Meningkatkan Aktivitas Peserta Didik Sekolah Dasar Dengan Model JIGSAW, NHT Dan TGT
Reza
Rosyadi1, Zain Ahmad Fauzi2
Universitas Lambung Mangkurat
[email protected]1,
[email protected]2
Abstrak:
Penurunan tingkat aktivitas peserta didik dapat
disebabkan oleh kurangnya fokus pada kebutuhan mereka selama proses pembelajaran. Selain itu, kondisi pembelajaran yang kurang menarik dan kurangnya tantangan dapat mengakibatkan kegiatan belajar yang tidak memberikan pengalaman memadai bagi peserta didik.
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) selama empat siklus. Subjek
penelitian terdiri dari 30 peserta didik kelas V semester genap SDN Teluk Dalam 1 pada tahun pelajaran 2021/2022. Data
yang diperoleh melalui observasi aktivitas guru dan peserta didik menunjukkan
peningkatan aktivitas pendidik yang signifikan pada setiap siklus. Hasilnya, terjadi peningkatan aktivitas belajar peserta didik secara berkelanjutan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan kombinasi model Jigsaw, NHT, dan TGT berhasil dilaksanakan dengan baik, menciptakan
peningkatan aktivitas peserta didik. Temuan ini memberikan
alternatif pendidikan yang efektif untuk memperbaiki
proses pembelajaran dan meningkatkan
partisipasi peserta didik.
Kata kunci: Aktivitas Peserta Didik,
Jigsaw, NHT, dan TGT
Abstract:
A
decrease in learners' activity levels can be caused by a lack of focus on their
needs during the learning process. In addition, uninteresting learning
conditions and lack of challenge can result in learning activities that do not
provide adequate experiences for learners. In this study, the method used was a
qualitative approach with the type of Classroom Action Research (PTK) for four
cycles. The research subjects consisted of 30 even semester fifth grade
students of SDN Teluk Dalam 1 in the 2021/2022 academic
year. Data obtained through observation of teacher and learner activities
showed a significant increase in educator activities in each cycle. As a
result, there is a continuous increase in students' learning activities. Thus,
it can be concluded that the application of a combination of Jigsaw, NHT, and
TGT models was successfully implemented well, creating an increase in learner
activity. The findings provide an effective educational alternative to improve
the learning process and increase learner participation.
Keywords: Student Activites,
Jigsaw, NHT, dan TGT
Corresponding: Reza Rosyadi
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan zaman, upaya pembaharuan pendidikan untuk meningkatkan kualitas aspek-aspek didalamnya perlu dilakukan secara inovatif. Hal ini tentunya dapat
dicapai dalam suatu proses pendidikan. Pada
dunia pendidikan saat ini diperlukan terciptanya proses pembelajaran
yang bertumpu pada 4 pilar yang dikemukakan
oleh UNESCO serta
membekali peserta didik dengan keterampilan
abad 21 yaitu critical
thinking, creativity and innovation, Interpersonal skill, teamwork, confident
collaboration, and communication (Arianti, 2017); (Septikasari & Frasandy, 2018).
Pemerintah berusaha untuk memperbarui kurikulum di sekolah dengan maksud meningkatkan kualitas pendidikan dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan serta perubahan zaman. Salah satunya adalah melalui implementasi Kurikulum 2013. Dalam Kurikulum
2013, penilaian terhadap siswa tidak hanya
fokus pada aspek kognitif, tetapi juga memperhatikan dimensi afektif dan psikomotorik. Menurut (Hosnan, 2016), peserta didik diharapkan
tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, melainkan juga keberanian moral dan keterampilan
lainnya. Hal ini dikarenakan siswa tidak hanya dibentuk
dalam aspek kognitif, melainkan juga dalam aspek afektif
dan motorik. Guna mengimplementasikan
konsep tersebut, Kurikulum 2013 diterapkan melalui pendekatan tematik integratif yang menekankan penerapan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran, seperti yang disampaikan oleh Kemendikbud (2021) dan (Mulyasa, 2021).
