Sistem
Penyaliran Air di Rom Stockpile PT Multi Harapan Utama Sub PT Mitra Terminal
Kaltim
Samosir
Sebastian Toba Haposan
Universitas Mulawarman
Abstrak:
Area port
pada PT. Multi Harapan Utama dengan Kontraktor PT. Mitra Terminal Kaltim Sistem
penyaliran tambang di rom adalah suatu upaya yang diterapkan pada kegiatan
penambangan untuk mencegah, mengeringkan, atau mengalirkan air yang masuk ke
bukaan tambang. Upaya
ini dimaksudkan untuk mencegah tergantungnya aktivitas penambangan akibat
adanya air dalam jumlah yang berlebihan, terutama pada musim hujan. Salah satu sumber air
tambang di port antara lain air hujan, air limpasan,
dan air tanah. Sumber air tambang di port tersebut harus
diketahui volume per jamnya serta penentuan debit limpasan yang masuk ke area
port dalam perdetiknya dan penentuan dimensi saluran terbuka. Supaya mendapatkan target produksi
batubara untuk para konsumen. Pada pengamatan di lapangan
terlihat kondisi port ROM stockpile terjadi genangan air yang dimana genangan
tersebut terjadi akibat curah yang tinggi. Untuk
menangani hal tersebut diperlukan upaya yang optimal untuk penanganan air yang
masuk di port ROM stockpile dengan menganalisi debit limpasan yang masuk ke
port ROM stockpile dan mengevaluasi dimensi saluran terbuka agar tidak terjadi
genangan pada area port ROM stockpile. Dari hasil perhitungan data curah hujan yang
terjadi pada tahun 2013-2022 diperoleh curah
dan intensitas curah hujannya sebesar 25 mm/jam untuk periode ulang hujan 10 tahun. Berdasarkan data yang diperoleh dan hasil perhitungan yang telah
dilakukan, luas daerah tangkapan hujan di Area ROM
seluas 7,47572 Ha.
Debit air limpasan permukaan pada Area Rom
tersebut 183,86 m3/jam. Kapasitas
air pada saluran
terbuka 5,78 m3/detik. Kapasitas volume settling pond 194,21 m3
untuk dibagi per 4 kompartement.
Kata kunci: Debit Limpasan, Saluran Terbuka, Curah Hujan Rencana Intensitas Curah
Hujan, Settling Pond
Abstract:
Port area at PT. Multi Harapan Utama with
Contractor PT. Mitra Terminal Kaltim Mine drainage system at the rom is an
effort that is applied to mining activities to prevent, drain, or drain water
that enters mine openings. This effort is intended to prevent the dependence of
mining activities due to the presence of excessive amounts of water, especially
during the rainy season. One source of mine water at the port includes
rainwater, runoff water, and groundwater. The source of mine water at the port
must be known by volume per hour as well as the determination of the discharge
of runoff entering the port area in per second and determining the dimensions
of the open channel. In order to get coal production targets for consumers. Observations in the showed that the condition of the ROM stockpile
port was puddled, where the puddle occurred due to high bulk. To handle
this, optimal efforts are needed to handle water entering the ROM stockpile
port by analyzing the runoff discharge entering the ROM stockpile port and
evaluating the dimensions of the open channel to avoid flooding in the ROM
stockpile port area. From the results of calculating rainfall data that
occurred in 2013-2022, it was obtained that the rainfall and rainfall intensity
were 25mm/hour for a 10 year rainfall return period. Based on the data obtained
and the results of calculations that have been carried out, the area of the
rain catchment area in the ROM area is 7,47572 Ha. The
surface runoff water discharge in the Rom area is 183,86
m3/hour. The water capacity in the open channel is 5,78 m3/sec. The settling pond volume capacity is 194,21 m3
divided into 4 compartments.
Keywords:
Runoff Debt,
Open Channel, Rainfall Plan, Rain intensity, Settling Pond
Corresponding: Samosir
Sebastian Toba Haposan
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Sistem penyaliran tambang di port atau
di rom adalah suatu upaya yang diterapkan pada kegiatan penambangan untuk
mencegah, mengeringkan, atau mengalirkan air yang masuk ke bukaan tambang (Wulandari, n.d.). Upaya ini dimaksudkan untuk mencegah tergantungnya
aktivitas penambangan akibat adanya air dalam jumlah yang berlebihan, terutama
pada musim hujan.
Salah satu sumber air tambang di port atau rom antara lain
air hujan, air limpasan, dan air tanah. Sumber air tambang di
port atau di rom tersebut harus diketahui volume per jamnya serta penentuan
debit limpasan yang masuk ke area port atau rom dalam perdetiknya dan penentuan
dimensi saluran terbuka dan kapasitas settling pond tersebut.
