditanyakan mengenai onset, lokasi (unilateral atau bilateral), durasi,
penyakit penyerta seperti gangguan saluran nafas bagian atas, gejala penyerta
seperti fotofobia, riwayat penyakit sebelumnya, serta riwayat keluarga.
Pemeriksaan selsel radang terlihat dalam eksudat atau kerokan yang diambil
dengan spatula platina steril dari permukaan konjungtiva kemudian di pulas
dengan pulasan Gram (untuk mengidentifikasi organisme) dan dengan pulasan
Giemsa (untuk menetapkan jenis dan morfologi sel). Pada konjungtivitis virus
biasanya banyak ditemukan sel mononuklear khususnya limfosit dalam jumlah yang
banyak.
Mekanisme terjadinya konjungtivitis virus ini berbeda-beda pada
setiap jenis konjungtivitis ataupun mikroorganisme penyebabnya (Hurwitz, 2009).
Umumnya konjungtivitis yang menyerang anak-anak di atas 1 tahun
dan dewasa dapat sembuh sendiri dan mungkin tidak memerlukan terapi. Demam
faringokonjungtival biasanya sembuh sendiri dalam 2 minggu tanpa pengobatan.
(Garcia-Ferrer, 2008). Penatalaksanaan konjungtivitis virus biasanya
menggunakan kompres dingin, artificial tears, dan pada beberapa kasus digunakan
antihistamin. (Azari, 2013). Pada ulkus kornea dilakukan debridemen (pengusapan
ulkus dengan kain secara hati-hati, penetesan obat antivirus dan penutupan
mata) (Garcia-Ferrer,2008).
3. Konjungtivitis
Alergi
Konjungtivitis alergi adalah bentuk alergi pada mata yang paling
sering dan disebabkan oleh reaksi inflamasi pada konjungtiva yang diperantarai
oleh sistem imun (Cuvillo et al, 2009). Reaksi hipersensitivitas yang paling
sering terlibat pada alergi di konjunngtiva adalah reaksi hipersensitivitas
tipe 1 (Majmudar, 2010).
Konjungtivitis alergi dibedakan atas lima subkategori, yaitu
konjungtivitis alergi musiman dan konjungtivitis alergi tumbuhtumbuhanyang
biasanya dikelompokkan dalam satu grup, keratokonjungtivitis
vernal, keratokonjungtivitis atopik dan konjungtivtis
papilar raksasa (Vaughan, 2010).
Etiologi dan faktor risiko pada konjungtivitis alergi berbeda-beda
sesuai dengan subkategorinya. Misalnya konjungtivitis alergi musiman dan
tumbuh-tumbuhan biasanya disebabkan oleh alergi tepung sari, rumput, bulu
hewan, dan disertai dengan rinitis alergi serta timbul pada waktu-waktu
tertentu. Vernal konjungtivitis sering ditandai dengan riwayat asma, eksema dan
rinitis alergi musiman. Konjungtivitis atopik terjadi pada pasien dengan
riwayat dermatitis atopic, sedangkan konjungtivitis papilar pada penggunaan
lensa kontak atau mata buatan dari plastik (Asokan, 2007).
Secara umum, imunopatofisiologi konjungtivitis alergi seasonal
meliputi dua proses, yaitu sensitisasi dan memicu penjamu yang telah
tersensitisasi. Pada proses sensitisasi, alergen dengan ukuran partikel kecil
(pikogram) misal : polen, debu, dll menempel pada permukaan mukosa konjungtiva.
