Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan terhadap Perkembangan Anak Disabilitas Usia Sekolah Dasar Studi: Photovoice

 

Barbara Leto Tukan1, Mernon Yerlinda Carlista Mage2, Shela Christine Pello3

Universitas Nusa Cendana, Indonesia

1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

Abstrak:

Keterlibatan orang tua yaitu ayah dan ibu memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengasuh anak khususnya mengasuh anak dengan disabilitas yang memerlukan penaganan khsusus. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2017, keterlibatan ayah dalam pengasuhan secara langsung masih terkategori rendah yaitu berada pada kisaran 26,7%. Penelitian yang menyorot peran ayah dalam perawatan anak dengan disabilitas masih sangat sedikit. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap perkembangan anak disabilitas usia sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain Photovoice dan data dikumpulkan melalui wawancara dan DKT (Diskusi Kelompok Terarah). Partisipan dalam penelitian berjumlah 5 orang. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa keterlibatan ayah dalam perkembangan meliputi perkembangan fisik, kognitif, dan social emosional. Adapun kendala keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak yaitu meliputi dari segi waktu dan pengendalian emosi selain itu ada harapan ayah untuk anak dan untuk ayah sendiri. Oleh karena itu, peran ayah sangat penting dalam merawat anak dengan disabilitas dan tentunya dengan cara yang berbeda beda.

 

Kata kunci: Keterlibatan ayah, Pengasuhan, Perkembangan anak, Anak disabilitas, Usia sekolah dasar, Metode photovoice

 

Abstract:

The involvement of parents, namely fathers and mothers, has the same responsibility in caring for children, especially caring for children with disabilities who require special care. According to data from the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) in 2017, the involvement of fathers in direct care is still categorized as low, which is in the range of 26.7%. There are very few studies that highlight the role of fathers in the care of children with disabilities. Therefore, this study aims to describe the involvement of fathers in caring for the development of children with disabilities of elementary school age. This study used a qualitative method with a Photovoice design and data collected through interviews and focus group discussions. The participants in the study amounted to 5 people. The results of this study indicate that father's involvement in development includes physical, cognitive, and social emotional development. The obstacles to father's involvement in childcare include time and emotional control, besides that there are expectations of the father for the child and for the father himself. Therefore, the role of fathers is very important in caring for children with disabilities and of course in different ways.

 

Keywords: Father involvement, Parenting, Child development, Children with disabilities, Primary school age, Photovoice method

Corresponding: Barbara Leto Tukan

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Peningkatan perkembangan anak dipengaruhi oleh Pengasuhan ibu dan keterlibatan ayah (Aritonang et al., 2020). Keterlibatan orangtua yang intens pada anak memberikan dampak positif yaitu anak mampu mencapai perkembangan yang optimal, anak akan mempunyai pribadi dengan kualitas yang tinggi untuk mencapai masa depan yang lebih baik (Syofiah et al., 2020). Indonesia termasuk kedalam fatherless country' (negara yang kurang peran ayah). Kurangnya peran ayah dalam hal ini bukan dalam wujud biologis atau fisik, tetapi kekurangnya perhatian secara psikologis di mata anak-anak, seperti kebutuhan kasih sayang, perhatian, empati dan kebutuhan quality time bersama dengan ayah (FIRDAUS, 2017). Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2017, keterlibatan ayah dalam pengasuhan secara langsung masih terkategori rendah yaitu berada pada kisaran 26,2 persen. Manfaat keterlibatan ayah pada pengasuhan berpengaruh terhadap perkembangan intelektual, emosional, psikologis, social dan kesehatan pada anak (Aryanti, 2017). Anak yang mendapatkan perhatian dari ayah akan berdampak pada kematangan social pada anak. Keikutsertaan ayah dalam pengasuhan pada anak dapat memberikan dampak yang positif bagi perkembangan anak. Dampak lain yang ditemukan ketika adanya perhatian dari ayah yaitu anak akan merasa puas pada kehidupannya, memiliki emosi yang stabil dan mampu berempati dengan orang lain (Roslita et al., 2022).

Pengasuhan adalah pola perilaku dalam menjalin hubungan dengan anaknya untuk membentuk karakter anak. Banyak cara pengasuhan yang dilakukan orang tua dalam memebentuk karakter anak, gaya pengasuhan orang tua diantaranya otoriter, permisif dan demokratis (Karomah & Widiyono, 2022).

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak pada perspektif psikologi disebut sebagai father involvement yang didefinisikan sebagai keterlibatan seorang ayah dalam melakukan tugas-tugas pengasuhan serta memberikan dukungan emosional, psikologis, dan mampu membimbing anak-anaknya untuk melalui tugas setiap tahapan perkembangan dengan baik (Usmarni, 2017).

Lamb et al. (dalam Wahyuningrum, 2011; Abdullah, 2009) mengemukakan bentuk bentuk keterlibatan ayah dalam pengasuhan meliputi :

  1.         Paternal Engagement yaitu pengalaman ayah berinteraksi langsung dan melakukan aktivitas bersama misalnya bermain-main, meluangkan waktu bersama, dan seterusnya.

  2.         Paternal Accessibility yaitu kehadiran dan kesediaan ayah untuk anak. Orangtua ada di dekat anak tetapi tidak berinteraksi secara langsung dengan anak.

