Pemberdayaan Masyarakat Melalui Inovasi
Pertanian Terpadu
di Pulau
Kemaro Kota Palembang
Yulian
Junaidi1, Dwi Wulan Sari2, Abdul
Kholek3
Universitas Sriwijaya provinsi, Sumatera
Selatan, Indonesia
[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3
![]()
Abstrak
Terletak pada potensi besar pulau ini
dalam pertanian, namun terkendala oleh keterbatasan sumber daya dan teknologi. Inovasi pertanian terpadu menjadi solusi untuk meningkatkan
kesejahteraan petani dan produktivitas pertanian. Melalui
pendekatan ini, diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian, mengurangi
ketergantungan pada bahan kimia, serta meningkatkan ketahanan pangan dan
ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi
pemberdayaan masyarakat yang efektif dan dapat dijadikan acuan bagi pengambil
kebijakan dan stakeholders terkait. Tujuan penelitian
ini adalah untuk menganalisis program pemberdayaan masyarakat dengan penerapan
sistem pertanian terpadu dan keterlibatan stakeholder dalam implementasi
program secara partisipatif. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive� dengan
pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan lahan sub-optimal yang sebagian
besar masyarakat masih berada dibawah garis kemiskinan. Data
yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Pengumpulan data
primer dilakukan dengan cara wawancara kuisioner
kepada responden yang dipilih secara acak sebanyak 30 orang dan indepth
interview kepada berbagai stakeholder. Sedangkan data sekunder dilakukan
dengan cara mengumpulkan dokumen dan penelitian
terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan Inovasi Sosial yang
diimplementasikan pada program pemberdayaan masyarakat berupa Integrasi Keramba
Jaring Apung dan Energi Terbarukan, Pertanian Terpadu Zero Waste dan Pertanian Hidroponik.� Ketiga inovasi tersebut
memanfaatkan lahan sub-optimal berupa lahan rawa pasang surut, lahan pekarangan
dan aliran sungai. Untuk meningkatkan kapasitas
masyarakat dilakukan workshop dan training mengenai pertanian terpadu, pembuatan
pupuk dan pestisida organik, pembuatan pakan, pengolahan hasil dan pemasaran.
Stakeholder yang terlibat dalam kegiatan pengembangan masyarakat diantaranya
sektor swasta, akademisi, pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat dan media massa. Dukungan multipihak pentahelix ini
telah memberikan manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan sebagai modal
kemandirian dan keberlanjutan bagi masyarakat rentan.
Kata kunci: inovasi Sosial; lahan suboptimal; Stakeholder
Abstract
Located on this island's great
potential in agriculture, but constrained by limited resources and technology.
Integrated agricultural innovation is a solution to improve farmer welfare and
agricultural productivity. Through this approach, it is hoped that it can
increase agricultural production, reduce dependence on chemicals, and improve
food security and the local economy. This research aims to find effective
community empowerment strategies that can be used as a reference for policy
makers and related stakeholders. The aim of this research is to analyze
community empowerment programs by implementing an integrated agricultural
system and involving stakeholders in participatory program implementation.
Location determination was carried out purposively with the consideration that
the location was sub-optimal land where the majority of people were still below
the poverty line. The data collected is in the form of primary data and
secondary data. Primary data collection was carried out by means of questionnaire
interviews with 30 randomly selected respondents and in-depth interviews with
various stakeholders. Meanwhile, secondary data is carried out by collecting
documents and previous research. The research results show that the Social
Innovation implemented in the community empowerment program is the Integration
of Floating Net Cages and Renewable Energy, Zero Waste Integrated Agriculture
and Hydroponic Agriculture. These three innovations utilize sub-optimal land in
the form of tidal swamp land, yard land and river flows. To increase community
capacity, workshops and training were held regarding integrated farming, making
organic fertilizers and pesticides, making feed, processing produce and
marketing. Stakeholders involved in community development activities include
the private sector, academics, government, non-governmental organizations and
mass media. Pentahelix's multi-party support has provided social, economic and
environmental benefits as capital for independence and sustainability for
vulnerable communities.
