KESIAPSIAGAAN
DALAM MENGHADAPI ANCAMAN BENCANA TSUNAMI BERBASIS MASYARAKAT DI NAGARI SALIDO
Muhammad Alif1, Zikri Alhadi 2
Ilmu Administrasi Negara, Fakultas
Ilmu Sosial, Universitas
Negeri Padang
Diterima: 29-10-2022��������������������� ��������������� Review: 11-11-2022�������� ��������������� ��������������� Publish:
16-11-2022
Abstrak:
Sumatera
Barat merupakan daerah yang
termasuk kedalam wilayah rawan bencana gempabumi
karena Sumatera Barat berada
di pantai barat pulau
Sumatera yang secara tektonik
berdekatan dengan zona subduksi (Subduction zone). Merujuk
pada hasil penelitian Cahyati Damayanti, diketahui bahwa Energi yang dilepaskan dari Gempa Megathrust segmentasi
Mentawai-Pagai pada tahun
2010 yang lalu baru hanya sepertiga dari energi Gempa
yang ada pada segmentasi tersebut. Maka dibutuhkan monitoring dan kajian lebih lanjut. Karena jika energi Gempa
yang dihasilkan kedepannya lebih besar maka
Tsunami yang dapat terjadi
juga lebih besar 3 kali lipatnya. Hal ini dibuktikan juga dengan simulasi Gempa Megathrust tahun 1314. Dari penelitian Cahyati Damayanti tersebut dapat dipahami apabila energi gempabumi yang dihasilkan pada segmentasi Mentawai lebih besar dari yang sudah dimodelkan, maka Tsunami yang berkemungkinan dapat terjadi lebih
besar 3 kali lipat. Maka dampak akibat
bencana Tsunami di Nagari Salido
juga 3 Kali Lipat lebih besar dari sebelumnya.
Upaya kesiapsiagaan Gempabumi dan Tsunami adalah pemenuhan hak masyarakat
dalam bidang penanggulangan bencana. Hal ini diatur di dalam
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana,
Masyarakat memiliki hak-hak
yang harus dijamin oleh
Negara, hak informasi, hak katas perlindungan, peningkatan kemampuan, hak pengawasan, hak berperan serta,
dan hak mendapatkan bantuan saat terjadi
bencana. Masyarakat merupakan
pelaku utama dalam penanggulangan bencana dan sekaligus korban bencana, masyarakat harus siap dan mumpuni pada batasan tertentu dalam menangani bencana sehingga dampak risiko bencana diharapkan tidak meningkat ke sekala
yang lebih besar. Oleh karena itu upaya
kesiapsiagaan seharusnya menjadi pilihan tindakan yang berbasis masyarakat.
Kata kunci: Kesiapsiagaan, Mitigasi Bencana, Tsunami, Berbasis
Masyarakat.
Abstract:
West Sumatra is an area that is included in
the earthquake-prone area because West Sumatra is located on the west coast of
the island of Sumatra which is tectonically close to the subduction zone.
Referring to the results of Cahyati Damayanti's
research, it is known that the energy released from the Mentawai-Pagai segmentation Megathrust Earthquake in 2010 was only
one-third of the Earthquake energy present in that segmentation. Hence further
monitoring and studies are needed. Because if the earthquake energy generated
in the future is greater then the Tsunami that can
occur is also 3 times larger. This is also proven by the simulation of the
Megathrust Earthquake in 1314. From Cahyati
Damayanti's research, it can be understood that if the earthquake energy generated
in the Mentawai segmentation is greater than that which has been modeled, then
the Tsunami that has a probability of occurring is 3 times greater. So the impact of the Tsunami disaster in Nagari Salido was also 3 times bigger than before. Earthquake and
Tsunami preparedness efforts are the fulfillment of community rights in the
field of disaster management. This is regulated in Law Number 24 of 2007
concerning Disaster Management, Communities have rights that must be guaranteed
by the State, information rights, protection rights, capacity building,
monitoring rights, participation rights, and the right to receive assistance
when disaster strikes. disaster. Communities are the main actors in disaster
management and at the same time victims of disasters, communities must be
prepared and qualified to a certain extent in dealing with disasters so that
the impact of disaster risk is expected not to escalate to a larger scale. Therefore preparedness efforts should be a community-based
choice of action.
Keywords:
Preparedness,
Disaster Mitigation, Tsunami, Community Based�������������������������
Corresponding: Muhammad
Alif
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Sumatera
Barat merupakan daerah yang termasuk
kedalam wilayah rawan bencana gempabumi karena Sumatera Barat berada di pantai barat pulau Sumatera yang secara tektonik berdekatan dengan zona subduksi (Subduction zone). Zona Subduksi
adalah zona pertemuan antara 2 lempeng tektonik yaitu lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Gempabumi
merupakan guncangan yang terjadi akibat pergeseran dua lapisan batuan di dasar permukaan bumi. Gempabumi dapat disebabkan oleh pergerakan kulit bumi (tektonik), aktivitas gunung api (vulkanik), runtuhnya massa batuan, dan kegiatan eksplorasi.
Meningkatnya intensitas kejadian bencana di kabupaten Pesisir Selatan dalam beberapa tahun terakhir membuat kita harus selalu
waspada dan selalu melakukan upaya agar dampak yang terjadi tidak terlalu berpengaruh
terhadap sendi-sendi kehidupan dan penghidupan masyarakat. Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana yang dimaksud dengan bencana adalah suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan non alam maupun faktor manusia
sehingga menimbulkan korban
jiwa manusia kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.
Merujuk pada hasil penelitian Cahyati Damayanti, et.al (2020) Merujuk
pada hasil penelitian �Cahyati
Damayanti, et.al (2020) diketahui bahwa
Energi yang dilepaskan dari Gempa Megathrust segmentasi Mentawai-Pagaipada tahun 2010 yang lalu baru hanya sepertiga
dari energi Gempa yang ada pada segmentasi tersebut. Maka dibutuhkan monitoring dan kajian lebih lanjut.
Karena jika energi Gempa yang dihasilkan kedepannya lebih besar maka Tsunami yang dapat terjadi juga lebih besar 3 kali lipatnya. Hal ini dibuktikan juga dengan simulasi Gempa Megathrust tahun 1314.
Dari penelitian Cahyati
Damayanti tersebut dapat dipahami apabila energi gempabumi yang dihasilkan pada segmentasi Mentawai
lebih besar dari yang sudah dimodelkan, maka Tsunami yang berkemungkinan dapat terjadi lebih besar
3 kali lipat. Maka dampak akibat bencana
Tsunami di Nagari Salido juga 3 Kali Lipat lebih besar
dari sebelumnya.
Tsunami yang biasanya
datang dalam waktu singkat setelah
gempa sebagai pemicunya terjadi menyebabkan masyarakat tidak mempunyai waktu yang banyak untuk menyelamatkan diri dan aset yang mereka miliki (Edyanto, 2019). Fokus penyelamatan hanya pada diri sendiri dan keluarga menyebabkan aset masyarakat tidak bisa diselamatkan (Purwitasari, 2019). Selain itu Kawasan pemukiman yang berada di pantai dan jauhnya jarak ke tempat
evakuasi menyebabkan masyarakat banyak yang kurang memiliki waktu untuk mencapai
tempat evakuasi.
