STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA PADA ERA ADAPTASI KEBIASAN BARU OLEH DINAS PARIWISATA PEMUDA DAN OLAHRAGA KOTA BUKITTINGGI DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)

 

Siti Nurlatifa1, Nora Eka Putri2

Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

[email protected]1 [email protected]2

 


Diterima: 03-11-2022��������������������� ��������������� Review: 10-11-2022�������� ��������������� Publish: 21-11-2022

Abstrak:

Pengembangan industri pariwisata sangat penting karena berkaitan dengan berbagai industri lain, termasuk pertanian, jasa, perdagangan, dan transportasi. Pariwisata membutuhkan strategi dengan pola pengembangan yang tersusun dan terencana agar dapat memaksimalkan potensi daerah. Dalam hal ini Kota Bukittinggi melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Dispapora) Kota Bukittinggi memiliki 5 strategi yang terdapat di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yaitu meningkatkan promosi wisata berbasis ekonomi kreatif, pengembangan Bukittinggi sebagai tujuan wisata kesehatan, meningkatkan sarana dan prasarana kepariwisataan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia kepariwisataan dalam pemanfaatan teknologi informasi, dan mengembangkan destinasi wisata berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengembangan pariwisata pada era adaptasi kebiasaan baru oleh Dispapora dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta untuk mengetahui faktor pendorong dan faktor penghambat pengembangan Pariwisata di Kota Bukittinggi. Namun, dalam pengembangan pariwisata masih terdapat kendala. Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian Quasi Qualitatif. Berdasarkan hasil penelitian pelaksanaan strategi pengembangan pariwisata di Kota Bukittinggi dilihat berdasarkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan yaitu pariwisata berbasis masyarakat, berorientasi konservasi, daya dukung, Pendidikan dan pelatihan, promosi, serta pemantauan dan evaluasi. Bahkan jika masih ada beberapa daerah yang perlu dioptimalkan lebih lanjut untuk pengembangan, Dispapora Kota Bukittinggi melakukan strategi yang telah cukup baik dalam menerapkan strategi pengembangan pariwisata di Kota Bukittinggi.

 

Kata kunci: Strategi, Pengembangan Pariwisata, Pendapatan Asli Daerah

 

Abstract:

The importance of tourism development is because tourism has links with other sectors such as agriculture, services, trade, and the transportation sector. In order for regional potential to be developed optimally, tourism requires a strategy with a structured and planned development pattern. In this case, the City of Bukittinggi through the Tourism, Youth and Sports Office of the City of Bukittinggi has 5 strategies contained in the Regional Medium-Term Development Plan (RPJMD), namely increasing the promotion of tourism based on the creative economy, developing Bukittinggi as a health tourism destination, improving tourism facilities and infrastructure, increase the capacity of tourism human resources in the use of information technology, and develop community-based tourist destinations. This study aims to determine the tourism development strategy in the era of adaptation of new habits by the Department of Tourism, Youth and Sports in an effort to increase Regional Original Income (PAD) and to determine the driving factors and inhibiting factors for tourism development in Bukittinggi City. However, in the development of tourism there are still obstacles. This type of research uses a Quasi Qualitative research type. Based on the results of research on the implementation of tourism development strategies in Bukittinggi City, it is seen based on the principles of sustainable tourism, namely community-based tourism, conservation-oriented, carrying capacity, education and training, promotion, and monitoring and evaluation. The Department of Tourism, Youth and Sports of the City of Bukittinggi in carrying out a strategy to develop tourism in the City of Bukittinggi has been quite good although there are several things that need to be maximized in its development.

Keywords: Strategy, Development of Tourism, Original Local Government Revenue.���������������

Corresponding: Siti Nurlatifa

E-mail: [email protected]

https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

PENDAHULUAN

Agar tercapainya tujuan otonomi daerah, pemerintah daerah melakukan pengembangan pariwisata yang diatur dalam UU No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan (Rudy & Mayasari, 2019). Undang-Undang tersebut mengisyaratkan pemerintah daerah yang ada di Indonesia untuk melakukan pembenahan dengan mengembangkan sektor pariwisata yang dimiliki. Sehingga nantinya memberikan dampak yang baik terhadap kesejahteraan masyarakat daerah masing-masing terutama dalam peningkatan pembangunan (Teja, 2015).

