Pengaruh Gaya Kepemimpinan,
Lingkungan Kerja dan Stres Kerja Terhadap Turnover Intention
Krismoko,
Suhartono, Sundari Soekotjo, Setyani Dwi Lestari
Universitas Budi Luhur Jakarta
Abstrak:
Perusahaan perlu melakukan pengelolaan sumber daya secara efektif dan
efisien agar dapat mencapai performa terbaik, dan sumber daya manusia merupakan
salah satu sumber daya yang harus dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh antara Gaya
Kepemimpinan, Lingkungan Kerja Dan Stres Kerja Terhadap Turnover Intention
Pada PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok. Pengolahan data dilakukan
dengan menggunakan program SPSS versi 25.0 yang meliputi uji validitas, uji
reliabilitas, uji korelasi, uji regresi linier berganda, dan uji asumsi klasik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial Gaya Kepemimpinan berpengaruh
signifkan terhadap Turnover Intention sebesar Thitung - 3,505 >
Ttable 1,661, Lingkungan Kerja berpengaruh signifikan terhadap Turnover
Intention sebesar Thitung - 2,334 > Ttable 1,661, dan Stres Kerja
berpengaruh signifikan terhadap Turnover Intention sebesar Thitung 2,263
> Ttable 1,661. Secara simultan menunjukkan adanya pengaruh signifikan
antara gaya kepemimpinan (X1), lingkungan kerja (X2) dan stres kerja (X3)
terhadap turnover intention (Y) Fhitung 20,127 > dari F tabel 2.47 dan
besarnya pengaruh adalah 41%. Pernyataan kuesioner Gaya Kepemimpinan kesatu
yaitu “Pimpinan saya selalu berusaha untuk bertindak sesuai kewenangan dan
mengambil Keputusan untuk mengatasi permasalahan jangka Panjang/strategis”
memiliki nilai validitas tinggi yaitu 0,846. Hal ini menunjukkan bahwa gaya
kepemimpinan dapat memengaruhi tingkat turnover di Perusahaan. Organisasi dapat
mempertimbangkan untuk fokus pada pengembangan gaya kepemimpinan yang sesuai,
agar dapat mengurangi tingkat turnover melalui peningkatan kepercayaan dan
stabilitas di antara karyawan.
Kata kunci: Gaya
Kepemimpinan, Lingkungan Kerja, Stres Kerja, Turnover Intention
Abstract:
Companies need to manage resources effectively
and efficiently to achieve the best performance, and human resources are one of
the resources that must be managed well. This research aims to determine the
influence of Leadership Style, Work Environment, and Work Stress on Turnover
Intention at PT BFI Finance Indonesia, Tbk Depok Branch. Data processing was
carried out using the SPSS version 25.0 program which includes validity tests,
reliability tests, correlation tests, multiple linear regression tests, and
classical assumption tests. The research results show that partially Leadership
Style has a significant effect on Turnover Intention of Tcount - 3.505 >
Ttable 1.661, Work Environment has a significant effect on Turnover Intention
of Tcount - 2.334 > Ttable 1.661, and Job Stress has a significant effect on
Turnover Intention of Tcount 2.263 > Ttable 1.661. Simultaneously, it shows
that there is a significant influence between leadership style (X1), work
environment (X2), and work stress (X3) on turnover intention (Y) Fcount 20.127
> from F table 2.47 and the magnitude of the influence is 41%. The first
Leadership Style questionnaire statement, namely "My leadership always
tries to act according to authority and make decisions to overcome long-term/strategic
problems" has a high validity value of 0.846. This shows that leadership
style can influence the turnover rate in the Company. Organizations may
consider focusing on developing appropriate leadership styles, to reduce
turnover rates through increasing trust and stability among employees.
Keywords: Leadership
Style, Work Environment, Job Stress, Turnover Intention
Corresponding: Krismoko
E-mail: krismoko@gmail.com
PENDAHULUAN
Perusahaan perlu melakukan pengelolaan sumber daya secara efektif dan efisien
agar dapat mencapai performa terbaik, dan sumber daya manusia merupakan salah
satu sumber daya yang harus dikelola dengan baik (Abdullah,
2017). Sumber daya manusia yang
baik dapat menentukan keberhasilan suatu perusahaan berkat fungsinya yang dapat
memaksimalkan aktivitas operasional dan manajemen perusahaan tersebut. Dengan
kedua hal tersebut berjalan dengan maksimal, maka kinerja perusahaan dapat
dioptimalkan. Dalam rangka mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas
baik, perusahaan harus memenuhi semua hak para karyawan yang telah memenuhi
kewajibannya serta menciptakan kondisi yang nyaman bagi para karyawan (Budiyanto,
2022).
Perusahaan yang sadar akan arti penting sumber daya manusia akan
memberikan perhatian yang lebih dalam hal pengelolaannya. Pengelolaan tersebut
tidak hanya sebatas perekrutan saja atau bagaimana cara mendapatkan SDM yang
berkualitas tetapi yang lebih penting yaitu terkait bagaimana perusahaan dapat
mempertahankan keberadaan sumber daya manusia yang ada agar tetap memberikan
kontribusinya dan tidak pindah atau keluar dari perusahaan (Sangsurya et
al., 2021). Salah satu permasalah yang
terjadi terkait dengan sumber daya manusia yaitu tingkat turnover yang tinggi.
Turnover yang tinggi akan memberikan dampak bagi perusahaan terkait dengan
kemunduran kinerja. Perpindahan karyawan sangat dibutuhkan bagi perusahaan yang
memiliki karyawan dengan produktivitas rendah. Namun perpindahan yang terlalu
tinggi memberikan kerugian yang cukup besar bagi perusahaan (Nasution,
2017).
Tingginya tingkat turnover intention menjadi suatu permasalahan
yang serius dalam perusahaan. Pengaruh negatif yang terjadi akibat turnover
pada perusahaan ialah pada kualitas dan kemampuan untuk menggantikan karyawan
yang keluar dari perusahaan, sehingga butuh waktu juga biaya baru dalam merekrut
karyawan yang baru (Melky, 2015). Gillies menyatakan bahwa tingginya tingkat turnover karyawan apabila
lebih dari 10%, sedangkan jika berkisar 5-10% tingkat turnover karyawan dapat
dikatakan normal (Yuda &
Ardana, 2017).
Turnover intenton merupakan suatu keadaan dimana pekerja memliki niat
atau kecenderungan yang dilakukan secara sadar untuk mencari pekerjaan lain (Fitriantini et
al., 2019). Turnover intention
dapat diartikan sebagai pergerakan tenaga kerja keluar dari organisasi.