Berbagai
macam metode penambangan batubara dapat dilakukan perusahaan untuk meningkatkan
serta memaksimalkan produksi (Alfiyanda et al., 2023). Salah satunya aktivitas
penambangan yang dilakukan pada umumnya di Indonesia yaitu metode penambangan
tambang terbuka yang banyak dijumpai di Kalimantan Timur (Aswandi & Yulhendra, 2019). Metode penambangan ini akan
menyebabkan terbentuknya cekungan yang luas sehingga sangat potensial untuk
menjadi daerah tampungan air, baik yang berasal dari air limpasan permukaan
maupun air tanah. Pada saat kondisi cuaca ekstrem dengan adanya curah hujan
yang tinggi, maka air yang berasal dari limpasan permukaan dapat menggenangi
lantai dasar dan menyebabkan front penambangan berlumpur sehingga dapat
menghambat kegiatan penambangan (Endriantho & Ramli, 2013).
Air
tambang �memiliki pengaruh besar terhadap
produktivitas tambang (Prahastini & Gautama, 2016). Apabila tidak segera
dilakukan penanganan yang baik maka air tambang akan mempengaruhi produktivitas
alat kerja, kemantapan lereng yang terganggu karena kondisi material jenuh,
menimbulkan air asam tambang (acid main drainage) serta tergenangnya
area bukaan tambang menyebabkan kegiatan penambangan mengalami hambatan yang ke
semuanya itu tentunya akan mempengaruhi produksi tambang. Untuk mengatasi hal
tersebut diperlukan rancangan sistem penyaliran yang baik dan bisa
diaplikasikan untuk memperlancar kegiatan produksi, baik untuk jangka pendek
maupun jangka panjang (Julyanthry et al., 2020).� Oleh karena itu, penelitian ini utamanya
untuk melakukan evaluasi system penyaliran air di rom stockpile
pt multi harapan utama sub pt mitra terminal kaltim.
METODE
PENELITIAN
Di dalam
melaksanakan penelitian ini, Penulis menggabungkan antara teori dengan data �
data lapangan, sehingga dari keduanya didapat pendekatan penyelesaian masalah.
Sehingga dilakukan dalam beberapa tahapan yang meliputi tahap pra lapangan,
tahap lapangan, dan tahap pasca lapangan.
Tahap Pra Lapangan
Tahapan pra lapangan adalah tahapan awal yang perlu dilakukan atau dipersiapkan terlebih dahulu sebelum melakukan
pengujian secara langsung atau turun ke lapangan. Adapun beberapa tahap pra lapangan yaitu sebagai berikut:
1.
Studi Literatur
Tahap awal
sebelum melakukan penelitian ini adalah studi literatur. Studi literatur ini
meliputi berbagai literatur dari buku, jurnal, dan juga hasil atau laporan dari
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.
2.��� Observasi Lapangan
Pada tahap
observasi lapangan ini merupakan tahap pencarian masalah yang akan diangkat
dalam penelitian. Kegiatan observasi ini sangat berguna sebagai langkah awal
untuk memulai proses pengambilan data.
3.��� Penentuan
Lokasi Pengamatan
Penentuan lokasi
pengamatan dengan pertimbangan yang memiliki perencanaan dan penj adwalan penambangan.
4.��� Persiapan Alat
dan Bahan
Pada saat
pengambilan data di lapangan penulis membutuhkan alat dan bahan guna
mempermudah penulis dalam pengambilan data di lapangan. Adapun alat dan bahan yang digunakan, yaitu:
a.
Alat Pelindung Diri (APD); digunakan untuk melindungi
diri dari risiko kecelakaan yang akan terjadi, alat yang digunakan berupa helm
safety, masker, kacamata, rompi,
b.
sepatu safety, sarung tangan, dan earplug.

Gambar 1 Alat Pelindung
Diri (APD)
(Sumber : https://ppsdm-geominerba.esdm.go.id/)
c.
Handphone : digunakan untuk dokumentasi di lapangan.

Gambar 2 Handphone
d.
Alat tulis dan kalkulator : digunakan untuk mencatat data
aktual di lapangan, maupun permasalahan yang didapatkan di lapangan selama melakukan penelitian, dan kalkulator
digunakan untuk menghitung perencanaan.

Gambar 3
Alat Tulis
e.
Laptop : digunakan untuk mengolah data yang diperoleh serta sebagai penunjang dalam penyelesaian laporan
penelitian skripsi.

