SIMULASI
PENANGANAN KEADAAN DARURAT PADA PERLINTASAN SEBIDANG DI JPL KOTA CILEGON
Handoko1,
Erifendy Churniawan2, Wawan Riyanta3
Manajemen Trasnportasi
Perkeretaapian, Politeknik Perkeretaapian Indonesia Madiun1,2, Teknologi Bangunan dan Jalur� Perkeretaapian, Politeknik Perkeretaapian
Indonesia Madiun3
Diterima: 10-11-2022������������������������������������� Review: 19-11-2022������������������������ ��������������� Publish:
26-11-2022
Abstrak:
Keadaan darurat di perlintasan sebidang merupakan kejadian yang tidak normal
dimana keadaan ini terjadi secaratiba-tiba kondis i darurat ini dapat
menyebabkan kecelakaan yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa dan properti.
Pada perlintasan sebidang berpotensi menjadikan perlintasan sebidang sebagai
titik rawan kecelakaan. Pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan
pengendalian lalulintas diruas jalan pada lokasi potensi kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api dilakukan
oleh direktur Jenderal Perkeretaapian, Gubernur, Bupati/walikota, sesuai dengan
kewenangannya. Menurut Peraturan�
Menteri� Perhubungan Republik
Indonesia Nomor 94 Tahun 2018 tentang Peningkatan Keselamatan Perlintasan
Sebidang Antara Jalur Kereta Apidengan Jalan. Perlintasan sebidang adalah
perpotongan antara jalan dengan jalur kereta api. Tingginya instensitas
perjalanan kereta api dan lalu lintas jalan raya berkaitan dengan jalan rel
kereta api sehingga terjadi persinggungan antara pengguna jalan raya dengan
kereta api yang berpotensi terjadinya titik rawan kecelakaan. Tidak pernah
dilakukannya simulasi keterampilan penjaga perlintasan terkait penanganan
keadaan darurat di perlintasan sebidang menjadi dasar untuk dijadikan program
simulasiini. Simulasi penanganan keaadaan darurat ini ditujukan kepada
penjaga� jalan lintasan (PJL) agar dapat
mengantisipasi dan menangani ketika terjadi keadaan darurat di pintu
perlintasan diantaranya sikap atau tindakan PJL apabila menghadapi kerusakan
peralatan keselamatan perlintasan sebidang maupun gangguan dari kendaraan yang
melintas pada perlintasan sebidang. Beberapa hal yang disampaikan kepada PJL
diantaranya adalah beberapa contoh kasus jika dalam kondisi bahaya, resiko apa
yang terjadi dan tindakan darurat apa yang harus dilakukan. Dengan dilakukan
simulasi penanganan keadaan darurat ini maka PJL dapat mengetahui hal-hal apa
saja yang harus dilakukan pada saat terjadinya keadaan darurat.
Kata kunci: Darurat; Kereta Api; PJL
Abstract:
An emergency at a level
crossing is an abnormal event where this situation occurs suddenly this
emergency condition can cause an accident that results in loss of life and
property. At level crossings, it has the potential to make level crossings as
accident-prone points. Guidance and supervision of the implementation of
traffic control on roads at the location of potential accidents at railroad
crossings is carried out by the Director General of Railways, Governors,
Regents/Mayors, in accordance with their respective authorities. According to
the Regulation of the Minister of Transportation of the Republic of Indonesia
Number 94 of 2018 concerning Improving the Safety of Level Crossing Between
Railroads and Roads. A level crossing is the intersection of a road with a
railway line. The high intensity of train travel and road traffic is related to
railroads, resulting in intersections between road users and trains which have
the potential for accident-prone points. There has never been a simulation of crossing guard
skills related to handling emergencies at level crossings which is the basis
for this simulation program. This simulation of handling emergency conditions
is aimed at road guards (PJL) so that they can anticipate and handle when an
emergency occurs at the crossing gate, including the attitude or action of the
PJL when facing damage to level crossing safety equipment or interference from
vehicles passing at level crossings. Several things were conveyed to PES including some
examples of cases when in a dangerous condition, what risks occur and what
emergency actions must be taken. By simulating the handling of this emergency
situation, PES can find out what things must be done in the event of an
emergency.
