Analisis Quality of Service
Jaringan Internet pada Bts Perangkat Ericsson Provider Indosat (Studi Kasus:
Bts Indosat)
Herin Dafa Rizqi1,
Budi Tjahjono2
Universitas Esa Unggul, Indonesia
1[email protected],
2[email protected]
Teknologi
Informasi dan Komunikasi terus mengalami perkembangan. Permasalahan yang sering
dialami oleh pengguna Indosat antara lain jaringan internet yang tiba-tiba
melambat karena gangguan pada jaringan internet yang tersedia, komunikasi
terhenti karena lag, dan jaringan internet tiba-tiba menghilang.� Tujuan peneliti ini adalah untuk
pemasangan perangkat jaringan indosat dan untuk mengetahui kualitas kecepatan
jaringan internet di daerah Cengkareng secara real-time. Quality of
Service (QoS) merupakan metode untuk menghitung dan menganalisis data yang menguji
kemampuan jaringan dalam menyediakan informasi tentang kualitas jaringan yang
baik. QoS memberikan informasi mengenai nilai throughput, packet loss, delay,
dan jitter. Teknik
pengumpulan menggunakan metode kuantitatif yaitu data primer yang diambil dari
software Wireshark untuk mendapatkan informasi tentang paket data yang melintasi jaringan, software wireshark
dan moshel peneliti gunakan sebagai alat pemecahan masalah. Hasil dari
penelitian ini dimaksud untuk pemasangan perangkat jaringan indosat dan
untuk mengetahui kualitas kecepatan jaringan internet di daerah Cengkareng
secara real-time. Berdasarkan perhitungan yang telah peneliti lakukan
pada 3 kali pengujian pertama mendapatkan rata-rata indeks 2 (Sedang), Adapun
pengujian setelah dilakukan troubleshoot perangkat BTS dan Optimalisasi
Antena RF mendapatkan rata-rata indeks yang lebih baik yaitu 3,3 (Bagus).
Kata kunci: Base
Transceiver Station, Quality of Services , Packetloss , Delay , Jitter ,
Throughput, TIPHON
Abstract:
Information and Communication Technology continues to evolve.
Problems that are often experienced by Indosat users include internet networks
that suddenly slow down due to interference with the available internet
network, communication stops due to lag, and internet networks suddenly
disappear.� The purpose of this research
is to install Indosat network devices and to determine the quality of internet
network speed in the Cengkareng area in real-time. Quality of Service (QoS) is
a method for calculating and analyzing data that tests the network's ability to
provide information about good network quality. QoS provides information about
the value of throughput, packet loss, delay, and jitter. The collection
technique uses quantitative methods, namely primary data taken from Wireshark
software to obtain information about data packets crossing the network, wireshark
software and moshel researchers use as problem solving tools. The results of
this study are intended for the installation of indosat network devices and to
determine the quality of internet network speeds in the Cengkareng area in
real-time. Based on the calculations that researchers have done in the first 3
tests, the average index is 2 (Medium), the test after troubleshooting the BTS
device and Optimizing the RF Antenna gets a better average index of 3.3 (Good).
Keywords: Base
Transceiver Station, Quality of Services , Packetloss , Delay , Jitter ,
Throughput, TIPHON
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Saat ini perkembangan teknologi�
informasi sangatlah�� pesat�� dan��
cepat�� termasuk�� di Indonesia sendiri (Farhatun Nisaul Ahadiyah, 2023). teknologi informasi (TI) adalah suatu studi
perancangan, implementasi, pengembangan, dukungan, atau manajemen sistem
informasi berbasis komputer, khususnya perangkat keras (hardware) dan perangkat
lunak (software). TI memanfaatkan komputer elektronik dan perangkat lunak
komputer untuk mengubah, menyimpan, memproses, melindungi, mentransmisikan, dan
memperoleh informasi secara aman. Teknologi Informasi dan Komunikasi ini terus
mengalami perkembangan (Wiryany et al., 2022). Jaringan internet menjadi
salah satu media
elektronik yang paling
efisien dalam menyampaikan
informasi karena penggunaannya
yang semakin banyak (Manajemen, n.d.). di dunia telekomunikasi manfaatnya yaitu memudahkan kita
berhubungan dengan orang lain hanya dengan menggunakan telepon (Bimantoro et al., 2021). Hadirnya internet sebagai sebuah
infrastruktur dan jaringan telah menunjang efektifitas dan efisiensi
operasional sebuah perusahaan, terutama peranannya sebagai sarana publikasi,
komunikasi, serta sarana untuk mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan (Alcianno, 2020).