  3.         Paternal Responsibility yaitu sejauh mana ayah memahami dan memenuhi kebutuhan anak, termasuk memberikan nafkah dan merencanakan masa depan anak.

Menurut Undang-Undang Hak Asasi Manusia No. 39 Tahun 1999 penyandang disabilitas merupakan kelompok rentan berhak mendapatkan perlakuan dan berhak mendapatkan perlindungan yang lebih besar terkait dengan kekhususan.Difabel / diffable (differently abled) adalah seseorang yang mengalami kecacatan yang menyebabkan fungsional, batasan dalam melakukan aktivitas, atau kecacatan sosial (Chhabra, 2016).

keterlibatan orangtua dalam pengasuhan anak penting agar anak tumbuh optimal (Permono, 2013). Ayah sebagai kepala keluarga selain bertugas mencari nafkah juga harus terlibat dalam pengasuhan anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mendeskripsikan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak khususunya anak disablilitas usia sekolah dasar.

Penelitian ini menawarkan beberapa kontribusi baru yang signifikan dalam pemahaman keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak disabilitas usia sekolah dasar. Salah satu aspek unik dari penelitian ini adalah penggunaan teknik Photovoice, yang memberikan perspektif visual mendalam mengenai keterlibatan ayah. Teknik ini jarang digunakan dalam penelitian terkait peran ayah, sehingga menambahkan dimensi baru yang lebih personal dan langsung dari sudut pandang para ayah. Selain itu, fokus penelitian pada anak disabilitas usia sekolah dasar menyoroti fase perkembangan kritis yang masih kurang dieksplorasi dalam literatur. Metodologi analisis tematik yang digunakan untuk mengidentifikasi pola-pola keterlibatan ayah memberikan wawasan yang kaya mengenai berbagai aspek keterlibatan ayah, termasuk aspek fisik, kognitif, dan sosio-emosional. Penelitian ini juga memberikan kontribusi penting dalam konteks budaya Indonesia, di mana peran ayah dalam pengasuhan sering kali minimal. Dengan mengidentifikasi kendala yang dihadapi serta harapan ayah, penelitian ini menyediakan informasi penting untuk merancang intervensi yang lebih efektif. Keterlibatan langsung ayah sebagai partisipan dalam penelitian melalui Photovoice dan wawancara juga memperkuat validitas temuan dengan menyediakan data yang autentik. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi baru yang berarti dalam literatur tentang peran ayah dalam pengasuhan anak disabilitas, khususnya di konteks budaya Indonesia.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bersifat kualitatif, partisipan yang terlibat dalam penelitian ini yaitu orang tua anak dengan disabilitas usia sekolah dasar. Kriteria umum dari subjek penelitian yang layak dijadikan sebagai partisipan penelitian yaitu:

  1.         Ayah yang memiliki dan merawat anak dengan disabilitas usia sekolah dasar.

  2.         Ayah yang menyatakan bersedia berpartisipasi dalam penelitian dibuktikan dengan menandatangani surat pernyataan persetujuan penelitian (informed consent).

  3.         Ayah yang memiliki anak yang bersekolah SDLB Negeri 1 Bajawa.

Penelitian ini menggunakan Teknik pengumpulan data berupa teknik photovoice menurut wang (1999) Photovoice dapat didefinisikan sebagai sebuah teknik pengambilan foto/gambar dengan cara memotret baik tentang diri, komunitas maupun fenomena yang ada di masyarakat, yang kemudian didiskusikan sehingga memungkinkan orang untuk merekam dan merefleksikan ketakutan dan kekhawatiran.

Pada penerapan teknik photovice ada beberapa tahapan yang dilewati, yakni sebagai berikut:

1. Tahap pengambilan foto

Tahapan pertama dalam teknik photovoice adalah tahap pengambilan foto oleh partisipan. Partisipan diminta untuk mengambil foto yang dapat menggambarkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap perkembangan anak disabilitas. Foto diambil dengan menggunakan kamera telepon seluler yang dimiliki oleh partisipan sendiri. Sebelum partisipan mengambil foto, partisipan telah terlebih dahulu diberi penjelasan oleh peneliti mengenai cara pengambilan foto tersebut, sehingga partisipan dapat memahami tujuan dari pengambilan foto. Setelah diberikan penjelasan dan partisipan setuju untuk terlibat dalam penelitian, maka partisipan diminta menandatangani informed consent.

2. Wawancara

Pada penelitian ini, setelah partisipan mengambil foto, partisipan kemudian masuk ke dalam proses wawancara mengenai foto tersebut. Menurut Sugiyono (2016), wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Wawancara yang dilakukan bersifat semi terstruktur, artinya bahwa wawancara tidak secara kaku berpedoman pada panduan wawancara, tetapi berkembang sejalan dengan jawaban yang diberikan partisipan. Hal utama yang ditanyakan dalam penelitian ini adalah �silahkan anda ceritakan makna dari foto ini�. Wawancara direkam menggunakan handphone peneliti.

