Ironi
Situasional dalam Peristiwa Entrepreneurial Peluncuran Bisnis Baru
Roni Tua
Universitas Katolik
Parahyangan, Jawa Barat, Indonesia
Abstrak:
Peluncuran bisnis
baru merupakan periode penting dan kritis dalam sebuah proses kewirausahaan
yang didahului oleh pengenalan dan ekploitasi kesempatan. Literatur
kewirausahaan dipenuhi oleh pandangan yang ekonomis dan obyektif dalam memahami
proses ini yang bertentangan dengan banyak cerita-cerita kewirausahaan yang
selalu menggambarkannya sebagai sebuah proses yang personal dan sosio-kultural.
Studi ini mengkaji narasi peluncuran bisnis baru di Indonesia dengan
mengidentifikasi ironi situasi yang terkandung di dalamnya. Ironi menjadi fokus
karena merupakan esensi dari sebuah cerita dan pengalaman yang kompleks dan
mendalam. Penelitian ini menemukan empat periode di mana ironi situasional itu
dialami. Temuan dari studi ini berguna untuk memahami pengalaman individu yang
berada dalam proses peluncuran bisnis baru dan dapat digunakan untuk membangun
cerita kewirausahaan yang penuh makna. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami
fenomena ironi situasional dalam konteks empat periode waktu yang
teridentifikasi, yakni ketika Socially Disadvantaged Entrepreneur (SDC) menjadi
pekerja, menjalankan bisnis keluarga, menjadi pelajar, dan menjalankan bisnis
sebelumnya. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menggali dua jenis
situasi yang ditemukan, yaitu situasi personal dan pasar, serta menganalisis pengaruhnya
terhadap proses entrepreneurial peluncuran bisnis baru. Metode penelitian ini� kualitatif di
rumpun ilmu sosial, Pendekatan naratif ini menekankan pada pengumpulan dan
analisis cerita atau narasi, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis, untuk memahami
pengalaman, perspektif, dan makna subjektif dari partisipan penelitian. Hasil
dari penelitian ini dapat membantu dalam memahami pola perilaku entrepreneurial
di antara kelompok SDC dan menyoroti tantangan dan peluang yang muncul di
setiap tahap.
Kata kunci: Peluncuran
bisnis baru, Ironi situasional, Pengalaman individu
Abstract:
The launch of a new business is an important
and critical period in an entrepreneurial process that is preceded by the
recognition and exploitation of opportunities. Entrepreneurship literature is
filled with economic and objective views in understanding this process, which
is contrary to many stories of entrepreneurship which always depict it as a
personal and socio-cultural process. This study examines the narrative of new
business launches in Indonesia by identifying the irony of the situation
contained therein. Irony is the focus because it is the essence of a complex
and deep story and experience. This research found four periods in which
situational irony was experienced. The findings from this study are useful for
understanding the experiences of individuals who are in the process of
launching a new business and can be used to build meaningful entrepreneurial
stories. This research aims to explore the phenomenon of situational irony in
the context of four identified time periods, namely when the Socially
Disadvantaged Entrepreneur (SDC) became a worker, ran a family business, became
a student, and ran a previous business. Apart from that, this research also
aims to explore the two types of situations found, namely personal and market
situations, and analyze their influence on the entrepreneurial process of
launching a new business. This research method is qualitative in the social
sciences. This narrative approach emphasizes collecting and analyzing stories
or narratives, both in oral and written form, to understand the experiences,
perspectives and subjective meanings of research participants. The results of
this research can help in understanding entrepreneurial behavior patterns among
SDC groups and highlight the challenges and opportunities that arise at each
stage.
Keywords: New
business launch, Situational irony, Individual experience
Corresponding: Roni Tua
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Kewirausahaan merupakan penggerak utama
bagi perekonomian karena menciptakan lapangan kerja, meningkatkan inovasi, dan
mendorong pertumbuhan ekonomi (Suwandi et al., 2024). Para wirausaha tidak hanya menciptakan pekerjaan untuk diri mereka
sendiri tetapi juga bagi orang lain melalui perusahaan mereka (Hasan, 2020), sehingga mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan daya beli
masyarakat. Kewirausahaan merupakan sumber utama inovasi dalam perekonomian,
melalui usaha para wirausahawan/wati untuk menemukan solusi baru atas masalah
yang ada atau menciptakan produk dan layanan yang unik (Komalasari et al., 2017). Kewirausahaan juga memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan
ekonomi dengan menciptakan nilai tambah dan meningkatkan produktivitas bahkan
ketika terjadi resesi ekonomi (Afriani, 2016). Melalui investasi dalam bisnis baru dan ekspansi perusahaan yang ada,
seorang wirausaha memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi suatu Negara
(Sedyati, 2022).