Namun dilihat dari kenyataannya, pembelajaran dikelas masih memiliki
satu hambatan utama yaitu rendahnya
aktivitas belajar peserta didik. Hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa kendala utama yang dihadapi oleh siswa kelas V disebabkan oleh ketidakfokusan proses pembelajaran
pada siswa, ketiadaan kondisi belajar yang menarik dan menantang bagi mereka, serta
kegiatan pembelajaran yang belum mampu memberikan
pengalaman yang memadai. Dampak dari kondisi
ini adalah rasa bosan siswa, tingkat
keterlibatan yang rendah, kurangnya kemampuan berkolaborasi dengan teman sekelas, dan kesulitan dalam mengembangkan ide selama proses pembelajaran. Hal tersebut juga bersesuaian dengan apa yang dikemukakan oleh ibu Endang Larasati, S.Pd. selaku wali kelas
V saat wawancara.
Jika keadaan tersebut tidak diatasi secara
berkelanjutan, dapat menyebabkan peserta didik kurang memahami
materi pembelajaran. Pembelajaran yang monoton juga dapat mengakibatkan kehilangan minat belajar pada peserta didik, yang pada gilirannya dapat menyebabkan penurunan prestasi dan kesulitan mencapai standar nilai yang ditetapkan. Hal ini dapat berdampak negatif pada kemampuan peserta didik untuk
memenuhi persyaratan nilai standar nasional
dan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dalam
beberapa tahun mendatang.
Untuk mengatasi permasalahan
di SDN Teluk Dalam 1, terutama
di kelas V, langkah solusinya adalah meningkatkan metode pembelajaran agar lebih menarik, memotivasi, dan memberikan pengalaman yang dapat mengatasi kesulitan pemahaman konsep peserta didik. Penelitian ini mencoba menerapkan
strategi pembelajaran yang melibatkan
partisipasi aktif siswa serta meningkatkan
motivasi untuk mencapai tujuan bersama dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif yang menggabungkan elemen-elemen seperti Jigsaw,
NHT, dan TGT.
Jigsaw adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk berpikir tingkat tinggi, baik secara individu
maupun dalam kelompok, serta melibatkan mereka secara aktif dalam
proses pembelajaran. Dalam model ini,
guru tidak hanya menjadi fasilitator tetapi juga membimbing siswa dengan memperhatikan
skema dan pengalaman latar belakang mereka. Guru membantu siswa mengaktifkan skema tersebut untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi pembelajaran. Melalui kolaborasi dan gotong
royong, siswa memiliki banyak kesempatan untuk memproses informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi (Susanto, 2019).
Adapun model Numbered Heads Together. Menurut (Evita, 2018), sangat cocok digunakan untuk menjaga dan mengkondisikan adar setiap anggota kelompk dapat terlibat
aktif dalam diskusi kelompok. Model NHT ini juga dapat meningkatkan daya tarik dan kegembiraan dalam pembagian kelompok, membuat peserta didik lebih
bersemangat dan antusias dalam proses pembelajaran. (Shoimin, 2019). Melalui model Numbered
Heads Together pendidik akan
memanggil secara nomor kepala peserta
didik sehingga semua anggota kelompok
bersungguh sungguh berdiskusi, saling berbagi informasi dalam kelompok dan mempersiapkan diri untuk maju ke
depan (Hidayat, 2016).
Team Game Tournament adalah suatu pendekatan yang dapat membuat proses pembelajaran menjadi menarik bagi anak-anak. Model ini melibatkan turnamen akademik dengan menggunakan kuis-kuis serta sistem penilaian individual untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran (Suhaimi & Nasidawati, 2020). Dengan permaianan turnament ini diharapkan
anak lebih bersemangat dalam pembelajaran. Dengan menggunakan model ini dapat seorang peneliti
dapat mengetahui kemajuan individu terhadap hasil belajar kelompok dengan kombinasi kedua model diatas.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi peningkatan partisipasi siswa dalam memahami
konten tentang Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan. Pendekatan yang digunakan melibatkan kombinasi model Jigsaw, Numbered Heads Together, dan
Team Game Tournament di lingkungan kelas V SDN Teluk Dalam 1.