Keywords: Social innovation; suboptimal land; Stakeholders���������������������������������������������
Corresponding: Yulian
Junaidi
E-mail: yulianjunaidi@fp.unsri.ac.id
PENDAHULUAN
Pemberdayaan masyarakat berupa upaya
yang dilakukan oleh sekelompok instansi sebagai bentuk peningkatan kapasitas
bagi masyarakat marginal melalui potensi dan permasalahan yang ada di wilayah
tertentu sehingga masyarakat tersebut menjadi lebih mampu untuk menjalankan
kehidupan berkelanjutan (Sabarisman, 2017). Pada dasarnya, intansi yang turut
andil berperan dalam upaya� pemberdayaan
masyarakat terbentuk dalam model penta-helix yang memiliki unsur lima subyek,
diantaranya Pemerintah, Sektor Bisnis/Perusahaan, Akademisi, Organisasi Massa
dan Media (Irfan & Pratama, 2021). Dalam kegiatan
pemberdayaan masyarakat pastinya muncul berbagai inovasi baik material maupun
non-material. Inovasi dalam bentuk material umumnya berupa inovasi
pembangunan infrastruktur baru sebagai sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan
pengembangan masyarakat (Margayaningsih, 2018). Sedangkan, sebagai wujud inovasi
dalam bentuk non-material berupa inovasi teknologi, inovasi budaya, inovasi
sosial seperti pengatasan permasalahan sosial melalu berbagai program dan
inisiasi kelembagaan dan berbagai kelompok masyarakat yang akan diberdayakan
melalui berbagai program dan kegiatan (Astuti, 2017). Inovasi sosial menjadi diskursus
baru dalam perubahan sosial yang memiliki perspektif keberlanjutan baik secara
sosial, ekonomi dan lingkungan dalam proses pemberdayaan masyarakat (Hannan, 2018). Program yang
menjadi inovasi sosial harus mampu menjadikan modal masyarakat sebagai hal yang
memiliki nilai manfaat tinggi dengan memadukan strategi internal dan eksternal.
Pulau Kemaro yang menjadi
satu-satunya pulau di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan Negara Indonesia
memiliki keunikan yang didukung dengan fakta bahwa pulau ini tidak pernah
tenggelam meskipun sungai sedang pasang sehingga pulau ini terlihat seperti
pulau yang selalu mengapung di atas air. Pulau Kemaro sangat identik dengan Kota
Tiongkok dan masyarakat Tiongha karena adanya pagoda. Selain itu, Pulau
Kemaro memiliki pesona alam yang indah serta adat istiadat dan kehidupan asli
masyarakat Palembang (Murdiasih, 2019).
Pulau
Kemaro merupakan wilayah kecil tetapi padat kawasan pemukiman sehingga perlu
optimalisasi lahan perkarangan disektor pertanian sebagai bentuk peningkatan
ketahanan pangan dan menciptakan
peningkatan perekonomian usahatani hingga peningkatan perekonomian keluarga
sehingga pekarangan tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai pelengkap keindahan
dan kesejukan semata tetapi juga sebagai peningkatan perekonomian dan landasan
pemberdayaan masyarakat (Ika, 2020). Kondisi lahan yang terbatas dan sempit ini termasuk dalam kriteria lahan
sub optimal sehingga memerlukan perhatian extra dari berbagai pihak dalam
golongan penta helix untuk mendukung optimalisasi lahan sub optimal yang ada di
wilayah berpotensi tersebut agar mampu menjadi lahan budidaya yang produktif di
bidang pertanian, perikanan dan peternakan (Ardiningtyas & Satria, 2020). Lahan Sub-optimal di Pulau Kemaro memiliki
tantangan yang tidak mudah untuk dikelola terutama dihadapkan.
�Pada kondisi lahan yang
sempit. Sehingga perkarangan rumah dapat digunakan dan
dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber penghidupan dan kemandirian secara
ekonomi. Terutama pada Masa Pandemi Covid-19 yang� memaksa masyarakat untuk terus
melakukan inovasi guna dapat bertahan dalam segi pangan dan ekonomi. Kegiatan
Inovasi sosial di Pulau Kemaro ini diinisiasi oleh berbagai lembaga baik
pemerintah, sektor swasta, akademisi maupun lembaga masyarakat, melalui
pemanfaatan pekarangan dengan melakukan budidaya pertanian dan perikanan (Bawono, 2019). Keterlibatan berbagai pihak dan
adanya proses knowledge sharing yang berlangsung selama proses pemberdayaan
menjadi hal yang menarik untuk dikaji sebagai sebuah model pendekatan baru
dalam upaya berbagai nilai diantara semua pemangku kepentingan (Stakeholder) (Dalyono & Lestariningsih, 2017). Selain itu keterlibatan berbagai
pemangku kependingan dapat mendorong tumbuhnya inisiatif local karena adanya
partisipasi dari berbagai pihak (Sidiq & Resnawaty, 2017).