Turnover mengarah pada kenyataan akhir yang dihadapi suatu organisasi berupa
jumlah karyawan yang meninggalkan organisasi pada periode tertentu, sedangkan
keinginan karyawan untuk berpindah (turnover intentions) mengacu pada
hasil evaluasi individu mengenai kelanjutan hubungan dengan organisasi yang
belum diwujudkan dalam tindakan pasti meninggalkan organisasi. Turnover dapat
berupa pengunduran diri, perpindahan keluar unit organisasi, pemberhentian atau
kematian anggota organisasi. Turnover intention memiliki dampak negatif
bagi organisasi karena menciptakan ketidakstabilan terhadap kondisi tenaga
kerja, menurunnya produktivitas karyawan, suasana kerja yang tidak kondusif dan
juga berdampak pada meningkatnya biaya sumber daya manusia (Rismayanti et
al., 2018).
Gaya kepemimpinan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
keinginan berpindah (turnover intention) pada anggota organisasi (Anggara et
al., 2020). Kepemimpinan dalam
organisasi memegang peranan penting, karena bawahan bekerja tergantung dari
kemampuan pimpinannya. Pemimpin yang efektif akan mampu menularkan optimisme
dan pengetahuan yang dimilikinya dalam mencapai tujuan organisasi (Hasibuan &
Saragih, 2019). Prabowo menyampaikan bahwa
ketika pemimpin pada suatu organisasi dapat melaksanakan peranannya dengan
baik, maka sangat mungkin para anggotanya memiliki keinginan berpindah (turnover
intention) yang rendah (Andini, 2022).
Gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang pemimpin akan mempengaruhi
kinerja karyawan dalam melaksanakan tugas-tugasnya untuk mencapai tujuan
organisasi. Terdapat tiga gaya kepemimpinan utama dalam menangani permasalahan
dan pengambilan keputusan, ketiga gaya kepemimpinan utama tersebut di antaranya
adalah gaya kepemimpinan otokratis, gaya kepemimpinan demokratis, dan gaya
kepemimpinan laissez-faire. Seorang pemimpin yang menganut gaya
kepemimpinan otokratis cenderung tidak memberikan wewenang pengambilan
keputusan kepada bawahan. Gaya kepemimpinan demokrasi berkaitan dengan sikap
seorang pemimpin yang biasanya meminta pendapat atau nasihat dari anggota tim
atau bawahannya sebelum mengambil keputusan. Gaya kepemimpinan laissez-faire
berkaitan dengan sikap seorang pemimpin yang memberikan kebebasan penuh kepada
bawahan dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan tugas yang
dikerjakannya.
Selanjutnya selain gaya kepemimpinan, lingkungan kerja juga merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi turnover intention karyawan (Yilmaz &
Seren İntepeler, 2023). Lingkungan kerja menurut (Ljungberg
Persson et al., 2023) merupakan segala hal yang
ada di sekitar para pekerja dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas yang diemban atau yang menjadi tanggung jawab seorang
karyawan. Ketika kondisi lingkungan kerja tempat karyawan bekerja strategis
atau baik hal tersebut dapat meningkatkan kinerja karyawan untuk lebih baik
lagi (Yang et al.,
2023). Hal ini dikarenakan dengan
adanya lingkungan kerja yang baik maka karyawan tersebut dapat secara maksimal
untuk bekerja dan antara karyawan akan saling mendukung dalam menyelesainkan
pekerjaannya (Rydenfält et
al., 2023).
Lingkungan kerja merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar karyawan
serta dapat mempengaruhi para pekerja dalam menjalankan tugas tugas yang telah
dibebankan dan menjadi tanggung jawabnya (Adha et al.,
2019). Sehingga lingkungan kerja
merupakan salah satu kondisi dimana pekerjaan karyawan dapat terpengaruh.
Pegawai yang bekerja di lingkungan kerja yang baik akan terdorong dan
menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik pula, sedangkan karyawan yang
menyelesaikan tugas di lingkungan kerja yang kurang baik maka hasil yang
didapat kurang maksimal dan tidak sesuai dengan keinginan perusahaan (Tambunan,
2018).
Stres kerja juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya turnover
intention dari karyawan. Tingginya tingkat stres kerja yang tinggi akan
berdampak pada turnover intention yang meningkat (Fitriantini et
al., 2019). Penyebab stres kerja yang
terjadi karena akibat adanya beban kerja yang berlebihan, tingginya tekanan
dari perusahaan, tidak masuk target terus menerus, kurangnya berkonsentrasi
dalam bekerja, sehingga akan berdampak pada terganggunya kesehatan, kepala
pusing, mual sehingga dapat memicu ketidakpuasan kerja, bahwa perusahaan harus
dipelihara secara efektif guna memastikan bahwa seluruh karyawan bekerja pada
potensinya masing-masing dan bebas dari stres (Budiasa, 2021).
Akibat yang timbul dari stres orang mengalami kegugupan, kecemasan jangka
panjang, ketegangan yang meningkat dalam emosi mereka, proses berpikir, dan
masalah fisik individu, sehingga hal ini dapat menyebabkan individu untuk
melakukan turnover intention. Selain itu efek dari stres meliputi
ketidaksabaran, emosi yang kurang stabil, keengganan untuk berkerjasama,
kesulitan tidur, dan juga dapat membahayakan dan mengganggu kemampuan karyawan
untuk melaksanakan pekerjaannya (Lestari &
Adji, 2023). mengungkapkan bahwa
perasaan, cara berpikir, dan kesehatan fisik dan mental karyawan semuanya dapat
dipengaruhi oleh stres kerja, yang merupakan keadaan tegang. Karyawan mungkin
mengalami peningkatan tingkat stres mereka di tempat kerja sehingga dapat
meningkatkan turnover intention individu.
Penelitian terkait telah dilakukan oleh (ARUNA, n.d.) dengan judul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Beban Kerja Terhadap Turnover
intention Karyawan Pada CV. Daeng Kuliner Makassar” dengan hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan secara parsial memiliki
pengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intention Karyawan
pada CV. Daeng Kuliner Makassar. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh (Rijasawitri
& Suana, 2020) dengan judul “Pengaruh
Kepuasan Kerja, Stres Kerja, Dan Lingkungan Kerja Non Fisik Terhadap Turnover
intention” dengan hail penelitian menunjukkan bahwa stres kerja berpengaruh
positif terhadap turnover intention artinya semakin tinggi tingkat stres
yang dialami karyawan maka turnover intention akan semakin meningkat.
Terakhir lingkungan kerja non fisik berpengaruh negatif terhadap turnover
intention dimana semakin baik dan nyaman lingkungan kerja maka tingkat turnover
intention semakin rendah (Deschênes,
2024).