Keywords: Emergency; Railway; Cross Rail-Road Guide������������������������������������������������������������������������
Corresponding: Wawan Riyanta
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Tanggungjawab keselamatan di perlintasan sebidang bukan hanya urusan
institusi yang menangani perkeretaapian saja, melainkan semua pihak sesuai
dengan peraturan perundang-undangan (ALQORNI, 2020). Sinergi para pihak yang
mempunyaitugas dan wewenang dalam menangani permasalahan ini perlu diciptakan (Rozaq, Wirawan, Rachman, Handoko, &
Zulkarnaen, 2021). Mengacu kepada Peraturan Pemerintah No 56 tahun
2009 yang berisi tentang perpotongan sebidang di Indonesia telah dibuat
ketentuanya itu dapat dilakukan apabila: (a) dilengkapi peralatan persinyalan
dan rambu lalu lintas jalan; (b) perpotongan sebidang dapat dilakukan jika
letak geografis tidak memungkinkan untuk dibangun perpotongan tidak sebidang;
(c) pada jalur tunggal dengan frekuensi dan kecepatan kereta api rendah); (d)
tidak membahayakan dan mengganggu kelancaran operasi kereta api dan lalulintas
jalan; dan (e) dibatasihanya pada jalan kelas III (tiga).

Gambar 1 Pos jaga JPL 279 dan JPL 272 Cilegon

Gambar 2 Diagram Data Kecelakaanperlintasan sebidang
Tingginya
angka kecelakaan tersebut banyak disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat
dalam berlalulintas, seperti menerobos palang pintu, mengabaikan isyarat kereta
api atau rambu-rambu, dan tidak tersedianya pintu atau penjaga pintu
perlintasan (Tjahjono, Kusuma, Pratiwi, & Purnomo,
2019). Kecelakaan pada perlintasan sebidang dapat
disebabkan oleh beberapa hal salah satunya pengguna jalan yang tidak disiplin
saat melewati pintu perlintasan sebidang dengan cara melakukan pelanggaran
seperti menerobos palang pintu dan tetap melewati perlintasan sebidang saat
alarm peringatan dini kedatangan keretaapi berbunyi dan juga kurangnya
fasilitas rambu-rambu di perlintasan sebidang (Imron & Handoko, 2021). Perlintasan sebidang yang
tidak memenuhi standar teknis sesuai dengan peraturan yang berlaku masih banyak
ditemukan di wilayah DAOP 1.
Dari
latar belakang diatas diperlukan simulasi mengenai penanganan keadaan darurat
di perlintasan sebidang, kepada penjaga pintu perlintasan sebidang di 4 (empat)
titik di Kota Cilegon guna meningkatkan kompetensi penjaga perlintasan sebidang.�� Diharapkan setelah dilakukan simulasi ini
petugas jaga di pintu perlintasan sebidang dapat memahami bagaimana menangani
perlintasan sebidang pada saat keadaan darurat (Rukman Tea et al., n.d.).
��������������� Dalam Peraturan Direktur
Jenderal Perhubungan Darat Nomor. SK. 407/AJ.401/DRDJ/2018 tentang Pedoman
Teknis Pengendalian Lau Lintas Di Ruas Jalan Pada Lokasi potensi Kecelakaan Di
Perlintasan Sebidang Dengan Kereta Api disebutkan pada pasal 14 bahwa simulasi
pengendalian laulintas di ruas jalan pada lokasi potensi kecelakaan di
perlintasan sebidang dengan kereta api dilakukan melalui a. media cetak, b.
media elektronik, c. media luarruang: dan atau d. simulasi.
Sesuai dengan Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa simulasi/si�mu�la�si/
n :1. metode pelatihan yang meragakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan yang sesungguhnya, 2. penggambaran suatu system atau proses dengan peragaan berupa model statistic atau pemeranan; dikutip oleh Harrell, C., Ghosh, B. K., &
Bowden, R (2004) didalam buku Simulation Using Promodel mengatakan
bahwa selain dapat membuat
desain untuk mengambil keputusan
simulasi juga dapat digunakan untuk melakukan validasi
terhadap keputusan yang dilakukan (Erik, 2019). Validasi keputusan ini maksudnya adalah apakah keputusan yang diambil
itu adalah keputusan
terbaik. Selain itu simulasi juga dapat
megurangi biaya karena tidak membutuhkan waktu lama dibadingkan teknik trial and error (Soegiharto & Asih, 2014). Kekuatan simulasi terletak pada tersedianya
metode analisis yang tidak
hanya formal dan prediksi, tetepi
juga secara akurat memprediksi
kinerja bahkan sistem yang paling kompleks sekalipun (Darmiyati Zuchdi & Afifah,
2021). pada kategori
pertama simulasi
dibagi menjadi
dua jenis yaitu simulasi statis dan simulasi dinamis.