Upaya kesiapsiagaan Gempabumi dan Tsunami berdasarkan
analisis risiko, dan upaya yang sistematis bertujuan untuk mengurangi risiko tersebut serta dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana Gempabumi dan Tsunami (Raja, Hendarmawan, & Sunardi, 2017). Dibuatnya kebijakan
pengurangan risiko bencana bertujuan agar kegiatan pembangunan tidak meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap bencana. Keberhasilan pihak-pihak luar dalam menfasilitasi
masyarakat guna mewujudkan kesiapsiagaan merupakan sebuah keberhasilan masyarakat juga, diharapkan masyarakat akan memiliki seluruh
proses peningkatan kesiapsiagaan
itu sendiri setelah difasilitasi oleh pihak luar.
Pada praktiknya,
pengurangan risiko bencana seharusnya mendapatkan tempat yang memadai dalam musyawarah
perencanaan pembangunan di berbagai tingkatan, mulai dari desa
sampai negara (Humaedi, 2016). Perencanaan pembangunan
yang bersifat dari bawah ke atas
(bottom-up) harus ditransformasikan
menjadi sebuah perencanaan desa oleh masyarakat itu sendiri, dan disesuaikan dengan batas kewenangan
yang dimiliki oleh Desa. Dalam rangka membentuk
kesiapsiagaan, terdapat hal-hal tertentu yang cukup ditangani oleh Desa, dan ada yang memang harus ditangani
oleh pemerintahan yang berada
di tingkat atas setelah Desa (Agus Tiani, 2021).
Penulis melakukan tinjauan lapangan berupa wawancara awal dan observasi terhadap masyarakat Nagari Salido dengan cara memilih
10 orang masyarakat sebagai
sampling untuk mengetahui bagiamana pemahaman masayarakat Nagari Salido terhadap kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana Tsunami. Berdasarkan wawancara yang telah peneliti lakukan diketahui bahwa masyarakat Nagari Salido hanya mengandalkan insting saat terjadinya
bencana, banyak masyarakat Nagari Salido yang sudah lupa apa
saja langkah mitigasi bencana gempabumi dan Tsunami yang tepat
dan benar dilakukan sebelum, saat, dan sesudah terjadinya bencana gempabumi dan Tsunami.
Langkah mitigasi yang dipahami
masyarakat mayoritas tidak terorganisir dengan benar dan belum sesuai dengan
rencana kontinjensi yang sudah dimiliki oleh Pemerintah Nagari Salido, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pesisir Selatan dalam menghadapi Ancaman Bencana Tsunami yang kemungkinan besar akan terjadi.
Rencana Kontijensi merupakan proses identifikasi dan
penyusunan rencana kedepan yang didasarkan pada keadaan yang kemungkinan besar akan terjadi
namun juga belum tentu terjadi.
Pada wawancara
awal yang peneliti lakukan masyarakat juga mengeluhkan bahwa tidak adanya sistem
peringatan dini Tsunami di
Nagari Salido, hanya ada satu di kota
Painan yang jangkauannya hanya di sekitar sirine peringatan dini, sedangkan kota Painan berjarak
5 km dari Nagari Salido sehingga Sirine Peringatan dini tidak dapat didengar
oleh masyarakat Nagari Salido
dan masyarakat Nagari Salido
tidak dapat mengetahui apakah gempa yang baru saja terjadi berpotensi
Tsunami atau tidak. Dan selama kejadian gempabumi yang berpotensi Tsunami
pemerintah Nagari tidak pernah memberikan peringatan dini kepada masyarakat sehingga masyarakat bingung apakah harus mengevakuasi mandiri atau tidak.
Masayarakat hanya mengandalkan berita peringatan dini yang dapat dilihat pada laman resmi bmkg
melalui internet, sedangkan
pada saat dan setelah gempabumi besar terjadi masyarakat tidak dapat mengakses
internet dikarenakan hilangnya
sinyal ponsel akibat diputusnya kelistrikan sinyal pemancar ponsel agar tidak terjadinya kerusakan kelistrikan.Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan jauhnya tempat evakuasi Tsunami di Nagari
Salido, dari tiga tempat evakuasi
yang disebutkan Bapak Alizarman
selaku sekretaris Wali Nagari dan kepala Kelompok Siaga Bencana Nagari Salido, Hanya 2 tempat evakuasi yang diketahui masyarakat, selebihnya masyarakat hanya mengevakuasi diri ke Lumpo dan Painan.
Masyarakat merupakan pelaku
utama dalam menanggulangi bencana sekaligus sebagai korban bencana itu sendiri,
masyarakat harus siap dan mampu dalam batasan tertentu
dalam hal menangani bencana, sehingga diharapkan dampak dan risiko bencana Tsunam yang dikhawatirkan tidak berkembang ke tingkatan
yang lebih besar. Oleh karena itu, upaya
berupa pengyrangan risiko bencana Tsunami berupa Kesiapsiagaan menjadi pilihan tindakan yang berbasis masyarakat.
Berdasarkan Latar Belakang diatas maka mendorong
penulis untuk melakukan penelitian dengan judul penelitian
�KESIAPSIAGAAN DALAM MENGHADAPI ANCAMAN BENCANA TSUNAMI BERBASIS MASYARAKAT DI
NAGARI SALIDO KECAMATAN IV JURAI KABUPATEN PESISIR SELATAN�
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini adalah
Penelitian Kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. (Johannes Moleong,
2009) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati. Menurut (Sugiyono, 2011), metode deskriptif adalah metode yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu
variable atau lebih tanpa membuat perbandingan,
atau menghubungkan antara variable satu dengan variable yang lain, yang bertujuan
untuk mengetahui Kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana Tsunami berbasis
Masyarakat di Nagari Salido. Menurut
(Lexy J. Moleong,
2012),
lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan penelitian terutama dalam menangkap fenomena atau peristiwa yang sebenarnya terjadi dari objek yang diteliti dalam rangka mendapatkan data-data penelitian yang akurat. Lokasi
yang menjadi tempat penelitian ini yaitu di Nagari Salido, Kantor Wali Nagari Salido, dan Badan Penanggulangan Bencana Daeah (BPBD) Kabupaten Pesisir Selatan. Penelitian dilaksanakan pada 01-25 Oktober
2022 dengan menggunakan
Teknik Wawancara, Observasi,
dan Studi Dokumentasi.
Teknik penguji keabsahan
data yang digunakan adalah
Teknik Triangulasi (Lexy J. Moleong,
2007).
Langkah-langkah yang dilakukan
adalah reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. informan pada penelitian ini ditentukan dengan cara purposive sampling,
dengan informan penelitian yang terdiri dari Pemerintah Nagari Salido, Kelompok Siaga Bencana Nagari Salido, Masyarakat Nagari Salido,
dan BPBD Kabupaten Pesisir
Selatan.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Peran
Pemerintah Nagari Salido,
Masyarakat serta Komunitas Siaga Bencana di Nagari Salido dalam mempersiapkan
kesipasiagaan menghadapi ancaman bencana Tsunami berbasis Masyarakat di Nagari Salido
Peranan merupakan suatu tindakan yang dilakukan dalam sebuah peristiwa
oleh suatu individu atau sekelompok orang.� Peran merupakan karakter yang melekat pada individu dalam melaksanakan tugas dan kewajiban pada suatu kedudukan yang miliki pada status
sosial, Depdikbud dalam (Baturangka, Kaawoan, & Singkoh, 2019).