PT BFI Finance Indonesia merupakan perusahaan yang merupakan salah satu
perusahaan multifinance tertua di Indonesia sekaligus perusahaan multifinance
pertama yang tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (saat ini
dikenal sebagai Bursa Efek Indonesia atau BEI). Perusahaan ini fokus pada
layanan pembiayaan konsumen, seperti pembiayaan otomotif (kendaraan bermotor),
multifinance, pembiayaan rumah, dan layanan pembiayaan konsumen
lainnya. BFI Finance tercatat pada Mei 1990 dengan kode saham BFIN. Setelah
melakukan restrukturisasi utang akibat krisis keuangan Asia yang dimulai pada
tahun 1998, BFI Finance resmi berganti nama menjadi PT BFI Finance Indonesia
Tbk pada tahun 2001.
PT. BFI Finance Indonesia, TBk memiliki jaringan yang luas di Indonesia
dengan cabang-cabang yang tersebar di berbagai wilayah. Mereka menyediakan
layanan pembiayaan yang terjangkau dan berupaya memenuhi kebutuhan finansial
pelanggan dari berbagai lapisan masyarakat. Dalam operasionalnya, PT. BFI
Finance Indonesia, Tbk telah menempatkan fokus pada inovasi, termasuk
penggunaan teknologi untuk meningkatkan layanan mereka. Mereka terus berupaya
untuk memperluas jangkauan layanan dan memperbarui produk-produk mereka guna
memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang. Sebagai lembaga keuangan, PT.
BFI Finance Indonesia diawasi oleh otoritas keuangan di Indonesia dan tunduk
pada regulasi yang berlaku dalam industri keuangan. Perusahaan ini telah
berkomitmen untuk memberikan layanan yang berkualitas dan memberikan kontribusi
terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Perusahaan atau lembaga pembiayaan merupakan badan usaha diluar bank atau
lembaga keuangan non-bank lainnya yang memberikan fasilitas pinjaman kepada
nasabahnya untuk suatu keperluan sebagaimana yang telah dilandasi peraturan
menteri keuangan Nomor 84/PMK.012/2006.
PT BFI Finance Indonesia Tbk menjadi perusahaan pembiayaan teratas
menurut Rating Multifinance 173 perusahaan pembiayaan di Indonesia per Maret
2023 berdasarkan persentasi laba dengan nilai aset perusahaan lebih dari 10
Triliun yang dilampirkan dalam tabel 1.
Tabel 1 Rating Perusahaan
Multifinance
|
No |
Nama Perusahaan |
Asset Total 2023 |
Pembiayaan 2023 |
Kewajiban 2023 |
Modal Disetor 2023 |
Modal Sendiri 2023 |
Laba (Rugi) Setelah Pajak |
|
|
1 |
Federal International
Finance |
34.542.456 |
31.271.743 |
23.420.939 |
280.000 |
11.121.517 |
3.173.660 |
|
|
2 |
Adira Dinamika
Multi Finance |
28.528.282 |
19.564.461 |
18.076.290 |
207.082 |
10.451.992 |
417.035 |
|
|
3 |
Dipo Star
Finance |
28.365.000 |
16.390.000 |
23.500.000 |
371.200 |
4.865.000 |
436.000 |
|
|
4 |
BFI Finance
Indonesia |
23.959.955 |
21.341.867 |
14.689.188 |
609.459 |
9.270.767 |
508.822 |
|
|
5 |
Oto Multiartha |
13.389.147 |
11.771.860 |
7.396.901 |
928.707 |
5.992.246 |
16.665 |
Sumber: Data Laporan Keuangan Masing-Masing Perusahaan, (2023)
Pada tabel 1 menunjukkan rating Perusahaan pembiayaan yang di sajikan
dalam Rp juta berdasarkan perusahaan yang dimiliki total aset lebih dari 10
triliyun yang menunjukkan bahwa PT. BFI Finance Indonesia, Tbk memiliki rating
ke 4 dalam Perusahaan pembiayaan yang ada di Indonesia per Maret 2023. PT. BFI
Finance Indonesia, Tbk memiliki jaringan pemasaran tersebar di nusantara,
dengan 232 kantor cabang dan 191 gerai yang tersebar di 33 dari 34 provinsi di
Indonesia, dan didukung lebih dari 11.000 karyawan (MUFLIHAH,
2018).
PT. BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok merupakan salah satu dari
cabang-cabang BFI yang memiliki jumlah karyawan yang signifikan dan
kontribusi terhadap pendapatan
keseluruhan. Data internal BFI menunjukkan bahwa cabang Depok memiliki sekitar
123 karyawan dan mengelola lebih dari 5% dari total aset BFI di wilayah
tersebut, dari kontribusi cabang yang berada di JABODETABEK, Cabang depok salah
satu yang memiliki turnover yang sangat besar, sekitar 5%, hal ini mempengaruhi
omzet cabang itu sendiri. Sehingga peneliti memilih Cabang Depok.
Dalam menetapkan penelitian ini,
hanya dapat dilakukan di satu cabang untuk menjaga kerahasiaan data dan
informasi yang sensitif. Oleh karena itu, cabang Depok dipilih sebagai subjek
penelitian untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam terkait
profesionalitas dan kepemimpinan.
Pemimpin dalam sebuah perusahaan tidak dapat menjalankan tugas tanpa
karyawan dan karyawan tidak akan mampu tanpa adanya pemimpin. Pemimpin harus
mempengaruhi dan menggerakan seluruh karyawan dalam pencapaian tujuan
perusahaan. Hubungan antara pemimpin dan karyawan dipengaruhi gaya kepemimpinan
yang dimiliki dan dijalankan oleh pemimpin tersebut. Gaya kepemimpinan dapat
mengantarkan, mengelompokkan, memberi petunjuk, mendidik, membimbing agar para
bawahan mengikuti jejak pemimpin untuk mencapai tujuan bersama. Gaya
kepemimpinan merupakan pola bagaimana pemimpin dalam tugasnya untuk
mempengaruhi dan menggerakan kinerja karyawan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja karyawan adalah faktor kemampuan dan motivasi. Dalam hal ini faktor
motivasi merupakan kondisi yang mengerakkan diri karyawan untuk terarah dalam
mencapai tujuan organisasi yang merupakan tugas dari seorang pemimpin.
Berdasarkan gaya kepemimpinan yang dimiliki seorang pemimpin dalam
melakukan setiap kegiatan perusahaan, karyawan akan dituntut bekerja untuk
memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) sesuai standar operasional yang
telah ditetapkan oleh perusahaan. Semakin tinggi standar perusahaan pada PT BFI
Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok maka akan semakin banyak tuntutan
keprofesionalan, tuntutan kerja yang sangat ini, dan tekanan pekerjaan atas
karyawan dari pihak manajemen untuk mencapai target perusahaan. Analisis
terhadap cabang ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang dalam tentang
operasi dan dampak turnover intention terhadap keseluruhan BFI. Tingkat turnover
intention yang di alami perusahaan tersebut menunjukkan relatif tinggi seperti
yang terlihat pada tabel 2 dari survey awal dilakukan.