Penelitian ini dilaksanakan untuk memberikan dukungan pada studi-studi sebelumnya, termasuk penelitian yang telah dilakukan oleh (Arianti, 2017), (Ulya & Rahayu, 2021), (Y. Sari, n.d.), dan (N. P. Sari & Sari, n.d.). Penelitian-penelitian tersebut
membicarakan penggunaan
model Jigsaw, Numbered Heads Together, dan Team Game Tournament untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses belajar.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini menerapkan
metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. PTK melibatkan partisipasi pendidik di dalam ruang kelas,
menguraikan hubungan sebab-akibat dari tindakan yang dilakukan, serta memberikan gambaran terperinci tentang proses dan konsekuensi
yang timbul.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melibatkan empat siklus, masing-masing berlangsung
selama 2x35 menit (2 jam pelajaran), dengan langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada awalnya, penelitian ini dimulai dengan proses perencanaan di mana peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan materi
tema 7. Selain itu, pembuatan lembar observasi untuk aktivitas pendidik dan peserta didik juga dilakukan, bersama dengan perancangan alat evaluasi seperti
Lembar Kerja Kelompok
(LKK), Lembar Kerja Peserta
Didik (LKPD), dan soal evaluasi.
Kemudian tahap berikutnya
yakni tahap pelaksanaan. Dalam tahap ini, peneliti mengimplementasikan
pembelajaran pada tema 7 dengan mengombinasikan model Jigsaw,
Numbered Heads Together, dan Team Game Tournament. Adapun pelaksanaan
kombinasi ketiga model tersebut adalah dimulai dengan membagikan kelompok dan memberikan nomor kepala pada peserta didik. Kemudian pendidik menyampaikan materi serta membagikan
materi & tugas yang berbeda pada kelompok, lalu pendidik membentuk
tim ahli. Kemudian tim ahli
berdiskusi dan setelah itu kembali kekelompok
asal, dan berbagi informasi dengan kelompok asal. Guru memanggil satu nomor untuk memberikan
laporan tentang hasil diskusi. Diakhir dilaksanakan turnament dalam kelompok dan pemberian kesimpulan.
Pada tahap observasi, dilakukan pengamatan menggunakan lembar observasi dan evaluasi yang telah disiapkan sebelumnya. Observer memerhatikan implementasi RPP
oleh pendidik ketika mengajar di kelas, sementara peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan peserta didik selama
proses pembelajaran.
Pada tahap refleksi, peneliti mengevaluasi hasil observasi. Analisis dan kesimpulan ditarik terkait aspek-aspek yang perlu diperbaiki berdasarkan hasil observasi setiap siklus, sebagai langkah perbaikan pada siklus berikutnya.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan
di kelas V semester II SDN Teluk
Dalam 1 pada tahun ajaran
2021/2022 dengan fokus pada
materi Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan. Kelas ini terdiri
dari 30 siswa, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan.
Dalam penelitian ini, informasi diperoleh melalui pendekatan kualitatif, melibatkan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik. Observasi dilakukan secara individu maupun kelompok, menggabungkan model Jigsaw,
Numbered Heads Together, dan Team Game Tournament.
Evaluasi kinerja pendidik dilakukan dengan menggunakan empat kriteria penilaian, dimana rentang skor 8-13 dikategorikan sebagai Kurang
Baik, skor 14-19 sebagai Cukup Baik, skor 20-25 sebagai Baik, dan skor 26-32 sebagai Sangat Baik.
Evaluasi partisipasi peserta didik juga menggabungkan empat kategori penilaian, termasuk Kurang Baik dengan skor 8-13, Cukup Baik dengan skor 14-19, Baik dengan skor 20-25, dan Sangat
Baik dengan skor 26-32, sejalan dengan penilaian terhadap keterlibatan pendidik.
Indikator kesuksesan kegiatan untuk setiap aspek kegiatan
siswa dalam pembelajaran adalah ketika nilai rata-rata kelas mencapai skor ≥32, menandakan kriteria yang sangat baik. Secara klasikal, keberhasilan dicapai jika 80% siswa dinilai "aktif" atau "sangat aktif".