Peluncuran bisnis baru merupakan momen
terpenting dalam proses kewirausahaan (Aprillia et al., 2023) yang di dalamnya terdapat proses pengenalan dan eksploitasi kesempatan (Sediyaningsih, 2018), khususnya menurut perspektif kewirausahaan berbasis kesempatan (Rukmana et al., 2021). Namun, peluncuran bisnis baru terlalu sering dilihat secara ekonomis,
misalnya dalam pandangan (Purnomo, 2016) entrepreneur terdorong untuk menciptakan marjin antara biaya perolehan
dengan penjualan. Cerita kewirausahaan akirnya tereduksi menjadi formal, clich�
dan �objektif�. Sebaliknya, dalam banyak cerita-cerita kewirausahaan,
peluncuran bisnis baru merupakan proses yang personal, situasional dan banyak
aspek sosio-kultural, termasuk nilai dan norma, baik yang ingin dilestarikan
maupun ditantang dan diperbaharui oleh subyek yang disebut entrepreneur. Salah
satu cerita kewirausahaan dalam kompilasi Feiler (2020), yang mengkonfirmasi
temuan (Pianda, 2018), menunjukkan bahwa semangat kewirausahaan sangat mungkin merupakan titik
balik (turning point) atas krisis
hidup yang dialami seseorang. Karena itu cerita tentang peluncuran bisnis baru
mestinya unik dan penuh dengan makna yang dapat mendorong refleksi atau
memprovokasi munculnya perdebatan tentang nilai dan humanitas.
Dalam literatur akademik, terdapat
sebuah aliran yang mempelajari keterlibatan narasi dalam studi kewirausahaan (Tiffani et al., 2024), misalnya dalam proses memahami lingkungan bisnis (Risdwiyanto, 2017), meyakinkan investor (Setiawati et al., 2018), dan menyelidik nilai dalam komunitas wirausaha (Romli et al., 2021). Salah satu obyek yang sering dipelajari adalah cerita dan pengalaman
hidup entrepreneur dalam memulai dan mengembangkan �bahkan mengakiri� usahanya (Shalahuddin et al., 2018). Cerita-cerita kewirausahaan seperti ini menarik untuk diikuti yang
tidak hanya karena perubahan social yang dihasilkan dalam proses kewirausahaan
namun� juga karena mengandung ironi,
paradoks dan kontradiksi yang membuat makna sebuah cerita menjadi kompleks dan
mendalam (Pardamean, 2023). Ironi, sama seperti humor dan sarkasme (Kreuz, 2020), merupakan esensi
yang memberikan rasa dalam sebuah cerita, termasuk yang terkait dengan proses
kewirausahaan peluncuran bisnis baru.
Memplejari ironi, khususnya dalam sebuah
life story, merupakan cara untuk memahami intensivitas dan ekstensivitas makna
yang terkandung dalam pengalaman tokoh atau Subyek Dalam Cerita (SDC). Dalam
literatur sastra terdapat tiga bentuk ironi yaitu ironi verbal, dramatis dan
situasional (ALLO, 2018). Bentuk pertama merupakan pernyataan seseorang yang bertentangan dengan
kondisi aktual yang dialaminya, dan bentuk Kedua merupakan ironi yang tercipta
karena perbedaan perspektif, khususnya antara pembaca sebuah cerita dengan
tokoh di dalam cerita. Bentuk ketiga, yang menjadi fokus dalam studi ini,
merupakan kesenjangan dan pertentangan antara kondisi aktual dengan yang
diharapkan. Sebuah cerita yang mengandung ironi yang mendalam bukan sekedar
ekspektasi yang tidak terpenuhi (under
expectation), atau terlampaui (over),
namun bisa juga situasi unik di mana keduanya ada di dalam dimenasi waktu dan
tempat yang sama. Sebagai contoh, seorang wirausaha
yang berhasil dalam mengembangkan bisnisnya yang walaupun memiliki kekayaan
namun tidak dapat menikmati hasil kerja kerasnya karena harus berjuang melawan
penyakit yang serius adalah sebuah ironi situasional. (Hermawan, n.d.) mengungkap berbagai lelucon tentang entrepreneur
yang juga mengandung ironi dan ambivalensi di mana persepsi tentang wirausaha
dapat dilihat dari sisi positif maupun negatif, misalnya sebagai orang yang
rakus, jahat, dan licik yang mengkonfirmasi konsep �kapitalis� sebagai
penghisap dan penjajah dari perspektif Marxis.
Penelitan terdahulu yang berjudul
Perubahan Paradigma dalam Pengukuran Keberhasilan Bisnis: Penelitian ini
mengindikasikan perlunya perubahan paradigma dalam pengukuran keberhasilan
bisnis, khususnya bagi SDC. Selain faktor-faktor finansial, penelitian ini
menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak sosial, lingkungan, dan
kesejahteraan masyarakat dalam mengevaluasi kinerja bisnis mereka.
Kebaruan penelitian ini terletak pada
pendekatan interdisipliner dan holistiknya dalam menganalisis fenomena
entrepreneurial SDC, serta penekanan pada solusi berbasis bukti untuk
meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial mereka. Studi ini merupakan analisis
atas teks cerita-cerita kewirausahaan yang mengidentifikasi ironi situasional
di dalam proses peluncuran bisnis baru untuk memahami kekayaan makna dalam
sebuah proses kewirausahaan. Sebuah pertanyaan �Bagaimana bentuk ironi
situasional dalam berbagai peristiwa entrepreneurial peluncuran bisnis baru di
Indonesia� menginisiasi penelitian ini yang akan menggunakan cerita-cerita
kewirausahaan yang ada dalam.