(Soekanto, 2002:243) berpendapat
bahwa role atau peranan merupakan aspek dinamis suatu
status atau kedudukan. Apabila seseorang melakukan hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai dengan status atau kedudukan. Apabila seseorang melakukan hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai dengan status atau kedudukannya, maka ia dikatakan
menjalankan suatu peran. Berbeda dengan soekanto, (Raho, 2016:86) mengartikan
bahwa peran sebagai pola tingkah
laku yang diharapkan masyarakat dari seseorang yang menduduki status tertentu di dalam masyarakat. Berdasarkan berapa pendapat ahli diatas dapat
disimpulkan bahwa peran adalah sebuah
perilaku individu atau lembaga institusi
yang menggambarkan status sosial
dalam melaksanakan tugas serta wewenang
yang telah menjadi tanggung jawab dan kewajibannya.
Upaya kesiapsiagaan Gempabumi dan Tsunami adalah pemenuhan hak masyarakat
dalam bidang penanggulangan bencana. Hal ini diatur di dalam
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana,
Masyarakat memiliki hak-hak
yang harus dijamin oleh
Negara, hak informasi, hak katas perlindungan, peningkatan kemampuan, hak pengawasan, hak berperan serta,
dan hak mendapatkan bantuan saat terjadi
bencana.
Perencanaan pembangunan yang dilakukan dari bawah ke
atas (bottom-up) harus
ditransformasikan juga menjadi
Perencanaan Desa oleh
Masyarakat sendiri, sesuai dengan batasan kewenangan yang dimiliki oleh Desa. Dalam kerangka
Kesiapsiagaan, terdapat hal tertentu yang cukup ditangani oleh Desa saja, dan ada hal-hal yang harus ditangani oleh tingkatan Pemerintahan di Pemerintah Desa.
Keberhasilan kerja koordinasi lintas sektor akan
menjamin adanya pengarusutamaan pengurangan risiko bencana dalam program sektoral sehingga mengefektifkan kerja pengurangan risiko bencana dalam mewujudkan masyarakat yang tangguh bencana, sinergi kerja lintas sektor
ini juga akan dapat menghindari tumpang-tindih program/kegiatan
yang dapat berakibat pada inefisiensi pendanaan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan BPBD diketahui bahwa kerja koordinasi lintas
sektor di Bidang Bencana disebut dengan Pentahelix Pengurangan Risiko Bencana yang terdiri dari Pemerintah (Regulator),
Masyarakat (Akselerator), Media (Pengganda),
Akademisi-Pakar (Konsep
& Inovasi), dan Dunia Usaha (Pendorong).
Dapat dipahami bahwa Pentahelix adalah Kolaborasi yang dilakukan multipihak untuk mengurangi risiko bencana
Dalam Pentahelix, Pemerintah berperan menerapkan regulasi penaggulangan bencana serta pengenalan pemantauan pada risiko bencana. Pelaku Usaha dalam Pentahelix berperan mengaplikasikan standar guna mencegah
terjadi bencana dan diharapkan dapat memberikan bantuan CSR, serta mampu meningkatkan
jalannya bisnis dengan tetap memperhatikan
ancaman bencana yang ada di sekitar. Akademisi-pakar berperan melaksanakan Tri Dharma Perguruan
Tinggi dengan cara melakukan riset dasar pemahaman risiko, upaya mitigasi,
serta menerapkannya kepada masyarakat. Media Massa berperan menyampaikan informasi kebencanaan, mengedukasi masyarakat, menginformasikan risiko dan upaya mitigasi ketika bencana terjadi, dan meluruskan berita hoax yang telah beredar di Masyarakat. Masyarakat berperan
mengetahui dan mencegah ancaman bencana yang datang di lingkungan sekitar dan terlibat aktif kesiapsiagaan lingkungan mulai dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dan Kota.
Setelah dilakukan serangkaian wawancara dengan Wali Nagari Salido, diketahui bahwa Pemerintah Nagari Salido pernah memberikan penyuluhan terkait bencana Tsunami yang terakhir
kali dilakukan pada Tahun
2021 bertempat di Kantor Wali
Nagari Salido dan di Lapangan
Kampuang Lua Salido dengan target penyuluhan berupa Masyarakat Nagari Salido
yang bermukim di pinggir
Pantai yang akan mendapat imbas Tsunami nantinya.
Berikut wawancara dengan bapak Evilindo selaku Wali Nagari Salido :
��Pemerintah
Nagari Salido pernah memberikan penyuluhan terkait bencana Tsunami pada situasi siaga, contohnya saat curah hujan tinggi
diberikan arahan kepada KSB (kelompok siaga bencana), penyuluhan Tsunami terakhir tahun 2021 dilakukan di kantor wali dan di lapangan dengan targetnya masyarakat pinggir pantai yang akan mendapatkan imbas Tsunami� itu yang diutamakan. Nagari Salido berada di dekat pantai, sangat riskan dengan adanya gempa-gempa
bisa menyebabkan Tsunami. Kalau penyampaian informasi kesiapsiagaan belum sampai ke
penyandang disabilitas, penyampaian informasi baru hanya ke
masyarakat yang tinggal didekat pantai, disabilitas belum�(Wawancara pada 01/09/2022)�
Namun informasi yang diberikan oleh Wali Nagari Salido berbeda dengan Informasi yang disampaikan oleh kepala Kelompok Siaga Bencana Nagari Salido, menurut informasi yang disampaikan
oleh Kepala Kelompok Siaga Bencana Nagari Salido diketahui bahwa penyuluhan terkait bencana Tsunami terakhir kali dilaksanakan di
Nagari Salido sudah 5 (Lima)
tahun yang lalu yakninya pada tahun 2017. Penyuluhan berupa sosialisasi dan simulasi belum dilakukan Kembali dengan alasan tidak
adanya dana untuk kebencanaan Tsunami dikarenakan
dana kebencanaan dipangkas
oleh Pemerintah Kabupaten untuk disalurkan sebagai Bantuan Langung Tunai (BLT) kepada Masyarakat di Nagari Salido
pada saat terjadinya Pancemi COVID-19 pada tahun
2020-2021.
Setelah melakukan Wawancara dengan BPBD Kabupaten Pesisir Selatan untuk mengetahui kebenaran informasi tersebut, diketahui bahwa yang disampaikan oleh Wali Nagari Salido dan Kepala Koordinator KSB Nagari Salido benar adanya
hanya perbedaan presepsi Penyuluhan bencana, yang dimaksud oleh Kepala Koordinator KSB Nagari Salido adalah Penyuluhan
Bencana Tsunami oleh KSB sedangkan
Wali Nagari Salido adalah Penyuluhan Bencana Covid-19. Namun penyuluhan berupa Sosialisasi Bencana Gempabumi dan Tsunami sudah mulai dilakukan lagi di Nagari Salido oleh BPBD Kabupaten Pesisir Selatan dengan Mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata. Hal ini juga membuktikan adanya pelaksanaan Peran Pentahelix antara Pemerintah dan Akademisi-Pakar di
Nagari Salido.