Penelitian
terdahulu dengan judul "Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang Menjadi Karbon
Aktif Dengan Variasi Konsentrasi Aktivator NaCl" Penelitian ini mengkaji
pemanfaatan limbah kulit pisang sebagai karbon aktif dengan variasi konsentrasi
aktivator NaCl, yang dapat menjadi salah satu langkah terhadap pengelolaan
limbah dan pemberdayaan masyarakat.
Penelitian terdahulu yang berjudul
"Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Retribusi Sektor Pariwisata
untuk Mendukung Peningkatan PAD di Kota Palembang" Penelitian ini mengkaji
faktor-faktor yang mempengaruhi retribusi sektor pariwisata untuk mendukung
peningkatan PAD di Kota Palembang, yang dapat menjadi salah satu langkah
terhadap pemberdayaan masyarakat melalui sektor pariwisata.
Adapun tujuan penelitian ini adalah
untuk menganalisis program pemberdayaan masyarakat dengan penerapan sistem
pertanian terpadu sebagai sebuah inovasi sosial dan keterlibatan stakeholder
dalam implementasi program tersebut secara partisipatif.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Pulau
Kemaro Kelurahan 1 Ilir Kecamatan Ilir Timur 2 Kota Palembang, Provinsi
Sumatera Selatan. Lokasi ini dipilih secara sengaja dengan
dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan lahan sub-optimal yang
sebagian besar masyarakat masih berada dibawah garis kemiskinan. Selain itu di Kawasan telah dilaksanakan program pemberdayaan
masyarakat untuk membantu melepaskan mereka dari jeratan kemiskinan oleh
berbagai instansi dan perusahaan di sekitarnya. Data
yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Pengumpulan data
primer dilakukan dengan cara wawancara kuisioner
kepada responden yang dipilih secara acak sebanyak 30 orang dan indepth
interview kepada berbagai stakeholder. Pengolahan data
dilakukan dengan analisa deskriptif analitik untuk mengungkap fakta yang ada
dan menjawab problem penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pulau Kemaro merupakan tempat
bersejarah yang dijadikan sebagai tempat wisata alam dan budaya di Kota
Palembang (Hanadya, Auliana, & Purwanto, 2023). Salah satu
bangunan bersejarah di pulau kemaro yang menarik banyak wisatawan adalah Pagoda
berlantai Sembilan. Namun, disisi lain masyarakat yang ada di sekitarnya
kurang mendapatkan manfaat dari tempat wisata tersebut. Hal
ini dikarenakan adanya tembok pembatas yang membatasi pemukiman masyarakat
dengan tempat wisata pagoda sehingga banyak dari wisatawan yang tidak
mengetahui adanya pemukiman di Pulau Kemaro. Kawasan
pemukiman di wilayah Pulau Kemaro memiliki lahan yang sangat terbatas.
Maka dari itu, dengan bantuan dari berbagai pihak pentahelix hingga terciptanya
inovasi pertanian terpadu zero waste sebagai bentuk pemanfaatan pekarangan dan
mengatasi lahan sub-optimal.
