Elia A.
Manuhutu1, Melan R. Lengkong2, Stella M.P Paendong3
Fakultas Pertanian Unika De La Salle Manado, Indonesia1,2,3
[email protected]1,[email protected]2 [email protected]3
Diterima: 04-07-2022��������������������� ��������������� Review: 12-07-2022������������������������ ��������������� Publish:
Pendahuluan: Pembangunan
pertanian berkelanjutan melalui penerapan Inovasi Teknologi Pasca Panen sangat nyata berpengaruh dalam pengembangan tersebut, pengenalan teknologi pasca panen khususnya pasca panen wortel
sangat membantu dalam menjaga kualitas dan mutu hasil panen
wortel, hal ini berdampak bagi
pendapatan dan kesejahteraan
petani. Tujuan:
Salah satu penggerak penerapan inovasi teknolgi pasca panen adalah dengan
dilakukannya kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan tujuan
memperkenalkan inovasi teknologi pasca panen dalam menjaga
kualitas dan mutu dari tanaman wortel,
sehingga berdampak pada pemasaran. Metode: Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah menemukan
masalah, menemukali potensi, menganalisis masalah dan potensi, serta memilih solusi
pemecahan masalah. Peserta dalam kegiatan
PkM ini adalah
Kelompok tani �Esa Genang Leos� di kelurahan Rurukan Kota Tomohon, dengan kegiatan ini hasil
yang diperoleh adalah pengetahuan dan potensi pengembangan teknologi pasca panen tanaman
worten pada kelompok tani tersebut, dan adanya bentuk Kerjasama lebih lanjut dalam
pengembangan teknologi pasca panen kelompok
tani �Esa Genang Leos�. Hasil: Dari hasil
kegiatan ini maka dapat disimpulkan
Pentingnya pengembangan ivonasi teknologi pasca panen pada setiap sector pertanian khususnya pada tanaman wortel sangat penting untuk dilakukan dalam membantu kelompok tani di kelurahan rurukan kota tomohon, hal
ini akan sangat berdampak pada kualitas dan mutu dari tanaman
tersebut sehingga dalam dukungan pembangunan pertanian berkelanjutan akan tercapai. Kesimpulan: Pengembangan
inovasi teknologi pasca panen tersebut
sangat diharapkan pada setiap
program PkM yang dilakukan baik dari praktisi
keilmuan maupun narasumber lain yang berkompeten dalam menunjang pembangunan pertanian berkelanjutan.
Kata kumci:
Inovasi, teknologi, pasca panen, Manajemen
agribisnis, wortel, pertanian berkelanjutan
Abstract:
Introduction: Sustainable agricultural development
through the application of Post-Harvest Technological Innovations is very
significant in this development, the introduction of post-harvest technology,
especially post-harvest carrots, is very helpful in maintaining the quality and
quality of carrot harvests, this has an impact on farmers' income and welfare. Objective:
One of the drivers of the application of post-harvest technological innovation
is the Community Service (PkM) activity with the aim
of introducing post-harvest technological innovations in maintaining the
quality and quality of the carrot plant, so that it has an impact on marketing.
Method: The method used in this activity is to find problems, identify
potentials, analyze problems and potentials, and choose problem solving
solutions. Participants in this PkM activity are the
farmer group "Esa Genang
Leos" in the Rurukan sub-district, Tomohon City, with this activity the results obtained are
knowledge and potential development of post-harvest technology for carrots in
the farmer group, and the existence of further forms of cooperation in the
development of post-harvest technology. harvest of the �Esa
Genang Leos� farmer group. Results: From the
results of this activity, it can be concluded that the importance of developing
post-harvest technology innovation in each agricultural sector, especially in
the carrot plant, is very important to do in helping farmer groups in the rurukan village of Tomohon, this
will greatly affect the quality and quality of these plants so that in support
of sustainable agricultural development will be achieved. Conclusion:
The development of post-harvest technological innovations is highly expected in
every PkM program carried out by both scientific
practitioners and other competent sources in supporting sustainable
agricultural development.
Keywords: Innovation;
technology; post-harvest; agribusiness management; carrots; sustainable
Agriculture.
���������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pengembangan
Pembangunan sektoral khusus
pertanian secara periodik sangat diperlukan pengembangan sumber daya alam dan sumber
daya manusia sebagai tujuan dalam peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dimulai dengan petani atau
secara luas, ini merupakan tujuan
dari konsep pembangunan berkelanjutan
(Sustainable Development) yang diimplementasikan dengan Sustainable Agriculture atau
pertanian berkelajutan, (Yasrizal, 2016). Perluasan pembangunan pada sector pertanian
bertujuan dalam perluasan lapangan pekerjaan, pengembangan usahatani, pemberantasan tingkat kemiskinan dalam peningkatan perkonomian suatu wilayah (Winarso, 2013). Proses pembangunan
berkelanjutan meliputi penyesuain sepanjang waktu antar sumberdaya
alam, input sosio-budaya
dan teknologi untuk mempertahankan keseimbangan dinamis (dynamic equilibirium) kearah keadaan kecenderungan kapasitas sumerbdaya yang tidak negative untuk memperoleh barang dan jasa dalam dan antar generasi, (Darmawan, 2011). Dalam data
Badan Pusat Statistik untuk
Presentasi Tenaga Kerja
Informal Sektor Pertanian (Persen), 2019 -2021 khusus untuk Propinsi Sulawesi Utara Menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tiap tahun yaitu
dari 81,81 % menjadi 86,83%
dan selanjutnya meningkat menjadi 88,70%, (BPS, 2021).
Keberhasilan proyek pembangunan pertanian dan pedesaan berkelanjutan (Sustainable agriculture and rural
development, SARD) sangat dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu 1) jenis teknologi yang diterapkan, 2) faktor social budaya, termasuk institusi dan tekanan penduduk, 3) pertimbangan ekonomi, 4) keadaan dan kualitas sumberdaya (ekologis) dan 5) tingkat faktor hirarki yang lebih tinggi, yakni
kebijakan pemerintah pada subsidi, ekspor, ilmu pengetahuan, pembangunan, serta sector faktor global seperti perdagangn (GATT, APEC dan WTO), fluktuasi
kurs, persetujuan
multilateral dan gangguan lingkungan
seperti pemanasan global, fenomena iklim dan deforetasi tropis, (Darmawan, 2011). Pemanfaat peluang pemasaran produksi hasil pertanian ditingkat buruh tani masing kurang dimanfaatkan hal ini berdampak
pada tingkat kesejahteraan
dan tingkat pendapatan dari buruh tani
(Umanailo, 2017).�
Pengaruh ekonomi kapitalis ke dalam
wilayah terotorial pertanian
pedesaan dapat dilihat dari penggunaan
teknologi modern dan system pemasaran
yang tertuju pada tingkat efisien yang dinginkan hal ini didukung
juga melalui perubahan lahan atau peralihan
tanah pertanian ke non-pertanian yang mengakibatkan kurangnya lapangan kerja bagi buruh tani.
Dalam penanganan permasalahan ekonomi kapitalis yang masuk pada wilayah terotorial pertanian pedesaan, perlu kebijakan yang mendukung para buruh tani agar pembangunan masyarakat pertanian berkelanjutan dapat tercapai dengan tujuan agar dapat memajukan pertanian petani, peningkatan produktifitas pertanian pedesaan yang lebih efisien (Sumar�in, 2019). Akan tetapi
permasalah yang sering didapatkan dipertanian pedesaan pada umumnya yaitu penuruan kualitas dan mutu dari pasca panen,
salah satunya adalah pertanian wortel (Daucus carota)
di wilayah pertanian Kelurahan
rurukan kota tomohon. Penerapan pasca panen pada pertanian wortel di Kelurahan rurukan kota Tomohon terlihat
belum diterapkan dalam sistem pertanian
tersebut sehingga mutu dari produktifitas
masih kurang memenuhi permintaan pasar.
Sesuai dengan pengamatan dan penelusuran dari Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Pertanian
Program Studi Agribisnis Unika De La Salle Manado, maka perlu adanya kegiatan
PkM yang akan memberi dukungan dan masukkan dalam pengembangan kualitas dan mutu dari produktifitas
tanaman wortel melalui pemaparan materi tentang Teknologi Pasca Panen tanaman wortel.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka salah satu kelompok tani yang menjadi sasaran dalam kegiatan PkM ini adalah� kelompok tani �Esa Genang
Leos� di kelurahan Rurukan
Kota Tomohon dengan sasaran capaian yaitu pengembangan kualitas dan mutu tanaman wortel melalui penerapan teknologi pasca panen.
METODE PENELITIAN
Dalam pelaksanaan kegiatan PkM ini, fakultas
membentuk Tim PkM dengan tujuan melakukan
survei dan pengamatan secara langsung sebagai tindakan awal sebagai survei
dalam mengidentifikasi lapangan dalam pemilihan kelompok tani tanaman wortel
di wilayah pertanian kelurahan
rurukan. Salah satu yang dipilih sesuai hasil survei adalah
kelompok tani �Esa Genang Leos� dikarenakan jumlah kuantitas hasil panen dan anggota yang ikut terlibat dalam
kelompok tersebut cukup banyak dan belum metode penggunaan
teknologi pasca panen yang dipakai. Metode yang dipakai dalam kegiatan ini adalah metode
pemberdayaan pelaksanaan yaitu menemukan masalah, menemukali potensi, menganalisis masalah dan potensi, serta memilih solusi
pemecahan masalah, (Hamid, 2018).�
Kegiatan selanjutnya
adalah pre-tes dan
post-test yang disiapkan oleh Tim PkM
yang selanjutnya untuk mengevaluasi pengetahuan dan pengalaman dari anggota kelompok tani �Esa Genang
Leos� tanaman wortel di Kelurahan Rurukan kota Tomohon.
Kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Mei 2022, bertempat
pada area perkebunan Masarang
Kelurahan Rurukan Kota Tomohon. Bentuk media untuk pemaparan dalam kegiatan ini adalah materi
pelatihan berupa hand out materi dan video penanganan pasca panen tanaman
wortel.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan PkM yang dilakukan oleh tim fakultas hanya
melibatkan satu kelompok tani, hal ini dkarenakan,
kelompok ini memiliki areal perkebunan yang cukup luas yang dimiliki sendiri oleh kelompok tani dan tanaman yang ditanami adalah tanaman wortel.� Dalam kegiatan PkM ini peserta
yang hadir terdiri dari keseluruhan anggota kelompok tani �Esa Genang
Leos� dan perangkat pemerintahan
kelurahan setempat.
Dalam pengumpulan data, hasil survei yang didapat dari pre-test para anggota kelompok tani, menunjukkan tingkat pengetahuan akan teknolog pasca panen sangat kurang, bahkan para anggota kelompok tersebut belum memahami perlakuan-perlakuan yang seharusnya
ada pada awal pemanenan. Kebanyakan para anggota kelompok tani tersebut hanya
berdasarkan pengalaman-pengalaman
dahulu secara tradisional, sehingga perlakuan penanganan pasca panen yang seharusnya menjaga mutu dan kualitas dari tanaman wortel
belum diterapkan oleh kelompok tani tersebut.
Gambar
1. Peserta PKM Pemateri dalam sesi pemaparan
Inovasi Teknologi Pasca Panen
Dalam pembangunan pertanian ada 5 syarat yang mutlak antara lain 1) adanya pasar untuk hasil usaha tani,
2) teknologi yang senantiasa
berkembang dalam menghasilkan output yang secara maksimal, 3) tersedianya alat dan bahan produksi secara local yang sesuai dengan kondisi
di daerah tersebut, 4) adanya pernyokong petani untuk berproduksi
dan 5) tersedianya sarana transportasi yang memadai,(Herdini & Masduki,
2021).
Gambar 2. Peserta dan Pemateri dalam sesi Pemasaran
Pengembangan Pertanian Berkelanjutan
Sesuai dengan perlakuan yang didapat dilapangan oleh Tim menunjukkan bahwa terjadi penurunan minat daya beli
hasil pertanian yaitu wortel dari
kelurahan Rurukan yang dikarenakan mutu dan kualitas dari wortel
tidak sesuai dengan permintaan pasar dari dalam dan luar daerah.
Penerapan system pertanian secara konvensional pada umum dan awalnya bisa meningkatkan
produktifitas pertanian dan
pangan dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, akan tetapi efisien produksi akan mengalami
penurunan akibat feedback konsumen yang menggukannya jika melihat dari
mutu dan kualitas produksi hasil pertanian. (Kusumaningtyas, Oktafiani, Hartanto, Handayani, &
Muhammad, 2016) mengemukakan bahwa pentingnya suatu inovasi teknologi dalam bidang pertanian
sangat mendukug pertanian berkelanjutan hal ini dilihat dari
peningkatan nilai tambah, daya saing,� dan laba hasil pertanian. Hal yang sangat signifikan dalam menciptakan produk olahan yang aman bagi konsumen adalah
adanya Peran inovasi dan teknologi dalam bidang pertanian, sehingga dalam� menciptakan suatu produk yang aman serta dalam
penghilangan pathogen dan mikroba
harus melewati Teknik sterilisasi dan pasteurisasi dalam menjaga mutu
dan kualitas suatu produk, Salah satu contoh inovasi teknologi di bidang pertanian yang dapat menekan laju transpirasi
tersebut adalah pelapisan lilin, sebab dengan pelapisan
sebagian pori dan kulit tertutup oleh lapisan lilin. Selain itu, pengemasan
lilin ternyata bermanfaat untuk menekan laju respirasi
(Indraswati, 2017); memperpanjang
umur simpan produk hortikultura, menutupi luka-luka goresan kecil (Ahmad, Darmawati, & Refilia, 2014); menurunkan
resiko terjadinya memar dan abrasi pada permukaan buah, mencegah infeksi patogen (Soesanto, 2006), sekaligus menimbulkan kesan yang lebih baik secara
fisik karena lebih mengkilat (Prusky et al., 1999). Produk pertanian yang dapat diperlakukan dengan pelapisan lilin antara lain alpukat, apel, cabai, jeruk,
kentang, mangga, nanas, pepaya, pisang, starwberry, tomat, dan wortel. Hal yang perlu diperhatikan adalah pelapis lilin yang digunakan harus aman untuk
dikonsumsi, mudah dibuat dan diaplikasin, serta murah harganya.