Berikut hasil wawancara dengan Ibu Revalinda Asyuni selaku Analis
Kebencanaan BPBD Kabupaten Pesisir Selatan :
��mungkin kesalahan presepsi mereka sekarang pembahasannya kan Tsunami, sedangkan 2021 yang dimaksud itu kan bencana
Covid-19. Bencana Covid-19 itu
bencana sosial, jadi mungkin salah pengertian, kalau yang 2017 itu kan Tsunami Megathrust mungkin pak wali
mengatakan 2021 karena mereka fokus kepada
Bencana Covid-19 itu mungkin kesalahan itu terdapat pada perbedaan persepsi mereka, pak wali
juga ga salah karena Covid-19 itu
juga termasuk bencana, bencana Sosial Namanya, yang KSB
juga tidak salah dia sudah sesuai dengan
fokus judul ini yaitu Tsunami, jadi bagaimana kita menyikapi aja lagi�(Wawancara Pada 19/10/2022)�
Merujuk pada hasil Wawancara dengan BPBD Kabupaten Pesisir Selatan, Covid-19 juga merupakan
Bencana yang disebut dengan Bencana Sosial, maka pemangkasan
dana kebencanaan untuk penyaluran Bantuan Langsung Tunai atau disingkat BLT untuk masyarakat terdampak Covid-19 merupakan termasuk kedalam tidakan penanggulangan bencana. Namun menurut BPBD Kabupaten Pesisir Selatan, penyuluhan mitigasi bencana Tsunami berupa sosialisasi semestinya mampu dilakukan oleh Pemerintah Nagari tanpa Dana sedikitpun. Hal ini dipertegas dengan pengalaman BPBD Kabupaten Pesisir Selatan yang melakukan Tindakan Penyuluhan berupa Sosialisasi ke Sekolah-Sekolah tanpa membutuhkan Dana kegiatan hanya menggunakan MoU kesepakatan
dengan pihak Sekolah.
Berikut hasil wawancara dengan Ibu Revalinda Asyuni selaku Analis
Kebencanaan BPBD Kabupaten Pesisir Selatan :
��sebetulnya
dana kebencanaan itu untuk BLT korban Covid ya, itukan bencana juga jadi pemangkasan itu karena untuk
BLT korban dampak Covid-19 pihak
Nagari mengatakan karna dipangkas untuk BLT, mungkin yang mereka pikirkan bencana itu kan gempabumi
dan Tsunami, Covid itu kan
juga bencana jadi dipangkas untuk Bencana Sosial, jadi mungkin mereka
tidak bisa mensosialisasikan, sebetulnya mereka juga bisa kerja juga sekaligus mensosialisasikan Covid. Kita dari
BPBD melakukan sosialisasi
ga pake dana kok, kan Cuma sosialisasi
kita kerjasama dengan sekolah , kebetulan MTSN Salido kan di pinggir
pantai, Cuma MoU kesepakatan aja ga perlu dana kok. Kalau sekedar sosialisasi
memberitahukan ke masyarakat sebetulnya ndak perlu dana, di warung warung kan
kita bisa ngomong gitu, seharusnya
pakai dana desa juga bisa, ya dana desa
nya itu diapangkas
untuk Covid katanya kan gitu haha
jadi sebetulnya untuk sekedar sosialisasi
tapi kan kita belum boleh
sosialisasi kita belum boleh tatap
muka soalnya masyarakat isolasi kan, memang 2 tahun
itu memang tidak boleh, jadi
dipangkas betul kan ga ada juga gunannya kan, kalau
ada betul dananya kita juga ga bisa sosialisasi gitu kan karna
lagi pandemic�(Wawancara
Pada 19/10/2022)�
Mengingat saat ini Ancaman
Bencana Tsunami akibat
Megathrust Mentawai sangat mengancam keamanan masyarakat kabupaten Pesisir Selatan terkhususnya Masyarakat Nagari Salido,
maka Tindakan Penyuluhan berupa Sosialisasi Mitigasi Bencana Tsunami kepada Masyarakat sangat penting,
dikarenakan tidak semua masyarakat memiliki dan mampu menggunakan Ponsel Pintar. Berdasarkan hasil wawancara dengan BPBD Kabupaten Pesisir Selatan diketahui bahwa BPBD Kabupaten Pesisir Selatan melakukan Sosialisasi melalui Media Sosial atau Media Elektronik, melakukan kerjasama dengan Radio, kerjasama dengan PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi). Namun Sosialisasi langsung kepada masyarakat secara tatap muka dibutuhkan
karena masyrakat Nagari Salido tidak semuanya
mempunyai dan mampu mengoperasikan Ponsel Pintar. Pemerintah Nagari seharusnya dapat melakukan Sosialisasi langsung melalui Acara Keagamaan seperti di Mesjid selipkan sosialisasi mitigasi bencana Tsunami sebelum Ceramah dimulai. Pemerintah Nagari juga dapat berkoordinasi dengan Tigo Tungku Sajarangan� untuk memperluas penyampaian informasi ke lapisan
masyarakat di Nagari Salido.
Diketahui Teori Peran oleh Jim Ife dan Frank Tesoriero
(2016) sebagai berikut :
a.�������� Peran fasilitatif
(berperan dalam memfasilitasi, mengakui, memperkuat serta menghargai kontribusi kerja yang dimiliki masyarakat, kelompok-kelompok,
dan individu-individu dalam
meningkatkan produktivitas.)
b.�������� Peran Edukasional
(individu atau kelompok berperan aktif dalam memberikan
masukan mengenai pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman kepada individu, kelompok, dan masyarakat).
c.�������� Peran Teknis (individu
atau kelompok berperan melihat kemampuan yang dimiliki oleh individu, kelompok maupun masyarakat).
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dapat dipahami bahwa Pemerintah Nagari Salido berperan sebagai fasilitator Kelompok Siaga Bencana dan Masyarakat dalam mempersiapkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana Tsunami di Nagari Salido
yang dapat. Selain itu Pemerintah Nagari Salido juga berperan Edukasional untuk pelaksanaan penyuluhan Kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana Tsunami di Nagari Salido.
Namun peran teknis pemerintah Nagari dalam mengetahui kesiapsiagaan yang sudah disiapkan oleh masyarakat belum terlihat.
Upaya pengurang risiko bencana yang dilakukan masyarakat Nagari Salido dalam mempersiapkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana Tsunami di Nagari
Salido
Berdasarkan pendapat Torsina dalam (TEGUH, 2018) Upaya adalah kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
(dalam (TEGUH, 2018) mengartikan
kata upaya adalah usaha akal ikhtiar
(untuk mencapai suatu maksud, memecahkan
persoalan, mencari jalan keluar, sdb).
Upaya adalah suatu tindakan, aksi, atau kegiatan
yang dilakukan untuk mencapai tujuan.