HASIL
DAN PEMBAHASAN
�������������� Hasil
penelitian ini, diperoleh data bahwa dengan menggunakan kombinasi model Jigsaw,
Numbered Heads Together dan Team Game Tuornament dapat meningkatkan aktivitas pendidik pada setiap siklus. Perbaikan dalam kualitas pelaksanaan pembelajaran oleh guru tersebut dapat direpresentasikan melalui tabel berikut:
|
Siklus |
Perolehan |
Kriteria |
|
I |
25 |
Baik |
|
II |
28 |
Sangat
Baik |
|
III |
30 |
Sangat
Baik |
�������������� Dari
informasi tersebut, terlihat bahwa skor pendidik meningkat
dari 25 pada siklus 1 menjadi 28 pada siklus 2. Pada siklus 3, terjadi peningkatan lebih lanjut dengan skor
mencapai 30.
�������������� Peningkatan tersebut mencerminkan bahwa tiap pertemuan, pendidik terus memperbaiki aktivitas belajarnya, mengatasi aspek-aspek yang masih perlu perbaikan. Pada sesi ketiga, instruktur
berhasil mencapai skor 30 dengan penilaian Sangat Baik. Keberhasilan
ini menunjukkan bahwa penelitian tindakan kelas, menggunakan kombinasi model pembelajaran jigsaw, NHT, dan TGT, berjalan optimal. Hasilnya sesuai dengan harapan
dan memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, yaitu skor aktivitas instruktur dalam pembelajaran mencapai 26-32 dengan penilaian Sangat Baik. Secara rinci, aktivitas
instruktur dalam 8 aspek yang diamati adalah sebagai berikut:
�������������� Pada
segi pertama, guru mengarahkan perhatian peserta didik untuk
mencapai skor 3 dengan standar kriteria yang baik. Dalam aspek ini, guru memberikan panduan secara terstruktur dengan intonasi yang jelas, menyajikan masalah yang bersifat kontekstual dan relevan. Namun, di siklus I, motivasi peserta didik untuk aktif
dalam menyelesaikan masalah kurang diperhatikan. Sebagai hasilnya, perbaikan dilakukan pada siklus II dan III,
di mana guru fokus membangun
orientasi komunikatif dan responsif dengan peserta didik.
�������������� Pada
segi kedua, guru mengelompokkan murid ke dalam beberapa kelompok yang mendapatkan skor 4 dengan penilaian
Sangat Baik. Pada bagian ini,
guru memberikan arahan dengan intonasi yang jelas dalam memandu
pembagian kelompok. Kelompok dibentuk secara heterogen, dan guru memastikan ketertiban dalam pembagian tersebut. Pada pertemuan berikutnya, guru mampu mempertahankan skor maksimal dengan melaksanakan semua kriteria dengan baik.
�������������� Pada
aspek ketiga, guru mengelola tugas pembelajaran terkait dengan mencapai skor 3 yang dinilai sebagai Baik. Dalam hal ini, guru menyusun Lembar Kerja Kelompok (LKK) yang berbeda, serta menyediakan materi bacaan yang telah diorientasikan sebelumnya. Namun, tidak semua
siswa memahami tugas yang diberikan karena guru tidak memberi kesempatan bagi siswa untuk
bertanya tentang tugas tersebut. Oleh karena itu, perbaikan
yang dilakukan pada siklus
II dan III adalah dengan lebih memperhatikan dan memastikan bahwa setiap siswa memahami
tugas mereka.
�������������� Pada
aspek keempat, pendidik meraih skor 3 dengan penilaian
Baik. Pada bagian ini, pendidik menyusun petunjuk kegiatan penyelidikan, mendorong peserta didik untuk
menghimpun informasi yang relevan dari berbagai
sumber, dan mengawasi keterlibatan peserta didik dalam pengumpulan
informasi. Perbaikan yang dilakukan adalah pendidik berperan sebagai fasilitator yang efektif bagi peserta
didik.