Kemudian, partikel akan di proses oleh sel Langerhans, sel dendrit, dan MHC kelas
II. Antigen akan terpecah secara proteolitik dan berikatan pada sisi
antigen-reseptor MHC kelas II. Kemudian, dibawa oleh APC menuju sel limfosit
Th0 (native) untuk diekspresikan dan dikenali sebagai peptida antigenik. Proses
ini terjadi pada sistem drainase lokal kelenjar getah bening. Kontak multiple
dan pertukaran sitokin antara T-cell dengan APC penting untuk memicu terjadinya
reaksi tipe Th2. Sitokin yang dirilis oleh sel limfosit Th2 (IL-3, IL-4, IL-5,
IL-6, IL-13 dan granulocyte-macrophage colony stimulate factor � GM-CSF) akan
menstimulasi pembentukan IgE oleh sel B. Proses kedua ialah pencetusan reaksi
pada individu yang tersensitisasi. Paparan terhadap alergen pada indiveidu yang
tersensitisasi akan menyebabkan terjadinya cross-linking Ig E pada membran sel
mast, degranulasi sel dan pelepasan histamin, tryptase, prostaglandin dan
leukotrien. Mediator-mediator inilah yang akan memicu timbulnya manifestasi
klinis pada fase akut atau fase awal. Degranulasi sel mast juga menginduksi
terjadinya 15 aktivasi sel endotelial vaskular, ekspresi chemokin, dan adhesi
molekul seperti �Regulated-upon-Activation Normal T-cell Expressed and
Secreted� (RANTES), monocytes chemotactic protein-1 (MCP-1), intracellular
adhesion molecule (ICAM-1), vascular cell adhesion molecule (VCAM) dan
p-Selectin and chemotactic factors (IL-8, eotaxin). Faktor-faktor inilah yang
menginisiasi terjadinya aktivasi sel inflamasi pada konjungtiva. Reaksi fase
lambat pada konjungtiva muncul berjam-jam setelah paparan alergen dan ditandai
oleh adanya rekurensi atau pemanjangan gejala akibat infiltrasi eusinofil,
neutrofil dan sel limfosit T pada mukosa konjungtiva ( Bonini, 2009). Gambar
2.2. Patofisiologi fase akut dan kronis konjungtivitis Alergi seasonal dan
parennial (Bonini, 2009) 2.2 Patofisiologi Keratokonjungtivitis Vernal
Keratokonjungtivitis vernal sering dikaitkan dengan gangguan alergi. Peran
hipersensitivitas yang dimediasi Ig E pada VKC adalah salah satu langkah
patogenik esensial, yang didukung oleh insiden musiman, berhubungan dengan
manifestasi alergi lainnya, peningkatan jumlah sel mast dan eusinofil pada
konjungtiva, peningkatan IgE total dan spesifik serta mediator lainnya pada
serum 16 dan air mata, serta respon terapi terhadap stabilizer sel mast pada
kasus keratokunjungtivitis ringan. Namun demikian, terdapat fakta bahwa
sensitisasi spesifik tidak ditemukan pada banyak pasien, sehingga mekanisme
tambahan lain, diluar hipersensitivitas tipe 1, berhubungan dengan patogenesis
inflamasi konjungtiva pada pasien keratokonjungtivitis vernal (Bonini, 2009).
Pasien dengan konjungtivitis �Hay Fever� biasanya mengeluhkan
gatal, kemerahan, mata berair, dan merasa �mata seolah-olah tenggelam dalam
jaringan sekitarnya�, injeksi ringan konjungtiva. Selama serangan akut sering
ditemukan kemosis berat (Garcia-Ferrer,2008). Tanda khas pada konjungtivitis
alergi parennial adalah gatal, kemerahan, dan mata bengkak (puffy eyes), mata
berair, ada sekret mukus, dan rasa terbakar (Bonini, 2009). Pada konjungtivitis
vernal sering ditemukan konjungtiva putih-susu, terdapat banyak papila halus
pada konjungtiva tarsalis inferior, serta papila raksasa mirip batu kali pada
konjungtiva tarsalis superior. Mungkin ditemukan kotoran mata berserabut dan
pseudomembran (tanda Maxwell-Lysons)(Garcia-Ferrer,2008). Gejala pada
keratokonjungtivitis atopik adalah gatal pada kedua mata dan kulit kelopak
mata, mata berair dan terdapat sensasi terbakar, fotofobia, pandangan
kabur,hingga sekret mukus yang berbentuk menyerupai tali. Pada atopik
blefaritis sering ditemukan tilosis dan pembengkakan kelopak mata dengan
penampakan bersisik serta disfungsi kelenjar mebumian yang berhubungan dengan
mata kering (Bonini, 2009).
Penetapan diagnosis konjungtivitis alergi didasarkan pada
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang komprehensif. Pada anamnesis, ditanyakan
mengenai onset, durasi, unilateral atau bilateral, gejala penyerta, riwayat
penyakit sebelumnya, serta riwayat keluarga. Hal ini memiliki peran penting
seperti pada konjungtivitis vernal, dimana pasien dengan riwayat alergi pada
keluarga (hay fever, eksim,dll) memiliki kecenderungan mengalami konjungtivitis
vernal (Garcia-Ferrer,2008).