Base
Transceiver Station adalah sebuah perangkat yang
berfungsi menghubungkan atau menjembatani perangkat komunikasi jaringan
pengguna seluler menuju jaringan internet (Emasriani & Rahmadewi, 2021). BTS
mengirimkan dan menerima sinyal radio ke perangkat mobile dan mengkonversi
sinyal sinyal tersebut menjadi sinyal digital untuk selanjutnya dikirim ke
terminal lainnya untuk proses sirkulasi pesan atau data (Komputer, 2013). Indosat
menghasilkan jaringan internet ada beberapa perangkat pendukung yang dibutuhkan
indosat sebagai operator cellular disetiap
Tower BTS yang dimiliki, dalam hal ini kita mengacu pada perangkat Ericsson. Antara
lain seperti , Antena RF, Remote
Radio Unit (RRU), Module Baseband (Rizkyanto et al., n.d.). Setiap
penggunaan Moshell Berdasarkan Command yang sudah terdapat System
Perangkat Ericsson. Dengan melakukan analisis
jaringan, dapat disimpulkan
apakah jaringan di
daerah BTS tersebut. Baik atau tidak sehingga indosat dapat
memberikan layanan yang
lebih baik kepada
penggunanya (Merangin, 2019).
Quality
Of Service Merupakan metode perhitungan dan analisis
data yang menguji kemampuan jaringan untuk memberikan informasi tentang
kualitas jaringan yang baik Dengan memberikan informasi nilai dari throughput,
packet loss, delay, dan jitter (Kamil et al., 2023). Selain
itu, Quality of Service juga digunakan untuk menyatakan dampak
keseluruhan kualitas layanan internet keseluruhan (Lte et al., 2022).
Menggunakan standar TIPHON (Telecommunications and Internet Protocol
Harmonization Over Network) (Utami, 2020). TIPHON
merupakan standar penilaian parameter Quality of service �yang dikeluarkan oleh badan standar ETSI (European
Telecommunications Standards Institue) (Putra et al., 2021). Dalam
penelitian ini, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kualitas layanan baik
atau buruk (Makkatang & Nugroho, 2019), Bila
kualitas layanan buruk kami akan mem-maksimalkan supaya menjadi layanan baik
dengan dilakukannya troubleshooting pada perangkat dan optimalisasi
antena Rf terhadap kualitas layanan Indosat (Wulandari & Supriyanto, 2020).
Berdasarkan
pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa pengujian QOS menggunakan parameter
yaitu packetloss, delay, jitter dan throughput. terdapat beberapa faktor
yang memengaruhi kualitas layanan baik atau buruk, Bila kualitas layanan buruk
kami akan mem-maksimalkan supaya menjadi layanan baik dengan dilakukannya
troubleshooting pada perangkat dan optimalisasi antena Rf terhadap kualitas
layanan Indosat. Tujuan peneliti ini adalah untuk pemasangan perangkat jaringan
indosat dan untuk mengetahui kualitas kecepatan jaringan internet di daerah
Cengkareng secara real-time.
METODE PENELITIAN
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Quality of service, yang
nantinya jaringan internet akan di lakukan pengujian supaya mengetahui nilai
packetloss, delay, jitter dan throughput. Penelitian yang penulis
melakukan di BTS indosat yang masih merupakan wilayah Cengkareng Jakarta barat,
penelitian ini dilaksanakan pada 8 Maret 2024 � 27 Maret 2024. Dalam peneliti
tersebut penggunaan Teknik pengumpulan menggunakan teknik kuantitatif yaitu
data primer yang diambil dari software Wireshark untuk mendapatkan informasi
tentang paket data yang melintasi jaringan, menganalisis kinerja jaringan,
mendapatkan informasi seperti data, dan membaca data secara langsung, dan dibantu
juga dengan software moshell untuk konfigurasi dan monitoring module baseband
control unit (BCU).
Gambar 1 Teknik Proses Pengumpulan
1.
Membuat rencana untuk proses Analisa
jaringan
Peneliti Dengan menggunakan standar TIPHON
QOS, membuat rencana untuk melakukan analisis kualitas jaringan internet.
2.
Melakukan tindakan untuk proses
Analisa� jaringan
Peneliti melakukan Tindakan untuk mendapatkan
hasil dalam pengujian dengan maksud meminimalisir dan mengetahui gangguan
jaringan secara dini sehingga jaringan internet dapat selalu dalam peforma yang
maksimal Menggunakan standar parameter Quality Of Service.
3.
Melakukan evaluasi untuk proses
Analisa jaringan
Peneliti melakukan evaluasi dari hasil
pengujian kualitas jaringan berdasarkan standar parameter Quality of service.
Dimana data yang dihasilkan setelah dihitung dengan rumus parameter termasuk
kedalam kategori bagus atau buruk. Dan apabila mendapatkan hasil yang buruk
peneliti akan mengecek dan memonitoring BTS secara berkala.
Pada tahap
ini, Langkah-langkah yang dilakukan mencakup identifikasi lingkup proses bisnis
dan data.