Tabel 2 Karyawan Turnover Maret-Agustus 2023
|
Bulan |
Jumlah Awal
Karyawan |
Jumlah Masuk
Karyawan |
Jumlah
Keluar Karyawan |
Jumlah Akhir
Karyawan |
|
|
Maret |
123 |
2 |
7 |
118 |
|
|
April |
118 |
8 |
5 |
121 |
|
|
Mei |
121 |
3 |
9 |
115 |
|
|
Juni |
115 |
9 |
2 |
122 |
|
|
Juli |
122 |
1 |
5 |
118 |
|
|
Agustus |
118 |
3 |
6 |
115 |
Sumber: Laporan HRD Kantor Pusat PT BFI Finance Indonesia Tbk, (2023)

Sumber: Laporan HRD Kantor Pusat PT BFI Finance Indonesia Tbk, (2023)
Dari tabel 2 dan grafik diatas
bisa terlihat bahwa tingkat turnover karyawan yang cukup tinggi di tahun
2023 dari bulan Maret hingga bulan Agustus. Data menunjukkan bahwa setiap
bulannya jumlah karyawan yang keluar tidak konsisten maka dapat dikatakan
terjadi masalah tingginya turnover intention. Berdasarkan tabel dan grafik
diatas dapat dijelaskan bahwa pada bulan Maret untuk karyawan adalah 123,
dengan total karyawan yang keluar dari Perusahaan ada 7 orang, sedangkan total
yang masuk 2 orang. Untuk persentase turnover karyawan sebesar 5,93%.
Pada bulan April untuk karyawan adalah 118, dengan total karyawan yang keluar
dari Perusahaan ada 5 orang, sedangkan total yang masuk 8 orang. Untuk
persentase turnover karyawan sebesar 4,13%. Selanjutnya pada bulan Mei
untuk karyawan adalah 121, dengan total karyawan yang keluar dari Perusahaan
ada 9 orang, sedangkan total yang masuk 3 orang. Untuk persentase turnover karyawan
sebesar 7,82%. Pada bulan Juni untuk karyawan adalah 115, dengan total karyawan
yang keluar dari Perusahaan ada 2 orang, sedangkan total yang masuk 9 orang.
Untuk persentase turnover karyawan sebesar 1,63%. Kemudian pada bulan
Juli untuk karyawan adalah 122 , dengan total karyawan yang keluar dari
Perusahaan ada 5 orang, sedangkan total yang masuk 1 orang. Untuk persentase turnover
karyawan sebesar 4,23%%. Pada bulan terakhir (Agustus) untuk karyawan
adalah 118 , dengan total karyawan yang keluar dari Perusahaan ada 6 orang,
sedangkan total yang masuk 3 orang. Untuk persentase turnover karyawan
sebesar 5,21%%. Hal ini menunjukkan bahwa ada tingkat pergantian karyawan yang
cukup signifikan, tetapi ketika dihitung secara netto (dengan memperhitungkan
karyawan yang direkrut kembali), angka tersebut lebih rendah.
Berdasarkan wawancara dan observasi dilakukan di dapat informasi yang
menunjukkan bahwa terdapat beberapa karyawan yang memiliki niatan untuk keluar
kerja. Hal tersebut tentu merupakan suatu permasalahan yang harus di perhatikan
agar tidak terjadi turnover yang sesungguhnya. Karyawan memiliki niat
untuk keluar dengan alasan ingin mencari pekerjaan yang lebih baik, adapula
karyawan yang memiliki niat untuk keluar dengan alasan mencari pengalaman baru,
gaya kepemimpinan, lingkungan kerja, stres kerja, ketidakpuasan terhadap tugas
yang diberikan terkesan monoton dan tidak memberikan skill serta
pembelajaran baru. Apabila dibiarkan, masalah ini dapat menjadi besar dan dapat
menambah biaya bagi perusahaan untuk melakukan rekrutmen karyawan baru demi
mengganti karyawan yang melakukan turnover.
Gaya kepemimpinan yang diterapkan di PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang
Depok seperti Gaya Kepemimpinan yang Otoriter, karena karyawan mungkin merasa
kurang dihargai dan kurang terlibat dalam pengambilan keputusan, yang dapat
mempengaruhi kepuasan kerja mereka. Kemudian gaya kepempimpinan tidak
transformasional, pemimpin cenderung tidak memberikan motivasi, membakitkan
gairah semangat, dan kurangnya menciptakan lingkungan dimana karyawan merasa
dihargai. karena pimpinan lebih fokus pada hasil dan pencapaian tugas daripada
aspek karyawan secara individual. Ini menyebabkan tingkat kepuasan kerja yang
rendah. Ini dapat meningkatkan tingkat turnover intention karena karyawan
mungkin merasa kurang dihargai atau tidak terlibat dalam proses yang menyangkut
pekerjaan mereka. Selain gaya kepemimpinan tersebut juga adanya kurangnya
komunikasi antara Manager dan bawahan dan kurangnya arahan dan solusi terhadap
setiap pekerjaan atau masalah yang datang. Hal ini sesuai dengan teori (Purnomo, 2022) bahwa gaya kepemimpinan otokratis positif mempengruhi tingkat turnover
intention karyawan. Semakin kuat gaya kepemimpinan otokratis turnover intention
akan meningkat.
Lingkungan kerja yang diterapkan di PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang
Depok bahwa tidak adanya pengembangan karier, pelatihan, dan jenjang karier
yang jelas. Kemudian kondisi fisik dan fasilitas lingkungan kerja yang kurang
di kantor, kurang nyamannya tempat kerja seperti kursi, meja komputer dan
sebagainya. selain itu juga tidak adanya fasilitas olahraga atau kesehatan di
cabang. Sehingga dari lingkungan kerja yang kurang mendukung juga dapat
menyebabkan karyawan turnover. Hal ini sesuai dengan teori (Gani et al.,
2022) bahwa lingkungan kerja
berpengaruh negatif signifikan terhadap turnover intention, ketika lingkungan
kerja baik maka dapat menurunkan tingkat turnover karyawan begitupun sebaliknya
ketika lingkungan kerja tidak kondusif maka dipastikan karyawan tidak akan
bertahan lama di perusahaan tersebut dan dapat dikatakan turnover intention
akan semakin meningkat (Thuillard et
al., 2024).