Penelitian
ini bertujuan untuk mendalami fenomena ironi situasional dalam konteks empat
periode waktu yang teridentifikasi, yakni ketika Socially Disadvantaged Entrepreneur (SDC) menjadi pekerja,
menjalankan bisnis keluarga, menjadi pelajar, dan menjalankan bisnis
sebelumnya.
METODE
PENELITIAN
Naratif merupakan salah satu dari lima
pendekatan utama dalam penelitian kualitatif di rumpun ilmu sosial, Pendekatan
naratif ini menekankan pada pengumpulan dan analisis cerita atau narasi, baik
dalam bentuk lisan maupun tertulis, untuk memahami pengalaman, perspektif, dan
makna subjektif dari partisipan penelitian. menyoroti kekuatan penelitian
naratif dibandingkan dengan pendekatan lainnya dengan mengakui bahwa naratif
memberikan ruang yang lebih besar untuk menyajikan kompleksitas dan kedalaman
pengalaman manusia. Dibandingkan dengan pendekatan kuantitatif yang sering kali
mengabaikan konteks dan nuansa dalam analisis data, penelitian naratif
memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi bagaimana individu merasakan dan
memahami peristiwa serta proses yang terjadi dalam kehidupan mereka. Dengan
demikian, penelitian naratif mampu memberikan wawasan yang lebih kaya dan
mendalam tentang realitas sosial yang kompleks dan bervariasi.
Penelitian
ini menggunakan pendekatan storytelling,
yang merupakan bagian dari pendekatan naratif, untuk mengkaji pengalaman para
wirausahawan dalam peluncuran bisnis baru. Dalam
konteks ini, storytelling digunakan sebagai metode untuk menggali cerita dan
narasi yang melibatkan proses, tantangan, dan pencapaian para wirausahawan
dalam perjalanan kewirausahaan mereka. Hubungan antara storytelling dengan
pendekatan naratif terletak pada fokus keduanya pada pengumpulan dan analisis
cerita atau narasi subjektif untuk memahami pengalaman manusia. Dalam
penelitian organisasi dan kewirausahaan, storytelling telah menjadi metode yang
populer karena kemampuannya untuk menangkap dimensi emosional dan kontekstual
dari pengalaman individu dan kelompok dalam konteks organisasi dan bisnis. Dengan
menggali cerita-cerita yang terkandung dalam pengalaman para wirausahawan,
penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang mendalam tentang
dinamika dan tantangan yang terlibat dalam peluncuran bisnis baru serta peran
narasi personal dalam proses kewirausahaan.
menghadirkan banyak cerita kewirausahaan
yang kaya dan menarik untuk dikaji dan relevan dengan tujuan penelitian ini.
Kompilasi ini dipilih karena merupakan rangkuman karya-karya jurnalistik yang
dirangkum menjadi sebuah buku dan ditulis oleh seorang jurnalis yang fokus
kepada masalah-masalah ekonomi dan bisnis di Indonesia. Aqua, Teh Botol Sosro,
Edward Forrer, Kapal Api, Detikcom, J.co merupakan beberapa di antara nama-nama
produk, bisnis dan merek yang dibahas dalam buku tersebut yang tidak hanya
bertahan, namun juga pemimpin pasar di berbagai industry di Indonesia saat ini.
Dengan mengekstrak ironi-ironi yang terkandung dalam cerita-cerita
kewirausahaan tersebut, penelitian ini dapat menemukan ironi situasional yang
dihadapi oleh pendirinya ketika bisnis-bisnis digdaya tersebut dirintis
bertahun-tahun sebelumnya.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Tabel di bawah ini merupakan beberapa
cerita kewirausahaan yang dirangkum dalam Ma�ruf (2010). Mayoritas dari
bisnis-bisnis tersebut masih dikategorikan sebagai pemimpin dalam industri di
bidangnya, antara lain produk makanan dan minuman, yaitu Aqua, Teh Botol Sosro,
Kapal Api; obat herbal Sido Muncul; peralatan rumah tangga National, Baterai
ABC, Olympic; dan barang konsumer fashion Sepatu Edward Forrer dan T-shirt C59.