Penatalaksanaan dengan kompres dingin membantu mengatasi gejala
gatalgatal pada pasien dengan konjungtivitis alergi. Pada konjungtivitis vernal,
pemulihan terbaik dicapai dengan pindah ke tempat beriklim sejuk sehingga
pasien merasa nyaman. Gejala akut pada pasien fotofobia sering di atasi dengan
penggunaan steroid sistemik atau topikal jangka pendek, diikuti
vasokonstriktor, kompres dingin dan tetes mata yang memblok antihistamin. Obat
antiinflamasi non steroid yang lebih baru, seperti ketorolac dan lodoxamide
bisa memperlambat reepitelisasi ulkus (Garcia-Ferrer,2008).
4. Konjungtivitis
Jamur
Konjungtivitis jamur paling sering disebabkan oleh Candida albicans dan merupakan infeksi
yang jarang terjadi. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak putih dan dapat
timbul pada pasien diabetes dan pasien dengan keadaan sistem imun yang
terganggu.
Selain candida sp,
penyakit ini juga bisa disebabkan oleh Sporothrix
schenckii, Rhinosporidium serberi, dan Coccidioides
immitis walaupun jarang (Vaughan, 2010).
Gejala
konjungtivitis
Tabel 1
Gambaran
beberapa jenis konjungtiva (Ilyas, 2009; Suhardjo, 2007).
|
Virus |
Bakteri |
Alergi |
Klamidia |
|
|
Gatal |
Minimal |
Minimal |
Berat |
Minimal |
|
Hiperemia |
Generalisata |
Generalis ata |
Generalisata |
Generalisata |
|
Sekret |
Serous mucous |
Purulen, kuning, krusta |
Viscus |
Purulen |
|
Lakrimasi |
Banyak |
Sedang |
Sedang |
Sedang |
|
Adenopati Preaurikular |
Lazim |
Tidak lazim |
Tidak ada |
Lazim hanya pada konjungtivitis inklusi |
|
Eksudasi |
Minimal |
Banyak |
Minimal |
Banyak |
|
Pewarnaan� kerokan dan eksudat |
Monosit |
Bakteria, PMN |
Eosinofil |
Badan inklusi sel plasma, PMN |
|
Radang tenggorok dan demam |
Kadangkadang |
Kadangkadang |
Tidak pernah |
Tidak pernah |
Bila segera diatasi konjungtivitis ini tidak akan membahayakan.
Namun jika tidak segera ditangani atau diobati dapat menyebabkan kerusakan pada
mata dan dapat menimbulkan komplikasi seperti glaukoma, katarak maupun ablasio
retina.
KESIMPULAN
Dapat di simpulkan penelitian ini
menjelaskan bahwa Konjungtiva adalah membran mukosa tipis yang melapisi bagian
anterior bola mata dan bagian dalam palpebra. Secara histologi, terdiri dari
lapisan sel epitel silindris dan stroma yang terbagi menjadi lapisan adenoid
dan fibrosa. Dipasok oleh arteri konjungtiva dan mendapat persarafan dari
nervus V. Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva yang bisa disebabkan oleh
virus, bakteri, alergi, atau kontak dengan benda asing. Gejala umumnya meliputi
mata merah, sekret pada mata, dan iritasi. Konjungtivitis bisa terjadi pada
semua usia dengan prevalensi tertinggi pada anak-anak. Klasifikasi meliputi
konjungtivitis bakteri, virus, alergi, dan jamur, masing-masing dengan
karakteristik dan penatalaksanaan yang berbeda. Terapi konjungtivitis bakteri
meliputi antibiotik topikal, sementara pada virus dan alergi, penggunaan
antiviral dan antihistamin umumnya direkomendasikan. Konjungtivitis jamur
jarang terjadi dan sering terjadi pada pasien dengan diabetes atau sistem imun
yang terganggu. Temuan ini dapat menjadi dasar untuk pengembangan strategi
preventif dan terapeutik yang lebih baik dalam merawat dan melindungi kesehatan
mata.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, Anita,
Suwandewi, Alit, Tunggal, Tri, & Daiyah, Isrowiyatun. (2022). Sisi Edukatif
Pendidikan Islam Dan Kebermaknaan Nilai Sehat Masa Pandemi Covid-19 Di
Kalimantan Selatan. JIS: Journal Islamic Studies, 1(1), 99�105.