Gambar 4 Laptop
Tahap Lapangan
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data-data yang
nantinya dipergunakan untuk membandingkan perencanaan dengan aktual di
lapangan, Sumber data yang digunakan pada penelitian ini dibedakan menjadi 2
macam yaitu data primer dan data sekunder.
1.
Metode Langsung (Primer)
Data
primer merupakan sumber data yang diperoleh dengan melakukan penelitian secara
langsung pada objek penelitian.
Adapun data
primer yang diperoleh pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.
Data
ukuran Saluran Terbuka Aktual
Alat yang digunakan meteran
dengan dimensi penampang saluran trapesium, meteran berfungsi untuk mengukur
lebar dan diameter paritan atau saluran terbuka pada area rom.

Gambar 5 Paritan ROM
b.
Luas daerah tangkapan hujan
Didapatkan
dari bantuan perangkat lunak (Software Arcgis), berfungis untuk
mengetahui luas daerah tangkapan hujan (catchment area) pada kondisi
actual topografi selama penelitian dengan mengikuti desain dari arah kejamuan
di Rom.
c.
Luas Ukuran Settling Pond
Alat yang
digunakan meteran yang berfungsi untuk mengukur Panjang dan lebar, kedalaman
Settling Pond pada 4 Kompartement pada area Rom.
2. Metode Tidak Langsung (Sekunder)
Metode tidak langsung merupakan metode pengumpulan data yang diambil secara
tidak langsung sebagai data pendukung penelitian berupa data yang berasal dari
perusahaan. Adapun data yang dikumpulkan adalah sebagai berikut:
a.
Data curah hujan Harian
Data ini akan digunakan dalam menghitung curah hujan rencana. Data ini diperoleh
dari pengambilan data curah hujan yang dilakukan oleh pihak perusahaan.
b.������������������ Peta penyaliran di Rom
Data ini akan digunakan dalam menentukan area penyaliran tambang atau
saluran terbuka yang berfungsi untuk mengalirkan air limpasan menuju area pengendapan.
Data ini diperoleh dari data yang dimiliki perusahaan.
c.������������������ Data Topografi
Data ini akan digunakan dalam menentukan area tangkapan hujan (catchment
area) pada area penambangan yang ada di rom.
Tahap Pasca Lapangan
Pada tahap pasca lapangan yaitu tahapan
pengolahan data dan analisis data yang telah didapatkan pada tahap lapangan.
Adapun tahap-tahap yang dilakukan untuk pengolahan data adalah sebagai berikut:
1.����� Luas Catchment Area
Luas area tangkapan
hujan dapat ditentukan menggunakan bantuan perangkat lunak (software) dengan
menambahkan data topografi pada area rom. Maka didapatkan hasil luas Catchment
area pada area rom (Iv�ncsics
& Filepn� Kov�cs, 2021).
2.����� Debit limpasan puncak
Debit limpasan puncak diperoleh dari data curah hujan, dilakukan pengolahan
data curah hujan tahunan untuk mendapatkan nilai curah hujan rencana, dimana nilai konsentrasi hujan (tc)
dengan menggunakan metode kirpich. Selanjutnya dilakukan perhitungan debit
limpasan menggunakan intensitas hujan, koefisien limpasan, dan luas area. Maka
diperoleh data debit limpasan (volume/waktu) (Shi et
al., 2022).
3.����� Dimensi saluran terbuka
Dimensi saluran
terbuka dapat ditentukan dengan memperhatikan debit limpasan yang akan
dialirkan menuju kolam pengendapan, dimensi saluran terbuka memperhatikan
bentuk desain saluran terbuka yang nantinya apakah saluran terbuka tersebut
dapat mengalirkan secara maksimal (Cao et
al., 2022)
4.����� Kapasitas Settling Pond
Kapasitas Settling
Pond dapat ditentukan dengan cara menghitung dengan menggunakan regulasi
dari KEPMEN agar menghindari luapan air (Arregoc�s-Garc�s
et al., 2024).
Kesimpulan dan Saran
Penarikan kesimpulan yang didapatkan
merupakan jawaban dari tujuan penelitian yang ingin dicapai. Sedangkan saran
merupakan hal-hal yang menjadi pertimbangan untuk penelitian selanjutnya dan
kekurangan yang dihadapi selama penelitian. Maka
Kesimpulan
dan hasil penelitian ini yaitu:
1.����������������� Menentukan luas catchment area pada PT.
Multi Harapan Utama ROM PT. Mitra Terminal Kaltim.
2.����������������� Menentukan debit limpasan yang masuk ke area
ROM.