Tabel 1. �Kebaharuan Inovasi Pertanian Terpadu
|
Inovasi |
Kebaharuan |
Keunikan |
|
Integrasi
keramba jaring apung dengan Energi Terbarukan |
Mengintegrasikan
kegiatan budidaya perikanan, tanaman dan solar cell sebagai sumber energi
terbarukan |
Pemanfaatan
limbah plastik botol bekas sebagai media apung tanaman |
|
Pertanian
Terpadu Zero Waste |
Mengintegrasikan
aktivitas pertanian konvensional yang beragam namun parsial |
Mengolah
sekam padi yang bertekstur kering menjadi pupuk kompos |
|
Pertanian
Hidroponik |
Masyarakat
melakukan pemanfaatan lahan sempit pekarangan dengan media hidroponik |
Pemanfaatan
lahan sempit pekarangan hingga memilki nilai ekonomis berbasis pertanian |
Sumber: Data
Primer, 2022
Inovasi pertanian terpadu merupakan
kebaharuan pada sektor pertanian yang mengintegrasikan budidaya tanaman,
perikanan dan peternakan dengan memanfaatkan limbah yang ada baik limbah
organik dari kegiatan pertanian maupun limbah anorganik dari sampah botol plastic
�(Vilas-Boas, Klerkx, & Lie, 2024). Adanya pengembangan inovasi
pertanian terpadu zero waste membawa banyak perolehan manfaat sosial, ekonomi,
dan lingkungan. Dengan bantuan berbagai pihak, kegiatan pertanian terpadu ini
dianggap memberikan peran strategis di bidang sosial, ekonomi dan lingkungan (Markow, Fieldsend, M�nchhausen, & H�ring, 2023). Masyarakat Pulau Kemaro juga sangat
antusias dalam melakukan kegiatan di sektor pertanian ini karena hal ini bukan
saja sebagai bentuk untuk mendukung ketahanan pangan, tetapi juga mampu
meningkatkan perekonomian keluarga sebagai salah satu cara mensejahterakan
masyarakat (Samud, 2018). Melalui kegiatan pengembangan
inovasi pertanian terpadu, kegiatan yang dilakukan berupa pengembangan melalui
pendekatan inovasi teknis dan pendekatan kelembagaan (Onumah, Osei, Martey, & Asante, 2023).
Pertama, Inovasi pertanian terpadu
yang dikembangkan di Pulau Kemaro melalui pendekatan teknis, berupa : 1)
Budidaya tanaman pangan (padi alami yang tidak menggunakan pupuk dan pestisida
kimia); 2) Budidaya tanaman sayuran menggunakan dua perlakuan yaitu ditanam
secara hidroponik dan penanaman menggunakan media terapung dari sampah botol
plastik yang dibudidayakan diatas keramba jaring apung; 3) Budidaya ikan nila
dan lele dengan menggunakan keramba jaring apung dan solar cell; dan 4)
Peternakan (Sgroi, 2023).
Integrasi yang tercipta dari limbah
sektor pertanian saling dimanfaatkan satu sama lain untuk peningkatan efisiensi
biaya (Solikin, 2017). Padi alami menggunakan
kotoran ternak sebagai sumber pupuk alami tanpa bahan kimia yang nantinya
limbah sekam padi ini juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk kompos.
Sama hal nya dengan tanaman sayuran yang limbahnya juga dapat
dijadikan sebagai pakan ternak dan memanfaatkan kotoran ternak serta kompos
dari sekam padi sebagai pupuk pada pembibitan tanaman sayuran yang menggunakan
media tanah. Ada pula kegiatan usahatani yang
dijalankan masayarakat Pulau Kemaro tanpa media tanah yaitu usahatani
hidroponik. Hampir seluruh masyarakat di Pulau Kemaro memanfaatkan
pekarangannya untuk budidaya tanaman sayuran hidroponik (Saparinto & Susiana, 2024). Pemukiman Pulau
Kemaro terletak di pesisir sungai musi sehingga potensi alam ini dimanfaatkan
untuk melakukan budidaya ikan nila dan lele menggunakan keramba jaring apung.
Sebagai wujud inovasi pertanian terpadu, tanaman sayuran dengan media terapung
ditumpangkan di atas keramba jaring apung untuk mengatasi lahan yang terbatas
agar mampu menghasilkan dua produk sekaligus dalam satu lahan (Cascone, Scuderi, Guarnaccia, & Timpanaro, 2024). Adanya tanaman
sayuran menggunakan media terapung juga dapat menjadi pengganti eceng gondok
sebagai peneduh ikan. Pemanfaatan pekarangan di sektor
pertanian menerapkan prinsip kepemilikan lokal sebagai pendorong untuk
meningkatkan nilai partispasi masyarakat. Hal ini
mampu menjadi motivasi masyarakat untuk menciptakan program wisata alam agar
sektor bisnis berbasis pertanian terpadu di wilayah pemukiman Pulau Kemaro
dapat berkembang dan terjadi perluasan pemasaran produk pertanian hingga keluar
wilayah Kota Palembang. Hal ini juga mampu menjadi
sarana edukasi bagi orang-orang yang berkunjung ke Pulau Kemaro.