 

 

3. Diskusi Kelompok Terarah (DKT)

Pada penelitian ini, setelah partisipan melalui proses wawancara, selanjutnya seluruh partisipan dikumpulkan bersama untuk melakukan DKT yang difasilitasi oleh peneliti. Proses DKT berpanduan pada teknik DKT yang disarankan Wang (1999) yang disebut dengan SHOWED. SHOWED merupakan kumpulan pertanyaan utama yang disarankan oleh Wang sebagai panduan dalam melakukan DKT. SHOWED sendiri merupakan singkatan dari pertanyaan-pertanyaan itu sendiri, yakni: What do you See here, what�s really Happening here, how does this relate to Our lives, Why does this problem exist, how could this image Educate the community, what can we Do to improve the situation. Pada teknik ini dalam proses Diskusi Kelompok Terarah partisipan memilih satu foto yang dianggap paling signifikan dalam menggambarkan pengalaman partisipan, kemudian proses diskusi berfokus pada pertanyaan utama yang diadaptasi dari Teknik SHOWED yakni : �apa yang ada dalam foto tersebut?�, �apa maksud dari foto tersebut?�, �bagaimana kaitan foto tersebut dengan kehidupan anda?�, �mengapa kejadian tersebut dapat terjadi?, �Apa yang dapat dilakukan mengenai kejadian tersebut� dan �apa pesan yang dapat dipelajari?� Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model analisis tematik. Analisis tematik adalah jenis analisis data yang bertujuan untuk mengidentifikasi pola atau menemukan tema dengan menggunakan data yang dikumpulkan oleh peneliti.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data diperoleh melalui hasil wawancara dan analisis yang dilakukan oleh peneliti melalui analisis secara tematik. Analisis diawali dengan mengelompokkan data-data yang telah terkumpul ke dalam tiga tema utama. Tiga tema utama ini yakni, keterlibatan ayah dalam pengasuhan perkembangan, kendala dalam pengasuhan, dan harapan ayah. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah suatu partisipasi aktif ayah secara terus menerus dalam pengasuhan anak yang mengandung aspek frekuensi, inisiatif, dan pemberdayaan pribadi dalam dimensi fisik, kognisi, dan afeksi. Kendala dalam keterlibatan ayah dalam pengasuhan termasuk diantaranya kebijakan tempat kerja (misalnya: jam orangtua berangkat, fleksibilitas jadwal kerja). Semakin banyak jam kerja ayah, keterlibatan bersama anak juga berkurang (Wahyuni et al., 2021). Harapan ayah dalam mendukung terwujudnya keberhasilan anak harus dimulai dari keterlibatan ayah itu sendiri (Kiling-Bunga et al., 2017). Tema-tema tersebut terdiri dari beberapa sub tema yang menjadi bagian dari tema besar tersebut. Hasil penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Pohon Tema dan Subtema

Keterangan:

����������������������������

:Tema Utama

 

 


:Sub Tema

 

 

Keterlibatan ayah dalam perkembangan

Partisipan menjelaskan bahwa terdapat beberapa aspek yang berkaitan dengan keterlibatan ayah dalam perkembangan meliputi perkembangan fisik, kognitif dan sosial emosional.

a.      Fisik

Perkembangan fisik adalah perkembangan yang berkaitan dengan tinggi dan berat, serta bentuk tubuh, juga perkembangan otak.Seorang ayah yang terlibat akan melakukan kontak-kontak fisik dengan anaknya baik dalam bentuk sentuhan, ataupun dalam permainan. Partisipan BM, ARB, dan DN, menyampaikan bahwa untuk mencari tahu potensi dalam diri anak harus sering melatih dengan kegiatan yang bermanfaat.BM menyampaikan dengan mencoba menggali potensi anak dengan mengenalkan bola.


Foto 1 Oleh Partisipan BM. Melakukan interaksi langsung

dengan bermain bola bersama anak

�anak saya kan laki-laki jadi saya ingin bisa seperti anak-anak pada umumnya, nah laki-laki pada umumnya suka bermain bola dan kebetulan saya juga hobby bermain bola jadi saya coba keseringan untuk latih dia main bola coba kenalkan dengan bola ini juga salah satu cara untuk menggali potensi dalam dirinya� (WWC BM, COD 11-23).


Partisipan ARB juga menyatakan keterlibatan ayah meliputi salah satunya menyuapi anak makan.

Foto 2 Oleh partisipan ARB Sedang menyuapi anak

�Biasanya kalau sedang makan dan tiba-tiba difoto itu anak senang dan semangat kadang juga kalau sementara menyuapi makan sa(saya) kadang bermain seperti puji sambil tos dengan anak �(WWC ARB, COD 11-25.


Disamping itu, DN mengungkapkan dalam keterlibatan ayah itu sendiri harus menumbuhkan sikap tanggung jawab pada anak. Menurut DN dengan menumbuhkan sikap yang bertanggung jawab, seseorang akan dipercaya, dihormati dan dihargai serta disenangi oleh orang lain.

Foto 3. Oleh Partisipan DN Mengajari anak sikap Tanggung jawab

�kenapa saya foto dia pada saat lagi bersih-bersih nah itu supaya saya bisa melatih dia rasa tanggung jawab. nah tanggung jawab itu dimana?berawal dari dia setelah makan kemudian pada saat makanan berserakan. Jadi, saya mengajarkan dia tanggung jawab kalau seperti ini kau harus sapu kau harus ini harus bersihkan sendiri� (WWC DN, COD 42-55)

b.      Kognitif

Ayah berperan sebagai pendidik, motivator dan fasilitator dalam perkembangan anak. LD menyampaikan anaknya suka sekali dengan belajar hal ini mendorongnya untuk membimbing anaknya sehingga bisa sukses di masa depan.