Stres kerja juga menjadi penyebab banyaknya karyawan yang turnover,
seperti yang terjadi di PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok bahwa banyak
karyawan yang diberikan beban kerja yang berlebihan, terlalu banyak pekerjaan
dan target perhari yang harus di selesaikan. Kemudian adanya ketidak seimbangan
antara kehidupan pribadi dan profesional, terlalu banyak bekerja di luar jam
kerja yang wajar, hal ini dapat menyebabkan stres yang berujung pada keinginan
untuk pindah. Selain itu adanya ketidakadilan di tempat kerja seperti
ketidakadilan dalam hal promosi, gaji, atau pengakuan, dapat menyebabkan stres
kerja. Hal ini sesuai dengan teori (E. Putri & Anisa, 2022) bahwa stres
kerja berpengaruh positif terhadap intensi turnover. Semakin tinggi stres kerja
seseorang akan semakin meningkat juga turnover intention.
Berdasarkan uraian diatas, penelitian mendapatkan tiga faktor yang mempengaruhi
dalam melakukan turnover intention karyawan PT BFI Finance Indonesia,
Tbk Cabang Depok yakni gaya kepemimpinan, lingkungan kerja, dan stres kerja.
Maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh
Gaya Kepemimpinan, Lingkungan Kerja dan Stres Kerja terhadap Turnover intention
pada PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok” (Ali et al.,
2015).
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi niat karyawan untuk pindah dari organisasi, dengan fokus pada gaya
kepemimpinan, lingkungan kerja, dan stres kerja. Melalui analisis hubungan
antara variabel tersebut, penelitian ini berusaha memberikan wawasan strategis
kepada manajemen untuk meningkatkan kepuasan dan retensi karyawan (Rodríguez-García
et al., 2023). Dengan memahami dan
mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan stres kerja dan niat untuk pindah,
penelitian ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan karyawan, meningkatkan
produktivitas organisasi, mengoptimalkan praktik kepemimpinan dan budaya organisasi,
serta mendorong inovasi dan kreativitas di lingkungan kerja.
METODE
PENELITIAN
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif
sehingga data yang dikumpulkan berupa angka-angka yang berasal dari hasil
angket. Metode angket atau kuesioner digunakan untuk
mengumpulkan data gaya kepemimpinan, lingkungan kerja, stres kerja, dan turnover
intention. Angket tersebut berbentuk pilihan ganda (multiple choice)
yang terdiri dari 5 poin yakni (SS) Sangat Setuju, (S) Setuju, (CS) Cukup
Setuju, (TS) Tidak Setuju, dan (STS) Sangat Tidak Setuju. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh karyawan PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok sebanyak 118
karyawan. Peneliti menggunakan jumlah sampel yang di kembangkan oleh Issac dan
Michael dengan taraf kesalahan 5% yaitu dengan populasi 118, sampelnya
diketahui 91 karyawan. Hal ini berdasarkan tabel yang telah di kembangakan oleh
issac dan michael. Karena jumlah populasi lebih dari 100 orang, maka penarikan
sampel dalam penelitian ini menggunakan sampel secara acak (random sampling).
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pengaruh
Gaya Kepemimpinan Terhadap Turnover Intention
Hasil interpretasi data penelitian menunjukkan
bahwa variabel gaya kepemimpinan (X1) diketahui pada uji t secara parsial
memiliki nilai thitung - 3,505 > t tabel 1,661 dan
nilai sig. sebesar 0,001 < 0,05 sehingga H1 diterima yang berati terdapat
pengaruh sinifikan gaya kepemimpinan (X1) terhadap turnover intention (Y). Gaya
Kepemimpinan (X1) terhadap Turnover Intention (Y) Nilai koefisien regresi
variabel Gaya Kepemimpinan sebesar - 0,417 artinya setiap kenaikan nilai koefisien Gaya
Kepemimpinan (X1) sebesar satu satuan maka nilai (Y) akan meningkat sebesar - 0,417 dengan
asumsi Lingkungan Kerja (X2) dan Stres Kerja (X3) dianggap konstan. Arah
korelasi menunjukkan hasil negatif, maka gaya kepemimpinan berpengaruh negatif
terhadap turnover intention, artinya semakin rendah gaya kepemimpinan akan
semakin tinggi tingkat turnover intention (Solehah & Ratnasari, 2019).
Berdasarkan analisis regresi, ditemukan bahwa
variabel gaya kepemimpinan mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap
turnover intention pada PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok. Artinya
apabila gaya kepemimpinan diterapkan dengan buruk, maka akan meningkatnya
turnover intention PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok dengan anggapan
faktor-faktor lainnya yang konstan. Seorang pemimpin harus mampu menciptakan
suasana yang kondusif, memberikan cukup perhatian, memberikan penghargaan
terhadap prestasi kerja, dan menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh
karyawan. Kepemimpinan dalam organisasi memainkan peran yang penting dalam
motivasi karyawan dan mempertahankannya terutama jika karyawan menerima
feedback positif secara rutin dan pengakuan. Sikap positif yang dilakukan oleh
seorang atasan langsung terhadap bawahannya dapat mempengaruhi sikap karyawan
terhadap pekerjaan, atasan, dan organisasi (Susyanto, 2019).
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh (Aruna, 2018),
yang juga mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan dan turnover intention
menunjukkan hubungan yang negatif, Nilai negatif ini menunjukkan bahwa semakin
tinggi gaya kepemimpinan maka menurunkan intensi turnover intention karyawan.
Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh (Adeline, 2022) menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan demokratis
berpengaruh terhadap turnover intention. Hal ini berarti bahwa gaya
kepemimpinan yang tidak disukai oleh karyawan akan menimbulkan karyawan tidak
nyaman dan ingin berpindah dari perkerjaan yang digelutinya.
Manajemen harus memperhatikan indikator turnover
intention karena keinginan berpindah karyawan ini merupakan tingginya tingkat
absensi, malas bekerja, terjadinya peningkatan terhadap tata tertib kerja serta
peningkatan protes terhadap atasan. Jika gaya kepemimpinan rendah (buruk) maka
pimpinan harus memiliki kemampuan mengambil keputusan, melakukan komunikasi,
mengendalikan bawahan, bertanggung jawab dan mampu mengendalikan emosional
serta memberikan motivasi kepada karyawan tentang hal-hal yang membuat karyawan
turnover intention. Arinya semakin tinggi gaya kepemimpinan akan semakin rendah
tingkat turnover intention, sebaliknya jika gaya kepemimpinan rendah maka
tingkat turnover intention akan semakin meningkat (Prasetya & Dewi, 2019).