Melalui inovasi kegiatan pertanian
terpadu, masyarakat Pulau Kemaro merasa beruntung dan terbantu atas adanya
pengembangan inovasi pertanian terpadu, terjadi transformasi dalam pemanfaatan
pekarangan yang awalnya tidak memliki nilai ekonomis hingga mampu menghasilkan
berbagai produk pertanian yang saling terintegrasi dan memiliki nilai jual yang
cukup tinggi (Pangestika et al., 2020). Dengan adanya perkembangan dalam
pemanfaatan pekarangan melalui inovasi pertanian terpadu, semua masyarakat
memiliki kesempatan yang sama dalam berbisnis dan bekerja pada sektor pertanian
(Ulya, 2021). Selain terbantunya dalam segi
finansial dan infrastructural yang diperoleh melalui pendekatan teknis,
masyarakat juga memperoleh perluasan wawasan dalam menjalankan kegiatan
usahatani melalui pendekatan kelembagaan, wawasan mengenai usahatani tidak
hanya perihal tanam dan panen saja, tetapi masyarakat juga mampu mengelola
manajemen pengolahan produk dan pemasaran serta pemanfaatan teknologi dalam
melakukan kegiatan usahatani.
Kedua, Inovasi pertanian terpadu yang
dikembangkan di Pulau Kemaro melalui pendekatan kelembagaan berupa pengembangan
berbagai kelompok petani perempuan dan kelompok petani laki-laki dengan
membentuk koperasi (Irsa, 2017). Selanjutnya, diadakan berbagai
kegiatan sebagai bentuk penguatan kelembagaan koperasi yang dilakukan dengan
mengadakan workshop mengenai pertanian terpadu zero waste, pertanian terpadu
dengan media terapung, pertanian hidroponik dan training mengenai budidaya
usahatani, pembuatan kompos, pembuatan pakan, pengolahan hasil dan pemasaran.
Ketika mengadakan workshop dan training, terjadi peningkatan interaksi sosial
yang positif pada masyarakat Pulau Kemaro (Syaifuddin, Makkuraga, & Pandjaitan, 2024). Selain itu, terjadi peningkatan
kapasitas masyarakat dalam bentuk perluasan wawasan mengenai usahatani,
pengolahan hasil usahatani untuk meningkatkan daya jual, hingga cara analisis peluang pasar dan cara menentukan potensi
pasar. Dengan melakukan penilaian pasar awal, masyarakat dapat menggambarkan
potensi permintaan dan cara yang efektif untuk
mengaksesnya.
Pengembangan Inovasi pertanian terpadu
yang diterapkan masyarakat Pulau Kemaro memiliki banyak dukungan dari berbagai
pihak dalam model penta-helix (Najjar, Nyantakyi-Frimpong, Devkota, & Bentaibi,
2023). Banyak
sektor bisnis/perusahaan yang ikut andil dan terlibat dengan pengembangan
inovasi pertanian terpadu�
melalui kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai
bentuk tanggung jawab sosial dan kepedulian kepada masyarakat, seperti: PT.
Pupuk Sriwijdaja, Bank Indonesia, PT. Propan, Pegadaian dan lain-lain. Berbagai
perguruan tinggi sebagai akademisi baik dosen maupun mahasiswa juga ikut andil
dalam kegiatan pertanian terpadu sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat
sekaligus melakukan riset mengenai pertanian terpadu seperti Universitas
Sriwijaya, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada dan Universitas
Diponegoro. Selain itu, banyak media massa yang meliput berbagai kegiatan
pengembangan inovasi pertanian terpadu baik media cetak dalam bentuk majalah
dan koran maupun media elektronik dari berbagai situs serta beberapa Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) yang ikut terjun ke lapangan untuk membantu dalam
proses pengimplementasian pengembangan inovasi pertanian terpadu seperti PSPMK
(Pusat Studi Pengembangan Masyarakat dan Kawasan) serta Pemerintahan juga
pastinya ikut campur tangan dalam membantu petani dan nelayan di Pulau Kemaro
dalam pembentukan kelompok dan membuat kebijakan (Tabel 2).