Cerita-cerita tersebut juga mengikutsertakan bisnis penyedia jasa transportasi
(Lion Air, 4848), Pendidikan (Primagama), pariwisata (Java Musikindo) dan
perdagangan kebutuhan rumah tangga (Kem chicks). Seperti yang ditampilkan dalam
Tabel 1, Setiap bisnis yang diceritakan memiliki seorang tokoh, yaitu pendiri,
yang disebut Subyek Dalam Cerita (SDC)
Tabel 1 Profil
Wirausaha dalam kompilasi Ma�ruf (2010)
|
No |
Nama
Bisnis |
Subyek
Dalam Cerita (SDC) |
Jenis
produk (Barang/jasa) |
Industri |
|
1 |
Edward forrer |
Edward |
sepatu |
Barang konsumer fashion |
|
2 |
Lion Air |
Rusdi Kirana |
jasa penerbangan |
transportasi |
|
3 |
The Botol sosro |
Sosrodjojo |
Minuman ringan |
Makanan dan minuman |
|
4 |
Kapal Api |
Domo |
Produk bubuk kopi |
Makanan dan minuman |
|
5 |
Aqua |
Tirto utomo |
Air minum dalam kemasan |
Makanan dan minuman |
|
6 |
Detikcom |
Budiono Darsono |
Media digital |
Media |
|
7 |
Kemchick |
Bob Sadino |
perdagangan bahan pangan |
barang konsumer makanan |
|
8 |
National Gobel |
Mohammad Gobel |
Peralatan rumah tangga |
Produk elektronik |
|
9 |
4848 |
Irawan Sarpingi |
Jasa perjalanan darat |
transportasi |
|
10 |
C59 |
marius Widyarto |
T-shirt |
Barang konsumer fashion |
|
11 |
Olympic |
Au Bintoro |
Meja kerja |
manufaktur furniture |
|
12 |
Primagama |
Purdi chandra |
bimbingan belajar |
pendidikan |
|
13 |
Sido Muncul |
Irawan Hidayat |
Jamu dalam kemasan |
Farmasi herbal |
|
14 |
ABC |
Husain Djojonegoro |
Baterai kering |
Barang konsumen |
|
15 |
Java Musikindo |
Adrie Subono |
Promotor acara |
Pariwisata |
Melalui Analisa teks-teks cerita
kewirausahaan tersebut, ditemukan banyak ironi yang dihadapi oleh SDC baik
dalam proses peluncuran bisnis baru maupun dalam periode selanjutnya, yaitu
fase pengembangan bisnis yang baru didirikan tersebut. Periode ketika momen
yang mengandung ironi tersebut terjadi terkait dengan transisi ketika SDC belum
atau sudah meluncurkan bisnis baru.
Seperti yang ditunjukkan dalam tabel 2,
periode sebelum SDC memulai bisnis baru memiliki keterkaitan dengan proses
rekognisi peluang bisnis yang terjadi ketika SDC masih memiliki satu di antara
4 status sebagai berikut: menjadi pekerja di perusahaan lain, menjalankan
bisnis keluarga, menjadi pelajar, dan menjalankan bisnis yang lain. Untuk
status pertama pada umumnya terkait dengan status ketika SDC bekerja di unit
usaha yang lain, seperti kasus nomor 1; atau ketika bekerja menjadi aparatur
negara. Kasus nomor 9 yang memiliki setting Indonesia ketika baru merdeka, di
mana SDC sebelum memulai bisnis angkutan darat berprofesi sebagai tentara
mengkonfirmasi hal ini.
Berdasarkan kedua kasus ini, perusahan
maupun bidang lain tempat entrepreneur bekerja sebelumnya merupakan seting di
mana mereka mulai mengenali peluang. Bisnis tempat bekerja SDC juga tidak harus
berasal dari industri yang sama, seperti yang dikonfirmasi oleh kasus kelima di
mana SDC sebelum memulai bisnis air minum dalam kemasan bekerja di industri
petroleum. Bahkan sebuah seting militer yang sangat top-down sekalipun, seperti dalam kasus nomor sembilan, bukan
tempat yang steril dari kemungkinan seseorang dapat mengenali peluang dan
terdorong untuk berwirausaha, yang mengkonfirmasi studi Pelly (Birowo et al., 2016). Selain itu banyak juga profil wirausahawan yang berlatar belakang
militer baik di Indonesia, maupun di dunia termasuk Fed Smith pendiri Fedex dan
Sam Walton pendiri Walmart. Walaupun ada beberapa pertimbangan yang mendukung
hubungan organisasi militer dengan kewirausahaan individu, seperti kebiasaan
untuk mengambil tindakan dan keputusan berdasarkan resiko yang terukur dan
pemanfaatan teknologi dan inovasi (Harto et al., 2023) mengkonfirmasi hal sebaliknya.
Untuk status keempat sebelum SDC
meluncurkan bisnis baru, yaitu menjalankan bisnis yang lain dapat diklasifikasi
menjadi tiga situasi. Pertama, SDC bekerja di perusahaan yang berbeda dalam
industri yang berbeda; kedua, Perusahaan yang berbeda dalam industry yang sama
(kasus pertama dan kedua); dan ketiga, perusahaan yang sama namun dalam model
bisnis yang berbeda. Situasi pertama dikonfirmasi oleh kasus ke-15, di mana SDC
sebelumnya disebut menjalankan bisnis perkapalan. Situasi kedua terkonfirmasi
dalam kasus ketujuh, yaitu cerita Bob Sadino. Situasi ketiga terepresentasi
dalam wirausaha nomor enam di mana SDC memiliki Perusahaan media cetak yang
kemudian melakukan transisi menjadi media online.