Foto 4 Oleh Partisipan LD mendampingi anak belajar bersama istri.

�makna dari foto ini istri bersama anak yang sedang belajar. Nah dia kan kalau belajar itu agak susah. Setiap malam saya dan istri selalu gantian untuk mendampingi belajar seperti menulis karena anak saya suka tertarik dengan belajar� (WWC LD, COD 9-18).

Hal serupa juga diungkapkan oleh JR pendampingan belajar adalah salah satu bentuk peran ayah dalam membantu perkembangan kognitif anak.


Foto 5 Oleh partisipan JR, mendampingi anak

Mengerjakan tugas sekolah

�makna dari foto itu yaa keterlibatan saya dimana saat itu anak ada dapat tugas dari sekolah tugas matematika yaitu ada arsir gambar kasih terang nah itu saya bimbing dia untuk kerja�. (WWC JR, COD 10-17).

Disamping itu, partisipan ARB menceritakan pengalamannya sering membawa anak pergi ke pantai tujuannya rekreasi sambil belajar menghitung dengan menggunakan keong-keong yang ada di pantai. Lebih lanjut lagi ARB menjelaskan sebagai berikut:

�kemudian untuk melatih kemampuan belajar ya kadang saya melatih menghitung biasanya kumpul keong-keong dari laut�. (WWC ARB, COD 59-64)

 

c.       Sosio-emosional


Selain fisik dan kognitif ada perkembangan sosio-emosional dimana perkembangan sosial emosional merupakan proses anak belajar beradaptasi untuk memahami situasi dan emosi dalam berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya, mendengarkan, mengamati dan meniru apa yang dilihat (Hamzah, 2020). DN menyatakan ketika diajarkan sesuatu anak pasti meniru dan secara tidak langsung itu menumbuhkan rasa kepedulian. Hal ini dinyatakan DN (lihat foto 5) DN menjelaskan sebagai berikut:

Foto 5 Oleh partisipan DN. Anak meniru aktivitas orang

sekitar serta imgin mengajarkan anak sikap empati.

�sebenarnya lebih ke ini ee.. aah.. apa namanya rasa peduli saya mau ajarkan ke dia itu rasa peduli jadi, kalau misalnya oh orang itu butuh bantuan tidak perlu orang minta tetapi dia melihat oh orang itu ada butuh bantuan jadi saya harus bantu misalkan saya sementara kerja. Tapi selama ini dia lakukan seperti itu ketika saya ada buat apa buat apa pasti dia tanya �bapa saya buat ini ee? Sa(saya) harus bantu ini bantu itu� kalau dia bisa buat saya bilang �bisa� tapi kalau tidak saya bilang �jangan� itu orang tua punya ini itu tidak bisa untuk anak-anak yang buat� (WWC DN, COD 57-81).

Partisipan ARB juga menceritakan pengalamannya yaitu ketika sedang menyuapi anak kadang mengapresiasi dengan memberikan contoh-contoh orang sukses dengan disabilitas tujuannya memberi semangat pada anak.ARB menjelaskan demikian:

�Selalu. biasanya saya memberikan contoh-contoh orang sukses di dunia ini adalah mereka anak disablitas. Saya bilang kamu bukan orang kedua atau ketiga tapi kamu orang pertama yang membangun dunia ini nah itu seperti Albert Einstein orang terkenal menemukan berbagai rumus kimia tetapi dia Autis kemudian Thomas Jefferson peneliti naskah proklamasi dan UUD AS sa (saya) bilang itu sampai sekarang digunakan dan dia itu seorang tuna daksa� (WWC ARB, COD 89-108 ).

Partisipan BM, DN, JR, dan LD juga menceritakan pengalaman yang serupa dengan ARB, dimana selalu memberikan apresiasi pada anaknya.

�Sering juga biasanya itu kalau kita minta sesuatu pasti bilang pintar, dia senang kalau kita tepuk tangan, sering bilang terima kasih (WWC BM, COD 70-75)

Hal serupa dijelaskan oleh DN:

�Selalu. artinya yang baru-baru ini mungkin dia sudah kelas 2 e setiap kali dia pulang �bapa saya dapat nilai seratus� itu saya �waduhh pintar �pasti selalu kita kasih pujian biar dia bisa semangat untuk dia mau sekolah� (WWC DN, COD 172-182)

Adapun LD dan JR juga berpikir hal yang sama lebih lanjut lagi dijelaskan sebagai berikut

�Selalu. misalnya bilang �aduh J makin pinter ee� (WWC LD, COD 65-66)

�Selalu. Misalnya�� kalau dia buat sesuatu apa kita bilang �wah pintar ee� Selalu kita prioritaskan karena mereka selalu butuh perhatian lebih dari kita.� (WWC JR, COD 52-57)

 

Kendala Keterlibatan Ayah

a.       Waktu

Kendala yang dihadapi orang tua dalam mengasuh anak adalah terkadang kurangnya waktu yang dimiliki akibat sibuk kerja di luar adapun sulitnya pengendalian emosi pada anak. Para partisipan sebagai ayah menceritakan kendala-kendala yang dirasakan selama mengasuh anak, seperti pernyataan dari LD (Fauziyah, 2022). LD merasa bahwa interaksinya bersama anak kurang dikarenakan pekerjaan. LD menjelaskan demikian:

�Jarang melakukan aktivitas bersama ya karena sada tuntutan pekerjaan namanya juga guide jadi saya lebih banyak di tempat wisata untuk memandu wisatawan� (WWC LD, COD 42-47)

Partisipan BM juga menceritakan pengalaman yang serupa dengan LD yang berkaitan kendala di waktu karena tuntutan pekerjaan yang tinggi sehingga jarang ada waktu interkasi dengan anak.