�������������� Pada
aspek kelima, pemandu pembelajaran memandu peserta didik dalam melakukan
diskusi dengan meraih skor 3 yang berarti penilaian kategori Baik. Dalam konteks ini, pemandu pembelajaran
menyusun petunjuk pelaksanaan diskusi, memastikan bahwa suasana diskusi tetap kondusif dan teratur. Pemandu pembelajaran juga menggalakkan peserta didik untuk
aktif berpartisipasi dalam diskusi. Oleh karena itu, perbaikan
yang diterapkan melibatkan peningkatan motivasi dari pemandu pembelajaran
dan penekanan kepada peserta didik mengenai
batasan waktu, sehingga mereka dapat menyelesaikan tugas dengan tepat
waktu.
�������������� Dalam
aspek keenam, pendidik memberikan panduan pada penyampaian hasil diskusi dengan
meraih skor 3 dan dinilai sebagai Baik. Pendidik mencantumkan nomor kepala untuk
laporan kemajuan penyelidikan, memastikan peserta didik merangkum,
dan menanyakan tanggapan mereka. Oleh karena itu, peningkatan dilakukan dengan memberikan penguatan yang lebih mudah dipahami
kepada peserta didik.
�������������� Dalam
aspek ketujuh, pendidik melakukan permainan engklek dan meraih skor 3 dengan
penilaian Baik. Pada aspek ini, pendidik memberikan
arahan permainan dan secara aktif mendampingi
jalannya kegiatan. Oleh karena itu, perbaikan
yang perlu dilakukan adalah agar pendidik dapat menjadi lebih
tegas dalam pembelajaran, memastikan kelancaran serta kondusifitas pelaksanaan permainan.
�������������� Dalam
aspek kedelapan, pendidik memberikan bimbingan pada refleksi atau evaluasi, yang menghasilkan skor 3 dengan kriteria Baik. Pendidik memandu presentasi hasil diskusi kelompok, mendorong kelompok lain untuk memberikan tanggapan, dan memberikan apresiasi. Untuk perbaikan, pendidik akan mengajak peserta
didik untuk menyimpulkan hasil diskusi.
�������������� Analisis terhadap hasil pengamatan aktivitas peserta didik pada setiap siklus menunjukkan peningkatan yang konsisten. Perubahan ini terlihat
pada tabel berikut:
|
Siklus |
Perolehan |
Kriteria |
|
I |
67% |
Sebagian
Besar Aktif |
|
II |
83% |
Hampir Seluruhnya Aktif |
|
III |
90% |
Hampir Seluruhnya Aktif |
�������������� Dari
tabel tersebut, terlihat bahwa pengamatan terhadap pendidik menunjukkan adanya peningkatan aktivitas peserta didik pada setiap pertemuan. Pada pertemuan 1, hanya 67% peserta didik yang tergolong Aktif atau Sangat Aktif. Perbaikan terus dilakukan, menghasilkan peningkatan pada pertemuan 2 menjadi 83%, dan mencapai 90% pada pertemuan 3. Peningkatan ini mencapai indikator keberhasilan. Dapat disimpulkan bahwa jumlah peserta didik yang aktif atau sangat aktif cenderung meningkat setiap pertemuan, sementara jumlah yang cukup aktif dan kurang aktif cenderung
menurun. Aspek-aspek yang diamati dalam aktivitas
peserta didik dijelaskan secara rinci sebagai berikut:
�������������� Pada
aspek pertama, peserta didik mengorientasi
masalah, secara keseluruhan peserta didik kurang aktif
karena belum mampu menemukan masalah dan mengemukakan masalah yang pendidik sajikan. Oleh karena itu, pendidik membantu
peserta didik menemukan masalah yang ada di sekitar mereka dan mengaitkan dengan materi agar peerta didik dapat
mengemukakan masalah.
�������������� Pada
aspek kedua, peserta didik belum
aktif terlibat dalam pengumpulan informasi dan belum membuat catatan dari informasi yang telah diperoleh secara keseluruhan. Oleh karena itu, pendidik
harus selalu mengawasi dan membimbing peserta didik yang bermalas-malasan agar dapat aktif dalam melaksanakan
membuat catatan informasi yang didapat.