Upaya peningkatan risiko bencana oleh Pemerintah Indonesia
terkait agenda pembangunan
SFDRR 2015-2030, No.3 (Peningkatan Kapasitas Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Seluruh masyarakat dalam penanggulangan bencana). Peningkatan kesiapsiagaan adalah bagian dari
daya dan upaya untuk mengakui hak asasi manusia
dan menjunjung tinggi hak asasi manusia,
dan berusaha memenuhi semua hak dasar
dengan tetap meyakini bahwa keanekaragaman dan perbedaan adalah suatu bentuk
kekuatan. Upaya kesiapsiagaan dapat mendukung peningkatan kemampuan masyarakat dengan cara mengembangkan
sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
Keberhasilan pihak lulain dalam
memfasilitasi masyarakat guna mewujudkan kesiapsiagaan merupakan keberhasilan masyarakat itu juga dan diharapkan masyarakat dapat memiliki seluruh peningkatan itu sendiri (BNPB,2014)
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan BPBD Kabupaten Pesisir Selatan diketahui bahwa masyarakat Nagari Salido harus mengetahui rute Evakuasi jika
terjadi bencana, merupakan tugas KSB dan Pemerintah Nagari untuk mengenalkan kepada masyarakat rute evakuasi Tsunami yang seharusnya dilalui jika terjadi
Gempabumi berpotensi
Tsunami. Selain itu
Masyarakat harus memiliki Manajemen Keluarga, manajemen keluarga merupakan program BPBD guna mewujudkan Keluarga Tangguh Bencana. dalam Manajemen Keluarga, masyarakat harus memiliki perencanaan evakuasi Gempabumi dan Tsunami baik Sebelum, Saat,
dan Sesudah Terjadinya Bencana Gempabumi dan Tsunami.
Berikut hasil wawancara dengan Ibu Revalinda Asyuni Selaku BPBD Kabupaten Pesisir Selatan :
��Masyarakat harus
tau dan kenal dulu kemana mereka akan
Evakuasi, jadi sebetulnya tugas KSB dan Wali Nagari mengingatkan kalau terjadai gempa besar di snilah tempat evakuasi
kita jadi Masyarakat harus dikenalkan, kemudian Masyarakat di Nagari Salido
itu harus ada Manajemen Keluarga
namanya Keluarga Tangguh Bencana, jadi manajemen
keluarga itu seperti anda memiliki
saudara yang sekolah di tempat berbeda dan orang tua bekerja di tempat berbeda jadi harus punya kesepakatan kalian harus bisa menyelamatkan diri sesuai dengan
arahan ditempat kalian, kalau dia anak
sekolah tentu dia dibwa oleh gurunya ke tempat
evakuasi, nanti sepakati, Bapak sama ibu yang akan cari,
itu harus ada manajemen itu,
jadi ga ada orang tua harus pulang
dulu cari anak kan jadi
macet, jadi kesepakatan itu yang belum sempat kami apakan, tapi di sekolah kami yang baru kan� bilang sama anak
anak itu nanti bilang ke
mama papa ,dan ke gurunya dia harus bertanggung
jawab dengan murid nya, jangan guru tu cari anaknya
pula sedangkan muridnya berserakan, jadi kita tetapkan kepada
Dinas Pendidikan untuk anak
SD, Paud, dan TK itukan dia bergantung dengan gurunya, jadi guru dalam keadaan darurat bencana besar guru tidak boleh pulang
cari anaknya, harus menyelamatkan murid nya, jadi kita
sekarang mengarahkan ke keluarga tangguh
bencana jadi ruang lngkup nya
lebih kecil lagi, jadi perencanaan
keluarga�(Wawancara Pada
19/10/2022)�
Berdasarkan informasi yang diterima saat mewawancarai masyarakat Nagari Salido. Diketahui bahwa masyarakat Nagari Salido melakukan serangkaian upaya Manajemen Keluarga, mengingat Nagari Salido sangat rawan terdampak bencana Tsunami maka dari itu
masyarakat Nagari Salido mengupayakan mempersiapkan Manajemen Keluarga berupa upaya Edukasi
kepada Anggota Keluarga terkait bencana Gempabumi dan Tsunami. Upaya lainnya yang dilakukan yakninya mempersiapkan kebutuhan yang dibutuhkan keluarga sebelum terjadinya bencana berupa kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya upaya
pengurangan risiko bencana Tsunami yang dilakukan
oleh Masyarakat Nagari Salido maka
dapat dinyatakan bahwa pihak luar
berhasil memfasilitasi masyarakat Nagari Salido untuk mewujudkan kesiapsiagaan dan meningkatkan kualitas masyarakat Nagari Salido.
Rencana Penanggulangan Bencana, Pengorganisasian,� langkah yang
berdaya guna dan tepat guna yang dilakukan oleh Masyarakat serta Pemerintah Nagari Salido dalam mewujudkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana Tsunami berbasis masyarakat di Nagari Salido
Perencanaan berasal dari kata rencana, yang berarti rangka atau rancangan
sesuatu yang akan dikerjakan. Dari pengertian tersebut dapat diuraikan beberapa komponen penting, yakninya tujuan (apa yang ingin dicapai), kegiatan (tindakan-tindakan untuk merealisasikan tujuan) dan waktu (kapan jika
kegiatan tersebut hendak dilakukan. Apapun yang direncanakan tentu saja merupakan
tindakan-tindakan dimasa depan (untuk masa depan). Dengan demikian sebuah perencanaan dapat dipahami sebagai respon (reaksi) terhadap masa depan (future).
(Abe, 2005:27).
Menurut Tjokroamidjojo dalam Syafalevi (2011:28) Perencanaan dalam arti luas adalah sebuah proses persiapan secara sistematis kegiatan-kegiatan yang
akan dilakukan guna mencapai tujuan
tertentu. Perencanaan adalah sebuah cara
yang digunakan untuk mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya melalui sumber yang ada agar lebih efisien dan lebih efektif.
Perencanaan merupakan sebuah proses yang berkelanjutan dan meliputi dua aspek, yaitu
formulasi perencanaan, dan pelaksanaannya. Perencanaan bisa digunakan untuk mengontrol dan mengevaluasi jalannya kegiatan, karena sifat rencana itu
sendiri adalah sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan. (Listyangsih, 2014:90).
Menurut Hasibuan (dalam Syafie, 2007:49) dikutip dari (Maramis, 2021) rencana adalah serangkaian keputusan yang dijadikan pedoman guna meraih suatu
tujuan tertentu.
Berdasarkan defenisi-defenisi diatas dapat dipahami bahwa Perencanaan adalah suatu rangkaian
keputusan yang dibuat dan digunakan sebagai pedoman yang menjadi patokan dalam pelaksanaan
kegiatan untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan
sumberdaya yang ada.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana mengamanatkan agar setiap daerah mempunyai
perencanaan penanggulangan dalam upaya penanggulangan
bencana. Secara umum perencanaan dalam penanggulangan bencana dilakukan pada setiap tahapan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Perencanaan penanggulangan bencana disusun berdasarkan hasil analisis risiko bencana dan upaya penanggulangannya dijabarkan dalam program penanggulangan bencana. Penyelenggaraan penanggulangan bencana terbagi atas beberapa
tahapan; Tahap Pra Bencana, Saat
tanggap darurat, dan pasca bencana (BNPB, 2014).
Setelah melakukan wawancara dengan Bapak Alizarman selaku kepala Koordinasi
Kelompok Siaga Bencana Nagari Salido dapat diketahui bahwa Perencanaan serta Pengorganisasian yang dilakukan oleh masyarakat serta pemerintah Nagari Salido berupa persiapan
lokasi pengungsian, lokasi titik kumpul
pengungsian, yang kondisinya
sudah tidak terawat.