Simulasi sitem
statis
tidak dipengaruhi oleh waktu
karenya tidak akan ada perubahan dari waktu kewaktu. Simulasi
sistem statis menghasilkan output melalui bilangan
acak atau random dan berlaku hanya pada saat bilangan random itu
dibuat (Setio, 2019). Hal ini justru berbeda
dengan system simulasi
dinamis. Harrel menjelaskan bahwa simulasi dinamis sangat bergantung
terhadap perubahan
waktu, stausnya selalu berubah-ubah
sepanjang waktu, mekanisme
jam akan bergerak sejalan
dengan waktu dan status dari variabelnya juga akan
beruba seiring
berubahnya waktu (Rinarwastu, 2018). Karena itu simulasi dinamis
merupakan simulasi yang cocok
untuk memodelkan
sistem yang memiliki pola yang dinamis juga, seperti system manufaktur dan jasa.
METODE PENELITIAN
Metode PkM ini mengacu pada
Simulkasi Dinamis. Tahapan pelaksanaan sebagai berikut:
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Survei Lokasi
Dalam
rangka untuk mengetahui kondisi sebenarnya pada perlintasan sebidang yang dijadikan objek pengabdian masyarakat, telah dilakukan survai terlebih dahulu kelokasi agar dapat mengetahui metode yang digunakan untuk kegiatan pengabdian masyarakat. Survai dilakukan di 4 (empat) titik perlintasan sebidang yaitu Perlintasan Sebidang yang terdapat di wilayah kota Cilegon diantaranya adalahJPL 267-Seruni JPL 272-ketileng, JPL 277-Bapeda dan
JPL 279-Kubang sepat.

Gambar 3 Survey JPL 277 Bapeda Cilegon
Tabel 1. Hasil survey lapangan
|
No |
Kegiatan |
Keterangan |
|
1 |
Identifikasi keadaan darurat |
|
|
2 |
Inventarisasi perlengkapan darurat |
|
|
3 |
Sikap PJL dalam
keadaan darurat |
|
b. Simulasi Keadaan darurat di perlintasan
Dari
hasil survey lapangan diatas, jenis keadaan
darurat yang ditentukan untuk bahan simulasi
sebagai berikut: Mobil Mogok atau terhenti
mendadak di Perlintasan, kerusakan rel yang tidak bisa diperbaiki
segera barang yang tidak bisa disingkirkan,
Palang pintu tidak bisa dioperasikan
saat keretaapi akan melintas, Kendaraan menyerobot saat palang pintu
akan ditutup, Kendaraan jalan raya macet saat
menjelang kereta api melintas, PJL mendadak sakit sehinggatidak dapat menjalankan tugas, Palang Pintu rusak
tidak bisa ditutup menjelang keretaapi melintas Tidak adanya power sehingga palang pintu tidak dapat
dioperasikan.
c.
Simulasi Tindakan darurat
Tabel 2. Bahan Tindakan pada Kondisi Darurat
|
KondisiBahaya di Perlintasan |
ResikoKecelakaan |
Tindakan
Darurat |
|
|
1 |
Mobil Mogokatauterhentimendadakdi
Perlintasan |
a. Mobil akanTertabrak KeretaApidan Membahayakan KeretaApi, b. mobil� yangtertabrak bisa
berakibat fatal dan menimbulkan korban jiwamaupunmateriil |
a. PJL memerintahkan penumpang mobil segera turundarimobilnya b. PJL menghentikan KeretaApi dengan melakukan/ memasang semboyan
3, sejauh minimal 500 meter kedua arah, terutama kearah keretaapi yang akan
datang c. berkomunikasisegera�
ke� ppka bila belum ada berita
keretaapiyang akanmelintas d. tutup pintu perlintasan |
|
2 |
1) kerusakan rel yang tidak bisa diperbaiki segera 2) barang yang tidak bisa disingkirkan |
a.
kereta api bisa anjlok b. kendaraan bisa rusak� dan
mogok di perlintasan |
a. menghentikan keretaapi dengan memasang semboyan 3, sejauh
minimal 500 meter kedua arah, terutama kearah keretaapi yang akan datang b. Lomunikasikansegera�
ke� ppka bila belum ada berita
keretaapiakan lewat c. tutup pintu perlintasan |
|
3 |
Palang pintu tidak bisa dioperasikan
saat keretaapi akan melintas |
a.