�saya juga kendalanya juga di waktu tempat kerja saya ini jauh dengan rumah sehingga saat pulang dalam keadaan yang sangat cape saya terkesan mengabaikan anak saya yang sedari pagi menunggu kepulangan saya untuk bermain tetapi karena saya cape jadi saya terkesan acuh tak acuh padahal sebenarnya saya ingin juga bermain dengan anak saya. Mungkin itu dari saya� (WWC DKT BM, COD 248-281)

Partisipan DN juga menyatakan bahwa waktu adalah hal yang menjadi kendalanya dalam mengurus anak. Hal ini dinyatakan oleh DN dalam forum diskusi kelompok terarah.

�kendalanya saya ini mungkin di waktu ya karena saya sendiri di rumah dengan 3 orang anak lalu istri saya sendiri pergi bekerja jadi guru.maka kadang hal berhubungan dengan anak saya seperti moodnya dia itu hanya bisa ditangani istri saya kebetulan dia lebih dekat dengan mamanya jadi kalau dia ingin sesuatu harus lewat mamanya nah kendala saya juga disitu sedangkan kalau mamanya dia pergi bekerja dan anak saya rewel maka saya akan kewalahan� (WWC DKT DN, COD 212-227)

 

b.      Pengendalian emosi

Pentingnya mengajarkan anak mengelola emosi,hal tersebut adalah hal yang sulit dilakukan beberapa orang tua dalam mengasuh anak seperti pernyataan dari ARB (Hidayah et al., 2019). ARB merasa bahwa ketika anak berada di situasi tidak nyaman anak cendrung tantrum hal inilah yang membuat ARB kewalahan dalam mengatasi emosi anak yang meledak-ledak.

�kalau dari saya, mungkin kendalanya itu tergantung dengan moodnya anak-anak jadi kalau mereka moodnya baik ya kita aman kalau moodnya jelek jadi terpaksa kita ikuti apa maunya dia kalau tidak nanti dia bisa tantrum�. (WWC DKT ARB, COD 265-271)

Disamping itu, DN berbagi pengalaman serupa dimana DN merasa bahwa ketika sedang mengurus anak tiba-tiba mood anak berubah yang dimana anak membutuhkan hiburan dan harus selalu dituruti keadaan itu yang menjadi kendala DN.

�waktu itu pernah saya lengah dan anak saya diam-diam keluar rumah menuju mamanya di sekolah tanpa sepengetahuan saya hanya untuk pergi bermain hp karena dirumah dia merasa dirumah tidak ada hal menarik atau tidak ada hiburan nah hiburan satu-satunya adalah hp mamanya. Ini menurut kata-katanya dia kalau dirumah tidak menarik lebih baik saya ke sekolah karena disekolah itu bisa nonton youtube ya karena itu� (WWC DKT DN, COD 228-242)

 

Harapan ayah

a.       Harapan untuk anak

Sebagai orang tua, tentunya mempunyai harapan terhadap anaknya agar menjadi anak yang bermanfaat untuk sesamanya walaupun dengan keterbatasan yang dimiliki (Lisanto et al., 2020). Orang tua mendidik anak agar bisa memiliki kesadaran untuk menjadi kebermanfaatan untuk orang di sekitarnya harus dilakukan sedini mungkin. Beberapa partisipan juga menyatakan bahwa memiliki harapan untuk anak-anaknya. LD mengungkapkan harapannya terhadap anak adalah agar anak memiliki peningkatan prestasi dalam belajarnya.

�Kami ingin dia menjadi lebih baik lagi dalam belajar dan ada peningkatan dalam belajar untuk masa depan yang lebih baik�. (WWC LD, COD 90-94)

Partisipan DN juga mengungkapkan harapanya pada anak agar nanti anak bisa hidup mandiri dan dapat hidup berdampingan dengan masyarakat

�ketika kita bawa dia berobat ke Bali, nah dokter sarankan dan sudah menjelaskan ke kita kalau anak ini anak lambat di akademik tetapi dia untuk yang lain-lain dia akan berjalan normal makanya saya yang bisa saya ajar ya seperti itu tadi kemandirian, tanggung jawab, kepedulian, intinya yang bisa saya ajar dia saya ajar dia yang penting yang masalah diluar akademik karena saya pikir kita realistis anak seperti ini artinya untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi agak sulit yaa palingan mentok-mentok sampai SMA istilahnya dia sudah ada ilmu sosial di masyarakat ketika dia sudah selesai SMA dia tidak lanjut kuliah nah dia bisa bergaul bisa adaptasi� (WWC DN, COD 93-122)