Sebagaimana disebutkan bapak Alizarman pada hasil wawancara berikut� ini
:
��.kita untuk relokasi pengungsian kita sudah siap
yang pertama kita di lapangan SMA titik kumpul untuk Salido
daerah Kampuang Lua, Balai Lamo, Pasar Salido itu di SMA. Untuk Laban sudah ada titik kumpul
di belakang rumah Pak Kamal
sampai ke bukit itu Bukit Asih namanya. Sampai
sekarang titik kumpul itu belum
dibersihkan kayak yang pernah
ada sebab apa kerja kita
dengan anggaran KSB anggaran tergantung dengan BPBD dan juga pernah dianggarkan dengan Nagari anggaran bencana tapi dialihkan oleh Pemerintah�(wawancara
pada 02/09/2022)�
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan BPBD Kabupaten Pesisir Selatan, Pemerintah Nagari harus mempunyai tempat evakuasi Tsunami, Pemerintah
Nagari Harus membuat Rambu Evakuasi Tsunami. BPBD Kabupaten Pesisir Selatan berharap Pemerintah Nagari bersama masyarakat bergotong royong membenahi tempat evakuasi Tsunami dan melakukan penanaman tanaman yang bermanfaat dan menghasilkan yang jika terjadi bencana
dapat digunakan sebagai bahan makanan
cadangan sebelum bantuan datang.
Saat dilakukannya berupa observasi di lapangan, ditemukan bahwa Plang penunjuk arah evakuasi pada jalur evakuasi Tsunami menuju shelter bukit yang bertempat di belakang Bedeng Bego sudah
dalam kondisi rusak, Pondasi Plang penunjuk arah tersebut sudah
goyah dan mudah roboh jika terjadi
Gempabumi berskala besar.

Gambar 1. Observasi Kondisi Jalur Evakuasi Tsunami
Selain plang penunjuk arah, pada jalur evakuasi Tsunami tersebut terdapat bangunan Tower Sutet yang lokasinya berdekatan dengan jalur evakuasi Tsunami dan dikhawatirkan jika terjadi gempa besar
dapat roboh dah menutupi jalur evakuasi Tsunami menuju Shelter
Bukit sehingga dapat menghambat proses evakuasi
Tsunami masyarakat Nagari Salido.
Keadaan titik evakuasi Tsunami pada Shelter Bukit di belakang
Bedeng Bego hanya sedikit yang diberi semen beton, selebihnya hanya jalanan berlumpur dan rawan longsor jika
terjadi gempa besar sehingga dapat membahayakan masyarakat yang melakukan evakuasi. Saat melakukan observasi jalur evakuasi Tsunami di Kampung
Laban, ditemukan jalur evakuasi dengan kondisi jalur yang hanya diberi beton
setengah dari Panjang jalur evakuasi maka jika Evakuasi
Tsunami dilakukan pada saat
Hujan jalur evakuasi tersebut menjadi licin dan menghambat proses evakuasi masyarakat Kampung Laban menuju dataran tinggi.
Dengan hasil wawancara dan observasi tersebut, dapat diketahui bahwa perencanaan penanggulangan bencana, pengorganisasian, serta langkah yang berdaya guna dan tepat guna yang dilakukan masyarakat serta pemerintah Nagari Salido belum sepenuhnya sesuai dengan informasi
yang disampaikan oleh pihak
BPBD Kabupaten Pesisir
Selatan.� Hal perencanaan,
pengorganisasian dan langkah
yang tepat guna dan berdaya guna sesuai
tujuan yang dilakukan masyarakat dan pemerintah Nagari sudah tidak sesuai
dengan tujuan awal Perencanaan Kesiapsiagaan. dibutikan dengan tidak terawatnya
jalur evakuasi Tsunami, titik kumpul evakuasi
Tsunami, dan kondisi penunjuk
arah evakuasi Tsunami yang
salah arahnya dan sudah tidak terawat sama
sekali, dan dibutuhkan kajian ulang kemungkinan
penghambat evakuasi Tsunami
di Nagari Salido.
Upaya kerjasama pengurangan risiko bencana yang dilakukan Masyarakat, Lembaga Swadaya
Masyarakat, Lembaga lainnya serta
Komunitas bencana di Nagari
Salido dalam mewujudkan kesiapsiagaan Bencana Tsunami berbasis
Masyarakat di Nagari Salido
Bencana dapat menimpa siapa
saja, tidak memandang usia, jenis kelamin, tingkat kesejahteraan, dan latar belakang sosial budaya. Oleh karena itu bencana
merupakan urusan semua orang, pihak, dan kalangan. Siapapun turut bertanggung jawab dan berpatisipasi dalam penanggulangan bencana.
Menurut Torsina dalam (TEGUH, 2018) Upaya adalah kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
dalam (TEGUH, 2018) mengartikan
kata upaya adalah usaha akal ikhtiar
(untuk mencapai suatu maksud, memecahkan
persoalan, mencari jalan keluar, dsb):
daya upaya. Sedangkan menurut Sriyanto �(dalam Teguh 2018) upaya adalah usaha untuk
mencapai sesuatu.
Langkah utama dalam
manjemen bencana adalah bagaimana membentuk dan menyiapkan kesiapsiagaan pada berbagai lapisan, baik itu
pemerintah, masyarakat, organisasi, dan individu. Hal kedua dari kesiapsiagaan
yang harus diperhatikan lebih adalah bagaimana
memelihara kesiapsiagaan tetap bernilai atau tingkat kesiapsiagaan
yang tinggi dalam menghadapi bencana.
Keberhasilan kerjasama dan koordinasi lintas sektor diyakini
akan menjamin terwujudnya pengarusutamaan pengurangan risiko bencana dalam program sektoral, sehingga mengefektifkan kerja Pengurangan risiko bencana guna mewujudkan
masyarakat yang tangguh bencana. sinergi kerja lintas sektor
ini juga dapat menghindari tumpang-tindih nya program atau kegiatan yang dapat berakibat pada inefisiensi pendanaan.
Upaya yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana dapat menggunakan
pendekatan komprehensif
yang ditetapkan dalam Kerangka Kerja Sendai 2015-2030. Kerangka Kerja Sendai adalah Instrumen turunan dari Kerangka
aksi Hyogo (Hyogo Framework for Action = HFA ) tahun 2005-2015.
Berdasarkan Prinsip kesiapsiagaan berbasis masyarakat oleh BNPB
(2014), upaya kesiapsiagaan
akan mengutamakan kemitraan atau kerjasama antara individu, organisasi-organisasi atau kelompok untuk
melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan bersama. Prinsip-prinsip kemitraan yang digunakan meliputi; Persamaan (equity),
Keterbukaan (transparency), dan saling menguntungkan (mutual
benefit). Prinsip ini
sangat penting, dikarenakan
risiko bencana dapat berdampak pada seluruh sendi kemanusiaan,
sehingga siapa pun harus terlibat dalam kesiapsiagaan. Kemitraan dapat dibentuk di dalam masyarakat, maupun antara masyarakat dengan pihak lain.
Dalam beberapa kasus kebencanaan sering kali pertolongan pertama datang dari masyarakat yang tinggal di Kawasan terdekat dari lokasi bencana.