Tabel 2 Ironi
Situasional dalam cerita kewirausahaan dalam kompilasi Ma�ruf (2010)
|
No |
SDC |
Periode cerita |
Ironi situasi |
Keterangan |
|
1 |
Edward |
Menjadi pekerja |
SDC peka terhadap desain dan
ketika bekerja di sebuah perusahaan sepatu dan ditempatkan di bagian gudang,
SDC melihat banyak produk sepatu yang memiliki desain yang usang |
Situasi personal |
|
2 |
Rusdi Kirana |
Bisnis sebelumnya |
Jasa penerbangan pada umumnya
mahal dan premium, SDC melakukan hal yang berbeda dengan menawarkan jasa
dengan kriteria yang berlawanan |
Situasi pasar |
|
3 |
Sosrodjojo |
Bisnis keluarga |
Penjualan daun teh dari
perkebunan milik keluarga SDC mengalami penurunan |
Situasi personal |
|
4 |
Domo |
Bisnis keluarga |
Bisnis kopi keluarga masih
menggunakan mesin tradisional, SDC memberanikan diri menggunakan mesin-mesin
yang lebih modern yang harganya berkali lipat lebih mahal |
Situasi personal |
|
5 |
Tirto utomo |
Menjadi pekerja |
Ketika bekerja di sebuah
korporasi, negosiasi besar batal terjadi karena istri ketua delegasi mitra
bisnis terkena gangguan pencernaan akibat minuman yang kurang layak |
Situasi personal |
|
6 |
Budiono Darsono |
Bisnis sebelumnya |
Pasar masih didominasi media
cetak, namun krisis dan kerusuhan tahun 1998 membuat jasa media online yang
lebih realtime yang diinisiasi SDC sangat dibutuhkan |
Situasi pasar |
|
7 |
Bob Sadino |
Bisnis sebelumnya |
Pasar masih didominasi oleh
produk masal, SDC menawarkan produk premium |
Situasi pasar |
|
8 |
Mohammad Gobel |
Menjadi mahasiswa |
Saat menjalani program
beasiswa ke Jepang, SDC bertemu dengan industrialis besar negara tersebut,
Konosuke Matshushita |
Situasi personal |
|
9 |
Irawan Sarpingi |
Menjadi pekerja |
Jasa transportasi didominasi
oleh jasa angkutan antar terminal, SDC memulai jasa door to door |
Situasi pasar |
|
10 |
Marius Widyarto |
Bisnis sebelumnya |
ketika masih menggeluti
bisnis t-shirt dengan model purchase order, banyak barang yang tidak diambil
oleh pemesan dan dijual kembali oleh SDC ke toko-toko ritel lokal yang
ternyata disukai oleh konsumen usia muda |
Situasi pasar |
|
11 |
Au Bintoro |
Bisnis sebelumnya |
Ketika masih menggeluti
bisnis box speaker, SDC melihat konsumen produk-produk furniture sangat
terbebani oleh biaya kirim walaupun untuk membuat meja kerja yang bisa
dibongkar pasang sangat feasible. |
Situasi pasar |
|
12 |
Purdi Chandra |
Menjadi mahasiswa |
Walaupun lulus di empat tes
masuk universitas negeri sekaligus, SDC meninggalkan bangku kuliah untuk
memulai usaha bimbingan belajar yang membantu calon mahasiswa untuk lulus
dalam tes masuk perguruan tinggi negeri. |
Situasi personal |
|
13 |
Irawan Hidayat |
Bisnis sebelumnya |
SDC menyadari bahwa Pendapat
dari "orang normal" seringkali membatasi pandangannya bahwa sangat
wajar kalau produk jamu terasa pahit dan tidak enak. Namun dalam sebuah
kebetulan ia mendengar pendapat satu orang gila yang dengan jujur mengatakan
bahwa produk jamu yang ia buat pahit dan tidak enak, menyadarkannya bahwa
orang gila saja tahu mana jamu yang enak, dan mendorongnya untuk menciptakan
produk jamu yang manis dan enak. |
Situasi personal |
|
14 |
Husain Djojonegoro |
Bisnis keluarga |
Ayah SDC yang merupakan
pemilik bisnis anggur merek Orang Tua, Chandra Djojonegoro, tidak menyangka
bisnis baterai yang diinisiasi anaknya dapat berkembang pesat.� Setelah beberapa lama baru ayahnya ikut
terlibat mengembangkan bisnis baterai tersebut dengan mendirikan perusahaan
pemasok bahan pembuatan baterai. |
Situasi personal |
|
15 |
Adrie Subono |
Bisnis sebelumnya |
Walaupun mengalami kerugian
besar dalam dua kali percobaan awal mengorganisir acara konser musisi dunia,
SDC justru meninggalkan bisnis sebelumnya, perkapalan, agar dapat lebih fokus
mendalami bisnis baru tersebut, yaitu promotor acara. |
Situasi personal |
Berdasarkan Analisa teks juga terdapat
temuan bahwa ironi situasional yang dihadapi entrepreneurs dalam meluncurkan
bisnis baru dapat dibagi menjadi dua bentuk. Pertama situasi personal di mana
ironi dapat terjadi terkait dengan identitas dan status yang melekat pada
seseorang. Ironi dalam kasus nomor satu merupakan contoh di mana SDC menemukan
ironi ketika ia berstatus sebagai seorang pekerja di bagian gudang di sebuah
perusahaan alas kaki di mana banyaknya sepatu di gudang tempat dia bekerja
tidak sepadan dengan variasi desain yang dinilai tidak up to date. Ironi yang
sama namun dalam intensitas yang lebih kuat ditunjukkan oleh kasus nomor lima,
yaitu pendiri Perusahaan Aqua yang pada saat bekerja di sebuah korporasi migas
menyaksikan terkendalanya sebuah kesepakatan bisnis yang sangat besar hanya
karena perwakilan mitra bisnis tersebut harus segera merawat istrinya yang
terkena gangguan pencernaan akibat mengkonsumsi air minum yang tidak steril.