Gambar 2
Flowchart Pengujian
Survey
lokasi merupakan tahapan awal yang sangat penting dalam merencanakan sesuatu
kegiatan,Survey lokasi tersebut dapat mengetahui letak untuk dilakukannya
pemasangan perangkat BTS indosat seperti Antena RF, Remote Radio Unit (RRU),
Module Baseband Control Unit.
Pemasangan
Perangkat mempunyai standard pemasangan dimana tidak sembarangan pemasangan,
dan berbeda-beda disetiap tower BTS indosat, dengan adanya standar pemasangan
membuat perangkat lebih tepat dan maksimal memancarkan signal kepada pelanggan.
Konfigurasi
Module Baseband Control Unit (BBU)
1.
Upload Script
Baseband File
Pada masing-masing
BTS memiliki Script yang berbeda-beda, link yang akan diakses https://169.254.2.2/autointegration.html
2.
Konfigurasi
addressing pemberian IP address pada Baseband
Konfigurasi ini peneliti
melakukan kordinasi dengan SPV (supervisor lapangan) untuk dapat setting IP
address agar bisa saling terhubung dengan internet.
3.
Memonitoring BTS
Melakukan pengecekan apakah ada Troubleshoot
Alarm ,Module BBU secara berkala.
Pada tahap
ini peneliti akan Optimalisasi Antena RF Bila Hasil packetloss, delay, jitter
dan throughput Buruk. Peneliti akan mengubah derajat kemiringan dan azimuth
sangatlah membantu Jangkauan Coverage Sinyal mengarah kepada pengguna
yang padat area untuk mendapatkan layanan Jaringan indosat. Semakin besar
derajat mechanical, maka antenna semakin mengarah menunduk dapat
menyebabkan coverage pada main lobe berkurang, sedangkan
pada sisi side lobe akan melebar.
Quality Of Service
Merupakan metode perhitungan dan analisis data yang menguji kemampuan jaringan
untuk memberikan informasi tentang kualitas jaringan yang baik. Dengan
memberikan informasi nilai dari throughput, packet loss, delay, dan jitter(Kamil et al., 2023).
Peneliti Menggunakan standar TIPHON (Telecommunications
and Internet Protocol Harmonization Over Network)(Utami, 2020) merupakan
standar penilaian parameter Quality of service�
yang dikeluarkan oleh badan standar ETSI (European Telecommunications
Standards Institue)(Putra et al., 2021).
1.
Packetloss,
Kegagalan transmisi paket data yang mengakibatkan ketidak mampuan mencapai
tujuan(Putra et al., 2021).
Table 1 Standar Packetloss (TIPHON)
|
Kategori
Packetloss |
Packetloss
(%) |
Indeks |
|
Sangat
bagus |
<3 |
4 |
|
Bagus |
3%-15 |
3 |
|
Sedang |
15%-25 |
2 |
|
Buruk |
>25 |
1 |
Persamaan
perhitungan Packetloss(M et al., 2020) :
� �
2.
Delay (Latency), Waktu yang dibutuhkan oleh sebuah paket
data terhitung dari saat pengiriman sampai saat diterima(Purwahid & Triloka, 2019).
Table 2 Standar Delay (TIPHON)
|
Kategori Delay (Latency) |
Besar
Delay (ms) |
Indeks |
|
Sangat
bagus |
<150 |
4 |
|
Bagus |
150-300 |
3 |
|
Sedang |
300-450 |
2 |
|
Buruk |
>450 |
1 |
Persamaan perhitungan Delay(Nur et al., 2023) :
3.
Jitter variasi delay, Perbedaan selang waktu
kedatangan paket data ke terminal tujuan(Aprianto Budiman et al., 2020).
Table
3 Standar Jitter (TIPHON)
|
Kategori Jitter |
Jitter (ms) |
Indeks |
|
Sangat Bagus |
0 |
4 |
|
Bagus |
0-75 |
3 |
|
Sedang |
75-125 |
2 |
|
Buruk |
125-225 |
1 |
Persamaan perhitungan Jitter(Witi & Mude, 2020) :
4. Throughput, jumlah total paket yang berhasil tiba di tujuannya selama interval
waktu tertentu dibagi dengan durasi interval waktu(Hikmah et al., 2023).
Table 4
Standar Throughput (TIPHON)
|
Kategori
Throughput |
Throughput (Kbps) |
Indeks |
|
Sangat Bagus |
>1,210 |
4 |
|
Bagus |
701-1200 |
3 |
|
Sedang |
339-700 |
2 |
|
Buruk |
0-338 |
1 |
Persamaan perhitungan Throughput(Nur et
al., 2023) :
1.