�������������� Pada
aspek ketiga, terdapat diskusi kelompok oleh peserta didik. Secara keseluruhan,
partisipasi peserta didik cukup baik,
meskipun masih perlu peningkatan dalam kemampuan bekerja sama untuk
menyelesaikan masalah bersama. Sayangnya, peserta didik belum
sepenuhnya dapat menyusun hasil diskusi dengan baik. Oleh karena itu, pendidik disarankan
untuk memberikan arahan lebih tegas
kepada peserta didik yang cenderung fokus pada diri sendiri, agar dapat lebih aktif dalam
mengatasi permasalahan yang
dihadapi.
�������������� Pada
aspek keempat, peserta didik aktif
dalam menyajikan hasil diskusi, namun masih menghadapi
kendala dalam menjawab pertanyaan dari rekan kelompok
serta kesulitan dalam menggunakan suara yang kuat dan intonasi yang jelas. Oleh karena itu, peran
pendidik sangat penting untuk membantu peserta didik mengatasi
kesulitan tersebut dan memberikan motivasi kepada mereka yang merasa malu saat
menyampaikan hasil diskusi. Selain itu, beberapa peserta didik juga mengalami kesulitan dalam merumuskan kesimpulan dari materi yang diajarkan.
�������������� Pada
aspek kelima, peserta didik terlibat
dalam refleksi atau evaluasi. Meskipun peserta didik aktif, mereka
belum dapat menjawab pertanyaan dari kelompok lain dan belum mampu membuat
kesimpulan.
�������������� Dari
data observasi tersebut, terlihat bahwa peningkatan kualitas pembelajaran oleh pendidik memiliki dampak positif pada aktivitas peserta didik. Ini mengindikasikan adanya korelasi linear antara aktivitas pendidik dan aktivitas peserta didik. Kedua aspek
ini dapat diilustrasikan dalam grafik berikut:

�������������� Peningkatan aktivitas pendidik dalam menggunakan model Jigsaw, Numbered Head Together, dan
Team Game Tournament terlihat dari
hasil observasi di setiap pertemuan. Dengan peningkatan skor hingga mencapai
30 dan persentase 93% pada pertemuan
III yang dikategorikan sebagai
sangat baik, ini menunjukkan bahwa pendidik terus memperbaiki pelaksanaan model pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran berjalan sesuai dengan rencana langkah-langkah yang telah direncanakan.
�������������� Peningkatan kinerja pendidik dalam menerapkan metode pembelajaran tersebut terjadi setelah perbaikan dilakukan pada sesi berikutnya. Pendidik secara konsisten melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran setiap pertemuan, dengan tujuan mencapai
rumusan tujuan pembelajaran. Prinsip ini sejalan dengan
pandangan (Fauzi,
2016) yang menekankan bahwa peran pendidik menjadi kunci keberhasilan
dan pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar,
guru sebaiknya bisa menyelenggarakan pembelajaran
yang lebih sesuai konteks, memandu siswa untuk menemukan
makna dalam pembelajaran, sehingga dapat mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal dan dapat mewujudkan keberhasilan berdasarkan kemampuan yang mereka miliki (Fauzi,
2021); (Fauzi,
2016); (Machfud,
2018).
�������������� Dalam
pelaksanaan pendidikan, peran pendidik memiliki dampak besar pada proses pembelajaran. Kemampuan dan otoritas seorang pengajar berpengaruh besar, baik dalam ruang
kelas maupun di luarnya (Fauzi
& Fikri, 2018). Oleh karena itu, seorang
pendidik bukan hanya menjadi teladan
bagi murid-muridnya, tetapi juga bertanggung jawab sebagai pengelola
proses pembelajaran yang mampu
membimbing peserta didik menuju tujuan
pembelajaran (Susanto,
2019); (Suhaimi
& Nasidawati, 2020). Keberhasilan proses pembelajaran
sangat tergantung pada kualitas
dan kemampuan seorang pendidik.