Ironi ini yang mendorongnya untuk menghadirkan produk air minum dalam kemasan
dengan merek Aqua yang hingga saat ini masih menjadi pemimpin pasar di
Indonesia.
Ironi situasi personal yang terkait
dengan status sebagai anggota keluarga dapat terlihat dari contoh no.14, di
mana Husain Djojonegoro sebagai SDC mendapat dukungan untuk membangun bisnis
baterai dari pamannya, sementara ayahnya sendiri, Chandra Djojonegoro, baru
menyadari peluang dari bisnis tersebut setelah bisnis baterai SDC mengalami
pertumbuhan yang signifikan.
Ironi situasional kedua terkait dengan
situasi pasar dan industri, di mana terdapat kesenjangan antara kondisi pasar
aktual dengan yang diekspektasikan. Dalam cerita yang memiliki ironi seperti
ini, entrepreneur memberanikan diri untuk menghadirkan inovasi sekaligus
mendisrupsi pasar dengan hal baru. Kasus nomor dua mewakili jenis ironi
situasional ini di mana SDC, pendiri Lion Air yang awalnya menjalankan bisnis
agen travel menyadari biaya layanan airline di Indonesia yang mahal sementara
di negara-negara lain sudah banyak bermunculan airline dengan harga yang murah.
Ironi dalam situasi pasar ini dilanjutkan dengan sebuah resolusi yaitu
terbentuknya Lion Air yang dengan mengusung jargon �we make people fly� menwarkan jasa layanan penerbangan yang
terjangkau. Cotoh ironi dalam situasi pasar yang Kedua dapat terlihat dalam
kasus pendirian Detikcom ketika terjadi peralihan era orde baru ke era
reformasi di mana terjadi kerusuhan sebagai dampak krisis ekonomi dan politik
saat itu. Sebuah vignette komedi yang menggambarkan ironi situasi pasar
diceritakan Kembali oleh (Albadali, 2020) sebagai berikut:
� Adalah seorang komandan
militer di Jakarta yang sangat membutuhkan berita terbaru di saat kegentingan
melanda ibukota setelah Soeharto lengser. �Coba carikan Detikcom, ada berita
penting di situ!� perintahnya kepada bawahannya. �Siap laksanakan komandan�
jawab prajurit dengan sigap lalu lari terbirit-birit mencari Detikcom. Di
setiap perempatan jalan, dia berhenti menanyakan kepada loper koran �ada
Detikcom nggak?�. Prajurit itu memperoleh jawaban yang sama pada semua
loper koran yang dijumpainya. �tidak ada� dan tidak
tahu, apa itu Detikcom. Mungkin dipikirnya media yang diinginkan komandannya
itu sangat laris, prajurit itu menuju agen koran, tetapi kemudian tetap mendapat
jawaban yang sama. Setelah putus asa, prajurit itu kembali
dengan tangan hampa dan melapor kepada komandannya,�Lapor komandan, Detikcom
habis!�(p.43) Vignette yang komikal di atas menggambarkan ironi
pasar dan konsumen produk jurnalistik yang belum mengenal media online
pada jaman peralihan tersebut. Pernyataan singkat �Detikcom habis�
menggambarkan ironi karena ketidaktahuan pasar tentang bentuk baru produk
jurnalistik saat itu.
Penelitian ini menemukan empat periode
waktu di mana ironi situasional berada, yaitu ketika SDC menjadi pekerja,
ketika SDC menjalankan bisnis keluarga, ketika SDC menjadi pelajar, dan ketika
SDC menjalankan bisnis sebelumnya. Selain itu studi ini menemukan dua macam
situasi yang disebut situasi personal dan pasar.