Terkait hal tersebut diperlukan strategi dengan pola pengembangan yang tersusun dan terencana agar potensi daerah dapat berkembang dengan optimal (Primadany, 2013). Dinas Pariwisata daerah yang merupakan motor penggerak dalam memajukan sektor pariwisata ditingkat daerah diberikan kewenangan penuh untuk menentukan strategi-strategi pembangunan kepariwisataan pada daerah masing-masing.

Kota Bukittinggi merupakan salah satu kota yang sering dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara (Mulyati, 2018). Karena memiliki banyak destinasi wisata bersejarah, wisata alam serta wisata belanja. Memiliki banyak tujuan wisata, menjadikan Bukittinggi menarik untuk dinikmati. Selain memiliki banyak potensi wisata, Bukittinggi turut dikembangkan menjadi wisata perdagangan dan jasa. Hal ini dapat dibuktikan dengan peran serta sektor pariwisata untuk menopang PAD sekitar 30% hingga 40%.

Namun, sejak munculnya Covid-19 awal tahun 2020 di Indonesia yang mempengaruhi segala aspek kehidupan baik kesehatan, ekonomi maupun social (Aeni, 2021). Segala aktivitas diabatasi karena adanya kebijakan pembatasan sosial dan karantina wilayah yang membuat sektor pariwisata pun menjadi menurun.

Hal ini dibuktikan dengan penurunan drastis wisatawan yang mana biasanya setiap tahun kunjungan wisata domestik maupun mancanegara selalu mengalami peningkatan (Nurfitriya & Iskandar, 2019). Seperti pada tahun 2019 kunjungan wisatawan domestik terdiri dari 522.132 orang dan 32.653 wisatawan mancanegara. Namun, pandemi Covid-19 mengakibatkan penurunan sebesar 62% pada tahun 2020.

 

Perkembangan jumlah kunjungan wisata tahun 2016 s.d. 2020 ke Kota Bukittingi dapat dilihat pada tabel berikut :

 

 

 

Tabel 1. Jumlah Kunjungan Wisata Tahun 2016 s.d. 2020

 

No

Wisatawan

Tahun

2016

2017

2018

2019

2020

1

Mancanegara

27.516

30.412

31.841

32.653

2.337

2

Domestik

511.258

526.483

546.016

522.132

217.631

 

JUMLAH

538.774

546.895

577.857

554.785

219.968

��������� Sumber: Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, 2021

 

Dengan menjadikannya prioritas pembangunan dan salah satu ukuran kinerja utama bagi pemerintah daerah, sektor pariwisata diharapkan dapat memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah (Sumbar, 2018).

Penawaran dan permintaan untuk pariwisata domestik dan asing telah menurun sebagai akibat dari kebijakan pembatasan perjalanan, pembatalan pesawat dan pengurangan frekuensi, penutupan hotel, dan penutupan tujuan wisata populer (Christian & Hidayat, 2020).

Tentunya hal ini berdampak secara langsung kepada Pendapatan Asli Daerah Kota Bukittinggi. Menjadi salah satu faktor penyebab penurunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bukittinggi yang mana mengalami penurunan selama tahun 2020.

Berdasarkan persoalan-persoalan yang peneliti kemukakan, artikel ini bertujuan untuk membahas dan mengkaji tentang �Strategi yang dilakukan oleh Dispapora untuk mengembangkan pariwisata di era adaptasi kebiasaan baru di Kota Bukittinggi.

 