Base Transceiver Station (BTS) merupakan
jenis infrastruktur telekomunikasi yang bertugas memfasilitasi komunikasi
nirkabel antara jaringan operator dengan perangkat komunikasi. Fungsi BTS
adalah sebagai transciever yaitu mengirim dan menerima sinyal komunikasi ke MS (Mobile
station), serta menghubungkan MS dengan jaringan lain dalam suatu sistem
jaringan komunikasi baik bergerak maupun tetap(Rizkyanto et al., n.d.).
2.
Antena Radio Frekuensi (RF) adalah
antena yang diarahkan sesuai azimuth yang ditentukan. Fungsi antena yang
terdapat pada BTS yaitu output jaringan yang nantinya diterima setiap Use
Equipment (UE)(Rizkyanto et al., n.d.).
� Tilting
Mechanical dilakukan dengan secara fisik mengubah azimuth antenna dan tingkat
kemiringannya(Makkatang & Nugroho, 2019). Tilting ini
menyebabkan perubahan luas coverage(Yulianto & , Munnik Haryanti, 2021). Perubahan arah
antena tilting melalui pergeseran sudut yang terletak di bracket (pengait
antena)(Fajar & Devia, 2017).
3.
Baseband Control Unit (BCU) sebuah
perangkat yang berperan penting dalam BTS yaitu untuk main control unit semua
perangkat BTS. BCU memiliki port yang terhubung ke semua perangkat pada BTS dan
penghubung antara BTS dengan BSC itu sendiri bila terjadi kerusakan pada
perangkat bisa mengetahui kerusakan pada perangkat tersebut� (Maintenance)(Rizkyanto et al., n.d.).
Remote Radio Unit (RRU) perangkat
penting pada BTS . RRU berfungsi sebagai transceiver yang artinya penerima dan
pengirim sinyal kepada user equipment (UE) ataupun sebaliknya.
serta� dapat melakukan pemfilteran, dan
memperkuat sinyal RF(Rizkyanto et al., n.d.). RRU
merupakan perangkat yang saling terhubung dengan Antena sector maupun Baseband
Control Unit (BBU) . RRU terhubung dengan antenna sector menggunakan perantara
kabel jumper supaya sinyal yang dibawakan RRU bisa dikirimkan ke antenna secror
maupun UE. RRU terhubung dengan BBU menggunakan perantara kabel CPRI fiber
optic yang akan dimonitoring apabila ada terjadi kerusakan.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Kompas
Peneliti menggunakan Kompas untuk
membantu menentukan arah Azimuth yang sudah ditentukan Standar pemasangan
perangkat yang akan disesuaikan pada Antena Radio Frekuensi.
B.
Laptop
Peneliti menggunakan Laptop untuk
membantu input data atau konfigurasi module Baseband Control Unit (BCU) sebagai
main control unit semua perangkat di BTS dan sebagai alat monitoring jaringan
indosat.
C.
Software Moshell
Peneliti menggunakan Software Moshell untuk
membantu Konfigurasi module Baseband Control Unit (BCU) dan memonitoring
sebagai main control unit semua perangkat di BTS.
D.
Software Wireshark
Peneliti menggunakan Software Wireshark untuk
membantu mendapatkan informasi mengenai kualitas jaringan internet indosat yang
berada diwilayah Cengkareng Jakarta barat, dengan menggunakan parameter Quality
Of Service.
Teknis Konfigurasi Baseband Control Unit (BCU)
Teknis
konfigurasi berikut adalah bagian dari proses konfigurasi Baseband unit
bertujuan untuk bisa mengetahui adanya problem atau masalah yang terdapat pada
perangkat BTS.
VSWR (Voltage Standing Wave Ratio) adalah ukuran kecocokan
impedansi antara radio unit dangan antenna Radio. Menunjukkan jumlah energi yang
dapat disalurkan dengan aman ke antena tanpa merusaknya.VSWR
merupakan ukuran penting untuk
mengevaluasi kualitas sistem antena Radio. Mengukur jumlah energi yang
dipantulkan kembali ke pemancar saat sinyal ditransmisikan melalui antena. VSWR
yang tinggi menunjukkan adanya masalah pada radio unit atau antena Radio.
Peneliti
mengecek terdapat alarm Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) pada port D
yaitu 1.38, Nilai Vswr yang di rekomendasikan yaitu dibawah 1.30 terdapat nilai
1.38 diharapkan untuk di perbaiki supaya menjadi lebih baik. Karena Nilai VSWR
yang lebih tinggi berarti kecocokan impedansi yang lebih buruk, dan oleh karena
itu lebih sedikit daya yang ditransfer secara efisien dari radio� ke antenna dapat menyebabkan terhambat sinyal
yang dipancarkan kepada pelanggan.