KESIMPULAN
Kewirausahaan berkontribusi dalam
pertumbuhan ekonomi dengan menyerap tenaga kerja, menciptakan nilai tambah dan
menghadirkan inovasi. Peluncuran bisnis baru merupakan kulminasi dari proses
kewirausahaan, atau sebuah peristiwa entrepreneurial, yang didahului oleh
proses rekognisi dan eksploitasi peluang, serta munculnya persepsi atas apa yang diharapkan (perceived
feasibility) dan yang layak untuk dikerjakan (perceived feasibility). Fenomena peluncuran bisnis baru banyak
dilihat dalam perspektif ekonomis sehingga makna yang personal dan situasional
di dalamnya tereduksi. Dengan mengidentifikasi ironi yang dihadapi dan dialami
wirausaha, penelitian ini menemukan bahwa peluncuran bisnis baru merupakan
situasi yang personal maupun ekonomis. Ironi situasi personal banyak ditemukan
dalam keterkaitan status dan identitas wirausaha sebelum memulai bisnis
tersebut. Ironi dalam situasi pasar menggambarkan kesenjangan antara pasar yang
actual dengan yang diharapkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Afriani, F. (2016). Peluang Usaha Kecil Dan Menengah (UKM) Dalam Ekonomi
Indonesia. Ekonomica Sharia: Jurnal Pemikiran Dan Pengembangan Ekonomi
Syariah, 1(2), 13�32.
Agamben, G. (2020). Homo sacer. IRCISOD.
Albadali, A. R. (2020). Efektifitas Pemberian Daun
Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) terhadap Peneymbuhan Luka Bakar
pada Tikus: Literature Review.
ALLO, M. R. (2018). Ironi Dalam Novel The Pearl Oleh John
Steinbeck. Jurnal Elektronik Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi, 1(2).
Aprillia, N. M., Ramadhan, T., & Ramdhan, H. (2023).
Pendekatan Lean Startup untuk Inovasi dalam Model Bisnis Ramah Lingkungan dan
Kewirausahaan Digital. ADI Bisnis Digital Interdisiplin Jurnal, 4(2),
88�93.
Badjuri, A., Jaeni, J., & Kartika, A. (2021). Peran
corporate social responsibility sebagai pemoderasi dalam memprediksi
profitabilitas dan ukuran perusahaan terhadap agresivitas pajak di indonesia:
kajian teori legitimasi. Jurnal Bisnis Dan Ekonomi, 28(1), 1�19.
Birowo, M. A., Nuswantoro, R., Saraswati, I., & Putra, F.
F. (2016). Pergulatan Media Komunitas di Tengah Arus Media Baru: Studi Kasus
Lima Media Komunitas di Indonesia. COMBINE Resource Institution (CRI).
Fridana, I. O., & Asandimitra, N. (2020). Analisis faktor
yang memengaruhi keputusan investasi (studi pada mahasiswi di Surabaya). Jurnal
Muara Ilmu Ekonomi Dan Bisnis, 4(2), 396�405.
Harto, B., Rukmana, A. Y., Boari, Y., Rusliyadi, M., Aldo,
D., Juliawati, P., & Dewi, Y. A. (2023). WIRAUSAHA BIDANG TEKNOLOGI
INFORMASI: Peluang usaha dalam meyongsong era society 5.0. PT. Sonpedia
Publishing Indonesia.
Hasan, H. A. (2020). Pendidikan kewirausahaan: Konsep,
karakteristik dan Implikasi dalam Memandirikan generasi Muda. PILAR, 11(1).
Hermawan, S. (n.d.). Cerpen Kalimantan Selatan, Antologi Kritik.
Hermawati, A., Anam, C., Suwarta, S., & Wulandari, W.
(2023). Capaian Kinerja Pemasaran Berbasis Marketing Terintegrasi Melalui
Analisis Path Pada Ukm Industri Pariwisata Di Jawa Timur. Equilibrium:
Jurnal Ilmiah Ekonomi, Manajemen Dan Akuntansi, 12(2), 291�297.
Husna, A. N. (2017). Psikologi Kewirausahaan: Potensi Riset
dalam Konteks Indonesia. URECOL, 167�178.
Ismail, A., & Pranadani, A. (2023). Siap Menjadi
Founder? Persiapan, Rencana, dan Realitas Berbisnis Startup di Indonesia.
Asadel Publisher.
Komalasari, A., Dewi, F. G., Oktavia, R., & Sukmasari, D.
(2017). Workshop Kewirausahaan Bagi Pengusaha Pemula Berbasis Komunitas di
Bandarlampung.
Lele, G. (2024). Kebijakan Publik Untuk Transformasi
Sosial: Sebuah Pendekatan Kritis-Agonistik. UGM PRESS.
Nursanti, T. D., Haitamy, A. G., DN, D. A., Masdiantini, P.
R., Waty, E., Boari, Y., & Judijanto, L. (2024). ENTREPRENEURSHIP:
Strategi Dan Panduan Dalam Menghadapi Persaingan Bisnis Yang Efektif. PT.
Sonpedia Publishing Indonesia.
Pardamean, M. (2023). Rahasia Raja Uang: Meneladani Sikap
dan Prinsip Para Super Miliarder. Penerbit Andi.
Pianda, D. (2018). Kinerja guru: kompetensi guru, motivasi
kerja dan kepemimpinan kepala sekolah. CV Jejak (Jejak Publisher).
Purnomo, R. A. (2016). Ekonomi kreatif pilar pembangunan
Indonesia. Ziyad Visi Media.
Risdwiyanto, A. (2017). High-Performance Organization untuk
Menghadapi Turbulensi Lingkungan Bisnis. Jurnal Maksipreneur: Manajemen,
Koperasi, Dan Entrepreneurship, 7(1), 73�93.