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan ialah jenis penelitian Quasi Qualitatif. Menurut (Bungin & nCIQaR, 2020) Quasi Qualitatif digunakan karena penerapan pendekatan kualitatif masih sangat dipengaruhi oleh positivisme, terutama ketika berhadapan dengan teori-teori yang masih bersifat deduktif. Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah Simple Research Design (SRD) yang mana sesuai namanya metode ini hanya menggunakan lima langkah penelitian yaitu social context and research question, literatur review, research methods, dan reporting. Penelitian ini dilakukan di Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Bukittinggi dengan pertimbangan bahwa Kota Bukittinggi merupakan kota wisata yang memiliki banyak destinasi untuk dikunjungi. Selanjutnya, informan penelitian dipilih berdasarkan Teknik Purposive Sampling yang mana informan dipilih berdasarkan pilihan yang relevan dan tujuan tertentu. Data didapatkan melalui wawancara, observasi, ataupun arsip dan dokumen. Sumber data primer dan sekunder digunakan untuk mendapatkan data pada penelitian an ini. Data primer adalah informasi yang dikumpulkan langsung dari informan dalam menanggapi pertanyaan yang diajukan. Sementara, data sekunder berasal dari sumber data yang tidak langsung diperoleh dari sumber aslinya.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Strategi pengembangan pariwisata di Kota Bukittinggi oleh Dispapora Kota Bukittinggi terdapat di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2021-2026, dimana dalam RPJMD tersebut terdapat strategi pengembangan Pariwisata di Kota Bukittinggi yaitu:

1)      Meningkatkan promosi wisata berbasis ekonomi kreatif

Melalui penyelenggaraan berbagai event dan penggunaan media sosial, promosi pariwisata berbasis ekonomi kreatif semakin meningkat. Event yang diadakan rutin dilaksanakan namun hanya satu kali dalam setahun dan pengelolaan media sosial pun masih kurang maksimal. Terlebih semenjak pandemi Covid-19 membuat kegiatan promosi menjadi terhenti dan di tahun 2022 sudah mulai kembali dilaksanakan.

2)      Mengembangkan Bukittinggi sebagai wisata kesehatan

Pengembangan wisata kesehatan oleh Dispapora masih melanjutkan program yang sudah ada dan untuk inovasi wisata kesehatan masih dilakukan mandiri oleh pihak-pihak yang mempunyai usaha.

3)      Meningkatkan sarana dan prasarana kepariwisataan

Peningkatan sarana dan prasarana di objek wisata Kota Bukittinggi masih terkendala oleh lahan yang sempit.

4)      Meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) kepariwisataan dalam pemanfaatan Teknologi Informasi (IT)

5)      Mengembangakan destinasi wisata berbasis masyarakat

Dispapora telah membuka kesempatan kepada masyarakat dan mengembangkan destinasi wisata berbasis masyarakat. Melalui objek wisata alam yang berada di Ngarai Sianok serta 3 desa wisata yang ada di Kota Bukittinggi.

 

Berdasarkan hasil penelitian strategi pengembangan pariwisata pada era adaptasi kebiasaan baru Oleh Dispapora Kota Bukittinggi sesuai dengan rencana strategi Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga dalam RPJMD 2021-2026. Pelaksanaan strategi pengembangan pariwisata di Kota Bukittinggi dilihat berdasarkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2012) yang terdapat 6 prinsip :

1)      Pariwisata Berbasis Masyarakat

Industri pariwisata yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pusat perencanaan dan pemeliharaannya diciptakan melalui pariwisata berbasis masyarakat. Berdasarkan hasil temuan di lapangan, pariwisata berbasis masyarakat di Bukittinggi dilakukan melalui keterlibatan masyarakat pada desa wisata yang ada di Bukittinggi. Dispapora pun turut memberikan pelatihan dan pendidikan kepada masyarakat yang tertarik terhadap pengembangan wisata yang ada didaerahnya.

2)      Berorientasi Konservasi

Area yang dikelola Dispapora sebagai kawasan konservasi ialah TMSBK dan Geopark Sianok Maninjau. Pada kawasan kebun binatang terdapat satwa yang dilindungi dan dipelihara oleh tim ahli. Sementara, Geopark Sianok Maninjau selain dapat dijadikan sebagai tempat wisata, juga merupakan laboraturium alam untuk penelitian, pembelajaran serta konservasi alam dan budaya. Dalam proses pembangunan dan pengembangannya melibatkan hubungan dengan masyarakat setetmpat.

3)      Daya Dukung

Destinasi wisata yang dikelola oleh Dispapora dalam hal kapasitas kunjungan yang dapat di kunjungi oleh wisatawan tidak membatasi jumlah kunjungan. Apabila terjadi kerusakan yang ditimbulkan, pihak Dispapora melakukan pemeliharaan setelah maupun sebelum kunjungan.