Tabel 2. Dukungan Stakeholder dalam Pemanfaatan
Pekarangan di Pulau Kemaro
|
Inovasi Kegiatan |
Mitra |
|
Keramba
Jaring Apung Budidaya Ikan Nila |
Sektor
Bisnis dan Akademisi |
|
Pertanian
Terapung menggunakan Solar Cell di atas keramba jarring apung |
Sektor
Bisnis dan Akademisi |
|
Rumah
Pembibitan sebagai fasilitas usahatani sayuran |
Sektor
Bisnis dan LSM |
|
Budidaya
Sayuran Hidroponik |
Sektor
Bisnis dan LSM |
|
Pembentukan
Kelompok petani, peternak dan nelayan |
Pemerintah
|
|
Sarana
Promosi, liputan di Koran dan Website |
Media |
|
Pengadaan
kegiatan Workshop dan Training |
Sektor
Bisnis, LSM, Akademisi, Pemerintah, dan Media |
Sumber: Data Primer, 2022
��������������� Melalui
kegiatan pemanfaatan pekarangan menjadi pertanian terpadu, kelima unsur ini
bersatu padu menjadi subyek multipihak, saling berkoordinasi dan berkomitmen
untuk melakukan pengembangan inovasi di sektor pertanian. Sebagai stakeholder pastinya pihak-pihak yang terlibat ini memiliki
peran yang berbeda-beda namun sama-sama bertujuan untuk mengembangkan inovasi
dengan memanfaatkan pekarangan yang ada di kawasan pemukiman di Pulau Kemaro
dan semuanya memberikan kontribusi yang sangat baik. Stakeholder
yang terlibat dalam pengembangan inovasi pertanian terpadu ini memiliki empat
variasi peran diantaranya sebagai perencana, pelaksana, fasilitator dan
regulator kegiatan pengembangan inovasi sesuai dengan kapasitasnya
masing-masing (Tabel 3).
Tabel 3 �Variasi
Peran Stakeholder dalam Pengembangan Inovasi Pertanian Terpadu di Pulau Kemaro
|
Mitra |
Variasi Peran |
|
Sektor
Bisnis/Perusahaan |
Fasilitator,
Pelaksana, Perencana |
|
Akademisi |
Fasilitator,
Pelaksana, Perencana |
|
Komunitas/LSM |
Perencana
dan Pelaksana |
|
Pemerintah |
Regulator
dan Fasilitator |
|
Media |
Fasilitator |
Sumber: Data Primer, 2022
Pertama, peran stakeholder sebagai
perencana artinya stakeholder tersebut berperan dalam menyusun perencanaan
mengenai kegiatan apa saja yang baik untuk menunjang pemanfaatan
pekarangan yang ada di Pulau kemaro berdasarkan potensi dan peluang yang
dimiliki agar mencapai keberhasilan dalam mengembangkan inovasi. Stakeholder inilah yang menjadi pelopor timbulnya berbagai ide yang
inovatif untuk kemajuan masyarakat pulau kemaro. Dalam kegiatan ini,
akademisi dan LSM difasilitasi oleh perusahaan�
sebagai sektor bisnis untuk menyusun perencanaan dalam pemanfaatan
pekarangan (Burhanuddin, Massi, Thahir, Razak, & Surungan,
2020).
Kedua, peran stakeholder sebagai
regulator� artinya stakeholder tersebut
ikut andil dalam membuat kebijakan, aturan maupun proyek yang mendukung
tercapainya arah pengembangan inovasi pertanian terpadu zero waste di Pulau
Kemaro (Saragih, Utoro, Prasetyo, & Aini, 2021). Pemerintah dalam
hal ini berperan sebagai regulator dalam pembentukan kelompok dengan memberikan
kebijakan-kebijakan dalam pelaksanaan pengembangan inovasi. Ketiga,
peran stakeholder sebagai fasilitator artinya stakeholder tersebut berperan
untuk memfasilitasi kegiatan dan memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh
sasaran dalam melakukan pengembangan inovasi pertanian terpadu (Hermans et al., 2023). Hal yang
difasilitasi dalam kegiatan pengembangan inovasi ini mulai dari sarana dan
prasarana, akomodasi kegiatan hingga perluasan wawasan. Keempat, peran stakeholder sebagai pelaksana artinya stakeholder
turut andil dalam setiap kegiatan yang dijalankan untuk mencapai keberhasilan
dalam pengembangan inovasi. Stakeholder inilah yang
terjun langsung ke lapangan untuk mendukung pelaksanaan implementasi kegiatan.