3.����������������� Merencanakan desain dimensi saluran
terbuka pada area ROM PT. Mitra Terminal Kaltim.
4.����������������� Menghitung kapasitas settling pond regulasi
KEPMEN 1827 K/30/MEM/2018 dan evaluasi pada settling pond perusahaan dan
perhitungan.
Diagram Alir Penelitian
Berikut ini merupakan diagram alir
penelitian yang dijadikan sebagai acuan dalam penelitian dapat dilihat Gambar
3.6

Gambar 6 Diagram Alir Penelitian
Jadwal
Penelitian
Berikut ini merupakan jadwal penelitian
yang akan dijadikan sebagai acuan waktu dalam melakukan penelitian, dapat
dilihat pada Tabel 1
Tabel 1 Jadwal Penelitian
|
No. |
Kegiatan |
Agustus |
September |
||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
1 |
Studi Literatur |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Pengamatan Lapangan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Pengumpulan Data |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
Pengolahan Data |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
Analisis Data |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6 |
Pembuatan Laporan |
|
|
|
|
|
|
|
|
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Daerah Tangkapan Air Hujan (Catchment Area)
Semakin luas muka kerja suatu
area penambangan, maka akan semakin luas pula area yang terganggu dan luasan
daerah tangkapan hujan (Catchment Area) menjadi semakin besar (Takyi et al., 2023). Hal ini akan menyebabkan jumlah
air yang perlu ditanggulangi oleh suatu sistem penirisan cenderung semakin
besar. Catchment Area ditentukan berdasarkan kondisi situasi topografi
di yang ada di Rom, dengan cara menghubungkan titik-titik tertinggi pada
peta topografi dengan memperhatikan arah aliran air di daerah tersebut hingga
didapatkan sebuah poligon tertutup (Guerra & Mancinelli,
2024).
Tabel 2 Nilai
koefisien limpasan
|
No |
Area |
Koefisien Limpasan |
Keterangan C* |
|
1 |
ROM STOCKPILE |
C = 0,7 (Luas
7,21 Ha) |
Agak
Miring 3 - 15 %, Tanpa tumbuhan, Daerah
penumbuhan |
����
Penentuan luas Catchment
Area menggunakan software Arcgis sehingga didapat luas Catchment
Rom Stockpile yaitu 7,47572 Ha. Luas Catchment
Rom Stockpile tersebut terbagi 1 vegetasi, vegetasi tersebut adalah tanpa
tumbuhan, daerah penumbuhan dengan nilai koefisien limpasan sebesar 0,7
Besaran koefisien limpasan, dengan luas 7,21 Ha dapat dilihat pada (Tabel 2) di
atas.

Gambar 7 Peta Catchment Area
Gambar 8 Peta Tata Guna Lahan
Curah Hujan Rencana
Curah hujan sangat berpengaruh terhadap sistem penirisan
tambang, karena besar kecilnya curah hujan akan sangat mempengaruhi air yang
harus ditampung dilokasi penambangan. Analisis data curah hujan harian
diperlukan untuk menentukan besaran curah hujan rencana yang akan dijadikan
sebagai dasar perhitungan
(Guo et al., 2024).
Jika data curah hujan yang didapat menunjukkan angka yang
tinggi, maka data ini akan menghasilkan besar curah hujan rencana yang tinggi
pula untuk tiap-tiap periode ulang hujan
(Green et al., 2024). Tinggi
rendahnya curah hujan pada suatu daerah port
umumnya
dipengaruhi oleh letak geografis. Begitu pula dengan curah hujan di area port yang di eksploitasi oleh PT. Multi Harapan Utama Port PT. Mitra
Terminal Kaltim. Data curah hujan menggunakan data curah hujan dari tahun
2013-2022 yang diperoleh
dari Departement Mine
Plane PT. Multi Harapan Utama. Berikut tabel data curah hujan maksimum dari tahun 2013-2022 :