Berdasarkan SFDRR
2015-2030, prioritas 1: memahami
risiko bencana dengan tujuan pemahaman
risiko yang benar berdasarkan ilmu pengetahuan, teknologi dan kearifan lokal. Diketahui dari hasil wawancara pada temuan khusus, di Nagari Salido Pemerintah Nagari Salido dan Kelompok Siaga bencana sudah
memahami risiko bencana di Nagari Salido begitu juga dengan Masyarakat
Nagari Salido. Hal ini mencerminkan keberhasilan kerjasama antara BPBD Kabupaten Pesisir Selatan dengan Pemerintah Nagari dan Kelompok Siaga Bencana.
diketahui pada Prioritas 2 SFDRR 2015-2030: memperkuat
tata Kelola risiko bencana untuk mengelola risiko dengan tujuan
penyempurnaan sistem tata
Kelola dalam penanggulangan
bencana melalui penerapan prinsip-prinsip partisipasi, keadilan dan kesetaraan, profesionalisme, kemandirian, efesiensi dalam penggunaan sumber daya dan tepat sasaran/efektif.
Tata Kelola Risiko bencana
di Nagari Salido belum memenuhi penerapan prinsip-prinsip tersebut sepenuhnya. Pemerintah Nagari Salido belum mampu
melaksanakan kegiatan pengurangan risiko bencana dengan alasan keterbatasan dana, padahal jika Pemerintah
Nagari Salido memanfaatkan penggunaan sumber daya dengan baik
dan tepat sasaran kegiatan tersebut dapat terwujudkan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan BPBD, diketahui bahwa BPBD tidak bisa bekerja sendiri.
Diperlukan upaya kerjsama dengan pihak Kodim, Polres,
dan Dinas Pendidikan, sehingga saat
terjadi bencana Tsunami
proses evakuasi Tsunami tidak
hanya dilakukan oleh BPBD
dan KSB saja. Hal ini berkaitan dengan sasaran pembangunan manajemen bencana dan pengurangan risiko bencana Pemerintah Indonesia berdasarkan SFDRR No.3: peningkatan
kapasitas pemerintah pusat, pemerintah daerah dan seluruh masyarakat dalam penanggulangan bencana, untuk meningkatkan kapasitas tersebut diperlukan upaya kerjasama antar BPBD, Pemerinah Nagari, KSB, dan Masyarakat dikarenakan
BPBD membutuhkan kerjasama
agar peningkatan kapasistas
tersebut dapat terjadi.
Diketahui dari hasil wawancara,
upaya kerjasama yang dilakukan di Nagari Salido hanya berupa sosialisasi
dan koordinasi dengan Pihak BPBD, Kelompok Siaga Bencana, Masjid, dan Mushola. Tidak terdapat kerjasama dengan pihak lain di Nagari Salido. Oleh karena itu dapat disimpulkan
bahwa upaya kerjasama hanya dilakukan pada sektor antar Masyarakat, Pemerintah
Nagari, dan Lembaga Masyarakat yang dikoordinasikan
oleh BPBD dan Pemerintah Nagari. BPBD kabupaten Pesisir Selatan mengharapkan Pemerintah Nagari Salido dapat meningkatkan
upaya kerjasama dengan pihak lain yang termasuk kedalam Pentahelix Penanggulangan Bencana guna mewujudkan
Desa Tangguh Bencana, dan Keluarga Tangguh bencana. BPBD Kabupaten Pesisir Selatan Juga mengharapkan dibentuknya Forum Pengurangan Risiko Bencana oleh Pemeintah Nagari Salido agar Manajemen Keluarga Tangguh Bencana dapat terwujudkan.
KESIMPULAN
Upaya kesiapsiagaan Gempabumi dan
Tsunami adalah pemenuhan hak masyarakat dalam bidang penanggulangan
bencana. Hal ini diatur di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana,
Masyarakat memiliki hak-hak
yang harus dijamin oleh
Negara, hak informasi, hak katas perlindungan, peningkatan kemampuan, hak pengawasan, hak berperan serta,
dan hak mendapatkan bantuan saat terjadi
bencana.
Perencanaan pembangunan yang bersifat dari bawah ke
atas (bottom-up) harus ditransformasikan menjadi sebuah perencanaan desa oleh masyarakat itu sendiri, dan disesuaikan dengan batas kewenangan yang dimiliki oleh Desa. Dalam rangka membentuk
kesiapsiagaan, terdapat hal-hal tertentu yang cukup ditangani oleh�� Desa, dan ada yang memang harus ditangani oleh pemerintahan yang berada di tingkat atas setelah
Desa.
Keberhasilan kerjasama dan koordinasi lintas sektor diyakini
akan menjamin terwujudnya pengarusutamaan pengurangan risiko bencana dalam program sektoral, sehingga mengefektifkan kerja Pengurangan risiko bencana guna mewujudkan
masyarakat yang tangguh bencana. sinergi kerja lintas sektor
ini juga dapat menghindari tumpang-tindih nya program atau kegiatan yang dapat berakibat pada inefisiensi pendanaan.
kerja koordinasi lintas sektor di Bidang Bencana disebut dengan Pentahelix Pengurangan Risiko Bencana yang terdiri dari Pemerintah (Regulator),
Masyarakat (Akselerator), Media (Pengganda),
Akademisi-Pakar (Konsep
& Inovasi), dan Dunia Usaha (Pendorong).
Dapat dipahami bahwa Pentahelix adalah Kolaborasi yang dilakukan multipihak untuk mengurangi risiko bencana. Dalam Pentahelix, Pemerintah berperan menerapkan regulasi penaggulangan bencana serta pengenalan pemantauan pada risiko bencana. Pelaku Usaha dalam Pentahelix berperan mengaplikasikan standar guna mencegah
terjadi bencana dan diharapkan dapat memberikan bantuan CSR, serta mampu meningkatkan
jalannya bisnis dengan tetap memperhatikan
ancaman bencana yang ada di sekitar. Akademisi-pakar berperan melaksanakan Tri Dharma Perguruan
Tinggi dengan cara melakukan riset dasar pemahaman risiko, upaya mitigasi,
serta menerapkannya kepada masyarakat. Media Massa berperan menyampaikan informasi kebencanaan, mengedukasi masyarakat, menginformasikan risiko dan upaya mitigasi ketika bencana terjadi, dan meluruskan berita hoax yang telah beredar di Masyarakat. Masyarakat berperan
mengetahui dan mencegah ancaman bencana yang datang di lingkungan sekitar dan terlibat aktif kesiapsiagaan lingkungan mulai dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dan Kota.
Pemerintah Nagari Salido pernah memberikan
penyuluhan terkait bencana Tsunami yang terakhir
kali dilakukan pada Tahun
2021 bertempat di Kantor Wali
Nagari Salido dan di Lapangan
Kampuang Lua Salido dengan target penyuluhan berupa Masyarakat Nagari Salido
yang bermukim di pinggir
Pantai yang akan mendapat imbas Tsunami nantinya
menurut informasi yang disampaikan oleh Kepala Kelompok Siaga Bencana Nagari Salido diketahui bahwa penyuluhan terkait bencana Tsunami terakhir kali dilaksanakan di
Nagari Salido sudah 5
(Lima) tahun yang lalu yakninya pada tahun 2017. Penyuluhan berupa sosialisasi dan simulasi belum dilakukan Kembali dengan alasan tidak
adanya dana untuk kebencanaan Tsunami dikarenakan
dana kebencanaan dipangkas
oleh Pemerintah Kabupaten untuk disalurkan sebagai Bantuan Langung Tunai (BLT) kepada Masyarakat di Nagari Salido
pada saat terjadinya Pancemi COVID-19 pada tahun
2020-2021.