KESIMPULAN
Inovasi
Sosial yang diimplementasikan pada program pemberdayaan masyarakat berupa
sistem pertanian terpadu yang memanfaatkan lahan sub optimal, lahan pekarangan
dan aliran sungai. Bentuk inovasi Sosial yang
diimplementasikan pada program pemberdayaan masyarakat berupa Integrasi Keramba
Jaring Apung dan Energi Terbarukan, Pertanian Terpadu Zero Waste dan Pertanian
Hidroponik.� Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dilakukan workshop dan training
mengenai pertanian terpadu, pembuatan pupuk dan pestisida organik, pembuatan
pakan, pengolahan hasil dan pemasaran. Stakeholder yang terlibat dalam
kegiatan pengembangan masyarakat diantaranya sektor swasta, akademisi,
pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat dan media massa.
Dukungan multipihak pentahelix ini telah memberikan manfaat
sosial, ekonomi dan lingkungan sebagai modal kemandirian dan keberlanjutan bagi
masyarakat rentan.
Stakeholder memiliki berbagai peran dalam
kegiatan pengembangan inovasi social di Pulau Kemaro baik sebagai regulator,
fasilitator, perencana maupun pelaksana.
Penerapan sistem pertanian terpadu sebagai bentuk pengembangan
inovasi dikelola langsung oleh masyarakat dengan dukungan multipihak ini
bertujuan agar masyarakat mampu memperoleh manfaat positif secara langsung
dengan maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Ardiningtyas, Bondan, & Satria, Gumilang A. P.
(2020). Bab 8 Peran Strategis Perusahaan Universitas Dalam Hilirisasi Inovasi
Untuk Mendukung Kemandirian Alat Kesehatan. Pengalaman Melembagakan Inovasi,
141.
Astuti, Eka Zuni Lusi. (2017).
Tatakelola Inovatif dalam Penanganan Masyarakat Rentan Perkotaan: Belajar dari
Kewiralembagaan Yayasan Girlan Nusantara. Jurnal Pemikiran Sosiologi, 4(1),
73�90.
Bawono, Icuk Rangga. (2019). Optimalisasi
potensi desa di Indonesia. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Burhanuddin, Andi Iqbal, Massi,
Muh Nasrum, Thahir, Hasanuddin, Razak, Amran, & Surungan, Tasrief. (2020). Merajut
Asa Di Tengah Pandemi Covid-19 (Pandangan Akademisi UNHAS). Deepublish.
Cascone, Giulio, Scuderi,
Alessandro, Guarnaccia, Paolo, & Timpanaro, Giuseppe. (2024). Promoting
innovations in agriculture: Living labs in the development of rural areas. Journal
of Cleaner Production, 443, 141247.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2024.141247
Dalyono, Bambang, &
Lestariningsih, Enny Dwi. (2017). Implementasi penguatan pendidikan karakter di
sekolah. Bangun Rekaprima, 3(2), 33�42.
Hanadya, Dwi, Auliana, Nyayu
Ully, & Purwanto, Muhammad Bambang. (2023). Promosi Pulau Kemaro Sebagai
Wisata Sejarah Kota Palembang Dalam Acara Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota
Pusaka Indonesia (JKPI) Ke-IX 2022. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbankan
Syariah (JIMPA), 3(1), 197�210.
Hannan, Abd. (2018). Strategi
Penguatan Pembangunan Madura Yang Berkelanjutan Melalui Pemberdayaan Nilai
Kearifan Lokal. Simulacra, 1(1), 19�42.
Hermans, Thirze D. G., Smith,
Harriet E., Whitfield, Stephen, Sallu, Susannah M., Recha, John, Dougill,
Andrew J., Thierfelder, Christian, Gama, Mphatso, Bunderson, W. Trent, Museka,
Richard, Doggart, Nike, & Meshack, Charles. (2023). Role of the interaction
space in shaping innovation for sustainable agriculture: Empirical insights
from African case studies. Journal of Rural Studies, 100, 103012.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.jrurstud.2023.103012
Ika, Agustin. (2020). Strategi
Pengembangan Desa Wisata Melalui Model Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Serang
Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Iain Purwokerto.
Irfan, Maulana, & Pratama,
Yudhistira Anugerah. (2021). Pelibatan Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan
Wisata Kebun Kelulut Sangatta Selatan (Studi Kasus PT Pertamina Eksplorasi dan
Produksi Asset 5 Sangatta Field. Share: Social Work Journal, 11(2),
131�144.