Tabel 3 Curah Hujan Bulanan Maksimum
|
Bulan |
Curah
Hujan Bulanan Maksimum Periode 2013-2022 |
||||||||||
|
2013 |
2014 |
2015 |
2016 |
2017 |
2018 |
2019 |
2020 |
2021 |
2022 |
||
|
(mm) |
(mm) |
(mm) |
(mm) |
(mm) |
(mm) |
(mm) |
(mm) |
(mm) |
(mm) |
||
|
Januari |
49.0 |
34.0 |
39.0 |
54.0 |
75.0 |
10.0 |
45.0 |
50.0 |
46.0 |
52.0 |
|
|
Februari |
26.0 |
41.0 |
31,5 |
34,5 |
6,0 |
10,0 |
45,0 |
52,3 |
19,8 |
6,5 |
|
|
Maret |
72.0 |
40.0 |
25,0 |
72,0 |
28,0 |
2,0 |
84,0 |
38,1 |
65,0 |
51,0 |
|
|
April |
61.0 |
24.5 |
75,0 |
38,0 |
90,0 |
7,0 |
61,0 |
37,0 |
29,5 |
47,0 |
|
|
Mei |
68.0 |
50.0 |
33,0 |
38,0 |
25,0 |
420,0 |
30,0 |
23,0 |
75,0 |
46,0 |
|
|
Juni |
66.5 |
31.0 |
53,0 |
27,0 |
33,0 |
420,0 |
24.0 |
73,0 |
41,5 |
47,0 |
|
|
Juli |
22.5 |
32.0 |
30,0 |
21,0 |
55,0 |
143,0 |
24,0 |
10,5 |
17,0 |
67,0 |
|
|
Agustus |
57.5 |
26.0 |
24,0 |
19,0 |
55,0 |
0,0 |
25,0 |
35,5 |
24,5 |
54,5 |
|
|
September |
32.0 |
31.0 |
14,5 |
63,0 |
30,0 |
43,0 |
50,0 |
26,5 |
30,5 |
49,5 |
|
|
Oktober |
77.0 |
44.0 |
57,0 |
45,0 |
0,0 |
0,0 |
73,0 |
33,0 |
74,0 |
49,0 |
|
|
November |
40.0 |
27.5 |
65,0 |
46,0 |
18,0 |
50,0 |
38,0 |
29,3 |
57,0 |
33,0 |
|
|
Desember |
25.0 |
46.0 |
59,0 |
47,5 |
27,0 |
0,0 |
10,0 |
85,0 |
84,0 |
99,8 |
|
|
CH
Max Bulanan |
49.7 |
35.6 |
42.2 |
42.1 |
36.8 |
92.1 |
42.4 |
41.1 |
47.0 |
50.2 |
|
Berdasarkan data curah hujan 10 tahun terakhir untuk curah hujan bulanan maksimum (2013-2022) pada PT. Mitra Terminal Kaltim. Pada tahun 2013 curah hujan maksimum terdapat pada bulan Oktober, pada tahun 2014 curah hujan
maksimum terdapat pada bulan Mei, pada tahun 2015 curah hujan maksimum terdapat pada bulan April, pada tahun 2016 curah hujan
maksimum terdapat pada bulan Maret, pada tahun 2017 curah hujan maksimum terdapat pada bulan April, pada tahun 2018 curah hujan
maksimum terdapat pada bulan Mei dan
Juni, pada
tahun 2019 curah hujan maksimum terdapat pada
bulan Maret, pada tahun 2020 curah hujan maksimum terdapat pada bulan Desember, pada tahun 2021 curah hujan
maksimum terdapat pada bulan Desember, dan pada
tahun 2022 curah hujan maksimum terdapat pada
bulan Desember.
Dengan nilai modus dari curah hujan bulanan maksimum yaitu 25,00 mm/hari.
Tabel 4 Durasi
Curah Hujan
|
Tahun |
Jumlah Hujan (Hari) |
Jumlah Hujan (Jam) |
|
2013 |
187 |
781.73 |
|
2014 |
206 |
924.73 |
|
2015 |
165 |
740.33 |
|
2016 |
182 |
757.85 |
|
2017 |
94 |
847.31 |
|
2018 |
548 |
939.50 |
|
2019 |
139 |
1067.56 |
|
2020 |
184 |
947.88 |
|
2021 |
262 |
600.30 |
|
2022 |
228 |
451.80 |
|
Jumlah |
2,194.50 |
8,058.97 |
|
Rata-rata jam hujan/hari |
3.67 |
|
Intensitas Hujan
Intensitas hujan adalah curah
hujan dalam jangka waktu tertentu, dan dinyatakan dalam mm persatuan waktu
(mm/jam) (Ayantobo et al., 2022). Perhitungan intensitas curah hujan dilakukan untuk
mendapatkan curah hujan yang sesuai yang nantinya dapat dipakai sebagai dasar
perencanaan debit limpasan air permukaan pada daerah penelitian.
Lamanya hujan didapatkan
yaitu 3,67 jam/hari untuk perhitungan dengan nilai intensitas hujan di daerah
area ROM didapatkan nilai modus curah hujan harian 10 tahun terakhir sebesar
25,00 mm/hari sehingga diperoleh intensitas hujan menggunakan metode mononobe
sebesar 3,64 mm/jam. Dan untuk perhitungan lebih detail dapat dilihat di
(Lampiran B) point 2 (Agakpe et al., 2024).