Hal serupa juga diungkapkan oleh ARB harapannya sebagai ayah adalah ingin anaknya bisa sukses di masa depan dimana dapat beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

�Kalau untuk rencana masa depan itu contoh mereka saya tetap upayakan itu contoh kalau misalkan mereka pulang sekolah setelah pulang itu ada ekstrakulikuler yang saya buat itu seperti ada keterampilan lalu latihan menari dan music. membantu pekerjaan rumah sehingga setelah mereka tamat SMA mereka sudah bisa mandiri bisa cari kerja sendiri� (WWC ARB, COD 138-152)

b.      Harapan untuk Ayah

Orang tua yang memiliki anak-anak spesial menciptakan kebahagiaannya sendiri dan percaya pada keajaiban yang tidak dilihat orang lain.DN mengatakan lebih berusaha dalam memenuhi kebutuhan anak dengan menambah fasilitas anak sehingga anak nyaman.

 

�Saya bersama mamanya K (anaknya) yaa namanya anak kecil kan butuh hiburan jadi ketika di rumah tidak ada sesuatu yang menurutnya menarik kalau misalnya kita ada rejeki kita bisa penuhi keinginannya misalnya hp untuk dia sendiri atau mungkin bisa istilahnya berusaha menambah fasilitas di rumah yang sekiranya bisa bikin dia betah di rumah lebih ke itu saja.� (WWC DKT DN, COD 282-294)

Keempat partisipan dalam penelitian ini mengatakan hal yang sama bahwa harus lebih memberikan perhatian dan waktu ekstra karena pasti dibalik kekurangan anaknya ini pasti ada sesuatu dalam dirinya itu yang perlu untuk dicari tahu dan itu butuh perhatian dari orang tua untuk mencari tahu kelebihan anak yang mana hal itu perlu didorong sehingga menjadi kekuatan.

 

Pembahasan

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap perkembangan anak disabilitas usia sekolah dasar. Seperti halnya pada saat dilakukan wawancara dan DKT beberapa partisipan mengatakan bahwa selalu ikut terlibat dalam pengasuhan anak. Dari data yang diperoleh, partisipan dalam penelitian terlibat dalam pengasuhan perkembangan anak. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak akan bermanfaat bagi kualitas perkembangan anak pada beberapa aspek diantaranya: perkembangan fisik, perkembangan kognitif, dan perkembangan sosial emosional. Selain itu tentunya ada kendala dalam keterlibatan yang mencakup waktu dan pengendalian emosi, adapun harapan ayah untuk anak dan untuk ayah lainnya. Berikut akan dibahas mengenai hasil penelitian.

Dari hasil wawancara partisipan ARB melakukan perawatan fisik terhadap anak dengan membersihkan anak, memberi makan anak, dan memandikannya. Sedangkan partisipan BM sering melakukan kegiatan fisik bermain bola bersama anak tujuannya untuk menggali potensi yang dimiliki anak.Hal ini sesuai dengan teori Doherty (dalam Astuti, 2016), bahwa keterlibatan adalah sejauh mana seorang ayah mengalamai kontak langsung dan berbagi dengan anak-anaknya dalam konteks perawatan, pengasuhan, bermain, dan aktivitas sehari-hari. Ayah yang aktif mengasuh dan memberikan kasih sayang, serta interaksi yang cukup dengan anak akan membuat anak merasa dekat dengan dengan ayahnya, sehingga anak merasa lebih sehat secara fisik dan mentalnya karena jiwanya terisi cukup oleh kehadiran ayah.

Keterlibatan ayah dapat menambah semangat belajar anak, hal ini�� dipaparkan Wijayanti (2020), dalam hasil penelitiannya bahwa ayah yang melibatkan diri dalam kegiatan pengasuhan dapat terjadi karena memang berkeinginan melakukan kegiatan bermain bersama anak. Menurut Santrock (dalam Melly Latifah, 2008), kognisi mengacu kepada aktivitas mental tentang bagaimana informasi masuk ke dalam pikiran, disimpan dan ditransformasi, serta dipanggil kembali dan digunakan dalam aktivitas kompleks seperti berpikir.

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan menunjukan partisipan LD dan JR memberikan peranan yang sama dalam pendidikan melalui mendampingi anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Menurut Barker (dalam Nafisah, 2022), keterlibatan ayah dalam sekolah, anak secara positif terkait langsung dengan membaca, matematika, dan pendekatan anak-anak untuk belajar partisipan yang menunjukkan pengasuhan�� secara�� langsung dengan memberikan peranan�� dalam�� bentuk�� pendidikan. Peranan pendidikan diberikan partisipan melalui mendampingi anak belajar membaca dan menulis serta menghitung.Hasil�� penelitian�� ini�� didukung oleh penelitian Potter (2017) yang berjudul �Father involvement in the care, play, and education of children with autism� bahwa ayah menghabiskan waktu bermain dan membantu anak belajar merupakan bentuk pengasuhan langsung yang banyak dilakukan seorang ayah.