Ahmad, Abdullah K.,
Alhamdan, Faisal G., & Sadiq, Mohammad. (2023). Combined medical and
surgical approach in the management of ligneous conjunctivitis in a pediatric
patient: A case report. International Journal of Surgery Case Reports, 110,
108568. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.ijscr.2023.108568
Almas, Dzatarisa.
(2023). Pengaruh Penyuluhan Menggunakan Media Buku Saku Terhadap Tingkat
Pengetahuan Pra Lansia tentang Penyakit Periodontal. Poltekkes Kemenkes
Yogyakarta.
Alraddadi, Rose,
Alsamadani, Abdulrahman H., Kalantan, Mulham A., Aljefri, Yara E., Maaddawi,
Hadeel A., Kadasa, Athoub N., Alturkistani, Rahaf F., & Jfri, Abdulhadi H.
(2023). Incidence of conjunctivitis adverse event in patients treated with
biologics for atopic dermatitis: A systematic review and meta-analysis. JAAD
International, 13, 46�47.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jdin.2023.05.014
ANGGELA, A. (2023). Hubungan
Pemberian Ekstrak Bunga Kitolod (Isotoma Longiflora) Dengan Perbaikan Klinis
Konjungtivitis Iritatif Mata Tikus Putih (Rattus Norvegicus).
ANGGELA, THESA, Ali,
Haidina, Marwanto, Andriana, Mulyati, Sri, & Saputra, Arie Ikhwan. (2021). Perbandingan
Efektivitas Eco Filter Air Cangkang Kerang Lokan (Geloina Erosa) Dengan
Saringan Pasir Lambat (Spl) Untuk Mengurangi Kekeruhan Pada Sumur Gali Di Kelurahan
Padang Serai Kota Bengkulu. Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
Azizaturrahmah, Fahma.
(2018). Hubungan Keluhan Iritasi Mata dengan Lama Kontak dan Kadar Klorin
pada Air Kolam Renang Universitas Lampung.
Boesoirie, Shinta Fitri,
Yunard, Ardiella, Mahdiani, Sally, & Aziza, Yulia. (2019). Crash Course
Special Senses. Elsevier (Singapore) Pte Limited.
Burhanudin, Ibnu.
(2015). Analisis klorin terhadap keluhan iritasi mata pada pengguna kolam
renang pemerintah di jakarta selatan tahun 2015. UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, 2015.
DOPA, YEREMIAS ARIADA.
(2018). Konstipasi (Hemoroid) Pada Ny. F Diruang Bedah Umum (RUANG K) RSUD
DR. SOEDARSO PONTIANAK. stik muhammadiyah pontianak.
Goodman, Lucy, Hamm,
Lisa, Tousignant, Benoit, Black, Joanna, Misra, Stuti, Woodburn, Sophie, Keay,
Lisa, Harwood, Matire, Gordon, Iris, Evans, Jennifer R., & Ramke,
Jacqueline. (2023). Primary eye health services for older adults as a component
of universal health coverage: a scoping review of evidence from high income
countries. The Lancet Regional Health - Western Pacific, 35,
100560. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.lanwpc.2022.100560
Iqbal, Rizki Muhammad,
Magdalena, Rita, & Fuadah, R. Yunendah Nur. (2018). Support Vector Machine
Untuk Deteksi Anemia Secara Non-invasif Melalui Konjungtiva Mata Berbasis
Pengolahan Citra Digital. EProceedings of Engineering, 5(3).
Jannah, Raodatul.
(2016). Gangguang dan Kesehatan Mata. Guepedia.
Kanda, Pushpinder,
Ioannidis, Sarantos, Sim, Wei, Weston, Bonnie, & Koaik, Mona. (2023).
Primary meningococcal conjunctivitis in an adult patient. IDCases, 32,
e01749. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.idcr.2023.e01749
KHAERUNNISA,
KHAERUNNISA. (2019). HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN KERJA DENGAN PERILAKU
MEROKOK NELAYAN DI PESISIR KABUPATEN PANGKEP DAN KOTA MAKASSAR.
Khaidir, Andi, &
Hengky, Henni Kumaladewi. (2019). HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK PENDERITA
DENGAN DERAJAT ASMA BRONKIAL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ANDI MAKKASAU KOTA
PAREPARE. Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan, 2(2), 205�219.
Larasati, Cantika.
(2022). HUBUNGAN LAMA PEMAKAIAN LENSA KONTAK LUNAK DENGAN KEJADIAN SINDROM
MATA KERING PADA MAHASISWA PSPD FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG.