Gambar 3 Tampilan
Alarm Before VSWR
Tabel 5
Hasil pengujian 7 hari rata-rata indeks parameter Quality of service
|
No |
Parameter
Quality Of Service (QOS) |
Indeks |
Kategori |
|
|||||
|
1 |
PacketLoss |
4 |
Sangat Bagus |
|
|||||
|
2 |
Delay |
2 |
Sedang |
|
|||||
|
3 |
Jitter |
1 |
Buruk |
|
|||||
|
4 |
Throughput |
1 |
Buruk |
|
|||||
|
Rata-Rata Indeks |
2 |
Sedang |
|
||||||
|
|||||||||
Troubleshooting
After Alarm Perangkat BTS
Hasil
dari Troubleshooting Alarm VSWR port D dengan Nilai 1.23 terdapat issue
pada kabel penghubung atau kabel jumper yang rusak, dengan ini Nilai VSWR yang
rendah berarti kecocokan impedansi yang lebih baik, sehingga lebih banyak daya
yang ditransfer secara efisien dari radio ke antena.
Gambar 4
Tampilan Alarm After VSWR
Optimalisasi Antena Rf Merupakan teknik yang
digunakan untuk memaksimalkan kualitas jaringan Optimasi jaringan mencakup
hal-hal berikut:
�
Menemukan masalah dan perbaikan
setelah implementasi
�
Dilakukan secara berkala untuk
meningkatkan kualitas jaringan secara keseluruhan
Tilting Merupakan perubahan luas coverage.
Perubahan arah antena tilting melalui pergeseran sudut yang terletak di bracket
(pengait antena). peneliti akan mengeksekusi dari 0� menuju 2�. Azimut antena
Rf merupakan perubahan arah yang akan dipancarkan oleh Antenna Rf menuju
customer ,peneliti akan mengeksekusi dari 60� menuju 310�.
Adapun Nilai yang diperoleh setelah melakukan pengujian parameter
quality of service (QoS) antara lain;
�
Pengujian dengan perangkat yang
terdapat alarm atau sebelum Optimalisasi Mechanical Tilting Antena RF
�
Pengujian dengan After Troubleshooting
perangkat dan Optimalisasi Mechanical Tilting Antena RF
Peneliti menguji sebanyak 3 kali didapatkan
nilai rata-rata indeks PacketLoss sebesar 4 dengan kategori Sangat bagus, Delay
sebesar 2 dengan kategori Sedang, Jitter sebesar 1 dengan kategori Buruk dan
Throughput sebesar 1 dengan kategori Buruk. Seperti pada table
Peneliti menguji sebanyak 7 kali didapatkan nilai rata-rata indeks
PacketLoss sebesar 3,7 dengan kategori Bagus, Delay sebesar 4 dengan kategori
sangat bagus, Jitter sebesar 2,8 dengan kategori Sedang dan Throughput sebesar
2,7 dengan kategori Sedang. Seperti pada table
Peneliti akan membuat grafik dan analisis berdasarkan hasil� pengujian yang dilakukan.
�Tabel 6
Hasil pengujian 3 hari rata-rata indeks parameter Quality of service
|
No |
kategori |
Parameter Quality Of Service (QOS) |
Indeks |
|
|
|
1 |
PacketLoss |
3,7 |
Bagus |
|
|
|
2 |
Delay |
4 |
Sangat Bagus |
|
|
|
3 |
Jitter |
2,8 |
Sedang |
|
|
|
4 |
Throughput |
2,7 |
Sedang |
|
|
|
Rata-Rata Indeks |
3,3 |
Bagus |
|
||
Tabel 7 Grafik Hasil Packetloss
Gambar 7 menunjukan hasil nilai packetloss
selama 10 hari diantaranya 3hari pertama yaitu pengujian dengan perangkat yang
terdapat alarm dan sebelum optimalisasi antenna rf, 7hari berikutnya yaitu
pengujian� dengan perangkat After
Troubleshooting dan Optimalisasi Antena RF. Nilai packetloss rata-rata dalam 10
kali pengujian berada pada kualitas 3,8 (sangat baik) Dimana nilai tertinggi
berada pada pengujian ketujuh dengan nilai 3,14%, hal ini terjadi dikarenakan
padatnya traffic atau user pengguna saat pengujian berlangsung. Dan nilai
terendah berada pada pengujian kedelapan dengan nilai 0,02% dikarenakan traffic
atau user pengguna tidak padat. Apabila packet data yang dikirimkan terdapat
loss maka akan diulangi pengiriman� Kembali
packet tersebut sampai diterima dengan pengguna.
Tabel 8 Grafik Hasil Delay
Gambar 8 menunjukan hasil nilai
packetloss selama 10 hari diantaranya 3hari pertama yaitu pengujian dengan
perangkat yang terdapat alarm dan sebelum optimalisasi antenna rf, 7hari
berikutnya yaitu pengujian� dengan
perangkat After Troubleshooting dan Optimalisasi Antena
RF, Nilai delay tertinggi yaitu pada pengujian pertama sebesar 468,207m/s dan
nilai delay paling rendah yaitu pada pengujian kesepuluh sebesar 4,387m.s.