Riyawati, M., & Abidin, Y. (2018). KEMAMPUAN ANALOGI
UNTUK MENULIS KREATIF CERITA FIKSI MENGGUNAKAN MODEL TREFFINGER. Seminar
Internasional Riksa Bahasa, 1117�1126.
Romli, N. A., Safitri, D., Yustisia, P., & Rosdiani, K.
(2021). Inovasi Marketing Communication Produk Grameen Bank Untuk Pemberdayaan
Komunitas Wirausaha Perempuan. Metacommunication; Journal of Communication
Studies, 6(2), 145�155.
Rukmana, A. Y., Harto, B., & Gunawan, H. (2021). Analisis
analisis urgensi kewirausahaan berbasis teknologi (technopreneurship) dan peranan
society 5.0 dalam perspektif ilmu pendidikan kewirausahaan. JSMA (Jurnal
Sains Manajemen Dan Akuntansi), 13(1), 8�23.
Salsabila, P. A. N., & Wibowo, A. (2023). Pengaruh
Pengetahuan Kewirausahaan Dan Media Sosial Terhadap Intensi Berwirausaha
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Mufakat: Jurnal Ekonomi, Manajemen Dan
Akuntansi, 2(4), 67�89.
Sediyaningsih, S. (2018). Konvergensi media di era digital
(eksploitasi media komunikasi dalam proses belajar mengajar di era digital). Jurnal
Pendidikan Terbuka Dan Jarak Jauh, 19(1), 52�57.
Sedyati, R. N. (2022). Perguruan tinggi sebagai agen
pendidikan dan agen pertumbuhan ekonomi. Jurnal Pendidikan Ekonomi: Jurnal
Ilmiah Ilmu Pendidikan, Ilmu Ekonomi Dan Ilmu Sosial, 16(1),
155�160.
Setiawati, S. D., Purba, V., Retnasari, M., Fitriawati, D.,
& Ngare, F. (2018). Membangun Kemampuan Presentasi Bisnis Sebagai Upaya
Dalam Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah. Jurnal Abdimas BSI: Jurnal
Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(2).
Shalahuddin, I., Maulana, I., & Eriyani, T. (2018). Prinsip-prinsip
dasar kewirausahaan. Deepublish.
Sholihatun, P., & Muliyadi, M. (2023). RAGAM IRONI DALAM
NOVEL KARYA IKA NATASSA �CRITICAL ELEVEN.� Jurnal Komposisi, 8(1),
27�39.
Subiyakto, B., Jumriani, J., Ilhami, M. R., Putra, M. A. H.,
Handy, M. R. N., & Abbas, E. W. (2022). Teori & Aplikasi
Kewirausahaan. Program Studi Pendidikan IPS FKIP Universitas Lambung
Mangkurat.
Suharti, S., Hamsiah, A., Arianto, T., Agus, R., Wellem, K.
A. S., Rane, Z. A., & Amir, J. (2023). Konsep, teori, dan aplikasi
kajian sastra. Mafy Media Literasi Indonesia.
Susanti, N. D. (2022). MENSTIMULASI IMAJINASI ANAK (ANALISIS
TERHADAP DAMPAK PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN DONGENG DI SD AL-QUR�AN UMMUL
QURO KABUPATEN PAMEKASAN). EDUTHINK: Jurnal Pemikiran Pendidikan Islam, 2(2),
167�172.
Suwandi, S., Amelia, A., Situmorang, M. S., &
Parlindungan, S. (2024). Peran Kewirausahaan dalam Membangun dan Memajukan
Perekonomian Bangsa. Jurnal Manajemen Dan Bisnis Ekonomi, 2(1),
223�233.
Tiffani, T., Syafruddin, S., Rehani, R., Nurhasnah, N., &
Mardianto, M. (2024). Pendidikan Kewirausahaan dalam Pandangan Islam. Jurnal
Kolaboratif Sains, 7(1), 553�562.
Tua, R. (2022). PERISTIWA ENTREPRENEURIAL: TINJAUAN DAN
PENGEMBANGAN PEMIKIRAN SHAPERO DALAM CERITA TIGA WIRAUSAHA DI BALI. Jurnal
Administrasi Bisnis, 18(2), 138�152.
Ulat, M. A., Poltak, H., Muhfizar, I., Kusmulyono, M. S.,
Tanjung, R., Gunaisah, E., & Fahrizal, A. (2022). Desa Inovasi Kelautan
dan Perikanan. STMIK Widya Cipta Dharma.
Wijaya, C., Siregar, N. I., & Hidayat, H. (2020).
Hubungan antara Self Efficacy dengan Self Regulated Learning pada Mahasiswa
yang Bekerja di Universitas Medan Area. Analitika: Jurnal Magister Psikologi
UMA, 12(1), 83�91.
Wilestari, M., Mujiani, S., Sugiharto, B. H., Sutrisno, S.,
& Risdwiyanto, A. (2023). Digitalisasi dan Transformasi Bisnis: Perspektif
Praktisi Muda UMKM tentang Perubahan Ekonomi. Jurnal Ilmu Sosial Dan
Humaniora, 12(2), 259�268.