Debit Limpasan
Debit limpasan juga disebut air permukaan, yaitu air
hujan yang mengalir di atas permukaan tanah (Shi et al., 2023). Dengan luas Catchment
Area, nilai intensitas curah hujan, dan nilai koefesien limpasan yang telah
diperoleh sebelumnya, nilai debit limpasan untuk pada area port 2 dapat dilihat pada Tabel 5
yang dibawah. Debit Inpit yaitu Debit limpasan yang berada dalam
boundary Area Rom Stockpile 2 itu sendiri. Sedangkan Debit Outpit
yaitu Debit limpasan yang berada diluar dari boundary Area Rom Stockpile itu sendiri. Debit air tanah yang digunakan berupa data sekunder
perusahaan yang di dapatkan dari Departement engineering dan survey PT. Multi Harapan Utama. Untuk
lebih detail dapat dilihat di (Lampiran C).
Tabel 5 Tabel Debit
Limpasan Rom Stockpile
|
Debit Kompartement 1 |
|||||
|
Intensitas Hujan (I)� |
= |
3,64 |
mm/jam |
||
|
Koefisien limpasan (C) |
= |
0,7 |
|
||
|
Luas area (A) |
= |
7,21 |
Ha |
||
|
Debit Limpasan (Qlimpasan) |
= |
0,00278 x C x I x A |
|||
|
|
|
|
= |
0,051 |
m3/detik |
|
|
|
|
= |
3,064 |
m3/menit |
|
|
|
|
= |
183,84 |
m3/jam |
|
Σ
Debit Limpasan |
= |
183,84 |
m3/jam |
|
|
��������
Dimensi Saluran Terbuka (Open Channel)
Saluran Terbuka
(Open Channel) berfungsi
untuk mengalirkan air limpasan (debit limpasan) dari segala sisi yang akan masuk ke dalam
area penambangan. Saluran terbuka
berfungsi untuk mencegah dan mengalirkan air limpasan (debit limpasan)
menuju area pond.
Peneliti memberikan rekomendasi saluran berbentuk trapesium dengan berikut merupakan
desain dan data secara rinci, dapat dilihat sebagai berikut (Kadia et al., 2024).

Gambar
9 Desain Saluran Terbuka
Tabel 6 Rancangan
Desain Saluran Terbuka
|
No |
Simbol |
Keterangan |
Satuan |
|
|
1 |
CW |
Channel Top Width |
3,9 |
M |
|
2 |
W |
Water surface Width |
3,5 |
M |
|
3 |
H |
Height of Channel |
1,2 |
M |
|
4 |
B |
Lebar dasar saluran |
1,5 |
M |
|
5 |
h |
Kedalaman Saluran |
1 |
M |
|
6 |
Q |
Discharge Capacity |
5,78 |
m3/s |
|
7 |
X:Y |
Kemiringan Saluran |
45o |
|
|
8 |
N |
Koefisien manning |
0.03 |
|
���������������
Pada
desain ini dihasilkan kapasitas penyaliran air yaitu 5,78 m3/detik sehingga
untuk material dasar yang direkomendasikan agar tidak terjadi
kerusakan pada lantai dasar saluran yaitu material kerikil dengan
ukuran minimal 50 mm. Untuk perhitungan lebih rinci dapat dilihat pada (Lampiran D) dan table
kekerasan dinding saluran dapa di lihat pada (Lampiran D). Dan
dalam penempatan saluran terbuka, penulis memberikan saran lokasi
penempatan saluran terbuka dapat dilihat pada (Gambar 9) yang
diatas.
Gambar 10 Peta
Penyaliran Saluran Terbuka
Settling Pond Regulasi Dan Evaluasi Settling Pond
Berdasarkan perhitungan untuk
settling pond didapatkan nilai debit Limpasan Q sebesar 183,86 m3/jam
dan lama hujan yaitu 3,67 jam/hari dan Q debit limpasan hari yaitu 674,76 m3/hari
dan Q debit limpasan perjam yaitu 28,11 m3/jam sedangkan hasil
volume settling Pond yaitu 2361,68 m3 dan kapasitas settling
pond 2952,10 m3 dan dibagi 4 kompartement didapatkan hasil yaitu
sekitar 194,21 m3 dan luas settling pond yaitu 776,86 m2
dengan rekomendasi� kedalaman 3,8 m.
Dapat dilihat pada table 10 yang ada dibawah untuk perhitungan lebih rinci
dapat dilihat di (Lampiran E) dan mengikuti regulasi dari (KEPMEN
1827K/30/MEM/2018).