Bahaya tumburan keretaapi
dengan kendaraan jalan raya b.
menimbulkan korban jiwadan
properti |
a.
Gunakan peralatan lain untuk
mengatur lalulintas angkutan jalan b.
�Hentikan lalu lintas kendaraan jalan raya lebih
awal c.
Minta bantuan
orang sekitar untuk mengatur lalu lintas jalan d.
Lapor ke PPKA bila perlu menghentian
keretaapi sebelum kendaraan jalan raya bisa dihentikan. |
|
4 |
Kendaraan menyerobot saat palang pintu
akan ditutup |
a.
Bahaya tumburan keretaapi
dengan kendaraan jalan raya b.
menimbulkan korban jiwadan
properti |
a.
Catat nomor
kendaraanbermotor b.
�catat dalam buku
penjagaan c.
Laporkan polisi d.
Teruskan menutup pintunya |
|
5 |
Kendaraan jalan rayamacet saat menjelang kereta api melintas |
a.
Bahaya tumburan keretaapi
dengan kendaraan jalan raya b.
menimbulkan korban jiwadan
properti |
a.
Teruskan menutup pintu� arah masuk kendaraan, b.
Menyampaikan segera kondisi tersebut ke stasiun c.
Membantu mengatasi kemacetan bila memungkinkan |
|
6 |
PJL mendadak sakit sehinggatidak dapat menjalankan tugas |
Tidak bisa menutup pintu saat ka melintas dan terjadi tumburan ka dengan kendaraan jalan raya |
a.
Memberi tahu segera ke pos
jaga/setasiun terdekat atau atasan atau teman sekerja b.
Bila tidak berhasil dan kondisi sangat darurat segera tutup pintu untuk
mendapat perhatian dari masyarakat yang terdekat untuk mendapat pertolongan dan pengamanan perlintasan oleh masyarakat atau polisi |
|
7 |
1)
PalangPintu rusak tidak bisa
ditutup menjelang keretaapimelintas 2)
Tidak adanya power
sehinggapalangpintutidakdapatdioperasikan |
Terjadi tumburan keretaapi dan kendaraan jalan raya |
a.
Lapor ke ppka b.
Lakukansemboyan 3 c.
Catatdi buku gangguan palang pintu d.
Minta tambahan/
bantuansdmsementara |
Simulasi
dilakukan dengan memberikan contoh kasus agar para penjaga jalan lintasan mengetahui apa yang harus dilakukan pada saat terjadi keadaan
darurat dan dapat mengambil keputusan yang tepat. Kegiatan simulasi ini diharapkan
dapat menekan angka kecelakaan yang terjadi di perlintasan sebidang tersebut. Berikut ini adalah
dokumentasi kegiatan simulasi penangan kondisi darurat di masing masing JPL.
|
|
|
Gambar 4 Simulasi menghentikan kendaraan
|
|
|
Gambar 5 JPL 277 dilengkapi cctv
|
|
|
Gambar 6 Simulasi semboyan 3
|
|
|
Gambar 7 Simulasikendaraanmogok di perlintasan
Pada JPL 267 dan JPL 277 dilakukan simulasi penanganan keadaan darurat yaitu memberhenti kankendaraan yang akan melintas di perlintasan apabila terjadi gangguan operasional pada palang pintu, misalnya
palang pintu tidak dapat dioperasikan
dikarenakan tidak ada power atau karna kerusakan lain.
Pada JPL 279 dan 272 dilakukan simulasi menghentekan kereta dengan semboyan 3 apabila diperlintasan terdapat kendaraan jalan raya mogok,
hal tersebut dilakukan karena pada lokasi tersebut jarak100 meter menuju perlintasan posisi jalan rel
melengkung, sehingga sulit bagi masinis
untuk melihat lintasan.
|
|
|
Gambar 8 Perlengkapan keadaan darurat
|
|
|
Gambar 9 Bendera untuk semboyan 2 dan 3
Untuk
mengatasi apabila di perlintasan terjadi keadaan darurat, maka PJL melakukan tindakan darurat dengan menggunakan beberapa perlengkapan yang terdapat pada gambar di atas, permasalahan yang sering terjadi di perlintasan adalah adanya kendaraan mogok ditengah perlintasan sebidang, etika pengendara yang buruk yaitu menerobos
perlintasan Ketika palang pintu perlintasan telah di tutup dan sirine sudah berbunyi.