4)      Pendidikan dan Pelatihan

Perlunya pendidikan dan pelatihan tentang kepariwisataan dan hospitality untuk pelaku wisata. Tidak hanya pelaku wisata, tetapi untuk wisawatan juga diberikan pendidikan dan pelatihan agar dapat meningkatkan kesadaran, kepedulian dan apresiasi tentang betapa pentingnya melindungi lingkungan alam dan budaya yang dikunjunginya.

Pendidikan dan pelatihan diadakan oleh Dispapora sekitar 4 hingga 6 kali dalam setahun untuk pelaku wisata maupun masyarakat yang teratrik dengan pengembangan wisata yang ada di daerahnya.

5)      Promosi

Selain memperkenalkan dan mensosialisasikan suatu kawasan wisata, promosi dalam prinsip pariwisata berkelanjutan bertujuan agar meningkatkan kesadaran para pemangku kepentingan terkait dengan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan.

Strategi promosi yang dilakukan Dispapora belum sepenuhnya sesuuai dengan prinsip pariwisata berkelanjutan. Dispapora melakukan promosi melalui media cetak, media sosial dan juga mengadakan event untuk mensosialisasikan suatu destinasi wisata.

6)      Pemantauan dan Evaluasi

Pada proses pemantauan agar prinsip-prinsip pariwisata berkelannjutan dapat dilaksanakan secara konsisten maka perlu untuk mengawasi prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan oleh para pemangku kepentingan. Dari temuan dilapangan untuk pemantauan dan evaluasi terhadap Dispapora Kota Bukittinggi dilakukan oleh inspektorat dan walikota. ��

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil temuan peneliti, maka peneliti menyimpulkan bahwa Dispapora dalam melakukan strategi untuk mengembangkan pariwisata di Kota Bukittinggi sudah cukup baik meskipun terdapat beberapa hal yang harus dimaksimalkan lagi dalam pengembangannya. Pengembangan yang dilakukan di era adaptasi kebiasaan baru yaitu hanya melanjutkan program yang sempat terhenti karena pandemic covid-19. Seperti promosi melalui kegiatan sales mission, pemilihan bujang jo gadih, dan program car free day. Serta pengembangan pariwisata dengan melibatkan partisipasi masyarakat melalui desa wisata dan Geopark Ngarai Sianok.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aeni, Nurul. (2021). Pandemi COVID-19: Dampak Kesehatan, Ekonomi, & Sosial. Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan Dan IPTEK, 17(1), 17�34.

 

Bungin, Burhan, & nCIQaR, CIQnR. (2020). Post-qualitative social research methods: kuantitatif-kualitatif-mixed methods positivism-postpositivism-phenomenology-postmodern.

 

Christian, Michael, & Hidayat, Firman. (2020). Dampak Coronavirus terhadap Ekonomi Global. Perkembangan Ekonomi Keuangan Dan Kerja Sama Internasional, 80�94.

 

Mulyati, Yofina. (2018). Pengaruh Electronic Word of Mouth terhadap Citra Destinasi serta Dampaknya pada Minat dan Keputusan Berkunjung Wisatawan Domestik pada Destinasi Wisata Kota Bukittinggi. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Dharma Andalas, 20(1), 168.

 

Nurfitriya, Istiq Dhany, & Iskandar, Doddy Aditya. (2019). STRATEGI PEMASARAN BEAUTIFUL MALANG SEBAGAI ALAT PEMASARAN WISATA. Seminar Nasional Komunitas Dan Kota Berkelanjutan, 1(1), 128�136.

 

Primadany, Sefira Ryalita. (2013). Analisis strategi pengembangan pariwisata daerah (studi pada dinas kebudayaan dan pariwisata daerah kabupaten nganjuk). Brawijaya University.

 

Rudy, Dewa Gde, & Mayasari, I. Dewa Ayu Dwi. (2019). Prinsip-Prinsip Kepariwisataan dan Hak Prioritas Masyarakat dalam Pengelolaan Pariwisata berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Kertha Wicaksana, 13(2), 73�84.

 

Sumbar, Dispanhorbun. (2018). Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Perda Nomor 6 Tahun 2016 Tentang RPJMD Provinsi Sumatera Barat tahun 2016-2021.

 

Teja, Mohammad. (2015). Pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat di Kawasan Pesisir. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 6(1), 63�76.