Oleh karena itu, inovasi dan penelitian untuk membuat pelapis
lilin produk pertanian masih terus dikembangkan.
Gambar 3. Foto
Bersama Peserta dan Fasilitator
Selama kegiatan PkM berlangsung
dari awal hingga akhir, secara
keseluruhan materi yang diberikan baik hand out maupun video yang ditayangkan menunjukkan kepuasan dari seitap anggota
kelompok tani, hal ini dibuktikan
dengan tanggapan, respond
dan pertanyaan yang ditanyakan
maupun dijawab dari pemateri kepada
anggota ataupun sebaliknya, sehingga kegiatan ini akhirnya
menjadi acuan dan menjadi kesepaktan dalam menjalin hubungan Kerjasama dengan pihak fakultas pertanian dalam membina kelompok tani tersebut.
KESIMPULAN
Pentingnya pengembangan ivonasi teknologi pasca panen pada setiap sector pertanian khususnya pada tanaman wortel sangat penting untuk dilakukan
dalam membantu kelompok tani di kelurahan rurukan kota tomohon, hal
ini akan sangat berdampak pada kualitas dan mutu dari tanaman
tersebut sehingga dalam dukungan pembangunan pertanian berkelanjutan akan tercapai.� Pengembangan inovasi teknologi pasca panen tersebut sangat diharapkan pada setiap program PkM yang dilakukan baik dari praktisi
keilmuan maupun narasumber lain yang berkompeten dalam menunjang pembangunan pertanian berkelanjutan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad, Usman, Darmawati,
Emmy, & Refilia, Nur Rahma. (2014). Kajian metode pelilinan terhadap umur
simpan buah manggis (Garcinia mangostana) semi-cutting dalam penyimpanan
dingin. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 19(2), 104�110.
Darmawan, Dwi Putra.
(2011). Ketahanan pangan rumahtangga dalam konteks pertanian berkelanjutan.
Udayana University Press.
Hamid, Hendrawati.
(2018). Manajemen Pemberdayaan Masyarakat. De La Macca.
Herdini, Fitri Lesia,
& Masduki, Masduki. (2021). Pengembangan Penanganan Pascapanen melalui
Kelembagaan Pertanian sebagai Upaya Pembangunan Pertanian dan Pedesaan. Buletin
Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa, 1(1), 32�37.
https://doi.org/10.21107/bpmd.v1i1.12023
Indraswati, Denok.
(2017). Pengemasan makanan. Forum Ilmiah Kesehatan: Jakarta.
Kusumaningtyas, Ratna
Dewi, Oktafiani, Oktafiani, Hartanto, Dhoni, Handayani, Prima Astuti, &
Muhammad, Dimas Rahadian Aji. (2016). Pembuatan Pupuk Organo-Mineral Fertilizer
(OMF) Padat dari Limbah Industri Bioetanol (Vinasse). Jurnal Bahan Alam
Terbarukan, 4(2), 46�54.
Prusky, Dov, Fuchs,
Yoram, Kobiler, Ilana, Roth, Ilana, Weksler, Asya, Shalom, Yavin, Fallik,
Elazar, Zauberman, Giora, Pesis, Edna, & Akerman, Miriam. (1999). Effect of
hot water brushing, prochloraz treatment and waxing on the incidence of black
spot decay caused by Alternaria alternata in mango fruits. Postharvest
Biology and Technology, 15(2), 165�174.
Soesanto, Ir Loekas.
(2006). Penyakit Pascapanen: Sebuah Pengantar. Kanisius.
Sumar�in, Sumar�in.
(2019). PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMI WILAYAH MENUJU DESA MANDIRI STUDI PADA
SUMBER HARAPAN KABUPATEN SAMBAS. Cross-Border: Jurnal Kajian Perbatasan
Antarnegara, Diplomasi Dan Hubungan Internasional, 2(2), 110�137.
Umanailo, M. Chairul
Basrun. (2017). Marginalisasi Buruh Tani Akibat Alih Fungsi Lahan.
Winarso, Bambang.
(2013). Kebijakan pengembangan komoditas tanaman pangan dalam mendukung program
master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI)
studi kasus di Propinsi Gorontalo. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan, 13(2).
Yasrizal, Yasrizal.
(2016). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN NELAYAN DI KABUPATEN ACEH
SELATAN (STUDI KASUS DI DESA SAWANG BA�U). JURNAL PERIKANAN TROPIS, 3(2).
https://doi.org/10.35308/jpt.v3i2.49