Banyaknya ayah yang mendukung pendidikan anak-anaknya, terutama membantu pekerjaan rumah. Di dukung dengan hasil penelitian Paramati (2015), penelitian ini memperoleh hasil bahwa partisipan tersebut sudah berperan langsung dalam pengasuhan anak, sudah mampu membina kedekatan dengan anak dengan cara menemani anak bermain, mengawasi anak belajar, melatih anak untuk mandiri seperti makan, mandi, berpakaian ataupun toilet training. Keterlibatan ayah dapat menambah semangat belajar anak, perkembangan anak juga berdampak baik hal tersebut juga dipaparkan Wijayanti, Resti Mia (2020), dalam hasil penelitiannya bahwa ayah yang melibatkan diri dalam kegiatan pengasuhan dapat terjadi karena memang berkeinginan melakukan kegiatan bermain bersama anak.Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Sholikhah (2019), ayah merupakan peletak dasar kemampuan intelektual, kemampuan memecahkan masalah, dan hal-hal yang berkaitan dengan masalah kognitif anak. Sehingga dengan adanya peran ayah sejak usia dini maka kemampuan kognitif anak bisa dicapai secara optimal. Serta hubungan ayah-anak yang harmonis akan dapat membangkitkan motivasi anak untuk berprestasi.

Perkembangan sosial emosional menurut Akademi Pediatri Amerika (dalam Nurmalitasari, 2015) adalah kemampuan anak untuk memiliki pengetahuan dalam mengelola dan mengekspresikan emosi secara lengkap baik emosi positif, maupun negatif, mampu berinteraksi dengan anak lainnya atau orang dewasa disekitarnya, serta aktif belajar dengan mengeksplorasi lingkungan. Perkembangan sosial emosional adalah proses belajar menyesuaikan diri untuk memahami keadaan serta perasaan ketika berinteraksi dengan orang-orang di lingkungannya baik orang tua, saudara, teman sebaya dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran sosial emosional dilakukan dengan mendengar, mengamati dan meniru hal-hal yang dilihatnya. Berdasarkan wawancara Partisipan DN mengatakan bahwa ketika anak diajarkan sesuatu anak pasti meniru apa yang dilihat dan secara tidak langsung menumbuhkan rasa kepedulian. Patisipan DN juga mengajarkan perilaku social seperti empati, mandiri, dan tanggung jawab pada anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Dodge, dkk (dalam Maria, 2018), pada masa kanak-kanak awal perkembangan sosial emosional hanya seputar proses sosialisasi. Dimana anak belajar mengenai nilai-nilai dan perilaku yang diterimanya dari masyarakat.

Pada masa ini, terdapat tiga tujuan perkembangan sosial emosional. Pertama, mencapai pemahaman diri (sense of self) dan berhubungan dengan oranglain. Kedua, bertanggung jawab atas diri sendiri yang meliputi kemampuan mengikuti aturan dan rutinitas, menghargai orang lain, dan mengambil inisiatif. Ketiga, menampilkan perilaku sosial seperti empati, berbagi, dan mengantri dengan tertib. Selain itu ketika pengelolan emosi akan berdampak terhadap perilaku sosial di kehidupannya sehari-hari. Sehingga peran ayah disini sangat dibutuhkan dalam pengelolaan emosi tersebut. Melalui sentuhan saja sudah memberikan ketenangan terhadap anak, ketika anak tenang, nyaman, bahagia akan berdampak terhapat perkembangan emosi anak tersebut, begitu juga dengan pengaruh sosialnya.

Berdasarkan wawancara dan DKT partisipan LD, DN, dan ARB mengatakan bahwa harapan untuk anak agar berprestasi dalam belajar dan bisa mandiri sehingga bisa hidup berdampingan dengan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Lestari (2020), yang menjelaskan harapan utama orang tua terhadap anak adalah kelak anaknya akan sukses ketika dewasa nanti.

keterlibatan ayah dalam pengasuhan memberikan dampak positif bagi anak, mengingat cara pengasuhan ayah yang berbeda dengan ibu. Pengasuhan ayah lebih mendorong anak lebih berani, mendorong anak berinteraksi kepada orang lain, mandiri serta mengajarkan rasa tanggung jawab kepada anak.Penelitian Maisyarah, (2017) bagi anak ayah merupakan super hero karena ayah memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya dan keluarganya. Pengasuhan ayah lebih mendorong anak lebih berani, mendorong anak berinteraksi kepada orang lain, mandiri serta mengajarkan rasa tanggung jawab kepada anak.

Dari hasil wawancara menemukan bahwa DN dan 4 partisipan ayah lainnya menyampaikan harapan ayah untuk ayah yang lainnya adalah dengan berusaha memenuhi fasilitas untuk anak adalah hal yang penting. Pernyataan partisipan sesuai dengan pernyataan Handayani (2022), bahwa peran dari orang tua dapat menentukan keberhasilan seorang anak terutama jika orang tua dapat memenuhi semua fasilitas yang dibutuhkan anak dalam belajar.