Tabel 10 Kapasitas Settling Pond Regulasi
|
Keterangan |
Satuan |
|
Q |
183,86 m3/jam |
|
Lama hujan |
3,67 jam/hari |
|
Q Debit Limpasan Perjam |
28,11 m3/jam |
|
Regulasi |
84 jam |
|
Volume Max |
2361,68 m3 |
|
Kapasitas Regulasi |
2952,10 m3 |
|
Kedalaman Rekomendasi |
3,8 m |
|
Luas |
776,86 m2 |
|
Kapasitas 4 Kompartement |
194,21 m3 |
Tabel 11 Kapasitas Settling Pond Perusahaan
|
Komp |
P (m) |
L (m) |
T (m) |
Total
(m3) |
Luas (m2) |
|
1 |
28 |
20,7 |
0,8 |
463,68 |
|
|
2 |
36,4 |
22 |
1,5 |
1201,2 |
|
|
3 |
38,2 |
16,2 |
1,5 |
928,26 |
2782,44 |
|
4 |
38 |
20,4 |
1,2 |
930,24 |
|
|
Total
(m3) |
|
|
|
3523,38 |
|
Berdasarkan kapasitas dari settling pond perusahaan
didapatkan daya tampung settling pond yaitu sebesar 3523,38 m3 dengan luas dari settling pond
tersebut yaitu 2782,44 m2. Perusahaan tidak menggunakan regulasi
dapat di lihat pada table 11 yang ada di atas jadi direkomendasi untuk
menggunakan kapasitas settling pond regulasi untuk menghindari luapan
air.
Tabel 12 Evaluasi Settling Pond
|
Evaluasi |
Perusahan |
Perhitungan |
Perubahan |
Keterangan |
|
Luas SP (m2) |
2782,44 |
776,86 |
0,27 |
Kenaikan 0,27 kali lipat dari data
perusahaan |
|
Kapasitas SP(m3) |
3523,38 |
2952,10 |
0,83 |
Kenaikan 0,83 kali lipat dari data
perusahaan |
Evaluasi dari settling
pond perusahaan dan perhitungan didapatkan luas yang berbeda yaitu 2782,44
m2 untuk perusahaan, sedangkan dari perhitungan di dapatkan hasil
776,86 m2 dengan nilai kenaikan 0,27 kali lipat dari data
perusahaan. Sedangkan evaluasi dari settling pond perusahaan dan
perhitungan didapatkan kapasitas yang berbeda yaitu 3523,38
m3 untuk perusahaan sedangkan dari perhitungan di dapatkan hasil
2952,10 m3 dengan nilai kenaikan 0,83 kali lipat dari data
perusahaan dapat dilihat di table 12 yang ada diatas. Dan
perhitungan evaluasi dapat dilihat di (Lampiran E).
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut : Luas catchment Area di PT.
Mitra Terminal Kaltim Area 2 ROM Yaitu 7,47 Ha. Debit limpasan yang masuk pada seluruh daerah tangkapan hujan (Catchment
area) pada daerah penelitian yaitu 0,051 m3/detik. Dimensi bentuk dari saluran terbuka
trapesium dengan kemiringan 45o dan dimensi lebar atas saluran (CW)
3,9 m, ketinggian total saluran terbuka (H) 1,2 m, lebar dasar saluran (b) 1,5
m. Dengan debit limpasan mampu mengalirkan air di settling pond 5,78 m3/s.
Berdasarkan KEPMEN regulasi volume maksimal settling Pond 2361,68 m3,
kapasitas settling pond 2952,10 m3 dan luas settling pond
776,86 m2 dengan rekomendasi kedalaman 3,8 m. Evaluasi dari luas settling
pond perusahaan dan perhitungan didapatkan perbuhaan atau kenaikan yaitu
0,27 kali lipat dari data perusahaan. Sedangkan untuk kapasitas settling
pond perusahaan dan perhitungan di dapatkan perubahan atau kenaikan yaitu 0,83 kali lipat dari data perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Agakpe, M. D., Nyatuame, M., & Ampiaw, F. (2024).
Development of intensity � duration � frequency (IDF) curves using combined
rain gauge (RG) and remote sense (TRMM) datasets for Weta Traditional Area in
Ghana. HydroResearch, 7, 109�121.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.hydres.2024.01.003
Alfiyanda, A., Nugroho, W.,
Magdalena, H., Hasan, H., & Respati, L. L. (2023). Perancangan Triwulan
Sequence Penambangan Batubara Pada PIT 5F PT Wijaya Mandiri Energi. Jurnal
Sosial Teknologi, 3(12), 978�982.