Pengaruh
Lingkungan Kerja Terhadap Intention
Hasil interpretasi data penelitian menunjukkan
bahwa variabel lingkungan kerja (X2) diketahui pada uji t secara parsial
memiliki t hitung - 2,334 > t tabel 1,661 dan nilai
sig. sebesar 0,022 < 0,05 sehingga H2 diterima yang berati terdapat pengaruh
sinifikan lingkungan kerja (X2) terhadap turnover intention (Y). Lingkungan
Kerja (X2) terhadap Turnover Intention (Y) Nilai koefisien regresi variabel
Efektivitas Pelatihan sebesar - 0,214 artinya setiap kenaikan nilai koefisien
Lingkungan Kerja (X2) sebesar satu-satuan maka nilai (Y) akan meningkat sebesar
–
0,214 dengan asumsi Gaya Kepemimpinan (X1) dan Stres Kerja (X3) dianggap
konstan. Arah korelasi menunjukkan hasil negatif, maka lingkungan kerja berpengaruh
negatif terhadap turnover intention, artinya semakin rendah lingkungan kerja
akan semakin tinggi tingkat turnover intention .
Berdasarkan analisis regresi, ditemukan bahwa
variabel lingkungan kerja mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap
turnover intention pada PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok. Artinya
apabila lingkungan kerja rendah/buruk, maka akan meningkatnya turnover
intention PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok dengan anggapan
faktor-faktor lainnya yang konstan. Faktor penting yang menyebabkan tingginya
tingkat turnover salah satunya adalah buruknya kondisi lingkungan kerja
karyawan (Juanamasta et al., 2023). Lingkungan kerja yang
baik dapat membawa dampak positif terhadap karyawan, berlaku sebaliknya apabila
lingkungan kerja tidak baik, maka karyawan akan mendapat dampak negatif dan
membuka kemungkinan untuk karyawan dalam berpikir untuk keluar dari pekerjaannya.
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh (Melky, 2015), yang juga mengemukakan bahwa Lingkungan kerja
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intention karyawan,
artinya karyawan yang merasa lingkungan kerjanya tidak begitu baik akan
cenderung memiliki keinginan untuk keluar dari perusahaan demi mencari
lingkungan kerja yang lebih baik. Karyawan dengan lingkungan kerja yang tidak
terlalu baik pada umumnya akan berusaha pindah perusahaan lain yang memiliki
lingkungan kerja yang lebih baik dari perusahaannya saat ini, sehingga terjadilah
turnover pada perusahaan. Hal ini mendukung kesimpulan bahwa seiring rendahnya
kualitas lingkungan kerja, maka semakin tinggi pula turnover intention.
Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh (Rijasawitri & Suana, 2020) menyebutkan bahwa
terdapat pengaruh Lingkungan Kerja berpengaruh negatif signifikan, terhadap
Turnover Intentions. Lingkungan kerja berpengaruh negatif signifikan terhadap
turnover intention, ketika lingkungan kerja baik maka dapat menurunkan tingkat
turnover karyawan begitupun sebaliknya ketika lingkungan kerja tidak kondusif
maka dipastikan karyawan tidak akan bertahan lama di perusahaan tersebut dan
dapat dikatakan turnover intention akan semakin meningkat. Lingkungan kerja
memiliki pengaruh negatif terhadap turnover intention, lingkungan kerja yang
buruk, seperti sedikitnya fasilitas yang diterima karyawan, tidak adanya tempat
untuk istirahat karyawan, akan mendorong niat karyawan untuk mengundurkan diri (Halimah et al., 2016).
Pengaruh
Stres Kerja Terhadap Turnover Intention
Hasil interpretasi data penelitian menunjukkan
bahwa variabel gaya kepemimpinan (X1) diketahui pada uji t secara parsial
memiliki nilai t hitung 2,263 > t tabel 1,661 dan
nilai sig. sebesar 0,026 < 0,05 sehingga H3 diterima yang berati terdapat
pengaruh sinifikan stress kerja (X3) terhadap turnover intention (Y). Stres
Kerja (X3) terhadap Turnover Intention (Y) Nilai koefisien regresi variabel
Stres Kerja (X3) sebesar 0,271 artinya setiap kenaikan nilai koefisien Stres
Kerja (X3) sebesar satu-satuan maka nilai (Y) akan meningkat sebesar 0,271 dengan
asumsi Gaya Kepemimpinan (X1) dan Lingkungan Kerja (X2) dianggap konstan. Arah
korelasi menunjukkan positif, maka stres kerja berpengaruh positif terhadap
turnover intention, artinya semakin tinggi stres kerja akan semakin tinggi
tingkat turnover intention.
Berdasarkan analisis regresi, ditemukan bahwa
variabel stress kerja mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap
turnover intention pada PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok. Artinya
apabila stress kerja tinggi, maka akan meningkatnya turnover intention PT BFI
Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok dengan anggapan faktor-faktor lainnya yang
konstan. Stres kerja merupakan faktor lain yang dapat menyebabkan turnover
intention pada suatu perusahaan. Tekanan kerja dapat berupa beban kerja yang
berat, waktu kerja panjang atau target penyelesaian tugas relatif singkat,
pengawasan berlebihan. Tekanan kerja juga muncul dari susana kerja yang tidak
nyaman, terjadi konlik, dan lain-lain. Terdapat hubungan positif stres kerja
terhadap turnover intention. Karyawan yang mengalami stres kerja akan
berpikiran untuk memutuskan berhenti bekerja karena perasaan tertekan dalam
menghadapi pekerjaannya. Bertambahnya tekanan kerja akan meningkatkan Turnover
intention (Ayuningtyas et al., 2022).
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh (Yuda & Ardana, 2017), yang juga
mengemukakan bahwa variabel stres kerja berpengaruh secara signifikan terhadap
turnover intention. Stres akan sangat berpengaruh negatif terhadap perilaku
organisasi dan kesehatan individu. Stres berhubungan dengan kemangkiran,
peputaran, dan berbagai penyakit. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh (Prayogi et al., 2019) menyebutkan bahwa
Stres Kerja berpengaruh signifikan terhadap turnover intention. Arah pengaruh
positif menunjukkan arah yang sama dimana tekanan kerja yang makin kuat akan
membuat turnover intention pegawai makin tinggi. Stress kerja secara positif
dan signifikan mempengaruhi keputusan untuk melakukan turnover, sehingga
karyawan yang mengalami stress kerja akan semakin kuat keinginannya untuk
melakukan turnover.