�������������� Peningkatan pembelajaran melibatkan bimbingan kepada siswa untuk
mendorong keterlibatan aktif dan pengembangan keterampilan berpikir kritis. Hal ini juga berkontribusi pada peningkatan keterlibatan pendidik dalam menerapkan model pembelajaran, seperti yang dijelaskan dalam penelitian tindakan kelas ini. Proses pembelajaran adalah inti dari kegiatan pendidikan,
dengan pendidik memainkan peran kunci dalam pelaksanaannya
di kelas. Dalam hal ini, pendidik perlu
memiliki kemampuan merancang kegiatan pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan minat
siswa, bertujuan menciptakan pengalaman pembelajaran yang bermakna. Komunikasi dua arah antara pendidik dan siswa juga menjadi aspek penting, di mana siswa aktif terlibat
bukan hanya sebagai penerima informasi.
�������������� Peningkatan aktivitas peserta didik menggunakan
model ini didukung oleh penelitian relevan sebelumnya, yakni penelitian oleh (Arianti,
2017); (Ulya
& Rahayu, 2021); (Y. Sari,
n.d.); (N. P.
Sari & Sari, n.d.) yang menggunakan model Jigsaw,
Numbered Heads Together dan Team Game Tuornament
dan menunjukkan keberhasilan
pendidik dalam meningkatkan aktivitasnya dalam menerapkan model ini.
�������������� Adapun
untuk aktivitas peserta didik dalam
pembelajaran tema 7 peristiwa dalam kehidupan menggunakan Jigsaw,
Numbered Head Together, Dan Team Game Tournament dapat disimpulkan bahwa dalam tiap
pertemuan, terdapat peningkatan aktivitas peserta didik. Berdasarkan grafik, pada pertemuan I, partisipasi peserta didik secara
klasikal mencapai 67%, meningkat pada pertemuan II menjadi 83%, dan mencapai puncak pada pertemuan III dengan persentase 93%. Dengan demikian, penggunaan model pembelajaran
Jigsaw, Numbered Head Together, dan Team Game Tournament berhasil
meningkatkan keterlibatan peserta didik, menunjukkan upaya pendidik untuk membuat mereka aktif. Pendekatan yang efektif dalam proses pembelajaran adalah penerapan model Jigsaw, Numbered Head Together, dan Team
Game Tournament.
�������������� Prinsip ini sejalan
dengan konsep yang ditekankan oleh (Hamalik,
2015). Pembelajaran harus selalu mengutamakan aktivitas agar peserta didik terlibat secara aktif dalam
memahami permasalahan dan aspek lainnya dalam
proses pembelajaran. Keterlibatan
aktif peserta didik dalam pengembangan
potensinya menjadi hal penting, karena
tanpa aktivitas belajar, pembelajaran menjadi kurang menarik. Peserta didik diharapkan ikut serta dalam
proses pembelajaran dan memiliki
kemampuan untuk mengelola pengetahuan yang diperoleh selama proses tersebut.
�������������� Agar
pembelajaran menjadi menarik, peserta didik perlu terlibat
aktif dengan mencari, menyampaikan informasi, dan membuat kesimpulan. (Hamzah
& Nurdin, 2011) menyarankan berbagai upaya, termasuk interaksi yang terstruktur dengan peserta didik dan optimalisasi sumber belajar. Selain itu, memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk
mengevaluasi karyanya sendiri juga menjadi langkah penting.
�������������� Peserta didik memiliki
peran yang sangat aktif dalam proses belajar, berinteraksi secara komunikatif dengan pendidik. Dalam dinamika komunikasi ini, peserta didik dianggap
sebagai subjek belajar yang memiliki peluang besar untuk
mengembangkan kreativitas, aktivitas, dan potensi mereka secara langsung.
Mereka dapat secara aktif mencari,
menemukan, dan menyelesaikan
masalah melalui pengalaman belajar. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Noorhapizah (2019),
yang menyatakan bahwa pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif
sepanjang proses pembelajaran
dianggap sebagai bentuk pembelajaran yang berhasil secara optimal.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian tindakan kelas dan pembahasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan kombinasi model Jigsaw, NHT, dan TGT dalam pembelajaran berhasil meningkatkan aktivitas pendidik hingga mencapai tingkat Sangat Aktif, sementara aktivitas peserta didik meningkat hingga mencapai tingkat Hampir Seluruhnya Aktif.