Setelah melakukan Wawancara dengan BPBD Kabupaten Pesisir Selatan untuk mengetahui kebenaran informasi tersebut, diketahui bahwa yang disampaikan oleh Wali Nagari Salido dan Kepala Koordinator KSB Nagari Salido benar adanya hanya
perbedaan presepsi Penyuluhan bencana, yang dimaksud oleh Kepala Koordinator KSB Nagari Salido adalah Penyuluhan Bencana Tsunami oleh KSB sedangkan
Wali Nagari Salido adalah Penyuluhan Bencana Covid-19. Namun penyuluhan berupa Sosialisasi Bencana Gempabumi dan Tsunami sudah mulai dilakukan lagi di Nagari Salido oleh BPBD Kabupaten Pesisir Selatan dengan Mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata. Hal ini juga membuktikan adanya pelaksanaan Peran Pentahelix antara Pemerintah dan Akademisi-Pakar di
Nagari Salido.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dipahami bahwa Pemerintah Nagari Salido berperan sebagai fasilitator Kelompok Siaga Bencana dan Masyarakat dalam mempersiapkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana Tsunami di Nagari Salido
yang dapat
. Selain itu Pemerintah Nagari Salido juga berperan Edukasional untuk pelaksanaan penyuluhan Kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana Tsunami di Nagari
Salido. Namun peran teknis pemerintah
Nagari dalam mengetahui kesiapsiagaan yang sudah disiapkan oleh masyarakat belum terlihat.
Berdasarkan informasi yang diterima saat mewawancarai masyarakat Nagari Salido. Diketahui bahwa masyarakat Nagari Salido melakukan serangkaian upaya Manajemen Keluarga, mengingat Nagari Salido sangat rawan terdampak bencana Tsunami maka dari itu
masyarakat Nagari Salido mengupayakan mempersiapkan Manajemen Keluarga� berupa
upaya Edukasi kepada Anggota Keluarga terkait bencana Gempabumi dan Tsunami. Upaya lainnya yang dilakukan yakninya mempersiapkan kebutuhan yang dibutuhkan keluarga sebelum terjadinya bencana berupa kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya upaya
pengurangan risiko bencana Tsunami yang dilakukan
oleh Masyarakat Nagari Salido maka
dapat dinyatakan bahwa pihak luar
berhasil memfasilitasi masyarakat Nagari Salido untuk mewujudkan kesiapsiagaan dan meningkatkan kualitas masyarakat Nagari Salido.
Perencanaan penanggulangan bencana, pengorganisasian, serta langkah yang berdaya guna dan tepat guna yang dilakukan masyarakat serta pemerintah Nagari Salido belum sepenuhnya sesuai dengan informasi
yang disampaikan oleh pihak
BPBD Kabupaten Pesisir
Selatan.� Hal perencanaan,
pengorganisasian serta langkah yang berdaya guna dan tepat guna sesuai tujuan
yang dilakukan masyarakat
dan pemerintah Nagari sudah
tidak sesuai dengan tujuan awal
perencanaan. dibutikan dengan tidak terawatnya
jalur evakuasi Tsunami, titik kumpul evakuasi
Tsunami, dan kondisi penunjuk
arah evakuasi Tsunami yang
salah arahnya dan sudah tidak terawat sama
sekali, dan dibutuhkan kajian ulang kemungkinan
penghambat evakuasi Tsunami
di Nagari Salido.
upaya kerjasama yang dilakukan di
Nagari Salido hanya berupa sosialisasi dan koordinasi dengan Pihak BPBD, Kelompok Siaga Bencana, Masjid, dan Mushola. Tidak terdapat kerjasama dengan pihak lain di Nagari Salido. Oleh karena itu dapat disimpulkan
bahwa upaya kerjasama hanya dilakukan pada sektor antar Masyarakat, Pemerintah
Nagari, dan Lembaga Masyarakat yang dikoordinasikan
oleh BPBD dan Pemerintah Nagari. BPBD kabupaten Pesisir Selatan mengharapkan Pemerintah Nagari Salido dapat meningkatkan
upaya kerjasama dengan pihak lain yang termasuk kedalam Pentahelix Penanggulangan Bencana guna mewujudkan
Desa Tangguh Bencana, dan Keluarga Tangguh bencana. BPBD Kabupaten Pesisir Selatan Juga mengharapkan dibentuknya Forum Pengurangan Risiko Bencana oleh Pemerintah Nagari Salido agar Manajemen Keluarga Tangguh Bencana dapat terwujudkan
DAFTAR PUSTAKA
Agus Tiani, Fitri.
(2021). PERAN PEMERINTAH DESA DALAM PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA
MELALUI DESA TANGGUH BENCANA (DESTANA)�SAPTO MANUNGGAL� DI DESA KEDUNGBENDO
KECAMATAN ARJOSARI KABUPATEN PACITAN. Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
Baturangka, Theresia,
Kaawoan, Johannis, & Singkoh, Frans. (2019). Peran Dinas Sosial Kota Manado
Dalam Pemberdayaan Masyarakat Penyandang Disabilitas. Jurnal Eksekutif, 3(3).
Edyanto, C. B. Herman.
(2019). Partisipasi Masyarakat Sebagai Upaya Untuk Mengurangi Risiko Bencana
Tsunami Di Daerah Pantai. Jurnal Sains Dan Teknologi Indonesia, 16(3).
Humaedi, M. Alie.
(2016). Etnografi Bencana; Menakar Peran Para Pemimpin Lokal dalam
Pengurangan Resiko Bencana. Lkis Pelangi Aksara.
Moleong, Johannes.
(2009). Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif, 107�108.
Moleong, Lexy J. (2007).
Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Moleong, Lexy J. (2012).
Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung. Pariwisata Pedesaan Sebagai
Alternatif Pembangunan Berkelanjutan (Laporan Penelitian Hibah Bersaing
Perguruan Tinggi) Yogyakarta.
Purwitasari, Ony.
(2019). Penyelamatan Ternak pada Bencana Banjir (Studi Kasus Kecamatan
Trucuk-Kabupaten Bojonegoro). Jurnal Manajemen Bencana (JMB), 5(2).
Raho, Bernard. (2016). Sosiologi.
Penerbit Ledalero.
Raja, Zakarias Dedu
Ghele, Hendarmawan, Hendarmawan, & Sunardi, Sunardi. (2017). Kajian Upaya
Pengurangan Risiko dan Kesiapsiagaan Masyarakat Terhadap Ancaman Bencana Tanah
Longsor (Desa Ndito Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara
Timur). Jurnal Lingkungan Dan Bencana Geologi, 8(2).
Soekanto, Soerjono.
(2002). Teori peranan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sugiyono. (2011). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta.
TEGUH, A. J. I.
WICAKSONO. (2018). UPAYA MEMINIMALISASIKAN KENDALA PERSIAPAN PEMUATAN
BENZENE DI ATAS KAPAL MT. BAUHINIA. POLITEKNIK ILMU PELAYARAN SEMARANG.