Didalam pengujian 3hari dapat dilihat hasil delay dengan indeks 2 (Sedang)
dapat mengakibatkan pengaruh kualitas jaringan internet lambat, atenuasi tidak
adanya cover sinyal menuju pemukiman warga tersebut, dan congestion kemacetan
pada jaringan dapat menurunkannya kualitas dan antrian pada packet data sampai
ke pengguna. Peneliti akan memperbaiki dengan adanya Troubleshooting perangkat
dan optimalisasi Antena Rf� sehingga
dapat menurunkannya hasil dari delay dapat dilihat dari 13 Maret sampai dengan
26 Maret 2024 dengan kategori indeks standar Quality of service 4 (Sangat
Bagus) Penelitian ini menunjukkan bahwa
kecepatan koneksi jaringan internet dengan nilai delay yang lebih rendah,
apabila nilai delay lebih tinggi maka semakin lambat koneksi jaringan internet
tersebut.
Tabel 9 Grafik Hasil Jitter
Gambar 9 menunjukan
hasil nilai jitter selama 10 hari diantaranya 3hari pertama yaitu pengujian
dengan perangkat yang terdapat alarm dan sebelum optimalisasi antenna rf, 7hari
berikutnya yaitu pengujian� dengan
perangkat After Troubleshooting dan Optimalisasi Antena
RF, Nilai jitter tertinggi yaitu pada pengujian pertama sebesar 468,154m/s dan
nilai jitter paling rendah yaitu pada pengujian kesepuluh sebesar 4,387m.s.
jitter merupakan variasi delay,
perbedaan selang waktu kedatangan paket data ke terminal tujuan. Karna
perhitungan menggunakan nilai delay penyebabnya yaitu atenuasi
tidak adanya cover sinyal menuju pemukiman warga tersebut, dan congestion
kemacetan pada jaringan dapat menurunkannya kualitas dan antrian pada packet
data sampai ke pengguna. Peneliti akan memperbaiki dengan adanya
Troubleshooting Vswr perangkat dan optimalisasi Antena Rf sehingga dapat
menurunkannya hasil dari jitter dapat dilihat dari 13 Maret sampai dengan 26
Maret 2024 dengan kategori indeks standar Quality of service 2,8 (Sedang) yang
sebelumnya dengan nilai 1 (Buruk).
Tabel 10 Grafik Hasil Throughput
Tabel 10 menunjukan hasil nilai Throughput
selama 10 hari diantaranya 3hari pertama yaitu pengujian dengan perangkat yang
terdapat alarm dan sebelum optimalisasi antenna rf, 7 hari berikutnya yaitu
pengujian dengan perangkat After Troubleshooting dan Optimalisasi Antena RF,
Nilai Throughput tertinggi yaitu pada pengujian pertama sebesar 1605Kbps dan
nilai jitter paling rendah yaitu pada pengujian kesepuluh sebesar 7Kbps.
Throughput, jumlah total paket yang berhasil tiba di tujuannya selama interval
waktu tertentu dibagi dengan durasi interval waktu, kemampuan Throughput dengan
nilai yang semakin baik akan berpengaruh pada hasil delay karena kecepatan dari
suatu paket data untuk melewati suatu jaringan yang akan pengguna akses.
Semakin rendahnya nilai Throughput maka hasil delay akan semakin lambat.
Identifikasi permasalahan�
Lonjakan hasil delay yang sangat tinggi diidentifikasi sebagai masalah
yang mengganggu kestabilan akses internet. Beberapa faktor penyebabnya, antara
lain;
1.
Base Transceiver Station (BTS)
membutuhkan perangkat untuk mendukung seluruh operasional BTS itu sendiri.
Disini peneliti akan melakukan pemasangan untuk cover area di wilayah
Cengkareng Jakarta barat. Guna untuk meningkatkan kualitas jaringan internet
Namun, perangkat tersebut tidak selalu dalam kondisi sempurna dan ada kalanya
perangkat pendukung tersebut tidak lagi berfungsi maksimal sehingga dapat
mempengaruhi kualitas jaringan pada suatu Bts. Sebagai mitra provider indosat
peneliti wajib memelihara dan maintenance untuk memastikan jaringan tidak
terputus karena dapat menggangu hasil nilai dari parameter Quality of service
yang �Buruk� sehingga dapat dipastikan perangkat dalam keadaan berfungsi dengan
maksimal.
2.