Dari simpulan di atas, peneliti menyarankan agar pendidik memperhatikan beberapa hal saat memilih model pembelajaran untuk meningkatkan pelaksanaan pembelajaran di kelas. Pimpinan sekolah dapat menggunakan saran ini sebagai alternatif masukan dan panduan untuk mendukung pendidik. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi untuk mengaplikasikan dan mengembangkan ilmu yang diperoleh, dengan tujuan meningkatkan kualitas sekolah dasar setempat dan kontribusi penelitian pada lingkungan kerjanya.
DAFTAR PUSTAKA
Arianti, G. (2017). Kepuasan remaja
terhadap penggunaan media sosial instragram dan path. Wacana: Jurnal Ilmiah
Ilmu Komunikasi, 16(2), 180�192.
Evita, E.
(2018). Perbedaan Hasil Belajar Peserta Didik Dengan Penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Market Place Activity Dengan Model Pembelajaran
Konvensional Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di SDN 1 Binangga
Kecamatan Marawola. IAIN Palu.
Fauzi, Z.
A. (2016). Pengembangan Cerita Anak Berwawasan Budi Pekerti Bagi Pendidikan
Karakter. -, 2(1), 77�81.
Fauzi, Z.
A. (2021). The Role of School Chief in the Implementation of Management Based
on Environmental Education Programs (Adiwiyata Program). 2nd International
Conference on Social Sciences Education (ICSSE 2020), 76�88.
Fauzi, Z.
A., & Fikri, H. (2018). Improving learning activities using a combination
of mind mapping model, think pair share and teams game tournament. 1st
International Conference on Creativity, Innovation and Technology in Education
(IC-CITE 2018), 318�322.
Hamalik, O.
(2015). Kurikulum dan Pembelajaran (cetakan kelima belas). Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Hamzah, B.
U., & Nurdin, M. (2011). Belajar dengan pendekatan PAILKEM. Jakarta:
Bumi Aksara.
Hidayat, U.
S. (2016). Model-Model Pembelajaran Efektif. Bina Mulia Publishing.
Hosnan, H.
(2016). Manajemen Bos Dan Kedigdayaan Madrasah. Kariman: Jurnal Pendidikan
Keislaman, 4(1), 137�156.
Machfud, H.
(2018). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together
(nht) untuk meningkatkan respons, aktivitas, dan hasil belajar siswa. Al-Khwarizmi:
Jurnal Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, 6(2),
105�120.
Mulyasa, H.
E. (2021). Implementasi kurikulum 2013 revisi: dalam era industri 4.0.
Bumi Aksara.
Sari, N.
P., & Sari, M. (n.d.). INDIKATOR SKALA BATES JENSEN WOUND ASSESSMENT TOOL
PADA PENYEMBUHAN LUKA DIABETES MELITUS DENGAN PEMBERIAN TOPIKAL MADU KALIANDRA.
Seminar Nasional Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, 80.
Sari, Y.
(n.d.). Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pesawat Sederhana
Melalui Model Contextual Teaching and Learning (CTL) dikombinasikan dengan
Model Team Games Tournament (TGT) dan Numbered Head Together (NHT) di Kelas VA
SDN Sungai Bilu 1 Banjarmasin Tahun Ajaran 2016/2017.
Septikasari,
R., & Frasandy, R. N. (2018). Keterampilan 4C abad 21 dalam pembelajaran
pendidikan dasar. Tarbiyah Al-Awlad: Jurnal Kependidikan Islam Tingkat Dasar,
8(2), 107�117.
Shoimin, A.
(2019). 68 model pembelajaran inovatif dalam kurikulum 2013.
Suhaimi,
S., & Nasidawati, N. (2020). Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Materi
Bangun Ruang Menggunakan Kombinasi Model Problem Based Learning, Numbered Head
Together Dan Course Review Horay Dengan Media Bangun Ruang Kelas V/C Sdn Handil
Bakti. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 15(2), 74�86.
Susanto, A.
(2019). Teori belajar dan pembelajaran di sekolah dasar.
Ulya, H.,
& Rahayu, R. (2021). Hubungan Keterampilan Proses Berpikir Matematis dengan
Hasil Belajar Mahasiswa. AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika,
10(1), 262�272.