Arregoc�s-Garc�s, R., Garc�s-Ord��ez,
O., Vivas-Aguas, L.-J., & Canals, M. (2024). Microplastics transfer from a
malfunctioning municipal wastewater oxidation pond into a marine protected area
in the Colombian Caribbean. Regional Studies in Marine Science, 69,
103361. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.rsma.2023.103361
Aswandi, D., & Yulhendra, D.
(2019). Redesain Rancangan Ultimate Pit Dengan Menggunakan Software Minescape
4.118 Di Pit S41 PT. Energi Batu Hitam Kecamatan Muara Lawa & Siluq Ngurai,
Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Bina Tambang, 4(1),
153�164.
Ayantobo, O. O., Wei, J., Li,
Q., Hou, M., & Wang, G. (2022). Moderate rain intensity increased and
contributes significantly to total rain change in recent decades over the
Qinghai-Tibet Plateau. Journal of Hydrology: Regional Studies, 39,
100984. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.ejrh.2021.100984
Cao, Y., El-Shorbagy, M. A.,
Dahari, M., Cao, D. N., Din, E. M. T. El, Huynh, P. H., & Wae-hayee, M.
(2022). Examining the relationship between gas channel dimensions of a polymer
electrolyte membrane fuel cell with two-phase flow dynamics in a flooding
situation using the volume of fluid method. Energy Reports, 8,
9420�9430. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.egyr.2022.07.048
Green, A. C., Kilsby, C., &
B�rdossy, A. (2024). A framework for space�time modelling of rainfall events
for hydrological applications of weather radar. Journal of Hydrology, 630,
130630. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jhydrol.2024.130630
Guerra, M. T., & Mancinelli,
G. (2024). The interplay of freshwater inputs and catchment geology in
regulating seawater chemistry in Irish coastal areas. Estuarine, Coastal and
Shelf Science, 297, 108623.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.ecss.2024.108623
Guo, H., Ng, C. W. W., &
Zhang, Q. (2024). Three-dimensional numerical analysis of plant-soil hydraulic
interactions on pore water pressure of vegetated slope under different rainfall
patterns. Journal of Rock Mechanics and Geotechnical Engineering.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jrmge.2023.09.032
Iv�ncsics, V., & Filepn�
Kov�cs, K. (2021). Analyses of new artificial surfaces in the catchment area of
12 Hungarian middle-sized towns between 1990 and 2018. Land Use Policy, 109,
105644. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.landusepol.2021.105644
Julyanthry, J., Siagian, V.,
Asmeati, A., Hasibuan, A., Simanullang, R., Pandarangga, A. P., Purba, S.,
Purba, B., Ferinia, R., & Rahmadana, M. F. (2020). Manajemen Produksi
dan Operasi. Yayasan Kita Menulis.
Kadia, S., Lia, L., Albayrak,
I., & Pummer, E. (2024). The effect of cross-sectional geometry on the
high-speed narrow open channel flows: An updated Reynolds stress model study. Computers
& Fluids, 271, 106184.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.compfluid.2024.106184
Prahastini, S. D., &
Gautama, R. S. (2016). Perancangan Aplikasi Untuk Sistem Penyaliran Pada
Tambang Terbuka. XIX (3).
Shi, W., Chen, T., Yang, J.,
Lou, Q., & Liu, M. (2022). An improved MUSLE model incorporating the
estimated runoff and peak discharge predicted sediment yield at the watershed
scale on the Chinese Loess Plateau. Journal of Hydrology, 614,
128598. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jhydrol.2022.128598
Shi, W., Wang, M., Li, D., Li,
X., & Sun, M. (2023). An improved method that incorporates the estimated
runoff for peak discharge prediction on the Chinese Loess Plateau. International
Soil and Water Conservation Research, 11(2), 290�300.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.iswcr.2022.09.001
Takyi, S., Antwi, R. B., Erman Ozguven,
E., Alisan, O., Ghorbanzadeh, M., Mardis, M., & Jones, F. (2023). Measuring
spatial accessibility of public libraries using floating catchment area
methods: A comparative case study in Calhoun County, Florida. Transportation
Research Interdisciplinary Perspectives, 22, 100944.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.trip.2023.100944
Wulandari, A. (n.d.). Analisis
balik kestabilan lereng disposal berdasarkan hujan harian maksimum pit panel 1
PT bara tabang menggunakan metode morgentern-price. Fakultas Sains dan
Teknologi UIN Syarif HIdayatullah Jakarta.