Atenuasi, Yaitu melemahnya sinyal yang
diakibatkan oleh adanya jarak yang semakin jauh yang harus ditempuh oleh suatu
sinyal, Untuk mengatasi hal ini peneliti perlu adanya Optimalisasi antenna rf
dengan diubahnya arah azimuth dan Kemirinan pada TiltMeter. Sebelum dilakukan
evaluasi 3kali pengujian mendapatkan nilai rata-rata pada indeks 2 (Sedang) dan
setelah peneliti lakukan evaluasi 7kali pengujian mendapatkan nilai rata-rata
pada indeks 3,3 (Bagus).
Congestion, Yaitu kondisi yang dihasilkan dari
penggunaan layanan jaringan yang melebihi kapasitas. Untuk mengatasi hal ini
peneliti perlu adanya Troubleshooting VSWR alarm pada perangkat, apabila
perangkat mengalami problem atau kerusakan akan mengalami tidak berfungsinya
perangkat tersebut dengan maksimal dan tidak dapat meneruskan paket dengan
cukup cepat, sehingga menyebabkan kemacetan di jaringan .
KESIMPULAN
Dari hasil analisis yang telah
dilakukan, peneliti memperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut. Pertama,
pengujian Quality of Service (QoS) pada wilayah Cengkareng, Jakarta Barat,
dilakukan dengan software Wireshark menggunakan parameter QoS yaitu packet
loss, delay, jitter, dan throughput. Kedua, terdapat gangguan pada Base
Transceiver Station (BTS) yang ditandai dengan deteksi Voltage Standing Wave
Ratio (VSWR) pada software Moshell, yang mengindikasikan adanya kendala
hardware yang dapat menyebabkan hambatan sinyal kepada pelanggan. Nilai VSWR
sebelum troubleshooting adalah 1,38, sedangkan setelah troubleshooting menjadi
1,23, yang menunjukkan adanya masalah pada kabel penghubung atau kabel jumper
yang rusak. Nilai VSWR yang rendah berarti kecocokan impedansi yang lebih baik,
sehingga lebih banyak daya yang ditransfer secara efisien dari radio ke antena.
Ketiga, optimalisasi antena RF memberikan pengaruh signifikan dengan
peningkatan nilai Quality of Service. Dari hasil tiga kali pengujian dengan
azimuth 60� dan mec_tilt 0�, rata-rata indeks adalah 2 (sedang), sedangkan dari
tujuh kali pengujian dengan azimuth 310� dan mec_tilt 2�, rata-rata indeks
adalah 3,3 (bagus). Keempat, berdasarkan standarisasi Tiphon, pada pengujian
selama tiga hari, nilai indeks rata-rata parameter packet loss adalah 4 (sangat
bagus), delay adalah 2 (sedang), jitter adalah 1 (buruk), dan throughput adalah
1,6 (buruk), dengan hasil pengujian Quality of Service (QoS) dalam kategori 2
(sedang). Kelima, berdasarkan standarisasi Tiphon, pada pengujian selama tujuh
hari, nilai indeks rata-rata parameter packet loss adalah 3,7 (bagus), delay
adalah 4 (sangat bagus), jitter adalah 2,8 (sedang), dan throughput adalah 2,7
(sedang), dengan hasil pengujian Quality of Service (QoS) dalam kategori 3,3
(bagus).
DAFTAR PUSTAKA
Alcianno, G. (2020). Sejarah dan Perkembangan
Internet Di Indonesia Alcianno Ghobadi Gani, ST. Jurnal Mitra Manajemen,
5(Cmc), 68�71.
Aprianto Budiman, M.
Ficky Duskarnaen, & Hamidillah Ajie. (2020). Analisis Quality of Service
(Qos) Pada Jaringan Internet Smk Negeri 7 Jakarta. PINTER : Jurnal
Pendidikan Teknik Informatika Dan Komputer, 4(2), 32�36.
https://doi.org/10.21009/pinter.4.2.6
Bimantoro, A.,
Pramesti, W. A., Bakti, S. W., Samudra, M. A., & Amrozi, Y. (2021).
Paradoks Etika Pemanfaatan Teknologi Informasi di Era 5.0. Jurnal Teknologi
Informasi, 7(1), 58�68. https://doi.org/10.52643/jti.v7i1.1425
Emasriani, F., &
Rahmadewi, R. (2021). Analisa Efektifitas Perbaikan Perangkat BTS Telkomsel
Karawang dengan iManager u2000 software. CIRCUIT: Jurnal Ilmiah Pendidikan
Teknik Elektro, 5(2), 148. https://doi.org/10.22373/crc.v5i2.9552
Fajar, A. N., &
Devia, E. (2017). 4G LTE Network Analysis and Optimization Using the Electrical
Tilt Method Using Drivetest. Jakarta Timur, Jurnal Jiifor, 1(1),
78�87.