Perusahaan hendaknya berupaya untuk tidak
terlalu tinggi memberikan tuntutan tugas, peran, relasi antar pribadi dan atas
dasar struktur organisasi serta kepemimpinan organisasi. Seorang karyawan yang
mengalami stres dalam bekerja pada umumnya akan merasa tidak nyaman dan
berusaha menghindari penyebab stres, salah satu caranya adalah dengan keluar
dari pekerjaan atau dapat disebut dengan melakukan turnover. Perlu menjadi
pertimbangan dalam hal pengambilan keputusan dimana dalam pemberian beban kerja
maupun kondisi lingkungan di dalam bekerja harus menjadi perhatian, sehingga
keinginan berpindah karyawan ini dapat ditanggulangi dengan kebijaksanaan yang
dapat diambil secara musyawarah dan dikomunikasikan dengan baik.
Pengaruh
Gaya Kepemimpinan, Lingkungan Kerja, dan Stres Kerja Terhadap Turnover
Intention
Berdasarkan hasil interpretasi dijelaskan bahwa
nilai signifikansi untuk pengaruh simultan X1, X2, dan X3 terhadap Y adalah
sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai F hitung sebesar 20,127 > dari F tabel
2.47, sehingga dapat disimpulkan bahwa H4 diterima yang berati terdapat
pengaruh gaya kepemimpinan (X1), lingkungan kerja (X2) dan stres kerja (X3)
terhadap turnover intention (Y) pada PT BFI Finance Indonesia,
Tbk Cabang Depok. Kemudian untuk output nilai R square sebesar 0,410 hal
ini mengandung arti bahwa pengaruh variabel gaya kepemimpinan (X1), lingkungan
kerja (X2) dan stres kerja (X3) terhadap turnover intention (Y) pada
PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang Depok adalah sebesar 41% dengan sisanya
dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat pada penelitian ini (Sarwar et al., 2023).
Demikian akhir pembahasan hasil penelitian ini
dimana hipotesis pertama sampai dengan yang ketiga yang menyatakan bahwa ada
pengaruh signifikan secara parsial pada variabel gaya kepemimpinan, lingkungan
kerja, dan stress kerja terhadap turnover intention. Pada variabel gaya
kepemimpinan arah korelasi menunjukkan hasil negatif, maka gaya kepemimpinan
berpengaruh negatif terhadap turnover intention, artinya semakin rendah gaya
kepemimpinan akan semakin tinggi tingkat turnover intention. Kemudian variabel
lingkungan kerja arah korelasi menunjukkan hasil negatif, maka lingkungan kerja
berpengaruh negatif terhadap turnover intention, artinya semakin rendah
lingkungan kerja akan semakin tinggi tingkat turnover intention. Selanjutnya
pada variabel stress kerja arah korelasi menunjukkan positif, maka stres kerja
berpengaruh positif terhadap turnover intention, artinya semakin tinggi stres
kerja akan semakin tinggi tingkat turnover intention.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan
mengenai "Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Lingkungan Kerja, dan Stres Kerja
Terhadap Turnover Intention Pada PT BFI Finance Indonesia, Tbk Cabang
Depok", peneliti dapat menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan, lingkungan
kerja, dan stres kerja secara signifikan mempengaruhi niat karyawan untuk
pindah pekerjaan. Temuan menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang memperhatikan
kepercayaan dan stabilitas, lingkungan kerja yang memberikan kenyamanan dan
dukungan, serta manajemen stres kerja yang efektif dapat mengurangi tingkat
turnover di organisasi. Namun, walaupun ketiga variabel tersebut memiliki
pengaruh yang cukup signifikan, terdapat faktor lain yang juga memengaruhi
turnover intention yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Oleh karena itu,
penelitian selanjutnya dapat melibatkan variabel tambahan untuk mendapatkan pemahaman
yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi niat karyawan
untuk berpindah pekerjaan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, H. (2017). Peranan manajemen sumberdaya
manusia dalam organisasi. Warta Dharmawangsa, 51.
Adeline, K. (2022). Dampak Gaya
Kepemimpinan Terhadap Loyalitas Karyawan Dan Turnover Intention (Studi Kasus Pt
Bank Xyz Tbk). Jurnal Bina Manajemen, 10(2), 42–63.
Adha, R. N., Qomariah, N., &
Hafidzi, A. H. (2019). Pengaruh motivasi kerja, lingkungan kerja, budaya kerja
terhadap kinerja karyawan dinas sosial kabupaten Jember. Jurnal Penelitian
IPTEKS, 4(1), 47–62.
Ali, N. M., Jangga, R., Ismail,
M., Kamal, S. N.-I. M., & Ali, M. N. (2015). Influence of Leadership Styles
in Creating Quality Work Culture. Procedia Economics and Finance, 31,
161–169. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/S2212-5671(15)01143-0
Andini, D. M. (2022). Pengaruh
kompensasi terhadap turnover intention melalui Konflik dan komitmen sebagai
variabel intervening pada Hotel Savana Malang. Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim.
Anggara, P., Suryawati, C.,
& Agushybana, F. (2020). Keinginan Pindah Kerja (Turnover Intention) pada
Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit Umum SM Banyumas Propinsi Jawa Tengah. Jurnal
Manajemen Kesehatan Indonesia, 8(3), 153–160.
Aruna, A. (n.d.). Pengaruh
Gaya Kepemimpinan Dan Beban Kerja Terhadap Turnover Intention Karyawan.
Ayuningtyas, E. A., Fadilah, D.
O., Maskuri, M. A., & Marliah, S. (2022). Gaya Kepemimpinan Otokratis dan
Stres Kerja dalam Mempengaruhi Turnover Intention. Jurnal Pengembangan
Wiraswasta, 24(2), 75.
Budiasa, I. K. (2021). Beban
Kerja dan Kinerja Sumber Daya Manusia. Jawa Tengah: CV. Pena Persada.
Budiyanto, A. (2022). Pengaruh
Stres Kerja, Lingkungan Kerja, Kompensasi Dan Pengembangan Karier Terhadap
Turnover Intention Karyawan Pada PT. Nesitor. ESENSI: Jurnal Manajemen
Bisnis, 25(2), 104–118.
Deschênes, A.-A. (2024). Digital
literacy, the use of collaborative technologies, and perceived social proximity
in a hybrid work environment: Technology as a social binder. Computers in
Human Behavior Reports, 13, 100351.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.chbr.2023.100351
Fitriantini, R., Agusdin, A.,
& Nurmayanti, S. (2019). Pengaruh Beban Kerja, Kepuasan Kerja Dan Stres
Kerja Terhadap Turnover Intention Tenaga Kesehatan Berstatus Kontrak Di Rsud
Kota Mataram. Jurnal Distribusi, 8(1), 23–38.
Gani, N. A., Priharta, A., &
Purnamasari, A. (2022). Pengaruh Kompensasi dan Lingkungan Kerja terhadap
Turnover Intention pada Perusahaan Tambang di Kalimantan. Jurnal Pendidikan
Dan Kewirausahaan, 10(2), 579–588.