Irsa, Riandari. (2017). Persepsi
Petani dan Efektivitas Kelompok Tani dalam Program Upsus Pajale di Kecamatan
Banjar Baru Kabupaten Tulang Bawang.
Margayaningsih, Dwi Iriani.
(2018). Peran masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa. Publiciana,
11(1), 72�88.
Markow, Jekaterina, Fieldsend,
Andrew F., M�nchhausen, Susanne von, & H�ring, Anna Maria. (2023). Building
agricultural innovation capacity from the bottom up: Using spillover effects
from projects to strengthen agricultural innovation systems. Agricultural
Systems, 209, 103670.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.agsy.2023.103670
Murdiasih, Hetti. (2019). Pesona
Pulau Lombok. Penerbit Duta.
Najjar, Dina,
Nyantakyi-Frimpong, Hanson, Devkota, Rachana, & Bentaibi, Abderrahim.
(2023). A feminist political ecology of agricultural innovations in smallholder
farming systems: Experiences from wheat production in Morocco and Uzbekistan. Geoforum,
146, 103865.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.geoforum.2023.103865
Onumah, Justina Adwoa, Osei,
Robert Darko, Martey, Edward, & Asante, Felix Ankomah. (2023). Welfare
dynamics of innovations among agricultural households in Ghana: Implication for
poverty reduction. Heliyon, 9(7), e18066.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e18066
Pangestika, Maria, Hohary,
Musraino, Agus, Yohanes Hendro, Widyawati, Nugraheni, Herawati, Maria Marina,
Sutrisno, Alfred Jansen, Handoko, Yoga Aji, Simamora, Liska, Zebua, Damara
Dinda Nirmalasari, & Nadapdap, Hendrik Johannes. (2020). Smart Farming:
Pertanian di Era Revolusi Industri 4.0. Penerbit Andi.
Sabarisman, Muslim. (2017).
Identifikasi dan pemberdayaan masyarakat miskin pesisir. Sosio Informa, 3(3).
Samud, Samud. (2018). Peranan
Pemerintah Dalam Mensejahterakan Masyarakat Melalui Bantuan Sosial Perspektif
Ekonomi Islam. Al-Amwal: Jurnal Ekonomi Dan Perbankan Syari�ah, 10(2),
215�228.
Saparinto, Cahyo, & Susiana,
Rini. (2024). Panduan Lengkap Budi Daya Ikan dan Sayuran dengan Sistem
Akuaponik. Penerbit Andi.
Saragih, Bernatal, Utoro,
Panggulu Ahmad Ramadhani, Prasetyo, Rahadian Adi, & Aini, Qurratu. (2021). Pertanian
Dan Masa Depan. Deepublish.
Sgroi, Filippo. (2023).
Innovation and value creation in agriculture: Results of an experimental
analysis of the use of sensors on sicilian vineyards of chardonnay cultivars. Smart
Agricultural Technology, 6, 100339. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.atech.2023.100339
Sidiq, Ade Jafar, &
Resnawaty, Risna. (2017). Pengembangan desa wisata berbasis partisipasi
masyarakat lokal di desa wisata Linggarjati Kuningan, Jawa Barat. Prosiding
Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), 38�44.
Solikin, Nur. (2017).
Implementasi Integrasi Tani Tenak (Studi Kasus di Desa Ngino Kecamatan Plemahan
Kabupaten Kediri). Briliant: Jurnal Riset Dan Konseptual, 2(4),
424�428.
Syaifuddin, Syaifuddin,
Makkuraga, Afdal, & Pandjaitan, Rosmawaty Hilderiah. (2024). Komunikasi
Kreatif Remaja Dalam Promosi Budaya Dan Wisata Berbasis Media Sosial. IKRA-ITH
ABDIMAS, 8(1), 100�107.
Ulya, Husna Ni�matul. (2021).
Pemulihan Perekonomian Jawa Timur di Masa Pandemi Covid-19 Melalui Sistem Pertanian
Terpadu (SPT) Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember). Journal of Islamic
Economics (JoIE), 1(1), 41�66.
Vilas-Boas, Jean, Klerkx,
Laurens, & Lie, Rico. (2024). The unpacking and repacking of agricultural
innovation: Embrapa�s translation roles and positions in the introduction of
the pyramid model and hybrid pigs in Brazil. Agricultural Systems, 216,
103880. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.agsy.2024.103880