Farhatun Nisaul
Ahadiyah. (2023). Perkembangan Teknologi Infomasi Terhadap Peningkatan Bisnis
Online. INTERDISIPLIN: Journal of Qualitative and Quantitative Research,
1(1), 41�49. https://doi.org/10.61166/interdisiplin.v1i1.5
Hikmah, N., Zaini,
A., & Santoso, H. (2023). Analisis Efektifitas Quality of Service pada
Jaringan Kabel di Lingkungan SMK PGRI Turen. Fakultas Sains Dan Teknologi-Universitas
PGRI Kanjuruhan Malang, 5(1), 2023.
Kamil, M. R.,
Arzalega, F., Sani, A., & Kunci, K. (2023). Analisis Kualitas Layanan
Jaringan Internet Wifi PT . XYZ dengan Metode QoS ( Quality of Service ).
77�88.
Komputer, J. (2013).
Fakultas ilmu komputer. Jurnal Sistem Informasi & Telematika, 7(1),
1�17.
Lte, D., Kelurahan,
D. I., Pemali, B., & Merauke, K. (2022). 1 , 2 1,2. 11(1),
1�6.
M, M., Zulfan, Z.,
Susmanto, S., & Furqan, F. (2020). Analisis Quality Of Service (Qos)
Layanan Video Streaming Youtube Pada Jaringan Wireless. Jurnal Nasional
Komputasi Dan Teknologi Informasi (JNKTI), 3(1), 67�74.
https://doi.org/10.32672/jnkti.v3i1.2013
Makkatang, A., &
Nugroho, R. (2019). Analysis of the Effect of Changes in BTS Sectoral Antenna
Tilt in Electrical and Mechanical Site XL 3G. Jurnal Ilmiah Giga, 18(2),
49.
Manajemen, J. (n.d.).
Analisis Penerapan Teknologi Jaringan Lte 4G Di Indonesia Fadhli Fauzi, Gevin
Sepria Harly, Hanrais Hs. Majalah Ilmiah UNIKOM, 10(2), 281�290.
Merangin, K. (2019).
3 1,2,3. Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Perdarahan
Postpartum Pada Ibu Bersalin Di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten
Merangin, 10(2).
Nur, J., Israwan, L.
F., & Saputra, M. (2023). Analisis Quality of Service Jaringan Internet
Pada Universitas Dayanu Ikhsanuddin. Jurnal Informatika, 11(2),
176. https://doi.org/10.55340/jiu.v11i2.1136
Purwahid, M., &
Triloka, J. (2019). Analisis Quality of Service (QOS) Jaringan Internet Untuk
Mendukung Rencana Strategis Infrastruktur Jaringan Komputer Di SMK N I
Sukadana. Jtksi, 2(3), 100�109.
Putra, I. B. A. E.
M., Adnyana, M. S. I. D., & Jasa, L. (2021). Analisis Quality of Service
Pada Jaringan Komputer. Majalah Ilmiah Teknologi Elektro, 20(1),
95. https://doi.org/10.24843/mite.2021.v20i01.p11
Rizkyanto, E.,
Rahmadewi, R., Jurusan, M., Elektro, T., Teknik, F., Karawang, S., Jurusan, D.,
Ronggowaluyo, J. H. S., Timur, K. T., & Karawang, K. (n.d.). Analisis
Perbaikan Pada Site Sukamantri Berdasarkan Alarm Yang Muncul Pada Aplikasi
Monitoring Bts. Jurnal POLEKTRO: Jurnal Power Elektronik, 11(1),
2022.
Utami, P. R. (2020).
Analisis Perbandingan Quality of Service Jaringan Internet Berbasis Wireless
Pada Layanan Internet Service Provider (Isp) Indihome Dan First Media. Jurnal
Ilmiah Teknologi Dan Rekayasa, 25(2), 125�137.
https://doi.org/10.35760/tr.2020.v25i2.2723
Wiryany, D., Natasha,
S., & Kurniawan, R. (2022). Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi
terhadap Perubahan Sistem Komunikasi Indonesia. Jurnal Nomosleca, 8(2),
242�252. https://doi.org/10.26905/nomosleca.v8i2.8821
Witi, F. L., &
Mude, A. (2020). Analisis Jaringan Intranet Di Universitas Flores Menggunakan
Quality Of Service (QoS). Computer Based Information System Journal, 8(1),
7�12. https://doi.org/10.33884/cbis.v8i1.1797
Wulandari, A., &
Supriyanto, T. (2020). Optimasi Jaringan 4G LTE Terkait Layanan WFH Pada
Situasi Pandemi COVID-19. Seminar Nasional Terapan Riset Inovatif
(SENTRINOV) Ke-6, 6(1), 852�860.
Yulianto, H., & ,
Munnik Haryanti, S. M. (2021). Perbaikan Dan Peningkatan Coverage Jaringan 4G
LTE. Jurnal Teknologi Industri, 10(1), 6.