KESIMPULAN
Berisi berbagai
kesimpulan yang diambil berdasarkan penelitian yang telah dilakukan.Berisi
pernyataan singkat tentang hasil yang disarikan dari pembahasan. Bagian
akhir dapat ditambahkan saran kegiatan pengabdian selanjutnya.
Dengan telah dilakukannya simulasi penangan keadaan darurat di 4 (empat) titik JPL yang berlokasi di
wilayah kota Cilegon Provinsi Banten dengan menggunakan metode simulasi yaitu memperagakan suatu kegiatan mirip dengan sesusungguhnya, dimana simulasi tersebut dilaksanakan di tempat PJL bertugas. Dari kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat di simpulkan beberapa hal berikut ini:
a.
Setelah terlaksananya simulasi penanganan kondisi darurat di lokasi yang dijadikan objek pengabdian masyarakat PJL mengetahui dan memahami beberapa tindakan yang harus dilakukan apabila saat keretaakan
melintas terjadi gangguan pengoperasian palang pintu, kendaraan
jalan rayamogok, kerusakan pada jalan rel yang parah dan adanyakereta yang melintas tidak sesuai jadwal.
b.
PJL mampu menggunakan perlengkapan keadaan darurat seperti, tanda/rambu stop, bendera kuning, bendera merah, lentera/hand lamp dan melakukan semboyan.
c.
PJL dapat membantu pemerintah untuk menekan angka
kecelakaan di perlintasan sebidang dan meningkatkankeselamatanpengguna
jalan.
DAFTAR PUSTAKA
ALQORNI, WAIS. (2020). PENYELENGGARAAN
PRASARANA PADA PERPOTONGAN JALUR KERETA OLEH PEMERINTAH DAERAH (STUDI DI
KABUPATEN TULUNGAGUNG).
Darmiyati Zuchdi, Ed D.,
& Afifah, Wiwiek. (2021). Analisis Konten Etnografi & Grounded
Theory, dan Hermeneutika Dalam Penelitian (Vol. 314). Bumi Aksara.
Erik, Jonathan. (2019). PENINGKATAN
KINERJA SISTEM LINI PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI DISKRIT PADA PT.
SANTANA GRAFIKA. http://unugha. ac. id.
Imron, Nanda Ahda, &
Handoko, Handoko. (2021). Upaya Meningkatkan Keselamatan Pengguna Jalan di
Perlintasan Sebidang Melalui Pendekatan Partisipasi Masyarakat. Madiun Spoor
(JPM), 1(2), 25�31.
Rinarwastu, Fadilia.
(2018). Simulasi Arus Lalu Lintas pada Persimpangan Tunggulwulung untuk
Meminimasi Waiting Time Kendaraan. Universitas Brawijaya.
Rozaq, Fadli, Wirawan,
Willy Artha, Rachman, Natriya Faisal, Handoko, Handoko, & Zulkarnaen,
Akbar. (2021). Sosialisasi Keselamatan Perkeretaapian untuk Meningkatan Peran
Masyarakat Tertib Berlalu Lintas di Perlintasan Sebidang. Madiun Spoor (JPM),
1(1).
Rukman Tea, S. H.,
Maemunah, Siti, Purwantoro, Agus Budi, ATD, M. T., Hidayati, Tri Susila,
Kusumastuti, Naomi Srie, & Psi, S. (n.d.). IMPLEMENTASI PENYULUHAN
KESELAMATAN LALULINTAS: Strategi Mewujudkan Budaya Tertib di Jalan Raya. CV
Cendekia Press.
Setio, Achmad Aji. (2019).
ANALISIS WAKTU TUNGGU PADA PROSES LOADING DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI
ANTRIAN DI PT HARVESTAR FLOUR MILS. Universitas Muhammadiyah Gresik.
Soegiharto, Thomas
Sonny, & Asih, Anna Maria Sri. (2014). Simulasi Aliran Pasien Rawat Inap
Untuk Mengurangi Bottleneck. Jurnal Teknosains, 5(1), 20�28.
Tjahjono, Tri, Kusuma,
Andyka, Pratiwi, Yodya Yola, & Purnomo, Robby Yudo. (2019). Identification
determinant variables of the injury severity crashes at road-railway level
crossing in Indonesia. Transportation Research Procedia, 37,
211�218.