Li, Yali, Jiang, Yaojun,
Liu, Huilong, Yu, Xi, Chen, Sihui, Ma, Duoshan, Gao, Jianbo, & Wu, Yan.
(2022). A phantom study comparing low-dose CT physical image quality from five
different CT scanners. Quantitative Imaging in Medicine and Surgery, 12(1),
766�780. https://doi.org/10.21037/qims-21-245
Lim, Jue Tao, Choo,
Esther Li Wen, Janhavi, A., Tan, Kelvin Bryan, Abisheganaden, John, &
Dickens, Borame. (2023). Density forecasting of conjunctivitis burden using
high-dimensional environmental time series data. Epidemics, 44,
100694. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.epidem.2023.100694
Mangal, Shiv, Bonyah,
Ebenezer, Sharma, Vijay Shankar, & Yuan, Y. (2024). A novel
fractional-order stochastic epidemic model to analyze the role of media
awareness in the spread of conjunctivitis. Healthcare Analytics, 5,
100302. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.health.2024.100302
Mardiyantoro, Fredy.
(2017). Penyebaran Infeksi Odontogen dan Tatalaksana: Dasar Pemahaman
tentang Infeksi pada Rongga Mulut dan Sekitarnya. Universitas Brawijaya
Press.
Mareintika, Retno.
(2021). Uji Efek Pemberian Antibakteri ekstrak Daun Kitolod (Isotoma Longiflora
(L) Presl.) terhadap Staphylococcus Aureus. Jurnal Medika Hutama, 2(04
Juli), 1084�1088.
Nugraha Wahyu Cahyana,
SpM. (2021). Buku Monograf Konjungtivitis Alergi. UPT Penerbitan &
Percetakan Universitas Jember.
Prajna, N. Venkatesh,
Lalitha, Prajna, Teja, Gonugunta Vishnu, Gunasekaran, Rameshkumar, Sharma,
Sankalp S., Hinterwirth, Armin, Ruder, Kevin, Zhong, Lina, Chen, Cindi, Deiner,
Michael, Huang, ChunHong, Pinsky, Benjamin A., Lietman, Thomas M., Seitzman,
Gerami D., & Doan, Thuy. (2022). Outpatient human coronavirus associated
conjunctivitis in India. Journal of Clinical Virology, 157, 105300.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jcv.2022.105300
Pribakti, Budinurdjaja.
(n.d.). Jurnal-Hubungan Leukosituria dan Bakteriuria dengan Kelahiran
Prematur dan Aterm pada Preeklamsia di RSUD Ulin Banjarmasin.
Septiana, Feny Gestia,
& Nugrahani, Ida. (2022). Seorang Anak Perempuan dengan Konjungtivitis
Bakteri: Laporan Kasus. Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Surakarta, 786�792.
Setiabudi, Rudy Sukamto,
& Eliyani, Hana. (2021). Anatomi Veteriner Organ Sensorik. Airlangga
University Press.
Soesilawati, Pratiwi.
(2020). Histologi kedokteran dasar. Airlangga University Press.
Sumastri, Heni, Neni
Riyanti, S. K. M., Rohaya, S. Pd, & Suprida, S. K. M. (2022). BUKU AJAR
ANATOMI UNTUK MAHASISWA KEBIDANAN. Feniks Muda Sejahtera.
Tan, Ting Fang,
Thirunavukarasu, Arun J., Jin, Liyuan, Lim, Joshua, Poh, Stanley, Teo, Zhen
Ling, Ang, Marcus, Chan, R. V. Paul, Ong, Jasmine, Turner, Angus, Karlstr�m,
Jonas, Wong, Tien Yin, Stern, Jude, & Ting, Daniel Shu Wei. (2023).
Artificial intelligence and digital health in global eye health: opportunities
and challenges. The Lancet Global Health, 11(9), e1432�e1443.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/S2214-109X(23)00323-6
Tatyana, O., &
Berezovskaya, Elena. (n.d.). Tentang persetujuan standar perawatan kesehatan
primer untuk migrain (perawatan preventif). Migrain: Rekomendasi untuk
diagnosis dan pengobatan obat, yang harus dihindari.
Yang, Meng, Zhu, Bin,
Zhang, Yupei, Yang, Qinhe, & Amraii, Sara Amirpour. (2023). Protective
properties of AgNPs green-synthesized by Camellia sinensis on ovalbumin-induced
allergic conjunctivitis. Journal of Engineering Research.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jer.2023.07.013