Halimah, T. N., Fathoni, A.,
& Minarsih, M. M. (2016). Pengaruh Job Insecurity, Kepuasan Kerja Dan
Lingkungan Kerja Terhadap Turnover Intention Pramuniaga Di Gelael Supermarket
(Studi Kasus Pada Gelael Superindo Kota Semarang). Journal of Management,
2(2).
Hasibuan, E. K., & Saragih,
M. (2019). Hubungan Kepemimpinan Efektif Kepala Ruangan Dengan Kinerja Perawat
Dalam Melakukan Asuhan Keperawatan Di Rsu Sari Mutiara Lubuk Pakam. Indonesian
Trust Health Journal, 2(1), 138–146.
Juanamasta, I. G., Aungsuroch,
Y., Fisher, M. L., Nuryani, S. N. A., & Ayuningsih, N. N. (2023). Translation
and validation study of the Indonesian version of the practice environment
scale of the nursing work index. International Journal of Nursing Sciences,
10(4), 511–517.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.ijnss.2023.09.018
Lestari, L. Y., & Adji, W.
H. (2023). Penerapan Gaya Kepemimpinan Spiritual Dalam Meningkatkan Kinerja
Karyawan di Para Medical Clinic Rancaekek Kabupaten Bandung. SKETSA BISNIS,
10(1), 85–100.
Ljungberg Persson, C., Nordén
Hägg, A., & Södergård, B. (2023). A survey of pharmacists’ perception of
the work environment and patient safety in community pharmacies during the
COVID-19 pandemic. Exploratory Research in Clinical and Social Pharmacy,
12, 100327. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.rcsop.2023.100327
Melky, Y. (2015). Hubungan
kepuasan kerja dan komitmen organisasi terhadap intensi pindah kerja (turnover
intention) karyawan PT Rejeki Abadi Sakti Samarinda. Psikoborneo: Jurnal
Ilmiah Psikologi, 3(1).
MUFLIHAH, R. K. (2018). Pengaruh
Kinerja Keuangan Terhadap Peringkat Obligasi Pada Perusahaan Multifinance Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2016.
Nasution, M. I. (2017). Pengaruh
stres kerja, kepuasan kerja dan komitmen organisasi terhadap turnover intention
medical representative. MIX: Jurnal Ilmiah Manajemen, 7(3),
407–428.
Prasetya, P. W. Y., & Dewi,
I. G. A. M. (2019). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Terhadap
Intention To Quit Dimediasi Oleh Kepuasan Kerja Pada Karyawan. Udayana
University.
Prayogi, M. A., Koto, M., &
Arif, M. (2019). Kepuasan kerja sebagai variabel intervening pada pengaruh
work-life balance dan stres kerja terhadap turnover intention. Jurnal Ilmiah
Manajemen Dan Bisnis, 20(1), 39–51.
Purnomo, Y. T. (2022). Penerapan
Motivasi Dan Gaya Kepemimpinan Dalam Rangka Meningkatkan Kepuasan Kerja
Karyawan Pada PT. XL Axiata Tbk Banjarmasin. Universitas Islam Kalimantan
MAB.
Rijasawitri, D. P., & Suana,
I. W. (2020). Pengaruh Kepuasan Kerja, Stres Kerja, Dan Lingkungan Kerja Non
Fisik Terhadap Turnover Intention. Udayana University.
Rismayanti, R. D., Musadieq, M.
Al, & Aini, E. K. (2018). Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Turnover
Intention Serta Dampaknya Pada Kinerja Karyawan. Jurnal Administrasi Bisnis,
61(2).
Rodríguez-García, M. C.,
Martos-López, I. M., Casas-López, G., Márquez-Hernández, V. V,
Aguilera-Manrique, G., & Gutiérrez-Puertas, L. (2023). Exploring the
relationship between midwives’ work environment, women’s safety culture, and
intent to stay. Women and Birth, 36(1), e10–e16.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.wombi.2022.04.002
Rydenfält, C., Persson, J.,
Erlingsdóttir, G., Larsson, R., & Johansson, G. (2023). Home care nurses’
and managers’ work environment during the Covid-19 pandemic: Increased
workload, competing demands, and unsustainable trade-offs. Applied
Ergonomics, 111, 104056.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.apergo.2023.104056
Sangsurya, Y., Muazza, M., &
Rahman, R. (2021). Perencanaan Sumber Daya Manusia Dalam Peningkatan Mutu
Pendidikan Di Sd Islam Mutiara Al Madan Kota Sungai Penuh. Jurnal Manajemen
Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2(2), 766–778.
Sarwar, U., Tariq, R., Aamir,
M., & Guan, Y. (2023). Comparative Analysis of Female Leadership Styles in
Public and Private Sector Universities: A Study in Pakistan. Heliyon, 9(11),
e22058. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e22058
Solehah, S., & Ratnasari, S.
L. (2019). Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Beban Kerja, Job Insecurity Terhadap
Turnover Intention Karyawan PT. Federal Internasional Finance Cab Batam. Jurnal
Dimensi, 8(2), 210–239.
Susyanto, H. (2019). Pengaruh
kepemimpinan, keterlibatan karyawan dan kepuasan kerja terhadap kesiapan untuk
berubah dalam menghadapi perubahan organisasi. Jurnal Ekonomi, Bisnis, Dan
Akuntansi, 21(1).
Tambunan, A. P. (2018).
Lingkungan Kerja Dan Kepuasan Kerja Karyawan: Suatu Tinjauan Teoretis. Jurnal
Ilmiah Methonomi, 4(2), 175–183.
Thuillard, S., Audergon, L.,
Kotalova, T., Sonderegger, A., & Sauer, J. (2024). Human and
machine-induced social stress in complex work environments: Effects on
performance and subjective state. Applied Ergonomics, 115,
104179. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.apergo.2023.104179
Yang, Y., Hatanaka, K., Takahashi,
K., & Shimizu, Y. (2023). Relationship among the nursing practice
environment, occupational career, and work engagement of Chinese nurses
employed in Japan: A cross-sectional study. International Journal of Nursing
Studies Advances, 5, 100166. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.ijnsa.2023.100166
Yilmaz, A., & Seren
İntepeler, S. (2023). Opinions of emergency nurses in Turkey on their work
environment during the COVID-19 pandemic and its relationship with their
health: A qualitative study. Heliyon, 9(12), e22716.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e22716
Yuda, I., & Ardana, I. K.
(2017). Pengaruh kepuasan kerja dan stres kerja terhadap turnover intention
pada karyawan Hotel Holiday Inn Express. E-Jurnal Manajemen Unud, 6(10),
5319–5347.