Dari hasil wawancara dan DKT yang diperoleh, partisipan merasa harus lebih memberikan perhatian dan waktu ekstra untuk anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Haryanto (2020), memiliki anak berkebutuhan khusus membuat orang tua lebih ekstra dalam memberikan pengawasan, lebih sabar, dan harus memiliki banyak waktu dalam memberikan pola asuh karena anak berkebutuhan khusus memiliki hambatan dalam kemandirian sehingga perlu bantuan dari orang lain terutama orang tua untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Oleh karena itu, orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus punya tanggung jawab lebih dibandingkan dengan anak yang normal. Bentuk tanggung jawab orang tua meliputi memberi nasihat kepada anak ketika melakukan kesalahan, mengajarkan anak untuk mulai belajar mandiri dalam berkegiatan sehari-hari, dan memberikan kasih sayang yang cukup.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah diperoleh, hasil penelitian ini dibagi 3 tema yaitu: keterlibatan dalam perkembangan mencakup perkembangan fisik, perkembangan kognitif, dan perkembangan sosial emosional serta kendala dalam keterlibatan yang mencakup waktu dan pengendalian emosi, adapun harapan ayah untuk anak dan untuk ayah lainnya. Peran masing-masing partisipan dalam merawat anak dengan disabilitas juga berbeda-beda. Partisipan melakukan keterlibatan langsung dengan memberikan peranan dalam bentuk perawatan fisik, peranan pendidikan seperti mendampingi anak belajar, serta memberikan pembelajaran sosial-emosional dimana anak belajar mengenai nilai-nilai dan perilaku dalam lingkungan masyarakat. Kendala dalam keterlibatan langsung dalam pengasuhan anak bisa terjadi pada kondisi tertentu misalnya tuntutan pekerjaan yang tinggi sehingga berkurangnya waktu interkasi ayah bersama anak itu ada juga kendala ayah yang kesulitan mengendalikan emosi anak ketika sedang tantrum dan bosan ketika tidak bisa memenuhi keinginan anak.

Pandangan stereotype tentang peran gender yang dimiliki ayah, nampaknya memengaruhi ayah dalam menjalankan peran pengasuhan. Ayah merasa kurang nyaman dengan tugas-tugas yang dikonotasikan sebagai tugas perempuan. Meskipun demikian, ayah tetap melakukannya karena menyadari ada harapan yang ingin diraihnya yakni anak menjadi mandiri dan sukses di masa depan. Anak tidak hanya membutuhkan materi tetapi juga kebutuhan kasih sayang. Keberhasilan ayah dalam keterlibatan dalam pengasuhan anak akan berdampak positif pada sehingga anak akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, S. D., Hastuti, D., & Puspitawati, H. (2020). Pengasuhan ibu, keterlibatan ayah dalam pengasuhan, dan perkembangan kognitif anak usia 2-3 tahun di wilayah prevalensi stunting. Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen, 13(1), 38�48.

Aryanti, Y. (2017). Peran ayah dalam pengasuhan anak usia dini. Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa, 7(01), 21�24.

Chhabra, S. (2016). Differently Abled People and Their Life. Global J Med Clin Case Reports 3 (1): 001-004. DOI: 10.17352/2455, 5282(001).

Fauziyah, H. N. (2022). Dampak Pola Asuh Orang Tua dan Intensitas Penggunaan Gadget pada Anak Usia Sekolah Dasar (Studi Kasus di Dukuh Gelang Sukosari Babadan Ponorogo). IAIN Ponorogo.

FIRDAUS, D. (2017). Hubungan Antara Self-Efficacy Dengan Father Involvement Pada Ayah Yang Memiliki Anak Disabilitas Rungu Di Slb B Yakut Purwokerto Tahun Ajaran 2016/2017. Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Hamzah, N. (2020). Pengembangan sosial anak usia dini. IAIN Pontianak Press.

Hidayah, N., Tarnoto, N., & Maharani, E. A. (2019). Profil Kebutuhan Pengasuhan Anak pada Pasangan Muda. Jurnal Ilmu Perilaku, 2(2), 89�106.

Karomah, Y. S., & Widiyono, A. (2022). Hubungan pola asuh orang tua terhadap kecerdasan emosional siswa. SELING: Jurnal Program Studi PGRA, 8(1), 54�60.

Kiling-Bunga, B. N., Tafuli, Y. K. E., Thoomaszen, F. W., & Kiling, I. Y. (2017). Persepsi lurah tentang keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak usia dini. JIV-Jurnal Ilmiah Visi, 12(1), 9�18.

Lisanto, A., Andajani, S. J., & Wahyudi, A. (2020). Persepsi Anak terhadap Pola Asuh Orangtua Tunanetra. Jurnal Ortopedagogia, 6(1), 50�61.

Permono, H. (2013). Peran orangtua dalam optimalisasi tumbuh kembang anak untuk membangun karakter anak usia dini.

Roslita, R., Utami, A., & Permanasari, I. (2022). Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Pada Remaja. Al-Asalmiya Nursing: Jurnal Ilmu Keperawatan (Journal of Nursing Sciences), 11(1).

Syofiah, P. N., Machmud, R., & Yantri, E. (2020). Analisis pelaksanaan program stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang (sdidtk) balita di Puskesmas Kota Padang Tahun 2018. Jurnal Kesehatan Andalas, 8(4).

Usmarni, L. (2017). Perbedaan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak pada etnis minang ditinjau dari tingkat pendapatan. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang), 5(1), 43�52.

Wahyuni, A., Siregar, S. D., & Wahyuningsih, R. (2021). Peran ayah (fathering) dalam pengasuhan anak usia dini. AL IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 2(2), 55�66.